Beranda blog Halaman 420

Sarjana Dai STIE Hidayatullah Teguh Diri Berkhidmat Hingga Pelosok Negeri

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Pembina Kampus Utama Pondok Pesatren Hidayatullah Depok KH Dr Abdul Mannan menyampaikan apresiasi atas kiprah sarjana dai Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Hidayatullah yang berkhidmat hingga ke pelosok negeri.

“Kami merasa bahagia karena dengan bekal yang dimiliki, mereka dengan sukarela siap bertugas di daerah pedalaman dan terpencil . Mereka mendidik anak anak desa dan masuk ke pedalaman dengan penuh keikhlasan,” katanya.

Hal itu disampaikan beliau dalam sambutannya pada acara Penugasan Dai Sarjana STIE Hidayatullah mengangkat tema “Menguatkan Peran Sarjana sebagai Penggerak Pembangunan Menuju Indonesia Bermatabat” di Gedung Aula Utama Sekolah Pemimpin, Pondok Pesantren Hidayatullah, Kota Depok, Jawa Barat, Selasa (16/3/2021).

KH Dr Abdul Mannan yang juga pendiri STIE Hidayatullah ini menyampaikan rasa syukur dan bahagia atas kiprah para alumninya yang telah berjajar dari Sabang sampai Merauke.

Dengan setengah berseloroh, ia pun sampaikan ada berbagai macam karakter mahasiswa yang pernah dididiknya. Katanya, ada yang pintar di kelas dan pintar di lapangan. Ada mahasiswa yang tak pintar di kelas tapi hebat di lapangan. Namun ada yang tidak pintar di kelas dan tidak juga pintar di lapangan.

“Tetapi setelah ditugaskan, beberapa yang tidak pintar di kelas dan tidak juga pintar di lapangan ini ternyata mampu bersaing dan sukses di daerah,” katanya disambut riuh riang hadirin.

Ia menambahkan, para dai sarjana yang ditugaskan selalu digulir dari satu daerah ke tempat lainnya. Hal ini dimaksudkan agar mereka tidak terus terusan di satu tempat saja serta diharapkan mereka mendapat banyak kekayaan pengalaman.

Selain itu, para dai sarjana yang sekaligus dibacakan SK penugasannya tersebut, diberi batas waktu agar sesegera mungkin berangkat ke tempat tugasnya.

“Mereka ini tugas setelah dibacakan SK. Seminggu paling lama sudah harus meninggalkan tempat ini agar mereka bisa Ramadhan di tempat tugas,” katanya.

Pada kesempatan pelepasan penugasan dai sarjana ini turut dihadiri Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah IV Jawa Barat dan Banten Prof. Dr. Uman Suherman AS.M.Pd, Ketua STIE Hidayatullah DR. Agus Suprayogi, ST, SE.Sy, M.Si, Senat Akademik Dr Dudung A. Abdullah, pengurus Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Hidayatullah dan Direktur Marketing Laznas BMH Tri Winarno.

Tampak pula Ketua Yayasan Hidayatullah Depok Ust Lalu Mabrul, Ketua Departemen Sosial DPP Hidayatullah Imran Faizin, Kadep SDI DPPH Muhammad Arfan, pengurus Posdai Pusat Ust Samani Harjo, dan tokoh agama dan masyarakat serta handai taulan para sarjana dai.

Para wisudawan ini ditugaskan ke berbagai daerah di Indonesia mulai dari Sumatera hingga Papua. Salah seorang sarjana dai, Jufri asal Parepare, mengaku kaget ternyata dapat tugas di Sukabumi. Sebuah nama yang tak pernah terlintas di benaknya.

“Masih cari-cari nomor telepon yang bisa dihubungi di sana,” kata Jufri ketika ditanya kapan akan bergeser ke tempat pengabdiannya.

Demikian pula dengan Miky Ade Samudra Ngangi yang merupakan putra Dayak. Dia mengatakan baru tahu tempat tugasnya ketika dibacakan. “Tidak tahu. Tidak ada bocoran,” imbuhnya.

Umumnya wisudawan yang ditemui media ini mengaku sudah siap sedia jauh hari menghadapi pembacaan SK yang memang cukup menegangkan itu.

Saban tahun pelepasan penugasan dai digelar, terutama untuk memenuhi tuntutan kebutuhan sumber daya di daerah serta sebagian juga mengisi pos pos amal usaha Hidayatullah. (ybh/hio)

Dai Sarjana Hidayatullah Emban Spirit Khoirunnas Anfauhum Linnas Dimanapun Bertugas

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah IV Jawa Barat dan Banten Prof. Dr. Uman Suherman AS.M.Pd hadir menyaksikan dan membekali dai sarjana STIE Hidayatullah yang menjalani penugasan berlansung di Gedung Aula Utama Sekolah Pemimpin, Pondok Pesantren Hidayatullah, Kota Depok, Jawa Barat, Selasa (16/3/2021).

Prof Uman Suherman membekali para dai sarjana agar dalam tugasnya nanti di berbagai daerah adalah mengemban misi besar yakni memberikan kebermanfaatan kepada kehidupan manusia dimanapun berada.

Pesan tersebut disampaikan seraya menukil sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Thabrani dan Daruquthni yang bunyi redaksinya seperti berikut:

عن جابر قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : « المؤمن يألف ويؤلف ، ولا خير فيمن لا يألف ، ولا يؤلف، وخير الناس أنفعهم للناس

Artinya: “Dari Jabir, ia berkata,”Rasulullah Saw bersabda,’Orang beriman itu bersikap ramah dan tidak ada kebaikan bagi seorang yang tidak bersikap ramah. Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia”

Khoirunnas anfauhum linnas. Itulah yang selalu kita lafaskan, ya Allah berilah aku ilmu yang bermanfaat, berikanklah rezki yang banyak dan berkah dan terimalah amal kebaikanku. Kan, itu yang selalu kita minta kepada Allah,” katanya.

Sebagai dai sarjana, Prof Uman menyampaikan, ia mengemban amanah yang besar untuk mencerdaskan kehidupan. Katanya, bagaimana kesejateraan itu dicapai manakala manusianya cerdas dalam kehidupan.

“Apa yang dimaksud cerdas dalam kehidupan yaitu cerdas bukan masalah IPK, cerdas dalam kehidupan bukan masalah kemampuan bicara tetapi cerdas dalam kehidupan adalah selalu berfikir bahwa ilmu yang kita dapatkan harus bermanfaat dan ilmu yang kita miliki harus menjadi solusi setiap permasalahan yang ada di masyarakat,” imbuhnya.

Oleh karena itu, terangnya, Indonesia sebagai negara yang beragama, diungkapkannya bahwa negara ini dibangun atas 3 landasan tujuan. Pertama, melindungi segenap tumpah darah dan tanah air Indonesia, kedua, meningkatkan kesejahteraan umum. Dan, ketiga, mencerdaskan kehidupan bangsa.

Prof Uman mengatakan, dirinya tertarik sehingga ia datang ke kampus Hidayatullah Depok ini. Dikatakannya, ia datang bukan karena diundang, akan tetapi tertarik pada saat KH DR Abdul Mannan mengatakan bahwa sarjana STIE Hidayatullah akan ditugaskan ke daerah seusai wisuda.

“Maka saya katakan bahwa bangsa ini tidak akan pernah terjual manakala bangsa ini sejahtera. Bagaimana kesejateraan itu dicapai manakala manusianya cerdas dalam kehidupan,” tukasnya.

Beliau menambahkan, apa yang dimaksud cerdas dalam kehidupan bukan terkait dengan tingginya Indeks Prestasi Kumulatif (IPK), cerdas dalam kehidupan bukan juga masalah kemampuan bicara.

“Cerdas dalam kehidupan adalah selalu berfikir bahwa ilmu yang kita dapatkan harus bermanfaat pada umat dan ilmu yang kita miliki harus menjadi solusi setiap permasalahan yang ada di masyarakat,” terangnya.

Pada kesempatan pelepasan penugasan dai sarjana ini turut dihadiri Dewan Pembina Hidayatullah Depok KH DR Abdul Mannan, Ketua STIE Hidayatullah DR. Agus Suprayogi, ST, SE.Sy, M.Si, Senat Akademik Dr Dudung A. Abdullah, pengurus Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Hidayatullah dan Direktur Marketing Laznas BMH Tri Winarno.

Tampak pula Ketua Yayasan Hidayatullah Depok Ust Lalu Mabrul, Ketua Departemen Sosial DPP Hidayatullah Imran Faizin, Kadep SDI DPPH Muhammad Arfan, pengurus Posdai Pusat Ust Samani Harjo, dan tokoh agama dan masyarakat serta handai taulan para sarjana dai. (ybh/hio)

Kepala LLDIKTI Wilayah IV Dorong PTH Merger Jadi Universitas Hidayatullah

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah IV Jawa Barat dan Banten Prof. Dr. Uman Suherman AS.M.Pd mendorong Perguruan Tinggi Hidayatullah (PTH) yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia agar disatukan sehingga menjadi Universitas Hidayatullah.

“Dan yang paling penting, dengan kampus yang banyak di Indonesia, ada 8 kampus, akan lebih bagus disatukan saja menjadi universitas; Universitas Hidayatullah,” kata Prof Uman dalam acara Penugasan Dai Sarjana STIE Hidayatullah di Gedung Aula Utama Sekolah Pemimpin, Pondok Pesantren Hidayatullah, Kota Depok, Jawa Barat, Selasa (16/3/2021).

Saran untuk melakukan penyatuan (merger) perguruan tinggi ini, kata Prof Uman, merupakan program pemerintah dan salah satu target nasional yang ditetapkan oleh Kemenristekdikti dalam rangka peningkatan kualitas dan mutu Perguruan Tinggi Swasta (PTS).

“Hidayatullah memiliki jaringan perguruan tinggi. Ada ekonomi, ada hukum, ada komputer, ada pendidikan, disatukan menjadi Universitas Hidayatullah,” imbuhnya.

Dalam pada itu, mengenai kesempatan menempuh studi perguruan tinggi, Prof Uman menyebut bangsa kita baru 36 persen yang bisa mengikuti kuliah perguruan tinggi dari jumlah 100. Maka, yang harus disyukuri, kata dia, manakala memiliki kesempatan kuliah di PT dengan cara beasiswa.

“Kemudian pada saat kita sudah menjadi sarjana, bukan masalah gelar, profesor itu tidak berarti apa apa. Tetapi yang menjadi keberartian manaka kita bisa menunjukkan bahwa kita adalah orang sebagai model hasil pendidikan tinggi yang menggunakan dan cara berfikir kita yang penuh dedikasi,” katanya.

Seorang sarjana harus beda. Walaupun kita sama sama ditugaskan ke daerah, orang yang berpendidikan tinggi harus berbeda dengan yang tidak perpendidian tinggi.

“Apalagi Anda dalam kawasan pendidikan yang bukan hanya STIE tapi adalah kawasan pesantren yang dibangun atas jerih payah para pendahulu yang ada di sini,” tukasnya.

Prof Uman mengajak membayangkan kehidupan di masa kita dijajah oleh Belanda tahun 1800-an dan membandingkan dengan kondisi yang sekarang. Kata dia, saat itu Belanda sudah memakai kapal layang. Penjajah Jepang juga demikian, telah menggunakan pesawat terbang.

“Pertanyaan saya, Anda mengakui gak kalau Belanda dan Jepang itu lebih pintar dari kita Indonesia. Jujur tidak jujur, itu perlu diakui. Mereka lebih pintar dari kita. Buktinya, mereka menjajah kita. Karena, pada saat itu kalau kita lebih pintar, ya kita yag ke sana. Buktinya kan, kita nggak kemana-mana,” katanya.

“Jadi, artinya, kalau Anda ditugaskan ke daerah-daerah artinya Anda memiliki pengetahuan dan lebih pintar,” sambungnya.

Pertanyaan yang muncul kemudian adalah bagaimana agar kita tidak dijajah. Jawabannya, menurut Prof Uman, kita harus pintar. Pertanyaannya, siapa yang akan membuat bangsa ini pintar. Tidak lain adalah para guru, pendidik, ustadz, kyai, dosen dan penggerak pendidikan lainnya.

Jadi dengan demikian, lanjut Prof Uman, kalau kita ingin bangsa ini tidak tergadaikan dan kesejaterannya tinggi maka kita tidak boleh keluar dari apa yang sudah dicantumkan dalam UUD 1945; mencerdaskan kehidupan bangsa melalui pendidikan.

“Oleh karena itu, yang namanya pendidikan bukan sekedar menyampaikan ilmu tetapi menyampaikan value dan menyampaikan sistem ilmu.

Profi Uman mendoakan dai sarjana ini kelak menjadi orang yang sukses, menjadi orang orang yang berhasil. Dia berpesan, tidak cukup menjadi orang yang shaleh dan tidak saja mengajak kebaikan tapi juga menajamkan kebaikan.

“Saya pikir potensi ini sudah ada di Anda, tinggal bagaimana Anda mau membangun kompetensi dan sekarang Anda diterjunkan ke daerah daerah maka harus siap berkompetisi,” katanya.

Prof Uman memotivasi agar terus membangun kepercayaan diri, tidak pesimis apalagi rendah diri karena berasal dari kampung. Ia lantas bercerita tentang dirinya yang dari kampung. Dia lahir di Cisurupan, sebuah kampung, yang, menurutnya, lebih kampung dari para wisudawan dai dan tamu yang hadir.

Dia mengatakan dilahirkan di kaki gunung Papandayan yang terkenal sebagai objek wisata kawahnya. “Tidak akan ada orang yang berfikir Uman Suherman akan menjadi kepala LLDIKTI. Dan tidak ada yang bisa jadi kepala Dikti keculi dia profesor,” selorohnya memotivasi.

Kita memang sudah ditakdirkan, tapi takdir bisa dirubah. Dan yang bisa mengubah takdir adalah yang membuat takdir itu sendiri yakni Allah SWT.

“Bagaimana supaya takdir berubah, dekatlah kepada yang Maha Pembuat Takdir. Ud’uni astajib lakum, berdoalah kamu kepada-Ku, pasti Aku akan mengabulkannya,” ujarnya.

Memungkasi sambutannya, dia mendorong sarjana STIE Hidayatullah harus menjadi motifasi bagi masyarakat sehinga STIE Hidayatullah tidak terbatas pada daerah yang sudah ada tapi terus berkembang secara nasional dan bahkan menjadi kampus internasional. (ybh/hio)

Menggelar Tarhib Ramadhan, Hidayatullah Malut Sekaligus Launching 30 Rumah Quran

MALUKU UTARA (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Maluku Utara menggelar acara menyambut kedatangan bulan puasa atau tarhib Ramadhan berupa pengajian akbar yang berlangsung di Kampus Madya Hidayatullah Ternate, Ahad (4/3/2021).

Kegiatan tabligh akbar ini kian semarak karena sekaligus dibarengi dengan peluncuran Rumah Qur’an Hidayatullah (RQH) se-Maluku Utara.

Suasana launching 30 Rumah Quran Hidayatullah dan 2 Kampung Quran se-Maluku Utara ini dihadiri oleh Sultan Ternate Syarifuddin Bin Iskandar Muhammad Djabir, Walikota Ternate Dr. H. Burhan Abdurahman, SH.MM, Ketua DPRD Kota Ternate Muhajirin Bailussy.

Tampak pula Ketua DPW Hidayatullah Maluku Utara Ust Nur Kholis dan Ketua Departemen Organisasi DPP Hidayatullah Ust Syamsuddin dan tokoh ulama muda Maluku KH Muhammad Thariq Kasuba, Lc. MA.

Nama yang disebut terakhir ini adalah alumni Universitas Islam Madinah yang juga putra Gubernur Malut KH Abdul Ghani Kasuba, Lc.

KH Muhammad Thariq Kasuba, Lc. MA sekaligus didapuk menyampaikan materi penceramah tausiyah tarhib Ramadhan. Dalam taushiahnya, Thariq mengajak hadirin untuk bersiap menyambut bulan Ramadhan dengan sebaik-baiknya.

Persiapan tersebut tidak saja persiapan fisik, lebih dari itu adalah kesiapan mental dan spiritual sehingga Ramadhan kali ini betul-betul dapat dijalani dengan maksimal.

Sementara itu, Ust Nur Kholis selaku pihak penyelenggara menyampaikan terimakasih dan apresiasi yang tinggi kepada segenap tokoh, penjabat dan handai taulan yang telah hadir dalam acara tersebut.

Dia mengatakan saat ini DPW Hidayatullah Malut mengangkat berbagai program keummatan terutama dalam pengarusutamaan dakwah dan pendidikan. Dalam hal ini ia juga menekankan akan terus memberi perhatian pada pembinaan muallaf di pedalaman dan suku terasing.

“Mohon doanya semoga segala mujahadah kita senantiasa dimudahkan oleh Allah SWT. Aamiin ya Rabb,” kata Ust Nur Kholis.

Tidak kurang dari 300 peserta hadir pada saat acara tabligh akbar persiapan menyambut bulan suci Ramadhan 1442. Acara juga dihadiri oleh warga masyarakat secara umum, kader, jamaah, guru guru, pengurus yayasan, donatur dan simpatisan. (ybh/hio)

Ketua MUI Pusat Harapkan PTH Menjawab Tantangan Zaman dan Isyarat Artificial Intelligence

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Seiring dengan perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) seperti teknologi Cloud Computing, Big Data dan Kecerdasan Artifisial (AI) yang telah mengubah budaya pikir dan budaya kerja di masyarakat, Perguruan Tinggi Hidayatullah (PTH) diharapkan mampu menjawab tantangan zaman tersebut.

“Dikarenakan AI terus mengubah sifat pekerjaan, kita dan khususnya STIE Hidayatullah perlu memikirkan kembali pendidikan, keterampilan, dan pelatihan untuk memastikan bahwa setiap orang dipersiapkan untuk pekerjaan di masa depan dan bisnis-bisnis yang memiliki akses kepada orang-orang yang akan membuatnya menjadi berhasil,” kata Ketua MUI Pusat Bidang Dakwah dan Ukhuwah, KH. M. Cholil Nafis, Lc, Ph.D.

Hal itu disampaikan KH.M. Cholil Nafis, Lc, Ph.D saat menyampaikan sambutan dalam acara Sidang Senat Terbuka Wisuda ke-VII yang berlangsung khidmat secara virtual dan sebagian luring di Gedung Sekolah Pemimpin, Kampus Utama Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, Jawa Barat, Sabtu (13/3/2021).

Doktor pengajar di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta ini, mengatakan, kini teknologi sudah bisa mewakili pekerjaan manusia, mulai dari soal layanan atau memberi jawaban terhadap masalah pekerjaan. Perangkat teknologi ini dsebut kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).

Dengan kemajuan tersebut, di masa pandemi Covid-19 ini, teknologi digital menjadi menjadi sesuatu yang menyokong perubahan. Sebab, dengan adanya pembatasan interaksi dan aktivitas fisik, maka infrastruktur dan layanan digital menjadi tulang punggung bagi berbagai kegiatan produktif masyarakat, dunia usaha, dan bahkan pemerintah.

“Artinya masyarakat tetap bisa melakukan interaksi sosial dengan menggunakan teknologi komunikasi, baik melalui media sosial, elektronik atau media lainnya,” katanya.

Gaya hidup digital kini sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari bagi warga dunia. Demikian juga di Indonesia, kata Cholil, gaya hidup digital sudah menjadi bagian tidak terlepaskan dari hidup dunia dan sebagian besar orang Indonesia.

“Hampir separuh waktu beraktivitas manusia, terutama di kota-kota besar, dihabiskan untuk menggunakan perangkat digital, baik dalam pekerjaan, komunikasi dengan sesama, pendidikan, belanja, maupun hiburan,” imbuhnya.

Namun dia juga mengajak untuk merenungkan, social distancing atau menjaga jarak jangan sampai membuat kita “mati gaya”. Kini masyarakat sudah sepenuhnya terbiasa dalam keseharian hidup pada pengalihan ruang fisik ke ruang virtual.

Dia menjelaskan, komunikasi digital sangat dekat di sekitar kita yang sebenarnya berkontribusi besar. Kita tetap bisa bersosialisasi, koneksi dan transaksi melalui berbagai media di era globalisasi, namun hal ini yang menuntut pada kecanggihan komunikasi digital untuk tetap berinteraksi sosial.

Menukil Prof. Dr. Mohd Zakree Ahmad Nazri, Ketua Program Kedoktoran (S3) di Universiti Kebangsaan Malaysia, Kya Cholil menerangkan bahwa kecerdasan buatan adalah Ilmu dan teknik yang tertumpu pada metode komputer untuk memprogram suatu aplikasi dan mesin cerdas dengan meniru kepintaran manusia atau sunnatullah yang memelihara dan mengatur seluruh alam dan isinya yang ada di darat, laut dan udara.

“Sunnatullah adalah suatu sistem dan peraturan yang ditentukan oleh Allah SWT untuk manusia, hewan dan semua jenis makhluk di dunia. Sunnatullah tidak akan berubah dan tidak ada siapapun yang dapat mengubahnya sejak Allah SWT ciptakan sampai kapanpun,” kata beliau seraya menyitat Al Qur’an akhir dari surah Fathir ayat 43, berikut redaksinya:

فَهَلْ يَنْظُرُونَ إِلَّا سُنَّتَ الْأَوَّلِينَ فَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّتِ اللَّهِ تَبْدِيلًا وَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّتِ اللَّهِ تَحْوِيلً.

“Maka sekali-kali kamu tidak akan mendapat penggantian bagi sunnatullah, dan sekali-kali tidak (pula) akan menemui penyimpangan bagi sunnatullah itu”

“Hal yang sama pentingnya adalah mempersiapkan masyarakat dan para pekerja kita untuk perubahan yang akan datang yang akan diakselerasi oleh AI, agar kita mampu menjawab tantangan zaman bahkan dapat menantang kemajuan zaman,” tukasnya memungkasi.

Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Hidayatullah menggelar acara Sidang Senat Terbuka Wisuda ke-VII yang berlangsung khidmat secara virtual dan sebagian luring di Gedung Sekolah Pemimpin, Kampus Utama Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, Jawa Barat, Sabtu (13/3/2021).

Wisudawan Angkatan VII STIE Hidayatullah ini akan ditugaskan berkhidmat di masyarakat ke berbagai daerah di Indonesia. Sebelumnya, selama kurang lebih 6 bulan, mereka menjalani masa Kuliah Kerja Nyata (KKN) di masjid-masjid sebagai bentuk kegiatan pengabdian kepada masyarakat. (ybh/hio)

Hidayatullah Kepri Tekankan Pencapaian Profil Output Pendidikan Tauhid

0

BATAM (Hidayatullah.or.id) — Kampus Utama Hidayatullah Batam (KUHB) bersama Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Kepulauan Riau (Kepri) menyelenggarakan Rapat Koordinasi (Rakor) Pendidikan di Kampus 1 Batu Aji, Jum’at-Sabtu, 28-29 Rajab 1442 Hijriah (12-13/3/2021).

Acara yang diadakan di Aula Serbaguna, Kampus Hidayatullah Kelurahan Kibing, Kecamatan Batu Aji, Kota Batam ini mengangkat tema “Standarisasi PIBT Menuju Penjaminan Mutu Pendidikan Hidayatullah Kepri”.

Dalam sambutannya, Ketua DPW Hidayatullah Kepri, Ust Darmansyah menegaskan kembali tentang program tarbiyah di Hidayatullah.

Bahwa, dia menegaskan, di lembaga Hidayatullah ini program tarbiyah hendaknya meliputi tarbiyah tsaqafiyah (wawasan keilmuan), tarbiyah ruhiyah (wawasan spiritual), tarbiyah jasadiyah (wawasan fisikal), tarbiyah ijtima’iyah (berjama’ah), dan tarbiyah qiyadiyah (wawasan kepemimpinan atau kebangsaan).

Selain lima program tarbiyah di atas, Darmansyah juga menekankan tentang profil pendidikan tauhid di Hidayatullah.

Darmansyah mengatakan profil pendidikan Tauhid harus mencerminkan karakter aqidah lurus (shahihul aqidah), mempedomani Al Quran (mutakhalliqun bil Qur’an), gigih dalam beribadah (mujiddun fil Ibadah), berdakwah di jalan Allah (daa’in Ilallah), dan memiliki komitmen hidup berjamaah (multazimun bil jama’ah).

“Kelimanya harus selalu dijaga dan dikuatkan,” kata Darmansyah seraya mengutip lima profil ideal hasil pendidikan Hidayatullah.

Selanjutnya, taujih dari Ketua Badan Pengurus Yayasan, Ustadz Khoirul Amri tentang arah dan kebijakan di KUHB, khususnya tema pendidikan berbasis tauhid.

Menurut Ketua Dewan Murabbi Wilayah (DMW) Kepri ini, bahwa pendidikan pertama bagi anak didik adalah mengajarkan tentang tauhid kepadanya sebagaimana Luqman al Hakim mengajari anaknya.

“Jadi, pendidikan pertama yang disampaikan Luqman adalah pendidikan tauhid,” ujarnya sambil mengutip Al-Qur’an Surah Luqman ayat 13.

Dasar kebijakan pendidikan Hidayatullah, masih menurut Amri, juga merujuk pada pada konsep tilawah, tazkiyah, dan taklim yang ada dalam Al-Qur’an Surah al-Jumu’ah ayat 2.

Ketua DPW Hidayatullah Kepri periode 2015-2020 ini juga menyampaikan tentang manhaj nabawi sebagai dasar organisasi di Hidayatullah dan juga menyampaikan visi misi Kampus Hidayatullah.

“Visinya, menjadi kampus miniatur peradaban Islam. Adapun misinya, salah satunya, menyelenggarakan pendidikan berbasis tauhid yang menghasilkan sumber daya insani yang unggul dan berdaya saing,” papar ayah empat anak ini.

Sehingga, lanjut dia, semua proses pendidikan di Hidayatullah, harus menghadirkan keberkahan. Hal itu ditegaskan dia dengan menukil firman Allah SWT dalam surah Al Araf ayat 96, yang artinya:

“Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan”

“Maka dari itu semua, kualitas pendidik mengarah pada pendidikan tauhid. Lingkungan kampus wajib mencerminkan PIBT yang mendidik anak didik lurus tauhidnya. Transformasi Sistematika Wahyu serta aplikasi harus berfungsi sebagai manhaj,” kata Amri.

Dia melanjutkan, lingkungan pendidikan berbasis tauhid mengarah pada sistem manajemen pendidikan tersentral secara sistemik dan terukur serta disetting sebaik baiknya.

“Dan semua aktivitas pendidik dalam rangka mewujudkan pemimpin yang bersabar dalam menjalankan perintah sesuai perintah Allah,” tandasnya.

Acara yang membahas bagaimana penerapan Pendidikan Integral Berbasis Tauhid tersebut, dihadiri dan dibuka oleh Ketua Badan Pembina Kampus Utama Hidayatullah Batam, Ust Jamaluddin Nur.

Hadir pula jajaran Kabid Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen), sekaligus Kadep Pendidikan DPW Kepri Ust Farhan Siswanto, unsur Muslimat Hidayatullah, para utusan pendidikan wilayah Kepri, kepala kepala unit pendidikan di KUHB, dan guru guru yang ditunjuk, yang ikut serta dalam acara.

Untuk diketahui, bahwa Kampus Utama Hidayatullah Batam telah memiliki sejumlah amal usaha unit pendidikan. Yaitu TK Yaa Bunayya 01, 02, 03. SD Islam Integral Luqman Al-Hakim 01 dan 02. SMP Islam Integral Luqman Al-Hakim 01 dan 02. SMA Islam Hidayatullah Batu Aji dan SMA Hidayatullah Boarding School Putri.

Lalu ada SMK Hidayatullah Putri (jurusan Tata Busana dan Tata Boga), Tahfizh Wantom SMP SMA, dan Perguruan Tinggi Hidayatullah yang terdiri dari STIT Hidayatullah Batam, Institut Agama Islam Abdullah Said Batam, dan STIT Mumtaz Karimun.

Acara rakor pendidikan ini berlangsung selama tiga hari. Semoga menghasilkan kesepakatan yang terbaik dalam upaya penerapan Pendidikan Integral Berbasis Tauhid.*/Azhari

Gubernur Babel Erzaldi Kagumi Kemajuan Ponpes Hidayatullah Keposang

TOBOALI (Hidayatullah.or.id) — Gubernur Kepulauan Bangka Belitung (Babel), Erzaldi Rosman menghadiri undangan silaturahmi ke Pondok Pesantren Hidayatullah Keposang, Toboali, Kabupaten Bangka Selatan, Kamis (11/03/2021).

“Saya melihat banyak kemajuan, di daerah terpencil ini lahirnya para santri yang mempelajari kitab kuning dan menjadi hafiz Al-Quran,” ujarnya.

Dirinya juga bangga karena dengan jumlah santri sebanyak 38 orang, yang terdapat di pesantren ini dan Insyaallah akan terus bertambah dan ada satu orang siswa yang boleh dikatakan keterbelakangan mental.

“Tapi Alhamdulillah, setelah dibina selama enam bulan disini, sekarang sudah dapat hafal Al Quran,” ujarnya penuh kekaguman.

Harapan dia ke depan semoga pesantren ini dapat memberikan manfaat kepada umat melalui sisi ilmu keagamaanya, di samping mereka hafal Alquran, namun juga cerdas dalam menangkap peluang di dunia kerja.

“Semoga pesantren ini tidak hanya mendapat perhatian pemerintah provinsi, tetapi juga pemerintah kabupaten untuk turut mendukung kemajuan pesantren di Babel,” harapnya.

Tanpa sungkan Gubernur Erzaldi kemudian merogoh kantong sembari mengeluarkan dompetnya. Ia lantas mengeluarkan sejumlah uang yang dikeluarkan dari dompetnya.

Uang tersebut diberikannya kepada Ustadz Muttaqin selaku perwakilan Pondok Pesantren Hidayatullah Keposang Toboali. Gubernur yang karib disapa Bang ER berharap, bantuannya ini bisa digunakan untuk membantu operasional pesantren ini.

Sementara itu, Ust Irwan Sambasong selaku Pimpinan Pondok Pesantren Hidayatullah berterima kasih atas kunjungan silaturahmi Gubernur Erzaldi yang konsisten peduli pada pesantren di Bangka Belitung.

“Alhamdulillah, pak gubernur bersedia menyempatkan hadir pada undangan kita walaupun di tempat yang terpencil ini,” ujarnya.*/ (kominfo babel/ ybh/hio)

STIE Hidayatullah Harus Siap Mengkonversi Pengetahuan Kewirausahaan ke Masyarakat Akademik

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Ketua STIE Hidayatullah DR. Agus Suprayogi, ST, SE.Sy, M.Si mengatakan STIE Hidayatullah harus mampu mengambil prakarsa mengkonversi pengetahuan kewirausahaan yang ada di dunia usaha ke masyarakat akademik.

“Antara lain melalui proses “learning by doing” yang mampu mempercepat proses pematangan menjadi calon wirausaha,” kata Agus Suprayogi.

Hal itu disampaikan dia dalam orasi ilmiahnya pada Sidang Senat Terbuka Wisuda ke-VII STIE Hidayatullah berlangsung khidmat secara virtual dan sebagian luring di Gedung Sekolah Pemimpin, Kampus Utama Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, Jawa Barat, Sabtu (13/3/2021).

Oleh karenanya, lanjut Suprayogi, STIE Hidayatullah diharapkan menjadikan dirinya sebagai perguruan tinggi unggulan yang mampu melahirkan entrepreneur intelektual.

Di sinilah, terangnya, peran dan kedudukan strategis STIE Hidayatullah sebagai institusi yang mengembangkan hasil hasil penelitian dan pengembangan.

“Oleh karena itu, dalam kesempatan wisuda ini, saya mengajak seluruh stakeholder dan shareholder Hidayatullah untuk mampu berperan dalam mengembangkan kewirausahaan dikalangan civitas akademika yang berbasis teknologi (technopreneur),” katanya.

Dia melanjutkan, oleh karenanya pengembangan secara intensif dan ekstensif kurikulum berbasis wirausaha, di semua strata pendidikan sampai dengan perguruan tinggi, perlu terus dikuatkan agar mahasiswa memiliki life-skill.

Lebih jauh Suprayogi mengemukakan bahwa acara wisuda kali ini merupakan momentum yang harus dimanfaatkan oleh civitas akademika STIE Hidayatullah untuk berperan dan bergerak aktif memposisikan STIE Hidayatullah sebagai center of excellence di bidang pengembangan wirausaha di lingkungan perguruan tinggi dan role model pengembangan ekonomi Hidayatullah khususnya dan Indonesia pada umumnya.

“Melalui acara dimaksud semakin memperkuat komitmen dan keberpihakan kita bersama, bahwa khususnya para generasi muda mempunyai peran strategis dalam menentukan kemajuan dan arah perjalanan Hidayatullah khususnya dan bangsa Indonesia umumnya kedepan, melalui pengembangan jiwa, akhlak dan budi pekerti Islam berbasis pesantren dan semangat kewirausahaan,” kata Suprayogi.

Dalam pada itu, mereka harus dipersiapkan untuk mampu mandiri dan percaya diri menghadapi tantangan global dan menjaga martabat Hidayatullah dan bangsa Indonesia tercinta.

Oleh karena itu, lanjut dia, perlu dimotivasi untuk menumbuhkan minat generasi muda, untuk berani memulai usaha sebagai wirausaha muda mandiri, kreatif dan produktif.

Menurutnya, peran dan kontribusi seluruh civitas akademika STIE Hidayatullah untuk menjadi role model pengembangan ekonomi serta berperan serta dalam pembangunan Bangsa dan Negara Indonesia khususnya pembangunan ekonomi sangatlah tepat dan sesuai dengan amanat dari visi dan misi STIE Hidayatullah yaitu menjadi Perguruan Tinggi yang berkualitas melahirkan dai sarjana penggerak pembangunan berjiwa leader, entrepreneur dan professional.

Dalam pengembangan kewirausahaan, lanjut Suprayogi, STIE Hidayatullah akan terus menerus mengembangkan program penumbuhan dan pengembangan kewirausahaan di kalangan mahasiswa/i melalui program-program yang mendukung tujuan tersebut.

“Sejalan dengan itu, upaya yang harus secara terus menerus kita lakukan adalah menanamkan semangat dan mentalitas kewirausahaan,” ujarnya.

Semangat kewirausahaan yang dimiliki para mahasiswa dan sarjana belum mampu memanfaatkan kesempatan usaha secara kreatif dan inovatif. Di satu sisi, lanjutnya, memupuk semangat dan mentalitas kewirausahaan di kalangan masyarakat juga diarahkan untuk munculnya semangat kemandirian berusaha.

Di sisi yang lain, melalui berbagai paket pendidikan dan pelatihan termasuk KKN di masjid paling tidak dapat ditumbuhkan wirausaha-wirausaha yang tangguh, baik yang berbasis pada sumberdaya lokal (resources based), maupun yang berbasiskan pada ilmu pengetahuan dan teknologi (knowledge based).

“Ketika Adik-Adik masuk ke masyarakat dan dunia kerja, Adik-Adik akan menjumpai mitra-mitra atau kolega-kolega dengan latar belakang budaya dan bidang-bidang ipteks yang berbeda-beda. Pada momen inilah, Adik-Adik akan lebih memahami bahwa keterbukaan atas perbedaan budaya dan bidang ipteks menjadi sikap yang penting. Dengan bersikap terbuka, Adik-Adik dapat mempelajari permasalahan melalui beragam perspektif. Hal ini pada gilirannya akan memperkaya penguasaan ipteks Adik-Adik,” pesannya kepada wisudawan.

Dia menukaskan, para wisudawan telah dipersiapkan untuk menjadi sarjana plus yang memiliki fikiran cerdas, fleksibel, kooperatif, dan mampu bekerja secara profesional sehingga memiliki kecakapan untuk mengisi pos-pos industri ataupun menciptakan lapangan kerja sendiri.

“Melalui mata kuliah Critical Thinking dan Creative Problem Solving, Adik-Adik dipersiapkan untuk melihat permasalahan secara kritis dari berbagai perspektif sehingga dapat menghasilkan solusi yang kreatif. Selain harus baik di aspek akedemik dan mumpuni di aspek non akademik, Adik-Adik juga telah melakukan magang di industri yang tentunya akan menambah pengetahuan dan mengasah keterampilan yang akan dibutuhkan dalam dunia kerja,” tambahnya.

Menutup pidatonya dalam Sidang Senat Terbuka Wisuda ke-7 STIE Hidayatullah, Suprayogi menyampaikan ucapan selamat atas para wisudawan dan lulusnya para dai sarjana STIE Hidayatullah.

“Semoga Allah SWT senantiasa memberi bimbingan dan meridhoi usaha kita bersama,” katanya memungkasi. (ybh/hio)

Membidik Era Baru SDM Unggul Indonesia, Wisuda ke-VII STIE Hidayatullah Gelar Sidang Senat Terbuka

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Hidayatullah menggelar Sidang Senat Terbuka Wisuda ke-VII yang berlangsung khidmat secara virtual dan sebagian luring di Gedung Sekolah Pemimpin, Kampus Utama Pondok Pesantreb Hidayatullah Depok, Jawa Barat, Sabtu (13/3/2021).

Ketua STIE Hidayatullah DR. Agus Suprayogi, ST, SE.Sy, M.Si dalam sambutannya mengajak bersama memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT atas karunia-Nya sehingga sidang terbuka ini dapat digelar dengan diiringi optimisme menyambut masa depan gemilang pada momen yang sangat penting di tengah keterbatasan pandemi covid-19.

Suprayogi mengatakan, pandemi Covid-19 telah mengubah banyak hal dalam kehidupan. Dalam setahun terakhir ini, jelasnya, kita dipaksa untuk menerima sebuah kondisi normal ’baru’ yang belum pernah dibayangkan sebelumnya. Kegiatan komunikasi yang sebelumnya dilakukan secara tatap muka, digantikan komunikasi yang dimediasi oleh teknologi.

“Proses belajar mengajar yang sebelumnya dilakukan di ruang-ruang kelas, saat ini dilakukan melalui ruang-ruang virtual. Meskipun pada prosesi wisuda hari ini dilaksanakan secara terbatas, namun tidak mengurangi niat tulus kita untuk memberikan penghargaan dan ungkapan kegembiraan atas pencapaian keilmuan para wisudawan,” kata Suprayogi.

Suprayogi mengapresiasi para wisudawan yang telah berhasil melalui satu tahapan pendidikan dan telah siap menyandang gelar sarjan dalam bidang Manajemen dan Akuntansi.

“Pada kesempatan yang berbahagia ini, saya, atas nama seluruh sivitas akademika STIE Hidayatullah, mengucapkan selamat kepada para wisudawan atas keberhasilannya menyelesaikan studi di STIE Hidayatullah,” imbuhnya.

Ia pula menyampaikan rasa bahagia, syukur dan terimakasih kepada orangtua, orangtua asuh, donatur, penyedia beasiswa, dan keluarga wisudawan, yang karena atas dukungannya, para mahasiswa dapat fokus menjalani studi, sehingga pada kesempatan tersebut mereka dapat diwisuda dan siap melanjutkan petualangan kehidupan untuk meraih masa depan yang dicita-citakan.

Yang tidak kalah pentingnya, kata Suprayogi, ucapan terima kasih dan penghargaan setinggitingginya kepada seluruh tenaga pendidik dan tenaga kependidikan STIE Hidayatullah yang merupakan ujung tombak pendidikan dan pengajaran yang telah mencurahkan tenaga dan upaya dalam melaksanakan tugas mulia, mendidik dan mengajar para mahasiswa secara profesional sehingga menghasilkan lulusan yang baik dan berkualitas.

Pada kesempatan tersebut, Suprayogi menyampaikan sambutan pidatoi ilmiah dengan tema “Tanggung Jawab Sosial Alumni di Era Baru SDM Unggul Indonesia” yang senafas dengan visi bangsa menyongsong era emas Indonesia dimana SDM unggul masih menjadi tuntutan utama.

“Pembangunan sumber daya manusia adalah kunci kemajuan Indonesia di masa depan. SDM unggul memiliki korelasi erat dengan peningkatan produktivitas kerja dalam memenangkan persaingan dalam dunia ekonomi dan bisnis,” kata Suprayogi.

Menukil The Global Competitiveness Report yang dipublikasikan World Economic Forum pada Oktober 2020 lalu, Suprayogi menyebutkan, peringkat daya saing global Indonesia turun dari posisi 45 di tahun 2018 menjadi rangking 50 di tahun 2019.

“Dan yang cukup mengejutkan adalah, negara tetangga terdekat kita, Singapura menduduki posisi 1 menyalip Amerika Serikat,” ujarnya seraya menambahkan turunnya peringkat daya saing RI karena kualitas SDM Indonesia yang masih rendah.

Realitas ketertinggalan kualitas sumber daya manusia Indonesia tersebut disinyalir juga oleh keadaan angkatan kerja yang mayoritas saat ini hanya lulusan SD dan SMP.

Laporan keadaan angkatan kerja di Indonesia tahun 2019 yang dipublikasi oleh BPS RI mencatat dari total 136.183.032 tenaga kerja di Indonesia berdasarkan pendidikan yang lulus tingkat SD masih mendominasi pangsa tenaga kerja dengan jumlah 32.692.218 atau sekitar 24% sedangkan lulusan SMP berjumlah 17,8% dan yang sangat mencengangkan, ada sekitar 15,5% tenaga kerja Indonesia yang tidak atau belum lulus SD.

Suprayogi mengatakan data tersebut menggambarkan bahwa komposisi tenaga kerja di Indonesia dengan pendidikan SMP ke bawah berjumlah 57,3% pangsa kerja di Indonesia.

Lalu berapa jumlah tenaga kerja lulusan perguruan tinggi? Persentasenya cukup mengkhawatirkan, disebutkan hanya terdapat 2,9% lulusan vokasi dan 9,9% lulusan universitas. Suatu negara dinyatakan sebagai negara maju oleh Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) bila tingkat tenaga kerjanya setidaknya 40,3% berpendidikan tinggi, 39,3% berpendidikan menengah, dan 20,4% berpendidikan dasar.

“Dalam membangun SDM unggul, perguruan tinggi tampil di garda terdepan. Perguruan tinggi adalah institusi yang memiliki kapasitas dan kapabilitas yang mumpuni dalam mencetak Sumber Daya Manusia yang kompetitif, inovatif, dan berkarakter yang mampu bersaing di tingkat global,” imbuhnya.

Kepada para wisudawan, Suprayogi menyampaikan bahwa mereka saat ini telah menjadi bagian dari kalangan sarjana di bidang ilmu pengetahuan, teknologi dan seni (IPTEKS).

Pengertian sarjana menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, selain merupakan gelar strata satu yang dicapai oleh seseorang yang telah menamatkan pendidikan tingkat terakhir di perguruan tinggi, juga diartikan sebagai orang pandai atau ahli ilmu pengetahuan.

Dari deskripsi tersebut, terang dia, maka salah satu solusi dalam mengatasi pengangguran adalah menumbuhkan dan mengembangkan jiwa kewirausahaan.

Karena itu, Suprayogi menegaskan, menumbuhkan dan mengembangkan jiwa dan semangat kewirausahaan adalah tantangan dan tugas kita bersama dalam rangka menciptakan wirausaha baru di Indonesia.

“Berdasarkan pengalaman, upaya penumbuhan wirausaha baru, tidak bisa dilakukan secara parsial dan oleh satu instansi saja. Program penumbuhan wirausaha baru harus dilakukan secara comprehensive dengan melibatkan seluruh instansi Hidayatullah yang ada baik di pusat maupun daerah, lembaga pendidikan, badan usaha dan organisasi pendukung,” pungkasnya.

Wisudawan Angkatan VII STIE Hidayatullah ini akan ditugaskan berkhidmat di masyarakat ke berbagai daerah di Indonesia. Sebelumnya, selama kurang lebih 6 bulan, mereka menjalani masa Kuliah Kerja Nyata (KKN) di masjid-masjid sebagai bentuk kegiatan pengabdian kepada masyarakat. (ybh/hio)

Departemen Kepesantrenan DPP Hidayatullah Targetkan Upgrade 1000 Guru Diniyah

YOGYAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah melalui Departemen Kepesantrenan (Deptren) menggelar kegiatan Daurah Intensif Guru Diniyah yang dimulai pelaksanaa mulai tanggal 10 sampai dengan 21 Maret 2021 bertempat di Kampus Madya Pesantren Hidayatullah Sleman Yogyakarta.

Menurut Ketua Departemen Kepesantrenan DPP Hidayatullah, KH Muhammad Syakir Syafi’i, kegiatan daurah tersebut dilaksanakan dengan target untuk meng-upgrade kompetensi 1000 Guru Diniyah dalam kemampuan mengajarkan kitab sesuai dengan kurikulum yang diberlakukan dalam jaringan Pesantren Hidayatullah di seluruh Indonesia.

“Sejak tahun 2015 lalu, DPP Hidayatullah telah menetapkan kurikulum Pembelajaran Diniyah Berbasis Kitab, sebagai bagian dari Program Sandarisasi Pendidikan Integral Berbasis Tauhid, yang menjadi ciri khas atau muatan lokal pendidikan di Hidayatullah. Tentu saja dengan tetap menjalankan kurikulum nasional yang berlaku, baik yang ditetapkan Kemendikbud maupun Kemenag, sesuai dengan afiliasi yang dipilih oleh masing-masing sekolah Hidayatullah di tiap wilayah,” terang KH Syakir.

Menurut beliau, untuk mencapai target 1000 Guru Diniyah tersebut, Deptren DPP Hidayatullah akan menggelar daurah yang sama di berapa Markas Daurah dalam jaringan Pesantren Hidayatullah di Indonesia.

“InsyaAllah, bila seluruh Markaz Daurah yang disiapkan sudah berjalan semua, maka setidaknya dalam 2 tahun ini target jumlah yang dicanangkan tersebut dapat tercapai,” demikian Ketua Deptren DPP itu menambahkan.

Dalam penjelasannya, sosok kyai asal Madura ini menguraikan, bahwa daurah yang digerakkan oleh Departemen Kepesantrenan Pusat itu terdiri dari 3 level (mustawa), yaitu level dasar/pemula (mubtadi’), level menengah (mutawassit), serta level atas (mutaqaddim). Masing-masing level membutuhkan waktu minimal 10 hari, yang tiap harinya terdiri dari 5 sesi, tiap sesi durasinya 90 menit.

Sementara itu, Ust Jundi Iskandar, Lc, salah satu pembimbing/ instruktur di Markaz Daurah Pesantren Hidayatullah Yogyakarta, menggambarkan suasana yang berlangsung di Markaz Daurah.

“Alhamdulillah, 20 peserta angkatan pertama yang merupakan utusan dari berbagai provinsi di seluruh Indonesia itu sangat bersemangat dalam mengikuti kegiatan daurah,” kata Jundi.

Ust Jundi menyebutkan, tiap angkatan memang dibatasi 20 peserta (small class), agar efektifitas daurah dapat tercapai secara optimal. Dia berharap semoga semuanya bisa mengikuti kegiatan sampai tuntas, tanpa halangan apa-apa.

“Dan kiranya semangat ini dapat menular dan memotivasi calon peserta di angkatan-angkatan berikutnya,” imbuhnya.

Salah-satu peserta utusan Pesantren Hidayatullah Tarakan, Kalimantan Utara, Ustadz Harmin, mengaku sangat bersyukur dapat mengikut daurah intensif tersebut. Menurutnya, baik materi maupun metode yang diterapkan oleh instruktur, membuat semua peserta penuh semangat dan aktif dalam mengikuti tiap sesinya.

Apalagi, sambung dia, di pagi harinya juga ada selingan kegiatan senam dan out bound, dengan harapan kondisi fisik peserta tetap terjaga kebugarannya.(ybh/hio)