JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Departemen Luar Negeri Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah menggelar Hidayatullah Global Forum 2019 yang berisi mudzakarah peradaban yang digelar di Aula Lantai II Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Jakarta, Selasa (12/11/2019).
Acara ini mengangkat tema “Universitas untuk Apa? Memahami Persoalan-Persoalan Universitas Konvensional dan Mempersiapkan Pemecahan-Pemecahannya Dalam Peradaban Islam”.
Hadir dalam kesempatan tersebut Ketua Umum DPP Hidayatullah Dr H Nashirul Haq dan pembicara utama Prof Wan Mohd Nor Wan Daud Pendiri CASIS (Center for Advanced Studies on Islam, Science and Civilization) Universiti Teknologi Malaysia serta dipandu oleh Ketua Deplu DPP Hidayatullah Dzikrullah W Pramudya.
Prof Wan Mohd Nor Wan Daud dalam pemaparannya mengemukakan beragam permasalahan yang dihadapi dunia kersarjanaan/ perguruan tinggi dewasa ini beserta solusi pemecahannya.
Menurut Wan, ada problem serius yang menjangkiti apa yang disebutnya dengan “universitas tradisional”. Diantara masalah tersebut adalah adanya kekeliruan dalam memahami Ilmu dan hilangnya adab. “Confusion and error in knowledge (‘Ilm), the loss of Adab,” kutipnya.
Di samping itu, umumnya universitas juga menghadapi kenyataan yang tak kalah serius yaitu minimnya dosen yang berkualitas ulama. Sementara di sisi yang lain, kurangnya kesabaran menjalani proses dalam melahirkan sarjana-sarjana berkualitas yang seharusnya.
Masalah-masalah tersebut semakin kemaruk karena tiadanya kepercayaan diri serta adanya dominasi keharusan merujuk pada standar Barat sekular dalam asas dan mekanisme universitas.
Sebab itu, dia berharap Hidayatullah dapat tampil menghadirkan universitas yang memadai dalam melahirkan sarjana-sarjana muslim tangguh. “Hidayatullah punya waktu dan modal untuk melahirkan bentuk universitas yang otentik Islamnya,” imbuhnya.
Dia menegaskan, bukan melahirkan sesuatu yang baru tapi melanjutkan apa yang sudah dibuat oleh para Nabi dan Rasul serta para ulama penerusnya.
Menurut beliau, Universitas Harvard, Chicago, Oxford bukan besar karena orang tempatan, tapi mereka mengumpulkan akal-akal terbesar dari berbagai peradaban dunia.
“Universitas Hidayatullah akan mengumpulkan akal-akal terbesar dalam peradaban Islam dan dari manapun,” harap Prof Wan.
Ditambahkannya, sebuah universitas seharusnya merupakan gambaran dari manusia universal atau ‘insan kamil’.
Secara sederhana, insan kamil adalah seorang yang sanggup menampakkan sifat-sifat ketuhanan dalam perilakunya dan betul-betul menghayati kesatuan esensialnya dengan wujud Ilahiah tanpa harus kehilangan identitasnya sebagai seorang hamba dan makhluk-Nya.
Dalam forum ini hadir sejumlah cendekiawan muslim yang juga turut memberikan brainstorming seperti Dr Adian Husaini, Dr. Syamsuddin Arif, Adnin Armas, M.A, Dr Tiar Anwar Bachtiar dan hadirin undangan dari berbagai kalangan. (ybh/hio)
ACEH UTARA (Hidayatullah.or.id) – Sebuah bangunan yang diwacanakan untuk membangun sebagai Asrama Tahfizul Quran di pedalaman Kecamatan Nisam, Kabupaten Aceh Utara, terlihat terlantar. Bangunan yang baru rampung sekitar 20 persen itu, didirikan sejak masa konflik Aceh atau sekitar 18 tahun lalu, di Gampong Blang Karieng, Duson Cot Dua Nisam, Kabupaten Aceh Utara.
Bangunan yang terdiri dari delapan ruang kelas itu baru selesai dibangun pondasinya. Dan saat ini, sudah dipenuhi dengan rerumputan. Sementara di areal bangunan tersebut juga sudah didirikan Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Tahfizul Quran yang dipimpin oleh Teungku Basri Hasan.
Bendahara sekaligus Pusat Informasi Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Tahfizul Quran, Teungku Ilyas mengatakan, pondasi bangunan itu sudah didirikan sekitar 18 tahun silam.
