Beranda blog Halaman 447

Pengurus DPW Hidayatullah Jakarta Didominasi Anak Muda

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) – Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah DKI Jakarta baru saja menyelesaikan agenda Musyawarah Wilayah yang digelar di Hotel Padjajaran Suite, Bogor, Jawa Barat.

Selain menyepakati cakupan wilayah teritorial ekspansi gerakan, Musyawarah Wilayah kali ini menarik dan spesial karena didominasi oleh pengurus baru yang relatif umumnya anak muda.

Musyawarah Wilayah yang berlangsung selama 3 hari pada tanggal 20 sampai dengan 22 November 2020 ini menghelat beberapa agenda yang dilaksanakan. Diantaranya, evaluasi serta sosialisasi arah kebijakan organisasi dan penetapan ketua Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah DKI Jakarta periode 2021-2025.

Acara Musyawarah Wilayah DPW Hidayatullah DKI Jakarta dibuka langsung oleh Ketua Umum Pengurus Pusat Hidayatullah KH Dr Nasirul Haq, Lc,.M.A.

Dalam sambutannya, beliau berpesan kepada segenap dai muda khususnya yang mengemban amanah dakwah di DKI Jakarta untuk selalu menjaga kekompakan, kebersamaan, soliditas serta kohesifitas jamaah dan persaudaraan.

“Jaga soliditas jaga ukhuwah. Apalah artinya prestasi yang bersifat fisik tetapi kemudian ada sengketa hati. Makanya perlu terus ditingkatkan jam terbang keikhlasan,” katanya.

Nashirul mengajak peserta untuk selalu bermujahadah memperbaiki kualitas diri dalam ibadah dan pengabdian kepada umat serta menghindarkan diri dari berfikiran negatif dan berpacu selalu untuk maju bersama-sama.

“Kalau Nabi punya kesalahan, itu langsung ditegur oleh Allah SWT melalui wahyu. Kalau kita (berbuat salah), tegurannya juga melalui wahyu tetapi disampaikan oleh sesama kita,” imbuhnya.

Ia lantas mengingatkan hadits Nabi tentang pentingnya teman atau sahabat yang selalu mengingatkan dalam kesabaran dan kebenaran. Sabda Nabi yang diriwayatkan HR Abu Dawud tersebut berbunyi: “Al-Mar’u ‘ala dini khalilihi, falyanzhur ahadukum man yukhalilu”

“Seseorang itu bergantung pada agama sahabatnya. Karena itu, hendaklah salah seorang di antara kalian memperhatikan dengan siapa ia bersahabat”.

Nashirul menegaskan, saling mengingatkan dalam kebenaran dan kesabaran menjadi kekuatan umat Islam khususnya kader Hidayatullah karena upaya sungguh sungguh kita untuk tidak pernah lepas dari jamaah, halaqah dan ibadah.

Turut Hadir dalam acara tersebut, Ketua Bidang Dakwah dan Pelayanan Ummat DPP Hidayatullah Nursyamsa Hadis sebagai perwakilan serta pendamping Muswil DPW Hidayatullah DKI Jakarta.

Tampak pula hadir peserta dari berbagai unsur seperti Pemuda Hidayatullah DKI Jakarta, SAR Hidayatullah DKI Jakarta, Posdai DKI Jakarta, Islamic Medical Services (IMS) Hidayatullah dan Laznas Baitul Maal Hidayatullah.

Di pamungkas acara, Muswil DPW Hidayatullah DKI Jakarta menetapkan Ust Muhammad Isnaini sebagai ketua DPW Hidayatullah DKI Jakarta periode 2020-2025, yang sebelumnya mengemban amanah sebagai sekretaris wilayah.

Dalam jajaran kepengurusan baru ini, mantan Ketua Umum Pemuda Hidayatullah Suhardi Sukiman menempati posisi sebagai sekretaris DPW Hidayatullah DKI Jakarta, dimana DPW Hidayatullah DKI Jakarta menjadi daerah khusus yang ditetapkan oleh Hidayatullah pada periode ini.

Berikut struktur pengurus DPW Hidayatullah DKI Jakarta periode 2020-2025; Ketua: Muhammad Isnaeni, Sekretaris: Suhardi Sukiman, Bendahara: Ade Syariful Allam, Kadep Organisasi: Syaharuddin Yusuf, Kadep Dakwah: Fadhli Usman, Kadep Pendidikan: Mahidin Syahidu, Kadep Perkaderan: Munawir Baddu, Kadep Sosial dan Kesehatan: Fadlur Rahman Hasan, Kadep Ekonomi Kreatif: Suryanto Sarjodiningrat, dan Kadep Pusdadok dan Humas: Salman Al Farisi. (ybh/hio)

Pemuda Harus Menyiapkan Diri Menjadi Pemimpin

0

KEBUMEN (Hidayatullah.or.id) — Status pemuda dalam sebuah gerakan/ organisasi memiliki posisi strategis. Sebab, mereka adalah pelanjut estapeta kepemimpinan di masa mendatang. Oleh sebab itu, selaku pemuda, haruslah mempersiapkan diri sebaik-baiknya, sebelum masa untuk memimpin itu tiba.

Demikian papar DR. Nashirul Haq, Ketua Umum Pimpinan Pusat Hidayatullah, ketika memberikan taujih dalam acara Rapat Kerja Nasional (Rakernas), Pemuda Hidayatullah, yang diselenggarakan di Pesantren Hidayatullah, Kebumen.

“Pemuda yang tidak menyiapkan diri sebagai pemimpin di masa depan, akan kewalahan/kerepotan dalam memangku amanah kepemimpinan,” terangnya.

Hal itu terjadi, karena tidak memiliki bekal yang memadahi dalam memimpin. Untuk itu, lanjut Nashirul, menjadi keniscayaan bagi pemuda untuk menyiapkan diri dengan sebaik-baiknya.

