Beranda blog Halaman 432

Hani Akbar Ketum Muslimat Hidayatullah Periode 2020-2025

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah menunjuk Hani Akbar sebagai Ketua Umum baru Pengurus Pusat (PP) Muslimat Hidayatullah (Mushida) periode 2020-2025 yang ditetapkan di arena Musyawarah Nasional (Munas) V Mushida di Kota Depok, 27 Desember 2020.

Selain itu, juga dilakukan penunjukan sejumlah pengurus pusat Mushida. Pada kesempatan tersebut juga dibacakan maklumat DPP tentang penunjukan pengurus Majelis Penasehat, Majelis Murabbiyah Pusat, dan Ketua Umum Pengurus Pusat Muslimat Hidayatullah periode 2020-2025 tersebut.

Setelah dibacakan maklumat DPP tersebut, kemudian dilakukan pembacaan penetapan hasil Munas V Muslimat Hidayatullah oleh Wakil Ketua Sidang Musyawarah Paripurna, Dede Agustina.

“Setelah menimbang, mengingat, dan memperhatikan, dengan bertawakkal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka dengan ini Musyawarah Nasional V Muslimat Hidayatullah memutuskan dan menetapkan Hani Akbar S.Sos.I sebagai Ketua Umum Pengurus Pusat Muslimat Hidayatullah periode 2020-2025,” ujar Dede Agustina dalam menyampaikan maklumat DPP Hidayatullah.

Selain menetapkan Ketua Umum, sidang Musyawarah Paripurna ini juga mengukuhkan Majelis Penasihat yang diketuai oleh Aida Chered dan Majelis Murabbiyah Pusat yang diketuai oleh Ir. Emi Pitoyanti.

Setelah pembacaan maklumat tersebut, dilanjutkan dengan pelantikan pengurus Majelis Penasehat, Majelis Murabbiyah Pusat, dan Ketua Umum PP Mushida oleh Ketua Umum DPP Hidayatullah Nashirul Haq

Masih dalam rangkaian Munas, Pemimpin Umum Hidayatullah Ust Abdurrahman Muhammad menitipkan pesan agar senantiasa berusaha menjadi insan yang bertakwa. Ditegaskannya, Allah telah memberi penghargaan dan mengangkat kemuliaan kaum wanita melalui Rasul-Nya.

“Kemuliaan dapat diperoleh oleh siapa saja, jika mereka memiliki ketaqwaan kepada Allah dan Rasul-Nya,” disampaikan oleh Pemimpin Umum Hidayatullah Ustadz Abdurrahman Muhammad dalam taujihnya pada rangkaian acara Musyawarah Nasional V Muslimat Hidayatullah, Ahad (27/12/2020) secara virtual.

Ia mengatakan pentingnya peran wanita untuk umat dan bangsa, dengan mengutip ungkapan masyhur: Wanita adalah tiang negara, apabila wanita itu baik maka akan baiklah negara dan apabila wanita itu rusak, maka akan rusak pula negara tersebut.

“Mushida harus mengadakan peremajaan program dan memperbaharui komitmen dengan selalu menguatkan nilai-nilai yang diunggulkan dari syariat Islam,” ujarnya.

Ia juga mengatakan bahwa peran para Muslimah termasuk Mushida yaitu melahirkan generasi Qur’ani dan sebaik-baik umat (khairu ummah) untuk mendorong percepatan hadirnya peradaban dan kejayaan Islam.

Generasi yang baik berawal dari keluarga yang baik. Untuk itu, terang beliau, para Muslimah harus memaksimalkan tugas dan perannya dalam keluarga.

“Banyak tantangan saat kita mulai pekerjaan. Rasa sakit, kekurangan, dan kelemahan selalu dialami dalam mengarungi perjuangan. Namun di situlah letak karunia besar yang diberikan Allah,” ungkapnya pada taujih yang dimulai pukul 05.00 WIB itu.

Melihat realita yang terjadi, generasi saat ini perlu ditolong. Jalan dakwah yang ditempuh memang tidak selalu mulus. Banyak suka duka yang dilalui. Untuk itu, katanya, “Siapa yang memulai suatu pekerjaan dengan suka maupun duka, maka itulah yang akan mendapat kemuliaan dari Allah.”

“Tidak ada jalan yang harus ditempuh melainkan jalan di atas khittah yang lurus,” tambahnya.

Ia juga mengungkapkan hakikat orang kaya dan mengatakan bahwa di dunia ini memang banyak orang kaya. Namun hanya sedikit yang memahami hakikat kekayaan itu sendiri.

“Orang yang kaya ialah yang banyak melakukan pengorbanan. Makin banyak pengorbanannya maka ia akan menemukan hakikat kekayaan itu sendiri. Kekayaan itu ialah kekayaan jiwa.”

