JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Program kesehatan terpadu bertajuk Health Journey Edisi Jawa resmi dimulai Islamic Medical Service (IMS) bersama Majelis Telkomsel Taqwa (MTT) di RW 07 Cipinang Besar Utara (CBU), Kecamatan Jatinegara, Jakarta Timur, Sabtu, 8 Jumadil Akhir 1447 (29/11/2025).
Pelaksanaan perdana ini berlangsung sejak pagi hingga siang hari dan mencatat pelayanan kepada 110 warga, meliputi 100 pasien pengobatan umum serta 10 peserta layanan hapus tato gratis. Kegiatan ini menjadi titik awal rangkaian agenda kesehatan yang akan berlanjut ke beberapa kota besar di Pulau Jawa hingga 10 Desember 2025.
Dalam konteks wilayah perkotaan padat seperti CBU, program layanan dasar kesehatan memiliki fungsi strategis. Banyak warga, terutama lansia, menghadapi hambatan akses karena faktor ekonomi, jarak, dan pengetahuan kesehatan yang terbatas.
Baksos kesehatan yang digelar IMS dan MTT ini memberikan ruang bagi masyarakat untuk memperoleh pemeriksaan dasar seperti cek gula darah, asam urat, kolesterol, konsultasi dokter, dan pemberian obat. Layanan hapus tato yang disediakan turut menambah jangkauan manfaat program, terutama bagi warga yang ingin memulai fase hidup baru.
Ketua RW 07 CBU, Tuhu Priyatomo, menyampaikan apresiasi tinggi atas penyelenggaraan kegiatan di wilayahnya. “Tentunya dengan adanya baksos kesehatan ini akan sangat bermanfaat bagi masyarakat Cipinang Besar Utara, masyarakat yang mayoritas lansia dengan segala bentuk keluhannya bisa melakukan berobat gratis pada kali ini,” ujarnya. Ia menambahkan rasa terima kasih kepada IMS dan MTT dengan harapan kegiatan serupa dapat berlanjut pada kesempatan berikutnya.
Dari sisi penerima manfaat, warga menunjukkan antusiasme tinggi. Agung, salah satu peserta layanan, menyampaikan pengalamannya. “Alhamdulillah, saya merasa sangat terbantu. Saya bisa periksa kolesterol dan konsultasi keluhan saya tanpa harus mikir biaya. Pelayanan dokter dan timnya sangat ramah, dan kami juga dapat susu serta sereal,” ungkapnya.
Dalam sambutannya, Direktur IMS, Utar Rahmat Wijaya, menekankan makna strategis kolaborasi lintas lembaga. Ia menyatakan bahwa kesehatan adalah investasi sosial yang mendukung produktivitas masyarakat.
“IMS meyakini bahwa kesehatan adalah investasi kebaikan dan kunci produktivitas umat. Melalui program Health Journey ini, kami tidak hanya ingin memberikan pengobatan kuratif, tetapi juga promotif dan preventif,” jelasnya. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada MTT sebagai sponsor utama kegiatan.
Program Health Journey Edisi Jawa merupakan model pelayanan kesehatan bergerak yang dirancang untuk menjangkau komunitas urban di beberapa daerah. Setelah Jakarta Timur, program akan melanjutkan perjalanannya ke Bandung, Semarang, Surabaya, dan Malang. Setiap kunjungan disiapkan untuk memberikan layanan kesehatan dasar serta edukasi perlindungan diri bagi masyarakat.
Seluruh peserta kegiatan juga menerima nutrisi tambahan berupa susu dan sereal untuk mendukung pemulihan pasca pelayanan. Langkah ini menjadi bagian dari pendekatan komprehensif yang tidak hanya memberikan pengobatan, tetapi juga memperhatikan pemenuhan gizi dasar warga. Program perdana di Jakarta Timur sekaligus menjadi model pelaksanaan bagi kota-kota berikutnya sehingga manfaat yang diberikan dapat diperluas secara bertahap.
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Rais ‘Aam Hidayatullah, KH Abdurrahman Muhammad, mengisi taushiyah dalam rangkaian Musyawarah Nasional (Munas) VI Muslimat Hidayatullah (Mushida) di Hotel Grand Dafam Jakarta, Jum’at, 7 Jumadil Akhir 1447 (28/11/2025).
Dalam kesempatan tersebut, ia menegaskan urgensi syura sebagai fondasi kepemimpinan beradab dan sistem pengokoh gerakan dakwah.
Rais ‘Aam menyampaikan bahwa syura dalam Islam bukanlah sekadar mekanisme teknis pengambilan keputusan, melainkan sistem yang memiliki nilai ibadah.
“Syura adalah satu sistem yang sangat agung dalam agama Islam. Ia merupakan turunan dari munajat, karena tidak ada satu pun solusi kehidupan kecuali berasal dari Allah,” tegasnya.
Ia menjelaskan bahwa syura berfungsi sebagai pertahanan dan benteng muroqobah, menjaga kesadaran kolektif agar setiap keputusan dilandasi ketakwaan dan ketundukan. Menguatkan pesan tersebut, beliau mengutip firman Allah surah Ali Imran ayat 160: “Jika Allah menolong kamu, maka tidak ada yang dapat mengalahkanmu”.
Rais ‘Aam juga menekankan adab penting dalam syura untuk mendengar dan menghargai setiap masukan. “Jangan menyepelekan syura. Dengarkan dan terima masukan meskipun ia datang dari orang yang mungkin berada di bawah kita,” ujarnya.
KH Abdurrahman melanjutkan, semakin banyak orang berkumpul dalam syura, semakin banyak pula kebaikan yang Allah hadirkan melalui mereka. Jika satu orang datang dengan satu kebaikan, maka ratusan peserta syura membawa beragam kebaikan, hikmah, dan potensi solusi.
Dalam tausyiah yang berlangsung penuh kekhidmatan itu, dia menegaskan bahwa seluruh kehidupan seorang muslim adalah pengabdian. Karena itu, tegasnya, kepemimpinan dalam Islam bukan sekadar posisi organisatoris, tetapi amanah uluhiyyah dan rabbaniyyah, yakni sebagai beban keilmuan, keikhlasan, dan pertanggungjawaban di hadapan Allah.
“Kepemimpinan itu amanah yang bersumber dari Allah. Bukan ambisi, bukan pencapaian personal, tetapi penugasan Ilahi untuk mengelola kebaikan,” ucapnya.
