Beranda blog Halaman 411

Muharram Momentum Rekatkan Ukhuwah Antar Ormas Islam

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah DKI Jakarta menggelar acara Webinar Peradaban Islam bersama Ketua ketua Ormas Islam DKI Jakarta bertajuk “Bagimu Bangsa dan Negeri Bakti Kami Setelah Ujian Pandemi” bertepatan dengan bulan Muharram dan bulan HUT RI ke-76 digelar secara virtual yang disiarkan secaar langsung di channel Gardakota TV, Selasa malam, 8 Muharram 1443 (17/8/2021).

Ketua DPW Hidayatullah DKI Jakarta, Ust Muhammad Isnaini dalam sambutannya mengatakan kegiatan ini dalam rangka mengeratkan persaudaraan antar sesama organisasi massa Islam.

Selain itu, sebagai shahibul hajat, kegiatan webinar ini juga sebagai momentum untuk menyerap hikmah semangat Hijriyah dimana saat ini umat Islam sedunia telah memasuki awal Muharram.

Selain itu, lanjut Isnaini, acara ini juga menjadi salah tau rangkaian refleksi untuk milad 50 tahun Hidayatyullah yang bertepatan dengan peringatan Dirgahayu Republik Indonenesia yang ke-76.

Olehnya, untuk peringatan hal tersebut, DPW Hidayatullah DKI Jakarta menyelenggarakan sejumlah kegiatan diantaranya Kibar Bendera Merdeka yang berlangsung di rooftop Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah Jakarta, beberapa perlombaan dan webinar peradaban Islam ini.

“Terima kasih yang sebesar besarnya atas kehadiran para ketua ketua ormas Islam DKI Jakarta yang membersamai agenda ini,” kata Isnaini.

Menurut Isnaini, Hidayatullah harus terus belajar sampai kapanpun termasuk pada kesempatan milad setengah abad Hidayatullah. Oleh karena itu, Hidayatullah akan selalu siap untuk menyerap berbagai masukan dan inspirasi dari ormas senior yang lebih dulu ada.

“Kami sebagai yunior bersiap dan sangat berkepentingan untuk berguru kepada para senior. Termasuk kepada spesial dan terimakasih kepada KH Astamar yang saat berkoordinasi dengan beliau, beliau memberikan saran berkaitan dengan tema malam ini,” kata Isnaini.

Isnaini mengatakan, pergerakan atau organisasi yang lebih dulu hadir telah memberikan kontribusi nyata bagi bangsa dan negara. Hidayatullah, tambah Isnaini, berkepentingan untuk banyak menyerap ilmu dari para senior.

“Kami sadar dan kami yakin betul bahwa dari sisi usia banyak organisasi massa yang jauh lebih senior dan jauh lebih tua dibandingkan dengan Hidayatullah dan tentu sudah banyak sekali memberikan kontribusi terbaiknya bagi negeri ini,” kata Isnaini.

Dia berharap, semoga dari forum webinar ini akan melahirkan ide dan banyak gagasan cemerlang yang kemudian dapat dieksekusi bersama untuk selanjutnya menjadi solusi atas beragam problem yang tengah dihadapi umat, bangsa, negara bahkan dunia.

“Semoga masa mendatang dapat juga dirumuskan bagaimana pemajuan pendidikan, bagaimana melakukan recovery pasca pandemi dan menawarkan rancang bangun sebagai blue print langkah kita ke depan,” tukasnya seraya berdoa semoga ormas Islam dapat terus berkontribusi untuk Jakarta sebagai semboyannya.

“Maju kotanya, bahagia warganya, dan berkah untuk semua,” pungkasnya dalam sambutanya dalam acara yang dimoderatori oleh Chairman Salam Institute Suhardi Sukiman ini.

Hadir dalam kesempatan webinar para tokoh yang juga pimpinan organisasi Islam se-DKI Jakarta yaitu Ketua DPW PUI DKI Jakarta KH Gunadi, S.T.,MM, Ketua DPW IKADI DKI Jakarta Dr H Attabik Luthfi, MA, Ketua DPW Muhammadiyah DKI Jakarta KH Sun’an Miskan, Lc, Sekretaris PW Al Washliyah DKI Jakarta KH Hendra Gunawan Thaher.

Turut hadir juga memberikan brainstorming Ketua DMW Hidayatullah DKI Jakarta Ust Muhammadilis Karyadi, DPW Serikat Islam DKI Jakarta KH. Ahmad Astamar, Ketua Wahdah Islamiyah DKI Jakarta KH. Ilham Jaya, Ketua DDII DKI Jakarta KH Ahmad Murjoko, Ketua DPW Ittihadul Muballighin DKI Jakarta KH. Drs. Ningram Abdullah, dan Pengurus Al Irsyad DKI Jakarta KH Mansyur Alkatiri. (ybh/hio)

Keharuan Mutiara Hikmah Juara 1 Lomba Karya Tulis Nasional

BOGOR (Hidayatullah.or.id) — Santriwati Pondok Quran Hidayaturrahman (PQH), Mutiara Hikmah Fajar, berhasil memenangkan lomba karya tulis yang digelar oleh Pengurus Pusat Muslimat Hidayatullah (Mushida) dalam rangka memperingati 50 Tahun Hidayatullah.
Mutiara Hikmah Fajar yang masih duduk dibangku SMA ini berhasil menyabet gelar Juara 1 dengan karya tulis berjudul “Perjalanan Meniti Keikhlasan”.

Memenangi perlombaan even tingkat nasional ini tentu bukan perkara gampang karena Mutiara harus berkompetisi dengan ratusan peserta lainnya dari seluruh Indonesia.

Namun, berkat kerja keras, doa dan usahanya yang sungguh sungguh, Mutiara berhasil keluar menjadi penulis terbaik nasional pada kategori tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA)/ Sederajat se-Indonesia.

Dan, ternyata, Mutiara punya cerita menarik berkenaan pencapaiannya ini. Dia mengaku baru bisa mempersiapkan karyanya hanya 2 hari sebelum batas akhir penyerahan dan penjurian.

