Beranda blog Halaman 448

Pemuda Pembangkit Peradaban

0

Jika diibaratkan sinar matahari, pemuda adalah masa di mana sinarnya benar-benar menyengat bahkan membakar, bisa dikatakan pukul 10.00 hingga pukul 14.00 adalah masa dimana sinar mentari benar-benar terasa dan bermanfaat besar bagi kehidupan umat manusia. Itulah masa pemuda, yang seharusnya mendorong jiwa dan cara berpikir mereka menjadi pemenang bukan pecundang.

Kala kita hubungkan dengan kehidupan sehari-hari, menjemur pakaian, padi, atau apapun yang butuh sinar kuat di luar jam 10.00 – 14.00 adalah kerugian, karena sinar mentari sudah melewati masa terkuatnya. 

Oleh karena itu patut kita merenugnkan dengan mendalam apa yang Imam Syafi’i uraikan dalam bentuk syair. 

“Barangsiapa tidak merasakan pahitnya belajar walau hanya sekejap maka ia akan menanggung hinanya kebodohan sepanjang hidupnya. Barangsiapa yang terlambat menuntut ilmu pada masa mudanya, takbirlah empat kali atas kematiannya. Pemuda sejati, demi Allah sesuai kadar ilmu dan ketakwaannya. Apabila keduanya tidak ada dalam diri seorang pemuda maka tiada nilai dalam dirinya.”

Demikianlah pemuda sejatinya, ia momentum, ia kesempatan, ia keunggulan, yang jika tidak disadari hanya akan menjadi beban hidup dan beban masa depan. Padahal, saat ini kita tidak saja diminta sadar sekedar sebagai pemuda, tetapi lebih dari itu, yakni pemuda pembangkit peradaban.

Pembangkit artinya orang yang membangunkan sesuatu bisa berdiri tegak, berjalan, dan berfungsi. Dalam konteks peralatan, pembangkit bisa berupa alat yang menjadikan rangkaian sistem hidup dan berjalan dengan baik, seperti pembangkit listrik dan lain sebagainya. Artinya, kita harus bisa menjadi pemuda yang membangkitkan peradaban.

Belajar dari Al-Fatih

Satu di antara indah dan sempurnanya ajaran Islam adalah selalu ada figur yang bisa kita teladani. Sebuah realitas ajaran yang tidak dimiliki oleh agama lain atau pun isme-isme di dunia. Rata-rata ada idealita dan pemikiran, namun tidak jelas harus merujuk kepada siapa. Islam tidak, semua yang diajarkan ada figur yang bisa diteladani. Dalam konteks pemuda pembangkit peradaban kita bisa belajar kepada Muhammad Al-Fatih yang kemenangannya tetap dirasakan kuat oleh umat Islam setiap 29 Mei.

Ternyata, setelah rangkaian sejarah dan persiapan futuhat Konstantinopel, terbukalah rahasia keberhasilan Al-Fatih mampu menjadi sosok pembangkit kemenangan peradaban Islam. Kala itu, penaklukkan telah tuntas, tiba waktunya untuk sholat berjama’ah. Maka Al-Fatih meminta sang guru menjadi imam, namun ia menolak. Hingga akhirnya diumumkan, sebuah kriteria penting untuk bisa menjadi imam sholat. 

Berserulah Al-Fatih, “Siapakah di antara kalian yang dari sejak usia baligh tidak pernah meninggalkan shalat lima waktu?” Semua tentara berdiri. Pertanyaan selanjutnya, “Siapakah di antara kalian yang sejak baligh tidak pernah ketinggalan shalat lima waktu berikut sunnah-sunnahnya?” Hanya separuh yang berdiri. Pertanyaan terakhir, “Siapakah di antara kalian yang sejak usia akil balig tidak pernah meninggalkan shalat lima waktu beserta sunnahnya seta shalat malam?” 

Tidak ada yang berdiri kecuali Muhammad Al-Fatih. Akhirnya dialah yang menjadi imam shalat.

Riwayat ini mungkin masih sulit dicerna oleh sebagian pemuda, bagaimana hal itu berpengaruh dalam sebuah kemenangan besar. Sistem penjelas mengenai hal ini dijabarkan oleh Adian Husaini dalam bukunya Hegemoni Kirsten Barat dalam Studi Islam pada bahasan bagaimana pengaruh ilmu dan peran Imam Al-Ghazali dalam kemenangan Shalahuddin Al-Ayyubi membebaskan Baitul Maqdis.

Sebuah hadits menyebutkan bahwa jika sholat beres, maka kelak hisab di hadapan Allah akan mudah. Ternyata ini juga berlaku dalam kehidupan saat ini, dimana tidak mungkin seorang pemuda bisa menjadi pembangkit kebaikan jika sholatnya buruk, apalagi tidak sholat. Sedangkan saat ini, kita tidak tahu apakah para pemimpin yang ada di negeri ini benar-benar menjaga sholatnya. Artinya, sederhana sekali kalau kita ingin menjadi pemuda pembangkit peradaban, perhatikan sholat kita.

Saat sholat tidak menjadi perhatian, maka soal lain akan luput pula. Akibatnya sering salah kaprah di dalam hampir semua konsep hidup. Mulai dari waktu, kedisiplinan, hingga ibadah dan produktivitas. Al-Fatih bisa itu semua bukan ujug-ujug, tapi karena kedekatannya dengan ulama rabbani.

Dr. Ahmad Shalabi dalam bukunya Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Utsmaniyah menjelaskan bahwa semua itu diraih dari pendidikan sejak kecil.

“Sejak kanak-kanak Muhammad Al-Fatih sudah dididik oleh ulama-ulama Rabbani. Misalnya Ahmad bin Ismail Al-Kurani, sosok ulama yang sholeh dan takwa. Dia adalah pembimbingnya di masa kekuasaan ayahnya, Sultan Murad II. Saat itu Muhammd ditunjuk untuk menjadi penguasa di wilayah Magnesia.

Dengan demikian dua kunci kita temukan, pertama adalah kedekatan diri dengan ulama rabbani, kedua menjalankan prinsip dasar agama sesuai sistematikanya, dalam hal ini adalah penekanan kedisiplinan, kesungguhan, dan komitmen di dalam mendirikan sholat. Jika ada pemuda ingin menjadi sosok pembangkit, maka dua hal harus jadi nafasnya, yakni sholat dan duduk berlama-lama bersama ulama yang Rabbani.