Menutup tausyiahnya, Rais Aam Hidayatullah memberikan pesan agar para peserta tidak melupakan amalan-amalan yang menjadi penguat ruhiyah. “Jangan lupa tilawah Al-Qur’an dan berinfak,” ungkapnya.
Ia menjelaskan bahwa seluruh kebaikan dan keburukan yang terjadi dalam kehidupan berada dalam cakupan ilmu Allah yang Maha Meliputi.
KH Abdurrahman menyampaikan harapan besar bahwa Munas Mushida ini akan melahirkan pemimpin-pemimpin perempuan yang kuat ruhiyahnya, matang syuronya, dan kokoh komitmennya terhadap dakwah.
“Para pemimpin yang mampu menggerakkan masyarakat, menjaga persatuan umat, serta membawa Mushida ke level kontribusi yang lebih luas bagi bangsa dan peradaban Islam,” harapnya.
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah menyampaikan duka mendalam atas bencana yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera Utara dan Aceh. Musibah berupa banjir bandang, longsor, serta gempa bumi di Aceh menyebabkan kerusakan luas dan gangguan aktivitas masyarakat. Berdasarkan laporan sementara, 116 orang dilaporkan meninggal dunia, sementara **42 orang lainnya masih dalam proses pencarian di Sumatra Utara .
Sebagai bentuk komitmen dalam dakwah dan pelayanan umat, Hidayatullah melalui Departemen Sosial DPP Hidayatullah langsung mengerahkan Tim Siaga Kebencanaan, yang terdiri atas SAR Hidayatullah, TASK Hidayatullah, dan Baitulmaal Hidayatullah (BMH). Seluruh tim diterjunkan ke daerah terdampak untuk menjalankan respon awal secara cepat dan terkoordinasi.
Adapun langkah tanggap darurat yang dilakukan meliputi evakuasi warga di titik rawan, pengiriman relawan serta logistik darurat berupa makanan siap saji, air bersih, selimut, dan perlengkapan dasar. Selain itu, posko bantuan dibuka di sejumlah titik strategis, dan tim melakukan pendataan kebutuhan mendesak untuk tahap penanganan awal hingga pemulihan.
Ketua Umum DPP Hidayatullah, KH. Naspi Arsyad, Lc., menegaskan bahwa kondisi ini merupakan ujian bagi bangsa sekaligus panggilan untuk bersatu membantu sesama. Ia menyerukan solidaritas publik agar penanganan bencana dapat berjalan lebih cepat.
“Kami mengajak seluruh elemen bangsa, khususnya kaum Muslimin, untuk memperbanyak doa, meningkatkan empati, dan ikut membantu saudara-saudara kita yang sedang tertimpa musibah. Hidayatullah sebagai civil society akan terus berupaya dengan elemen yang lain untuk terlibat responsif dalam tanggap darurat agar masyarakat terdampak bisa segera mendapatkan bantuan,” ujarnya .
Hidayatullah juga membuka kesempatan bagi masyarakat luas untuk menyalurkan donasi kemanusiaan berupa dana, logistik, maupun tenaga relawan melalui SAR Hidayatullah dan BMH. Organisasi ini menegaskan bahwa sinergi pemerintah, ormas, lembaga sosial, dan masyarakat sangat diperlukan agar penanganan bencana berlangsung cepat dan berkesinambungan .
DPP Hidayatullah menutup pernyataannya dengan doa agar Allah memberikan kekuatan kepada para korban dan memudahkan para relawan yang bertugas di lapangan.
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Musyawarah Nasional (Munas) VI Muslimat Hidayatullah (Mushida) resmi dibuka di Gedung DPR RI, Kamis, 6 Jumadil Akhir 1447 (27/11/2025) dengan kehadiran pengurus dari 37 provinsi dan ratusan pengurus daerah (PD) yang telah tersebar di seluruh Indonesia.
Dalam sambutannya, Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Mushida, Ustadzah Hani Akbar, S.Sos.I., M.Pd., menyampaikan berbagai refleksi strategis mengenai posisi, peran, dan arah gerakan perempuan dalam organisasi.
Hani memulai sambutannya dengan menyampaikan perkembangan struktur organisasi Mushida yang kini telah hadir di 277 Pengurus Daerah.
Ia menegaskan bahwa kehadiran jaringan yang luas ini memperlihatkan komitmen kuat Muslimat Hidayatullah dalam mengokohkan peran keluarga dan mendukung gerakan induk Hidayatullah.
Hani menyampaikan bahwa identitas Mushida bukanlah organisasi otonom. Ia menekankan bahwa Muslimat Hidayatullah berperan sebagai penopang gerakan dakwah melalui kontribusi perempuan dalam ketahanan keluarga, pendidikan anak, dan pembinaan masyarakat.
“Kami hadir untuk mendampingi para bapak-bapak. Kami adalah organisasi pendukung, bukan organisasi otonom. Kami selalu mendapatkan pengarahan dan pengawalan yang sangat ketat karena kita adalah ummun wa rabbatul bait, ibu dan ratu rumah tangga,” terangnya.
Istilah Arab “ummun wa rabbatul bait” menjadi penegas tesis utama Hani bahwa perempuan memiliki peran fundamental dalam rumah tangga, bukan sebagai subordinat, tetapi sebagai pusat pendidikan moral dan keseimbangan emosional keluarga.
Dia menegaskan peran domestik perempuan adalah bagian tak terpisahkan dari ketahanan keluarga sebagai fondasi bangsa.
Hani memperdalam penjelasannya dengan menegaskan bahwa karier bukanlah indikator utama keberdayaan perempuan dalam perspektif Mushida. Ia menekankan bahwa perempuan tetap dapat berkiprah melalui perannya dalam keluarga tanpa kehilangan kontribusi sosial dan keagamaannya.
“Jangan sampai salah itu, biasanya kita jenjang karir yang diinginkan. Kita yakin bahwa berkiprah dalam rumah sebagaimana meneguhkan peran kita dalam ketahanan keluarga bahwa kita menyambung sifat Allah yang Maha Rahim dan itulah muslimat meneruskan melahirkan generasi penerus,” tegasnya.
Dalam sambutannya, Hani juga menyampaikan rasa terima kasih kepada organisasi induk Hidayatullah yang selama ini memberikan pengarahan dan penjagaan agar Muslimat Hidayatullah tetap bergerak sesuai koridor yang benar. Baginya, pendampingan itu bukan batasan, tetapi bentuk perlindungan nilai dan jati diri organisasi.