Lebih jauh, ditambahkan, setiap muslimah harus menjadikan kegiatan membaca sebagai karakter utama. Sebagaimana wahyu yang pertama diturunkan adalah Iqra’.

Terakhir, ia mengimbau agar ruh dan jiwa harus selalu hidup dengan amalan shaleh. Sebagaimana tumbuhan hidup dengan air dan suasana masjid hidup dengan tilawah Al-Qur’an.

Munas yang berpusat di Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, Jawa Barat ini dihadiri oleh 80-an peserta offline termasuk perwakilan dari Pengurus Wilayah Provinsi se-Indonesia.*/Arsyis Musyahadah

Pesan UNH untuk Para Pendidik

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Tabligh Akbar Gabungan Akhir Tahun 2020 yang bertema “Pendidikan dan Kebangkitan Peradaban Kita” menghadirkan empat tokoh nasional sebagai narasumber.

Yakni Dr Jeje Zainuddin dari Persatuan Islam. Kemudian Dr. Zaitun Rasmin dari Wahdah Islamiyah, Dr Adian Husaini dari Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia dan Dr Nashirul Haq dari Hidayatullah.

Dalam uraiannya yang berlangsung secara online melalui zoom dengan kapasitas peserta 1500 orang itu, Dr Nashirul yang akrab disapa UNH menjelaskan bahwa pendidikan dalam Islam memiliki konsep dan metode yang jelas.

“Pada ayat kedua Surah Al-Jum’ah kita dapat temukan bahwa pendidikan pertama yang harus diterima oleh anak-anak adalah Alquran. Inilah yang nantinya membentuk cara pandang, membentuk Qur’anic Worldview. Ini disebut dengan fase tilawah. Oleh karena itu di masa salafus shaleh anak-anak sejak balita sudah diakrabkan dengan Alquran, sehingga pada usia 10 tahun sudah tamat proses penanaman Alquran,” urainya.

“Berikutnya adalah fase tazkiyah dimana mulai dari jiwa, pikiran dan perilaku, semuanya disucikan, sehingga peserta didik terhindar dari orientasi menuntut ilmu yang berorientasi duniawiah,” tegasnya melanjutkan.

Selanjutnya UNH menekankan pentingnya ta’lim, pembelajaran ilmu pengetahuan yang bersumber dari Alquran.

Sebelum menutup uraiannya, secara khusus Ketua Umum DPP Hidayatullah itu menekankan pentingnya peran pendidik sebagai muaddib, muallim, dan mudarris.

“Muaddib bagaimana melahirkan peserta didik yang beradab. Muallim bagaimana guru mampu melahirkan generasi yang berilmu, alim. Dan, mudarris berarti seorang guru harus mampu melahirkan peserta didik yang memiliki skill dan profesional. Kita ketahui bahwa dalam kehidupan ini kita butuh hadirnya manusia-manusia yang memiliki skill dan profesional,” jelasnya.*ImamNawawi

BMH Jateng Gelar Pelatihan Jurnalistik dan Fotografi

0

SEMARANG (Hidayatullah.or.id) — Guna mendorong peningkatan layanan berupa penyajian informasi yang cepat dan menarik, BMH Perwakilan Jawa Tengah menggelar pelatihan jurnalistik dan fotografi untuk segenap amilnya di Semarang (24/12).

“Pelatihan ini merupakan kebutuhan yang penting mendesak bagi BMH, mengingat begitu banyak program dan aksi kebaikan yang berjalan berkat dukungan dan kerjasama dari berbagai pihak untuk membantu sesama. Sebagai sarana informasi dan laporan cepat, kemampuan amil dalam hal ini sangatlah dibutuhkan,” terang Kepala BMH Perwakilan Jawa Tengah, Misdawi.

Hadir sebagai narasumber adalah Pemimpin Redaksi Majalah Mulia, Imam Nawawi dan tim BMH TV, M. Faza Aulia.

Dalam uraian yang disimak oleh 15 amil dari berbagai kabupaten dan kota di Jawa Tengah itu, Imam Nawawi menerangkan bahwa secara prinsip menulis berita adalah hal yang sangat sederhana.

“Menulis berita itu sederhana, mudah dan bisa dilakukan oleh siapa saja. Dengan catatan ada kemauan dan mengerti unsur-unsur yang perlu dituangkan did alam sebuah karya jurnalistik, utamanya apa yang dikenal dengan istilah 5W dan 1 H,” terangnya.

Dalam kesempatan tersebut, para peserta tidak saja mendapatkan penjelasan tentang jurnalistik, namun juga ada sesi praktik, dimana masing-masing peserta wajib menulis berita selama 15 menit.

Bahri, seorang amil BMH dari Pati mengaku senang dengan pelatihan ini.

“BMH ini banyak kegiatan dan program namun belum semua dapat disajikan dalam bentuk berita. Dengan adanya pelatihan ini, insha Allah sudah tahu bagaimana menulis berita dan akan diterapkan dengan sebaik-baiknya ke depan,” ujarnya.