Ustadz lulusan Universitas Islam Madinah itu kemudian mengurai bekal-bekal yang harus dipersiapkan pemuda, untuk menyongsong sebagai pemimpin ideal di masa depan. Yang pertama, sambungnya, harus menguatkan tarbiyah ruhiyah.

Tanpa ada kekuatan ruh atau spiritualitas, maka gerakan organisasi akan mengalami stagnasi bahkan bukan mustahil mengalami kemunduran.

“Selanjutnya,” sambung ustadz asal Wajo, Sulawesi Selatan ini, “Yang perlu dipersiapkan adalah tarbiyah ilmiah”.

Pemuda, kata Nashirul, haruslah membekali diri dengan ilmu yang sebanyak-banyaknya. Karena kemampuan fisik dan nalarnya masih sangat kuat. Jadi sangat memungkinkan untuk mendalami berbagai disiplin ilmu. Berbeda dengan orangtua yang telah menurun atau melemah.

“Apalagi fasilitas saat ini sangat mendukung. Mudah diakses. Pesantren-pesantren menjamur. Majelis-majelis ilmu terbuka,” ujarnya.

Nashirul pun mengutip pernyataan dari Umar bin Khathab, yang berpesan kepada segenap kaum muslimin, agar mendalami berbagai disiplin ilmu sebelum berkiprah sebagai pemimpin.

“Dalamilah ilmu sebelum kalian menjadi pemimpin,” ucap sosok murah senyum ini, menirukan petuah amir mukminin yang mendapat julukan al-Faruq.

Hal lain yang juga harus diasah oleh para pemuda adalah; tarbiyah jasadiyah. Ciri pemuda ditinjau dari segi fisik itu bertubuh sehat dan kuat. Tidak sakit-sakitan. Seperti tubuh orang-orang sholih terdahulu, semisal para sahabat, khususnya Nabi Muhammad SAW.

“Nabi merupakan sosok yang nyaris tidak pernah sakit. Itu karena pola makannya teratur. Termasuk olah raganya,” terang Nashirul.

“Siapkanlah diri sebaik mungkin, sebelum menyesal di kemudian hari, karena minimnya perbekalan ketika telah mengemban amanah sebagai pemimpin di masa mendatang,” pungkas lulusan doctoral di Internasional Islamic University Malaysia (IIUM) ini. *(Khairul Hibri)

Rakernas Pemuda Hidayatullah Gelorakan Kemandirian Menuju Indonesia Bermartabat

0

KEBUMEN (Hidayatullah.or.id) — Organisasi Pemuda Hidayatullah menyelenggarakan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) 2020 digelar di Kampus Al Iman Pondok Pesantren Hidayatullah Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, yang dibuka hari ini, Sabtu (28/11/2020).

Rakernas Pemuda Hidayatullah kali ini menyoroti masalah kemandirian yang mengangkat tema “Teguhkan Mindset Kemandirian Organisasi untuk Indonesia Bermartabat”.

Ketua Umum Pengurus Pusat Pemuda Hidayatullah (PPPH), Imam Nawawi, dalam pengarahannya mengatakan terma kemandirian seringkali direlasikan dengan hal-hal materiil. Mendengar kata kemandirian, sebagian orang akan terbayang tentang kemapanan secara finansial alias ekonomi.

Padahal, tegas Nawawi, dalam konteks organisasi, kemandirian bisa lebih luas dari bayangan umumnya orang. Bahkan secara substantif, kemandirian organisasi hanya bisa diwujudkan manakala jelas apa yang menjadi visi, misi, program, serta kegiatan yang menjadikan seluruh pengurus dan kadernya bergelora dalam menguatkan barisan perjuangan yang telah ditetapkan.

Bila kita telusuri sejarah, Nabi Muhammad SAW pun membangun peradaban tidak dimulai dari kemandirian dalam pengertian ekonomi, akan tetapi teguh, kokoh dan jelasnya aqidah keluarga dan segenap sehabat, sehingga mereka mampu menjadi manusia yang berjamaah, bukan himpunan apalagi sekedar kerumunan.

“Pada akhirnya kemandirian secara ekonomi hanya menjadi sebuah efek dari pembangunan kekuatan visi dalam hal ini iman, misi dalam hal ini amal saleh dan keilmuan,” kata Nawawi.

Dalam kata yang lain, Nawawi menjelaskan, kemandirian berarti bicara dari dasar, yakni iman, amal sholeh, barisan (shaf) dan pada akhirnya amal nyata (shaleh) dan ekspansi. Oleh karena itu, dia menegaskan, mewujudkan kemandirian organisasi berarti berjuang mewujudkan visi, menjalankan misi dan melangkah dengan program mainstream yang telah ditetapkan.

“Rapat Kerja Nasional adalah momentum penting untuk itu semua. Sebagai sebuah organisasi jelas Pemuda Hidayatullah berorientasi pada visi dan tujuan, komitmen pada tugas kelembagaan dan keumatan, penegakan disiplin dan budaya organisasi, kesetiaan pada manhaj dakwah dan tarbiyah, serta memprioritaskan lahirnya sumber daya insani yang cerdas, beradab dan progressif,” ujarnya.

Ketua Bidang Organisasi DPP Hidayatullah Asih Subagyo dalam sambutannya membuka Rakernas ini berpesan kepada pemuda untuk terus berkarya.

Pemuda, kata Asih, tidak saja berwacana. Dia berharap event Rakernas ini akan meretas semua program tahunan yang nantinya dilaksanakan oleh seluruh jaringan Pemuda Hidayatullah dengan semangat idealisme, progresif, revolusioner, manhaji dan beradab.

Dalam pada itu Pemuda Hidayatullah juga didorong untuk terus menguatkan gerakannya dengan dengan memperhatikan skala prioritas mengenai apa yang penting, mana yang mendesak dan apa penting dan mendesak.

“Pemuda bukan orang tua yang berusia muda, bukan yang bercerita masa lalu dan orang tuanya. Tetapi mereka yang menenun masa depan, bukan dengan wacana, tetapi dengan karya. Bukan penikmat sejarah, tetapi pencipta sejarah,” pungkas Asih.