“Baru sempat diselesaikan 2 hari sebelum dikirim ke panitia Milad 50 Tahun Hidayatullah dengan sebanyak 7 halaman,” kata Mutiara kepada media Pondokquran.org beberapa waktu lalu.

Proses seleksi dan penjurian pun berjalan untuk menentukan siapa penulis terbaik dari seluruh santri tingkat SMA sederajat Hidayatullah se-Indonesia dan Alhamdulillah, Mutiara santri PQH menjadi yang terbaik.

Saat ditanya apa pesan ayahnya kepadanya semasa hidup, gadis yatim sejak usia kecil ini tiba tiba menundukkan kepala dan dengan lirih berusaha mengucapkan sesuatu. Mutiara tak mampu menahan tumpahan air matanya.

Seraya menyeka air yang berlinang dari kelopak matanya dan suara yang sedikit tertahan, Mutiara menyandungkan doa untuk sang ayah; “Allahummaghfirlahu warhamhu wa ‘afi Wa’fu ‘anhu, Yaaa Rabb ampunilah Abiku, maafkan dosa dan khilafnya”.

Salah seorang pengurus PQH, Ustadz Irwan Harun, mengatakan Mutiara termasuk santriwati yang memiliki bakat dalam tulis menulis yang selalu dilatih dengan mengikuti berbagai pelatihan atau perlombaan yang ada.

“Masya Allah ini adalah artikel yang kesekian kalinya ananda tuangkan dengan pena di atas selembar kertas putih. Mengisyaratkan putih hati dan pikirannya saat kata demi kata dirangkai menjadi satu kalimat penuh makna tersirat,” kata Ust Irwan yang juga sahabat ayahnya.

Menurut Ust Irwan, ananda Mutiara Hikmah, sesuai namanya, tersimpan mutiara kata dalam setiap kalimat yang ia goreskan. Mutiara itu sudah berproses sejak Sekolah dasar (SD), usia amat sangat dini yang sebagian besar anak seusianya cenderung lebih banyak bermain.

“Sejak Sekolah Dasar ananda sudah biasa menulis artikel 2 hingga 3 lembar. Allahu Akbar,” kata Ust Irwan.

Ust Irwan mengatakan, Mutiara bahkan secara aktif menuangkan pikiran dan gagasannya melalui tulisan. Lalu tulisan tangannya telah selesai dituangkan ke lember kertas itu dikumpulkan kepada gurunya di pesantren.

Ust Irwan berharap Mutiara dapat terus mengembangkan bakatnya dengan banyak membaca, belajar dan terus berlatih. Raihan juara yang berhasil dicapai harus menjadi modal motivasi untuk terus berkarya. “InsyaAllah ada jalan terbaik untuk mewujudkan cita citanya menjadi seorang penulis, Allahumma Aamiin Yaa Rabbana,” pungkasnya. (zayn)

Pesantren Hidayatullah dari “Sarang Laba-laba” hingga “Sarang Lebah”

Oleh KH Muhammad Syakir Syafi’i*

DALAM Bab I Pasal 1 Pedoman Dasar Organisasi (PDO) disebutkan bahwa Hidayatullah adalah organisasi yang berbadan hukum perkumpulan, dan merupakan kelanjutan dari Pesantren Hidayatullah dan cabang-cabangnya yang didirikan pertama kali oleh Ustadz Abdullah Said pada hari Senin, tanggal 1 Muharram 1393 H, bertepatan dengan tanggal 5 Februari 1973. Sehingga, pada bulan Muharram 1443 ini, Hidayatullah telah genap berusia 50 tahun.

Dalam sejarah perintisan dan penyebarannya, Hidayatullah identik dengan pesantren. Dapat dikatakan, eksistensi Hidayatullah di semua jaringan, baik di tingkat pusat, wilayah maupun daerah, diawali dengan pendirian sebuah pesantren.

Pada umumnya, pesantren dikenal sebagai lembaga pendidikan tradisional Islam untuk mempelajari, memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran Islam dengan menekankan penting moral keagamaan sebagai pedoman perilaku sehari-hari. (Zamakhsyari Dhofier: Tradisi Pesantren, LP3ES, Jakarta, 1994).

Namun, bagi Hidayatullah, Pesantren memiliki makna historis dan sekaligus filosofis yang lebih luas, lebih dari sekadar sebagai lembaga pendidikan sebagaimana dikenal pada umumnya.

Simbolisasi Gerakan

Allahuyarham Ust Abdullah Said, dalam berkomunikasi dengan para santri atau pun masyarakat secara umum, dikenal sebagai sosok guru dan pemimpin yang sangat kaya dengan bahasa-bahasa simbolik. Beliau sering melontarkan istilah-istilah yang bukan dalam arti sebenarnya, tapi merupakan simbol dari makna lain yang beliau maksudkan.

Bahasa simbolik biasanya digunakan untuk memudahkan pemahaman bagi para pendengar dan memberikan pengaruh yang kuat dalam pikiran dan kehidupan mereka.

Pada periode awal pendirian pesantren, beliau menyebut Pesantren Hidayatullah sebagai “sarang laba-laba”. Sebutan tersebut merupakan bahasa simbolik yang diinspirasi oleh sejarah perjalanan hijrah Rasulullah dan Abu Bakar As-Shiddiq, dari Makkah menuju Madinah (Yatsrib).

Disebutkan bahwa dalam perjalanan hijrah, dimana beliau berada dalam target pengejaran dan pembunuhan oleh kaum Quraisy, beliau bersembunyi di gua Tsur dengan ditemani oleh sahabatnya. Beliau berdua akhirnya selamat.

Para pengejar yang sudah berada di depan mulut gua tidak jadi masuk ke dalamnya, karena di mulut gua ada sarang laba-laba yang masih utuh dan tidak rusak. Para pengejar berkesimpulan, bahwa Rasul dan sahabatnya itu tidak mungkin bersembunyi di dalamnya karena adanya sarang laba-laba yang masih utuh itu. Dengan ijin Allah, sarang laba-laba telah menjadi sebab selamatnya beliau dari operasi jahat tersebut.

