Beranda blog Halaman 417

Sinergi Berikan Bantuan untuk Penyintas dan Masyarakat Terdampak Pandemi Covid-19

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Kasus kenaikan orang terpapar Covid-19 terus meningkat belakangan ini. Merespon hal tersebut, bermitra dengan Mushida, BMH memberikan bantuan terhadap penyintas dan Warga terdampak Covid -19.

Koordinator Program, Adi Yusuf, mengatakan dalam kesempatan ini puluhan keluarga positif Covid-19 , telah mendapatkan bantuan 35 paket bingkisan berisi obat dan makanan.

Yusuf mengatakan, bantuan langsung diantar ketempat isolasai mandiri yaitu rumah atau kontarakan dengan menggunakan ojek online.

“Satu- persatu paket dikirim ke alamat penerima,” terang Adi Yusuf (6/7).

Sementara itu pihak Mushida mengaku bahagia dapat ikut hadir membantu warga terdampak Covid-19 bersama BMH.

“Alhamadulillah kami bermitra kembali bersama BMH, kami lihat saudara, tetangga, bahkan anak-anak ada yang terdampak Covid-19 dan kami beri motivasi dangan bingkisan semoga ini bisa membantu untuk kesembuhan saudara-sauda kita semua,” ungkap perwakilan Mushida, Ustadzah Ina Sriwahyuni.*/Herim

Agama sebagai Landasan Spiritual dan Moral Membangun Masyarakat Berkeadaban

BATAM (Hidayatullah.or.id) — Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Lektur, Khazanah Keagamaan dan Manajemen Organisasi, Balitbang-Diklat, Kementerian Agama RI Prof. Dr. M. Arskal Salim GP, M.Ag, mengatakan, agama merupakan landasan spiritual dan moral untuk membangun masyarakat yang berkeadaban.

Sebagai selain sentral yang harus dimiliki dalam menghadapi tantangan megatren global, menurut Profesor Arskal Salim, agama juga menjadi sumber nilai, basis etika dan moralitas dalam membangun tatanan kehidupan.

“Ia juga menjadi sumber inspirasi dalam membangun harmoni sosial dalam kehidupan masyarakat yang majemuk. Serta menjadi kekuatan pendorong dan energi penggerak untuk merealisasikan peradaban masyarakat yang bermartabat,” katanya.

Hal tersebut disampaikan Prof. Dr. M. Arskal Salim saat menyampaikan pidato ilmiah Sidang Senat Terbuka Wisuda Sarjana Strata Satu (S1) angkatan pertama Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Hidayatullah Batam di Hallroom Pusat Informasi Haji (PIH), Batam Center, Kota Batam, Kepulauan Riau, Selasa, 26 Dzulqa’dah 1442 H (6/7/2021).

Orasi ilmiah Guru Besar Ilmu Politik Hukum Islam ini (Shiyasah Syar’iyyah) ini mengangkat tema “Megatren Dunia: Peluang dan Tantangan, dan Solusinya”.

Prof Arskal, demikian ia disapa, menyebut sejumlah fenomena dunia yang diperkirakan akan terjadi. Misalnya tentang demografi global. Katanya, pada tahun 2045, penduudk dunia diperkirakan 9,45 miliar bertambah 2,1 miliar dari tahun 2015.

Beliau menyebutkan, lebih dari separuh pertumbuhan penduduk dunia disumbang oleh kawasan Afrika, tapi Asia dan Amerika Latin akan memiliki jumlah middle dan upper income class terbesar, sehingga tren demografi global mendorong urbanisasi, arus migrasi, dan penduduk usia lanjut.

“Maka penduduk dunia di perkotaan diperkirakan meningkat menjadi 65 persen, dengan 95 persen pertambahan terjadi di emerging economies. Sehingga pembangunan perkotaan berperan dalam meningkatkan daya saing , pertumbuhan ekonomi, dan kualitas hidup masyarakat,” papar Guru Besar UIN Jakarta ini.

Emerging economies, lanjut Arskal, akan berperan terhadap investasi SDM, infrastruktur, reformasi struktural, dan iklim usaha yang mendorong pertumbuhan ekonomi yang tinggi, berdaya saing, dan kerkesinambungan.

“Otomatis, perubahan teknologi ke depan didominasi oleh teknologi informasi dan komunikasi, bioteknologi, dan rekayasa genetik, kesehatan dan pengobatan, energi terbarukan, wearable decives, otomatisasi dan robotik, serta artificial intelligence,” imbuhnya.

