Beranda blog Halaman 445

Task Hidayatullah Bergerak Mambantu Korban Banjir Luwu Utara

0

LUWU UTARA (Hidayatullah.or.id) — Tim Aksi Siaga Kemanusiaan (TASK) dalam hal ini Laznas BMH bersama SAR Hidayatullah telah tiba di lokasi banjir bandang yang terjadi di Masamba Luwu Utara. Kordinator aksi kali ini mengatakan bahwa tim yang diterjunkan telah menempati posko-posko yang ditunjuk.

“Alhamdulillah, tim bantuan relawan dan logistik telah tiba di lokasi, di Masamba dan saat ini telah menempati posko sementara, yakni Pesantren Hidayatullah Masamba yang jarak dari lokasi kejadian sejauh 1 Kilometer”
terang Koordinator Lapangan Aksi Peduli Bencana BMH-SAR Hidayatullah, Rizki Dacosta (14/7).

Rizki juga menjelaskan kordinasi akan terus dilakukan Task Hidayatullah agar para warga yang belum mendapatkan bantuan segera di evakuasi k

“Tim langsung melakukan beragam koordinasi dan melakukan evakuasi awal untuk membantu warga yang belum mendapat bantuan penyelamatan untuk selanjutnya diarahkan ke lokasi yang lebih aman,” jelasnya.

Sejauh ini di lokasi telah siaga 37 personil relawan yang terbagi dalam dua tugas utama, yakni evakuasi dan pembagian logistik. Sepanjang hari ini tim bergerak membantu evakuasi barang-barang milik warga, membersihkan material lumpur sisa banjir.

“Insya Allah aksi ini terus dilangsungkan, mengingat area dampak banjir cukup luas,” imbuh Rizki.

Bantuan mendesak yang sangat dibutuhkan untuk aksi tanggap darurat ini adalah APD dan beragam alat kebersihan. Sedangkan untuk warga terdampak banjir adalah makanan, minuman, selimut, dan beragam keperluan bayi dan wanita, serta penerangan yang memadai, karena hingga saat ini listrik masih padam.*/Herim

Renungan untuk Para Pemuda Aktivis

0

“Jika diri berniat membuat masakan, maka pastikan semua bahan dan alat telah disiapkan.”

Ungkapan ini bisa jadi arahan pertama stering commite kepada jajaran organizing commite dalam sebuah gelaran acara pada even tertentu. Namun hal ini berlaku umum, jika ditarik pada konteks yang lebih luas.

Sebagai contoh, kita bisa ubah kalimat di atas menjadi seperti ini. “Jika Presiden berniat mensejahterakan rakyat, maka pastikan semua sosok yang akan dipilih duduk di jabatan strategis adalah pribadi yang berintegritas dan memiliki trackrecord terdepan dalam urusan dan pembelaan terhadap rakyat.”

Sesimpel itu? Ya, sesimpel itu. Itulah kenapa kala masuk ke pasar, Umar bin Khathab tidak menyiapkan training marketing. Malah ia berseru, “Tidak boleh masuk pasar (menjadi pedagang) kecuali yang memahami fiqh (mengerti halal dan haram).

Dan, tindakan seperti itu tidak mungkin diambil oleh seorang pemimpin yang dia sendiri tidak mengerti mengapa dan bagaimana dalam memimpin. Dalam kata lain, kini kita berada di era dimana kadang seorang presiden bukanlah pengendali, justru ia sosok yang paling terkendali, sehingga kerapkali, mulai dari ucapan sampai kebijakan sering bikin rakyat awam pun bertanya-tanya.

Sekalipun ada sosok pembeda dalam hal ini, yakni Presiden Turki Erdogan yang walau pun Amerika, Eropa dan Rusia menentang pengembalian Hagia Sophia menjadi masjid, ia tetap pada pendiriannya. Kenapa? Jelas, historis, bukti, dan argumentasi jauh lebih unggul dibanding mereka yang tak mengerti namun ke media memprotes seolah keputusan Erdogan salah.

Erdogan benar-benar istimewa, bagi rakyat Turki ia baik karena berani mengembalikan Hagia Sophia menjadi masjid. Bagi umat Islam dunia, ia pemimpin luar biasa. Indonesia bahkan menjadi negara yang banyak channel youtube mengulas soal Hagia Sophia dengan perspektif yang progresif.

