Beranda blog Halaman 489

Hidayatullah Depok Dipilih Jadi Tempat Workshop Dapodik

0

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Depok dipilih menjadi lokasi kegiatan workshop Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dalam rangka memaksimalkan peran operator dalam Data Pokok Pendidikan (Dapodik).

Acara tersebut diselenggaralan oleh Pusat Kegiatan Gugus (PKG) Cerdas Kecamatan Cilodong, Kamis (12/9/2019). Dimana, dalam kegiatan pendampingan operator dapodik tersebut, tema yang diusung adalah “Sukses Bersama Dapodik”.

Ketua PKG Cerdas Kecamatan Cilodong, Noora Sulistyawati mengatakan, kegiatan workshop tersebut adalah bantuan dari Pemkot Depok untuk operator sekolah di jenjang PAUD.

Meskipun, lanjut dia, dalam waktu yang mepet, tetapi setidaknya ada 95 operator lembaga PAUD yang ikut serta dalam pelatihan yang diadakan di ruang serba guna Pesantren Hidayatullah, Kecamatan Cilodong.

“Peran dapodik sangat penting, karena datanya terkoneksi langsung dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud),” ucapnya.

Noora menjelaskan, oleh karena itu pengetahuan operator tentang input data dapodik, harus terus diperbaharui. Itu agar segala perubahan yang ada di Kemendikbud, bisa segera diketahui oleh operator sekolah. Dapodik sangat berpengaruh pada perkembangan sekolah dan guru, dan tentu saja akan berimbas juga ke peserta didik.

“Jadi peran operator sangat penting untuk menginput data sekolah. Jadi, segala bantuan atau perhatian dari pemerintah dilihat dari dapodik yang diinput oleh operator,” terangnya.

Sementara itu, Kabid PAUD dan Pendidikan Masyarakat (Dikmas) di Dinas Pendidikan Kota Depok, Tatik Wijayati menuturkan, di Revolusi Industri 4.0, tentunya sekarang ini tidak terlepas dari dunia teknologi.

Oleh karena itu, kata Tatik melanjutkan, semua orang harus bisa memahami tentang penggunaan teknologi. Kemendikbud pun menerapkan hal tersebut dalam berbagai programnya, yang salah satunya adalah tentang dapodik.

“Dengan adanya dapodik, tentunya sekolah juga jadi memiliki buku besar tentang data sekolah. Jadi, jika ada permintaan data sekolah secara mendadak, pihak sekolah bisa mengambil dari buku besar tersebut,” terangnya.*/Radar Depok

Bahagianya Ojol Bisa Bekerja Sambil Tetap Belajar Mengaji

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — “Alhamdulillah, saya bersyukur sekali ada program ini sehingga saya bisa belajar mengaji di sela-sela kerjaan,” ujar Dede Suryana pada pertemuan perdana program Ojol Mengaji yang bertempat di The Jayakarta House, Jalan Haji Samali No. 67, Kalibata, Jakarta Selatan, Kamis (05/09/2019) malam.

Dede salah satu dari sekian driver ojek online (ojol) yang terdaftar sebagai peserta pada program Ojol Mengaji yang diinisiasi oleh The Jayakarta House di bawah naungan Dewan Pengurus Daerah (DPD) Hidayatullah Jakarta Selatan.

Kesehariannya dalam mencari rejeki sebagai driver tidaklah menyurutkan semangatnya untuk mempelajari Al-Quran sehingga kemudian mendorongnya untuk mendaftarkan diri pada program ini.

Pada pertemuan perdana ini, hadir sebagai pengarah dan pemateri, penanggung jawab program dan juga Ketua Departemen Dakwah dan Tarbiyah DPD Hidayatullah Jakarta Selatan, Ust Amin Insani.

Dalam sambutannya, Amin menegaskan, bahwa kewajiban mempelajari Al-Quran adalah kewajiban bagi setiap muslim, terlepas dari apapun latar belakang pekerjaannya.

Kemudian, lanjut dia, The Jayakarta House siap memfasilitasi tempat bagi pembelajaran Al-Quran tersebut dan menyediakan sumber daya pengajar Al-Quran yang kompeten dari dai-dai Hidayatullah.

Program Ojol Mengaji ini adalah gagasan dari salah seorang anggota El-Mahalli (Mahasiswa Hidayatullah di LIPIA), Chairy, yang kesehariannya bekerja sampingan sebagai driver ojol di sela-sela aktivitas utamanya sebagai mahasiswa di LIPIA.