Rapat Kerja Nasional Pemuda Hidayatullah yang berlangsung pada 27-29 November 2020 ini menerapkan protokol kesehatan secara ketat.

Ketua Panitia Pelaksana Rakernas Pemuda Hidayatullah 2020, Usman Budiono, mengatakan hajatan rapat kerja kali ini berbeda dengan Rakernas pada tahun sebelumnya, mengingat kegiatan Rakernas tahun ini harus tetap diselenggarakan di tengah pandemi.

Untuk menutup sebaran dan pencegahan penularan Covid-19, Usman mengatakan setiap peserta diwajibkan untuk mengikuti tes dan menjaga protokol kesehatan selama berlangsugnya acara.

Rakernas diselenggarakan dalam dua bentuk yakni secara virtual dan tatap muka. Peserta tatap muka hadir di Kampus Al Iman Pondok Pesantren Hidayatullah Kabupaten Kebumen dengan jumlah terbatas dan juga dilakukan secara virtual (online) dengan peserta berada di berbagai titik provinsi yang dikelola oleh PJ masing-masing wilayah yang telah ditunjuk oleh Pengurus Wilayah.

Rakernas Pemuda: Bangkitkan Kemandirian Organisasi

0
Munas Syabab (Pemuda Hidayatullah) 20 Januari 2020

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Organisasi pendukung (Orpen) Hidayatullah, Pemuda Hidayatullah, akan melaksanakan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) di Pondok Pesantren Hidayatullah Kebumen, pada 27-29 November 2020. Gelaran yang akan dilaksanakan secara virtual ini mengambil tema “Teguhkan Mindset Kemandirian Organisasi untuk Indonesia Bermartabat”.

Sekertaris Jenderal Pemuda Hidayatullah Mazlis B Mustapa, SE, mengatakan bahwa tema “Teguhkan Mindset Kemandirian Organisasi untuk Indonesia Bermartabat” diambil agar para pemuda, khususnya Pemuda Hidayatullah dapat mengetahui betapa pentingnya sebuah kemandirian sebuah organisasi selayaknya nabi Muhammad SAW membangun kemandirian umat.

“Tema ini diambila dalam rangka memberikan kesadaran kepada Pemuda khususnya Pemuda Hidayatullah arti penting kemandirian sebuah organisasi” jelasnya saat kami tanyai melalaui pesan daring (26/11/2020)

Menurut Mazlis, penting untuk memahami bagaimana nabi Muhammad SAW membangun sebuah kemandirian organisasi yang sangat kuat sehingga umat Islam pada masanya mampu berdiri kokoh aqidahnya.

“Sejarah Nabi Muhammad SAW membangun peradaban, tidak beliau mulai dari kemandirian dalam pengertian ekonomi, akan tetapi teguh, kokoh dan jelasnya aqidah, sehingga mereka mampu menjadi manusia yang bukan himpunan apalagi sekedar kerumunan. Pada akhirnya kemandirian secara ekonomi hanya menjadi sebuah efek dari pembangunan kekuatan visi dalam hal ini iman, misi dalam hal ini amal sholeh dan keilmuan” jelasnya.

Ia juga menyampaikan bahwa Rakernas Pemuda Hidayatullah nantinya tidak akan berbeda jauh dengan sistem yang dipakai pada musyawarah Nasional (Munas) Hidayatullah. para ketua Pemuda perwakilan wilayah saja yang diperbolehkan hadir dengan aturan protokol kesehatan, sedangkan para pengurus lainya akan mengikuti Rakernas secara virtual.

“Secara umum mirip dengan Munas V(irtual) Hidayatullah, Yang hadir di acara secara tatap muka hanya Ketua PW , sedangkan unsur PW lainnya, PD dan Kesatuan Mandiri mengikuti Rakernas secara virtual dari wilayah dan daerah masing-masing lewat video conference” jelas Mazlis.

Selain Rakernas, nantinya Pemuda Hidayatullah juga akan mengadakan event seminar kepemudaan yang akan disiarkan lansgung melalaui akun Youtube Pemuda Hidayatullah

“ Nantinya kita juga akan mengadakan event publik seperti Pembukaan dan Seminar Kepemudaan akan disiarkan live streaming melalui akun Youtube Pemuda Hidayatullah TV” ucapnya

Mazlis lalu berpesan kepada seluruh pengurus pemuda Hidayatullah yang ada diseluruh Indonesia untuk selalu merapatkan barisan menggapai ridha Allah.

“Mari ikhlaskan diri kita berada di dalam barisan Pemuda Hidayatullah, jadikan ridha dada kita terhadap fakta dan kenyataan atau takdir kita berhimpun di sini, lalu mari rapatkan barisan yang dapat mengundang cinta-Nya kepada kita hingga Allah jadikan kita tentara-tentara-Nya yang dicintai dan disambut dengan anugerah, berkah, dan jannah” tutupnya. *AmanjiKefron

Keadaban Sangat Prioritas dalam Sistem Pendidikan

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Muslimat Hidayatullah (Mushida) menjadi pilar penting bagi pendidikan putri dalam membangun peradaban Islam. Hal tersebut dikemukakan oleh Dr. Sabriati Aziz, M.Pd.I dalam webinar bertajuk “Peluang dan Tantangan Pendidikan Tinggi Kepengasuhan Putri” baru-baru ini.

Pada kesempatan tersebut, Sabriati mengawali materinya dengan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik. Bahwa Rasulullah bersabda, “Barang siapa mengayomi dua anak perempuan hingga dewasa, maka dia akan datang pada hari kiamat bersamaku.” (Anas bin Malik berkata: Nabi menggabungkan jari jemari beliau)

Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim tersebut sukses memotivasi para peserta yang hadir pada webinargelaran Mushida itu. Bahwa tak ada yang sia-sia jika kita mendidik anak perempuan hingga dewasa. Buah dari mendidik dan mengayomi anak perempuan dengan gizi dan asupan yang baik, akan membawa orang tuanya bersanding dengan baginda Rasulullah.