Pesantren Hidayatullah disimbolisasi dengan sarang laba-laba, karena bentuk kelembagaan pesantren diikhtiarkan dapat menjadi sarana perlindungan (dari Allah) bagi misi gerakan beliau yang sebenarnya, yaitu upaya mewujudkan ajaran Islam secara kaffah, sebagai rahmat bagi segenap alam.

Pada dekade tahun 1970 dan 1980-an, sudah jamak dipahami bahwa rezim Orde Baru acapkali menaruh kecurigaan dan bertindak represif terhadap gerakan-gerakan keislaman yang muncul. Aroma islamophobia dan stigmatisasi pada gerakan-gerakan keislaman, berhembus dengan kuat.

Keberadaan pesantren sebagai soko-guru lembaga pendidikan di Indonesia, serta kondisi sosio-politik yang berkembang pada dekade tersebut, telah menjadi salah-satu pertimbangan bagi Allahu Yarham Ustadz Abdullah Said dalam mendirikan Pesantren Hidayatullah.

Karena itulah, hingga akhir tahun 1990-an, Hidayatullah lebih dikenal sebagai pesantren daripada sebagai gerakan keislaman (harakah islamiyah) secara umum.

Hingga pada tahun 2000, Hidayatullah secara resmi mendeklarasikan diri sebagai organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam, dengan visi gerakan “Membangun Peradaban Islam”.

Transformasi gerakan dari lembaga sosial menjadi organisasi kemasyarakatan telah menempatkan organisasi Hidayatullah sebagai organisasi induk, sedangkan Pesantren Hidayatullah menjadi salah-satu saja dari amal usahanya yang beraneka ragam.

Hal yang menarik di awal periode ini ialah, bahwa upaya untuk menyukseskan program konsolidasi dan sosialisasi tentang eksistensi. Hidayatullah sebagai ormas beserta amal-usahanya, Pesantren Hidayatullah disimbolisasi dengan “sarang lebah”. Simbolisasi demikian dipandang memiliki pengaruh yang kuat dalam komunikasi untuk suatu agenda transformasi atau perubahan.

Al-Quran juga banyak menggunakan bahasa simbolik, yang salah-satu bentuknya disebut tasybih-tamtsiliy (perumpamaan). Kita mendapati perumpamaan-perumpaman yang sangat beragam dalam al-Quran.

Sehingga, sejumlah ulama ada yang menyusun kitab secara khusus dengan topik mengenai perumpamaan-perumpamaan dalam al-Quran. Misalnya “al-Amtsal fil-Quranil Karim”, karya Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah. Di antara bentuk perumpamaan dalam al-Quran ada yang kemudian dijadikan nama surah, yaitu surah al-‘Ankabut (laba-laba) dan surah an-Nahl (lebah).

Dalam al-Quran disebutkan, lebah adalah binatang penghasil madu yang sangat besar manfaatnya bagi manusia (QS. an-Nahl: 69). Bahkan, di surga nanti, orang beriman dan bertakwa akan mendapatkan balasan sungai-sungai yang airnya berupa madu (QS. Muhammad: 15).

Dengan simbolisasi sebagai “sarang lebah” berarti Pesantren Hidayatullah telah menetapkan positioning-nya yang otentik. Ia tidak hanya menyediakan nutrisi yang dibutuhkan bagi perkembangan hati dan pikiran manusia, tapi sekaligus sebagai obat yang membangun sistem imunitas dan membawa kesembuhan bagi manusia dari berbagai penyakit kehidupan.

Dalam hadis juga disebutkan tentang perumpaman orang mukmin sebagai lebah; bahwa lebah hanya makan dari yang serba baik (saripati bunga), menghasilkan sesuatu yang serba baik (madu), dan ketika hinggap di dahan, ia tidak pernah mematahkan dan merusaknya (H.R. Ahmad).

Demikianlah perumpaman orang mukmin, dan demikian pula simbol dari sikap, peran dan kontribusi yang harus diperankan oleh Pesantren Hidayatullah sebagai “sarang lebah”.

Peranan Pesantren Hidayatullah

Selain memiliki PDO, Hidayatullah juga menetapkan sejumlah Peraturan Organisasi (PO) yang mengatur banyak hal demi terwujudnya tata kelola organisasi dan amal-amal usahanya secara profetik dan profesional. Salah-satu PO yang telah ditetapkan adalah PO tentang Pesantren Hidayatullah No. 3 Tahun 2015, yang merupakan perubahan dari PO sebelumnya.

Dalam PO tersebut disebutkan bahwa visi Pesantren Hidayatullah ialah “Terwujudnya Miniatur Peradaban Islam”. Dan, guna mewujudkan visi di atas, Pesantreh Hidayatullah menjalankan sejumlah misi, yaitu: (a) mewujudkan masyarakat berjamaah, bersyariah, unggul dan berpengaruh; (b) menggerakkan dakwah dan rekrutmen anggota; (c) menyelenggrakan pendidikan integral berbasis tauhid; (d) menyelenggakan pasar syariah dan ekonomi keummatan yang berdaya saing; (e) memberdayakan kaum dhuafa dan mustadhafin; (f) mengembangkan lingkungan kampus yang alami, ilmiah dan islamiah.

Selain visi dan misi Pesantren Hidayatullah di atas, PO No. 3 Tahun 2015 juga menetapkan fungsi Pesantren Hidayatullah, yaitu sebagai: (a) Kampus peragaan syariat Islam, (b) Kampus dakwah dan rekrutmen anggota, (c) Kampus pendidikan dan perkaderan, (d) kampus pemberdayaan ekonomi, (e) kampus peduli dhu’afa dan mustadh’afin.

Alhamdulillah, ratusan jumlah Pesantren Hidayatullah yang telah tersebar dari Aceh sampai Papua, telah turut berkiprah dan bersinergi dengan pemerintah dan berbagai elemen masyarakat, dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa, sebagaimana dicita-citakan oleh para ulama dan tokoh-tokoh pendiri bangsa.

