Dampak wabah Covid-19 juga dirasakan oleh masyarakat di Papua. Tidak terkecuali para santri yang menimba ilmu di Pesantren Hidayatullah, mulai di Jayapura, Nabire, dan Merauke.
“Para santri ini tidak bisa tinggalkan pesantren, karena selain jauh tempat tinggalnya, juga harus diam di dalam rumah. Kalau mereka di asrama jauh lebih maslahat agar tidak tersuspect Corona,” terang Kepala BMH Perwakilan Papua, Sahriadi (3/5).
“Oleh karena itu untuk memberikan kebahagiaan, BMH menyapa mereka melalui program Buka Puasa Berkah secara serentak dengan total santri penerima manfaat sejumlah 400 orang,” imbuhnya.
Program ini mendapat sambutan positif dari pengurus pesantren dan kebahagiaan para santri.
“Kami sangat berterima kasih kepada BMH yang selama ini telah mendukung kegiatan-kegiatan di Pesantren Hidayatullah Merauke, terutama di bulan Ramadhan,” kata Ketua Pengurus Pesantren Hidayatullah Merauke, Ustadz Hasanuddin.
Hal senada juga disampaikan Ketua Pengurus Pesantren Hidayatullah Holtekamp Jayapura, Ustadz Maryudi.
“Doa terbaik kami untuk seluruh donatur, simpatisan, dan pendukung BMH. Semoga Allah berikan rezeki berkah dan melimpah,” ucapnya yang disambut kalimat “Aamiin,” oleh seluruh santri.
“Semoga BMH semakin berkontribusi di tengah-tengah umat dan para donatur diberikan kebahagiaan dunia-akhirat,” ungkap Ketua Pengurus Pesantren Hidayatullah Nabire, Ustadz Yusuf Qardhawi.
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, DR H. Nashirul Haq Lc, MA menyampaikan maklumat penguatan Gerakan Nawafil Hidayatullah (GNH) yang selama ini telah dijalankan agar selama bulan Ramadan GNH semakin ditingkatkan penguatanya. Nashirul menjelaskan ada dua hal mendasari mengapa seruan GNH perlu dikuatkan.
Pertama, bulan Ramadan adalah bulan ibadah merupakan momentum yang baik untuk meningkatkan kualitas maupun kuantitas ibadah kita.
“Saat ini adalah bulan Ramadan. Bulan ibadah, bulan dimana kita harus terus semakin meningkatkan ibadah kita, baik secara kualitas maupun kuantitas” jelas Nashirul (3/5/2020).
Kedua, melihat kondisi saat ini dengan adanya wabah CoVid-19, membuat banyak aktivitas kita diminta untuk dilakukan dirumah saja merupakan sebuah kesempatan bagi kita semua untuk banyak melakukan ibadah-ibadah terkhus ibadah Nawafil.
“Kita sedang menghadapi musibah CoVid-19 dengan ini maka banyak menuntut kita melakukan banyak ibadah-ibadah Nawafil” terang Nashirul sebagaimana seruan beliau di akun YouTube Pusat dakwah Hidayatullah.
Nashirul menjelaskan bahwa sebagaimana hasil musyawarah pengurus DPP dan DPPU menyepakati setidaknya ada beberapa hal sebagai gerakan penguatan Nawafil pertama, Tadarus Al-Qur’an minimal 3 juz setiap hari.
“Dikarenakan kita banyak berada dirumah sehingga tentunya sangat memungkinkan untuk kita banyak berinteraksi/membaca Al-quran” terang Nashirul.
Lalu kemudian berikutnya ialah, tetap menjaga solat yang kita miliki, baik melaksanakan solat fardhu berjamaah dan tetap awal waktu meskipun di rumah, sembari juga melaksanakan solat sunnah rawatib.
“Kita harus tetap melaksanakan solat fardu berjamaah pada awal waktu meskipun di rumah, sembari diiringi solat sunnah rawatib baik sebelum dan sesudah solat fardhu”
Selain solat fardhu, melaksanakan solat-solat sunnah seperti solat tahajud ataupun solat duha terus ditingkatkan, Nashirul menjelaskan untuk kondisi saat ini sebagai kesempatan memperbanyak bangun malam dan juga solat duha.
“Bulan Ramadan menjadi kesempatan kita, yang mana bulan yang dikhususkan untuk memperbanyak bangun malam dan mengupayakan minimal 11 rakaat bahkan lebih sebagaimana banyak pandangan ulama. ini juga menjadi kesempatan bagi para hafidz Al Qur-an untuk mengkhatamkan hapalanya saat bulan Ramadan” jelas Nashirul.
Terakhir dengan adanya himbauan untuk tetap di rumah saja, maka ini merupakan kesempatan juga untuk meningkatkan dzikir tawajjuhat baik pagi, sore dan malam. tidak lupa dalam GNH ini juga menghimbau kita untuk terus menjaga wudhu dan melaksanakan infaq setiap harinya.
