Beranda blog Halaman 455

Merawat Benih-Benih Cinta Dalam Keluarga

0

Cinta itu laksana tanaman. Ia harus dirawat. Agar tumbuh subur dari hari ke hari. Apalagi, ketika hama mencoba menyerang. Harus bersegera mencari obatnya. Pun demikian pupuknya. Agar sehat lagi kuat. Dalam biduk rumah tangga, tidak sedikit aneka macam hama, mencoba menyerang.

Datangnya dari berbagai macam arah. Tak terkecuali dari masing-masing pasangan. Umpama; mulai merasa tidak ada kecocokan. Menemukan reka-ragam sifat/perilaku yang kurang dikenani dari pasangan. Dan seterusnya. Bila ini tak dicoba ‘diobati’, sudah barang tentu akan layu dan matilah cinta itu.

Muncullah riak-riak. Yang bukan mustahil, pada endingnya berakhir dengan karamnya bahtera rumah tangga.Aduhai. Ngeri sekali akibatnya. Dan itulah fenomena yang kita saksikan pada figur negeri ini. Khususnya dunia keartisan. Namun, bukan mustahil, itu akan menimpa keluarga kita, bila tidak diantisipasi. Na’udzubillah.

Untuk mengerai persoalan ini, maka kita harus tahu dulu penyebab utama tumbuhnya ‘hama’ cinta ini. Hemat penulis ada dua biangnya. Pertama; kuatnya menuntut pemberian hak masing-masing.

Dan yang kedua; adanya salah titik fokus dalam menilai pasangan. Berpusat kepada kekurangan pasangan. Karena demikian persoalannya, maka sebagai langkah pengobatannya, lakukan dua hal pula.

Pertama; enyahkan keinginan untuk mendapatkan hak. Tapi berusahalah untuk masing-masing diri menunaikan kewajiban terhadap pasangan semaksimal mungkin. Dengan demikian, tidak akan ada yang saling menuntut satu sama lain. Yang ada adalah berusaha memberikan pelayanan terbaik bagi pasangan.

Itulah teladan yang dituntunkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Misal, betapa beliau tidak marah-marah, ketika pulang rumah, tidak didapati makanan di meja makan. Untuk membesarkan dan menghibur hati sang istri, beliau bertutur; “Aku tengah berpuasa hari ini.”

Lapanglah hati sang istri. Tidak diselimuti oleh rasa bersalah, karena tidak mampu memberikan pelayanan terbaik bagi sang suami tercinta. Menghidangkan makanan.

Selanjutnya, untuk solusi yang kedua; cobalah melatih diri untuk mengganti pusat penilaian. Tidak lagi pada kelemahan pasangan. Tapi pada kelebihan lain yang dimiliki.

Itulah yang dilakukan oleh Umar bin Khatthab. Beliau bersabar menghadapi istrinya yang acap ‘memarahi’nya, karena beliau menyadari akan besarnya andil sang istri dalam urusan rumah tangga.

Istrilah yang memasakkan, mengurus kebersihan rumah, mencuci baju, dan juga mendidik anak-anak, tatkala beliau keluar rumah. Pekerjaan yang tidak ringan. Coba ingat-ingat. Apa yang terjadi di rumah, ketika istri tengah sakit. Bukankah suami kalang kabut mengurusi segala sesuatunya.

Soal makan. Soal rumah. Baju kotor. Urusan anak. Dan seterusnya. Semuanya menyita waktu dan pikiran. Yang tidak sedikit para suami ‘tumbang’ mengatasinya.

Demikian pula para istri. Cobalah perhatikan para suami itu dalam bekerja. Peras keringat. Banting tulang. Tersengat matahari. Itu semua untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga yang menjadi kewajibannya.

Bila masing-masing mampu mengalihkan titik penilaian, pada masing-masing kelebihan dari pasangan, maka insya Allah benih cinta akan mampu tumbuh kembang dengan baik.

Dan ini pula yang dituntunkan dalam al-Qur’an.

“Dan janganlah kamu melupakan keutamaan di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Melihat segala apa yang kamu kerjakan.” (al-Baqarah: 237).*Hidcom

Ada Cerita Keberkahan dalam Wabah

0

Ketika awal hadir, pandemi coronavirus ini benar-benar dirasakan seperti kiamat. Betapa tidak, semakin hari bukan saja yang positif yang tumbang, para tenaga medis pun jadi korban. Bahkan kini, pekerja sektor informal pun merasakan dampak langsung dari konsekuensi wabah itu sendiri secara ekonomi.

Namun, siapa sangka, secara ekonomi pula wabah ini juga mendatangkan berkah tersendiri. Laporan dari Laznas BMH di dua daerah, seperti Makassar dan Malang, para binaan lembaga amil zakat Hidayatullah itu berhasil memberdayakan para mustahik yang memiliki skill menjahit.

“Alhamdulillah di Makassar ada dua yang mendapatkan berkah, yakni yang bisa menjahit dan yang bisa membuat bakul, yang diperlukan BMH untuk penyaluran bantuan ketahanan pangan keluarga terdampak Covid-19 di Makassar,” kata Kepala BMH Perwakilan Sulawesi Selatan Kadir.

Bakul itu sendiri telah menjadi pilihan BMH selama ini setiapkali menyalurkan paket bantuan kepada masyarakat, sebagai wujud komitmen ikut melestarikan lingkungan. Karena kantong plastik memang harus dibatasi penggunaannya, bahkan lebih baik jika bisa diganti dengan yang lebih ramah lingkungan.

Sebagaimana Makassar, Malang pun demikian. Penjahit yang selama ini dibina mendapatkan order bukan saja dari BMH tapi beragam korporasi untuk menjahit masker dengan kualitas yang tidak kalah dari produksi pabrik. Bahkan jika ada sentuhan lebih lanjut, bukan hal yang sulit jika mereka dilatih memproduksi Alat Pelindung Diri (APD) untuk tenaga medis.

Secara skala, tentu saja berkah ini tidak sebanding dengan yang merasakan musibah wabah secara langsung. Tetapi, dari fakta kecil ini kita bisa belajar banyak bagaimana negeri ini mengambil hikmah nyata untuk kemajuan rakyatnya ke depan.