“Maka terima kasih lagi kepada induk Hidayatullah yang sudah mengawal kami agar tidak melenceng dari qodratinya. Karena, kalau ibu-ibu dikasih peluang, itu juga bisa lebih melejit daripada bapak-bapak,” katanya.
Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak
Setelah menekankan hubungan internal organisasi, Hani mengalihkan fokus kepada pentingnya sinergi dengan negara, terutama dalam isu pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak.
Ia menyebut bahwa Mushida aktif memberikan pelayanan dan masukan kepada masyarakat, namun memerlukan dukungan pemerintah agar program dapat berjalan lebih luas dan efektif.
“Kami memberikan masukan dan pelayanan di masyarakat. Maka sinergi Muslimat Hidayatullah adalah kami butuh dukungan pemerintah yang dalam hal ini Kemen PPPA,” katanya.
Dalam bagian penutup sambutannya, Hani menyoroti simbolisme tempat berlangsungnya Munas, yaitu Gedung DPR RI. Ia memandang bahwa forum ini membawa harapan agar doa dan aspirasi para perempuan Muslim sampai kepada para pemangku kebijakan di republik ini. Hani kemudian membacakan doa yang lazim dipanjatkan dalam berbagai majelis Mushida.
“Semoga doa para ibu-ibu yang datang dari jauh sampai ke ‘arasy untuk para pengambil kebijakan yang ada di tempat ini yang biasanya kami bacakan di setiap akhir majelis: Allahumma laa tusallith ‘alaina bidzunuubinaa—man laa yakhaafuKa walaa yarhamunaa. Ya Allah janganlah berikan kepada kami pemimpin yang tidak menyayangi kami,” katanya.
Hani kemudian menjelaskan bahwa kepemimpinan yang dimaksud bukan hanya pemimpin negara, tetapi juga pemimpin di semua lini kehidupan.
“Pemimpin di sini bukan hanya pemimpin negara tapi juga pemimpin dalam semua lini termasuk organisasi terutama dalam memimpin diri sendiri,” katanya.
Sebagai penutup, Hani menegaskan komitmen Mushida bahwa seluruh hasil Munas akan dijadikan sarana memperkuat dakwah dan kontribusi bagi bangsa.
Pada pembukaan Munas VI Mushida itu Hani juga menegaskan kembali peran perempuan sebagai pilar keluarga, mitra negara, dan penopang gerakan dakwah.
“Semoga kita bisa memberikan yang terbaik untuk Indonesia ini. Kami yang ada di sini akan membawa pulang seluruh yang didapatkan dalam Munas kali ini semata untuk li i’lai kalimatillah hiyal ulya,” tandasnya.
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) – Serap Aspirasi Masyarakat yang digelar oleh MPR RI bersama Dr. Al Muzzammil Yusuf salah satu agenda dalam rangkaian Musyawarah Nasional (Munas) VI Muslimat Hidayatullah (Mushida) di Gedung DPR RI, Jakarta, Kamis, 6 Jumadil Akhir 1447 (27/11/2025).
Anggota Komisi XIII DPR RI, Al Muzzammil Yusuf, tampil sebagai narasumber dan menguraikan peran fundamental Empat Pilar bagi kehidupan berbangsa dan bernegara, serta relevansinya dengan kontribusi ormas Islam, termasuk Hidayatullah.
Pada awal pemaparannya, Al Muzzammil menegaskan kembali empat pilar kebangsaan, yaitu Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan Bhinneka Tunggal Ika. Ia menjelaskan bahwa keempat pilar ini merupakan fondasi bangsa yang menyatukan seluruh elemen masyarakat Indonesia dalam kerangka hukum dan kehidupan nasional.
“Undang Undang Dasar 1945 jika diringkas maka isinya ada lima yaitu konsep negara demokrasi, konsep negara hukum, konsep SDM unggul, konsep pengelolaan sumber daya alam kita yang kaya, dan konsep untuk mencapai tujuan berbangsa dan bernegara,” jelasnya.
Al Muzzammil menegaskan bahwa UUD 1945 memberikan kerangka legal bagi sistem demokrasi Indonesia. Ia menjelaskan perubahan mendasar yang terjadi pasca reformasi terkait pelaksanaan kedaulatan rakyat.
“Negara demokrasi itu ada pasalnya yaitu Pasal 1 ayat 2 berbunyi ‘kedaulatan ada di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut undang undang dasar’. Dulu hal ini dilaksanakan oleh MPR RI. Setelah reformasi, dilaksanakan menurut undang undang dasar dan inilah yang mengubah MPR tidak lagi menjadi Lembaga tertinggi negara,” jelasnya.
Penataan kelembagaan negara dalam demokrasi modern, jelasnya, menempatkan seluruh lembaga negara dalam posisi sejajar dengan mandat masing-masing.
“MPR tidak lagi menjadi lembaga tertinggi tapi menjadi lembaga negara. Jadi MPR, DPR, DPD, Presiden, BPK, MA, MK, KY, dan lainnya itu semua sejajar. Dan ada satu kedaulatan rakyat yang tidak diambil oleh MPR yaitu memilih presiden. Sekarang diserahkan ke rakyat dengan pemilihan langsung. Inilah ciri negara demokrasi,” terangnya.
Karena sistem demokrasi berbasis representasi politik, menurutnya, partai politik menjadi aktor utama dalam proses pemilihan pemimpin.
“Negara demokrasi menjadikan partai politik sebagai pilar, karena untuk terpilih menjadi eksekutif-legislatif harus menggunakan kendaraan partai politik.”
Ia kemudian membedakan peran partai politik dengan ormas Islam seperti Hidayatullah, NU, dan Muhammadiyah:
“Ormas seperti Hidayatullah, NU, Muhammadiyah, dan lain lain itu sebagai ormas karena itu tidak bisa berkompetisi di demokrasi. Sama dengan kampus, seribu professor yang paling pandai di Indonesia tidak bisa berkumpul memutuskan seratus dari kami harus masuk DPR-MPR.”
Ia menegaskan hubungan langsung antara kualitas parpol dan kualitas lembaga negara. “Baik buruknya partai politik adalah baik buruknya DPR dan eksekutif,” katanya.
Konsep Negara Hukum
Setelah membahas demokrasi, Al Muzzammil mendalami konsep negara hukum sebagai penyangga demokrasi agar tidak berubah menjadi negara kekuasaan.
