Beranda blog Halaman 499

Silaturahim Syawal Hidayatullah Jateng Sambil Launching Buku

SEMARANG (Hidayatullah.or.id) — Silaturahim Syawal adalah hari senyum dunia, demikian disampaikan Ketua Departemen Adab dan Pembinaan Keluarga DPP Hidayatullah, Ust Drs Zainuddin Musaddad, MA, dalam pengantar tausiahnya di hadapan peserta Silaturahim Wilayah Hidayatullah Jawa Tengah yang digelar beberapa waktu lalu.

Zainuddin Musaddad menyampaikan akan pentingnya ketahanan keluarga, khususnya ibu sebagai energi pendidikan.

“Ibu adalah madrasah, Ibu adalah ibu kandung, ibu guru, ibu pertiwi, Ibu susu dan ibu adalah Ibu bagi segalanya, sehingga menghormati ibu adalah sebuah kekuatan, asal ibu pantas untuk dihormati,” ujar beliau mengingatkan.

Lebih jauh lagi beliau berpesan untuk para bapak dapat menjaga tatanan keluarga. Keluarga itu akan rusak bukan karena kamu tidak kuat, pintar. “Namun karena kamu “kikir” terhadap istrimu,” tegas beliau.

Ketua Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Jawa Tengah Ust. Ahmad Suarno, M. PI, mengatakan sebagai tuan rumah pihaknya berupaya semaksimal mungkin untuk mempersiapkan segala sesuatunya untuk para tamu undangan.

“Terimakasih dan mohon maaf apabila ada hal-hal yang luput dari perhatian kami selaku panitia dan tuan rumah,” tukasnya.

Dia mengingatkan bahwa silaturahim ini merupakan program organisasi. Olehnya itu harus dilaksanakan dan pada intinya berkumpulnya kita ini adalah tholabul ilmi, saling menasihati dan silaturahim.

Lebih jauh beliau mengingatkan bahwa silaturahim ini untuk menjawab diantaranya, salah membawa berkah, salah membawa musibah dan terakhir yakni salah bikin susah, dunia sampai akhirat.

Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Semarang menjadi sentra kegiatan acara Silaturrahim Syawal yang dimulai pada Sabtu-Ahad (15-16/6/2019). Acara silaturahim Syawal ini diisi tausiah oleh Ketua Departemen Adab dan Pembinaan Keluarga DPP Hidayatullah, Drs. KH. Zainuddin Musaddad, MA.

Hadir pula Ketua Sumberdaya Insani Pengurus DPP Hidayatullah Ust. Abdul Muhaimin, Kelurahan Gedawang, Koramil dan Kapolsek serta Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Jawa Tengah, tokoh masyarakat, para guru dan jama’ah Hidayatullah se Jateng.

Acara silaturahim ini lebih sempurna dengan penyerahan trophy dan piala dari lomba Literasi Tauhid yang diadakan oleh Departemen Pendidikan Hidayatullah Jawa Tengah dan sekaligus melaunching hasil karya antologi santri dengan judul buku goresan pena santri.

Lebih menambah kesempurnaan silaturahim kali ini berlangsung penyerahan penghargaan kepada Sekolah Dasar Islam Hidayatullah Salatiga yang berhasil menyabet nilai tertinggi UN se Kabupaten Salatiga baik swasta maupun negeri.

Penghargaan ini diserahterimakan kepada Kepala Sekolah SDIH Hidayatullah oleh Ketua DPW Hidayatullah Jawa Tengah dan didampingi oleh Ketua Departemen Pendidikan Hidayatullah Jawa Tengah.*/Muhammad Yusran Yauma

Diklat Dasar Calon Pengelola Baitut Tamwil Hidayatullah

0

BANDUNG (Hidayatulla.or.id) – Selepas lebaran Idul Fitri 1440 H ini, Hidayatullah Micro Finance (HMF) selaku operator program dari Departemen Koperasi & Kewirausahaan DPP Hidayatullah memulai kegiatannya dengan menyelenggarakan Pelatihan Dasar Calon Pengurus dan Pengelola Baitut Tamwil Hidayatullah (BTH).

Kegiatan yang diselenggarakan di Kampus Pesantren Hidayatullah Bandung ini diadakan selama 4 hari mulai dari hari rabu hingga Sabtu (19-22/6/19) diikuti oleh puluhan peserta dari beberapa wilayah Indonesia mulai dari Bengkulu, Lampung, Jakarta, Bandung, Semarang hingga Surabaya.

Dalam pembukaan acara dihadiri oleh Kabid Perekonomian DPP Hidayatullah Asih Subagyo, Head of SME Bank Muamalat Indonesia Amirul Mukminin, Kadep Koperasi & Kewirausahaan DPP Hidayatullah Muhammad Ruhyadi, Sekretaris DPW Hidayatullah Jabar Endang Abdurrahman dan ketua HMF  Saiful Anwar, MM.

Asih Subagyo dalam sambutannya berpesan kiranya setelah pelatihan ini bisa segera berdiri BTH-BTH baru di seluruh Indonesia. Beliau juga berkata, Hidayatullah ibarat pesawat yang saat ini bisa terbang tapi terbangnya masih oleng.

“Karena sayap sebelahnya sudah stabil yakni pendidikan, dakwah dan kampus/pesantren namun  masih ada sayap yang belum stabil yaitu sayap ekonomi,” selorohnya.