Pertama, secara langsung dapat kita saksikan bahwa dalam situasi krisis ada cercah harapan secara sosial ekonomi di negeri ini. Para penjahit ini, jika disentuh dengan pelatihan yang memadai, mereka dapat menjadi mitra pemerintah, instansi swasta, bahkan masyarakat luas, dalam hal ini pasar, yang  pada akhirnya dapat meningkatkan kesejahteraan, wawasan, dan keprofesionalan mereka.

Hal ini akan mendorong ekonomi masyarakat bawah menggeliat, pada saat yang sama publik tidak perlu masuk ke permainan pasar dan isu yang seringkali menjadikan harga suatu kebutuhan melonjak tanpa alasan yang jelas.

Kedua, syariat Islam, dalam hal ini zakat, telah berkontribusi nyata bagi kelangsungan kehidupan warga negara yang sehat dan progressif. Mengapa Laznas BMH dapat membagikan masker dengan jumlah cukup banyak di tengah harga masker pabrik melambung tinggi?

Jawabannya jelas, karena ada masyarakat yang dilatih dan dibina untuk menekuni skill menjahit. Dan, semua itu berlangsung di antaranya karena pendayagunaan dana zakat untuk program yang produktif. Dengan kata lain, pemerintah harus melihat Islam sebagai ajaran sebagai hal  yang wajib didorong dipatuhi dan dijalankan oleh umatnya, sebab salah satu belum terealisasinya angka potensi zakat dikarenakan masih banyak dari kalangan umat Islam yang belum mengerti dan yakin untuk menunaikan zakat.

Ketiga, sejatinya masyarakat adalah mitra terbaik pemerintah dalam menghadapi situasi sulit. Sejauh ini, secara umum masih terkesan rakyat sebatas objek pembangunan. Padahal, rakyat adalah subjek pembangunan.

Andai hal ini dipahami dan menjadi kesadaran unsur pemerintah dari pusat hingga daaerah, maka mengatasi wabah ini tidak perlu ada kegagapan atau pun kegugupan. Hal ini karena pemerintah dengan rakyat seperti dua sisi mata uang, berbeda tapi satu. Inilah PR paling nyata yang harus diselesaikan oleh pemerintahan sekarang.

Pemahaman dan langkah ini harus menjadi pilihan yang disegerakan, karena tidak mungkin bangsa Indonesia bisa survive menghadapi krisis jika potensi yang ada berserakan, satu sama lain bukan saling meneguhkan, tapi malah bertabrakan satu sama lain, sehingga keadaan kian semrawut dan tidak terkendali.

Andai ini dimengerti dan dijadikan pilihan dalam menyusun kebijakan ke depan, maka insya Allah berkah wabah ini akan terus berlanjut, berkesinambungan, sehingga pascawabah, rakyat dan pemerintah Indonesia menjadi satu kekuatan baru yang segar, bersar, dan berpengaruh di kancah dunia.

Sebab, ke depan tidak lagi kepentingan sempit yang menjadi komandan, tetapi kepentingan besar untuk mewujudkan cita-cita luhur para pendiri bangsa dalam menjadikan Indonesia negara yang penduduknya beriman, bertakwa, adil, makmur, dan siap tampil dalam upaya-upaya positif di tingkat global yang sama-sama kita besarkan sebagai acuan, tujuan, dan nilai perjuangan.

Mungkinkah? Allahu a’lam. Namun yang pasti Pemuda Hidayatullah harus siap dengan kesadaran, gagasan dan cita-cita mulia ini!*

Imam Nawawi, Ketua Pemuda Hidayatullah

Jaga Ibadah untuk Meningkatkan Daya Tahan Tubuh Hadapi Covid-19

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Departemen Kesehatan DPP Hidayatullah, dr Fathul Adhim, M.KM, mengatakan meningkatkan spiritualitas yang tinggi merupakan langkah yang paling baik untuk meningkatkan daya tahan tubuh kita.

Dia mengatakan, salah satu cara yang efektif agar kita tidak mudah tertular oleh Covid-19 adalah memperkuat antibody badan kita, yaitu dengan meningkatkan imunitas diri dengan memperbanyak berdo’a dan meningkatkan kualitas ibadah kita.

“Sebab dengan meningkatkan spiritualitas yang tinggi merupakan langkah yang paling baik untuk meningkatkan daya tahan tubuh kita,” katanya dalam keterangan diterima media ini, Jum’at (10/4/2020).

Alhamdulillah, katanya, di Hidayatullah setiap kader ditekankan melakukan 5 Ibadah Nawafil yaitu solat lail 11 rakaat, membaca Al-Qur’an minimal 1 juz, sholat sunnah Rawatib minimal 10 rakaat, Wirid pagi- sore berstandar, dan Infaq harian yang kesemua ibadah tersebut sangat baik untuk meningkatkan imunitas kita.

Selain itu, dia menambahkan, selain meningkatkan spiritualitas, perlu upaya yang lain yaitu mengkonsumsi makanan 3 kali dengan menu bergizi. Selain Nasi, pastikan ada sayur mayur sebanyak minimal 1 mangkok kecil, lauk pauk dan buah-buahan yang dimakan 1/2 atau 1 jam sebelum atau sesudah makan yang jenisnya berbeda setiap kali makan.

Dia juga menyarankan meminum 2-3 liter perhari. Usahakan bangun tidur sebelum sholat lail meminum 2-3 gelas ukuran 250 ml air hangat serta mengkonsumsi madu 2-3 sendok makan setiap sebelum dan sesudah bangun tidur.

Istirahat yang cukup juga perlu diperhatikan. “Tidur sekitar 5-6 jam dan usahakan sebelum pukul 22.00 sudah tidur agar istirahat malam cukup dan bisa bangun shalat lail,” katanya.

Dia menyarankan juga melakukan olahraga ringan seperti jalan sehat selama 15-30 menit dibawah terik matahari sekitar pukul 08.00-09.00. Selain itu, bila perlu ditambah dengan melakukan bekam tiap bulan khususnya di tanggal 17 atau 19 , 21 bulan hijriah, meminum vitamin C dan E perhari 1 tablet, habbatussauda, miinum minuman herbal seperti Jahe, kunyit, temulawak, Sambiloto dan minuman herbal lainnya dan melakukan Fashdu.