Spirit Ustadz Abdullah Said

Sisi yang menjadikan para Pemuda Hidayatullah beruntung adalah karena sosok pendiri, Allahuyarham Ustadz Abdullah Said mampu menjadi peraga spirit serupa. Beliau malah berpesan sangat tegas kepada kita semua.

“Umat Islam harus aktif mengambil prakarsa pada setiap perubahan menuju perbaikan nasib.” (Kuliah Syahadat halaman: 84).

Perbaikan nasib, tentu saja tidak dalam konteks miskin atau kaya, tetapi lebih jauh adalah superioritas peradaban dan tegaknya keindahan nilai Islam itu sendiri. Oleh karena itu narasi Ustadz Abdullah Said sederhana namun mendasar, yakni bagaimana menampilkan keindahan Islam ini. Sebuah ungkapan yang tak mungkin lahir melainkan dari panjangnya perenungan dan kiprah dalam dakwah membangkitkan kesadaran umat untuk sama-sama menegakkan peradaban. 

Kini, pemuda itu adalah kita. Bersiaplah menjadi pemuda pembangkit, jika tidak sampai pada tegaknya peradaban, setidaknya mampu menjadi pembangkit lahirnya generasi yang bervisi peradaban. Jadikan ini spirit, kesadaran, bahkan nafas kehidupan kita semua.*

Imam Nawawi, Ketua Umum Pemuda Hidayatullah

Teruslah Merawat Keimanan Selayaknya Rasulullah

0

Oleh Ustad Sholeh Usman

Siapa kita sebenarnya? Kita bukanlah siapa-siapa, hanya hamba Allah SWT. Ketika kita mendapatkan hidayah atau petunjuk, itu karena memang Allah SWT mencintai dan menyayangi kita. Tentunya ini merupakan sebuah bukti ilahi yang mutlak dan wajib untuk kita syukuri.

Maka dari itu sudah selayaknya kita terus meningkatkan kesyukuran kita kepada Allah SWT karena ini merupakan sebuah karunia yang amat besar. Bagaimana cara mensyukuri nikmat petunjuk yang amat besar ini? tentunya dengan selalu bersungguh-sungguh merawat dan memelihara petunjuk yang Allah berikan kepada kita. Yaitu dengan menjalankan syariat Allah sebaik-baiknya.

Dalam surah Al-fatihah kita semua telah disyariatkan untuk membaca kalimat ihdinash-shirraatal musthaqiim. tentunya ini merupakan doa yang spesial, doa yang menjadi spesifik dalam islam, dari sekian banyak doa dalam islam. Sesungguhnya doa ini tidak ada duanya. Doa ini menempati posisi teratas dalam surat Al-fatihah karena satu satunya doa yang diawali dengan kalimat-kalimat pembuka, pengantar-pengantar untuk menyampaikan munajat permohonan inti kepada Allah SWT. Kemudian sesudah itu kita dituntut untuk menyampaikan kejelasan waktu dan tujuan doa dan permohonan tersebut.

Permohonan petunjuk kepada Allah SWT dalam kalimat ihdinash-shirraatal musthaqiim, adalah merupakan bentuk bukti bahwa kita merupakan orang-orang yang berkomitmen untuk menjalankan perintah Allah SWT. Karena permohonan petunjuk hidayah sebagaimana yang kita lihat dalam Al-quran.

Setelah kita meminta kepada Allah “Tunjukkanlah kami jalan yang lurus” lalu, yang manakah jalan yang lurus itu? di antara penjelasan para mufasir bahwa jalan yang lurus ialah dinul islam. Namun juga, penjelasan setelah ayat ini “Shiraathal ladziina, yaitu jalan yang telah diberi nikmat”

Siapakah mereka itu orang-orang yang diberi nikmat? tentunya mereka itu ialah Para Nabi, para Sholihin, para Syuhada. Jalan mereka inilah yang kita mohon kan kepada Allah SWT agar kita diperjalankan bersama mereka.

Lalu selanjutnya yang menjadi pertanyaan untuk saat ini adalah bagaimana jika Rasulullah hidup saat ini?, sekiranya jika para sholihin juga masih hidup hingga saat ini? dimana agama dipermainkan dan aturan Allah tidak di junjung tinggi. Sekiranya bagaimana dan apa yang mereka akan lakukan melihat keadaan saat ini?

Tentunya pertanyaan yang seharunya kita tanyakan ialah apakah sebenarnya kita sendiri sudah melakukan yang para sholihin atau para nabi lakukan? Apakah sikap yang telah kita ambil merupakan sikap yang selayaknya sikap mereka pada masanya?

Saat ini kita telah berada pada jumat terakhir Ramadan 1441 H, tentunya kita belum tahu apakah kita akan bertemu jumat Ramadan Selanjutnya. Maka tentunya ini merupakan sebuah momentum yang baik, untuk mengevaluasi bahwa siapa diri kita sebenarnya. Apakah sudah benar iman yang telah kita miliki. Jangan sampai kita ini termasuk orang yang lalai.

Memang benar kita sudah solat malam, memang benar kita sudah sedekah, memang kita sudah puasa, memang benar sudah haji. Namun, apakah kita sudah memiliki ibadah yang mendekati kualitas ibadah Rasulullah SAW?. Apakah ada rasa khawatir pada diri kita terhadap kaum muslimin yang tidak memiliki izzah, yang tidak memiliki kekuatan. Jangan-jangan iman kita penuh kepalsuan. Apakah ada rasa khawatir bahwa taqwa yang kita miliki bukanlah sebagaimana taqwa yang disampaikan Allah. Jika ini sampai terjadi, bahwa iman kita palsu, taqwa kita bukan sebenarnya taqwa. Maka mau sampai kapan kita akan begitu terus?

Padahal umur yang kita miliki adalah bentuk jumlah pertemuan kita pada bulan Ramadan, jika berumur 10 tahun, maka telah 10 kali ketemu ramadan, dan jika kita berumur 20 tahun berarti telah 20 kali ramadan, begitulah seterusnya semakin tua usia maka semakin banyak kita bertemu Ramadan. Tapi bagaimana dengan kualitas iman dan taqwa yang kita? tentunya untuk menjawab masih ada waktu untuk kita evaluasi secara serius setelah Ramadan berlalu.

