Beranda blog Halaman 48

Iqra’ sebagai Mandat Keilmuan dan Penjernihan Epistemik

0

RAIS ‘Aam Hidayatullah, KH Abdurrahman Muhammad, mengajukan pertanyaan dalam taujih yang disampaikannya pada Pekan Orientasi Pengurus Tingkat Pusat Hidayatullah Periode 2025–2030 di Bogor, Jawa Barat, pada Senin, 26 Jumadil Awal 1447(17/11/2025):

“Mengapa Allah memerintahkan iqra’ atau membaca kepada Muhammad yang ummy atau tidak bisa membaca dan menulis?”

Pertanyaan tersebut tidak dimaksudkan untuk dijawab langsung oleh peserta, melainkan untuk membuka ruang tadabbur tentang relasi wahyu, pengetahuan, dan proses pembentukan peradaban. Penulis penasaran untuk menggali jawaban dari pertanyaan tersebut.

Diskursus mengenai wahyu pertama dalam Islam merupakan salah satu tema sentral dalam kajian Qur’anic Studies, sejarah kenabian, dan epistemologi Islam. Hidayatullah dalam pergerakan dakwahnya mengikuti manhaj Sistematika Wahyu, sehingga memiliki konsentrasi kuat untuk menggali tadabbur, hikmah, dan nilai dari pertanyaan tersebut.

Sistematika Wahyu berdasarkan lima surat pertama—Al-‘Alaq, Al-Qalam, Al-Muzammil, Al-Muddatstsir, dan Al-Fatihah—menunjukkan bahwa wahyu tidak hadir secara acak, tetapi mengikuti kurikulum dakwah yang sangat sistematis. Al-‘Alaq meletakkan fondasi pengetahuan dan kesadaran ketuhanan melalui seruan iqra.

Sebelum Islam, masyarakat Arab pra-Islam hidup dalam tradisi lisan yang sangat kuat. Tingkat literasi rendah, kegiatan pencatatan minim, dan tradisi penulisan ilmiah hampir tidak dikenal. Bahkan bangsa Arab saat itu dikenal dengan istilah jahiliyah karena masih diselimuti kebodohan peradaban.

Dalam lanskap sosial seperti itu, perintah iqra’ atau “bacalah” hadir sebagai pesan linguistik, spiritual, dan peradaban yang sangat revolusioner. Lebih mengejutkan lagi, perintah tersebut ditujukan kepada Nabi Muhammad yang secara historis dikenal sebagai ummy, yakni seseorang yang tidak membaca dan tidak menulis.

Paradoks inilah yang memunculkan diskursus akademik yang luas, baik dalam literatur klasik maupun kajian modern. Dalam perspektif teologi Islam, kondisi ummiyyah Nabi saat menerima wahyu pertama justru menjadi penegas otentisitas wahyu: Al-Qur’an tidak lahir dari konstruksi intelektual manusia, tetapi merupakan firman Allah yang otentik.

Dengan demikian, kemampuan Nabi menyampaikan Al-Qur’an tanpa proses literasi formal menjadi salah satu bentuk penjagaan terhadap kemurnian dan kredibilitas wahyu.

Perintah iqra’ dalam QS. Al-‘Alaq merupakan konstruksi epistemologis yang menjadi dasar bangunan keilmuan Islam. Meskipun Nabi Muhammad secara historis dikenal sebagai ummy, perintah “bacalah” tidak dimaksudkan sebagai tindakan membaca teks tertulis secara literal, tetapi sebagai aktivasi perangkat epistemik yang bersumber dari wahyu.

Ulama seperti Al-Tabari, Al-Razi, dan Ibn Katsir menekankan bahwa iqra‘ dalam konteks ini adalah perintah memulai proses penyingkapan pengetahuan melalui bimbingan langsung Allah, bukan sekadar aktivitas kognitif berbasis literasi material.

Karena itu, iqra‘ dipahami sebagai perintah memasuki struktur epistemik baru: pengetahuan yang diinisiasi oleh Allah, bukan oleh kemampuan intelektual manusia. Dengan demikian, konsep ummiyyah Nabi tidak dapat dipahami sebagai keterbatasan kognitif, tetapi sebagai ruang epistemologis yang sengaja dikosongkan oleh Allah agar wahyu turun pada medium yang bebas dari bias, tradisi literer, maupun konstruksi intelektual pra-Islam.

Ketidakmampuan membaca justru menjadi purifikasi epistemik yang memastikan bahwa sumber pengetahuan Nabi tidak bercampur dengan produk budaya atau filsafat manusia, sehingga Al-Qur’an tampil sebagai teks ilahi yang otentik.

Kondisi ummy Nabi Muhammad juga mencegah tuduhan plagiarisme dari korpus Yahudi-Nasrani atau literatur Arab pra-Islam. Konsep ilmiah mengenai authenticity safeguard merujuk pada mekanisme penjagaan keaslian suatu sumber pengetahuan agar tetap murni, tidak terdistorsi, dan bebas dari kontaminasi unsur luar.

Dalam konteks epistemologi kenabian, hal ini terwujud melalui ketidakaksaraan Nabi sebagai filter epistemik, verifikasi malaikat Jibril, hafalan kolektif para sahabat, serta kodifikasi yang ketat. Semua ini melindungi integritas wahyu sehingga tetap otentik dan tidak bercampur dengan spekulasi rasional atau tradisi literer manusia.

Dengan kata lain, ketidakmampuan membaca justru menjadi modal epistemologis yang menjamin kemurnian wahyu. Perintah iqra’ menjadi titik balik yang mengubah keadaan ummiyy itu menjadi kapasitas kenabian berbasis wahyu.

Sementara itu, pendekatan linguistik dan hermeneutik modern memaknai iqra’ bukan hanya sebagai instruksi membaca teks, tetapi sebagai mandat epistemik: perintah untuk memulai proses menerima, menginternalisasi, memahami, mengolah, dan menyampaikan wahyu sebagai sumber otoritas pengetahuan yang baru. Dengan demikian, iqra’ menjadi simbol kelahiran sistem ilmu dalam Islam.

Penelitian-penelitian kontemporer juga menegaskan bahwa wahyu pertama bukan hanya meletakkan fondasi spiritual, tetapi juga merumuskan paradigma epistemologi Islam yang mengintegrasikan tauhid, akal, literasi, dan etika pengetahuan.

Frasa ‘bi-smī rabbika’ menegaskan bahwa seluruh produksi dan transmisi ilmu harus berlangsung dalam bingkai kesadaran ketuhanan. Sementara itu, penegasan ”alladzī ‘allama bil-qalam‘ menunjukkan bahwa teknologi dokumentasi—qalam sebagai simbol literasi—memiliki peranan penting dalam pembangunan peradaban Islam.

