Beranda blog Halaman 418

Mengabdi Jadi Guru Ngaji di Kepulauan Aru

KEPULAUAN ARU (Hidayatullah.or.id) — Matahari sudah meninggi, tapi sinarnya masih lembut menyusuri tubuh berpeluh sekumpulan remaja dan anak muda yang sedang bersandau gurau. Mereka baru saja menuntaskan kerja bakti membabat semak belukar hari itu.

Tampak seorang pria berbadan tambun, cambang melingkari dagunya. Dialah yang memimpin kerja bakti itu. “Ayo mandi, bersih-bersih. Kita siap siap shalat dzuhur,” katanya mengimbau santrinya.

Ustadz Sulaiman Sandere, lelaki murah senyum tersebut bergegas. Begitupun dengan santrinya yang umumnya adalah anak-anak kampung di pedalaman Kepulauan Aru tersebut. Mereka membersihkan diri untuk selanjutnya mendirikan shalat berjamaah.

Usai shalat, mereka bersantai di teras dipan pondokan yang sekaligus menjadi mushalla sementara itu. Seraya menyeruput teh yang ditingkahi manisnya penganan pisang goreng, mereka menikmati siang itu dengan penuh keakraban.

Itulah aktifitas sehari hari Sulaiman selain mengajar Al Qur’an dan taklim masyarakat selama masa perintisan bakal kampus Hidayatullah Dobo Kepulauan Aru tersebut. Dengan bahu membahu dengan warga dan masyarakat sekitar, kini kampus dakwah dan pendidikan Hidayatullah Kepulauan Aru itu kian menunjukkan progresifitasnya.

“Sampaikan saja yang apa sudah kita rasakan tentang nikmatnya berislam,” kata Ust Sulaiman mengungkapkan tipsnya ketika ditanya apa kiatnya dalam berdakwah.

Menurutnya, dakwah adalah bahasa hati. Bahasa seorang dai adalah juga bagian dari kepingan hatinya. Artinya, jelas dia, seorang dai harus betul betul sudah merasakan, meresapi dan mendalami apa yang disampaikan kepada umat.

“Dengan begitu, hati akan sama-sama klop untuk segera menyergap, menyedot dan menyadap spirit Ilahi,” katanya sambil menirukan diksi yang sering dilontarkan pendiri Hidayatullah, almarhum Abdullah Said.

Sulaiman menyelesaikan pendikan SD dan Mts di Pesantren Hidayatullah Balikpapan. Ia kemudian melanjutkan pendidikan Madrasah Aliyah di Makassar dan juga menyelesaikan pendidikan tingginya di kota Daeng tersebut.

Dai 6 orang anak ini terus menguatkan dakwah di Aru dengan merintis pesantren sebagai pusat dakwah dan pendidikan di Dobo yang dipersiapkan untuk generasi dari pulau pulau.

Kabupaten Kepulauan Aru adalah salah satu kabupaten di provinsi Maluku. Ibukota kabupaten ini terletak di Dobo. Di kawasan inilah Ustadz Sulaiman mendapatkan tugas mengemban amanah dakwah sejak kurang lebih 2 tahun lalu.

Alamnya sebagai daerah yang eksotik begitu unik dengan gugusan pulau-pulaunya yang menawan. Namun dibalik itu, hal itu menjadi spesial bagi Sulaiman.

Bagaimana tidak, dengan gugusan lebih dari 100 pulau kecil, membuat dakwah Sulaiman yang selain menantang, juga sarat dengan haru biru. Saban waktu pria 37 tahun harus berjibaku dengan ombak laut.

“Jadi pergerakan ekonomi sangat ditentukan oleh kapal-kapal atau perahu dari desa ke desa. Dan begitu pula pergerakan dakwah, tidak lepas dari tranportasi laut. Inilah yang membedakan kabupaten Aru ini dengan daerah lain,” kata Sulaiman.

Sulaiman mengatakan, transportasi laut memang sudah menjadi kebutuhan dasar masyarakat baik untuk pemenuhan keperluan ekonomi maupun interaksi sosial masyarakat. Sehingga wajar jika transportasi laut hampir sama jumlahnya dengan transportasi darat yang ada di kota Dobo.

Tiada kesibukan Sulaiman yang menyita waktu dan perhatiannya selain berdakwah. Lelaki kelahiran Bone, Sulawesi Selatan ini selain memenuhi permintaan mengisi kajian dakwah rutin ke berbagai titik pulau, ia juga membina salah satu dusun yang bernama Jerukin di Desa Maikor.

Penduduk desa Makor heterogen dengan agama Islam dan Kristen. Mereka hidup rukun bahkan mereka tinggal satu rumah. Kata Sulaiman, harmoni tersebut terus terawat dan menjadi teladan dalam toleransi. (ybh/hio)

Santriwati Ponpes Hidayatullah Mentawai Pelatihan Tata Boga

0

MENTAWAI (Hidayatullah.or.id) — Yayasan Semen Padang memberikan program pelatihan tata boga cara membuat kue untuk pengelola dan santriwati Pondok Pesantren (Ponpes) Hidayatullah Mentawai pada 20-22 Maret 2021.

Ketua Pelaksana pelatihan Yayasan Semen Padang Misratin mengatakan, pelatihan ini diberikan pada pengurus dan santriwati yang ada di pesantren tersebut.

“Kegiatan ini merupakan program kegiatan sosial/ CSR dari Yayasan Semen Padang kepada masyarakat Mentawai yang ada di Pesantren Hidayatullah,” katanya.

Ia menyebut, tujuan kegiatan ini adalah untuk mengembangkan usaha dan meningkatkan penghasilan. “Mereka kita ajarkan cara membuat kue dengan menggunakan bahan baku khas mentawai yang mudah ditemukan,” ujar Ira.

Selain memberi pelatihan membuat kue, Yayasan Semen Padang juga memberikan bantuan peralatan dan bahan-bahan memasak.

“Sebenarnya mereka juga punya peralatan yang bagus, namun memang jarang digunkaan karena belum memiliki ilmunya,” terangnya.

Sementara itu, salah saorang pengasuh santriwati Pesantren Hidayatullah Mentawai, Ustz Rosetta mengatakan sangat terharu dan senang yang pelatihan yang diadakan Yayasan Semen Padang.

“Nanti kita juga berencana untuk mengajarkan ilmunya ke seluruh murid,” kata Rosetta(*/Ela)

Perjalanan Satu Bulan Hanya untuk Satu Hadits

BAGI generasi terdahulu, ilmu adalah perkara penting. Itulah sebabnya mereka tidak berani meremehkannya. Para ulama rela melakukan perjalanan jauh demi memperoleh ilmu, meski itu hanya sebuah Hadits.