Segala Sesuatu Tidaklah Ada Artinya Jika Bukan Karena Allah SWT

0

Seorang hamba pada dasarnya lemah, dia tercipta dalam keadaan membutuhkan. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman, “Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah, dan Allah Dialah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji.” (Al-Fathir [35]: 15).

Dalam ayat lain Allah berfirman, “Dan manusia dijadikan bersifat lemah.” (An-Nisa’ [4]: 28).

Asal kejadian kita adalah lemah, perhatikan firman Allah berikut:

Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikuti setan, kecuali sebagian kecil saja (di antaramu).” (An-Nisa’ [4]: 83).

Allah berfirman:

Sekiranya tidaklah karena karunia dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, tidak seorang pun dari kamu bersih (dari perbuatan perbuatan keji dan munkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (An-Nur [24]: 21).

Allah juga berfirman:

Siapa pun yang menghendaki kehidupan duniawi (saja), maka Kami segerakan baginya di dunia nikmat yang Kami kehendaki, bagi orang-orang yang Kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka Jahanam, ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir. Dan siapa saja yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh, sedang ia mukmin, maka mereka itu orang-orang yang usahanya dibatasi dengan baik. Kepada masing-masing golongan, baik golongan ini maupun golongan itu, Kami berikan karunia dari pemberian Tuhanmu. Dan pemberian Tuhanmu tidak dapat dihalangi. Perhatikanlah bagaimana Kami lebihkan sebagian dari mereka atas sebagian (yang lain). Dan pasti kehidupan akhirat lebih tinggi derajatnya dan lebih besar keutamaannya.” (Al-lsra’ [17]: 18-21).

Kepada tiap-tiap golongan, golongan mana pun, siapakah yang akan menolong mereka? Siapakah yang akan membantu mereka? Allah, Dialah yang memberi dan menolong. Dialah yang menunjukkan dan mengarahkan. Allahlah yang memilihkan. Dialah yang mengarahkan kepada kamu jalan kebaikan. Benar, hanya Allah, bukan yang lain!

Ketika menceritakan Nabi Yunus, Allah berfirman:

Lalu Tuhan memilihnya dan menjadikannya termasuk orang-orang yang saleh.” (Al-Qalam [68]: 50)

“Tuhan memilihnya dan menjadikannya”. Anda lemah dan tidak mempunyai kekuatan, tidak ada upaya bagimu kecuali jika kalian bersama Allah. Segala sesuatu yang tidak bersama Allah tidak akan mungkin terwujud.

Siapakah yang menggerakkan Anda untuk datang ke masjid? Siapakah yang menjadikan Anda berbicara dan mendengar? Dialah Allah, yang memilih dan menjadikan Anda termasuk orang-orang yang tekun beribadah.

Saudaraku, dalam mencari jalan kebenaran untuk bisa sampai kepada Allah, teguhkanlah prinsip, “Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan.” (al-Fatihah [1]: 5). Lepaskan kemampuan dan kekuatan Anda, berpindahlah kepada kemampuan-Nya, kekuatan-Nya, pertolongan-Nya, dan bersegeralah kepada-Nya, niscaya akan berhasil. Sebagaimana perkatan seorang ulama, “Hendaknya hanya kepada Allah kamu menginginkan, maka Allah akan memberimu yang lebih dari yang kamu inginkan.”

Rasulullah Shalallaahu ‘Alahi Wasallam bersabda, “Mintalah penjagaan Allah, niscaya kamu akan dijaga. Mintalah perlindungan Allah, niscaya kamu akan berada dalam perlindungan-Nya. Jika kamu meminta pertolongan mintalah kepada Allah. Ketahuilah apabila umat manusia berkumpul untuk meminta suatu manfaat darimu, mereka tidak akan mendapatkannya kecuali Allah telah menulisnya bagimu. Apabila umat manusia berkumpul untuk mencelakai kamu dengan sesuatu, mereka tidak akan bisa mencelakai dengan sesuatu itu kecuali Allah telah menulisnya terhadapmu, (terus) menulislah pena-pena itu dan menjadi besarlah buku-buku tersebut.” (HR Ahmad, At-Tirmidzi).

“Mintalah penjagaan Allah niscaya kamu akan dijaga.” Hal ini diperkuat lagi dengan sabda Nabi, di antaranya adalah, “Mintalah perlindungan Allah, niscaya kamu akan berada di dalam perlindungan-Nya.”

Sungguh sangat menakjubkan, Anda akan mendapat perlindungan dari-Nya, ke mana pun Anda melangkah, Allah akan selalu melindungi dan menjaga Anda. Maka Anda akan mendapatkan yang Anda iriginkan. Subhanallah!*Hidcom

Nikah Mubarokah dan Gerakan Kebaikan di Hidayatullah Kobi

0

KOBI (Hidayatullah.or.id) — Pondok Pesantren Hidayatullah Kobi Islamic Center KPB Kobisonta rencananya akan melangsungkan pernikahan dua pasang untuk para kadernya yang rencananya akan dilaksanakan pada tanggal 4 juni 2020 dan yang kedua akan dilaksanakan pada tanggal 14 juni 2020. Pimpinan Hidayatullah Kobi, Ustad Hasnan Hanif, menjelaskan bahwa dua pernikahan ini mempunyai makna tersendiri untuk pondok pesantren Hidayatullah Kobi.

“Untuk yang menikah pada tanggal 4 juni merupakan seorang pemuda yang aktif berkegiatan sosial dengan seorang gadis setempat. Tentunya ini secara tidak langsung akan memperkuat dakwah dan juga silaturahmi pondok dengan masyarakat setempat, Sedangkan pasangan yang menikah pada tanggal 14 juni merupakan penguatan kekaderan Hidayatullah Kobi, karena keduanya merupakan kader Hidayatullah” jelas Hasnan Hanif.

Selain mengadakan nikah mubarokah untuk kedua pasang tersebut, Hasnan Hanif juga menjelaskan bahwa Hidayatullah Kobi juga akan mengadakan pembangunan untuk taman kanak-kanak dikarenakan banyaknya permintaan dari masyarakat untuk didirikanya pendidikan TK. Selain pembangunann TK Hidayatullah kobi juga akan membangun rumah dai yang sebelumnya para dai menempati asrama santri sebagai tempat tinggal mereka.