Karena itulah para sejarawan dan pemikir peradaban menilai bahwa wahyu pertama tidak hanya menggerakkan misi kenabian, tetapi juga memulai transformasi intelektual umat manusia. Seruan iqra’ kemudian melahirkan gerakan ilmu, inovasi, dan peradaban yang berlangsung selama berabad-abad; dari masjid menjadi pusat pembelajaran, dari rumah menjadi majelis ilmu, dan dari pena menjadi instrumen perubahan peradaban.

Dalam era digital ketika informasi melimpah tetapi kebijaksanaan menipis, pesan iqra’ tetap relevan sebagai panggilan umat untuk kembali kepada tradisi ilmu yang beradab: membaca dengan hati yang tunduk kepada Allah, berpikir dengan akal jernih, dan menyebarkan pengetahuan dengan etika dan tanggung jawab. iqra’ bukan sekadar kata kerja, tetapi misi peradaban.

Maka akan sangat aneh jika ada orang-orang beriman yang malas membaca, terlebih kader-kader Hidayatullah yang telah beberapa kali mendapat pencerahan jati diri namun kurang bersemangat dalam bidang literasi.[]

*) Ust. Dr. Abdul Ghofar Hadi, penulis Ketua Bidang Perkaderan Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah

Bupati Sleman Harapkan Peran Lebih Besar Hidayatullah Jaga Kerukunan dan Pembangunan

0

SLEMAN (Hidayatullah.or.id) — Musyawarah Wilayah (Muswil) Hidayatullah ke-6 Daerah Istimewa Yogyakarta–Jawa Tengah Bagian Selatan menjadi momentum penting dalam memperkuat peran ormas Islam dalam pembangunan nasional. Dalam konteks keindonesiaan yang terus bergerak menuju agenda besar Indonesia Emas 2045, kolaborasi antara pemerintah daerah, institusi keagamaan, dan elemen masyarakat sipil menjadi fondasi penting untuk memastikan ruang sosial yang rukun, produktif, dan inklusif.

Pada pembukaan Muswil yang digelar Sabtu, 1 Jumadil Akhir 1447 (22/11/2025) di Gedung Asrama Haji Mlati, Sleman, Bupati Sleman Harda Kiswaya menegaskan harapannya kepada Hidayatullah sebagai mitra strategis pemerintah daerah.

Pada kesempatan tersebut, Harda menyampaikan bahwa keberadaan Hidayatullah telah membantu memperkuat peran pemerintah daerah dalam pelayanan publik dan pembinaan masyarakat.

“Saya sangat bersyukur hari ini bisa bertemu dengan para pengurus Hidayatullah. Terima kasih dengan Hidayatullah, saya sebagai bupati bisa terbantu untuk mengurus Sleman,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa pertemuan lintas elemen sosial dan keagamaan dalam forum seperti Muswil mampu memperluas ruang kontribusi nyata bagi masyarakat. “Saya ingin, kerukunan antar umat beragama di Kabupaten Sleman terus dipupuk dan dipelihara, sehingga masyarakat Sleman makin rukun, damai, dan sejahtera,” tambahnya.

Muswil Hidayatullah ke-6 ini diselenggarakan selama dua hari, 22–23 November 2025, dengan mengangkat tema “Sinergi Anak Bangsa Menyongsong Indonesia Emas 2045”. Tema tersebut merupakan respons terhadap tantangan nasional jangka panjang yang menuntut konsolidasi peran ormas dalam pembangunan karakter bangsa, pembinaan sosial, serta penguatan kapasitas umat.

Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Hidayatullah DIY–Jawa Tengah Bagian Selatan, Abdullah Munir, memaparkan bahwa Muswil menjadi ruang penting untuk memilih calon pemimpin struktural dan merumuskan arah kebijakan lima tahun ke depan. Ia menegaskan bahwa keberhasilan gerakan dakwah dan sosial Hidayatullah sangat bergantung pada partisipasi setiap unsur organisasi.

“Untuk itu, partisipasi dari semua komponen yang ada tetap kita harapkan dalam rangka menyiapkan arah langkah gerakan dakwah lima tahun ke depan,” ujarnya.

Pada bagian lain, Munir juga menyampaikan komitmen Hidayatullah sebagai ormas Islam yang telah berkiprah lebih dari setengah abad untuk berkolaborasi dengan pemerintah dalam berbagai program pembangunan. Menurutnya, kebersamaan antar ormas Islam pada pembukaan Muswil mencerminkan kesadaran kolektif untuk merespons tantangan kebangsaan secara sinergis.

“Berkumpulnya antar ormas Islam di acara seremonial pembukaan Muswil ini, semoga bisa menghimpun keresahan antar anak bangsa dalam rangka menyongsong Indonesia Emas 2045,” tuturnya.

Pembukaan Muswil turut dihadiri unsur Kementerian Agama, Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DIY, Pimpinan Wilayah Nahdlatul Ulama (NU), Pimpinan Wilayah Dewan Dakwah Indonesia, Pimpinan Wilayah Wahdah Islamiyah, serta Pimpinan Wilayah Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI).

Melalui Muswil ini, kata Munir menambahkan, Hidayatullah DIY–Jateng Bagian Selatan mempertegas komitmennya sebagai bagian dari energi sosial bangsa dengan memperkuat peran dakwah, pendidikan, dan kontribusi sosial.

MUI sebagai Wadah Pemersatu Umat dan Pelayan dalam Menuntun Moral Bangsa

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Wakil Ketua Pimpinan Majelis Syura Hidayatullah, KH. Dr. Nashirul Haq, Lc., M.A., menghadiri pembukaan Musyawarah Nasional (Munas) XI Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang mengangkat tema “Meneguhkan Peran Ulama untuk Mewujudkan Kemandirian Bangsa dan Kesejahteraan Umat”.

Kehadirannya di Mercure Convention Center Ancol, Jakarta, Kamis, 29 Jumadil Awal 1447 (20/11/2025), itu menandai dukungan terhadap agenda strategis MUI dalam memperkuat posisi ulama di tengah dinamika sosial dan kebangsaan.

Di sela kegiatan pembukaan, Nashirul Haq menyampaikan harapannya agar MUI senantiasa menjadi ruang yang memperkuat solidaritas dan kohesi umat. Ia menilai bahwa tugas besar MUI tidak hanya terletak pada aspek keagamaan, tetapi juga dalam menjaga keutuhan umat di tengah beragam tantangan.