Senada dengan itu ketua HMF Saiful Anwar dalam sambutannya menegaskan bahwasanya HMF hadir untuk mengkoneksikan seluruh BTH yang ada diseluruh  Indonesia agar BTH bisa menjadi lembaga keuangan syariah yang lebih kuat dalam memajukan ekonomi umat.

Terakhir, Ust. Muzammil selaku Kepala Divisi Diklat HMF mengatakan bahwasanya Pelatihan Dasar Calon Pengurus dan Pengelola BTH ini akan terus diadakan. “Setelah Bandung insyaallah akan diadakan selanjutnya di Bali dan Makasar. Mohon doanya,” ujar beliau.*/Hidayatullah Abu Qorry

Refleksi Usai Jalani Madrasah Ramadhan Selama 30 Hari

0

SETELAH kita menjalani ibadah puasa sebulan penuh, ada baiknya kita melakukan evaluasi, instropeksi, dan muhasabah, apakah ibadah yang kita jalani tersebut telah mengantarkan kita kepada sasaran atau target yang dituju?

Sangat disayangkan jika puasa kita sebulan penuh hanya menghasilkan lapar dan haus saja, sebagaimana yang disinyalir Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sebuah haditsnya:

“Betapa banyak orang berpuasa yang tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali lapar saja” (HR. Ahmad)

Hampir semua khatib dan penceramah di bulan Ramadhan selalu mengulang-ulang ayat ini, dan bahkan kita semua telah menghafalnya. Allah SWT berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (Al Baqarah: 183)

Bahwa target puasa dan semua rangkaian ibadah yang menyertainya, baik yang wajib maupun yang sunnah, baik yang dikerjakan di siang hari maupun di malam hari adalah “la’allakum tattaqun”, mudah-mudahan menjadi orang yang bertaqwa.

Kita berlapar lapar di siang hari dan begadang di malam hari, tujuannya cuma satu, TAQWA. Disiplin yang ketat selama sebulan penuh ternyata tujuannya hanya satu, lahirnya insan yang bertaqwa.

Lalu, apa istimewanya orang yang bertaqwa? Di hadapan Allah semua manusia itu memiliki kedudukan yang sama. Allah tidak menilai manusia karena kekayaan yang dikuasai, jabatan yang dipegang, popularitas dan ketenaran, serta strata sosialnya.

Allah hanya menilai manusia dari satu sisi saja, yaitu nilai ketaqwaaannya. Allah berfirman:

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu”. (QS. Al Hujurat: 13)

Kita bersyukur jika diberi posisi yang baik, berupa jabatan, pangkat, dan kedudukan yang tinggi di mata manusia. Dengan jabatan itu kita bisa menebarkan kasih sayang, menegakkan keadilan, dan mewujudkan kemakmuran dan kesejahteraan.

Dengan kedudukan yang tinggi kita bisa mempengaruhi banyak orang agar berbuat baik, beramar ma’ruf dan nahi munkar. Dengan kedudukan dan posisi yang baik di masyarakat kita bisa mengajak sebanyak-banyaknya manusia untuk tunduk dan patuh terhadap syari’at Islam.

Namun, apalah artinya jabatan yang tinggi kalau diperoleh dengan cara yang curang, bohong, menipu, dan manipulasi. Di sisi Allah, jabatan itu tidak menambah nilai, tapi justru mengurangi. Jabatan itu tidak menguntungkan, tapi malah merugikan. Jabatan seperti itu tidak menyelamatkan, tapi akan menghancurkan. Allah tidak tidur. Allah Maha Melihat, Allah Maha Mendengar. Allah Maha Menyegerakan hisab.

Sebagai bahan untuk mengoreksi diri kita sendiri, apakah kita termasuk golongan orang yang bertaqwa atau belum, maka ayat berikut ini patut untuk dikaji, direnungkan, dan dijadikan bahan evaluasi. Allah berfirman:

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa”. (QS. Ali Imran: 133-134)

Ciri pertama, orang yang bertaqwa itu gemar berinfaq. Dalam Al-Qur’an terdapat 24 ayat yang menggabungkan dua perintah sekaligus, yaitu perintah shalat dan membayar zakat. Wa aqimush-shalata wa aatuz-zakah, tegakkan shalat dan tunaikan zakat.

Shalat dan zakat itu ibarat dua sisi mata uang. Uang itu baru bisa menjadi alat tukar jika kedua sisinya bergambar sempurna. Sebaliknya, uang itu tidak akan laku jika hanya bergambar satu sisi saja. Uang tersebut palsu.

Sama halnya dengan orang yang beragama, jika hanya rajin shalat tanpa rajin mengeluarkan infaq, shadaqah, dan zakat, maka keberagamaan orang tersebut adalah palsu. Orang yang bertaqwa dan tidak palsu ketaqwaannya jika mereka terhubung secara vertikal dengan Allah melalui shalat dan tersambung secara horizontal melalui zakat, infaq, dan shadaqah.

Mestinya, orang yang mempunyai kedekatan dengan Allah melalui ibadah-ibadah shalat, dzikir, dan doa, juga mempunyai kepadulian yang tinggi terhadap kemiskinan, kefakiran, dan penderitaan manusia.