“Jadi ini yang dibangun asrama Tahfizul Quran. Dari 18 tahun lalu hingga sekarang belum berdiri dan baru selesai hingga pondasi saja,” katanya kepada AJNN, Ahad (10/11/2019).
Sambungnya, bangunan itu dibangun sejak masa konflik Aceh dulu. Jadi ketika itu, material yang hendak dibawa untuk melanjutkan pembangunan asrama itu terhenti di tengah jalan karena kontak senjata.
“Dulu bangunan ini merupakan bantuan CSR dari Arun, karena konflik makanya terlantar tidak bisa dilanjutkan,” ujarnya.
Pihaknya berharap ada perhatian khusus dari pemerintah daerah ataupun dermawan lainnya untuk membantu melanjutkan pembangunan asrama itu. Mengingat, masyarakat setempat dan santri yang tinggal di daerah itu juga menginginkan asrama itu bisa difungsikan.
“Pondok Pesantren Hidayatullah Tahfizul Quran ini ada 30 santri, dari berbagai daerah seperti Bireuen, Lhokseumawe, Aceh Utara dan Aceh Timur. Mereka sangat menginginkan asrama tersebut bisa difungsikan,” ujarnya (ajnn).
TANGERANG (Hidayatullah.or.id) — Satuan teritorial tingkat kecamatan TNI Angkatan Darat, Komando Rayon Militer (Koramil) 03/Serpong melaksanakan giat Jumat Bersih di Komplek Pondok Pesantren Hidayatullah Tangerang.
Kegiatan tersebut merupakan agenda rutin Koramil menggandeng masyarakat dalam rangka menciptakan lingkungan bersih dan sehat.
Kali ini Koramil 03/Serpong bersama tiga pilar melakukan Jumat Bersih (Jumsih) di Ponpes Hidayutullah yang berlokasi di Kampung Jeletreng, Kelurahan Serpong, Kecamatan Serpong, Kota Tangsel, Jum’at (8/11/2019).
Jumsih di Ponpes tersebut selain menurunkan anggota Koramil 03/Serpong Kodim 0506/Tgr ikut juga anggota Yon Arhanud 1 Kostrad, anggota Polsek Serpong dan pihak Muspika Kecamatan Serpong.
Pada kesempatan itu Danramil mengatakan bahwa Jumsih ini bertujuan untuk menciptakan edukasi kepada warga masyarakat dalam menciptakan lingkungan bersih ban sehat.
Selain itu lebih lanjut Danramil menambahkan, Jumsih tiga pilar untuk memberikan edukasi kepada warga masyarakat pentingnya lingkungan bersih dan sehat. Selain kebersihan yang dicapai nilai gotong royong juga dapat tercipta di wilayah.
Mengambil sasaran di Pondok Pesantren dinilai sangat tepat dalam kegiatan Jumsih ini, karena disamping untuk membangun kebersamaan dan gotong royong, Lingkungan bersih dan indah juga dijadikan ajang silaturrahmi kepada Kyai dan para santri Ponpes tersebut. (Kodam Jaya)
YAMAN (Hidayatullah.or.id) — Bahagia nian hati dua pengantin baru ini. Adalah Muhammad Mushab Muhtaddin dari Indonesia yang juga kader Hidayahtullah Ternate yang mempersunting Syeikho Ikhlas Salim Akhmad Bakhail, guru tahfidz Quran mutqin 30 juz, bersanad dan Qiraah ‘Ashiim.
Prosesi pernikahan dimulai pada hari Kamis tanggal 7 sampai 8 November 2019. Dihadiri kurang lebih 80 orang dari Indonesia-Malaysia, daerah Tarim – Mukallah – Ghailbawazir.
Adapun proses pernikahan meliputi; Kamis malam Haflah Bannat di rumah mempelai wanita, ijab qobul bada Ashar di Masjid Dzahban. Pada Jum’at sorenya ada shoutul henna lalu walimatul Ursy selepas Maghrib dan Jumat malam Zafaaf.
