Beranda blog Halaman 449

Kepedulian Pemuda Hidayatullah Kepada Marbot Muda

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Pandemi Covid-19 menjadikan sebagian pemuda yang masih tercatat sebagai mahasiswa berhadapan dengan kondisi sulit secara ekonomi.

“Kalau pulang, melanggar anjuran untuk di rumah saja. Kalau di sini, ya, harus sabar dan tawakkal,” kata Ilham Ahmad, sosok mahasiswa yang selain belajar juga aktif menjadi marbot muda Masjid Ummul Quro Depok, Jawa Barat,  kala menerima Kado Lebaran untuk Marbot Muda (KLMM) dari Pemuda Hidayatullah, Selasa  (19/5).

Dilema berikutnya, sebagai mahasiswa ekonomi, biasa dia mendapatkan penghasilan tambahan dengan beragam kegiatan, mulai dari privat anak-anak sekolah hingga mengajar Alquran. Namun kini semua terhenti.

“Kalau minta orang tua tidak mungkin. Biasanya tidak minta, kok tiba-tiba nelepon lalu mengeluh minta uang,” imbuh Ilham dalam rilis yang diterima Republika.co.id

Maka Ilham memilih tawakkal dengan menekuni tugas sebagai marbot masjid yang setiap hari membersihkan masjid, menyiapkan buka puasa dan sahur jamaah yang jumlahnya pun hanya pengurus masjid saja.

Hal senada juga dialami oleh Muslim Wambea, pemuda asal Papua Barat yang sehari-hari bersama Ilham.

“Saya tidak mungkin pulang juga. Biaya ke  Papua  mahal. Jadi saya sabar saja jalani semua ini dengan jadi marbot masjid,” ungkapnya.

Seperti itu pula yang dirasakan oleh Fadhli Rasyid, pemuda asal Poso itu memilih tetap tinggal di Depok demi kuliahnya ke depan.

“Saya yakin, ini pasti berlalu. Walau rasanya ingin sekali pulang, bertemu keluarga. Tapi di sini saya harus berjuang. Bagi saya ini kesempatan baik untuk mengabdi kepada Allah dengan menjadi marbot masjid yang dapat diandalkan,” tutupnya.

Pemuda Hidayatullah menaruh perhatian kepada para pemuda yang menjadi marbot masjid tersebut dengan program KLMM.  “Bagi kami di Pemuda Hidayatullah, apa yang dilakukan para pemuda dengan tetap menjadi marbot masjid ini adalah sebuah pilihan hebat dan patut kita dukung agar kelak mereka bisa menjadi pencerah umat yang menebar kebaikan,” terang Koordinator Program KLMM, Hanifuddin Chaniago.

Cara Anggota Pandu Hidayatullah Surabaya Menyeru kepada Jalan Allah

0

Sejarah telah mencatat bahwa Islam yang awalnya hanya di Jazirah Arab sekarang sudah tersebar ke seluruh penjuru dunia. Kesuksesan tersebut tidak lepas dari dakwah yang dilakukan oleh umat Islam. Gerakan dakwah ini terilhami oleh Firman Allah SWT yang mewajibkan seluruh umat Islam untuk melaksanakan dakwah. Serta sabda Rasulullah SAW yang menyeru untuk berdakwah walaupun hanya dengan satu ayat. Beliau bersabda “Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat”.

Semangat dakwah ini pula yang sampai saat ini senantiasa ditanamkan oleh Gerakan Pandu Hidayatullah atau yang sering disebut dengan GPH. Bahkan berdakwah di jalan Allah SWT ini termaktub dalam profil output Gerakan Pandu Hidayatullah yaitu Da’in ilallah. Perlu kita ketahui bahwa GPH adalah suatu aktifitas pengkaderan santri Hidayatullah yang bertujuan mendidik anggotanya supaya siap menjadi generasi pelanjut estafeta perjuangan Islam. Laa ‘izzata illa bil Islam (tiada kemuliaan kecuali dengan Islam) menjadi motto GPH  yang senantiasa digelorakan kepada seluruh anggotanya mulai jenjang SD sampai SMA.

Ada yang menarik dari GPH ini, khususnya pada saat pandemi corona seperti sekarang ini. Dimana dengan semakin menyebarnya covid 19 menjadikan sekolah meliburkan seluruh aktivitas KBMnya. Kegiatan belajar diganti dengan sistem pembelajaran daring atau online di rumah. Tidak terkecualikan kegiatan GPH di sekolah juga ikut diliburkan. Walaupun home learning via online penuh dengan keterbatasan tapi alhamdulillah program GPH masih bisa berjalan dan terkontrol dengan baik.

Khususnya GPH yang ada di SMA Luqman Al Hakim Surabaya. Para penanggung jawab GPH SMA luqman Al Hakim Surabaya senantiasa mengontrol program kepanduan selama santri melaksanakan program Pembelajaran Jarak Jauh (PPJ). Salah satu keseriusan tersebut terlihat dari diterbitkannya lembar penilaian sekaligus kontrol kegiatan santri.

Sebagaimana yang disampaikan oleh Ust Taufiq Khusnul Hajar selaku WAKA Kepanduan di SMA Luqman Al Hakim Surabaya. ”Ya, walaupun sekarang santri sedang belajar di rumah tapi program program kepanduan tetap kami jalankan. Bahkan secara khusus kami menerbitkan lembar penilaian kegiatan selama santri beraktifitas di rumah”. tegasnya.

