Beranda blog Halaman 449

Memilih Sekolah Untuk Anak

0

Memilih sekolah anak harus hati-hati. Karena terkait masa depan, karakter, dan pencapaian harapan orangtua. Tidak bisa sepenuhnya menyerahkan kepada anak. Apalagi kalau baru lulus SD, sebab anak-anak pertimbangannya masih pragmatis dan jangka pendek. Seperti ikut-ikutan temannya, anak tetangga, terpengaruh iklan promosi, dan pikirannya yang masih terbatas tentang sekolah tersebut.

Namun orangtua juga tidak bisa memaksakan secara otoriter. Bisa berakibat fatal: perlawanan anak dengan ogah-ogahan sekolah atau berontak dengan tidak mau mengikuti pilihan orangtuanya. Mungkin ada yang terpaksa mengikuti pilihan orangtua, tapi tidak bisa berkonsentrasi dalam belajar.

Saat ini banyak sekali sekolah yang tersedia untuk anakanak. Masing-masing memiliki keunggulan dan keistimewaan yang menarik. Harus jeli, teliti dalam menentukan. Memilih Sekolah gampang-gampang Susah, ada yang mengatakan Seperti mencari jodoh. Rumit karena untuk perjalanan masa Cepan anak, tidak bisa asalasalan atau yang penting sekolah.

Orangtua Harus Kompak

Sebelum melakukan survei dan dialog untuk mengarahkan pilihan, orangtua harus kompak, memiliki satu pemahaman dan pikiran. Jangan Sampai memperlihatkan ketidakkompakan kepada berakibat fatal untuk kesiapan mental dalam mengikuti pilihan orangtua. Ketidak kompakkan orangtua membuat anak menjadi bingung dan tidak kuat pendiriannya.

Kekompakan pilihan orangtua didasarkan pada visi yang Citanamkan sejak anak dalam kanduncan. Meskipun dalam perjalanan ada godaan seperti cita-cita anak berubah. Kemudian orangtua juga harus mengetahui kemampuan putra-putrinya secara mental dan intelektual, bakat dan minatnya. Sehingga lebih bijaksana dalam memilihkan sekolah sesuai dengan kebutuhan sang anak. Bukan sekadar keinginan orangtua etau hanya mengejar status sekolahnya keren atau bonafid.

Menentukan sekolah harus disesuaikan visi orangtua. Yaitu standart yang bisa menyelamatkan dunia dan akhirat, dengan orientasi kepada keimanan dan akhlak yang mulia. Bukan sekadar prestasi akademik.

Istiharah

Allah SWT memberi fasilitas sebuah shalat yang khusus untuk menentukan sebuah pilihan. Atau di saat seseorang mengalami kebimbangan dalam mimilih. Fasilitas itu bernama shalat Istikharah.

Shalat Istikaharah adalah bentuk ketidakmampuan atau keterbatasan seseorang di dalam menentukan sebuah pilihan. . Dan menyakini hanya Allah SWT yang Maha Mengetahui, Maha Mendengar dan Maha Kuasa untuk membantu dalam sebuah pilihan.

Sehingga penting melibatkan Allah SWT dalam setiap keputusan yang hendak dipilih melalui shalat Istikharah. Ini bagian dari aktualisasi tauhid dan akhlag kepada Allah SWT

Dalam shalat Istikharah ada munajat dan kerendahan diri atas ketidakmampuan melihat apa yang terjadi di kemudian hari.

Obeservasi Dulu

Diera 4.0 ini, sebenarnya memudahkan untuk mencari sekolah yang diinginkan. Banyak informasi tentang sekolahsekolah terbaik. Meskipun tidak semua sekolah yang baik memiliki situs atau website. Meski demikian para orangtua lebih disarankan untuk melakukan survei langsung dan lebih awal ke sekolah-sekolah yang menjadi pilihan, bukan hanya lewat media. Lebih bagus lagi jika mengajak anaknya berkunjung, silaturahim, melihat dan berdialog langsung dengan murid dan gurunya.*MajalahSahid


Ketua Umum Apresiasi Gerakan dan Kiprah SAR Hidayatullah

0

BOGOR (Hidayatullah.or.id) — Ketua umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Dr. Nashirul Haq, Lc. MA. Menyampaikan apresiasinya kepada Search and Rescue (SAR) Hidayatullah terhadap kinerja yang patut diapresiasi walaupun usia SAR Hidayatullah baru beranjak 13 tahun. Hal tersebut disampaikan pada Musyawarah besar SAR Hidayatullah (07/11/2020).

“SAR Hidayatullah saat ini telah menginjak umur hampir 13 tahun, usia yang masih relatif muda bagi sebuah orgaanisasi. Tentunya telah banyak hasil yang didapat dan evaluasi yang dilakukan untuk mewujudkan visi yang kita usung bersama, yakni membangun peradaban Islam” jelas Nashirul.

Nashirul juga mengatakan bahwa SAR Hidayatullah telah menunjukkan kinerja yang baik, baik itu kiprah internal maupun kiprah external. Kiprah SAR Hidayatullah dalam kancah internal dan eksternal organisasi juga bisa dirasakan. Kiprah eksternal melalui berbagai kegiatan kemanusiaan dan secara internal telah banyak terlibat dalam pengamanan berbagai acara dan even organisasi dari tingkat daerah hingga nasional.

“Alhamdulillah, saya patut mengucapkan syukur, karena SAR Hidayatullah hingga saat ini telah menunjukkan peran yang baik dalam kedudukannya tersebut. Beberapa program yang dicanangkan telah terlaksana dengan baik” ucapnya.