“Mendirikan Pendidikan Tinggi Kepengasuhan Putri merupakan amanah dari hasil Munas V Hidayatullah terhadap Muslimat Hidayatullah,” ujar Presidium BMOIWI tersebut (22/11/2020).

Tujuan pendidikan Islam bukan hanya menjadi manusia yang berilmu. Namun juga mampu menjadi manusia yang berkontribusi terhadap bangsa, berakhlak mulia, beriman dan bertakwa kepada Allah, Tuhan Yang Maha Esa.

Menjadi perguruan tinggi yang unggul dalam melahirkan tenaga pendidik putri yang berkualitas dalam menuju peradaban Islam adalah visi Pendidikan Tinggi Muslimat Hidayatullah, disampaikan oleh Sabriati di hadapan ribuan audiens dari seluruh penjuru Indonesia.

“Tersebab visi lembaga Hidayatullah membangun peradaban Islam, maka keadaban merupakan hal yang sangat diprioritaskan dalam sistem pendidikan,” ungkap anggota Majelis Penasehat Muslimat Hidayatullah tersebut dalam webinar yang disiarkan live streaming di kanal Youtube Hidayatullah ID itu.

Doktor lulusan Universitas Ibn Khaldun ini juga memaparkan analisa tentang pendidikan tinggi kepengasuhan putri. Di antaranya yaitu: Strength, tersedianya sumber daya manusia yang siap mengajar dan mendidik; Opportunities: tersedianya Pondok Pesantren Hidayatullah se-Indonesia yang memerlukan tenaga pendidik dan pengasuh.

“Permasalahan pendidikan dan kepengasuhan putri tak perlu ditakuti, namun hal tersebut harus diseriusi untuk mendapatkan solusi,” imbuh pendiri KIPIK (Komunitas Pencinta Keluarga) ini.

Terakhir, Sabriati menuturkan bahwa kecerdasan intelektual, spiritual, dan emosial yang seimbang serta dapat menjalankan syariat dan menjunjung tinggi nilai Islam adalah hasil dari pendidikan yang diharapkan.

Sebelumnya, wacana pendirian pendidikan tinggi kepengasuhan putri mencuat pada webinar yang merupakan bagian dari rangkaian acara pra Munas V Muslimat Hidayatullah itu.

Diketahui, Munas V Mushida akan digelar secara virtual, berpusat di Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, Kota Depok, Jawa Barat, dengan 33 titik lain sebagai perwakilan tiap Pengurus Wilayah (PW) Mushida yang ada di berbagai provinsi.

Perhelatan akbar lima tahunan itu kali ini akan digelar secara virtual karena berlangsung di tengah pandemi, dengan mengusung tema “Meneguhkan Integritas Muslimah Demi Tegaknya Peradaban Islam”.* Arsyis Musyahadah

Peranan Penting DMW Dalam Menjaga Semangat Dakwah Kader

0

MAKASSAR (Hidayatullah.or.id) — Ketua Dewan Murobbi (DM) Hidayatullah, Dr. Tasyrif Amin Latif, M.Pd. Menjelaskan bagaimana pentingnya fungsi dari Dewan Murobbi Wilayah (DMW). Ia mengatakan bahwa DMW memiliki fungsi dan tugas utama untuk mendampingi para keder wilayah agar semangatnya tetap terjaga. Hal tersebut ia sampaikan dihadapan para keder DMW di Makassar (25/11/2020). Acara ini dihadiri oleh para calon DMW Sulsel, Sulteng, Sulbar, dan Sultra.

“Sesungguhnya DMW memiliki peranan sangat penting dalam mendampingi para keder yang ada di wilayah. Sehingga semangat dakwah para keder tetap terjaga” jelasnya.

Tasyrif mengatakan sosok seorang DMW haruslah bisa mencerahkan, karena jika sewaktu-waktu ada kader Hidayatullah yang tidak dapat mengontrol dirinya selama menjalankan tugas, maka DMW bertugas untuk memberikan arahan sehingga para keder tetap dapat melaksanakan amanah dengan baik

“Para kader akan sangat banyak melakukan tugas kelembagaan, sehingga jika suatu saat nanti ada kader yang tidak dapat mengontrol dirinya, DMW bertuga memberikan arahan” ucapnya.

Dewan Murobbi diresmikan pertama kali dibentuk pada musyawarah nasional (Munas) Hidayatullah pada 28-29 Oktober 2020. Tasyrif menjelaskan bahwa DM mempunyai tugas maupun fungsi utama untuk menyiapkan struktur marhala dan juga para murobbi wilayah yang ada diseluruh perwakilan Hidayatullah.

“DM dibentuk dengan tugas dan fungsi mepersiapkan murabbi-murabbi diseluruh wilayah kerjanya untuk akselerasi dakwah, rekrutmen dan pembinaan anggota atau kader” pungkasnya.


Berikut nama-nama ketua dan anggota DMW periode 2020 – 2025
Sulawesi Selatan: Ir. Abdul Majid, MA, Drs. Ismail Mukhtar dan DR. Misjaya, M.Pd. Sulawesi Tenggara: Ahmad MS, Amin Suharman, dan Mustamir
Sulawesi Tengah: Ahmad Arsyad, Muh. Ali Murtadho, dan Ahmad Hafidz Al-Mandary. Sulawesi Barat: Drs. Naim Tahir, Adurrahman Hasan, S.Pd.I dan Muhajirin Bukhori.*BashoriSulbar

Tentang Kesetian yang Mahal

0

Berbicara kesetiaan tidak selalu terkait dengan uang. Kesetiaan adalah masalah mental, perasaaan dan jiwa. Namun kesetiaan juga tidak berada dalam ruang kosong. Ada saja godaan dan tantangannya untuk membuktikan sebuah kesetiaan. Ada banyak variabel dari sebuah kesetiaan, di antaranya ketulusan, kepercayaan, pengorbanan dan keberanian. Itu semua memerlukan waktu yang panjang untuk memupuk dan membuktikannya.