Dalam perjalanannya, Chairy mendapati bahwa banyak driver ojol yang punya kemauan kuat untuk belajar Al-Quran namun kesulitan mencari tempat dan pengajar yang pas dan sesuai dengan profesi mereka. Beberapa dari mereka meminta tolong kepada Chairy untuk membantu mencari program yang tepat.

Hal tersebut kemudian Chairy sampaikan kepada Ust Ryan dan Ust Suwito, ketua dan sekretaris DPD Hidayatullah Jakarta Selatan.

Gayung bersambut, gagasan tersebut direspon dengan cepat oleh DPD Hidayatullah Jakarta Selatan yang kemudian menginisiasi program ini dan menugaskan Ust Amin sebagai penanggung jawab dan Chairy sebagai koordinator pendaftaran driver yang ingin bergabung ke dalam program.

Dalam pertemuan pertama ini, dibahas bersama mengenai kesiapan para driver dan keluangan waktu mereka yang kemudian akan diakomodir menjadi jam-jam pembelajaran beberapa kali setiap pekannya.

Pada lain tempat, Ust Ryan sebagai ketua DPD Hidayatullah Jakarta Selatan dalam pernyataannya berharap program ini dapat menjadi program unggulan The Jayakarta House pada bidang dakwah yang manfaatnya dapat secara efektif dirasakan oleh mereka yang memang membutuhkan sentuhan dakwah dalam padatnya aktifitas kerja keseharian.*/Ahmad D. Rajiv

Silaturrahim Wakapolda ke Kampus Hidayatullah Makassar

MAKASSAR (Hidayatullah.or.id) — Alhamdulillah, Jumat pagi ini (12/09/2019), Kampus Utama Pondok Pesantren Hidayatullah Makassar, Provinsi Sulawesi Selatan mendapatkan kunjungan kehormatan. Yakni, silaturrahim Wakapolda Sulsel Brigjen Polisi Drs. Adnas, M. Si.

Dalam kunjungan silaturrahim ini Wakapolda tidak sendiri, ia ditemani oleh Dirintelkam Polda Sulsel Kombes Pol Aditya Warman, S.H. dan Kasubdit Kamsus Kompol Drs. Masyur Syah, MM.

Saat silaturrahim ini, Wakapolda Sulsel diterima langsung oleh Ir. H. Abdul Aziz Qahhar, M. Si, selaku Ketua Badan Pembina Yayasan Al Bayan Hidayatullah Makassar, Ustadz Abdul Majid dan anggota pengurus yayasan lainnya. Hadir pula Muhtar Daeng Lau selaku ketua FUIB (Forum Ummat Islam Bersatu).

“Saya suka silaturahmi, inti dari tugas kepolisian sebenarnya silaturahmi, karena dalam silaturahmi itu ada teman, ada informasi, ada keluhan dan masukan dari masyarakat. Dengan silaturahmi kita akan mendapatkan banyak teman, banyak kebaikan” ungkap Adnas yang sudah delapan kali menjadi Wakapolda ini, saat membuka cerita silaturahmi.

Suasana silaturahim di Hidayatullah Makassar ini terlihat begitu cair dan penuh canda tawa.

“Saya sengaja mencari acara yang tidak formal, agar bisa lebih dekat, lebih banyak cerita dan lebih santai,” lanjut Pak Wakapolda.

“Saya juga mau dekat dekat sama para Ustadz, biar ada kenaikan tingkat,” katanya menambahkan.*/Sarmadani

Mehdi Taushiyah Muharram di Masjid Besar Al Falah Toapaya

0

BINTAN (Hidayatullah.or.id) -– Pengurus Mesjid Besar Al Falah Kecamatan Toapaya mengundang Pimpinan Pondok Pesantren (Ponpes) Hidayatullah Bintan, Ustadz Mehdi, S.Sos, dalam acara Zikir dan tausiyah momentum Muharram di Mesjid Besar Alfalah. Acara Zikir dan Tausiyah ini juga dihadiri Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Kemenag Kecamatan Toapaya H. Zainal Nahra, S.Ag.

Acara dimulai kegiatan Zikir bersama yang dipimpin oleh PAI Non PNS; Supriyono. Setelah itu dilanjutkan dengan tausiyah oleh Ustadz Mehdi yang mengangkat tema Hijrah.