Taman kanak-kanak didirikan karena banyaknya permintaan masyarakat. Adapun untuk rumah dai dibangun karena Pondok pesantren Hidayatullah Kobi belum ada rumah dai, dan selama ini dai yang berumah tangga masih tercover dengan tinggal di asrama, namun karena santri tahun ini akan bertambah dan dai yang berumah tangga juga akan bertambah” jelasnya.

Sementara itu untuk kegiatan sendiri, pondok pesantren Hidayatullah kobi masih menunggu arahan pemerintah terkait himbauan PSBB selanjutntya.

“Untuk kegiatan mengajar sendiri kita masih menunggu arahan pemerintah terkait PSBB” ucap Hasnan. Lanjut Hasnan “Adapun terkait pelaksanaan PSBB, Nikah mubarokah dua pasang tersebut hanya mengundang orang-orang tertentu dan tidak melakukan kerumunan banyak”

Beliau juga meminta doa dan bantuan kepada kita semua agar sekiranya kegiatan yang direncanakan serta perencanaan pembangunan rumah dai dan juga taman kanak-kanak dapat berjalan dengan baik

“Mohon doanya agar semua agenda yang direncanakan dapat berjalan dengan baik” tutupnya *Amanjikefron

Pesantren Hidayatullah Bintan Terima Hibah Tanah Dari BMH

RIAU (Hidayatullah.or.id) — Laznas BMH terus melakukan program kebaikan untuk umat sekalipun Ramadhan baru berlalu sepekan ini.

“Alhamdulillah, Ahad  (31/5), Laznas BMH Perwakilan Kepulauan Riau kembali beraktivitas, menjalankan program kebaikan untuk umat dalam wujud penyerahan hibah tanah untuk pengembangan Pesantren Hidayatullah di Bintan, Kepulauan Riau,” terang Kepala BMH Perwakilan Kepulauan Riau, Abdul Aziz dalam rilis yang diterima Republika.co.id.

BMH  menyerahkan tanah seluas 30.000M² alias 3 hektar untuk pengembangan program dakwah dan pendidikan Pesantren Hidayatullah Bintan, Kepulauan Riau.  Tepatnya di Jl. Tanjung Uban KM 27, Teluk Bakau, Gunung Kijang, Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau 29151.

“Alhamdulillah, lokasi kita saat ini sudah sangat memadai untuk membangun layanan dakwah dan pendidikan umat. Ada sekitar 5 hektar lebih.  Insya Allah dengan tambahan lahan hibah dari para muhsinin ini kami relatif lebih leluasa untuk mengatur rencana tata ruang pesantren,’  ungkap Ustdz Humaidi selaku Pimpinan Pondok Pesantren Hidayatullah Bintan.

“Tak lupa kami ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada segenap pengurus BMH Kepulauan Riau yang telah menjadi perantara kebaikan bagi kaum muhsinin dalam mengambil peran proyek amal jariyah ini.  Salam hormat dan  terima kasih tak terhingga  juga kami sampaikan kepada para donatur yang telah mendermakan sebagian  hartanya untuk pembebasan lahan tersebut. Hanya kepada Allah SWT kami berharap balasan terbaik atas kebaikan semuanya,” imbuhnya.

Laznas BMH Kepulauan Riau membuka program hibah tanah ini berlangsung selama setahun.

“Tidak terasa, setahun pas, program ini sukses. Satu harapan semoga kelak di tempat ini lahir ribuan santri penuntut ilmu yang mencerahkan umat, rakyat, bangsa dan negara,” harap Aziz.

Secara simbolis, penyerahan tanah hibah ditandai dengan penyerahan berkas berupa sertifikat tanah dari BMH kepada Pesantren Hidayatullah Bintan.

Idealnya Sikap Mental Seorang Pemimpin Sebuah Negeri

0

Jika kepemimpinan dipandang sebagai amanah, maka sudab barang tentu seseorang akan sulit menduduki sebuah amanah alias jabatan, sedangkan dirinya tak peduli dengan kehidupan rakyat yang dipimpinnya. Demikianlah dilakukan Umar bin Khathab, sehingga sepanjang kepemimpinan ia tak pernah santai apalagi bercanda dengan urusan-urusan keumatan. Sampai-sampai, ia harus rela memanggul sekarung gandum untuk membuktikan dirinya adalah pelayan rakyat.

Pernah suatu waktu, Amirul Mukminin itu berjalan-jalan ke pasar. Saat ia melihat sekelompok unta gemuk dan sehat, ia bertanya kepada penjaga pasar, “Kepunyaan siapa itu?”

Penjaga pasar mengatakan, “Itu milik putra Anda, wahai Amirul Mukminin.” Disangka Umar akan senang. “Dimana dia, suruh ke sini!” Begitu Umar memberikan respon.

“Mengapa untamu gemuk dan sehat. Ingat, jangan sampai karena kamu dipandang putra pemimpin lantas orang mengistimewakan kamu, sehingga orang akan memberikan porsi istimewa dari makanan yang tersedia di tanah milik umat ini. Jual dan ambi pokoknya saja. Ada pun keuntungannya, serahkan ke negara.”

Sebagai anak yang patuh, Abdullah bin Umar taat dan tersenyum bangga, memiliki seorang ayah yang menjadi pemimpin manusia tegas, adil, dan hati-hati di dalam menjaga keluarganya dari fitnah.

Demikianlah idealnya seorang pemimpin, fokus, konsentrasi, dan sungguh-sungguh di dalam menjalani amanah sebagai pelayan umat. Perhatiannya hanya pada keridhoan Allah dan kesejahteraan rakyat, sehingga tak sempat banyak bicara apalagi berkelakar yang tidak jelas.

Fokus Pada Kemampuan

Seorang pemimpin atau yang dipercaya mengemban urusan orang banyak harusnya fokus pada kemampuannya. 

Artinya, bekerjalah, berbicaralah, dan berkomentarlah pada apa yang menjadi domain masing-masing. Terlebih sekarang sudah tidak ada lagi orang bisa multitasking dalam hal kepemimpinan. Jika diamanahi urusan kesehatan, maka bicaralah dan bekerjalah sesungguh-sungguhnya di bidang itu. Jangan kesana kemari. Demikian pula pada pejabat yang diberi amanah pada bidang tertentu. 