“Negara demokrasi harus dikawal dengan konsep negara hukum, kalau tidak akan menjadi ‘machtstaat’ atau negara kekuasaan. Dengan dikawal hukum, kita menjadi negara yang berdasarkan hukum, rechtsstaat. Politik yang dikawal oleh hukum,” jelasnya.
Mengenai ciri negara hukum, ia menggarisbawahi prinsip yang harus dijunjung tinggi. “Ciri negara hukum yang ideal adalah supremasi hukum. Hukum di atas semua manusia. Konsekwensinya adalah manusia semua setara di hadapan hukum, karena itu ada praduga tak bersalah,” terangnya.
Dalam bagian lanjutan paparannya, Al Muzzammil Yusuf menggeser fokus pembahasan dari prinsip-prinsip dasar negara hukum menuju hubungan langsung antara konstitusi dan peran strategis organisasi kemasyarakatan, khususnya ormas pendidikan dan dakwah seperti Hidayatullah.
Ia menilai bahwa konstitusi Indonesia tidak hanya memberikan kerangka bagi penyelenggaraan negara, tetapi juga membuka ruang luas bagi partisipasi masyarakat dalam pembangunan nasional. Karena itu, ia menekankan pentingnya memahami UUD 1945 bukan sekadar sebagai dokumen hukum, tetapi sebagai pedoman kolaboratif antara negara dan masyarakat sipil.
Di titik inilah Al Muzzammil menyoroti Pasal 31 ayat (3) UUD 1945 sebagai pasal yang sangat relevan bagi ormas Islam. Pasal tersebut menyatakan bahwa negara wajib menyelenggarakan sistem pendidikan nasional yang bertujuan meningkatkan keimanan, ketakwaan, akhlak mulia, serta kecerdasan bangsa.
Bagi Al Muzzammil, mandat besar ini tidak mungkin dijalankan pemerintah sendiri. Dibutuhkan kontribusi masyarakat, terutama lembaga dakwah dan pendidikan yang memiliki jaringan luas dan kapasitas pembinaan yang kuat.
“UUD Pasal 31 ayat 3 tidak bisa dijalankan hanya oleh pemerintah. Terimakasih Hidayatullah yang telah membantu pemerintah mencerdaskan kehidupan bangsa. UUD Pasal 31 ayat 3 inilah tafsir dari Sila pertama Pancasila,” katanya.
Berperan Lebih Luas
Al Muzzammil mengajak para kader organisasi Hidayatullah untuk tidak berhenti pada peran sosial-keagamaan saja. Menurutnya, Hidayatullah dengan kekuatan jaringan, kualitas SDM, dan konsistensi perjuangannya memiliki potensi besar untuk berperan lebih dalam ranah pengambilan keputusan negara.
Ia menawarkan perspektif bahwa transformasi bangsa tidak hanya dibangun dari bawah melalui infrastruktur politik yakni ormas dan lembaga masyarakat tetapi juga dari tingkat suprastruktur, tempat kebijakan formal dirumuskan dan ditetapkan.
“Artinya, kader Hidayatullah ditunggu di suprastruktur politik yang mewarnai infrastruktur politik. Saat ini sudah di infrastruktur tapi belum di suprastruktur,” selorohnya setengah bercanda.
Pada kesempatan itu Al Muzzammil memberikan apresiasi yang meneguhkan terhadap perjalanan panjang Hidayatullah. Ia melihat konsistensi gerakan, keseriusan dalam dakwah, dan kontribusi pendidikan sebagai modal sosial yang penting dan layak diakui. Bagi Al Muzzammil, keteguhan gerakan ini bukan hanya catatan sejarah, tetapi juga fondasi bagi peran lebih besar di masa mendatang.
“Saya ikuti Hidayatullah dalam perjalanannya tidak ada yang aneh aneh, pesantrennya, majalahnya, gerakannya, semua insya Allah shirathal mustaqim sesuai dengan niat pendirinya yang ikhlas berjuang dari Kalimantan,” katanya.
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, KH. Naspi Arsyad, Lc., menyampaikan arahan strategis dalam rangkaian Musyawarah Nasional (Munas) VI Muslimat Hidayatullah (Mushida) yang digelar di Hotel Grand Dafam Ancol, Jakarta, Kamis, 6 Jumadil Akhir 1447 (27/11/2025).
Dalam arahannya, KH. Naspi menegaskan bahwa pembangunan peradaban Islam bukan lagi sekadar wacana ideal, melainkan kerja kolektif yang harus dirancang secara sistematis, terukur, dan berlandaskan pada nilai-nilai fundamental Al-Qur’an dan Sunnah.
Mengangkat tema besar pembangunan peradaban Islam, Naspi membuka paparannya dengan menegaskan bahwa peradaban adalah konsep universal yang selalu bergerak, berkembang, dan dibentuk oleh interaksi manusia dengan lingkungannya.
“Peradaban, sebagai sebuah konsep universal, adalah refleksi dari dinamika yang senantiasa berubah dan bergerak menuju kemajuan,” kata Naspi.
Menghubungkan visi besar Hidayatullah, KH. Naspi menegaskan bahwa terbangunnya peradaban Islam adalah visi inti yang mencakup misi pendidikan, dakwah, dan pembinaan umat. Ia mengutip ayat Al-Qur’an sebagai fondasi perjuangan ini, di antaranya QS. Al-Anbiya ayat 107 dan QS. Saba’ ayat 28 yang menegaskan tugas kerasulan sebagai rahmat bagi seluruh alam dan bagi seluruh manusia.
Dalam perspektif pria kelahiran Ujung Pandang ini, peradaban Islam adalah peradaban yang dibangun di atas nilai iman yang menyatu dengan realitas kehidupan. Peradaban bukanlah upaya memisahkan spiritualitas dari kemajuan modern, tetapi mengintegrasikan keduanya agar kehidupan manusia lebih bernilai dan bermartabat.
Ia juga mengutip pesan penting dari Rais ‘Aam Hidayatullah, KH. Abdurrahman Muhammad, bahwa, kalau Hidayatullah ingin berpengaruh, maka ada dua syaratnya; harus punya keunggulan serta punya keunikan, dan Sistematika Wahyu memberikan dua hal tersebut. Pesan ini, menurutnya, menjadi arah strategis organisasi dalam menjawab tantangan zaman.
Masih dalam arahannya, KH. Naspi menguraikan lima faktor eksternal yang akan sangat memengaruhi gerak dakwah dan organisasi dalam dekade mendatang.