*) KH MUHAMMAD SYAKIR SYAFI’I, penulis adalah Ketua Departemen Kepesantrenan DPP Hidayatullah

Memaknai Sejarah 50 Tahun Hidayatullah

HIDAYATULLAH didirikan 50 tahun yang lalu, tepatnya 1 Muharam 1393 H di Balikpapan oleh Ustadz Abdullah Said. Seiring dengan perjalanan waktu setengah abad, telah banyak pencapaian yang dihasilkan. Hidayatullah selalu berusaha menjadi bagian dari organisasi massa Islam yang aktif melakukan pencerahan umat dengan tarbiyah dan dakwah.

Kemudian penting memaknai sejarah 50 tahun Hidayatullah agar ada kesinambungan sejarah dari generasi ke generasi Hidayatullah. Ada transformasi idealisme, nilai-nilai dari pendiri dan perintis Hidayatullah kepada generasi pelanjut.

Pertama, sejarah bukan hanya foto, video atau peninggalan-peninggalan barang masa lalu. Meski semua juga penting untuk terus dijaga keberadaannya sebagai simbol pengingat, tapi sejarah itu realitas yang terus-menerus bergerak dan tidak berujung.

Menarasikan sejarah dalam konteks kekinian dan mengaktualisasi nilai-nilai dalam sejarah itu sangat penting sehingga sejarah ini akan terus bergerak mencatatkan dirinya dengan tinta emas.

Memaknai sejarah Hidayatullah ini hidup bukan dengan menghidupkan kembali pendirinya ustadz Abdullah Said, itu tidak mungkin. Tapi dengan cara mempraktikkan pesan-pesan moral, nilai-nilai prinsip dan ajaran-ajaran kebaikan yang telah dilakukan para pendiri Hidayatullah

Kedua, bicara sejarah bukan hanya bernostalgia dengan melankolis dengan masa lalu. Terkadang ada yang memaknai sejarah sebagai bahan guyonan atau lelucon. Mungkin ini cara menghilangkan kenangan sejarah pahit masa lalu.

Ada juga yang berhalunisasi untuk mengulang romantisme masa lalu sebagai bentuk pelarian dari tekanan tidak bisa beradaptasi dengan realitas perubahan dan perkembangan zaman.

Penting memaknai sejarah dengan menggali mentalitas para pelaku sejarah masa lalu. Ini penggalian makna dibalik peristiwa sejarah.

Contoh sejarah penugasan para santri awal ke daerah-daerah yang belum dikenal. Mengapa mereka bisa taat dan berhasil? Karena ada mentalitas dari para kader untuk berkorban. Sehingga saat mendapatkan perintah tugas ke daerah maka tidak mengenal menawar apalagi menolak. Meski kondisi istri baru melahirkan, baru pindah rumah, pengantin baru atau kondisi-kondisi yang memerlukan pengorbanan.

Pengalaman-pengalaman ruhani dari para kader awal Hidayatullah perlu digali dalam merintis Hidayatullah baru di daerah terpencil. Bagaimana dalam kondisi sangat darurat, terintimidasi, terancam jiwanya atau terjepit kemudian datang pertongan Allah. Meski sifatnya spritual tapi ini pengalaman nyata yang bisa diulangi lagi oleh semua kader dalam konteks dan zaman yang berbeda.

Ketiga, kesadaran sejarah secara obyektif juga penting bagi generasi pelanjut. Sejarah adalah sunnatullah yang bersifat kausalitas atau sebab akibat. Bahwa kalau melakukan begini maka akan begini, jika tidak melakukan hal itu maka berakibat begitu.

Ternyata sejarah adalah karunia dari Tuhan yang paling dekat dengan kita untuk mengajari manusia bagaimana bertingkah-laku dalam kehidupannya dengan banyak contoh sejarah manusia. Sebagaimana Alah berfirman dalam al Qur’an surat an Nahl ayat 16, “Maka, mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?”

Dalam al Qur’an sebagai kitab suci banyak menceritakan sejarah umat-umat terdahulu, baik yang taat kepada Allah maupun yang ingkar. Allah juga menceritakan akibat dari masing-masing perbuatan mereka.

Sejarah dalam al Qur’an bukan dongeng semata sebagaimana orang-orang kafir yang tidak mempercayai kesucian al Qur’an. Sejarah dalam al Qur’an adalah pelajaran kehidupan manusia dengan kausalitas yang terjadi. Cerita di al Qur’an bukan peristiwa sejarah biasa tapi penuh makna dan pelajaran bagi orang-orang beriman.

Memaknai sejarah itu sangat penting sebagaimana pentingnya membuat sejarah dalam kehidupan kita dengan prestasi dan kontribusi terbaik bagi Islam dan kaum muslimin dalam berbagai aspek kehidupan sesuai dengan kompetensi masing-masing.

Di Hidayatullah berserakan cerita dari pelaku sejarah Hidayatullah yang belum terdokumentasikan dengan baik. Padahal jika dikumpulkan dan dirangkai dalam ensiklopedi sejarah perjalanan Hidayatullah 50 tahun dari semua daerah dan kader yang menjadi pelaku sejarah maka menjadi karya luar biasa untuk generasi berikutnya.

Kesadaran sejarah sangat penting untuk menjadi rujukan perlangkahan ke depan. Sejarah Hidayatullah akan terus bergerak dari masa lalu, masa kini dan masa mendatang dengan makna-makna yang terkandung di dalamnya.

Di mulai dari sejarah-sejarah kecil dan sederhana akan terangkai dengan sejarah kecil lainnya. Maka Hidayatullah akan men-sejarah di hati generasi dan umat Islam secara keseluruhan.

UST ABDUL GHOFAR HADI

Menggelorakan Konsolidasi

Oleh Imam Nawawi*

TIDAK bisa kita pungkiri bahwa hati ini sangat bahagia, bersyukur dan optimis akan masa depan umat seiring dengan diperingatinya Milad ke 50 Tahun Hidayatullah.

Namun, sejatinya momentum tersebut merupakan satu pengingat bahwa spirit jihad (kesungguhan) khususnya bagi kaum muda harus lebih dikonsolidasikan.

Kata konsolidasi sebagaimana belakangan sering didengungkan dalam beragam forum kelembagaan baik formal maupun informal dan nonformal memainkan peran strategis bagi eksistensi, kelangsungan dan pengembangan gerakan organisasi.