Ia kemudian menguraikan pentingnya MUI sebagai sarana kolaborasi berbagai unsur organisasi dan lembaga Islam. Menurutnya, kepemimpinan MUI harus dibangun di atas prinsip keterwakilan dan proporsionalitas yang mencerminkan keragaman umat Islam di Indonesia.

“Sebagai wadah kebersamaan para ulama, cendekiawan, dan tokoh umat dari berbagai latar belakang, kepengurusan MUI seyogianya melibatkan seluruh unsur ormas dan lembaga Islam secara proporsional,” ujar Pembina Pondok Pesantren Hidayatullah Balikpapan ini.

Lebih lanjut, Nashirul Haq menekankan bahwa peran MUI sebagai khadimul ummah harus tetap menjadi pedoman utama. Ia menggarisbawahi bahwa ulama bukan hanya representasi otoritas keagamaan, tetapi juga pelayan umat yang harus hadir memberikan bimbingan moral dan nasihat kebangsaan.

“Sebagai pelayan umat (khadimul ummah), MUI hendaknya selalu hadir membimbing umat, menjaga akidah dan moral serta aktif menyampaikan nasehat dan pemikiran (taujih) yang bersifat kebangsaan,” ungkapnya.

Selain itu, Nashirul Haq menyampaikan bahwa tantangan umat di era modern semakin beragam. Masyarakat menghadapi persoalan moralitas, disrupsi informasi, gejolak sosial ekonomi, hingga problem ideologis yang memerlukan kehadiran ulama sebagai sumber pencerahan.

Dalam konteks tersebut, Nashirul menambahkan, MUI diharapkan mampu menjadi pusat gravitasi moral yang memberikan arah dan ketegasan.

Perempuan Muslim Dunia Satukan Langkah lewat Global Forum of Muslim Women

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Deklarasi berdirinya Global Forum of Muslim Women (GFMW) dengan Prof. Dr. Nahla Shabry Al-Saidi dari Mesir sebagai Ketua Umum (Ketua Umumn) dan Dr. Nurhayati Ali Assegaf dari Indonesia sebagai Sekretaris Jenderal (Sekjend) dalam rangkaian World Peace Forum (WPF) ke-9 yang berlangsung pada 9–11 November 2025 lalu di Jakarta menegaskan kembali posisi Indonesia sebagai ruang perjumpaan gagasan kemanusiaan dan perdamaian dunia.

Dari ibu kota negara dengan identitas kebangsaan yang berpijak pada Pancasila dan semangat Bhinneka Tunggal Ika, inisiatif global yang digerakkan perempuan Muslim ini tumbuh sebagai bagian dari kontribusi Indonesia terhadap tata dunia yang lebih adil dan berkeadaban.

Ketua Majelis Penasihat Muslimat Hidayatullah, Dr. Sabriati Aziz, M.Pd., menekankan bahwa pembentukan GFMW tidak boleh dipahami sebatas simbol atau pernyataan solidaritas di antara perempuan Muslim. Forum ini, menurutnya, dirancang sebagai langkah strategis untuk melahirkan kerja-kerja konkret di bidang kemanusiaan dan perdamaian lintas negara.

“GFMW kami bangun sebagai ruang kerja bersama, bukan hanya pernyataan kebersamaan. Dari forum ini, kami ingin melahirkan program nyata yang menyentuh kemanusiaan dan memperkuat perdamaian global,” ujar Sabriati dalam keterangannya, Jum’at, 30 Jumadil Awal 1447 (21/11/2025).

Sabriati menjelaskan, GFMW diproyeksikan sebagai organisasi independen yang memberi ruang luas bagi perempuan Muslim untuk berperan di bidang pendidikan, kepemimpinan, dan kemanusiaan. Ia menyebut sinergi lintas negara sebagai kunci.

“Kami berharap terbangun jaringan muslimah dunia yang saling menguatkan, sehingga lahir generasi perempuan yang berkualitas, berdaya saing, dan mampu mengambil peran strategis dalam peradaban Islam kontemporer,” kata pendiri Komunitas Pencinta Keluarga (Kipik) itu.

GFMW lahir melalui serangkaian pertemuan yang digelar di sela agenda WPF ke-9. Dalam dua kali pertemuan intensif, para peserta merumuskan fondasi kelembagaan forum tersebut.

Sebagai salah satu tokoh deklator, Sabriati menjelaskan, pertemuan pertama forum menghasilkan penetapan ketua dan sekretaris jenderal organisasi internasional muslimah itu. Pertemuan kedua melanjutkan pembahasan struktur organisasi yang dirancang untuk terus disempurnakan seiring perkembangan jejaring dan kebutuhan program.

Sebagai struktur awal, lanjutnya, GFMW dirancang memiliki dewan pimpinan yang mewakili lima benua: Asia, Afrika, Eropa, Amerika, dan Australia. Susunan ini dimaksudkan untuk menjamin keterwakilan dan keseimbangan perspektif dalam menyusun agenda strategis, sekaligus memastikan bahwa isu-isu perempuan Muslim di berbagai kawasan dunia mendapatkan ruang artikulasi yang proporsional dalam forum.

Di tingkat operasional, sekretariat jenderal GFMW akan diperkuat oleh tim profesional dengan pembagian divisi tematik. Sabriati menyebutkan adanya fokus pada penelitian dan pengembangan, hubungan luar negeri, serta pelatihan internasional.

“Melalui divisi-divisi ini, kami ingin memastikan bahwa setiap program memiliki dasar pengetahuan yang kuat, jejaring yang luas, dan dampak penguatan kapasitas yang terukur bagi perempuan Muslim di berbagai negara,” jelasnya.

Sabriati juga menegaskan harapannya agar GFMW menjadi simpul jejaring global bagi perempuan Muslim yang bergerak di bidang pemberdayaan, advokasi sosial, dan dialog kemanusiaan. Dalam pandangannya, kehadiran forum ini diharapkan memperkuat nilai moderasi, kepemimpinan yang bertanggung jawab, serta kolaborasi lintas negara yang sangat dibutuhkan dunia modern.

“Kami ingin GFMW menjadi wajah Islam yang komunikatif, solutif, dan bersedia bekerja sama dengan berbagai pihak demi kemaslahatan bersama,” ujarnya.

Deklarasi GFMW menjadi penutup rangkaian World Peace Forum ke-9 yang diselenggarakan oleh Center for Dialogue and Cooperation among Civilizations (CDCC), Cheng Ho Multi Culture and Education Trust, dan Muhammadiyah.