Suatu saat sahabat Jabir bin Abdillah RA mendengar bahwa ada Sahabat lain yang pernah mendengar Hadits Rasulullah SAW yang belum diketahuinya. Jabir kemudian membeli hewan tunggangan dan melakukan perjalanan selama satu bulan hingga sampai di Syam, demi menemui Abdullah bin Unais al-Anshari.

Ketika bertemu dengan Abdullah, Jabir menyampaikan, “Aku mendengar bahwa engkau mendengar Hadits tentang mazhalim (perkara yang diadukan oleh mereka yang terzhalami). Aku khawatir aku meninggal atau engkau meninggal sebelum aku mendengarnya!”

Akhirnya Abdullah bin Unais menyampaikan Hadits itu.

Peristiwa seperti di atas dialami oleh Sahabat Abu Ayyub al-Anshari. Ia melakukan perjalanan dari Madinah menuju Mesir agar bisa bertemu dengan Uqbah bin Amir, karena ada satu Hadits yang tidak ada yang mendengar dari Rasulullah SAW kecuali kedua Sahabat itu. Yakni Hadits tentang menutup aib seorang Mukmin.

Uqbah bertanya, “Apa yang membuat engkau datang, wahai Abu Ayyub?”

Abu Ayyub menjawab, “Sebuah Hadits yang aku telah mendengarnya dari Rasulullah SAW, yang tidak ada yang mendengarnya selain aku dan dirimu, mengenai menutup aib seorang Mukmin.”

Uqbah pun menjawab, “Benar, aku telah mendengar dari Rasulullah SAW, dimana beliau bersabda, ’Barangsiapa menutupi seorang Mukmin di dunia dari aib, maka Allah akan menutupnya di hari kiamat.’

Abu Ayyub pun menjawab, “Engkau benar.” Kemudian ia pun pergi menuju hewan tunggangannya dan kembali ke Madinah. (ar-Rihlah fi Thalab al-Hadits, hal 81, 82, 86).

Demi Satu Hal

Selain dialami para ulama dari kalangan Sahabat, rihlah yang berat dalam rangka menuntut ilmu juga dilakukan oleh para tabi’in dan para ulama setelahnya. Misalnya dikatakan oleh Said bin Musayyib, “Aku benar-benar menempuh perjalanan sehari semalam demi memperoleh satu Hadits.”

Demikian pula yang dilakukan oleh Ibnu ad-Dailami yang tinggal di Baitul-Maqdis. Ketika itu ia mencari Hadits yang diriwayatkan oleh Amru bin al-‘Ash di Madinah. Namun sesampai di Madinah, ternyata Abddulah bin Amru bin al-‘Ash sedang berada kebunnya di Makkah. Akhirnya Ibnu ad-Dailami pun mengejarnya.

Setelah mereka bertemu, Ibnu ad-Dailami bertanya, “Wahai Abdullah, apakah Hadits yang sampai kepada kami darimu?”

Abdullah balik bertanya, “Hadits apakah itu?”

Ibnu ad-Dailami pun menjawab, “Shalat di Baitul-Maqdis lebih baik daripada seribu shalat di selainnya, kecuali Ka’bah.”

Abdullah kemudian menjawab, “Ya Allah, sesungguhnya aku tidak menghalalkan mereka mengatakan mengenaiku apa yang tidak aku katakan. Sesungguhnya Sulaiman ketika meninggalkan Baitul-Maqdis, ia melakukan amalan qurban, hingga akhirnya qurban itu diterima.

Kemudian ia berdoa kepada Allah dengan doa-doa, di antaranya adalah, ‘Ya Allah, siapa saja dari hamba yang Mukmin yang mengunjungi-Mu di rumah ini dengan keadaan bertaubat kepada-Mu, sesungguhnya ia datang untuk melepaskan diri dari dosa-dosanya, hendaklah Kau terima, dan melepaskannya dari kesalahan-kesalahan sebagaimana di hari ia dilahirkan oleh ibunya.’”

Ulama seperti Hasan al-Bashri pun melakukan rihlah dari Bashrah menuju Kufah. Tujuannya untuk bertanya satu perkara dari Ka’ab bin Ujrah.

Sesampainya kepada Ka’ab di Kufah, Hasan al-Bashri bertanya, “Apa fidyah Anda ketika ditimpa sakit?” Ka’ab pun menjawab, “Seekor domba.” (ar-Rihlah fi Thalab al-Hadits, hal 92, 97,100).

Sebelumnya, Ka’ab melakukan ihram di saat umrah di tahun Hudaibiyah, sedangkan kepalanya menderita sakit karena kutu. Maka Rasulullah SAW mengizinkan kepada Ka’ab untuk mencukur habis rambutnya dan membayar fidyah. (al-Hajja wa al-Umrah fi al-Fiqh al-Islami, hal 51, 136).

Rihlah yang Mengecewakan

Syu’bah adalah ulama besar di bidang Hadits. Ia dikenal amat memperhatikan sanad periwayatan.

Suatu saat Nashr bin Hammad dan beberapa penuntut ilmu Hadits berkumpul di depan rumah Syu’bah. Saat itu Nashr membaca sebuah Hadits dengan sanadnya, “Telah menyampaikan kepada kami Israil, dari Abu Ishaq, dari Abdullah bin Atha’ dari Uqbah bin Amir…” Kemudian Bishr bin Hammad pun menyampaikan Hadits.

Tiba-tiba Syu’bah keluar dari rumah dan menampar Bishr, kemudian masuk kembali ke rumah. Beberapa saat kemudian Syu’bah keluar lagi seraya bertanya, “Kenapa dia menangis?”

Saat itu Abdullah bin Idris yang juga hadir menjawab, “Engkau telah menyakitinya!”

Syu’bah mengatakan, “Apakah engkau tidak mendengar apa yang ia sampaikan dari Israil dari Abu Ishaq, dari Abdullah bin Atha’ dari Uqbah bin Amir? Sedangkan aku pernah bertanya kepada Abu Ishaq apakah Abdullah bin Atha’ mendengar dari Uqbah bin Amir?”

Syu’bah kemudian mengisahkan bahwa ia pernah bertemu dengan Abu Ishaq yang berada di Kufah, dan menanyakan mengenai Abdullah bin Atha’, apakah ia mendengar dari Uqbah bin Amir. Akhirnya Ibu Ishaq menjawab bahwa Abdullah tidak mendengar dari Uqbah dan kemudian ia pun marah.

Syu’bah pun kecewa, akhirnya ia pun bermaksud menemui Abdullah untuk menelusuri dari siapa ia mendengar Hadits. Mis’ar bin Kidam menyampaikan kepada Syu’bah, “Abdullah bin Atha’ ada di Makkah.”