Itulah sebabnya, ketika kita akan mengakhiri shalat, kita membaca salam dengan menolehkan wajah ke kanan dan ke kiri. Seolah-olah kita melakukan inspeksi, apakah di samping kanan dan kiri kita masih ada orang yang belum “salam”, selamat dan sejahtera. Apakah ada orang yang hari ini masih lapar? Apakah orang yang di sebelah kita berpakaian layak? Apakah orang di sebelah kanan dan kiri kita telah tercukupi sandang, papan, dan pangannya? Apakah anak-anak mereka telah bersekolah?

Orang yang bertaqwa bukanlah mereka yang hanya pandai mengumpulkan harta lalu menghitung-hitungnya. Mereka, selain pandai mencari rezeki juga pandai menyalurkannya. Mereka tidak pernah “ngemplang zakat”, rajin bershadaqah dan berinfaq. Mereka sangat peduli terhadap anak yatim, para janda miskin, kaum dhu’afa dan fakir miskin.

Puasa Ramadhan melatih kita semua untuk “peduli”. Dengan puasa kita diingat tentang betapa menderitanya orang yang tidak makan dan minum. Betapa sengsaranya para kuli bangunan yang harus bekerja keras di jalanan. Betapa beratnya para buruh tani yang bekerja di sawah di bawah terik matahari. Betapa capeknya para buruh dan pekerja pabrik di tengah pengap dan desingan suara mesin.

Allah mengecam keras orang yang hoby-nya sekadar mengumpulkan uang dan menyimpannya di bank dan di lemari lalu berbangga diri. Allah berfirman:

“Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih”. (QS. At Taubah: 34)

Setiap rupiah yang kita kumpulkan akan dimintai pertanggung-jawabannya. Harta yang kita kuasai bisa menjadi penolong kita di akherat, tapi juga dapat memasukkan kita ke neraka, na’udzu billah. Tergantug kecerdasan kita dalam mengelolanya. Jika kita bakhil, medit, alias pelit, maka akibatnya akan kita rasakan di dunia maupun di akherat.

Allah berfirman:

“Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat”. (QS. Ali Imran: 180)

Ada kiat cerdas dari hadits Qudsiy untuk kita semua. Jika kita ingin mendapatkan nafkah (kekayaan) dari Allah, maka rajinlah berinfaq. Allah berfirman dalam hadits Qudsiy yang artinya:

“Allah berfirman, Hai anak Adam, berinfaqlah engkau, nicaya Aku (Allah) memberikan nafkah kepadamu”. (HR. Bukhari)

Kiat cerdas yang kedua, jika kita ingin terjauh dari berbagai kesulitan hidup, maka tolonglah orang yang sedang dalam kesulitan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang artinya:

“Barangsiapa yang ingin doanya terkabul dan dibebaskan dari kesulitan hidup, hendaknya dia mengatasi kesulitan orang lain. (HR. Ahmad)

Percayalah, jika kita suka menolong orang lain, maka hidup kita akan tertolong. Jika kita suka menyelesaikan kesulitan orang lain, maka Allah akan mengatasi semua kesulitan hidup kita. Meskipun saat ini kita miskin, jangan “bermental miskin”. Yakinlah bahwa kita adalah “orang kaya” walaupun saat ini masih miskin. Jadilah “pemberi” bukan “penerima”, apalagi “peminta-minta”.

Itulah ciri pertama orang yang bertaqwa yang disebutkan dalam surah Ali Imran ayat 33, yaitu gemar berinfaq, baik di saat lapang maupun di saat sulit. Di saat berkecukupan memberi infaq yang sebanyak-banyaknya dan sebesar-besarnya. Di saat sulit mereka juga tetap memberi. Setidak-tidaknya dengan memberi nasehat yang baik atau sekadar memberi senyuman yang tulus.

Ciri kedua orang bertaqwa, mampu menahan emosi (al kazhiminal ghaizh).Ramadhan adalah madrasah terbaik bagi kaum muslimin untuk melatih kesabaran. Orang yang berpuasa dilatih untuk tahan godaan, tahan nafsu,
tahan syahwat, dan tahan emosi.

Kalau sekadar menahan lapar dari subuh hingga maghrib, sebagian besar kaum muslimin dapat lolos dan berhasil. Akan tetapi untuk menahan mata dari melihat HP dan mengomentarinya, tak semua mampu melakukannya.

Ketika seseorang mengirim pesan kurang bersahabat, apalagi sampai menyinggung perasaan, melecehkan, mengejek, atau merendahkan, maka spontan hati tergerak untuk membalas, mengomentari, atau bahkan melawan balik. Itu sekadar contoh sederhana.

Dikisahkan bahwa suatu hari datang seorang Badui ke masjid. Di ruang utama masjid ia melepas sarungnya, lalu kencing seenaknya. Melihat keadaan seperti itu, kemarahan para sahabat hampir meledak tapi segera ditahan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Si Badui tersebut dibiarkan buang air sampai selesai.

Rasulullah lalu memerintahkan sahabat untuk mengambil seember air dan menyiramnya. Setelah disiram, beliau saw memberi wejangan, seandainya kalian tidak saya cegah, maka kalian akan mengejar Badui tersebut hingga iapun lari kesana kemari sambil terkencing-kencing. Semua lantai masjid ini akan terkotori oleh air kencingnya. Pertanyaannya, cukupkah seember air untuk membershkannya? Dengan kesabaran dan kemampuan menahan emosi, maka cukup satu ember untuk membersihkannya.