“Selain upaya di atas, usahakan kita tidak melakukan pekerjaan yang membuat sangat lelah, termasuk menghindari perjalanan jauh sehingga membuat tubuh kita merasa lelah,” kata Fathul.

Dia menerangkan, tubuh yang lelah, memudahkan kuman menyerang tubuh kita termasuk tertularnya Covid 19. Tentunya melakukan sosial distance, menjaga kebersihan diri dan lingkungan juga harus dilakukan.

“InsyaAllah dengan upaya upaya di atas kita terhindar dari tertularnya Covid 19 yang menghantui kita semua. Semoga Allah SWT selalu melindungi diri dan keluarga kita termasuk para mujahid dan kaum muslimin di seluruh dunia. Aamiin,” pungkasnya.

Tidak Perlu Risih Mendengar Nasehat

0

Agama itu nasihat. Demikian pesan singkat Kanjeng Nabi Muhammad, semoga shalawat dan salam terindah senantiasa tercurah kepada beliau, kepada setiap umat beliau.

Hadits tersebut disalin oleh Imam an-Nawawi dalam Kitab Arbain Nawawiah yang berisi kumpulan empat puluh hadits pokok di kehidupan manusia. Yakni, jika ilmu adalah agama maka sumber ilmu adalah nasihat itu sendiri. Bahwa sebentang masa kehidupan manusia, hakikatnya sehampar itu pula nasihat demi nasihat hadir di sekelilingnya.

Dalam kehidupan ini, manusia hanyalah berpindah dari satu nasihat kepada nasihat berikutnya. Dari satu pelajaran kepada pelajaran selanjutnya. Itulah mengapa hidup di dunia harus senantiasa dihiasi dengan ilmu dan menjadi manusia pembelajar. Karena menuntut ilmu masanya tak berbilang dan tiada berbatas. Tak kenal tepi apalagi tapi.  Ilmu mesti dicari dan terus dipelajari. Penuh kesungguhan, keikhlasan, dan kesabaran yang indah.

Jelasnya, mari simak kembali hadits yang diriwayatkan Imam Muslim tersebut. “Agama itu adalah nasihat”. Kami (Sahabat) bertanya: “Untuk siapa ?” Nabi bersabda: “Untuk Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, Imam-Imam kaum Muslimin dan bagi kaum Muslimin umumnya”.

Jadi sesungguhnya tak perlu risih dengan kata nasihat. Apalagi sampai alergi atau antipati. Tak elok pula berkata bosan menyimak nasihat. Hidup manusia memang tak lepas dari lingkaran nasihat yang memagarinya. Realitasnya, manusia butuh pengingat selalu. Itu fitrah.

Jika urusan ini diingkari, justru tampaklah kebodohannya. Itu berarti ia senang terkungkung. Bersembunyi di balik dalam tempurung keegoannya. Hanya karena suka menampik kebaikan yang ditawarkan pada dirinya. Hanya karena bukan namanya yang duluan disebut, atau receh-receh keangkuhan lainnya.

Inilah rahasia di balik keberuntungan yang disuguhkan kepada orang-orang beriman dalam hidupnya. Karena jiwa mereka selalu terasah dengan nasihat yang dikumpulkan. Di sana ada ibrah dan uswah, ada basyiran dan nadziran dari nasihat tersebut.

Manusia yang imannya hidup, juga tidak membatasi nasihat sepagar ceramah di mimbar atau pengajian di majelis taklim semata. Bahkan yang tak bersuara pun bisa jadi pengingat yang berguna. Asal dirinya peka dan jiwanya bersih dalam menerima asupan hati. Perhatikan saja, gigi-gigi yang mulai keropos, sendi tulang yang perlahan mengilu, uban yang kian bercahaya, hingga kematian itu sendiri. Semuanya secara bergantian terus mengingatkan manusia dalam bisu.

Olehnya, terkadang nasihat tersebut bukan persoalan suka atau senang. Bukan asal cocok atau tidak cocok. Tapi selayaknya manusia memang butuh untuk selalu diingatkan. Kehidupan ini berputar dan akan tiba masanya roda itu berhenti di tempat yang ditentukan.

Maka beruntunglah manusia yang selalu ingat kepada Penciptanya. Sebagaimana rugi dan celakalah dia yang masih saja lalai dengan berbagai alasan yang dibuatnya. Penuh sesal nanti, ia cuma bisa berucap. Duhai, kiranya saya hanyalah sebutir debu saja di dunia ini.

Bagaimana dengan manusia yang tak kunjung mempan dengan nasihat? Nyatanya demikian. Ada orang yang beratus-ratus judul buku telah dilahapnya. Tak berbilang kajian, seminar, ceramah agama pernah dikunjunginya.

Titel ilmunya pun adalah sarjana tentang ilmu agama. Pun dari lulusan sekolah atau kampus berlabel agama pula. Atau mungkin ia berkawan dan bertetangga dengan orang-orang shaleh di sekitarnya. Tapi dirinya sendiri cuma bisa larut menikmati hidup foya-foya, penuh kesia-siaan.

Dalam hal ini, selain faktor hidayah sebagai hak kuasa Allah, Nabi Muhammad juga mengingatkan, bahwa nasihat yang bermanfaat adalah yang datangnya dari hati dan diterima melalui hati pula.

Itulah adab. Adab bagi yang memberi nasihat dan adab bagi yang menerima nasihat. Sama-sama butuh saling mengoreksi diri. Khawatir dia bermaksud menyampaikan nasihat atau menerima nasihat, namun keduanya lupa untuk membersihkan hati terlebih dahulu. Jika itu terjadi, maka nasihat yang diberi hanya sampai di lidah dan kerongkongan semata. Sebagaimana nasihat yang diterima cukup tertampung sebagai kumpulan pengetahuan di otak saja. Tak mampu menembus hati.*Hidcom

Hikmah Datangnya Corona Sebelum Ramadan Tiba

0

“Karena sering sholat dirumah, akhirnya saya tahu kalau anak sulung saya yang kelas VI belum sempurna cara wudhunya”.

“Meski terpaksa, saya harus menjadi imam sholat dirumah. Padahal saya bukan ustadz. Tapi hasilnya, hapalan dan bacaan Qur’an saya semakin baik”.