Akhirnya Syu’bah berangkat ke Makkah. Tidak untuk melaksanakan haji, melainkan untuk bertemu dengan Abdullah bin Atha’. Sesampai di Makkah dan bertemu, Abdullah mengatakan, “Said bin Ibrahim yang menyampaikan kepadaku.”

Syu’bah pun pergi menuju Said bin Ibrahim yang berada di Madinah. Said pun menyampaikan bahwa ia memperoleh Hadits dari Ziyad bin Mikhraq yang tinggal di Bashrah.

Berlanjutlah Syu’bah pergi menuju Bashrah. Setelah bertemu, Ziyad bin Mihkraq berkata, “Engkau tidak akan menerimanya.”

Syu’bah menjawab, “Aku menginginkannya.”

Akhirnya Ziyad bin Mikhraq pun menjawab, “Syahr bin Hausyab menyampaikan kepadaku dari Abu Raihanah dari Uqbah bin Amir!”

Setelah mendengar nama Syarh bin Hausyab, Syu’bah pun berkata, “Hadits ini menghancurkanku. Seandainya Hadits ini shahih, maka ini lebih aku cintai daripada keluarga dan hartaku serta dunia seisinya.” (al-Muhaddits al-Fashil, hal 313-315).*/Thoriq/ Hidcom

Yudisium Sarjana Angkatan Pertama STIT Hidayatullah

BATAM (Hidayatullah.or.id) — Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Hidayatullah Batam menggelar Sidang Senat Terbuka pada acara Yudisium Sarjana Angkatan Pertama yang berlangsung khidmat di Aula Serbaguna Gedung Hidayatullah Asia Raya, Kampus 2 Putri, Kampus Utama Hidayatullah, Tanjung Uncang, Batu Aji, Batam, Kepulauan Riau, Sabtu (20/3/2021).

Acara yang berlangsung offline dan sebagian dalam jaringan (daring) online ini, dihadiri Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Ust Dr. H. Nashirul Haq, Lc, MA., yang juga akan memberikan orasi ilmiah.

Turut hadir anggota Dewan Mudzakarah (DM) Hidayatullah, Ust Ir.Khairil Baits, Ketua Badan Pembina Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah (YPPH) Batam, Ust H. Jamaluddin Nur dan anggota, Ketua Badan Pengurus YPPH, Ustadz Khoirul Amri dan jajaran.

Pada kesempatan yang sama, juga hadir Kepala Bidang Pendidikan Tinggi (Kabid Dikti), M.Sidik, sekaligus Rektor Institut Agama Islam Abdullah Said Batam, Ketua STIT Hidayatullah Batam, Mohammad Ramli, M.Pd.I, para dosen, tamu undangan, dan peserta yudisium sarjana yang memadati hallroom tempat acara.

Ketua STIT Hidayatullah Batam, Mohammad Ramli, M.Pd.I dalam sambutannya, setelah mengucapkan penghormatan kepada para tamu, mengajak bersama memanjatkan puji syukur kepada Allah SWT atas karunia-Nya.

Dengan karunia-Nya sehingga acara Yudisium Sarjana Angkatan Pertama Tahun 2021 dapat digelar dengan diiringi optimisme menyambut masa depan gemilang pada momen yang bersejarah ini di tengah keterbatasan akibat wabah pandemi Covid-19.

Pada kesempatan tersebut, Ramli melaporkan, bahwa setelah melalui proses panjang, menjalani fase tarbiyah di Kampus STIT Hidayatullah Batam selama empat tahun, akhirnya tiba jugalah kelulusan sarjana pada hari ini.

“Alhamdulillah, kita patut bersyukur kepada Allah atas digelarnya acara Yudisium Sarjana Angkatan Pertama, meski dengan keterbatasan akibat wabah pandemi, sehingga ada yang sebagian ikut secara daring. Hari yang bersejarah. Setelah melalui proses tarbiyah yang panjang, akhirnya hari ini adalah kelulusan sarjana bagi mahasiswa,” kata Ramli, yang juga Dewan Senat STIT Hidayatullah Batam.

Ramli menyampaikan bahwa ada 144 mahasiswa yang telah dinyatakan lulus lewat Surat Keputusan (SK) Yudisium Sarjana Ketua STIT Hidayatullah Batam dengan dua program studi, yaitu Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) dan Manajemen Pendidikan Islam (MPI).

“Ada 144 mahasiswa yang akan kita bacakan SK yudisium nya pada hari ini, dengan klasifikasi: 86 prodi MPI dan 58 PGMI, yang terdiri dari ikhwan dan akhwat, dan secara resmi menyandang gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd),” sebutnya di hadapan 108 peserta yudisium offline, dan 36 yang dalam jaringan online.

Dalam pada itu, akademisi asal Pulau Sapeken, Madura, Jatim ini, juga menyampaikan bahwa usai acara kelulusan sarjana, agenda selanjutnya yang menanti adalah penugasan dai sarjana dari DPP Hidayatullah Batam dan Wisuda Akbar.

“Selamat atas gelar sarjananya, semoga ilmu yang didapat selama kuliah berkah dan bermanfaat. Usai acara ini, agenda selanjutnya adalah penugasan dai sarjana melalui SK DPP Hidayatullah dan wisuda akbar. Kalian akan ditugaskan ke penjuru Nusantara untuk berkhidmat kepada umat dan bangsa,” pungkasnya seraya membacakan sebuah pantun.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Badan Pembina Kampus Utama Hidayatullah Batam, Ust H. Jamaluddin Nur memberikan taujih penguatan bagi paracalon wisudawan wisudawati yang baru saja resmi menyandang gelar kesarjanaannya. Hal tersebut disampaikan sebelum orasi ilmiah Ketua Umum DPP Hidayatullah.

Di hadapan ratusan para audiens yang berasal dari seluruh wilayah Indonesia tersebut, Jamal Nur menegaskan kembali tentang proses perkaderan yang ada di Hidayatullah. Menurutnya, ada tiga proses yang harus dijalani seorang kader agar menjadi kader yang tangguh dan militan.

“Pertama, kader harus memproses diri dengan tilawah. Banyak membaca al-Qur’an. Mengkajinya dengan sungguh-sungguh agar melahirkan ide dan gagasan baru. Ditadabburi. Serta membaca juga fenomena alam yang terjadi. Itu semua proses tilawah,” ujarnya dengan menyebut Surah al-Jumu’ah ayat dua.

Tahapan selanjutnya bagi seorang kader, lanjut Kadep Hubungan Antar Lembaga (HAL) DPP Hidayatullah ini, yaitu tazkiyah, penyucian jiwa. Bagaimana kita ini tampil kepada umat karena punya jiwa-jiwa yang bersih. Punya mental yang kuat. Hal tersebut mesti melalui internalisasi jiwa kader.