Harapannya kedepan SAR Hidayatullah bisa fokus Untuk melakukan pembinaan serta peningkatan kualitas para kader muda Hidayatullah. Baik pembinaan dari segi Intelektual, spiritual, moral maupun profesional.

“Fokus gerakan SAR Hidayatullah periode mendatang adalah pembinaan dan peningkatan kualitas kader-kader muda, baik intelektualitas, spiritualitas dan moralitas, maupun profesionalitasnya, terutama keterampilan dan kecakapan dalam melakukan aksi penyelamatan, pencarian dan penanggulangan bencana” jelasnya.

Nashirul juga menjelaskan bahwa pembinaan melalui halaqah dan daurah untuk para seluruh kader Hidayatullah adalah hal yang mutlak dilakukan. Kaum muda seharusnya mampu menjadi motor penyemangat dari gerakan halaqah.

Hanya saja, perlu diingat, bahwa semua itu tak boleh menjauhkan kita dari nilai-nilai luhur yang diusung para pendiri dan perintis Hidayatullah di masa lalu. Jati diri Hidayatullah harus tetap ada dalam setiap kader Hidayatullah, khususnya kader muda. Karena itu, pembinaan lewat halaqah dan daurah mutlak harus kita lakukan” pungkas Nashirul.

Lalu, Nashirul menyampaikan apresiasinya yang sangat besar kepada kepengurusan periode sebelumnya.

“Saya sampaikan penghargaan dan apreseasi kepada pengurus periode yang lalu atas perjuangan, pengorbanannya dalam mengemban amanah kepengurusan selama tiga tahun. Semoga bernilai ibadah dan jihad serta mendapatkan balasan kebaikan yang berlipat ganda” tutup Nashirul.

Saatnya SAR Hidayatullah Berkiprah di Level Internasional

0

BOGOR (Hidayatullah.or.id) -– Inisiator sekaligus salah satu pendiri Search and Rescue (SAR) Hidayatullah, Ustadz Supriyadi menegaskan bahwa sudah saatnya SAR Hidayatullah sebagai organisasi kemanusiaan yang concern di bidang penanganan kebencanaan untuk go internasional.

Hal ini disampaikan pada sesi Spirit Pagi Mubes V SAR Hidayatullah (07/11/2020). Beliau menyebutkan bahwa eksistensi SAR Hidayatullah di tingkat nasional sudah sangat kuat dan diakui banyak pihak. Dimanapun terjadi bencana, SAR Hidayatullah hampir bisa dipastikan kehadirannya.

“Sebagai bahan evaluasi dan motivasi bersama, eksistensi dan kiprah SAR Hidayatullah yang kuat di level nasional harus kita perluas ke tingkat Internasional. Dalam forum musyawarah ini kita harus menajamkan visi, mapping kita harus meng-Indonesia bahkan dunia”, jelas Supriyadi.

Supriyadi, yang juga menjabat sebagai Wakil 1 Kwarnas Pramuka menambahkan, forum musyawarah ini jangan hanya sekedar membahas pasal dan memilih pemimpin. Lebih dari itu, kehadiran pengurus SAR Hidayatullah dari seluruh penjuru Indonesia dalam rangka menguatkan jalinan koordinasi, silturrahim, dan ukhuwah. Serta dalam rangka mengusung visi besar lembaga yaitu mewujudkan peradaban Islam dan Indonesia yang lebih bermartabat.

SAR Hidayatullah secara resmi menggelar Musyawarah Besar (Mubes) ke-V yang dibuka hari ini, berlangsung di Kampus Pondok Qur’an Hidayaturrahman, Ciawi. Berada di Kaki gunung Bungalow, 16 km arah selatan dari pusat kota Bogor. Digelar selama 2 hari, Sabtu s/d Ahad, 7-8 November 2020.

Mubes V SAR Hidayatullah ini bertema “Meneguhkan Komitmen dan Kemandirian sebagai Lembaga Kemanusiaan untuk Indonesia Bermartabat”. Dihadiri hampir 100 orang peserta mulai dari ujung pulau Sumatera hingga Papua. Terdiri dari Pembina, Pengawas, Majelis Pertimbangan Pusat, Pengurus Pusat, dan Pengurus Wilayah se-Indonesia. 20 Pengurus Wilayah yang hadir mulai dari Batam, Bengkulu, Jabodetabek, Jawa Timur, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Maluku Utara, hingga Timika Papua.

Sementara itu, Ustadz Dr. Nashirul Haq Lc. MA. Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah dalam sambutannya mengatakan bahwa SAR Hidayatullah merupakan bagian penting dari ormas Hidayatullah. Kehadiran dan kemanfaatannya diberbagai medan bencana sangat dirasakan oleh masyarakat yang tertimpa musibah.

Beliau juga menambahkan, seluruh anggota SAR Hidayatullah hendaknya memiliki kualitas jasadiyah dan ruhiyah yang kuat. Tidak hanya mengandalkan kemampuan dan kecakapan skill semata, tetapi juga harus senantiasa mengharapkan pertolongan serta melibatkan Allah dalam setiap operasi kemanusiaanya.

“Harapannya kedepan, SAR hidayatullah mampu berkontribusi secara maksimal, terutama dalam memberikan edukasi kepada warga Hidayatullah dan masyarakat pada umumnya agar lebih siap dan waspada serta tidak gagap dalam menghadapi bencana,” harap ust. Nashirul.