Semoga pernikahan ini diberkahi Allah dan menjadi keluarga sakinah mawaddah wa rahmah sedunia dan sejannah. Diberikan anak shaleh shalehah. Insya Allah, dengan kehadirah Syeikho Ikhlas meningkatkan jumlah hafidzah di Ternate khususnya PPTQ Hidayatullah Ternate.*/Ghail Bawazier, asrama Tahfidz Putri/Ummu Nabiel El Khoiri
MEDAN (Hidayatullah.or.id) — Dalam rangka memenuhi tuntutan organisasi yang terus berkembang dalam menunjang upaya pengembangan dakwah Hidayatullah, Pengurus Pusat Muslimah Hidayatullah kembali menggelar kegiatan Dauroh Marhalah Wustha bagi kader-kader Mushida di wilayah Sumatera Utara, dengan tema “Mengokohkan Jati Diri, Menguatkan kultur Jamaah menuju Terbangunnya Peradaban Islam”, diselenggarakan di kota Medan, Sumatera Utara, 2-5 Rabiul Awwal 1441 H (30 oktober-2 November 2019).
Dalam kegiatan yang berlangsung selama 4 hari secara intensif ini, sebanyak 30 kader Mushida perwakilan dari wilayah-wilayah di Sumatera Utara menerima materi tentang penguatan jati diri Hidayatullah.
Daurah Marhalah Wustho merupakan salah satu bentuk jenjang pengkaderan daiyah yang diinisiasi oleh Hidayatullah kepada seluruh kader-kadernya untuk semakin siap menjalankan dakwah Islam di bawah naungan Hidayatullah.
Panitia acara, Ummi Aryati Fathanah, menyampaikan harapan dengan adanya marhalah ini semakin memperkuat langkah dakwah para daiyah di seluruh cabang-cabang Hidayatullah, semakin menguatkan hati dan paham dengan konsep-konsep dakwah Hidayatullah yang bermanhaj Sistematika Wahyu sebagai salah satu jati dirinya.
“Kita semua adalah daiyah, yang kelak akan dimintai pertanggung jawabannya di akhirat kelak, oleh karena itu mari kita bersama-sama menyeru pada jalan Allah dengan cara-cara terbaik semampu kita,” ucap Ummi Aryati yang jg merupakan Bendahara PW Mushida Sumatera Utara.
Alhamdulillah, seluruh peserta sangat antusias mengikuti Marhalah ini, berharap kembali ke tempat tugas masing-masing dengan membawa spirit dakwah dan mengaplikasikannya dengan penuh pengharapapan semata-mata karena Allah swt.
Acara ini terlaksana atas dukungan berbagai pihak, di antaranya PosDai, Laznaz BMH, Majalah Sahid, dan lain-lain.*/Evi-Medan
LAMPUNG (Hidayatullah.or.id) — Berpetualang di alam terbuka selalu mampu memberikan kesegaran bagi pikiran, melatih kekompakan dan menumbuhkan kreatifitas. Hal itulah yang dirasakan oleh Persaudaraan Dai Indonesia (Posdai) Lampung yang melakukan kegiatan tamasya (rihlah) di Pulau Tangkil Bandar Lampung pada tanggal 2-3 November 2019.
Acara ini di hadiri oleh sedikitnya 50 dai dan dibersamai oleh seluruh jajaran kepengurusan Dewan Pengurus Daerah (DPD) dan Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Lampung.
Hadir sebagai pemateri dalam acara itu adalah Ust Thoifur Bustomi M.Pd.I selaku Ketua DPW Hidayatullah Lampung dan juga Ustadz Muhammad Nawir selaku Ketua Bidang Dakwah DPW Hidayatullah Lampung.
Acara digelar 2 hari mengusung tema “Bersama Dai Membangun Negeri” ini berlangsung khidmat dan seru dengan berbagai kegiatan. Tidak saja kegiatan upgrading penguatan visi dakwah sebagai bagian dari pengabdian keumatan, kegiatan ini juga disertai dengan sejumlah permainan yang melatih kekompakan dan kerjasama.
Selain materi pembekalan, ada juga acara bebas yaitu mancing, olahraga bersama dan snorkeling. Harapan dari acara ini adalah menumbuhkan jiwa berjamaah dalam dakwah dan sekaligus mengasah kemampuan para dai. Semoga apa yang kita laksanakan menjadi penyebab daripada dagangannya rahmat Allah SWT. Aamiin.*/Haryanto Abdillah
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Lembaga filantropi Baitul Maal Hidayatullah (BMH) selama tiga hari, 5-7 November ini menggelar rapat kerja nasional (Rakernas) di Makassar, Sulawesi Selatan. Kegiatan kali ini akan membahas penguatan platform lembaga amil zakat (LAZ) yang inovatif, efektif, dan efisien.