Begitu pula tren perdagangan dan keuangan internasional, katanya lebih lanjut, negara berkembang menjadi poros perdagangan dan investasi dunia dengan pertumbuhan 6 persen pertahun. Perdagangan intra Asia meningkat dan investasi asing langsung ke dan antar negara berkembang berlanjut.

“Demikian halnya dominasi mata uang dunia bergeser dari dolar AS menjadi multi currencies. Aset keuangan emerging economies tahun 2050 diperkirakan melebihi negara maju. Cina berkembang sebagai salah satu sumber keuangan bagi pembangunan mendatang,” ungkap alumnus Universitas Melbourne ini.

Hal lain, papar Arskal lebih jauh, perubahan iklim dan geopolitik. Adanya tantangan pemanasan global semakin besar, baik berupa kejadian ekstrim maupun perubahan iklim jangka panjang. Tanpa usaha menurunkan emisi, rata-rata suhu global akan meningkat 3-3,5 derajat celcius pada akhir abad ini.

“Geopolitik juga terus berlanjut dengan meningkatnya peranan Cina, kerentanan di kawasan Timur Tengah, serta meningkatnya kelas baru dan kelompok tertentu,” imbuhnya lebih lanjut.

Pertanyaannya sekarang, lanjut Arskal, bagaimana perguruan tinggi mencetak sarjana yang mampu menjawab tantangan megatren fenomena global di atas. Sebab, revolusi industri 4.0 tidak hanya cukup dengan literasi lama, yaitu membaca, menulis, dan berhitung, sebagai modal dasar dalam berkiprah di masyarakat.

“Mesti mampu melahirkan lulusan yang lebih kompetitif, dengan kemampuan membaca, menganalisis, menggunakan informasi di dunia digital, memahami cara kerja mesin dan aplikasi teknologi, serta berkomunikasi dengan literasi baru di atas,” jelas Prof Arskal.

Maka, terang dia, kemampuan yang harus disiapkan untuk generasi hari ini adalah: interpersonal skills (keterampilan dari diri sendiri), communication skills (keterampilan berkomunikasi), technology skills, digital literacy, multi lingual literacy (kemampuan banyak bahasa), critical and creative thinking skills (memiliki daya kritis dan ide kreatif), dan problem solving skills (kemampuan mencari jalan keluar).

Acara wisuda angkatan pertama ini mengukuhkan dan menetapkan 142 wisudawan-wisudawati strata satu (S1) pada Program Studi Manajemen Pendidikan Islam (MPI) dan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI).*/Azhari

Prof Arskal Salim Orasi Ilmiah Sidang Senat Terbuka STIT Hidayatullah Batam

BATAM (Hidayatullah.or.id) — Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Hidayatullah Batam menggelar Sidang Senat Terbuka Wisuda Sarjana Strata Satu (S1) angkatan pertama yang digelar di Hallroom Pusat Informasi Haji (PIH), Batam Center, Kota Batam, Kepulauan Riau, Selasa, 26 Dzulqa’dah 1442 H (6/7/2021).

Hadir secara online memberi orasi ilmiah Prof. Dr. M. Arskal Salim GP, M.Ag, Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Lektur, Khazanah Keagamaan, dan Manajemen Organisasi, Balitbang-Diklat, Kementerian Agama RI.

Orasi ilmiah Guru Besar Ilmu Politik Hukum Islam ini (Shiyasah Syar’iyyah) ini mengangkat tema “Megatren Dunia: Peluang dan Tantangan, dan Solusinya”.

Prof Arskal, demikian ia disapa, menyebut sejumlah fenomena dunia yang diperkirakan akan terjadi. Misalnya tentang demografi global. Katanya, pada tahun 2045, penduudk dunia diperkirakan 9,45 miliar bertambah 2,1 miliar dari tahun 2015.

Beliau menyebutkan, lebih dari separuh pertumbuhan penduduk dunia disumbang oleh kawasan Afrika, tapi Asia dan Amerika Latin akan memiliki jumlah middle dan upper income class terbesar, sehingga tren demografi global mendorong urbanisasi, arus migrasi, dan penduduk usia lanjut.

“Maka penduduk dunia di perkotaan diperkirakan meningkat menjadi 65 persen, dengan 95 persen pertambahan terjadi di emerging economies. Sehingga pembangunan perkotaan berperan dalam meningkatkan daya saing , pertumbuhan ekonomi, dan kualitas hidup masyarakat,” papar Guru Besar UIN Jakarta ini.

Emerging economies, lanjut Arskal, akan berperan terhadap investasi SDM, infrastruktur, reformasi struktural, dan iklim usaha yang mendorong pertumbuhan ekonomi yang tinggi, berdaya saing, dan kerkesinambungan.