Sebab ini tidak saja berlaku dalam level pemerintah, tetapi semua jenis organisasi, bahkan dalam level rumah tangga sekalipun. Seorang kepala rumah tangga tentunya harus bicara dan mampu melakukan kontrol terhadap ibadah dan akhlak istri dan anak. Sebaliknya seorang anak harus fokus mempertajam adab dan akhlak kala berinteraksi dengan orangtua. 

Apabila kemampuan yang dimiliki dan ditajamkan ternyata dibutuhkan bangsa dan negara, maka terhadap jiwa yang memang cakap dalam sebuah urusan, Islam bahkan memberikan bukti bahwa orang yang demikian “diperbolehkan” untuk mengajukan diri. Lebih-lebih jika situasi darurat dan benar-benar membutuhkan.

قَا لَ اجْعَلْنِيْ عَلٰى خَزَآئِنِ الْاَ رْضِ ۚ اِنِّيْ حَفِيْظٌ عَلِيْمٌ

“Dia (Yusuf) berkata, Jadikanlah aku bendaharawan negeri (Mesir); karena sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, dan berpengetahuan.” (QS. Yusuf [12]: 55).

Ayat ini menegaskan bahwa jika memang ada kemampuan pada saat yang sama kondisi sangat membutuhkan, artinya memang dalam rangka menyelamatkan sebuah urusan besar, yang orang lain tidak mampu. Jadi, konteksnya bukan dalam situasi biasa dan cenderung ingin menikmati keadaan. 

Dalam situasi yang normal, Nabi Muhammad ﷺ jelas memberikan ketegasan. “Sesungguhnya kami, demi Allah tidak akan menyerahkan pekerjaan ini kepada seorang pun yang memintanya, atau seorang pun yang sangat menginginkannya.” (HR. Bukhari Muslim).

Dalam hal ini maka ada dua tugas yang melekat pada seorang pemimpin. Pertama harus mengetahui betul siapa sosok yang berkompeten dan bertanggungjawab. Di sini seorang pemimpin harus seperti raja Mesir, mau mendengar dan berdialog dengan orang yang kompeten. 

Kedua, memastikan bahwa dari setiap orang yang akan diberikan amanah adalah sosok yang memang tidak berhasrat, apalagi sampai mengemis jabatan. Dalam situasi menghadapi pandemi ini misalnya, langkah ini mutlak bahkan harus segera dijalankan. Jika tidak, kekacauan sudah barang tentu tidak lagi bisa dihindarkan. Semakin santai, apalagi dibiarkan, semakin jelas ketidakjelasan akan terjadi.

Kembali pada sosok Nabi Yusuf alayhissalam, fokus beliau dalam kepemimpinan adalah memastikan konsep, strategi dan langkah implementasi gerakan cocok tanam yang masif dan efektif. Pada saat yang sama menyiapkan model penyimpanan yang memadai, sehingga kala tiba musim paceklik (krisis pangan), stok pangan negara aman untuk memastikan seluruh rakyat tetap bisa hidup dengan baik.

Andai kata negeri ini menyadari sejarah ini dengan baik, maka sudah barang tentu penentuan siapa menduduki jabatan apa tidak akan menimbulkan kegaduhan. Karena kriterianya jelas, tugasnya fokus dan yang mengisi pun dinilai dan terbukti secara rasional setidaknya dapat mengemban amanah dengan sebaik-baiknya. 

Jika ditarik dalam konteks ke-Indonesia-an yang sudah demikian keadaannya, langkah paling mungkin adalah segeralah menyadari bahwa amanah kepemimpinan ini akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah Ta’ala. Sadar, bangkit, dan bekerjalah sungguh-sungguh untuk mensejahterakan rakyat, setidak-tidaknya, jangan membingungkan rakyat. 

Saya rasa tidak ada kata terlambat, segera saja lakukan, insya Allah kebaikan akan segera datang dengan izin-Nya. Allahu a’lam.*

Imam Nawawi, Ketua Umum Pemuda Hidayatullah

Tetap Kuatkan Dakwah dan Silaturahmi Walau Ditengah Pandemi

0

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Balikpapan menggelar silaturahim Syawal bertajuk “Fisik Boleh Terpisah tapi Hati Tetap Menyatu Dalam Perjuangan Islam” pada Selasa (26/05/2020).

Acara yang berlangsung secara online ini, digelar di kantor Wilayah Khusus Pusat (WKP) kampus Ummul Quro Balikpapan dan dihadiri para ustadz senior, pengurus yayasan, serta para ketua dewan pengurus wilayah dari berbagi daerah di Indonesia melalui aplikasi CloudX.

Acara yang dikemas bentuk talkshow dan dialog interaktif ini, mempersilakan para sesepuh Hidayatullah secara bergiliran menyampaikan refleksi Ramadhan dan motivasi, dipandu oleh host Iwan Abdullah.

Ustadz Yusuf Suraji, salah seorang narasumber di acara talkshow tersebut mengatakan, bahwa dakwah di era pandemi Covid-19 ini tidak boleh mengendor apalagi berhenti. “Namun seyogianya justru harus semakin kencang.”

Para peserta dari daerah juga dipersilakan satu per satu memberikan laporan terkait kebijakan yang diambil dan strategi yang dijalankan di wilayah kepengurusan masing masing di tengah menghadapi pandemi Covid-19.

Kepala Bidang Pengkaderan Wilayah Kalimantan Timur, Arfan AU menegaskan bahwa acara silaturahim Syawal di samping untuk mempererat ukhuwah Islamiyyah, juga sebagai usaha menjaga tradisi Hidayatullah, dimana silaturahim Syawal sudah ada sejak berdirinya Hidayatullah.

Sementara itu, Humas Yayasan Pesantren, Hidayat Jaya Miharja mengatakan, acara silaturahim yang dikemas dalam bentuk talkshow online ini baru pertama kali digelar Hidayatullah Pusat Balikpapan.

Diharapkan, dengan adanya talkshow ini bisa memberi pemahaman tentang urgensi pemanfaatan media untuk kepentingan silaturahim, koordinasi,dan konsolidasi antara pada kader di tengah wabah global ini.

