Beranda blog Halaman 416

Raih Sukses Ramadhan dengan Evaluasi Diri dan Kesungguhan

0

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Anggota Dewan Mudzakarah Hidayatullah, Ust Akib Junaid, mengatakan sukses ibadah Ramadhan insya Allah dapat dicapai dengan melakukan evaluasi diri dan dengan adanya tekad yang sungguh-sungguh.

Hal itu disampaikan beliau kala menjadi narasumber Mabit Silaturrahim & Tarhib Ramadhan di Masjid Ummul Quro, Kampus Utama Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, Jawa Barat, Sabtu (3/4/2021).

Evaluasi kehidupan, tema ini merupakan bagian dari taushiyah mendalam yang disampaikan oleh dai senior ini. Evaluasi, menurut Akib, adalah bagian dari nafas ajaran Islam.

“Evaluasi itu penting agar kita tidak mengulangi kesalahan,” tegasnya.

Dia menerangkan, tidak ada yang namanya sukses kalau tidak ada yang namanya evaluasi. Sebab, tanpa evalusi kita tidak akan pernah tahu, sudah dimana dan sampai mana diri kita dalam perjalanan iman dan taqwa ini.

“Terlebih kalau bicara mau sukses Ramadhan tahun ini, kita harus berani evaluasi secara jujur Ramadhan sebelum ini,” imbuhnya menegaskan.

Menurut pria murah senyum itu, banyak orang mau sukses Ramadhan tapi tidak memiliki rencana. Bagaimana mau berencana dengan baik, katanya, kala evaluasi tidak dilakukan.

“(Evaluasi) dilakukan mungkin, (namun) belum dengan kejujuran atau kesungguhan,” imbuhnya.

Target itu perlu dan bagus setelah ada rencana. Kalau mau diurut tentu akan sangat panjang, karena memang perkara evaluasi bukanlah hal sederhana.

Namun, kalau ada kesadaran, maka setidak-tidaknya akan ada sebuah pemahaman bahwa inilah saat terbaik melangkah lebih jelas dengan target terpenting dalam kehidupan ini, yakni menjadi pribadi bertaqwa.

Islam adalah agama yang selalu mengajak umat ini terus menambah ilmu. Kita ketahui, peradaban yang maju adalah karena ilmu, demikian pula kebudayaan dan hal apapun di dunia ini.

Jika pun harus melihat sejarah, Al-Quran menyediakan perihal ini, yakni kisah Nabi Yusuf Alayhissalam.

Kata Ustadz Akib sapaan akrab beliau, Nabi Yusuf adalah sosok Nabi yang mampu melakukan evaluasi lalu membuat perencanaan untuk 14 tahun kehidupan mendatang, sehingga selamatlah rakyat Mesir dan sekitarnya dari ancaman kelaparan.

“Evaluasi dan rencana akan lebih mudah disusun kalau jelas targetnya. Nabi Yusuf targetnya selamatkan manusia dari kelaparan. Maka beliau melakukan analisa mendalam perihal pergudangan sekaligus pertanian,” katanya.

Kalau mau dirinci, Nabi Yusuf merancang semuanya, soal gudang misalnya, bisa dilihat berapa gudang yang dibutuhkan, luas dan tinggi ruang gudang yang memadai, serta mampukah gudang itu menampung stok bahan makanan hingga 7 tahun lamanya.

Lebih jauh ini juga melibatkan kemampuan memastikan bagaimana bahan panan awet, tidak berjamur, tidak busuk, tidak dimakan tikus dan serangga. Termasuk di dalamnya manajemen pendistribusian, agar semua mendapatkan jatah bahan makanan yang tepat.

Kembali pada soal evaluasi untuk sukses Ramadhan, kalau memang target Ramadhan ini mau jadi insan bertaqwa, maka perencanaannya akan lebih mudah, karena taqwa itu sangat jelas.

“Taqwa itu sangat jelas. Kalaulah kembali kepada Al-Baqarah ayat 183, maka itu output yang harus dicapai oleh insan yang berpuasa. Sebagaimana orang terdahulu berpuasa,” urai Akib.

Kemudian, jika dihubungkan dengan Surah Ali Imran ayat 134 taqwa itu indikasinya ada output berupa perbuatan, yakni suka memberi.

“Kalau dilihat apa perbuatan (output) orang bertaqwa itu, satu di antaranya adalah gemar memberi. Memberi dia, mau dalam keadaan lapang maupun sempit. Baginya balasan Allah itu lebih utama daripada kalkulasi dirinya,” jelasnya.

Kata dia, banyak masalah orang di negeri ini bahkan di dunia terjadi karena output taqwa tidak muncul. Semua orang suka menerima daripada memberi. Bahkan kalau merasa yang diterima kurang ia akan menuntut dan melakukan hal-hal yang menurutnya dapat menjadikan penerimaannya terus meningkat.

“Padahal, kalau memang mau jadi orang bertaqwa lalu mindset memberi ini muncul, tidak ada itu pertengkaran, perkelahian, dan lain sebagainya. Oh, ini ada yang membutuhkan, ini saya berikan milik saya,” ucapnya mencontohkan.

Beres kehidupan ini kalau output taqwa memang berhasil dicapai, seperti target-target yang diperjuangkan untuk bisa dilampaui baik oleh manajemen perusahaan maupun oleh orang-orang yang memang memiliki rencana-rencana besar di dalam kehidupan ini.*/Imam Nawawi

Ni Putu Ardina Ikrar Syahadat di Ponpes Hidayatullah Surabaya

SURABAYA (Hidayatullah.or.id) — Kampus Utama Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya menjadi tempat bersejarah bagi Ni Putu Via Ardina Cahyarani (25) yang mengikarkan dua kalimat syahadat di pesantren tersebut.