Walaupun pengontrolan hanya melalui telepon, sejauh ini program kepanduan selama pandemi corona terpantau terlaksana dengan baik. Ada banyak aspek yang menjadi point penilaian dalam program kepanduan ini. Akan tetapi pada tulisan ini hanya dicantumkan 2 point saja yaitu Mujiddun fil Ibadah (Semangat beribadah) dan Da’in ilallah (Berdakwah di jalan Allah). Karena 2 point inilah yang akan berperan dan dirasakan oleh keluarga ketika santri berada di rumah. 2 point ini juga bisa menjadi catatan penting terkait tingkat keberhasilan pendidikan yang telah didapatkan santri selama di pondok pesantren.

Potret Kader Pandu

Adalah Muh Danish Al Farisi yang bisa kita jadikan salah satu contoh kesuksesan program kepanduan di SMA Luqman Al Hakim Surabaya. Meski berat menjalani home learning, santri kelas X IPA ini mengaku tersemangati dengan adanya kontrol dari program kepanduan ini. Bahkan ia merasa terbantu karena dengan adanya program kepanduan ini dirinya bisa mengatur kegiatan dan ibadah selama di rumah.

Menurut pengakuan Lutviana (Ibunda Danish), selama menjalani program home learning, anak pertama dari dua bersaudara ini terlihat semangat dalam beribadah. Sholat tepat waktu selalu dilaksanakannya, bahkan sholat dhuha senantiasa menjadi menu paginya.  Membaca Al Qur’an menjadi habbit yang tidak pernah teralphakan. Bahkan di Ramadhan tahun ini Danish mentargetkan 3 kali khatam.

Pemuda belia asal pulau Kalimantan ini juga sangat ringan tangan untuk membantu pekerjaan orang tuanya. Sampai sampai pekerjaan membantu orang tuanya ini terjadwal secara khusus bersama adiknya. Seperti mengepel lantai, mencuci piring, menyapu halaman, membersihkan kamar tidur, menata ruang tamu, dan pekerjaan ringan lainnya.

Satu hal yang membuat Lutviana benar benar bangga kepada Danish adalah di point Da’in ilallah atau berdakwah kepada Allah. Karena Danish sangat semangat dalam menjalankan ibadah maka secara otomatis seluruh anggota keluarganya juga termotivasi dan mengikutinya. Misalnya keistiqomahannya membaca Al Qur’an membuat sang adik juga mengikutinya. Kebiasannya sholat tepat waktu juga benar benar terjaga. Ada satu cerita menarik, ketika orang tua sedang berada di luar rumah dan bermaksud menanyakan sekaligus mengingatkan untuk sholat dzuhur diawal waktu. Namun jawaban yang diterima sungguh mengejutkan, adiknya mengaku telah melaksanakan sholat diawal waktu bersama kakaknya.

Santri yang sudah hafal 18 juz ini juga sering didaulat menjadi imam sholat tarawih di keluarganya. Satu pengalaman yang sangat menyentuh hati orang tuanya adalah ketika Danish mengimami sholat tarawih dengan membaca surat Ar Rahman. Lutviana sangat terenyuh dan bangga mendengar kemerduan serta penghayatan bacaan anak pertamanya tersebut. Sampai tak terasa air mata menetes membasahi pipinya. ”ya pak Ustad, pas membaca surat Ar Rohman, mama sangat trenyuh sampai nangis gitu”. Ungkapnya penuh keharuan.

Selain itu, selama home learning Danish juga aktif berdakwah lewat ceramah. Ada dua ceramah yang dilakukannya, pertama ceramah kultum sehabis sholat tarawih. Kultum ini merupakan program yang dibuat oleh keluarganya. Pematerinyapun dijadwal bergantian, tetapi yang lebih sering tampil menjadi pemateri adalah Danish. Sebagaimana penuturan Lutviana, ”Iya Ust, kami jadwal bergantian pemateri kultumnya, tapi yang lebih sering ngisi ya Danish.  imbuhnya.

Lutviana juga merasa bangga dengan pencapaian yang ada pada anaknya. Khususnya diaspek Ibadah dan semangat berdakwahnya. Istri dari Daru Kusumo ini sangat berterimakasih kepada seluruh guru dan para Ustad di Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya yang selama ini membimbing putranya. “Tentu sebagai orang tua kami sangat bahagia dan bangga melihatnya. Alhamdulillah, terimakasih kepada seluruh Ustad yang telah membimbing Kak Danish”. Tambahnya.

Itulah dua point mujiddun fil ibadah dan da’in ilallah yang dilakukan oleh anggota Pandu Hidayatullah SMA Luqman Al Hakim Surabaya selama menjalani program home learning. Kita doakan semoga kelak kader Pandu Hidayatullah bisa menjadi kader yang dai, dai yang leader dan leader yang profesional serta amanah. Aamiin.*Sang Pejuang *PanduHidayatullah

BMH dan Pemuda Hidayatullah Sinergi Tebar Kebaikan Ramadan

0

BOGOR (Hidayatullah.or.id) — Lembaga amil zakat nasional (Laznas) Baitul Maal Hidayatullah (BMH) dan juga Pemuda Hidayatullah bersama-sama terus menyalurkan kebaikan bulan suci Ramadan melalui para dermawan dari kaum Muslimin melalui program Buka Puasa Berkah yang berlangsung sejak dari 8 – 14 Mei 2020. Adapun kegiatan itu  berlangsung dibeberapa tempat sekitar Jabodetabek seperti di Jakarta, Depok, dan Bogor dengan total penerima manfaat 700 orang.

