Beranda blog Halaman 498

Hidayatullah Batam Diharap Jadi Model di Kawasan Sumatera dan Mancanegara

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Dr KH Nashirul Haq, mengharapkan Kampus Utama Pondok Pesantren Hidayatullah Batam menjadi model rujukan untuk pengembangan pendidikan pondok-pondok Pesantren Hidayatullah khususnya yang ada di kawasan Sumatera.

Bukan saja Sumatera, Nashirul bahkan mendorong Hidayatullah Batam bisa menjadi pelopor model pendidikan di kawasan jiran khususnya negara Malaysia dan Singapura.

“Kita mengharapkan, pendidikan Hidayatullah Batam dapat menjadi rujukan bagi Hidayatullah di kawasan Sumatera, bahkan menjadi model bagi lembaga pendidikan di Malaysia dan Singapura,” kata Nashirul menyambut helatan Milad 21 Hidayatullah Batam, beberapa waktu lalu.

Karena itu, dalam rangka mencapai harapan tersebut, Hidayatullah Batam didorong untuk terus meningkatkan mutu dan kualitas terutama di bidang sumber daya manusia baik aspek spiritual, intelektual maupun bekal kecakapan praktis.

“Hidayatullah Batam ke depan bisa menjadi model dan berkompetisi dengan lembaga pendidikan favorit yang ada di Singapura dan Malaysia,” kata Nashirul.

Dalam pada itu, Nashirul Haq mengatakan Hidayatullah akan terus berjuang dalam rangka membangun peradaban Islam di dunia untuk kebaikan Islam, kaum mslimin dan khayalak luas.

Dengan kapasitas yang dimilikinya saat ini, Nashirul memiliki harapan yang lebih besar Hidayatullah Batam juga bisa mengembangkan gerakan dakwahnya hingga ke Singapura dan Malaysia.

Beliau berharap, di usinya yang ke-21 tahun, Hidayatullah Batam terus meneguhkan kiprahnya dalam rangka berkhidmat untuk masyarakat, agama dan bangsa Indonesia tercinta. (ybh/hio)

Menjadikan Dakwah sebagai Pekerjaan Utama, Dimana pun Amanah Kesehariannya

0

BATAM (Hidayatullah.or.id) — Ketua Dephal DPP Hidayatullah, Jamaluddin Nur, mengatakan kader Hidayatullah harus menjadikan dakwah sebagai profesi atau pekerjaan utama. Adapun rutinitas amanah harian, itu adalah wasilahnya.

“Pekerjaan utama kita di Hidayatullah ini adalah berdakwah dalam rangka ibadah untuk menggapai kemuliaan di sisi Allah Subhanahu Wata’ala di dunia dan di akhirat,” kata Jamaluddin Nur kepada redaksi beberapa waktu lalu.

Karena itu, lanjut dia, kader Hidayatullah tidak boleh berhenti berkarya untuk perjuangan. Sebab, siapapun berjuang dalam dakwah maka Allah yang akan langsung memberikan dukungan. “Karena Allah yang berada di balik setiap kesuksesan yang kita raih,” katanya.

Dalam pada itu, sebagai dai, kata Jamaluddin, maka pantanglah bagi kader Hidayatullah mencari musuh. Karena, kata Jamaluddin, dakwah mestilah merangkul, bukan memukul. Dakwah itu mencerahkan, bukan menyalahkan. Dakwah adalah meluruskan, bukan merenggangkan.

“Kader Hidayatullah tidak mencari musuh, harus memperbanyak teman,” pesan Jamaluddin yang juga pendiri Pesantren Hidayatullah Batam ini.

Jamaluddin memaknai gerakan dakwah layaknya magnet. Ia menerangkan, dakwah adalah upaya sungguh sungguh menawarkan manisnya iman Islam kepada yang gersang pikiran dan hatinya.

“Hidayatullah tetap selalu di koridornya mengajak umat dalam himpunan jamaah. Dan melakukan gerakan ini harus dengan iman karena iman inilah yang menjadi magnet. Istilahnya, paku paku berserakan yang dianggap tak berharga pun bisa ditarik oleh magnet iman,” katanya.

Terkait dengan momentum peringatan usia ke-21 tahun Pondok Pesantren Hidayatullah Batam, Jamaluddin mengatakan helatan tersebut bertujuan untuk bukan saja sebagai ajang apresiasi dan aktualisasi santri.

Milad juga sebagai ikhtiar untuk menyatukan kepingan ingatan sekaligus mengukur sejauh mana nilai nilai Sistematika Wahyu diterapkan oleh kader.