Pengasuh Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya, Ustadz Baihaqi, menuntun wanita non-muslim ini memeluk agama Islam di Mushola Assakinah, Pesantren Hidayatullah Surabaya, Jumat (1/4/2021).

Pada kesempatan itu, Ustadz Baihaqi menerangkan bahwa Islam adalah agama yang damai penuh dengan kasih sayang.

“Islam ini adalah agama yang damai serta penuh dengan kasih sayang kepada sesama bahkan kepada penghuni alam semuanya,” ucap Dai Tangguh Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah (BMH) Perwakilan Jawa Timur ini.

Selain itu, sebelum menuntun ikrar syahadat, Ustadz Baihaqi menanyakan kembali sebagai penegasan kepada Ardina.

“Apakah keinginannya untuk memeluk agama Islam tersebut karena paksaan orang lain atau ikhlas karena dirinya sendiri,” tanya sang Ustadz yang dijawab mantab oleh Ni Putu VA Cahyarani ikhlas karena keinginan diri sendiri.

Setelah proses pembacaan dua kalimat syahadat selesai, Ustadz Baihaqi dan tim BMH juga memberikan Al-Quran agar bisa terus belajar dan istiqomah dalam berislam.

“Selamat dan semoga menjadi muslimah yang baik sesuai dengan ajaran Islam,” kata Ustadz Baihaqi.

“Ini adalah bagian layanan dari Laznas BMH untuk memberikan kemudahan bagi ummat yang ingin berislam lebih baik,” jelas Ketua Divisi Program dan Pemberdayaan BMH Jawa Timur, Muslim.

Dalam proses syahadat tersebut, Ni Putu VA Cahyarani disaksikan langsung oleh ayahnya sendiri yang masih non-muslim.

Bahkan mereka memberi dukungan yang luar biasa dengan mendoakan agar anaknya dapat bermaanfaat bagi nusa dan bangsa kelak.

Sementara itu Ni Putu VA Cahyarani mengatakan bahwa dirinya sebenarnya sudah lama tertarik dengan agama Islam.

“Cuma baru sekarang bisa dengan yakin untuk melakukan proses syahadat melalui dai tangguh Laznas BMH,” tutupnya.*/Herim

Cetak Muallim, Posdai Gelar Daurah Musyrif Grand MBA

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Persaudaraan Dai Indonesia (Posdai) yang berada dibawah Departemen Komunikasi dan Penyiaran Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatulllah menggelar Daurah Musyrif Gerakan Nasional Dakwah Mengajar dan Belajar Al Qur’an (Grand MBA) selama 3 hari.

Acara dibuka oleh Ketua Dewan Pertimbangan Hidayatullah KH Dr Abdul Mannan berbarengan dengan Mabit Silaturrahim & Tarhib Ramadhan di Kampus Utama Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, Jawa Barat, pada Jum’at malam (2/4/2021).

Dr Abdul Mannan dalam sambutannya mendorong revitalisasi gerakan pemberantasan buta huruf Al Qur’an. Menurutnya, Al Qur’an sebagai mukjizat akhir zaman, gerakan ini mestinya tidak saja menyasar masyarakat bawah, melainkan juga kalangan menengah ke atas.

Karena itu, menurutnya, Grand MBA juga perlu meningkatkan jangkauan bidikannya hingga ke level komunitas masyarakat menengah ke atas. Sebab, lanjut dia, nyatanya tidak sedikit orang pintar dan berkecukupan namun belum bisa mengaji.

“Jadi tidak saja mengajarkan Al Qur’an sampai masuk ke gang gang sempit, tapi juga harus peduli dengan saudara saudara kita lainnya yang level keberadaannya menengah ke atas namun masih belum bisa baca Qur’an,” katanya.

Ia pun berpesan kepada para muallim Al Qur’an agar tak perlu risau dengan ketiadaan sumber daya materi untuk menunjang Grand MBA. Karena, terang dia meyakinkan, siapa yang mengurus dan menyibuki Al Qur’an pasti “berkecukupan”.

“Buktinya, banyak penjaga Al Qur’an yang gajinya lebih tinggi dari PNS bahkan mengalahkan gaji presiden,” katanya setengah berkelakar.

Dengan gaya khasnya yang lantang dan berapi-api, beliau berharap kegiatan daurah ini menghasilkan output siap tandang ke gelanggang mensyiarkan Al Qur’an dalam rangka memperkokoh sendi sendi kehidupan dalam masyarakat dan berbangsa.

Tak usah risau, kata dia, karena Al Qur’an pasti berbuah kebaikan dan keberkahan kepada siapapun yang sungguh sungguh mendakwahkannya. Bahkan, dia menamsilkan, sekiranya ada 2 pengamen yang diantaranya membacakan Al Qur’an dan lainnya menyanyi lagu bebas, maka orang akan lebih memilih berderma kepada yang mengaji.

“Saya mau tanya, adakah orang yang mengurus Al Quran mati kelaparan, buktikan secara empirik. Tidak ada. Itu karena orang yang ber-Qur’an punya pendirian dan memiliki kedirian yang jelas,” pungkasnya.

Sementara itu, panitia penyelenggara Ust Iwan Ruswanda, mengatakan kegiatan daurah ini merupakan amanat dari Rakernas Hidayatullah 2021 lalu dalam rangka memberikan arah lebih jelas untuk pengembangan mainstream lebih maksimal.