Kalimat diatas hanyalah penggalan dari testimoni lainnya tentang sensasi ‘lockdown’ dirumah seiring merebaknya virus corona di Indonesia. Meski bukanlah keinginan kita masing-masing, berdiam diri dirumah sebagai bagian dari social distancing juga tidak dapat dihindari.

Hingga tulisan ini dibuat, setidaknya ada 2.738 pasien positif Covid-19 di Tanah Air dengan 221 orang diantaranya meninggal dunia. Mungkin ada yang berkata bahwa angka ini bukanlah angka yang besar untuk Indonesia yang –berdasarkan proyeksi- berpenduduk 271.066.000 jiwa di tahun ini.

Namun perlu diingat, wabah pandemi seperti ini cenderung berperilaku ‘gunung es’, menutupi angka yang sebenarnya dengan grafik yang berpotensi untuk meningkat hingga beberapa waktu kedepan, na’udzu billaahi min dzalik.

Bagi orang beriman, keadaan yang berlaku saat ini akan dikembalikan kepada dua muara utama; bukti kekuasaan Allah dan kelemahan manusia. Mata hati orang beriman akan memunculkan penegasan Allah sebagai cover pertama respon dirinya.

الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِياماً وَقُعُوداً وَعَلى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّماواتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنا مَا خَلَقْتَ هَذَا باطِلاً سُبْحانَكَ فَقِنا عَذابَ النَّارِ

(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka” (QS. Ali Imran:191).

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga telah memberikan pengakuannya:

عَجَبًا ِلأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَلِكَ ِلأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْراً لَهُ.

Sungguh menakjubkan perkara orang mukmin itu, karena seluruh perkaranya memberikan kebaikan baginya dan hal itu tidak dimiliki oleh siapapun kecuali oleh orang mukmin. Jika diberi sesuatu yang menggembirakan, ia bersyukur, maka hal itu merupakan kebaikan baginya, dan apabila ia ditimpa suatu keburukan (musibah) ia bersabar, maka hal itu juga baik baginya

Karakter ini bukan berarti meremehkan daya serang virus yang bermula dari negeri tirai bambu, China. Tapi orang beriman juga tidak akan tersandera lalu bersikap pasif, skeptis dan akhirnya menyerah.

Allah telah memberikan imun spesial yang hanya ada pada diri orang beriman, yaitu kemampuan untuk menikmati setiap takdir sehingga tidak merusak keharmonisan hubungannya dengan Allah Ta’ala.

Secara eco-sosial, kebijakan ‘lockdown’ membuat kita menahan diri untuk keluar rumah. Berarti ada potensi penghematan pengeluaran dari biaya makan di restoran, berbelanja di mall, hingga penggunaan bahan bakar.

Pertamina, dalam sebuah keterangan resminya menjelaskan bahwa komsumsi BBM masyarakat mengalami penurunan dalam beberapa pekan terakhir, terutama saat physical distancing digalakkan. Sementara kita menyadari bahwa –saat ini- Indonesia juga sedang berjibaku dengan keterbatasan sumber daya energi seperti BBM tersebut.

Bahkan, bagi masyarakat DKI Jakarta, berkurangnya aktifitas ditempat umum ‘memberi berkah’ tersendiri yaitu berkurangnya polusi, tingkat kebisingan kendaraan menurun hingga langit Jakarta yang semakin cerah dan biru. Sebuah pemandangan yang tidak semua mata dapat menyaksikannya.

Dan yang lebih prinsip, meski ‘serangan mendadak’ Corona ini membuat kita ‘terpaksa’ untuk banyak beribadah kepada Allah, tapi iman kita berkata bahwa mungkin ini cara Allah untuk menawarkan kenikmatan berdoa, bersujud dan berserah diri kepada-Nya, yang selama ini tersisihkan oleh kesibukan atau aktifitas harian kita.

Sholat yang selama ini ditunaikan hanya untuk menggugurkan kewajiban, doa yang dipanjatkan tidak dengan sepenuh hati, tawakkal yang setengah-setengah karena merasa punya kemampuan untuk tetap survive, hingga pada skala makro, daerah dan negara yang tidak diproyeksikan menjadi baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur, ter-evaluasi secara automatically dengan hantaman makhluk ‘2019-nCoV’ tersebut.

Kasih Sayang Allah

Disisi lain, orang beriman juga meyakini bahwa suasana tak nyaman ini tidak menafikan keagungan kasih sayang Allah Ta’ala. Dalam hadits Qudsi, Allah memberikan kepastian-Nya “Wahai hamba-hamba-Ku, sungguh Aku telah mengharamkan kezaliman atas diri-Ku….” (HR. Muslim).

Bahkan, suasana ini juga adalah refleksi kasih sayang Allah dengan menetapkan takdir yang dapat meningkatkan kualitas iman serta mengurangi kadar dosa yang telah dilakukan. Rasulullah bersabda:

إذا أحب الله قوما ابتلاهم

Jika Allah telah mencintai suatu kaum maka mereka akan diuji” (HR. Ath-Thabrani).

Meski kita juga tetap patut mewaspadainya sebagai teguran atas kekhilafan yang terjadi diantara kita. Allah Ta’ala berfirman:

واتقوا فتنة لا تصيبن الذين ظلموا منكم خاصة

Dan jagalah dirimu dari siksaan yant tidak hanya menimpa orang-orang zhalim saja diantara kalian…” (QS. Al Anfal:25)

Menggali Hikmah

Diantara takdir Allah yang harus diyakini bahwa kemunculan virus corona jelang bulan suci Ramadhan bukanlah sebuah kebetulan semata. Dalam arti kata, ada pesan langit yang harus kita ungkap agar ‘ketok palu’ Allah membumi secara tepat.

Setidaknya, membuat hati kita semakin berharap kepada-Nya, kesombongan diri menjadi hilang, tangan-tangan menengadah tanpa bosan, lisan meminta tiada henti, ibadah terasa lebih nikmat, dan kalau kita dapat larut dalam kesyahduan munajat seperti ini, pertanda bahwa kita telah menjadi pemenang dari bulan suci Ramadhan.