Ikatan pernikahan adalah janji kesetiaan antara suami dan istri yang diwakili oleh walinya. Akad nikah bukan akad biasa, bukan transaksi yang bersifat materi. Tapi ikatan dalam dimensi lahir dan batin serta dalam kurun waktu dunia akherat. Pertanggungjawabannya bukan hanya kepada mertua atau negara, tapi Kepada Allah SWT kelak di Hari Akhir.

Allah SWT menyebut ikatan pernikahan adalah mistagan ghalidha (ikatan yang kuat). Sebagaimana dalam firman Allah SWT yang artinya:

“Bagaimana kamu akan mengambilnya kembali, padahal sebagian kamu telah bergaul (bercampur) dengan yang lain sebagai suami-istri. dan mereka (istri-isterimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat.” (OS. An-Nisa:21)

Ada 3 kali Allah SWT menggunakan mistaqan ghalidha dalam Al-Quran. Di antaranya perjanjian Allah SWT dengan orang Yahudi (9S. An-Nisa: 154) dan perjanjian Allah SWT dengan para nabi QS. Al-Ahzab: 7. Artinya kekuatan ikatan akad nikah itu sejajar dengan perjanjian Allah SWT dengan orang Yahudi dan para nabi. Serius dan tidak mainmain.

Sehingga kesetiaan suami istri tidak bisa diukur dengan ikatan materi. Suami yang mapan atau sukses cenderung tidak setia.

Itu mungkin hasil temuan pada umumnya, pelaku perselingkuhan adalah pria yang mapan. Berselingkuh adalah menjalin hubungan tanpa sepengetahuan pasangan. Tipe suami seperti ini memperlakukan istri sebagai obyek, bukan sebagai partner atau mitra.

Sebenarnya, asumsi di atas tidak sepenuhnya benar. Ada suami yang tidak mapan, tapi juga tidak setia. Gampang digoda, karena mungkin merasa capek miskin. Apalagi ketika ada janda kaya raya yang merayu, seketika ingin mencumbu.

Ikatan akad nikah melahirkan cinta antara suami dan istri. Cinta yang tulus akan terbingkai dalam kesetiaan. Tidak ada cinta tanpa kesetiaan dan kesetiaan hanya semu tanpa dilandasi cinta. Cinta dan kesetiaan bukan dilandasi oleh materi kekayaan, atau ketenaran.

Kesetiaan Di Era 4.0

Kesetiaan adalah bagian yang paling tinggi dari sebuah cinta, sebab cinta menumbuhkan jiwa rela berkorban yang menjadi bukti dari sebuah kesetiaan. Orang yang setia biasanya memiliki komitmen siap membela dan bersama dalam kondisi apapun jua. Sehingga kesetiaan adalah bagian yang sangat mahal dalam sebuah pernikahan.

Beberapa tahun terakhir ini, angka perceraian meningkat tajam di masyarakat. Tragisnya yang menjadi sebab, kebanyakan adalah perselingkuhan atau adanya pihak ketiga, entah PIL (Pria idaman Lain) ataupun WIL (Wanita Idaman Lain). Penyebab perselingkuhan tersebut mayoritas lewat media sosial.

Pada era industri 4.0 sekarang, semua orang mudah berkomunikasi dan bebas berinteraksi pria dan wanita. Jejaring sosial pertemanan seperti WhatsApp, Facebook, Instagram, Twitter dan banyak lagi medsos yang membuka jalan untuk menjalin hubungan dengan lawan Jenis.

Ada yang lewat pertemanan lama yaitu grup-grup alumni sehingga Cinta Lama Bertemu Kembali (CLBK). Ada karena sembarang curhat di media sosial sehingga mendapatkan respon perhatian dari lawan jenisnya. Ada pula yang sengaja mencari pasangan selingkuh di media sosial.

Setiap zaman ada tantangan dan godaannya sendiri. Bukan berarti dahulu sebelum ada medsos atau internet tidak ada persilingkuhan, ada juga. Sehingga bukan menyalahkan zaman atau tehnologi untuk membenarkan ketidaksetiaan pada pasangan.

Mestinya, media sosial adalah sarana Untuk menguatkan ikatan suci pernikahan pasangan karena bisa berhubungan setiap saat. Inilah pentingnya sebuah komitmen. Kesetiaan adalah keinginan untuk tetap berpegang pada komitmen yang sudah disepakati, bertahan dalam suka maupun duka, untuk mewujudkan harapan dan impian keluarga, dengan segala kekurangan dan kelebihan dari masing-masing pasangan.

Setia Seperti Rasulullah SAW

Rasulullah SAW adalah teladan bagi orang-orang beriman dalam semua dimensi kehidupan dan dalam semua peran kehidupan. Bukan hanya dalam masalah ibadah, tapi juga dalam muamalah. Bukan saja dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat. Namun, juga dalam berkeluarga sebuah ungkapan mengatakan kapan mengatakan,”Jika kamu ingin istrimu menjadi seperti Khadijah, maka jadilah kamu seperti Muhammad & untuknya. Sebaliknya kalau ingin suami seperti Rasulullah SAW, jadilah istri seperti istri-istri Rasulullah (Ummul Mukminin)”.

Sebagai seorang suami, Rasulullah SAW tahu bagaimana memperlakukan para istrinya dengan baik Perlakuan baik seorang suami terhadap istrinya menunjukan kemuliaan dan ketinggian akhlaknya. Karena itulah maka Rasulullah SAW bersabda:

“Seorang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya di antara mereka. Sedangkan yang paling baik diantara mereka adalah yang paling baik perangainya terhadap istri-istri mereka.” (HR. Abu Daud)

Padahal istri beliau bukan hanya satu, tapi lebih dari empat. Rasulullah SAW memperlakukan para istrinya dengan penuh kelembutan dan kesetiaan. Tidak pernah mengurangi hak mereka, atau menuntut mereka berlaku lebih dari kemampuannya.