Kata Iwan Ruswanda, dakwah sebagai salah satu mainstream gerakan, Hidayatullah dituntut untuk terus berbenah tak terkecuali Grand MBA sebagai cikal bakal Lembaga Lajnah Al-Qur’an Hidayatullah Pusat.

“Gerakan ini terus memacu diri untuk mengembangkan manajemen dan sumber daya insani lebih terencana, lebih teradministrasi, lebih unggul dan lebih memiliki respon terhadap kebutuhan jaringan struktural organisasi,” kata Iwan menjelaskan latar belakang kegiatan ini.

Daurah ini, lanjut dia, selain untuk meningkatkan standar komitmen dan kompetensi yang dimiliki, daurah musyrif ini juga sebagai sarana pemebelajaran efektif sekaligus berfungsi untuk memberikan solusi pada salah satu problem utama dai di lapangan, yakni meningkatkan kemampuan manajerial untuk pengembangan Majelis Qur’an dan Rumah Qur’an di wilayahnya masing-masing.

Selain itu, Iwan mengimbuhkan, daurah ini juga bertujuan menyiapkan muallim Grand MBA menjadi Musyrif di wilayahnya masing-masing dengan memahamkan mereka akan tugas pokok dan fungsi masing-masing.

Para peserta nantinya akan dilibatkan dalam pengembangan Majlis Qur’an dan Rumah Qur’an Hidayatullah serta pelibatan para musyrif dalam pengembangan kurikulum Grand MBA.

Daurah Musyrif Gerakan Nasional Dakwah Mengajar dan Belajar Al Qur’an yang digelar selama tiga hari ini mengangkat tema “Solidkan Langkah, Kuatkan Ukhuwwah Bersama Qur’an Meraih Berkah”.

Daurah ini mensyaratkan pengalaman sebagai muallim minimal 1 tahun, lulus marhalah ula, kompeten dalam bahasa Arab, tajwid, ulumul Qur’an, Ilmu Tafsir, hafalal-Qur’an minimal 5 juz dan memahami matan al-Muqaddimah al-Jazariyyah. (ybh/hio)

Ketum Resmi Buka Marhalah Ula Tingkat SMA se-Indonesia

YOGYAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Dari Kota Ternate, Provinsi Maluku Utara, Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah KH Dr Nashirul Haq, MA, meresmikan penyelenggaraan acara Marhalah Ula Tingkat SMA/ sederajat Serentak se-Nasional yang dibuka secara virtual pada Jum’at (2/4/2021).

Dalam sambutannya pada acara yang bertitik pusat di DI Yogyakarta ini, KH Nashirul Haq menyampaikan bahwa kegiatan ini sebagai wahana internalisasi nilai-nilai manhaj Sistematika Wahyu dan wawasan kelembagaan yang sangat penting dan mendasar bagi segenap santri Hidayatullah.

“Hidayatullah yang menjadikan tarbiyah dan dakwah sebagai arus utama menuntut kaderisasi yang terprogram dan berkelanjutan. Sehingga para kader mampu menyampaikan visi dan misi lembaga untuk kemudian mengabdi memberi pencerahan kepada umat,” katanya.

Beliau menjelaskan bahwa tujuan daripada penyelenggaraan Pendidikan Integral Berbasis Tauhid yang dicanangkan Hidayatullah adalah dalam rangka melahirkan peserta didik yang kokoh karakternya, cakap kompetensinya serta kuat narasinya.

Kesemua tujuan tersebut, jelas dia, termanifestasi di dalam konsepsi dan metodologi pendidikan Islam yang jelas sebagaimana termaktub di dalam Al Qur’an surah Al Jumu’ah ayat 1-5.

Beliau menerangkan, pada ayat kedua Surah Al-Jum’ah dapat temukan bahwa pendidikan pertama yang harus diterima oleh anak-anak adalah Al-Qur’an.

“Inilah yang nantinya membentuk cara pandang, membentuk Qur’anic Worldview. Ini disebut dengan fase tilawah,” jelasnya.

Oleh karena itu, lanjutnya, di masa salafus shaleh anak-anak sejak balita sudah diakrabkan dengan Al-Qur’an, sehingga pada usia 10 tahun sudah tamat proses penanaman Al-Qur’an.

Berikutnya adalah fase tazkiyah dimana mulai dari jiwa, pikiran dan perilaku, semuanya disucikan, sehingga peserta didik terhindar dari orientasi menuntut ilmu yang berorientasi duniawi semata. Di waktu yang sama, peserta didik ditekankan akan pentingnya ta’lim, pembelajaran ilmu pengetahuan yang bersumber dari Al-Qur’an.

“Dari proses itu akan melahirkan kesadaran syahadat, spirit ber-Qur’an, kematangan fikrah, keluhuran akhlak, dan semangat beribadah yang semua merupakan nikmat Islam yang luar biasa,” katanya.

Namun, beliau mengingatkan, nikmat Islam tersebut tak boleh dinikmati oleh orang seorang saja, sanak famili atau komunitas kita saja. Nikmat berislam ini harus juga dirasakan oleh segenap manusia. Karena itulah, terang dia, puncak dari itu semua adalah gerakan dakwah.

“Kita harus berdakwah karena Islam ini tidak bisa kita nikmati sendiri. Islam kaffatan linnas rahmatan lil ‘alamiin. Islam untuk seluruh semesta alam, untuk peradaban, keselamatan dan kebahagiaan umat manusia,” tukasnya.

Ia berharap kegiatan ini berjalan dengan baik, lancar dan dengan tetap mematuhi standar protokol kesehatan. Beliau juga menyampaikan apresiasi kepada pihak-pihak yang telah menyelenggarakan dan melakukan pendampingan selama acara berlangsung di kota masing-masing.

