Beranda blog Halaman 446

Ketika Ustadz Subur Pramudya Harus Dilantik di Rumah Sakit

0

BENGKULU (Hidayatullah.or.id) — Pasca gelaran Musyawarah Nasional ke-V Hidayatullah yang digelar akhir Oktober lalu, semua Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah se-Indonesia langsung tancap gas.

Sepanjang November ini saja, nyaris tak ada jeda rehat bagi segenap unsur DPP Hidayatullah karena mereka harus kembali berkeliling Indonesia melakukan pendampingan Musyawarah Wilayah (Muswil) ke berbagai provinsi.

Padatnya agenda dan panjangnya rentang masa helatan koordinasi yang tanpa putus dari Munas ke Muswil, tentu membutuhkan tambahan energi, terlebih lagi harus menguras tenaga dan otak dalam rangka memikirkan dakwah ini.

Tak ayal, tidak sedikit yang tumbang karena kelelahan. Seperti dialami salah satunya oleh Ustadz Subur Pramudya. Semangatnya yang selalu membara, membuat Subur lupa menyempatkan diri beristirahat disamping usia yang sudah tak lagi muda.

Subur pun harus dilarikan ke rumah sakit dan menjalani infus beberapa waktu. Padahal, sejatinya, Ustadz Subur Pramudya seharusnya terbang dari Bengkulu ke Medan untuk dilantik menjadi ketua DPW Sumatera Utara.

Namun, Allah mengujinya dengan sakit hingga dirawat di RSKD Bengkulu. Sebelumya, saat Musyawarah Hidayatullah Bengkulu, pria humoris ini sudah terlihat sakit kelelahan, sakit perut, batuk, dan demam. Sehingga ijin keluar masuk di ruang muswil.

Kendati dalam kondisi tubuh yang tidak stabil, Subur tetap saja tampak meriung mengikuti rangkaian acara Muswil Hidayatullah provinsi Bengkulu yang menjadi teritorial tanggung jawabnya tersebut.

Akhirnya, rasa sakitnya tidak tertahankan, ia pun dilarikan ke rumah sakit, diopname dan dibantu dengan oksigen untuk pernafasan. Sementara di waktu yang sama, acara muswil Hidayatullah Sumatera Utara di Medan sedang berlangsung.

Forum Muswil Hidayatullah yang berlangsung di Kampus Hidayatullah Tanjung Morawal itu juga menetapkan Ustadz Subur sebagai Ketua DPW Hidayatullah di utara Sumatera itu melalui penunjukan DPP Hidayatullah.

Karena Ustadz Subur sedang terbaring sakit, panitia pun mencari cara bagaimana pelantikan dapat tetap dilakukan. Akhirnya disepakati untuk pelantikan secara virtual melalui sambungan video call.

Dari kampus Hidayatullah Medan, tersambunglah panitia dengan Ustadz Subur yang menjalani perawatan medis di RSKD Bengkulu. Subur bangun dan melabuhkan tubuhnya di atas bangsal rumah sakit.

Tampak wajahnya tetap berbinar dan senyum terkembang seperti biasa, namun ia tetap tak bisa menyembunyikan rasa sakitnya. Guratan wajahnya memang tampak sangat letih tapi senyumnya tetap mengalirkan optimisme sebagai seorang kader.

Ustadz kelahiran Sragen, Jawa Tengah, ini adalah alumni STAIL Surabaya. Selepas menyelesaikan studi perguruan tigginya, Ustadz Subur ditugaskan Bontang tahun 2002.

Di Kota Taman ia rutin keliling dakwah menggunakan sepeda motornya masuk ke lorong-lorong, kampung-kampung hingga mengaspal ke jalan poros provinsi antar kota Samarinda dan Kutai Timur.

Subur juga berhasil memantapkan dan memoles bidang pendidikan Pondok Pesantren Hidayatullah Bontang terutama Madrasah Ibtidaiyah Ar Riyadh yang kini menjadi sekolah favorit pilihan di kota tersebut.

Sukses mengembangkan pendidikan di Bontang, Ustadz Subur lantas didapuk mengemban amanah yang lebih berat di DPW Hidayatullah Kalimantan Timur membidangi pendidikan.

Dengan kejelian serta konsistensinya dalam memajukan pendidikan, sentuhan tangan dingin Subur lagi lagi berhasil memantapkan peran kependidikan Hidayatullah di Kaltim, kampus Hidayatullah Samarinda salah satunya.

Umumnya murid yang pernah dididik langsung olehnya, menilai Ustadz Subur sebagai figur guru teladan yang disiplin dan tegas. Namun, ia tetaplah sosok humoris dan selalu tampil apa adanya.

Lima tahun kemudian, Ustadz Subur kembali mendapat tugas baru di luar pulau. Dia diangkat menjadi ketua DPW Hidayatullah Bengkulu.

Di Bumi Rafflesia, Subur melakukan pengembangan gerakan dakwah secara massif. Uniknya, karena ia mempercayakan langsung amanah penugasan dakwah kepada anak anak muda yang baru lulus SMA, yang bahkan diantaranya berhasil merintis Kampus Hidayatullah Kabupaten Bengkulu Selatan dan sejumlah kawasan perintisan lainnya.

Kerja dakwah memang tidak mengenal purna, yang, karena itu, dakwah pun tak mengenal purnawirawan dai sebab dakwah adalah tugas setiap muslim dan itu sampai mati.

Kini Subur Pramudya kembali mendapat amanah baru. Di pundaknya terpikul amanah dakwah yang besar dan berat untuk memimpim DPW Sumatera Utara untuk terus bekhidmat pada agama, negara dan bangsa.*/Yacong B. Halike

Menguatkan Aqidah Muslimah dalam Membangun Peradaban

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Webinar series ketiga yang diadakan oleh Panitia Munas V Muslimat Hidayatullah menghadirkan seorang pakar pergerakan Muslimah dari Malaysia, yaitu Dr. Suriani Sudi.

Beliau yang menjabat sebagai Ketua Wanita ISMA Malaysia ini bersanding dengan Dr. (Cand.) Reny Susilowati, M.Pd.I (Ketua Umum PP Muslimat Hidayatullah) dalam seminar yang mengusung tema “Meneguhkan Integritas Muslimah Demi Tegaknya Peradaban Islam.”