Banyak suami yang istrinya baru satu, sudah merasa kewalahan menjalankan tanggungjawabnya sebagai seorang suami seorang suami. Terbukti banyaknya kasus perceraian disebabkan oleh pengkhianatan dari salah satu pasangannya. Entah suaminya yang lemah atau istrinya yang terlatu kuat

Pasangan Setia

Ada tiga langkah untuk bisa menjadikan pasangan setia. Pertama harus berusaha menjadi suami atau Istri yang layak untuk dikagumi dengan segala kemampuan yang dimilikinya sehingga pasangan mau tidak mau harus mengagumi kelebihan yang dimilikinya.

Seperti berusaha menjadi istri yang pandai memasak, hemat belanja, menjaga penampilan di hadapan suami, menjadi sosok ibu yang sehat dan mandiri. Sebagai seorang suami, jadilah laki-laki yang tegas dan bertanggungjawab, berani dan cekatan, rajin dan tekun ibadah. Bukan menjadi sosok yang suka mengeluh, lebay, suka merengekrengek, cengeng, pemarah, malas atau sifat-sifat yang tidak baik.

Kedua ada menjadi diri yang setia. Tidak menuntut pasangan setia, tapi memulai dengan menunjukkan kesetiaan terlebih dahulu kepada pasangan. Sehingga pasangan akan memberikan kesetiaannya. Karena kesetiaan itu berbanding lurus dan saling tarik menarik satu dengan yang lain.

Ketiga, lingkungan yang setia. Menjadikan pribadi yang setia atau pasangan yang setia, memerlukan orang lain atau lingkungan yang mendukung. Lingkungan yang membatasi pergaulan atau interaksi lawan jenis, wilayah yang jelas atau putra dan putri.

Majalah Suara Hidayatullah (edisi April 2020)

Wacana Pendirian Pendidikan Tinggi Kepengasuhan Putri, Ini Peluang dan Tantangannya

0

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Dalam rangkaian pra Musyawarah Nasional V Muslimat Hidayatullah (Mushida), organisasi kewanitaan ini menggelar webinar pertama dari sejumlah webinar yang diagendakan. Webinar perdana yang diadakan pada hari Ahad (22/11/2020) sore itu mengusung tema “Peluang dan Tantangan Pendidikan Tinggi Kepengasuhan Putri”.

Tidak tanggung-tanggung, seminaronline ini dihadiri oleh lebih dari 1.000 peserta dari berbagai penjuru negeri secara virtual, baik yang via zoom maupun lewat live streaming di kanal Youtube Hidayatullah ID.

Ada tiga tokoh pendidikan yang menjadi pembicara di seminar ini, yaitu Ustadz Miftahuddin, M.Si. (Ketua Departemen Pendidikan Tinggi dan Penelitian Pengembangan DPP Hidayatullah), Dr. Sulistianingsih, S.KM., M.Kes (Wakil Sekretaris Majelis Dikti Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah yang juga Dosen Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta), dan Dr. Sabriati Aziz, M.Pd.I (Presidium Badan Musyawarah Organisasi Islam Wanita Indonesia/BMOIWI). Webinar ini dimoderatori oleh Ina Choeriyati, S.Ag., M.Pd.I.

Ketiga pemateri tersebut memaparkan peluang dan tantangan dalam pendirian institut pendidikan tinggi dengan konsentrasi di kepengasuhan putri dari sudut pandang keahlian dan latar belakang masing-masing.

Pada sesi pertama, Ustadz Miftahuddin membahas secara detail tentang prospek dan daya saing perguruan tinggi Islam (PTI). Materi yang disampaikan tersusun secara padat, dengan penjelasan mengenai grand design pendidikan tinggi Islam, kerangka konseptual perkaderan kepengasuhan, alur proses kepengasuhan, sampai dengan pola kepengasuhan. Beliau menguraikan setidaknya ada empat tantangan dalam penyelenggaraan pendidikan tinggi Islam.

Pertama, modernitas kelembagaan. Di mana PTI diharapkan dapat tumbuh dan berkembang menjadi institusi modern, yang juga tetap dapat memegang kuat akar dan nilai-nilai Islam. “Sebuah pesantren atau pendidkan Islam itu tidak hanya membuka program pendidikan studi Al-Qur’an, Al-Hadits, sirah, serta ilmu turunannya, tetapi (juga membuka) ilmu kedokteran, ilmu teknologi, itu menjadi sebuah tuntutan,” ujarnya pada webinar yang disiarkan live streaming di kanal Youtube Hidayatullah Id. Sebagaimana juga katanya dalam pendidikan tinggi umum yang berfokus pada keilmuan umum yang pada akhirnya juga mengkaji tentang keilmuan keislaman.

Tantangan kedua, tambah Miftahuddin, PTI sepatutnya dapat melahirkan lulusan Muslim paripurna yang berkualitas, memiliki daya saing, dan menguasai iptek.

Ketiga, terkait peningkatan mutu kelembagaan, sehingga terwujud PTI yang terbuka, modern, empiris-kontekstual, dan produktif. Terakhir, PTI perlu melahirkan pemikiran Islam paripurna (syamil-kamil) melalui pengembangan dialog antar bangsa.

Di sesi selanjutnya, Dr. Sulistianingsih, Wakil Sekretaris Majelis Dikti PP ‘Aisyiyah yang juga Dosen Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta, menyebutkan ada lima tantangan yang dihadapi dalam pendirian perguruan tinggi kepengasuhan putri.

Pertama, kata dia, belum adanya nomenklatur dalam bidang terkait kepengasuhan putri. Hal ini katanya butuh waktu untuk mewujudkannya, karena memang belum ada rujukannya secara internasional. Ini juga menjadi peluang karena banyak sekali prodi baru sekarang yang memang menjadi kekhasan Indonesia. “Ini tantangan sekaligus peluang yang bisa dilakukan oleh Muslimat Hidayatullah untuk bisa mewujudkan perguruan tinggi kepengasuhan putri ini,” ujarnya.