Rencananya, kegiatan Mubes V ini akan dirangkai dengan Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) lanjutan Navigasi darat di Cibodas, Jawa Barat. Sebagaimana diketahui, SAR Hidayatullah merupakan organisasi pendukung ormas Hidayatullah yang bertugas dalam aksi kemanusiaan terutama tanggap darurat bencana, mitigasi, kewaspadaan dini dan rehabilitasi pasca bencana. *Cakrud

Syarat Utama Kebangkitan Kaum Muda

0

Banyak anak muda yang bisa menghadirkan kalimat-kalimat superlatif, namun mereka belum mengerti betul dimana dan bagaimana kaki hendaknya dipijakkan.

Heroisme itu bukan sekadar kalimat yang disusun seakan-akan tidak biasa, tapi juga terukur dari spirit dan ketajaman berpikir sang pemuda itu sendiri. Karena itu, muda bukan usia mentang-mentang.

“Mumpung masih muda. Kalau muda ya, begini. Salah-salah dikit tidak apa-apa, tabrak saja, jangan takut,” dan seterusnya. Dalam konteks gurauan, mungkin itu pemantik suasana yang dianggap perlu untuk sebuah diskusi yang lebih menantang.

Ketika seorang pemuda telah tersibghah dengan manhaj maka pikiran, tindakan, dan pilihan gerakannya bukan lagi sebatas populer yang mengundang applause para pemandang. Melainkan, bagaimana menghadirkan kesadaran menemukan kunci-kunci kebangkitan umat.

Seperti yang dituangkan oleh Salim Fillah dalam bukunya Sang Pengeran dan Janissary Terakhir. Di sana ditulis kisah dari Syaikh Dawud Al-Fathani, dari gurunya Syaikh Abdush Shomad Al-Falimbani bahwa telah ditanyakan kepada beliau oleh seorang ulama muda dari Jawi bernama Imam Abdullah Arif Al-Bederani.

Sisi yang menarik adalah dialog yang tertuang di antara keduanya, dimana kala itu kepemimpinan Turki Utsmani kian mengalami krisis dan krisis.

Saat ditanya, “Jadi menurut Sidi, Daulah Utsmaniyah akan berakhir?” Sang guru menjawab, “Barangkali belum dalam waktu dekat. Tapi tugas kita kini adalah segera mempersiapkan penggantinya agar ummat tidak mengalami kekosongan kepemimpinan yang membuat mereka menjadi mangsa bangsa-bangsa musuh Allah di luar sana.”

Dialog masih berlanjut, “Sejarah menunjukkan, kekosongan semacam itu pernah menimbulkan malapetakan dahsyat seperti Perang Salib Pertama dan penjajahan Mongol yang mengerikan.”

Dialog kian hangat kala dan sampailah pada pertanyaan apa yang harus dilakukan saat persatuan umat telah kecil peluangnya selain sulit untuk dikembalikan.

“Tidak begitu, ya Maulana. Sesungguhnya Allah memberikan amanat untuk menjayakan agama-Nya ini kepada sesiapa yang dipilih-Nya di antara hamba-Nya. Dia genapkan untuk mereka syarat-syaratnya, lalu Dia muliakan mereka dengan agama dan kejayaan itu.”

Dari sejarah dialog dua ulama di atas dapat kita temukan bahwa kunci kebangkitan kaum muda terletak pada dua hal.

Pertama, kesadarannya yang menyeluruh akan pentingnya kepemimpinan dalam setiap laju gerak pikir dan langkah.

Kedua, kesadaran penuh untuk terus memantaskan diri dalam rangka memenuhi syarat-syarat kebangkitan yang sejatinya akan Allah berikan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya.

Bicara kepemimpinan, Bapak Pemimpin Umum Hidayatullah dalam pidato penutupan Munas V Hidayatullah yang digelar secara virtual pada 31 Oktober 2020 menerangkan dengan gamblang.

Bahwa dalam upaya memilih dan menguatkan sistem kepemimpinan hal yang paling utama dilakukan oleh beliau adalah munajah. “Munajah yang tidak henti-hentinya,” tegasnya.

Lebih lanjut beliau tambahkan, “Tidak ada waktu untuk tidak bermunajah dalam perjalanan ini. Karena (kita ingin) Allah mengirim orang-orang yang terpilih. Ini melalui munajah, melalui istikharah.”

Jadi, masalah kepemimpinan bukan semata soal kecerdasan, jaringan, apalagi sekadar populer dan berkekuatan modal. Tetapi lebih pada sisi spiritual yang tumbuh dari kesadaran intelektual yang memadai, sehingga Bapak Pemimpin Umum Hidayatullah dalam upaya menempatkan para kader dalam kepemimpinan lembaga tidak didasari semata oleh aspek empiris, tapi dipijakkan di atas landasan Islam yang paling utama, munajah dan istikharah.

Karena itu, sangat rugi jika ada kader muda di lembaga yang tidak tertarik “berlatih” dalam arus kepemimpinan yang disediakan, sekalipun dengan alasan yang sangat substansial, seperti telah mengemban amanah sebagai dai, guru atau lainnya. Apalagi sekedar karena satu alasan yang tidak substansial lalu memilih enjoy di luar arena perjuangan kepemimpinan. Pemuda Hidayatullah adalah wadah untuk calon pelanjut perjuangan lembaga mengenal dan memegang kunci-kunci kebangkitan.

Kedua, perihal memantaskan diri. Tentu kita tidak pernah tahu dan tidak akan ada yang tahu kecuali Allah memberi tahu, siapa yang kelak akan membawa umat ini sampai pada titik kebangkitan. Tapi satu hal, bahwa untuk ke sana ada tanda-tanda yang perlu dimiliki, yakni kesiapan mental suatu generasi.

Jika kita telusuri hingga di masa Nabi, maka satu pesan Nabi yang sangat luar biasa bagi anak muda adalah perihal pentingnya jiwa ini menjaga Allah.