Pertama, disrupsi teknologi yang mencapai puncaknya dan menuntut kemampuan adaptasi cepat. Kedua, periode bonus demografi 2030–2040 yang membuka peluang besar tetapi sekaligus tantangan bagi stabilitas sosial-ekonomi.
Ketiga, fragmentasi sosial global yang memunculkan penurunan modal sosial dan meningkatnya polarisasi. Keempat, ketidakpastian ekonomi global dan tekanan terhadap daya tahan ekonomi nasional.
Dan, Kelima, fragmentasi politik umat yang mengancam kohesi internal organisasi Islam.
Ia menyampaikan bahwa kesiapan mental, spiritual, dan kelembagaan sangat diperlukan agar organisasi tetap solid dan mampu mengarahkan umat menuju kesatuan pemikiran dan harmoni sosial.
KH. Naspi kembali menggarisbawahi prinsip yang diajarkan pendiri Hidayatullah, Abdullah Said, bahwa peradaban Islam dibangun melalui integrasi iman, ilmu, dan amal.
“Peradaban Islam dibangun melalui integrasi iman, ilmu, dan amal, serta mewujudkan visi Islam dalam setiap aspek kehidupan. Pesantren Hidayatullah sebagai miniatur peradaban Islam mencerminkan ajaran Islam secara menyeluruh, mulai dari hal spiritual hingga keterampilan intelektual seperti analitis,” katanya.
Menurutnya, Mushida sebagai pilar penting organisasi memiliki peran strategis dalam mencetak generasi rabbani, membangun keluarga beradab, dan menguatkan ketahanan sosial umat.
Ia menjelaskan bahwa tarbiyah dan dakwah merupakan dua kekuatan yang saling melengkapi. Tarbiyah membentuk karakter dan iman individu, sedangkan dakwah menggerakkan individu tersebut untuk memperbaiki masyarakat. Keduanya memastikan pembangunan peradaban Islam tidak hanya fokus pada kemajuan material, tetapi juga kematangan moral dan kesejahteraan holistik.
Ia mengajak Muslimat Hidayatullah untuk terus memperkuat peran pendidikan keluarga dan dakwah komunitas, sehingga keberadaan Mushida menjadi pusat penguatan nilai-nilai Islam yang hidup dan menggerakkan.
Syura dan Akselerasi Keanggotaan
Dalam aspek tata kelola organisasi, KH. Naspi menekankan pentingnya kepemimpinan syura sebagai instrumen utama dalam merumuskan kebijakan dan arah gerak organisasi. Kepemimpinan yang kolektif, terukur, dan berkesinambungan menjadi kunci agar organisasi mampu melewati pergantian kepemimpinan secara mulus sekaligus menghasilkan keputusan strategis.
Saat ini, Hidayatullah telah memasuki fase transformasi dari organisasi sosial menjadi organisasi kemasyarakatan (ormas). Perubahan ini harus disikapi dengan akselerasi yang masif, inklusif, dan berbasis kapasitas kader serta ada empat hal diperkuat yakni identitas nilai, struktur dan manajemen kerja, pengelolaan SDM, serta integrasi teknologi.
KH. Naspi memberi penekanan khusus pada pentingnya percepatan rekrutmen anggota melalui berbagai jalur, termasuk Gerakan Mahasiswa Hidayatullah (GMH), Pemuda Hidayatullah, dan Annisa Keputrian. Mahasiswa dan pemuda, menurutnya, adalah aset strategis dalam transformasi menuju peradaban Islam yang unggul.
Mengakhiri arahannya, KH. Naspi mengajak seluruh Muslimat Hidayatullah menjadikan Munas VI sebagai momentum konsolidasi, sinergi, dan pembaruan. Ia menegaskan bahwa keluarga, perempuan, dan para ibu adalah pusat keberlangsungan nilai peradaban.
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Dalam sambutannya pada pembukaan Musyawarah Nasional (Munas) VI Muslimat Hidayatullah (Mushida) yang dibacakan oleh Staf Khusus Menteri PPPA, Ariza Agustina, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) Hj. Arifatul Choiri Fauzi mendorong pentingnya penguatan ketahanan keluarga serta menegaskan pentingnya kepemimpinan yang lahir dari Munas VI Muslimat Hidayatullah.
Ia menyampaikan bahwa Munas merupakan forum yang sangat strategis untuk menentukan pemimpin terbaik yang mampu membawa Mushida pada kontribusi nasional yang lebih besar.
Arifatul melihat bahwa organisasi perempuan memiliki kekuatan besar dalam pembinaan keluarga, pendidikan moral, serta peningkatan kapasitas perempuan di berbagai bidang. Oleh sebab itu, ia berharap Munas VI melahirkan pimpinan yang kompeten, amanah, dan didukung oleh perangkat organisasi yang solid.
Ia menyampaikan doa penutup dengan harapan agar seluruh rangkaian Munas menjadi amal kebaikan bagi seluruh peserta.
“Selamat ber-Munas semoga terpilih yang terbaik sebagai pimpinan dengan dukungan tim-nya dan rencana kerja yang berkontribusi positif terhadap pembangunan bangsa dan negara Indonesia. Dan, semoga yang dilakukan hari ini menjadi amal soleh kita,” katanya dalam sambutan tertulisnya di Gedung DPR RI Jakarta, pada Kamis, 6 Jumadil Akhir 1447 (27/11/2025).
Arifatul menegaskan bahwa peran Mushida sangat relevan dalam menguatkan pondasi tersebut. Melalui pendidikan, pemberdayaan, dan pendampingan di tengah masyarakat, Mushida turut memperkokoh peran perempuan sebagai pilar keluarga dan masyarakat.
Ia juga menegaskan pentingnya kualitas kepemimpinan yang lahir dari Munas VI serta menjadi momentum memperkuat kontribusi perempuan Muslim Indonesia dalam pembangunan nasional.
“Selamat ber-Munas semoga terpilih yang terbaik sebagai pimpinan dengan dukungan tim-nya dan rencana kerja yang berkontribusi positif terhadap pembangunan bangsa dan negara Indonesia. Dan, semoga yang dilakukan hari ini menjadi amal soleh kita,” tandasnya.
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Wakil Sekretaris Jenderal DPP Hidayatullah, Muhammad Isnaini, menyampaikan rasa duka mendalam seraya menyerukan kepada seluruh kader dan jejaring organisasi untuk membantu masyarakat di wilayah terdampak bencana banjir dan tanah longsor di Provinsi Sumatera Utara, khususnya di Kota Sibolga serta wilayah Tapanuli Raya. Pernyataan itu disampaikan di tengah eskalasi korban dan kerusakan yang sangat luas akibat bencana hidrometeorologi pada akhir November 2025 ini.