Dan mungkin dengan hasil inilah tanda bahwa kita menikmati kehadiran tamu ‘corona’ ini dengan sajian ‘Ramadhan’ yang mungkin telah lama kita tidak menikmati sensasinya. Allahu a’lam bish-shawab.*

KH. Naspi Arsyad, penulis adalah pengasuh Program Kuliah Da’i Mandiri-Balikpapan

Melampaui Krisis di Tengah Pandemi yang Akan Meluas

Oleh Asih Subagyo

PANDEMI SARS-CoV-2 (COVID-19), masih terus terjadi. Secara pasti belum bisa diketahui kapan berakhirnya. Jumlah korban yang terinfesksi dan meninggal dunia, baik sekala lokal, nasional maupun global terus meningkat.

Secara eksponensial. Hanya beberapa Negara yang sudah menunjukkan pertumbuhan yang landai. Meskipun beberapa pihak secara akademis, telah mengeluarkan prediksi berdasarkan permodelan matematika.

Paling tidak, dari beberapa modeling yang dikeluarkan itu, ada tiga skenario besar yang dihasilkan. Pertama, optimis, yaitu jika dilakukan lockdown/ karantina wilayah, dan negara ketat menerapkan aturan, maka wabah akan mengalami puncak di pertengahan bulan April ini, dan seacara berangsur 1-2 dua bulan berikutnya akan berakhir. Strategi ini nampaknya sudah terlambat dilakukan di Indonesia.

Kedua, adalah moderat. Skenario ini berjalan jika ada aturan karantina wilayah atau sekarang Pembatasan Sosial Bersekala Besar(PSBB), namun penerapan tidak ketat dan masyarakat tidak disiplin, maka diprediksi, Covid-19 mencapai puncaknya pada akhir bulan Mei, selanjutnya 1-2 bulan berikutnya akan berakhir.

Sedangkan skenario ketiga, adalah sekenario terburuk, dimana negara tidak melakukan apa-apa, demikian juga rakyat juga tidak peduli dengan situasi yang terjadi, maka kemungkinan puncaknya pada bulan Juni-Juli, dan 2 bulan berikutnya atau lebih akan berakhir.

Dari tiga skenario itu, para ahli memprediksi bahwa yang paling mungkin terjadi di Indonesia adalah skenario ke-2, yaitu moderat. Sehingga prediksi puncak Covid-19 terjadi pada akhir bulan Mei dengan yang jumlah yang terinfeksi puluhan ribu hingga ratusan ribu orang dan yang meninggal ribuan orang. Sedangkan wabah, diperkirakan akan berakhir pada bulan Juni atau Juli.

Masalah Data dan Rapid Test

Permodelan yang dilakukan selama ini, adalah berdasarkan atas data yang dikeluarkan oleh Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 pusat, yang dibacakan setiap sore. Meskipun keberadaan data yang disampaikan itu, masih belum teruji kevalidannya. Artinya banyak pihak yang meragukan. Hal ini dapat dilihat paling tidak itu pernyataan yang dikeluarkan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang menyampaikan bahwa data yang dikeluarkan oleh Gugus Tugas itu, belum mencerminkan keadaan yang sesungguhnya.

Demikian juga laporan Gubernur DKI Jakarta kepada Wapres yang menyatakan ada lebih dari 400 pasien meninggal yang diberlakukan dengan protocol positif COVID-19 (padahal saat itu secara nasional baru 171 orang yag meninggal). Begitupun laporan Gubernur Jabar yang menyatakan bahwa korban bisa kali berlipat-lipat dari yang dilaporkan oleh Satgas. Sehingga, bisa jadi prediksi yang dilakukan dengan permodelan matematika di atas akan mentah sendiri karena data yang disajikan tidak valid.

Terkait dengan itu, Prof. Sulfikar Amir dan Dr. Fredy Tantri melakukan permodelan, berdasarkan perbandingan jumlah penduduk, strategi/ skenario yang dilakukan oleh kota-kota besar dunia, dengan tingkat keterjangkitan Covid-19 ini, dengan beberapa indikator lainnya. Hasilnya didapatkan bahwa pada tanggal 2 April 2020, jumlah pendududuk DKI yang terkena wabah sekitar 76.605 jiwa. Tentu ini hasil yang mengejutkan buat semua pihak.

Namun jika kita cermati, perbedaan data tersebut ada yang menyajikan dengan jumlah sedikit dan kemudian adanya simulasi lain yang mendapatkan jumlah yang besar, bisa diterangkan dengan mudah. Sebab selama ini sangat sedikit masyarakat yang diperiksa dan melakukan rapid test. Selain karena keterbatasan alat (rapid test dan PCR=Polymerase Chain Reaction), juga masyarakat enggan, bahkan takut untuk melakukan test, dengan berbagai alasan. Sehingga wajar jika jumlah yang terjangkit juga masih sedikit dan berbeda data.

Dari Covid-19 ke Krisis

Derita rakyat yang harus di rumah saja, sementara tidak ada pasokan makanan dari negara, akan menyebabkan beban rakyat semakin meningkat. Sebagaimana kita kitahui bahwa 70%-80% dari mata pencaharian rakyat adalah kerja di sektor informal. Artinya, kerja hari ini untuk makan hari ini.

Dengan kondisi seperti itu, daya survival rakyat menjadi lemah. Mereka lebih baik keluar untuk mencari nafkah daripada di rumah. Bagi mereka di rumah mati, keluar juga bisa mati kena corona. Mendingan keluar masih ada harapan untuk menghidupi keluarganya.

Sekalilagi gambaran ini yang menyebabkan rakyat banyak memilih keluar rumah, dengan berbagai resiko. Karena ini juga urusan untuk mempertahankan hidup.

Gambaran mikro, yang terjadi di sebagian besar rakyat Indonesia itu, ternyata juga didukung dengan gambaran secara makro ekonomi, yang ditandai dengan melemahnya rupiah atas sebagian besar mata uang asing terutama US dollar, anjloknya IHSG, negatifnya neraca perdagangan, melebarnya defisit APBN, menurunnya penerimaan negara dan lain sebagainya.

Sehingga The Economist Intelligence Unit memprediksi bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia yang semula diprediksi sebesar 5,1% akan turun menjadi 1% pada tahun 2020. Demikian halnya Menteri Keuangan Sri Mulyani, di beberapa kesempatan menyampaikan bahwa skenario terburuk pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2020 adalah 0,4%.