Pesan yang sangat penting disampaikan oleh Imam Nawawi bahwa sebenarnya semua orang tahu menulis itu penting, tetapi hanya sedikit yang benar-benar mau melakukannya.

“Untuk BMH, wajib semua program dan beritanya dituliskan, bukan untuk narsis, tapi agar umat, masyarakat, dan pemerintah tahu bahwa kebaikan-kebaikan di negeri ini itu masih ada dan nyata. BMH adalah lembaga yang teurs menggulirkan itu semua,” tutupnya.*

Mushida Jatim Pastikan Rumah Aman dan Anak anak Nyaman

SURABAYA (Hidayatullah.or.id) — Acara Musyawarah Nasional (Munas) ke-V Muslimat Hidayatullah (Mushida) memberlakukan aturan ketat dalam rangka mematuhi imbauan pemerintah meningkatkan penerapan protokol kesehatan Covid-19 selama libur Natal dan tahun baru 2021.

Atas komitmen tersebut, segenap utusan peserta Munas ini terutama yang hadir secara offline harus mematuhi protokol yang telah ditetapkan. Hal itu seperti yang dilakukan oleh Pengurus Wilayah (PW) Mushida Jawa Timur.

Ketua PW Muslimat Hidayatullah Jawa Timur, Retno Setyo Utami, menyatakan rombongan dari Jatim yang siap berangkat mengikuti Munas V Mushida di Kampus Hidayatullah Depok berjumlah empat orang.

“In syaa Allah rapid test antigen akan dilakukan di Lab Parahita. Bismillah semoga bisa berangkat semua,” tutur Retno.

Sebagaimana yang diimbau oleh Satuan Tugas Penanganan Covid-19 dalam surat edarannya, bahwa untuk meningkatkan penerapan protokol kesehatan Covid-19 selama libur Natal dan tahun baru 2021 maka pelaku perjalanan dalam negeri harus menunjukkan surat keterangan hasil negatif menggunakan rapid tes antigen paling lama 3×24 jam sebelum keberangkatan sebagai persyaratan perjalanan.

Dikatakan Retno, persiapan untuk rapid test antigegn ini dilakukan dengan menjaga kondisi kesehatan agar mendapatkan hasil tes yang bagus.

Selain itu, mereka juga perlu memastikan keamanan rumah selama ditinggal dengan menyiapkan berbagai keperluan suami, bekal konsumsi selama ditinggal serta kenyamanan anak-anak yang kebetulan di waktu yang sama sedang dalam masa liburan sekolah.

“Persiapan lain yang dilakukan saat ini adalah menyiapkan kondisi rumah karena mau ditinggal, sedangkan anak-anak libur (sekolah),” tambah Ibu lima anak ini.

Muslimat Hidayatullah akan menggelar agenda lima tahunan yaitu Musyawarah Nasional yang ke-5 secara virtual pada 26-27 Desember 2020/11-12 Jumadil Ula 1442 H. Kali ini acara akan dilaksanakan di Kampus Peradaban Hidayatullah Depok dan diikuti oleh perwakilan berbagai wilayah dari 34 Provinsi se-Indonesia.

Sebelumnya telah berlangsung beberapa rangkaian Pra Munas yang terdiri dari tiga Webinar Series dan lima Sidang Komisi yang diikuti secara virtual oleh Mushida se-Indonesia.

Dalam mengikuti agenda virtual, terdapat beberapa tantangan yang berbeda bagi tiap wilayah, termasuk bagi Mushida Jatim.

Retno mengatakan beberapa tantangan itu antara lain adalah mengatur waktu antara sidang komisi dengan kegiatan sekolah (pembagian rapot), sinyal yang kurang jelas dan perlunya support yang kuat antara tim inti untuk melibatkan pengurus-pengurus daerah dalam mengikuti agenda Sidang Komisi.

“Pada hari H kami biasanya saling mengingatkan dan menyemangati, kemudian saling berkirim foto. Ada juga beberapa daerah yang membuat nobar terutama di daerah yang hijau (zona) coronanya,” jelas Retno yang juga guru di SD Luqman Al Hakim Surabaya ini.

Di akhir wawancara Retno menyampaikan harapan demi kelancaran dan keberkahan agenda Munas V Hidayatullah. “Harapanya semoga Munas V Mushida melahirkan kader-kader loyal dan militant dalam susunan kepengurusan PP Mushida periode 2020-2025,” harapnya.

“Semoga semua peserta Munas sehat walafiat sampai negeri asalnya kembali, dan semoga Mushida bisa memberi konsep-konsep baru yang lebih bermanfaat bagi umat di era pandemi ini,” tambahnya memungkasi.*/Salma Madaniyyah

Menuju Standar, Sentralisasi dan Integrasi yang Sistemik

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Menjelang acara Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Hidayatullah yang akan digelar pada 28-30 Desember, Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah menggelar Sidang Pleno Hidayatullah yang digelar selama 3 hari di Kota Depok, Jawa Barat.

Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah KH Dr Nashirul Haq, dalam pembukaan acara menyampaikan harapannya kegiatan ini semakin menguatkan langkah dan gerakan Hidayatullah. Seraya dengan itu dia berdoa segenap kader dan pengurus selalu dalam kesehatan dan kondisi yang optimal.

“Semoga kita diberikan kekuatan, kesehatan dan hidayah untuk kesuksesan Sidang pleno Hidayatullah ini,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut, beliau mengajak hadirin untuk mengirimkan doa untuk kesembuhan beberapa pengurus yang kurang sehat yaitu Ust Endang Abdurrahman, Ust Syaiful Anwar, Ust Jamaluddin Nur, Ust Muhammad Syakir Syafii dan Ust Naspi Arsyad.

“Semoga semuanya diberikan kesehatan dan kesembuhan,” doanya.

Semua acara dari Sidang Pleno hingga Rakernas dipusatkan di Kota Depok. Pertimbangannya adalah untuk efisiensi dan suasana ibadah lebih kondusif.

Sidang pleno digelar satu kali dalam setahun yang agendanya diantaranya membahasan Pedoman Organisasi (PO), pembahasan program kerja, pembahasan APBO dan lain sebagainya.

“Pola pembahasan lebih sederhana. Bahan diberikan ke Dewan Mudzakarah sebelumnya sehingga tak perlu ada presentasi dari ketua bidang,” imbuhnya.

Program kerja ini turunan dari visi misi, achievement, arah kebijakan organisasi yang diputuskan pada Munas 5 Hidayatullah lalu. Program kerja ini adalah 5 tahun dan diturunkan pada program tahunan. Sehingga ada program yang baru mulai tahun pertama, belum bisa dilihat hasilnya.

Berangkat dari achievement umum yaitu meningkatnya kualitas iman ilmu, amal dan profesionalitas, maka semua bidang mengacu ke achievement di atas.

Di bidang tarbiyah, bagaimana terwujudnya gerakan perkaderan dan pendidikan baik non formal, informal dan formal di semua lini dan komponen Hidayatullah yang efektif dan efesien.

Pada bidang dakwah dan pelayanan umat, yakni menggerakan kader dan anggota Hidayatullah dalam gerakan dakwah dan layanan umat.

Bidang organisasi melakukan koordinasi, supervisi, monitoring dan evaluasi terhadap pelaksanaan tugas departemen-departemen di bawah koordinasinya. Serta bidang ekonomi, terwujudnya kemandirian jamaah dan organisasi menuju peradaban Islam.

Adapun bidang kesekretariatan, bagaimana menjadikan Pusat Dakwah Hidayatullah sebagai pusat gerakan, pusat komando, pusat administrasi dan show window Hidayatullah.

“Kita mengangkat satu tema untuk rapat pleno, sidang pleno, MMS dan rakernas ini, sebagai semangat untuk mewujudkannya 5 tahun ke depan yaitu Konsolidasi Idiil, Organisasi dan Wawasan Menuju Terwujudnya Standarisasi, Sentralisasi dan Integrasi yang Sistemik,” tutupnya.

Di kesempatan yang sama, Ketua Dewan Mudzakarah (DM) Ust Fathul Adzim yang merupakan mitra, mengapresiasi langkah cepat pengurus DPP terutama pengurus harian, yang, sejak dilantik terus terbang mengawal musyawarah wilayah. Kemudian membuat program kerja dalam waktu singkat.

“Kemudian dalam musyawarah wilayah, DM mengamati berlangsung sukses dan bagus. Perlu dikuatkan struktur DPW yang besar sehingga beberapa program bisa goal,” katanya.

Namun, di sisi lain, Fathul juga memberikan masukan terkait beberapa hal termasuk diantaranya banyaknya Ketua DPW baru sehingga perlu perhatian DPP untuk membimbing dalam leadership dan manajerial keorganisasian.

Pihaknya merekomendasikan bagi DPW yang berprestasi dan kurang prestasi untuk dijembatani agar dinamika kemajuannya bisa semakin progresif dan berkesinambungan.

Dia mengatakan, sidang pleno ini adalah yang pertama maka menurutnya perlu ada beberapa bidang baru, perlu revisi dan perubahan, apalagi untuk program 5 tahun ke depan.

“Maka perlu dirancang kembali untuk ada pembahasan atau diskusi pada bidang terkait. Sehingga sidang pleno tinggal motivasi. DM siap menjadi mitra DPP,” katanya.

“Semoga sidang pleno ini menghasilkan program yang maksimal utk kemajuan Hidayatullah,” pungkasnya.*/Abdul Ghofar Hadi

Kejarlah Apa yang Dicitakan Namun Tetaplah Menjadi Dai

DELI SERDANG (Hidayatullah.or.id) — Setiap kita harus bersungguh-sungguh dalam meraih impian yang dicita-citakan. Dengan semangat, kesungguhan, keuletan, ketelatenan dan kesabaran yang tidak pernah padam, maka yang diimpikan akan membuahkan barokah. Namun, apapun capaian yang berhasil diraih, harus tetap meneguhkan diri kita sebagai seorang dai.

Demikian disampaikan Anggota Dewan Pertimbangan Hidayatullah Ust Hamim Thohari ketika mengisi taushiyah shubuh di Masjid Al Akbar Pondok Pesantren Hidayatullah Medan disela sela Musyawarah Wilayah (Muswil) Hidayatullah Sumatera Utara (Sumut) yang digelar 5-6 Desember 2020.

“Silahkan para santri punya cita-cita apa saja, mau jadi dokter, jadi insinyur, menjadi polisi, menjadi pengusaha, tapi satu hal yang perlu diketahui, diingat dan dipahami bahwa karir dan prosesi termulia dalam pandang Allah adalah menjadi dai, menjadi juru dakwah,” kata Ust Hamim seraya menukil firman Allah Subhanahu Wa Ta’aladalam Al Qur’an surah Fussilat (41) ayat Ayat 33:

وَمَنْ اَحْسَنُ قَوْلًا مِّمَّنْ دَعَاۤ اِلَى اللّٰهِ وَعَمِلَ صَا لِحًا وَّقَا لَ اِنَّنِيْ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ

“Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah dan mengerjakan kebajikan dan berkata, Sungguh, aku termasuk orang-orang muslim (yang berserah diri)”

Beliau menekankan, untuk menjadi manusia terbaik, menjadi manusia terhebat dan terunggul tiada cara lain kecuali menjadi dai.

“Dan, di sinilah, di tempat ini, di kampus utama Hidayatullah Medan ini, para santri dilatih, digembleng dan dibina untuk menjadi kader mujahid dakwah,” imbuhnya.

Hamim menerangkan, menjadi dai adalah menjadi manusia pilihan Allah. Dan menjadi manusia pilihan Allah seharusnya menjadi pilihan kita semua. Hanya lewat dan melalui dakwah, maka Islam ini bisa sampai ke seluruh penjuru bumi.

“Bermula dari Jazirah Arab kemudian tersebar dan tersiar ke seluruh penjuru dunia, sampai ke Indoseia, bahkan sampai ke pelosok di tempat dimana kita tinggal dan hidup. Kita semua harus menyiapkan diri untuk menjadi mujahid dakwah,” katanya berpesan.

Beliau menambahkan, di semua daerah di tempat kita bertugas harus tersedia tempat untuk menjadi pintu dakwah sehingga Islam ini bisa jaya dibumi nusantara ini. Dia menamsilkan, kalau ada santri ditanya oleh orangtuanya: “Apa cita-citamu, nak?” Kemudian jawabannya adalah: “Aku ingin menjadi mujahid dakwah yang akan bertugas ke penjuru bumi”, maka itu adalah jawaban yang sangat keren.

“Santri Hidayatullah harus siap untuk tugas dakwah sampai keluar negeri. Sebab sekarang ini perwakilan Hidayatullah di Mesir sudah dibuka. Siapa saja sekarang ini bisa menjadi ilmuwan dan berangkat ke Mesir. Dan kita bisa ke Eropa, pintu sudah dibuka,” ungkapnya.

Diutarakannya, saat ini sudah terbuka kesempatan bagi santri untuk belajar ke luar negeri. Hamim mengaku sangat yakin 10 tahun yang akan datang Hidayatullah akan menyebarkan dakwah sampai keluar negeri.

“Dari Istanbul kita masuk ke Eropa. Istanbul akan menjadi pintu masuk ke Eropa. Kita sudah punya jaringan di Istanbul. Allah siapkan bumi dan langit ini untuk kita. Allah akan tundukkan semua untuk kita. Dan jalan yang paling mudah untuk memasuki Eropa adalah melalui jalan dakwah,” imbuhnya mantap.

Dia menyampaikan Kampus Utama Hidayatullah Medan akan menjadi “menara air”, bukan “menara gading”. Menara air akan memberi manfaat ke semua penjuru, sedang menara gading hanya besar dan indah dipandang oleh orang, tetapi tidak memberi manfaat apa apa.

“Kampus Utama Hidayatullah Medan ini akan menjadi pusat peradaban, pusat kebaikan, pusat gerakan dakwah. Alhamdulillah masjidnya sudah indah, maka harus dihadirkan muadzin yang suaranya indah untuk memanggil umat untuk berjamaah. Allah itu Maha Indah mencintai keindahan,” kata dia.

Maka sebab itu, ia menegaskan, kita harus jaga keindahan kampus ini. Tanaman-tanamannya dan tamannya harus dijaga keindahannya. Harus selalu dan senantiasa dihadirkan keindahan di sini di tempat ini.

“Shalat berjamaah adalah pemandangan yang paling indah. Oleh karena itu, jangan sampai rusak keindahan shalat berjamaah ini karena ada yang santri yang ngantuk. Kader harus semangat. Tidak pengantukan,” katanya berseloroh seraya menutup taushianya.(cam/ybh)

Kader Dai Hidayatullah Harus Tebar Rahmat ke Penjuru Dunia

MEDAN (Hidayatullah.or.id) — Anggota Dewan Pertimbangan Hidayatullah Ust Hamim Thohari mengatakan kader dai Hidayatullah jangan hanya menikmati keindahan dan kenikmatan berislam sendirian atau dinikmati komunitasnya saja di mana dia berada. Kader Hidayatullah justru harus keluar menyebarkan rahmat Islam bahkan ke seluruh dunia.

“Keberadaan organisasi kita Hidayatullah sebagai wadah untuk menebarkan risalah Islam yang agung. Harus kita wujudkan ,kita menangkan dan kita perjuangkan. Kampus Hidayatullah harus banyak melahirkan kader yang bisa disebar ke seluruh daerah dan ke seluruh wilayah Nusantara bahkan ke seluruh dunia,” katanya.

Hal itu disampaikan beliau dalam taushiyah shubuh di Masjid Al Akbar Pondok Pesantren Hidayatullah Medan disela sela Musyawarah Wilayah (Muswil) Hidayatullah Sumatera Utara (Sumut) yang digelar 5-6 Desember 2020.

Dia mengatakan, diselenggarakannya Musyawarah Wilayah Hidayatullah Sumut diharapkan akan terbangun jaringan dakwah yang lebih lengkap dan lebih cepat, terorganisir, terstruktur dan massif sedemikian rupa.

Menurut beliau, kegiatan kegiatan yang bersifat koordinatif seperti Musyawara Wilayah penting untuk terus memantapkan langkah ke depan dalam rangka berkhidmat untuk agama, bangsa dan segenap alam semesta.

Termasuk rangkaian acara yang berpusat di masjid seperti taushiah, halaqah Al Qur’an dan kegiatan laporan perjalanan dakwah langsung di hadapan jamaah merupakan bentuk sosialisasi yang sangat luar biasa.

“Dari acara ini santri akan melihat para orangtuanya, para gurunya, para seniornya berkumpul, berdiskusi, bermusyawarah membicarakan kemajuan Islam. Kemudian mereka akan meniru dan tumbuh keinginan menjadi dai seperti para orangtua dan para seniornya yang sudah berkiprah berbagai wilayah dan daerah di Nusantara ini. Ini adalah ajang sosialisasi sekaligus kaderisasi,” katanya.

Beliau mengimbuhkan, hal yang tak kalah penting dan tidak boleh dilupakan adalah bahwah kegiatan taushiyah selepas shalat berjamaah di masjid seperti ini menjadikan anak-anak dan para santri bisa menyaksikan para orangtua dan para seniornya berkumpul bersama.

“Makan bersama, bercanda bersama, berdiskusi dan bersilaturrahmi, merencanakan langkah dan strategi perlangkahan dakwah kedepan,” tukasnya. (cam/ybh)

Rapat Kerja Nasional Diawali Rapat Pleno DPP Hidayatullah

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah menggelar Rapat Pleno yang diselenggarakan selama 2 hari di Kampus Hidayatullah Depok, Jawa Barat, 21-22 Desember 2020.

Ketua Umum DPP Hidayatullah KH Dr Nasirul Haq, MA yang membuka acara ini memaparkan arah, kebijakan dan strategi Hidayatullah lima tahun ke depan.

Agenda prioritas pada periode 2020-2025 dalam mewujudkan visi organisasi melalui gerakan tarbiyah dan dakwah diawali dengan tri-konsolidasi, yaitu: konsolidasi ideologi, konsolidasi organisasi dan konsolidasi wawasan.

Konsolidasi ideologi ingin memastikan proses internalisasi keimanan atau manifestasi iman dalam setiap aspek kehidupan seorang kader bahkan dalam setiap dinamika organisasi berlangsung dengan intens dan berkualitas sehingga setiap kader bisa merepresentasikan diri sebagai ideolog-ideolog Islam yang mampu berkorban dan punya kesiapan mengambil resiko maksimum untuk izzul islam wal muslimun.

Demikian juga kepemimpinan dalam sebuah Organisasi pergerakan seperti Hidayatullah, harus tergambar suatu kesadaran ideologis yang memadai serta kinerja yang memiliki dampak positif dan kontributif terhadap problem-problem keummatan.

“Kita ingin menjalankan program kerja secara konsisten dengan manhaj yang kita anut selama ini,” katanya seraya menekankan bahwasanya melalui Hidayatullah kita jadikan wasilah dalam rangka menggapai ridha Allah SWT dengan gerakan dakwah dan tarbiyah.

“Kita berorganisasi hanyalah sebuah wasilah, sesungguhnya kita sedang berislam. Kita hadir dalam rangka berQuran dan mendakwahkan Al Quran sebagai jatidiri yang harus menjadi spirit,” pungkasnya.

Insya Allah Hidayatullah akan menggelar Rapat Kerja Nasional pada akhir bulan Desember ini dalam rangka memantapkan program kerja 5 tahun mendatang serta melakukan berbagai penguatan dan evaluasi terhadap berbagai hal.(amj/ybh)

Mimpi Rakyat Indonesia, Pemuda yang Bisa Wujudkan?

0

Malam masih pekat, seperti biasa saya membuka PC kesayangan di rumah, kemudian ketemu buku Haryatmoko yang berjudul “Etika Publik untuk Integritas Pejabat Publik dan Politisi.”

Sekalipun terbit pada tahun 2011, buku itu seakan relevan dibaca oleh siapapun yang kini berada di dalam pemerintahan maupun legislatif di DPR.

Satu uraian menarik ada di halaman 165 tentang Transparansi Menghadapi Korupsi Kartel-Elite.

Di sana dituliskan, “Bagaimana mungkin wakil rakyat bisa mengawasi korupsi atau pelanggaran seperti itu kalau partai atau pemimpin mereka menjadi bagian di dalam transaksi besar itu?

Kemudian dilanjutkan, “Apalagi alat penegak hukum (polisi, jaksa) yang jabatan pemimpinnya ditentukan oleh penguasa politik; bahkan seandainya ada aparat yang jujur dan penuh dedikasi pun, tidak bisa tidak juga harus menuruti kemauan kartel-elite itu.

Banyak strategi manipulatif lain yang membuat masyarakat tidak sadar telah diperdaya sehingga kasus-kasus korupsi menguap begitu saja dan koruptor menikmati impunity (tiada sanksi hukum).”

Penjelasan di atas bukanlah uraian baru, namun itulah yang selama ini belum bisa diatasi oleh negeri ini, sekalipun koruptor terus ditangkap dan seruan anti korupsi tidak pernah berhenti disuarakan.

ICW mencatat, sebagaimana rilis sebuah media online, bahwa ada 169 kasus korupsi sepanjang semester I 2020.

Peneliti Indonesia Corruption Watch (ICW) Wana Alamsyah mengatakan, terdapat 169 kasus korupsi selama periode semester satu tahun 2020.

Hal ini ia katakan berdasarkan pemantauan yang dilakukan ICW sejak 1 Januari hingga 30 Juni 2020. “Kasusnya ada sekitar 169 kasus korupsi sepanjang semester satu 2020,” kata Wana melalui telekonferensi, Selasa (29/9/2020).

Dari 169 kasus korupsi yang disidik oleh penegak hukum, kata Wana, 139 kasus di antaranya merupakan kasus korupsi baru.

Hal ini menunjukkan bahwa realitas bangsa Indonesia masih belum beranjak dari kegelapan berupa langkanya cahaya kejujuran. Ini berarti, keadilan, kesejahteraan, dan kemajuan bangsa masih menjadi mimpi besar seluruh rakyat Indonesia.

Dakwah dan Tarbiyah

Menyadari kondisi tersebut, apa peran yang bisa kita hadirkan untuk mewujudkan mimpi rakyat Indoensia tersebut? Bagi Pemuda Hidayatullah, jelas, langkah yang harus dikuatkan adalah gerakan dakwah dan tarbiyah.

Dakwah secara umum berarti memperkuat gerakan edukasi, pencerahan dan penyadaran generasi milenial perihal pentingnya menjadi manusia yang jujur, yakin sepenuh hati bahwa rezeki sudah Allah tentukan, sehingga yang perlu jadi mainstream dalam hidup adalah kerja penuh kesungguhan, ikhlas, dan hadirkan mindset dalam diri tidak makan kecuali hasil keringat sendiri.

Mungkin ini terkesan biasa, namun kala ini mewujud dalam bentuk kesadaran dan budaya baru generasi milenial, ke depan mereka bukan lagi orang yang setiap pemilu datang pikirannya, apa yang saya dapatkan dari orang yang akan saya pilih. Tapi sebuah langkah pasti bahwa orang atau partai yang dipilihnya benar-benar jujur, dapat dipercaya dan benar-benar terbukti membela rakyat.

Tarbiyah berarti mengajak generasi milenial kembali pada tradisi-tradisi progresif beradab dalam bentuk aktif dalam komunitas keilmuan, pelatihan, dan kreativitas yang dapat mendorong skill dan kemampuan menjawab tantangan bahkan mandiri dan terdepan secara ekonomi, sehingga keberadaannya mampu memberi kontribusi bagi bangsa dan negara, bukan malah jadi beban dan sampah pembangunan.