“Alhamdulillah tepat sepekan kolaborasi BMH dengan Pemuda Hidayatullah Jabodebek salurkan 700 paket Buka Puasa Berkah untuk masyarakat di Depok, Bogor, dan Jakarta, mulai dari Kayumanis, Terminal Pasar Minggu, Pasar Rebo, dan Kampung Rambutan,” terang Koordinator Aksi Buka Puasa Berkah, Hanifuddin Chaniago.

Hanifuddin menambahkan, program ini telah berjalan selama sepekan dengan pembagian paket Buka Puasa Berkah setiap harinya sebanyak 100 paket. Terakhir pada 14 Mei 2020 pembagian paket buka puasa berkah dilangsungkan di Jalan  Raya Tegar Beriman, Cibinong, Bogor Jawa Barat.

Ia juga menjelaskan bahwa secara keseluruhan masyarakat yang menerima buka puasa berkah ini mengaku bahagia dan mengucapkan syukur yang mendalam atas aksi kebaikan di bulan suci Ramadan ini. Terlebih banyak masyarakat untuk saat ini sangat terdampak akan wabah Covid-19.

“Mereka benar-benar membutuhkan uluran tangan kita, walau dalam bentuk Buka Puasa Berkah. Di antara mereka bahkan ada yang setiap harinya dihantui rasa takut, antara bisa makan atau tidak. Terlebih yang sudah kehilangan pekerjaan, sementara harus menanggung nafkah keluarga,” jelas Hanifuddin.

Seperti dituturkan oleh Pak Dedi, penerima manfaat di area Pemda Bogor di Cibinong, yang sehari-hari bekerja sebagai penjual keliling.

“Terima kasih paket buka puasanya. Sekarang kondisinya sulit. Saya jualan dari pagi sampai mau Maghrib begini bsia dihitung yang laku. Tapi kita tidak ada pilihan harus tetap keliling, karena rezeki saya memang dengan berdagang keliling. Dari pada di rumah saja,” tuturnya.

Kapolda Kunjungi Ponpes Hidayatullah Holtekamp

0

Pondok Pesantren Hidayatullah Holtekamp, Distrik Muara Tami, Kota Jayapura menerima kunjungan silaturahmi Kapolda Papua Irjen Pol. Paulus Waterpauw. Selain bersilaturahmi Kapolda juga menyerahkan bantuan sosial berupa bahan makanan dan busana Muslim di Pondok Pesantren Hidayatullah, Jumat (15/5/2020).

Dalam penyerahan bansos, Kapolda didampingi Karo SDM Kombes Pol. Aris Haryanto dan Kabid Humas Polda Papua Kombes Pol. Ahmad Musthofa Kamal.

Kapolda mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan wujud dari rasa kepedulian sesama yang di berikan Kapolda Papua dalam Rangka Gerakan Bakti Sosial Polri Peduli Covid-19.

“Tujuan kami datang untuk meringankan beban warga masyarakat di wilayah Kota Jayapura dalam menghadapi masa wabah pandemik Corona Virus Disease Covid-19,” ungkapnya.

Kapolda mengaku senang melihat ada tempat untuk penampungan anak-anak yatim dan kaum duafa yang dikelolah Ponpes Hidayatullah.

“Kami ada sedikit bantuan untuk bahan-bahan kebutuhan pokok dan semoga bermanfaat bagi anak-anak yang ada di pesantren Hidayatullah ini. Harapan kami para santri sehat semua, hidup rukun dan damai dengan masyarakat di sekitar,” harapnya.

Kapolda juga mengimbau semua warga di lingkungan ponpes untuk saat ini tetap di lingkungan Pondok dan tidak keluar.

Jika tidak ada keperluan yang mendesak dan tetap menggunakan masker dalam setiap kegiatan-kegiatan serta menjaga jarak satu dengan yang lain.

“Mudah-mudahan apa yang kami berikan dapat bermanfaat bagi semua yang ada di Pesantren Hidayatullah ini,” jelas Kapolda.

Terkait keputusan Pemerintah Provinsi tentang pembatasan kegiatan masyarakat pada pukul 14.00 Wit yang akan dimulai pada tanggal 17 Mei 2020 hingga 7 Juni 2020 dan Pemerintah Provinsi Papua saat ini akan menerapkan Penutupan Transmisi Lokal.

“Kita juga berharap semua berdoa agar wabah ini segera berlalu,” pungkasnya.

Ketua Yayasan Pesantren Hidayatullah, Ustadz Teguh Sri Handoko, mengucapkan terima kasih atas kehadiran Kapolda bersama jajaran semoga senantiasa dalam lindungan dan diberikan keselamatan dalam pelaksanaan tugas.

“Santri kami berjumlah 150 orang dan sebagian kami pulangkan ke orang tua karena Covid dan yang ada tinggal 60 anak Santri. Selain Yayasan kami juga ada TK dan Madrasah,” tandasnya.

Hadapi Pandemi dengan Paduan Kekuatan

0

Guncangan hebat yang disebabkan oleh Covid-19 telah merugikan banyak negara di dunia. Amerika Serikat saja sebagai negara adidaya dunia harus menanggung beban pengangguran warganya pada enam pekan terakhir ini sebanyak 33,3 juta jiwa. Pada saat yang sama korban meninggal dunia karena terserang Covid-19 telah melampaui 75.000 jiwa.

Di sisi lain, rasionalitas dan kelapangan dada menjadi hal yang kian tak sejalan. Akibatnya tidak jarang sebuah kebijakan yang ditetapkan justru memancing masalah yang tak kalah runyam dari keadaan semula. Latvia misalnya, begitu pemerintah menetapkan pemotongan anggaran untuk Kementerian Kesehatan setempat, sang menteri, Ivar Eglitis lebih memilih mengundurkan diri. Baginya pemotongan anggaran itu hanya akan menjadikan layanan kesehatan yang dinahkodai olehnya akan berjalan percuma.

Pejabat tinggi kesehatan di Spanyol Yolanda Fuentes juga memilih mengundurkan diri pada 7 Mei 2020 dari jabatannya setelah masyarakat meminta pemerintah setempat melonggarkan lockdown di Madrid.

Fakta di atas memberikan sebuah sinyal penting bagi dunia bahwa telah terjadi tubrukan serius antara sains, politik, dan sosial masyarakat itu sendiri. Semua itu terjadi karena satu sama lain memandang dengan orientasi yang berbeda-beda. Akibatnya, mereka yang katakan lebih memahami secara mendalam sisi yang sedang terjadi, memilih untuk angkat tangan daripada situasi kian buruk.

Sementara, pihak yang melihat dengan orientasi lain dan memiliki otoritas untuk memberlakukan kebijakan, merasa bahwa situasi bisa disikapi dengan cara yang lebih longgar, santai, sehingga kelesuan ekonomi dan kepayahan sosial publik secara psikologis dapat teratasi. Namun sayangnya, semua itu dipandang tanpa melihat dan mempertimbangkan aspek dari keberadaan virus itu sendiri yang secara nyata telah banyak membunuh nyawa manusia.

Di Indonesia pun situasinya bisa dikatakan sebelas dua belas dengan apa yang terjadi pada beberapa negara di dunia. Bahkan belakangan isu pelonggaran PSBB telah mencuat dan mengambil perhatian publik cukup serius. Dan, seperti di negara-negara lainnya, para ahli dari beragam disiplin ilmu memandang, opsi pelonggaran PSBB benar-benar belum mendesak untuk diberlakukan. Terlebih jika memerhatikan sebaran virus yang sekalipun mulai landai di Jakarta, tetapi dikabarkan meningkat di sejumlah daerah.

Memadukan Kekuatan

Lantas apa yang seharusnya dilakukan oleh bangsa Indonesia agar benar-benar lulus dari ujian pandemi ini?

Pertama pemerintah harus mampu memadukan kekuatan bangsa dan negara ini dengan melibatkan unsur penting di tengah-tengah masyarakat, mulai dari ahli, pemimpin ormas, tokoh masyarakat dan tokoh agama, termasuk organisasi kepemudaan untuk secara aktif melakukan diskusi dan memberikan saran yang diperlukan untuk mengatasi wabah Covid-19.

Langkah ini penting karena pada faktanya, pandemi ini tidak saja telah mengoyak-ngoyak kesehatan manusia, tetapi juga meruntuhkan kekuatan ekonomi masyarakat, bahkan belakangan mulai mengundang beragam tindak kejahatan yang meresahkan warga, seperti penjambretan dan perampokan.

Jika hal itu dilakukan, maka energi publik akan terarah pada pemahaman yang utuh dan dapat secara langsung kooperatif dengan setiap kebijakan yang ditetapkan oleh pemerintah. Jika tidak, dan negara atau pemerintah hanya berpandangan pada basis kebutuhan menguatkan ekonomi dengan tidak begitu memerhatikan aspek lainnya, bukan saja kritik dan penolakan yang akan dituai, beragam masalah baru pun akan bermunculan. Jika ini tejradi, sudah sangat jelas akan menjadikan pemerintah semakin tidak berdaya mengendalikan situasi.

Kedua, secara khusus pemerintah harus mengambil langkah cepat dengan melibatkan unsur tokoh agama, pemimpin ormas Islam, untuk mendorong anggota yang dipimpinnya dapat menjadi komunitas percontohan bebas Covid-19.

Hal ini sangat mungkin, karena dalam realitas nyaris semua ormas punya basis-basis kehidupan sosial atau sebut saja miniatur peradaban masyarakat, yang di dalamnya ada warga, masjid, toko, dan aktivitas sebagaimana di masyarakat, sehingga warga sekitar dapat meniru bagaimana pola hidup sehat dan bersih diterapkan secara langsung dan konkret. Dengan demikian pendekatan edukatif pemerintah untuk mendorong literasi masyarakat secara nyata dapat ditingkatkan dengan upaya ini.

Ketiga, untuk mengamankan potensi dan masalah sosial yang telah terjadi, pemerintah secara langsung dapat mengajak semua pihak, mulai dari sekolah, kampus, pesantren, masjid dan desa-desa yang secara kultur memadai dalam hal kekompakan untuk sama-sama melakukan aksi sosial secara nyata dengan saling membantu. Hal ini akan sangat membantu meredam potensi timbulnya aksi kejahatan sekaligus korban jiwa karena ditimpa kelaparan. Secara lebih cepat, langkah ini dapat dilakukan dengan sangat baik oleh Lembaga Amil Zakat di seluruh Indonesia.

Inilah sebuah jaring kekuatan yang secara kultur telah lama ada di negeri Indonesia. Sebuah keunggulan yang tidak ada di Amerika dan Eropa, atau pun China. Dan, menariknya, kultur itu adalah nafas peradaban rakyat Indonesia, karena bukan sekedar dibentuk atas kesadaran sosial, tapi juga dilegitimasi oleh nilai religius bangsa ini sejak berabad silam lamanya.

Apabila langkah ini dapat segera dikomunikasikan dan dilaksanakan, maka bukan tidak mungkin Indonesia akan menjadi negara yang benar-benar lulus menghadapi pandemi ini dengan sebuah bonus yang amat penting bagi kemajuan bangsa dan negara, yakni bersatunya kembali jaring kekuatan sosial yang sejak dahulu telah tersedia dan hingga saat ini belum benar-benar digunakan. Allahu a’lam.*

Imam Nawawi, Ketua Umum Pemuda Hidayatullah

Menjemput Lailatul Qodr dengan Protokol Ketat

0

HARI HARI ini adalah 10 hari terakhir bulan Ramadhan. Saatnya memenuhi Masjid dengan i’tikaf. Ini salah satu bentuk isolasi mandiri yang efektif dan produktif. Karena tetap bisa menjalankan ibadah dengan baik. Tentu saja dengan protokol kesehatan yang ketat.

Sebelum ikut i’tikaf, semua peserta dicek dulu kesehatannya. Jika sehat, boleh ikut. Jika tidak fit dilarang gabung. Jika memungkinkan dilakukan rapid test atau PCR test dulu. Selain itu di Masjid juga tersedia hand sanitizer, pengukur suhu instant, dan lain sebagainya.

Artinya hanya jama’ah yang sehat, yang bisa menjadi peserta i’tikaf di Masjid itu. Karena secara fikih, orang yang sedang beri’tikaf dilarang keluar meninggalkan Masjid, kecuali kepentingan yang dibolehkan oleh syar’i. Jika sudah keluar dari Masjid, maka dilarang bergabung i’tikaf di Masjid lagi. Takmir Masjid dan DKM harus tegas. Tidak ada kompromi.

Bagaimana dengan kepentingan ta’jil, ifthar ataupun sahur? Takmir bisa bekerjasama dengan jama’ah sekitar Masjid untuk menyediakan (memasak) untuk kepentingan peserta.

Jika tidak bisa, maka dapat bekerjasama dengan warung makan terdekat. Tentu tetap dengan protokol yg ketat. Sehingga peserta i’tikaf terpenuhi asupan gizinya, selain tetap mengkonsumsi madu, kurma, dan lain sebagainya. Dan ini jadi bagian dari pemberdayaan juga.

In Shaa Allah dengan cara ini, semua peserta i’tikaf akan aman dari penyebaran Covid-19. Dan bisa menghidupkan Ramadhan, memakmurkan Masjid, serta menghidupkan malam-malamnya, sambil menjemput lailatul Qodar.

*Ketua Bidang Perekonomian Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah

Direktur Bamuis BNI Ajak Wisudawan Sekolah Dai Majukan Dakwah Ekonomi

BOGOR (Hidayatullah.or.id) — Direktur Yayasan Baitul Maal Umat Islam Bank Negara Indonesia (Bamuis BNI) Sudirman menyampaikan pidato sambutan dan pengarahan acara wisuda dan penugasan Sekolah Dai Hidayatullah Ciomas, Bogor, Jawa Barat, angkatan ke-V yang digelar pada Ahad sore (10/5/2020).

Dalam sambutannya yang dilakukan secara virtual tersebut, Sudirman mengapresiasi penyelenggaraan Sekolah Dai telah melahirkan banyak dai yang siap ditugaskan menemban amanah dakwah ke berbagai penjuru negeri dan kini telah memasuki angkatan ke-5.

Ia berpesan kepada 34 dai muda yang berasal dari berbagai daerah dan latar belakang, ini agar terus peduli pada persoalan umat terutama dalam mengembangkan dakwah agama Islam.

Oleh karena itu, katanya melanjutkan, setelah para dai sampai di tempat daerah tugas, segeralah buat pengajaran Al Qur’an untuk masyarakat dan menekankan pentingnya peran dai memajukan dakwah dalam membangun kesadaran ekonomi umat.

“Seorang dai harus tanggap terhadap persoalan ekonomi masyarakat, karena dakwah dengan ekonomi akan sangat efektif,” kata Sudirman.

Seperti diketahui, Yayasan Baitul Mal Umat Islam Bank Negara Indonesia sendiri merupakan lembaga filantropi tertua di Indonesia yang didirikan pada 5 Oktober 1967 telah banyak membantu para mustahik yang membutuhkan bantuan termasuk dalam menopang kemandirian ekonomi masyarakat dhuafa.

Dengan jejak rekamnya sebagai lembaga Laznas modern pertama di Indonesia, Sudirman berharap, pihaknya dapat terus menjadi bagian penting dalam pengentasan masalah bangsa termasuk dalam mendukung penguatan dakwah Islamiyah yang kaffatan linnas rahmatan lil alamiin.

Masih dalam sambutannya, Sudirman berpesan kepada para dai yang akan dittugaskan ini agar kelak menjadi penggerak perubahan ummat. Seorang dai juga, menurut Sudirman, harus jeli dalam melihat potensi lokal dan mengembangkannya sebagai sarana dakwah.

“Jadilah para pendakwah yang ikhlas, karena Allah, bukan karena yang lain,” pesan Sudirman seraya menutup pidato sambutannya.

Persaudaraan Dai Indonesia (Posdai) yang membawahi Sekolah Dai menggelar acara wisuda dan penugasan dai bertepatan dengan peringatan Nuzulul Quran 17 Ramadhan yang digelar di Komplek Sekolah Dai Hidayatullah Ciomas, Kampung Pasir Peundey, Kelurahan Sukaharja, Kecamatan Ciomas, Bogor, Jawa Barat, Ahad sore (10/5/2020).

Peserta wisuda yang telah menjalani masa karantina pendidikan selama 1 tahun ini ditugaskan mengemban dakwah ke berbagai kawasan yang membutuhkan yaitu ke Sumatra 4 orang, pulau Jawa 2 orang, Kalimantan 5 orang, Sulawesi 11 orang, Papua 7 orang, NTT 4 orang dan ke Provinsi NTB 1 orang utusan dai.

Acara ditutup dengan doa oleh Kepala Kantor Urusan Agama Kecamatan Ciomas, Abdul Aziz, dan diakhiri dengan berbuka puasa dan shalat maghrib dengan tetap mematuhi protap social distancing.

34 Wisudawan Pos Dai Siap Emban Tugas Dakwah

BOGOR (Hidayatullah.or.id) — Persaudaraan Dai Indonesia (Posdai) yang membawahi Sekolah Dai menggelar acara wisuda dan penugasan dai bertepatan dengan peringatan Nuzulul Quran 17 Ramadhan yang digelar di Komplek Sekolah Dai Hidayatullah Ciomas, Kampung Pasir Peundey, Kelurahan Sukaharja, Kecamatan Ciomas, Bogor, Jawa Barat, Ahad sore (10/5/2020/17).

Acara yang berlangsung sederhana namun tetap khidmat ini dihadiri oleh Ketua Posdai Pusat Ust Ahmad Suhail, Ketua Yayasan Pendidikan Dai Hidayatulllah Ust Samani Harjo, Kepala Sekolah Dai Ciomas Ust Syaifuddin, Kepala Sekolah Dai DKI Jakarta Ust Shiddik Junihardin, dan Kepala KUA Ciomas Abdul Aziz.

Hadir pula menyapa secara virtual Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah KH Dr Nashirul Haq dan Direktur Bamuis BNI Sudirman. Keduanya juga didapuk memberikan pidato pembekalan untuk para wisudawan yang akan ditugaskan ke berbagai wilayah se-nusantara tersebut.

Ketua Posdai Pusat Ust Ahmad Suhail dalam pengarahannya membuka acara tersebut berpesan kepada 34 wisudawan muda ini agar selalu meluruskan nawaitu sebagai dai yang akan mengabdi ke berbagai penjuru negeri. Suhail mengungkapkan, dai mengabdi merupakan spirit Nubuwwah dimana inspirasi dari program ini adalah kekariman penuh sahaja kaum Anshar dan kaum Muhajirin di masa Rasulullah SAW.

“Ini adalah tentang jiwa penolong. Meskipun para dai ini dirinya sendiri dalam kesulitan mereka tetap memikirkan dan berbuat untuk nasib orang lain,” kata Ahmad Suhail.

Lebih Suhail mengutarakan, dunia ini akan damai bila dinaungi al Qur’an. Oleh karena itu, lanjutnya, tidak ada yang lebih baik kecuali mengajarkan Qur’an.

“Al Qur’an merupakan kitab suci bagi umat islam, tidak ada pertentangan dan perbedaan dalam hal Al Qur’an, sehingga Al Qur’an ini menjadi pemersatu umat. Oleh karena itu dimanapun kalian bertugas dan berada, ajarkan Qur’an,” kata Suhail.

Dalam pada itu, Suhail mengingatkan, bahwasanya tugas dakwah itu adalah amanah yang berat, karena seorang dai dituntut mampu mendidik, membimbing dan menuntun ummat menuju kepada Allah SWT

“Untuk itu seorang dai harus senantiasa meminta pertolongan kepada Allah, sesering mungkin berdekat dekat dengan Allah, memohon kepada-Nya untuk keistiqomahan dirinya dan memohon hidayah untuk umat binaanya,” pesannya.

Sementara itu, Ketua Yayasan Pendidikan Dai Hidayatulllah Ust Samani Harjo selaku tuan rumah penyelenggara, mengatakan acara ini diadakan sebagai tanda telah berakhirnya pembelajaran santri calon dai Sekolah Dai Hidayatullah di Bogor. Sekaligus ini acara puncak yang ditunggu-tunggu oleh para dai karena setelah acara ini maka mereka akan melanjutkan tugas dakwah menyiarkan Islam di daerah yg membutuhkan kehadirannya.

Samani menambahkan, acara tersebut diselenggarakan di masjid kampus Sekolah Dai karena acara ini hanya untuk internal yang dihadiri oleh para dai wisudawan dan para pengurus serta para ustadz pengajar serta dan tidak mengundang dari masyarakat luar.

“Hal ini dikarenakan adanya wabah Covid-19, sebagai bentuk penerapan pembatasan sosial berskala besar sebagai ikhtiar kita memutus penyebarannya,” pungkas Samani.

Peserta wisuda yang telah menjalani masa karantina pendidikan selama 1 tahun ini ditugaskan mengemban dakwah ke berbagai kawasan yang membutuhkan yaitu ke Sumatra 4 orang, pulau Jawa 2 orang, Kalimantan 5 orang, Sulawesi 11 orang, Papua 7 orang, NTT 4 orang dan ke Provinsi NTB 1 orang utusan dai.

Acara ditutup dengan doa oleh Kepala Kantor Urusan Agama Kecamatan Ciomas, Abdul Aziz, dan diakhiri dengan berbuka puasa dan shalat maghrib dengan tetap mematuhi protap social distancing.

Pesan Ketua Umum DPP Hidayatullah Kepada Wisudawan Dai Hidayatullah

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, KH Dr Nashirul Haq, MA, memberikan taushiah pengarahan pada acara wisuda dan penugasan Sekolah Dai Hidayatullah Ciomas, Bogor, Jawa Barat, angkatan ke-V yang digelar pada Ahad sore (10/5/2020).

Dalam taushiahnya yang disampaikan secara live streaming dari Jakarta dan saksikan 34 dai wisudawan beserta hadirin di Bogor, Nashirul Haq mewasiatkan hikmah yang terkandung di dalam Al Qur’an surah Yusuf ayat 108 tentang wajibnya berdakwah menyeru kepada agama Allah ta’ala bagi orang mukmin yang mengikuti Rasulullah Muhammad shallahu ‘alaihi wa sallam.

قُلْ هَٰذِهِۦ سَبِيلِىٓ أَدْعُوٓا۟ إِلَى ٱللَّهِ ۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا۠ وَمَنِ ٱتَّبَعَنِى ۖ وَسُبْحَٰنَ ٱللَّهِ وَمَآ أَنَا۠ مِنَ ٱلْمُشْرِكِينَ
Katakanlah: “Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik”.

Nashirul mengimbuhkan, dalam Al Qur’an tersebut kita diperintakan untuk menyatakan kepercayaan kita bahwa Islam adalah jalan perjuangan kita, keyakinan kita, dan dengan itu kita mengajak manusia untuk menghambakan diri kepada Allah.

“Namun kita diingatkan agar berdakwah dengan bashirah. Bahwa dakwah harus disampailan dengan hujjah, dengan ilmu, tidak asal dakwah. Bashirah di sini termasuk pemahaman dai terhadap ajaran Islam, Quran dan Sunnah, secara baik dengan benar,” katanya.

Kemudian, dia melanjutkan, makna bashirah yang kedua adalah memahami manhaj atau metode (thariqah) dakwah karena berdakwah harus benar cara dan metodenya.

“Sehingga dari sisi content, kandungan materi benar, kemudian juga caranya, uslubnya, metodenya juga benar,” katanya.

Masih dalam lanjutan ayat tersebut, Nashirul mengemukakan makna dari frasa ana wa manittaba’anī. Dia menjelaskan, makna dari lafaz tersebut adalah seruan kepada Nabi Muhammad untuk memproklamirkan bahwa jalan dakwah adalah jalanku dan jalan orang yang mengikutinya.

“Artinya, dakwah akan efektif dan berpengaruh kepada umat dan memiiki kekuatan manakala ada tanzim. Ada kepemimpinan. Harus ada manajemen, ada organisasi, karena kita lemah penuh dengan keterbatasan sehingga harus berjamaah, bersama-sama mengemban dakwah. Begitulah Rasulullah menjalankan dakwah ini secara jama’i bersama dengan sahabat sahabatnya,” kata Nashirul.

Kembali kepada makna bashirah. Nashirul menerangkan, bahwa selain konten, berdakwah pun caranya harus benar dan metode ini adalah dakwah sistematis yang di Hidayatullah dikenal dengan metode Sistematika Wahyu (SW) yang merujuk pada tartib nuzuli atau sesuai tertib turunya wahyu Al Qur’an.

Metode dakwah sistematis ini sebagaimana sesuai urutan turunya wahyu Al Qur’an (tartib nuzuli) adalah dimulai dari yang paling prinsip yaitu pembinaan aqidah tauhid seperti termaktub di dalam surah pertama kali turun yakni Al ‘Alaq: 1-5, dimana di sini menderivasikan makna bahwasanya dakwah harus mengutamakan hal yang pokok (ushul) terlebih dahulu ketimbang yang ushul (cabang).

“Ketika Nabi mengutus sahabat berdakwah seperti saat mengirim Muadz bin Jabal ke Yaman, Nabi berpesan mengingatkan bahwa yang pertama kali disampaikan kepada umat adalah syahadat. Kalau mereka sudah bertauhid, barulah disampaikan bahwa Allah mewajibkan shalat 5 waktu, zakat, puasa dan lain sebagainya,” kata Nashirul menjelaskan.

Setelah Al ‘Alaq atau Tauhid-nya sudah mantap, baru masuk ke rangkaian metodologi yang kedua yaitu surah Al Qalam: 1-7, yang mengandung pesan berfikir (worldview) dan berprilaku secara Islami.

“Ahlak dan cara befikir ini adalah buah dari sebuah keyakinan Tauhid. Jika keyakinan Tauhid kokoh, maka cara perilakunya adalah nilai nilai Tauhid.” ujarnya.

Kemudian tahapan dakwah selanjutnya adalah surah Al Muzzammil 1-10 yang merupakan surah ketiga turun kepada Nabi. Nashirul menjelaskan, setelah aqidah sudah tertanam kokoh, ahlak telah terbentuk sesuai dengan ajaran Al Quran, maka kualitas ruhiyah harus ditingkatkan melalui 6 amalan di dalam surah Al Muzaammil atau dikenal dengan 6 azimat yaitu shala lail, meresapi Al Qur’an, dzikir, sabar, tawakkal dan hijrah untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Jika kualitas aqidah, ahlak, dan ruhiyah, sudah baik, maka otmatis dia akan memilki rasa tanggung jawab dan keterpanggilan untuk menyebarkan risalah Islam sebagaimana spirit dalam Surat Al Mudatsir ayat 1-7 yang pertama-tama menyeru kepada “orang yang berselimut” untuk membesarkan Allah yang kelak membahwa kejayaan yaitu dinul Islam.

