Beranda blog Halaman 488

BMH Kepri Santunan Yatim dan Bantu Nelayan Pulau Panjang

PULAU PANJANG (Hidayatullah.or.id) — Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah (Laznas BMH) Perwakilan Kepulauan Riau menyelenggarakan kegiatan dakwah dan sosial berupa Santunan Yatim dan Doa untuk Negeri serta penyerahan bantuan peralatan untuk nelayan di daerah pinggiran, tepatnya di Pulau Panjang, Batam, Kepulauan Riau, Ahad, 22 Muharram 1441 Hijriyah (22/9/2019).

Kegiatan begitu spesial karena mendatangkan Guru Besar dari Universitas al-Azhar Kairo, Mesir, Syaikh Ahmed Abdul Mu’thy Ramadhan al-Musayyir (Syaikh al-Mishry), sebuah kerjasama Kementerian Agama RI dengan Universitas al-Azhar Mesir dalam penyebaran da’i di Nusantara.

Program pemberdayaan ekonomi untuk masyarakat pinggiran dari BMH ini mengangkat tema “Raih Kemuliaan, Bahagiakan Sesama”.

Menurut Abdul Aziz El-Haqqi, Ketua BMH Pewakilan Kepulauan Riau, ada 100 Paket Gizi dalam bentuk bingkisan dan 100 amplop santunan yang diserahkan secara langsung untuk masyarakat Pulau Panjang.

Dalam sambutannya, Abdul Aziz menyampaikan maksud dan tujuan program ini, yaitu untuk pemberdayaan masyarakat pinggiran dan upaya menjalin silaturahim dengan masyarakat luas agar dakwah ini semakin dirasakan oleh umat.

“Melalui kegiatan ini, BMH hendak berbagi dengan sesama, menyantuni para masyarakat Pulau Panjang, dan terkhusus kepada anak-anak. Semoga apa yang diterima dapat memberi manfaat untuk masing-masing keluarga yang ada di pulau ini,” paparnya di hadapan warga.

Abdul Aziz juga berharap, kunjungan ini bukan yang terakhir kali, tapi tetap berlanjut di waktu-waktu yang akan datang, agar jalinan silaturahim dan dakwah melalui BMH tetap berjalan.

“Ini bukan yang terakhir kali. Kami akan tetap bersilaturahim ke Pulau ini, mengunjungi bapak ibu sekalian di masa yang akan datang”, harapnya pada kegiatan yang diadakan di masjid tersebut.

Lewat kesempatan ini juga, BMH menyerahkan bantuan untuk nelayan berupa satu unit kapal dan satu paket alat tangkap untuk warga Pulau Panjang. Harapannya, agar pemberdayaan ekonomi di masyarakat tersebut dapat meningkat.

Selanjutnya, taushiyah dari Syaikh Ahmed al-Mishry, menjelaskan tentang rukun Islam. Tema ini diangkat karena saran dari pengurus masjid di Pulau yang mesti ditempuh dengan menggunakan perahu tersebut, bahwa masyarakat sangat awam tentang Islam.

Sehingga Syaikh menyampaikan pentingnya pilar-pilar Islam ini ditegakkan. Mulai dari mengucapkan dua kalimat syahadat, mendirikan shalat wajib lima waktu, membayar zakat, berpuasa di Bulan Ramadhan, dan berhaji ke Baitullah bagi yang mampu.

Lebih lanjut, Syaikh secara detil mengulas tentang shalat, mengingat masyarakat setempat masih banyak yang lalai untuk mengerjakan.

“Bagi kita yang beragama Islam, bukti bahwa kita ini menganut Islam adalah dengan mendirikan shalat wajib. Yang membedakan antara muslim dan kafir adalah meninggalkan shalat. Kalau zakat, hanya orang kaya, puasa bisa saja ada udzur, berhaji, apatah lagi, hanya yang bisa menempuh perjalanan. Tapi shalat, semua muslim wajib secara mutlak untuk ia dirikan, tanpa memandang kaya atau miskin,” paparnya.

Selanjutnya, kegiatan ditutup dengan doa bersama untuk negeri. Hal ini dilakukan untuk mengundang bantuan dan pertolongan Allah untuk negeri ini. Adanya kebakaran hutan dan lahan, kekeringan di mana-mana karena kemarau panjang, kondisi ekonomi semakin merosot, gejolak politik tanpa henti, dan masih banyak lagi problem yang mesti dimunajatkan kepada Allah SWT.

Usai penyerahan secara simbolis, kemudian berlanjut untuk ramah tamah dengan para hadirin. Kegiatan juga dapat berjalan lancar dan baik.*/Azhari

Ke Kinabalu Kukuhkan Sinergi dan Silaturrahim Serumpun

KINABALU (Hidayatullah.or.id) – Dalam rangka menguatkan jalinan silaturrahim dan ukhuwah Islamiyah serta peningkatakn kerjasama dakwah negeri serumpun, ormas Hidayatullah melalui Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Kalimantan Utara (Kaltara) kembali melakukan kunjungan kerja ke Kota Kinabalu, ibu kota Sabah, Malaysia. Sebuah kawasan yang berada di pantai barat laut Kalimantan menghadap Laut Cina Selatan.

Anjangsana ini dilakukan untuk mempertegas kerjasama yang selama ini terjalin oleh Hidayatullah dengan beberapa agensi dan jabatan Islam Malaysia yang berada di tingkat bagian Tawau.

Rombongan dipimpin oleh Ketua DPW Hidayatullah Kaltara, Ust H Nur Yahya Asa, Sekretaris Ust Muhammad Randi, Bendahara Ust Muhammad Khirson Sulaiman, Kadep Pengkaderan dan Pembinaan Anggota Ust Jumardi Sukma dan Ketua PW Syabab (Pemuda) Hidayatullah Kaltara Mazlis B Mustafa.

Selama di Kota Kinabalu, rombongan didamping oleh Ust Najar Jul yang merupakan Ketua Forum Komunikasi Dakwah Borneo dan Tuan Haji Bairullah Dumpas, Pengurus Eksekutif Madolin Technology (M) Sdn. Bhd. Keduanya membantu secara penuh sebagai fasilitator dan penghubung rombongan kepada pihak-pihak terkait di Sabah sehingga perjalanan dan program kunjungan yang sudah direncanakan dapat berjalan dengan baik.

Dalam kunjungan kali ini, DPW Hidayatullah mengadakan pertemuan dengan beberapa pejabat agensi dan jabatan Islam tingkat Negara bagian Sabah sejak tanggal 12-15 September 2019 di Kota Kinabalu. Di antara agensi dan jabatan Islam yang ditemui adalah Majelis Urusan Agama Islam Sabah (MUIS), Mufti Negeri Sabah dan Jabatan Kemajuan Islam Malaysia (JAKIM) Cawangan Sabah.

Selain tiga agensi Islam tersebut, DPW Hidayatullah Kaltara juga menyempatkan waktu untuk bersilaturahim dan perjumpaan resmi dengan Konsulat Jenderal (Konjen) Republik Indonesia Kota Kinabalu Sabah.

Kunjungan pertama dilaksanakan di lantai 4 Wisma MUIS. Rombongan DPW Hidayatullah Kaltara didampingi oleh Ust Najar Jul dan Haji Bairullah Dumpas disambut langsung oleh Yang Dipertuan Majelis Ugama Islam Sabah (MUIS) Datuk Seri Panglima Dr Hj Hasbollah Hj Mohd Taha beserta timbalan (wakil) dan jajaran pengurus.

Pejabat yang juga memiliki darah keturunan Kerajaan Bulungan ini menyampaikan terima kasih dan menyambut baik tawaran program yang disampaikan oleh Hidayatullah seperti pengiriman peserta Ma’had ‘Aliy Posdai di Ciomas, membantu sosialisasi program beasiswa pendidikan anak TKI di Hidayatullah, Kemah Dakwah Sabah – Kaltara, pembentukan Forum Komunikasi Dakwah Borneo, dan lain-lain. Menanggapai tawaran program menarik tersebut, beliau meminta agar dapat dibahas lebih serius dan fokus ke depannya.

“Kita akan bincangkan lebih lanjut hal-hal yang boleh dikerjasamakan”, timpal Datuk Seri Panglima Dr Hj Hasbollah Hj Mohd Taha menyimpulkan pertemuan tersebut. Di akhir pertemuan, kedua belah pihak saling bertukar cinderamata dan melakukan foto bersama.

Selanjutnya, rombongan DPW Hidayatullah Kaltara menyambangi Pejabat Mufti Negeri Sabah yang berkantor di lantai 23 Kompleks Pusat Pentadbiran Negeri Sabah. Pertemuan ini merupakan kunjungan balasan DPW Hidayatullah Kaltara di mana sekira bulan September 2018 yang lalu Mufti Kerajaan Negeri Sabah Sahibus Samahah Ustadz Datuk Haji Bungsu Aziz Jaafar beserta Presiden Majlis Perbandaran Tawau, Alijus Haji Sipil dan rombongan berkunjung ke Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Tarakan.

Kali ini, rombongan DPW Hidayatullah Kaltara disambut oleh Timbalan Mufti Kerajaan Sabah, Ustadz Hamdani Bin Omar. Berbagai hal yang dibincangkan dalam rangka bertukar informasi terkait perkembangan dakwah dan daerah masing di antara dua pihak dalam suasana yang sangat ramah dan penuh keakraban.

Salah satu kesepahaman yang dicapai adalah pemberian ijin khusus yang akan diberikan kepada dai Hidayatullah yang datang ke Sabah dalam rangka menjalankan program dakwah.

Pihaknya meminta kepada Hidayatullah untuk mengajukan ijin secara tertulis, lalu pihak Mufti akan mengeluarkan permit “One of Tauliyah” serta memberikan tembusan kepada pihak Jabatan Hal Ehwal Agama Islam Negeri Sabah (JHEAINS).

“Ini merupakan tauliyah (rekomendasi) khas kepada dai Hidayatullah setiap kali masuk di Negeri Sabah untuk berdakwah kerana memang peraturan di sini (Malaysia) begitu. Semua penceramah harus punya tauliyah”, terang beliau.

Dalam kesempatan berikutnya, rombongan DPW Hidayatullah Kaltara bersilaturahim dengan JAKIM Sabah yang berkantor di Kompleks Pentadbiran Kerajaan Persekutuan Negeri Sabah. Rombongan disambut langsung oleh Ketua Pengarah JAKIM Sabah, Tuan Haji Norjeli Bin Haji Dais dan Ust Alamin Bin Majok selaku Ketua Unit Pengurusan Dakwah.

Pada sesi perkenalannya, Ust Alamin mengingatkan kembali semua hadirin akan sebuah program kerjasama yang telah diselenggarakan atas kerjasam pihak JAKIM dan DPW Hidayatullah Kaltara, yakni Training of Trainers (ToT) Pengajaran Belajar dan Menterjemahkan Al Qur’an Kaidah Grand MBA di Open University Malaysia Tawau di Tawau pada tanggal 22 – 23 Maret 2018 lalu.

Sejatinya, kata beliau, program dakwah dan pendidikan DPW Hidayatullah Kaltara selama ini dimulai oleh persahabatan dan silaturahim yang erat dengan JAKIM Tawau di bawah komando Ust DR. Amin Nasir ketika itu.

Dalam penyampaiannya, Tuan Haji Norjeli memaparkan program KAFA (Kelas Agama dan Fardhu Ain) JAKIM Sabah yang juga mengakomodir santri-santri dari kalangan anak Tenaga Kerja Indonesia baik (TKI) mereka mendaftar secara formal maupun informal.

Pria yang juga pernah mengenyam pendidikan di UIN Sunan Gunung Djati Bandung ini menyampaikan bahwa untuk menjalin kerjasama yang lebih erat pihak JAKIM Sabah menetapkan dalam pertemuan tersebut akan melakukan kunjungan resmi ke Kampus Induk Pondok Pesantren Hidayatullah Ummul Quro Gunung Tembak di Balikpapan sekitar tanggal 13 – 17 November 2019 dengan rombongan sebanyak 20 orang.

Kunjungan kerja ke negara jiran ini tidak akan sah jikalau tidak memina restu dan petunjuk kepada Konsulat Jenderal Republik Indonesia Kota Kinabalu Sabah. Perwakilan pemerintah NKRI di Sabah ini diketuai oleh Bapak Krishna Djelani yang dalam penyambutannya diwakili oleh H. Cahyono Rustam, Pelaksana Fungsi Pensosbud KJRI Kota Kinabalu.

Mengawali sambutannya, pria asal Kota Malang, Jawa Timur ini menyampaikan belasungkawa atas wafatnya Presiden RI Ke 3, Prof. DR. Ing BJ. Habibie. Di mana baru saja pihak KJRI Kota Kinabalu melaksanakan penandatanganan Buku Duka Cita yang menjadi tradisi kantornya kentika ada tokoh nasional yang meninggal dunia.

Lanjut daripada itu, Cahyono Rustam menyambut baik berita dan informasi tentang program yang selama ini sudah dilaksanakan oleh Hidayatullah di Sabah melalui kerjasama dengan pihak Konsulat Republik Indonesia Tawau.

Beliau memberikan apresiasi tinggi terhadap usaha Hidayatullah dalam membantu pemerintah RI dalam program dakwah dan pendidikan yang sudah dijalankan khususnya dalam penanganan anak TKI.

“Alhamdulillah kita mendapat peluang mitra dan kami merasa terbantu dengan program beasiswa pendidikan anak TKI Hidayatullah. Program pembukaan Gerai ZISWAF Ramadhan Hidayatullah juga bagus karena pendayagunaannya bermanfaat kembali untuk warga Indonesia”, sambut beliau.

Selain bertemu dengan pihak-pihak di atas secara resmi, rombongan DPW Hidayatullah Kaltara juga menyempatkan bersilaturahim dengan General Manager Telkom Malaysia Sabah, Dato’ Mohd Sainal Mohd Amin dan H. Muhammad Manukke yang merupakan pengurus Pondok Pesantren Darul Ulum yang rencananya akan dibangun atas kerjasama dengan DPW Hidayatullah Kaltara di kompleks Masjid Nurul Hidayah Jambatan Putih, Tawau.

Dan, untuk mengokohkan niat tersebut kedua tokoh tersebut merencanakan akan berkunjung ke Kampus Induk Pondok Pesantren Hidayatullah Ummul Quro Gunung Tembak di Balikpapan akhir Oktober 2019 untuk menyaksikan secara langsung hasil perjuangan dan pengkaderan Allahyarham Ustadz Abdullah Said beserta para sahabatnya yang selama ini sudah beliau dengar dan baca melalui buku Mencetak Kader.

DPW Hidayatullah Kaltara juga sempat berkunjung ke Sekolah Indonesia Kota Kinabalu (SIKK) dan Transit Al Hidayah dalam rangka silaturahim dan bincang-bincang kerjasama dengan Bapak H. Bairullah Dumpas terkait rencana pendirian Pondok Tahfidz Qur’an Hidayatullah di kawasan Kiulu, Kota Kinabalu. Pondok Tahfidz di lingkungan minoritas Muslim suku Dusun, Kadazan dan Murut dengan latar belakang lingkungan alam yang segar dan natural.

Disela-sela kunjungan, rombongan DPW Hidayatullah Kaltara ditakdirkan untuk bersua muka dengan salah satu mubaligh kondang Nusantara, Ustadz Abdul Somad Batubara, Lc, MA di Hotel Tabung Haji Kota Kinabalu yang sedang melaksanakan dalam program safari dakwah di Kota Kinabalu.*/Mazlis Mustafa

Halaqah Muharram 1441 Kader Hidayatullah se-Sumatera

0

ACEH (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Provinsi Nangroe Aceh Darussalam (NAD) menjadi tuan rumah penyelenggaraan acara Halaqoh Muharram 1441 Temu Kader Hidayatullah se-Sumatera yang digelar di kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Paroy, Kabupaten Aceh Besar, NAD, pada tanggal 7-8 Muharram 1441 bertepatan dengan 7-8 September 2019.

Acara ini dihadiri lebih dari 300 peserta. Para kader sangat antusias dengan kegiatan ini. Walaupun jarak yang ditempuh cukup jauh memakan waktu dan tenaga yang tidak sedikit. Tapi karena semangat untuk mendapat pencerahan spirit maka itu semua menjadi ringan.

Sebagai pemateri adalah Ust Abdurrahman Muhammad (Pimpinan Umum Hidayatullah), Ust DR Nashirul Haq, Ust Akib Junaid, Ust Jamaludin Noor, M. Pd, Ust Aziz Kahar dan juga pembicara dari Tokoh Ulama Aceh.

Pada acara pembukaan Halaqoh Muharram ini dihadiri dari pemerintah Kabupaten Aceh Besar yaitu bapak asisten II dan juga di gelar tabligh akbar.*/Lukmanul Hakim

Polres Lantas Mamuju Berbagi Tali Asih Santri Hidayatullah

PASANGKAYU (Hidayatullah.or.id) — Menyambut Hari Ulang Tahun Polantas Bhayangkara yang ke-64, Polisi Satuan Lantas (Polantas) Polres Mamuju Utara menggelar kegiatan bakti sosial tali asih dengan menyantuni anak yatim asuhan Pondok Pesantren Hidayatullah Tanjung Babia, Kecamatan Pasangkayu, Kabupaten Pasangkayu, Selasa Sore (17/09/2019).

Kedatangan rombongan satuan Lalu Lintas ini bersama Kasat Lantas Iptu Muhammad Nur SH disambut belasan anak panti Asuhan Pondok Pesantren Hidayatullah Pasangkayu beserta pengurus.

Maksud kedatangan Sat Lantas ke anak yatim adalah untuk memberikan santunan kepada mereka berupa sembako serta bantuan pembinaan yang diserahkan langsung oleh Kasat Lantas dan Perwakilan Polwan dari Sat Lantas Bripda Octaria Surahmin

Kepala Satuan Lantas Polres Mamuju Utara Iptu Muhammad Nur SH mengatakan kegiatan baksos yang digelar merupakan salah satu bentuk kepedulian Satlantas untuk berbagi kasih kepada anak yatim sehingga dapat memacu semangat mereka dalam belajar.

Iptu Muhammad Nur Mengatakan “Semoga bantuan ini bermanfaat untuk anak-anak dan mereka tetap semangat dalam belajar biar bisa mencapai cita-cita menjadi penerus bangsa dan masa depan”.

Kegiatan santunan tersebut juga merupakan salah satu dari sejumlah kegiatan Polres Mamuju Utara dalam rangka menyambut HUT Polantas Bhayangkara ke-64 Tahun 2019 dengan motto “Semangat Promoter Lantas Polri Mengoptimalkan Pelayanan Lalu Lintas Berbasis IT Guna Mendukung Program Road Safety”.

Pada kesempatan itu, dia juga meminta doa kepada seluruh anak panti asuhan untuk turut mendoakan Personil Polres Mamuju Utara dan Sat Lantas agar selalu diberi kesehatan dan keselamatan dalam menjalankan tugas.

Ditempat yang sama Pimpinan Pondok pesantren Hidayatullah Pasangkayu Ustadz Herman sangat berterima kasih atas kegiatan yang dilakukan Personil Satlantas polres Mamuju Utara dan berharap semoga Polantas kedepan menjadi lebih profesional, lebih maju dan dicintai masyarakat luas.*/Tribata/ dbs

Manokwari Kirim 20 Peserta ke Jamnas II Pandu Hidayatullah

0

MANOKWARI (Hidayatullah.or.id) -– Sebanyak 20 santri Pondok Pesantren Hidayatullah Manokwari akan mengikuti Jambore Nasional (Jamnas) Pandu II Hidayatullah se-Indonesia yang akan berlangsng di Bumi Perkemahan Coban Rondo, Batu, Malang Jawa Timur, selama empat hari yang dijadwalkan akan dimulai 24 September sampai 29 September 2019.

“Jamnas Pandu II Hidayatullah dari Provinsi Papua Barat ada dua kelompok yaitu dari Ponpes Hidayatullah Manokwari dan Ponpes Hidayatullah Kaimana,” jelas pendamping peserta Jamnas Hidayatullah Manokwari, Ust Ahmad Sodri, yang ditemui media di Pelabuhan Kapal Laut Manokwari, Selasa (17/9/2019).

Ustazd Ahmad Sodri mengatakan, Manokwari akan mengikuti serangkaiaan kegiatan di Jamnas seperti lomba ketangkasan, PBB , yelyel pionering, sandi, panahan, morse, estafet dan lain-lain. “Manokwari mengikutkan 20 santri dan Kaiman 10 santri,” tambah Sodri.

Peserta Jamnas Pandu II dilepas oleh Ketua Badan Pembina Ponpes Hidayatuallah Manokwari Ust Muhammad Sulton di Ponpes Hidayatullah Manokwari, Selasa (17/9/3019) pagi.

Kemudian peserta akan menggunakan angkutan kapal laut KM Gunung Dempol menuju Surbaya Jawa Timur. “Peserta harus taat, sabar, semangat dan menjaga kesehatan selama mengikuti rangkaiaan kegiatan Jamnas di Malang nanti,” pesan Ustazd Sulton.

Sesuai UU Pendidikan Nasional No. 20 Pasal 3 Tahun 2003, pendidikan nasional harus mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Selaras dengan itu, gerakan kepanduan nasional yang lahir dan mengakar di bumi nusantara merupakan bagian terpadu dari gerakan perjuangan kemerdekaan Indonesia yang membentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Oleh karenanya, gerakan kepanduan nasional Indonesia mempunyai andil yang tidak ternilai dalam sejarah perjuangan kemerdekaan itu. Jiwa kesatria yang patriotik telah mengantarkan para pandu ke medan juang bahu-membahu dengan para pemuda untuk mewujudkan adicita rakyat Indonesia dalam menegakkan dan mandegani Negara Kesatuan Republik Indonesia selama-lamanya.

Jambore Nasional II Pandu Hidayatullah 2019 adalah kegiatan silaturrahim, kompetisi, dan rekreasi edukatif di alam terbuka dalam bentuk perkemahan pandu hidayatullah tingkat mutawashith dan muntahi.

Perkemahan ini merupakan sarana pembinaan pandu muntawashith dan muntahi yang menitikberatkan pada pengembangan diri peserta yang terdiri atas bidang mental, fisik, intelektual, spiritual dan sosial baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat.

Jambore Nasional II Pandu Hidayatullah 2019 dilaksanakan pada tanggal 25-29 September 2019, dengan alokasi waktu kegiatan: peserta datang, registrasi dan pendirian tenda tanggal 24 September 2019, Upacara Pembukaan tanggal 25 September 2019 pukul 08.00-10.00 WIB, hari efektif kegiatan tanggal 25-29 September 2019 dan upacara penutupan tanggal 29 September 2019.

Tempat pelaksanaan kegiatan Jambore Nasional II Pandu Hidayatullah 2019 dilaksanakan di Bumi Perkemahan Coban Rondo, Malang, Jawa Timur. Dengan tema “Pandu Hidayatullah Berkhidmat untuk Indonesia lebih Bermartabat”.

Istimewanya Sepertiga Malam

BAGI YANG pernah mondok mungkin bisa membayangkan padatnya kegiatan bersekolah di pesantren. Mulai dari aktifitas belajar di kelas hingga berbagai program asrama yang dijalani setiap waktu.

Begitulah kondisi serupa yang kujalani beberapa tahun terakhir. Tepatnya saat memutuskan kuliah di sebuah perguruan tinggi berbasis pesantren, di ujung Timur Kota Balikpapan, Kalimantan Timur. Apalagi dengan status mahasiswa, nyaris setiap hari ada dosen yang memberi tugas makalah

Hari-hari mahasiswa lalu disibukkan dengan seabrek kegiatan. Mulai dari kuliah, merangkum pelajaran, tugas makalah, hafalan al-Qur’an dan murajaah (mengulang hafalan). Selain itu, ada kerja bakti di lingkungan asrama dan sekitar kampus atau berjibaku di dapur sebagai petugas masak.

Belum lagi jika kena giliran hirasah (berjaga di malam hari). Tugas yang disebut terakhir tersebut cukup menguras energi karena harus tidak tidur semalaman menjaga keamanan lingkungan, sekaligus berfungsi membangunkan yang lain untuk shalat Tahajjud (shalat malam).

Untuk kegiatan pribadi, kadang harus “curi-curi” waktu di sela kesibukan di atas. Biasanya di siang hari jelang waktu Ashar. Saat yang lain sedang menikmati waktu istirahat mereka. Itu berarti sejenak ada waktu menengok cucian pakaian yang perlahan menumpuk.

Sekurangnya bisa merapikan isi lemari yang berantakan atau sekalian memilih istirahat juga seperti kawan-kawan lainnya. Sebab mata dan badanpun ada haknya yang harus dipenuhi. Tak jarang ada saja yang harus berjuang menahan kantuk dan sampai tertidur saat belajar di kelas atau tilawah al-Qur’an di halaqah.

Syukurnya, pengalaman menyantri dahulu membuatku bisa menemukan alternatif lain dalam mengatur waktu. Alhamdulillah ini sudah terbukti dan kabarnya menjadi rahasia para ulama dan tokoh-tokoh terdahulu. Yakni bangun di sepertiga malam (tsulutsul lail).

Wah, mudah dong? Oh tidak. Bangun malam bukan cuma berat tapi sangat berat. Sebab itu berarti harus berjuang melawan kantuk di saat yang lain sedang pulas menikmati tidur lelapnya. Berat karena harus bangkit menanggalkan selimut dan bantalnya saat orang lain justru menariknya agar lebih hangat lagi.

Pertama kali shalat Tahajjud, segala hal benar-benar kusiapkan. Mulai dari pasang niat, berwudhu, wirid malam, hingga membaca doa sebelum tidur. Meski begitu ternyata urusan ini tetap saja tidak semudah membalikkan telapak tangan.

Sudah terjaga pun, belenggu godaan itu masih kuat mengikat. Seperti mengangkat beban yang sangat berat. Ya Allah ampuni dosa-dosaku. Mungkin ini akibat maksiat dan kelalaian yang belum bisa kuhindari di siang hari tadi.

Aku hanya bisa merapal doa. Berharap ada kekuatan yang meringankan langkah ini untuk segera bangkit berwudhu dan bersujud di hadapan-Nya.

Alhamdulillah, izin Allah, ujian pertama bisa lolos. Anehnya, suasana malam itu ternyata luar biasa. Ada suasana tenang dan damai yang tiba-tiba merasuk. Pikiran jadi jernih. Jiwa mendadak lapang. Ini juga yang kusyukuri.

Tinggal di asrama pesantren berarti ada jaminan keamanan. Sekurangnya ada yang setiap malam meronda. Berjaga-jaga memastikan keamanan di sekitar lingkungan kampus. Jadi tak perlu khawatir saat berjalan sendirian ke kamar mandi asrama. Maklum aku termasuk perempuan penakut, kata teman-teman menilai.

Usai menunaikan shalat Tahajjud, ternyata masih ada waktu senggang sebelum tiba waktu Fajar. Nah biasanya itu kumanfaatkan dengan menambah hafalan baru dua lembar. Di waktu yang sama, aku berkesempatan membaca pelajaran yang dipelajari hari itu.

Aku juga punya waktu membaca buku-buku motivasi yang kusukai dan menulis sebagai kebiasaan yang coba kurutinkan selalu. Amazing! Sampai di sini ternyata masih ada waktu lebih. Aku masih juga sempat mandi, mencuci bahkan tidur qailulah. Kalau jadwal puasa sunnah, berarti sekalian sahur bersama mahasiswa lainnya.

Entah kenapa pekerjaan sebanyak itu bisa selesai di waktu sepertiga malam tersebut. Mungkin ini yang disebut keberkahan waktu. Entahlah. Aku hanya bisa menduga-duga. Sekalipun tak berani memastikannya. Pastinya itu semua bikin aku ketagihan untuk berjuang bangun tengah malam. Paling tidak di sepertiga malam itu. Seperti banyak keajaiban yang terjadi.

Paling terasa, ada ketenangan yang meliputi sepanjang hari. Selalu ada semangat. Meski lelah itu pasti. Sebab kadang itu baru terasa saat menjelang Zhuhur atau di siang hari.

Namun satu yang kusyukuri. Dengan jadwal yang anti “mainstream” itu, aku terlepas dari riuhnya antrian mahasiswa yang mengular di depan kamar mandi setiap hari. Tak perlu rebut hanya gara-gara rebutan sarung untuk shalat Dhuha di Mushalla. Sebab saat itu aku sudah selesai shalat. Tinggal duduk manis mengulang hafalan.

Saat yang lain baru mengulang hafalan, justru aku sudah selesai menyetor dengan hafalan fresh from the open. Bahkan tak jarang teman-teman menitip izin telatnya hanya karena dianggap selalu lebih duluan bersiap berangkat kuliah.

Inilah keajaiban shalat Tahajjud sekaligus barakah waktu sepertiga malam. Ada banyak pekerjaan bisa terselesaikan di waktu tersebut. Namun lebih utama tentu saja, itulah saat yang paling asyik untuk beribadah dan bermunajat kepada sang Pencipta.

Firman Allah;

“Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji,” (Al-Isra [17]: 79).

Senada dalam hadits Nabi Shallallahu alaihi wasallam (Saw): “Wahai manusia, tebarkan salam, berilah makan, sambunglah tali silaturahmi dan shalatlah di malam hari saat manusia tertidur, niscaya kalian akan masuk ke dalam Surga dengan selamat.” (Riwayat at-Tirmidzi).

Seperti diceritakan Dwi, mahasiswi STIS Hidayatullah Balikpapan.

Karhutla Dua Kampus Terpapar Asap, Tiga Santri ISPA Dirawat

0

PONTIANAK (Hidayatullah.or.id) — Polusi asap yang turut terjadi di Kota Pontianak, Kalimantan Barat (Kalbar), dan sekitarnya, berdampak pula pada aktivitas masyarakat, termasuk dunia pendidikan. Secara lebih khusus Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Batu Layang, Pontianak.

Ketua DPW Hidayatullah Kalbar Nur Kalam kepada hidayatullah.com, Ahad (15/09/2019) melaporkan kondisi Pondok Pesantren Tahfizhul Qur’an Hidayatullah Pontianak, Kelurahan Batu Layang, Kalbar, yang turut terpapar asap.

Tampak asap meliputi kompleks pesantren tersebut. Walau begitu, para ustadz dan santri tetap menjalankan kegiatan ibadah dan pendidikan khususnya di area masjid yang semi terbuka.

“Suasana pagi seperti ini masih diselimuti kabut asap. Matahari hampir tidak kelihatan (karena asap). Sekeliling pondok masih diselimuti asap,” ujarnya kepada hidayatullah.com, Ahad (15/09/2019) pagi sekitar pukul 07.00 WIB.

Baru-baru ini, Pemerintah Kota (Pemkot) Pontianak meliburkan kegiatan belajar mengajar (KBM) tingkat PAUD/TK, SD, dan SMP.

Salah seorang santri pesantren itu yang sekolah di pendidikan negeri terpaksa tidak bersekolah sementara karena KBM diliburkan akibat memburuknya kualitas udara akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Selain itu, pesantren tersebut juga terdampak asap karena terjadi kebakaran hutan di sekitar pesantren.

Nur Kalam pun berharap situasi tersebut segera berlalu dan tidak berdampak lebih jauh lagi, terutama bagi kesehatan penghuni pondok, secara khusus para santri.

“Mohon doanya ikhwah. Semoga anak-anak santri sehat selalu. Karena saat ini pondok berasap karena hutan sekelilingnya terbakar,” ujarnya berharap doa kepada para jamaah kemarin sore.

Namun demikian, hingga semalam, secara umum kegiatan di pesantren masih berlangsung normal meskipun terpapar asap.

“(Cuma) anak-anak sekolah umum negeri sudah beberapa hari diliburkan,” ujarnya seraya mengisyaratkan kesedihannya atas kondisi yang terjadi.

Sementara itu, sebanyak 3 santri menjadi korban asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kota Pekanbaru, Riau, baru-baru ini. Dua dari ketiganya dievakuasi dan dirawat di sebuah klinik setempat.

Satunya lagi, bahkan dilarikan ke Rumah Sakit Prof Dr Tabrani dan menjalani perawatan hingga saat ini.

Santri tersebut, Candra, kelas 3 SMP, dirawat di rumah sakit karena terindikasi mengalami infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) akibat paparan asap karhutla.

Para korban asap karhutla itu adalah santri Pondok Pesantren Hidayatullah Pekanbaru, Riau, yang beralamat di Jl Indrapuri ujung, Kelurahan Bencahlesung, Kecamatan Tenayan Raya, Kota Pekanbaru.

“Mohon doanya Ustadz-Ustadzah, santri kita Candra kelas 3 SMP dirawat di RS Tabrani malam ini (Sabtu malam, red). Semoga Allah Subhanahu Wata’ala mengangkat penyakitnya segera. Amin Ya Rabbal Alamin,” demikian doa jamaah sebagaimana disampaikan pengurus pesantren, Ikhsan, kepada hidayatullah.com, Ahad sore (15/09/2019).

Pesantren Hidayatullah Pekanbaru, sebagaimana wilayah Pekanbaru dan Riau pada umumnya, juga terpapar asap karhutla.

“Hanya saja, rumah-rumah warga (ustadz) dikelilingi pohon-pohon besar dan tanam-tanaman, membuat udara di dalam rumah warga lebih tersaring,” ujar Ikhsan yang juga seorang dai.

Adapun kondisi kedua santri yang sempat dirawat di klinik tersebut sudah membaik dan kembali ke pondok. Akan tetapi, keduanya masih harus pakai masker setiap beraktivitas terutama di rumah/gedung.

Sebelumnya juga diwarta media, sebanyak 12 warga yang terpapar kabut asap disebabkan karhutla dievakuasi tim relawan posko kesehatan DPW Partai Keadilan Sejahtera (PKS) di Jl Soekarno Hatta, Kecamatan Marpoyan Damai, Kota Pekanbaru, Jumat (13/09/2019) sekitar pukul 23.00 WIB.

Kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di wilayah Provinsi Riau masih berdampak pada kualitas udara. Dalam catatan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hingga Sabtu (14/09/2019), kualitas udara dengan kategori sedang hingga sangat tidak sehat terpantau di beberapa titik.

Terkait dampak karhutla, rekapitulasi Data P3E Sumatera KLHK dan Dinas LHK Provinsi Riau pada pukul 07.00 – 15.00 WIB (14/09/2019) mencatat indeks standar pencemar udara (ISPU) tertinggi di wilayah Pekanbaru 269, Dumai 170, Rohan Hilir 141, Siak 125, Bengkalis 121, dan Kampar 113.

Angka itu mengindikasikan kondisi kualitas udara tidak sehat atau penunjuk angka 101 – 199. Sehari sebelumnya (13/09/2019), kualitas udara di wilayah Riau pada kondisi sangat tidak sehat hingga berbahaya.

Data juga menunjukkan kualitas udara di provinsi lain, seperti Jambi (123), Kepulauan Riau (89), Sumatera Selatan (51), Sumatera Barat (46) dan Aceh (14).

Kualitas udara yang diukur dengan ISPU memiliki kategori baik (0 – 50), sedang (51 – 100), tidak sehat (101 – 199), sangat tidak sehat (200 – 299), dan berbahaya (lebih dari 300).

Mendukung operasi pemadaman karhutla, BNPB bersama kementerian/lembaga, TNI dan Polri menggerahkan personel untuk penanganan di beberapa provinsi. Tujuh helikopter untuk pengemboman air dan patroli dikerahkan untuk wilayah Provinsi Riau.

Terhitung dari 19 Februari 2019 hingga 31 Oktober lalu, lebih dari 124 juta liter air digelontorkan untuk pengemboman air dan lebih dari 159 ton garam untuk operasi hujan buatan atau teknologi modifikasi cuaca (TMC).

Luas lahan terbakar akibat karhutla di wilayah Riau menurut catatan BNPB yaitu seluas 49.266 hektare. Sejumlah luas lahan terbakar lahan gambut seluas 40.553 ha dan mineral 8.713 ha.

Karhutla yang masih terus berlangsung ini mengakibatkan dampak yang luas selain kerusakan lingkungan dan kesehatan, juga aktivitas kehidupan warga masyarakat.

BNPB mengimbau agar pemerintah daerah tidak hanya bermain dengan kata-kata saja, tetapi harus bertindak secara nyata.

Hal ini diungkapkan mengingat sebelumnya Kepala BNPB Doni Monardo mendengar slogan ‘Riau Tanpa Asap.’ Namun, ini bertolak belakang dengan kondisi yang dihadapi Riau saat ini.

“Saya tidak ingin hanya slogan-slogan. Dulu saya senang dengan pernyataan Riau Tanpa Asap. Tapi apa, hari ini Riau penuh asap,” ujar Doni dalam rapat koordinasi penanganan karthula yang berlangsung di Riau pada Sabtu (14/09/2019) dirilis BPNB.*/Hidcom

Mohamad Nur Fuad: Kader Dai Harus Cerdas dan Mencerahkan

0

MAMUJU (Hidayatullah.or.id) — Ketua Departemen Pembinaan Anggota DPP Hidayatullah, Drs. Mohamad Nur Fuad, MA, mengingatkan bahwa seorang kader dai harus cerdas dan mencerahkan. Hal tersebut disampaikan beliau dalam acara Training Bina Aqidah yang dipusatkan di Kampus Madya Hidayatullah Mamuju, beberapa waktu lalu.

Ia mendorong agar semua peserta bisa mengaplikasikan pola pembelajaran al-Qur’an dalam kesempatan roadshow ini.

Salah satu penyusun buku Qalami Mudah Meulis Al-Qur’an One Day One Ayah ini menjelaskan bahwa sebenarnya (dengan) membaca, menulis, menyimak dan memahami Al-Qur’an justru menjadi penyembuh penyakit mental dan fisik.

“Namun sebelumnya, harus memantapkan cara berpikir bahwa belajar al-Qur’an itu mudah dan menggairahkan bahkan lebih mudah dari sekedar belajar mengendarai sepeda motor,” ujar Nur Fuad.

Dia menerangkan, hanya saja masih banyak orang islam yang belum meyakini kebenarannya. Dalam rangkaian rutinitas belajar al-Qur’an apalagi bisa melaksanakan ajarannya adalah terapi yang tentunya dilakukan secara benar sesuai dengan tuntunan.

Pemapar dalam Training Bina Aqidah dalam roadshownya di Sulawesi Barat itu menekankan agar semua kader harus bangga dengan profesi medakwahkan al-Qur’an dari masyarakat perkotaan hingga ke desa terluar di provinsi ke 33 tersebut.

Di hadapan seratusan peserta Training Bina Aqidah yang dilaksanakan pada Sabtu dan Ahad tanggal 14 dan 15 September, Ketua Departemen Bina Anggota DPP Hidayatullah kerap menyinggung semangat belajar harus terus dikuatkan agar kader itu harus cerdas dan mencerahkan.

“Maksudanya tidak sekedar menguasai materi namun piawai menjelaskan kepada mad’u atau audien agar bisa merubah kehidupan beragama dengan kehadiran dai,” imbuhnhya.

Ketua DPW Hidayatullah Sulawesi Barat Imran M. Djufri megatakan materi (pembelajaran) ini sangat mahal makanya sepulang dari acara ini mestinya bertambah juga spirit dan pola mendakwahkan al-Qur’an ini.

Pihaknya khususnya Departemen Pembinaan Anggota DPW Hidayatullah Sulawesi Barat merasa lega setelah melihat berjalannya acara Training Bina Aqidah yang ia adakan berjalan penuh semangat dan riang peserta membuktikan antusiasmenya.

Dia menegaskan agar semua peserta bisa mengaplikasikan pola pembelajaran al-Qur’an dalam kesempatan roadshow Ketua Departemen Pembinaan Anggota DPP Hidayatullah ini.

”Materi pembelajaran ini sangat mahal makanya sepulang dari acara ini mestinya bertambah juga spirit dan pola mendakwahkan al-Qur’an ini,” pungkas Imran.*/Muhammad Bashori

Meraih Rejeki Dunia-Akhirat

0

APA yang membuat seseorang teguh dengan pendirian iman? Tidak lain karena ia sadar, hanya iman yang menjadikan seseorang memperoleh rejeki, tidak saja di dunia tetapi juga saat ia telah lama tiada.

Seorang Soekarno mungkin dikagumi banyak anak muda. Tapi seorang Soekarno ternyata mengagumi KH. Ahmad Dahlan.

Why? Tentu saja karena spirit imannya.

Rocky Gerung pernah dalam satu kesempatan mengatakan, kalau saja KH. Ahmad Dahlan berpikir turun ke politik praktis, maka tidak akan ada Universitas Muhammadiyah. Nama beliau hilang dalam perjalanan masa bangsa ini.

Tapi karena KH. Ahmad Dahlan mementingkan iman, bergerak dengan idealismenya, maka kini orang baru sadar, betapa luar biasanya sosok Kiyai itu.

Bandingkan dengan Anggota DPR RI yang dalam niat dan komitmennya berada di Senayan bukan lagi dalam rangka memperjuangkan iman.

Sosok yang menarik bagi saya adalah KH. Abdullah Said. Beliau orang yang diberi karunia oleh Allah melihat hakikat kehidupan, maka sejak belia beliau tanggalkan hal-hal yang tidak diperlukan dalam rangka menghidupkan dan memperjuangkan iman.

Mulai dari kuliah, kesempatan berkarir, dan lain sebagainya. Beliau fokus menata belantara menjadi tempat yang kini dirindukan banyak kader dan murid-muridnya, yakni Gunung Tembak.

Dalam sebuah kesempatan, mantan Gubernur Kaltim, Awang Faroek Ishak pernah mengatakan, saat saya meniti karir di kantor Pemerintah Provinsi, Abdullah Said bersama rekan-rekannya rutin memainkan parang dan sabit, merintis belantara untuk dijadikan pesantren.

Kini, terlihat apa yang diperjuangkan selama ini. Betapa rakyat Kaltim sangat mengagumi dan membanggakannya.

Terlebih kala sang teladan memberikan jejak berupa tulisan yang bisa dinikmati generasi pelanjut, sungguh kehadirannya akan terus terasa. Lebih-lebih bukan semata tulisan yang diwariskan, wadah perjuangan juga telah disediakan. Maka siapa yang tidak kagum dan menghendaki keutamaan seperti itu.

KH. Ahmad Dahlan, KH. Abdullah Said, KH. Hasyim Asy’ari, Buya Hamka, M. Natsir, dan lain-lainnya beserta seluruh ulama dan pemuka pergerakan umat yang telah memberikan keteladanan dalam hidup ini adalah sosok yang tak pernah mati, bahkan terus menerus mendapatkan rezeki.

Jadi, hidup sejatinya soal keteladanan. Dan, keteladanan hanya bisa diraih dengan gelora menghidupkan dan memperjuangkan iman. Boleh jadi di dunia tak dipandang masyarakat banyak. Tapi kehadirannya dan kepergiaannya benar-benar memberi arti.

Mungkin tidak bagi semua orang, tetapi pasti bagi setiap yang menggunakan pikirannya unuk hidup tak sekedar senang, tapi berarti.

Dan, kala mereka terinspirasi, bergerak karena keteladanan yang dibuktikan, betapa itu akan menjadi deposito tiada henti bagi sang teladan, langsung dan kontan dari Tuhan!

Ya Rabb, mampukan kami semua. Aamiin

Jakarta, 17 Muharram 1441 H
Imam Nawawi

Anak SD Hidayatullah Baubau ke Bandara Betoambari

0

BAUBAU (Hidayatullah.or.id) — Sejumlah 40 siswa kelas 1A dan 1B SD Integral Hidayatullah Baubau mengikuti program outing class di Bandar Udara Betoambari Baubau (14/09/2019).

Rombongan siswa, guru, dan orang tua siswa diterima dan disambut oleh Kasubsi UPBU Betoambari Basuki, Sekretaris Isnawati dan Kepala Kantor Nurul Anwar.

Bandar udara Betoambari merupakan bandara kebanggaan masyarakat kepulauan Buton utamanya bagi warga Kota Baubau.

Dalam kegiatan ini siswa belajar tentang kegiatan transportasi terkait bandara, transportasi udara, pesawat terbang, dan pilot. Siswa mendapatkan kesempatan untuk bertanya sekaligus melihat langsung kegiatan penerbangan pagi yang cerah ini.

Mirna Angraeni, wali kelas yang ikut mendampingi outing class menyatakan bahwa kegiatan ini bertujuan sebagai pembelajaran luar kelas yang interaktif “Untuk mengenalkan siswa tentang transportasi udara, yang mengemudikan pesawat (pilot) dan pengenalan bandara Betoambari.” Ungkapnya.

Siswa sangat antusias mengikuti kegiatan outing class. “Masya Allah terima kasih ustadzah, ini sudah jalan-jalan sambil belajar paling asyik dan seru.” ujar kembar Syafiq dan Syakib penuh semangat.

Kegiatan outing class diakhiri dengan menerbangkan pesawat kertas di landasan parkir bandara. Tujuannya untuk mengenang jasa Bapak Dirgantara Indonesia yang juga merupakan Presiden Republik Indonesia ke-3 Bapak Prof. Dr. Ing. Baharuddin Jusuf Habibie yang wafat pada hari Rabu (9/11) lalu.

Sekaligus bentuk duka cita atas meninggalnya pahlawan teknologi. Tak lupa rombongan mengabadikan momen ini dengan berfoto bersama dengan pengelola bandara dan pilot. */Noer Akbar