Upaya ini bisa dilakukan dengan menjadikan sarana media sosial sebagai alat komunikasi dan publikasi perihal beragam program pendidikan yang dijalankan dan ditawarkan, sehingga semakin banyak generasi muda tersentuh dan terlayani dengan program ini.

Jika ini bergulir dan terus berjalan, maka pencerahan akan terus terjadi dan keadaan perlahan pasti akan dapat kita ubah menjadi lebih baik.

Oleh karena itu, isu, problem, dan segala PR bangsa Indonesia tak cukup dikutuk, tapi harus kita temukan solusi mengatasinya, meski dengan memulai satu langkah yang sederhana. Pepatah mengatakan, “Perjalanan 1000 mil itu dimulai dari satu langkah.”

Di sini, kaum muda harus siap bekerja keras, bekerja sungguh-sungguh dan bekerja ikhlas yang dibuktikan dengan komitmen pada apa yang telah direncanakan untuk segera dituangkan dalam nafas kehidupan sehari-hari. Insha Allah dengan penyempurnaan ikhtiar dalam wujud doa dan musyawarah, keadaan ini perlahan akan bisa kita ubah, insha Allah.

Terlebih dalam kajian Manhaj Sistematika Wahyu kita temukan satu fakta luar biasa, bahwa kejahiliyahan kaum kafir Quraisy bisa diatasi dengan langkah nyata Iqra’ Bismirabbik yang terus digulirkan dan dihadirkan dalam kehidupan nyata. Dengan kata lain, Pemuda Hidayatullah insha Allah bisa dan akan Allah mampukan untuk mewujudkan mimpi seluruh rakyat Indonesia. Bersemangatlah wahai kaum muda tercinta.*

Imam Nawawi, Ketua Umum Pemuda Hidayatullah

Wakil Walikota Terima Pemuda Hidayatullah Balikpapan

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Walikota Balikpapan Rahmad Mas’ud menerima kunjungan audiensi silaturrahim rombongan Pengurus Daerah (PD) Pemuda Hidayatullah Balikpapan di ruang kerjanya di Balaikota Balikpapan, Senin (14/11/2020).

Pada kesempatan tersebut rombongan yang dipimpin oleh Ketua PD Pemuda Hidayatullah Balikpapan, Imam Muhammad Fathi Farhat, menyampaikan terimakasih atas kesediaan Wawali pada kesempatan tersebut.

Imam juga sekaligus melaporkan hasil Musyawarah Daerah Pemuda Hdayatullah Balikpapan yang digelar awal bulan ini. Pihaknya meminta doa restu dan menjajaki sinergi kepada kepungurusan baru Pemuda Hidayatullah Balikpapan.

Masih dalam kesempatan yang sama, Imam juga melaporkan kepada Wawali tentang beragam program Pemuda Hidayatullah Balikpapan yang kini sudah dan akan berjalan seperti Ojol Mengaji, Pasukan Oranye, Yatim Dhuafa Mengaji dan lain sebagainya.

Wawali Rahmad menerima hangat kedatangan rombongan tamunya dengan sapaan hangat. Ia juga sempat menanyakan dulu apakah berpuasa sunnah pada hari itu sebelum menyajikan penganan khas.

“Kami punya 6 titik utama di kecamatan yang ada di Balikpapan untuk menghadirkan rumah atau majelis Quran khusus orang tidak mampu dan sudah mempunyai kurikulum dalam penyelenggaraannya,” kata Imam.

Rahmat juga menyambut baik berbagai program yang ditawarkan oleh Pemuda Hidayatullah Balikpapan dalam melakukan gerakan pengarusutamaan memasyarakatkan Al Qur’an terutama untuk kalangan butu aksara kitab suci.

“Program kalian adalah gambaran visi misi kami di pemerintahan nanti, bagaimana Balikpapan ini bisa menjadi Berimandah. Bersih, Indah, Aman, Nyaman dan Bersedekah,” kata Wawali.

Wawali menyampaikan apresiasi dan menyatakan dukungannya untuk mendorong penguatan kontribusi Pemuda Hidayatullah Balikpapan dalam pembangunan terutama dalam pembangunan manusia yang beriman, bertakwa, progresif beradab.

“Pemerintah sangat mengapresiasi dan siap membantu untuk suksesnya program Pemuda Hidayatullah,” tandas Wawali.

Sebelum memungkasi pertemuan, pada kesempatan tersebut Pemuda Hidayatullah memberikan cindremata kepada Wawali Balikpapan yang memiliki makna dan falsafah tersendiri yang diharapkan menjadi bekal spirit bagi Wakil Walikota dalam memimpin Kota Beriman ini. (ybh/hio)