Forum internasional ini dibuka secara resmi di Gedung Nusantara V, Kompleks Parlemen Senayan, dan dihadiri pimpinan tiga lembaga tinggi negara, yakni MPR RI, DPR RI, dan DPD RI, yang menunjukkan dukungan institusional Indonesia terhadap upaya dialog dan kolaborasi global.

Hidayatullah Serukan Penguatan Perlindungan Digital dan Sosial Anak di Hari Anak Sedunia

0
Imron Faizin menyapa anak punk di Jakarta (Foto: Dok. Hidayatullah.or.id)

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Departemen Sosial Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Imron Faizin, menyerukan agar momentum peringatan Hari Anak Sedunia setiap 20 November dijadikan refleksi bersama bagi negara, masyarakat, dan seluruh pemangku amanah untuk memperkuat perlindungan anak Indonesia, terutama di era digital yang penuh tantangan.

Imron menegaskan bahwa perlindungan anak merupakan tanggung jawab konstitusional dan moral negara yang tidak dapat ditawar. Ia mengingatkan bahwa ancaman bagi anak tidak lagi hanya di ruang fisik, tetapi juga di ruang maya yang tanpa batas.

“Negara wajib memastikan setiap anak aman dan terlindungi, termasuk di ruang digital yang kini menjadi fenomena krusial di tengah meluasnya praktik perundungan atau bullying daring,” ujar Imron di Jakarta, Kamis, 29 Jumadil Awal 1447 (20/11/2025).

Menurutnya, perlindungan anak di era digital harus mencakup dua aspek utama, yakni, keamanan psikologis dan literasi digital. Anak-anak perlu mendapat bimbingan dan kontrol yang proporsional agar dapat memanfaatkan teknologi tanpa kehilangan nilai moral dan jati diri.

“Kita tidak bisa hanya mengandalkan regulasi atau pengawasan formal. Butuh sistem nilai dan lingkungan sosial yang menumbuhkan empati, adab, dan tanggung jawab dalam penggunaan teknologi,” terangnya.

Ia juga menyoroti keterbatasan negara dalam menjangkau seluruh lapisan masyarakat, sehingga kehadiran elemen sosial seperti Hidayatullah menjadi bagian penting dari upaya kolaboratif.

“Negara tentu tidak mampu menjangkau semua. Maka kehadiran Hidayatullah sebagai gerakan sosial menjadi penting dalam mendukung pemerintah, meski dengan segala keterbatasan yang ada,” tegasnya.

Imron menjelaskan bahwa melalui jaringan Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) yang tersebar di berbagai daerah, Hidayatullah terus berupaya hadir memberikan pengasuhan, perlindungan, pengembangan, dan pemulihan bagi anak-anak yang membutuhkan. Jaringan LKSA Hidayatullah selama ini berfokus pada pelayanan bagi anak yatim, piatu, terlantar, dan dari keluarga rentan dengan pendekatan berbasis keluarga dan komunitas.

Dalam pandangan Imron, pelayanan sosial kepada anak tidak boleh berhenti pada pemenuhan kebutuhan dasar semata. “Anak-anak harus tumbuh dengan perasaan aman, dicintai, dan memiliki ruang untuk mengembangkan potensi dirinya. Itulah makna perlindungan yang sejati,” tuturnya.

Ia menambahkan, pendidikan nilai melalui pengasuhan dan keteladanan menjadi faktor penentu dalam membangun generasi yang tangguh dan berakhlak.

Imron menekankan bahwa perlindungan anak bukan hanya aspek sosial melainkan juga investasi peradaban. Sehingga, dia menegaskan, kerangka “child-centered social development” yang menempatkan anak sebagai subjek pembangunan hendaknya menjadi perspektif baru dalam pembangunan manusia Indonesia masa depan.

“Ketika anak tumbuh di lingkungan aman, baik secara fisik, sosial, maupun digital, maka masyarakat memperoleh fondasi yang kuat untuk melahirkan generasi cerdas, empatik, dan produktif,” katanya.

Selain itu, Imron memandang isu perlindungan anak di ruang digital semakin relevan dengan meningkatnya prevalensi kekerasan daring dan penyalahgunaan data anak. Apalagi berdasarkan catatan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), kasus cyberbullying meningkat signifikan dalam dua tahun terakhir.

Fenomena ini menegaskan bahwa anak-anak perlu mendapatkan perlindungan hukum dan sosial yang menyeluruh, sekaligus dukungan dari lembaga-lembaga pendidikan dan keagamaan dalam membangun literasi digital yang beradab.

Ketua Departemen Sosial Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Imron Faizin (Foto: Billy/ Dok. Hidayatullah.or.id)

Imron juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, organisasi masyarakat, lembaga pendidikan, dan keluarga untuk menciptakan sistem perlindungan anak yang holistik.

“Perlindungan anak tidak bisa diserahkan hanya kepada satu pihak. Pemerintah, masyarakat, dan keluarga harus bergerak bersama karena anak adalah masa depan bangsa. Melindungi anak berarti melindungi peradaban kita sendiri,” katanya.

Sebagai bagian dari gerakan dakwah sosial, Imron menjelaskan, Hidayatullah terus memperkuat peran pembinaan di tingkat akar rumput melalui program sosial dan pendidikan berbasis Al Qur’an yang menanamkan nilai Tauhid, kasih sayang, tanggung jawab, dan kemanusiaan.

“Kami ingin memastikan bahwa setiap anak, di mana pun dia berada, memiliki hak yang sama untuk tumbuh dan berkembang dengan bahagia, aman, dan bermartabat,” pungkas Imron.

Munas XI MUI, Naspi Arsyad Tekankan Pentingnya Peran Ulama Menjawab Tantangan Kesejahteraan Umat

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) – Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, KH. Naspi Arsyad, Lc., menghadiri pembukaan Musyawarah Nasional (Munas) XI Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang digelar di Mercure Convention Center Ancol, Jakarta, Kamis, 29 Jumadil Awal 1447 (20/11/2025).

Di sela-sela kehadirannya, KH. Naspi Arsyad menyampaikan apresiasinya atas berlangsungnya agenda nasional yang mengusung tema “Meneguhkan Peran Ulama untuk Mewujudkan Kemandirian Bangsa dan Kesejahteraan Umat” tersebut.

Menurutnya, forum ini menjadi ruang strategis untuk memperkuat kontribusi ulama dalam dinamika kehidupan berbangsa dan beragama serta wadah penting dalam memetakan arah peran ulama di tengah tuntutan zaman.