Sabar adalah kemampuan mengelola emosi sehingga dapat merespon situasi secara tepat dan efektif. Orang yang sabar akan memilih waktu yang paling tepat untuk merespon keadaan. Mereka tidak grasa-grusu, tidak reaktif, dan tidak panik. Mereka tetap logis dan penuh pertimbangan. Orang yang sabar akan tahan goda, seperti orang yang sedang berpuasa menunggu waktu maghrib tiba.

Itulah sebabnya, Allah swt menyeru kepada kita:

“Dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat”. (QS. Al Baqarah: 45)

Jika kita ingin sukses, lakukan dua hal tersebut, sabar dan shalat. Sabar menunggu momen yang pas dan menggunakan cara serta pendekatan yang tepat. Sabar itu tidak identik dengan alon-alon asal kelakon. Juga tidak identik dengan terburu-buru.

Jika yang diperlukan adalah kecepatan, maka kenapa harus lamban? Jika yang dibutuhkan adalah ketelitian, kewaspadaan, dan kehati-hatian, mengapa harus terburu-buru. Jika harus melakukan persiapan yang matang, kenapa keburu nafsu? Carilah waktu yang pas dan cara yang tepat, itulah SABAR.

Semua pasti ingin kaya, bahkan ingin kaya raya. Akan tetapi jika keinginan itu harus segera terwujud dan tidak sabar menunggu proses, maka yang terjadi adalah menempuh jalan pintas. Jika kebetulan punya jabatan, maka jabatannya akan digunakan untuk memperkaya diri sendiri. Jika ada kesempatan, mereka akan korupsi.

Adalah normal jika para pemuda mempunyai syahwat terhadap perempuan. Akan tetapi pemuda yang sabar akan menunggu waktu sampai semua kematangan untuk menikah dipersiapkan sebaik-baiknya. Mereka tidak akan berzina, mengumbar syahwat mata dan telinga. Mereka sabar menunggu sampai aqad nikah.

Betapa seriusnya Allah SWT mengajak kita untuk bersabar. Allah berfirman:

“Bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabranmu”. (QS. Ali Imran: 200)

Orang yang bertaqwa ditandai dengan kemampuan menahan emosi. Emosi itu tidak sekadar marah. Orang benci itu emosi. Sebaliknya orang yang jatuh cinta juga emosi. Cinta-benci, suka-tidak suka, marah-cuek, dan segala perasaan hati adalah emosi.

Orang yang bertaqwa adalah orang yang dapat mengelola emosinya dengan baik. Marah itu boleh, asal terkendali. Tidak suka itu boleh, asal tidak keterlaluan. Sebaliknya cinta itu juga boleh, asal tidak habis-habisan. Maka jika mencintai sesorang, cintailah sewajarnya, begitupun sebaliknya.

Tanda ketiga orang bertakwa adalah mudah memaafkan (Al-‘Afina anin-Nas). Ada kebiasaan baik di kalangan kaum muslimin selepas Ramadhan, yaitu saling bermaaf-maafan.

Sekalipun ajaran ini tidak disyari’atkan secara khusus saat menyambut idul fitri, tapi inti ajaran saling memaafkan itu sangat baik dan sangat dianjurkan. Muslim yang baik tidak menunggu Idul fitri untuk saling memaafkan, tapi setiap waktu kita harus berlapang dada untuk memberi maaf kepada saudara kita.

Memberi maaf tidak harus diminta. Kita bisa memaafkan saudara kita tanpa sepengetahuannya. Cukup diniatkan dalam hati. Akan lebih baik lagi jika setelah memaafkan, lalu diikuti dengan mendo’akan kebaikan atas saudara kita yang baru kita maafkan. Itu adalah ahklaq mulia dan sangat terpuji.

Orang yang berpuasa dan diterima amalan puasanya akan berlapang dada. Jika berbuat salah, mereka tidak menunda-nunda waktu untuk segera minta maaf. Demikian pula jika ada saudaranya yang berbuat salah kepadanya, mereka segera memaafkannya, baik diminta maupun tidak diminta.

Orang yang bertaqwa akan jauh dari sikap dendam, hasad, dan iri hati. Sikap tersebut sungguh sangat membahayakan orang lain juga merugikan diri sendiri. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berpesan:

“Waspadalah terhadap hasad (iri dan dengki), karena sesungguhnya hasad mengikis pahala-pahala sebagaimana api memakan kayu”. (HR. Abu Dawud)

Begitu bahayanya sikap hasad ini, sampai-sampai kita disunnahkan untuk membaca berulang-ulang surat Al-Falaq yang intinya meminta perlindungan Allah dari pengaruh sifat hasad ini. Kita jadikan bacaan al-Falaq ini di pagi dan sore sebagai wirid harian. Menjelang tidur kita kembali membaca surat tersebut.

Tanda keempat orang bertaqwa adalah senantiasa melazimkan dzikir dan istighfar. Orang yang baik bukanlah mereka yang tidak pernah berbuat salah atau dosa. Akan tetapi orang yang baik adalah orang yang apabila berbuat salah, mereka segera mengingat Allah lalu meminta ampun kepada-Nya.

Rasulullah saw bersabda:

“Semua anak Adam pembuat kesalahan, dan sebaik-baik pembuat kesalahan ialah mereka yang bertaubat”. (HR. Ibnu Majah)

Wahai para pendosa, segeralah bertaubat kepada Allah. Jangan menunda-nunda. Jangan menunggu masa tua. Sekarang juga. Dengan bertaubat kepada Allah, segala dosa akan dimaafkan, segala noda akan dihapuskan.

Suatu dosa tidak akan menjadi besar jika disusul segera dengan istighfar. Sebaliknya dosa kecil yang dilakukan secara terus menerus tanpa istighfar, maka akan menjadi dosa besar.

Satu lagi, adalah sebuah kesalahan besar jika orang merasa tidak pernah bersalah. Dosa besar bagi orang yang merasa tidak pernah berbuat dosa. Akhirnya, hanya dengan istighfar berbagai masalah dapat terpecahkan.

Lenyaplah segala duka cita, terbentang jalan keluar atas problem kehidupan, serta melimpahnya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Semoga shiyam dan qiyam Ramadhan kita diterima Allah SWT.

Mudah-mudahan kita termasuk golongan muttaqin yang ditandai empat indikator di atas, yaitu gemar berinfaq, cerdas emosi, mudah memaafkan, dan senantiasa berdzikir dan beristighfar.[]

*Dikutip dari naskah khutbah Idul Fitri 1440 rilis DPP Hdayatullah

SAR Hidayatullah dan BMH Turun ke Banjir Konawe

KONAWE (Hidayatullah.or.id) — Tim relawan Hidayatullah bergerak menuju lokasi terdampak banjir di Kabupaten Konawe dan Konawe Utara, Sulawesi Tenggara (Sultra) dan telah menyalurkan bantuan, Senin (10/06/2019).

Kadiv Operasi SAR Hidayatullah Ahmad Hamim menjelaskan, sejak Senin tadi ada dua tim yang bergerak ke lokasi banjir di Sultra.

Lokasi menuju Konawe masih sulit ditembus hingga Senin sore waktu setempat. Namun demikian, tim SAR terus berusaha agar bisa segera sampai di lokasi bencana.

“Akses jalan banyak yang terputus, saat ini tim sedang berusaha mencari jalur untuk bisa masuk ke Konawe Utara,” ujar Hamim.

Sementara itu, relawan BMH-Hidayatullah sudah menyalurkan bantuan tahap pertama kepada sebagian korban bencana langsung di TKP.

“Alhamdulillah tadi siang kami juga sudah turunkan bantuan logistik dari BMH untuk bantuan kepada salah satu desa yang terdampak parah banjir,” ujar Ketua DPD Hidayatullah Konawe Utara Sulaiman Muadz kepada hidayatullah.com secara terpisah.

Bantuan tersebut diserahkan ke posko warga yang berada di luar lokasi banjir parah, sebab untuk menuju titik lokasi banjir terparah masih sulit.

“Air masih tinggi sehingga kami nda bisa masuk ke dalam menemui warga setempat,” jelas Sulaiman.

Masyarakat pun sangat menyambut baik kedatangan relawan dan bantuan tersebut.

Ia mengungkapkan bahwa kondisi masyarakat setempat korban banjir memprihatinkan.

“Memprihatinkan karena baru kami yang bisa bawa bantuan banyak kepada mereka dan baru hari itu juga mereka dapat bantuan setelah beberapa hari mereka terdampak banjir nda ada bantuan masuk dari pemerintah maupun relawan,” ungkapnya.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merilis, per 9 Juni 2019, banjir di Kabupaten Konawe Utara, mengakibatkan 1.091 KK atau 4.198 jiwa mengungsi.

Sebanyak enam kecamatan terimbas banjir adalah Andowia, Asera, Oheo, Landawe, Langgikima, dan Wiwirano.

Kecamatan Asera merupakan kecamatan dengan jumlah desa terdampak paling tinggi yaitu 13 desa. Banjir ini juga mengakibatkan 72 rumah hanyut dan ribuan lain terendam.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Konawe Utara masih melakukan pendataan di lapangan. Kerusakan sektor pertanian mencakup lahan sawah 970,3 ha, lahan jagung 83,5 ha dan lainnya 11 ha, sedangkan sektor perikanan pada tambak seluas 420 ha.

Di samping itu, kerusakan fasilitas umum teridentifikasi berupa jembatan, jalan, rumah ibadah, dan fasilitas kesehatan.

BPBD setempat melaporkan jembatan penghubung Desa Laronanga ke Desa Puwonua hanyut, jembatan lain di Desa Padalerutama tidak dapat dilalui karena terendam banjir, jembatan putus yang menghubungkan Desa Tanggulari ke Desa Tapuwatu dan jembatan antar provinsi di Asera. Kerusakan bangunan lain berupa masjid 3 unit, puskesmas 2 unit, dan pustu 2 unit.

Berita terkini seputar aksi Hidayatullah Peduli lainnya dapat juga dilihat di Facebook fanpage SAR Hidayatullah di @sarhidayatullah.id atau melalui website www.sarhidayatullah.com. (ybh/hio)

Ceramah yang Membuat Jamaah Menangis

SIAPA diantara kita yang tidak mengenal Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani? Nama beliau tidaklah asing di telinga kita, bukan? Banyak masyarakat yang mengadakan acara manaqib bertema Manaqib Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani.

Di dalam acara manaqib tersebut dibacakan kata-kata mutiara dan perilaku yang dilakukan oleh beliau. Beliau terkenal sebagai orang yang berhati mulia dan jujur. Antara ucapan dan perbuatannya, sama. Ucapannya berbanding lurus dengan amalnya.

Di masanya, setiap kata yang meluncur dari lisannya disambut oleh umat dengan tangis haru dan perasaan takut kepada Allah.

Salah satu kisah Syeikh Abdul Qadir yang bisa kita ambil hikmahnya adalah ketika beliau berceramah menggunakan bahasa yang sangat sederhana, bahkan teramat sederhana menurut ukuran kita.

Anaknya, yang juga ahli berceramah dan gemar menuntut ilmu, berkata dalam hatinya, “Jika aku diizinkan ceramah, akan lebih banyak manusia yang menangis karena mendengar ceramahku.”

Tibalah saat dimana sang anak disuruh oleh ayahnya untuk berceramah, “Wahai anakku, berdiri dan berceramalah.” Sang anak berdiri dan menyampaikan tausyiah kepada hadirin dengan kalimat yang indah, tidak lupa mengutip firman Allah, hadis-hadis Nabi, syair dan ungkapan-ungkapan ahli hikmah. Namun, tidak ada seorang pun yang menangis bahkan mereka merasa bosan mendengar ceramahnya.

Selepas itu, giliran ayahnya yang naik mimbar dan menyampaikan ceramahnya. Dalam ceramahnya, ia berkata, “Para hadirin, tadi malam isteriku menghidangkan ayam panggang yang sangat lezat, tapi tiba-tiba seekor kucing datang dan memakannya.”

Mendengar kalimat tersebut, para jamaah pengajian menangis histeris. Dalam dirinya, sang anak berkata, “Aneh…aku bacakan firman Allah, hadis-hadis nabi, syair dan berbagai hikmah, tidak ada yang menangis. Tapi, ketika ayahku menyampaikan ucapan yang tidak ada artinya, mereka justru menangis. Sungguh aneh, apa sebabnya?”

Pembaca yang budiman, mari bersama kita mengambil hikmah dari kisah di atas. Mengapa ceramah Syeikh Abdul Qadir lebih merasuk ke dalam hati pendengarnya dibanding ceramah putranya. Padahal ceramah, seperti yang kita ketahui, bertaburan ayat-ayat dan hadis-hadis?

Bukan salah Al-Quran, hadis, atau ungkapan kaum shalihin, yang menyebabkan para hadirin tidak tersentuh hatinya. Namun permasalahnnya adalah ketika ayat-ayat yang suci dan ucapan-ucapan yang mulia itu disampaikan, apakah diutarakan pula dengan hati yang suci? Apakah hadis-hadis Nabi yang mulia juga disampaikan dengan hati yang mulia? Di sinilah letak persoalannya.

Habib Umar bin Hafidz mengatakan, inti ceramah bukan terletak pada susunan kalimat, tapi pada kesucian hati dan sifat kejujuran si pembicara. Para hadirin menangis karena mengartikan kucing yang memakan ayam adalah setan yang mencuri amal manusia dengan cara menimbulkan riya`, ujub dan sombong.

Ada pula yang menangis histeris karena mengartikan cerita itu dengan su-ul khatimah. Mereka takut jika akhir usia mereka berakhir dalam keadaan yang tidak baik. Ia sudah menikmati beragam ibadah dan siap menuai hasilnya, namun tiba-tiba semuanya buyar karena suatu perbuatan yang datang tanpa diduga.

Itulah sikap takut mereka kepada Allah yang membuat mereka menangis setelah mendengar ceramah yang kalimatnya biasa-biasa saja. Ucapannnya memang sederhana tapi menerbitkan cahaya di hati, berkat cahaya hati Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani.

Hati yang bening, ikhlas dan jujur akan memberikan manfaat yang sangat besar dalam perilaku kita. Hati yang demikian itu hanya bersandar kepada Allah Subhanahu Wata’ala, memohon kepada Allah agar diberi sikap ikhlas dan shidiq.

Semoga Allah membeningkan kalbu kita hingga menjadi qalbun salim (hati yang sehat), terhindar dari qalbun mayyit dan qalbun mariidh.*/Ali Akbar bin Aqil (Hidcom)

Hidayatullah Jatim Tugaskan 42 Santri Penghafal Al Quran

SURABAYA (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Jawa Timur bekerjasama dengan Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah (Laznas BMH) kembali menggelar Wisuda Akbar Ke-5 bersama para santri Pesantren Tahfidzul Quran Darul Hijrah, Surabaya Ahad, (26/05/19).

Sebanyak 42 Santri Penghafal al Qur’an mengikuti prosesi wisuda dengan khidmat, masing-masing 23 santri dari jenjang SMP dan sebanyak 19 santri SMA.

Mereka adalah para santri yang mendapatkan beasiswa pendidikan penuh (gratis) dari Laznas BMH selama proses belajar di Pesantren Tahfidzul Quran Darul Hijrah.

Acara yang berlangsung di Hall Asrama Haji Sukolilo, Surabaya ini dihadiri kurang lebih 400 santri dan wali murid yang berasal dari beberapa cabang pesantren di Jawa Timur.

Wisuda Akbar tersebut diisi dengan kegiatan prosesi wisudawan, ujian terbuka hafalan al Quran, penyerahan penghargaan kepada santri terbaik, pembacaan tugas, tausiyah syeikh dari Palestina, dan hiburan santri.

Untuk para wisudawan jenjang SMA, mereka dapat mendapatkan amanah penugasan pengabdian lembaga guna mendakwahkan ilmu yang sudah milikinya kepada masyarakat luas melalui pengabdian di Pesantren Hidayatullah yang ada di Jawa Timur. Di antara mereka ada yang ditugaskan ke Lamongan, Pasuruan, Bangkalan dan Surabaya.

Imam Muslim, Manager Program BMH Jawa Timur mengungkapkan bawah wisuda akbar ini merupakan kiprah Laznas BMH untuk terus memulai langkah dalam menguatkan kiprahnya dalam bidang pendidikan.

“Selama ini BMH memberikan beasiswa pendidikan kepada para santri tahfidz penghafal al quran mulai jenjang SMP & SMA. Mereka terdiri dari anak-anak kurang mampu dan beberapa putra dari ustad-ustadz yang berdakwah di beberapa pelosok negeri”,ungkap Muslim.

Program sekolah penghafal Alquran ini merupakan wujud kerja sama antara Laznas BMH dan simpatisan. Mereka mempersiapkan sarana prasarana melalui wakaf pembangunan Pesantren Penghafal Alquran di beberapa tempat di Indonesia.

Dalam kesempatan tersebut, BMH secara simbolis menyerahkan bantuan amanah dari masyarakat dan donatur melalui donasi pembangunan asrama & masjid dan pendidikan santri.

“Dengan adanya pendidikan gratis ini diharapkan bisa tumbuh para generasi masa depan penghafal al Quran yang mampu menjadi penerus bangsa bermartabat”,ucap Ihya Ulumuddin, selaku mundzir Pesantren Tahfidz Darul Hijrah.

Melalui Wisuda Akbar ini, diharapkan semakin banyak penghafal al Qur’an dari keluarga muslim di seluruh Nusantara agar terwujud Generasi pengafal al Qur’an masa depan.*/Mustofa

Kapolres Bukber dengan Santri Ponpes Hidayatullah Mentawai

MENTAWAI (Hidayatullah.or.id) — Polisi Resort (Polres) Kabupaten Kepulauan Mentawai menggelar acara berbuka puasa bersama santri dari Pondok Pesantren Hidayatullah Mentawai dan Forkopinda serta awak media di Aula Mapolres Km 9 Tuapejat, beberapa hari lalu.

Dalam acara tersebut, Kapolres Mentawai AKBP Hendri Yaya, SE mengatakan, dalam bulan puasa ini, terus dilakukan tindakan menjalin kesatuan dan persatuan, serta moment kesempatan untuk berbagi.

Pada kesempatan tersebut pihaknya juga membagi bagi sumbangan dana kepada anak anak santri Pesantren Hidayatullah serta para pembimbingnya.

“Inilah bentuk ucapan syukur kita kepada Tuhan atas anugerahnya kepada kita semua, dengan berbagi kehidupan terasa indah,” ucap Hendri Yaya di dampingi sang istri tercinta.

Tidak lupa Kapolres juga berpesan agar selalu menjaga keamanan, kenyamanan dan harmoni di kawasan serta menghindarkan diri dari hal-hal yang berpotensi memecah belah kita.

Sinergi dalam kantibmas antara aparat dan Pesantren Hidayatullah sudah lama terjalin dengan baik di kawasan ini. Sehingga, Kapolres berharap, kemitraan tersebut terus dijaga dan dikembangkan dalam rangka merawat kebersamaan dan kegotong-royongan.

“Kami menghimbau, masyarakat jangan masuk dalam gerakan yang menimbulkan perpecahan, jalin persahabatan, rajut tali silaturami,” himbaunya.

Dalam moment buka puasa di Mapolres ini turut hadir Danlanal Tuapejat, Dandim 0319 Mentawai, Kakansar Mentawai, Kepala Kepala OPD, Camat Sipora Utara, Pengurus Masjid dan masyarakat.*/Tirman

[DOWNLOAD] Naskah Khutbah Hari Raya Idul Fitri 1440 Hijriyah

BERIKUT naskah khutbah Idul Fitri 1440 Hijriyah rilis DPP Hidayatullah. Semoga bermanfaat dan dapat dimanfaatkan seluas-luasnya kaum muslimin. Selamat Idul Fitri, Taqobbalallahu minna wa minkum shiyamana wa shiyamakum.

DOWNLOAD

Gerakan Bersama #AyoHijrah Tak Semata Menghapus Tato

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Program gerakan #AyoHijrah yang digalakkan Bank Muamalat Indonesia (BMI) yang bekerjasama dengan
Islamic Medical Services (IMS), lembaga layanan kesehatan Hidayatullah, tidak semata berhijrah dengan mengapus tato. Namun lebih dari itu, program ini ingin lebih menanamkan pemahaman syariah bahkan yang paling sederhana kepada khalayak.

Chief Executive Officer BMI Achmad Kusna Permana mengatakan, latar belakang hadirnya layanan ini berkaitan dengan kampanye Bank Muamalat sejak awal tahun yakni program #Ayohijrah, yang salah satunya adalah hapus tato gratis.

“Kita mengajak saudara-saudara kita menuju hal yang lebih baik dalam hal apapun, baik perilaku, kesehatan, kehidupan. Tapi karena kita di bank, tentunya berharap mereka juga hijrah dari sisi keuangannya, dari konvensional ke syariah,” jelas Permana, di Jakarta, Kamis (23/5).

Bank Muamalat Indonesia bersama IMS menghadirkan layanan Mobil Hijrah Hapus Tato. Ramadan ini, Mobil Hapus Tato hadir di Muamalat Tower selama tiga hari, dari 22-24 Mei 2019.

Lebih lanjut, Ahmad menyampaikan, salah satu tren yang sedang marak saat ini adalah banyaknya orang yang berkeinginan untuk menghapus tatonya, meskipun tidak sedikit juga orang yang enggan menghapus tato.

Mahalnya biaya hapus tato menjadi salah satu alasannya. Biaya hapus tato dengan panjang satu centimeter menelan biaya Rp500ribu hingga Rp2,5juta, tergantung dari tingkat kerumitan dan warna. Namun, dengan pelayanan Mobil Hapus Tato yang dihadirkan Bank Muamalat, menginspirasi banyak orang untuk menghapus tatonya.

Mobil Hapus Tato ini sudah berjalan sejak tahun lalu dan berkeliling ke berbagai tempat seperti di Jawa dan Kalimantan. Sekitar 3.300 orang telah melakukan hapus tato.

Pelayanan hapus tato gratis ini mendapat respon positif dari masyarakat. Hal itu tercermin dari banyaknya permintaan dari berbagai lembaga kemasyarakatan, seperti Nusa Kambangan, Gunung Sindur, dan lainnya.

“Ini salah satu sisi lain, kita hijrahkan kesehatan. Karena tanpa tato itu jauh lebih sehat dari pada bertato pada dasarnya, mudah-mudahan ini menjadi menjadi salah satu kontribusi Bank Muamalat dalam rangka menghijrahkan dari sisi lain, mereka yang memang mau berhijrah,” ujar Permana dikutip Sharia News.

Lebih lanjut, Ahmad menambahkan, Bank Muamalat juga ingin memperkenalkan kepada peserta hapus tato mengenai bank syariah, mulai dari hal yang paling sedehana seperti membuka rekening. Permana mengaku tujuan program tersebut untuk mengedukasi masyarakat.

“Jadi itu kita perkenalkan, ketika mereka berhijrah, kalau tatonya sudah dihijrahkan, badannya sudah di hijrahkan, keuangan kalau pun sedikit juga dihijrahkan,” ucapnya.

Satu Mobil Hapus Tato memiliki tiga mesin laser penghapus tato seharga Rp90juta. Dalam memberikan pelayanan Mobil Hapus Tato ini, Bank Muamalat bekerja sama dengan klinik komunitas Islamic Medical Service (IMS). IMS bergerak dalam hal kesehatan.

Direktus IMS Imron Faizin mengungkapkan permintaan masyarakat akan hadirnya mobil hapus tato ini cukup tinggi. “Insyaallah di tanggal 31 akhir bulan ini, akan diadakan di Lapas Paledang, Bogor. 20-30 orang akan kita layani,” jelas Imron. (snc/hio)

Semarak Bank BNI Berbagi di Kampus Hidayatullah Denpasar

0

DENPASAR (Hidayatullah.or.id) — BNI menggelar program BNI Berbagi Ramadan 1440 H di Yayasan Al Islam Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah, Jalan Raya Pemogan Gang Taman 20X, Denpasar pada Selasa (21/5). Kegiatan di Bulan Suci Ramadan 1440 H ini bertemakan Mari Lipat Gandakan Kebaikan Ramadan 1440 H.

Acara ini dihadiri oleh Walikota Denpasar yang diwakiliki Kabag Pemerintahan Kota Denpasar Dewa Puspawan, Direktur Bisnis Korporasi BNI Putrama Wahju Setyawan dan unsur DPW Hidayatullah Bali dan pengurus Yayasan Al Islam Hidayatullah Denpasar beserta santri.

Dalam acara ini dilakukan pembagian sembako kepada masyarakat kurang mampu sebanyak 250 bingkisan, pemberian santunan pada anak yatim, santri dan bantuan sarana ibadah kepada 7 Masjid dan bingkisan kepada 250 anak yatim dan santri.

Direktur Bisnis Korporasi BNI Putrama Wahju Setyawan mengatakan, kegiatan ini dalam rangka membina tali persaudaraan dan silaturahmi.

“Alhamdulilah BNI dapat berbagi kebahagiaan dan rizki kepada para santri, masyarakat sekitar, peningkatan sarana ibadah dan insya Allah bantuan yang kami berikan dapat bermanfaat bagi kita semua,” ujar Pratama.

Rangkaian kegiatan berbagi kebahagiaan BNI lainnya diantaranya, pemberian ribuan paket sembako, bantuan 40 sarana ibadah serta santunan kepada anak yatim di seluruh wilayah BNI. Kegiatan ini merupakan salah satu wujud BNI turut membangun negeri serta memberikan kontribusi yang optimal bagi masyarakat dan lingkungan.

Hal ini sejalan dengan amanah BUMN juga harus memiliki komitmen dan tanggung jawab sosial dalam membangun ekonomi berkelanjutan serta meningkatkan kualitas kehidupan lingkungan sekitar.

“Kegiatan ini juga sebagai wujud responsibility BNI terhadap lingkungan, sehingga masuk program Bina Lingkungan atau CSR,” imbuhnya.

Sebagai perusahaan BUMN, BNI turut juga berpartisipasi dalam pemberdayaan masyarakat sekitar. Apalagi menjelang lebaran harga bahan pokok biasanya meningkat sehingga dengan pemberian sembako setidaknya dapat meringankan beban masyarakat. (hio/bpc)