“Otomatis, perubahan teknologi ke depan didominasi oleh teknologi informasi dan komunikasi, bioteknologi, dan rekayasa genetik, kesehatan dan pengobatan, energi terbarukan, wearable decives, otomatisasi dan robotik, serta artificial intelligence,” imbuhnya.

Begitu pula tren perdagangan dan keuangan internasional, katanya lebih lanjut, negara berkembang menjadi poros perdagangan dan investasi dunia dengan pertumbuhan 6 persen pertahun. Perdagangan intra Asia meningkat dan investasi asing langsung ke dan antar negara berkembang berlanjut.

“Demikian halnya dominasi mata uang dunia bergeser dari dolar AS menjadi multi currencies. Aset keuangan emerging economies tahun 2050 diperkirakan melebihi negara maju. Cina berkembang sebagai salah satu sumber keuangan bagi pembangunan mendatang,” ungkap alumnus Universitas Melbourne ini.

Hal lain, papar Arskal lebih jauh, perubahan iklim dan geopolitik. Adanya tantangan pemanasan global semakin besar, baik berupa kejadian ekstrim maupun perubahan iklim jangka panjang. Tanpa usaha menurunkan emisi, rata-rata suhu global akan meningkat 3-3,5 derajat celcius pada akhir abad ini.

“Geopolitik juga terus berlanjut dengan meningkatnya peranan Cina, kerentanan di kawasan Timur Tengah, serta meningkatnya kelas baru dan kelompok tertentu,” imbuhnya lebih lanjut.

Pertanyaannya sekarang, lanjut Arskal, bagaimana perguruan tinggi mencetak sarjana yang mampu menjawab tantangan megatren fenomena global di atas. Sebab, revolusi industri 4.0 tidak hanya cukup dengan literasi lama, yaitu membaca, menulis, dan berhitung, sebagai modal dasar dalam berkiprah di masyarakat.

“Mesti mampu melahirkan lulusan yang lebih kompetitip, dengan kemampuan membaca, menganalisis, menggunakan informasi di dunia digital, memahami cara kerja mesin dan aplikasi teknologi, serta berkomunikasi dengan literasi baru di atas,” jelas Prof Arskal.

Maka, terang dia, kemampuan yang harus disiapkan untuk generasi hari ini adalah: interpersonal skills (keterampilan dari diri sendiri), communication skills (keterampilan berkomunikasi), technology skills, digital literacy, multi lingual literacy (kemampuan banyak bahasa), critical and creative thinking skills (memiliki daya kritis dan ide kreatif), dan problem solving skills (kemampuan mencari jalan keluar).

Dia pula mengibuhkan, juga sebagai sentral yang harus dimiliki, yaitu agama. Ia menegaskan, agama Islam sebagai landasan spiritual dan moral untuk membangun masyarakat yang berkeadaban. Juga menjadi sumber nilai, basis etika dan moralitas dalam membangun tatanan kehidupan.

“Ia juga menjadi sumber inspirasi dalam membangun harmoni sosial dalam kehidupan masyarakat yang majemuk. Serta menjadi kekuatan pendorong dan energi penggerak untuk merealisasikan peradaban masyarakat yang bermartabat,” imbuhnya memungkasi.

Acara wisuda angkatan pertama ini mengukuhkan dan menetapkan 142 wisudawan-wisudawati strata satu (S1) pada Program Studi Manajemen Pendidikan Islam (MPI) dan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI).

Acara sakral nan khidmat ini dihadiri Ketua Badan Pembina Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Batam, Ustadz Jamaluddin Nur yang juga ketua dewan senat, Ketua Pengurus Yayasan, Ustadz Khoirul Amri, Ketua STIT HiBa, Ustadz Mohammad Ramli, dewan dosen, unsur organisasi DPW Hidayatullah Kepulauan Riau, unsur Muslimat Hidayatullah, para tamu pendamping, serta undangan lainnya.

Acara Sidang Senat Terbuka Sarjana S1 angkatan pertama ini juga sekaligus dirangkai dengan penugasan sarjana kader STIT Hidayatullah Batam. Ratusan kader sarjana tersebut akan ditugaskan untuk berkhidmat pada agama dan bangsa yang dikirim ke seluruh pelosok nusantara.*/Azhari

Musholla Al Izzah Tahfidz Putri Parepare Mulai Dibangun

PAREPARE (Hidayatullah.or.id) — Ketua Dewan Murabbi Pusat (DMP) Ust. Dr. Tasrif Amin, Ketua DPW Hidayatullah Sulawesi Selatan Ust Nasri Bukhari dan Ust Dr. Mardhatillah selaku ketua DPW Hidayatullah Sulawesi Barat, menandai dimulainya pembangunan Musholla Al Izzah Tahfidz Putri Hidayatullah Parepare dalam satu prosesi peletakan batu bertama yang dilakukan pada Sabtu (3/7/2021).