Sementara itu, Ketua Steering Committee yang juga Ketua Departemen Kepesantrenan DPP Hidayatullah KH Muhammad Syakir Syafii, mengatakan, Marhalah Ula Tingkat SMA Serentak se-Nasional ini merupakan kegiatan rutin tahunan.

Namun, kali ini diselenggarakan agak berbeda di tengah suasana pandemi yang masih menyeruak. Daurah Marahala Ula ini diikuti oleh 4.617 peserta yang berasal dari alumni SMA/ sederajat Hidayatullah.

Menurutnya, kegiatan ini merupakan bagian dari ikhtiar untuk membekali peserta didik yang akan menuntaskan masa pendidikan dasar dan menengahnya sehingga kelak ia dapat semakin mengejawantah nilai utama dari tujuan pendidikan berbasis Tauhid.

“Lahirnya kader yang mampu mewujudkan visi sangat ditentukan oleh santri yang berkualitas yang akan menjadi penerus dakwah dan perjuangan Islam, baik berada dalam barisan perjuangan Hidayatullah ataupun melalui harakah lainnya,” katanya.

Oleh karena itu, Departemen Kepesantrenan Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah menyelenggarakan kegiatan Daurah Marhalah Ula untuk Santri MA/Sederajat ini sebagai wahana internalisasi nilai-nilai manhaj Sistematika Wahyu dan wawasan keorganisasian, yang
terintegrasi dengan pengondisian praktik ibadah mahdhah dan pembinaan fisik.

Kegiatan ini juga turut didukung dan melibatkan sejumlah pihak seperti Dewan Murabbi, Departemen Kepesantrenan, Departemen Perkaderan, Departemen Pendidikan Dasar dan Menengah, Pemuda Hidayatullah dan Muslimat Hidayatullah. (ybh/hio)

Dakwah Tak Boleh Meminta Upah

DAKWAH adalah ibadah. Karena itu, ia harus dilakukan dengan ikhlas sebagaimana syarat sebuah ibadah.

Seorang dai harus memurnikan terlebih dahulu niatnya untuk mengajak manusia menapaki jalan lurus menuju surga. Jangan ada tujuan lain dari dakwahnya selain mencari ridha Allah Ta’ala.

Dakwah bukan untuk mengumpulkan harta, meraih jabatan, mendapatkan simpati dari manusia, atau tujuan dunia lainnya.

Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak akan menerima dari semua jenis amalan kecuali yang murni (ikhlas) untuk-Nya dan untuk mencari wajah-Nya.” (Riwayat Nasa-i).

Karena itu pula Allah Ta’ala tidak memperkenankan Nabi SAW untuk meminta upah dari dakwah beliau. “Aku tidak meminta upah kepadamu dalam menyampaikan (Al Qur`an) …” (Al An’am [6]: 90). Demikian Allah Ta’ala menyeru kepada Rasulullah SAW untuk mengatakan kepada orang-orang yang beliau dakwahi.

Ungkapan serupa juga ditegaskan Allah Ta’ala dalam surat al-Furqan [25] ayat 57, “Katakanlah, ‘Aku tidak meminta upah sedikitpun kepada kamu dalam menyampaikan risalah itu, melainkan (mengharapkan kepatuhan) orang-orang yang mau mengambil jalan kepada Tuhan nya,’.”

Hal seperti ini juga difirmankan Allah Ta’ala kepada Nabi Nuh AS sebagaimana tertera dalam al-Qur’an surat As-Syu’ara [26] ayat 109, “Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan-ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam.”

Demikian pula diungkap oleh Nabi Hud AS dalam surat yang sama ayat 127, “Dan sekali-kali aku tidak minta upah kepadamu atas ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam,” serta Nabi Saleh (Asy-Syu’ara [26]: 145), Nabi Lut (Asy-Syu’ara [26]: 164), dan Nabi Syuaib (Asy-Syu’ara [26]: 180).

Semua itu bertujuan untuk memurnikan dakwah. Bila dakwah ditujukan untuk kepentingan dunia, maka ia tak akan bertahan lama. Apalagi jalan dakwah bukan jalan yang mudah.

Upah bagi para dai yang sabar meniti jalan dakwah disediakan oleh Allah Ta’ala di akhirat kelak. Nilainya tak akan sebanding dengan upah yang didapat manusia selama di dunia. Ini disebutkan oleh Allah Ta’ala dalam surat al-Mu’minun [23] ayat 72, “… Atau kamu meminta upah kepada mereka? Maka upah dari Tuhanmu adalah lebih baik, dan Dia adalah Pemberi Rezeki Yang Paling Baik.”

Allah Ta’ala juga menegaskan bahwa dai yang ikhlas berdakwah demi ridho-Nya dan tidak berharap imbalan dunia adalah teladan yang patut diikuti. Ini diungkap oleh Allah Ta’ala dalam al-Qur’an surat Yasin [36] ayat 13 sampai 21 tentang kisah tiga utusan-Nya.

Ketiganya, menurut Ibnu Juraij dari Wahb ibn Sulaiman, dari Syu’aib al-Jiba’i, bernama Syam’un, Yuhana, dan Baulus. Mereka diutus dalam waktu yang bersamaan di negeri Intakiyah. Adapun Qatadah ibn Di’amah mengatakan bahwa ketiganya adalah utusan Nabi Isa AS kepada penduduk Intakiyah.

Dalam kisah ini disebutkan bahwa ketiga utusan tersebut berkata kepada penduduk negeri Intakiyah, “Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang diutus kepadamu.” (ayat 14).