“Tentunya dzikir telah rutin kita lakukan dan pada bulan Ramadan baiknya untuk terus ditingkatkan dan juga melaksanakan infak setiap hari karena pahala infaq di bulan Ramadan pahalanya dilipatgandakan oleh Allah SWT. Serta tak lupa untuk selalu menjaga wudhu kita, selain secara syar’i wudhu juga sesuai anjuran medis untuk selalu menjaga kebersihan tubuh” Pungkas Nashirul.*Amanjikefron
Dinukil dari buku Thibb Al ‘Ibadaat karya DR Jamal Muhammad Az-Zaki dikisahkan oleh Imam Al-Mundziri dalam At-Targhib wa At-Tarhib, mengemukan kedua kisah ini:
Pertama, Imam Al-Baihaqi meriwayatkan dari Ibnu Syaqiq, dia berkata, ’’aku pernah mendengar Ibnu Al-Mubarak ditanya seseorang, ’’Wahai Abu Abdurrahman, sebuah luka bernanah tampak di lututku sejak tujuh tahun lamanya dan aku telah berupaya mengobatinya dengan berbagai obat-obatan dan juga berkonsultasi dengan para dokter. Akan tetapi tidak membuahkan hasil sama sekali.
Ibnu Mubarak menjawab, “pergilah,lalu perhatikanlah sebuah tempat di mana orang orang membutuhkan air. Kemudian, galilah sebuah sumur disana. Karena sungguh aku berharap disana akan muncul mata air dan menghentikan pendarahanmu” lelaki itu pun melaksanakan apa yang disarankannya dan dia sembuh.
Kedua, Imam Al-Baihaqi berkata dalam pengertian yang sama, terdapat sebuah cerita dari guru kami Al-Hakim Abu Abdullah semoga Allah SWT melimpahkan rahmat-Nya kepadanya, bahwasannya dia menderita luka bernanah pada mukanya dan telah mengobatinya dengan berbagai macam pengobatan. Akan tetapi penyakit tersebut tidak hilang. Luka tersebut tetap saja bertahan hingga satu tahun. Kemudian dia meminta kepada Syaikh Imam Abu Utsman Ash-Shabuni agar berkenan mendoakannya dalam forum pengajiannya pada hari Jumat.
Syaikh Utsman pun mendoakannya dan orang-orang mengamininya sebanyak-banyaknya. Sepekan kemudian, seorang perempuan melemparkan sebuah tulisan yang menyatakan bahwa dirinya kembali ke rumah dan bersungguh-sungguh untuk mendoakan Al-Hakim Abu Abdullah pada malam itu.
Dalam tidurnya, perempuan tersebut melihat Rasulullah SAW bersabda kepadanya, “Katakan lah kepada Abu Abdullah agar melimpahkan air kepada umat islam.” Kemudian perempuan tersebut membawa kain berisi tulisan itu kepada Al-Hakim dan memerintahkan pembuatan depot pelayanan air minum di dekat pintu rumahnya.
Ketika mereka menyelesaikan pembangunannya, maka ia memerintahkan dituangkannya air padanya dan melontarkan es didalamnya. Kemudian orang-orang meminumnya.belum genap sepekan berlalu,ia pun merasakan kesembuhannya dan luka luka itupun hilang. Wajahnya-pun semakin baik dan kembali seperti semula.ia pun mampu bertahan hidup beberapa tahun lagi sesudahnya.’’
Dan masih banyak lagi cerita dan kejadian yang dialami banyak orang yang menggambarkan bahwa penyakit yang sudah lama diderita seseorang, bisa sembuh lantaran banyak melakukan bershadaqah.
Imam Ibnul Qayyim-semoga Allah SWT melimpahkan rahmat-Nya kepadanya berkata, “Pada dasarnya shadaqah atau zakat menimbulkan dampak yang menakjubkan dalam menolak musibah, meskipun dari orang jahat dan juga kafir. Karena Allah SWT akan menghindarkan musibah itu darinya dengan berzakat. Ini merupakan permasalahan yang telah populer di masyarakat, baik awam maupun khusus. Seluruh penduduk bumi mengakuinya karena mereka telah mencobanya.’’
Dari Abu Umamah Al-Bahili, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda :
دَاوُوْا مَرْضَاكُمْ بِالصَّدَقَةِ
“Obatilah orang yang sakit di antara kalian dengan sedekah. (HR. Abu Dawud, Hadits Hasan)
Menurut DR Devid Clan, ahli Psilkologi Amerika menyatakan bahwa orang yang suka bersedekah akan mendapatkan tambahan pertahanan tubuh IGA, merupakan sitem kekebalan tubuh yang berperan penting dalam mengalahkan mikroba-mikroba yang menyerang saluran pernapasan, saluran alat pencernaan, mencegah timbulnya peradangan dan kanker dengan cara menghentikan pertumbuhan sel-sel yang tidak wajar dan membunuh sel-sel yang membentuk kanker dan pembelahan sel-sel yang tidak normal.
Secara ilmiah telah menguatkan bahwa perasaan senang dan bahagia setelah menuanaikan pembayaran zakat dan shadaqah dan membantu orang-orang yang sangat membutuhkan sangat besar manfaatanya terhadap sistem kekebalan tubuh karena berkaitan erat dengan kejiwaan.
Sistem saraf menghubungkan antara otak, kelenjar limpa dan sumsum tulang yang akan timbul sel-sel pertahanan tubuh. Dimana psikoneoroimunologi (PNI) menegaskan tentang tali sambung antara pikiran, sistem saraf, sistem endokrin (hormon) dan sistem kekebalan tubuh (imonologi).
Bahwa kehidupan emosi sangat berpengaruh terhadap sistem saraf otonom yang mengatur banyak hal seperti pengeluaran jumlah insulin, endorfin (morfin alami dalam tubuh), kecepatan denyut jantung sampai pengaturan tekanan darah.
