Beranda blog Halaman 411

Pentingnya untuk Selalu Dekat kepada Ulama dan Orang Shalih

Ilustrasi kegiatan kajian/ dok

PARA ulama memberi nasihat agar kita tidak banyak bergaul kecuali dengan orang-orang mulia. Al Muhasibi berkata, ”Janganlah kalian bermajelis kecuali dengan cendekia yang bertakwa, dan janganlah bermajlis kecuali dengan ulama yang shalih.” (Risalah Al Mustarsyidin, hal. 59).

Imam Al Hasan Al Bashri pun berkata,”Dunia seluruhnya gelap, kecuali mejalis-mejalis para ulama.” (Jami’ Bayan Al Ilmi wa Fadhlihi, 1/51).

Dari Ibnu Abbas, Rasulullah ﷺ pernah berkata;

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: قِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ ” أَيُّ جُلَسَائِنَا خَيْرٌ؟ قَالَ: «مَنْ ذَكَّرَكُمُ اللَّهَ رُؤْيَتُهُ، وَزَادَ فِي عِلْمِكُمْ مَنْطِقُهُ، وَذَكَّرَكُمْ بِالْآخِرَةِ عَمَلُهُ» ((رواه أبو يعلى)).

Dari Ibnu Abbas ia berkata,”Dikatakan kepada Rasulullah, ‘Karib seperti apa yang baik untuk kami?’ Rasulullah menjawab,’Yakni siapa yang mengingatkan kalian kepada Allah jika kalian memandangnya, dan menambah ilmu kalian perkataannya, dan mengingatkan kalian tentang akhirat amalannya.” (Riwayat Abu Ya’la dalam Al Musnad [2437], 4/326, Al Hafidz Al Bushiri berkata,”Di dalam periwayatannya ada dalam Majma` Az Zawaid, 10/226).

Berkumpul dengan Orang-orang Shalih

Sebab itulah, orang-orang shalih dan para ulama berusaha untuk berdekatan dengan orang-orang shalih, guna memperoleh manfaat, baik dari perkataannya, perbuatannya, atau hanya dari memandangnya saja.

Abu Bakar Al Muthawi’i selama dua belas tahun selalu aktif mengikuti majelis Imam Ahmad. Di majelis tersebut hadits tersebut Imam Ahmad membacakan Al Musnad kepada putra-putra beliau. Namun, selama mengikuti majelis tersebut, Al Muthawi’i tidak memiliki catatan, walau hanya satu hadits. Lalu, apa yang dilakukan Al Muthawi’i di majelis itu?

Beliau ternyata hanya ingin memandang Imam Ahmad. Ternyata, tidak hanya Al Muthawi’i saja yang datang ke majelis hadits hanya untuk memandang Imam Ahmad. Mayoritas mereka yang hadir dalam majelis tersebut memiliki tujuan yang sama dengan Al Mathawi’i.

Padahal, jumlah mereka yang hadir dalam majelis Imam Ahmad saat itu lebih dari 5000 orang, namun yang mencatat hadits kurang dari 500 orang. Demikian Ibnu Al Jauzi mengisahkan (dalam Manaqib Imam Ahmad, hal. 210).

Apa yang dilakukan Al Muthawi’i, bukanlah hal yang sia-sia. Karena, memandang orang shalih bisa memberikan hal yang positif bagi pelakunya. Memandang orang shalih, bisa membangkitkan semangat, untuk meningkatkan amalan kebaikan, tatkala keimanan seseorang sedang turun.

Sebagaimana dilakukan oleh Abu Ja’far bin Sulaiman, salah satu murid Hasan Al Bashri. Beliau pernah mengatakan,”Jika aku merasakan hatiku sedang dalam keadaan qaswah (keras), maka aku segera pergi untuk memandang wajah Muhammad bin Wasi’ Al Bishri. Maka hal itu mengingatkanku kepada kematian.” (Tarikh Al Islam, 5/109).

Imam Malik sendiri juga melakukan hal yang sama tatkala merasakan qaswah dalam hati. Beliau berkisah, ”Setiap aku merasakan adanya qaswah dalam hati, maka aku mendatangi Muhammad bin Al Munkadir dan memandangnya. Hal itu bisa memberikan peringatan kapadaku selama beberapa hari.” (Tartib Al Madarik, 2/51-52).

Imam Al Hasan Al Bashri sendiri dikenal sebagai ulama yang memandangnya, membuat pelakunya ingat kepada Allah, sebagaimana disebut oleh ulama semasa beliau, yakni Ibnu Sirin. Ulama lainnya, yang hidup semasa dengan beliau, Ats’ats bin Abdullah juga mengatakan,”Jika kami bergabung dengan majelis Al Hasan, maka setelah keluar, kami tidak ingat lagi terhadap dunia.” (Al Hilyah, 2/158).

Tak mengherankan jika Waqi’ bin Jarah menilai bahwa memandang wajah Abdullah bin Dawud adalah Ibadah. Abdullah sendiri adalah seorang ahli ibadah di Kufah saat itu. (Tahdzib At Tahdzi, 7/296).

Ibrahim bin Adham suatu saat hendak mengundang Sufyan Ats Tsauri saat berada di Baitul Maqdis. Ketika ada yang mempertanyakan maksud dari undangan itu, Ibrahim bin Adham pun berkata,”Aku ingin menyaksikan ketawadhu`annya.” (Manaqib Al Imam At Tsauri, hal. 38).

Maka tak heran, kalau Yahya bin Mu’adz Ar Razi merumuskan adanya lima obat hati, salah satunya adalah berkumpul dengan orang-orang shalih. (Shifat Ash Shafwah, 4/92).

Mengingatkan kepada Allah

Ada golongan dari para ulama terdahulu, jika seseorang memandang mereka, maka mereka akan ingat kepada Allah ta’ala. Di antara mereka adalah Amru bin Maimun, seorang tabi’in. Abu Isahaq As Sabi’i selaku muridnya berkata,”Jika ia dilihat, mengingatkan kepada Allah.” (Tahdzib At Tahdizb, 8/109).

Imam Ibnu Sirin pun demikian, Imam Ad Dzahabi mencatat, ”Tatkala ia berjalan di pasar, tidak ada seorang pun yang melihatnya kecuali ia ingat kepada Allah Ta’ala.” (Tarikh Al Islam, 4/193).

Sebagaimana juga beberapa ulama yang telah disebutkan sebelumnya, seperti Al Hasan Al Bashri dan lainnya.

Pengaruh Teman dalam Pergaulan

Kondisi teman, bisa berpengaruh banyak hal kapada kita, sehingga perlu bagi kita berhati-hati memilih teman. Setidaknya, itulah inti dari nasehat yang disebutkan oleh Imam Abu Laits.

Beliau mengingatkan;

“Seorang tidak akan melakukan 8 hal, kecuali Allah akan memberinya 8 hal pula. Kalau ia banyak bergaul dengan orang kaya, maka timbul dalam hatinya kesenangan terhadap harta. Kalau ia akrab dengan orang miskin, maka timbul dalam hatinya rasa syukur dan qana’ah. Kalau ia berteman dengan penguasa, maka timbul rasa sombong. Kalau ia berdekatan dengan anak-anak maka ia banyak bermain. Kalau ia dekat dengan para wanita, maka syahwatnya akan timbul. Kalau ia berkarib dengan orang-orang fasiq, maka datang keinginan untuk menunda-nunda taubat. Kalau ia dekat dengan ahli ilmu, maka ilmunya akan bertambah. Kalau ia dekat dengan ahli ibadah, maka akan termotivasi melakukant ibadah yang lebih banyak.” (Bughyah Al Mustarsyidin, 9).

Walhasil, mendekat kepada para ulama adalah kebutuhan. Karena dengannya kita memperoleh banyak kebaikan.

Sebaliknya, bergaul akrab dengan orang yang berperangai buruk juga memberikan pengaruh buruk pula. Wallahu a’lam bish shawab.*/Sholah Salim/ Hidcom

Ambil Peran Strategis Wujudkan Kemerdekaan bagi Palestina

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Dr. H. Nashirul Haq, MA menyampaikan bahwa dunia, terutama Indonesia harus mengambil peran strategis dan terdepan untuk mewujudkan kemerdekaan bagi Palestina.

“Isu Palestina ini bukan hanya isu agama, tapi isu kemanusiaan, penjajahan dan keadilan,” tegasnya dalam paparan yang disampaikan pada agenda Konferensi Pers yang digelar oleh Forum Zakat (FoZ) di Hotel Sofyan, Cut Mutia, Jakarta Pusat (21/5/2021).

Langkah itu menurut pria yang akrab disapa UNH ini sangatlah mungkin, sebab Indonesia adalah negara berdaulat dan konstitusinya mendorong penghapusan penjajahan di muka bumi.

“Indonesia sebagai bangsa yang berdaulat harus berada di garda terdepan, bersama bangsa-bangsa lain, untuk menjadikan penjajahan ini sebagai musuh bersama dan menghentikannya dengan segala cara,” jelasnya.

Segala cara yang dimaksud adalah dengan menempuh segala jalur yang legal dan sah untuk ditempuh.

“Segala cara ialah secara diplomatik, secara ekonomi bahkan secara militer. Kita juga berharap agar Indonesia mengirimkan pasukan perdamaian ke Palestina,” imbuhnya.

Lebih jauh UNH mendorong FoZ menguatkan perannya dalam edukasi umat untuk membantu Palestina lewat zakat, infaq dan sedekah.