Bagaimana Membentuk Diri ?

Pertanyaannya adalah mengapa Presiden Turki luar biasa dan Presiden Indonesia biasa saja?

Jawaban analisanya sudah kita sama-sama pahami. Tetapi langkah yang lebih penting adalah bagaimana membentuk diri menjadi pemimpin yang tak sekedar baik, tapi luar biasa.

Pertama, bertanyalah dalam hati, apakah dengan amanah kepemimpinan ini saya akan membawa kemajuan?

Jika jawabannya, iya. Maka sejak sekarang dan hari-hari ke depan pikiran dan tindakan akan difokuskan bagaimana menghadirkan kemajuan demi kemajuan, sekalipun sederhana, sedepa, atau bahkan setitik. Dalam bahasa Ustadz Abdullah Said, jangan ada sedetik berlalu tanpa kemajuan dakwah.

Bahkan betapa penting pertanyaan bagi sosok pemimpin, Albert Einstein berkata, “Jika saya diberikan satu jam untuk menyelesaikan sebuah masalah yang mana hidup saya bergantung pad ahal tersebut, maka 55 menit pertama akan saya habiskan untuk menentukan pertanyaan yang paling tepat. Begitu saya mengetahui pertanyaan yang paling tepat dan sesuai untuk masalah tersebut, maka dalam waktu kurang 5 menit saya akan mampu memecahkan masalah tersebut.”

Sekarang betapa banyak anak muda yang diberi latihan kepemimpinan lantas kala ditanya progresivitas hanya mampu merangkai kalimat keluhan demi keluhan?

Jadi, coba lakukan bertanya dalam diri sendiri, jawab dengan jujur dan transformasikanlah jawaban jujur itu di dalam realita kehidupan.

Kedua, jujur, apakah diri benar-benar ingin membentuk diri atau mencari keuntungan pragmatis?

Melatih diri dalam wahana kepemimpinan sebenarnya suatu hal yang sangat istimewa. Tapi sayang disayang, banyak anak muda memandang latihan kepemimpinan dalam sebuah organisasi hanya sebagai cara tebar pesona. Akibatnya mereka silau dengan hal-hal yang artifisial dan jauh dari hal-hal substansisal.

Bicara saja dulu, harus berani, soal salah benar urusan belakangan. Akibatnya jelas, sekarang Indonesia kaya sosok pejabat yang bicara sekenanya dan tak ada rasa bersalah. Bahkan andai pun dipaska untuk revisi berkali-kali.

Oleh karena itu cara membentuk diri yang terbaik adalah jujur pada diri sendiri bahwa berlatih kepemimpinan dalam organisasi adalah sebagai media menempa diri untuk mendapat keuntungan hakiki bukan artifisial.

Artinya siap menempa diri, siap berperan, siap bertanggungjawab, sehingga tidak suka merangkai kalimat keluhan dan menyalahkan orang. Apalagi sangat antusias kala melihat akan ada keuntungan bisa dikantongi dan sebaliknya sangat tidak peduli bila sesuatu dipandangnya tak memberikan pundi-pundi Rupiah.

Sosok pemimpin besar masa kini dan nanti adalah pribadi yang siap konsisten dan percaya diri membangun kepribadian yang unggul. Seperti Nabi Yusuf Alayhissalam yang tak pernah kampanye bahwa dirinya layak memimpin. Seperti Umar yang tak ingin keturunannya menjadi pemimpin hingga melahirkan dinasti. Seperti Al-Fatih yang tidak mengambil keputusan melainkan akan sejati dalam kebenaran.

فَاَ مَّا الزَّبَدُ فَيَذْهَبُ جُفَآءً ۚ وَاَ مَّا مَا يَنْفَعُ النَّا سَ فَيَمْكُثُ فِى الْاَ رْضِ ۗ كَذٰلِكَ يَضْرِبُ اللّٰهُ الْاَ مْثَا لَ ۗ 

“Adapun buih, akan hilang sebagai sesuatu yang tidak ada gunanya; tetapi yang bermanfaat bagi manusia, akan tetap ada di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan.” (QS. Ar-Ra’d [13]: 17).

Dalam kata yang lain, manusia yang berorientasi pada keuntungan pragmatis tak ubahnya buih, ia akan banyak uang, aset, dan kedudukan, tapi akhirnya hilang. Karena memang sepanjang hidup tidak ada gunanya bagi manusia lain. Sedangkan manusia yang berorientasi jauh, mencari ridha Allah dan keuntungan negeri akhirat, ia akan abadi dan terus menjadi bintang dalam setiap perbincangan umat manusia dari zaman ke zaman. Allahu a’lam.*

Imam Nawawi, Ketua Umum Pemuda Hidayatullah

[DOWNLOAD] Naskah Khutbah Idul Adha 1441 Hijriyah

HIDORID – Berikut ini naskah khutbah Idul Adha 1441 Hijriyah, dirilis DPP Hidayatullah. Semoga bermanfaat dan dapat dimanfaatkan seluas-luasnya kaum muslimin.

DOWNLOAD, KLIK DI SINI (Acrobat Reader/Pdf)

Popes Hidayatullah Surabaya Raih Prestasi Pada Mathematics Competition 2020

0

SURABAYA (Hidayatullah.or.id) — Pandemi Covid-19 mempengaruhi hampir semua tatanan kehidupan. Tak terkecuali bidang perlombaan, kompetisi, dan kejuaraan. Deretan ajang lomba olimpiade baik nasional maupun internasional mengalami penundaan hingga pembatalan akibat kekhawatiran penularan virus Corona.

Pandemi tak berarti surut prestasi. Di tengah ketidakpastian bukan menjadi alasan untuk berkarya asal-asalan. Semua harus dikerjakan secara maksimal untuk meraih hasil yang membanggakan.

Di masa pandemi ini, Sekolah Integral Luqman Al Hakim (Siluqim) Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya tetap mengukir prestasi. Kali ini dalam ajang International Kangaroo Mathematics Contest (IKMC) 2020. Pelaksanaan lomba dilakukan secara online, ahad (21/06/2020) lalu.

Hasil akhir IKMC diumumkan pada, sabtu (11/07/2020) kemarin. Tim Olimpiade Siluqim berhasil memenangkan 22 medali. Dengan rincian 3 medali emas, 10 medali perak, dan 9 medali perunggu.

Perolehan medali selengkapnya bisa di lihat pada tabel berikut:

IKMC merupakan sebuah Kompetisi matematika Internasional yang telah dilaksanakan sejak tahun 1991 oleh Association Kangourou Sans Frontières. Diikuti oleh peserta dari hampir seluruh dunia. Tahun ini tercatat sebanyak 82 negara ikut berpartisipasi.

Negara-negara yang berpartisipasi dalam IKMC edisi 2020 diantaranya mulai dari Albania, Austria, Belgium, Brazil, Canada, Czech Republic, Denmark, Finland, France, Germany, Indonesia, Iran, Italy, Malaysia, Mexico, Netherlands, Nigeria, Norway, Poland, Portugal, Russian Federation, Singapore, South Korea, Spain, Turkey, United Kingdom, hingga United States.

Level lomba dalam IKMC 2020 dibagi menjadi beberapa kategori. Yakni Kelas 1 dan 2 level PreEcolier, Kelas 3 dan 4 level Ecolier, Kelas 5 dan 6 level Benjamin, Kelas 7 dan 8 level Cadet, Kelas 9 dan 10 level Junior, dan Kelas 11 dan 12 level Student. Pada tahun ini, Klinik Pendidikan MIPA menjadi partner sekaligus penyelenggara tunggal IKMC di Indonesia.

Adi Purwanto, M.Pd penanggung jawab Tim Olimpiade Siluqim menjelaskan bahwa di tengah pandemi-covid 19 ini, program pembinaan dan perlombaan olimpiade terus berjalan. Metode pembinaan beralih dari tatap muka ke daring atau online.

“Pandemi Covid-19 ini tidak membuat kami berhenti melakukan pembinaan. Justru mendorong kami untuk istiqomah dan terus berkarya dalam dunia pendidikan. Situasi ini juga mengajarkan kami untuk bekerja keras demi meraih hasil yang terbaik.” ujar Adi Purwanto.

Teruslah berkarya dan berprestasi. Jadikan pandemi sebagai pelecut semangat dan bersungguh-sungguh untuk terus berprestasi. Bagi kami prestasi adalah sarana dakwah untuk terus meninggikan kalimat-Nya. *Cakrud/humassilh

Luqman Al Hakim Surabaya Gelar Ta’aruf Virtual Santri Baru

0

SURABAYA (Hidayatullah.or.id) — Di masa pandemi Covid-19 saat ini, orientasi pengenalan peserta didik baru tidak diperkenankan dilakukan secara langsung. Tetapi harus secara daring atau online.

Sabtu kemarin, Sekolah Integral Luqman Al Hakim, Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya menyelenggarakan kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Pesantren (MPLP) mulai dari jenjang KB-TK Yaa Bunayya, kelas 1 SD, kelas 7 SMP, hingga kelas 10 SMA Luqman Al Hakim Surabaya tahun ajaran baru 2020-2021.

Digelar secra virtual, kegiatan ini mengusung tema Membangun Sinergi Menyemai Generasi Rabbani. Agenda tiap awal tahun ajaran baru ini dimaksudkan untuk mengenalkan biah pondok pesantren Hidayatullah Surabaya seperti visi, misi, kultur atau budaya pesantren, kegiatan harian pesantren, hak dan kewajiban sekolah dan orang tua, dan lain sebagainya.

Mengunakan aplikasi Microsoft Teams, orang tua wali santri baru mengikuti kegiatan taaruf kelembagaan ini dari rumah masing-masing dipandu tim IT panitia. Hadir dalam kegiatan ini Badan Pembina Pondok Pesantren Hidayatullah (PPH) Surabaya, Badan Pengurus PPH Surabaya beserta seluruh jajarannya, dan seluruh kepala unit pendidikan Sekolah Integral Luqman Al Hakim Surabaya.

Serah terima santri baru secara simbolis dari orang tua santri kepada pengurus pesantren diterima oleh Kepala Departeman Tarbiyah PPH Surabaya oleh Ustadz Marni Mulyana, Dalam keterangan tertulisnya, Marni menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan mewujudkan sinergi antara orang tua dan wali santri dalam proses kegiatan belajar mengajar.

“Di tengah pandemi Covid-19 saat ini, Pesantren, sekolah, dan orang tua harus bersinergi agar proses dan tujuan pembelajaran, yakni membentuk generasi rabbani bisa terwujud” jelasnya.

Sementara itu, Taujih kelembagaan disampaikan Ketua Badan Pembina PPH Surabaya Ustadz Abdul Rahman, SE. Beliau berpesan bahwa proses pendidikan harus tetap berjalan meskipun di tengah pandemi Covid-19. Merujuk kepada hadist Rasulullah Saw bahwa pendidikan harus istiqomah, tiada henti dilakukan mulai dari buaian ibu sampai ke liang lahat.

“Pendidikan harus terus berjalan, apapun tantangannya. Mengingat bahwa pendidikan adalah wujud nyata perintah ber-iqra, sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah Swt” pesan beliau.

Sementara itu, seluruh panitia dan undangan yang ada di ruang pertemuan offline wajib mengikuti protokol kesehatan pencegahan penyebaran Covid-19 dengan memakai masker, faceshild dan menjaga jarak.

Antusiasme orang tua wali santri baru sangat tinggi dalam mengikuti kegiatan ini. Ditunjukkan dengan tingginya jumlah kehadiran yang terlihat dalam aplikasi meeting online ini. */cakrud/humassilh

LBH Hidayatullah Dampingi Imigran Palestina Menghirup Udara Bebas

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Majeed WS Idris Dalal (41 tahun) akhirnya bisa menghirup udara bebas setelah sembilan bulan menghuni sel Lapas Pemuda Tangerang. Hari Jumat (10/07/20) tepat Pukul 10.00 dengan dijemput petugas imigrasi Tangerang dan didampingi Tim Pengacaranya, Majeed keluar dari LP Pemuda Tangerang. Majeed nampak berseri menyambut hari pembebasannya.


Kisah Tragis Majeed hingga harus mendekam di Lapas Pemuda Tangerang, berawal dari kisah pilu warga Palestina yang terusir dari tanah kelahirannya oleh tentara Israel.