Karena itu Allah swt mensunahkan bagi petugas amil untuk mendoakan bagi para pembayar zakat agar hatinya senang, tenteram dan memperoleh kebahagiaan setelah menunaikan atau membayar zakat, seperti yang difirmankan oleh Allah SWT dalam Surat At_Taubah:103
Dalam mengisi bulan Ramadan yang penuh berkah ini khususnya yang menderita sakit, perbanyaklah shadaqah yang diniatkan untuk memperoleh kesembuhan disertai tetap berikhtiar berobat keahlinya dan jangan berobat ke orang yang bukan ahlinya.
Coba lakukan sekarang dan tumbuhkanlah kepercayaan dan keyakinan bahwa Allah SWT akan menyembuhkan diri Anda. Isilah perut para fakir miskin hingga kenyang, atau santunilah anak yatim, atau wakafkanlah harta Anda dan melakukan sedekah jariyah. Semoga Allah swt melapangkan hati kita untuk memudahkan bersedakah dan disembuhkan dari segala penyakit yang kita derita. Aamiin.
*Ketua Departemen Kesehatan Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah
Kehadiran Hidayatullah sebagai gerakan dakwah dan tarbiyah patut selalu kita syukuri. Hidayatullah yang didirikan pada 1973 oleh Ustadz Abdullah Said, kini berkembang pesat dan turut mewarnai dunia kependidikan di Indonesia.
Hidayatullah dan Abdullah Said tentu sulit dipisahkan. Benar, sebab performa sebuah lembaga adalah representasi dari pemikiran dari sang pendiri. Maka, di titik ini, menarik jika kita buka ulang pandangan dan praktik kependidikan dari Abdullah Said. Tulisan berikut ini, petikan dari buku “Mencetak Kader” (Manshur Salbu, 2012: 233-238).
Iman, Ilmu, dan Amal
Di antara latar belakang pendirian Pesantren Hidayatullah adalah ingin mengubah sistim pendidikan, paling tidak di Indonesia. Wajah yang diidealkan adalah bahwa pendidikan itu tak berorientasi kepada predikat kesarjanaan semata, tapi yang lebih berorientasi pada kekaderan. Model yang disebut terakhir ini, kehadirannya di masyarakat akan langsung dapat dirasakan manfaatnya.
Abdullah Said (1945-1998) sering menyampaikan, bahwa jika pesantren yang kita dirikan sama dengan pesantren pada umumnya, untuk apa? Pesantren model begini sudah sangat banyak.
Adapun yang dimaksud dengan pesantren yang berorientasi kekaderan adalah lembaga dakwah dan pendidikan yang tak berkutat pada sisi menuntut ilmu saja, tapi berupa penggemblengan santri yaing sangat mengutamakan pengamalan. Kata Abdullah Said, kendati santri tak menghafal Rukun Iman, yang penting beriman. Di manapun mereka berada dan kegiatan apapapun yang mereka geluti, tak boleh lepas dari pemantapan iman.
Salah satu cara untuk memperkuat Rukun Iman adalah mengutamakan shalat berjamaah dan tepat waktu. Kepala-kepala rumah-tangga selalu diingatkan jangan sampai ada penghuni rumah -termasuk tamu- yang tak berjamaah di masjid tanpa udzur. Jika ada yang melanggar aturan ini, siap-siap mendapat panggilan khusus. Abdulah Said amat ketat dalam mengontrol masalah ini.
Menurut Abdullah Said, jika pelajarannya terarah sejak SD, kemudian sampai sarjananya dalam usia yang masih segar dan betul-betul menguasai bidangnya, tentu besar harapan untuk dapat berbuat banyak bagi masyarakat. Hal ini telah dibuktikan di Hidayatullah.
Di Hidayatullah, kader yang baru saja menyelesaikan Madrasah Aliyah (setingkat SMA) sudah berani ditugaskan ke seluruh Indonesia. Faktanya, mereka berhasil. Itu, karena mereka telah dididik untuk siap pakai dan mengerti persis apa yang harus dilakukan jika sampai di tempat tugas meski hanya bermodal ilmu yang minim.
Mata pelajaran yang diberikan ke santri tidak usah macam-macam. Hal yang diperlukan saja atau yang diminati oleh anak-anak. Jangan mereka dipaksa untuk menekuni mata pelajaran yang kemudian malah menjadi beban pikirannya.
Kata Abdullah Said, mata pelajaran di negeri ini terlalu banyak. Pikiran anak-anak banyak dijejali dengan mata pelajaran yang tidak bakal dimanfaatkan.
Lebih jauh, hemat Abdullah Said, yang penting anak-anak diberi pelajaran dasar yakni menulis, membaca, dan berhitung. Anak-anak seharusnya digiring untuk banyak membaca.
Itulah sebabnya beliau kurang setuju dengan sistim klasikal. Kalau misalnya di Pesantren Hidayatullah ada kelas, itu sekadar untuk memberi arahan yang tak terlalu muluk untuk kemudian segera praktik di lapangan. Dengan demikian, santri jangan hanya kaya dengan teori tapi miskin pengalaman / praktik.