“Ternyata, internalisasi tersebut adanya di Surah al-Muzzammil, dengan tujuh azimatnya. Itulah makanya muncul GNH, Gerakan Nawafil Hidayatullah,” tambahnya.

Ketiga, masih menurut Jamal Nur, ada proses taklim, yaitu tradisi intelektual. Ini mutlak keilmuan. Kalau perlu, sudah diupayakan agar memiliki perpustakaan digital. Siapa pun yang datang, katanya lagi, datang untuk membaca. ia datang melakukan proses taklim, proses keilmuan.

“Bisa dibayangkan, rohaninya bagus, intelektualnya juga oke, apa tidak menjadi kader yang luar biasa handal dan militant,” tegas kader yang pernah mengenyam pendidikan nonformal di Kampus Induk Ummul Quro, Hidayatullah Gunung Tembak ini.

Inilah harapan dan tantangan besar bagi para sarjana ini, tambahnya lagi, agar proses tranformasi nilai nilai manhaj kepada para kader muda ini terus berjalan. “Selamat berjuang para sarjana kader, terus berkarya dengan ilmu yang telah didapat,” tandas dai yang pernah tugas di Padang, Sumatera Barat dan Aceh ini.

Yudisium Sarjana untuk angkatan pertama STIT Hidayatullah Batam ini, menetapkan Dewan Senat, yang terdiri dari Ketua Badan Pembina Yayasan, H.Jamaluddin Nur, Ketua Badan Pengurus Yayasan Khoirul Amri, Kabid Dikti M.Sidik, Ketua STIT Hidayatullah Batam, Muhammad Ramli dan Wakil Bidang Akademik Muji.

Untuk diketahui juga, bahwa di Kampus Utama Hidayatullah Batam kini telah memiliki tiga perguruan tinggi; STIT Hidayatullah Batam, Institut Agama Islam Abdullah Said Batam, dan STIT Mumtaz Karimun, Kepulauan Riau.*/Azhari

KH Nashirul Haq: Alumni PTH sebagai Sarjana Kader Leader

BATAM (Hidayatullah.or.id) — Alumni Perguruan Tinggi Hidayatullah (PTH) diharapkan membawa sesuatu khas dan istimewa, yang tidak dimiliki oleh perguruan tinggi lainnya, yaitu menjadi sarjana kader leader.

Hal tersebut disampaikan oleh Ketua Umum DPP Hidayatullah, KH Dr Nashirul Haq, Lc.MA, dalam orasi ilmiahnya di acara Yudisium Sarjana Angkatan Pertama Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Hidayatullah Batam, Sabtu, 7 Sya’ban 1442 Hijriah (20/3/2020).

“Kita bersyukur karena telah menjadi sarjana kader leader Hidayatullah. Hidayatullah hadir, termasuk amal usaha dan lembaga pendidikannya bukan untuk menambah jumlah sekolah, pesantren, apalagi perguruan tinggi, tapi mesti membawa sesuatu yang khas, istimewa, yang tentu saja tidak ada di perguruan tinggi lain, yaitu yang berorientasi mencetak sarjana kader dan leader,” kata Ust Nashirul Haq pada acara yang dilakukan di Aula Serbaguna, Gedung Hidayatullah Asia Raya, Kampus 2 Putri, Kampus Utama Hidayatullah Batam.

Pada umumnya kampus perguruan tinggi, lanjut beliau, hanya berorientasi untuk melahirkan sarjana yang siap kerja, dan ini yang ditentang dan dikritisi oleh Abdullah Said, pendiri Hidayatullah, dalam berbagai kesempatan.

“Obsesi almarhum itu, Hidayatullah hadir tidak sekedar menambah jumlah (kelompok/ gerakan Islam), tapi tampil membawa solusi. Maka kehadiran PTH ini orientasinya begitu,” terangnya.

Ketua Umum DPP Hidayatullah ini juga memotivasi para sarjana yang baru saja dibacakan SK Yudisiumnya, untuk percaya diri dan tidak minder, karena mereka mampu menawarkan sesuatu yang tidak ada di tempat lain.

“Ini satu kebanggaan dan kesyukuran bagi adik-adik sekalian, dan jangan minder, harus merasa superior, dan percaya diri, karena kita memang menawarkan sesuatu yang tidak ada dimana-mana,” imbuhnya di hadapan 150-an sarjana yang dilakukan secara offline dan sebagian dalam jaringan online.

Karena kualitas perguruan tinggi itu, lanjut sarjana Universitas Islam Madinah ini, tidak ditentukan oleh besarnya perguruan tinggi, tapi biasanya ditentukan oleh siapa dosen dosennya, siapa murabbinya disitu. “Ada orang-orang hebat yang menjadi murabbinya,” tegasnya.

Dahulu, tambahnya, generasi salaf belum ada pendidikan formal, tapi yang mengajar ada ulama ulama besar, maka masih belasan tahun sudah jadi ulama, seperti Imam Syafi’i, sudah ditunjuk menjadi mufti di umur 16 tahun karena ditangani oleh Imam Malik, murabbinya saat itu.

Sehingga Ust Nashirul Haq mengajak para audiens untuk merenungi ayat Allah SWT yang terdapat dalam al-Qur’an Surah (QS.) Shad [38]: 45

وَٱذۡكُرۡ عِبَٰدَنَآ إِبۡرَٰهِيمَ وَإِسۡحَٰقَ وَيَعۡقُوبَ أُوْلِى ٱلۡأَيۡدِى وَٱلۡأَبۡصَٰرِ

“Dan ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishak dan Yakub yang mempunyai kekuatan-kekuatan yang besar dan ilmu-ilmu (yang tinggi)”. (QS. Shad [38]:45).

Katanya, dia menjelaskan, Ulil aidi wal abshar. Punya keterampilan, skill, etos kerja, punya tangan yang terampil. Tapi itu saja tidak cukup.

Wal abshar. Juga punya visi yang besar dan cita-cita. Punya wawasan yang luas, dan punya kecerdasan spiritual. Ulil Abshar juga bermakna orang-orang yang ahli ibadah. Inilah yang hendak dilahirkan dari lembaga pendidikan Hidayatullah,” jelasnya lebih lanjut.

Pertama, sebut Doktor di bidang Ushul Fiqh ini, yaitu skill. Punya keterampilan, expert di bidangnya, sehingga dia bisa menjalankan tugas dengan sebaik baiknya.