BMH melihat kondisi lingkungan baik internal maupun eksternal serta dalam skala mikro dan makro yang semakin berubah. Untuk mengimbangi perubahan itu, BMH berupaya untuk menjadi platform zakat yang semakin baik.
“Kita mencoba berbenah agar pengelolaan kita semakin baik, terpercaya, dan dari sisi pengelolaan juga efisien. Bicara zakat berarti berbicara efisiensi sesuai syariah, dan ini termasuk meningkatkan trust (kepercayaan) masyarakat,” ujar Direktur Utama Laznas BMH, Marwan Mujahidin saat berkunjung ke kantor Republika, Jumat (1/11).
Marwan menyebut dari karakter publik yang kini sudah banyak muncul perubahan, maka tidak sedikit yang menginginkan adanya kemudahan dan transparansi. Maka inovasi menjadi hal yang mutlak dan BMH berusaha untuk memenuhi harapan tersebut.
Pihaknya juga berusaha meningkatkan program-program yang telah dimiliki sebagai bentuk pertanggungjawaban atas dana umat. Efektifitas diperlukan agar peningkatan ini tercapai sembari menunjukkan transparansi kepada publik.
“Untuk efisiensi, karena ini berbicara ibadah dan ada batasan syariahnya. Maka untuk kita berupaya semaksimal mungkin agar bisa sesuai dengan regulasi syariah sembari menjalankan pengelolaan,” kata dia.
BMH telah berusia 19 tahun dan tersebar di 28 provinsi serta 60 kabupaten/kota. Agustus kemarin, BMH menerima dua penghargaan dari Baznas untuk kategori pendistribusian ZIS terbaik dan kelembagaan terbaik.
Marwan melanjutkan, saat ini peran dunia digital dalam konteks gerakan zakat sangat luar biasa. Dengan adanya potensi dan beragam nominal yang muncul, angka ini tidak memiliki arti apa-apa jika lembaga zakat tidak melakukan hal-hal yang inovatif, khususnya pendekatan pada dunia teknologi.
Industri filantropi disebut semakin tumbuh dan pesat karena pendekatannya sudah memudahkan. Mulai dari proses sosialisasi, kemudahan akses, proses menjalankan program, hingga laporan kegiatan, hampir semuanya memanfaatkan teknologi. Hal ini dieprcaya dapat mendorong peningkatan dari penerimaan dana masyarakat, termasuk menaikkan kepercayaan.
BMH mencatat setiap tahunnya mengalami peningkatan dari target penerimaan ZIS. Dari tahun 2018 hingga 2019 ini, terjadi peningkatan hingga 30 persen.(ybh/hio)
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Tim Advokat dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Hidayatullah Pusat yang terdiri dari advokat DR Dudung Amadung Abdullah, SH, Agus Gunawan, SH, Hidayatullah, SH dan Andri Sukatma, SH, melakukan pendampingan pembebasan korban salah tangkap dalam aksi damai 21-22 Mei, bertempat di Mapolda Metro Jaya, Senin (04/11/2019).
Salah satu korban salah tangkap yang didampingi itu adalah Muhammad Said Hasnan, remaja Masjid Jogokariyan Yogyakarta. Para aktivis yang bebas ini adalah 5 orang dari 30 orang yang sebelumnya sudah menghirup udara bebas.
Pembebasan Hasnan diwarnai dengan proses yang dramatis. Hal ini diawali dengan perbedaan penghitungan tanggal mulai masa penahanan yang dilalui oleh Hasnan. Awalnya, Hasnan menjadi satu-satunya orang yang tertinggal dari lima orang yang akan bebas hari itu. Namun, setelah dilihat berkas-berkas sebelumnya, ternyata fakta menunjukan bahwa Hasnan harus bebas pada hari Senin (04 November 2019).
Jaksa Penuntut Umum Rianiully Raneta, S.Kom, SH, MH. dari Kejaksaan Negeri Jakarta Pusat langsung memerintahkan Hasnan untuk segera berkemas. Mendengar hal tersebut, Hasnan langsung sujud syukur. Sementara kawan-kawanya yang lain langsung bertakbir.
Saat seluruh aktivis yang didampingi Tim LBH Hidayatullah keluar dari Ruang Tahanan Narkoba Polda Metro Jaya, tempat selama 3 bulan 25 hari mereka menjalani masa hukuman, mereka disambut oleh keluarga, sahabat-sahabat mereka serta dari Komunitas Barisan Emak-Emak Milenial (BEM). Bahkan sebagian kawan-kawan aktivis yang sebelumnya sudah bebasr turut hadir memberikan dukungan moril.
Muhammad Said Hasnan beserta kawan-kawan adalah peserta Aksi Damai pada 21-22 Mei di seputaran Sarinah Jakarta Pusat. Hasnan dan kawan-kawan mengaku bahwa mereka adalah korban salah tangkap, karena sejatinya mereka mau pulang dan membubarkan diri dari arena aksi.
Akan tetapi, karena suasana memanas akibat ulah masa yang tiba-tiba datang melakukan provokasi dan pelemparan mereka terjebak tidak bisa menghindar. Hasnan sendiri mencari aman dengan berlindung diantara mobil crew media televisi yang melakukan peliputan.
Saat suasana semakin memanas dan dilakukan penangkapan terhadap pelaku kerusuhan, Hasnan yang berada diantara wartawan tidak bisa menunjukan kartu pers, sehingga dianggap pelaku kerusuhan yang menyusup ketengah-tengah wartawan. Secara kebetulan didepan Hasnan ada orang yang diamankan, sehingga Hasnan dianggap temannya.
Pada Kesempatan ini, Dudung Amadung Abdullah, selaku Direktur LBH Hidayatullah mengucapkan terima kasih kepada seluruh elemen masyarakat, termasuk pada komunitas Barisan Emak-Emak Milenial yang selama ini mengawal perkara ini sampai dengan pembebasan para aktivis.
Dudung juga berharap semoga para aktivis bisa berkiprah ditengah masyarakat dan memberi kontribusi bagi pembangunan bangsa.(LBHH)
SURABAYA (Hidayatullah.or.id) —Supermarket dengan corak bangunan berkelir hijau dominan yang berada di Jalan Arif Rahman Hakim, No. 32, Surabaya, Jawa Timur itu tak pernah sepi pengunjung.
Saban hari, tempat parkir mobil dan sepeda motor selalu penuh. Para pengunjung datang pergi, silih berganti. Apalagi setelah gajian, dapat dipastikan terjadi antrean yang cukup panjang di setiap kasir.
Adalah supermarket As-Sakinah, yang merupakan salah satu unit usaha Koperasi Pondok Pesantren (Kopontren) Hidayatullah As-Sakinah Surabaya.
Ketua Kopontren Hidayatullah As-Sakinah Surabaya, Muhammad Ali mengatakan, supermarket As-Sakinah bermula dari kegiatan usaha koperasi yang dirintis tahun 1991. Pertama kali yang dilakukan oleh pengurus yaitu, kegiatan usaha menyuplai kebutuhan bahan pokok (sembako) masyarakat sekitar seperti beras, gula, minyak goreng, dan lainnya.
“Khususnya bagi anggota (koperasi) dan kepada donatur serta simpatisan pondok pesantren pada umumnya,” imbuh Ali, sapaan akrabnya, saat berbincang dengan hidayatullah.com di Distribution Center (DC) Kopontren As-Sakinah, Jalan Keputih Tegal, No. 100-103, Surabaya, beberapa waktu lalu.
Setelah berjalan kurang lebih selama 3 tahun, Ali melanjutkan, pada tahun 1993, pengurus mendirikan minimarket dengan luas 200 meter persegi. Lalu, melakukan perluasan lahan menjadi 500 meter persegi pada tahun 2000. “Nah, tempat usaha inilah yang menjadi cikal bakal berkembangnya supermarket As-Sakinah,” ujarnya.
Saat ini, supermarket As-Sakinah (Pusat) berdiri di atas lahan seluas 2.500 meter persegi, di mana 1.500 meter persegi dibangun untuk gedung 2 lantai dan sisanya dimanfaatkan sebagai tempat parkir untuk karyawan maupun para pengunjung.
Per Juni 2019, supermarket yang menjadi tempat berbelanja favorit mahasiswa serta masyarakat di sekitar Kampus Institute Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya ini punya cabang sebanyak 20 ritel modern syariah (minimarket) yang tersebar di beberapa wilayah Jawa Timur.
Mengurangi Tingkat Pengangguran
Bukan tanpa alasan, pengelola Kopontren Hidayatullah As-Sakinah gencar dalam membangun serta mengembangkan puluhan ritel modern syariah dengan skema mandiri dan kemitraan. Bahkan untuk menyuplai segala kebutuhan produk untuk seluruh ritel, kopontren membangun gedung sebagai pusat distribusi (DC).
“Sebagaimana visi para pengurus (kopontren), lewat jaringan ritel modern syariah ini, kami ingin ikut berperan dalam pembangunan ekonomi umat,” tambahnya.
Menurut Ali, ketika perekonomian umat terbangun secara kuat dan kokoh, maka kesejahteraan bangsa juga akan dengan mudah diwujudkan. Karena itu, pengurus berikhtiar untuk terus mengembangkan ritel-ritel modern syariah sebagai sebuah kontribusi dalam mewujudkan kesejahteraan, khususnya bagi masyarakat sekitar.
“Saat ini, ritel-ritel (minimarket) kami sudah tersebar di Surabaya, Malang, Gresik, Lamongan, dan Kediri,” bebernya merinci.
Ali mengatakan, sejauh ini kehadiran supermarket dan ritel-ritel modern syariah Kopontren Hidayatullah As-Sakinah, mendatangkan banyak maslahat (kebaikan) dan memberi manfaat kepada masyarakat sekitar seperti terpenuhinya beragam kebutuhan mereka dengan harga murah dan terjangkau.
“Kami memang mengambil keuntungan sangat kecil untuk setiap produk sehingga harganya murah. Karena, segmen pasar yang kita bidik masyarakat menengah ke bawah,” jelasnya.
Seorang pengunjung supermarket As-Sakinah, Maflihatul Azma Afifah, mengaku senang dan merasa nyaman ketika berbelanja di supermarket As-Sakinah karena pelayanan yang baik serta kebersihan lingkungan yang senantiasa terjaga.
“Tempat parkirnya juga luas dan gratis,” imbuh wanita yang akrab disapa Icha ini ketika ditemui hidayatullah.com, di supermarket As-Sakinah, akhir Oktober lalu.
Yang menarik, Icha mengatakan, harga produk yang ditawarkan supermarket As-Sakinah lumayan miring, alias murah. Karena itu, ia rela jauh-jauh serta berpanas-panasan mengendarai sepeda motor dari Manyar Sabrangan ke supermarket As-Sakinah, hanya untuk membeli sampo serta sabun mandi, pada siang itu.
“Saya sengaja ke sini untuk belanja. Bukan karena lewat lalu singgah. Ketika masih kuliah, saya sering belanja di sini,” ujar Icha, yang baru menyelesaikan studinya di Universitas Hangtuah Surabaya tahun kemarin.
Icha berharap, ke depan pengelola Kopontren Hidayatullah As-Sakinah membuka cabang supermarket As-Sakinah, tidak hanya di wilayah Jawa Timur, tetapi juga di seluruh Indonesia, agar kebermanfaatannya bisa dirasakan oleh masyarakat luas.
Hadirnya supermarket As-Sakinah, Ali menambahkan, juga memiliki peran penting dalam mengurangi tingkat pengangguran, lewat penyerapan tenaga kerja/Sumber Daya Manusia (SDM)—yang direkrut menjadi karyawan sebagai pelaksana seluruh aktivitas usaha kopontren.
Untuk menjadi karyawan khususnya pramuniaga dan bagian gudang pada ketiga divisi itu, pengurus pun tidak menuntut persyaratan yang rumit. Minimal lulusan SMA atau sederajat, bisa membaca al-Qur’an, ibadah shalatnya bagus, serta siap untuk belajar. “InsyaAllah diterima dan tentu menyesuaikan kebutuhan,” ujarnya.
Muhammad Iqbal, salah satu pramuniaga supermarket As-sakinah membenarkan, bahwa persyaratan untuk masuk menjadi karyawan tidak rumit. Hanya saja, lanjut pria yang akrab disapa Iqbal ini, ada tambahan persyaratan yang berbeda dengan lamaran kerja pada umumnya.
“Dites ngaji al-Qur’an, bisa atau enggak. Terus siap mengikuti majelis taklim enggak. Karena setiap bulan sekali ada majelis taklim. Dan sepekan sekali juga ada halaqah al-Qur’an. Nah, di situlah nantinya kita dituntut untuk siap belajar,” terangnya.
Bagi alumnus Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Gresik, Jawa Timur ini, hal itu tentu tidak menjadi persoalan. Justru, ia mengaku senang dan bahagia dapat bekerja di supermarket As-Sakinah selama kurang lebih 3 tahunan. Selain kecukupan materi, pria asli Lamongan ini mengaku kebutuhan ruhaninya juga terpenuhi dengan baik.
“Saya merasakan langsung, sebelum kerja di supermarket Sakinah, saya bekerja di food court gitu, ibadah itu terbatasi. Hari raya juga enggak dapat cuti,” kenangnya.
Kini, jumlah total karyawan mulai dari supermarket, ritel, gudang (DC), staf kantor dan Baitul Tamwil Hidayatullah (BTH) mencapai sekitar 300-an orang. Dan uniknya, seluruh karyawannya adalah pria. Kenapa?
Ali menjelaskan, hal itu sebagai bentuk kehatian-hatian dari pengelola kopontren supaya tidak terjadi ikhtilat (berbaur antara pria dan wanita, tanpa ada batas yang memisahkan antara keduanya) dalam bekerja.
Meningkatkan Pendapatan Anggota
Setelah usaha ritel modern syariahnya mengalami peningkatan penjualan karena optimalisasi kinerja dan berbagai terobosan, tahun 2013, Kopontren Hidayatullah As-Sakinah pun menjajaki bisnis baru yaitu Unit Simpan Pinjam serta Pembiayaan Syariah (USPPS) yang lebih dikenal dengan nama Baitul Tamwil Hidayatullah (BTH).
Manager BTH Kopontren As-Sakinah, Muhammad Daud mengatakan usaha USPPS dirintis karena dinilai memiliki potensi bisnis yang cukup besar. Serta kepercayaan anggota untuk berinvestasi pada usaha ini sangat tinggi. Hal itu dibuktikan dengan persentasi pertumbuhan dana simpanan.
“Tahun 2017, USPPS menyalurkan pembiayaan sebesar 3,6 miliar kepada anggota koperasi,” kata Daud, sapaan akrabnya, saat berbincang dengan hidayatullah.com akhir Oktober lalu.
Menurut Daud, anggota adalah sumber daya utama bagi koperasi, sebagai pemilik serta pengguna jasa yang memainkan peran penting di dalam koperasi. Sebab itu, melalui rangkaian perbaikan tata kelola, pengurus BTH menargetkan penambahan jumlah anggota, dari total saat ini sebanyak 472 menjadi 1.000 orang.
Bagi anggota, Daud melanjutkan, kehadiran kopontren tentu dapat meningkatkan pendapatan, sebagaimana manfaat dari dibentuknya koperasi. Selain memberikan kontribusi ke masyarakat, koperasi punya peran penting dalam mensejahterakan anggotanya. “Ini yang menjadi skala prioritas pengelola Kopontren As-Sakinah,” tegas Daud mantap.
Sukarno, warga Keputih Timur mengaku sangat terbantu dengan menjadi anggota BTH Kopontren Hidayatullah As-Sakinah. Selain untuk meningkatkan pendapatan, sebagai seorang pelaku usaha voucher pulsa, ia mendapat kemudahan setiap kali mengajukan pinjaman ke BTH.
“Terakhir saya pinjam 25 juta untuk tambahan modal usaha,” jelas Sukarno yang menjadi anggota BTH sejak 2016 ini, ketika berbincang dengan hidayatullah.com di kantor BTH Kopontren Hidayatullah as-Sakinah, akhir Oktober lalu.
Kopontren yang memperoleh penghargaan sebagai Koperasi Berprestasi 2018 dari Kementerian Koperasi dan UKM ini, mengalami pertumbuhan kinerja yang sangat baik dari sisi aset, omzet, dan laba. Tahun 2017, pertumbuhan laba bersih naik 16 persen, asetnya meningkat 22 persen, kemudian omzetnya naik 25 persen.
Masih pada tahun yang sama, Kopontren Hidayatullah As-Sakinah mendapat Sisa Hasil Usaha (SHU) yang cukup besar. Sebagian dibagikan ke anggota, sebagian lagi diperuntukan sebagai cadangan, dana sosial, pendidikan, dan lainnya. “Dari tahun ke tahun, Kopontren As-Sakinah terus membukukan SHU yang terus bertumbuh,” tutupnya.*/Achmad Fazeri