“Ini berangkat dari perjuangan panjang. Sekaligus kita ingin memberikan penghargaan kepada assabiqunbal awwalun bahwa ternyata kadernya telah membuat sejarah,” ujarnya.

Seiring dengan perkembangan zaman, Jamaluddin mengatakan, Hidayatullah terus melakukan penguatan demi penguatan. Sejalan dengan itu, perkembangan teknologi pun harus dimanfaatkan semaksimal mungkin tanpa meninggalkan nilai-nilai kultural kelembagaan.

“Kampus-kampus Hidayatullah harus menjadi tempat perkaderan. Tidak semua juga harus di Gunung Tembak, karena sekarang dengan perkembangan teknologi, dua hari pun sudah bisa mentransformasi nilai kelembagaan,” ujarnya.

Jamaluddin menekankan, kader musti memahami betul serta menginternalisasi jatidiri Hidayatullah dengan meresapi Sistematika Wahyu (SW) sebagai manhaj tarbiyah dan dakwah dan Hidayatullah sebagai pengusung dakwah Ahlus Sunnah wal Jamaah.

Kader pula harus mengokohkan Hidayatullah sebagai Alharakah Al Jihadiyah Al Islamiyah dengan spirit Imamah dan Jamaah, Hidayatullah sebagai jama’atun minal muslimin yang memiliki prinsip wasathiyah (moderat).(ybh/hio)

HUT Bhayangkara, Kapolres Anjangsana ke Ponpes Hidayatullah Ambon

0

AMBON (Hidayatullah.or.id) — Kapolres Ambon AKBP Sutrisno Hady Santoso beserta rombongan mendatangi Pondok Pesantren Hidayatullah di Desa Liang, Kecamatan Salahutu, Kabupaten Maluku Tengah.

Kedatangan Kapolres dan istrinya, dan Wakapolres Kompol Ferry Mulyana, serta sejumlah pejabat utama Polres dan pengurus Bhayangkari Ambon dalam rangkaian kegiatan anjangsana menjelang HUT Bhayangkara ke-73, pada 1 Juli 2019.

Dalam kesempatan tersebut Kapolres menyempatkan diri bercengkrama dengan santri ditemani pengurus pesantren seraya beramah tamah. Kapolres mengatakan, anjangsana yang dilakukannya ini dalam rangka menyambut Hari Bhayangkara ke 73.

“Kegiatan ini sebagai bentuk perhatian Polri, khususnya Polres Ambon kepada Purnawirawan, Warakauri dan anak-anak Yatim dan Piatu yang berada di wilayah hukum Polres Ambon,” kata Kapolres kepada wartawan.

Menurutnya, pemberian tali asih merupakan bentuk kepedulian dari pihaknya. Kegiatan ini, lanjut Kapolres, dilakukan secara simbolis kepada beberapa warakauri dan anak yatim piatu.

“Hari ini dilakukan secara simbolis, dan diharapkan semua panti asuhan bisa kami berikan tali asih,” harapnya.

Selain itu, kegiatan sosial kemanusian ini, diharapkan dapat membantu serta mengurangi beban hidup mereka.

“Kami berharap dengan sedikit tali asih tersebut dapat meringankan, maupun mengurangi beban mereka,” tandas Kapolres.

Ketua Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Ambon, Ust Nur Fatahuddin, menyampaikan terima kasih dan apresiasi yang tinggi kepada Kapolres Ambon yang selama ini telah secara aktif memberikan dukungan moril maupun materil untuk pengembangan Pondok Pesantren Hidayatullah Ambon.

Dia berharap dengan momentum Hari Ulang Tahun Bhayangkara ini, Polri khususnya Kapolres Ambon beserta keluarga dan jajarannya selalu diberikan kesehatan dan keberkahan sehingga bisa terus menjalankan tugasnya dengan baik sebagai bentuk pengabdian untuk umat, bangsa dan negara.

HUT Bhayangkara di Samarinda

Sementara itu, masih dalam peringatan HUT Bhayangkara ke-73 tahun 1 Juli mendatang, Kapolresta Samarinda, Kombes Pol Vendra Riviyanto juga beranjangsana ke Pondok Pesantren Hidayatullah, Kamis (27/6/2019).

Kapolres dan jajaran juga menyapa dan bertemu langsung dengan santri pondok pesantren.

Dipenghujung kunjungan, Kapolres memberikan bantuan berupa sembako yang dapat digunakan untuk kebutuhan sehari-hari di pondok pesantren.