Jagalah Allah, niscaya kau dapati Dia di hadapanmu. Jika engkau hendak meminta, mintalah kepada Allah, dan jika engkau hendak memohon pertolongan, mohonlah kepada Allah. Ketahuilah, seandainya seluruh umat bersatu untuk memberimu suatu keuntungan, maka hal itu tidak akan kamu peroleh selain dari apa yang telah Allah tetapkan untukmu. Dan andaipun mereka bersatu untuk melakukan sesuatu yang membahayakanmu, maka hal itu tidak akan membahayakanmu kecuali apa yang telah Allah tetapkan untuk dirimu. Pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering.” (HR. Tirmidzi).

Jadi, hal utama yang harus kokoh dalam diri kaum muda selain kecerdasan dan ketangkasan adalah kekuatan keyakinan kepada Allah, bahwa hanya Allah tempat meminta, memohon dan mendapatkan ridha-Nya. Jika ini hadir, maka tidak sulit untuk menjadi insan bertaqwa. Kata Bapak Pemimpin Umum Hidayatullah, jika ingin urusannya terus mendapat solusi, maka harus bertaqwa. Satu di antara upaya taqwa yang harus ditekankan adalah berinfaq.

Infaq bukan sekedar infaq, dalam pengertian umum. Kaum muda harus berani menginfaqkan waktu, energi, umur, harta, bahkan jiwa dalam sebuah kawah candradimuka yang dapat mengantarkan diri sampai pada kesadaran untuk tampil, mengambil peran dakwah dan tarbiyah umat. Inilah kunci-kunci kebangkitan umat terdahulu dan ini pula yang tetap akan menjadikan umat masa kini dan nanti unggul dan menyinari bumi, insha Allah.

Imam Nawawi, Ketua Umum Pemuda Hidayatullah

Nashirul Haq: Memimpin itu Amanah, Hidup Berkualitas, Sehat dan Bahagia

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum DPP Hidayatullah 2020-2025 Ustadz Dr. Nashirul Haq, MA menegaskan bahwa kepemimpinan adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan kepada Allah SWT dan kepada segenap manusia yang dipimpinnya.

“Kita semua tentu menyadari bahwa kepemimpinan adalah sebuah amanah yang harus dipertanggungjawabkan kepada Allah SWT dan kepada umat. Sebagaimana yang ditegaskan di dalam Alquran bahwa tugas kita adalah mengabdikan diri kepada Allah, menegakkan agama, mensejahterakan dan memakmurkan rakyat dan umat. Mendorong kebaikan dan mencegah kemungkaran. Karena kepemimpinan adalah tugas kenabian,” jelasnya dalam pidato penutupan Munas V Hidayatullah (31/10) di Pesantren Hidayatulalh Depok.

Dalam memimpin, kata dia, seorang pemimpin harus mengerti bahwa amanah itu adalah menegakkan kebenaran dan menjauhkan diri dari berbuat khianat.

“Abu Bakar mengaakan aku telah diberikan amanah untuk memimpin kalian. Padahal aku bukanlah yang terbaik di antara kalian. Maka jika aku berbuat baik dalam menjalankan amanah ini, maka bantulah aku. Tetapi jika aku keliru, maka luruskanlah aku. Kebenaran itu adalah amanah dan dusta itu adalah khianat,” tegasnya.

Untuk itu, Nashirul mendorong seluruh jajarannya di DPP Hidayatullah dapat terus mengasah, meningkatkan dan mempertajam beberapa sisi penting dalam kepemipinan.

“Harus selalu berupaya mengasah, mempertajam dan meningkatkan kualitas ruhiyah, spiritual, kemudian juga diikuti oleh peningkatan wawasan, intelektual bahkan hingga pada tahap peningkatan kemampuan dan kualitas fisik, sehingga hidupnya berkualitas, sehat, dan bahagia,” urainya.

Selanjutnya, Nashirul akan menguatkan kebijakan organisasi yang meliputi sentralisasi, standarisasi, dan integrasi.

Langkah yang tak kalah penting akan dilakukan Hidayatullah ke depan adalah rekrutmen dan ekspansi dakwah dan pengembangan Rumah Quran secara nasional.

Lebih jauh, Nashirul berharap semua itu dapat mendorong Hidayatullah dapat mendorong terjadinya sinergi keumatan.

“Sinergi keumatan secara nasional sangat dibutuhkan apalagi seperti dalam kondisi seperti saat sekarang ini dimana ada sekelompok kecil dari bangsa ini yang menguasai negeri ini. Maka perlu sekali diwujudkan sinergitas antar Harokah Islamiyah dalam skala nasional dan antar bangsa untuk wujudkan peradaban islam yang agung di muka bumi ini,” ungkapnya.

Terakhir, penutupan Munas V Hidayatullah yang dijalankan secara virtual itu memperdengarkan pidato dari Pemimpin Umum Hidayatullah, KH. Abdurrahman Muhammad. Ia menegaskan seorang pemimpin harus selalu bermunajah, bermusyawarah dan bermujahadah di dalam menjalankan amanah kepemimpinan. Bahkan ia tegaskan seorang pemimpin harus punya komitmen tetap di dalam amanah perjuangan sampai ujung kehidupan.(ybh/hidayatullah.or.id)

Pimpin Hidayatullah 2020-2025 Nashirul Serukan Persatuan Umat

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Ustadz Dr. Nashirul Haq kembali ditunjuk menjadi Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah untuk masa khidmat 2020-2025. Amanat itu sebagaimana tertuang dalam keputusan sidang paripurna Musyawarah Nasional (Munas) V Hidayatullah yang digelar di Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, Jawa Barat, Jum’at (30/10/2020).