Sebagaimana dipahami bahwa, setiap pertumbuhan 1% di suatu negara, maka akan diikuti dengan terserapnya tenaga kerja sekitar 300 ribu-500 ribu orang. Sehingga, pada tahun ini akan banyak angkatan kerja yang tidak terserap. Padahal lulusan sekolah dan perguruan tinggi yang tahun ini terus meningkat. Mereka tidak terserap, ditambah lagi dengan adanya PHK dari perusahaan-perusahaan yang mulai gulung tikar pada tahun ini.

Krisis ekonomi adalah istilah yang digunakan pada bidang ekonomi yang mengacu pada perubahan drastis yang terjadi pada perekonomian dan beberapa indikatornya. Perubahan ekonomi yang terjadi secara cepat tersebut, biasanya akan mengarah pada turunnya nilai tukar mata uang, IHSG, neraca perdagangan negatif, dan akan diikuti dengan langka dan tingginya harga kebutuhan pokok, perusahan yang bangkrut dan gulung tikar dan lain sebaginya.

Melihat data dan fakta seperti di atas, dan juga kemungkinan berakhirnya pandemi Covid-19 yang masih panjang, maka bisa dikatakan krisis ekonomi saat ini dan beberapa bulan ke depan sedang dan akan terjadi.

Memenangkan Krisis

Sekali lagi, kita tidak pernah tahu persis, berapa lama krisis ekonomi ini akan terjadi dan berakhir. Memang, beberapa prediksi meramalkan sekitar 6 bulan hingga 1,5 tahun, bahkan ada yang lebih dari itu.

Berapapun lamanya, yang namanya krisis ekonomi, akan banyak mempengaruhi, dan menggoncang sendi kehidupan masyarakat. Dan itu artinya akan sedikit banyak berpengaruh terhada kita. Tidak ada cara lain untuk memenangkan krisis adalah dengan kita memahami krisis ini. Maka, berikut ini beberapa strategi untuk memenangkan krisis.

Pertama, yakinlah bahwa krisis pasti akan berakhir. Sikap mental kita perlu disiapkan. Berdasarkan pengalaman empirik, membuktikan bahwa semua krisis pasti ada ujungnya. Berapapun lamanya, pasti berakhir. Jangan panik. Tetap berfikir jernih. Dengan sikap mental seperti ini menyebabkan kita tangguh dalam menghadapinya. Tidak takut, tetap waspada sehingga tidak sembrono dan gegabah.

Jangan sampai mengalami goncangan secara psikologis. Jika psikologis sakit, akan berpengarus ke kesehatan fisik dan lainnya. Olehnya, dengan ketenangan pikiran dan jiwa, kita akan lebih mudah mengantsipasi dan menyusun strategi serta langkah-langkah apa yang harus dilakukan.

Kedua, kendalikan diri. Terkait dengan ini, maka belanjakanlah hanya untuk kebutuhan primer. Tahan dan tunda untuk pengeluaran sekunder. Lupakan dulu kebutuhan tersier. Revisi anggaran. Pastikan pos-pos penerimaan agar bisa masuk semaksimal mungkin. Pangkas pengeluaran. Keluarkan hanya terkait dengan kebutuhan yang penting dan mendesak saja.

Jaga cash flow. Jika berat, lakukan reschedulle/ restructure hutang, terutama yang ada kaitannya dengan lembaga keuangan baik bank maupun non bank. Manfaatkan kebijakan pemerintah. Jangan menambah hutang lagi. Tahan untuk ekspansi bisnis. Jangan menukarkan rupiah dengan mata uang asing ataupun dalam bentuk emas, jika untuk kepentingan spekulasi atau mencari keuntungan. Kecuali untuk kepentingan transaksi/ cadangan. Hal ini berlaku, baik untuk sekala rumah tangga maupun usaha (apapaun bentuknya)

Ketiga. kreatif, inovatif dan produktif. Dalam situasi seperti ini, siapapun dituntut untuk lebih kreatif, inofatif dan produktif. Kreatif untuk bisa survival dengan melakukan banyak hal. Demikian juga inovatif untuk menghasilkan produk/ jasa yang bisa dipasarkan atau dijual, atau minimal untuk survival tadi.

Memanfaatkan pekarangan, menafaatkan tanah kosong untuk ditanami sayuran dan tanaman pangan merupakan hal yang bisa dilakukan. Demikian halnya ketika harus banyak di rumah, seharusnya lebih produktif dalam artian mampu menciptakan produk/ jasa baru yang sesuai dengan kebutuhan saat ini, dan juga dapat dikembangkan ketika krisis berlalu.

Demikian juga produktifitas bisa dilakukan dengan memanfaatkan teknologi. Pertemuan/ rapat bisa dilakukan dengan fasilitas conference call yang saat ini tools-nya sangat banyak dan mudah untuk dioperasikan.

Keempat, kolaborasi dengan berjama’ah. Salah satu hal positif dari krisis adalah mengasah jiwa kepekaan sosial. Ada kesadaran bahwa kita tidak bisa hidup sendiri. Saling membutuhkan. Sehingga kolaborasi menjadi kata kunci yang harus dilakukan. Ta’awun, kerjasama, saling membantu. Baik dalam konteks pribadi atau dalam rangka bisnis. Ini akan memperkuat solidaritas antara yang satu dengan yang lainnya.

Dengan demikian maka, akan terbentuk komunitas masyarakat yang kuat, saling membantu, tolong-menolong, bekerjasama dalam kebaikan, dan seterusnya. Jangan sampai 40 orang tetangga di sekitar kita yang kelaparan. Tentu mesti diimbangi dengan bersedekah, berinfaq, berzakat yang lebih ditingkatkan lagi. Jika bisa demikian maka, akan menjadi model dalam hidup berjama’ah.

Kelima, perbanyak Ibadah. Terakhir dan sesungguhnya juga bisa diletakkan di awal, adalah dengan memperbanyak kualitas dan kuantitas ibadah. Ibadah mahdhoh dan ghairu mahdhoh perlu ditingkatkan. Meski ada pembatasan untuk tidak melakukan shalat di masjid, maka lakukanlah shalat berjama’ah di rumah bersama keluarga.

Bangun kekuatan interaksi di keluarga. Bikin kajian di rumah. Ikuti dengan ibadah nawafil dan sunah-sunah lainnya. Dan ajak seluaruh anggota keluarga untuk bersama-sama bermunajat kepada Allah agar kita segera terlepas dari pandemic Covid-19 dan krisis ekonomi yang mengikutinya. Sebab setelah semua ikhtiar kita lakukan, selanjutnya kita bertawakal kepada Allah.

Semoga kita bisa melampaui semua ujian dan cobaan ini dengan baik dan semakin meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kita disisi Allah SWT. Yakinlah dengan firman Allah: “Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan,” (QS. Al-Insyirah 94: Ayat 5)

*) ASIH SUBAGYO, Ketua Bidang Ekonomi DPP Hidayatullah

Kerjasama Makmurkan Masjid di Tengah Wabah Covid-19

0

SETELAH WHO menyatakan wabah virus Corona (Covid 19) telah menjadi pandemi, dan memperhatikan desakan dari berbagai pakar dan kelompok dengan makin massifnya wabah di tengah masyarakat, pemerintah Indonesia akhirnya menyatakan keadaan darurat Covid 19.

Masyarakat diminta untuk tinggal di rumah (stay at home) dan menjaga jarak dalam berinteraksi (physical/social distancing). Dalam pada itu keluar pula fatwa MUI bahwa untuk kawasan atau daerah yang terpapar wabah Covid 19, demi menghindari meluasnya penularan wabah, maka umat Islam diminta untuk tidak menyelenggarakan shalat Jum’at dan shalat berjama’ah lima waktu di masjid. Shalat Jum’at diganti dengan shalat dzuhur di rumah.

Beberapa pemerintah daerah menindaklanjuti kebijakan pemerintah pusat dan fatwa MUI tersebut dengan membuat surat edaran yang isinya meminta kepada pengurus masjid dan masyarakat untuk tidak menyelenggarakan shalat jum’at dan dan shalat berjama’ah di masjid.

Pada umumnya surat edaran tersebut memohon kiranya shalat Jum’at dan shalat berjama’ah di masjid ditiadakan selama dua pekan. Hal ini didasarkan pada asumsi bahwa masa inkubasi Covid 19 adalah 14 hari. Maka untuk memutus mata rantai penyebaran wabah Covid 19 harus dilakukan social distancing di masjid selama dua pekan.

Tapi sampai saat ini, ketika himbauan dan fatwa MUI tersebut telah berlalu tiga pekan, ummat Islam belum juga kembali shalat Jum’at dan shalat berjama’ah di masjid. Sudah 3 kali shalat Jum’at tidak diselenggarakan di masjid. Tentu dengan pengecualian beberapa masjid yang pengurus dan masyarakat sekitarnya sepakat untuk “tidak taat” pada fatwa tersebut.

Dapat diduga bahwa untuk hari jum’at depan dan beberapa waktu kedepan tetap tidak akan diselenggarakan shalat jum’at dan shalat berjama’ah lima waktu di masjid. Apalagi grafik wabah covid semakin menanjak. Pemerintah telah menetapkan Darurat Bencana Covid 19 sampai 29 Mei 2020.

Jika “darurat tidak shalat di Masjid” tersebut tetap mengikuti darurat covid 19 yang telah ditetapkan pemerintah , maka bukan saja masjid akan kosong dari shalat jum’at dan shalat lima berjama’ah, tapi juga bulan Ramadhan tahun ini –yang sebentar lagi akan tiba– akan dilalui ummat Islam dengan “hambar” tanpa shalat tarawih. Dan juga tanpa shalat Idul Fitri.

Secara fiqih tentu tidak salah menetapkan pelarangan shalat Jum’at dan shalat berjama’ah lima waktu di Masjid. Banyak dalil yang bisa jadi rujukan. Ulama-ulama kita tentu telah mendalami berbagai dalil agama dan argumentasi ilmiyah untuk kemudian menetapkan fatwa. Karena itu fatwa yang sama juga dikeluarkan oleh hampir semua lembaga fatwa di negaranegara muslim.

Tapi sebagaimana dalam tradisi fiqih, adanya pandangan yang berbeda adalah suatu hal yang biasa. Maka jika ada saudara-saudara kita yang memilih tetap menyelenggarakan shalat Jum’at dan shalat berjama’ah di masjid dapat pula diberi ruang pemakluman dalam konteks ini.

Menurut penulis, ada “jalan tengah” yang sesungguhnya dapat dilakukan untuk kembali ke Masjid di tengah wabah Covid 19 ini. Masjid tidak perlu terlalu lama kosong tidak ditempati shalat. Kita tidak harus pasrah menunggu sampai musim wabah Covid 19 lewat kemudian kembali shalat di masjid.

Dengan sedikit perjuangan atau mujahadah maka dalam waktu dua pekan kemudian kita sudah bisa kembali memakmurkan masjid. Dan ini berarti kita pun akan menjalani Ramadhan tahun ini tetap bersama dengan keberkahan shalat tarawih sebagaimana biasanya.

Program ini dilakukan dengan kerjasama antara pengurus Masjid dan pemerintah pada level bawah, yaitu ketua RT atau RW. Mereka bekerjasama mendata dan memastikan masyarakat sekitar Masjid untuk mesterilkan diri dari Covid 19 dengan cara stay at home selama 14 hari, dan untuk hari-hari selanjutnya tetap menjaga physical/ sosial distancing.

Ini tentu memerlukan kejujuran dan komitmen kuat dari semua warga. Kalau perlu diperketat hanya untuk mereka yang memang sudah terbiasa atau rutin shalat berjama’ah dimasjid.

Semakin kecil suatu Masjid, apalagi Mushalla, semakin mudah melakukan program ini. Masjid dalam lingkungan pesantren dan kompleks perumahan dapat melakukan ini dengan baik. Mungkin program ini agak sulit dilakukan untuk Masjid Raya atau masjid-masjid besar. Saya kira itu tidak masalah.

Yang jelas jika program ini menjadi kesadaran umum ummat Islam dan dapat berjalan dengan baik, maka sebagian besar masjid dan ummat Islam dapat kembali memakmurkan Masjid dengan shalat Jum’at dan shalat berjama’ah di masjid. Dan tidak kalah pentingnya adalah ummat dapat memenuhi “panggilan spiritual” shalat tarawih dengan perasaan aman.