Namun penduduk negeri itu mengingkari ketiganya dengan berkata, “Kalian (bertiga) ini hanyalah manusia seperti kami, dan (Allah) Yang Maha Pengasih tidak menurunkan sesuatu apa pun. Kalian hanyalah pendusta belaka.” (ayat 15).

Ketiganya tetap bersabar dengan ajakan mereka. “Tuhan kami mengetahui sesungguhnya kami adalah utusan-utusan-(Nya) kepada kalian, dan kewajiban kami hanyalah menyampaikan (perintah Allah) dengan jelas (ayat 16 dan 17),” kata ketiganya.

Penduduk negeri itu tetap tak mau percaya. Bahkan mereka menuduh bahwa ketiga utusan tersebut telah menimpakan nasib yang malang kepada mereka (ayat 18 dan 19).

Lalu datanglah dari ujung kota seorang laki-laki dengan bergegas seraya berkata, “Wahai kaumku, ikutilah utusan-utusan itu. Ikutilah orang yang tidak meminta upah (imbalan) kepadamu; dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (ayat 20 dan 21).

Semoga kita termasuk dai yang hanya berharap imbalan dari Allah Yang Maha Kaya. Wallahu a’lam.*

*) Disitat dari laman mahladi.com

Pesantren Hidayatullah Raih 9 Juara dalam STQX 2021 Mimika

0

TIMIKA (Hidayatullah.or.id) – Pesantren Hidayatullah Timika berhasil meraih 9 juara di masing-masing lomba Seleksi Tilawatil Quran (STQ) X (sepuluh) yang diselenggarakan oleh Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran (LPTQ) Kabupaten Mimika.

Pengumuman para pemenang disampaikan di Aula Serbaguna Masjid Babussalam, Kota Mimika, Papua Barat, Ahad (28/3/2021)

Ketua Panitia, Abdul Syakir mengatakan pelaksanaan STQ X tingkat Kabupaten Mimika 2021 sejak 26-28/3 berjalan dengan lancar. Dikatakan, ini merupakan berkah dari kerja keras dan kerja ikhlas sehingga rangkaian acara berjalan dengan lancar mulai hingga penutupan.

Baik panitia maupun dewan hakim yang menggunakan sistim penilaian berbasis IT semuanya sebut Syakir, bekerja dengan sangat maksimal sehingga semuanya berjalan dengan lancar.

Disebutkanya, para Kafilah yang mendapatkan prestasi dan juara akan mewakili Kabupaten Mimika dalam ajang STQ tingkat Provinsi Papua 2021.

Sementara itu, Wakil Ketua 1 Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran (LPTQ) Mimika, H Akhrir Iribaram dalam arahannya mengatakan Al-Qur’an bukan hanya dibaca namun juga diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Ia mengatakan di STQ maupun MTQ ada tata cara yang perlu diikuti contohnya bidang Hifzil yakni harus tilawahnya terlebih dahulu barulah menghafalnya. Hal ini perlu diperhatikan oleh para guru mengaji agar ke depan, hal ini bisa dimaksimalkan lagi.

STQ lanjutnya adalah ajang yang akan dilakukan setiap dua tahun karena ini memang ajang untuk mendapatkan kafilah perwakilan Mimika untuk ajang MTQ sampai di tingkat nasional.

“Kedepan anak-anak kita bisa lebih baik lagi, maka saya harapkan bapak ibu, para ustadz dan ustadzah, guru ngaji bisa mendukung anak-anak agar mereka bisa tampil lebih maksimal lagi,” jelas Iribaram.

Kepala Kantor Kementerian Agama Mimika, Utler Adrianus mengatakan dalam ajang perlombaan STQ ini ada peserta yang menang dan kalah. Dengan hasil penilaian yang dilakukan oleh dewan hakim dengan berbasis IT, ini adalah satu kemajuan untuk STQ.

Kedepan sebelum perlombaan STQ terus ada pembinaan kepada anak-anak. Inilah kata Utler yang harus diperhatikan oleh pengurus LPTQ.

Sekretaris Umum LPTQ Mimika, Ustadz M Ahdin membacakan SK pemenang perlombaan STQ X sesuai SK Nomor 1/DH-STQ/MIMIKA/III/2021 dalam cabang Tilawah dewasa putra, cabang tilawah dewasa putri , cabang tilawah golongan anak putra dan cabang tilawah putri.

Golongan 1 juz putra, golongan 1 juz putri, golongan 5 juz putra, golongan 5 juz putri, golongan 10 juz putra, golongan 10 juz putri. Di mana, pada perlombaan ini paling banyak dipegang oleh Yayasan Hidayatullah yang mendapat 9 juara dalam masing-masing kategori lomba.*/Radar Timika

Ini Peran Strategis BTH Dalam Membangun Kemandirian Kita

0

Dengan berdirinya Baitut Tamwil Hidayatullah (BTH) diharapkan perlawanan terhadap gerakan riba dapat terus maju. BTH juga berdiri sebagai penunjang tujuan Hidayatullah dalam membangun peradaban Islam

Bentuk Cinta pada Rasulullah

SALAH SATU tanda yang paling jelas bagi seorang hamba kalau ia mencintai Allah SWT yaitu mengikuti segala yang dibawah Rasulullah Muhamad ﷺ. Dalam al-Qur’an Allah berfirman,

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ ٱللَّهَ فَٱتَّبِعُونِى يُحْبِبْكُمُ ٱللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَٱللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

“Katakanlah, ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS: Ali Imran: 31).