Ketua Umum DPP Hidayatullah, Ustadz DR. Nashriul Haq, MA dalam pembekalan dan pembukaan Rakornas BMH secara hybrid, Rabu, 9 Muharram 1443 H (18/8/2021) menegaskan perihal betapa konsolidasi ini amat penting.

“Konsolidasi ini penting. Eksistensi dan keberlangsungan lembaga sebuah organisasi, apalagi sebuah harakah, seperti Hidayatullah, sangat ditentukan oleh sejauh mana ia bisa melakukan konsolidasi. Kalau konsolidasi dilakukan, diperkuat, maka ia akan bertahan, akan berlanjut. Tapi kalau konsolidasi ini diabaikan, maka keberlangsungan sebuah lembaga itu akan terancam”

Fokus Jangka Panjang

Ketika konsolidasi yang ada, meliputi konsolidasi idiil, organisasi dan wawasan, berjalan dengan baik, maka soliditas tim akan sangat kuat, sehingga dapat unggul di dalam menghadapi beragam tantangan dan rintangan pergerakan.

Di sini setiap kader perlahan akan mulai paham tentang fokus jangka panjang gerakan Hidayatullah membangun peradaban Islam.

Bahwa di dalam upaya membangun peradaban Islam, mainstream organisasi berupa dakwah dan tarbiyah merupakan satu fokus jangka panjang yang harus digeluti dengan sebaik-baiknya, sehingga ke depan lahir generasi Muslim yang unggul dan membawa kemajuan bagi umat, bangsa dan negara.

Sebagaimana diingatkan oleh Ustadz Nashirul bahwa, Ustadz Abdullah Said selaku pendiri lembaga ini fokus membangun kader dai, mengembangkan pesantren dan menerapkan tantan nilai kehidupan berkampus yang benar-benar bernafaskan Islam.

“Maka beliau (Ustadz Abdullah Said) itu, tidak terlalu sibuk merespon kejadian-kejadian yang muncul. Beliau konsen membangun pesantren, melahirkan kader dai dan mengantarkan kehidupan pesantren sebagai miniatur peradaban Islam,” papar Ustadz Nashirul dalam kesempatan itu.

Maka, seperti itulah fokus yang harus kita miliki sebagai kader penerus perjuangan peradaban ini.

Jika tidak, maka kader akan terkecoh oleh segala macam kejadian, isu dan pemberitaan yang melelahkan dan tanpa sadar menguras energi namun tidak berdampak produktif apapun, baik dalam hal pembangunan kapasitas diri lebih-lebih percepatan kemajuan organisasi.

Oleh karena itu, penting kita camkan benar-benar pesan dari Ustadz Abdullah Said bahwa idealnya kader-kader ini mampu membuat irama sendiri dalam kehidupan ini, sehingga khalayak mengikuti kita. Bukan sebaliknya yang terjadi. Kita yang terus menari di atas irama dan gendang orang lain.

Langkah itu amat penting untuk mewujudkan peradaban Islam. Perlu fokus, kesabaran dan konsistensi tinggi. Sebagaimana pesan Al-Quran kepada kita semua.

“Sekiranya (yang kamu serukan kepada mereka) ada keuntungan yang mudah diperoleh dan perjalanan yang tidak seberapa jauh, niscaya mereka mengikutimu, tetapi tempat yang dituju itu terasa sangat jauh bagi mereka.” (QS. At-Taubah [9]: 42).

Oleh karena itu, di sinilah pentingnya konsolidasi bagi kemajuan organisasi sehingga tetap memiliki daya fokus yang tinggi serta produktivitas yang progresif bagi kelangsungan lembaga dalam upaya melahirkan kader-kader terbaik melalui gerakan mainstrem dakwah dan tarbiyah. Allahu a’lam.*

*) Imam Nawawi, penulis adalah Ketua Umum PP Pemuda Hidayatullah

HUT RI ke-76, Keluarga Besar Brimob Baksos di Ponpes Hidayatullah Jayapura

0

JAYAPURA (Hidayatullah.or.id) – Meriahkan HUT RI yang ke-76 Tahun, Sakanta Cycling Club bersama Keluarga Besar Brimob melaksanakan bakti sosial (baksos) di Pondok Pesantren Hidayatullah Holte Camp Distrik Muara Tami Kota Jayapura, Provinsi Papua, Ahad, 6 Muharram 1443 (15/08/2021).

Kegiatan bakti sosial tersebut dipimpin langsung oleh Ketua Pengurus Sakanta AKP Basri dan dampingi oleh pengurus Sakanta dengan pelaksanaan kegiatan diawali dengan gowes bersama pengurus Sakanta Cycling Club dan keluarga besar Brimob dengan route Mako Brimob Kota Raja tujuan Pondok Pesantren Hidayatullah Holte Camp.

Ketua Pengurus Sakanta AKP Basri, ketika dikofirmasi mengatakan, kegiatan baksos dan gowes bersama ini dilaksanakan dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan RI yang ke-76 Tahun dan peringatan Tahun Baru Islam 1443 H.

“Pada hari ini kami menyerahkan bantuan sosial berupa beras, mie instan, minyak goreng dan telur kepada Pondok Pesantren Hidayatullah yang di terima langsung oleh Ustadz Teguh selaku pengurus Pondok Pesantren Hidayatullah,” katanya.

Diharapkan dengan adanya bantuan sosial ini dapat membantu meringankan kebutuhan sehari-hari bagi para santri dan pengurus Pondok Pesantren Hidayatullah.

“Kami berpesan, jangan dilihat dari besar atau kecilnya bantuan sosial ini namun yang lebih terpenting adalah wujud kepedulian diantara sesama harus tetap dibangun,” tambahnya.

Ustadz Teguh selaku pengurus Pondok Pesantren Hidayatullah Holte Camp dalam kesempatan tersebut mengucapkan terima kasih banyak karena dalam suasana pandemi Covid-19 ini terus terjalin sinergi ditandai dengan adanya bantuan yang diberikan tersebut.

“Kami berharap semoga tetap terjalin hubungan silaturahim antara pengurus Pondok Pesantren Hidayatullah Jayapura dan Keluarga Besar Brimob,” kata Ust Teguh seraya menambahkan pihaknya mendoakan khususnya anggota Brimob Polda Papua agar senantiasa dilindungi oleh Allah SWT dimanapun bertugas. (ybh/hio)

Yayasan Peradaban Islam Loteng Groundbreaking Ponpes Tahfidz Quran Hidayatullah

LOMBOK TENGAH (Hidayatullah.or.id) — Yayasan Peradaban Islam (YPI) yang membawahi Pondok Pesantren Hidayatullah Lombok Tengah (Loteng) melakukan prosesi peletakan batu pertama (groundbreaking) untuk pembangunan pesantren tahfidzul Qur’an itu yang berlokasi di Desa Labulia, Kecamatan Jonggat, Kabupaten Lombok Tengah, pada Selasa, 1 Muharram 1443 (10/8/2021).

Peletakan batu pertama ini bertepatan juga dengan peringatan 50 tahun usia Hidayatullah berdasarkan hitungan tahun Hijriah, tanggal 1 Muharram 1443 H bertepatan dengan 10 Agustus 2021.

Momentum setengah abad Hidayatullah yang diperingati Hidayatullah NTB ini menjadi khidmat dimana acara tersebut dihadiri oleh beberapa tokoh besar NTB diantaranya Kepala Badan Kesbangpoldagri NTB Lalu Abdul Wahid, MH sekaligus mewakili Gubernur Nusa Tenggara Barat.

Dalam sambutannya, Lalu Abdul Wahid menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada pewakaf tanah untuk lokasi pembangunan pesantren YPI Pesantren Hidayatullah Lombok Tengah ini.

“Beliau (pewakaf) ini mendapatkan hidayah” ujarnya sambil berkelakar. “Para pengelola yang masih muda-muda ini, memberikan saya keyakinan kesuksesan pembangunan pondok pesantren ini,” lanjut Wahid.

Lokasi pembangunan YPI Pesantren Hidayatullah Lombok Tengah ini merupakan tanah wakaf dari salah seorang warga Dusun Olor Agung, Desa Labulia, bernama Haji Jamil.

Dalam perencanaan konstruksi yang telah dicanangkan, di atas lahan wakaf seluas setengah hektar ini akan didirikan Pesantren Penghafal Quran Hidayatullah dan Ma’had Aly Plus.

Hadir juga dalam kesempatan tersebut Ketua Dewan Murabbi Wilayah (DMW) Ust Ismuji dan Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah NTB Ustadz Muslihuddin Mustakim, perwakilan Kemenag Lombok Tengah, Kepala Desa Labulia, dan para tokoh agama dan tokoh masyarakat di Desa Labulia.

Hal ini menjadi momen istimewa juga sebab acara ini turut dihadiri Pemimpin Pondok Pesantren Nurul Hakim Kediri, TGH. Muharar Mahfudz, juga turut menghadiri acara tersebut sekaligus memberikan tausiyah.

TGH. Muharrar Mahfudz dalam tausiyahnya mengingatkan janji Allah swt kepada siapa saja yang berwakaf akan mendapatkan ganjaran pahala jariyah yang akan terus mengalir meski nyawa telah berpisah dengan raga.

“Ditempat ini akan penuh dengan aktivitas kebaikan, termasuk orang menghafal Quran,” jelas TGH. Muharrar.

Sebelumnya, Sekretaris Yayasan Peradaban Islam Hidayatullah Labulia Lombok Tengah, Ust Muhammad Syamsul Bahri dalam sambutannya menceritakan proses awal hingga terjadinya ikrar wakaf.

“Kami tidak menyangka, bantuan Allah ta’ala akan diberikan di tempat yang sangat strategis ini yakni dekat dengan Jalan By Pass BIL. Setelah sebelumnya kami terus berupaya untuk bisa mendirikan Pondok Pesantren Hidayatullah di Kabupaten Lombok Tengah,” kata Syamsul Bahri.

Insya Allah, Syamsul mengimbuhkan, pihaknya akan berupaya memenuhi harapan Haji Jamil selaku pewakaf agar tempat ini menjadi tempat belajar agama, tempat menghafal Al Qur’an, dan akan didirikan Ma’had Aly Plus.

Di akhir acara, dilakukan peletakan batu pertama Masjid Haji Jamil dan Gedung Pendidikan Dr. KH. Abdul Manan. Sejak tanah wakaf ini dikelola, kegiatan pendidikan di lokasi pembangunan telah dimulai dengan diadakannya pendidikan tahfidz dan pengajian Al Qur’an dengan menggunakan rumah-rumah bambu sederhana.

Ketua YPI Pesantren Hidayatullah Lombok Tengah Ust Muhammad Fahrurrozi mengatakan setiap bulan juga diadakan pembinaan guru ngaji binaan YPI se-Lombok Tengah.

Fahrurrozi berharap kepada ummat Islam, para dermawan, orang baik dimanapun berada, dengan peletakan batu pertama ini pertanda gema kebaikan dan amal shaleh terbuka luas bagi semua untuk ikut patungan membangun mewujudkan pesantren Qur’an ini.

“Mari bergabung bersama kami mengukir sejarah dan amal jariyah yang tak kan pernah berhenti mengalirkan pahala kebaikan,” tambah Fahrurrozi.

Kegiatan ini berlangsung dengan menerapkan protokol kesehatan Covid-19, undangan terbatas serta seluruh undangan maupun santri yang hadir diarahkan untuk memakai masker dan terlebih dahulu mencuci tangan dengan sabun di tempat yang telah disediakan oleh panitia. (ybh/hio)

Segitiga Emas: Iman, Hijrah dan Jihad

Oleh Abdul Ghofar Hadi*

DI BULAN Muharam ini, tema sentral pembicaraan dan pembahasan umat Islam adalah tentang hijrah. Sebagai sejarah fenomenal dari perjalanan dakwah Rasulullah yang harus meninggalkan Makkah sebagai tempat kelahiran dan kampung halaman menuju Madinah. Ini bukan perjalanan biasa tapi bertaruh nyawa dengan ancaman dari para pemuda pilihan kaum Quraisy.

Mereka sudah melakukan musyawarah mufakat untuk membunuh Rasulullah. Sebuah konspirasi direncanakan matang, mengepung rumahnya, menunggu detik-detik malam dengan peralatan dan personel yang lengkap untuk mengeksekusi Rasulullah di malam yang sudah ditentukan.

Tapi Allah tidak pernah tidur dan terlambat untuk menolong hamba-Nya. Semua pemuda dibuat ngantuk tertidur beberapa saat sehingga Rasulullah keluar rumah dengan aman ditemani sahhabat dekatnya yaitu Abu Bakar.

Rasulullah hijrah bukan karena pengecut atau takut dengan berbagai resiko di Makkah. Meski sudah diboikot kurang lebih dua tahun, diintimidasi dan beberapa sahabat sahabiyah juga sudah dibunuh menjadi syahid dan syahidah. Bukan karena takut mengambil risiko itu, meski seandainya Rasulullah terbunuh di Makkah pasti akan tercatat syahid tapi Rasulullah tidak berpikir egois karena perjalanan dakwah masih panjang.

Bukan juga karena cengeng dengan wafatnya istri tercintanya Siti Khadijah dan pamannya yang senantiasa melindunginya yaitu Abu Thalib. Secara kemanusiaan memang mengeluarkan air mata dan sedih tapi bukan itu yang menjadi sebab hijrah.

Rasulullah hijrah juga bukan karena tidak percaya dengan mukjizat. Allah pasti akan memberikan pertolongan atas berbagai ancaman kaum kafir Quraisy Makkah. Tidak mungkin Allah membiarkan kekasih-Nya teraniaya dalam memperjuangan perintah-Nya.

Hijrah merupakan konsekuensi dari keimanan yang tumbuh dan mendorong Rasulullah dan orang-orang beriman untuk mengaktualisasikan imannya. Hijrah juga bagian dari tarbiyah strategi dakwah yang dilakukan Rasulullah kepada umatnya. Tidak ada hijrah tanpa iman, tidak mungkin seseorang mau berhijrah tanpa didahului dengan iman.

Ketika iman tumbuh maka ada keinginan dalam diri untuk berubah menjadi lebih baik. Kemudian meningkat lagi mengajak orang lain dan membuat kondisi di lingkungan sekitarnya juga bisa lebih baik. Keinginan baik yang besar sering dibahasakan sebagai bentuk idealisme.

Iman itu memerlukan aktualisasi dan hijrah adalah jalan untuk mendapatkan tempat dan kondisi untuk mengaktualisasikan iman. Iman ada kerisauan dalam dirinya terhadap kondisi di sekitar yang belum baik dan ada keterpanggilan iman untuk mengubahnya lebih baik. Iman bukan hanya diam, stagnan, egois, cuek dan pasif terhadap kondisi yang ada.

Kemudian dalam perjalanan hijrah tentu tidak mudah dan banyak tantangan. Terkadang harus berdarah-darah, mengorbankan harta, keluarga, waktu dan hal-hal yang kita cintai. Maka Islam mensyariatkan jihad atau berjuang seoptimalkan mungkin.

Tanpa ada kesungguhan, perjuangan dan pengorbanan yang menjadi nilai jihad maka tidak mungkin berhasil dalam hijrah. Jihad bukan hanya dalam makna qital atau perang.

Sehingga iman, hijrah dan jihad adalah tiga hal yang tidak bisa dipisahkan dalam kehidupan seorang muslim. Itulah segitiga emas yang akan mengantar kepada kejayaan Islam dan muslimin.

Ada dua ayat berikut ini secara jelas menunjukkan keterkaitan antara iman, hijrah, dan jihad sebagai tiga hal yang tidak terpisahkan.

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللهِ أُولَئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَةَ اللهِ وَاللهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman serta orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS Al-Baqarah:218).

الَّذِينَ آمَنُواْ وَهَاجَرُواْ وَجَاهَدُواْ فِي سَبِيلِ اللّهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ أَعْظَمُ دَرَجَةً عِندَ اللّهِ وَأُوْلَئِكَ هُمُ الْفَائِزُونَ

“Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan” (QS. At-Taubah: 20).

Pemaknaan yang benar terhadap iman, hijrah dan jihad akan melahirkan paradigma dan kekuatan moral bagi orang beriman untuk meraih kemenangan.

Hari ini ada banyak usaha dalam pendangkalan makna iman, hijrah dan jihad, bahkan mendistrosi bahkan mendelete kurikulum hijrah dan jihad dari ajaran Islam. Dengan berbagai seminar, penerbitan buku, pemberedelan kitab yang seolah jihad itu menjadi penyebab ketertinggalan dan kejumudan dalam Islam.

Sehingga di bulan Muharam ini, pendiri Hidayatullah Allahuyarham Abdullah Said dan Hidayatullah hingga hari ini senantiasa menjadikan Muharam dan hari-hari besar Islam sebagai momentum untuk konsolidasi idiil dan silaturahim antar kader untuk menguatkan paradigma iman, hijrah, jihad bagi para kader, dai Hidayatullah dalam mengemban amanah dakwah dan tarbiyah.

Pengamalan Iman, hijrah dan jihad adalah kata kunci untuk membuka kejayaan Islam yang pernah diraih generasi Rasulullah di awal Islam.[]

*)ABDUL GHOFAR HADI, penulis adalah Wakil Sekretaris Jenderal DPP Hidayatullah

Kepakkan Sayap Ukhuwah

Oleh Dzulkifli M. Salbu*

ABU QATADAH menuturkan, suatu malam Nabi Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam mendapati Abu Bakar sedang shalat tahajjud, dengan suara yang nyaris tak terdengar, di lain waktu Nabi menjumpai Umar sedang shalat, dengar suara yang keras.

Saat keduanya berada di Majelis yang sama, Nabi bertanya, “Wahai Abu Bakar, kenapa suaramu terdengar lirih ketika engkau shalat?”

Abu Bakar menjawab “Aku sedang menikmati bacaanku di hadapan Allah”, lalu Nabi juga bertanya kepada Umar, tentang suaranya yang keras saat shalat, dan jawaban Umar, “Dengan suara keras aku ingin mengusir kantuk dan syetan”.

Keduanya menerima dari sumber yang sama, namun memiliki cita rasa yang berbeda. Dalam pentas kehidupan, kita akan banyak menjumpai “Abu Bakar” dan “Umar”. Keduanya mengajarkan kita, agar tak terjebak pada perbedaannya (volume suara) tapi fokus pada persamaannya (shalat lail).

Perbedaan itu sebuah keniscayaan, tapi bukan untuk membeda-bedakan. Allahuyarham Abdullah Said didampingi oleh kader-kader awal, yang menerima hidangan sistimatika wahyu dari sumber yang sama, tapi mereka mengunyah dan menikmatinya dengan cara yang berbeda, karakteristik mereka berbeda, namun semua istimewa di mata Allahuyarham Abdullah Said.

Maka kita akan mencicipi kelezatan yang tak sama, ketika kajian sistimatika wahyu disuguhkan oleh Allahuyarham Ust Amin Bahrun dengan Allahuyarham Ust Hasan Suraji. Beda antara Ust Hasyim HS dengan Allahuyarham Ust Abdul Mannan, antara Ust Qadir Jailani dengan Ust Anwari.

Begitulah dengan pembimbing yang lain, masing-masing punya racikan tersendiri, semua spesial, dengan gaya bahasa yang beda, tapi dengan substansi yang sama.

Esensi perbedaan sejatinya menghadirkan persaudaraan, dan itulah yang tersaji dalam sejarah kehidupan Nabi bersama para sahabat, kisah ukhuwah diantara mereka, kaya dengan adegan-adegan dramatis, yang diperagakan dengan sangat fantastis. Dan, Allahuyarham Abdullah Said berhasil mencetak klise cerita, menjadi adegan nyata, ukhuwah bukan sekedar lukisan indah di dinding sejarah, tapi menjadi mutiara di alam nyata.

Masih terbayang dengan jelas bagaimana keakraban antara Ust Hasan Ibrahim, Ust Abdul Latif Usman, Allahuyarham Ust Sudiono, Allahuyarham Ust Manshur Salbu, saat menjadi staf di Karang Bugis, indahnya tawa canda warga saat kerja bakti, semua lebur dalam kebersamaan, semua menikmati persaudaraan.

Ukhuwah adalah warisan terindah, dari Allahuyarham Abdullah Said dan para pembimbing yang telah mendahului kita, keindahan yang semoga tidak tergerus oleh asset dan kekayaan yang insya Allah akan terus bertambah, tak boleh terciderai oleh sikap kita yang pongah, jangan digadai dengan dunia yang murah, jangan ditukar dengan harta yang bisa jadi fitnah.

Hari ini, Hidayatullah telah mengepakkan sayap kesemua wilayah, bahkan hampir semua daerah telah terjamah, kampus-kampus telah berdiri dengan megah, walau masih ada juga yang terengah-engah, ada yang asetnya melimpah, ada pula yang masih payah, tapi itu semua tak boleh membuat kita terpecah, karena kita satu jamaah di Hidayatullah.

Salah satu kunci merekatkan ukhuwah adalah pengikisan thaga, istilah yang sejak awal, dipopulerkan Allahu yarham Abdullah Said, karena disadari dan diyakini, thaga menjadi penghalang utama terbangunnya persaudaraan, merasa diri lebih baik dari yang lain, entah karena harta (kesombongan finansial), atau karena ilmu (kesombongan intelektual), atau karena ibadah (kesombongan spritual), atau karena yang lain.

Faktor lain perekat ukhuwah adalah kesamaan visi. Bila visi kita berbeda, maka yang bersatu hanya fisik, tapi tidak dengan hati, seperti yang Allah nyatakan dalam QS. Al Hasyr ayat 14:

تَحۡسَبُهُمۡ جَمِیعࣰا وَقُلُوبُهُمۡ شَتَّىٰۚ

“Kamu kira mereka itu bersatu padahal hati mereka terpecah belah”

Lima puluh tahun usia lembaga, semoga ditengah gemerlap milad Hidayatullah, ukhuwah tetap terjaga.

*)Dzulkifli M. Salbu, penulis adalah Ketua Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Kalimantan Selatan

Milad Ke-50, Haedar Nashir Ajak Hidayatullah Jadi Suluh dan Penggerak Kehidupan

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah menyampaikan selamat milad ke-50 tahun bagi organisasi Islam Hidayatullah. Tahun ini, milad Hidayatullah mengusung tema: “Bersama Umat Membangun Bangsa Bermartabat”.

Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof. Dr. K.H. Haedar Nashir, M.Si berharap kepada Hidayatullah dan kekuatan ormas keagamaan lain untuk bersama membangun ummat sebagai khaira ummah. Yaitu ummat terbaik dalam berbagai aspek kehidupan, baik di bidang akidah, keyakinan, yang selalu melahirkan sikap taqarrub dan habluminallah.

Dengan begitu, terangnya melanjutkan, akan hadir ummat beragama yang taat beribadah, berakhlak mulia, menjadi suri teladan bagi siapa pun, dan mewujudkan kemajuan dalam muamalah duniawi.

“Jika kaum muslimin warga Hidayatullah dan semua pengikut umat beragama di negeri tercinta ini dengan nilai utama maka akan mejadi teladan, menjadi suluh dan sekaligus menjadi penggerak kehidupan yang lebih baik,” tutur Haedar, dilansir situs web Muhammadiyah, Selasa (10/8/2021).

Menurut Haedar, Hidayatullah sebagai organisasi Islam yang moderat dan berpikiran maju dengan semangat bersama umat hadir di tengah kaum muslimin sebagai basis gerakan juga menjalankan peran mebangun bangsa yang bermartabat.

“Dengan kehadiran medsos selain membawa kemajuan, di saat yang sama telah menggerus nilai akhlak dalam kehidupan. Bertebaran hoaks, kebencian, permusuhan dan nilai nir keadaban masih dijumpai di dunia medsos, sehingga Indonesia disebut nilai keadabannya rendah dalam bermedsos,” kata Haedar.

Haedar juga berharap Hidayatullah dan seluruh kekuatan Islam dan keagamaan dapat bersama menggerakan umat membangun bangsa yang bermartabat, mulia dan utama.