Beranda blog Halaman 498

Alumni STIS Hidayatullah Dipesan Jaga Spiritual dan Profesionalisme

SAMARINDA (Hidayatullah.or.id) — Disela kesibukan dengan kegiatannya yang padat, Pimpinan Umum Hidayatullah KH Abdurrahman Muhammad berkesempatan menghadiri acara Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Ikatan Alumni Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Hidayatullah (IAS-Hida) yang diselenggarakan di Pondok Pesantren Madinatul Qur’an Al Izaah Samarinda, beberapa waktu lalu.

Alumni STIS Hidayatullah (IAS-Hida) menyelenggarakan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) di Pondok Pesantren Madinatul Qur’an Samarinda pada 16-17 Maret 2019. Rakernas yang mengambil tema “Sinergitas Alumni dan Almamater Demi Terwujudnya Dakwah-Tarbiyah Untuk NKRI Bermartabat” ini diikuti ratusan peserta yang terdiri dari alumni STIS Hidayatullah Balikpapan

Dalam penyampaiannya saat didapuk memberikan sambutan, Pimpinan Umum yang karib disapa Ustadz ini berpesan kepada para alumni harus mensifati spiritualitas, militansi, dan berpacu dengan cepat dunia ini dengan memiliki intelektualitas dan profesionalisme.

“Kehadiran Hidayatullah untuk menjalin silaturahim kepada siapapun juga. Kejarlah dunia sekuatnya untuk menegakkan agama,” pesannya, seraya menukil perkataan sahabat tabi’in Said bin al-Musayyib bin Hazn bin Abi Wahb al-Makhzumi.

Beliau menyampaikan sangat bersemangat menghadiri Rakernas IAS Hida karena mengingat salah seorang rekan sejawatnya, Ustadz Darmadi, yang pernah bersamanya bergiat dalam kegiatan dakwah merupakan perintis Pondok Tahfidz Al Izzah bersama Ustadz Uswandi yang kini juga Ketua DPD Hiadyatullah Samarinda.

“Saya sebagai orangtua, sangat berkepentingan dengan para pemuda, khususnya alumni STIS Hidayatullah. Melihat sinergitas alumni STIS, maka lihatlah pelaksanaan acara di Al-Izzah ini,” katanya.

Beliau mengatakan, Rakernas IAS Hida bertempat di Kampus Al Izzah yang menurutnya luar biasa. Mendengar nama Al-Izzah, lanjutnya, tidak bisa terlepas dari peran Ust. Darmadi, yang juga adalah kawan seperjuangannya sewaktu di Gunung Tembak.

“Salah satu spirit dakwah di Gunung Tembak waktu itu adalah didorong oleh gerakan jamaah tabligh. Dahulu ada Kiai Munir, ulama Kharismatik di Balikpapan, terharu oleh kegigihan dakwah dai Hidayatullah,” katanya.

Beliau melanjutkan, dalam pembinaan dakwah dan tarbiyah, para alumni STIS Hidayatullah seyogyanya penuh semangat dalam bina akidah, sinergis dalam berjamaah, kohesif dalam mencerahkan umat serta tuntas dalam halaqah.

“Kader Hidayatullah harus membangun komunitas yang Islami. Lalu melakukan pembinaan aqidah dan efektivitas halaqah,” imbuhnya.

Beliau pula mendorong anak-anak muda terutama alumni STIS Hidayatullah yang telah menyebar dari Sabang sampai Merauke untuk tidak saja sibuk memperbaiki umat, melainkan juga selalu memperbaiki diri.

“Inti dari perbaikan diri, pertama, dengan taubat yang akan melahirkan sikap muraqabah. Setelah itu melakukan muhasabah untuk melakukan penilaian terhadap diri secara terus-menerus,” pesannya.

“Selain didasari dengan takwa, harus ada militansi yaitu semangat pantang menyerah. Ingat bagaimana seorang pemuda Al Fatih mendorong perahu naik gunung untuk menembus benteng Konstantinopel untuk menaklukkannya,” pungkasnya.

Alumni STIS Hidayatullah (IAS-Hida) menyelenggarakan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) di Pondok Pesantren Madinatul Qur’an Samarinda pada 16-17 Maret 2019. Rakernas yang mengambil tema “Sinergitas Alumni dan Almamater Demi Terwujudnya Dakwah-Tarbiyah Untuk NKRI Bermartabat diikuti ratusan peserta yang terdiri dari alumni STIS Hidayatullah Balikpapan.

Pada kesempatan tersebut, juga hadir Pimpinan Umum Hidayatullah Ustadz Abdurrahman Muhammad yang juga merupakan penggagas berdirinya STIS Hidayatullah, Ketua Departemen Sosial dan Kesehatan DPW Hidayatullah Kalimantan Timur Ir Mulyadi yang sekaligus salah satu perintis Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Hidayatullah, Ketua DPW Hidayatullah Banten Endi Haryono, dan Ketua DPD Hidayatullh Samarinda Uswandi.

Ketua IAS-Hida, Rizky Kurnia Sah dalam sambutannya menerangkan eksistensi ikatan alumni STIS Hidayatullah yang dipimpinnya ini merupakan halaqoh keluarga besar yang beranggotakan para alumni STIS Hidayatullah.

“Secara spesifik wadah alumni ini merupakan sebuah halaqah keluarga besar yang kebetulan lahir dari rahim almamater yang sama. Cuma halaqah besar ini dikembangkan menjadi lembaga formal menjadi ikatan alumni,” kata Rizky dalam keterangannya diterima media ini.