Ayat ini menjelaskan, salah satu bentuk pengakuan cinta kepada Allah SWT yaitu mengikuti perintah Rasulullah ﷺ. Ibnu Katsir berkata, “Perintah Rasululullah ﷺ merupakan petunjuk, sunnah-sunnah, dan syariat-syariat beliau. Jadi, setiap ucapan dan perbuatan kita harus ditimbang dengan ucapan dan perbuatan beliau. Suatu perkataan, kalau sesuai dengan perkataan beliau, maka kita terima; tetapi kalau tidak sesuai, maka kita tolak, siapa pun yang mengatakannya.”

Orang yang beriman kepada Allah SWT dan hari akhir wajib taat kepada Rasulullah ﷺ. Dalam al-Qur’an, Dia menyebutkan ketaatan kepada Rasul lebih dari 30 kali.

Anas mengisahkan, pernah ada seseorang datang kepada Nabi dan bertanya, “Wahai Rasulullah, kapankah datangnya hari kiamat?” Rasulullah ﷺ berdiri lalu mengerjakan shalat. Setelah menyelesaikan shalatnya, beliau bertanya, “Mana orang yang bertanya tentang hari kiamat tadi?” Orang yang tadi bertanya menjawab, “Saya, wahai Rasulullah.” Rasulullah ﷺ lalu bertanya kepadanya, “Apa yang telah engkau persiapkan untuk menghadapi hari tersebut?”

Orang itu menjawab, “Demi Allah, aku tidak mempersiapkan untuk menghadapi hari tersebut dengan banyak puasa dan sadaqah. Hanya saja aku cinta kepada Allah dan Rasul-Nya.”

Maka beliau bersabda, “Seseorang itu akan bersama dengan yang dicintainya. Dan engkau akan selalu bersama dengan yang engkau cintai.” Anas berkata, “Aku tidak pernah melihat kegembiraan kaum muslimin sesudah memeluk Islam seperti kegembiraan mereka setelah mendengar hadits ini.” (HR. Turmudzi, Imam Turmudzi berkata, hadist ini shahih).

Ibnu Taimiyah berkata, “Allah telah menerangkan hak-hak Nabi di dalam al-Qur’an. Di antaranya, agar (kaum muslimin) taat kepada beliau, mencintai, mengagungkan, menghormati, dan membela beliau, berhukum kepada beliau, ridha dan menerima hukum yang ditetapkan oleh beliau, mengikuti beliau, mengucapkan salam dan shalawat kepada beliau, mendahulukan beliau di atas kepentingan diri, harta, dan keluarga, menyerahkan segala perselisihan kepada ketentuan beliau, dan lain-lainnya.” (dalam Majmu’ Al-Fatawa [I/68]).

Bentuk Cinta Rasul

Hati yang hidup ialah hati yang mencintai Allah SWT. Barangsiapa yang mencintai Dia, maka hendaklah mencintai Rasul-Nya, yaitu Nabi Muhammad ﷺ.

Sebagai bentuk kecintaaan kepada Rasulullah ﷺ di antaranya:

Pertama, mencintai beliau, setelah mencintai Allah, dan mendahulukan cinta kepada keduanya daripada cinta kepada selain keduanya.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Anas, berkata, “Rasulullah ﷺ bersabda;

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ رواه البخاري

“Tidak beriman seorang hamba hingga aku lebih dia cintai daripada keluarga, harta dan manusia seluruhnya.‘” (HR. Bukhari).

Kedua, mentaati seluruh yang diperintahkannya dan berhenti dari seluruh yang dilarangnya. Karena beliau memerintah hanyalah berdasarkan perintah Allah dan melarang berdasar larangan-Nya. Ini sesuai dengan firman Allah yang berbunyi;

وَمَآ ءَاتَىٰكُمُ ٱلرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَىٰكُمْ عَنْهُ فَٱنتَهُوا۟ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلْعِقَابِ

“….Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah ia dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah.” (QS: Al Hasyr:7).

Berdasar keterangan ini kemudian para ulama (bersepakat), wajib hukumnya bagi kaum muslimin mengakui Rasulullah ﷺ itu sebagai manusia yang maksum dan terjaga dari kesalahan dalam hal risalah yang dibawahnya. Rasul tidak akan salah dalam menyampaikan risalah Allah SWT.

Tugas beliau hanyalah menyampaikan semua risalahNya dan ada tidak satu pun yang disembunyikan. Karena itu Allah memerintahkan kaum muslimin untuk mengikuti sunnah beliau, baik berupa ucapan maupun perbuatan, dan menjadikan beliau sebagai suri teladan. (QS. Al-Ahzab: 21).

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Ayat ini menjadi dasar dalam mengikuti Nabi baik dalam ucapan, perbuatan, maupun keadaannya. Ayat ini juga menjelaskan bahwa bentuk kecintaan kepada beliau adalah mengikuti segala apa yang dibawanya yang berasal dari Rabb-nya.”

Ketiga, memberi nasehat bagi Rasulullah ﷺ, yaitu membenarkan dan mengimani segala apa yang beliau sampaikan.

Imam Nawawi berkata di dalam kitab Syarah Shahih Muslim, “Adapun nasehat bagi Rasulullah (maknanya) adalah membenarkan risalah yang beliau bawa, mengimani segala yang beliau sampaikan, taat kepada perintah dan larangan beliau, memberikan pembelaan kepada beliau baik ketika masih hidup maupun sesudah wafat, memusuhi orang yang menentang beliau, menghidupkan sunnah-sunnah beliau, menyebarkan dakwah dan syariat beliau dengan memperhatikan adab-adabnya, yaitu menahan diri bertutur tentang syariat beliau tanpa dasar ilmu, menghormati orang-orang yang mempelajari syariat tersebut, yang berakhlak dengan akhlak yang terdapat di dalamnya, yang beradab dengan adab-adab yang terkandung di dalamnya, mencintai keluarga dan para shahabat beliau, dan menjauhi pelaku bid’ah dalam syariat beliau atau orang yang mencela para shahabat beliau, dan lain-lain.”