Belajar ilmu dagang, misalnya. “Tak usah terlalu lama belajar. Intinya, beli barang kemudian jual lebih dari modalnya, dan itu namanya untung. Juallah barang yang diminati dan banyak digunakan masyarakat. Berikan modal, kemudian suruh berdagang. Setelah beberapa kali mengalami untung-rugi dan jatuh-bangun, pada akhirnya ditemukan juga kiatnya untuk sukses dalam dunia dagang. Itu dimaksudkan agar tak terlalu lama bermain teori karena hanya akan menghabiskan waktu dan biaya.
Kalau sudah belajar teori sedikit, segeralah dipraktikkan sehingga dapat diketahui dimana letak rahasia dari pekerjaan itu. Kalau terbentur masalah, pasti si anak akan serius mencari solusinya dengan cara membaca dan bertanya. Kalau hanya mempelajari teori bertahun-tahun, kemudian tak pernah praktik, tak akan berhasil,” terang Abdullah Said.
Model pembelajaran dagang seperti di atas itu, dilakukan pula oleh Abdullah Said dalam mengasah kemampuan-kemampuan para kader agar bisa berceramah.
Intinya, tak banyak teori yang diajarkan tapi langsung disuruh praktik di mimbar. Kalau teman-temannya tertawa karena ada kekurangannya, di situ santri akan mengoreksi diri. Kalau berulang-ulang tampil dan mengoreksi diri, akhirnya akan menemukan kiat atau cara berpidato/berceramah yang baik dan menarik.
Terkait apa yang tergambar di dua paragraf di atas, Abdullah Said pernah menggagas pembuatan perpustakaan yang diistilahkannya dengan Perpustakaan Alam. Bahkan, sudah dibuat bangunan memanjang untuk keperluan ini.
Tempat itu nantinya akan dipenuhi buku-buku terutama yang menyangkut ketrampilan. Misal, ketrampilan berpidato, menulis, dan yang semacamnya. Kalau santri jeda dari kerja di lapangan, dapat mampir sejenak di perpustakaan untuk membaca dan mencari solusi atau untuk lebih menyempurnakan apa yang tengah dikerjakannya.
Tantangan dan Posisi Kekhalifan
Ustadz Abdullah Said telah lama berpulang ke Rahmatullah. Tapi, narasi berikut ini, rasanya tak akan dan tak boleh kita lupakan terutama bagi segenap aktivis Hidayatullah. Bahwa, “Kita harus selalu mencari tantangan karena di balik tantangan itu ada peluang. Dalam bergelut dengan tantangan, di situlah kita menyadari potensi kekhalifahan yang ada di diri kita”. Demikian motivasi yang secara terus-menerus dipompakan Abdullah Said kepada segenap kadernya.
Jadi, mari tetap bersemangat merespon berbagai tantangan, termasuk di masa pandemi Covid-19 ini. Tetaplah jaga stamina dalam usaha kita meneruskan semua hal yang telah dirintis dan dibangun Ustadz Abdullah Said – Allahuyarham. *Amun Rowi
Wagub Papua Klemen Tinal, menyerahkan bantuan sosial berupa paket sembako kepada Ketua Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Holtekamp, Mugiyarto, Sabtu (02/05/2020). (Foto: Ignas Doy)
JAYAPURA (Hidayatullah.or.id) — Wakil Gubernur (Wagub) Provinsi Papua Klemen Tinal, bersama Penjabat Sekda Papua Muhammad Ridwan Rumasukun dan para Kepala OPD, menyerahkan bantuan sosial berupa paket sembako bagi warga terdampak Covid-19. Penyerahan bantuan tersebut dilakukan secara maraton kepada panti asuhan, panti jompo dan pondok pasantren di Kabupaten Jayapura dan Kota Jayapura, Sabtu (02/05/2020).
Masing-masing Panti Asuhan Laskar Kristus di Doyo, Kertosari, Panti Jompo Pos 7 Sentani, Pusat Pembinaan dan Pengembangan Wanita Gereja Kristen Injili di Tanah Papua (P3W-GKI) Padang Bulan, Panti Asuhan Pelangi II Abepura dan Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Holtekamp.
Rombongan Wagub Papua disambut suka cita Tete dan Nenek (Kakek dan Nenek) yang menghuni Panti Jompo Pos 7 Sentani.
Usai menyerahkan paket sembako, Wagub mengajak tete dan nenek, untuk senantiasa berdoa, untuk menghindari pandemi Covid-19.
Wagub mengatakan, mungkin ada yang berpikir apa yang bisa dilakukan tete dan nenek di panti jompo. Tapi justru di panti jompo banyak hal yang bisa dilakukan, terutama berdoa.
Menurut Wagub, saat ini banyak orang sibuk dengan urusan duniawi. Tapi di panti ini semua orang setiap hari berdoa, untuk Papua. Semua orang beriman percaya Covid-19 akan berlalu dari tanah Papua yang Tuhan berkati.
“Saya lihat orang –orang muda terlalu sibuk dengan duniawi, biar sudah kita yang tua- tua berdoa saja dengan cara dan agama masing-masing,” imbuh Wagub.
Khusus untuk pengurus panti jompo, Wagub menyampaikan terima kasih selalu setia mendampingi tete dan nenek di tempat ini.
“Mereka semua adalah keluarga kita, orang tua kita. Perbuatan baik kita pasti akan diberkati Tuhan,” katanya.
Dikatakannya, walaupun jauh disini. Tapi jangan berkecil hati. Mau di tengah hutan pun Tuhan maha tahu.
