MUSI RAWAS (Hidayatullah.or.id) –Wakil Bupati Kabupaten Musi Rawas (Mura) Hj. Suwarti S.IP berkunjung ke Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Marga Baru dalam rangka peresmian asrama santri Tahfidzul Qur’an Daarul Huffadz Hidayatullah Mura, Selasa (16/3/2021).
Dewan Murabbi Wilayah Kepri Gelar Pelatihan Instruktur Marhalah Ula
BATAM (Hidayatullah.or.id) — Bertempat di Kampus Utama Hidayatullah Batam, Dewan Murabbi Wilayah (DMW) Hidayatullah Kepulauan Riau menggelar Pelatihan Instruktur Marhalah Ula, Jum’at, 5 Sya’ban 1442 (19/3/2021).
Acara yang bertujuan untuk menghasilkan murabbi halaqah tersebut menghadirkan narasumber dari Dewan Murabbi Pusat (DMP) Hidayatullah, yaitu Ust Hanifullah Hannan dan Ustadz Nasfi Arsyad, Lc.
Hadir dalam acara yang digelar di Aula Serbaguna, Kampus I Hidayatullah Batu Aji, Kelurahan Kibing, Kota Batam ini, Ketua Badan Pembina Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah (YPPH) Batam, KH Jamaluddin Nur, sekaligus didaulat untuk membuka acara .
Turut hadir Ketua Dewan Murabbi Wilayah (DMW) Hidayatullah Kepri, Ust Khoirul Amri dan anggota, Ketua DPW Hidayatullah Kepri, Ustadz Darmansyah dan jajaran, pengurus inti yayasan.
Hadir pula perwakilan unsur organisasi pendukung seperti Pemuda Hidayatullah dan Muslimat Hidayatullah, serta seluruh peserta pelatihan instruktur marhalah ula, pada acara yang mengangkat tema: “Menjadi Instruktur Daurah Marhalah Ula yang Handal dan Berpengaruh”.
Dalam sambutannya Khoirul Amri, Ketua DMW, menyampaikan tujuan diadakannya pelatihan murabbi halaqah ini.
“Yaitu penyegaran materi Sistematika Wahyu dan daurah. Standarisasi metode penyampaian dalam Daurah Marhalah Ula ke murid SMA/SMK/MA. Dan Metode komunikasi terhadap kaum millenial,” imbuhnya.
Selanjutnya sambutan dari narasumber utama, Ust Hanifullah, anggota DMP Hidayatullah yang menekankan posisi murabbi sebagai sentral tarbiyah dan metode dalam proses pembelajaran.
“Dalam ungkapan yang populer disebutkan, bahwa metode lebih utama daripada materi pelajaran. Tapi guru atau murabbi lebih utama dari metode, sedangkan spiritual (ruh) murabbi lebih utama atas semuanya,” papar instruktur nasional di Hidayatullah ini.
Sehingga pelatihan instruktur ini, lanjut Ustadz Hanif adalah upaya untuk menerapkan pola di atas.
“Bagaimana agar kegiatan ini mampu menghasilkan murabbi murabbi yang mumpuni, agar proses tarbiyah di Hidayatullah, melalui wadah marhalah dan halaqah, dapat berjalan dengan sangat baik, terstandardisasi” pungkasnya di hadapan 30 peserta pelatihan.
Senada Ust Hanifullah, Ketua Badan Pembina YPPH Batam, Ust Jamaluddin, juga menguatkan hal yang sama tentang standarisasi dalam pelatihan murabbi.
“Apa yang dilakukan ini adalah upaya standarisasi program program mainstream, tarbiyah dan dakwah. Sehingga, mesti sama di seluruh wilayah. Di Balikpapan, Sulawesi, Jawa, dan lainnya,” ucapnya.
Ketua Departemen Hubungan Antar Lembaga Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah ini juga kembali memberikan penguatan agar transformasi nilai-nilai perkaderan di lembaga ini terus berjalan kepada generasi muda.
“Regenerasi kader harus selalu digencarkan karena usia pendiri dan senior lembaga ini sudah mulai sepuh dan tua,” imbuh pendiri Kampus Utama Hidayatullah Batam ini.
Ini penting, lanjutnya, karena penugasan penugasan akan terus dilakukan di Hidayatullah. Bagaimana mungkin, menugaskan kader jika transformasi nilai-nilai kelembagaan tidak berjalan maksimal
“Ustadz Abdullah Said menyampaikan jika kamu ditugaskan, kamu hadir untuk menyampaikan iqra’ bismirabbik. Mengajar dan mencerahkan umat untuk kembali kepada Rabb-nya,” katanya lagi dalam acara yang didukung oleh BMH Kepulauan Riau ini.
Bagi kader Hidayatullah, lanjut Jamal, iman itu tidak akan pernah puas dengan yang ada, dia akan ekspansif, dan selalu dinamis. Dia akan puas ketika meninggal dalam jalan perjuangan.
“Tapi itu semua bisa didapat dengan kekuatan. Kekuatan kita itu adalah internalisasi, yaitu Gerakan Nawafil Hidayatullah,” pungkas Ustadz asal Jeneponto ini.
Kegiatan ini akan berlangsung selama dua hari, Jum’at-Sabtu (19-20/3/2021), dan diharapkan melahirkan murabbi murabbi halaqah yang handal dan berpengaruh.*/Azhari
Katakan, atau Diam!

PADA suasana subuh hari yang menyegarkan ini, penulis membaca sebuah status di akun media sosial milik Ustadz Asih Subagyo. Beliau adalah Ketua Bidang Organisasi DPP Hidayatullah.
Beliau mengutip perkataan ulama Hasan Bashri, “Menyampaikan kebaikan itu lebih baik daripada diam dan diam itu lebih baik daripada menyampaikan keburukan”.
Menarik rasanya ungkapan ini untuk diurai dan diselami lebih dalam lagi. Sehingga mutiara hikmah yang terkandung dalam perkataan yang sarat makna itu mampu kita dapatkan sebanyak-banyaknya.
“Menyampaikan kebaikan itu lebih baik daripada diam”
Menyampaikan kebaikan adalah bagian dari aktualisasi iman seorang Muslim. Lisan berikut untaian perkataan yang keluar dari mulut seseorang itu lahir dari dalam palung hati dan olah fikir (akal) manusia, sehingga bagi orang yang beriman kepada Allah ﷻ maka ucapannya haruslah berupa ajakan kebaikan.
Allah ﷻ berfirman, “Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah dan mengerjakan kebajikan dan berkata, “Sungguh, aku termasuk orang-orang muslim (yang berserah diri)” (QS. Fussilat: 33)
Menarik apabila kita memperhatikan perintah-perintah Allah ﷻ kepada Nabi Muhammad ﷺ di dalam Al Qur’an. Salah satu perintah Allah ﷻ yang senantiasa terulang adalah kata “Qul”. “Qul” adalah kata kerja perintah (fiil amr) yang berarti katakanlah.
Kata “Qul” di dalam Al Qur’an selalu diikuti dengan pernyataan kebenaran dan kebaikan serta menolak kebatilan. Salah satu kata “Qul” yang fenomenal di dalam Al Qur’an adalah “Qul yaa ayyuhal kaafiruun (hingga akhir ayat).
Surah Al Kafirun {109} ayat 1-6. Surah ini diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ untuk menjawab dengan tegas sekaligus menolak tawaran kekayaan, wanita dan kompromi agar umat Islam bisa bergantian menyembah Tuhan orang kafir Quraisy selama setahun.
Perintah “Qul” ini, menurut Ustadz Akhmad Muwafik Saleh, merupakan konsepsi dasar menuju perubahan sosial profetik. Fenomena kata “Qul” berarti cara komunikasi ilahiyah atau ketuhanan dalam mendorong manusia pada perubahan realitas yang diinginkan dalam bingkai nilai-nilai kebenaran ilahiyah.
Dengan kata lain, fenomena Qul adalah model komunikasi profetik dalam mempersuasi publik menuju perubahan sosial berupa penerimaan pada nilai-nilai kebaikan dan kebenaran Islam yang rahmatan lil aalamiin.
Bahkan dalam satu pesannya, Rasulullah ﷺ memerintahkan kepada umatnya agar terus menyampaikan kebenaran dalam rangka membangun kebaikan ummat manusia walaupun perbuatan ini akan mengundang kepahitan berupa celaan, makian, perlawanan bahkan ancaman sekalipun. Katakanlah yang benar walaupun itu pahit (HR Ahmad)
“Diam itu lebih baik daripada menyampaikan keburukan”
Iman dalam hati seseorang kepada Allah Yang Maha Baik akan melahirkan lisan yang baik pula. Sehingga semua gerak geriknya, perbuatan dan perkataannya adalah yang membawa kebaikan buat dirinya dan orang lain.
“Di antara tanda kebaikan Islam seseorang adalah mengurangi berbicara dalam hal yang tidak bermanfaat” (HR. Ahmad)
Maka, ketika ada potensi keburukan yang akan disampaikan lewat lisan yang merupakan karunia Allah Yang Maha Mulia, lebih baik untuk bersikap diam. Pemilihan sikap ini semakin terasa bermakna manakala ia didasari atas iman kepada Allah ﷻ dan hari akhir.
“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia berkata baik atau diam” (HR Bukhari Muslim)
Seringkali pula keburukan itu berawal dari kebohongan. Rasulullah SAW bersabda, “Jauhilah kebohongan, sebab kebohongan menggiring kepada keburukan, dan keburukan akan menggiring kepada neraka. Dan sungguh, jika seseorang berbohong dan terbiasa dalam kebohongan, hingga di sisi Allah ia akan ditulis sebagai seorang pembohong.”
Lebih baik diam daripada di sisi Allah SWT dicap sebagai pembohong. Dan kebohongan terbesar adalah menyampaikan bahwa Allah SWT memiliki sekutu.
Menyebarkan keburukan seseorang walaupun ia adalah cerita benar (ghibah) yang didasari atas kedengkian, dendam, amarah, niat menjatuhkan kredibilitas orang dan menaikkan derajat pelaku adalah perbuatan tercela yang dilarang oleh Allah ﷻ. Perbuatan ini jika diteruskan akan mendorong seseorang untuk menjadi namimah.
Pemuda Juru Bicara Peradaban
Hari-hari ini semakin terasa perlawanan antara kebaikan dan keburukan dengan semakin maraknya informasi melalui berbagai platform media social. Keburukan tiap waktu dan banyak disiarkan, maka kebaikan juga harus diperjuangkan lebih massif dan terorganisir agar meraih kemenangan.
Maka, sebagai juru bicara peradaban, pemuda harus terdepan memberikan pecerahan kepada umat manusia agar kembali kepada jalan Allah SWT agar senantiasa di dalam kebaikan dan terhindar dari segala keburukan.
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan Al Hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang baik”. (Q.S. An-Nahl: 125)
MAZLIS B. MUSTAFA, penulis adalah Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat Pemuda Hidayatullah
6 Langkah Menjaga Keikhlasan

KEIKHLASAN dalam beramal merupakan perbuatan yang teramat penting dan akan membuat hidup seseorang menjadi lebih mudah, indah dan jauh lebih bermakna.
Amal kebaikan yang tidak didasari keikhlasan hanya akan menghasilkan kesia-siaan belaka. Bahkan ia bisa mendatangkan azab Allah. Sebuah amal yang dilakukan bukan karena-Nya termasuk perbuatan syirik yang tak terampuni dosanya kecuali jika ia segera bertaubat.
Allah berfirman yang artinya:
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. An Nisa : 48)
Oleh karena itu, sangat penting untuk mengetahui hal-hal yang dapat membantu kita agar dapat mengikhlaskan seluruh amal perbuatan kepada Allah semata. Di antara hal-hal tersebut adalah:
1. Banyak Berdoa
Rasulullah SAW sering memanjatkan doa agar terhindar dari kesyirikan. Padahal beliau orang yang jauh dari kesyirikan.
Di antara doa yang sering dipanjatkan: “Ya Allah, aku memohon perlindungan kepada-Mu dari perbuatan menyekutukan-Mu sementara aku mengetahuinya, dan akupun memohon ampun terhadap perbuatan syirik yang tidak aku ketahui.” (Riwayat Ahmad)
2. Menyembunyikan Amal Kebaikan
Menyembunyikan amal dapat mendorong seseorang berbuat ikhlas. Amal kebaikan yang dilakukan tanpa diketahui orang lain hasilnya lebih ikhlas, karena tidak ada yang mendorongnya untuk melakukan hal tersebut kecuali hanya karena Allah SWT semata.
Rasulullah SAW bersabda:
“Tujuh golongan yang akan Allah naungi pada hari di mana tidak ada naungan selain dari naungan-Nya yaitu pemimpin yang adil, pemuda yang tumbuh di atas ketaatan kepada Allah, laki-laki yang hatinya senantiasa terikat dengan masjid, dua orang yang mencintai karena Allah, bertemu dan berpisah karena-Nya, seorang lelaki yang diajak berzina oleh seorang wanita yang cantik dan memiliki kedudukan, namun ia berkata: ‘Sesungguhnya aku takut kepada Allah, seseorang yang bersedekah dan menyembunyikan sedekahnya tersebut hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya dan seseorang yang mengingat Allah di waktu sendiri hingga meneteslah air matanya.” (Riwayat Bukhari Muslim).
3. Memandang Rendah Amal Kebaikan
Memandang rendah amal kebaikan dapat mendorong kita berbuat ikhlas. Maksud memandang rendah adalah menyadari diri sebagai orang yang penuh dosa dan berlumur keburukan sehingga selalu menganggap bahwa amal yang kita lakukan belumlah seberapa bahkan barulah secuil.
Di antara bencana yang dialami seorang hamba adalah ketika ia merasa ridha dengan amal kebaikan yang dilakukan, di mana hal ini dapat menyeretnya ke dalam perbuatan ujub (berbangga diri) yang menyebabkan rusaknya keikhlasan.
Semakin ujub dalam beramal, akan semakin kecil dan rusak keikhlasan dari amal tersebut. Bahkan pahala amal kebaikan tersebut dapat hilang sia-sia.
Sa’id bin Jubair berkata, “Ada orang yang masuk surga karena perbuatan maksiat dan ada orang yang masuk neraka karena amal kebaikannya”.
Lalu, ditanyakan kepadanya, “Bagaimana hal itu bisa terjadi?” Beliau (Sa’id bin Jubair) menjawab, “Seseorang melakukan perbuatan maksiat, ia pun senantiasa takut terhadap adzab Allah akibat perbuatan maksiat tersebut, maka ia pun bertemu Allah SWT dan Allah SWT pun mengampuni dosanya karena rasa takutnya itu, sedangkan ada seseorang yang dia beramal kebaikan, ia pun senantiasa bangga terhadap amalnya tersebut. Maka ia pun bertemu Allah SWT dalam keadaan demikian, maka Allah SWT pun memasukkannya ke dalam neraka.”
4. Takut Tidak Diterima Amalnya
Allah berfirman, “Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) Sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka.” (QS. Al Mu’minun: 60)
Menurut Ibnu Katsir, ayat ini menjelaskan bahwa di antara sifat-sifat orang mukmin adalah senang memberi, namun mereka takut akan tidak diterimanya amal perbuatan mereka tersebut.
5. Tidak Terpengaruh Perkataan Orang Lain
Pujian dan perkataan orang lain terhadap seseorang merupakan suatu hal yang pada umumnya disenangi oleh manusia. Bahkan Rasulullah SAW pernah menyatakan ketika ditanya tentang seseorang yang beramal kebaikan kemudian ia dipuji oleh manusia karenanya.
Beliau menjawab, “Itu adalah kabar gembira yang disegerakan bagi seorang mukmin.” (Riwayat Muslim)
Begitu pula sebaliknya, celaan dari orang lain merupakan suatu hal yang pada umumnya tidak disukai manusia.
Namun yang perlu disadari bahwa pujian atau celaan yang menyebabkan seseorang beramal shaleh, bukanlah termasuk perbuatan ikhlas. Seorang mukmin yang ikhlas tidak terpengaruh oleh pujian maupun celaan ketika beramal shaleh.
Ketika ia mengetahui bahwa dirinya dipuji karena beramal shaleh, tidaklah pujian tersebut kecuali hanya akan membuat ia semakin tawadhu (rendah diri) kepada Allah SWT.
Ia pun menyadari bahwa pujian tersebut merupakan fitnah (ujian) baginya, sehingga ia pun berdoa kepada Allah untuk menyelamatkannya dari fitnah tersebut. Tidak ada pujian yang dapat bermanfaat bagi seseorang, demikian pula celaan tidak dapat membahayakan seseorang karena kesemuanya itu berasal dari Allah.
6. Menyadari Pemilik Surga dan Neraka Adalah Allah SWT
Sesungguhnya apabila seorang hamba menyadari bahwa orang-orang yang dia jadikan sebagai tujuan amalnya itu (baik karena ingin pujian maupun kedudukan yang tinggi di antara mereka), akan sama-sama dihisab oleh Allah.
Mereka juga sama-sama berdiri di padang mahsyar dalam keadaan takut dan telanjang. Sama-sama akan menunggu keputusan untuk dimasukkan ke dalam surga atau neraka. Karena tidak ada satu pun dari mereka yang dapat menolong lainnya untuk masuk surga ataupun menyelamatkannya dari neraka. Karena itu tidak layak kita bersusah-payah melakukan amal untuk manusia.
Seorang sahabat bertanya pada Rasulullah SAW, “Ya kekasih Allah, bantulah aku mengetahui perihal kebodohanku ini. Kiranya engkau dapat menjelaskan kepadaku, apa yang dimaksud ikhlas itu?“
Nabi bersabda, “Berkaitan dengan ikhlas, aku bertanya kepada Jibril, apakah ikhlas itu? Lalu Jibril berkata, “Aku bertanya kepada Tuhan yang Maha Suci tentang ikhlas, apakah ikhlas itu sebenarnya?“ Allah SWT yang Mahaluas Pengetahuannya menjawab, “Ikhlas adalah suatu rahasia dari rahasia-Ku yang Aku tempatkan di hati hamba-hamba-Ku yang Kucintai.“ (Riwayat Al-Qazwini)
Dari hadits di atas nampaklah bahwa rahasia ikhlas itu diketahui oleh hamba-hamba Allah yang dicintai-Nya. Untuk mengetahui rahasia ikhlas kita bisa menggalinya dari kaum arif, salafus shaalih dan para ulama kekasih Allah*/ Ust. Bahrul Ulum, pengurus DPD Hidayatullah Sidorajo
Muslimat Hidayatullah Siap Gelar Rapat Kerja Nasional Virtual

DEPOK (Hidayatullah.or.id — Muslimat Hidayatullah (Mushida) siap menggelar Rapat Kerja Nasional (Rakernas) secara virtual dengan penerapan standar protokol kesehatan pencegahan pandemi covid-19. Di antara protokol yang diterapkan yaitu setiap peserta yang akan datang ke arena acara, wajib menjalani rapid test antigen.
Acara ini diikuti oleh Pengurus Pusat Muslimat Hidayatullah, perwakilan PW Mushida dari 34 Provinsi se- Indonesia, dan Kepala PAUD/ TK Muslimat Hidayatullah Kampus Utama.
Ketua Panitia Rakernas Mushida, Hapseni Dirwan, S.H.I, menyampaikan, acara ini mengusung tema “Konsolidasi Idiil, Wawasan dan Organisasi Demi Terwujudnya Standardisasi, Sentralisasi, dan Integrasi Sistemik,”.
Adapun kegiatan digelar secara virtual dengan pusat kegiatan di Pondok Pesantren Hidayatullah, Kota Depok, Jawa Barat, pada 12-14 Sya’ban 1442 H/ 26-28 Maret 2021.
Hapseni mengatakan, peserta yang datang ke tempat acara Rakernas Mushida, dibatasi jumlahnya. Setiap Pengurus Wilayah (PW) di tiap provinsi dibatasi mengirimkan dua orang.
Sedangkan, khusus Kampus Utama, mengirimkan utusan maksimal tiga orang. Seluruh peserta di pusat acara, terang Hapseni, dibatasi maksimal hanya 100 orang yang menempati aula besar dengan kursi berjarak.
“Persiapan terus dimatangkan di Kampus Hidayatullah Depok,” imbuh Hapseni dalam keterangannya diterima media ini, Rabu (17/03/2021).
Dia menambahkan, persiapan menuju Rakernas sedang dilakukan oleh panitia. Seperti menambah kapasitas Wi-Fi, peralatan broadcasting, ruang acara, dan ruang penginapan. Demikian dengan surat undangan juga sudah disampaikan kepada pemateri yang akan mengisi acara Rakernas.
Dia memastikan bahwasanya protokol kesehatan selama acara terus diupayakan, baik di ruang penginapan maupun di ruang acara. Dia pun mengimbau peserta untuk dapat mematuhi aturan yang diterapkan.
“Untuk protokol kesehatan, peserta harus menerapkan 3 M, yakni menjaga jarak, mencuci tangan, dan memakai masker. Tempat istirahat di ruang penginapan dan tempat duduk di ruang acara diatur berjarak antara satu dengan yang lain,” imbuhnya.
Sebagai persyaratan, panitia dan peserta wajib menyerahkan hasil test antigen negatif sebelum memasuki ruang acara dan ruang penginapan. Peserta juga diimbau untuk membekali diri dengan suplemen dan antibodi untuk menjaga imunitas tubuh.
Pembukaan Rakernas Mushida akan berlangsung pada Jum’at (26/03/2021) mulai pukul 13.00 WIB. Rangkaian acara munas ini digelar secara virtual via Zoom secara terbatas.
Di antara rangkaian acara yaitu membahas program kerja nasional dan menetapkan anggaran yang dibutuhkan organisasi dalam rangka mewujudkan visi organisasi melalui program mainstream tarbiyah dan dakwah.
Selain oitu, juga membahas penguatan sistem organisasi melalui kebijakan standardisasi, sentralisasi, dan integrasi yang merupakan model organisasi modern menjadi salah satu target organisasi yang maju, dengan pola kepengurusan yang kuat dan anggota jama’ah yang solid.*/Arsyis Musyahadah
Turda Awal Depdik Jatim Bidik Sumenep Bangkalan Magetan Trenggalek dan Kota Madiun
MADIUN (Hidayatullah.or.id) — Pelayanan pendidikan yang berkualitas terus ditingkatkan oleh tim Departemen Pendidikan (Depdik) Hidayatullah Jawa Timur melalui safari dengan turun langsung ke daerah (turda) guna melakukan pendampingan yang berlangsung di beberapa kampus antara lain Sumenep, Bangkalan, Magetan, Trenggalek, dan Madiun selama lima hari (10-15/03/2021).
Kegiatan turda dan pendampingan perdana ini akan terus berlanjut hingga ke seluruh jaringan Pendidikan Integral Berbasis Tauhid (PIBT) Hidayatullah Jawa Timur. Kegiatan ini langsung dikomandani oleh Kadepdik DPW Jawa Timur, Ust. Adi Purwanto, M.Pd.
Dalam materinya mengawali turda dan pendampingan, Adi Purwanto menekankan pentingnya kesiapan penyelenggara pendidikan yang bermutu untuk menghadapi tantangan zaman di pendidikan masa kini.
Karena itu, lanjut Adi, jaringan Pendidikan Integral Berbasis Tauhid Jawa Timur harus mampu merespons dengan cepat dan akurat.
“Ini adalah tugas mulia yang harus kita perjuangkan bersama. Sehingga diharapkan dengan kegiatan turda dan pendampingan ini akan terwujud pengelolaan sekolah dan madrasah, pesantren tahfidz, dan Darul Hijrah yang standar,” kata Adi.
Lebih lanjut Adi mengutarakan bahwa kegiatan turda dalam rangka pendampingan ini dilakukan agar visi dan misi pendidikan sebagai mainstream Hidayatullah dapat dicapai yaitu mencetak generasi yang berilmu, beriman, bertakwa, berakhlak mulia, unggul, dan diharapkan menjadi model dari output pendidikan Islam integral berbasis Tauhid.
Kegiatan turda ini dirasakan amat syahdu mendalam karena sambutan dan antusiasme pengurus yayasan, pengelola sekolah dan madrasah, serta guru Hidayatullah dari setiap daerah yang dikunjungi begitu luar biasa.*/Muhammad Al Fatih
Selain Public Speaking, Ini Profil Output Prodi KPI STAI Luqman al-Hakim
SURABAYA (Hidayatullah.or.id) — Program Studi (Prodi) Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) STAI Luqman al-Hakim Surabaya, memiliki tiga profil out put dalam proses pelaksanaan perkuliahan.
Yang menjadi unggulan utama, menguasai kemediaan, selanjutnya, mahir public speaking (berbicara di depan umum, dan ketiga lihai di dunia jurnalistik (tulis-menulis).
Demikian dikatakan Ketua Program Studi (Kaprodi) KPI STAI Luqman al Hakim, Syahri Sauma, M.Kom.I, ketika berdiskusi dengan tim STAI Ali bin Abi Thalib, di ruang aula Rahmat Rahman, Surabaya, Rabu (17/3/2021).
Untuk mewujudkan profil output yang diimpikan itu, Sauma, begitu sapaan akrabnya, selain kurikulum yang telah disesuaikan dengan target pencapaian, juga didukung oleh para dosen profesional dan praktisi handal di bidang masing-masing.
“Misal untuk public speaking, kita libatkan motivator nasional untuk membimbing langsung mahasiswa. Tidak hanya itu, juga dibuka program ekstrakulikuler kelas training, sebagai tindaklanjut dari apa yang didapatkan di bangku kuliah, yang memang waktunya sangat terbatas,” papar Sauma.
“Begitu pula dalam dunia jurnalistik”, sambungnya, “dikoneksikan langsung dengan praktisi media, seperti Majalah Suara Hidayatullah, Hidayatullah.com, Majalah Mulia, dan sebagainya,” imbuh sosok asal Bojonegoro ini.
Untuk saat ini, kata Sauma, sudah banyak lulusan KPI yang berkiprah di masyarakat.
“Alhamdulillah, selain menjadi dai yang terus memberi pencerahan di masyarakat, ada juga yang menjadi trainer nasional, penyiar radio, dan redaktur majalah nasional,” urainya.*/Robinsah
Islamic Medical Service Bareng IPRIJA Buka Layan Kesehatan Gratis dan Bagikan Sembako
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Lembaga kesehatan Islamic Medical Service (IMS) dan mahasiswa Institut Pembina Rohani Islam Jakarta (IPRIJA) berkerjasama dalam membuka layanan kesehatan gratis.
Islamic Medical Servis dan mahasiswa KKN Institut Pembina Rohani Islam Jakarta membuka layanan kesehatan gratis bagi masyarakat di Kelapa Dua Wetan, RW. 001, Ciracas, Jakarta Timur, beberapa waktu lalu (14/03/2021).
Layanan kesehatan gratis yang diinisiasi bersama mahasiswa Institut Pembina Rohani Islam Jakarta ini dalam rangka Kuliah Kerja Nyata (KKN) tahun akademik 2020/2021.
“Kami melihat lembaga sosial IMS cukup aktif dalam kegiatan sosial kemanusiaan, khususnya pada bidang kesehatan. Maka dari itu kami mengajak untuk berkersama dalam rangka memulai program KKN kami, yaitu dengan menghadirkan lembaga kesehatan IMS untuk melayani dan memeriksa kesehatan masyarakat yang ada di tempat KKN kami,” kata Abdul, salah satu mahasiswa KKN IPRIJA.
Sebanyak 45 warga yang mendapatkan layanan kesehatan gratis ini. Selain Layanan Kesehatan gratis, juga dibagikan sembako gratis untuk 200 warga sekitar.
“Alhamdulillah kami ucapkan banyak berterimakasih kepada IMS dan mahasiswa IPRIJA, dengan adanya program layanan kesehatan gratis, kami bisa tau kondisi kesehatan kami,” ujar nenek Nining (65), salah satu peserta yang mendapatkan pelayanan kesehatan gratis.
Nining dalam pemeriksaan medis diketahui dihinggapi asam urat, tekanan darah dan gula. Dia mengaku gembira dengan adanya kegiatan ini, apalagi, katanya, sudah lama tak periksa.
“Kalau tau (kondisi kesehatan, red) kan enak, jadi bisa atur pola makan dan tentunya kita bisa tahu mau minum obat apa, pokoknya sangat membantu sekali. Kemarin-kemarin sempat rutin cek kondisi kesehatan, akan tetapi dengan adanya pandemi tidak pernah ada lagi,” lanjut Nining lagi.
Sementara itu Riski selaku tim dari IMS yang ada di lokasi mengatakan rutin menggelar kegiatan serupa. Pihaknya pun membuka diri untuk menjalin kerjasama dengan berbagai pihak lainnya dalam gerakan kesehatan.
“Sudah menjadi tugas IMS ketika ada yang mengajak dalam perkara kebaikan, khususnya pada layanan kesehatan, tentunya IMS tidak pernah menolak. Bahkan IMS sangat mengapresiasi ketika masih ada mahasiswa yang peduli dengan kondisi masyarakat,” kata Riski menukaskan.*/Alamsyah Jilpi
Rajutan Kolaborasi BMH-DPW DKI Jakarta Teguhkan Khidmat di Ibukota Negara
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Laznas BMH terus mantapkan sinergi dengan berbagai elemen umat. Kali ini bersama dengan Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah DKI Jakarta, rajutan kolaborasi tersebut dikuatkan dalam rangka meneguhkan khidmat dakwah di Ibukota Negara.
Diantara sinergi tersebut adalah menguatkan program pelayanan pemberantasan buta huruf aksara Al Qur’an melalui program Rumah Qur’an.
Dalam upaya tersebut juga, BMH dan DPWH DKI Jakarta melakukan launching Pilot Project Rumah Qur’an Hidayatullah DKI Jakarta di Markas RQ Hidayatullah Jayakarta, Poltangan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Selasa (16/3/2021).
Launching Pilot Project Rumah Qur’an Hidayatullah DKI Jakarta ini dibarengi pula dengan peluncuran program 1000 Rumah Qur’an, program 1000 Rumah Literasi dan 1000 Rumah Pemberdayaan serta peresmian beroperasinya Rumah Herbal Sehat Poltangan.
“Ini merupakan ikhtiar gerakan dakwah di DKI Jakarta yang tentu membutuhkan sinergi kolaborasi keterlibatan segenap elemen umat agar program strategis ini bisa memberi daya dukung terhadap kemajuan serta kemaslahatan umat terkhusus masyarakat di Ibukota Negara ini,” kata Ketua DPW Hidayatullah DKI Jakarta Muhammad Isnaini.
Isnaini menyebutkan, saat ini DPW Hidayatullah DKI bekerjsama dengan BMH telah mengelola 128 Rumah Qur’an yang terstandar baik manajemen maupun kurikulum.
Keberadaan RQ tersebut, terang Isnaini, juga tidak lepas dari peran, kontribusi, dan dukungan dari berbagai pihak serta masyarakat Jakarta secara luas atas sambutan mereka yang luar biasa untuk bersama meluaskan dakwah Al Qur’an ini.
Isnaini menyebutkan, Insya Allah ditargetkan tahun 2021 ini akan mengenalkan RQ di DKI Jakarta menjadi 200 Rumah Qur’an. Dalam kesempatan tersebut juga digelar launching unit otlet usaha Nasi Kulit Ayam Jagoan.
Usaha franchise kuliner tersebut merupakan bagian dari program Rumah Qur’an Jayakarta yang lokasinya hanya sepelemparan batu. Hal ini, lanjut Isnaini, dimaksudkan agar Rumah Quran dan para santri mendapatkan pembelajaran wirausaha serta sebagai upaya bangun kemandirian ekonomi.
“Kita juga melihat penting untuk membangun literasi generasi muda, sebab itu kita berikhtiar menghadirkan banyak pusat literasi di Jakarta ini. Kita wajibkan santri untuk setiap hari harus membaca buku minimal 30 menit,” kata Isnaini.
Di lokasi RQ Jayakarta ini juga telah berdiri Rumah Herbal Sehat yang siap melayani beberapa praktek kesehatan alam herbal seperti bekam, fashdu, terapi yumaiho, terapi PAZ , terapi telor dan akupuntur tradisionil.
“Sinergi dan kalobarsi dalam kebaikan itu mutlak kita butuhkan dan harus dilakukan karena itulah titah Allah SWT agar kita menjadi insan bertakwa,” kata Isnaini kepada media ini seraya menukil Al Qur’an Surat Al-Ma’idah ayat 2.
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya”
Kolaborasi misalnya dilakukan dengan mendukung program Jakarta Maghrib Mengaji (JMM) yang telah dicanangkan oleh pemerintah atas inisiasi tokoh agama dan masyarakat Jakarta.
“Kedepannya program JMM akan terus kita support dalam hal konten dan pergerakan sehingga bisa memberikan kontribusi untuk masyarakat DKI Jakarta dalam belajar Al Quran,” kata Isnaini memungkasi.
Dalam kesempatan tersebut turut memberikan taujih Ketua Dewan Murabbi Wilayah Hidayatullah DKI Jakarta Ust Muhammad Dirlis Karyadi Al Hafidz. Beliau berpesan kepada para pejuang dakwah untuk terus dekat kepada Al Qur’an dengan membaca, menghafal, menyelami, meresapi, dan mengimaninya dengan sungguh-sungguh.
Beliau mengatakan, seorang dai berarti dia bekerja karena Allah. Sebab itu, orang yang bergabung di Hidayatullah hanya melandaskan tujuannya karena Allah. Dengan Allah SWT di hati, maka orientasinya menjadi bersih dan yakin segalanya pasti tercukupi.
“Sebagai dai kita ini karyawan Allah. Semua yang bergabung di Hidayatullah adalah karyawan Allah yang “digaji” oleh Allah. Jadi kalau masih bertanya uang untuk melaksanakan program maka dipertanyakan iman kita. Angkat saja program, insya Allah uang datang,” pungkasnya.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut perwakilan direksi Laznas BMH selaku main support serta unsur berbagai lembaga mitra seperti Islamic Medical Service (IMS), Persaudaan Dai Indonesia (Posdai), SAR Hidayatullah, Gerakan Dakwah Komunitas Taqarrub (Gardakota), Pemuda Hidayatullah, Relawan.org, The Jayakarta House dan lain sebagainya. (ybh/hio)
Ketum Pemuda Hidayatullah Bekali DEM Ma’had Aly Ilmu Jurnalistik

MEDAN (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Pengurus Pusat Pemuda Hidayatullah Imam Nawawi menjadi narasumber kegiatan pelatihan menulis dan jurnalistik yang digelar Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEM) Ma’had Aly yang berada di bawah naungan Pesantren Hidayatullah Tanjung Morawa, Deli Serdang, Sumatera Utara.
Kegiatan yang diadakan pada Senin (15/3) itu bertujuan meningkatkan kapasitas intelektual dan karya di bidang tulis-menulis bagi para mahasiswi selama masa kuliah.
“Training jurnalistik ini digelar sebagai upaya memberikan pengetahuan sekaligus skill bagi para mahasiswa Ma’had Aly di Pesantren Hidayatullah Tanjung Morawa ini. Alhamdulillah, membersamai mereka pada momen itu Ketua Umum Pemuda Hidayatullah, Imam Nawawi,” terang Direktur Ma’had Aly Ustadz Fahry Fathullah dalam keterangannya diterima media ini, Rabu.
Dalam uraiannya, Imam Nawawi yang juga pemimpin redaksi Majalah Mulia menjelaskan bahwa menulis bukanlah perkara sulit.
“Pada dasarnya menulis itu mudah, termasuk menulis dalam bentuk karya jurnalistik. Secara prinsip kenali apa yang disebut dengan 5W 1H (What, Whre, Where, Why, dan How) kemudian latih kemampuan mengembangkan kalimat dan lakukanlah itu sesering mungkin,” katanya.
Para peserta yang hadir di kesempatan tersebut mengaku sangat berbahagia karena dapat mengerti bagaimana menulis dengan lebih baik dan lebih sering.
Salah seorang peserta, Dini Kurnia Adnin, mahasiswi dari Kota Kisaran, Sumatera Utara, mengucapkan puji syukur Alhamdulillah karena paparan teori dan praktik yang dibawakan narasumber sesuai dengan keinginannya selama ini bagaimana bisa menulis dan terus termotivasi menulis.
“Jadi, senang sekali bisa ikut kegiatan hari ini. Terlebih selama ini saya hanya bisa membaca pikiran Bang Imam melalui website pribadinya, masimamnawawi.com. Sekarang bisa belajar langsung dengan beliau,” tutur Dini. (ybh/hio)






