Tantangan kedua berkaitan dengan revolusi industri, sehingga perguruan tinggi perlu beradaptasi dalam hal penggunaan teknologi, interaksi manusia dengan mesir, penggunaan data dan komunikasi, serta digitalisasi dalam aktivitas dan prasarana perguruan.

Ketiga, perguruan tinggi juga diharapkan memiliki sistem penjaminan mutu internal yang dapat diterima secara eksternal oleh Badan Akreditasi Nasional dan dari lembaga akreditasi internasional. Tantangan berikutnya adalah pengembangan sumber daya dosen dan tenaga kependidikan, juga kondisi pandemi Covid-19 yang membuat adaptasi dalam berbagai bidang menjadi diperlukan.

Pada sesi terakhir Dr. Sabriati Aziz, Presidium BMOIWI yang juga Anggota Majelis Penasihat Mushida memaparkan visi dan misi Mushida dan latar belakang rancangan pendidikan tinggi kepengasuhan putri Hidayatullah. Potensi besar dari sekolah pada jenjang SD sampai SMA Hidayatullah, serta perbandingan yang cukup signifikan antara santri dan pengasuh di Pesantren Hidayatullah menunjukkan kebutuhan yang besar terhadap pendidikan tinggi kepengasuhan.

Sabriati selanjutnya memaparkan visi dan misi, serta tujuan dari perguruan tinggi. Permasalahan pendidikan dan kepengasuhan putri di pesantren menurut beliau terletak pada setidaknya empat hal, yaitu lemahnya integrasi kurikulum antara pendidikan di asrama dan kelas, profesionalitas, serta belum adanya kurikulum dan perguruan tinggi dengan jurusan kepengasuhan pesantren. “Ini juga menjadi satu hal yang perlu kita seriusi (untuk disikapi),” ujarnya.

Sabriati juga menyebutkan setidaknya ada empat peluang prodi pada pendidikan tinggi kepengasuhan, yaitu PGTK, PGSD, kepengasuhan asrama, dan pendidikan keluarga.

Pemaparan ketiga pemateri tersebut menggambarkan bahwa tantangan yang ada dalam pendirian perguruan tinggi kepengasuhan putri dapat dihadapi dengan perencanaan yang baik, serta banyaknya peluang dari pendirian perguruan tinggi ini sepatutnya mendorong realisasinya dalam waktu dekat. In syaa Allah.

Untuk diketahui, Munas V Mushida akan digelar pada penghujung tahun ini, tepatnya tanggal 11-12 Jumadil Uula 1442/26-27 Desember 2020. Munas V Mushida ini akan berpusat di Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, Kota Depok, Jawa Barat, dengan 33 titik lain sebagai perwakilan tiap Pengurus Wilayah (PW) Mushida yang ada di berbagai provinsi.

Perhelatan akbar lima tahunan itu kali ini akan digelar secara virtual karena berlangsung di tengah pandemi, dengan mengusung tema “Meneguhkan Integritas Muslimah Demi Tegaknya Peradaban Islam”.

Ketua Panitia Munas V Mushida, Neny Setiawaty, mengatakan bahwa protokol kesehatan akan diberlakukan ketat pada semua tamu dan perwakilan PW yang hadir. “Mohon doa dan dukungan dari semua pihak untuk kesuksesan munas Mushida ini,” ujar Neny Setiawaty, Senin (23/11/2020).* (Arsyis Musyahadah/Fadhilah Asaadah Abdul Aziz/SKR)

Tiap Bulan, 1 Ton Beras Disalurkan ke Pesantren-pesantren Tahfizh di Sulawesi Tenggara

0

KOLAKA (Hidayatullah.or.id) — Laznas BMH Perwakilan Sulawesi Tenggara terus bergerak mendukung program mencerdaskan kehidupan bangsa dengan mendukung secara konkret melalui bantuan sumber bahan makanan pokok, berupa beras.

“Alhamdulillah hadirnya program beras untuk santri tahfizh ini merupakan satu bukti bahwa umat ini sangat menginginkan generasi masa depan negeri ini adalah generasi yang cerdas dan religius. Hal itu mendorong BMH terus hadir memberikan kebaikan kepada sesama,” terang Kepala BMH Perwakilan Sulawesi Utara, Fatahillah (21/11/2020).

Pada kesempatan ini, beras untuk santri tahfizh disalurkan ke pesantren binaan BMH di Desa Ulukalo, Iwoimendaa, Kolaka, Sulawesi Tenggara.

Bantuan berupa beras untuk santri tahfizh ini disambut ungkapan terima kasih dari pimpinan pesantren, Ustadz Hanif.

“Kami atas nama keluarga besar pesantren, mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada BMH dan kaum Muslimin yang mendukung program ini. Semoga kebaikan ini mendorong kemajuan generasi masa depan kita semua,” ungkapnya.

Dalam setiap bulan, tidak kurang dari 1 ton beras terus digulirkan ke pesantren-pesantren tahfizh binaan BMH di Sulawesi Tenggara.

“Semua ini karena kepedulian umat Islam bagi kecerdasan generasi bangsa bersama BMH,” tutup Fatahillah.*/Herim

Webinar Series 01 Mushida Diikuti Ribuan Peserta, Bahas Peluang dan Tantangan Pendidikan Tinggi Kepengasuhan Putri

0

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Dalam rangkaian pra Musyawarah Nasional V Muslimat Hidayatullah (Mushida), organisasi kewanitaan ini menggelar webinar pertama dari sejumlah webinar yang diagendakan. Webinar perdana yang diadakan pada hari Ahad (22/11/2020) kemarin sore itu mengusung tema “Peluang dan Tantangan Pendidikan Tinggi Kepengasuhan Putri”. Tidak tanggung-tanggung, seminar online ini dihadiri oleh lebih dari 1.000 peserta dari berbagai penjuru negeri.