Dalam keterangannya, ia menyatakan bahwa kehadiran MUI dalam perjalanan bangsa telah menjadi pijakan moral dan keagamaan yang berpengaruh. Karena itu, terselenggaranya Munas XI menjadi ruang pembaruan yang perlu disyukuri.

“Atas nama Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah mengucapkan selamat atas terselenggaranya Musyawarah Nasional Majelis Ulama Indonesia yg ke-11 di Jakarta,” ujar KH. Naspi Arsyad kepada media ini.

Naspi melihat tema besar Munas XI memiliki relevansi kuat dengan tantangan yang dihadapi umat. Tema kemandirian dan kesejahteraan, katanya, merupakan kebutuhan mendasar yang harus ditopang peran ulama secara lebih komprehensif.

Menurutnya, tidak semua kalangan ulama menempatkan isu kemandirian dan kesejahteraan sebagai fokus dalam kiprah keagamaan. Padahal, sejarah mencatat bahwa ulama Nusantara sejak masa awal memainkan peran signifikan dalam pemberdayaan umat melalui pendidikan, ekonomi, dan solidaritas sosial.

“Hidayatullah mengapresiasi tema yang diangkat. Tema kemandirian dan kesejahteraan bukanlah tema populer di kalangan beberapa ulama meski, secara historis, keduanya sangat menyatu dalam menyatu dalam peran-peran keulamaan,” katanya.

KH. Naspi Arsyad menilai, tema yang dipilih MUI juga memperlihatkan upaya mempertemukan kembali dimensi spiritual ulama dengan kebutuhan nyata masyarakat. Menurutnya, ada kecenderungan sebagian aktivitas keulamaan yang lebih menonjolkan aspek ibadah mahdhah, sementara persoalan kemandirian ekonomi dan penyejahteraan umat seakan menjadi wilayah terpisah.

Melalui tema Munas XI, lanjut Naspi, terjadi dorongan untuk menjembatani kesenjangan tersebut sehingga ulama dapat tampil sebagai pemimpin moral sekaligus penggerak sosial.

“Kami memahami bahwa tema ini ingin lebih merekatkan antara eksistensi ulama sebagai payung umat dengan kebutuhan mendasar manusia yaitu kemandirian dan kesejahteraan yang seakan terpisah dengan kekhusyuan sebagian ulama dengan tema tema mahdhah semisal shalat, haji, dan sebagainya,” terang Naspi.

Dengan demikian, Munas XI MUI dipandang Naspi sebagai momentum penting untuk menyegarkan kembali pemahaman mengenai tanggung jawab ulama dalam konteks sosial modern. Menurutnya, rekonstruksi peran ulama merupakan langkah strategis agar kepemimpinan keagamaan dapat menjawab problematika kontemporer, terutama terkait pemberdayaan umat.

Dalam pandangan KH. Naspi Arsyad, ulama tidak hanya dituntut menyampaikan tuntunan ibadah, tetapi juga membangun kesadaran kolektif umat menuju kemandirian. Kemandirian yang dimaksud meliputi aspek spiritual, intelektual, sosial, dan ekonomi sehingga umat tidak hanya menjadi objek, tetapi aktor dalam perbaikan kehidupan.

“Dengan merekonstruksi lebih utuh peran ulama maka umat akan semakin tercerahkan dan tersantuni sehingga eksistensi ulama di hati umat juga akan semakin mengkristal,” tegasnya.

Naspi menambahkan, momentum Munas MUI kali ini juga sebagai kesempatan memperkokoh visi ulama Indonesia dalam menghadapi tantangan globalisasi, digitalisasi, perubahan sosial, dan kebutuhan umat yang semakin kompleks.

KHUTBAH JUM’AT Dua Do’a Penjaga Hati dan Jalan Menuju Husnul Khatimah

0

إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا
يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
أَمَّا بَعْدُ, فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Hadirin jamaah Jum’at yang dirahmati Allah SWT,

Setiap kita mendambakan akhir kehidupan yang baik, husnul khatimah, sebuah penutup hidup yang menjadi pintu menuju rahmat dan surga Allah.

Namun, husnul khatimah tidak pernah hadir secara tiba-tiba. Ia bukan keberuntungan, bukan hadiah yang turun tanpa sebab, melainkan buah dari iman yang dijaga dan amal yang dilakukan secara istiqomah.

Istiqomah berarti terus beriman, terus beramal, terus berjalan dalam ketaatan tanpa putus meski berat.

Karena sesungguhnya istiqomah adalah mahkota bagi orang-orang yang teguh, dan salah satu karunia terbesar yang Allah berikan kepada hamba yang dicintai-Nya.

Karena beratnya istiqomah, Allah dan Rasul-Nya mengajarkan kepada kita doa-doa khusus agar hati ini tidak tergelincir.

Doa Pertama: Ya Muqallibal Qulub

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Ada satu kisah agung yang diriwayatkan dari Sahabat Syahr bin Hawsyab. Suatu ketika ia bertanya kepada Ummu Salamah, salah satu istri Rasulullah SAW:

يَا أُمَّ الْمُؤْمِنِينَ مَا كَانَ أَكْثَرُ دُعَاءِ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِذَا كَانَ عِنْدَكِ

“Wahai Ummul Mukminin, apa doa yang paling sering dipanjatkan Rasulullah SAW ketika beliau berada di sisimu?”

Pertanyaan sederhana, namun penuh makna. Ia ingin mengetahui apa yang menjadi perhatian utama seorang Nabi, manusia terbaik, maksum, yang hatinya dijaga Allah.

Ummu Salamah pun menjawab:

كَانَ أَكْثَرُ دُعَائِهِ: يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ

“Doa yang paling sering dibaca Nabi SAW adalah: Ya Muqallibal Qulub, tsabbit qalbi ‘ala dinik — Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.”

Sahabat tidak berhenti sampai di situ; ia ingin tahu mengapa doa tersebut begitu sering dibaca. Ummu Salamah pun bertanya kepada Rasulullah SAW, dan beliau menjawab:

يَا أُمَّ سَلَمَةَ إِنَّهُ لَيْسَ آدَمِيٌّ إِلَّا وَقَلْبُهُ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ اللَّهِ، فَمَنْ شَاءَ أَقَامَ، وَمَنْ شَاءَ أَزَاغَ

“Wahai Ummu Salamah, tidak ada seorang pun anak Adam kecuali hatinya berada di antara dua jari dari jari-jari Allah. Siapa yang Allah kehendaki, Dia teguhkan. Dan siapa yang Dia kehendaki, Dia sesatkan.”