Webinar yang diadakan pada Sabtu, 5 Desember 2020 tersebut dimoderatori oleh Ani Chaerani. Dalam pemaparannya, tokoh wanita asal negeri Jiran itu menjelaskan tentang tombak penegak peradaban umat, yang bisa dibagi menjadi dua aspek: rohani-spiritual, dan fisik. Dengan merujuk kepada praktik Rasulullah SAW ketika baru saja hijrah di Madinah, Dr. Suriani menekankan pentingnya pembentukan identitas melalui penanaman aqidah yang kuat serta penguatan ikatan ukhuwah sesama muslim.

Ketua Departemen al-Qur’an dan Sunnah International Islamic University College Selangor ini selanjutnya memaparkan empat faktor yang membedakan peradaban Islam dari peradaban barat. Pertama adalah tauhid, yang dapat membebaskan individu dari kesewenang-wenangan makhluk manapun di alam semesta.

Kedua, tawazun (keseimbangan) dan sikap wasathiyah (pertengahan) dalam seluruh aspek kehidupan. Ketiga, pencetakan individu paripurna (insan kamil) dengan berlandaskan pada al-Qur’an. Yang terakhir adalah ajaran Islam, yang mengatur seluruh aspek kehidupan seperti aspek spiritual, moral, ekonomi, sosial, politik, dan hukum.

Dalam webinar yang juga disiarkan melalui kanal youtube Hidayatullah ID dan TV Pertiwi Malaysia ini, Ketua Wanita ISMA tersebut mengajak audience untuk menelisik sejarah, dengan menjelaskan mulai dari awal mula peradaban barat dan kedudukan perempuan pada masa itu. Hingga peradaban barat dalam masa modern dan peran perempuan di dalamnya.

Beliau juga menyinggung tentang dampak dari berbagai macam paham dan gaya hidup yang lahir dari peradaban barat.Terkhusus paham feminisme yang berhasil masuk ke dunia Islam melalui penjajahan, serangan pemikiran dan sistem pendidikan, sehingga mempengaruhi wanita Muslim yang lemah dalam hal agama. Beliau menyebut Al-Ittihad Al-Nisa’i Al-Misri (The Egyptian Feminist Union) sebagai contoh. “Mereka adalah orang Islam yang memperjuangkan feminisme, jadi sebenarnya mereka melahirkan orang Islam yang melawan Islam itu sendiri” tukasnya.

Penerima penghargaan Perkhidmatan Cemerlang KUIS 2009 dan 2018 tersebut menyebutkan setidaknya ada empat serangan yang mengancam integritas muslimah, yaitu tuntutan persamaan hak, tanggung jawab istri, kontes kecantikan, dan masalah hijab. Terakhir, beliau menekankan pentingnya wanita memastikan kesuksesan peran mereka di rumah, sebagai titik awal perjuangan mereka. “Nasib suatu bangsa bergantung bagaimana seorang ibu membentuk anak-anaknya” pungkas peneliti dalam bidang hadits, psikologi dan pemuda ini.

Untuk diketahui, Muslimat Hidayatullah akan menggelar Musyawarah Nasional V secara virtual. Acara berpusat di Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, Kota Depok, Jawa Barat. Dengan dihadiri 33 peserta sebagai perwakilan tiap Pengurus Wilayah (PW) Mushida yang ada di berbagai provinsi.

Perhelatan akbar lima tahunan itu akan digelar pada 26-27 Desember 2020 dengan mengusung tema “Meneguhkan Integritas Muslimah Demi Tegaknya Peradaban Islam.”*/Fadhilah AAA

Kontribusi Muslimah Dalam Menegakkan Peradaban Islam

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Pengurus Pusat Muslimat Hidayatullah Dr. (Cand) Reny Susilawati M.Pd.I, pada webinar bertema “Meneguhkan Integritas Muslimah Demi Tegaknya Peradaban Islam” mengawali materinya dengan menyebutkan definisi tentang peradaban.

“Peradaban Islam itu ibarat pohon yang akarnya tertanam kuat di bumi, sedangkan dahan-dahannya menjulang tinggi ke langit dan memberi rahmat bagi alam semesta. Akar itu adalah teologi Islam (tauhid) yang berdimensi epistemologi,” papar Reny dengan mengutip definisi peradaban menurut Dr. Hamid Fahmi Zarkasyi, dalam webinar ketiga pra Musyawarah Nasional V Muslimat Hidayatullah (Mushida) disiarkan secara live streaming pada kanal Youtube Hidayatullah ID itu, Sabtu (05/12/2020).

Reny melanjutkan, sedangkan peradaban Islam menurut Hidayatullah ialah manifestasi iman dalam setiap aspek kehidupan.

Akan tetapi, menurut Reny, keadaban sudah mulai luntur. Menurutnya, hal itu disebabkan penyelewengan fitrah manusia dan penyebaran pornografi yang marak terjadi. Belum lagi, pengguna narkoba semakin meningkat di setiap tahunnya.

Kenyataan tersebut sangat miris sekali. Padahal, dia menegaskan, kejayaan Islam dan peradaban Islam pada masa Rasulullah dan sahabat menjadi sesuatu yang dicita-citakan.

“Namun Allah memberikan kabar gembira dengan memberikan maaf dan ampunan bagi hamba-Nya yang bertaubat dan senantiasa melakukan kebaikan,” tutur lulusan magister Universitas Ibn Khaldun Bogor tersebut dengan menyebutkan terjemah surah Asy-Syuura ayat 30.

“Apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)”

“Mengapa tugas peradaban juga harus dipikul oleh seorang muslimah?” tanya Pengurus Badan Musyawarah Organisasi Islam Wanita Indonesia (BMOIWI) ini.

Lebih jauh Reny mengungkapkan, wanita adalah tiang dan pondasi negeri. Sebuah negeri akan menjadi baik jika wanitanya memiliki pribadi yang baik. Peran muslimah dan ummahat sangat berpengaruh dalam mengokohkan pilar keluarga. Untuk itu ia juga harus memikul tanggung jawab sebagai madrasatul ula, sekolah pertama dan lingkungan utama bagi tumbuh kembang anak.

Anggota Dewan Pertimbangan MUI Pusat ini mengingatkan betapa pentingnya manajemen waktu dengan mengutip pernyataan Ibn Qayyim Al-Jauziyyah. Tahun ibarat sebatang pohon sedangkan bulan-bulan adalah cabang-cabangnya, jam-jam adalah daun-daunnya dan embusan napas adalah buah-buahannya.

Barang siapa yang pohonnya tumbuh di atas kemaksiatan maka buah yang dihasilkannya adalah hanzhal (buah yang pahit dan tidak enak dipandang). Begitu pula sebaliknya. Sedangkan masa untuk memanen itu semua adalah ketika datangnya hari kiamat.

“Waktu sangat berharga sebagaimana embusan napas. Maka, jadikan setiap embusan napas kita berharga, dengan memegang peran untuk mewujudkan peradaban,” tegasnya.

Reny mengungkapkan bahwa pertemuan dengan Allah Azza wa Jalla di akhirat adalah visi yang harus ditanamkan dalam diri setiap anak. “Di antara ikhtiar yang harus diupayakan agar seorang hamba pantas bertemu dengan Rabb-nya ialah, memperbanyak dzikir, beramal sholeh, tidak menyekutukan Allah, dan memiliki hati yang bersih,” terangnya dengan mengutip QS. Al-Kahfi ayat 110.

“Maka barangsiapa mengharap pertemuan dengan Tuhannya maka hendaklah dia mengerjakan kebajikan dan janganlah dia mempersekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada Tuhannya”.

Selain itu, anggota Inter Moslem Women’s Union (IMWU) 2013-2015 ini juga memaparkan tentang profil muslimah sebagai role model pada webinar yang juga disiarkan melalui TV Pertiwi Malaysia.

Profil tersebut lahir dari sistematika wahyu yang menjadi manhaj Hidayatullah. Di antaranya yaitu aqidah yang lurus yang tertuang dalam QS. Al-‘Alaq ayat 1-5, menjadikan Al-Qur’an sebagai khittah dan cita-cita dalam QS. Al-Qalam ayat 1-7, ikhlas dalam beribadah sebagaimana yang tersirat dalam QS. Al-Muzammil ayt 1-10.

“Sebagai orangtua, kita tidak boleh takut tentang apa yang mereka makan, jangan takut tentang kendaraan apa yang mereka pakai, atau apa yang mereka dapatkan dari waktu luangnya. Tetapi takutlah ketika anak-anak kita meninggalkan shalat,” tutur Reny saat mengungkap pentingnya ibadah sebagai profil muslimah.

Profil selanjutnya, tangguh dalam berdakwah sebagai nilai yang tertuang dalam QS. Al-Mudatsir ayat 1-7, dan yang terakhir pesan tersirat dalam QS. Al-Fatihah 1-7 yaitu menjadi muslimah yang siap dipimpin dan setia pada imamah jama’ah.

“Dalam membangun peradaban, seorang muslimah memiliki beberapa peran yaitu peran kultural dengan berdakwah bagi keluarganya, peran profesional sesuai dengan profesi dalam bidangnya, peran struktural dalam organisasi, peran sosial di masyarakat dan tugas khusus eksternal untuk kepentingan dakwah dan tarbiyah,” jelas Reny dalam menyebutkan peran muslimah dalam menegakkan peradaban Islam.

Menurutnya, peran muslimah yang wajib dan utama adalah berdakwah bagi keluarga. Adapun peran yang lainnya dapat dilakukan sesuai profesi yang ditekuni dengan syarat tidak mengabaikan keluarga dan tetap menjaga hijab dan syari’at.

Tak kalah penting, Reny juga menguraikan proses peradaban yang diawali dengan hayatan thayyibah (muslimah yang memiliki integritas), keluarga sakinah mawaddah wa rahmah, qaryatun mubarakah, baldatun thayyibah, lalu proses terbesar ialah daarussalam (kebahagiaan dunia akhirat).

“Proses peradaban ini akan mudah dilalui ketika seorang muslimah memiliki integritas,” imbaunya.

Terakhir, anggota Departemen Tarbiyah YPPH Depok ini memaparkan ciri-ciri seorang muslimah yang memiliki integritas. Di antaranya yaitu, membangun falsafah dan ideologi, sebagai bagian dari ahlu sunnah wal jama’ah, menjadi penggerak dalam perjuangan Islam, membangun kultur Islami, mengidealkan kepemimpinan Islami, dan bersikap wasathiyyah.

Pada webinar series 3 atau rangkaian seminar online terakhir pada Pra Munas V Muslimat Hidayatullah ini, juga menghadirkan narasumber Ketua Wanita ISMA Malaysia Dr. Suriani binti Sudi, yang juga akademisi yang mengepalai Program Studi Al-Qur’an dan Sunnah Universitas Islam Antarbangsa Selangor Malaysia.

Untuk diketahui, Muslimat Hidayatullah akan menggelar Musyawarah Nasional V secara virtual. Acara berpusat di Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, Kota Depok, Jawa Barat. Dengan dihadiri 33 peserta sebagai perwakilan tiap Pengurus Wilayah (PW) Mushida yang ada di berbagai provinsi.

Perhelatan akbar lima tahunan itu akan digelar pada 26-27 Desember 2020 dengan mengusung tema “Meneguhkan Integritas Muslimah Demi Tegaknya Peradaban Islam”..*/Arsyis Musyahadah

Hidayatullah Jawa Barat Sukses Gelar Muswil ke V di Bandung

0

BANDUNG (Hidayatullah.or.id) — Hidayatullah selama 47 telah berkiprah dan berkhidmat untuk Agama, Umat dan Bangsa. Melalui berbagai program dibidang pendidikan, dakwah, sosial dan ekonomi keumatan, dengan segenap kemampuan yang akan dan terus di kembangkan.

Hidayatullah berkomitmen menghadirkan program program yang mampu membawa terwujudnya perubahan masyarakat Indonesia yang maju dan bermartabat di bawah naungan kasih sayang dan Ridho Alloh SWT.

Musyawarah Wilayah Hidayatullah Jawa Barat, yang di selenggarakan di Bandung 5-6 Desember 2020 di hadiri kurang lebih 70 orang terdiri dari Dewan Pengurus Pusat, Dewan Pengurus Wilayah, Dewan Pengurus Daerah, Organisasi Pendukung Pemuda dan Mushida serta Amal Usaha tingkat Wilayah acara berlangsung dengan khidmat, penuh keakraban, persaudaraan, lancar dan barokah.

Ir. Abu A’la Abdullah, M.Hi sebagai Perwakilan Dewan Pengurus Pusat Menyampaikan tujuan Musyawarah Wilayah selain Melakukan Pemilihan dan Menetapkan Ketua dan anggota DPW masa jabatan 2020-2025. Juga sebagai upaya evaluasi dan penilaian terhadap capaian kinerja organisasi serta merumuskan Desain Program DPW selama 5 tahun kedepan.

Berbeda Ormas Hidayatullah dengan Organisasi lainnya dalam menetapkan Pemilihan ketua DPW tidak dilakukan dengan Voting tapi hasil keputusan di lakukan secara Syuro yg di tetapkan langsung dari DPP setelah menerima Aspirasi dari Pengurus Daerah.

Berdasarkan Hasil Mujahadah dan Muswarah untuk Memimpin Hidayatullah Jawa Barat 5 Tahun kedepan terpilih Ust.Taufik Wahyudiono, S.Pd yg sebelum nya bertugas sebagai Kadep.Pendidikan DPW Wilayah Jabar dan Ketua Yayasan Kampus Madya Hidayatullah Cirebon.

beliau mengaku Kaget karena sebelumnya tidak di ketahui bahwa dirinya akan terpilih, karena budaya organisasi Hidayatullah Sami’na wa Athona (ketaatan) maka ia Siap membawa Hidayatullah Jawa Barat lebih baik, meskipun demikian beliau meminta agar Do’a , motivasi dan Bimbingan dari Pengurus Pusat terus di lakukan. dari 25 kota dan Kabupaten di Jawa Barat.

Hidayatullah sudah hadir sebagai Dewan Pengurus Daerah (DPD) di 17 kota dan Kabupaten se Jawa Barat dengan berbagai aktivitas amal usaha berupa berdirinya Pesantren Tahfidz, Rumah Qur’an, Majelis Ta’lim, Sekolah SD, SMP dan MA dan Amal Usaha usaha ekonomi Produktif, jika di totalkan jumlah Santri, Da’i dan Jamaah hapir 10 Ribu, yg telah berhasil terbina dan tercerahkan dalam menjaga keutuhan NKRI dalam mendukung program program pemerintah dalam mencerdaskan kehidupan Bangsa dan Negara.

Bersamaan dengan acara Muswil ke 5 ust Abu Hamzah yang sebelumnya menjabat sebagai Ketua DPW Hidayatullah Jabar terpilih menjadi Ketua Dewan Murobi Wilayah Jawa Barat sebagai Pembina, dan Pendamping untuk mengarahkan Visi dan Misi Hidayatullah menuju terbangunnya Peradaban Islam.

Dalam Barisan, Bergerak dan Menghasilkan Kebaikan

0

Organisasi hadir umumnya dengan target menghasilkan sesuatu atau mencapai idealitas tertentu.

Oleh karena itu, sepanjang hidup, sebagaimana organ dalam tubuh manusia, semua aktif bekerja dengan ritme dan ketentuan yang ditetapkan.

Ketika sebuah organisasi dalam perjalanannya ada organ atau bagian yang tidak bekerja, sementara yang lain aktif bergerak, bisa dipastikan ketidakseimbangan akan terjadi. Persis sebuah mobil yang kondisi mesin bagus, roda bagus, namun, angin yang dibutuhkan roda tidak memadai, maka laju mobil akan sangat mengganggu.

Dalam konteks ini maka peran serta semua elemen organisasi menjadi sangat penting, sekalipun terkesan sebatas (mohon maaf) “pajangan.” Bukankah spion itu sepintas seperti tidak esensial untuk melaju. Namun, kala harus berbelok, apalagi atret ke belakang, satu-satunya yang dicek adalah spion.

Dengan demikian, tidak boleh ada seorang pun yang menganggap dirinya tidak penting dalam keterlibatannya pada sebuah organisasi. Terlebih dalam barisan yang kita cintai, Pemuda Hidayatullah. Setiap jiwa di dalam barisan ini adalah bagian penting dari sukses dan bermanfaatnya organisasi.

Kesadaran ini merupakan modal penting bagi setiap jiwa untuk memanivestasikan keimanannya kepada Allah Ta’ala. Sebab Rasulullah SAW pun menegaskan hal ini.

Abdullah bin Umar r.a. berkata bahwa Rasulullah, SAW telah bersabda, “Ketahuilah, kalian semua adalah pemimpin (pemelihara) dan bertanggung jawab terhadap rakyatnya. Pemimpin akan dimintai pertanggungjawabannya tentang rakyat yang dipimmpinnya. Suami adalah pemimpin bagi keluarganya dan akan dimintai pertanggungjawabannya tentang keluarga yang dipimpinnya. Isteri adalah pemelihara rumah suami dan anak-anaknya. Budak adalah pemelihara harta tuannya dan ia bertanggung jawab mengenai hal itu. Maka camkanlah bahwa kalian semua adalah pemimpin dan akan dituntut (diminta pertanggungjawaban) tentang hal yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari).

Jadi, eksistensi kita di dalam sebuah organisasi atau saya lebih suka menyebut barisan adalah rahmat, anugerah, dan nikmat dari Allah yang sudah seharusnya kita syukuri dengan memposisikan diri sebagai pemimpin dalam skala dan batasan apapun. Jadikan itu sebagai sarana membentuk kepribadian penuh tanggungjawab, dedikasi dan pengabdian kepada Allah Ta’ala.

Lebih jauh, gerakan diri dalam organisasi adalah dalam rangka memanivestasikan nilai-nilai keimanan itu sendiri, di antaranya perintah untuk saling menolong dalam kebaikan dan ketaqwaan, bukan sebaliknya.

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ

“Tolong-menolonglah dalam kebaikan dan taqwa, dan janganlah tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan.” (QS. Al Maidah [5]: 2).

Jadi, organisasi, jama’ah atau barisan, fungsinya adalah bagaimana terus bergerak dan menghasilkan kebaikan-kebaikan.

Jika merujuk pada sejarah Nabi Muhammad SAW maka hasil yang harus diraih adalah lahirnya manusia yang beradab, sehingga lahir banyak komunitas yang mendorong lahirnya tradisi ilmu kemudian Islam bersinar melalui akhlak dan perilaku hidup umat Islam itu sendiri.

Sebab inti dari peradaban adalah manivestasi keimanan di dalam seluruh aspek kehidupan. Dan, semua itu tergambar dalam kepribadian yang disebut akhlak.

George Bernard Shaw, seorang Filosof Inggris dan penulis alur cerita film di Inggris peraih Nobel di bidang sastra tahun 1920 M berkata, ”Aku telah membaca kehidupan Rasul Islam dengan baik, berkali-kali dan berkali-kali, dan aku tidak menemukan kecuali akhlak-akhlak luhur yang semestinya, dan aku sangat berharap Islam menjadi jalan bagi dunia.”

Pada akhirnya, seperti diuraikan oleh Buya Hamka dalam bukunya pribadi hebat setiap diri hendaknya memiliki akal budi, kemauan, cita-cita mulia, sehingga hidupnya penuh arti, bermanfaat dan menginspirasi siapapun di masa mendatang. Bilal itu bukan ahli ilmu, tapi karena taat dan istiqomah dalam jama’ah terompahnya duluan masuk Jannah.

Dan, penting kita camkan apa yang disampaikan oleh Buya Hamka, bahwa seseorang apakah rendah atau tinggi kepribadiannya dapat dilihat dari usaha hidupnya, caranya berpikir, tepatnya berhitung, jauhnya memandang dan kuatnya semangat dalam diri.

Dalam kata yang lain fokus dan gerakan kader Pemuda Hidayatullah adalah bagaimana menjadi manusia yang gerakannya membawa hasil kebaikan, mulai dari terbentuknya karakter diri yang positif hingga kemampuan mengajak sebanyak-banyak manusia pada jalan Allah, bersinergi, bergerak bersama dalam perjuangan fisabilillah.*

Imam Nawawi, Ketua Umum Pemuda Hidayatullah

Sabtu Besok, Wanita ISMA Malaysia dan Mushida Bahas Peran Muslimah dalam Peradaban Islam

Sadar akan peran penting Muslimah dalam menegakkan peradaban Islam, panitia penyelenggara Musyawarah Nasional V Muslimat Hidayatullah menghadirkan webinar dengan tema “Meneguhkan Integritas Muslimah Demi Tegaknya Peradaban Islam.”

Webinar yang akan berlangsung pada Sabtu (05/12/2020) besok mulai pukul 08.00 WIB ini mengundang narasumber Dr (Cand) Reny Susilawati, M.Pd.I., sebagai Ketua Umum PP Muslimat Hidayatullah dan Anggota Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (Wantim MUI) Pusat.

Panitia penyelenggara juga mengundang narasumber tokoh perempuan negeri jiran yang juga Ketua Wanita Ikatan Muslimin Malaysia (ISMA) dan Ketua Prodi Al-Qur’an dan Sunnah Universitas Islam Antar bangsa Selangor, yaitu Dr. Suriani Sudi.

Ketua Panitia Musyawarah Nasional V Muslimat Hidayatullah Neny Setiawaty M.Pd mengatakan, diskusi tentang peran Muslimah adalah salah satu perhatian yang harus diprioritaskan dalam menegakkan peradaban Islam.

“Peran Muslimah penting dalam menegakkan peradaban, karena seorang Muslimah kelak akan menjadi madrasah pertama bagi anak. Bila seorang Muslimah yang juga seorang ummahat tidak bisa membimbing putra dan putrinya ke arah yang baik, maka generasi mendatang tidak bisa diharapkan mewujudkan sebuah peradaban,” terang Neny di Depok, Jawa Barat, Jumat (04/12/2020).

“Adapun kiat-kiat dalam meneguhkan integritas seorang Muslimah selanjutnya, Insya Allah akan dibahas tuntas oleh para narasumber,” tutur Neny yang juga pengurus PP Mushida ini.

Webinar besok akan disiarkan secara live streaming di kanal Youtube Hidayatullah ID dan di TV Pertiwi Malaysia.

Sebagaimana diketahui, Muslimat Hidayatullah (Mushida) adalah organisasi pendukung yang berinduk pada ormas Hidayatullah yang dideklarasikan pada tahun 2000 bertepatan dengan Musyawarah Nasional Hidayatullah pertama di Gunung Tembak, Balikpapan, Kalimantan Timur.

Mushida menjangkau seluruh provinsi dan memiliki Pengurus Wilayah (PW) serta ratusan Pengurus Daerah (PD) di seluruh Indonesia. Mushida bergerak dalam bidang dakwah, pendidikan, sosial, ekonomi dengan fokus garapan adalah pemberdayaan wanita, An-Nisa’ (pemudi Hidayatullah), keluarga dan anak.

Visi Mushida ialah Membangun Keluarga Qur’ani Menuju Peradaban Islam. Untuk menggapai visi tersebut, maka setiap program Mushida mengarah kepada pembentukan pribadi Muslimah dalam menunjang perannya sebagai pribadi, istri, ibu dan sebagai anggota masyarakat.

Tak jauh berbeda dengan Mushida, organisasi asal negeri jiran Wanita ISMA juga memiliki jaringan cabang di sejumlah besar kawasan di Malaysia. Wanita ISMA merupakan salah satu biro dalam struktur organisasi Ikatan Muslimin Malaysia (ISMA) yang merupakan wadah aspirasi ISMA dalam membangun ketokohan dan kepimpinan wanita serta membina jaringan dengan agensi-agensi wanita di Malaysia.

Wanita ISMA memiliki motto menguatkan kepimpinan wanita Muslimah. Saat ini pihaknya memiliki gerakan nasional pembangunan ketahanan keluarga dengan tagline “1 Tokoh, 1 Taman, 1 Usrah”. Pihaknya juga secara reguler menggelar seminar Fiqh Wanita yang sering mengupas isu-isu wanita semasa, feminisme, dan liberalisme.

Sebagai informasi, Muslimat Hidayatullah dan Wanita Ikatan Muslimin Malaysia (Wanita ISMA) Malaysia, melakukan penandatangan perjanjian kerja sama di bidang dakwah dan pertukaran informasi.

Kerja sama itu dilakukan pada hari Ahad, tanggal 18 Desember 2016 yang ditandatangani Ketua Umum PP Muslimat Hidayatullah Dr. (Cand) Reny Susilowati, M.Pd.I dan Ketua ISMA Malaysia yang menjabat saat itu, Dr. Norsaleha Mohd. Salleh.

Dalam MoU kerja sama itu, kedua belah pihak sepakat untuk bekerja sama dalam bidang dakwah dan kerja sama media. Di antaranya bersepakat melakukan sinergi di bidang penulisan perjuangan tokoh Muslimah Indonesia dan Malaysia di media, Hidayatullah, dan website Muslimat Hidayatullah dan media Wanita ISMA.

Webinar kali ini merupakan follow up dari kerja sama yang dijalin antara kedua belah pihak.

Selain dalam rangka menjalin ukhuwah Islamiyah para aktivis dakwah Muslimah antar negeri serumpun Indonesia-Malaysia, Neny berharap acara ini memberi sumbangsih pemikiran tentang integritas Muslimah yang berkontribusi terhadap peradaban Islam.

Untuk diketahui, Mushida akan menggelar Musyawarah Nasional V secara virtual. Acara berpusat di Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, Kota Depok, Jawa Barat, dengan 33 titik lain sebagai perwakilan tiap Pengurus Wilayah (PW) Mushida yang ada di berbagai provinsi.

Perhelatan akbar lima tahunan itu kali ini akan digelar secara virtual karena berlangsung di tengah pandemi, dengan mengusung tema “Meneguhkan Integritas Muslimah Demi Tegaknya Peradaban Islam”, pada 26-27 Desember 2020. Sebelum Munas, digelar sejumlah acara termasuk webinar.* Arsyis Musyahadah

Bentuk Nilai-nilai Dasar Pengasuhan

JAKARTA (Hidayatullah.com) — Ustadz muda Salim A Fillah memaparkan nilai-nilai dasar pengasuhan yang harus dipegang kuat demi membentuk pribadi Mukmin sejati dalam diri anak. Ustadz Salim, demikian dikenal, mengutip ayat ke-9 dari Surat An-Nisaa, bahwa ada dua nilai dasar pengasuhan anak yang perlu dimiliki orang tua, yaitu taqwa, perkataan yang lurus, dan syukur.

Mengenai taqwa, Salim membeberkan beberapa aspeknya. Yaitu, penyesuaian diri dengan perintah dan larangan Allah, berhati-hati, muraqabah (merasa diawasi Allah), mu’ahadah (mengingat janji penghambaan kepada Allah), muhasabah (senantiasa introspeksi dan menghitung bekal akhirat), mu’aqabah (memberi sanksi dan konsekuen terhadap diri ketika melanggar komitmen kepada Allah), dan mujahadah (berjuang dalam istiqamah dan niat).

Merujuk ke Surat al-Furqaan ayat 74, penulis lima belas buku laris itu menambahkan bahwa dalam urusan taqwa diperlukan ambisi yang maksimal.

“Seorang ayah harus berdoa agar dijadikan sebagai imam bagi orang bertaqwa. Artinya seluruh anggota keluarganya adalah orang yang bertaqwa, dan ia diangkat oleh Allah untuk menjadi imam bagi orang-orang yang bertaqwa, tentu kedudukan taqwanya harus lebih tinggi dari orang yang dipimpin,” tuturnya pada webinar pra Munas V Muslimat Hidayatullah bertema “Kekuatan Figur Ayah dan Ibu sebagai Pembentuk Kepribadian Anak” baru-baru ini.

Modal nilai pengasuhan yang kedua adalah perkataan yang lurus. Salim menekankan pentingnya seorang ayah senantiasa memberikan nasihat dan arahan kepada anaknya, sebagaimana yang dilakukan para Nabi sesuai yang digambarkan Al-Qur’an. Komunikasi yang penuh hikmah, bermakna, konsisten, dan konsekuen dari kedua ayah dan ibu adalah sebagian dari kunci kesuksesan pendidikan anak.

Nilai dasar pengasuhan ketiga adalah syukur. Orang tua sepatutnya bersyukur kepada Allah atas kehadiran anaknya, lalu menampakkan rasa syukur itu kepada anak. “Kita di Indonesia ini sering abai untuk menampakkan rasa syukur kepada anak. Padahal ini sangat penting,” ujarnya.

Tidak hanya orang tua, setidaknya ada dua nilai dasar yang perlu dipegang kuat oleh anak, yaitu tauhid dan muraqabatullah. Keduanya perlu dipegang kuat sebelum anak mencapai usia tujuh tahun. “Value anak kita adalah tauhid dan muraqabatullah, sesudah itu akan memudahkan orang tua (ketika anak) usia 7-10 tahun dalam mendisiplinkan ibadah,” pungkasnya.

Selain Salim, webinar kedua Pra Munas V Mushida ini diisi pemateri lainnya yaitu Ketua Umum DPP Hidayatullah Dr Nashirul Haq dan Pendiri AQL Islamic Center Ustadz Bachtiar Nasir. Keduanya saling melengkapi dalam pembahasan tema yang sama.

Setidaknya 5.000 orang menyaksikan secara virtual webinar yang masuk dalam rangkaian acara penyambutan Munas V Mushida (28/11/2020) itu. Webinar seri ketiga akan diadakan hari Sabtu (05/12/2020), dengan tema “Meneguhkan Integritas Muslimah Demi Terwujudnya Peradaban Islam”. Pembaca dapat menyaksikannya secara langsung di kanal Youtube Hidayatullah ID pukul 08.00-11.00 WIB.

Untuk diketahui, Mushida akan menggelar Musyawarah Nasional V secara virtual. Acara berpusat di Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, Kota Depok, Jawa Barat, dengan 33 titik lain sebagai perwakilan tiap Pengurus Wilayah (PW) Mushida yang ada di berbagai provinsi.

Perhelatan akbar lima tahunan itu kali ini akan digelar secara virtual karena berlangsung di tengah pandemi, dengan mengusung tema “Meneguhkan Integritas Muslimah Demi Tegaknya Peradaban Islam”, pada 26-27 Desember 2020. Sebelum Munas, digelar sejumlah acara termasuk webinar.* Fadhilah Assa’adah


Sosok Ayah Ideologis dan Ayah Biologis Penting Bagi Anak

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Pendiri AQL Islamic Center Ustadz Bachtiar Nasir (UBN), pada webinar bertema “Kekuatan Figur Ayah dan Ibu Sebagai Pembentuk Kepribadian Seorang Anak”, mengawali materinya dengan mengungkapkan istilah al-waalid atau al-abu dan al-waalidatu atau al-umm.

Istilah tersebut, menurutnya, jika dilihat dengan kaca mata terminologi Al-Qur’an, lebih cocok diterjemahkan menjadi ayah ideologis dalam dunia pendidikan. UBN menyebutkan Surat Al-Ahzab ayat 40 yang terjemahannya berbunyi:

“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup Nabi-nabi. dan adalah Allah Maha mengetahui segala sesuatu.”

Kata abaa (ayah) dalam ayat tersebut merupakan diksi yang membedakan antara ayah biologis dan ideologis.

“Anak-anak membutuhkan orang tua biologis sekaligus orang tua ideologis,” ujar UBN dalam webinar kedua pra Musyawarah Nasional V Muslimat Hidayatullah (Mushida), Sabtu (28/11/2020) disiarkan secara live streaming pada kanal Youtube Hidayatullah ID itu.

UBN mengungkapkan bahwa pepatah Arab berkata, ayah biologis membesarkan seseorang secara fisik. Sedangkan ayah ideologis membesarkan seseorang secara ruh dan ideologi. Ayah biologis membesarkan seseorang selama ia hidup di dunia. Sedangkan ayah ideologis mampu membuat seseorang hidup bahagia di surga.

Meski keduanya penting bagi seorang ayah, namun UBN mengakui bahwa hal tersebut tak mungkin diemban dalam diri seseorang secara bersamaan. Dikarenakan keterbatasan, kelemahan dalam keilmuan seseorang. Hal inilah yang melatarbelakangi besarnya peran guru dan pentingnya menitipkan seorang anak pada sebuah lembaga yang mampu membekalinya dengan ideologi yang lurus. Bukan tanpa alasan.

Ustadz yang pernah mengenyam pendidikan di Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo, ini menceritakan pengalamannya bahwa 75 persen karakter dalam dirinya terbentuk selama tinggal di pesantren.

Dalam pemaparannya, UBN menerangkan tentang hikmah. “Hikmah, adalah solusi agar seseorang mampu menjadi orang tua berkarakter dan menanamkan nilai serta karakter terhadap anak,” tutur penulis buku Masuk Surga Sekeluarga ini.

Dengan mengutip tulisan Dr. Muhammad Muhamad Badri pada buku Sentuhan Jiwa Untuk Anak Kita, UBN mengulas teori HUMAN TOUCH.

Dijelaskan dalam buku tersebut, sang penulis merumuskan tema pembahasannya menjadi 10 (top ten) bab yang bila disingkat menjadi HUMAN TOUCH. Kepanjangan dan penjelasannya yaitu:

HUMAN; H = Her him; dengarkanlah ia, U = Understand his feelings; pahami perasaannya, M = Motivate his desire; beri semangat pada hasratnya, A = Aprreciate his efforts; berilah apresiasi pada setiap usahanya, N = News him; penuhi otaknya dengan banyak informasi.

TOUCH; T = Train him; didik dan kaderlah ia dalam hal aqidah, ibadah, akhlak, dan skill-nya, O = Open his eyes; bukalah mata dan wawasannya, U = Understand his uniqueness; pahami keunikannya, C = Contact him; jalinlah hubungan dengannya ruhiyah maupun jasadiyah, H = Honour him; hargai dan muliakanlah ia.

“Sentuhlah anak dengan sentuhan manusiawi, bukan bendawi atau hewani,” simpul UBN setelah mengulas pembahasan HUMAN TOUCH itu.

Sekjen MIUMI mengatakan, ada rumus yang harus ditekankan dalam mendidik anak. “Sucikan jiwanya, sebelum orang tua mendidiknya. Pahamkan adab di dalam jiwanya, baru kemudian ajarkanlah ia tentang ilmu.” Lanjutnya, hal itu akan menjadi benih di atas tanah yang akan tumbuh subur, yang kelak akan dinikmati buah manisnya.

Pemimpin Pesantren Ar-Rahman Qur’anic College ini memberi kata kunci agar menjadi orang tua yang sukses berdasarkan Surat Luqman ayat 12. “Jika ingin menjadi inspiring father and mother, maka jadilah orang yang memiliki hikmah,” tegasnya.

Hikmah mengandung dua hal, yaitu ilmu dan amal. Al-Ilmu naafi’ wa amal sholih. Ilmu yang bermanfaat dan amal shaleh, akan menjadi teladan untuk anak-anak. Jadilah orang tua yang mampu bersyukur setelah memiliki hikmah. Bersyukur atas segala karunia dan anugerah buah hati yang dimiliki.

Sebagai pamungkas, UBN mengimbau kepada para orang tua bahwa demi memberi yang terbaik kepada anak, hadirkan sosok ideologis yang hidupnya selalu bergantung kepada Allah.

Untuk diketahui, Muslimat Hidayatullah akan menggelar Musyawarah Nasional V Mushida secara virtual. Acara berpusat di Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, Kota Depok, Jawa Barat, dengan 33 titik lain sebagai perwakilan tiap Pengurus Wilayah (PW) Mushida yang ada di berbagai provinsi.

Perhelatan akbar lima tahunan itu kali ini akan digelar secara virtual karena berlangsung di tengah pandemi, dengan mengusung tema “Meneguhkan Integritas Muslimah Demi Tegaknya Peradaban Islam”, pada 26-27 Desember 2020.

Sebelum Munas, digelar sejumlah acara termasuk webinar. Pada Sabtu (05/12/2020) mendatang, Mushida akan menggelar webinar ketiga dengan tema “Meneguhkan Integritas Muslimah Demi Terwujudnya Peradaban Islam”. Pematerinya adalah Ketua Wanita ISMA Malaysia Dr Suriani Sudi dan Ketua Umum PP Mushida Dr (Cand) Reny Susilowati. Pembaca bisa mengikutinya pada siaran live streaming di kanal Youtube Hidayatullah ID pukul 08.00-11.00 WIB.* Arsyis Musyahadah

Kekuatan Figur Ayah dan Ibu dalam Membentuk Kepribadian Anak

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum DPP Hidayatullah Dr Nashirul Haq mengawali webinar kedua pra Munas V Muslimat Hidayatullah yang bertajuk “Kekuatan Figur Ayah dan Ibu Sebagai Pembentuk Kepribadian Anak” dengan membaca Surat Al-Baqarah ayat 133.

“Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” mereka menjawab: “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan yang Maha Esa dan Kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.”

Dengan dimoderatori oleh Muzakkir Asy’ari, webinar yang disiarkan melalui live streaming pada kanal Youtube Hidayatullah ID ini berlangsung mulai pukul 15.50 WIB. Dengan menghadirkan tiga pemateri, Dr Nashirul Haq, Salim A. Fillah, dan Ustadz Bachtiar Nasir, Sabtu (28/11/2020).

Di hadapan ribuan audiensi, Nashirul menjelaskan bahwa ayat 133 tersebut menegaskan bahwa kalimat yang diungkapkan oleh anak-anak Ya’aqub, “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu.” Mereka menyebutkan dhamir mukhatab (ka) atau kamu dalam tata bahasa Arab sebagai kata ganti orang pertama. Terdapat pesan tersirat di dalamnya bahwa figur serta sosok ayah, kepribadian, keyakinan, keimanan, akhlak, dan ibadah sangat berpengaruh bagi putra putri mereka.

“Apa yang dilakukan oleh orang tua untuk anak-anaknya?” Pertanyaan itu dilontarkan oleh Nashirul untuk mengundang perhatian para peserta webinar.

Lebih lanjut, Nashirul menjelaskan bahwa ada beberapa hal yang harus dilakukan orang tua dalam mendidik anak. Yang pertama yaitu mendoakan putra putri mereka sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim ‘alaihissalam yang berdoa untuk anak cucunya agar menjadi orang yang baik dan mengabdikan diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

“Anak yang tumbuh shaleh dan cerdas karena berkat doa orang tua. Banyak orang tua yang doanya tidak pernah putus, agar anaknya kelak menjadi penghafal Al-Qur’an,” tutur Anggota Dewan Pertimbangan MUI Pusat tersebut.

Kedua, orang tua wajib mentransfer value, mengajarkan tauhid, ilmu, ibadah, dan akhlak. Sebagaimana Rasulullah bersabda, “Kullu mauludin yuuladu ‘ala al-fitroh,” bahwa setiap anak yang dilahirkan dalam keadaan fitrah.

“Maka pesan pertama Luqman kepada putranya yaitu Laa tusyrik billah. Janganlah kamu menyekutukan Allah,” jelas Nashirul dalam rangka menanamkan keyakinan dan keimanan terhadap anak-anak.

Yang tak kalah penting, doktor lulusan IIUM tersebut mengimbau bagi para ummahat, hendaknya menjadi sosok yang mandiri dalam mendidik anak. Seperti ibunda Ismail yaitu Siti Hajar yang harus tampil seorang diri mengasuh anaknya ketika ditinggal suaminya, Nabi Ibrahim. Meski di tengah padang pasir dan dalam keadaan yang serba terbatas, Hajar mampu mendidik dan menghidupi putranya dengan baik.

“Ada satu studi yang menyebutkan bahwa intelligent seorang anak sangat dipengaruhi oleh keaktifan ayah dalam mendampinginya,” Dewan Pembina YPP Hidayatullah Pusat Balikpapan itu mengungkap sebuah rahasia. Untuk itu, orang tua dituntut aktif berkomunikasi agar menjadi idola bagi anak-anaknya.

Nashirul mengatakan bahwa anak akan tumbuh menjadi sosok yang shaleh dan shalehah dari makanan dan rezeki yang halal. Begitupun sebaliknya. “Makanan yang haram akan merusak kesehatan, sikap, akhlak, dan hatinya. Dan yang paling buruk, doanya akan tertolak,” ujarnya.

Terakhir, Nashirul menyarankan bagi seluruh orang tua untuk selalu memberi pujian, memotivasi, dan mengapresiasi anak-anak. Apresiasi tersebut akan menguatkan perilaku positifnya dan mengurangi perilaku negatifnya.

Diketahui, Muslimat Hidayatullah akan menggelar Musyawarah Nasional V Mushida secara virtual. Acara berpusat di Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, Kota Depok, Jawa Barat, dengan 33 titik lain sebagai perwakilan tiap Pengurus Wilayah (PW) Mushida yang ada di berbagai provinsi.

Perhelatan akbar lima tahunan itu kali ini akan digelar secara virtual karena berlangsung di tengah pandemi, dengan mengusung tema “Meneguhkan Integritas Muslimah Demi Tegaknya Peradaban Islam”, pada 26-27 Desember 2020.

Sebelum Munas, digelar sejumlah acara termasuk webinar. Pada Sabtu (05/12/2020) mendatang, Mushida akan menggelar webinar ketiga dengan tema “Meneguhkan Integritas Muslimah Demi Terwujudnya Peradaban Islam”. Pematerinya adalah Ketua Wanita ISMA Malaysia Dr Suriani Sudi dan Ketua Umum PP Mushida Dr (Cand) Reny Susilowati. * Arsyis Musyahadah

Enam Puluh Santri Luqman al Hakim Surabaya Gelar Wisuda Tahfidz

0

SURABAYA (Hidayatullah.or.id) — Luqman al Hakim Islamic Boarding School Hidayatullah Surabaya menggelar wisuda tahfid Al-Quran. Sebanyak 60 santri program tahfidz Quran hari Sabtu (28/11/2020) mengikuti proses wisuda.

Terbagi 4 santri dengan hafalan 30 juz bersanad. Selebihnya terbagi wisuda tahfidz kategori 20, 15, 10 dan lima juz .

Untuk menjadi hafidz Quran bukanlah hal mudah. Santri berjibaku dengan segala kesulitan saat menghafal. Namun dukungan guru dan orang tua dinilai menjadi penentu kesuksesan santri dalam menghafal al-Quran.

Di tengah kondisi pandemic Covid-19 ini, santri boarding school yang ada di Surabaya timur ini tetap semangat menghafal Al-Quran. Menurut Ustadz Samsudin, Kepala Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya, menghafal Quran itu sulit, begitu juga memelihara hafalannya pun juga sulit.

“Menghafal Quran itu tidak mudah, begitu juga memeliharanya,” katanya. Maka dari itu, lanjutnya, ia berpesan kepada santri agar terus menjaga hafalannya di saat sholat tahajjud setiap malam.

Di tempat yang sama, Syeikh Ahmadi al Yamani, pengajar program tahfidz Quran menyampaikan pesannya agar santri tidak berhenti belajar, menjaga kalamullah, dan selalu berjuang untuk menuntaskan hafalan.

“Jangan membuang waktu dengan banyak bermain. Manfaatkan waktu sebaik mungkin untuk menghafal dan menjaganya” pesan lelaki asal Yaman itu.

Karena kondisi pandemi, acara yang biasanya dihadiri orangtua santri, digantikan dengan acara secara online. Seluruh orangtua menyaksikan prosesi wisuda melalui aplikasi.  Salah satu orangtua santri yang putranya ikut wisuda, Radi Saputro memberi motivasi anaknya untuk terus menghafal Quran.

Lelaki yang juga pengajar di salah satu perguruan tinggi di Gresik itu juga menyampaikan karantina yang dilakukan pesantren selama bertahun tahun untuk menghafal Quran bukan proses yang mudah. Ia berterima kasih mewakili orang tua atas proses yang dilakukan oleh pihak pondok pesantren.

Meski tidak bisa menghadiri prosesi wisuda, orangtua memberikan hadiah kepada putranya. Sebagai bentuk penghargaan dan rasa sayang kepada putranya atas pencapaian hafalan Quran putranya.*