“FoZ bertanggungjawab mengedukasi umat dan menyalurkan bantuan kemanusiaan secara terkoordinir, seperti disampaikan tadi dengan Kementerian Luar Negeri, agar dana-dana sumbangan kemanusiaan ini tidak disalahpahami,” tutupnya.*/Ibn Suradi

Revolusi Shalat

Oleh Mujahid M. Salbu

PENGERAS suara di sudut masjid bagian atas bergetar. Sore yang sejuk, sejumlah santri bermain sepak bola di lapangan, yang lain berenang di danau penuh ikan dan siluet senja.

Dari pengeras suara, terdengar lantang pemberitahuan bahwa waktu sholat magrib kurang setengah jam lagi. Kepada warga dan santri diharap menghentikan seluruh aktivitas.

Bola berhenti menggelinding, kaki-kaki beranjak meninggalkan lapangan, rumput dan danau menjadi saksi langkah-langkah yang tak rela di dahului cahaya rembulan memasuki pintu-pintu masjid. Seluruh warga dan santri kembali ke rumah dan asrama. Bersiap menyongsong panggilan mulia Allah Ta’ala.

Demikian pemandangan yang lekat dalam pikiran, meninggalkan kesan mendalam bagi siapa saja yang pernah mengenyam kehidupan di pondok pesantren Hidayatullah Balikpapan dan di kampus lainnya di seluruh Indonesia. Di kampus itu, waktu-waktu sholat menjelma even kolosal penuh kegembiraan.

Sebuah ikhtiar membangun kesadaran yang bukan sebatas ritual, namun, upaya membangun sikap mental bahwa shalat merupakan momentum krusial. Shalat adalah bagian penting proses menuju kemenangan dan kebangkitan individu maupun jamaah kaum muslimin. Sholat adalah revolusi Islam yang konstitusional.

Di dalam masjid yang sejuk karena pilar-pilar dinding yang terbuka, suasana khidmat menembus jiwa, suara yang terdengar adalah riuh lantunan ayat-ayat suci dari jamaah yang sedang menunggu isyarat iqamat.

Rangkaian sholat kemudian dimulai, suasana tumakninah terasa pada setiap gerakan, rukuk dan sujud tidak terlalu ringan tetapi juga tidak terlalu memberatkan jamaah. Cinta pada ibadah menuntun setiap gerakan. Setelahnya, ada halaqah, majelis ilmu dan konsolidasi ideologi.

Prof. Dr. Ziaul Haque dalam bukunya Revolusi Islam (2000) menulis, shalat adalah permohonan tentang kebenaran dan ide-ide egaliter, kasih sayang, persaudaraan, dan solidaritas. Shalat adalah sumbu segala sesuatu yang bergerak; ia meruapakan peringatan tentang ide-ide natural, supra-natural dan ketuhanan.

Shalat juga berarti koneksi jiwa dan hati kepada sumber kekuatan energi. Dalam konteks sosial al Quran, shalat berarti sistem atau perilaku dari ide-ide moral yang berhubungan secara langsung dengan prinsip-prinsip atau nilai-nilai kebenaran, egalitas sosial, keadilan, kasih sayang dan tanggungjawab sosial.

Di dalamnya juga berarti panggilan dari kekuatan transendental sebagai bantuan dan bimbingan melawan kekuatan korupsi, tirani, ketimpangan, apatisme, kegelapan dan takhayul. Shalat merupakan inti perjuangan dan esensi ketekunan, kesabaran, dan kebajikan dalam gerakan melawan kebatilan. (Al Baqarah: 153-157)

Cikal bakal kebangkitan ormas Hidayatullah di mulai dari revolusi sholat. Bukan hanya pada shalat fardhu tetapi juga sunnah seperti shalat malam yang melekat sebagai spesifik character.

Lambung mereka jauh dari tempat tidur. Malamnya bagai sufi siang bagai singa. Energi spiritual dari kesunyian malam, merambat melalui rukuk dan sujud, melalui munajat penuh kepasrahan.

Jika hari ini ummat Islam belum mampu mewarnai kehidupan berbangsa dan bernegara; secara politik sejak pemilu pertana di tahun 1955 hingga pemilu terakhir 2019, belum ada partai Islam yang berhasil memenangkan pemilu.

Secara moral, pelaku tindak pidana korupsi tidak sedikit dari berasal dari partai Islam atau tokoh Islam. Sementara kelompok Islam di akar bawah juga tidak cukup masif membangun kekuatan yang solid.

Bisa jadi karena sejarah panjang kolonialisme yang berkolaborasi dengan feodalisme memberi andil besar sulitnya ummat Islam bangkit sebagai kekuatan moral dan sosial serta politik.

Masjid sebagai basis gerakan dan shalat sebagai sumber kekuatan telah terkooptasi oleh pengaruh kolonialisme dan feodalisme yang mengkondisikan masjid hanya sebatas wadah aktivitas ibadah, sementara shalat dipersepsikan sebatas ritus legal yang lepas dari tanggungjawab moral dan sosial. Hipotesa ini masih harus diuji lebih lanjut.

Sejatinya pengaruh shalat sangat dahsyat jika merujuk pada sejarah kebangkitan Islam di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Saat pertama kali hijrah ke Madinah yang pertama dibangun adalah masjid kemudian pasar. Dari masjid gerakan moral dan sosial dimulai dengan misi utama kesetaraan yang menjadi musuh utama feodalisme.

Faktor utama kemajuan ormas Hidayatullah yang impresif karena secara internal mampu mengembalikan fungsi masjid dan shalat sebagai pilar utama membangun peradaban Islam di lingkungan kampus-kampus Hidayatullah di seluruh Indonesia.

Masjid tidak semata dimanfaatkan untuk aktivitas ibadah tetapi juga basis gerakan moral dan sosial. Shalat tidak hanya tentang rukuk dan sujud, namun, sebagai medium meraih kekuatan dan energi perjuangan.

Ada beberapa masjid lain di Indonesia yang berhasil memfungsikan masjid sebagai agen perubahan dan shalat sebagai revolusi mental. Diantaranya masjid Jogokariyan di Jogjakarta yang juga berfungsi sebagai Islamic Centre, dengan berbagai kegiatan pelayanan kepada jamaah, setidaknya ada 28 divisi kegiatan diantaranya biro Klinik dan Komite Aksi untuk Ummat. Namun, masjid seperti ini belum signifikan jumlahnya.

Relasi masjid dan sholat yang fungsional dan produktif dengan kehidupan berbangsa merupakan keniscayaan agar ummat Islam dapat memberi sibghah dan warna di tengah masyarakat.

Selama shalat masih sebatas ritus legal yang dengan itu sudah cukup menggambarkan keberimanan seseorang maka ummat Islam akan terus menjadi warga kelas dua, hanya dimanfaatkan untuk kepentingan politik dan syahwat kekuasaan kelompok tertentu.

Revolusi shalat adalah upaya mencegah kelompok-kelompok yang ingin mencuri cita-cita besar ummat Islam yaitu menegakkan peradaban Islam yang mulia.

*) Mujahid M. Salbu, penulis adalah wartawan senior. Saat ini mengabdi di Batam.

Masjidil Aqsha Tak Butuh Kita, Sejatinya Kitalah yang Butuh

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, KH Dr Nashirul Haq, mengatakan isu Masjidil Aqsha dan Palestina harus menjadi perhatian bagi segenap umat Islam karena posisinya yang amat penting dalam khazanah Islam sejak dulu, hingga kini.

Hal itu disampaikan beliau dalam konferensi pers Komite Indonesia Untuk Solidaritas Dunia Islam (KISDI) yang digelar di Aula Utama Gedung Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), Jln Kramat Raya, Jakarta, Kamis (20/5//2021).

Ia mengatakan, membebaskan Masjid Aqsha adalah amanah yang ada di pundak umat Islam sampai ia merdeka serta bebas untuk dimasuki dan diziarahi.

“Sejatinya Allah SWT yang punya otoritas untuk membela dan menjaga Baitul Maqdis, sebagaimana Allah SWT membela Ka’bah dari serangan Abrahah. Karena itu, bukan Al Aqsha yang membutuhkan kita, tapi kitalah yang membutuhkan Al Aqsha,” katanya dalam konferensi pers yang digelar secara virtual dan daring terbatas itu.

Ditambahkan beliau, sebagai umat Islam, sudah sepantasnya menjadikan Al Aqsha sebagai lahan jihad kita yang sangat nyata dan tidak perselisihkan para ulama.

“Maka segala bentuk kontrbusi dan partisipasi harus merupakan sebuah kewajiban jihad untuk membebaskan Palestina,” imbuhnya seraya menambahkan, bahkan hanya doa pun sudah merupakan bentuk dukungan.

“Penjajahan adalah musuh bersama dan kemerdaan adalah hak segala bangsa. Maka kita wajib bersatu untuk membebaskan Israel,” pungkasnya.

Konfrensi pers KISDI dipandu HM Mursalin ini dihadiri pula oleh para tokoh Islam seperti Ketua Umum Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia Dr Adian Husaini, ulama Betawai KH Ahmad Cholil Ridwan, Sekjen FUI KH Muhammad Al Khaththath dan lain sebagainya.

KISDI adalah organisasi yang didirikan oleh para ulama dan tokoh pergerakan Islam dan diresmikan oleh “Bapak NKRI” Mohammad Natsir pada tahun 1984 di Masjid Al Barkah As Syafiiyah, Tebet, Jakarta Selatan.

Saat itu, putra ulama kharismatik KH Abdullah Syafii yaitu KH Abdul Rasyid Abdullah Syafii diangkat menjadi Ketua KISDI dengan didampingi para tokoh seperti almarhum Ahmad Sumargono atau yang akrab disapa Bang Gogon. (ybh/hio)

Dunia Maya Mengatur Dunia Nyata

0

Oleh Imam Nawawi

DUNIA maya mengatur dunia nyata, saya jadikan judul dalam tulisan ini, sesaat setelah saya melihat akun FB dan IG dari Ustadz Mohammad Fauzil Adhim yang diblokir 24 jam karena postingan beliau yang berjudul “Monyet Kudisan yang Mengusir Penolongnya.”

Judul artikel yang sebenarnya fakta sejarah itu memang disertai foto orang-orang Yahudi yang tampak kumuh dan amat memprihatinkan. Dalam kondisi amat membutuhkan pertolongan itu, mereka datang ke Palestina sebagai pengungsi pada tahun 1947.

Dan, saya pikir perlu kita ambil paragraf pertama dari tulisan Ustadz Mohammad Fauzil Adhim itu.

“Dahulu monyet-monyet kudisan tanpa alas kaki dan tanpa baju ini datang dalam keadaan terusir. Tidak ada satu pun negeri di Eropa mau menerima kehadiran mereka. Satu-satunya negeri yang mau menerima mereka adalah Palestina dan menyambut hangat kehadiran mereka. Muslimin Palestina memperlakukan mereka layaknya manusia. Bukan sebagai monyet kudisan.”

Patut Dipertanyakan

Dari kasus yang dialami Ustadz Mohammad Fauzil Adhim atas postingannya di FB dan IG kita patut bertanya. Apa sebenarnya media sosial yang selama ini kita gunakan. Benarkah itu hanya sebatas media sosial biasa atau juga sejatinya hendak mengatur arus informasi dan apa yang boleh dan tidak boleh diposting.

Saya pun coba klik di google, “mengapa fb memblokir postingan tentang israel”

Ternyata saya diarahkan pada berita Detik.com di sini yang mengutip Aljazeera yang diposting belum lama ini.

“Perusahaan media sosial membungkam suara Palestina saat mereka berjuang untuk kelangsungan hidup mereka,” ujar Marwa Fatafta, Anggota Kebijakan dari lembaga pemikir Al Shabaka dikutip dari Al Jazeera, Selasa (11/5/2021).

“Ini bukan insiden satu kali, ini adalah lanjutan dari sensor sistematis dan diskriminasi yang lebih luas yang menargetkan, terutama mereka yang terpinggirkan dan tertindas, seringkali atas perintah rezim yang menindas,” ungkap Fatafta.

Ia mendesak Facebook yang juga menaungi Instagram, menghentikan sensor yang dilakukannya terhadap konten serangan Israel dan menjelaskan kepada publik mengapa menghapus konten tersebut.

Menarik kita perhatikan kata “Sensor Sistematis” kemudian “diskriminasi.”

Artinya, media sosial (FB dan IG) sejatinya adalah ruang yang masih menyisakan pertanyaan serius, apakah ini adalah dunia maya yang bebas, objektif, dan membela kemanusiaan atau justru ini adalah dunia maya yang hendak mengatur manusia dengan keinginan kelompok tertentu dengan membatasi, menyensor apa-apa yang dinilai tidak relevan dengan kepentingan dari media sosial itu sendiri.

Pada saat yang sama, tidak sedikit umat Islam yang telah merasa nyaman di media sosial dalam kondisi tidak sadar bahwa sejatinya mereka dibatasi dan diatur untuk bisa posting dan diskusi. Jadi, umat Islam harus kembali melihat lebih jauh bahwa kita butuh ruang maya yang benar-benar jujur, adil, dan objektif.

Kendati demikian, patut disyukuri karena masih ada yang waras dalam menyikapi tragedi yang menimpa tanah suci Palestina itu. Hal itu misalnya dilakukan oleh sekelompok karyawan Google Yahudi yang meminta raksasa teknologi itu untuk meningkatkan dukungannya kepada warga Palestina.

Permintaan itu muncul di tengah serangan Israel ke wilayah Gaza yang telah menewaskan lebih dari 200 orang, termasuk di antaranya ana-anak.

Dalam sebuah petisi, pekerja Google mendesak CEO Sundar Pichai untuk mengeluarkan pernyataan yang mengutuk serangan tersebut. Termasuk di dalamnya juga pengakuan langsung atas kerugian atas kekerasan yang dilakukan oleh militer Israel terhadap warga Palestina.

“Warga Palestina sangat terpengaruh oleh kekerasan pendudukan militer yang terjadi di walayah itu,” demikian bunyi surat tersebut, dilansir Kompas.com yang dikutip dari Middle East Eye di sini.