Hadir juga dalam acara ini sebagai narasumber pimpinan umum Hidayatullah, Ustadz Abdurrahman Muhammad, Ketua dewan pembina Yayasan Ustadz Hasyim H.S, dan Ustadz Anwari Hambali dari Majlis Syariah Pusat.

Eratkan Silaturahmi, Ponpes Hidayatullah Terima Kunjungan Silaturahmi Satgas Yonif

0

PAPUA (Hidayatullah.or.id) — Pondok Pesantren Hidayatullah, Koya Barat, Distrik Muara Tami menerima kunjungan silaturahmi Satgas Yonif 713/ST berbagi kasih bersama anak Papua sekaligus memberikan bantuan makanan dan minuman ringan. Hal ini bertujuan eratkan persaudaraan dalam momen silaturahmi Lebaran

Hal tersebut disampaikan Dansatgas Yonif 713/ST, Letkol Inf Dony Gredinand, S.H., M.Tr.Han., M.I.Pol., dalam rilis tertulisnya di Kabupaten Keerom, Papua, Rabu (27/5/2020).

Diungkapkan Dansatgas, kunjungan berbagi kasih ke Pondok Pesantren Hidayatullah, Koya Barat, Distrik Muara Tami tersebut, dilaksanakan pada Selasa (26/5/2020).

“Selain ke Ponpes, sebelumnya Satgas juga telah melaksanakan kegiatan yang sama di Panti Asuhan Muhammadyah Arso 10, Distrik Arso Barat,” ujarnya.

Lebih lanjut dikatakan, selain mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1441 H bagi penghuni Pondok Pesantren Hidayatullah, dan panti asuhan, Satgas juga ingin berbagi kebahagian bersama mereka.

“Selain membagikan makanan dan minuman ringan, kita juga memberikan 98 bingkisan untuk anak-anak di tempat ini,” jelasnya.

“Kegiatan ini dilakukan sebagai ungkapan syukur yang kami rasakan setelah sebulan penuh melaksanakan ibadah puasa,” tambah Dony.

Hari Raya Idul Fitri kali ini kata Dony, memiliki makna yang cukup mendalam bagi Satgas karena merayakannya di daerah penugasan, jauh dari anak istri, orang tua dan sanak-saudara lainnya.

“Keluarga kami saat ini di wilayah penugasan adalah masyarakat Papua termasuk adik-adik sekalian,” ucapnya.

“Kiranya apa yang kami berikan ini jangan dipandang dari nilainya, tapi lihatlah dari niat ketulusan Satgas untuk berbagi kebahagiaan,” tandas Dony sambil tersenyum.

Sementara itu, Ketua Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah, Mugiharto, mengucapkan terima kasih kepada Satgas yang telah menyisihkan sebagian rezeki untuk anak-anak di panti ini.

“Doa dan harapan kami, semoga Tuhan membalas kebaikan Bapak TNI dengan rezeki yang melimpah. Selamat Hari Raya Idul Fitri, Minal Aidin Wal Faizin mohon maaf lahir dan bathin,” pungkasnya mengakhiri.

Kemenangan Apa Yang Kita Dapat di Ramadan Kali Ini?

0

Mau tidak mau kita harus bertanya kepada diri sendiri, kemenangan apa yang diperoleh dari Ramadhan 1441 H, Ramadhan dimana manusia berhadapan dengan Covid-19, Ramadhan yang tak pernah dialami oleh generasi Indonesia pada umumnya.

Secara politik kebangsaan, jelas kemenangan itu belum kita dapatkan. Semakin akhir Ramadhan, pertunjukan perilaku yang mengganggu moral dan spiritual kian menguras perhatian dan terus menggelinding. 

Tetapi, sekali lagi kita patut bahkan wajib bertanya, secara pribadi, kemenangan apa yang diperoleh pada Ramadhan 1441 H ini.

Dalam bahasa agama ada istilah muhasabah, yakni melakukan evaluasi diri terhadap setiap kebaikan dan keburukan beserta semua aspeknya baik secara vertikal dengan Rabb maupun horizontal dengan sesama manusia. 

“Dari Syadad bin Aus r.a, dari Rasulullah ﷺ, bahwa beliau berkata, “Orang yang pandai adalah yang menghisab (mengevaluasi) dirinya sendiri serta beramal untuk kehidupan sesudah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah yang dirinya mengikuti hawa nafsunya serta berangan-angan terhadap Allah SWT.” (HR. Imam Turmudzi).

Jadi bertanya kemenangan apa sebenarnya adalah evaluasi, muhasabah, yang sudah barang tentu penting dilakukan, sehingga Ramadhan yang menyisakan beberapa jam ke depan, benar-benar memberikan kekuatan mindset, spiritual, dan etos menebar maslahat secara lebih kuat, massif dan sistematis.

Kemenangan Jiwa

Jika merujuk dalam ayat Al-Qur’an, kemenangan yang harus diperoleh dalam Ramadhan adalah ketaqwaan. Taqwa adalah pekerjaan jiwa, medan tempur hati, dan tempat bercokolnya iman yang sejati. Dengan kata lain, jika jiwa seorang Muslim selama dan selepas Ramadhan sama sekali tidak merasakan peningkatan iman dan taqwa, sudah jelas, Ramadhan tidak berarti apa-apa dalam hidupnya.

Definisi taqwa, ruang dan langkah operatifnya, bahkan keteladanannya telah diberikan oleh Nabi Muhammad ﷺ. Di bulan Ramadhan beliau sangat menguatkan yang namanya ibadah dengan sholat, membaca Al-Qur’an, bahkan i’tikaf. Tak cukup itu, Nabi ﷺ juga bersedekah yang hembusannya lebih kencang dari pada angin yang berhembus. 

Sekarang, apakah kebiasaan ibadah itu telah kita jalankan dengan baik? Kemudian meningkat menjadi sebuah aktivitas yang menyenangkan bagi hatinya? Andai itu tercapai, adakah rasa hati tergerak membantu yang kelaparan, kesulitan, dan membutuhkan pertolongan? Atau lebih tinggi lagi, adakah harta masih menjadi “qiblat” hati dalam kehidupan?