Keluarga Majeed kemudian mengungsi ke Syiria. Tanah Syiria yang diharapkan bisa menjadi tanah pengungsian yang tenang, justru menjadi daerah konflik. Tahun 2015, Majeed beserta Istri dan Anaknya mengungsi kembali ke Turki. Disana ia mendapat izin tinggal sementara sampai 16 April 2020. Bulan Oktober 2019 Majeed berniat mencari Suaka dan Penghidupan lebih baik, atas saran kawannya di Turki, Majeed diarahkan untuk berangkat ke Belanda melalui jalur Indonesia.

Belanda menjadi pilihan, karena menurut informasi yang didapatnya, negara ini sangat ramah terhadap pengungsi. Namun karena Belanda tidak mempunyai hubungan diplomatik dengan Palestina, Majeed dibuatkan paspor dari Negara Cekoslovakia. Inilah petaka yang dialami Majeed terjadi, karena saat memasuki Indonesia di Bandara Soekarno Hatta, Petugas Imigrasi mencurigai paspor yang digunakan oleh Majeed sebagai paspor palsu, hingga dilakukan pemeriksaan dan penangkapan.


Majeed kemudian harus berhadapan dengan hukum Indonesia, ia didakwa melanggar Pasal 119 ayat (2) Undang-undang RI Nomor 6 Tahun 2011 tentang Keimigrasian, karena terbukti menggunakan paspor palsu saat memasuki wilayah Indonesia. Pada Persidangan hari kamis (12/03/2020) Majeed divonis bersalah dengan dijatuhi hukuman 8 bulan penjara dan denda 100 juta rupiah subsidair satu bulan penjara.

Vonis tersebut lebih ringan dari tuntutan jaksa dari Kejaksaan Negeri Kota Tangerang yang menuntut selama 10 bulan dan denda 100 juta subsidair 3 bulan penjara.


Sebenarnya, Tim Penasehat Hukum gabungan dari LBH Hidayatullah dan LBH Paham sejumlah 7 orang, antara lain; Dr. Dudung Amadung Abdullah, SH, Amar Ihsan Rangkuti, SH, Helmy Al-Djufri, SH, MSi, Hidayatullah, SH.MAg, Fahrul Ramadan, SH, Agus Gunawan, SH dan Andri Sukatma, SH.

Tim Hukum sudah melakukan pembelaan maksimal dengan dalih bahwa apa yang dilakukan oleh Majeed berada dalam kondisi darurat, mengingat Majeed adalah warga korban konflik. Namun hal tersebut dikesampingkan oleh Majlis Hakim. Dimana dalam pertimbangannya menilai bahwa Majeed sudah hidup tenang di Turki sebagai tempat pengungsian yang aman.

Kini selepas bebas, Majeed menghadapi masalah baru yakni negara tujuan deportasi. Jika dideportasi ke negara asalnya Palestina, itu tidak mungkin karena kampungnya sudah dibumi hanguskan oleh tentara Israel, sementara jika ke Turki, dimana anak dan istrinya tinggal, izin tinggalnya sudah habis sejak April lalu.


”Kami tim hukum berupaya agar Majeed dideportasi ke negara ketiga, yakni Turki, dimana keluarganya (anak dan Istrinya) tinggal. Kami sudah komunikasi dengan Imigrasi dan Kedutaan Palestina agar bisa turut mengusahakan izin tinggal bagi Majeed ke Pemerintah Turki”, jelas Dudung, salah satu Tim Pengacara.


Untuk sementara waktu, Majeed tinggal di rumah detensi imigrasi, selain menunggu kejelasan izin negara tujuan deportasi, juga menunggu aman perjalanan, mengingat pandemi covid19 yang melanda hampir seluruh negara, termasuk Turki. Mohon doa dari semuanya semoga lancar”, pungkas Dudung. (LBHH)

BMH Raih Penghargaan Fundraising Infak Terbaik dari IFI

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Laznas BMH kembali mendapat penghargaan.  Pada Juli 2020 ini BMH meraih penghargaan sebagai lembaga dengan fundraising infak terbaik dari Institut Fundraising Indonesia (IFI).  Pemberian penghargaan  diselenggarakan secara online melalui aplikasi zoom dan juga  disiarkan  oleh RASFM, Kamis (9/7).

BMH menjadi salah satu lembaga yang mendapat penghargaan dalam arena Indonesia Fundraising Award 2020. Ajang tersebut menetapkan 16 kategori penghargaan kepada berbagai lembaga yang bergerak di bidang zakat, kemanusiaan, kesehatan, hingga hukum dan korupsi.

“Terima kasih kepada masyarakat yang telah memberikan kepercayaan kepada BMH, sehingga dapat meraih penghargaan sebagai lembaga dengan fundraising infak terbaik dari IFI. Semoga penghagaan ini menjadi inspirasi dan motivasi gerakan zakat dan infak di Indonesia,” terang Direktur Marketing BMH Pusat, Teuku Lukman Fitriansyah.

Bagi IFI, kategori infak terbaik merupakan bagian dari budaya masyarakat dan bangsa Indonesia yang gemar berbagi. Indonesia menduduki sebagai lima negara terbaik dalam hal berbagi, sehingga sangat penting diberikan apresiasi di kategori ini.

Ngaji On The Road, Santri Khatamkan Qur’an Sambil Liburan

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Pada hari Jumat-Ahad (03-05/06/2020) Santri Pesmadai mengadakan Ngaji On The Road (Ciputat-Serang-Anyer).

Direktur Utama Pesmadai Ahmad Muzakky mengatakan bahwa Ngaji On Road Jilid IV ini adalah suatu gerakan dimana biasanya anak-anak muda bila berekreasi hanya mengunjungi tempat tertentu dan berfoto-foto, tetapi Pesmadai yang keseluruhannya anak muda datang ke suatu tempat untuk liburan dengan mengkhatamkan Al-Qur’an.

Ia memaparkan bahwa Ngaji On The Road Jilid IV ini berbeda dari sebelumnya. Dimana, Jilid I-III hanya berkunjung ke suatu tempat dan mengkhatamkan Al-Qur’an, tetapi di Jilid IV kali ini terselip agenda bersilaturahim dengan orang tua santri yang berdomisili di Tangerang dan Serang, Banten.

Santri dan Asatidz yang berjumlah 15 orang melakukan konvoi dari Ciputat pukul 14.00 WIB dari Asrama Pesmadai Legoso.

Rangkaian kegiatan Ngaji On The Road salah satunya adalah silaturahim dengan orang tua santri yang berdomisili di Tangerang, Serang, dan Cilegon. Orang tua santri sangat senang karena dikunjungi oleh para santri penghafal Al-Qur’an itu.

“Saya berharap silaturahim ini tetap berjalan meskipun nanti adik-adik semua sudah menamatkan pendidikan di Pesmadai,” ucap salah satu orang tua santri.

Ketua rombongan Ngaji On The Road Fauzi mengatakan bahwa kegiatan ini adalah kegiatan yang sangat luar biasa dan merupakan kegiatan yang harus menjamur terutama di kalangan pemuda.

“Seorang pemuda harus memiliki ide-ide cemerlang dalam mendakwahkan Islam serta tidak terlihat kaku. Ngaji On The Road sebagai perwujudan dari dakwah masa kini, dimana berdakwah tidak mesti di atas mimbar dan bisa dilakukan dimana saja.”

Untuk diketahui bahwa Pesmadai adalah lembaga swadaya untuk pengembangan dakwah dan pendidikan, khususnya kalangan mahasiswa di bawah Yayasan Dai Muda Indonesia. Memiliki Legal formal SK Kemenkumham No. AHU-0004236. AH.01.12. Tahun 2018 dan Akta Notaris No. 1 /IK/SK/I/2018, NPWP 84.679.430. 3-002.000.

Diharapkan bahwa lulusan Pesmadai adalah orang-orang yang memiliki ilmu yang luas, hafizh Qur’an, berjiwa sosial yang tinggi, dan seorang entrepreneurship.* (Kiriman Pesmadai)

IMS Buka Cabang Layanan Kesehatan di Condet

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Di tengah normal baru saat pandemi ini, klinik layanan kesehatan didirikan di kawasan Condet, DKI Jakarta.

Soft Opening Klinik Layanan Kesehatan Islam Cabang Condet itu dilakukan Islamic Medical Service (IMS) pada Senin (06/07/2020).

Klinik Layanan Kesehatan Islam ini beralamat di Jl Raya Condet, Nomor 103, Batu Ampar, Kecamatan Kramat Jati, Jakarta Timur.

Ketua Layanan Kesehatan IMS yang juga Ketua Klinik Condet tersebut, dr Muhammad Ridho berharap agar klinik ini memberikan manfaat luas bagi masyarakat dan umat Islam.

“Yaitu (dalam bentuk) memuliakan manusia itu sendiri,” ujarnya di depan para hadirin Soft Opening Klinik.

Yang dimaksud dr Ridho, yaitu, bahwa dalam prinsip Islam, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an, barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya.

Demikianlah diharapkan manfaat yang bisa diberikan klinik tersebut.

Menurut Kepala Depkes DPP Hidayatullah Fathul Adhim, klinik ini seharusnya dibuka pada April 2020 lalu. Namun karena terjadi pandemi dan Pembatasan Sosial Berskala Besar, maka rencana tersebut harus ditunda.

Menurutnya, saat pandemi ini, banyak klinik yang masih tutup, atau setengah buka, atau bahkan yang mati akibat pandemi.

Sehingga, kehadiran klinik IMS diharapkan memberikan manfaat bagi umat di tengah pandemi ini.

Acara soft opening tersebut diramaikan dengan sejumlah kegiatan seperti hapus tato bagi anak punk, khitanan, dan pelayanan kesehatan umum.

Fath pun menekankan bahwa keberadaan klinik ini untuk memberikan manfaat bagi dakwah, sosial, kesehatan, dan sebagainya.

“Klinik bukan hanya dakwah sosial, tapi juga secara materi menghasilkan,” ujarnya dalam sambutannya. Sebab, keberadaan materi dinilai sebagai pendukung dakwah.

Secara resmi, klinik tersebut dibuka oleh Ketua Umum DPP Hidayatullah Nashirul Haq. Dalam sambutannya, ia menekankan perlunya umat Islam menaruh perhatian khusus dalam bidang kesehatan.

“Semoga Allah berikan kemudahan untuk mengelola dan mengembangkan (Layanan Kesehatan Islam Cabang Condet),” ujar Nashirul berharap.*

Kebutuhan Mendesak Akan Kemandirian Umat

0

Kehebohan demi kehebohan seakan tiada henti menghantam keseharian umat Islam, dari politik hingga ekonomi, dari kebutuhan sehari-hari hingga kesadaran akan pentingnya pembelaan terhadap keyakinannya. Terbaru adalah seruan dari MUI, IKADI dan beberapa pihak agar umat memboikot produsen pro-LGBT.

Seperti kita ketahui, LGBT bukan sebatas komunitas seperti anak punk, ini adalah gerakan yang didasari sebuah kesengajaan untuk menyeret orang-orang yang tak begitu kenal akan sejarah dan khazanah peradaban Islam simpati, mendekat, dan akhirnya hanyut dalam gerakan politik mereka yang telah matang secara konsep dan terus merangsek ke berbagai negara di dunia.

Negara-negara yang melegalkan perkawinan sejenis pun terus bertambah dari tahun ke tahun. Terbaru adalah Irlandia Utara yang resmi melegalkan pernikahan sesama jenis, dimana dilaporkan BBC pernikahan sejenis pertama digelar pada Februari 2020. Kini tercatat 30 negara telah melegalkan pernikahan sesama jenis di seluruh dunia. Dan, hanya Taiwan negara di Asia yang telah mengikuti langkah-langkah negara Eropa dan Amerika melegalkan pernikahan yang di zaman Nabi Luth telah mengundang kehancuran luar biasa itu.

Jadi, LGBT ini bukan murni komunitas, tapi sebuah gerakan terstruktur dan sistematis. Menariknya ada semacam “kesepakatan” lain, dimana perusahaan-perusahaan besar, di Indonesia ada Unilever yang semacam wajib atau sangat antusias mendukung kelompok ini. Fakta ini direspon dengan keharusan umat Islam memboikot produk produsen yang mendukung LGBT.

Lebih dari sekedar boikot, umat Islam harus mandiri, wajib untuk mampu memproduksi barang-barang kebutuhannya secara mandiri, sehingga kekuatan ekonomi atau perederan uang kaum Muslimin tidak masuk kepada pihak lain yang walaupun secara ekonomi sangat diuntungkan oleh umat, namun masih saja memilih untuk terus tidak simpati dan empati kepada umat Islam.

Secara fiqh menggunakan produk dari produsen pro-LGBT sebenarnya memiliki catatan serius. Ketua Komisi Bidang Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Prof. Huzaemah Tahido Yanggo menjelaskan pada dasarnya umat Islam harus meninggalkan setiap barang-barang yang sifatnya syubhat, terlebih yang sudah jelas status keharaman dari barang tersebut. Terkecuali bila dalam keadaan darurat dan tidak ada barang lain yang dapat digunakan, dikonsumsi, atau dipakai. Maka barang-barang yang mulanya sifatnya berstatus syubhat atau haram bisa digunakan.

Begitu pun ketika ada perusahaan multinasional yang secara terang-terangan mendukung LGBT. LGBT merupakan perilaku menyimpang yang diharamkan oleh agama Islam.

Maka menurut Prof Huzaemah, bagi umat Islam semestinya sekuat tenaga tidak menggunakan produk-produk perusahaan yang mendukung LGBT itu. Sehingga dengan tidak menggunakan produk perusahaan itu seorang Muslim terhindar dari tergolong sebagai orang yang turut mendukung LGBT. 

“Karena perusahaan itu mendukung sesuatu yang haram, berarti (produk-produk yang dijual) itu digunakan sebagai alat untuk berbuat haram lagi nantinya. Berarti kita mendukung, karena itu kita hindari supaya kita tidak ikut dapat dosa. Kecuali kalau tidak ada yang lain sementara kita butuh, itu boleh,” kata Huzaemah kepada Republika.co.id.

Langkah Sinergis

Merespon masalah ini harusnya mendorong kesadaran kolektif dari umat Islam, sebagaimana gerakan yang menuntut secara hukum penista agama juga RUU HIP. Karena bagaimanapun kemandrian ini nafas, nyawa, bahkan lebih dair itu muru’ah dari umat Islam itu sendiri.

Perbankan Syariah harusnya didorong bagaimana melahirkan perusahaan umat yang mampu memproduksi kebutuhan umat secara mandiri, sehingga pada satu dekade ke depan misalnya, umat Islam tidak perlu lagi membeli produk dari perusahaan asing atau di luar umat yang dalam banyak hal ternyata membantu gerakan-gerakan yang di dalam pandangan Islam haram.

Lebih dari sekedar itu, perlahan-lahan beragam workshop, loka karya bahkan training untuk melahirkan generasi yang siap menjadi produsen, ahli dalam pemasaran, dan keuangan harus segera dihadirkan. Jika tidak, maka selamanya kata kemandirian umat ini akan bertengger sebagai wacana dan tidak beranjak menjadi gerakan.

Dan, bagaimana mungkin itu terus terjadi, sedangkan respon umat Islam di negei ini di dalam merespon hegemoni arus dagang Belanda dan China ketika itu adalah dengan mendirikan Syarikat Dagang Indonesia. Kini pertempuran dunia sejatinya bukan lagi politik dan militer, tetapi ekonomi alias dagang (economic war). Sebuah bangsa atau peradaban yang kalah secara ekonomi sudah pasti mau tidak mau harus membeo pada negara yang memiliki kekuatan ekonomi besar.

Mengapa TKA China bebas keluar masuk Indonesia, bahkan pada saat pandemi terjadi? Tidak lain karena bangsa ini bahkan umat ini tidak memiliki kemandirian ekonomi. DImana kemandirian ekonomi sejatinya bukanlah sebab, melainkan akibat.

Ya, akibat dari lemahnya aqidah, sehingga rendah etos kerjanya, mudah putus asa, selalu mengeluh, dan berpikir tidak mungkin dan pesimis, serta sulit terkoordinasi dalam satu kepemimpinan dan gerakan. Jika kultur itu masih dominan hingga hari ini, maka langkah strategisnya menurut Ustadz Abdullah Said harus dimulai dengan perbaikan kualitas syahadat.

Sebab jika mau diteliti, apakah benar tidak ada umat Islam yang kaya? Pasti ada. Apakah benar tidak ada umat Islam yang cerdas, berpengalaman, dan bahkan ahli? Pasti ada. Tetapi mengapa tak mampu memberikan jawaban? Karena masing-masing bergerak sendiri-sendiri. Sampai di sini, apakah relevan dan urgen untuk umat ini memiliki wadah bersama Dewan Kemandirian Ekonomi Umat? Allahu a’lam.

Imam Nawawi, Ketua Umum Pemuda Hidayatullah