Keempat, mengucapkan shalawat dan salam untuk beliau tatkala namanya disebut.

Allah berfirman;

إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُۥ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِىِّ ۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ صَلُّوا۟ عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا۟ تَسْلِيمًا

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS: Al-Ahzab:56).

Nabi sendiri pernah bersabda;

مَنْ صَلَّى عَلَىَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرًا

“Barangsiapa mengucapkan shalawat kepadaku satu kali, Allah akan membalasnya sepuluh kali.” (HR. Muslim).

Seseorang yang bershalawat kepada Nabi secara terus-menerus akan mendapatkan berkah yang sangat besar. Ibnul Qoyyim rahimahullah telah menyebutkan sekitar empat puluh keutamaan bershalawat kepada Nabi.

Itulah beberapa bentuk cinta kepada Rasulullah ﷺ sebagaimana diperintakan Allah. Semoga kita diberi kekuatan oleh Allah mencintai manusia yang paling dicintai oleh-Nya yaitu Rasulullah Muhammad Shalallhu alaihi wa salam.*

BAHRUL ULUM, penulis pengajar di Sekolah Tinggi Luqmanul Hakim-Surabaya

Tutup Rakernas Mushida, Kabid Organisasi Sampaikan Pesan ini

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Selain menyikapi dengan baik berbagai dinamika internal, Muslimat Hidayatullah juga menghadapi tantangan eksternal yang harus mampu direspon dengan cerdas dan bijak.

Demikian disampaikan Kabid Organisasi DPP Hidayatullah Asih Subagyo ketika menutup secara resmi gelaran Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Muslimat Hidayatullah (Mushida) yang digelar secara luring serta sebagian peserta daring selama 3 hari di Kota Depok yang ditutup Ahad (28/3/2021).

Ghazwul Fikr terus terjadi. Sekularisme dan liberarisme terus mengancam. Gerakan feminisme juga semakin menggila. Sehingga Mushida juga harus mampu merespon dan merumuskan solusi ini. Baik untuk internal, maupun untuk menyelesaikan problematika keumatan,” kata Asih.

Olehnya, lanjut dia, Mushida juga dituntut terlibat secara eksternal dengan membuka diri ke ummat, memperkenalkan diri, sekaligus menawarkan solusi dan gagasan untuk membangun peradaban.

Kata dia, ada banyak masalah keumatan seperti bias gender, KDRT, parenting, dan lain sebagainya yang perlu dikaji dalam perspektif Islam dan bersandar dari jatidiri.

Tantangan yang tidak kalah penting adalah generasi mileniel, generasi Y, Z dan sesudahnya. Asih menjelaskan, mereka generasi native digital, tentu memerlukan pola tarbiyah dan dakwah yang berbeda dengan generasi pendahulunya.

“Sehingga Mushida dituntut untuk mampu merumuskan pola dan strateginya,”harapnya.

Disamping itu, untuk membentengi itu semua, disamping dituntut peningkatan profesionalitas, juga menguatkan keimanan bagi seluruh aktivis Mushida. Sehingga GNH dan Halaqah, tegasnya, menjadi syarat mutlak untuk melaksanakan itu semua.

“Sehingga semua yang kita lakukan itu, senantiasa dalam bimbingan Allah SWT,” imbuhnya.

Selaku Kabid Organisasi, pribadi dan DPP Hidayatullah, Asih menyampaikan terimakasih dan penghargaan setinggi-tingginya atas perjuangan ibu-ibu Mushida, yang rela meninggalkan tugas, anak dan suami untuk mengikuti Rakernas Mushida ini.

Insyaa Allah, semua pengorbanan itu, semoga dicatat sebagai amal shaleh, dan berkontribusi dalam tegaknya Peradaban Islam,” katanya.

Rakernas telah berakhir yang karena itu semua program kerja juga telah tersusun. Asih mengatakan, selama dalam proses tersebut, tentu ada banyak dinamika, silang pendapat, adu gagasan/ ide/ konsep selama musyawarah, baik yang terucap ataupun tidak.

“Jangan bangga (jumawa) jika idenya terpakai, jangan minder jika gagasannya ditinggalkan. Pasti ada hikmah dibalik itu semua. Mari sama-sama beristighfar,” imbuhnya.

Asih menjelaskan, Rakernas adalah salah satu mata rantai dari amanat yang ada di PDO Mushida, menjadi agenda Mushida yang dicantumkan terjadi 3 kali dalam 5 tahun. Sehingga demikian, Rakernas Mushida ini sangat strategis.

“Sehingga tugas PW Mushida sesudah ini adalah, menjabarkan dan melaksanakan program kerja, sesuai dengan kondisi wilayah masing masing. Pilih prioritas program unggulan yang dapat dilaksanakan. Kemudian disinergikan dengan seluruh elemen yang ada di wilayah,” pesan Asih.

Dia menerangkan, inti dari Rakernas adalah musyawarah. Musyawarah merupakan wujud dari adanya jamaah, manifestasi adanya kepemimpinan. Dengan demikian, ada mekanisme organisasi yang berjalan.

“Setelah ini Ketum PP Mushida menjadi dirigent yang mengatur nada dan iramanya, dan mengawal bahwa semua bekerja dalam nada dan irama sendiri, bukan menari diatas gendang orang lain. Tentu akan dibantu Bidang, Departemen, PW, PD dan seterusnya,” tambahnya.

Dalam pada itu, Asih pula mengingatkan bawah dalam manajemen, fungsi yang mudah diucapkan, namun sulit dikerjakan adalah coordinating & controlling. Maka, terang dia, tugas kepemimpinan itu memastikan bahwa semuanya on the right track.

“Pemimpin dituntut untuk tegas, tetapi tetap mengayomi. Dalam setiap implementasi program kerja, mesti dilakukan dengan kaidah 3 M (Musyawarah, Mujahadah, Munajat) serta mengikuti pola Ide (gagasan) – Narasi – Kerja,” ujarnya.

Sebelum menutup Rakernas Mushida ini dengan doa dan lafaz syukur Alhamdulillah, Asih sempat membacakan puisi karyanya. Berikut kutipannya;

Jika Bunda pergi ke pasar
Jangan lupa beli belewah
Jika ingin Mushida besar
Sukseskan program tarbiyah dan dakwah

Sungguh indah bunga melati
Tumbuh mewangi di beranda
Jika ingin jadi muslimah sejati
Jadilah anggota Mushida

Bunga Mawar batangnya berduri
Merah merona bunga seroja
Rangkaian Rakernas telah usai
Kini saatnya untuk bekerja

Makan ikan dengan mas Asih
Cukup sekian terimakasih

Hidayatullah Jabar Training Guru dan Dai Cerdas Hukum

BANDUNG (Hidayatullah.or.id) — DPW Hidayatullah Jawa Barat menggelar Training Hukum Bagi Guru dan Da’i Hidayatullah se-Jawa Barat bertema “Menyiapkan Guru dan Da’i Cerdas Hukum untuk Membangun Jawa Barat Bermartabat” bertempat di aula Yayasan Hayatan Thayyibah Hidayatullah Bandung, Jalan R. Endang Suwanda No. 18 A, Cimuncang, Padasuka, Bandung, Ahad (28/3/21).

Acara yang dihadiri pengurus DPW, DPD Hidayatullah se-Jawa Barat ini menghadirkan narasumber Kepala Departemen Hukum Hidayatullah Pusat DR. Dudung A. Abdullah, S.H, dan Kepala Departemen Hukum DPW Hidayatullah Jawa Barat Hidayatullah S.Hi. M.Ag.

Ketua DPW Hidayatullah Jawa Barat Taufik Wahyudiono, S.Pd, dalam sambutannya menyampaikan pentingnya acara tersebut. “Training hukum ini penting dan perlu dipahami oleh para guru, dai, dan pengasuh santri,” ujarnya.

“Dalam kondisi saat ini, kita sering melihat dan mendengar di media ada guru atau dai yang terkena kasus. Ada yang selesai dengan cara kekeluargaan, ada yang sampai ke pengadilan bahkan ada yang dipenjara,” imbuhnya.

“Kita harus berhati-hati. Kadang ada santri yang membuat ulah, melanggar aturan sehingga bermasalah. Ini menguji kesabaran. Di sini kita justru harus belajar sabar dan ikhlas,” ungkap Taufik.

Sementara itu, Dudung, yang juga menjabat Direktur Lembaga Bantuan Hukum Hidayatullah (LBHH) mewanti-wanti dengan penggunaan media sosial, “Jangan sampai hanya karena jari-jari kita yang genit dan ceroboh kita akan terjerat hukum,” ujarnya.

“Jika bicara harus berbasis data dan fakta yang kuat, jangan asal ngomong, khawatir kita dikriminalisasi, yang berujung masuk penjara,” kata pria kelahiran Majalengka yang banyak menangani guru dan da’i yang terjerat masalah hukum ini.

Dudung juga menyarankan jika akan men-share berita harus disaring terlebih dahulu.

“Kita harus cerdas menggunakan media sosial, Gunakan media sosial itu untuk kebaikan, untuk dakwah, untuk bisnis yang halal, atau program lainnya, Kita juga harus pandai memilih konten berita mana yang shahih mana yang hoax. Saring dulu sebelum di-share.”

Lebih jauh Abah Dudung, demikian panggilan akrabnya, mengajak peserta training untuk mengetahui Undang-undang tentang Perlindungan Anak dan Undang-undang ITE (Informasi dan Transaksi Elektronik).

“Jangan iseng yang bisa berakibat fatal. Hati-hati dengan konten cabul atau porno, sara, ancaman, kesusilaan, muatan judi, pencemaran nama baik, dan hal-hal yang merugikan konsumen,” ujar pria yang pernah menjabat sebagai Ketua STIE Hidayatullah Depok, Jabar ini.

Sedangkan Kepala Departemen Hukum DPW Hidayatullah Jabar, Hidayatullah, S.Hi, M.Ag menyampaikan beberapa tips terkait seseorang yang sedang berhadapan dengan kasus hukum.

“Tidak usah panik, tetap tenang, kenali kasusnya, kita minta keterangan, dan ketahui dasar hukumnya,” ujarnya.

Selain itu, kata Hidayatullah, “Jika seseorang berhadapan dengan masalah hukum mintalah didampingi oleh orang terdekat kita, tunjuk penasihat hukum, hindari bicara yang tak penting, kumpulkan alat bukti, dan jangan takut aparat,” kata advokat di kantor hukum DRDR ini.

Tips lainnya yaitu, “Jangan menghindar dan jangan coba-coba menyuap,” tegasnya.

Acara yang diselingi humor Abah Dudung ini berlangsung lancar dan penuh semangat dari seluruh peserta.*/Dadang Kusmayadi