Subhanallah… Nabi yang maksum saja masih memohon keteguhan hati. Bagaimana dengan kita—umatnya, manusia biasa yang imannya naik turun, sering lalai, sering lemah, sering tergoda? Bukankah kita jauh lebih butuh untuk memohon agar hati ini tetap teguh?

Doa Kedua: Rabbana La Tuzigh Qulubana

Doa berikutnya diajarkan langsung oleh Allah melalui Al-Qur’an. Mu’adz bin Mu’adz membacakan ayat agung dalam Surah Ali Imran ayat 8:

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ اِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَّدُنْكَ رَحْمَةً ۚ اِنَّكَ اَنْتَ الْوَهَّابُ

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau condongkan hati kami kepada kesesatan setelah Engkau beri kami petunjuk. Karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu; sesungguhnya Engkau Maha Pemberi.” (QS. Ali Imran: 8)

Selain sebagai sebuah lafas doa, ayat ini adalah pengakuan bahwa hati manusia begitu rapuh.

Betapa banyak orang yang dulunya shalat, puasa, bahkan haji, namun tergelincir perlahan—oleh lingkungan, pekerjaan, pergaulan, godaan, hingga akhirnya hilang dari jalan iman. Nau’dzu billahi min dzalik.

Allah tahu kelemahan kita. Karena itu Dia mengajarkan doa agar kita diselamatkan dari penyimpangan setelah mendapat petunjuk.

Hadirin yang dirahmati Allah,

Rasulullah SAW juga menegaskan satu kaidah penting tentang amal yang dicintai Allah. Dari Aisyah RA, beliau berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda:

أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

“Amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang kontinu meskipun sedikit.” (HR. Muslim)

Mengapa amal sedikit tapi rutin lebih dicintai Allah? Karena istiqomah melahirkan karakter. Ia membentuk keteguhan, kesabaran, dan penghambaan yang tulus.

Amal yang dilakukan terus-menerus menunjukkan bahwa iman telah meresap hingga menjadi gaya hidup, bukan emosi sesaat.

Istiqomah itu tidak mudah. Tetapi dari istiqomah-lah terbit cahaya iman yang stabil, akhlak yang lembut, dan jiwa yang tenang.

Setiap kita ingin dicintai Allah. Maka salah satu jalannya adalah memiliki amal yang rutin seperti wirid pagi dan sore, bacaan Al-Qur’an harian, sedekah setiap pagi, shalat sunnah rawatib, puasa Senin–Kamis, atau amalan lain yang kita mampu jaga.

Yang penting bukan besar atau kecilnya, tetapi rutinitas dan keikhlasannya.

Namun, ada satu hal penting lagi, yaitu hidup berjamaah dan berada dalam kepemimpinan umat. Tanpa jamaah, kita mudah goyah.

Tanpa saudara yang mengingatkan, kita mudah lalai. Tanpa pemimpin yang membimbing, kita mudah terseret arus dunia.

Jamaah atau komunitas ini adalah tempat kita saling menegur, saling menguatkan, saling mengingatkan ketika futur, ketika malas, ketika iman turun. Inilah cara paling kuat menjaga istiqomah.

Khutbah Kedua

الحمد لله رب العالمين، والصلاة والسلام على سيد المرسلين، محمد وعلى آله وصحبه أجمعين

Hadirin yang dirahmati Allah,

Istiqomah bukan sekadar kemampuan pribadi, tetapi karunia besar dari Allah. Karena itu, jangan berhenti memohon, jangan berhenti berdoa.

Mari kita berupaya mengamalkan dua doa agung tadi setiap selesai shalat, dan pada waktu-waktu mustajab. Sertakan diri kita dalam amal jamaah, perkuat hubungan dengan sesama, dan rutinkan ibadah yang mampu kita teruskan.

Semoga Allah menjadikan kita hamba yang teguh, yang istiqomah hingga akhir, dan dikumpulkan dalam golongan orang-orang yang dicintai-Nya.

اللهم يا مقلب القلوب ثبت قلوبنا على دينك، ولا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا، وهب لنا من لدنك رحمة، إنك أنت الوهاب. اللهم اجعلنا من عبادك الصالحين، وثبت أقدامنا على طاعتك حتى نلقاك وأنت راضٍ عنا

عباد الله،
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

فاذكروا الله العظيم يذكركم، واشكروه على نعمه يزدْكم، ولذكر الله أكبر، والله يعلم ما تصنعون

(Untuk mengunduh naskah ini ke format PDF, klik icon “print” pada share button di bawah lalu pilih simpan file PDF)

Hidayatullah Perkuat Literasi Kesehatan di Kalangan Santriwati Lewat Edukasi Reproduksi

0

BEKASI (Hidayatullah.or.id) — Dalam upaya memperkuat kesadaran kesehatan di kalangan generasi muda, Pondok Pesantren Ashabul Kahfi Putri Bekasi menjadi tuan rumah kegiatan edukasi dan penyuluhan kesehatan bagi para santriwati, Rabu, 28 Jumadil Awal 1447 (19/11/2025). Program ini terlaksana atas kolaborasi antara Departemen Sosial DPP Hidayatullah, PT DMS, dan pihak pesantren.

Ketua Departemen Sosial DPP Hidayatullah, Imron Faizin, menegaskan bahwa peningkatan kesadaran kesehatan masyarakat merupakan bagian penting dari misi sosial lembaganya.

“Departemen Sosial DPP Hidayatullah berkomitmen untuk meningkatkan kesadaran kesehatan masyarakat, terutama di kalangan remaja putri. Kami berharap kegiatan seperti ini dapat terus dilakukan di masa depan,” ujarnya.

Menurut Imron, pesantren memiliki peran strategis dalam menanamkan nilai-nilai hidup sehat di kalangan generasi muda. Melalui kegiatan edukatif yang bersifat aplikatif, para santriwati diharapkan tidak hanya memahami aspek spiritual, tetapi juga mampu mengelola kesehatan diri sebagai bagian dari tanggung jawab sosial dan keimanan. Komitmen ini menjadi bagian dari upaya Hidayatullah membangun masyarakat madani yang sehat, berdaya, dan berpengetahuan.

Edukasi yang disampaikan dalam kegiatan tersebut berfokus pada kesehatan remaja putri, termasuk pemahaman tentang pubertas, siklus haid, dan pentingnya menjaga kebersihan serta kesehatan reproduksi.

Materi ini dirancang agar mudah dipahami dan relevan dengan kehidupan sehari-hari para santriwati. Sebanyak 53 santriwati dan 10 pengasuh mengikuti kegiatan ini dengan antusias, menunjukkan tingginya minat terhadap isu kesehatan di lingkungan pesantren.

Perwakilan pengurus Yayasan Ashabul Kahfi Bekasi, Ustadz Syukur, menyampaikan apresiasinya terhadap pelaksanaan kegiatan tersebut.

“Kami sangat berterima kasih kepada PT DMS dan Departemen Sosial DPP Hidayatullah atas dukungan yang telah diberikan. Kegiatan seperti ini sangat penting untuk meningkatkan kesadaran kesehatan reproduksi di kalangan remaja putri,” ujarnya.

Dukungan dari pihak swasta juga terlihat melalui partisipasi PT DMS. Perwakilan perusahaan, Bu Uning, menyampaikan bahwa keterlibatan mereka dalam kegiatan sosial pendidikan merupakan bentuk tanggung jawab moral untuk ikut berperan dalam pembangunan masyarakat yang lebih sehat.

“Alhamdulillah, kami sangat senang dapat berpartisipasi dalam kegiatan ini. Kami berharap pengetahuan yang kami sampaikan dapat bermanfaat bagi para santriwati dan membantu mereka menjaga kesehatan mereka,” tuturnya.

Kegiatan ditutup dengan pembagian produk herbal dari PT DMS berupa suplemen alami untuk membantu mengatasi nyeri haid.

Inisiatif ini diharapkan menjadi langkah kecil namun berarti dalam mendukung kesehatan santriwati, sekaligus mendorong kesadaran akan pentingnya perawatan tubuh secara alami dan berkelanjutan.

Naspi Arsyad Terima Silaturrahim DPP Partai Gema Bangsa, Tekankan Politik Berkeadaban

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah KH. Naspi Arsyad, Lc., menerima kunjungan silaturrahim Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Gema Bangsa yang diterima di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Jakarta, Rabu (19/11/2025).

Kedatangan rombongan Partai Gema Bangsa dipimpin Ketua Umum Ahmad Rofiq, didampingi Muhammad Sopiyan selaku Sekretaris Jenderal, Ratih Purnamasari Bendahara Umum, Abd. Khaliq Ahmad Wakil Ketua Umum, dan Joko Kanigoro dan Nurmala sebagai Waketum.

Selain itu, dari DPP Partai Gema Bangsa juga hadir dr Yandra Doni Ketua Bidang Politik, Moh Shofan Ketua Bidang Keagamaan, Ike Julies Tiati Ketua Bidang Digital, Komunikasi dan Media, serta Denny Adin Ketua Bidang Sosial dan Kebencanaan. Turut hadir pula Hasan Asy’ari Wasekjen OKK, Ayun Sri Damayanti Wahyuni Wasekjen Bidang Media, dan Ade Wardhana selaku Ketua DPW Partai Gema Bangsa Jawa Barat.

Dari Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, Ketua Umum KH. Naspi Arsyad didampingi Bendahara Umum Suwito Fattah, Wakil Sekretaris Jenderal Muhammad Isnaini, Ketua Bidang Tarbiyah Muzakkir Usman, dan Ketua Departemen Kesehatan Muhammad Ihsan Taufik.

Dalam pengantar dialog, Ahmad Rofiq memperkenalkan struktur partainya dan orientasi politik yang sedang dibangun. Ia menekankan bahwa Partai Gema Bangsa bergerak sebagai partai modern yang mengedepankan komunikasi langsung dengan tokoh-tokoh bangsa melalui jalur silaturahmi. Baginya, percakapan yang terbuka mampu menyuburkan gagasan kebangsaan yang konstruktif.

“Dengan silaturahmi seperti ini komunikasi akan mulai terbangun sehingga mampu meyakinkan tokoh atau ulama terhadap gagasan partai yang berujung pada penerimaan masyarakat terhadap Partai Gema Bangsa,” ujarnya.

Rofiq menambahkan bahwa partainya terus menghimpun masukan sebagai fondasi kebijakan yang berpihak pada kemandirian bangsa. Ia menilai bahwa aspirasi ulama dan tokoh nasional menjadi bahan penting untuk merumuskan arah pembangunan yang mengangkat taraf ekonomi masyarakat.

“Smangat silaturahmi tokoh merupakan modal utama partai untuk dapat diterima dan mendapatkan perhatian publik,” tegasnya.

Wakil Ketua Umum Partai Gema Bangsa, Abd. Khaliq Ahmad, menguatkan pesan tersebut dengan menegaskan komitmen inklusivitas partainya. Ia menilai bahwa pertemuan dengan Hidayatullah merupakan bagian dari penghargaan terhadap ormas yang selama ini berkiprah dalam dakwah di seluruh pelosok negeri.

“Ormas ini telah berhasil menjadi juru dakwah hampir di semua pelosok negeri, ia telah mengirimkan dai-dai di tempat-tempat yang terisolir di seluruh Indonesia,” kata Abd. Khaliq.

Dalam suasana yang hangat dan dialogis, KH. Naspi Arsyad memberikan penghargaan terhadap inisiatif komunikasi politik Partai Gema Bangsa. Ia menyambut baik silaturahmi tersebut sebagai upaya memperkuat bangunan kebangsaan melalui jalur komunikasi terbuka.

Dalam keterangannya, Naspi menegaskan karakter Hidayatullah sebagai organisasi dakwah yang tidak terlibat politik praktis namun tetap memiliki tanggung jawab moral terhadap kehidupan kebangsaan.

“Hidayatullah tidak berafiliasi dengan partai politik mana pun, namun kami mendorong semua elemen, termasuk partai politik, untuk memperjuangkan politik Pancasila yang adiluhung dan berkeadaban demi kebaikan bangsa,” katanya.

Naspi menambahkan, politik yang luhur adalah politik yang menegakkan nilai, menjaga martabat bangsa, dan menghadirkan keadilan bagi seluruh rakyat.

Dalam pada itu, ia menegaskan posisi Hidayatullah dalam lanskap kebangsaan sebagai mitra etis yang menjaga keseimbangan antara dakwah, moralitas publik, dan kepentingan nasional.

Relevansi Ilmu dan Strong Leadership dalam Dinamika Peradaban Islam

0

ADA salah satu pernyataan reflektif yang disampaikan Rais ‘Aam Hidayatullah, KH Abdurrahman Muhammad, dalam taushiyah subuh pada Pekan Orientasi Pengurus Tingkat Pusat Hidayatullah Periode 2025–2030 di Bogor, Jawa Barat, Senin, 26 Jumadil Awal 1447 (17/11/2025): “Basis kejayaan sebuah peradaban adalah ilmu dan kepemimpinan.”