Peletakan batu pertama pemgangunan Musholla Al Izzah Tahfidz Putri Hidayatullah Parepare ini juga turut disaksikan para tokoh masyarakat dan perwakilan pemerintah yang diwakili unsur kecamatan Bacukiki Barat.

Ketua panitia pembangunan Musholla Al Izzah sekaligus ketua DPD Hidayatullah Parepare, Ust Muharram, mengatakan pembangunan mushallah ini sejatinya sudah lama dinantikan.

“Dan Alhamdulillah hari ini dengan izin Allah sudah mulai melakukan prosesi peletakan batu pertama,” kata Muharram.

Muharram berharap semoga pembangunan Musholla Al Izzah berjalan dengan lancar dan nantinya bisa digunakan untuk tempat ibadah dan kegiatan belajar santri putri dan para ustazah yang ada di Pesantren Tahfidz Putri Hidayatullah Parepare.

Tak lupa ia menyampaikan apresiasi dan terimakasih kepada para ustadz dan tokoh masyarakat terlebih khusus kepada Baitul Maal Hidayatullah (BMH) yang telah siap bekerjasama dengan Yayasan Hidayatullah Parepera dalam melakukan pembangunan ini.*/Alamsyah Jilpi

Silaturrahim untuk Tindaklanjut Sinergi Pembinaan di Lapas

TANGERANG (Hidayatullah.or.id) — Lembaga Islamic Medical Service (IMS) melakukan kunjungan silaturrahim ke Lapas Kelas IIA Pemuda Tangerang, Banten, dalam rangka melakukan tindak lanjut rencana kerjasama dalam pembinaan warga Lembaga Pemasyarakatan (Lapas), beberapa waktu lalu (30/06/2021).

Rombongan IMS yang turut dibersamai Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Provinsi Banten Ust Ahmad Maghfur disambut hangat oleh Kepala Lapas Pemuda Kelas IIA Tangerang, Kadek Anton Budiharta, SH, M.Si.

Direktur IMS Imran Faizin mengatakan pertemuan kali ini dimaksudkan untuk memenuhi permintaan lapas yang ada di Indonesia untuk sama-sama bersinergi dalam melakukan pembinaan terhadap warga lembaga pemasyarakatan.

“Adapun maksud silaturahmi kali ini selain untuk mempererat ukhuwah, juga sebagai langkah untuk menindaklanjuti hasil MoU beberapa waktu lalu di Kementerian Hukum dan Ham Lembaga Pemasyarakatan yang ada di Jakarta,” kata Imran.

Imran yang juga Ketua Departemen Kesehatan DPP Hidayatullah ini menambahkan, saat ini permintaan dari Lapas ke Lapas begitu tinggi untuk melakukan proses pembinaan dan sinergi kerja. “Sekarang kita mulai di Lapas Pemuda Tangerang,” imbuhnya.

Dalam pertemuan tersebut, Kadek Anton Budiharta, mengungkapkan pihaknya sepakat untuk bersinergi dalam melakukan pembinaan terhadap warga Lapas Pemuda Tangerang. Dia menyebutkan, jumlah warga lapasnya sebanyak 3.000 jiwa.

“Kami sangat bangga dan sangat senang bisa di kunjungi oleh IMS selaku mitra kerja dari Dirjenpas. Sebenarnya sudah ada pembinaan yang kami lakukan terhadap warga binaan, akan tetapi masih sangat kurang,” kata Kadek.

Lebih jauh Kadek berharap adanya kerjasama dengan IMS dapat membantu pihaknya dalam melakukan pembinaan terhadap 3000 warga binaan yang ada di Lapas kelas ll Pemuda Tangerang.

Adapun program yang akan di canangkan bersama Lapas Pemuda Tangerang dari hasil silaturahmi tersebut ialah program hapus tato, Training SLR Super Life Revolution, Training Bina Aqidah & Grand MBA (Belajar Ngaji) dan kegiatan pembinaan lainya.

“Semoga dengan sinergi pembinaan ini, warga Lapas semakin positif dan sekeluarnya dari sini di masa mendatang dapat hidup lebih baik lagi yang kebaikannya semakin dirasakan oleh siapapun, baik lingkungan, agama, bangsa dan negara,” kata Imran.*/Alamsyah Jilpi

Menasehati, Bukan Mempermalukan

BILA Anda rajin membaca koran, Anda pasti tahu di sana ada kolom atau rubrik tertentu yang dikhususkan untuk menampung surat-surat dari para pembaca.