Menurut Isnaini, bencana yang terjadi juga telah menimpa sejumlah pesantren di bawah naungan organisasi, di antaranya Pondok Pesantren Hidayatullah Sibolga, Pesantren Darussa’adah Sipange Purba Tukka di Tapanuli Tengah, dan Pondok Quran Hidayatullah Besitang di Kecamatan Langkat. Ia menyebut bahwa akses informasi masih terganggu karena telekomunikasi dan infrastruktur amat terputus.
“Hingga kini kami belum dapat terhubung secara intens dengan semua lokasi terdampak,” katanya, seraya menambahkan bahwa belum ada laporan pasti mengenai korban jiwa dari pesantren-pesantren tersebut.
Meski demikian, Isnaini menekankan bahwa kerusakan fisik, terutama di Pesantren Darussa’adah Sipange Purba Tukka, tergolong berat akibat longsor, sehingga membutuhkan perhatian segera.
Tim Hidayatullah Peduli turun ke lokasi bencana sekaligus melakukan mapping assesment (Foto: Dok. Hidayatullah Tananuli)
Ia mengatakan Hidayatullah melalui badan sosial internalnya seperti Hidayatullah Peduli bersama SAR Hidayatullah, Baitulmaal Hidayatullah, dan PosDai Hidayatullah sudah menurunkan tim ke lokasi meskipun medan sulit dijangkau.
“Kita mengajak seluruh kader dan jaringan untuk mendoakan saudara-saudara kita di Sibolga dan Tapanuli Raya, serta membantu meringankan beban mereka baik lewat doa, bantuan logistik, maupun dukungan moral,” katanya, seraya menekankan dalam situasi genting seperti ini, solidaritas dan kecepatan respons sangat diperlukan untuk meminimalisir dampak sosial dan kemanusiaan.
Data terbaru menunjukkan bahwa beberapa wilayah di Sumatera Utara, termasuk Sibolga, Tapanuli Tengah, dan Tapanuli Utara, mengalami banjir dan longsor hebat, dengan korban jiwa dan hilang, kerusakan rumah, serta akses terputus akibat longsor dan jalan tertutup material. Pemerintah pusat dan daerah telah menetapkan status tanggap darurat untuk beberapa kabupaten/kota terdampak.
Lebih jauh, Isnaini menekankan bahwa bencana ini bukan hanya soal fisik dan material, tetapi juga menyentuh aspek psikologis dan sosial dimana banyak keluarga yang kehilangan tempat tinggal, anak-anak yang ketakutan, dan komunitas pesantren yang kehilangan ruang ibadah serta pendidikan.
Oleh sebab itu, bantuan jangka panjang termasuk pemulihan sarana pendidikan, layanan sosial, serta pendampingan psikososial menjadi bagian dari prioritas.
Ia juga mengajak jaringan dan seluruh masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi bencana lanjutan, mengingat hujan ekstrem terus melanda, dan banyak infrastruktur dasar masih rusak.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dalam konferensi pers yang disiarkan langsung di kanal YouTube BNPB Indonesia, Jumat (28/11/2025). menyampaikan perkembangan data korban bencana yang terjadi di Aceh, Sumut dan Sumbar.
Tercatat total ada 174 orang meninggal dunia dan 79 orang masih hilang. Korban tewas di Aceh totalnya yakni 116 orang. Lalu, masih ada 42 orang yang hilang.
Kemudian, di Sumbar tercatat ada 23 orang yang meninggal. Kemudian, tercatat 12 orang yang masih hilang. Di Sumut total ada 35 korban meninggal. Kemudian masih ada 25 orang yang hilang.
Ikhwani Kaum Muslimin Rahimani wa Rahimakumullahu,
Dalam banyak penyampaian yang sering kita dengar, cerita tentang kisah Musa pada saat masih bayi berfokus pada ketegangan yang dialami seorang ibu yang baru saja melahirkan anak laki laki yang paling dicari cari di masanya, atau keteguhan seorang Ibu yang meletakkan bayinya yang masih merah di atas keranjang untuk mengikuti aliran sungai, atau bagaimana bayi tersebut selamat hingga tiba di pangkuan wanita beriman lainnya di dalam lingkungan istana Firaun yang justru sedang memburunya.
Ada satu adegan di antara kisah ini yang mungkin belum banyak di-highlight yang menjadi titik krusial kembalinya Nabi Musa, tentu atas izin Allah, ke pangkuan Ibunya. Allah mengabadikan adegan ini di dalam Al – qur’an, surat Thaha ayat 40 yaitu:
“Ketika saudara perempuanmu berjalan (untuk mengawasi dan mengetahui berita), dia berkata (kepada keluarga Fir‘aun), ‘Bolehkah saya menunjukkan kepadamu orang yang akan memeliharanya?’ Maka, Kami mengembalikanmu kepada ibumu agar senang hatinya dan tidak bersedih“
Adegan ini memperlihatkan ada sosok saudara perempuan yang berperan penting dalam fase perjalanan kehidupan Nabi Musa a.s.. Ia mengawasi keranjang yang membawa bayi Musa terombang – ambing di atas sungai hingga sampai ke Istana Firaun.
Atas dasar apa saudara perempuannya mau mengawasi adiknya, Musa, yang masih merah, dari kejauhan dalam keadaan adiknya dan ia sendiri terancam mara bahaya apabila ditemukan oleh Firaun dan tentaranya?
Kalau bukan karena atas dasar taat pada perintah dan permintaan ibunya untuk mengawasi keranjang Musa dari kejauhan dan mengikutinya hingga mengetahui nasib yang terjadi pada Musa kecil, tentu jalan cerita Nabi Musa tidak akan seperti ini.
Inilah kunci keselamatan Musa kembali dalam pangkuan ibunya, atas izin Allah, yang membuat air mata kesedihan ibunya berubah menjadi air mata kebahagiaan, karena ada anak yang mau mendengar permintaan Ibunya untuk mengawasi dan mengikuti keranjang yang membawa adiknya di atas aliran sungai.
Ikhwani Kaum Muslimin Rahimani wa Rahimakumullahu,
Keberhasilan Ibu Nabi Musa untuk mendapati kembali putranya yang lolos dalam pemburuan penguasa Firaun dan bala tentaranya pada saat itu, adalah karena ada ketaatan pada orang tua yang diwujudkan oleh putrinya, Kakak dari Nabi Musa as.