“Para dai harus membersihkan pakainnya secara lahir da batin, pikiran juga harus disucikan. Sucikan diri, pakaian dan lingkungan, karena kesucian bagian dari keimanan. Sebagai pembawa risalhah, dia harus meningalkan dosa. Dai adalah panutan dan pemimpin umat,” katanya.

Nashirul pula mengingatkan bahwa di jalan dakwah banyak godaan, tidak sedikit iming yang sering diperhadapakan pada kita. Sehingga seringkali niat terganggu untuk motivasi dunia.

Maka, tegas dia melanjutkan, janganlah menyampaikan dakwah dengan tujuan untuk mendapatkan sesuatu yang sifatnya materiil karena Allah telah memberi pahala untuk kehidupan di akhirat kelak.

“Jalan dakwah ini kita akan menghadapi banyak tantangan dan rintangan dari orang-orang yang menolak dakwah bahkan bisa jadi dari kalangan kerabat kita sendiri. Ada caci maki, kezaliman, perlakuan kasar. Kuncinya adalah sabar. Nabi pun mengalami hal serupa tapi mereka bersabar,” imbuhnya.

Kemudian rangkaian metodologi dakwah yang terakhir adalah muatan surah Al Fatihah sebagai intisari Al Qur’an. Nashirul mengatakan, ajaran Islam adalah merupakan sistem kehidupan (manhajul hayat) dan inti dari ajaran Islam sudah terkandung dalam surah ini Al Fatihah ini.

“Al Fatihah adalah sebagai intisari Al Quran, maka Al Fatihan adalah bingkai dari seluruh aspek kehidupan dalam Islam yang kita istilahkan dengan peradaban Islam,” ujarnya.

Peradaban Islam sebagaimana dipahami Hidayatullah adalah manifestasi iman di dalam seluruh aspek kehidupan manusia untuk menjakankan 2 fungsi kita yaitu hirasatuddin, yakni bagaimana memastikan bahwa umat ini selalu berpegang teguh pada ajaran Allah SWT sehingga kehidupan ini ditata dengan kehendak Allah SWT.

Dan, fungsi kedua, siasatuddunya, yakni bagaimana kehidupan ini bisa diatur sedemikian rupa dalam ranga kesejahteraan dan kemakmuran umat manusia sehingga pada akhirnya manusia meraih kebahagiaan dunia dan akhirat.

“Selamat bertugas, selamat berjuang. Yakinilah, bahwa orang orang yang menolong agama Allah akan mendapatkan pertolongan dari-Nya,” pungkasnya.

Direktur LBH Hidayatullah Ajak Masyarakat Taati Aturan PSBB

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Kepala biro hukum dewan pengurus pusat (DPP) Hidayatullah dan Direktur lembaga bantuan hukum (LBH) Hidayatullah, Dr Dudung A. Abdullah, SH, MH mengajak kepada kita semua untuk mentaati aturan pemerintah untuk melakukan physical distance maupun sosial distance. Cara ini tentunya selain mentaati aturan yang ada, juga merupakan cara yang sangat tepat untuk melindungi diri sendiri maupun keluarga.

“Untuk sekarang ini, memang ada dua istilah yang berkembang di masyarakat kita. Physical distance maupun sosial distance tentunya kita sebagai masyarakat lebih baik mentaati aturan tersebut. Selain membahayakan kesehatan diri sendiri atau keluarga, bagi yang tidak mentaati tentunya akan mendapat teguran dari pemerintah” Jelas Dudung (8/4/2020).

Dudung juga menjelaskan bahwa kemungkinan selain teguran, masyarakat yang tidak mematuhi aturan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang telah diberlakukan pemerintah, masyarakat juga bisa terkena pidana sebagaimana telah dijelaskan dalam UU kekarantinaan kesehatan tahun 2018 pada pasal 93 yang ancaman penjara sampai satu tahun dan denda hingga 100 juta rupiah.

“Tentunya masyarakat yang tidak mematuhi sangat besar kemungkinan bisa terkena pidana yang malah semakin memberatkan masyarakat selain itu ada juga pasal KUHP 218 yang menyebutkan  Barang siapa pada waktu rakyat datang berkerumun dengan sengaja atau tidak segera pergi setelah diperintah tiga kali maka ancamanya pidana selama empat bulan” terang Dudung.

Namun, Dudung berharap aturan yang bisa ditegakkan bukanlah sebuah aturan pidana, tetapi aturan administratif yang tentunya bisa disepakati oleh semua pemangku kebijakan. 

“Tentunya aturan yang dibuat pemangku kebijakan kita jangan sampai memberatkan masyarakat yang sedang terkena wabah” lalu Dudung juga menjelaskan “Aturan pidana yang ditetapkan juga bisa menjadi kontraproduktif dengan berlakunya aturan membebaskan para napi yang tujuanya menghalangi masuknya virus di lingkungan lapas. Maka sebaiknya aturan yang diberlakukan adalah aturan administratif dan aturan denda yang bisa dikaji oleh para pemangku kebijakan” jelas Dudung.

Terakhir, terlepas dari aturan yang ada Dudung mengajak kita semua untuk mentaati aturan tersebut karena hal tersebut ialah bentuk kasih sayang kita kepada diri sendiri maupun keluarga dan juga sebagai bentuk bantuan kita terhadap negara menghentikan penyebaran virus.

“Kita sayangi diri kita, sayangi keluarga kita, dan sayangi negeri kita. Jangan sampai terlalu berat menghadapi virus ini” Tutp Dudung. *Amanjikefron