Beragam tulisan bisa masuk ke kolom itu, dan pada umumnya berupa keluhan, pengaduan, saran, terkadang juga sanjungan, kesan baik, atau ucapan terima kasih.

Ada diantaranya yang – karena pertimbangan tertentu – tidak disebutkan identitas pengirimnya. Di sana cukup ditulis: “nama dan alamat ada pada Redaksi”.

Sekali waktu, bila Anda membaca keluhan dan pengaduan dalam rubrik tsb, cobalah memposisikan diri sebagai pihak yang menjadi sasarannya. Apa yang akan Anda alami? Mungkin Anda akan merasa panas dingin, wajah menjadi merah padam, dan dada pun sesak.

Seringkali tulisan-tulisan itu bernada memojokkan bahkan mencemarkan nama baik pihak lain. Kita pun patut bertanya, apa sebenarnya motif di balik semua itu?

Bila memang hendak menegur kesalahan, mengapa harus diumumkan kepada semua orang yang sebenarnya tidak tahu-menahu? Bila memang hendak menasehati, mengapa harus mengumbar aib pihak lain seperti itu? Bila memang hendak menuntut hak, mengapa bukan langsung kepada yang bersangkutan?

Fenomena semacam ini makin meruncing dari waktu ke waktu. Pemicunya bisa sangat beragam, namun pola-pola yang berkembang sebenarnya mengindikasikan suatu penyakit mental yang sama, yaitu menipisnya toleransi, mahalnya kata maaf, dan menguatnya kesombongan.

Orang menjadi sangat sulit memaklumi kekhilafan sesamanya dan menuntut kesempurnaan dalam segala hal. Masyarakat menjadi semakin pemarah dan tidak sanggup lagi melapangkan dada untuk menerima kekurangan pihak lain. Setiap orang pun semakin terbiasa untuk menempatkan diri sebagai raja dan begitu gampang meremehkan siapa saja.

Belakangan ini, kita juga makin sering mendengar kasus-kasus sepele yang berakhir di meja hijau. Semakin banyak orang yang gemar lapor polisi bahkan mengadu ke Komnas HAM. Sepertinya, sebagian anggota masyarakat kita menjadi semakin tidak dewasa, persis anak kecil yang suka mengadu kepada ayahnya ketika berantem dengan temannya.

Tidak lagi tersedia keterampilan mental yang cukup guna menyelesaikan masalah-masalah dengan kepala dingin, mengedepankan prasangka baik, dan membuka pintu musyawarah. Perlahan-lahan masyarakat kita semakin dipenuhi pribadi-pribadi yang kekanak-kanakan. Emosinya mirip petasan bersumbu pendek. Cepat meledak sesaat setelah disulut api.

Dalam situasi ini, ada baiknya kita menengok bagaimana para ulama’ terdahulu membimbing umat ketika berhadapan dengan keadaan-keadaan yang tidak sesuai harapan. Sebab, hidup bermasyarakat pasti mempertemukan kita dengan aneka persoalan, dan banyak diantaranya yang tidak menyenangkan.

Al-Hafizh Ibnu Rajab al-Hanbali (w. 795 H) memiliki sebuah karya kecil berjudul al-Farqu Baynan Nashihah wat Ta’yir (perbedaan antara menasehati dengan mempermalukan). Edisi modern risalah ini hanya terdiri dari 27 halaman. Naskah manuskripnya pasti lebih pendek lagi.

Pada pembukaan risalahnya, beliau menulis, “Ketahuilah bahwa menyebut-nyebut seseorang dengan sesuatu yang tidak ia sukai itu diharamkan jika maksudnya hanya untuk mencela, membongkar aib, dan meremehkan. Adapun jika di dalamnya terkandung kemaslahatan bagi kaum muslimin secara umum dan bagi sebagian mereka secara khusus, dan maksud dari tindakan itu adalah untuk mencapai kemaslahatan tsb, maka tidak diharamkan bahkan justru dianjurkan.”

Beliau kemudian menunjukkan bahwa tujuan memberi nasehat adalah menghilangkan aib dan kekurangan dalam diri orang lain, bukan mempermalukannya. Maka, diantara tanda tulusnya niat menasehati adalah disertakannya upaya menutup aib tsb agar tidak diketahui banyak orang, sedangkan ciri tindakan mempermalukan adalah mengumumkannya kepada khalayak ramai.