“Banyak orang yang berwawasan tapi tidak terampil. Itu tidak bisa menjalankan tugas dengan sebaik baiknya. Banyak berpikir tapi tidak bisa mengeksekusi. Tapi skill tidak cukup. Ada saatnya skill itu mentok ketika sudah ada artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan atau robot,” katanya.

Maka, terangnya, hal itulah perlunya point kedua, yakni knowledge.

“Ada ilmu yang bisa mengembangkan. Ketika skillnya itu bisa digantikan oleh robot, dia kembangkan lagi. Tidak pernah kehabisan inovasi dan kreatifitas,” imbuhnya.

Makanya, lanjut anggota Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat ini, mahasiswa jangan berpikir mau jadi apa, tapi berpikirlah mau buat apa, karena suatu saat pekerjaan itu sudah tidak ada lagi.

“Nah, mestinya kita berpikir begitu, mau bikin apa? Jadi jangan ada di antara adik adik ini bercita cita, jadi pegawai jadi karyawan, kalau mau jadi karyawan, karyawan Allah SWT sekalian, yaitu ingin menciptakan lapangan kerja, misal, bikin pesantren, bikin perguruan tinggi,” ucapnya.

Terakhir, Nashirul Haq kembali mengingatkan tentang proses tarbiyah di Hidayatullah yang terus berkelanjutan. Bahwa istilah alumni di PTH, itu tidak sama dengan istilah alumni di universitas lain.

“Kita sekali lagi patut bangga dan bersyukur bahwa kita telah dihantar untuk mengikuti proses tarbiyah formal di Hidayatullah. Tapi proses ini masih berkelanjutan, karena istilah alumni di PTH tidak sama dengan istilah alumni di universitas lain, yang tidak ada ikatan. Kita ini masih berkesinambungan. Sehingga betul betul menjadi ulil aidi wal abshar,” imbuhnya.

Nashirul Haq juga mengapresiasi serta memberi ucapan selamat kepada para sarjana pendidikan tersebut dan berharap semoga semuanya bisa diberikan kemampuan untuk mengamalkan ilmunya, kemudian memberikan manfaat kepada umat dan agama melalui wadah Hidayatullah, dengan ilmu yang cukup memadai selama di STIT Hidayatullah Batam.

“Anda punya bekal yang cukup untuk bisa mengemban amanah yang saat ini sudah sangat besar, banyak. Butuh kehadiran kader kader yang memiliki integritas dan kapabilitas, kemampuan leadership yang baik, knowledge, skill yang baik, serta attitude, selamat atas semuanya!” tutup alumnus doktoral International Islamic University Malaysia (IIUM) ini.*/(ybh/hidayatullah.or.id)

Pantau dan Penjaminan Mutu, Dikdasmen Pusat Visitasi ke Hidayatullah Jawa Barat

BANDUNG (Hidayatullah.or.id) — Dalam rangka melakukan pemantauan serta penjaminan kualitas dan mutu pendidikan, Tim Asesor Departemen Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah melakukan visitasi kepada 2 kampus Pondok Pesantren Hidayatullah di Jawa Barat yaitu Cirebon dan Bandung, selama 2 hari (18-19/3/2021).

Visitasi ini sendiri adalah kegiatan kunjungan tim asesor ke kampus Hidayatullah yang telah menyelenggarakan pendidikan setidaknya 5 tahun dalam rangka pengamatan lapangan, wawancara dengan warga sekolah, verifikasi data pendukung, serta pemdalaman hal-hal khusus yang berkaitan dengan komponen dan aspek akreditasi.

Proses visitasi ini merupakan rangkaian pelaksanaan akreditasi standar Pendidikan Integral Berbasis Tauhid (PIBT) Lembaga Pendidikan Integral Hidayatullah (LPIH) yang melekat dengan fungsi evaluasi diri dan sekolah diharapkan untuk senantiasa menjamin kelengkapan dan ketepatan data dan informasi yang diperlukan dalam pelaksanaan akreditasi ini.

Ketua Depdikdasmen DPP Hidayatullah Ust. Nanang Noer Patria, M.Pd, menjelaskan visitasi akreditasi PIBT LPIH Cirebon dan Bandung, Jawa Barat, oleh Tim Dikdasmen DPP ini guna dalam rangka pemantauan standarisasi dan ekspansi dakwah melalui tarbiyah.

Tim Assesor Depdikdasmen DPP Hidayatullah memulai penilaian akreditasi sekolah integral mulai jenjang SD, Mts dan MA yang diawali dengan opening ceremony.

“Kegiatan ini adalah bagian dari program besar Depdikdasmen, jadi jangan dipersepsikan untuk mencari kesalahan institusi, namun justru sebaliknya, untuk memetakan apa dan dari mana mutu dan kualitas sekolah harus ditingkatkan secara terstandar”, ujarnya.

Senada dengan itu, Ketua DPW Hidayatullah Jabar Ust. Taufik Wahyudiono dengan berseloroh menyampaikan bahwa tim assesor Depdikdasmen DPP hadir untuk melakukan pemetaan, evaluasi, mendampingi dengan menilai sekolah Hidayatullah.

“Beliau beliau tidak mempan untuk dipengaruhi dengan pelayanan spesial kita,” kelakar Taufik.

Lebih jauh, Taufik mengutarakan bahwa kegiatan visitasi Akreditasi PIBT bertujuan memprotret setiap sekolah baik dari sisi administrasi sekolah maupun dari aspek administrasi guru/ pengajar.

“Dengan harapan bahwa setiap sekolah Hidayatullah harus terstandar dan menjadi sekolah yang ideologis, berorientasi pada keunggulan, mutu dan kualiatas output serta tetap laris,” kata Taufik.

Kegiatan assesmen ini diketuai oleh asesor PIBT LPIH Ust Fatihul Haq dengan dua orang anggota yakni Ust Bashori dan Ust Abdul Hamid.

Tim asesor bekerja sangat serius memeriksa secara teliti dan melakukan penilaian sejak pagi hingga malam hari dengan mengececk dan cross check berkas maupun bukti yang sesuai dengan instrumen penilaian.

Adapun sekolah di Pondok Pesantren Hidayatullah Cirebon yang dinilai adalah SD Integral Luqman Al Hakim Cirebon, MTs Sains Al Hadid dan MA Luqman Al Hakim Cirebon .

Sekitar Pukul 22.00 tim assesor bertolak ke Pondok Pesantren Hidayatullah Bandung untuk melanjutkan visitasi akreditasi di sekolah yang ada di kota kembang ini. Mereka tiba pukul 02.00, tahajjud, shubuh dan tim istirahak sejenak menunggu pagi hari.

Hari kedua kegiatan visitasi di Hidayatullah Bandung diawali dengan pembukaan di aula pertemuan pondok.