Kuatkan Dunia Nyata

Dengan peristiwa ini umat Islam harus semakin mengerti bahwa dunia maya dalam konteks tertentu sangat mengatur kita. Dan, karena itu, langkah konkret yang harus dilakukan oleh umat ini adalah benar-benar memperkuat barisan di dunia nyata.

Pertama, dengan mempertanyakan kepada FB dan IG mengapa mereka mendiskriminasi penindasan yang dialami oleh rakyat Palestina.

Kedua, membangun sikap kritis terhadap arus informasi yang ada, terlebih pada hal-hal yang memang secara fakta patut dicurigai, dipertanyakan bahkan disanksikan.

Ketiga, silaturrahim harus mengarah pada kesatuan hati dan langkah di dalam dunia nyata, sembari mendorong anak-anak muda Muslim yang mengerti IT untuk membuat media sosial alternatif yang didukung oleh seluruh umat Islam.

Dengan langkah-langkah konkret yang memang membutuhkan komitmen, di sinilah umat Islam harus mulai membangun konsentrasi kuat, sehingga memiliki arus sendiri dan tidak terpedaya oleh isu-isu picisan yang kadang ditampilkan seolah besar, tapi yang terjadi, umat Islam terus kehilangan momentum dan selalu kalah cepat dalam kesadaran dan langkah nyata. Allahu a’lam.*

Imam Nawawi, Ketua Umum PP Pemuda Hidayatullah

Pangdam Kasuari Kunjungan ke Ponpes Hidayatullah Manokwari

MANOKWARI (Hidayatullah.or.id) — Pangdam XVIII/Kasuari, Mayjen TNI I Nyoman Cantiasa, S.E., M.Tr.(Han) didampingi istri yang juga Ketua Persit KCK PD XVIII/Kasuari, Ny. Ade Nyoman Cantiasa beserta rombongan melakukan anjangsana silaturrahim ke Pondok Pesantren Hidayatullah Manokwari, Jl. Trikora Arfai II, Kelurahan Anday, Distrik Manokwari Selatan, Kabupaten Manokwari, Senin (10/5/2021).

Rombongan Pangdam XVIII/Kasuari ini sekaligus mengadakan serap aspirasi, bincang bincang dan bakti sosial dalam rangka menyemarakkan bulan suci Ramadhan 1442 Hijriyah.

Rombongan diterima langsung oleh ketua Yayasan Ponpes Hidayatullah Manokwari Al Ustadz Ahmad Taufiq, S.Pd.I.

Dalam sambutannya mewakili keluarga besar Ponpes Hidayatullah Manokwari sangat berterima kasih sudah dikunjungi oleh Pangdam XVIII/Kasuari.

“Saya atas nama keluarga besar Ponpes Hidayatullah Manokwari sangat berterima kasih kepada Pangdam beserta Ketua Persit yang mau menyempatkan untuk mengunjungi kami di Ponpes Hidayatullah Manokwari ini,” kata Ahmad Taufiq.

Ahmad Taufiq menambahkan, kunjungan Pangdam akan memberi inspirasi kepada santri untuk juga berprestasi agar dapat menjadi seperti tokoh sekaliber Mayjen TNI I Nyoman Cantiasa yang memberi teladan pengabdian untuk umat dan bangsa Indonesia tercinta.

“Ini menjadi dukungan moril buat mereka agar semakin semangat dalam belajarnya, sebab tidak mudah untuk bisa bertatap muka langsung dengan Pangdam apalagi dikunjungi,” kata Ahmad Taufiq.

Sementara itu, Pangdam XVIII/Kasuari, Mayjen TNI I Nyoman Cantiasa, S.E., M.Tr.(Han) dalam kesempatan sambutannya mengatakan kunjungan dan kegiatan baksos ini adalah kepedulian pihaknya terhadap anak-anak santri yang mondok di Ponpes Hidayatullah Manokwari.

“Kami bisa bersilaturrahim dan berbagi dengan mereka terutama di akhir Ramadhan. Juga kami mengapresiasi peran Ponpes Hidayatullah Manokwari dalam membantu TNI dalam menjaga dan mendidik generasi terutama dalam bidang spiritual,” kata Pangdam.

Pangdam mendorong Ponpes Hidayatullah Manokwari untuk terus melanjutkan kiprahnya membangun generasi yang beriman dan bertakwa. Sebab, lanjutnya, ketika sebuah generasi dekat dengan Tuhannya, maka pasti mereka akan memiliki moral yang baik sehingga akan seimbang antara hablumminallah dan Hablumminannas.

Dalam kunjungannya ini, Pangdam memberikan bantuan sembako & bingkisan lebaran kepada 60 santriwan/santriwati.

Turut hadir dalam kesempatan tersebut Anggota Pembina Yayasan Ponpes Hidayatullah Manokwari Ust Muhammad Sulton, S.Pd.I, Pengurus Yayasan Ponpes Hidayatulah Manokwari, Pengurus Muslimat Hidayatullah Papua Barat dan Pemuda Hidayatullah Papua Barat beserta perwakilan amal usaha lainnya.*/Miftahuddin

Tazkiyatun Nafs Perkara Sangat Penting dalam Kehidupan

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Tokoh dai internasional Syeikh DR. Fuad Abdo Muhammad Al-Soufi, menjadi narasumber dalam acara Kajian Tazkiyatun Nafs bertajuk “Ramadhan Momentum untuk Menyucikan Jiwa” yang digelar oleh DKM Masjid Ummul Quro, Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, Senin (10/5/2021).

Dalam pemaparannya, Syeikh Fuad Abdo menginisiasi dimasukkannya materi tazkiyatun nafs sebagai materi ajar di lembaga pendidikan formal karena muatannya yang dinilai amat penting dalam membentuk jiwa manusia.

Tazkiyatun Nafs adalah perkara yang sangat penting dalam kehidupan ini, tapi sangat disayangkan dia tidak masuk dalam kurikulum akademik. Hanya dijadikan pelajaran tambahan saja,” kata Dr Fuad Abdo dalam kajian yang berlangsung virtual lewat Zoom tersebut.

Dai lintas negara yang juga Direktur Al Wefaq Internasional Development ini mengatakan betapa pentingnya tazkiyatun nafs, bahkan ia melampaui keutamaan ta’lim.

Menurutnya, keduanya harus sering sejalan. Oleh karenanya, beliau menegaskan, bahwa umat Islam mesti memahami bahwa ta’lim dan tazkiyatun nafs dua sisi tak terpisahkan

“Manakah yang lebih utama antara ta’lim atau tazkiyatun nafs. Di dalam Al-Qur’an ada beberapa ayat yang membahas tentang tazkiyatun nafs dan ta’lim, kebanyakan ditemukan mendahulukan kalimat tazkiyah daripada ta’lim,” imbuhnya.

Syeikh DR. Fuad Abdo Muhammad Al-Soufi menukaskan, tazkiyatun nafs sejatinya bukan semata proses penyucian jiwa dari perbuatan dosa dan proses pembinaan akhlakul karimah dalam diri dan kehidupan manusia, melainkan ia juga merupakan ilmu tentang hati.

Tazkiyatun nafs pada hakikatnya adalah fiqhul quluub, ilmu untuk mengetahui hati, apa yang harus ia perbuat dan apa yang harus ia tinggalkan,” ungkapnya.

Beliau pun berpesan semoga Ramadhan yang akan pergi tinggal menghitung jari ini betul betul menjadi momentum istimewa untuk kembali mentazkiyah jiwa-jiwa kita.

Kajian virtual yang berlangsung selepas shalat Asar hingga menjelang berbuka puasa ini diikuti oleh peserta itikaf DKM Masjid Ummul Quro, Pondok Pesantren Hidayatullah Depok.

Kegiatan ini juga turut dihadiri oleh Ketua DKM Masjid Ummul Quro Al Ustadz Rasfiuddin Sabaruddin S.sy, MIRK yang sekaligus memandu acara dan Ketua Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Depok Al Ustadz Lalu Mabrul, M.Pd.I. (ybh/hio)

Warga Hidayatullah Berlomba Infaq untuk Pembangunan Masjid Ar-Riyadh

0
Salah satu sudut masjid Ar Riyadh Hidayatullah Gunung Tembak dalam suasana terik siang Ramadhan 1442

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Segenap kader, pengurus, jamaah, dan simpatisan Hidayatullah berlomba-lomba dalam berinfaq pada bulan suci Ramadhan 1442H.

Fenomena menggembirakan ini terlihat saat digelarnya lelang jilid dua sebagai kelanjutan Gerakan Nasional Infaq Pembangunan (GNIP) Masjid Ar-Riyadh Kampus Hidayatullah UmmulQura.

Pada acara lelang jilid pertama beberapa hari lalu, saat peluncuran GNIP, 20 Ramadhan (02/05/2021), panitia sukses mengumpulkan dana komitmen sebanyak lebih dari Rp 1 miliar.

Hidayatullah pun memanfaatkan momentum Ramadhan untuk kembali menggelar GNIP Masjid Ar-Riyadh jilid dua pada 27 Ramadhan 1442 H, Ahad (09/05/2021).

Para jamaah Hidayatullah serta para kader yang tersebar di seluruh pelosok Indonesia tampak saling berlomba untuk mengumpulkan dana. Tidak berlama-lama, dana komitmen pada Ahad itu tercatat mencapai lebih dari Rp 1 milyar (di luar komitmen sebelumnya).

“Dari cabang Berau Rp 100 juta, dari Mushida Rp 143 juta,” ujar Ustadz Zainuddin Musaddad selaku koordinator GNIP, saat membacakan komentar-komentar di channel YouTube LPPH Gunung Tembak yang ditayangkan pada sebuah layar di lokasi acara.

Tentu banyak nama institusi maupun personal lainnya yang tercatat pada kolom komentar tersebut dengan angka infaq berbeda-beda.

“Bukan tentang nilainya, tapi ini ada contoh yang diajarkan untuk anak (generasi, red),” sambung Ustadz Zainuddin Musaddad ketika membacakan salah satu amplop yang mencantumkan seluruh nama anggota keluarga pemberi dana infaq tersebut.

Acara yang bertempat di Masjid Ar-Riyadh, Gunung Tembak, Balikpapan, Kalimantan Timur, itu dihadiri langsung oleh Pemimpin Umum Hidayatullah KH Abdurrahman Muhammad.

Hadir pula Ketua Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Balikpapan Ustadz Hamzah Akbar serta ratusan jamaah shalat subuh secara berjarak. Tampak ribuan hadir secara online yang menyaksikan via Youtube.

Meski lelang dana ini ditujukan secara nasional, namun ternyata kader-kader Hidayatullah yang tersebar di mancanegara pun tidak mau ketinggalan.

Dalam momentum yang sakral ini, tampak “hadir” berinfaq santri-santri Hidayatullah yang belajar antara lain di Sudan, Turki, dan Malaysia. Tak berlebihan kiranya kalau Ustadz Zainuddin menyebutnya “Gerakan Internasional”.

Ustadz Hamzah Akbar menjelaskan, target dalam waktu dekat, dana yang dibutuhkan untuk penyelesaian pembangunan Masjid Ar-Riyadh sebesar Rp 3 miliar.

Dana tersebut akan dialokasikan untuk penyelesaian lantai pertama masjid yang biasa ditempati shalat oleh para jamaah. Sedangkan total dana yang dibutuhkan untuk penyelesaian sepenuhnya Masjid Ar-Riyadh adalah sebanyak Rp 43 miliar.

Berdasarkan catatan dari panitia pembangunan, hingga Ahad (11/05/2021) siang waktu Balikpapan (WITA), dana pembangunan Masjid Ar-Riyadh yang telah masuk ke panitia sebesar lebih dari Rp 1,5 miliar baik tunai maupun via transfer.

Sedangkan total dana komitmen infaq yang tercatat sebesar Rp 2,1 miliar lebih.* (Asrijal/Media Center UmmulQura Hidayatullah)

Akhir Ramadhan, BMH-Pos Dai Gelar Wisuda 29 Dai Muda dan Ditugaskan ke Nusantara

BOGOR (Hidayatullah.or.id) — Laznas BMH bersama dengan Pos Dai sinergi gelar wisuda dan penugasan dai muda ke berbagai wilayah di Nusantara tepat di hari ke 27 Ramadhan 1442 H di Ciomas Bogor, Jawa Barat (8/5).

“Alhamdulillah, sinergi ini adalah yang ke enam kalinya bersama Pos Dai dalam upaya ikut mencerdaskan bangsa melalui gerakan melahirkan dai-dai muda untuk menguatkan kiprah dai tangguh BMH di berbagai daerah di Nusantara,” terang Direktur Utama Laznas BMH, Supendi.

Samani Harjo selaku Kepala Sekolah Dai Pos Dai mengatakan bahwa angkatan ke enam ini merupakan wujud konkret dari kesinambungan program dakwah yang terus mendapat support dari umat Islam.

“Ini adalah angkatan ke enam. Alhamdulillah di tengah pandemi, Sekolah Dai terus komitmen hadirkan dai-dai muda yang pada hari ini, mereka dengan sepenuh hati siap ditugaskan ke berbagai daerah di Tanah Air,” ungkapnya.

Pada kesempatan ini ada 29 dai yang terdata siap menjalani wisuda dan ditugaskan ke berbagai daerah.

Muhammad Jihad Hirto di antaranya, dai muda asal Halmahera Maluku Utara ini mengaku siap menjalankan tugas dakwah.

“Insha Allah, bismillah. Dengan bekal ilmu yang kami peroleh selama setahun di Sekolah Dai ini, saya akan berusaha semampu saya terjun kedunia dakwah. Dimana masyarakat pedalaman memang sangat kekurangan dai yang siap membina masyarakat di sana,” ungkapnya semangat.*/Herim

[DOWNLOAD] Naskah Khutbah Hari Raya Idul Fitri 1442 Hijriyah

BERIKUT naskah khutbah Idul Fitri 1442 Hijriyah rilis DPP Hidayatullah. Semoga bermanfaat dan dapat dimanfaatkan seluas-luasnya kaum muslimin. Selamat Idul Fitri, Taqobbalallahu minna wa minkum shiyamana wa shiyamakum.

DOWNLOAD