Menurut Rizky, keberadaan wadah ini untuk memperkuat simpul yang sudah ada, yaitu keberadaan STIS Hidayatullah sebagai Perguruan Tinggi yang konsen melahirkan kader dakwah dan pendidik.

“Halaqah ini konsen memantau dan membina kader sesama alumni agar terkontrol dan terpantau sehingga tidak lari dari visi perjuangan yang diinginkan almamater. Menjadi pemimpin yang ulama, ulama pemimpin. Sebab kita lahir dari rahim orangtua kita, yaitu almamater STIS Hidayatullah. Segala aktifitas, perilaku, program, kinerja, dan laporan organisasi ini akan dipertanggungjawabkan kepada STIS,” kata pria yang lahir di Manado dan besar di Maluku ini.

Di akhir sambutan, pria yang memiliki latar belakang keluarga multi agama ini, mengatakan alumni STIS Hidayatullah harus terus berpacu dalam dakwah dan menghimbau untuk terus konsisten mengamalkan Gerakan Nawafil Hidayatullah (GNH). Dia mengatakan, GNH merupakan kepribadian kita yang sudah mendarah daging bagi alumni STIS Hidayatullah.

“Karena kenyataanya, jauh sebelum GNH dideklarasikan, sewaktu kita mahasiswa , kurang lebih selama empat tahun, GNH ini merupkan kegiatan keseharian kita sewaktu menjalani proses perkaderan di STIS, dan itu masih terus berjalan hingga sekarang. Jadi kalau ada mahasiswa atau alumni STIS yang tidak menjalankan GNH, maka dipertanyakan itu kekaderannya,” pungkasnya.

Sementara itu, Ketua Departemen Sosial dan Kesehatan DPW Hidayatullah Kalimantan Timur Ir Mulyadi yang sekaligus salah satu perintis Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Hidayatullah, dalam sambutannya menitipkan pesan saat menceritakan kenangan dirinya yang ditunjuk langsung oleh Pimpinan Umum bersama beberapa ustadz senior lain dalam merintis berdirinya STIS Hidayatullah.

“Sebuah perjalanan panjang dimulai dari langkah pertama. Pertnyaannya, kita mau memulai melangkah atau tidak. Karena kalau tidak memulai langkh itu, sependek apapun perjalanan kita tidak akan sampai. Tetapi, ketika kita terus melangkah, sejauh apapun perjalanan, Insya Allah sampai,” kata Mulyadi.

Mulyadi menambahkan, yang penting kita tidak pernah berhenti melangkah. Karena kehidupan ini bukanlah perjalanan pendek, tetapi sebuah perjalann panjang yang harus kita lalui ritmenya agar kita terus dalam langkah.

Ia pula menghimbau kepada alumni yang telah berkiprah di seluruh nusantara untuk betul-betul berasatu padu, menyatukan pikiran, perasaan untuk sama-sama merencanakan program-program yang akan dikerjakan. Karena intinya, tegas dia, Raker bukan sekedar merencakan kerja, tetapi bagaimana kita mengerjakan perencanaan itu.(ybh/hio)

Nashirul Haq: Teror Biadab Tak Cukup Dikutuk

JAKARTA (Hidayatullah.or.id)– Umat Islam di dunia sudah sepantasnya mengutuk serangan biadab yang dilakukan para teroris di dua masjid di Wellington, Selandia Baru. Namun, jelas Ketua Umum DPP Hidayatullah, Nashirul Haq, mengutuk saja tak cukup.

“Kita perlu tindakan nyata untuk mencegah aksi terorisme seperti itu tidak terulang lagi,” jelas Nashirul saat dihubungi Sabtu (16/3) di Jakarta.

Sebagaimana dilansir media massa sebelumnya bahwa telah terjadi insiden penembakan di dua masjid di Wellington, Selandia Baru, pada Jumat (15/3). Tembakan yang diarahkan kepada sekitar 300 jamaah yang sedang melangsungkan shalat Jumat tersebut menewaskan hampir 50 orang dan mencelakai puluhan lainnya.

Aksi teror tersebut, jelas Nashirul, adalah tindakan ekstrim dan kebencian kepada Islam yang tak beralasan. Tindakan ini juga membuktikan bahwa kaum Muslim di negara-negara Muslim minoritas rawan untuk disakiti, bahkan dibantai secara keji.

Karena itu, pemerintah negara-negara Islam, termasuk Indonesia, serta seluruh kaum Muslim harus mendesak pemerintah Selandia Baru untuk bisa menuntaskan penyelidikan kasus ini. Para pelaku harus dihukum sesuai kebrutalan yang ia lakukan. Motof aksi ini, serta siapa saja yang terlibat di dalamnya, juga harus diungkap secara jelas.

Selain itu, pemerintah Selandia Baru harus didesak agar bisa memberikan jaminan keamanan kepada kaum Muslim di negara itu. Desakan serupa juga harus diberikan kepada pemerintah negara-negara Barat yang selama ini terkesan kurang adil kepada kaum Muslim.

Di sisi lain, kaum Muslim juga harus meningkatkan kewaspadaan. Insiden ini membuktikan bahwa ancaman dari musuh-musuh Islam benar-benar nyata.

Namun, hal yang tak kalah penting, tegas Nashirul, umat Islam di dunia, khususnya di Indonesia, harus bisa menahan diri dan tidak terhasut melakukan reaksi negatif atas kasus ini. “Tindakan ekstrim dan anarkhis bukanlah solusi, melainkan bisa menyebabkan situasi menjadi lebih runyam,” jelas Nashirul.