Abdul Aziz Mudzakkar, Pengasuh Ponpes Hidayatullah Makassar

Depkes DPP Hidayatullah Berikan Prosedur Bersih Badan Penangkal Covid-19

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Sampai saat ini vaksin dan obat penyakit yang ditimbulkan oleh Covid 19 belum ditemukan. Kita hanya bisa berikhtiar agar terhindar dari virus tersebut seraya terus memohon kesehatan dari Allah Ta’ala.

Berikut prosedur membersihkan badan guna menangkal bersarangnya covid 19 di tubuh kita sebagaimana diungkap oleh drg Fathul Adhim, M.KM, ketua Departemen Kesehatan DPP Hidayatullah.

Selama berdiam di rumah diharapkan:

  1. Mandi minimal 2 kali sehari. Jangan lupa memakai sabun.
  2. Sehabis mandi langsung siapkan baju bersih dan handuk bersih di dalam kamar mandi.
  3. Jangan lupa selalu menjaga wudhu.

Saat menerima paket atau barang belanjaan diharapkan:

  1. Segera buka pembungkusnya dan pembungkus tersebut langsung dibuang.
  2. Isi paket/barang belanjaan dibersihkan dengan air mengalir
  3. Jangan lupa bersihkan tangan dengan sabun dan air mengalir.

Saat pulang ke rumah setelah berpergian:

  1. Segera masuk kamar mandi.
  2. Semua baju dimasukkan ke dalam keranjang untuk dicuci.
  3. Mandi dan keramas.
  4. Keringkan badan dan gunakan handuk yang bersih
  5. Kenakan pakaian yang bersih.
  6. Anda siap bertemu anggota keluarga yang lain.

BMH Gandeng HMI Semprot Disinfektan dan Bagikan Sembako di Kendari

KENDARI (Hidayatullah.or.id) — Baitul Maal Hidayatullah (BMH) Perwakilan Sulawesi Tenggara (Sultra)  ikut aktif melakukan kegiatan pencegahan penyebaran Covid-19. Tidak hanya berupa penyemprotan disinfektan, tapi juga program ketahanan pangan keluarga dhuafa melalui pembagian paket sembako untuk keluarga terdampak wabah Covid-19, di Kota  Kendari.

“Alhamdulillah, Sabtu (4/4),  BMH Perwakilan Sultra  kembali  melakukan penyemprotan disinfektan sekaligus penyaluran program ketahanan pangan untuk keluarga dhuafa terdampak wabah Covid-19 di Kendari. Kegiatan tersebut  bekerj a sama dengan relawan dari HMI Komisariat Faperta Universitas Haluoleo (UHO) Kendari dan Himpunan Mahasiswa Jurusan Budidaya Perairan UHO di Kendari,” terang Kepala BMH Perwakilan Sulawesi Tenggara.

Ia menambahkan, penyemprotan disinfektan juga melayani pelaku usaha yang secara langsung sangat membutuhan rasa aman. Sebab,  selama wabah berlangsung, usaha tetap harus jalan untuk menghindari terjadinya PHK.

“Kami sangat berterima kasih dengan penyemprotan yang dilakukan oleh BMH dan HMI.  Kami merasa tenang setelah tempat usaha kami disemprot disinfektan. Semoga kami semua terlindungi dari virus,” kata Bu Mimi pemilik usaha yang mempekerjakan 30 karyawan.

Selain melakukan penyemprotan di masjid, rumah dan tempat usaha,  BMH juga membagikan paket sembako kepada mereka yang terdampak Covid-19. Para penerima manfaat itu di antaranya buruh dan ojek online.

“Bantuan ini diserahkan langsung ke tempat penerima manfaat berada, sehingga membuat mudah dan nyaman mereka dalam menerima bantuan ini,” jelas Fatahillah.

Satgas Hidayatullah: Jangan Santai, Jangan Cemas Hadapi CoVid-19

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Kemunculan kasus Corona Virus Disease (COVID-19) di Indonesia dianggap “angin lalu” bagi sebagian masyarakat. Keterbatasan ilmu dan tidak memiliki kapasitas dan kapabilitas dalam menyampaikan tentang kesehatan yang merupakan domain para dokter dan banyaknya berita hoax yang berseliweran tentang penyebab, penyebaran, penanganan virus corona, membuat masyarakat bingung dan kecemasan yang terlalu berlebihan.

Satuan Tugas (Satgas) penanganan COVID-19 Hidayatullah yang merupakan gabungan dari Islamic Medical Service (IMS), BMH, SAR Hidayatullah, Tanggap Aksi Kemanusiaan (TASK) merespons sikap sebagian masyarakat yang berakibat muncul praduga dan klaim yang tidak bertanggung jawab tentang vonis pasien, dokter, paramedis, dan ambulans.

Ketua Satgas COVID-19 Hidayatullah Imron Faizin, di sela-sela kesibukannya mengatakan, “Satuan tugas COVID-19 Hidayatullah ini merupakan garda terdepan untuk pencegahan dan penanganan terutama memberikan edukasi yang benar tentang COVID-19 dan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat kepada pondok pesantren, masjid, dan masyarakat umum”.

Dokter Hj. Herlis dalam setiap penyampaian sosialisasi Satgas yang sudah berjalan dua pekan, menekankan kepada masyarakat, tidak boleh terlalu santai apalagi meremehkan tentang wabah COVID-19 yang menyebabkan meningkatnya jumlah pasien setiap harinya.

Terlalu cemas pun tidak baik, sehingga berdampak terganggunya imunitas tubuh.

Untuk memutus rantai kecemasan tentang COVID-19 yang beredar berupa berita hoax, maka disarankan untuk bertanya langsung kepada dokter.

Selama dua pekan sosialisasi, Satgas mendapatkan apresiasi dari berbagai pihak karena telah mendapatkan informasi yang valid tentang COVID-19.

Antusiasme masyarakat dan santri pun terlihat dengan banyaknya pertanyaan berkaitan dengan hoax atau tidaknya setiap kasus yang dialami langsung atau dibaca di media sosial.

Tugas terberat dari Satgas ini adalah memberikan penjelasan secara tegas, lugas, dan berdasar dalam memerangi beredarnya berita hoax tentang COVID-19. *Hidcom