Dalam kesempatan tersebut, Ust. Fatihul Haq yang memberikan sambutan menyampaikan pentingnya merawat peninggalan para pendahulu khususnya yang telah ditinggalkan perintis Hidayatullah Bandung untuk memajukan dakwah melalui pendidikan.

“Walaupun mungkin tidak diucapkan, ini sebuah kesempatakan untuk kita bisa melaksanakan wasiat pendahulu dengan tujuan beribadah,” kata Fatihul.

Assesmen berlangsung cukup lama namun tetap sumringah karena banyaknya data dan bukti yang disiapkan oleh teman teman pengelola pendidikan di kota Priyangan ini.

Adapun sekolah yang dinilai di Yayasan Hayatan Thoyyibah Hidayatullah Bandung adalah MTs Al Quran Bandung dan MA Al Quran Bandung. Alhamdulillah proses visitiasi akreditasi berjalan lancar dan tidak ada hambatan. (ybh/hio)

Ust Jamaluddin Nur Ingatkan 3 Bekal Harus Dimiliki Kader Dai Hidayatullah

0

BATAM (Hidayatullah.or.id) — Ketua Departemen Hubungan Antar Lembaga (HAL) DPP Hidayatullah Ust H. Jamaluddin Nur mengingatkan 3 hal yang harus menjadi bekal dan diinternalisasi bagi setiap kader dai untuk membangun militansi dan keandalan di dalam setiap medan dakwah. Ketiga hal tersebut adalah tilawah, tazkiyah dan taklimah.

Hal itu disampaikan Ust Jamaluddin saat memberikan sambutan dalam acara Sidang Senat Terbuka pada acara Yudisium Sarjana Angkatan Pertama yang berlangsung khidmat di Aula Serbaguna Gedung Hidayatullah Asia Raya, Kampus 2 Putri, Kampus Utama Hidayatullah, Tanjung Uncang, Batu Aji, Batam, Kepulauan Riau, Sabtu (20/3/2021).

Ketua Badan Pembina Kampus Utama Hidayatullah Batam ini memberikan taujih penguatan bagi paracalon wisudawan wisudawati yang baru saja resmi menyandang gelar kesarjanaannya.

Di hadapan ratusan para audiens yang berasal dari seluruh wilayah Indonesia tersebut, Jamaluddin menegaskan kembali tentang proses perkaderan yang ada di Hidayatullah. Menurutnya, ada tiga proses yang harus dijalani seorang kader agar menjadi kader yang tangguh dan militan.

“Pertama, kader harus memproses diri dengan tilawah. Banyak membaca al-Qur’an. Mengkajinya dengan sungguh-sungguh agar melahirkan ide dan gagasan baru. Ditadabburi. Serta membaca juga fenomena alam yang terjadi. Itu semua proses tilawah,” ujarnya dengan menyebut Surah al-Jumu’ah ayat dua.

Tahapan kedua selanjutnya bagi seorang kader, lanjutnya, yaitu tazkiyah, penyucian jiwa. Bagaimana kita ini tampil kepada umat karena punya jiwa-jiwa yang bersih. Punya mental yang kuat. Hal tersebut mesti melalui internalisasi jiwa kader.

“Ternyata, internalisasi tersebut adanya di Surah al-Muzzammil, dengan tujuh azimatnya. Itulah makanya muncul GNH, Gerakan Nawafil Hidayatullah,” tambahnya.

Bekal Ketiga, masih menurut Jamal Nur, adalah proses taklim, yaitu tradisi intelektual. Hal ini, kata dia, adalah mutlak keilmuan. Kalau perlu, sudah diupayakan agar memiliki perpustakaan digital. Siapa pun yang datang, katanya lagi, datang untuk membaca. ia datang melakukan proses taklim, proses keilmuan.

“Bisa dibayangkan, rohaninya bagus, intelektualnya juga oke, apa tidak menjadi kader yang luar biasa handal dan militan,” tegas dai yang pernah mengenyam pendidikan di Kampus Induk Ummul Quro, Hidayatullah Gunung Tembak ini.

Inilah harapan dan tantangan besar bagi para sarjana ini, tambahnya lagi, agar proses tranformasi nilai nilai manhaj kepada para kader muda ini terus berjalan.

“Selamat berjuang para sarjana kader, terus berkarya dengan ilmu yang telah didapat,” tandas dai yang pernah tugas di Padang, Sumatera Barat dan Aceh ini.

Yudisium Sarjana untuk angkatan pertama STIT Hidayatullah Batam ini, menetapkan Dewan Senat, yang terdiri dari Ketua Badan Pembina Yayasan, H.Jamaluddin Nur, Ketua Badan Pengurus Yayasan Khoirul Amri, Kabid Dikti M.Sidik, Ketua STIT Hidayatullah Batam, Mohammad Ramli dan Wakil Bidang Akademik Muji.

Turut hadir anggota Dewan Mudzakarah (DM) Hidayatullah, Ust Ir. Khairil Baits, Kepala Bidang Pendidikan Tinggi (Kabid Dikti), M.Sidik, sekaligus Rektor Institut Agama Islam Abdullah Said Batam, para dosen, tamu undangan, dan peserta yudisium sarjana yang memadati hallroom tempat acara.

Untuk diketahui juga, bahwa di Kampus Utama Hidayatullah Batam kini telah memiliki tiga perguruan tinggi; STIT Hidayatullah Batam, Institut Agama Islam Abdullah Said Batam, dan STIT Mumtaz Karimun, Kepulauan Riau.*/(ybh/hidayatullah.or.id)

Hidayatullah Polewali Mandar Gelar Pelatihan Baca Al Qur’an Metode Al Hidayah

POLEWALI (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Daerah Hidayatullah kabupaten Polewali Mandar mengadakan Pelatihan Metode Al- Hidayah, diadakan di ruang aula pesantren Hidayatullah desa Duampanua kecamatan Anreapi.

Mengambil tema Dengan Al-Quran Guru Senang Murid Cemerlang Masa Depan Cemerlang. Pelatihan ini dibawakan oleh trainer Al,-Hidayah ustadz Nasruddin, S.Pd.I yang juga Kepala Departemen Pendidikan DPD Hidayatullah kabupaten Paser, Kalimantan Timur.

Dihadiri sebanyak 70 orang peserta dari pengurus struktural dan petugas amal usaha milik Hidayatullah se Sulawesi Barat.

Drs. Massiara dalam sambutannya mewakili ketua DPW Hidayatullah Sulbar Drs. Mardhatillah menyebutkan acara yang baru diadakan pertama kalinya di Sulbar ini mendapatkan respon baik penyelenggara sekolah khususnya.