Nashirul juga mengajak umat Islam untuk mengungkapkan rasa duka yang mendalam kepada keluarga korban, terkhusus dua warga negara Indonesia, dan mendoakan mereka semoga menjadi syuhada. ***

Biadabnya Teroris Penembak Masjid Annur di Selandia Baru


Beberapa anggota keluarga tampak di luar masjid Annur yang menjadi lokasi penembakan di Christchurch, Selandia Baru, 15 Maret 2019 / Foto: Reuters

SELANDIA BARU (Hidayatullah.or.id) — Aksi terorisme penembakan terhadap jamaah di Masjid Annur di Christchurch, Selandia Baru, yang terjadi pada hari Jumat, 15 Maret 2019, pukul 13:40 (waktu setempat), sungguh terkutuk dan brutal.

Hari ini beredar di media sosial video penembakan yang direkam pelaku penembakan terhadap sejumlah orang yang sedang berada di sebuah masjid.

Dalam video yang diterima dan informasi dihimpun hidayatullah.com, penempakan tersebut direkam oleh pelaku penembakan brutal.

Teroris pelaku penembakan brutal tersebut menyiarkan aksinya secara live sejak dari luar hingga di dalam masjid. Pada potongan tayangan 1:17 menit dari 17 menit siaran yang dilakukan pelaku, tampak seorang pria bersenjata senapan semi otomatis tanpa pandang bulu memberondong jamaah masjid usai shalat Jumat.

Siaran streaming bermula saat pelaku berjalan di samping jalan Masjid Al Noor (Annur) di Deans Ave, sesaat setelah memarkir mobilnya di jalan masuk terdekat. Pria itu bersegera seraya menenteng senapan masuk ke dalam masjid.

Salah seorang jamaah masjid yang terlihat tengah menuju ke dalam ruangan masjid melalui lorong utama, tanpa babibu langsung diberondong tembakan.

Habis korban pertama jatuh, korban kedua yang tampaknya terluka berada tak jauh dari korban pertama, berupaya merangkak di lorong utama masjid, namun terus ditembak lagi beberapa kali.

Pelaku penembakan brutal ini pun melenggang masuk sambil melepaskan tembakan ke ruangan di kanan-kiri lorong yang berisi sejumlah jamaah.
Sesampainya di ruangan utama, jamaah, terlihat para pria, yang tampaknya tak menyadari adanya kejadian itu dan tengah menghadap ke arah berlawanan langsung ditembak. Pelaku pun menyapukan tembakan ke segenap penjuru ruangan masjid dengan membabi buta.

Terdengar teriakan orang-orang. Tampak ada jamaah yang berlari sepertinya lolos dari kejadian tersebut.

Beberapa jamaah yang berupaya mengamankan diri dan meringkuk di sudut ruangan semua ditembak saat pria bersenjata itu memblokir lorong utama, untuk memotong upaya jamaah melarikan diri.

Usai menghamburkan pelurunya, dalam tayangan live itu, pelaku kemudian memasukkan kembali magasin, menelusuri kamar-kamar masjid dengan menembak berulang kali, berhenti beberapa kali untuk mengisi magasin.

Selesai itu pelaku kemudian keluar masjid melalui pintu depan setelah kurang dari tiga menit di dalam dan menuju ke jalan seraya menembakkan tembakan acak ketika mobil melaju melewati.

Seorang saksi mata yang diwawancara TVNZ mengatakan, seorang pria memasuki Masjid Al Noor dengan menenteng senapan semi otomatis pada pukul 13.45 waktu setempat.

“Saya mendengar suara letusan senjata api. Lalu, ketika suara itu terdengar kembali, saya pun lari. Banyak jamaah sedang duduk di lantai masjid. Saya berlari ke bagian belakang masjid,” katanya kutip INI Network.

Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern menyatakan ini adalah kejadian terkelam dan tak pernah terjadi sebelumnya di negara tersebut. Dia juga mengatakan seorang tersangka telah ditahan aparat, tapi mungkin ada lainnya yang terlibat.

“Hingga saat ini tidak ada informasi mengenai WNI yang menjadi korban dalam insiden tersebut,” jelas Kementerian Luar Negeri RI dalam rilisnya diterima hidayatullah.com Jakarta, Jumat siang WIB.

Di media sosial, aksi terorisme ini menjadi trending topic. Penembakan brutal tersebut dikecam sedemikian rupa. “Biadab,” kecam salah seorang aktivis di Depok, Jawa Barat, kecaman serupa datang dari berbagai pihak.

Indonesia turut mengecam aksi terorisme tersebut. MUI, Hidayatullah dan sejumlah organisasi Islam turut mengutuk kebiadaban tersebut. Dilaporkan sejauh ini, tak kurang 30 jamaah dilaporkan meninggal akibat penembakan brutal ini.*

Hiduplah Ibarat Orang Asing

SETIAP kita pastilah pernah mengadakan perjalanan. Ada yang jarang bepergian namun ada pula yang sering melakukannya. Tidak sedikit pula karena tuntutan tugas atau profesi perjalanannya hingga keluar negeri.

Menarik, kehidupan di dunia inipun ternyata sebuah perjalanan bagi manusia. Betapa tidak, bukankah dulu kita tidak ada. Berkat rahmat-Nya, Allah swt menjadikan kita lewat kasih sayang orangtua kita. Dari bayi, lalu kanak-kanak sampai dewasa. Hingga tiba waktu ajal menjemputnya.

Tidak sampai disitu, setelah manusia mati maka ia masuk ke alam barzakh sampai tiba hari kiamat. Lalu dibangkitkan dan dikumpulkan di padang mahsyar. Sampai terakhir tibalah ia pada waktu penentuan perjalanan akhir kehidupannya, apakah ke surga atau ke neraka.

Dalam Al-Qur’an Allah Ta’ala telah menggambarkan perjalanan hidup manusia.

كَيْفَ تَكْفُرُوْنَ بِاللّٰهِ وَكُنْتُمْ اَمْوَاتًا فَاَحْيَاکُمْ ۚ ثُمَّ يُمِيْتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيْكُمْ ثُمَّ اِلَيْهِ تُرْجَعُوْنَ

“Bagaimana kamu ingkar kepada Allah, padahal kamu (tadinya) mati, lalu Dia menghidupkan kamu, kemudian Dia mematikan kamu, lalu Dia menghidupkan kamu kembali. Kemudian kepada-Nyalah kamu dikembalikan.” (QS. Al-Baqarah: 28)

Perjalanan kehidupan inilah yang akan dijalani manusia dalam kehidupannya. Suka tidak suka itulah garis ketentuan yang telah ditetapkan Allah Ta’ala.

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam pernah memberi nasehat yang indah untuk kita. Beliau bersabda:

كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيْبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيْلٍ

“Jadilah engkau di dunia seakan-akan orang asing atau pengembara“. (HR. Bukhori)

Pertanyaan bagi kita, mengapa Nabi menyuruh dalam menjalani kehidupan di dunia ini harus seperti orang asing atau musafir?. Tentu ada pelajaran berharga dari nasehat Nabi ini untuk kita semua.

Kalo orang asing tinggal disebuah tempat yang bukan asalnya maka tentu ia tidak mau berlama-lama. Ia tidak akan merasa betah dan pasti merindukan tempat asalnya untuk kembali.

Begitulah ibaratnya manusia yang tinggal di dunia ini semestinya seperti orang asing. Ia tidak betah berlama-lama tinggal di dunia dan juga berharap akan bisa kembali ke tempat asalnya.

Bukankah Nabi Adam sebagai Bapaknya manusia dulu berasal dari surga. Hanya karena melanggar perintah Allah maka ia diturunkan ke dunia sebagai tempat penebus dosanya.

Maka dunia hendaknya menjadi ladang amal kebaikan bagi anak cucu Adam. Sebagai syarat agar bisa kembali ke tempat asalnya yakni surga, maka timbangan amal kebaikannya harus lebih berat dari keburukannya.

Lebih tajam lagi Nabi berpesan hiduplah di dunia ibaratnya seperti seorang musafir atau pengembara. Seorang musafir tentu ada tempat yang ia tuju. Maka jikalau ia singgah sekalipun tentu tidak lama. Hanya sekedar istirahat dan menyiapkan bekal untuk melanjutkan perjalanannya kembali.

Begitu juga ibarat kita hidup di dunia ini, ia hanya sebagai tempat persinggahan sementara. Kita musti bergegas melanjutkan kembali perjalanannya karena dunia bukan tujuan akhir perjalanan hidup kita.

Seorang musafir juga ketika akan melakukan perjalanan mesti menyiapkan bekal yang cukup agar tidak kesulitan dalam perjalanannya.

Nah, begitu juga kehidupan kita di dunia. Inilah kesempatan bagi kita untuk menyiapkan bekal sebaik-baiknya agar perjalanan selanjutnya menjadi mudah dan selamat.

Terakhir, Nabi menyuruh kita hidup di dunia ibarat menjadi seorang asing atau musafir, padahal kehidupan ini sendiri memang sebuah perjalanan. Tentu ini menjadi ta’kid (penguat) agar setiap kita betul-betul menyadari hakikat kehidupan ini.

Ust Dr Nashirul Haq: Menjaga Lisan Dari Ghibah

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Khutbah Jum’at Ketua Umum DPP Hidayatulla KH Dr Nashirul Haq, MA, membahas tema “Menjaga Lisan dari Ghibah” di Masjid Menara Telkomsel, Jakarta.

https://www.youtube.com/watch?v=uRaLt6AqzHs

Membangun Paradigma Santri dengan Study Tour to Campus

0

YOGYAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ratusan murid SMA Ar-Rohmah Putri Pesantren Hidayatullah Malang mengadakan kegiatan Study Tour to Campus ke DI Yogyakarta. Kegiatan rutin tahunan itu diikuti seluruh murid kelas 11 SMA selama empat hari, Sabtu–Selasa (3–5/3/2019).

Ketua Panitia Study Campus Ninik Nurmuji Astuti mengemukakan, kegiatan ini merupakan rangkaian dari program study lanjut. “Dunia kampus diperkenalkan kepada seluruh murid sejak dini,” ujarnya.

Agar para murid, lanjut Ustadzah Ninik, panggilan akrabnya, mempunyai wawasan yang utuh tentang kehidupan kampus atau dunia perkuliahan. Selain itu pula, mereka akan mempunyai gambaran yang jelas tentang jurusan dan kampus yang dipilih usai lulus kelak.

Adapun kampus yang dikunjungi dalam kegiatan tersebut yaitu ; Universitas Darussalam Gontor Putri, Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta, Universitas Negeri Yogyakarta dan Universitas Gadjah Mada.

Disela kunjungan tersebut, rombongan singgah pula ke berbagai obyek wisata. Diantaranya ke Malioboro dan Pantai Indrayanti Yogyakarta. */Hery Purnama

Adzan Detak Kehidupan Umat, Keindahan Peradaban Islam

Ilustrasi menara masjid

PARA sahabat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam suatu saat berkumpul dan bermusyawarah dengan beliau mengenai bagaimana memberikan tanda kepada masyarakat tatkala datang waktu shalat. Dari mereka ada yang menyampaikan,”Kita menabuh genderang seperti orang-orang Yahudi.”

Ada pula yang menyampaikan,”Kita memukul lonceng seperti orang-orang Nashrani.” Namun, sahabat Abdullah bin Zaid bermimpi dimana ia ditalqin kalimat-kalimat adzan dan iqamah.

Maka, Abdullah bin Zaid pun pergi menuju Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, lalu menceritakan perihal mimpi yang ia alami. Setelah mendengar apa yang diceritakan Abdullah bin Zaid Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam sendiri menyetujuinya dan beliau memerintahkannya untuk mengajarkannya kepada Bilal bin Rabah.

Akhirnya, Bilal pun menyerukan adzan dengan kalimat-kalimat yang diajarkan itu. Demikianlah proses disyari’atkan adzan. (Syarh Al Yaqut An Nafis, hal. 219)

Para ulama pun akhirnya mendefiniskan bahwasannya adzan adalah perkataan khusus dengannya diketahui waktu shalat. (Manhaj Al Qawim dengan Hasyiyah At Tarmasi, 2/448)

Meski demikian, adzan bukanlah sekedar tanda bahwa waktu shalat tiba, ia juga merupakan bagian dari syiar Islam. Meski pendapat utama dalam madzhab Asy Syafi’i bahwa hukum adzan termasuk sunnah, namun ada pendapat ke dua yang menyatakan bahwasannya hukumnya fardhu kifayah, karena ia merupakan syi’ar Islam, jika demikian ketika seluruh penduduk sebuah negeri sepakat untuk meninggalkannya maka mereka harus diperangi. (Mughni Al Muhtaj, 1/319)

Suara Keras dan Merdu

Sebagai syi’ar Islam, maka disunnahkan muadzin memiliki suara yang tinggi, sehingga bisa didengar dari jarak yang cukup jauh. Oleh sebab itulah, ketika Abdullah bin Zaid Al Anshari menyampaikan mimpinya mengenai kalimat-kalimat adzan kepada Rasululullah Shallallahu Alaihi Wasallam, maka beliau bersabda,”Sampaikan kepada Bilal, sesungguhnya suaranya lebih tinggi daripada suaramu.” (Riwayat Ahmad)

Selain memiliki suara yang kuat hingga bisa didengar dari jarak yang jauh, disunnahkan juga muadzin memiliki suara yang merdu. Dimana Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam pernah memerintahkan dua puluh orang untuk mengumandangkan adzan, dan beliau kagum dengan suara Abu Mahdzurah. (Riwayat Ibnu Huzaimah)

Dalam hal ini, sejarah meriwayatkan bahwasannya ketika peristiwa fathu Makkah terjadi, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam memerintahkan Bilal bin Rabah untuk mengumandangkan adzan di atas Ka’bah. Orang-orang dari kaum musyrikin pun marah besar terhadap hal itu, hingga mereka meniru adzan Bilal bin Rabah dengan bermaksud untuk mengejek.

Diantara mereka adalah Abu Mahdzurah, dan ia memiliki suara paling merdu diantara orang-orang lainnya. Ketika ia mengumandagkan adzan dengan bermaksud untuk mengejek, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam mendengarkannya dan beliau pun memerintahkan para sahabat untuk mendatangkannya.

Abu Mahdzurah pun mengira bahwa ia hendak dibunuh, namun di Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam pun mengusap keningnya bagian atas keningnya serta dadanya dengan telapak beliau yang mulia. Abu Mahdzurah pun berkata,”Demi Allah, maka hatiku saat itu dipenuhi dengan keimanan dan keyakinan, dan saya tahu bahwa beliau adalah utasan Allah.”

Maka Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam mengajarkan kepada Abu Mahdzurah Adzan dan memilihnya sebagai muadzin bagi penduduk Makkah. Di saat itu, Abu Mahdzurah berumur 19 tahun dan anak-anaknya setelah itu mewarisi sebagai muadzin di Makkah. (Hasyiyah At Tarmasi, 2/514)

Imam Asy Syarbini menyatakan mengenai sebab hukum mengenai sunnahnya memilih muadzin yang memiliki suara bagus, ”Agar hati orang yang mendengar menjadi lembut dan ia pun condong untuk menjawabnya. Juga karena seorang penyeru hendaklah memiliki ucapan yang manis.” (Mughni Al Muhtaj, 1/324)

Ketika adzan dikumandangkan dengan suara merdu, ia akan menjadi wasilah datangnya hidayah. Raja Frederick II penguasa Jerman, Italia dan Sisilia meski seorang Nashrani, ia meminta izin kepada sultan Al Kamil Al Ayyubi untuk menginap satu malam di kota Al Quds hanya karena ingin mendengarkan adzan para muadzin di kota itu. (Mufarrij Al Kurub, 3/244-245)

Asal Muasal Menara dan Fungsi Sosial

Mengumadangkan adzan juga disunnahkan di tempat yang tinggi, seperti menara dan atap. Imam Ibnu Hajar Al Haitami Asy Syafi’i menyatakan bahwasannya adzan di tempat yang tinggi, disamping karena mengikuti Sunnah, juga agar suara adzan menjangkau tempat yang jauh.

Disebut mengikuti sunnah, hal tersebut berdasarkan hadits dari Aisyah Radhiyallahu anha,” Tidak ada jarak diantara adzan Bilal dan Ibnu Ummi Maktum kecuali jika salah satu dari mereka turun maka lainnya naik.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Sebagaimana juga dalam hadits, bahwasannya seorang wanita bani Najjar mengatakan,”Rumahku adalah rumah yang paling tinggi di antara rumah-rumah yang berada di sekitar masjid, dan Bilal adzan di atasnya ketika fajar.” (Riwayat Abu Dawud)

Sedangkan menara sendiri awal mula dibangun di masjid Nabawi oleh khalifah Al Walid I di masa Bani Umayah. Dan di masa khalifah Umar bin Abdil Aziz, beliau membangun menara masjid Nabawi di keempat sudutnya. Sedangkan di Makkah yang pertama kali membangun menara adalah Abu Ja’far Al Manshur, khalifah kedua bani Al Abbasiyah. (Hasyiyah At Tarmasi, 2/ 516)

Selanjutnya menara tidak hanya berfungsi sebagai tempat untuk mengumandangkan adzan, di menara masjid-masjid di seluruh wilayah Muslim di malam hari dinyalakan lilin-lilin sebagai penerangan, hingga di masa digunakannya listrik. (Ifadah Dzawil Awham, hal. 67)

Ketika menara terang dengan lampu-lampu, maka para penduduk pun merasa tenang, sedangkan para musafir menjadikannya sebagai tanda, demikian juga kapal-kapal menjadikan menara masjid yang berada di pesisir sebagai mercusuar. (Muhadharat fi Tarikh Al Alam Al Islami wa Al Hadharah Al Islamiyah, hal. 151)

Adzan “Detak Nadi” Kehidupan Umat

Disamping memiliki fungsi keagamaan sebagai waktu masuknya shalat lima waktu, juga sebagai syiar Islam, adzan juga memiliki fungsi sosial. Dengan adanya adzan fajar, maka mulalilah aktivitas kehidupan berlangsung. Sedangkan berkumandangnya adzan dhuhur, maka situasi aktivit kehidupan menjadi tenang, dan masa istirahat berlangsung hingga waktu ashar.

Kemudian setelah itu aktivitas berlangsung kembali hingga waktu maghrib. Dengan datangnya waktu isya’ maka segala aktivitas mulai berhenti. (Muhadharat fi Tarikh Al Alam Al Islami wa Al Hadharah Al Islamiyah, hal. 149)

Dengan demikian, adzan disamping merupakan tanda waktu shalat, ia juga syiar serta sudah menjadi bagian dari peradaban umat Islam.

_____
*) THORIQ, penulis adalah wartawan dan santri Hidayatullah yang sedang melanjutkan studi di Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir.

Rebutlah Lima Peluang Terbaik

“PENYESALAN selalu di akhir”. Kata mutiara ini sering didengar bahkan mungkin kita sendiri pernah mengalaminya. Kita sering melihat sesuatu itu lebih berharga, saat kita mengetahui ia sudah hilang dan dimiliki oleh orang lain. .

Benar sekali apa yang disebutkan dalam kata mutiara di atas. Penyesalan memang selalu di akhir. Tidak pernah di depan, selalu datang terlambat. Ketika sudah terjadi atau telah berlalu barulah ia menyadari akan kesalahannya.

Begitu juga ketika kesempatan atau nikmat Allah telah dicabut dari diri seseorang barulah timbul penyesalan dalam hati. Namun biasanya sesal sudah tiada guna.

Nah! Agar tidak terjadi penyesalan di akhir, mari manfaatkan sebaik-baiknya peluang yang dimiliki. Paling tidak, ada 5 peluang terbaik yang setiap manusia miliki.

Manfaatkan 5 Peluang Terbaik

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda:

اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ , شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ , وَصِحَّتِكَ قَبْلَ سَقْمِكَ , وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ , وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ , وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ

”Ambillah kesempatan lima (keadaan) sebelum lima (keadaan). (Yaitu) mudamu sebelum pikunmu, kesehatanmu sebelum sakitmu, cukupmu sebelum fakirmu, longgarmu sebelum sibukmu, kehidupanmu sebelum matimu.” (HR. Al-Hakim)

Masa Muda
Bisa dibilang masa muda adalah masa terbaik dalam kehidupan manusia. Badan kuat, pikiran cermat, dan selalu semangat. Maka tidak heran, pada masa mudalah kesempatan terbaik untuk meraih cita-cita. Peluang terbaik untuk menggapai impian hidup dan membangun masa depan.

Tidak heran, orang yang bisa memanfaatkan masa muda dengan sebaik-baiknya maka dia akan menjadi orang yang beruntung. Para Ulama di masa mudanya mereka habiskan untuk menuntut ilmu.

Maka tidak heran jika mereka menjadi Ulama besar pada masa tuanya. Walaupun tidak sedikit sudah ada yang menjadi Ulama pada pada masa mudanya.

Masa muda yang sangat potensial ini semestinya dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Belajar ilmu agama, menempa diri, hingga mengasah potensi dan skill. Sehingga tiba masa tua ia sudah memiliki bekal dan pengalaman yang cukup. Ibarat menanam pohon, ia tinggal memetik buahnya.

Ingat, apalagi setiap orang hanya punya masa muda sekali dalam kehidupannya. Maka barangsiapa yang bisa memanfaatkan masa muda dengan sebaik-baiknya maka sungguh ia telah beruntung.

Kesehatan
Betapa mahal dan berharganya nikmat sehat barulah disadari seseorang ketika mengalami sakit. Maka benarlah jika dikatakan nikmat Allah yang paling besar setelah nikmat iman dan islam adalah nikmat sehat.

Jikalau seseorang dicabut nikmat sehatnya maka ia akan terbatas melakukan aktifitas. Banyak kewajiban yang tidak bisa ditunaikan serta terhalangi untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya.

Saking pentingnya nikmat sehat ini, Nabi pun pernah mengingatkan agar kita jangan lalai terhadap nikmat sehat. Beliau bersabda:

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

“Dua kenikmatan, kebanyakan manusia tertipu pada keduanya, (yaitu) kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari)

Maka dengan mahalnya nikmat sehat ini mari dijaga dengan olahraga teratur, konsumsi makanan dan minuman yang halal, sehat serta bergizi. Tidak lupa istirahat yang cukup serta menjaga diri dari perbuatan yang bisa merusak kesehatan.

Kecukupan
Memang kecukupan ataupun kekayaan agak sulit untuk mengukurnya. Karena bagi orang yang rakus/tamak dengan harta maka sebanyak apapun harta maka akan kurang baginya.

Kecukupan disini maksudnya ketersediaan harta dari apa yang dibutuhkan. Nah, jikalau kita dalam masa kecukupan maka ini adalah kesempatan baik bagi kita untuk menunaikan kewajiban harta dengan banyak beramal sholeh.

Yang bisa dilakukan pada masa kecukupan tentu yang pertama adalah mencukupkan nafkah kepada keluarga, orang tua dan karib kerabat. Lalu berderma kepada fakir miskin dan membantu orang yang kesusahan.

Penting juga agar kita tidak hidup boros dan berlebih-lebihan. Tidak mubadzir dalam hal makanan dan kebutuhan hidup. Berhemat dan menabung untuk keperluan anak dan cucu.

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda tentang orang yang bahagia:

مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ مُعَافًى فِي جَسَدِهِ آمِنًا فِي سِرْبِهِ عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا

“Barangsiapa di antara kamu masuk pada waktu pagi dalam keadaan sehat badannya, aman pada keluarganya, dia memiliki makanan pokoknya pada hari itu, maka seolah-olah seluruh dunia dikumpulkan untuknya.” (HR. Ibnu Majah)

Waktu Luang
Sudah disebutkan dalam hadits diatas tentang dua nikmat yang sering dilalaikan selain nikmat sehat adalah nikmat waktu luang/kosong.

Ini bisa kita lihat di mana-mana. Terutama di pesawat, kereta api, bis, dan warnet. Bahkan di rumah dan sekolah banyak orang menghabiskan waktu luangnya dengan sesuatu yang tidak berguna. Main game, menonton video, selfie, chattingan, hura-hura dan lain sebagainya.

Padahal tidak selamanya kita memiliki waktu luang. Bertambah umur maka bertambah pula tugas dan tanggung jawab. Maka disinilah pentingnya agar kita bisa memanfaatkan waktu luang dengan sebaik-baiknya.

Umar bin Khattab pernah memberi nasehat yang indah:

إِذَا أَمْسَيْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ، وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الْمَسَاءَ، وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ، وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ

“Jika kamu berada di sore hari jangan tunggu pagi hari, dan jika kamu berada di pagi hari jangan tunggu sore hari, gunakanlah kesehatanmu untuk (persiapan saat) sakitmu dan kehidupanmu untuk kematianmu.” (HR. Bukhori)

Kehidupan
Terakhir, peluang terbaik yang kita miliki tentu adalah kehidupan ini. Kehidupan bagi orang yang beriman adalah suatu anugerah sekaligus ujian dari Allah Ta’ala untuk melihat siapa hamba-Nya yang terbaik.

Allah Ta’ala berfirman:

الَّذِيْ خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيٰوةَ لِيَبْلُوَكُمْ اَيُّكُمْ اَحْسَنُ عَمَلًا ۗ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْغَفُوْرُ

“Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa, Maha Pengampun.” (QS. Al-Mulk: 2)

Masa hidup adalah masa untuk beramal dan beribadah kepada Allah Ta’ala. Namun sangat disayangkan masih banyak sekali manusia yang melalaikannya. Padahal waktu berlalu begitu cepat. Hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun tak terasa umur semakin tua dan badan semakin lemah.

Apalagi waktu kematian tidak ada yang mengetahui kapan terjadinya. Ini perkara ghaib yang hanya Allah Ta’ala saja yang mengetahuinya.

Maka mumpung masih diberi kesempatan dan peluang terbaik yuk mari kita manfaatkan sebaik-baiknya agar mendapat kebahagiaan dan keselamatan baik di dunia maupun di akhirat kelak. Aamiin.

______
*) Hidayatullah, penulis adalah dai di Bekasi

Pengajian Bulanan Hidayatullah Bekasi Bahas Keluarga Sakinah

0

BEKASI (Hidayatullah) — Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Bekasi menggelar pengajian bulanan mengungkit urgensi romantika dan harmoni dalam mewujudkan keluarga sakinah mawaddah warohmah dengan tema “Membina Rumah Tangga dalam Bingkai Sunnah” yang menghadirkan pembicara dai kondang Kota Bekasi Drs Maulana Hamdani dan pembina Pesantren Hidayatullah Bekasi Ust Muhammad Dirlis Karyadi Al Hafidz, berlangsung di Masjid Nurul Islam Islamic Center Bekasi pada Ahad (10/3/2019).

Pengajian berlangsung dengan khidmat yang dimulai dengan sambutan-sambutan oleh Ketua panitia pelaksana dan Ketua DPD Hidayatullah Bekasi Kabupaten Kota. Dalam sambutannya, Ketua DPD Hidayatullah Bekasi, Ust Hidayatullah,M.HI, memaparkan program-program dakwah yang ada di kota Bekasi. Begitu juga dengan sambutan Ketua DPD Hidayatullah Kabupaten Bekasi Ust Muhammad Abdurrahman.

Dalam taushiahnya, Ust Drs. Maulana Hamdani, memaparkan bahwa bahagia itu ada tiga dimensi. Pertama, kata dia, adalah sukses dunia. Kedua, sukses akhirat. Dan, ketiga, lanjut dia, adalah sukses terhindar dari siksa api neraka.

Karena jamaah umumnya masih belum berkeluarga, ia menyampaikan tips-tips untuk para ikhwan atau akhwat agar istiqamah sampai nanti berumah tangga.

Maulana menyebutkan, ada lima hal penting dalam membina rumah tangga dalam bingkai sunnah. Pertama, kata dia, jadikan rumah tangga kita bagaikan kapal atau bahtera yang kita nahkodai untuk mencapai pulau-pulau yang kita impikan. Kedua, membangun hati dan rasa dalam berumah tangga.

Dan, ketiga, lanjut Ust Maulana, adalah membangun kepribadian akhlak baik suami, istri dan juga anak. Keempat, Al Qur’an dan Hadist menjadi kompas untuk menentukan atau menunjukan arah kapal kita.

“Serta, kelima, adalah nasihat dan panduan agama itu adalah nasihat bagi kita,” ujarnya Ust Maulana Hamdani dalam materinya.

Sepenarian dengan itu, pemateri kedua Ust Karyadi Al-Hafizh, melengkapi pemaparan pemateri yang pertama. Kata beliau, sunnah adalah cara nabi memperagakan al Qur’an dalam kehidupan sehari-hari baik perkataan yaitu hadist ataupun perbuatan yang di lakukan nabi dan disetujui oleh sahabat yang disebut takrir.

“Jika kita mengikuti Qur’an dan Sunnah nabi, Insya Allah, rumah tangga kita akan sakinah mawaddah warrahmah. Dalam konteks berumah tangga berarti sunnah adalah cara nabi memperagakan Al Qur’an dalam kehidupan berumah tangga,” kata Karyadi.

Alhamdulillah pengajian berlangsung dengan lancar dan khidmat sehingga para jamaah dapat menyerap semua materi-materi yang diberikan oleh kedua penceramah.

Pengajian dimulai pagi hari hingga menjelang dzuhur. Jamaah  sangat antusias untuk memenuhi tempat yang sudah disediakan. Terhitung sekitar 200 jamaah yang hadir dari berbagai elemen, baik dari tokoh agama, tokoh masyarakat, para dai dan daiyah semuanya hadir untuk mendengarkan pencerahan dalam pengajian tersebut.

Setelah pengajian, berlangsung talkshow kerjasama publikasi dengan Radia DAKTA. Talkshow  yang berlangsung dialektis dan interaktif tersebut menghadirkan pimpinan Pondok Pesantren Tahfidzul Quran Ashabul Kahfi Hidayatullah Bekasi, Ust Hidayatullah, sebagai narasumber .*/Ananda Ramadhan

Pemkot Jakarta Selatan Terima Audiensi DPD Hidayatullah

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Selatan (Pemkot Jaksel), menerima audiensi Pengurus DPD Hidayatullah Jakarta Selatan, di Ruang Rapat Asisten Administrasi dan Kesejahteraan Rakyat Jakarta Selatan, Jumat (8/3).

Asisten Perekonomian dan Pembangunan Kota Administrasi Jakarta Selatan Mukhlisin, yang menerima audiensi tersebut mengatakan, audiensi ini bertujuan untuk menjalin silaturahmi antara pengurus DPD Hidayatullah dengan Pemkot Jaksel, sekaligus mendengarkan penyampaian program-progran di DPD Hidayatullah.

“Kami punya program Jakarta Magrib Mengaji, yang saat ini berjalan di semua RW-RW di setiap kelurahan yang ada di Jakarta Selatan. Mungkin itu dapat bersinergi dengan program DPD Hidayatullah,” ujarnya.

Sementara Perwakilan DPD Hidayatullah Suwito Fatah mengatakan program-program kegiatan DPD Hidayatullah, memiliki fokus di dalam dakwah dan pendidikan.

“Program-program kami diantaranya Jakarta Magrib Mengaji yang sudah berjalan empat bulan yang lalu bagi petugas PPSU di Jakarta Selatan, program mendirikan rumah Al-Qur’an, ulama muda, profesional muda, juga pengusaha muda,” pungkasnya.

Hadir pada kesempatan tersebut sejumlah kepala-kepala dinas Pemkot Jakarta Selatan. Sementara dari rombongan DPD Hidayatullah Jakarta Selatan turut diantaranya Muhammad Amin Insani, Ahmad D. Rajiv dan lainnya. (kip/js)