Inilah yang dibutuhkan oleh generasi hari ini, yaitu ketaatan pada ayah bunda. Ketaatan ini adalah wujud dari pendidikan yang dilakukan orang tua di dalam lingkungan keluarga.
Pendidikan berbasis tauhid yang mengantar anak untuk taat pada orang tua dalam menjalankan perintah Sang Pencipta, Allah azza wa jalla.
Ikhwani Kaum muslimin rahimani wa rahimakumullahu,
Mari kita lihat adegan pada kisah lainnya, dimana Yusuf muda berhasil keluar dari bujuk rayu seorang wanita cantik dalam sebuah kamar.
Di sebuah rumah besar yang tak ada satupun penghuninya kecuali sang majikan, wanita cantik tersebut, bersama Nabi Yusuf as.
Dalam keadaan yang sangat genting, dimana wanita tersebut menawarkan sesuatu yang pada umumnya dicari dan diburu oleh kaum lelaki hingga menghabiskan rupiah demi rupiah bahkan sampai ada yang bergelar gila wanita, Yusuf muda mampu keluar dari jebakan ini.
“Perempuan, yang dia (Yusuf) tinggal di rumahnya, menggodanya. Dia menutup rapat semua pintu, lalu berkata, “Marilah mendekat kepadaku.” Yusuf berkata, “Aku berlindung kepada Allah. Sesungguhnya dia (suamimu) adalah tuanku. Dia telah memperlakukanku dengan baik. Sesungguhnya orang-orang zalim tidak akan beruntung.”
Lihatlah peristiwa ini, seorang pria muda sedang berada dalam keadaan yang sangat krusial. Di hadapannya tersaji sebuah pemandangan yang bisa meruntuhkan keimanannya, sebagaimana terjadi pada kaum pria hari ini yang bahkan menggunakan segala daya dan upaya untuk berada pada situasi ini.
Yusuf muda digoda, dikunci semua pintu rumah, di dalam kamar yang juga terkunci, hanya berdua, lalu wanita cantik tersebut mengatakan “hayta laka”, datanglah kepadaku.
Jawaban yang keluar dari lisan Yusuf sungguh sangat mengejutkan wanita tersebut, hingga diabadikan oleh Allah di dalam Al-Qur’an agar menjadi pelajaran buat kita semua, yaitu قَالَ مَعَاذَ اللّٰهِ“aku berlindung kepada Allah”.
Kekuatan apa kira kira yang mampu membuat Yusuf muda berdiri teguh, tidak tergoda sedikit pun oleh sajian wanita cantik di hadapannya dengan kata kata yang manis dan penampilan yang mampu menggoda syahwat kaum pria untuk mengucapkan مَعَاذَ اللّٰهِ“aku berlindung kepada Allah!”
Kalau bukan karena hasil didikan dari kedua orang tuanya, terkhusus ayahnya yang juga seorang Nabi, dalam bingkai pendidikan berbasis tauhid yang ditumbuhkan sejak usia dini dari rumah sendiri, tentu peristiwa yang menjadi bagian dari kisah terbaik yang diabadikan dalam Al-Qur’an akan berbeda jalan ceritanya.
Dua kisah di atas, kakak Nabi Musa, dan kisah Nabi Yusuf as, merupakan gambaran betapa pentingnya pendidikan tauhid dibangun sejak dini dari lingkungan keluarga.
Dengan pendidikan tauhid akan lahir generasi-generasi tangguh yang tahu pentingnya ketaatan pada kedua orang tua sebagai bentuk ketaatan kepada Allah swt.
Pendidikan berbasis tauhid juga akan melahirkan generasi yang mampu teguh dalam ketundukan kepada Allah swt, apapun ujian dan cobaan yang dihadapi hatta ujian hawa nafsu.
Tanpa pendidikan berbasis tauhid, generasi hari ini akan menjadi generasi yang rapuh yang tidak siap mengarungi perjalanan berat, layaknya perjalanan kakak Nabi Musa yang penuh dengan risiko bahkan masuk ke dalam istana penguasa yang sedang mengincar adiknya yang masih bayi.
Tanpa pendidikan berbasis tauhid, tidak akan muncul generasi percaya diri yang berani mendeklarasikan مَعَاذَ اللّٰهِ saat godaan dan tawaran apakah berupa wanita, harta atau tahta dapat diraih dengan cara yang melanggar perintah Allah azza wa jalla.
Ikhwani Kaum muslimin rahimani wa rahimakumullahu,
Lalu lihatlah sebuah adegan dimana Ismail muda yang sedang terancam nyawanya di tangan ayahnya sendiri memperlihatkan ketegaran untuk meyakinkan Ayahnya bahwa ia siap untuk dikurbankan.
“Ketika anak itu sampai pada (umur) ia sanggup bekerja bersamanya, ia (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Pikirkanlah apa pendapatmu?” Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu! Insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang sabar.”
Gerangan apa yang membuat Ismail muda tegar dan penuh percaya diri mengeluarkan kalimat yang begitu heroik يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ“Wahai Ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan Allah kepadamu.”
Sekali lagi, ini adalah peragaan iman, peragaan keyakinan kepada Allah yang Maha Kuasa, buah dari pendidikan tauhid yang diberikan sejak usia dini dari dalam lingkungan keluarga.
Bayangkan, kalau pertanyaan ini disampaikan kepada sosok anak muda yang baru tumbuh remaja, “wahai anakku aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Pikirkanlah apa pendapatmu?”.
Maka akan muncul berbagai jawaban yang mungkin dilakukan pemuda pada umumnya. Ayah gila, Bapak stress, orang tua tidak sayang anak, dan banyak lagi jawaban, bahkan mungkin cacian dan umpatan yang tidak terkontrol keluar dari lisan sang anak.
Tapi, karena pendidikan tauhid yang diberikan oleh Nabiullah Ibrahim as bersama istrinya sejak usia dini, maka respon yang keluar dari lisan Nabiullah Ismail as adalah respon orang beriman yang siap melaksanakan ketetapan Allah swt.
Ikhwani kaum Muslimin Rahimani wa Rahimakumullahu,
Kisah-kisah di atas hendaknya menjadi ibrah buat kita, khususnya kaum ayah yang hadir pada kesempatan Jum’at yang mulia ini, bahwa pendidikan tauhid harus diberikan sejak usia dini, dan dimulai dari lingkungan keluarga.