Nashirul menjelaskan bahwa Hidayatullah sebagai bagian dari kaum Muslimin di Tanah Air akan semakin menguatkan dan meneguhkan komitmen keumatan untuk Indonesia bermartabat.

“Sebagai ormas, Hidayatullah akan terus menguatkan, meneguhkan komitmen keumatan untuk Indonesia bermartabat. Langkah pertama yang kami ambil adalah dengan mengisi struktur DPP lima tahun ke depan dengan kader-kader yang memiliki integritas dan kapabilitas dalam ikut serta menjawab problematika keumatan dan kebangsaan,” terangnya.

Menurutnya, sudah saatnya segenap elemen bangsa, termasuk ormas, bersinergi, bersatu dalam hal-hal yang secara prinsip dan mendasar dibutuhkan untuk kemajuan, kemandirian dan ketangguhan bangsa dan negara.

“Kami ingin, ke depan NKRI menjadi negara yang rakyatny memiliki harga diri, mempunyai kepercayaan diri, berdiri di atas kaki sendiri, sehingga kita dapat menyongsong masa depan Indonesia yang adil, makmur, dan berperadaban mulia di bawah naungan kasih sayang dan ridha Allah SWT,” kata dia.

Guna terwujudnya itu semua, Nashirul mengarakan siap berkolaborasi, silaturrahmi dan bersama-sama segenap ormas Islam, cendekiawan, intelektual, pengusaha, politisi dan segenap elemen bangsa lainnya bahkan pemerintah untuk menjadikan wajah bangsa kian bermartabat.

“Indonesia butuh energi besar, bukan sebatas pada sumber daya yang dikerahkan, tetapi juga kondisi hati, dimana idealnya dan harus kita upayakan bersama, ke depan sinergi, kolaborasi dan kebersamaan terus dibangun antar segenap elemen bangsa. Sudah bukan masanya lagi, masing-masing mengedepankan ego sektoralnya. Dengan kebersamaan ini, insha Allah banyak problem besar bisa diurai ke depan,” paparnya.

Terkhusus terhadap internal umat Islam, Nashirul berharap umat semakin cerdas, peduli, dan saling mengedepankan persamaan secara aqidah dibanding menyoal perbedaan secara furu’iyah, yang sejauh ini terus menguras energi, waktu, dan kesempatan umat Islam untuk lebih progressif dalam bingkai peradaban.

“Umat Islam harus move on dari budaya menguras energi, menghabiskan waktu untuk perkara-perkara perbedaan secara furu’iyah. Saatnya kita perkuat persamaan secara prinsip, dalam hal aqidah dan kekuatan membangun kekuatan umat. Karena tantangan eksternal keumatan akan bisa kita atasi jika dari internal umat Islam sendiri mengakar semangat untuk bersaudara, bersatu, dan berpadu,” jelasnya.
 

Dia menambahkan, sebagai ormas Islam Tanah Air, Hidayatullah merupakan  bagian dari kaum muslimin, Hidayatullah menganut paham Ahlus Sunnah wal Jamaah, meniti manhaj nabawi yang diimplementasikan dalam  konsep Sistematika Wahyu.
 
 
 
 

Bangun Persatuan Umat dengan Sinergi Keummatan dan Kebangsaan

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Sebagai organisasi massa Islam yang getol menggaungkan persatuan untuk kebangkitan umat menuju Indonesia bermartabat, Hidayatullah terus menyerukan gerakan kohesifitas dalam rangka mengokohkan persatuan dengan membangun sinergitas keummatan dan kebangsaan.

“Sinergi keummatan secara nasional sangat dibutuhkan apalagi seperti dalam kondisi seperti saat sekarang ini dimana ada sekelompok kecil dari bangsa ini yang menguasai negeri ini,” kata Ketua Umum DPP Hidayatullah KH Nashirul Haq, dalam sambutan rangakaian acara penutupan Musyawarah Nasional (Munas) V Hidayatullah di Kota Depok, Jawa Barat, Sabtu (31/10/2020).

Nashirul mengungkapkan, umat Islam sebagai pewaris yang sah dan penduduk mayoritas di negeri ini terpinggirkan karena tidak adanya kesatuan, persatuan dan sinergitas antara elemen umat dan bangsa.

“Sinergitas antara haraqah Islamiyah dalam skala internasional antar bangsa akan terus kita tingkatkan dalam rangka bersama sama mewujudkan peradaban Islam yang agung di muka bumi ini,” imbuhnya.

Pada kesempatan itu Nashirul pula mengemukakan peran kemepimpinan. Dia mengatakan, kepemimpnan adalah sebuah amanah yang akan dipertanggungjawabkan kepada Allah SWT dan kepada umat.

Tugas pemimpin, jelas dia, adalah mengabdikan diri kepada Allah SWT dalam rangka menegakkan agama dan tanggungjawab dunia (hirasatuddin wa siyasatuddunya) yakni mensejahterakan dan memakmurkan umat yang dipimpin.

Pemimpin juga, lanjut dia, memiliki tanggung jawab amal ma’ruf nahi munkar karena tugas kepemimpinan itu adalah tugas kenabian dimana para pelanjut Nabi dan rasul adalah mereka yang diberikan amanah kepemimpinan oleh Allah SWT.

“Menyadari betapa beratnya amanah ini, kami sesungguhnya merasa tidak layak dan tidak mampu. Semoga perasaan itu kemudian menumbuhkan ketawakkalan yang tinggi untuk senantiasa memohon bantuan dan maunah dari Allah SWT,” kata Nashirul yang kembali didapuk menjadi Ketua Umum Hidayatullah periode 2020-2025 ini.

Semoga dengan perasaan tidak mampu itulah, kata dia, akan mendorong melibatkan semua potensi yang ada di Dewan Pengurus Pusat dan senantiasa meminta petunjuk dan arahan dari Pemimpin Umum, Majelis Penasehat dan Dewan Pertimbangan serta menjalin kemitraan dengan Dewan Mudzakarah dan Dewan Murabbi Pusat.

Pada momen yang cukup sakral itu, Nashirul menukil ungkapan Abu Bakar RA ketika ia dilantik menjadi khalifah yang penggalan kalimat tersebut berbunyi;

“Aku telah diberikan amanah untuk memimpin kalian padahal aku bukanlah yang terbaik diantara kalian. Maka jika aku berbuat baik dalam menjalankan amanah ini, maka bantulah dan dukunglah aku. Tapi jika aku keliru dalam menjalankan amanah ini, maka luruskanlah aku. Kebenaran itu adalah amanah dan dusta itu adalah khianat.

Lebih jauh Nashirul menjelaskan, agenda besar Hidayatullah ke depan dalam mewujudkan visinya adalah sukses dakwah dan tarbiyah yang diawali dengan tri-konsolidasi: konsolidasi ideologi, konsolidasi organisasi dan konsolidasi wawasan.

Selanjutnya, Hidayatullah mengangkat agenda besar yaitu peningkatan kualitas kader secara spiritualitas (ruhiyah), peningkatan intelektualitas (tsaqafiah) dan kualitas fisik (jismiyah) yang sehat dan bahagia melalui jatidiri Hidayatullah baik melalui jalur formal di pendidikan maupun melalui jalur informal yang nantinya akan dimitrakan dengan Dewan Murabbi melalui marhalah-marhalah dan halaqah.

Kemudian, melakukan penguatan sistem organisasi melalui kebijakan sentralisasi, standarisasi dan integrasi. Agenda besar ketiga adalah melakukan rekrutmen dan ekspansi dakwah melalui dakwah fardiyah dan pengembangan majelis Quran secara nasional.

“Berikutnya, melanjutkan kebijakan sinergitas program mainstream karena kita meyakini bahwa apa yang menjadi harapan besar kita akan terwujud manakala seluruh elemen dan institusi melakukan sinergitas yang baik,” katanya.

Tak hanya itu, Hidayatullah juga terus menguatkan membangun kemandirian di bidang ekonomi dan keuangan baik secara kelembagaan maupun secara keummatan dan kewargaan.

“Alhamdulillah pada awal periode ini atau tepatnya di akhir periode kemarin telah selesai penyusunan grand design organisasi Hidayatullah yang akan menjadi acuan kita sebagai roadmap dalam menjalankan organisasi ini ke depan,” ujarnya.

Dia menambahkan, kebijakan strategis organisasi yang telah dirumuskan sedemian rupa dan telah disahkan di Munas ini, akan dibreakdown dalam bentuk program program 5 tahunan setiap bidang dan departemen.

“Kami yakin bahwa personil personil yang telah dilantik adalah kader kader terbaik yang memiliki integritas dan kapabilitas,” pungkasnya.

Penutupan Munas V Hidayatullah ini dihadiri oleh utusan perwakilan DPW Hidayatullah se-Indonesia, DPP Hidayatullah, unsur pengurus Penasehat, ketua-ketua badan dan amal usaha, ketua organisasi pendukung dan lembaga, unsur Majelis Penasehat, Dewan Pertimbangan, Dewan Mudzakarah dan unsur Dewan Murabbi Pusat serta diikuti secara virtual 34 titik kluster yang tersebar dari Aceh hingga Papua. (ybh/hidayatullah.or.id)

Ustadz Dr Nashirul Haq Kembali Ditunjuk Jadi Ketua Umum Hidayatullah

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Ustadz Dr Nashirul Haq Lc MA kembali ditunjuk menjadi Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah untuk masa khidmat 2020-2025.

Amanat itu sebagaimana keputusan sidang paripurna Musyawarah Nasional (Munas) V Hidayatullah yang digelar di Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, Jawa Barat, Jum’at (30/10/2020) dan secara virtual.

Penetapan hasil Musyawarah Nasional V Hidayatullah tersebut dibacakan ketua majelis sidang Abdul Aziz Qahhar Mudzakkar.

Nashirul Haq adalah santri yang merasakan langsung tempaan pendidikan di Kampus Hidayatullah Gunung Tembak, Kelurahan Teritip, Balikpapan, Kalimantan Timur.

Pria kelahiran Wajo, Sulawesi Selatan, ini pernah menjadi kader Pelajar Islam Indonesia (PII). Nashirul menyelesaikan pendidikan SD hingga SMP di kampung halamannya dan Madrasah Aliyah Raadhiyatan Mardhiyyah (MARAMA) di Kota Balikpapan.

Sebelum masuk jadi santri Hidayatullah, Nashirul sebetulnya sudah menuntaskan pendidikan SMA. Namun, karena harus menyesuaikan kondisi kampus rintisan Hidayatullah Gunung Tembak kala itu, ia pun mengulangi sekolahnya.

Saat SMA, ia menjadi pengurus Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IMM) dan kerap menjadi instruktur setiap gelaran training yang digelar.

Pria kelahiran 46 tahun silam ini melanjutkan studi di Universitas Islam Madinah (UIM) Arab Saudi hingga menuntaskan Sarjana Syariah di kota Nabi tersebut. Lalu melanjutkan pendidikan di International Islamic University Malaysia (IIUM) dengan menyabet gelar Master dan doktoralnya.

Saat ini Nashirul juga mengemban amanah sebagai Anggota Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (Wantim MUI) Pusat, anggota unsur tokoh agama di Centre For Dialogue And Cooperating Among Civilization (CDCC), Center of Study For Indonesian Leadership (CSIL), dan di Lembaga Studi Islam dan Peradaban (LSIP).

Selain menetapkan Ketua Umum, sidang paripurna Munas V Hidayatullah ini juga mengukuhkan Majelis Penasihat (MP) yang diketuai oleh Ustadz HA Hasan Ibrahim, Dewan Pertimbangan (DP) yang diketuai Ustadz Dr Abdul Mannan, Dewan Mudzakarah (DM) yang diketuai Ustadz drg Fathul Adhim, dan Dewan Murobbi Pusat yang diketuai Ustadz Dr Tasyrif Amin.

“Dengan segenap kemampuan yang akan terus dikembangkan, Hidayatullah berkomitmen menghadirkan program-program yang mampu mendorong terwujudnya perubahan masyarakat Indonesia bermartabat. NKRI yang memiliki harga diri, mempunyai kepercayaan diri, berdiri di atas kaki sendiri, sehingga kita dapat menyongsong masa depan Indonesia yang adil, makmur, dan berperadaban mulia di bawah naungan kasih sayang dan ridha Allah Subhanahu Wata’ala,” ujar Nashirul dalam sambutannya pada pembukaan Munas V, Kamis (29/10/2020).*

Hidayatullah Jadikan Dakwah dan Pedidikan sebagai Lahan Jihad Utama

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah KH Dr Nashirul Haq, MA, mengatakan, sebagai salah satu ormas Islam, Hidayatullah hadir bersinergi dengan pemerintah dan seluruh komponen ummat untuk membangun peradaban yang agung di negeri ini.

Dalam gerakannya, Hidayatullah menjadikan dakwah dan pendidikan (tarbiyah) sebagai lahan jihad utama.

“Hidayatullah telah menjadikan tarbiyah (pendidikan) dan dakwah sebagai lahan jihad yang utama. Karena itu mencerdaskan kehidupan bangsa, mengedukasi masyarakat dan mencerahkan ummat dengan ajaran Islam, nilai-nilai tauhid dan prinsip-prinsip ketuhanan Yang Maha Esa adalah bagian penting dari jihad,” kata Nashirul.

Hal itu disampaikan Nashirul dalam pidato sambutan pembukaan Musyawarah Nasional (Munas) V Hidayatullah yang dibuka hari ini berlangsung di Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, Jawa Barat, dan siarkan secara live melalui kanal Youtube Hidayatullah ID, Kamis (29/10/2020).

Dalam pada itu, ia melanjutkan, sebagai bagian dari kaum muslimin, Hidayatullah menganut paham ahlus sunnah wal jamaah yang meniti manhaj nabawi yang diimplementasikan dalam konsep Sistematika Wahyu.

“Hidayatullah menganggap bahwa segala upaya yang sungguh-sungguh dalam rangka terbangunnya peradaban Islam yang agung di muka bumi ini merupakan jihad fi sabilillah,” ungkapnya.

Menyadari bahwa perjuangan membangun peradaban Islam merupakan agenda besar yang harus dilakukan secara bersama-sama dengan seluruh komponen ummat dan bangsa. Maka dalam hal ini, terang dia, Hidayatullah terus mendorong terwujudnya persatuan umat sebagai kunci kekuatan dan kemenangan.

“Dengan prinsip al-Wasathiyah sebagai salah satu jatidiri, Hidayatullah mengajak ummat Islam bersikap adil dan proporsional, toleran (tasamuh) dalam menyikapi masalah khilafiyah, santun dalam menyikapi perbedaan sikap politik, mengedepankan kepentingan ummat dan bangsa di atas kepentingan diri dan golongan,” jelasnya.

Munas kelima Hidayatullah ini berlangsung unik, khidmat dan penuh semarak. Secara serentak terdapat 34 kluster perwakilan wilayah DPW Hidayatullah yang mengikuti acara ini secara daring yang digelar selama 3 hari ini.

Panitia memberlakukan protokol kesehatan secara ketat baik di pusat kegiatan di Depok dan titik-titik lainnya.(ybh/hidayatullah.or.id)

Hidayatullah Dorong Pembangunan Indonesia Berperadaban dan Berkeadilan

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Hidayatullah secara resmi menggelar Munas ke-V yang dibuka hari ini berlangsung di Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, Jawa Barat, dan siarkan secara live melalui kanal Youtube Hidayatullah ID, Kamis (29/10/2020).

Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, KH Nashirul Haq, mengatakan tema Munas Meneguhkan Komitmen keummatan Menuju Indonesia Bermartabat, adalah sebuah komitmen untuk mewujudkan cita-cita pendiri negeri ini, yaitu terwujudnya Indonesia yang dijiwai oleh nilai-nilai keagamaan, berkeadaban, bersatu dan berkeadilan sosial.

“Inilah jiwa kehidupan berbangsa dan bernegara yang harus terus diperjuangkan. Dan dengan inilah Indonesia menjadi negara yang berdaulat dan bermartabat,” kata Nashirul dalam sambutannya.

Dia menerangkan, tema ini merupakan sebuah rasa syukur, sekaligus kebanggaan atas kiprah Hidayatullah selama ini untuk memberikan sumbangsih nyata bagi kehidupan berbangsa, bersama pemerintah dan masyarakat menjalankan misi mulia membangun Indonesia yang berperadaban.

Nashirul mengimbuhkan bahwa hehidupan berbangsa dan bernegara kita saat ini tidak sedang baik-baik saja. Dia menyebutkan pandemi covid-19 sepertinya sudah menjadi sebuah realitas yang harus kita terima dan kita hadapi dengan kesabaran dan optimisme untuk bisa menanggulanginya.

“Pandemi yang semakin memperparah krisis ekonomi, tidak menghalangi untuk menjadi lebih arif dan mengambil hikmah atas kondisi yang terjadi. Kita semakin lebih peduli bahkan kesetiakawanan dan kepedulian sosial kita bisa lebih tumbuh,” kata dia.

Namun, Nashirul melanjutkan, dalam suasana penuh keprihatinan seperti ini, sangat disayangkan ada sebagian dari bangsa ini, yang dipundaknya amanah kekuasaan disandang, memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan, terkesan sembunyi-sembunyi, mempersulit akses publik untuk tahu, telah membuat kebijakan-kebijakan bahkan undang-undang yang berpotensi merugikan dan memarjinalkan rakyat Indonesia.

Nashirul juga menyoroti masalah Undang Undang yang berpotensi memperparah kerusakan bumi pertiwi, membuka pintu lebar-lebar bagi para kapitalis, korporasi asing dan aseng untuk mengeruk kekayaan Indonesia sebebas-bebasnya serta segilintir pihak pribumi yang diuntungkan.

“Lengkap sudah keprihatinan kita. Penyalahgunaan kekuasaaan yang telanjang dinampakan. Islamphobia merajalela, wacana dan diksi Islami justru dibully. WNA merebut jatah lapangan kerja pribumi,” ungkapnya.

Dari keprihatinan tersebut, Hidayatullah mengajak kepada Pemerintah untuk kembali mendengar aspirasi dan jeritan hati rakyat dan membatalkan Undang-Undang Cipta Kerja Omnibus Law sebagaimana yang diminta MUI, ormas Islam dan elemen-elemen bangsa lainnya.

“Kembalikan politik menjadi politik yang sehat dan bermartabat. Tegakkan hukum dengan baik karena ini negara hukum, bukan negara kekuasaan. Bela kepentingan jutaan rakyat daripada jadi abdi segelintir konglomerat,” imbuhnya.

Nashirul menambahkan, Hidayatullah selama 47 tahun telah memegang teguh kesetiaan, semangat mengabdi kepada Ilahi, berkhidmat untuk agama dan ummat, serta berkhidmat untuk NKRI melalui berbagai program di bidang pendidikan, dakwah, sosial, dan ekonomi keummatan.

“Karenanya, komitemen Hidayatullah untuk ummat bangsa ini tidak perlu diragukan lagi,” pungkasnya.

Sementara itu, Pimpinan Umum Hidayatullah KH Abdurrahman Muhammad dalam amanatnya sekaligus membuka acara, menyampaikan, Hidayatullah kapan saja dan di manapun selalu membawa misi rahmatan lil alamin sebagaimana tertera pula dalam tema Munas.

“Itu artinya, semua aktifis Hidayatullah harus siap mengambil peran untuk membangun kekuatan dan mempersatukan umat Islam sebagai mayoritas dari bangsa ini. Jika umat Islam kuat dan bersatu, Insya Allah bangsa ini akan bermartabat. Bermartabat artinya terhormat, memiliki peradaban tinggi. Bukan bermartabak, diperbutkan oleh bangsa bangsa yang lain,” katanya.

Munas yang dimulai hari ini adalah untuk menyusun langkah langkah strategi dakwah dan tarbiyah ke depan. Abdurrahman berpesan agar Munas ini bisa menyusun langkah sejauh mungkin dan membuat target setinggi tinggi dan sebesar-besarnya.

“Buatlah harapan seideal mungkin, seoptimal mungkin dan dengan penuh pengharapan. Jangan membuat program yang mengecilkan harapan. Jangan membuat program yang mematikan spirit. Buatlah program besar yang mewakili Allah yang Maha Besar. Wa robbaka fa kabbir.

Meskipun demikian, dia mengingatkan sebagaimana telah dituntunkan Allah untuk tidak memaksakan diri dan tidak sombong. Artinya, kita harus mencermati sunnatullah dalam proses ikhtiar usaha maksimal, bekerja keras, berdoa, menuntun diri dengan ilmu dan melengkapi diri dengan keterampilan dan profesionalisme.

“Dalam menaiki tangga perjuangan, tidak lompat-lompat karena ingin cepat sampai. Walaupun Allah memiliki kuasa, kun fayakun, tetapi ketika menciptakan langit membutuhkan enam masa. Tentukan tahapan dan harus melalui tahapan demi tahapan,” katanya.

Ketua Panitia V Munas Hidayatullah Wahyu Rahman mengatakan sejatinya pihaknya sangat berkeinginan untuk menghadirkan peserta sekitar 3000 di Jakarta. Namun karena pandemi hal itu tak memungkinkan.

“Meskipun begitu, semoga Munas kali ini tidak mengurangi substansi yang kita langsungkan. Munas ini memang cukup alot dan dinamis, antara ditunda atau tetap dilaksanakan di akhir tahun 2020 ini. Akhirnya berdasarkan musyawarah Majelis Syura, Munas diputuskan digelar secara virtual yang diputuskan tiga bulan sebelum hari ini,” kata Wahyu.

Pusat kegiatan munas kali ini bertempat di Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, Jawa Barat, dan secara serentak terdapat 34 kluster lain untuk kegiatan sebagai perwakilan wilayah DPW Hidayatullah. Munas memberlakukan protokol kesehatan secara ketat baik di pusat kegiatan di Depok dan titik-titik lainnya. (ybh/hidayatullah.or.id)