Oleh karena itu, makna kemenangan umat Islam dalam Perang Badar jika kita mau tarik dalam kemenangan Ramadhan 1441 H di tengah pandemi ini adalah bagaimana diri semakin sadar dan yakin sepenuh hati bahwa ibadah itu perlu kita lakukan demi mengundang pertolongan Allah. Jadi, ibadah bukan sekedar gerakan ritual, tetapi juga energi perjuangan, infrastruktur mewujudkan visi dan pondasi membangun peradaban.

Sebab bagi Allah tidak sulit memenangkan umat Islam, bahkan mengubah keadaan yang buruk menjadi baik. Namun, tanpa kesadaran, cita-cita, dan keinginan kuat dalam diri mengikuti apa yang Allah kehendaki semua yang pernah terjadi dalam sejarah Peradaban Islam akan sulit diwujudkan. Bukan karena Islam sebagai agama tidak lagi ampuh, tapi umatnya yang tidak benar-benar mengambil energi besar dari ajaran yang luar biasa ini.

Menebar Kebaikan

Tanda kemenangan Ramadhan berikutnya yang sangat penting adalah adakah kesadaran diri untuk menjadi agen penebar kebaikan, yakni mengamalkan konsep “Ihsan” dalam ajaran Islam.

Ibn Qayyim dalam Zaadul Ma’ad menyampaikan bahwa ihsan itu menyenangkan hati, melapangkan dada, membuka nikmat dan menolak bala. Sebaliknya orang yang tidak berbuah ihsan adalah mereka yang bakhil, yaitu orang yang tidak berbuat ihsan pada hartanya. 

Dalam kata yang lain, jika puasa Ramadhan tak sedikit pun mengubah cara berpikir kita lebih tunduk pada ajaran Islam, ringan menjalankan apa yang Allah perintahkan dan apa yang Allah larang, tentu kemenangan itu masih harus diperjuangkan. Sebab, janji Allah adalah akan senantiasa menyertai orang yang bertaqwa dan orang yang berbuat ihsan (QS. An-Nahl [16]: 128).

Dalam bahasa Allahuyarham Ustadz Abdullah Said pada buku Kuliah Syahadat (halaman: 156), segeralah move on bersiap diri menyiapkan perjuangan untuk kemenangan selanjutnya dan kemenangan berikutnya. Artinya, kalau pun Ramadhan belum menang, sisa beberapa jam ini dimaksimalkan untuk meraih kemenangan, setidak-tidaknya jangan kalah.

“Apabila selesai dengan satu urusan, segeralah mengangkat urusan yang lain. Sibukkan diri dalam kegiatan, ambil dan pikul tanggung jawab sebanyak-banyaknya. Jangan sia-siakan kesempatan yang ada, semua waktu punya harga yang tinggi, jangan dilewatkan. Kehilangan waktu sudah pasti kerugian dan kekalahan.”

Artinya, menjadi sangat sederhana tolok ukur keberhasilan seseorang di dalam Ramadhan ini. Jika ia semakin sadar akan urgensi waktu, sehingga bergegas dalam segala kebaikan (wa sari’uu dan sabiquu) maka jelas, kemenangan itu telah diraih. Namun harus dijaga dan ditingkatkan. 

Tetapi jika setelah Ramadhan, produktivitas lesu dalam segala sisi, bisa dikatakan seseorang itu tak lebih dari anak-anak sekolahan, yang benar-benar rajin belajar saat di kelas, namun ogah melakukan itu di rumah dan di masyarakat. Kemenangan Ramadhan kini idealnya menjadikan kita terus bergerak untuk menyongsong kemenangan demi kemenangan di luar Ramadhan. Semoga Allah mampukan. Allahu a’lam.*

Imam Nawawi, Ketua Umum Pemuda Hidayatullah

Menaruh Rasa Khawatir Ketika Umat jauh dari Masjid

0

Oleh: Drs. Tasyrif Amin, M.Pd.I*

Hijrah Rasulullah SAW ke Madinah adalah sebuah titik balik (turning point) sejarah Islam. Dari titik inilah Rasulullah bersama sahabatnya mulai membangun sistem kehidupan Islami yang berlandaskan pada nilai-nilai ketauhidan. Bangunan masyarakat Madinah  yang disebut Peradaban Islam Madinah adalah misi yang tertunda selama 13 tahun di Mekah. Yatsrib, tempat hijrah Rasulullah, yang kemudian berubah menjadi Madinah, akhirnya hadir sebagai kota suci, kota nabi, tempat terbitnya fajar baru yang memancarkan cahaya kebenaran ke seluruh jagat raya.

Rancang bangun Peradaban Islam Madinah diawali dengan sebuah bangunan bernama ‘Masjid’, sebagai tempat menumbuhkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT, (Q.S. At Taubah:18). Rasulullah SAW juga mempersaksikan bahwa para pemakmur masjid adalah orang-orang yang dijamin keimanannya, dengan sabdanya yang masyhur ‘idzaa raaitummurrajula ya’taadul masjida fasyhadu lahu bil iman’ (H.R. Tirmizi dan Ibnu Majah).

Buya Hamka mengungkapkan, bahwa pokok urusan Rasulullah  di Madinah adalah membangun jama’ah kaum Muslimin. Pokok urusan terbangunnya  jama’ah adalah pertemuan yang disusun oleh kewajiban beragama, shalat lima waktu berjama’ah di masjid. Dalam shalat berjama’ah, hati anggota jama’ah dapat disamakan tujuannya, yaitu langsung kepada Allah SWT. Lima kali sehari ke masjid adalah mengarahkan jama’ah pada kebaikan tujuan, kebaikan pada pergaulan, kebaikan pada tetangga dan bertetamu. Duduk bersama sehabis shalat ada musyawarah tentang kebaikan dan kemaslahatan Umat Islam, (Hamka,2018/96)

Syaikh Shafiyyur Rahman Al Mubarakfury mengungkapan, bahwa masjid yang dibangun Rasulullah bukan sekedar tempat untuk melaksanakan shalat berjama’ah semata, tapi juga  merupakan tempat sekolahan bagi kaum muslimin, sebagai balai pertemuan untuk mempertemukan berbagai unsur kekabilahan dan sisa-sisa pengaruh perselisihan di masa jahiliyah, sebagai tempat untuk mengatur segala urusan, sekaligus sebagai gedung parlemen untuk bermusyawarah dan menjalankan roda pemerintahan, (Syaifur Rahman Al Mubarakfury, 2000/248). 