Kita ingin anak anak kita menjadi generasi yang tunduk dalam ketaatan kepada orang tua sebagai wujud ketaatan mereka kepada Allah.
Kita ingin mereka menjadi generasi yang takut kepada Allah dimanapun mereka berada, pada saat mereka sendirian atau bahkan pada saat mereka tidak lagi bersama kedua orang tuanya.
Maka, jangan pernah lalai untuk mengajarkan dan menumbuh kembangkan nilai nilai tauhid pada generasi kita.
Beri nasehat dan beri teladan kepada mereka agar generasi keturunan kita menjadi generasi yang meneguhkan nilai-nilai tauhid di dalam dirinya.
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) – Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, KH. Naspi Arsyad, Lc., menyampaikan sambutan dalam pembukaan Musyawarah Nasional (Munas) VI Muslimat Hidayatullah di Gedung DPR RI Jakarta, Kamis, 6 Jumadil Akhir 1447 (27/11/2025).
Dalam sambutannya, KH. Naspi Arsyad mengangkat isu yang menyentuh jantung persoalan keluarga Indonesia berkenaan dengan ketahanan keluarga dan keamanan ruang hidup anak di era digital saat ini.
Naspi mengajak para peserta melihat kembali perubahan cara pandang masyarakat tentang rasa aman. Ia menggambarkan bagaimana istilah “aman” pada masa lalu memiliki makna yang berbeda dengan kondisi saat ini, sekaligus menegaskan pentingnya membaca perubahan zaman secara jernih dan menyeluruh.
“Jika kita flashback beberapa puluh tahun silam, terminologi tentang kata ‘aman’ masih berkisar pada definisi fisik atau bersifat material,” katanya.
Penjelasan itu ia lanjutkan dengan menguraikan bahwa kondisi masa lalu sering diidentikkan dengan ancaman fisik yang bersifat langsung. Keamanan dipahami sebagai perlindungan dari tindak kriminal, gejolak politik, atau kondisi ekonomi yang goyah.
Naspi menjelaskan bahwa pada masa itu kata “aman” identik dengan kriminalitas semisal perampokan, pencurian, pembunuhan, atau ancaman sosial politik dan ekonomi yang mengganggu stabilitas kesejahteraan bangsa.
Namun, Naspi kemudian membawa para peserta pada realitas baru yang jauh lebih kompleks. Ia menjelaskan bahwa definisi rasa aman di era digital tidak lagi bertumpu pada ancaman fisik semata, melainkan pada ancaman psikologis dan spiritual yang mengintai anak-anak bangsa setiap hari.
“Jika kita bawa terminologi ‘aman’ ke zaman now, maka secara faktual, definisinya tidak lagi sekedar berlatar fisik atau material,” terangnya.
Perubahan definisi rasa aman itu, katanya, berhubungan erat dengan perkembangan teknologi dan interaksi digital tanpa batas. Menurutnya, ancaman terbesar yang dihadapi anak-anak Indonesia saat ini justru datang dari ruang maya yang sering luput dari pengawasan.
“Saat ini, anak-anak bangsa tidak lagi ‘aman’ dari risiko cyberbullying, eksploitasi seksual, pencurian identitas, dan phishing yang efek hilangnya rasa aman dari serangan seperti ini jauh lebih menakutkan dari kematian karena berimbas pada hilangnya jatidiri bangsa, hilangnya kedaulatan negara wa bil khusus, tercabutnya akar agama dari diri masyarakat Indonesia,” terangnya.
Untuk memperkuat urgensinya, Naspi mengutip riset Global Safety Report 2025 yang menempatkan Singapura, Tajikistan, dan China sebagai tiga negara paling aman di dunia. Namun, ia mengingatkan bahwa indikator yang digunakan riset tersebut masih sebatas keamanan fisik.
Ia kemudian menyoroti data lanjutan dimana Singapura, meski dianggap paling aman secara fisik, justru memiliki tingkat stres tertinggi di Asia Tenggara dan tingkat bunuh diri tertinggi di kawasan pada tahun 2024.
Dari data itu, Naspi mengajak seluruh peserta Munas untuk memahami inti persoalan bahwa keamanan fisik bukan satu-satunya tolok ukur kesejahteraan bangsa.
“Secara langsung kami ingin mengatakan bahwa keamanan mental spiritual jauh lebih utama menjadi perhatian negara karena lebih berpotensi dalam meningkatkan level kebahagiaan rakyatnya,” imbuhnya.
Naspi menegaskan bahwa di tengah tantangan yang demikian besar, peran lembaga keislaman seperti Hidayatullah menjadi sangat penting. Meski tidak selalu muncul di ruang publik atau perbincangan media, kontribusinya nyata dalam membangun pendidikan dan kesadaran umat.
Kehadiran Hidayatullah di 38 provinsi menjadi bukti bahwa Hidayatullah ingin berkontribusi dalam membangun Indonesia, terutama menuju Indonesia Emas 2045.
Naspi menyerukan kepada pemerintah untuk memberikan dukungan penuh kepada gerakan dakwah termasuk Hidayatullah yang berkontribusi langsung pada ketahanan keluarga dan pembinaan masyarakat.
Naspi mengingatkan bahwa ketahanan keluarga, keamanan mental-spiritual, dan dukungan terhadap lembaga dakwah adalah fondasi penting menuju masa depan bangsa yang lebih kuat.
Perkumpulan Muslimat Hidayatullah sebagai organisasi pendukung Ormas Hidayatullah, menggelar Munas IV yang mengusung tema “Meneguhkan Peran Muslimah dalam Membangun Ketahanan Keluarga Menuju Indonesia Emas.”
Pembukaan acara turut dihadiri Ketua Majelis Penasehat Hidayatullah Ust. H. Abdul Latif Usman, Ketua Pimpinan Majelis Syura Hidayatullah KH. Hamim Thohari, Wakil Ketua Pimpinan Majelis Syura Hidayatullah KH. Nashirul Haq, Ketua Majelis Penasihat Muslimat Hidayatullah Dr. Hj. Sabriati Aziz, dan Staf Khusus Menteri Bidang Perlindungan Perempuan Hj. Ariza Agustina, S.E., M.Si yang mewakili Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Dra. Hj. Arifatul Choiri Fauzi M.Si sekaligus membuka acara.
Pembukaan ini juga sekaligus dirangkai dengan Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan yang dihadiri Anggota Komisi XIII DPR RI Al Muzzammil Yusuf sebagai narasumber utama.