Ia mengatakan bahwa hijrah ada 2 macam, yaitu hijrah rohani dan hijrah jasmani. Hijrah jasmani adalah pergerakan dari suatu tempat ke tempat lain untuk melakukan kegiatan dakwah dan amal ma’ruf nahi munkar. Sedangkan hijrah rohani adalah dari yang berdosa menjadi berkurang dosanya, dari yang tidak baik menjadi kearah yang lebih baik.

Ustadz Mehdi mengajak para hadirin untuk menjadikan pergantian Tahun Baru Islam 1441 H sebagai momentum berhijrah menuju kualitas diri yang lebih baik lagi secara jasmani dan rohani.

Ia menambahkan bahwa ketika saatnya manusia berpulang kepada Allah, roh orang yang beriman akan dibawah oleh Malaikat Rahmat dan menempatkan roh manusia di tempat yang mulia.

Sedangkan, jelasnya, roh manusia yang tidak beriman dan tidak bertobat akan dibawa oleh Malaikat Azab ke tempat yang menyedihkan.

Setelah itu, sebagai penutup acara zikir dan tausiyah dilakukan pembacaan doa yang dipimpin oleh Kepala KUA Toapaya, Zainal Nahra.*/Amilia/ Kemenag Kepri

LBHH Dorong Mahasiswa Geluti Peran Advokasi di Era Disrupsi

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Direktur Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Hidayatullah, Dr. Dudung Amadung Abdullah, S.H, mendorong mahasiswa untuk turut menggeluti peran dalam bidang advokasi hukum di tengah era disrupsi saat ini. Hal tersebut disampaikan dia dikala menjadi narasumber Studium Generale Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Hidayatullah bertempat di Aula Pendidikan ‘Abdullah Said’ Balikpapan, Kalimantan Timur, Senin (9/9/2019).

Kegiatan yang mengusung tema ‘Peluang dan Tantangan Profesi Hukum di Indonesia Pada Era 4.0″ yang juga dikelanl Kuliah Perdana ini diikuti kurang dari lima ratus mahasiswa yang berasal dari dua Program Studi (Prodi) STIS, Prodi Hukum Keluarga (HK) dan Hukum Ekonomi Syariah (HES).

Pada kesempatan itu, Dudung Abdullah membahas urgensi dan strategi merespon perubahan masyarakat di era Revolusi Industri 4.0, khusunya bagi praktisi hukum.

Menurut Dudung, problematika hukum di tengah masyarakat kian bermacam-macam jenisnya seiring dengan kebutuhan penyelesaian hukum yang juga makin berkembang.

Dudung mengajak para mahasiswa setelah lulus kelak berkomitmen menjadi insan hukum yang dapat memberikan kontribusi positif bagi pembangunan hukum di Indonesia.

“Ini penting disadari, sarjana hukum seperti kalian, bukan hanya membina dan mencerahkan umat saja. Tapi juga harus berperan aktif memberi advokasi dan pembelaan hukum untuk masyarakat,” terang praktisi yang sudah mendampingi sejumlah kasus hukum selama ini.

Menurut Dudung, keadaan seperti ini menjadi satu titik lemah umat Islam yang kadang buta dengan persoalan hukum di Indonesia. Akibatnya, menurut dia, terkadang ada hal sepele yang seharusnya dihindari, justru orang itu terpeleset di dalamnya.

“Dakwah harus dengan ilmu. Bukan cuma modal semangat saja. Apalagi ada UU ITE sekarang,” tambahnya.

Sementara itu, Ketua STIS, Masykur Suyuti dalam sambutannya menekankan kepada para dosen dan mahasiswa akan pentingnya mempersiapkan diri menghadapi tantangan dan peluang hukum di era disrupsi.

Disebutkan, lingkungan sosial boleh berubah, tapi khidmat seorang Sarjana Dai terhadap dakwah tetaplah sama, tidak berubah.

“Jadi misinya tetap sama, untuk perbaikan umat dan tegaknya nilai agama. Tapi kemasan dakwah ini yang bisa bervariasi. Bukan cuma dibatasi di podium atau mengajar saja,” jelasnya.

Dalam kesempatan terpisah, Ketua Lembaga Pengembangan dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) STIS Hidayatullah, Herianto Muslim, menyatakan harapannya agar peningkatan kesadaran mahasiswa tentang pentingnya menguasai bidang hukum pada era disrupsi.

Diharapkan, sebagai langkah konkret, STIS segera menginisiasi terbentuknya LBH di lingkup kampus STIS Hidayatullah Balikpapan.

“Ke depan, pengabdian masyarakat STIS juga mencakup layanan bantuan hukum bagi masyarakat sekaligus menjadi laboratorium mahasiswa dalam altualisasi ilmu yang dipelajari,” ujar Herianto.

Acara berlangsung hingga jelang Zhuhur. Selain diramaikan oleh mahasiswa, juga tampak hadir, Pimpinan Umum Hidayatullah KH Abdurrahman Muhammad, Ketua Dewan Pembina YPPH KH Hasyim HS, sejumlah anggota Dewan Senat STIS, Ketua Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Balikpapan Ust Hamzah Akbar dan para tamu undangan lainnya.*/Lukman Hakim

Belasungkawa Wafatnya BJ Habibie dan Suriadi Rasyid

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — DPP Hidayatullah menyampaikan belasungkawa atas berpulangnya ke Rahmatullah, Presiden Ketiga RI, Bacharuddin Jusuf (BJ) Habibie, di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta Pusat, Rabu (11/09/2019).

DPP Hidayatullah menilai Habibie sebagai salah seorang putra terbaik yang dimiliki bangsa Indonesia.

“Keluarga besar Hidayatullah turut berduka cita dan merasa kehilangan atas wafatnya salah seorang putra terbaik bangsa,” ujar Ketua Umum DPP Hidayatullah Nashirul Haq kepada hidayatullah.com, semalam.

Tadi malam, Rabu, Nashirul mewakili ormas Hidayatullah turut bertakziyah ke tempat persemayaman jenazah Habibie di rumah duka, Perum. Patra Kuningan, Jl Patra Kuningan XIII, Jakarta Selatan sekitar pukul 22.15 WIB.

Nashirul menilai, BJ Habibie merupakan seorang pemimpin, cendekiawan, sekaligus negarawan yang patut dijadikan teladan.

Ia pun mengajak para pemimpin bangsa Indonesia saat ini untuk meneladani sosok mantan Wakil Presiden ke-7 itu.

“Almarhum adalah sosok pemimpin dan cendekiawan yang berintegritas dan memiliki kapasitas. Sosok negarawan yang patut diteladani para pemimpin di negeri ini,” ujar Nashirul.

Sosok BJ Habibie sudah begitu lama hadir secara khusus di benak warga dan jamaah Hidayatullah. Terutama setelah kunjungan Habibie sebagai Menteri Negara Riset dan Teknologi di Kabinet Pembangunan VII.

Saat itu Habibie menghadiri acara pernikahan barakah (dulu disebut pernikahan massal) di Pondok Pesantren Hidayatullah Pusat Gunung Tembak, Kota Balikpapan, Kalimantan Timur –berdasarkan catatan– pada tanggal 29 Mei 1994. Saat itu kehadiran Habibie disambut langsung oleh pendiri Hidayatullah, (almarhum) Ustadz Abdullah Said.

“Beliau (Habibie) pernah berkunjung ke Pesantren Hidayatullah Balikpapan dan memberi nasihat kepada para dai dan daiyah yang mengikuti pernikahan massal 61 pasang pada tahun 1994,” jelas Nashirul.

Namun, pada saat kunjungan Habibie itu, Nashirul sedang mendapatkan tugas dakwah ke Kota Depok, Jawa Barat.

“Saat itu kami sedang tugas di Depok bersama (almarhum) Pak Suryadi (Rasyid),” ujarnya.

Untuk diketahui, Suryadi Rasyid merupakan Ketua Yayasan Marhamah Hidayatullah Jakarta, yang juga Ketua DPW Hidayatullah Jabodetabek periode 2010-2015 dan turut merintis kehadiran Hidayatullah di Jakarta.

Sebagai informasi, Suryadi meninggal dunia di hari yang sama dengan wafatnya BJ Habibie. Suryadi yang merupakan dai tersebut menghembuskan nafas terakhirnya di RS Persahabatan Jakarta Timur, Rabu (11/09/2019) sekitar pukul 16.45 WIB, beberapa jam sebelum kepergian Habibie di RSPAD pada pukul 18.05 WIB.

Bagi jamaah Hidayatullah, baik sebagai warga negara Indonesia maupun warga organisasi, sejak Rabu kemarin merupakan hari berkabung mereka atas kepergian dua sosok tersebut.

Berdasarkan agenda, jenazah Habibie akan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan, pada Kamis (12/09/2019) siang. Terlebih dahulu, upacara penyerahan jenazah dari pihak keluarga kepada pemerintah digelar di kediaman Habibie.

“Pukul 13.30 WIB, prosesi upacara pemakaman jenazah di TMP Kalibata,” ujar Sekretaris Pribadi BJ Habibie, Rubijanto, lewat keterangannya, Kamis (12/09/2019).

Sedangkan Suryadi dishalatkan di Masjid Ummul Quro Pondok Pesantren Hidayatullah Depok dan dimakamkan di TPU II Kalimulya, Kota Depok, pada Kamis (12/09/2019) pagi yang diiiringi oleh ratusan pelayat.*/Syakur/ Hidcom

Dua Santri Ar-Rohmah Putri Raih Juara Tahfidz se-Jatim

0

MALANG (Hidayatullah.or.id) — Dua santri SMP-SMA Ar-Rohmah Putri Pondok Pesantren Hidayatullah Malang kembali menorehkan prestasi dalam ajang ‘Lomba Tahfidz Se-Jawa Timur’, Ahad (8/9) lalu.

Prestasi membanggakan itu diraih Meisya Naila Firdaus Al-Jannah kelas VII dan Bey Fitria kelas X, masih-masing merebut juara 2 dan harapan 2 kategori tingkat SMP dan SMA. Atas prestasinya itu, mereka membawa pulang trofi, piagam penghargaan dan uang pembinaan.

Imamatus Sholihah, selaku pembina program Melejitkan Potensi Diniyah (MPDin) mengungkapkan kegembiraannya atas keberhasilan anak didiknya tersebut.

“Syukur alhamdulilah, santri SMP-SMA Ar-Rohmah Putri terus mendulang prestasi,” ujarnya.

Ustadzah Ima, demikian akrab dipanggil menambahkan, capaian prestasi itu menunjukkan bakat dan potensi yang dimiliki santri terwadahi dengan baik. Ia pun berharap, torehan tersebut bisa memotivasi santri lainnya agar meraih prestasi yang lebih tinggi pula.

Berlangsung di Atrium City of Tomorrow Surabaya, kompetisi yang bertajuk ‘Islamic Travel Expo 2019’ itu diikuti ribuan peserta dari berbagai sekolah di seluruh Jawa Timur.*/Hery Purnama

Ilmu dan Fitnah Popularitas

0

ADA BERAGAM jenis manusia yang hidup dan pernah mendiami dunia yang fana ini. Mereka dicipta dengan keadaan yang berbeda-beda. Masing-masing punya kebiasaan hidup dan perilaku yang tidak sama.

Ada banyak manusia yang perbuataannya baik dan terpuji. Tapi tidak sedikit yang buruk perangainya dan suka melakukan tindakan tercela semasa hidup dahulu. Ada yang bahkan begitu popular hingga menjadi ikon terkenal karena sifat dan perbuatan yang dimiliki tersebut.

Demikian itu terdapat dalam al-Qur’an. Selain panduan hidup berisi aturan dan batasan, perintah dan larangan, al-Qur’an juga memuat sejumlah kisah tentang jejak–jejak manusia.

Selanjutnya, yang tercatat itu menjadi orang-orang yang terkenal dan populer. Sepanjang kisah mereka dibaca sebentang itu pula kisah tersebut diceritakan turun-temurun hingga akhir zaman nanti.

Inilah hikmah yang mesti diingat oleh para pembelajar dan orang-orang yang menuntut ilmu. Bahwa popularitas atau ketenaran dunia bukanlah puncak dari ilmu yang dikejarnya hingga berpayah-payah selama ini. Nyatanya, ada manusia perbuatannya terpuji, yang memang layak ditiru kebaikannya. Namun ada juga akhlaknya buruk dan punya kebiasaan jelek. Demikian itu tentu untuk diambil pelajaran dan dijauhi perbuatannya.

Al-Qur’an mengabadikan itu semua sebagai pelajaran mahal bagi manusia. Jenis pertama, biasa dikenal dengan sebutan uswah atau qudwah yang bermakna teladan baik. Biasanya ia ditujukan kepada hal-hal positif yang patut diketahui dan dijadikan contoh dalam kehidupan manusia.

Dalam urusan ini, yang terdepan tentu saja adalah Nabi Ibrahim Alaihis salam yang dijuluki Abul Anbiya (Bapak dari keseluruhan nabi) dan Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam. Ia adalah Khatamul Anbiya (Penutup dari semua manusia terbaik utusan Allah). Keduanya secara khusus disebut sebagai uswah dalam al-Qur’an.

Allah berfirman:

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allâh dan (kedatangan) hari Kiamat dan dia banyak menyebut Allah,” (Al-Ahzab [33]: 21) Firman Allah lainnya, “Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengannya…” (Al-Mumtahanah [60]: 4).

Jenis kedua, disebut ibrah atau pelajaran. Biasanya ditujukan bagi manusia, kaum, atau sekelompok masyarakat yang membangkang, tidak bersyukur, dan gemar melakukan perbuatan maksiat.

Orang-orang tersebut juga tercantum sifat dan sepak terjangnya selama menghuni hamparan bumi ini. Tapi kisah mereka bukan sebagai panutan untuk dituruti. Justru mereka disebut untuk jadi pelajaran nyata yang harus dijauhi. Bahwa maksiat itu dampaknya bukan hanya kepada pribadinya saja, tapi juga hingga ke lingkungan sekitarnya bahkan berimbas ke seluruh masyarakat pada umumnya.

Kaitan dengan ilmu kembali, inilah yang layak jadi renungan secara mendalam. Tersurat hikmah besar mengapa Rasulullah mengajarkan satu doa yang agung kepada para penuntut ilmu dan seluruh stakeholder pendidikan yang ada. Allahumma inna nas-aluka ilman nafi’an. Bahwa yang dibutuhkan dan yang layak diratapkan setiap waktu adalah ilmu yang bermanfaat.

Bukan sekadar mengejar gelar yang berderet panjang. Tidak hanya terobsesi pada popularitas atau status sosial lagi prestisius yang menyertai. Namun semata-mata berharap ilmu yang bermanfaat saja.

Apa itu ilmu yang bermanfaat? Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang mengantar kepada shiratal mustaqim (jalan yang lurus). Ilmu yang menjadikannya selalu mengingat Allah.

Mengingatkan dirinya bahwa selamanya Allah itu Maha Besar dan Maha Luas ilmunya. Sedang manusia adalah makhluk bodoh yang kalaupun punya ilmu, maka pengetahuannya tak melebihi satu tetes air yang melekat di jari tangannya yang kotor.

Jika demikian lalu mengapa masih ada manusia yang bangga hanya karena dirinya populer (viral) dan selalu dibicarakan (trending topic) di kalangan manusia? Adakah ia lupa dengan kisah Bani Israil? Mereka berulang kali termaktub dalam kitab suci al-Qur’an. Tapi itu bukanlah jaminan kebaikan yang dipunyai.

Bahkan, hingga akhir zaman nanti, justru mereka menjadi dalang daripada rusaknya peradaban manusia. Padahal tak sedikit Anbiya utusan terbaik Allah yang dikirim untuk mendakwahi mereka secara langsung.

Kisah teranyar, apalah arti ketenaran dan gelar akademik tinggi, kalau ternyata ilmu yang dihasilkan justru berani menabrak syariat Allah. Sekurangnya orang tersebut telah menebar syubhat dan membuat kegaduhan di tengah umat Islam. Kabarnya itulah kesimpulan ilmu yang dituangnya dalam penelitian disertasi kontroversial, beberapa waktu lalu.

Perjalanan ilmu yang panjang justru berujung melegalkan zina atau hubungan manusia di luar jalur penikahan yang sah. Inilah popularitas yang sia-sia belaka. Bahkan sungguh itu mencelakakan. Jika ternyata ia benar-benar sekadar mengejar ketenaran di mata manusia tersebut.

MASYKUR SUYUTHI

Yayasan AR Baswedan Kujungi Kampus Hidayatullah Gutem

0

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Pengelola Yayasan Abdurrahman Rasyid Baswedan mengadakan kunjungan silaturahmi ke Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah di bilangan Gunung Tembak (Gutem), Kota Balikpapan, Kalimantan Timur, belum lama ini. Rombongan diterima Ust Abul A’la Al Maududi selaku Sekretaris Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah dan sejumlah jajaran.

Dalam kesempatan tersebut Dr. Khamim Zarkasih Putro, M.Si Ketua Dewan Pembina Yayasan Abdurrahman Baswedan menyampaikan sejarah berdirinya Yayasan Abdurrahman Baswedan kepada pimpinan Pondok Pesantren Hidayatullah.
Selain itu, disampaikan pula cita-cita besar yayasan serta agenda dalam waktu dekat. “ Yayasan Abdurrahman Baswedan memiliki cita-cita untuk mendirikan sebuah universitas Islam yang bertaraf regional,” jelas Khamim.

Saat ini, lanjut Khamim, dunia Islam memerlukan pengembangan ilmu pengetahuan atau sains. Hanya dengan kemajuan ilmu pengetahuanlah peradaban Islam dapat menjadi maju kembali.

Untuk itu, Khamim mengajak Pondok Pesantren Hidayatullah untuk dapat bekerjasama ke depan.

“Kita punya visi yang sama yakni memperkuat pengembangan pendidikan, dengan nilai-nilai Islam, tentunya ini dapat menjadi landasan kuat untuk dapat saling bersinergi, bekerja sama,” papar Khamim.

Sedangkan Ust Abul A’la Al Maududi mengatakan bahwa Pondok Pesantren yang dikelolanya sangat terbuka untuk bersinergi dengan Yayasan Abdurrahman Baswedan, terutama untuk memajukan pendidikan Islam.

Al Maududi menyebutkan Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah memiliki lembaga pendidikan mulai dari PAUD hingga Perguruan Tinggi dalam satu kompleks yang luasnya mencapai 127 hektar.

Dalam mendidik para santrinya, Pondok Pesantren Hidayatullah mewajibkan bagi santri putera untuk ke masjid setiap waktu shalat dan menjadikan masjid sebagai pusat kegiatannya. Sedangkan santri puteri diwajibkan untuk memakai jilbab syar’i.

“Dan yang ketiga kami sangat mendorong santri-santri untuk bermuamalah, yakni bersosialisasi, bergotong royong. Ketiga hal ini kami dorong kepada setiap santri yang ada di sini,” jelas Abul A’la Al Maududi.

Dalam kesempatan itu, Yayasan Abdurrahman Baswedan menerima sebuah buku sebagai kenang-kenangan. Empat eksemplar Buku berjudul Mencetak Kader, Perjalanan Hidup Ustadz Abdullah Said Pendiri Hidayatullah.

“Pada bulan November saya berencana akan ke Yogyakarta, dengan senang hati apabila dapat mendiskusikan buku tersebut di Sekretariat Yayasan Abdurrahman Baswedan,” tutup Al Maududi.

Seperti diketahui, Abdurrahman Rasyid Baswedan atau biasa hanya ditulis A.R. Baswedan adalah seorang pahlawan nasional. Semasa hidupnya, dia dikenal sebagai seorang nasionalis, jurnalis, pejuang kemerdekaan Indonesia, diplomat, muballigh, dan juga sastrawan Indonesia.

A.R. Baswedan pernah menjadi anggota Badan Penyelidik Usaha dan Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), Wakil Menteri Muda Penerangan RI pada Kabinet Sjahrir, Anggota Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (BP-KNIP) serta Anggota Parlemen.

Dia juga menjadi Anggota Dewan Konstituante. A.R. Baswedan adalah salah satu diplomat pertama Indonesia dan berhasil mendapatkan pengakuan de jure dan de facto pertama bagi eksistensi Republik Indonesia dari Mesir.

Selain berbicara dan menulis dalam bahasa Indonesia, A.R. Baswedan juga menguasai Bahasa Arab, Bahasa Inggris, dan Bahasa Belanda dengan fasih.(ybh/hio)

STAIL Surabaya Tugaskan 35 Wisudawan ke Pelosok Negeri

0

SURABAYA (Hidayatullah.or.id) — Gemuruh takbir sesekali menggema di Aula Serba Guna Pondok Pesantren Hidayatullah (PPH) Surabaya, Jawa Timur. Raut bahagia tampak pada wajah-wajah wisudawan yang berdiri di atas panggung utama.

Sabtu, 7 September 2019, kemarin, Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Luqman al-Hakim PPH Surabaya menggelar Wisuda Sarjana S1 sekaligus Penugasan Kader Da’i Angkatan ke XVIII.

STAI Luqman al-Hakim Surabaya merupakan salah satu perguruan tinggi milik Organisasi Masyarakat (Ormas) Hidayatullah. Selain itu, ada STIE Hidayatullah Depok, Institut Agama Islam Abdullah Said Hidayatullah Batam, STIS Hidayatullah Balikpapan dan STIKMA Hidayatullah Malang.

Selepas prosesi wisuda, dilanjutkan dengan sambutan-sambutan. Lalu pembacaan Surat Keputusan (SK) tentang tempat tugas Kader Da’i di berbagai pelosok negeri, dari Sabang sampai Papua.

Sebanyak 35 sarjana (S1) dari Program Studi Manajemen Pendidikan Islam (MPI) serta Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) dipanggil satu per satu untuk kembali naik panggung. Para kader da’i ini terlihat seragam. Tak lagi mengenakan toga, tapi jubah serta kopiyah berwarna putih.

Sebelum membacakan SK, Muhammad Idris, selaku petugas pembaca SK, terlebih dahulu menampilkan slide yang berisi foto, tempat tanggal lahir, serta motto hidup setiap da’i.

Beberapa kali, pekikan takbir menyambut pembacaan SK penugasan para kader da’i tersebut. Sebab, dengan digelarnya wisuda dan penugasan kader da’i ini, bukan berarti tugas mereka telah usai. Justru penugasan ke pelosok-pelosok negeri adalah awal dari perjuangan mereka dalam mengabdikan diri untuk agama dan bangsa.

Pekikan takbir harapannya menjadi motivasi dan penyemangat yang akan mengantarkan mereka ke tempat tugas masing-masing.

Ketua STAI Luqman al-Hakim PPH Surabaya, Mashud menjelaskan, salah satu tujuan dari didirikannya STAI Luqman al-Hakim adalah, melahirkan dan mencetak kader-kader yang siap ditugaskan kapanpun dan di manapun berada.

STAI Luqman al-Hakim Surabaya fokus pada gerakan Tarbiyah dan Dakwah sebagaimana yang menjadi concern utama dari Ormas Hidayatullah, jelas Mashud.

“Bagi yang tugas di bidang dakwah, mereka mengabdi diri untuk membina dan memberi pencerahan kepada umat. Bagi yang tugas di ranah tarbiyah, ada yang mendirikan sekolah berbasis pesantren, menjadi tenaga pendidik dan sebagainya,” imbuhnya menjelaskan.

Mashud bersyukur, para alumni kampusnya, mulai dari angkatan pertama hingga ketujuh belas telah tersebar ke berbagai daerah guna mentarbiyah umat dan mengemban amanah dakwah.

Pembacaan SK Penugasan 35 Wisudawan STAI Luqman al-Hakim Surabaya angkatan XVIII disertai dengan pengalungan surban kepada masing-masing da’i. Untuk tempat tugas terjauh jatuh kepada Sarman Tanasale, yakni di Kampus Utama Hidayatullah Timika, Papua dan Muhammad Iqbal di Hidayatullah Medan, Sumatera Utara.

Dalam sambutannya, Ketua Umum Dewan Pegurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Nashirul Haq menegaskan, sarjana Hidayatullah yakni STAI Luqman al-Hakim PPH Surabaya harus memiliki idealisme yang tinggi.

Kedua, Nashirul melanjutkan, sarjana-sarjana STAI Luqman al-Hakim PPH Surabaya harus mampu menawarkan pemikiran-pemikiran yang cerdas serta solutif untuk masyarakat dan pemerintah.

“Kemudian, komunikatif. Lewat komunikasi yang baik, sarjana-sarjana Hidayatullah itu harus bisa mempengaruhi dan meyakinkan masyarakat. Menawarkan visi membangun peradaban Islam,” katanya.

Keempat, masih kata Nashirul, sarjana STAI Luqman al-Hakim Surabaya harus mampu bersinergi dengan berbagai kelompok serta menjadi mediator ketika terjadi persoalan di tengah masyarakat. Dan yang terakhir adalah terkait literasi.

“Sebagai seorang akademisi, harus gemar membaca. Bukan sekadar buku-buku yang tipis, tetapi juga gemar membaca buku-buku yang tebal dan juga berbagai macam jurnal,” imbaunya.

Pendiri Hidayatullah, Ustadz Abdullah Said Allahuyarham, kata Nashirul, selalu berpesan kepada santri, dengan ketaatan menunaikan tugas dakwah maka di sana ada doa asatidz dan para orangtua yang tulus meminta agar Allah SWT memudahkan segala urusan kita dalam mengemban amanah dakwah.

“Karena kita tidak bisa hanya mengandalkan intelektualitas atau kemampuan kita, tetapi perlu munajat doa dari para orangtua serta asatidz, sehingga Allah SWT senantiasa ikut terlibat dalam setiap persoalan yang muncul di medan dakwah. Sehingga, kita pun mudah untuk mengatasinya,” tutup Nashirul.