Hati Gembira Obat Segala Penyakit
“Jadi jangan berkecil hati, tetap optimis buat mereka dan bersungguh sungguh melayani dengan hati yang gembira. Hati yang gembira itu obat untuk segala penyakit. Untuk mengobati semua penyakit yang ada di dunia ini baik fisik maupun rohani hanya dengan hati yang gembira,” tukasnya.
Senada dengan itu, Tete Mathias menyampaikan terima kasih setulus-tulusnya atas kehadiran Wagub dan rombongan.
“Kami orang tua tak bisa membalas apa-apa, tapi kami boleh membalas kasih Tuhan lewat bapak -bapak dorang. Pemerintah itu wakil Tuhan di dunia. Dia ada sehingga kami bisa ada pada hari ini,” terangnya.
Karena itu, ujarnya, pihaknya berdoa supaya Tuhan memberikan hikmat kepada pemimpin-pemimpin Papua hari esok dan seterusnya, untuk mengobati warga di saat wabah Covid-19 ini.
Puasa Penuh Barokah
Suasana yang sama pun diperoleh di Pondok Pesantren Hidayatullah. Para pengurus dan santri cilik menerima kedatangan rombongan Wagub penuh persaudaraan dan suka cita.
Wagub mengatakan, pihaknya datang bertemu sekaligus bersilaturahmi dan membagikan bingkisan, agar dapat dimanfaatkan dengan baik dalam situasi pandemi Covid-19.
Menurutnya, Covid-19 bukan milik orang di Papua saja. Tapi sudah meluas secara nasional bahkan dunia.
Karena itu, tukasnya, semua warga tetap mentaati protokol kesehatan yang telah diatur pemerintah, yakni work from home (bekerja dari rumah), jaga jarak, hindari keramaian, pakai masker, rapid test dan lain-lain.
Tapi semua itu kuncinya ada dalam doa, agar Tuhan melindungi seluruh umatnya dari Covid-19.
“Syukur Alhamdulillah sekarang puasa. Jadi ini sudah barokahnya lebih banyak lagi di bulan suci Ramadhan ini. Doakan supaya Papua aman dari Covid-19, supaya orang orangnya sehat. Dengan demikian, kita bisa bergandeng tangan bangun Papua,” paparnya.
Sementara itu, Ketua Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Holtekamp Mugiyarto mengatakan, pihaknya telah menjalankan protokol kesehatan sebagaimana anjuran pemerintah, terkait pandemi Covid-19. Bahkan aparat pemerintah selalu mengontrol secara langsung
“Adik-adik santri sebelumnya memang kita tahan disini, tapi mereka sarankan, kalau memang yang punya keluarga atau mungkin ada walinya dikembalikan sementara waktu, untuk keamanan kita bersama. Kami penuhi permintaan itu,” ucapnya.
Kemudian, segala bentuk aktivitas baik ibadah, olahraga maupun dan lain- lain yang sifatnya berkelompok segera dihindari.
“Kami mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada Pemprov Papua atas segala bentuk bantuannya terhadap keberlangsungan, khususnya segala bentuk dukungan untuk Pondok Pesantren,”ungkap Mugiyarto. *
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Selama Ramadan Baitul Wakaf Hidayatullah (BWH) sebagai nazhir wakaf produktif dari Laznas Baitul Maal Hidayatullah (BMH) menargetkan membeli 1.000 paket hasil dari petani dan peternak yang terdampak di daerah Cipanas, Kabupaten Cianjur dan Sukabumi.
“Paket ini akan disumbangkan kepada yang membutuhkan. Paket hasil perkebunan dari Petani terdiri dari 10 item sayuran dengan tambahan telur ayam dan telur puyuh,” kata Zainal Abidin, Direktur Program Wakaf BMH dalam keterangan tertulis, Jumat (1/5).
Ia mengatakan, para petani maupun korban Covid-19 yang menjadi penerima manfaat paket hasil tani pada Ramadan tahun ini, bisa tenang dalam beribadah diberlakukan untuk stay at home beribadah di rumah.
“Saatnya melaksanakan Ramadan produktif dengan membantu sesame. wabah Covid-19 telah berdampak terhadap ekonomi warga Indonesia, hingga kalangan menengah ke bawah yang paling merasakan dampaknya, mulai dari pedagang kecil, UKM hingga Ojek Online,” ujar Zainal.
Meski berada di pedesaan, para petani merasakan dampaknya, menurunnya permintaan hingga hasil panen yang tidak terserap. Baitul Wakaf yang dibentuk Ormas Hidayatullah memiliki kepedulian terhadap nasib para petani di tengah pandemi.
“Virus Corona telah berdampak bagi keutuhan ekonomi masyarakat dari Penerapan Social Distancing dan PSBB membuat sejumlah hotel, pusat perbelanjaan dan pasar ditutup. Kondisi ini membuat permintaan turun drastis,” ujar Zainal.
Menurutnya, kondisi petani di pedesaan saat ini makin terhimpit, disaat panen berharap mendapatkan hasil penjualan guna untuk memenuhi kebutuhan keluarga terutama saat bulan Ramadan dan bisa kembali menanam, namun saat ini tidak bisa berharap banyak.
Kondisi inilah, jelas Zainal, membuat Baitul Wakaf bekerja sama dengan Komunitas Pemberdayaan Desa Emas membuat program Paket Hasil Tani.
“Hasil panen dalam bentuk sayuran para petani dan peternak terdampak Covid-19 di pedesaan dibeli dari donasi masyarakat kepada petani dengan harga layak, dikemas dalam bentuk paket dan disalurkan kepada yang terdampak lainnya sebagai kepedulian terhadap pemenuhan imunitas,” ujar Zainal.
Menurut Zainal, paket hasil tani sebagai ikhtiar membuat petani tetap kembali ke ladang dan menjalankan Ramadan produktif meski di tengah pandemi Covid-19 yang melanda negeri. Karena sayuran dan buah akan tetap dibutuhkan sebagai komoditi pokok.
Pandemi Covid-19 telah menjadikan dunia benar-benar bertekuk lutut, tidak saja dari sisi kesehatan, tetapi juga ekonomi bahkan meruntuhkan identitas sebuah negara.
Sekitar 30,3 juta orang kini telah mengajukan bantuan pengangguran dalam enam minggu sejak wabah Covid-19 mulai mewabah di Amerika.
Sementara itu, Inggris, sebagai negara terhebat dalam sejarah imperialisme kini mesti menanggung beban pengangguran sebesar 1,36 juta orang.
Artinya kapitalisme sebagai simbol peradaban modern telah takluk oleh wabah ini. Bahkan, prediksi ekonom, seperti ADB Vice President for Southeast Asia, East Asia, and the Pacific Ahmed M. Saeed, mengatakan bahwa semua itu adalah tahap awal dari krisis. Ia menambahkan bahwa kemungkinan ekonomi kembali normal paling cepat pada 2022, utamanya di bidang pariwisata, sebagaimana disampaikan saat konferensi pers virtual pada 23 April 2020.
Pada saat bersamaan, Cina sebagai simbol komunisme yang tersisa di dunia ini harus menghadapi gugatan setidaknya lima gugatan yang menuding Xi-Jinping telah lalai dan menjadi sebab pandemi global Covid-19. Sementara secara ekonomi, negeri tirai bambu itu harus mengalami kontraksi hingga 6,8%. Dalam kata yang lain, baik kapitalisme maupun komunisme, bisa dikatakan babak belur oleh Covid-19 ini.
Lantas bagaimana dengan sikap umat Islam?
Berdasarkan fakta tersebut, maka sejatinya dunia berada dalam “kekosongan” warna peradaban. Jika tidak segera ada pihak yang tampil memberikan tawaran progresif, maka dunia akan terus berada dalam ketidakpastian, setidak-tidaknya, selama dua tahun ke depan.
Umat Islam di dunia ini bisa diibaratkan berperan sebagai rakyat dalam sebuah negara, jumlahnya banyak, potensinya besar, namun masih sangat cair untuk bisa dihimpun dan tampil sebagai sebuah kekuatan yang dapat menjawab krisis global ini.
Namun demikian, sejatinya hal ini hanya membutuhkan sebuah pemantik yang kuat di sejumlah negara dimana umat Islam eksis, maka dengan sendirinya, seperti dikatakan oleh Nabi Muhammad ﷺ umat Islam satu sama lain saling menguatkan, sehingga langsung maupun tidak akan hadir gelombang baru yang membangkitkan optimisme dan Islam kembali hadir dan menghidupkan dunia dengan ekonomi syariah.
Jika harus mulai dari Indonesia, maka menarik apa yang ditulis oleh Hendri Tanjung perihal simulasi dalam Majalah Peluang Edisi Mei 2020 bahwa umat Islam sangat mungkin survive dalam situasi buruk ini dengan melakukan Gasebu (Gerakan Menghemat Sepulunh Ribu).
Artinya adalah walau krisis ini mau tidak mau memukul sebagian saudara kita jatuh secara ekonomi, dengan gerakan infak, sedekah, dan zakat, yang kemudian ditambah dengan Gasebu itu, maka sejumlah 3 juta KK akan tertolong. Itu jika orang Islam yang tidak miskin mau menghemat Rp. 10 ribu untuk disedekahkan selama Ramadhan ini.
Kalau melihat sejarah, sejatinya Islam adalah agama sekaligus peradaban yang secara langsung memberikan referensi bagaimana survive dan bertahan dalam situasi sulit. Soal lockdown misalnya, itu hadir pertamakali dalam sejarah peradaban Islam. Lantas mengapa sekarang umat Islam seperti kehilangan kepercayaan diri?
Masalah yang kemudian muncul adalah apakah sudah ada perasaan sehati, atau dalam bahasa generasi 45 telah hadirkah perasaan senasib, seperjuangan, yang dalam bahasa Pimpinan Umum Hidayatullah disebut dengan istilah Walijah di antara umat Islam?
Inilah satu-satunya pertanyaan yang sudah barang tentu tidak bisa dijawab sekarang. Tetapi, jika umat Islam melangkah, memulai, dan superior di dalam menghadapi krisis ini dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya, peluang Indonesia menjadi negara yang sukses, menang, menghadapi pandemi ini sangat kuat.
Imam Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin mengutip ungkapan Hasan Al-Bashri, “Demi Allah tidak ada kekayaan yang lebih berharga daripada Alquran, dan tidak ada kebutuhan batin yang lain bagi manusia setelah Alquran.”
Artinya, mengapa umat Islam tidak segera mengkaji, menggali, dan segera mengimplementasikan nilai-nilai Islam ini dalam dimensi dan persepktif peradaban? Padahal, begitu dimulai dan dilakukan, dunia akan tercengang, bahkan sangat mungkin memandang rasional dan benar-benar dibutuhkan. Inilah yang sekarang harus segera disadari dan dikerjakan.
Jika Allah berkehendak dan gagasan ini bergulir, maka dunia akan memasuki Era Baru Peradaban Mulia, sebuah era dimana kesejahteraan tidak sekedar milik negara maju, tapi seluruh umat manusia, insya Allah. Allahu a’lam.*
SIAPA yang ingin bahagia raihlah hidayah. Siapa yang berhasil meraih hidayah maka bahagialah hidup manusia. Dia selamat dan sukses di dunia dan Akhirat sekaligus. Inilah rumus pasti dalam ajaran Islam. Sederhana dan tidak muluk-muluk.
Hebatnya lagi, rumus ini berlaku bagi siapa saja. Semua orang bisa meraihnya asal mengerjakan dengan sungguh-sungguh. Disebutkan, siapa yang bermujahadah dialah yang memperoleh hidayah.
“… Lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka,” (QS. Thaha [20]: 123).
Soal kehebatan rumus yang tertera pada ayat di atas, tak perlu diragukan lagi. Sudah terbukti mujarab. Contohnya sudah ada.
Ajaran Islam ini pernah diperagakan secara utuh oleh manusia terbaik yang ditemani oleh generasi terbaik sepanjang sejarah kehidupan manusia. Ada Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam (Saw) dan para sahabatnya. Mereka adalah orang-orang yang ridha kepada Allah dan Allah pun telah meridhai mereka semua.
Kuncinya adalah iman. Bahagia itu letaknya di hati. Sedang pemilik hati adalah Allah. Dialah yang sanggup membolakbalikkan hati manusia. Sebagaimana Allah jua yang berkuasa untuk meneguhkan hati orang itu di atas jalan hidayah.
Allah-lah yang berkehendak memberi manfaat dan kebaikan kepada setiap makhluk-Nya, meski nyatanya sejagat raya tak ingin demikian. Allah juga yang mampu menolak keburukan atas diri seorang hamba. Meski seisi dunia berharap agar orang tersebut ditimpa musibah dan malapetaka.
Maka, kalau urusan tersebut sedemikian terangnya, mengapa masih saja ada manusia yang galau dan gundah gulana menghadapi masalah dalam hidupnya?
Kenapa orang itu tetap saja suka berkeluh kesah dengan keadaannya? Jawabnya, dia tak bahagia karena selama ini dirinya belum mendekati jalan iman dan Islam.
Boleh jadi, dia memang belum pernah bersungguh-sungguh bertekad merebut hidayah, seperti ketika dirinya mati-matian mengejar harta dunia.
Hidayah adalah persoalan hati yang bersih. Ikhlas beriman kepada Allah, meyakini-Nya sebagai satu-satunya Ilah yang benar untuk disembah, dan menjadi tempat bergantung segala urusan manusia.
Cahaya iman hanya bisa masuk saat jiwa manusia suci. Tak lagi kotor dengan bercak-bercak noda yang menempel padanya. Salah satu penyakit hati adalah sombong dan merasa lebih baik dari yang lain. Sabda Nabi Shallallahu alaihi wasallam ﷺ: “… Adapun kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia,” (HR. Muslim).
Bahagia juga demikian. Hanya bisa dirasakan ketika ruhaninya sudah selamat dari segala macam penyakit hati. Orang yang bahagia ialah yang mendapati hatinya lapang dalam setiap keadaannya. Tak ada iri hati, benci, atau permusuhan terhadap sesama manusia. Yang ada justru sikap untuk senantiasa berbuat baik dan berbagi manfaat kepada orang lain.
Sabda Rasulullah ﷺ : “Tidaklah salah seorang dari kalian beriman hingga ia menyukai bagi saudaranya apa yang ia sukai untuk dirinya,” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Hadits ini menunjukkan kebahagiaan seorang yang mendapat hidayah. Keimanannya kepada Allah mengantar orang tersebut senantiasa berlapang dada dalam setiap permasalahan. Ia bahkan mencintai saudaranya dan turut merasakan apa yang dialami oleh orang lain.
Sehingga, apa-apa yang dinikmatinya berupa kebaikan dan amal shaleh, juga diharapkan bisa dinikmati oleh saudaranya tersebut. Sebaliknya, ia juga tak ingin ditimpa musibah sebagaimana ia berharap orang lain tak mendapat keburukan pula.
Terakhir, Nabi Muhammad mengajarkan sebuah doa yang sangat indah. Hadits ini diriwayatkan oleh sahabat Syaddad bin Aus, semoga Allah meridhainya.
“Ya Allah, aku mohon kepada-Mu ketetapan hati dalam segala urusan dan keteguhan kehendak menuju kebenaran. Dan aku memohon agar aku dapat mensyukuri nikmat-Mu dan beribadah kepada-Mu dengan sebaik-baiknya. Ya Allah, aku memohon kepada-Mu tutur kata yang benar, hati yang bersih, dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukan apa yang Engkau ketahui, aku memohon kepada-Mu kebaikan dari apa yang Engkau ketahui, aku memohon ampun kepadaMu dari apapun yang Engkau ketahui, sesungguhnya hanya Engkau jualah yang Maha Mengetahui yang ghaib.” (HR Ahmad, At-Tirmizi dan An-Nasai).* Masykur
Dalam melaksanakan berpuasa, badan kita diharapkan tetap fit dan terjaga sampai energi kita bisa bertahan lama hingga waktu berbuka, maka disunahkan untuk melakukan ibadah sahur yang waktunya diakhirkan atau sampai menjelang shalat subuh. Sehingga menu yang dimakan diupayakan memenuhi gizi yang cukup yaitu tersedianya karbohidrat dan protein yang dibutuhkan oleh tubuh.
Usahakan makan nasi secukupnya dan sayur yang jumlahnya sama atau lebih dari jumlah nasi yang dimakan. Untuk protein bisa memilih yang disukai seperti telur, ikan dan daging.
Selama berpuasa usahakan cairan dalam tubuh tetap terjaga yaitu minum 8-10 gelas perhari. Sehingga setelah bangun tidur sebelum melaksanakan shalat lail minum 2-3 gelas air hangat dan tambahlkan minum madu 2-3 sendok makan. Dan tutup sahur anda dengan 1-2 gelas air minum putih hangat dan hindari minum kopi atau teh kental saat sahur karena membuat cepat haus.
Saat berbuka puasa, jangan langsung makan berat apalagi sampai kenyang. Awali buka puasa anda dengan makanan ringan dan sedikit manis. Kalau ada kurma lebih baik, dengan makan kurma sebanyak 3-5 atau 7 butir sudah cukup, karena sifat kurma mudah dicerna dan cepat mengembalikan energi tubuh yang telah seharian melaksanakan puasa. Makan berat dilakukan setelah shalat maghrib dan jangan sampai kenyang, karena mengganggu kekhusyukan ketika melaksanakan shalat Isya’ dan tarawih.
Hindari makan berat setelah shalat tarawih karena makan terlalu malam apalagi setelah itu langsung tidur akan membuat badan kita menjadi gemuk dan menambah masalah dalam tubuh kita. Kalau ini dilakukan terus menerus justru dengan berpuasa berat badan bukan semakin berkurang tapi makin bertambah.
Apakah boleh sahur dan buka dengan minum manis? Tentu saja boleh. Tapi tetap batasi minum dengan gula pasir sebanyak 2-3 sendok makan saja sehari. Lebih baik asupan gula didapat dari buah-buahan seperti kurma, pisang, semangka dan lainnya.
Pilih buah yang dimakan adalah buah lokal karena disamping buah impor belum jelas cara pengemasannya apakah ditambah formalin atau bahan pengawet lainnya sementra buah lokal sudah diatur oleh Allah swt sangat baik dan bermanfaat untuk menjaga kesehatan tubuh kita.
Disamping itu agar kita tidak mudah lapar, haus dan lemas ketika berpuasa, yang paling penting pasang niat hanya semata-mata untuk beribadah kepada Allah SWT. Istirahat cukup jangan berlebih-lebihan karena tubuh bukan malah segar tapi justru lebih lemah, lesu dan tidak semangat.
Lakukakan ibadah dengan sungguh-sungguh seperti shalat lima waktu, shalat sunnah khususnya shalat lail, memperbanyak zikir dan baca Al-Qur’an yang semua ibadah tadi akan menambah semangat dan bugarnya tubuh kita.
drg Fathul Adhim, M.KM, Ketua Departemen Kesehatan DPP Hidayatullah.
PEKALONGAN (Hidayatullah.or.id) — Pemuda Hidayatullah bersama dengan Pos Dai Batang-Pekalongan membantu warga dhuafa terdampak wabah Covid-19 dengan memberikan bantuan berupa paket sembako.
“Alhamdulillah sinergi ini berhasil membagikan 100 paket sembako terdiri dari beras, mie, bawang dan kecap dengan sasaran guru ngaji, janda, guru swasta dan warga tidak mampu,” terang Ketua Pengurus Daerah Pemuda Hidayatullah Batang-Pekalongan, Yohan Winarno MM, Selasa (28/4).
Yohan atau yang biasa disapa ‘Komandan’ selaku koordinator aksi menyebutkan, bahwa ini semua merupakan bentuk kepedulian terhadap sesama.
“Ini adalah wujud kepedulian semua elemen umat Islam terutama yang mengamanahkan kepeduliannya melalui Pemuda Hidayatullah dan Pos Dai di Batang-Pekalongan. Insya Allah, aksi ini akan berlanjut pada hari-hari mendatang,” imbuhnya.
Sucipto selaku lurah Kalisalak, Batang, Jawa Tengah, yang turut dalam kegiatan ini mengungkapkan apresiasi terhadap Pemuda Hidayatullah dan Pos Dai Batang-Pekalongan.
“Kami sampaikan terima kasih kepada Pemuda Hidayatullah dan Pos Dai yang telah memberikan perhatian sekaligus bantuan kepada warga kami di Kalisalak ini,” ucapnya.
Ungkapan senada juga disampaikan warga penerima manfaat, Ibu Saroh. “Terima kasih kepada Pemuda Hidayatullah dan Pos Dai atas kepeduliannya kepada kami. Semoga membawa kebaikan lebih besar lagi bagi semua yang peduli,” ungkap single parent yang kini berjualan keliling untuk menghidupi putra- putrinya.
Aksi ini dilangsungkan dengan cara door to door karena mematuhi himbauan pemerintah menjaga psycal distancing (menjaga jarak). Hal itu dilakukan agar warga tidak keluar rumah guna memutus mata rantai penyebaran virus Covid- 19 yang sangat mematikan.