Sangat nampak bahwa mulai urusan ibadah sampai urusan-urusan menyangkut politik dan pemerintahan,  sejatinya adalah  urusan yang terintegrasi dengan masjid. Karena pada realitasnya, tidak ada tempat lain bagi Nabi mengkonsolidasi umat Islam selain masjid, kecuali kalau dalam perjalanan perang. Ekstrimnya, Nabi hanya memiliki dua ruang transformasi publik, yaitu masjid dan medan perang. 

Yusuf Al Qardhawi, menyampaikan bahwa politik telah menyatu dengan masjid khususnya pada masa keemasan Islam. Umat Islam mengalami kemunduran ketika politik dipisahkan dari masjid. (Yusuf Qardlawi, 2002: 277-278). Artinya, Umat Islam mengalami kemunduran ketika para pemimpin dan urusan keumatan tidak berpusat masjid.

Begitulah peran sentral masjid masa Nubuwah dan Khalifah Rasyidah. Tidak berubah dari mulai umat Islam berjumlah sedikit  di Madinah, sampai tunduknya Kerajaan Persia dan Romawi ke pangkuan Islam. Bahwa meluasnya wilayah kepemimpinan umat Islam, pusat kendalinya tetap di Masjid Nabawi.

Ketika ada pertanyaan, kenapa Umat Islam hari ini tertinggal dan termarjinalkan. Salah satu jawabannya, karena Umat Islam jauh dari masjid. Sama sekali tidak bisa dibandingkan para pemimpin (Islam) hari ini dengan nabi yang fisik dan jiwanya ada di masjid. Shalat berjama’ah di masjid bagi Kaum Muslimin pun belum menjadi sebuah kekuatan. Tinjauannya terbatas pendekatan fiqh, bahwa shalat berjama’ah di masjid hukumnya sunnah, tidak apa-apa kalau dilaksanakan di rumah.

Umat Islam belum tersadarkan bahwa masjid itu adalah pancaran hidayah dan barokah (Q.S.  Ali Imran : 96), bahwa siapa yang mendatanginya dia dapat hidayah dan berkah di sisi Allah. Masjid adalah tinggal landas dan tempat take off menuju ke hadirat Allah, (Q.S. Israa : 1). Dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, kemudian mi’raj ke Shidratul Muntaha. Bukan tempat yang lain.

Dengan shalat berjama’ah, umat Islam terpimpin dalam satu komando. Dengan  shaff  yang rapat, ada energi spiritual yang menyatu di tengah jama’ah. Dengan intensitas pertemuan, konsolidasi sosial dan jihad mudah dilakukan. Dan moment shalat berjama’ah adalah bentuk pendidikan integritas, bahwa ketika ada  yang keluar angin atau kena najis, dia minggir. Termasuk imam shalat sebagai pemimpin, harus mundur ketika wudhunya sudah batal, meskipun tidak ada jama’ah mengetahuinya. 

Nilai-nilai itulah yang menjadikan masjid begitu urgen di tengah kehidupan Umat Islam. Sampai kemudian Rasulullah mengancam bagi orang yang tidak shalat berjama’ah di masjid akan mendatanginya untuk membakar rumahnya,. Karena sebuah keyakinan, ketika umat jauh dari masjid, Umat Islam akan tercabut dari peradabannya, dan menjadi umat yang lemah.

Allah SWT berfirman melalui lisan Rasulullah SAW, “Demi kemuliaan dan keagunganku, sesungguhnya Aku bermaksud akan menurunkan siksaan kepada penduduk bumi, tetapi ketika Aku melihat penghuninya sedang memakmurkan rumahku (masjid), saling mengasihi sesamanya karena Aku, selalu melakukan istigfar di waktu sahur, Aku palingkan siksaan itu dari mereka.”. Dengan hadits qudsi, ada pemaknaan lain, bahwa boleh jadi wabah dan musibah datang karena menjauh dari masjid.

Adalah sebuah masalah besar, ketika pandemi covid.19, langsung arahnya tutup masjid. Dengan dalih menjaga jiwa lebih penting dari shalat jama’ah. Shalat jama’ah itu sunnah, bisa dilaksanakan di rumah. Sekali lagi secara fikh tidak masalah, namun lupa bahwa menjauhkan umat Islam dari masjid adalah mencabut umat dari peradabannya, merenggangkan ikatan spirtualnya, dan yang lebih pasti adalah  menjadikan umat jalan sendiri-sendiri, tanpa sebuah kepemimpinan.

Kita sepakat covid.19 berbahaya, harus diputus rantai penularannya. Dengan Protokol Kesehatan, sesungguhnya masjidlah yang paling bisa mempraktekkan. Semua orang yang datang di masjid adalah orang-orang yang sudah suci dari kotoran, teratur, terpimpin, dan durasinya singkat. Dibanding pasar tetap dibiarkan ramai, orang-orang tetap berkerumun di bandara dan terminal, yang sangat rentan terjadi penularan. Ini sesuatu yang tidak logis.

Umat Islam shabar menunggu, rela shalat tarawih 1 bulan di rumah, dengan harapan bisa shalat Idul Fitri bersama-sama di masjid. Seperti mimpi buruk di siang bolong, tiba-tiba terbit peraturan tidak boleh shalat Iedul Fitri berjama’ah di lapangan dan di masjid, dan ini berlaku sampai di daerah terpencil yang belum tahu namanya covid.19. Akhirnya kesempatan merekat peradabannya, berlalu sudah.

Saya sudah mengakhiri tulisan ini dengan tetap berharap ada penguatan Himbauan MUI Pusat untuk bisa shalat jama’ah dan shalat Ied di masjid. Namun bathin ini tiba-tiba kembali resah, melihat ada konser sukaria dari elit-elit negara, dengan melanggar protokol kesehatan yang dibuatnya sendiri. Dengan kejadian terkahir ini, kuat dugaan bahwa sedang terjadi by desain pelemahan umat Islam yang lebih dahsyat bahayanya dari covi.19. Waspadalah!

*Ketua Bidang Tarbiyah Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah