Beranda blog Halaman 482

Dominasi Ilmu

0

APA yang Anda pikirkan? Pertanyaan ini kerap ditanyakan oleh seorang Mark Zuckerberg, melalui aplikasi bikinannya, Facebook. Saban waktu kalimat tanya itu sudah siap tersedia. Terpampang begitu jelas di bagian atas dinding aplikasi jejaring sosial.

Zuckerberg tanya, setelah kemarin, apa lagi yang Anda pikirkan hari ini? Usai yang barusan, lalu sekarang berpikir apa lagi? Demikian pertanyaan tersebut terus mengejar. Sepertinya Facebook kepo, apa sih sebenarnya yang dipikirkan kebanyakan manusia yang memenuhi dunia ini.

Sebagai makhluk yang diciptakan Allah secara sempurna, tubuh manusia terdiri dari beberapa unsur. Ada raga, jiwa, akal, dan lain sebagainya. Raga berarti jasmani dan fisik luar manusia, jiwa itu yang menyangkut hati, dan akal ialah tempat manusia menalar sesuatu dengan pikirannya.

Sebagai kesatuan, semuanya saling berhubungan dan terkait dengan lainnya. Kata Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam (Saw), jika ada satu anggota badan yang sakit maka sakitlah yang lain pula.

Lebih jauh Rasulullah pernah ditanya: Siapakah orang yang paling utama? Dia menjawab: Setiap orang yang bersih hatinya dan benar ucapannya. Para sahabat berkata: Orang yang benar ucapannya telah kami pahami maksudnya. Lantas apakah yang dimaksud dengan orang yang bersih hatinya? Nabi menjawab: “Orang yang bertakwa (takut) kepada Allah, yang suci hatinya, tidak ada dosa dan kedurhakaan di dalamnya serta tidak ada pula dendam dan hasad,” (HR. Ibnu Majah dan ath-Thabrani, dishahihkan oleh Imam al-Albani).

Dipahami dari hadits di atas, yang paling utama diperhatikan manusia ialah hatinya. Jika hati tersebut baik atau bersih niscaya yang lain juga ikut menjadi baik. Sebaliknya jika hati itu rusak atau terkotori maka yang tampak pada orang itu hanyalah hal-hal yang buruk juga. Mulai dari ucapannya yang kotor, akhlaknya buruk, perilakunya tak beradab, hingga apa yang dipikirkan pun ikut jadi rusak pula.

“… Ketahuilah dia itu adalah hati (yang memengaruhi semuanya)…” (HR. Muttafaqun alaihi).

Allah Ta’ala berfirman:

“… dan barang siapa beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya.” (At-Taghabun [64]: 11).

Ayat ini menerangkan bahwa ketika Allah mengaruniakan iman dan hidayah dalam jiwa seseorang, maka seharusnya itu pulalah yang menjadi dominan dalam hati. Keyakinan penuh yang mendominasi tersebut selanjutnya berfungsi membatalkan dan menyingkirkan semua yang bertentangan dengan nilai-nilai ketauhidan.

Lebih jauh dijelaskan, bahwa ilmu yang mendapat hidayah ialah ilmu yang benar-benar merasuk hingga ke petala jiwa seseorang. Dia mengalir bersama aliran darah yang menggelora dalam tubuh manusia.

Dengan berkah yang didapatnya, ilmu itu lalu dipancarkan penuh cahaya melalui tutur kata yang lembut kepada sesama Muslim. Dia berwujud menjadi amal yang shaleh dan semangat berbagi manfaat selalu.

Ketika ilmu itu belum mendapat cahaya hidayah, maka hatinya seolah terbelah. Pengetahuannya tentang agama begitu melimpah. Tapi itu bukan jaminan hatinya tergerak dan terpanggil mengerjakan satu amalan yang paling sederhana sekalipun. Ilmu dan wawasannya luas, namun disayangkan jiwanya tak kunjung menerima petunjuk. Jadilah orang-orang demikian menjadi manusia-manusia hipokrit yang sering menimbulkan masalah.

Inilah sesungguhnya kesempurnaan ajaran Islam. Agama tak menilai orang tersebut hanya dari rupa dan raganya secara fisik semata. Tidak pula mesti tergila-gila dari gagasan-gagasan hebat orang cerdas jika ternyata tak lebih dari sekadar teori di atas kertas saja.

Islam juga tidak menganjurkan untuk berlomba-lomba menyibukkan diri dengan ibadah ritual, beralasan untuk menyucikan hati kalau ternyata malah lupa atau tak peduli dengan keadaan sekitarnya.

Dengan keindahannya, Islam mengajarkan hubungan yang begitu mesra antara satu dengan lainnya. Bahwa dominasi ilmu yang hebat pada nalar dan kecerdasan seseorang, seharusnya itu juga yang sampai kepada hati manusia. Ilmunya senantiasa sejalan dengan imannya. Sebagaimana imannya tak boleh lelah dalam memandu ilmu dan amal kesehariannya.

Sehingga, ketika manusia menuangkan pikirannya atau mengerjakan satu perbuatan, sesungguhnya saat itu orang tersebut sedang mempersaksikan apa yang sedang dominan dalam hatinya. Apakah yang dominan dalam hatinya, energi takwanya ataukah potensi fujurnya.

MASYKUR SUYUTHI

Pemprov Harap Lahir Pemimpin Kepri dari Sekolah Hidayatullah

0

SAGULUNG (Hidayatullah.or.id) — Plt Gubernur Kepri, H Isdianto mengatakan Pemerintah Provinsi Kepri serius dalam memajukan mutu pendidikan. Terlebih pendidikan yang berorientasi dalam menguatkan keimanan dan ketaqwaan. Dia pun berharap kelak akan lahir pemimpin dari sekolah Hidayatullah.

“Dari sekolah ini nanti akan lahir pemimpin yang selalu memegang teguh Al-Quran sebagai pedomannya dalam memimpin Provinsi Kepri,” kata Isdianto saat Peresmian dan Penyerahan Gedung Belajar SMAI Hidayatullah Boarding School di SMAI Hidayatullah Boarding School, Sagulung, Kota Batam, Sabtu (26/11) lalu.

Menurut Isdianto, setiap permasalahan yang dihadapi dalam dunia pendidikan, akan terselesaikan apabila semua duduk bersama. Apalagi jika semua bertekad mencari solusi terbaik untuk menyelesaikannya.

Karena kata Isdianto, Pemprov akan terus memenuhi segala kebutuhan dalam pendidikan. Namun, karena keterbatasan akan dipilah-pilah mana yang menjadi prioritas agar berjalan dengan baik.

Isdianto melihat, saat ini di berbagai pelosok Kepri sudah menjamur berdirinya pondok-pondok pesantren. Ini semakin menguatkan komitmen untuk menciptakan generasi Islam yang Qurani agar kelak memimpin negeri ini selalu menjalankan Perintah Allah dan menjauhi larangan Allah.

“Semua bisa terwujud apabila kita bersama bergandengan tangan dan terus bersinergi untuk penyelesaian persoalan yang dihadapi,” kata Isdianto.

Tampak hadir dalam peresmian itu Ketua Komisi IV DPRD Kepri Rizki Faisal, Anggota DPRD Kepri Alex Guspeneldi, Sekretaris Dinas Pendidikan Faturahman, Ketua Umum DPP Hidayatullah Dr H Nashirul Haq, Ketua DPW Hidayatullah Kepri Ustadz Khairul Amri dan Ketua Pengurus Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Batam Ustadz H Jamaluddin Nur.

Hadir juga Ketua Baznas Kepri Bustamim Husein, Ketua Baitul Maal Hidayatullah Asia Raya Ustadz Abdul Aziz Elhaqqy serta pegawai dan Keluarga Besar YPPH Batam dan Santri dan Mahasantri Hidayatullah. (Batampos)

Posdai Hidayatullah Melayani Dahaga Muallaf Tapanuli Utara

TAPANULI UTARA (Hidayatullah.or.id) — Lembaga Persaudaraan Dai Indonesia (PosDai) berupaya untuk terus memenuhi harapan umat muslim dalam rangka pembinaan keagamaan, khususnya muallaf dan anak-anak generasi pelanjutnya yang ada di sudut-sudut negeri.

Demikianlah yang intensif dilakukan oleh Posdai Sumatera Utara dengan membuat program bernama Bina Kampung Muallaf yang menangani penyuluhan keagamaan Islam di sejumlah desa di Kabupaten Tapanuli Utara.

Ketua Posdai Sumut Ust Ibnu Rusydi Sinaga mengatakan pihaknya secara rutin melakukan pembinaan di sejumlah kampung muallaf. Untuk menuju lokasi binaan, mereka harus menempuh medan yang tidak mudah. Akses transportasi memang masih cukup belum memadai.

“Animo masyarakat binaan sangat tinggi membuat kami terharu, mereka sangat mengharapkan terus adanya pembinaan terutama dalam pengajaran Al Quran,” kata Sinaga.

Rusydi Sinaga menyebutkan pihaknya secara intensif melakukan pembinaan ke sejumlah desa yang dibina oleh dai-dai dari Posdai dan Hidayatullah Sumatera Utara.

Diantaranya pihaknya melakukan pembinaan di Desa Sibargot, Kecamatan Garoga dengan kegiatan rutin pembelajaran Al Quran metode Grand MBA, pengajian bulanan, tausiyah subuh dan penyelenggaran Taman Pendidikan Al Quran (TPA). Di Desa Sibargot Tapanuli Utara, Posdai menugaskan Ust Marwan Nasution dan Ibnu Rusydi Sinaga sendiri.

Lalu ada juga Dusun Lau Meciho, Desa Harapan, Keca Tanah Pinem, Kabupaten Dairi dengan program yang serupa. Di Lau Meciho Posdai menugaskan Ust Rajab Abdullah Selian dibersamai Rusydi Sinaga.

Ada pula Ust Habibullah Lubis, Ust Fikri Nasution dan Ust Jamaluddin Kudadiri yang secara rutin melakukan pembinaan di Dusun Lau Gedang, Desa Suka Makmur, Kabupaten Tanah Karo serta di Desa Marolan Kecamatan Sibiru biru Deli Serdang yang diampu Ust Mukallam dan Ust Edi Sembiring.

Ust Ibnu Rusydi Sinaga berharap program pembinaan tersebut dapat terus dikembangkan dalam rangka memenuhi kebutuhan masyarakat muslim pedalaman serta memberikan dampak positif bagi pengembangan sumber daya insani yang berilmu, beriman dan bertakwa. (ybh/hio)

Pertanian Kita dan Kaderisasi

Photo by Alvi Eko Pratama/ Pixabay

RATA-RATA usia petani di Indonesia berumur 47 tahun sekarang. Diperkirakan 10-15 tahun mendatang terjadi krisis petani Indonesia. Demikian kata Arif Satria, Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB) dalam kesempatan silaturahim dengan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo di kantor Kementerian Pertanian, Jakarta Selatan (11/11/2019).

Menurut Arif, seperti dikutip media, salah satu penyebabnya ditengarai tidak adanya alih generasi yang berjalan. Kaum milenial dianggap tidak lagi punya kecenderungan untuk mewarisi peran petani sekarang. Boleh jadi meski terlahir dari keluarga petani, namun belum tentu anak itu tertarik jadi petani pula di masa mendatang.

Kabar ini sempat viral sesaat beberapa waktu lalu. Banyak pihak seolah tersentak. Tak menyangka, yang dulu dikenal sebagai bangsa agraris justru diprediksi mengalami krisis petani. Layaknya kata peribahasa Indonesia. Ayam mati di lumbung padi. Petani sebagai faktor utama pada dunia pertanian malah jadi titik lemah yang mengkhawatirkan di masyarakat.

Di lain pihak, hendaknya ini juga menyadarkan pentingnya alih generasi atau kaderisasi tersebut. Bahwa apapun ternyata ada masanya. Kehidupan itu ada awal dan akhirnya. Dan itu butuh generasi pelanjut setelahnya.

Sampai pada urusan yang secara logika pun terlihat mudah. Profesi petani, misalnya. Ternyata, pewarisan pekerjaan itu juga tak selamanya bisa berjalan alami begitu saja. Dibutuhkan kesungguhan berpikir dan tindakan hingga masa yang jauh ke depan.

Lalu kira-kira bagaimana dengan peran para guru, dosen, dai, dan semacam pendidik atau pendakwah lainnya? Secara notabene mereka mengemban tugas dan tanggung jawab yang lebih besar dan lebih rumit lagi. Sebab mereka tak hanya dituntut sekadar mengatur sawah, kelas, masjid atau mengelola benda mati lainnya. Ia juga tidak cuma berhubungan dengan urusan profesi atau pembelajaran skill dan kompetensi manusia.

Lebih dari itu, mereka dituntut sebagai khalifatullah (wakil Allah di muka bumi). Menegakkan keadilan, menciptakan kemakmuran, menyempurnakan akhlak masyarakat, menjadikan manusia punya prinsip hidup dan cara pandang yang benar, serta taat dan patuh beribadah kepada Allah.

Sebagai pendidik yang mewarisi risalah kenabian, misi utama guru atau dosen bukan saja sekadar menjadikan murid-muridnya menjadi pintar dengan pengetahuan yang luas. Mengubah yang bodoh menjadi pintar. Dari murid yang tidak tahu menjadi tahu. Sebab hakikat ilmu dan pendidikan adalah penanaman nilai-nilai kebaikan menjadi sebuah karakter pada diri seorang anak.

Pendidikan yang benar niscaya menguatkan ilmu yang dipelajari menjadi ilmu yang bermanfaat. Mendorong pemiliknya sebagai Mukmin yang produktif dengan amal shalehnya. Serta menjadikan orang-orang berilmu tersebut berada di garda terdepan dalam urusan takut kepada Allah.

Firman Allah:

“Sesungguhnya di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya hanyalah para ulama saja…” (Fathir [35]: 28).

Senada, tokoh pendidikan berdarah Melayu, Syed Muhammad Naquib al-Attas menegaskan prinsip pendidikan pengkaderan tersebut. Ia berkata: “The aim of education in Islam therefore to produce a goodman… the fundamental element inherent in the Islamic concept of education is the inculcation of adab.”

Lebih jauh dipahami, ukuran pendidikan pengkaderan tersebut adalah lahirnya generasi yang tak hanya mampu memahami secara konsep keilmuan (knowledge) saja. Namun juga memastikan transformasi nilai (value) juga berjalan. Bahwa ilmu saja tak cukup tanpa adab. Karena adab adalah ruh dari ilmu tersebut. Sedang amal shaleh dan ibadah yang menjadi ukuran evaluasi dalam kesehariannya.

Untuk itu, inilah tugas berat sekaligus tanggung jawab mulia seorang pendidik. Jika seorang Menteri Pertanian dijangkiti kekhawatiran akan regenerasi petani di masa mendatang. Maka kegelisahan seorang guru dan dosen lebih dari itu. Mereka dituntut bukan sekadar mencetak petani saja. Tapi bagaimana agar petani itu selain memiliki skill hebat, juga bersikap jujur, punya integritas, dan tetap taat menghamba kepada Allah. Itulah pendidikan dan pengkaderan Islam.

MASYKUR SUYUTHI

Bagaimana Perguruan Tinggi Menghadapi Era Disrupsi

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Departemen Luar Negeri Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah menggelar Hidayatullah Global Forum 2019 yang berisi mudzakarah peradaban yang digelar di Aula Lantai II Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Jakarta, Selasa (12/11/2019).

Acara ini mengangkat tema “Universitas untuk Apa? Memahami Persoalan-Persoalan Universitas Konvensional dan Mempersiapkan Pemecahan-Pemecahannya Dalam Peradaban Islam”.

Turut hadir dalam kesempatan tersebut cendekiawan muslim Dr Tiar Anwar Bachtiar yang juga dikenal sebagai sejarawan. Berikut wawancara singkat kami dengannya selepas acara.

[youtube width=”100%” height=”300″ src=”nxhj38k35XI?rel=0&autoplay=1″][/youtube]

Ulama dan Pemerintah Terus Bersinergi Majukan Pendidikan

0

BATAM (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah Dr H Nashirul Haq, MA, menyempatkan waktu menghadiri acara penyerahan Gedung belajar SMAI Hidayatullah Boarding School Batam yang diresmikan oleh Plt Gubernur Provinsi Kepri H Isdianto, Sabtu (16/11/2019).

Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah Dr H Nashirul Haq, MA, dalam kesempatan tersebut mengapresiasi upaya sungguh-sungguh yang telah ditunjukkan oleh Kampus Hidayatullah Batam dalam meluaskan pelayanan keummatan.

“Program pendidikan yang telah diselenggarakan oleh Hidayatullah Batam merupakan bukti nyata bersinergi bersama pemerintah untuk mencerdaskan dan meningkatkan sumber daya manusia, khususnya di provinsi Kepulauan Riau ini,” katanya.

Beliau menegaskan posisi Hidayatullah di dalam pembangunan umat, rakyat, bangsa dan negara. Ia mengimbuhkan, Hidayatullah hadir untuk menjadi mitra pemerintah, bersinergi dengan seluruh komponen umat untuk membangun Indonesia yang lebih maju dan bermartabat.

Pada kesempatan itu Isdianto yang juga didaulat meletakkan batu pertama pembangunan Asrama Putri Tafidz Putri Hidayatullah di Pondok Pesantren Hidayatullah Batam ini, memuji kiprah Hidayatullah yang telah ikut berperan dalam pembangunan di kawasan itu, khususnya di bidang pendidikan.

Dalam sambutannya, Isdianto mengajak ulama dan pemerintah bersinergi dalam memajukan dunia pendidikan.

“Selain kita butuh ilmu pengetahuan umum, kita juga butuh bimbingan agamawi dan Iman dalam menghadapi kemajuan zaman dan era globalisasi saat ini,” ungkap Isdianto.

Isdianto dalam arahannya juga menyampaikan bahwa Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau akan berkomitmen membantu dan mendukung program pendidikan yang ditaja oleh Hidayatullah Batam.

Pada kesempatan ini juga beliau menegaskan alokasi dana bantuan di Kampus 3 Hidayatullah Marina dari aspirasi Bapak Rizki Faisal, SE., MM selaku Ketua Komisi IV DPRD Provinsi Kepulauan Riau, dan 6 RKB dari H. Alex Guspeneldi, SH., MH anggota DPRD Provinsi Kepulauan Riau.

KH Jamaluddin, M.Pd selaku Ketua Pengurus Yayasan dalam sambutannya mengatakan bahwa santri yang berasrama di Kampus Hidaqyatullah Tanjung Uncang jumlahnya saat ini 800 orang lebih, seiring dengan antusiasnya para orangtua untuk menyekolahkan anaknya di sini, maka daya tampung asrama masih sangat terbatas, terutama program khusus tahfidzul Qur’an.

“Sehingga kami sangat membutuhkan bantuan dari pemerintah. Kami tidak terbiasa meminta, akan tetapi kami terbiasa menerima,” selorohnya disela-sela sambutannya.

Turut hadir dalam kesempatan ini Rizki Faisal, SE., MM (Ketua Komisi IV DPRD Provinsi Kepulauan Riau), H Alex Guspeneldi, SH., MH (Anggota DPRD Provinsi Kepulauan Riau), H. Faturrahman, SE (Sekretaris Dinas Pendidikan Provinsi Kepulauan Riau), Drs. H. Bustamin Husein (Ketua BAZDA Provinsi Kepulauan) dan tokoh masyarakat dan undangan lainnya.*/Khoirul Amri

Tentang Gaza: Doakan, Kuatkan, Rapatkan Shaf, Istiqomah Bersama Allah

0

Seruan Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah

Menjelang Pemilihan Umum Zionis Israel di Baitul Maqdis yang terjajah, gembong penjajah Benyamin Netanyahu kembali melakukan kejahatan agresi militer atas warga di Jalur Gaza, Selasa, 12 November 2019 lalu.

Rangkaian serangan itu dibalas oleh para Mujahidin Palestina dengan serangan roket-roket ke berbagai kawasan Palestina terjajah.
Seperti sudah diduga, kejahatan Zionis Israel terus berlanjut menghujani perumahan, sekolah dan lahan pertanian di Gaza dengan bahan-bahan peledak. Tidak kurang dari 34 orang warga terbunuh, lebih dari 100 orang luka-luka.
إنالله وإناإليه راجعون

Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah mengingatkan dan menyerukan seluruh insan Indonesia dan masyarakat dunia:

  1. Bahwa kejahatan Zionis Israel merupakan bagian dari perampokan dan penjajahan atas warga Palestina yang telah berlangsung sejak 1948.
  2. Inggris dan Amerika Serikat bertanggung jawab atas terjadinya perampokan dan penindasan ini, sejak Inggris dan Prancis merampas kawasan Negeri Syam (Palestina, Yordania, Lebanon dan Suriah) dari Daulah Utsmaniyyah 1917, lalu Inggris menyerahkan Palestina kepada gerakan Zionis Israel, untuk berdirinya negara palsu “Israel” pada 15 Mei 1948.
  3. Republik Indonesia sejak masa kepemimpinan Presiden Soekarno hingga hari ini, tidak pernah mengakui adanya negara bernama “Israel”.
  4. Sebagaimana amanah Undang-Undang Dasar 1945, rakyat dan Republik Indonesia terus mendukung usaha memerdekakan Palestina dari penjajahan gerakan Zionis yang selama 71 tahun terakhir telah menjadi biang kekacauan keamanan dan perdamaian di Timur Tengah dan dunia.
  5. Kami juga mengingatkan seluruh Muslimin Indonesia dan dunia, bahwa dijajahnya Masjidil Aqsha, Baitul Maqdis, Palestina, dan lebih luas lagi Negeri Syam, merupakan ujian dari Allah Ta’ala kepada kita. Ujian yang sama telah beberapa kali Allah berikan kepada umat manusia sejak zaman Nabi Musa ‘alayhissalam, di mana Baitul Maqdis dijajah oleh bangsa Jabbariin (Al-Quran surah Al-Maaidah 20-26).
  6. Kami menyeru seluruh Muslimin Indonesia dan dunia, untuk sungguh-sungguh mendoakan dan menguatkan keluarga-keluarga kita di Gaza dan di seluruh Palestina, agar diberi kesabaran dan kekuatan oleh Allah.
  7. Kami mengajak seluruh Muslimin Indonesia dan dunia untuk terus merapatkan shaf dan istiqomah memperbaiki ketaatan kepada Allah Ta’ala, serta menguatkan terus seluruh potensi umat sampai Allah karuniakan pertolongan dan kemenangan.
  8. Kemenangan umat Islam adalah kemenangan seluruh insan dunia, di mana tegaknya keadilan akan menjadi jalan kesejahteraan hakiki bagi seluruh bangsa, sebagaimana dinubuwahkan Rasulullah ﷺ, dan dipergilirkan oleh Allah dari zaman ke zaman.

Jakarta, 19 Rabiul Awwal 1441/17 November 2019

DR Nashirul Haq, Lc, MA
Ketua Umum

BNI Syariah BOD Teaching di Kampus Hidayatullah Ternate

0
SEVP Bisnis Ritel dan Jaringan BNI Syariah, Iwan Abdi memberikan penjelasan terkait manfaat dan keuntungan mengenai produk tabungan BNI iB Baitullah Anak iB Hasanah yang merupakan tabungan dalam mempersiapkan biaya haji maupun umrah sejak usia dini kepada salah satu santri Pondok Pesantren Hidayatullah Ternate (Foto: Istimewa)

TERNATE (Hidauyatullah.or.id) — BNI Syariah menyelenggarakan Direksi Mengajar (Board Of Director-BOD Teaching) secara serentak, kali ini di Kampus Pondok Pesantren Tahfidz Qur’an Hidayatullah, Ternate, Maluku Utara, Kamis (14/11). Acara ini bertujuan untuk meningkatkan edukasi literasi dan inklusi keuangan syariah yang dicanangkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Dalam kegiatan BOD Teaching Ternate hadir SEVP Bisnis Ritel & Jaringan BNI Syariah, Iwan Abdi; Pemimpin Divisi Jaringan dan Layanan BNI Syariah, Adjat Djatnika Basarah; Pemimpin Wilayah Timur BNI Syariah, Imam Hidayat; Branch Manager BNI Syariah Kantor Cabang Ternate, Hery Kuswoyo; dan Pengasuh Pondok Pesantren Hidayatullah Ternate, Sholeh Sukur.

Kegiatan Direksi Mengajar dengan tema “Mengenal Perbankan Syariah” ini diantaranya adalah pengenalan perbankan syariah baik mengenai pengertian bank syariah, kegiatan bank syariah, akad-akad yang digunakan, dan jenis produk maupun layanannya melalui pemaparan video interaktif, serta permainan edukatif yang dikemas secara menarik untuk menumbuhkan minat siswa tentang bank syariah.

Direktur Kepatuhan & Risiko BNI Syariah, Tribuana Tunggadewi mengatakan Direksi Mengajar merupakan salah satu implementasi dan bentuk nyata kepedulian BNI Syariah terhadap dunia pendidikan.

“Kami berharap kegiatan ini bisa menjadi media sosialisasi dan dakwah yang efektif dalam meningkatkan pengetahuan generasi muda mengenai perbankan syariah,” kata Tribuana.

SEVP Bisnis Ritel & Jaringan BNI Syariah, Iwan Abdi mengatakan melalui kegiatan Direksi Mengajar ini, diharapkan siswa bisa lebih memahami esensi dan kelebihan sistem keuangan syariah sehingga bisa melakukan perencanaan keuangan yang hasanah sejak dini.

“Dalam menjalankan kegiatan operasionalnya, BNI Syariah selalu mengangkat nilai-nilai hasanah dan berkomitmen menjadi Hasanah Banking Partner yang memberikan manfaat bagi seluruh kalangan sejak usia muda sampai tua, tidak hanya untuk kehidupan di dunia, bahkan kemanfaatannya hingga di akhirat kelak (Hasanah Way),” kata Iwan.

Pada kegiatan BOD Teaching di Banda Aceh dan Ternate, BNI Syariah bersama dengan Yayasan Hasanah Titik (YHT) memberikan bantuan fasilitas sarana dan prasarana pendidikan masing-masing senilai Rp 50 juta.

Direksi Mengajar mengacu pada POJK Nomor 76/POJK.07/2016 tentang Peningkatan Literasi dan Inklusi Keuangan di Sektor Jasa Keuangan Bagi Konsumen dan/atau masyarakat Bab II Pasal 2, dimana Pelaku Usaha Jasa Keuangan (PUJK) wajib melaksanakan kegiatan dalam rangka meningkatkan Literasi Keuangan.

Kegiatan ini rutin digelar tiap tahun sejak 2016 lalu. Pada tahun ini, BNI Syariah melaksanakan kegiatan Direksi Mengajar di lima kota yaitu Kudus, Malang, Aceh, Ternate, dan Palangkaraya. Dari 2016 sampai tahun ini tercatat sudah lebih dari 2.800 siswa yang ikut serta dalam program Direksi Mengajar ini.

Target audience kegiatan Direksi Mengajar adalah pelajar khususnya tingkat menengah atas. Hal ini karena pada usia tersebut, sebagian besar siswa dinilai telah cukup matang untuk belajar bagaimana cara mengelola keuangan dengan baik. (ybh/hio)

Majelis Reboan Hidayatullah Wadah Kolaborasi Ekonomi

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Bidang Perekonomian DPP Hidayatullah rutin menggelar acara diskusi rutin setiap hari Rabu dengan nama Majelis Reboan.

Inisiator Majelis Reboan yang juga Kepala Bidang Ekonomi DPP Hidayatullah Asih Subagyo mengatakan Majelis Reboan ini wadah sharing dan kolaborasi semua pihak terutama para penggerak ekonomi umat untuk senantiasa mampu membangun kekuatan ekonomi umat secara lebih nyata.

Pada pertemuan pada Rabu (13/11/2019) lalu membahas tentang potensi ekonomi umat dengan menghadirkan Ketua Bidang Ekuintek LH DPP Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Memed Sosiawan.

Dalam pemaparannya, praktisi ekonomi ini mengatakan resesi ekonomi alias kemerosotan ekonomi dunia dan Indonesia bersifat pasti.

“Resesi itu membayangi ekonomi global, jadi memang pasti. Jadi di Indonesia itu pasti. Pengaruhnya biasanya 3 sampai 4 bulan. Yaitu karena trade war (perang dagang) yang sebenarnya lanjutan daripada currency war (perang mata uang) yang diawali dengan oil war,” ulasnya ketika memaparkan materi “Tadabbur dan Prediksi Ekonomi Keuangan dan Industri Pasca Terbentuknya Kabinet Indonesia Maju” di Forum Majelis Reboan DPP Hidayatullah di Pusat Dakwah Hidayatullah, Jakarta Timur, Rabu (13/11/2019).

Menurutnya, Indonesia kian serius menghadapi masalah ekonomi saat melihat transformasi struktur ekonomi Indonesia yang bisa dikatakan cenderung melemah.

Dia menyebutkan, sejak Indonesia merdeka sampai tahun 1985, sektor pertanian masih memberikan kontribusi yang tertinggi terhadap PDB dibandingkan dengan sektor lainnya. Dan, pemberi kontribusi yang kedua adalah sektor pertambangan.

“Namun sejak 1995 kontribusi yang tinggi dari sektor pertanian dan sektor pertambangan mulai digantikan oleh sektor industri pengolahan dan sektor perdagangan hotel dan restoran,” ujarnya.

Meskipun sampai 2010 kontribusi sektor industri dan pengolahan terus meningkat sejak tahun 1985. Namun, dia menilai, setelah terlihat bahwa kontribusi sektor industri dan pengolahan cenderung menurun terus dan penurunan kontribusinya diisi oleh kontribusi sektor keuangan dan sektor jasa.

Kebijakan pemerintah yang cenderung menomorsatukan infrastruktur juga perlahan namun pasti akan mengubah mata pencaharian rakyat.

“Jadi kita antisipasi dengan adanya jalan tol maka ini akan banyak jadi migrasi. Para petani pindah jadi buruh, buruh kemudian menjadi pekerja lepas, dan kemudian pindah ke kota. Jadi Indonesia lemah,” tegasnya.

Kondisi ini dinilai kian memburuk jika memperhatikan sektor tambang.

“Kenapa tambang ini, tambang kan kita kelola barang mentah dikeruk dijual lama-lama habis. Kalau habis bagaimana kira-kira, itu pertanyaan kita terhadap masa depan anak cucu kita,” tegasnya.

Pada kesempatan pertemuan sebelumnya, Rabu (30/10), tema yang diangkat dalam forum rutin yang dihadiri para penggerak ekonomi umat itu adalah “Wakaf sebagai Instrumen Pemberdayaan Ekonomi Umat”.

“Majelis Reboan ini wadah sharing dan kolaborasi semua pihak terutama para penggerak ekonomi umat untuk senantiasa mampu membangun kekuatan ekonomi umat secara lebih nyata,” terang inisiator Majelis Reboan yang juga Kepala Bidang Ekonomi DPP Hidayatullah Asih Subagyo.

Potensi Wakaf umat

Terkait tema wakaf, Asih menjelaskan, hal ini untuk memperluas perspektif perihal wakaf yang sebagian masyarakat masih berpandangan sederhana.

“Wakaf sering dipahami secara sederhana. Kampung-kampung banyak tanah wakaf rata-rata dipakai untuk kuburan, padahal wakaf itu fungsinya sangat luas, sangat besar. Jadi ke depan, bagaimana wakaf itu menjadi sumber pemberdayaan ekonomi umat,” imbuhnya.

Dalam paparannya, narasumber Majelis Reboan Bambang Kuswijayanto selaku co-founder & deputy president Bank Waqf Internasional menjelaskan bahwa di antara tantangan serius wakaf untuk lebih berdaya di tengah-tengah umat adalah soal profesionalitas.

“Tantangan wakaf saat ini adalah hadirnya nazhir yang profesional, berorientasi kepentingan umat, dilengkapi dengan sistem yang baik, di mana kala diminta pertanggungjawaban semuanya tersedia dan jelas,” tegasnya.

Ketika hal itu terwujud, menurutnya, masyarakat akan semakin mengerti jenis-jenis wakaf, di antaranya wakaf tunai yang dapat mendorong wakaf menjadi kekuatan ekonomi umat.

“Wakaf tunai sangat mungkin mendorong program wakaf produktif, kita create dalam beragam program, kita kelola secara profesional, kemudian hasilnya ada yang kita wakafkan, kemudian ada yang diberikan sebagai investasi,” ulasnya.

Menurutnya, saat wakaf bisa mengundang dan mendorong investasi, maka wakaf akan menjadi generator ekonomi umat.

“Saat wakaf mampu mengundang dan mendorong investasi, maka akan banyak proyek-proyek keumatan, seperti pendirian layanan masyarakat berupa rumah sakit atau lainnya,” ujarnya.

Ia menambahkan, dalam kondisi seperti itu, orang boleh investasi dengan niat sebagian keuntungannya diserahkan menjadi wakaf. “Ini akan menjadi wakaf generator, sehingga lama-lama membesar dan akhirnya sama dengan dana abadi di mana wakaf bisa mengambil alih hotel, rumah sakit, dan lainnya,” urainya.*/Imam Nawawi

Takaran Ilmu

ALKISAH, ada seorang pendekar sedang berhadapan dengan sekerumunan binatang buas di tengah hutan. Selama ini ia dikenal kepiawaiannya sebagai petarung dan ahli beladiri. Sebagai professional, dirinya pun punya peralatan yang lengkap, senjata pelindung diri.

Namun, bagaimana jika saat itu ilmu dan alat-alat lengkap tersebut tak digunakan atau dikeluarkan oleh sang pendekar. Dia hanya mematung di hadapan binatang buas itu. Tanpa melakukan satu amalan atau perbuatan apapun, misalnya.

Ilustrasi sederhana itu dinarasikan oleh Hujjatul Islam, Imam al-Ghazali dalam satu karyanya, Ayyuhal Walad. Menurut al-Ghazali, kira-kira apa yang didapatkan seseorang yang merasa cukup dengan ilmunya? Sedang ilmu hanya dibiarkan menumpuk tanpa pernah diamalkan dan dimanfaatkan.

Apa manfaat dari usahanya sepanjang waktu, mengejar ilmu hingga mengorbankan banyak urusan? Jika hamparan ilmu itu selayak senjata yang cuma menempel dimana-mana pada tubuh pendekar di atas. Tanpa difungsikan sama sekali.

Iya, nyaris tak ada gunanya. Al-ilmu bi la amalin ka syajaratin bi la tsimar. Ilmu tanpa amal ibarat pohon tanpa ada buah. Demikian disebutkan dalam satu pepatah bahasa Arab.

Jika yang paling dinanti adalah merekahnya buah-buah di setiap cabang atau ranting pohon, maka kerinduan itu boleh jadi bertepuk sebelah tangan. Sebab manusia terlanjur berhenti pada tingginya atau luasnya ilmu yang dicapai. Menjadikannya sebagai akhir tujuan dari perjalanan ilmu. Ilmu bukan lagi sebagai perantara untuk mengamalkan apa yang diketahuinya.

Lihat saja, ada sebagian orang tampak hidup semaunya. Tak peduli kejadian dengan sekitarnya. Baginya hidup untuk bersenang-senang sepuasnya.

Disinyalir al-Quran, perilaku demikian tak ubahnya binatang ternak yang hanya berpikir tentang urusan perut dan di bawahnya saja. Toh, menurutnya, apa-apa juga milik dia. Ilmu dan harta yang didapat karena kerja kerasnya. Tak ada urusan dengan orang lain.

Bagi orang beriman, sikap tersebut tentu keliru. Fitrahnya manusia adalah hidup secara berjamaah dalam bingkai ukhuwah imaniah. Ada toleransi dan saling menasihati dalam kebaikan dan kesabaran. Mereka berlomba untuk urusan amal shaleh dan ibadah. Sebab diyakini, ilmu hanya bermanfaat saat diamalkan dan didakwahkan. Bukti manfaat ilmu ialah kepedulian dan kepekaan terhadap sesama.

Didapati dalam lembar sejarah, ada sosok Abu Hurairah (semoga Allah meridhainya), yang tak punya apa-apa selain ilmu. Tidurnya banyak dihabiskan di emperan masjid. Tapi namanya harum mewangi sepanjang masa karena manfaat ilmunya.

Ada Abdurrahman bin Auf (semoga Allah meridhainya). Harta kekayaannya tak kunjung habis. Padahal setiap waktu harta itu dihabiskan dan dibelanjakan untuk kepentingan dakwah, jihad, hingga sosial.

Ada pula Amru bin Jamuh dan Abdullah bin Ummi Maktum (ridhailah mereka semuanya ya Rabb). Secara fisik mereka cacat. Ada yang kakinya pincang, ada yang matanya buta.

Namun nama-nama itu terukir indah karena prestasi yang ditorehnya. Selalu ada manfaat, itulah tekad baja mereka. Mereka sadar, apapun itu, takaran manusia dilihat dari kadar iman dan manfaatnya kepada sesama. Bukan pada apa yang dipunyai semata. Apalagi jika sekadar sebagai koleksi yang dibanggakan.

MASYKUR SUYUTHI