Padahal, mengumumkan aib sesama muslim dilarang oleh Allah, sebagaimana firman-Nya:

“Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nuur: 19)

Rasulullah juga bersabda,

“Jangan menampakkan kegembiraan dengan keburukan yang menimpa saudaramu, sehingga Allah mengasihinya dan justru menimpakan bencana kepadamu.” (Riwayat Tirmidzi, dari Watsilah bin al-Asqa’. Hadits hasan-gharib).

Menurut Syaikh al-‘Utsaimin dalam Syarah Riyadhus Shalihin, makna hadits ini adalah: boleh jadi orang itu kemudian dirahmati Allah dan disembuhkan dari keburukannya, namun orang yang tadi menjelek-jelekkannya justru terjerumus ke dalam keburukan yang sama. Oleh karena itu, berhati-hatilah!

Al-Hafizh Ibnu Rajab juga berkata,

“Menyebarkan perbuatan keji selalu beriringan dengan tindakan mempermalukan. Keduanya merupakan sifat orang-orang durjana, sebab mereka sebetulnya tidak ingin menghilangkan kerusakan dan menjauhkan seorang mukmin dari kekurangan maupun aib, akan tetapi tujuannya hanyalah menyebarkan aib saudaranya itu dan merusak kehormatannya. Ia akan mengulang-ulangnya dan menampak-nampakkannya. Tujuannya adalah menjatuhkan saudaranya sesama mukmin dengan cara membongkar aib dan keburukannya, agar saudaranya itu tertimpa madharat di dunia …… Yang mendorong si durjana itu untuk menyebarkan keburukan (saudaranya) dan membongkarnya adalah (perasaan) kuat, sifat kasar, kegemaran untuk menyakiti saudaranya sesama mukmin, dan menimbulkan madharat kepadanya. Semua ini adalah sifat syetan …… Betapa jauhnya (perbedaan) antara tujuan menasehati dengan mempermalukan itu. Keduanya tidak akan tercampur-aduk kecuali bagi mereka yang sudah tidak waras lagi akalnya.”

Maka, berhati-hatilah bila Anda hendak mengeluhkan pihak lain melalui koran, majalah, Facebook, WhatsApp, internet, milis, dsb. Teliti baik-baik niat dan cara Anda, sebelum Allah menghukum Anda dengan keburukan serupa yang semula Anda keluhkan itu. Wallahu a’lam.

Rabu, 15 Rajab 1435 H

Ust Alimin Mukhtar

Usai Jakarta, SAR Hidayatullah Akan Kembali Gelar Diklat di NTB dan Sulawesi Barat

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Sebagai lembaga yang concern pada penanggulangan bencana, pencarian dan pertolongan, SAR Hidayatullah terus bergerak melakukan pendidikan dan pelatihan dalam upaya mitigasi dan kewaspadaan dini menghadapi bencana.

Usai menuntaskan Diklat Dasar di DKI Jakarta berlangsung selama 10 hari yang ditutup pada hari Selasa pekan ini di Cikaret, Bogor, SAR Hidayatullah kembali mengagendakan diklat serupa di sejumlah wilayah lainnya. Yang terdekat adalah di Nusa Tenggara Barat dan Sulawesi Barat.

“Alhamdulillah persiapan kegiatan sudah dilakukan. Kita juga melakukan silaturrahim dan komunikasi dengan Basarnas setempat dalam rangka mensukseskan acara tersebut,” kata Ketua Umum SAR Hidayatullah Irwan Harun dalam keterangannya, Kamis (1/7/2021).

Saat penyelenggaraan hari Ke-4 Diklat DKI Jakarta, Panitia Diklat SAR Hidayatullah NTB melakukan silaturrahim dan diterima Basarnas NTB di kantornya untuk mengkoordinasikan Diklat SAR Hidayatullah yang rencannya digelar pada tanggal 1-10 Juli 2021.

Demikian juga dilakukan Panitia Diklat SAR Hidayatullah wilayah Sulbar yang melakukan kunjungan ke Basarnas Sulbar untuk melaporkan rencana kegiatan Diklat SAR Hidayatullah yang akan digelar pada tanggal 1-10 Agustus 2021 mendatang.

Harun mengatakan, SAR Hidayatullah juga terus menjalin komunikasi dan sinergi dengan berbagai pihak terkait lainnya, termasuk berkesempatan menggadiri undangan pertemuan koordinasi di kantor pusat Basarnas belum lama ini.

Ia berharap agenda diklat SAR Hidayatullah yang telah dicanangkan tersebut dapat berjalan dengan baik, lancar dan tak kurang satu apapun. “Mohon doa dan dukungannya,” katanya.

Dia menandaskan pentingnya menyadarkan masyarakat tentang potensi bencana di Indonesia, bahkan, seperti data Badan Nasional Penanggulan Bencana (BNPB), Indonesia adalah salah satu dari 35 negara dengan tingkat potensi risiko bencana paling tinggi di dunia, menurut indikator World Bank.

BNPB menyebut, dari hampir 75.000 desa yang ada di Indonesia, lebih dari 53.000 desa atau kelurahan berada di daerah rawan bencana. BNPB juga mencatat terdapat 51 juta keluarga di Indonesia yang tinggal di daerah-daerah rawan bencana tersebut.

Karena itu, diklat yang digelar di daerah ini diharapkan dapat melahirkan lebih banyak lagi sumber daya relawan kemanusiaan yang memiliki kemampuan memadai dalam penanggulangan bencana, pencarian dan pertolongan serta dalam upaya mitigasi dan kewaspadaan dini menghadapi bencana. (ybh/hio)

Menteri Bahlil Lahadalia Berikan Motivasi pada Santri Pesantren Hidayatullah Kendari

KENDARI (Hidayatullah.or.id) — Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia melakukan kunjungan ke Kampus Madya Pondok Pesantren Hidayatullah Putra Kota Kendari, Jln. Jenderal A.H Nasution, Kelurahan Kambu, Kecamatan Kambu, Kota Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra), Selasa malam (29/6/2021).

Kunjungan Menteri Bahlil Lahadalia yang dibersamai Gubernur Sulawesi Tenggara Ali Mazi dan Bupati Kabupaten Buton, Drs. La Bakry, MSi, ini dilakukan sehari sebelum acara pembukaan Musyawarah Nasional (Munas) VIII Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia yang digelar di hari dan kota yang sama.

Dalam kesempatan tersebut, Bahlil Lahadalia dengan penampilan khasnya yang sederhana, memberikan ceramah singkat sekaligus menyempatkan memberi memotivasi santri Pondok Pesantren Hidayatullah Putra Kota Kendari ini.

“Terus giat belajar, berdoa dan berusaha keras dalam menjalani pendidikan di pesantren,” kata Bahlil yang juga putra Papua-Buton ini.

Pria yang masa kecilnya sarat dengan tempaan dan kerja keras ini berpesan kepada santri untuk membangun kepercayaan diri, tidak minder dan selalu bersemangat belajar. Menurutnya, masa depan kita ditentukan sejauh mana usaha yang dilakukan sejak dini.

“Jadilah pantang menyerah dan jangan minder dengan keadaannya di pesantren, karena sesungguhnya yang menentukan kebaikan masa depan dari anak anak santri itu adalah proses yang sungguh sungguh dalam belajarnya,” katanya yang diterima di ruang aula sederhana kantor Pondok Pesantren Hidayatullah Putra Kota Kendari.

Gubernur Sulawesi Tenggara Ali Mazi yang membersamai Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia mengatakan tujuan kunjungan itu selain silaturrahim seperti yang biasa ia lakukan, kedatangannya juga ingin menyapa santri yang ada di pondok.

“Serta minta didoakan agar kegiatan pak menteri diberi kelancaran dan juga kelancaran acara Musyawarah Nasional VIII Kamar Dagang dan Industri Indonesia hari ini yang dihadiri bapak presiden RI, Bapak Joko Widodo,” kata Gubernur Ali Mazi.

Pada kesempatan tersebut, Gubernur juga sempat menyampaikan motivasi kepada para santri putra agar lebih giat belajarnya, berdoa dan taat kepada para ustadz pengajar di pondok.

“Kesuksesan seseorang bukanlah ditentukan semata dari orangtua orang tersebut, tapi anak santri sendiri itulah yang bisa menentukan kesuksesan hidupnya di masa depan,” imbuh Ali Mazi sebelum menutup pangantarnya.

Hadir pada kesempatan tersebut ketua dan sekretaris yayasan Kampus Madya Pondok Pesantren Hidayatullah Putra Kota Kendari yang didampingi pengasuh santri, kepala kantor yayasan dan unsur Dewan Murabbi Wilayah (DMW) Ust Amin Suharman. (ybh/hio)

Sinergi TOT Metode Al Hidayah untuk Berantas Buta Aksara Al Qur’an

MALANG (Hidayatullah.or.id) — Melalui Majelis Quran Hidayatullah (MQH), lembaga Persaudaraan Dai Indonesia (Posdai) menggulirkan gerakan program pemberantasan buta huruf dan aksara Al Qur’an.

Untuk menguatkan program tersebut disamping penyelenggaraan secara reguler Gerakan Nasional Dakwah Mengajar dan Belajar Al Qur’an (Grand MBA), Posdai mengadakan Training of Trainer (TOT) Metode Al-Hidayah yang diikuti para dai dari berbagai daerah di Tanah Air.

Kegiatan TOT yang digelar secara sinergis dengan BMH serta turut didukung DPW Hidayatullah Jatim ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas dai dalam mengajarkan Alquran kepada masyarakat.

“Metode Al-Hidayah sangat penting karena selain memang recommended juga ada ciri khas dalam penerapannya, sehingga memudahkan dai dalam mengajarkan Alquran. Disaat yang sama masyarakat juga sangat cepat di dalam memahaminya,” terang Ketua Posdai Pusat, Samani Harjo (1/7/2021).

Dijelaskan dia, metode Al-Hidayah sendiri memiliki keunggulannya tersendiri yang mengkombinasikan banyak hal, seperti warna, kemiripan huruf, fokus dan fleksibilitas.

“Sehingga memang sangat mudah masyarakat untuk lebih cepat mengerti dan tuntas dalam memahami materi pembelajaran. Tidak kalah penting metode ini juga fun dalam praktiknya,” imbuhnya.

Direktur Program dan Pemberdayaan BMH Pusat, Zainal Abidin menuturkan bahwa output dari kegiatan ToT ini akan menguatkan layanan BMH dalam memberantas buta aksara Alquran yang sejauh ini berlangsung melalui Program Rumah Quran dan Majelis Quran Hidayatulah.

“Para peserta nanti akan aktif sebagai dai yang mengajarkan Alquran di seluruh Rumah Quran dan Majelis Quran Hidayatullah yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia,” katanya.

ToT ini berlangsung di Pusdiklat Hidayatullah Batu Jawa Timur mulai dari tanggal 30 Juni 2021 dan akan berakhir pada 3 Juli 2021 dengan total peserta 50 dai.

“Acara ini sangat kami butuhkan, terlebih masyarakat sangat antusias dalam belajar Alquran. Semoga pelatihan ini bisa bergulir sehingga banyak dai-dai yang dapat meningkatkan kemampuannya untuk mencerdaskan bangsa dengan Alquran,” tutur dai asal Palu, Sulawesi Tengah, Ustadz Abdul Muhaimin.*/Herim

Guru Qur’an Palangkaraya ikuti Pelatihan Metode Al Hidayah

PALANGKARAYA (Hidayatullah.or.id) — Para pengajar (muallim) Al Qur’an mengikuti pelatihan membaca Al Qur’an Metode Al Hidayah yang diselenggarakan Ponpes Hidayatullah Parangkaraya dibuka pada hari ini, Senin (28/6/2021).

Puluhan peserta pelatihan baca Al Qur’an metode Al Hidayah yang digelar selama 2 hari ini digelar di Kampus Madya Pondok Pesantren Hidayatullah Palangkaraya, Kalimantan Tengah.

Bertindak sebagai instruktur yaitu Ust Sukirno, S.Pd dan Ust. Supardi, S.H.I yang didatangkan dari Kalimantan Timur. Keduanya adalah instruktur metode Al Hidayah tersertifikasi.

Pelatihan ini diikuti oleh muallim Rumah Qur’an se-Palangkaraya, guru TK, SD, SMP dan pengurus yayasan Hidayatullah Palangkaraya.

“Tidak ada tawar menawar untuk menggunakan metode Al Hidayah di Hidayatullah Kalimantan Tengah ini, ” kata Musyrif Rumah Qur’an Kalteng Ust Shautul Haq dalam sambutannya.

Ia menyambut baik pengajaran metode Al Hidayah yang menurutnya perlu terus diluaskan untuk memberantas buta aksara Al Quran.

Metode Al Hidayah sendiri adalah salah satu tata cara belajar membaca Al Qur’an yang baik dan efektif. Penemunya adalah Ust Zainun Nasich Z, yang juga santri Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya.

Karakteristik pembelajaran metode Al Hidayah, diantaranya; (1) Belajar dengan warna, (2) dimulai dengan kemiripan huruf, (3) fokus ,(4) fleksibel , (5) fast, (6) fun dan (7) menggunakan irama nahawan.

Ketua Departemen Dakwah DPW Hidayatullah Kalimantan Tengah Ust Abdur Rochman berharap pelatihan ini tidak saja membuat bagus bacaan, tetapi juga bagus dalam pengamalan kandungannya.*/Usamah Sudiono