Mengingat metode Al-Hidayah sangat aplikatif terhadap proses belajar dan mengajar Al Qur’an di sekolah sekolah atau rumah Qur’an.

Diketahui saat ini hampir seluruh sekolah Hidayatullah di Indonesia menerapkan metode tersebut “Sangat mudah dicerna oleh anak didik dan guru dimudahkan proses mengajarnya” tutur pemateri Nasruddin.

Acara pelatihan metode Al-Hidayah ini diadakan sela dua hari, Sabtu dan Ahad tanggal 20 hingga 21 Maret.

“Diharapkan seluruh peserta dapat merespon dengan baik seluruh materi yang disampaikan instruktur mengingat di tempat tugas sangat dibutuhkan dalam rangka peningkatan mutu kualitas pendidikan kita” sebagaimana disampaikan tuan rumah Taufik Malik, S.Sos.I dalam himbauannya.

DPW Hidayatullah Jabar Launching Rumah Qur’an

BANDUNG (Hidayatullah.or.id) — Sebaik-baik manusia adalah yang belajar dan mengajar al-Qur’an.

Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Jawa Barat bekerjasama dengan Baitul Maal Hidayatullah (BMH) mengadakan acara Launching Rumah Qur’an dan Upgrading Da’i Hidayatullah se-Jawa Barat, Sabtu, 20/3/2021/6-7 Syaban 1442 H.

Acara yang berlangsung di Grand Hotel Preanger ini diikuti oleh 100 peserta terdiri dari pengurus Rumah Qur’an Hidayatullah (RQH), perwakilan DPP, DPW, DPD Hidayatullah, Dewan Murabbi Wilayah, dan Mushida Jawa Barat.

Hadir dalam acara tersebut DR. Merdi Azizi, MA, DR. Deni Nurdiyana Hadiman, Direktur Jaswita (Jasa dan Kepariwisataan Jabar), DR. Abdul Manan, MM, Ketua Dewan Pertimbangan Hidayatullah, dan Haji Eko Tahtit Budi Susilo.

Ketua DPW Hidayatullah Jawa Barat, Ustadz Taufik Wahyudiono, S.Pd, menyampaikan sambutannya bahwa al-Qur’an membawa kemuliaan. “Nabi Muhammad SAW dimuliakan Allah karena al-Qur’an dan umat yang terbaik adalah yang belajar al-Qur’an. Oleh karena itu, mari membangun Jabar dengan al-Quran sehingga menjadi wilayah yang terbaik,” ungkapnya.

Deni Nurdiyana, sebagai pengelola Grand Hotel Preanger menyambut gembira.


“Saya mendukung kegiatan keagamaan ini karena akan menjadi tabungan di akhirat kelak. Niat mulia ini perlu didukung, ini bagian dari dakwah. Pak Gubernur Jabar, Pak Ridwan Kamil sangat mendukung kegiatan Jabar Mengaji,” paparnya.

“Selamat datang para da’i di hotel bintang 5 ini, hotel tertua di Jabar setelah Gedung Sate yang didirikan sejak zaman kolonial Belanda,” imbuhnya.

Sementara itu, Ustadz Abdul Manan menyampaikan bahwa kota Bandung merupakan kota bersejarah. “Di Bandung terselenggara Konferensi Asia Afrika dan Grand Hotel Preanger ini berdiri tahun 1929, maka kita juga akan membuat sejarah yaitu launching Rumah Qur’an Hidayatullah se-Jawa Barat di sini,” ujarnya.

“Orang yang mulia adalah yang belajar, membaca, dan mengajarkan al-Qur’an. Mumpung kita masih diberi kesempatan untuk memuliakan al-Qur’an. Maka kita akan mengadakan training-training untuk guru ngaji. Kita berharap syafaat dari al-Qur’an,” katanya dengan penuh semangat.

“Ketika kita semarakan kegiatan memuliakan al-Qur’an, maka hal ini akan menolak bala untuk bangsa ini dan beribu keberkahan akan datang,” tegasnya.


Senada dengan Deni Nurdiana, Haji Susilo pun merasa senang. “Saya senang dan bersyukur, betapa saat dahsyatnya pandemi ini tetapi kita bisa mengadakan program ini,” ujarnya.

“Kita yakin akan janji dan pertolongan Allah. Saya lihat para ustadz semangat sekali. Insya Allah saya ingin hadirkan Rumah Qur’an Hidayatullah di pelosok Indonesia. Dulu ada istilah ABRI masuk desa, kita akan lakukan juga santri masuk desa,” katanya.

Pada kesempatan tersebut, Haji Susilo secara simbolis memberikan 3000 baju seragam untuk santri RQH. Selain itu, juga dilakukan MoU antara BMH dan DPW Hidayatullah Jabar.

Acara ini diakhiri dengan sharing dan pelatihan pengelolaan RQH bersama Ustadz Abdul Manan, Ketua DPW DKI Hidayatullah Jakarta, Ustadz M. Isnaini, dan Ketua DPW Hidayatullah Banten, Ustadz Maghfur.

Sebelum acara dimulai, seluruh peserta diharuskan melakukan sweb antigen yang dilakukan oleh tim kesehatan dari Islamic Medical Servis (IMS) dan selama acara berlangsung diberlakukan protokol kesehatan.* Asep Juhana, Dadang Kusmayadi

Teknokrasi, Tantangan Masa Depan Dakwah Islam

0

Oleh Asih Subagyo

ADALAH Dr. Kuntowijoyo (alm), beberapa tahun lalu menyampaikan akan lahirnya teknokratis, jika perkembangan teknologi terus melaju.

Dalam bukunya Selamat Tinggal Mitos Selamat Datang Realitas [Kuntowijoyo : 2019] Kita sungguh-sungguh khawatir bahwa kemajuan teknologi akan menyebabkan timbulnya kesadaran teknokratis. Kesadaran teknokratis itu akan menyusutkan nilai-nilai sosial dan kemanusiaan, semuanya hanya dipandang dari sudut teknis, manusia hanya akan menjadi satu dimensi (one dimensional man).

Sebuah kecemasan yang “menghantui” dan cukup berasalan, karena senyatanya teknologi terus berkembang dengan cepat, bahkan hingga sampai banyak tergantinya pernan manusia oleh mesin (robot).

Sehingga, apa yang disampaikan oleh pak Kunto itu, senyatanya masih sangat relevan dengan kondisi saat ini. Disaat beberapa tahun belakangan ini, sebagian besar kaum cendekia, bahkan juga masyarakat awan, disibukkan dengan terma revolusi industri 4.0, ataupun society 5.0 itu.

Menurut KBBI, tek·no·kra·si /téknokrasi/ n 1 pemerintahan yg dijalankan oleh teknokrat; 2 pengelolaan kehidupan masyarakat yang dilakukan oleh teknisi.