Pernyataan tersebut merupakan sebuah tesis historis mengenai fondasi bangunan peradaban yang selalu berulang sepanjang sejarah manusia.

Dua pilar utama ini, ilmu dan kepemimpinan, merupakan fondasi struktural yang menentukan apakah suatu peradaban dapat tumbuh, bertahan, atau runtuh. Dalam konteks dunia global saat ini, keduanya tampak begitu jelas dalam dominasi peradaban Barat.

Sementara itu, dunia Islam menghadapi tantangan besar dalam merawat kedua pilar tersebut agar mampu kembali berkontribusi bagi pembangunan peradaban yang bermartabat. Melalui tinjauan historis, kita dapat memahami dinamika peradaban melalui dua kata kunci ini.

Pada masa modern, peradaban Barat mendominasi lanskap global karena kemampuannya mengembangkan tradisi filsafat, sains, dan penelitian modern secara berkelanjutan. Kemajuan teknologi yang dihasilkan menjadi fondasi kekuatan politik, ekonomi, militer, serta sosial budaya Barat.

Hingga kini, Barat menjadi kiblat dalam kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Selain itu, negara-negara Barat juga berhasil memainkan peran penting dalam kepemimpinan internasional melalui penguatan sistem politik dan institusi global yang berbasis nilai-nilai demokrasi liberal.

Struktur kekuasaan global yang mereka bentuk membuat banyak negara di kawasan Timur berada dalam posisi yang harus menyesuaikan diri dengan standar dan kepentingan Barat.

Terjebak Romantisme Kejayaan Masa Lalu

Berbeda dengan kondisi tersebut, peradaban Islam pada masa kini berada pada posisi yang kurang kompetitif dibandingkan peradaban modern Barat. Salah satu faktor utama adalah perkembangan ilmu pengetahuan yang belum sepenuhnya matang, belum terarah, dan belum memiliki kerangka epistemologis yang solid.

Di beberapa konteks, diskursus keilmuan masih terjebak pada romantisme kejayaan masa lalu sehingga pembaruan metodologis dan tradisi riset belum berkembang optimal. Secara epistemologis, dunia Islam menghadapi persoalan ketidakjelasan arah, integrasi keilmuan yang belum menyatu, dan orientasi yang belum terbangun secara kuat.

Di tingkat kepemimpinan global, umat Islam juga menghadapi tantangan fragmentasi. Batas-batas nasional membuat potensi kolektif umat tidak terkonsolidasi. Sebagian kepemimpinan internal umat pun menghadapi degradasi kualitas, baik dari sisi integritas, kapasitas, maupun visi peradaban. Ini melemahkan daya dorong kemajuan umat Islam secara keseluruhan.

Padahal, peradaban Islam pada masa Rasulullah dan para sahabat telah memberi model terbaik mengenai bagaimana ilmu dan kepemimpinan menjadi kunci kejayaan. Sejarah Islam awal tidak hanya menampilkan kesalehan spiritual, tetapi juga kemampuan membangun fondasi intelektual dan kepemimpinan yang kokoh.

Untuk memahami hal ini, metafora pertumbuhan bambu moso (phyllostachys edulis) sering digunakan dalam kajian manajemen dan pengembangan sumber daya manusia.

Tumbuhan ini mengalami fase pertumbuhan akar yang intensif selama bertahun tahun sebelum memperlihatkan perkembangan signifikan di permukaan. Pola tersebut adalah penegasan pentingnya foundation building sebelum memasuki fase ekspansi struktural.

Dalam sejarah Islam, periode Makkiyah merupakan fase pembentukan pondasi epistemologis dan spiritual bagi proyek peradaban Islam. Fase ini bersifat supra struktur, yakni pembangunan akar sebelum struktur dan infra struktur dakwah berkembang.

Pada periode Makkiyah, Rasulullah membangun tauhid sebagai akar epistemologis ilmu dan spiritualitas sebagai prioritas strategis, sebagaimana akar bambu moso yang tumbuh diam namun menentukan kekuatan pertumbuhan berikutnya.

Penegasan ini semakin kuat ketika kita melihat Wahyu pertama, lima ayat awal Surah al-‘Alaq. Ayat-ayat tersebut menanamkan fondasi epistemologi keilmuan Islam: bahwa al-‘ilm harus berakar pada kesadaran ketuhanan, pengakuan bahwa Allah adalah sumber ilmu, dan bahwa kemampuan intelektual manusia hanya bisa berkembang melalui proses pembelajaran yang selalu bergantung kepada-Nya.

Seluruh surat dan ayat Makkiyah meneguhkan fondasi tauhid. Selama 13 tahun dakwah belum menunjukkan kebesaran struktural, namun dalam 10 tahun setelah hijrah Rasulullah mampu membangun peradaban yang tumbuh sangat cepat.

Pilar kedua kejayaan adalah kepemimpinan yang kuat (strong leadership). Pada fase Makkiyah, Rasulullah memimpin dalam kondisi serba terbatas: kekuatan sosial, ekonomi, dan politik hampir tidak ada; pengikut sedikit; serta tekanan dari elit Quraisy sangat kuat. Dalam teori kepemimpinan modern, ini sebanding dengan foundational leadership, yakni kepemimpinan yang memfokuskan diri pada pembentukan karakter, visi, dan integritas sebelum membangun struktur kekuasaan.

Kepemimpinan Rasulullah tidak dibangun melalui koersifitas atau otoritarianisme, tetapi melalui moral authority dan keteladanan. Model ini dalam studi kontemporer dikenal sebagai transformational leadership, yaitu kepemimpinan yang mengubah nilai dan orientasi pengikut sehingga mereka rela memberikan pengorbanan demi misi bersama. Reputasi sebagai al-Amin sebelum kenabian menjadi modal sosial yang sangat kuat, sementara praktik kepemimpinan partisipatif Rasulullah membangun kepercayaan dan menumbuhkan loyalitas kolektif.

Dalam konteks kekinian, aktualisasi transformational leadership menuntut pemimpin yang tidak hanya memiliki otoritas struktural, tetapi juga otoritas moral.

Di tengah disrupsi teknologi dan kompleksitas sosial, pemimpin transformatif menggerakkan perubahan dengan membangun kepercayaan, menumbuhkan motivasi intrinsik, dan menghidupkan budaya inovasi dalam organisasi.

Dari sini, jelas bahwa ilmu dan kepemimpinan tidak hanya menentukan kelangsungan peradaban, tetapi juga menentukan arah perjalanan suatu bangsa dalam menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks.[]

*) Ust. Dr. Abdul Ghofar Hadi, penulis Ketua Bidang Perkaderan Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah