DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Para dai memaksimalkan dakwah lewat segala lini, baik melalui pendidikan secara khusus dalam pendidikan Al-Qur’an, maupun media massa. Komitmen ini ditekankan kembali dalam acara rapat koordinasi puluhan dai dari berbagai daerah dan pelosok se-Indonesia.
Rakornas Persaudaraan Dai Indonesia (Pos Dai) digelar dengan mengusung tema “Konsolidasi Nasional Gerakan Dakwah Mengajar-Belajar al-Qur’an” pada Kamis-Ahad (05-08/09/2019).
Para dai tersebut telah merambah kota-kota yang jauh, menembus daerah terpencil dan minoritas, daerah konflik, serta menghadapi para misionaris.
Mereka terus bergerak melakukan upaya perbaikan masyarakat. Sebab, mereka menyadari bahwa masih banyak saudara-saudara mereka yang membutuhkan bimbingan dalam berislam, terutama mereka yang berada di wilayah pedalaman, terpencil, miskin sumberdaya, minoritas Muslim, daerah konflik dan bencana, serta daerah yang rawan pemurtadan.
Belajar dan mengajar Al-Qur’an menjadi program prioritas mereka dalam mengemban misi kenabian tersebut. Salah satu programnya adalah membuat gerakan masyarakat mengaji, misalnya.
“(Mengajar dan belajar Al-Qur’an) ini adalah program besar,” ujar Direktur Utama Pos Dai Suhail di depan puluhan peserta rakornas di Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, Jawa Barat, Jumat (06/09/2019).
Menjadi Dai Pewarta
Sementara itu, pada hari yang sama, para dai juga didorong untuk memaksimalkan dakwah lewat media massa dan media sosial. Dewasa ini, media menjadi saluran penting dalam menyampaikan risalah Islam ke berbagai penjuru dunia.
Oleh karena itu, untuk meneguhkan dakwah lewat media, para dai diajak meningkatkan kemampuannya dalam bidang tulis menulis dan mengisi konten medsos. Istilahnya, menjadi dai pewarta. Yaitu dai yang mampu mensyiarkan dakwahnya lewat tulisan atau media lainnya, layaknya seorang wartawan.
Dijelaskan bahwa para dai mengemban misi dakwah. Dakwah itu artinya mengajak umat, antara lain agar simpati dengan gerakan dakwah Islam.
“Supaya mereka mendukung gerakan dakwah kita,” ujar wartawan senior Hidayatullah Mahladi saat menyampaikan materi “Menjadi Dai Pewarta” pada rakornas itu.
Setelah dai mengajak umat bersimpati, tujuan dakwah berikutnya adalah mengajak umat agar mau ikut serta dalam barisan dakwah.
Dalam upaya itulah, keberadaan media menjadi penting bagi para dai. Selain kemahiran tulis menulis, para dai juga dituntut piawai dalam memanfaatkan dan mengisi media sosial dengan konten-konten menarik. Misalnya lewat video-video pendek.
“Kalau mau menjadi penulis handal, mulailah dari menulis jurnalistik,” Mahladi menyarankan, lantas menguraikan secara lebih rinci dasar-dasar membuat reportasi secara sederhana yang bisa dilakukan para dai.
Ia pun mengajak para dai untuk menghidupkan dakwah di internet, baik dengan membuat situs/website ataupun akun media sosial.
Untuk diketahui, pada dai tersebut selama ini telah berdakwah di berbagai wilayah. Mereka telah mengajak umat bersama-sama membangun negeri ini sekaligus menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Suhail mengatakan, para dai itu juga hadir di sudut-sudut keramaian kota, bersama kaum miskin yang termarjinalkan, yang miskin harta, miskin keyakinan, untuk mengangkat harkat dan martabat mereka.
Dai-dai Pos Dai, terangnya, merupakan para mu’allim (pengajar) Al-Qur’an yang terus bekerja dan berkarya meski sepi dari liputan media. Dalam keheningan tanpa pamrih itu, mereka merajut pulau-pulau dalam NKRI ini dalam rangkaian cahaya Al-Qur’an.
“Lewat kegiatan ini kami ingin menjalin silaturahim, mengabarkan dan sekaligus mengajak masyarakat turut bergabung dan mendukung upaya para dai tersebut dalam membangun negeri yang kita cintai ini menjadi negeri yang dilimpahi berkah dari langit dan bumi dan terhindar dari kehancuran, dengan cara menerangi kehidupan ini dengan cahaya Al-Qur’an,” terangnya sebelumnya. */MSKR
NO ONEremembers who came in second. Disadari atau tidak, ungkapan Walter Hagen ini sering berubah jadi mantra. Seperti ada jimat yang ditakuti tuahnya. Dalam sekejap, ia mampu menyulap orang saling berebut menjadi nomor satu. Asumsi orang, seolah-olah yang hebat itu cuma si nomor satu. Yang lain tak perlu diingat apalagi diperhatikan.
Pastinya tidak demikian. Sebab di banyak tempat, tak jarang manusia justru lebih terkesan pada sisi lain di luar kehebatan atau prestasi. Kala reuni dengan teman-teman semasa kecil atau sekolah, misalnya. Kadang yang ditanya dan diingat bukan siapa yang ranking satu di sekolah. Tapi soal kekonyolan dan kehebohan dulu selama belajar atau kuliah.
Ini bukan soal legitimasi bolehnya orang itu melanggar aturan kebanyakan. Tidak. Tapi pesan positifnya, bahwa orang tersebut jangan mau stress hanya karena merasa kurang di satu hal saja. Padahal nyatanya, celah kebaikan begitu berlimpah di sekitarnya.
Lalu, kenapa mesti galau? Sedang ibadah dan amal shaleh untuk meraup pahala kebaikan itu bertabur dimana-mana. Bahkan nyaris tak terkira dengan karunia yang telah ternikmati selama ini.
Dalam ajaran Islam, Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam (Saw) mengajarkan tentang konsep manusia. Sabdanya: “Manusia ibarat barang tambang berharga seperti tambang emas dan perak. Orang yang mulia pada masa jahiliyah, akan menjadi orang yang mulia juga dalam Islam apabila ia berilmu. Ruh ibarat pasukan yang dikumpulkan, ia akan bersatu jika serasi dan akan berselisih jika tidak serasi,” (Riwayat Muslim).
Yakni setiap orang terlahir dengan ragam potensi dan keadaan. Ada kurang ada lebih. Ada cerdas ada yang bodoh, ada yang hidupnya mapan adapula yang selalu merasa sempit, dan sebagainya. Itu semua adalah nikmat dan karunia yang patut disyukuri.
Soal kemampuan dan kecenderungan serta karakter yang berbeda. Itulah romantisisme. Asal ia mau belajar dan terus mengupayakannya. Sehingga apapun situasi dan keadaannya, setiap manusia tetap berpeluang menjadi Mukmin yang baik. Bahkan itu wajib dan hukumnya fardhu ‘ain.
Lebih jauh, sistem pendidikan yang benar seharusnya mengantar demikian itu. Bahwa yang pokok dari tujuan pendidikan adalah menjadikan setiap output yang dilahirkan menjadi manusia yang baik (a good man) atau manusia beradab (insan adabi). Bukan sekadar meluluskan alumninya menjadi warga negara yang baik (a good citizen) atau jadi pekerja yang baik (a good worker).
Manusia yang beradab mencakup semua aspek dan urusan yang lebih luas dibanding jika dibatasi hanya sebagai warga negara atau pekerja yang baik. Bahwa apapun pekerjaan atau profesinya, mereka tetap sebagai manusia yang beradab dan berkompetensi akhlak yang luhur.
Dengan pemahaman di atas, setidaknya diharapkan akan terbangun jiwa optimis dari setiap Mukmin. Mereka sadar, masing-masing akan dimintai pertanggungjawaban selama menjalani kehidupan. Tidak sekadar sebagai beban hidup di tengah masyarakat. Namun justru terpanggil untuk senantiasa memberi kontribusi dan berbagi manfaat kepada sesama.
Sebab yang jadi ukuran ternyata bukan sekadar besarnya nominal yang diberikan atau gengsi kontribusi. Namun lebih kepada usaha yang dikerjakan dan nilai pengorbanan. Soal perbedaan kontribusi. Itulah romantisisme ilmu. Bahwa tak semua mesti jadi ulama atau jadi mufti yang memberi fatwa soal agama, misalnya. Tapi semua orang wajib beradab dan bermanfaat.
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Daerah (DPD) Hidayatullah Kota Jakarta Selatan terus meluaskan pengabdian keummatannya dengan kehadiran The Jayakarta House yang berlokasi di bilangan Jalan Warung Jati Timur (Haji Samali) Kalibata, Kecamatan Pancoran, Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta.
Alhamdulillah, pada Rabu (04/09/2019) terlaksana silaturahmi sinergitas antara DPD Hidayatullah Jakarta Selatan bersama kawan-kawan muda El-Mahalli bertempat di The Jayakarta House.
El-Mahalli adalah perkumpulan anak-anak jamaah dan santri Hidayatullah yang tengah menempuh pendidikan di Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA) di Jakarta. Keberlangsungan pembinaan (tarbiyah) mereka selama menempuh pendidikan serta ajakan untuk turut bergerak dalam ritme dakwah Hidayatullah adalah perhatian tersendiri bagi DPD Hidayatullah Jakarta Selatan.
Dalam perkembangannya, El-Mahalli kemudian menjadi bagian dari program Pesmadai Syabab Hidayatullah yang membuat cakupan El-Mahalli menjadi lebih luas. Selain sebagai asrama bagi santri Hidayatullah, juga telah berfungsi sebagai asrama pembinaan bagi calon kader Hidayatullah.
Oleh karena itu dalam silaturahmi kali ini dibahas dan dirumuskan progam-program pembinaan kawan-kawan El-Mahalli di bawah naungan Pesmadai Syabab Hidayatullah, sekaligus juga pemberdayaan mereka dalam program-program dakwah dan tarbiyah di lingkungan Jakarta Selatan melalui The Jayakarta House di bawah naungan DPD Hidayatullah Jakarta Selatan.
“Mengingat kapasitas mereka sebagai mahasiswa di LIPIA tentu adalah aset intelektual yang sangat berharga yang perlu pembinaan serta pemberdayaan,” ujar Amin Insani, Ketua Departemen Dakwah dan Tarbiyah DPD Hidayatullah Jakarta Selatan yang juga merupakan perintis dan alumni awal El-Mahalli.
Dalam waktu dekat ini, pemberdayaan tersebut insya Allah akan terwujud berupa keterlibatan kawan-kawan El-Mahalli dalam program Jakarta Mengaji dan OJOL Mengaji The Jayakarta House DPD Hidayatullah Jakarta Selatan.*/Ahmad D. Rajiv
MALANG (Hidayatullah.or.id) — Pandu Hidayatullah akan menggelar acara Jambore Nasional (Jamnas) ke-II di Bumi Perkemahan Coban Rondo, Malang, Jawa Timur pada 25-29 September 2019 mendatang.
Kegiatan ini akan dihadiri oleh sedikitnya 2.500 perwakilan yang lolos seleksi dari berbagai daerah seluruh Indonesia dari tingkat pendidikan dasar dan menengah, ada 440 pembina pendamping, 40 tamu undangan dan sebanyak 40 visitor.
“Peserta adalah anggota Pandu Hidayatullah pilihan dari cabang (sekolah) daerah dan wilayah. Peserta merupakan siswa atau santri sekolah di bawah naungan Pesantren Hidayatullah dan mendapatkan izin tertulis dari orang tua dan sekolah,” kata Ketua Departemen Dikdasmen DPP Hidayatullah Amun Rowie yang membawahi Pandu Hidayatullah, dalam keterangannya diterima media ini, Rabu (4/09/2019).
Amun menjelaskan, untuk mencapai tujuan pendidikan nasional sebagaimana diamanatkan Undang Undang Pendidikan Nasional No. 20 Pasal 3 Tahun 2003, maka tidak mungkin hanya mengandalkan proses pendidikan formal yang berlangsung di bangku sekolah saja.
“Instrumen lain yang memiliki peran strategis untuk menjalankan fungsi itu adalah melalui gerakan Pandu Hidayatullah,” kata Amun dalam keterangan tertulisnya.
Gerakan Pandu Hidayatullah selaku penyelenggara pendidikan kepanduan, jelas Amun, mempunyai peran besar dalam pembentukan kepribadian generasi muda sehingga memiliki pengendalian diri dan kecakapan hidup untuk menghadapi tantangan sesuai dengan tuntutan perubahan kehidupan lokal, nasional, dan global.
“Gerakan kepanduan nasional yang lahir dan mengakar di bumi nusantara merupakan bagian terpadu dari gerakan perjuangan kemerdekaan Indonesia yang membentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia,” imbuhnya.
Oleh karenanya, terang dia, gerakan kepanduan nasional Indonesia mempunyai andil yang tidak ternilai dalam sejarah perjuangan kemerdekaan itu. Jiwa ksatria yang patriotik telah mengantarkan para pandu ke medan juang bahu-membahu dengan para pemuda untuk mewujudkan adicita rakyat Indonesia dalam menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Lebih jauh Amun berharap, kepanduan Hidayatullah turut berperan mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
“Kaum muda sebagai potensi bangsa dalam menjaga kelangsungan bangsa dan negara mempunyai kewajiban melanjutkan perjuangan bersama-sama orang dewasa berdasarkan kemitraan yang bertanggung jawab,” ujarnya.
Dia menjelaskan. Gerakan Pandu Hidayatullah sebagai kelanjutan dan pembaruan gerakan kepanduan nasional dan dunia, dibentuk karena dorongan kesadaran bertanggung jawab atas kelestarian Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.
Gerakan Pandu Hidayatullah menyelenggarakan upaya pendidikan bagi kaum muda melalui kepanduan, dengan sasaran meningkatkan sumber daya kaum muda, mewujudkan masyarakat madani, dan melestarikan keutuhan agama, NKRI yang ber-Bhineka Tunggal Ika, kehidupan rakyat yang rukun dan damai serta lingkungan hidup di bumi nusantara.
Sementara itu, Ketua Panitia Jambore Nasional II Pandu Hidayatullah, Jumari, menambahkan, Jambore Nasional II Pandu Hidayatullah 2019 adalah kegiatan silaturrahim, kompetisi, dan rekreasi edukatif di alam terbuka dalam bentuk perkemahan Pandu Hidayatullah tingkat mutawashith dan muntahi.
“Perkemahan ini merupakan sarana pembinaan pandu yang menitik beratkan pada pengembangan diri peserta yang terdiri atas bidang mental, fisik, intelektual, spiritual dan sosial baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat,” kata Jumari.
Ada beragam kegiatan diagendakan yang akan digelar dalam helatan nasional ini, seperti kegiatan rotasi meliputi Pandu Challenge PBB dan Yelyel Pandu, sandi, pionering, lomba kemuslimatan untuk peserta wanita dan sejumlah rangkaian acara seru lainnya.
Ada juga kegiatan Pandu Edutrip melakukan kunjungan air terjun dan taman Coban Rondo, kegiatan tanam pohon serta juga mengundang TNI untuk mengisi materi utama tentang wawasan kebangsaan dan bela negara.
“Cita-cita besar hanya akan terwujud melalui langkah-langkah besar. Langkah langkah besar hanya bisa kita wujudkan jika kita berani memulainya dengan langkah kecil. Apa yang kami lakukan hanyalah setapak langkah, semoga langkah yang setapak ini berarti bagi langkah selanjutnya,” pungkas Jumari seraya meminta doa agar kegiatan edukatif ini berjalan sukses dan lancar. (ybh/hio)
TOLITOLI (Hidayatullah.or.id) — Pandu Hidayatullah Daerah Tolitoli siap mensukseskan helatan akbar Jambore Nasional (Jamnas) II Pandu Hidayatullah 2019 yang akan digelar di Bumi Perkemahan Malang, provinsi Jawa Timur pada tanggal 24-29 September 2019 ini.
Pandu Hidayatullah Tolitoli akan turut mensukseskan acara ini dengan ikut ambil bagian untuk perhelatan jambore nasional kali ini.
“Insya Allah kami akan berangkat pada tanggal 11 September,” Kata ketua Pandu Hidayatullah wilayah Tolitoli Fadhlun Almunzir kepada media Telegrafnews, beberapa waktu lalu.
Kontingen Pandu Hidayatullah Tolitoli akan mengirim belasan orang dan kini intens berlatih.
“Jumlah anggota pandu asal Tolitoli sekitar 13 orang yang akan berangkat yang kini intens berlatih setiap Jumat Sabtu,” tambah Fadhlun.
Fadhlun Almunzir yang merupakan pelatih Pandu Hidayatullah daerah Tolitoli dan pernah mengikuti training of trainer Pandu Hidayatullah di Makassar ini juga berharap doa dan dukungan masyarakat Tolitoli.
“Semoga doa dan dukungan masyarakat Tolitoli bisa menjadi motivasi kami untuk dapat meraih hasil yang memuaskan,” kata Fadhlun yang juga pernah mengikuti Diklat dasar SAR Hidayatullah di Manado ini.
Sebagai kepanduan, Pandu Hidayatullah memiliki kekhasannya sendiri dalam membangun semangat juara, kedisiplinan, mengembangkan akhlakul karimah, membina mental dan spiritual serta menumbuhkan empati dan kasih dalam bingkai Islam, nasionalisme dan keindonesiaan.
“Dengan lima tarbiyah unggulan yang akan menjadikan generasi yang terampil berakhlak Al Quran dan cerdas spritual serta hubungan antar organisasi lain dalam keberagaman dan NKRI,” pungkasnya.
MALUKU TENGAH (Hidayatullah.or.id) — Bersatu kita teguh, bercerai berai kita runtuh. Adagium populer tersebut penting untuk terus disegar-segarkan dalam linimasa interaksi kita sebagai sesama anak bangsa. Apalagi Indonesia sebagai negeri muslim terbesar di dunia, tentu menjadi target “proxy war” oleh mereka yang tak suka dengan soliditas di tengah kemajemukan kita.
Berangkat dari semangat itu pula, Hidayatullah Maluku Tengah menyuarakan seruan persaudaraan untuk persatuan bangsa bertepatan dengan momentum tahun baru Islam 1 Muharram 1441. Seperti diketahui, Provinsi Maluku pernah punya sejarah pahit perseteruan antar sesama. Pengalaman itu menjadi pelajaran penting untuk terus merawat persatuan.
Dalam rangka refleksi dan memperingati Tahun Baru Islam 1 Muharram 1441 Hijriah, santri Madrasah Tsanawiyah Salman Al Farisi Pondok Pesantren Hidayatullah Maluku Tengah mengikuti kirab pawai Muharram bersama dengan ribuan siswa-siswi se-Kecamatan Salahutu, Maluku Tengah. Mereka tumpah ke jalan mengadakan Pawai Karnaval Muharram pada Jumat, (30/8/2019) lalu.
Mereka berasal dari seluruh jenjang pendidikan madrasah dan sekolah umum. Mulai dari tingkat MI/SD, MTs/SMP, dan MA/SMA. Turut meramaikan pula sejumlah majelis taklim dan guru-guru yang mendampingi murid-muridnya tersebut.
Pawai ini bertolak dari halaman Madrasah Aliyah Negeri I Maluku Tengah dan selanjutnya berjalan mengelilingi Tulehu, ibukota kecamatan Salahutu, Maluku Tengah. Dalam penampilannya, peserta pawai mengenakan pakaian Islami dan sejumlah busana adat dari beberapa suku di Maluku.
Kepala Bagian Tata Usaha Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Agama Provinsi Maluku, Jamaluddin Bugis mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan pertama kali diselenggarakan oleh lembaga pendidikan di Maluku dan meminta untuk dilestarikan dalam memperingati Tahun Baru Islam.
“Momen hijrah Nabi Shallallahu alaihi wasallam (Saw) ini memberi pesan, agar senantiasa berusaha menjadi yang lebih baik dalam kehidupannya,” ucap Jamaluddin, saat melepas peserta pawai karnaval. “Selalu ada kebaikan yang ditawarkan Allah kepada umat manusia,” lanjutnya.
Usai sambutan, selanjutnya peserta pawai dilepas dengan iringan tabuhan rebana sebagai alat musik tradisional yang terkenal di Maluku.
“Senang bisa ikut pawai ini. Setidaknya sebagai syiar kegiatan keagamaan dan menapaktilasi perjalanan hijrah Nabi dahulu,” ungkap Juhda, guru madrasah yang turut meramaikan acara pawai karnaval.
Diketahui, acara-acara keagamaan dan peringatan hari nasional lazim diperingati secara meriah masyarakat di Maluku. Namun diakui peringatan Tahun Baru 1 Muharram 1441 kali ini terasa spesial karena bisa mengumpulkan hingga ribuan orang dan berjalan secara tertib dan damai.*/Jojo Kamama
KUN FAYAKUN. Jika Allah berkehendak, maka terjadilah. Inilah kuasa Allah. Peristiwa langka yang bisa jadi tak akan terulang kedua kalinya. Ada manusia yang ditelan ikan raksasa.
Masuk dalam keadaan hidup dan keluar juga dalam keadaan yang sama. Ia tetap hidup meski berada di dalam perut ikan tersebut. Inilah kisah ajaib Dzun Nun, nama lain dari Nabi Yunus bin Matta (semoga salam dan keselamatan selalu tercurah untuknya).
Iya, tak ada yang menyangka. Sebagian umur Nabi Yunus justru dihabiskan di dalam perut ikan yang menelannya di tengah samudera. Dalam riwayat, ada yang menyebut ia berdiam selama tiga hari. Ada yang bilang 40 hari.
Ada juga yang berkata, Nabi Yunus ditelan di pagi hari dan dimuntahkan di petang hari. Secara ilmu pengetahuan dan logika manusia, bisa apa orang itu di tengah suasana pekat yang berlipat-lipat? Mulai dari gelapnya dasar samudera, gelapnya “kamar” di perut ikan, hingga gelapnya malam yang ikut mendera.
Namun demikian teladan dari manusia pilihan yang diutus ke kaum Asyiria di Ninawa, Irak. Bagi Nabi Yunus, selalu ada cahaya terang yang benderang. Selalu ada sinar yang berbinar. Selalu ada harapan yang mapan.
Bahwa, ilmu yang dimilikinya bukan hanya mengantarnya sebagai orang yang pandai di tengah kaumnya. Tapi juga melahirkan keyakinan yang utuh kepada Allah. Semakin dia mengenal Allah kian luruh pula hatinya untuk bersujud dan bermunajat hanya kepada-Nya.
Dengan bimbingan Zat Yang Maha Mendengar, Nabi Yunus lalu tak henti merintih. Lirih. La Ilaha illa Anta. Subhanaka inniy kuntu min azh-zhalimin (Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk di antara orang-orang yang berbuat aniaya). Apa-apa yang dimilikinya seketika lebur dalam deburan ombak di tengah samudera. Tak ada yang bisa dibanggakan kecuali hanya memuji dan bertasbih kepada Allah.
Amazing! The power of hope. Munajat dari dasar samudera di dalam perut ikan itu ternyata mampu menggetarkan lapisan langit yang bersusun-susun. Ternyata, harapan itu benar-benar ada.
Atas kehendak Sang Pencipta, Nabi Yunus didampar kembali ke daratan. Dia kembali muncul di tempatnya bertugas dulu. Melanjutkan misi dakwahnya, mengajak penduduk Ninawa menegakkan tauhid, menyembah hanya kepada Allah semata.
Hal yang sama diperagakan dalam kisah hijrah Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam (Saw). Usaha-usaha yang diikhtiarkan dan berbagai strategi yang diupayakan tak lantas menyilaukan Rasulullah. Bahkan dengan jaminannya sebagai manusia terbaik yang bergaransi untuk selalu mendapat bantuan dan pertolongan sekalipun.
Nabi tetap saja memilih khusyuk berdoa memohon pertolongan kepada Allah. Ia sadar, semua manusia boleh menggelar agenda dan program yang dikehendakkan, tapi sebaik-baik makar ialah yang direncanakan oleh Allah.
Inilah yang membedakan antara ilmu yang memberi harapan dan manfaat dengan ilmu yang menjadikan manusia lalai untuk mengingat Allah. Faktanya, tak sedikit orang yang tertipu dengan ilusi fatamorgana dari sekelilingnya.
Seolah dengan kecerdasan ilmu dan kehebatan akalnya, dengan mudah ia bisa meraih segala yang dimimpikannya. Seolah, karena mampu dan berkuasa, maka ia tak perlu menengadahkan tangan dan membungkukkan badan di hadapan-Nya.
Hikmah berikutnya, jika kondisi kritis tersebut di atas masih saja menyelip harapan. Lalu mengapa kita kadang tak serius dalam berusaha untuk satu kebaikan? Mengapa kita masih sering ngambek hingga malas-malasan berdoa? Hanya gara-gara sekali waktu pernah terbentur dengan kerikil kecil dalam hidup. Atau hanya gara-gara merasa pintar dengan gelar ilmu yang dipunyai.
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) – Memasuki tahun baru Islam 1 Muharram 1441 Hirjiyah, Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Daerah Khusus Ibukota Jakarta Megapolitan yang meliputi Jakarta Bogor Depok Bekasi (Jabodebek) menggelar Muharram Fest dengan beragam kegiatan diantaranya Khotmil Quran 1000 Santri yang berlangsung di Gedung Pusat Dakwah DPP Hidayatullah, Jalan Cipinang Cempedak, Otista, Jatinegara, Jakarta Timur, Sabtu.
Selain dalam rangka menyemarakkan ditandainya masuknya tahun baru Islam 1 Muharram 1441, kegiatan ini juga sebagai ajang konsolidasi silaturrahim dan meningkatkan ukhuwah Islamiyah terutama dalam rangka penguatan gerakan dakwah di kawasan ini.
Pada acara Khotmil Quran 1000 Santri di Jakarta ini dihadiri Al Mukarram Habib Ali bin Abdurrahman Alhabsyi yang sekaligus membuka acara tersebut. Diketahui, beliau adalah cucu dari Habib Ali Kwitang yang juga dikenal sebagai salah satu tokoh ulama dalam perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia. Turut juga bersamanya Ketua Dewan Pertimbangan Pimpinan Umum (DPPU) Hidayatullah KH Dr Abdul Mannan yang memberikan injeksi spirit Muharram dalam kesempatan tersebut.
Ketua DPW Hidayatullah Jabodebek, Ust Asdar Majhari Petta Ewang, S.Ag, dalam keterangannya mengatakan, peringatan tahun baru Hijriyah bukan sekedar mengenang kembali proses hijrahnya Rasulullah SAW dan para sahabat, akan tetapi juga menuntut kita sebagai umatnya untuk berupaya menggali dan menginternalisasi spirit Hijriyah tersebut.
“Motivasi berislam lebih baik lagi, sebagaimana hijrahnya Rasulullah Shallallaahu Alaihi Wasallam dan para Sahabat dari Makkah ke Madinah merupakan titik awal lahirnya peradaban Islam,” kata Asdar.
Oleh sebab itu, lanjut dia, DPW Hidayatullah Jabodebek pada tahun baru Hijriyah kal ini kembali mengadakan kegiatan peringatan tahun baru Islam ini yang bertajuk Muharram Fair Festival. Tahun Baru Muharram kali ini juga bertepatan dengan momentum peringatan 74 tahun kemerdekaan Indonesia melepaskan diri dari kungkungan penjajahan.
“Harapannya, kegiatan ini semakin memantapkan jatidiri kita sebagai kader Hidayatullah untuk terus meneguhkan pengabdian kita membangun bangsa Indonesia tercinta dan melayani dunia dengan dakwah dan tarbiyah dalam bingkai ukhuwah,” terang Asdar.
Tidak saja kegiatan Khataman Al Quran 1000 Santri yang diikuti perwakilan santri dari berbabagi pondok pesantren naungan Hidayatullah di kawasan, semarak Muharram Fair Festival DPW Hidayatullah Jabodebek ini menyelenggarakan beragam rangkaian kegiatan dan perlombaan seperti tabligh akbar, pameran taaruf lembaga, malam muhasabah, beragam lomba seperti futsal, badminton, fotografi, dan lain-lain.
Kegiatan yang berlangsung selama dua hari mengangkat tema “Dengan Spirit Hijriah Merajut Ukhuwah” ini diramaikan oleh kepesertaan jamaah dan kader Hidayatullah se-Jabodebek mulai dari unsur pengurus DPW, DPD, Ortom, Orpen dan Amal Usaha serta santri RQ Rumah Quran dan Pondok Quran Hidayatullah se-Jabodebek. Ada juga Islamic Medical Service (IMS) yang membuka posko pemeriksaan, pengobatan dan konsultasi kesehatan gratis.
Di penutupan acara hari ini, para juara menerima trophy penghargaan usai memenangi sejumlah perlombaan yang digelar dalam helatan Muharram Fest 1441 yang diserahkan oleh panitia. Acara ini didukung oleh Laznas BMH, IMS, Gardakota, CV Santri Grafika, Komunitas Muda CC14 dan lain-lain. (ybh/hio)
TAK TERASA, hari ini sudah memasuki bulan Muharram. Bulan Muharram adalah salah satu bulan yang dimuliakan Allah subhanahu wata’ala. Ia termasuk bulan-bulan haram yang memiliki keistimewaan tersendiri disisi Allah Ta’ala.
Berkaitan dengan ini Allah subhanahu wata’ala berfirman:
“Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan Bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam (bulan yang empat) itu, dan perangilah kaum musyrikin semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya. Dan ketahuilah bahwa Allah beserta orang-orang yang takwa.” (QS. At-Taubah [9]:36)
Disebutkan bahwasanya empat bulan haram adalah sebagaimana yang dimaksudkan dalam sebuah hadits Nabi.
Dari Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda: “Sesungguhnya zaman berputar sebagai mana ketika Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun ada dua belas bulan. Diantaranya ada empat bulan haram (suci), tiga bulan berurutan: Dzul Qo’dah, Dzulhijjah, dan Muharram, kemudian bulan Rajab suku Mudhar, antara Jumadits Tsani dan Sya’ban.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Menarik kenapa bulan-bulan tersebut disebut bulan haram? Al Qodhi Abu Ya’la rahimahullah mengatakan, ”Dinamakan bulan haram karena dua makna, Pertama: pada bulan tersebut diharamkan berbagai pembunuhan/peperangan. Orang-orang Jahiliyyah pun meyakini demikian. Dan kedua: pada bulan tersebut larangan untuk melakukan perbuatan haram lebih ditekankan daripada bulan yang lainnya karena mulianya bulan tersebut. Demikian pula pada saat itu sangatlah baik untuk melakukan amalan ketaatan.”
Ibnu ’Abbas mengatakan, ”Allah mengkhususkan empat bulan tersebut sebagai bulan haram, dianggap sebagai bulan suci. Melakukan maksiat pada bulan tersebut dosanya akan lebih besar, dan amalan sholeh yang dilakukan akan menuai pahala yang lebih banyak.”
Bulan Muharram juga disebut syahrullah (bulan Allah). Hal ini berdasar hadits Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam:
”Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah puasa pada syahrullah (bulan Allah) yaitu Muharram. Sementara shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam.” (HR. Muslim)
Al-’Iraqiy pernah berkata: ”Apa hikmah bulan Muharram disebut dengan syahrullah (bulan Allah), padahal semua bulan adalah milik Allah?” Beliau rahimahullah menjawab, ”Disebut demikian karena di bulan Muharram ini diharamkan pembunuhan. Juga bulan Muharram adalah bulan pertama dalam setahun.”
Inilah salah satu keistimewaan bulan Muharram karena ia disebut syahrullah yaitu bulan Allah. Dengan ia disandarkan pada lafazh jalalah Allah maka inilah yang menunjukkan keagungan dan keistimewaannya. Dan Nabi shallallahu ’alaihi wasallam sendiri tidak pernah menyandarkan bulan lain pada Allah Ta’ala kecuali bulan Muharram.
Mengingat begitu besarnya kemuliaan dan keistimewaan bulan Muharram maka hendaknya setiap muslim menyambut dengan sungguh-sungguh untuk beramal sholeh. Serta tidak lupa menjadikan bulan Muharram sebagai momentum terbaik untuk bermuhasabah.
Maka ada beberapa hal yang harus dilakukan umat muslim agar tidak terluput dari kebaikannya.
Pertama: Memperbanyak amal sholeh. Amal sholeh yang dimaksudkan adalah amal sholeh apa saja, baik itu memperbanyak sholat sunnah, puasa sunnah, dzikir, baca Al-Qur’an, berinfak, dan lain sebagainya.
Terkhusus pada tanggal 10 Muharram hendaknya umat muslim melakukan puasa Asyuro sebagaimana hadits Nabi:
أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ الله الْمُحَرَّمِ…
“Sebaik-baik puasa/shaum setelah Ramadhan adalah puasa di bulan Allah, bulan Muharram…” (HR. Muslim)
Ibnu Abbas radhiyallahu ’anhuma berkata bahwa ketika Nabi shallallahu ’alaihi wasallam melakukan puasa hari Asyura dan memerintahkan kaum muslimin untuk melakukannya, pada saat itu ada yang berkata:
“Wahai Rasulullah, hari ini adalah hari yang diagungkan oleh Yahudi dan Nasrani.” Lantas beliau mengatakan, “Apabila tiba tahun depan –jika Allah menghendaki– kita akan berpuasa pula pada hari kesembilan.” Ibnu Abbas mengatakan, “Belum sampai tahun depan, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam keburu meninggal dunia.” (HR. Muslim)
Dalam syarah Muslim, Imam Syafi’i dan beberapa ulama mazhab Syafi’i, Imam Ahmad, Ishaq, dan selainnya mengatakan bahwa dianjurkan (disunnahkan) puasa/shaum pada hari kesembilan dan kesepuluh sekaligus; karena Nabi shallallahu ’alaihi wasallam berpuasa pada hari kesepuluh dan berniat (berkeinginan) berpuasa juga pada hari kesembilan.
Adapun fadhilah puasa Asyuro adalah bisa menghapus dosa setahun yang lalu. Dalam sebuah hadits disebutkan:
“…Beliau (Nabi) juga ditanya mengenai keistimewaan puasa Asyura? Beliau menjawab, ”Puasa ’Asyura akan menghapus dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim).
Kedua, sebagai momen muhasabah dan instropeksi diri. Semestinya seorang muslim tiap saat selalu melakukan muhasabah. Kalo tidak bisa maka dalam sehari hendaknya dia bermuhasabah walaupun sekali. Kalau masih berat, muhasabah tiap pekan. Jikalau tidak bisa juga maka tiap bulan.
Nah, kalau juga masih berat melakukannya maka paling tidak ia hendaknya muhasabah setahun sekali. Maka inilah momen terbaik dalam bulan Muharram untuk bermuhasabah dan instropeksi diri.
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr: 18)
Umar bin Khatthab radhiyallahu ’anhu berkata: ”Hisablah dirimu sebelum kamu dihisab dan timbanglah amalmu sebelum kamu ditimbang nanti dan bersiap-siaplah untuk hari menghadap yang paling besar (hari menghadap Allah).”
“Tidaklah seorang hamba menjadi bertaqwa sampai dia melakukan muhasabah atas dirinya lebih keras daripada seorang teman kerja yang pelit yang membuat perhitungan dengan temannya”.
Ketiga, Bulan Muharram mengingatkan kita pada peristiwa hijrah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Berhijrah memiliki makna yang luas, selain hijrah dalam artian fisik, hijrah juga bisa dimaknai meninggalkan atau menjauhi perkara buruk menuju kebaikan.
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itulah yang mengharapkan rahmat Allah. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.S Al-Baqarah: 218)
Terakhir, menyambut bulan Muharram atau tahun baru hijriyah ini tidaklah perlu dengan berhura-hura atau melakukan ritual tertentu. Mari kita praktekkan sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Nabi yang kita cintai yakni Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dengan memperbanyak amal sholeh.
Dan mari kita jadikan bulan Muharram ini sebagai momen terbaik untuk kita bermuhasabah dan instropeksi diri serta menyedot spirit hijrah Rasulullah dan para Sahabatnya. Wallahu a’lam bishshowab.
UST HIDAYATULLAH, M.Ag,Pimpinan Pondok Tahfidz Quran Putri Ashaabul Kahfir Hidayatullah Bekasi, Jawa Barat