Ada tiga tokoh pendidikan yang menjadi pembicara di seminar ini, yaitu Ustadz Miftahuddin, M.Si. (Ketua Departemen Pendidikan Tinggi dan Penelitian Pengembangan DPP Hidayatullah), Dr. Sulistianingsih, S.KM., M.Kes (Wakil Sekretaris Majelis Dikti Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah yang juga Dosen Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta), dan Dr. Sabriati Aziz, M.Pd.I (Presidium Badan Musyawarah Organisasi Islam Wanita Indonesia/BMOIWI). Webinar ini dimoderatori oleh Ina Choeriyati, S.Ag., M.Pd.I.

Ketiga pemateri tersebut memaparkan peluang dan tantangan dalam pendirian institut pendidikan tinggi dengan konsentrasi di kepengasuhan putri dari sudut pandang keahlian dan latar belakang masing-masing.

Pada sesi pertama, Ustadz Miftahuddin membahas secara detail tentang prospek dan daya saing perguruan tinggi Islam (PTI). Materi yang disampaikan tersusun secara padat, dengan penjelasan mengenai grand design pendidikan tinggi Islam, kerangka konseptual perkaderan kepengasuhan, alur proses kepengasuhan, sampai dengan pola kepengasuhan. Beliau menguraikan setidaknya ada empat tantangan dalam penyelenggaraan pendidikan tinggi Islam.

Pertama, modernitas kelembagaan. Di mana PTI diharapkan dapat tumbuh dan berkembang menjadi institusi modern, yang juga tetap dapat memegang kuat akar dan nilai-nilai Islam. “Sebuah pesantren atau pendidkan Islam itu tidak hanya membuka program pendidikan studi Al-Qur’an, Al-Hadits, sirah, serta ilmu turunannya, tetapi (juga membuka) ilmu kedokteran, ilmu teknologi, itu menjadi sebuah tuntutan,” ujarnya pada webinar yang disiarkan live streaming di kanal youtube Hidayatullah Id. Sebagaimana juga katanya dalam pendidikan tinggi umum yang berfokus pada keilmuan umum yang pada akhirnya juga mengkaji tentang keilmuan keislaman.

Tantangan kedua, tambah Miftahuddin, PTI sepatutnya dapat melahirkan lulusan Muslim paripurna yang berkualitas, memiliki daya saing, dan menguasai iptek.

Ketiga, terkait peningkatan mutu kelembagaan, sehingga terwujud PTI yang terbuka, modern, empiris-kontekstual, dan produktif. Terakhir, PTI perlu melahirkan pemikiran Islam paripurna (syamil-kamil) melalui pengembangan dialog antar bangsa.

Di sesi selanjutnya, Dr. Sulistianingsih, Wakil Sekretaris Majelis Dikti PP ‘Aisyiyah yang juga Dosen Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta, menyebutkan ada lima tantangan yang dihadapi dalam pendirian perguruan tinggi kepengasuhan putri.

Pertama, kata dia, belum adanya nomenklatur dalam bidang terkait kepengasuhan putri. Hal ini katanya butuh waktu untuk mewujudkannya, karena memang belum ada rujukannya secara internasional. Ini juga menjadi peluang karena banyak sekali prodi baru sekarang yang memang menjadi kekhasan Indonesia. “Ini tantangan sekaligus peluang yang bisa dilakukan oleh Muslimat Hidayatullah untuk bisa mewujudkan perguruan tinggi kepengasuhan putri ini,” ujarnya.
Tantangan kedua berkaitan dengan revolusi industri, sehingga perguruan tinggi perlu beradaptasi dalam hal penggunaan teknologi, interaksi manusia dengan mesir, penggunaan data dan komunikasi, serta digitalisasi dalam aktivitas dan prasarana perguruan.

Ketiga, perguruan tinggi juga diharapkan memiliki sistem penjaminan mutu internal yang dapat diterima secara eksternal oleh Badan Akreditasi Nasional dan dari lembaga akreditasi internasional. Tantangan berikutnya adalah pengembangan sumber daya dosen dan tenaga kependidikan, juga kondisi pandemi Covid-19 yang membuat adaptasi dalam berbagai bidang menjadi diperlukan.

Pada sesi terakhir Dr. Sabriati Aziz, Presidium BMOIWI yang juga Anggota Majelis Penasihat Mushida memaparkan visi dan misi Mushida dan latar belakang rancangan pendidikan tinggi kepengasuhan putri Hidayatullah. Potensi besar dari sekolah pada jenjang SD sampai SMA Hidayatullah, serta perbandingan yang cukup signifikan antara santri dan pengasuh di Pesantren Hidayatullah menunjukkan kebutuhan yang besar terhadap pendidikan tinggi kepengasuhan.

Sabriati selanjutnya memaparkan visi dan misi, serta tujuan dari perguruan tinggi. Permasalahan pendidikan dan kepengasuhan putri di pesantren menurut beliau terletak pada setidaknya empat hal, yaitu lemahnya integrasi kurikulum antara pendidikan di asrama dan kelas, profesionalitas, serta belum adanya kurikulum dan perguruan tinggi dengan jurusan kepengasuhan pesantren. “Ini juga menjadi satu hal yang perlu kita seriusi (untuk disikapi),” ujarnya.

Sabriati juga menyebutkan setidaknya ada empat peluang prodi pada pendidikan tinggi kepengasuhan, yaitu PGTK, PGSD, kepengasuhan asrama, dan pendidikan keluarga.

Pemaparan ketiga pemateri tersebut menggambarkan bahwa tantangan yang ada dalam pendirian perguruan tinggi kepengasuhan putri dapat dihadapi dengan perencanaan yang baik, serta banyaknya peluang dari pendirian perguruan tinggi ini sepatutnya mendorong realisasinya dalam waktu dekat. InsyaAllah.*