Sedangkan Wikipedia mendefinisikan teknokrasi sebagai bentuk pemerintahan ketika para pakar teknis menguasai pengambilan keputusan dalam bidangnya masing-masing. Insinyur, ilmuwan, profesional kesehatan, dan orang-orang yang punya pengetahuan, keahlian atau kemampuan akan membentuk badan pemerintahan. Dalam teknokrasi, para pengambil keputusan akan dipilih berdasarkan seberapa jauh mereka menguasai bidang mereka.

Dalam konteks pergerakan Islam, Pak Kunto dalam Paradigma Islam [Kuntowijoyo : 2008], dengan cukup lugas menjelaskannya sebagai berikut:

“Pada situasi sekarang memang, mustahil menggerakkan masa, apalagi atas nama Islam. Dalam periode ideologi, kita memang memerlukan mobilisasi massa. Tetapi pada jaman teknokrasi seperti sekarang ini, massa tidak begitu memainkan peranan yang berpengaruh. Yang berpengaruh besar justru Teknokrasi. Jika suatu saat nanti, Islam bisa menguasai Teknokrasi, perjuangan politik lewat mobilisasi massa, sudah tidak relevan lagi. Dan itu bukan mustahil. Teknokrasi tidak selalu berarrti jaringan kekuasaan politik, tetapi juga jaringan bisnis, pendidikan, media massa, dan lain sebagainya”.

Demikian halnya jika dikaitkan dengan bonus demografi di Indonesia, dimana dalam sensus penduduk tahun 2020 lalu, generasi X, Y, Z, Alpha dan generasi sesudahnya, saat ini berjumlah lebih dari 65% dari jumlah penduduk Indonesia.

Dimana dalam berbagai literatur disebutkan, bahwa generasi milenial dan generasi sesudahnya itu, mereka memiliki kecenderungan native digital. Artinya generasi ini lebih digital minded, dan sangat bergantung dengan device yang berhubungan dengan perangkat digital dan juga internet.

Dan pada saat yang bersamaan, ada tuntutan skill tahun 2020, sebagaimana yang tertuang dalam sebuah rumusan yang bertajuk The Future of The Jobs Report, oleh World Economic Forum. Maka teknokrasi menjadi menemukan momentumnya.

Tantangan Dakwah

Dakwah, secara stimologis diartikan dengan kata kerja “mengajak” atau “menyeru”, sedangkan secara terminologis, dakwah adalah mengajak atau menyeru manusia agar menempuh kehidupan ini di jalan Allah SWT. Artinya, dakwah ini adalah tugas mulia, yang dilakukan oleh orang-orang mulia (pilihan), dengan target dan tujuan yang mulia pula.

Oleh karenanya, siapapun yang berdakwah (du’at), harus memahami berkenaan dengan obyek dakwahnya. Setiap obyek dakwah (mad’u), karena mereka spesial, juga harus diberlakukan secara special. Meski ada juga yang sifatnya generik (‘aam), namun keberhasilan dakwah seringkali ditentukan dengan bagaimana metode pendekatan yang spesial itu.

Dalam kaitannya, dengan teknokrasi dan juga beberapa hal yang melatarinya tersebut, maka tantangan dakwah saat ini, adalah mempersiapkan para da’i teknokrat untuk mengisi lini dakwah diberbagai aspek kehidupan itu.

Meskipun saat ini fenomena mentoring sejak sekolah dan kuliah, juga fenomena hijrah dari berbagai kalangan, nampaknya belum cukup mewakili dari gagasan teknokrasi yang diwacanakan selama ini. Namun ini harus menjadi sistemik dan terintegrasi, sehingga menjadi kekuatan umat. Hal ini untuk menampilkan Islam sebagai rahmatan lil ‘alaamin.

Demikain halnya, jika dikaitkan dengan tuntutan generasi milenial dan sesudahnya, sudah barang tentu, dakwah tidak bisa lagi dikelola secara serampangan dan asal-asalan. Tetapi harus terprogram dengan baik, memanfaatkan teknologi dan resource yang ada, dengan melibatkan mereka dalam gerakan dakwah. Mendekatkan mereka dengan teknologi.

Sebagai tahap awal mungkin “sebatas”memanfaatkan teknologi, namun bisa diarahkan untuk melakukan rekayasa teknologi, bahkan menciptakan teknologi yang relevan dengan kebutuhan umat. Sebab, generasi inilah yang nantinya akan menjadi teknokrat dan terjun dalam teknokrasi dimaksud, oleh karenanya masing-masing aspek mesti ada ahlinya dan dikuasai.

Berbagai model untuk menghasilkan teknokrat di atas dapat dilakukan. Dalam jangka pendek misalnya, dapat dilakukan dengan mengirimkan anak-anak terbaik yang memiliki kapasitas sebagai teknokrat tersebut, ke perguruan tinggi terbaik baik di dalam maupun di luar negeri.

Sedangkan jangka panjang, bisa mendirikan perguruan tinggi (universitas), yang menjadi mesin bagi lahirknya teknokrat muslim yang memiliki aqidah yang lurus serta integritas, kualitas, kapasitas, kapabilitas dan kompetensi sesuai dengan jamanya.

Oleh karenanya, terma teknokrasi yang diangkat ini mesti menjadi triger untuk menjawab tantangan bagi Ormas dan Gerakan Islam, dalam rangka merumuskan sebuah grand design atau setidaknya road map (peta jalan), yang mampu menjawab tantangan jaman ini.

Sudah barang tentu, dengan menghadirkan bentuk, model dan spektrum dakwah kekinian yang komprehenshif (syumuliyah), sehingga mampu menjawab dan mengakomodasi kepentingan generasi dan juga tantangan global saat ini dan masa depan. Sebab, dakwah kedepan nampaknya akan lebih mengarah ke dakwah bil hal. Menyelesaikan problematika keumatan, yang semakin kompleks.

Dengan kata lain, kyai, ustadz, da’i, mubaligh dlsb, harus bersentuhan kulit langsung dengan umatnya. Dia hadir membersamai dengan tarikan nafas umatnya. Jika tidak, maka akan ditinggal, mereka akan mencari alternatif lain, dan itu bisa jadi akan dijawab oleh ganasnya lingkungan dan mesin cerdas (artificial intelligence).

Sehingga jangan sampai kita menyesal, jika kemudian Islam ditinggalkan oleh pengikutnya, ketika problematika keummatan yang ada, tidak ada solusinya sesuai dengan konteks dan jamannya. Wallahu a’lam.

ASIH SUBAGYO, penulis adalah Ketua Bidang Organisasi Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah