JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Arah baru gerakan dakwah adalah bagaimana mengajak dan melibatkan segenap khalayak luas untuk turut terlibat dalam memajukan dakwah dalam rangka membangun peradaban Islam.
Demikian salah satu poin arahan materi Deputi Bidang Dakwah & Pelayanan Ummat DPP Hidayatullah Ust Hamim Thohari dalam acara silaturrahim dan sarasehan muballigh wilayah DKI Jakarta di Jakarta beberapa waktu lalu.
Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Baitul Karim menggelar acara silaturrahim dan sarasehan muballigh wilayah DKI Jakarta yang digelar intensif sehari Aula Masjid Baitul Karim, Komplek Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Jalan Cipinang Cempedak 1/14 Otista, Polonia, Jatinegara, Jakarta, Kamis, 23 Jumadil Awal 1442 (07/1/2021).
Selain dipesertai oleh para mubaligh DPW Hidayatullah DKI, kegiatan ini turut dihadiri Ketua DKM Masjid Baitul Karim Ust Zainuddin Musaddad dan Ketua Umum DPP Hidayatulah Ust Dr Nashirul Haq yang sekaligus mengantar acara tersebut.
Hadir pula menjadi narasumber Ust Hamim Thohari selaku anggota Dewan Pertimbangan Hidayatullah. Tampak pula Ketua Dewan Murobbi Pusat, Ust Dr. Tasmin Latif.
“Arah baru dakwah ini bukan berarti ada sesuatu yang baru dari dakwah yang akan dilakukan Hidayatullah, tetapi harus ada gerakan dakwah yang menempatkan semua orang sebagi subjek dakwah, bukan objek dakwah,” kata Hamim.
Penguatan arah baru dakwah ini, menurut Hamim, sangat penting diejawantahkan sebab sejatinya semua kita ini punya tanggung jawab kehalifahan menebarkan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam.
“Gagasan Hidayatullah tentang membangun peradaban mulia harus diterjemahkan melalui dakwah Hidayatullah yang membumi di masyarakat, membekas di hati umat,” imbuh Hamim.
Salah satu program dakwah yang dibicarakan dalam sarasehan dakwah adalah fokus pada pembentukan sarana dakwah dalam bentuk rumah rumah dan majelis terutama dalam rangka upaya pemberantasan buta aksara Al Qur’an dengan pemetaan usia dari anak anak hingga dewasa. (ybh/hio)
MEDAN (Hidayatullah.or.id) — Ma’had Aly Pondok Pesantren Hidayatullah Tanjung Morawa, Medan, Sumatera Utara, mengirim mahasantri pengabdian pada masyarakat di lereng Gunung Sinabung. Pengugasan pengabdian dakwah ini mulai tanggal 19 Desember 2020 hingga tanggal 16 Januari 2021.
Pengabdian di lereng Gunung Sinabung menjadi pengalaman menarik bagi segenap mahasantri ini. “Ini pengalaman pertama bisa mengabdi di lereng gunung Sinabung, bertemu langsung dengan masyarakat,” kata Annisa, salah satu mahasantri.
Gunung Sinabung adalah gunung api di Dataran Tinggi Karo, Kabupaten Karo. Gunung ini bersama Gunung Sibayak di dekatnya adalah dua gunung berapi aktif di Sumatra Utara dan menjadi puncak tertinggi ke 2 di provinsi itu.
Ketua Yayasan Pondok Pondok Pesantren Hidayatullah Medan, Ust Khairul Anam, mengatakan penugasan pengabdian dakwah ini merupakan salah satu rangkaian dari proses pendidikan Ma’had Aly sebelum mahasantri diwisudah dan dikirimkan ke berbagai wilayah di Indonesia.
“Penugasan dakwah untuk pengabdian masyarakat ini sekaligus dalam rangka membangun kecakapan mahasantri untuk menempa diri secara langsung dengan masyarakat baik tentang bagaimana bersosialisasi berinteraksi dan bekerjasama ,” kata Ust Anam kepada meda ini, Selasa (12/1/2021).
Anam mengatakan, dakwah adalah tugas yang multi-dimensional menyangkut berbagai sisi yang bersinggungan langsung dengan kehidupan masyarakat. Dai atau daiyah tidak saja mengajarkan Islam tetapi juga diharapkan bisa menggerakkan sektor riil di masyarakat termasuk dalam ekonomi dan pemberdayaan.
“Karena itu, tugas dai dan daiyah yang berat ini perlu mendapat dukungan maksimal guna menguatkan peran tabligh dan informal leader dimanapun mereka berada. Disinilah, saya kira, pemerintah juga terbantu dalam memanggul amanat Undang-undang Dasar, mencerdaskah kehidupan bangsa,” tambah Anam.
Ia menyebutkan, mahasantri yang mengabdi di lereng gunung yang berketinggian 2.451 meter ini selain membuka pendidikan taman Al Qur’an untuk anak-anak, mereka juga melakukan pembinaan muallaf, majelis taklim ibu ibu dan training motivasi Super Live Revolution (SLR).
Tidak hanya itu. Bekerjasama dengan petani pembudidaya setempat, mahasantri juga mengikuti kegiatan pelatihan budi daya jamur dan materi holtikultura lainnya yang dipandu langsung oleh ahlinya.
“Tujuan kegiatan ini selain dalam rangka mengisi liburan semester dengan aktifitas yang edukatif, juga menjadi episentrum dalam latihan sosialisasi, belajar langsung dari masyarakat, latihan ketahanan mental dan fisik, menumbuhkan rasa tanggung jawab keummatan dan dakwah,” pungkas Anam.
Ma’had Aly Pondok Pesantren Hidayatullah Tanjung Morawa, Medan, Sumatera Utara, sendiri terselenggara sejak 4 tahun lalu dan telah melahirkan ratusan alumni yang disebar ke berbagai wilayah terutama kawasan dakwah di Sumatera Utara.
Peserta Ma’had Aly Pondok Pesantren Hidayatullah Tanjung Morawa adalah lulusan sekolah menengah atau sederajat dan bersedia menjalani karantina dalam rangka pemantapan program penguasaan bahasa Arab, hafalan Al Qur’an dan bekal skil profesional. (ybh/hio)
KEPULAUAN SERIBU (Hidayatullah.or.id) — SAR Hidayatullah bersama tim rescuer gabungan hingga siang ini terus bekerja dengan berfokus melakukan pencarian korban dan mengumpulkan serpihan puing kecelakaan pesawat Sriwijaya Air SJ 182.
Kepala Divisi Operasi SAR Hidayatullah, Murdianto, mengatakan meski di lokasi pencarian banyak potensi rescuer, namun untuk pencarian dengan penyelaman dilakukan secara hati hati mengingat titik medan yang disebut cukup rawan.
“Untuk pencarian dengan penyelaman dilakukan oleh rescuer dengan seleksi ketat yang harus melalui beberapa pintu. Armada evakuasi dan relawan dibatasi untuk antisipasi kecelakaan relawan,” kata Murdianto dalam keterangannya, Senin (11/1/2021).
Murdianto melanjutkan, evakuasi dengan penyelaman ini melibatkan crane atau alat berat untuk menaikkan bangkai pesawat yang harus dilakukan ahli operator alat berat.
Murdianto menambahkan, potensi sumberdaya SAR gabungan di lokasi bahu membahu bekerja yang dikoordinatori langsung oleh Badan SAR Nasional (Barasnas).
Mereka dikerahkan untuk membantu pencarian serpihan dan korban pesawat Sriwijaya Air SJ-182 yang jatuh di perairan Kepulauan Seribu, Sabtu (9/1/2021).
Personel dan sarana yang dikerahkan secara umum dalam rangka untuk mendukung kegiatan SAR yang dilaksanakan Basarnas, TNI Angkatan Laut serta tim.
Operasi mengumpulkan serpihan pesawat dan pencarian korban dilaksanakan dengan komando dari Basarnas, termasuk waktu pelaksanaan. Tim rescuer gabungan menyesuaikan dengan keputusan dari Basarnas serta dilakukan sesuai prosedur yang ada.
Sementara itu, Direktur Operasi Basarnas Brigjen TNI (Mar) Rasman selaku SAR Mission Coordinator (SMC) mengatakan bahwa area pencarian diperluas menjadi enam sektor. Hal ini disampaikan pada konferensi pers yang dilakukan pagi ini di posko Pelabuhan JICT 2, Jakarta.
Sebelumnya, pada hari pertama dan kedua kemarin dibagi dalam empat sektor. Pencarian dikonsentrasikan di bawah air tetapi juga tetap dilakukan pencarian di atas permukaan hingga ke pantai-pantai. Pencarian di bawah air akan menggunakan Remotely Operated Underwater Vehicle (ROV).
“Unsur-unsur yang terlibat hari ini juga bertambah. Hingga hari ini ada sekitar 2600 personil yang terlibat langsung dalam operasi pencarian dan pertolongan kecelakaan SJ-182,” kata Rasman.
Adapun alut laut yang digunakan diantaranya 53 kapal yang memiliki spesifikasi untuk pencarian dan pertolongan, kemudian sea rider, jetski, RIB yang berjumlah sekitar 20 unit. Jumlah ini menurut SMC sudah sangat cukup untuk diefektifkan penggunaannya sesuai keperluan di lapangan.
Sementara itu alut udara standby sebanyak 13 unit yang siap digunakan sewaktu-waktu diperlukan untuk pelaksanaan operasi hari ini. Sedangkan ambulance yang standby ada 12 unit. Hal-hal yang disampaikan tersebut masih dapat berubah sesuai kondisi di lapangan.
Jumlah alut yang terlibat dan digunakan juga sewaktu-waktu mengalami perubahan seiring masih adanya penambahan dari berbagai potensi yang menawarkan bantuannya dalam operasi pencarian SJ-182. (ybh/hio)
KEPULAUAN SERIBU (Hidayatullah.or.id) — Relawan SAR Hidayatullah bersama BMH bergabung dengan Tim Rescue Gabungan dalam rangka mendukung pencarian dan evakuasi korban jatuh pesawat Sriwijaya SJ-182.
Pada pukul 10:30 WIB, tim awal SAR Hidayatullah bersama BMH menuju ke Pantai Tanjung Kait, Tanjung Anom, Kecamatan Mauk, Tangerang, Provinsi Banten. Tepat Pukul. 12.41 WIB tim SAR Hidayatullah melapor ke posko induk di pantai Tanjung Kait.
Pada pukul 16:53 SAR Hidayatullah bersama BMH tiba di lokasi. Pada saat team rescuer dan penyelam marinir telah menemukan serpihan peleg pesawat, moncong depan pesawat, dan bagian serpihan lainya dan beberapa pakaian korban dewasa dan anak.
Pada pukul 18:13 WIB, di kapal berikutnya SAR Hidayatullah membantu evakuasi serpihan pesawat berupa gir mesin turbo, sayap pesawat, serta telah ditemukan rambut dan beberapa serpihan tubuh manusia.
“Kondisi tim SAR gabungan sampai saat kami melaporkan, masih terus bekerja,” kata Kadiv Operasi SAR Hidayatullah Pusat Murdianto seperti dilansir laman resmi SAR Hidayatullah.
SAR Hidayatullah bersama BMH menurunkan sejumlah sumber daya di lokasi berupa armada kendaraan Triton dan ambulance serta personil relawan diantaranya Sapriadi (water rescue), Muhammad Hamka (vertikal rescue), Iyan Antono (sea survival), Abdul Rahman (vertikal rescue), Abdul Karim (water rescue) dan Muslim yang bertugas di bagian reportase.
SAR Hidayatullah bergabung bersama dengan TNI-Polisi di lokasi beserta berbagai unsur/unit relawan rescuer seperti Basarnas, Basarnas Special Group (BSG) Badan Keamanan Laut Republik Indonesia (Bakamla), Badan Nasional Penanggulan Bencana (BNPB) dan potensi rescur lainnya.
Di posko ini, relawan SAR Hidayatullah turut mendukung upaya evakuasi dengan membantu mengkondisikan berbagai hasil temuan berupa barang-barang korban dan pecahan rangka pesawat dari lokasi jatuhnya di antara Pulau Lancang dan Laki.
Sementara itu, di lokasi yang menjadi titik jatuhnya pesawat, penyelaman dan pencarian terus dilakukan hingga malam ini oleh pasukan khusus dari Komando Pasukan Katak, Detasemen Jalamangkara (Denjaka) dan Batalyon Intai Amfibi (Taifib) Marinir TNI Angkatan Laut. (ybh/hio)
KENDARI (Hidayatullah.or.id) — Ketua Dewan Murobbi Wilayah Hidayatullah Sulawesi Tenggara (Sultra), Ahmad MS, mengawali sambutannya dalam Rapat Kerja Wilayah Hidayatullah Sulawesi Tenggara pada 9/1 di Kampus Madya Hidayatullah Kendari, dengan dua ayat al-Qur’an. Ayat pertama adalah Shaff [61] ayat 4, dan kedua surat al-Hujarat [49] ayat 12.
Kedua ayat ini disampaikan Ahmad MS ketika memberikan sambutan setelah sebelumnya acara rakerwil secara resmi dibuka oleh Sekretris Jenderal DPP Hidayatullah, Candra Kurnianto.
Ayat pertama berbunyi, “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur, mereka seakan-akan seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.”
(As-Saff [61]: 4).
Ayat ini, menurut Ahmad, mengharuskan seluruh kader dan anggota Hidayatullah, khususnya di Sulawesi Tenggara, menyusun barisan yang rapi. Caranya dengan bersungguh-sungguh melaksanakan program sentralisasi dan standarisasi yang diamanahkan oleh Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah.
Adapun ayat kedua berbunyi, “Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah Maha Penerima Tobat, Maha Penyayang,” (Al-Hujurat [49]: 12).
Ayat kedua ini, kata Ahmad, memberi pesan agar seluruh kader dan anggota Hidayatullah selalu membangun soliditas. Caranya, jauhi prasangka. “Jangan sampai ada yang bilang ini begini dan itu begitu. Prasangka seperti ini akan melemahkan kita,” jelas mantan ketua DPW Sumatera Selatan ini.
Jika soliditas sudah luntur maka sebaik apa pun program yang disusun, hasilnya tak akan maksimal. Sebaliknya, kata Ahmad, jika DPW solid, amal-amal usaha solid, kader solid, maka akan terbangun shaf yang rapi di Hidayatullah. “Jika shaf kita rapi maka Allah akan mencintai jamaah ini, dan Allah akan menurunkan pertolongan-Nya kepada kita,” jelas Ahmad.
Karena itu Ahmad mengimbau agar musyawarah-musyawarah di antara pengurus harus digalakkan. Begitu juga program taaruf antar kader perlu dilakukan.
Dewan Murobbi Wilayah Sultra sendiri, kata Ahmad, dalam waktu dekat akan mengunjungi seluruh dewan pengurus daerah di seluruh Sulawesi Tenggara. “Termsuk DPD yang sangat terpencil dan katanya hanya ada kader satu orang di sana, akan saya kunjungi,” kata Ahmad lagi. */Mahladi
TARAKAN (Hidayatullah.or.id) — Walikota Tarakan, dr. Khairul, M.Kes, melakukan peletakan batu pertama pembangunan Gedung Dakwah Hidayatullah Kota Tarakan sekaligus membuka acara Rapat Kerja Wilayah Hidayatullah Kalimantan Utara, Sabtu (09/01/2021).
Dalam sambutannya, Walikota Tarakan mengapresiasi, serta mendukung peran dakwah dai Hidayatullah yang memberikan peran besar terhadap pembangunan di kota Tarakan.
Hidayatullah, dan kiprahnya. Menurutnya sangat pesat perkembangannya, khususnya Kota Tarakan, yang tentu saja sangat menggembirakan pemerintah.
Terlebih lagi lanjut beliau, “Hidayatullah dengan gerakannya selaras dengan agenda pemerintah” kata dia.
“Bahkan harapannya bahwa suatu saat nanti bisa menjadi salah satu elemen perekat kesatuan bangsa,” lanjutnya.
Ketua DPW Hidayatullah Kalimatan Utara, Ustadz Endi Haryono sangat berharap agar pada momen Rakewil ini seluruh elemen kader dapat mensinergikan kekuatan untuk meminimalisir kelemahan sekaligus menciptakan peluang yang mampu membawa organisasi ini menjadi lebih baik lagi.
“Mari kita bekerja untuk memberi kontribusi yang signifikan untuk perkembangan organisasi yang berdaya saing dan memberi pengaruh positif bagi bangsa dan negara,” ungkapnya.*/Naser Muhammad
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Islam selalu memberikan dorongan agar umatnya membaca dengan sebaik-baiknya, bahkan pada tingkat membaca dengan nama Rabb, “Iqra’ Bismirabbik.”
Menariknya, ruang itu selalu terbuka, bahkan dari orang-orang yang tak jauh dari kebiasaan dan kehidupan kita. Satu di antaranya kita bisa lakukan itu atas kepergian sosok pejuang kesehatan, dr. Saifuddin Hamid.
Direktur Islamic Medical Service (IMS), Ust Imran Faizin mengabariku melalui pesan pendek di Whatsapp bahwa telah meninggal dunia, dokter senior dan sosok pendiri dari Islamic Medical Service, dr. Saifuddin Hamid pada hari ini Jum’at 24 Jumadil Awwal 1442 H (8/1/21).
“IMS sedang berduka, tadi sebelum Jum’at dokter pengawas IMS meninggal,” tulisnya yang langsung kubalas dengan doa semoga Allah muliakan beliau di alam barzakh.
Hobi dr Saifuddin Hamid
Menurut Ustadz Imran Faizin, sosok dr Saifuddin Hamid tak ubahnya manusia umumnya, termasuk dalam keseharian, memiliki hobi yang selalu dilakukan setiap ada kesempatan.
Namun, hobi bukan sembarang hobi. “Setiap libur beliau selalu mengadakan bakti sosial. Jadi, tak mau beliau ada waktu senggang, melainkan memberi manfaat bagi sesama,” katanya.
Berkat hobi itu, dr Saifuddin Hamid tak pernah mau ketinggalan dalam setiap aksi bakti sosial di pedalaman. Sebuah titik lokasi yang tak dekat tentunya dan butuh waktu dalam perjalanan.
“Kalau dalam perjalanan, kala malam dan lelah menerpa, beliau memilih tidur di masjid atau mushola, bahkan SPBU untuk istirahat daripada menginap di hotel. Ini bukan soal uang, ya, tapi memang itulah hobinya,” imbuh Ustadz Imran.
Hobi kemanusiaannya memang sangat kental, pada 13 September 2017 bersama BNPB berangkat ke Rohingya untuk memberikan bantuan kepada para pengungsi di sana, yang kondisinya amat memprihatinkan.
“Keadaan pengungsi sangat memprihatinkan sekali,” ungkapnya seperti dirilis hidayatullah.com (30/9/17) pukul 08.00 WIB.
Legacy
Hidup harus memberikan nilai warisan yang positif (legacy) tampaknya benar-benar dapat kita lihat dari sosok dokter senior ini.
“Beliau bersama IMS telah mengkhitan ribuan muallaf,” kata Ustadz Imran.
Lebih dari itu, upayanya untuk menjaga hubungan vertikal dengan Allah Ta’ala sangat intens beliau lakukan.
“Untuk urusan spiritual, beliau selalu umroh dalam beberapa bulan sekali. Tiap tahun juga mendampingi jamaah haji. Jadi padat aktivitas beliau serta sarat makna dan pengabdian kepada umat,” sambungnya.
Kini sosok yang tinggal di seberang Al-Jazeera, Cipinang Cempedak Jakarta Timur itu telah tiada. Segenap keluarga besar IMS dan bahkan Hidayatullah berduka atas kepergian dokter yang gigih dan penuhl legacy ini.
Sekretaris Jenderal Pemuda Hidayatullah, Majelis bin Mustofa menuturkan bahwa dr Saifuddin Hamid juga sangat peduli terhadap generasi muda.
“Selama hidup beliau, sempat beberapa kali mendukung dan bekerjasama membantu BEM STIE Hidayatullah Depok, tepatnya saat seluruh mahasiswa mengadakan kegiatan bakti sosial di Sukabumi,” katanya.
Sementara itu, Ketua DPW Hidayatullah Jakarta, M. Isnaini mengatakan, “Masya Allah… cukup dekat dengan beliau, beliau sangat baik dan tulus dalam usaha keummatan bersama IMS, beliau dokter senior yang kaya legacy,” ucapnya.
Tidak tertinggal, Direktur Baitul Wakaf, Rama Wijaya menyampaikan, “dr Syaifuddin, pejuang media dan kemanusiaan. Semoga khusnul khotimah dan Allah SWT menerima semua amal baiknya.”
Pimpinan Pesantren Hidayatullah Yogyakarta, Ustadz Syakir Syafi’i juga memberikan kesaksiannya.
“dr Saifuddin Hamid adalah sosok yang cukup lekat di mata kader-kader Jogja, karena beliau bersama IMS sangat sering bolak-balik melakukan aksi kemanusiaan di Jogja dan sekitarnya, khususnya dalam tanggap bencana musibah letusan Merapi.”
Pada akhirnya, generasi muda Hidayatullah dalam hal ini adalah segenap kader dan pengurus serta anggota Pemuda Hidayatullah harus mengambil spirit hidup beliau yang sederhana, namun penuh dedikasi dalam kehidupan umat.
Selamat jalan dokter kebanggaan umat yang tak pernah lelah berjuang menebar manfaat dan maslahat. Semoga kami yang di belakang dapat mengambil semangat dan keteladanan yang telah engkau torehkan dalam berbakti kepada umat. Semoga engkau dalam rida dan surga Allah Ta’ala.
DELI SERDANG (Hidayatullah.or.id) — Kampus Utama Pondok Pesantren Hidayatullah Tanjung Morawa, Medan, Deli Serdang, Sumatera Utara, menjadi tuan rumah penyelenggaraan Sosialisasi Asesmen Nasional Tingkat Madrasah Tsanawiyah (MTs) yang diikuti oleh unsur pendidik perwakilan berbagai sekolah madrasah Se Kabupaten Deli Serdang yang dibuka hari ini, Kamis (7/1/2021).
Seperti diketahui, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ( Kemendikbud) kini terus menyosialisasikan Asesmen Nasional sebagai pengganti Ujian Nasional pada 2021.
Asesmen Nasional merupakan program penilaian terhadap mutu setiap sekolah, madrasah, dan program kesetaraan pada jenjang dasar dan menengah. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Anwar Makarim mengatakan perubahan mendasar pada Asesmen Nasional adalah tidak lagi mengevaluasi capaian peserta didik secara individu, akan tetapi mengevaluasi dan memetakan sistem pendidikan berupa input, proses, dan hasil.
Asesmen Nasional juga tidak menggantikan peran UN dalam mengevaluasi prestasi atau hasil belajar murid secara individual. Melainkan menggantikan peran UN sebagai sumber informasi untuk memetakan dan mengevaluasi mutu sistem pendidikan.
Merangkum laman Direktorat Sekolah Dasar berdasarkan paparan materi diskusi Rapat Koordinasi Asesmen Nasional, 6 Oktober 2020, Asesmen Nasional untuk kelas 5 Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) akan digelar pada bulan Agustus 2021.
Sementara, Kelas 8 SMP/MTs akan mengikuti Asesmen Nasional pada pekan ketiga Maret 2021, dilanjutkan paket C pada pekan keempat. Di awal April 2021, giliran Paket A dan Paket B mengikuti Asesmen Nasional. Lalu, Untuk kelas 11 SMA/MA dilaksanakan pada pekan pertama Maret 2021, dan Kelas 11 SMK pada pekan kedua Maret 2021.
Direktur Sekolah Dasar Kemendikbud Sri Wahyuningsih menerangkan, Asesmen Nasional terdiri dari tiga bagian yaitu Asesmen Kompetensi Minimum (AKM), Survei Karakter dan Survei Lingkungan Belajar. Asesmen Nasional dilaksanakan menggunakan komputer dan secara daring alias online. Murid mengerjakan pada sesi dengan jadwal yang ditentukan dan dengan diawasi. Sedangkan Guru dan kepala satuan pendidikan mengerjakan survei secara mandiri dengan periode waktu yang cukup panjang.
Untuk jenjang SD/MI, di hari pertama Asesmen Nasional dilakukan tes literasi 75 menit dan survei karakter 20 menit. Hari kedua dilakukan tes numerasi 75 menit dan Survey Lingkungan Belajar 20 menit.
Untuk jenjang SMP/MTs, SMA/MA dan SMK, di hari pertama dilakukan tes literasi 90 menit dan Survei Karakter 30 menit. Hari kedua, tes numerasi 90 menit dan Survei Lingkungan Belajar 30 menit.
Pembaca yang budiman juga bisa mengunduh dokumen tanya jawab seputar Asesmen Nasional dan perbedaan Asesmen Nasional dengan Ujian Nasional (UN) di situs resmi Pusat Penilaian Pendidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Puspendik Kemdikbud) atau klik tautannya [di sini].*/(ybh/hio)
BANGUNAN-bangunan sederhana itu berdiri tidak jauh dari pemukiman warga setempat. Beberapa bagian bangunan masih dalam tahap akhir penyempurnaan. Sekilas terlihat tidak begitu menarik dipandang mata, namun siapa sangka di situlah tempat dibinanya para generasi Penghafal Al-Qur’an dan menjadi jantung kegiatan Pondok Pesantren Hidayatullah Boven Digoel, Provinsi Papua.
Kondisi bangunan yang masih dalam tahap penyelesaian itu tidak menyurutkan semangat para ustadz, untuk tetap semangat dalam mendidik santri. Apalagi masyarakat yang semakin menaruh kepercayaan ke pesantren ini untuk mendidik anak-anak mereka belajar dan menghafalkan al-Qur’an. Hal tersebut menjadi semangat dan motivasi bagi para ustadz yang ada.
“Pesantren Hidayatullah ini adalah pesantren pertama yang ada di Boven Digoel. Alhamdulillah, dari waktu ke waktu respon masyarakat sekitar semakin baik, bahkan yang jauh dari daerah sini pun mengantarkan anak-anak mereka untuk belajar al-Qur’an di sini,” ujar Zainal selaku pimpinan pesantren.
Jumlah yang santri yang belajar sekarang ada 200-an anak. Ada yang mukim, ada juga yang pulang ke rumah. Para santri berasal dari berbagai suku. Ada yang berasal dari Bugis-Makasar, ada yang Jawa dan juga putra-putri asli daerah. Dengan berjalannya waktu, kini telah berdiri satu lembaga pendidikan yaitu Madrasah Tsanawiyah (MTs), dengan jumlah murid pertama sebanyak 40 anak.
“Alhamdulillah, pada 2019 dengan ikhtiar yang kuat, kami telah membuka sekolah formal. Walau dengan ruang belajar yang masih terbatas, kami harapkan tidak menyurutkan semangat para santri untuk tetap belajar,” ujar Zainal.
Cikal Bakal Perintisan
Pondok Pesantren Hidayatullah Boven Digoel beralamat di Jalan Trans Papua Titik Nol, Kampung Persatuan, Distrik Mandobo, Kabupaten Boven Digoel, berjarak 424 km dari Kabupaten Merauke. Dirintis pertama kali oleh Ustadz Rasto pada 2010, kemudian dilanjutkan pada tahun 2017 hingga sekarang oleh Ustadz Zainal.
Awalnya bermula dari sebuah kontrakan di daerah Kampung Sokaggo. Rumah kontrakan itu menjadi multi fungsi: rumah tingggal, mushola, kantor, asrama dan tempat mengaji anak-anak sekitar.
Para perintis terus bergerak. Mengajar ngaji, menggalang dukungan dan tak lupa mencari lahan untuk pesantren. “Sa’i” mereka tidak percuma. Kesungguhan mereka membuat Allah SWT senang. Munajat mereka yang tak pernah berhenti di sepertiga malam, didengar Allah SWT.
Sang Pemilik Kehidupan pun menurunkan bantun-Nya lewat Aniansyah yang mewakafkan tanahnya seluas 25 x 25 meter yang terletak di Jalan Trans Papua. Kemudian seiring berjalan waktu hasil dari infaq masyarakat dibelilah tanah seluas 25 x 50 meter di samping tanah sebelumnya.
Kini di atas lahan itu telah berdiri beberapa lokal bangunan yang terdiri dari sekolah, asrama santri, serta beberapa petak untuk rumah pengasuh (masih tahap pembangunan).
Minim Fasilitas
Kini pesantren yang mempunyai fokus pada kegiatan sosial, dakwah dan pendidikan ini telah menyelenggarakan sekolah formal, pusat pendidikan anak shaleh (PPAS), rumah dakwah, taman pengajian al-Qur’an (TPA). Selain membuka sekolah formal, pesantren ini juga membuka progam khusus Tahfidzul Qur’an yang dipaketkan bersama sekolah formal.
Fasilitas di pesantren yang belum memadai, mengharuskan bangunan yang ada digunakan secara serbaguna. Para pengurus terus berusaha untuk melengkapi sarana prasarana pendidikan.
Saat ini tengah dalam tahap merampungkan dua gedung, yang akan digunakan sebagai asrama dan sekolah. Walaupun biaya pembangunan yang dibutuhkan besar, pengurus yakin pertolongan Allah SWT pasti akan datang dari tangan-tangan dermawan yang ikhlas.
Selain menyelenggarakan pendidikan formal, pengurus pesantren turut aktif membina masyarakat setempat, dengan membuka rumah dakwah dan membina beberapa majelis taklim yang ada di sekitar maupun yang berada jauh dari daerah pesantren. Dengan pembinaan tersebut, diharapkan masyarakat dapat mengenal pesantren lebih dekat.
“Alhamdulillah, kami juga turut aktif dalam membina beberapa majelis taklim sekitar. Pengajian biasa diselenggarakan di sini tiap bulannya. Semoga kami selalu istiqomah,” lanjutnya.
Selain membina masyarakat, Zainal dan pengurus lainnya intens bersilaturahim dengan tokoh masyarakat, maupun tokoh pemerintahan di Boven Digul. Berkat silaturahim tersebut, banyak yang menaruh simpati, hingga banyak tokoh pemerintahan yang berkunjung ke pesantren.
“Alhamdulilah, selain respon warga masyarakat, beberpa tokoh masyarakat maupun pemerintahan juga sempat berkunjung kesini. Wakil Bupati juga sempat bersilaturahim kepesantren. Alhamdulillah, banyak yang peduli terhadap anak-anak di sini,” ujar Zainal.
Memang faslitas pendukung maupun tenaga dai yang ada di pesantren belum memenuhi kapasitas. Namun semangat yang besar dari para pengurus yang ada untuk melahirkan generasi Qur’ani di daerah yang dulunya menjadi tempat pembuangan pejuang kemerdekaan ini harus disapresiasi bagi semua pihak.
Zainal dan pengurus yakin, mereka tidak sendiri dalam mendidik para santri. Mereka yakin ada Allah yang memudahkan perjuangan melalui angan-tangan dermawan yang ikhlas membantu.*/Supriyanto Refra
“SEORANG suami seharusnya tahu diri. Istri yang sekarang ini ketika kecil dirawat oleh ayah bundanya dengan kasih sayang. Disusukan oleh ibunya, kencing dan tinjanya diurus oleh ibunya. Bila sakit, yang susah dan kalang kabut adalah orangtuanya.
Calon suami tidak pernah perduli dengan keadaan itu. Apakah calon istrinya mau mati konyol, dia tidak mau tahu menahu. Setelah anak itu menjadi gadis, barulah datang calon suami melamar. Tahu beres saja. Langsung diambil, dalam keadaan dinikmati saja.
Setelah itu si istri meninggalkan ayah dan ibunya mengikuti suami, dengan satu harapan semoga perlakuan dan kasih sayang yang dia dapati dari ayah dan ibu bisa diberikan oleh suami.
Jadi seorang suami harus mampu memberikan kasih sayang pada istrinya, sebagaimana ayah dan ibu memberikan kasih sayang kepadanya.
Pernah seorang suami melapor kepada saya bahwa istrinya selalu terlambat shalat shubuh. Dibangunkan, tidak mau bangun. Dia pulang dari shalat shubuh, tapi istrinya masih berbaring di tempat tidur.
Disuruh bangun shalat dia menggeliat liat saja. Saya katakan bahwa saya perlu bicara dulu dengan istrinya.
Kepada si istri saya bertanya, kenapa shalat shubuhnya selalu terlambat? Ia menjawab, “Habis Ustadz, kita dibangunkan kaya’ ayam!”.
“Bagaimana cara membangunkannya?” “Kalau disuruh, dia tendang kaki saya, ‘He, he, bangun!’ Mana mau saya bangun kalau begitu” “Jadi, bagaimana maumu?” “Ya…, kaya’ ibu dulu membangunkan saya” “Digendong?” Sambil tersipu sipu dia menjawab, “Ya…, begitulah barangkali”.
Ternyata si istri ini minta digendong. Carilah satu cara yang tidak betul betul menggendong tapi suasananya seperti digendong.
Katakanlah pada istri, “Aduhai sayang, si manis yang cantik… Bangunlah di subuh hari menikmati keindahan. Apakah perlu digendong?”
Nah, itu yang dibutuhkan oleh istri tadi. Bagi dia itu lebih penting daripada emas yang bergantungan di telinga dan kain yang mahal-mahal.
(Dikutip dari ceramah pendiri Hidayatullah Ust Abdullah Said sebagaimana dinukil dalam buku “Sistematika Wahyu, Metode Alternatif Menuju Kebangkitan Islam Kedua”, hal. 47-48)