“Ini sebagai bentuk perhatian dan kepedulian kami, sekaligus untuk mempererat tali silaturahmi,” ucapnya.(ybh/hio)

Trauma Healing Dadak Sambil Mewanti-wanti Gunung Oheo

KONAWE (Hidayatullah.or.id) —  Tim Hidayatullah Peduli mengisi  kegiatan trauma healing “dadakan” pasca banjir bandang yang melanda sejumlah titik di Konawe, Sulawesi Tenggara. Trauma healing adalah suatu tindakan yang dilakukan untuk membantu mengurangi bahkan menghilangkan gangguan psikologis yang sedang dialami yang diakibatkan syok atau trauma.

Kegiatan yang diikuti olejh warga desa Wiwirano, Kecamatan Oheo, Kabupaten Konawe,  Sulawesi Tenggara ini, sebenarnya digelar terbilang mendadak dan tak direncanakan. Hanya saja karena ada desakan permintaan dari warga, akhirnya tim menyanggupi. Sebelumnya tim Hidayatullah Peduli telah mengisi kegiatan yang sama untuk para murid di sekolah-sekolah di sana.

Mobil angkutan tujuan kota Kendari sudah dipesan dan selanjutnya barang serta alat pengaman diri (APD) aksi kebencanaan tertata rapi dalam boks dan ransel ransel relawan. Ini pertanda posko relawan Hidayatullah Peduli gabungan SAR Hidayatullah, BMH dan Pos Dai Hidayatullah ini akan mungkur.

Pengurus Hidayatullah Konawe, Ustadz Sulaiman, mendadak datang tergopoh gopoh sesaat kendaraan akan lepas landas. “Bisa antum isi trauma healing dulu ya? Tapi sekarang, pesertanya sekampung,”  tanya Sulaiman kepada Muhammad Bashori, Kepala SAR Hidayatullah Sulbar, yang sedari tadi sibuk packing.

Padahal, Sulaiman juga tahu kalau ini detik detik penutupan dan rombobngan sedang menunggu kedatangan angkutan. Tapi rupanya, Sulaiman ternyata juga sudah menghubungi sang sopir agar mau menunggu pemateri nanti dari acara.

Akhirnya, tanpa banyak bercakap lagi, tim bergeser ke masjid yang juga biasa menjadi balai pertemuan masyarakat Desa Wiwirano. Warga sudah menanti, bersiap menerima materi trauma healing. Muhammad Bashori dan kawan-kawan pun  kembali menyegarkan diri, bersiap mengisi acara dadakan tersebut.

Dipilih masjid Al-Hidayah sebagai tempat trauma healing yang dirangkaikan dengan syukuran tahunan di Desa Wiwirano, Kecamatan Oheo yang masih dalam kabupaten Konawe Utara tapi berjarak 20 dengan medan tempuh paska bencana banjir pasti tidak semulus lajur normal.

Walhasil, 300 orang terdiri dari anak-anak, remaja dan orangtua yang memadati masjid yang sejak dibangun belum pernah direhab itu sesama mengikuti jalannya materi tausiah beraroma penanganan dan penyembuhan trauma karena kebanyakan dari mereka adalah korban banjir pekan lalu.

“Seraya berkisah di hadapan para jamaah dan di balik gelak tawa jamaah dengan seloroh saya jujur agak ngeri melihat pak imam masjid yang sejak awal selalu mengerenyitkan dahi sambil memiringkan wajahnya seolah memastikan sesuatu sedang terjadi dan bukan dalam masjid,” kisah Bashori.

Penasaran dengan orang sepuh disebelahnya itu, akhirnya Bashori memilih memberanikan diri bertanya, “Tabe Puang Imam, dari tadi saya lihat kayaknya ada yang bapak dengar. Ada apa?”.

Sambil mengunyah songkolo -panganan berbahan ketan hitam dipadu dengan ayam kampung masak kecap- imam masjid Al-Hidayah tersebut menjelaskan kalau Gunung Oheo yang berada di belakang masjid itu sering bergemuruh dan seperti akan memuntahkan isi lambungnya.

“Makanya saya pilih duduk dekat pintu, nak” kata pak imam. Maksudnya selain agar mudah mendengar dan deteksi awal terhadap bencana pak Imam berharap bisa lompat duluan keluar masjid.

Sebagaimana diketahui, beberapa waktu lalu sempat viral video yang menyebutkan Gunung Oheo mengalami pergerakan beberapa hari setelah banjir bandang menyisir sejumlah daerah di Konawe. Orang-orang berhampuran menyelematkan diri. (ybh/hio)

Murid SD Integral Al Bayan Juara 1 MHQ se Kota Makassar

0

MAKASSAR (Hidayatullah.or.id) – Inayyaturahmah, siswi yang masih duduk di bangku kelas 5 dari SD Integral Al Bayan Pesantren Hidayatullah Makassar berhasil menyabet  juara satu yakni cabang tahfidz pada kegiatan Musabaqah Hifdzil Quran (MHQ) se-kota Makassar yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Selatan, Sabtu (22/06/2019).

Kegiatan Pekan Keterampilan dan Seni Pendidikan Agama Islam (Pentas PAI), siswi SD Integral Al Bayan mampu menorehkan prestasi membanggakan. Selain Inayyaturahmah, ada juga temannya yang ikut bertanding bernama Suci Rumayeza Arfan yang juga kelas 4 berhasil menjadi juara ke tiga pada Pentas PAI kompetisi cabang dai cilik Pidato PAI.

Kepala Sekolah SD Integral Al Bayan, Jumaruddin, menyampaikan bahwa begitu sangat bersyukur peserta didik kami telah membawa prestasi yang membanggakan dan mengharumkan nama sekolah. Ini menjadi motivasi tersendiri untuk mendidik dan akan lebih banyak lagi siswa yang berprestasi.

“Siswa kami yang juara satu tahfidz Inayyaturahmah, Insya Allah hari Selasa tanggal 25 Juni 2019 akan berlanjut ke jenjang tingkat provinsi Sulawesi Selatan untuk mengikuti perlombaan,” ungkapnya.

Menurutnya, keberhasilan  yang di torehkan siswanya yang ikut pada perlombaan Pentas PAI tak diragukan lagi. Siswa SD Integral Al Bayan setiap ada perlombaan pasti kita selalu support dan menyemangati dan akhirnya mendapat gelar juara.

“Alhamdulillah untuk lomba tahfidz dan da’i cilik ketika ikut lomba langsung mendapat raihan prestasi. Mudah-mudahan siswa kami kedepannya dapat mengikuti setiap lomba dan dapat berprestasi lagi,”pungkasnya.*/Andi Alfian Milyardo Salassa

Hilang Disapu Banjir, Pelajar Konut Butuh Perlengkapan Sekolah

KONAWE (Hidayatullah.or.id) — Beberapa pekan berlalu, banjir di Kabupaten Konawe Utara (Konut), Sulawesi Utara, mulai surut. Kini, perlahan masyarakat korban banjir besar tersebut mulai kembali beraktivitas, termasuk kegiatan pendidikan di sekolah, tepatnya murid-murid SMAN 1 Asera.

Pada Kamis (20/06/2019), relawan dari Laznas BMH bersama SAR Hidayatullah dan Pos Dai memberikan program trauma healing kepada korban banjir.

“Untuk awal dilakukan bersama murid-murid SMAN 1 Asera, yang diisi oleh Koordinator Lapangan Relawan Tahap III, Ahmad Bashori,” terang dai Hidayatullah setempat Sulaiman Muadz di Konut.

Sekolah yang berada di Kelurahan Wanggudu itu akhirnya berubah semarak. Sebab, selain karena kegiatan trauma healing itu berlangsung sehari, murid-murid juga perlahan mulai bisa tersenyum bahkan tertawa. Pelajar mengaku begitu senang dan terhibur atas kegiatan tersebut.

“Saya sangat senang dan banyak terhibur mengikuti kegiatan ini serta hikmah materi yang bermnfaat bagi kehidupan saya. Sebagai seorang Muslim dan saya yakin teman-teman saya ikut merasakan apa yang saya rasakan berupa kepedihan dan kepiluan. Tetapi hari ini, terlihat wajah-wajah merka penuh dengan keceriaan saat dan setelah mengikuti kegiatan ini,” ungkap Nanda Eka Putri, murid Kelas XI IPA 1.

Sementara itu, murid lainnya, menyampaikan bahwa pasca banjir banyak anak-anak yang kehilangan perlengkapan sekolah.

“Sangat berharap dukungan semua pihak, dapat membantu kelanjutan sekolah kami. Karena kami saat ini sangat membutuhkan peralatan belajar seperti, seragam, pakaian, tas, sepatu, dan buku tulis,” sambung Ahmad Rinaldi.

Kegiatan yang diikuti 200 murid dan berlangsung selama tiga hari, Kamis hingga Sabtu (22/06/2019) itu mendapat apresiasi dari pihak sekolah.

“Kepala sekolah dan dewan guru sangat mengapresiasi kegiatan ini. Bahkan mereka berharap ada pembinaan berkelanjutan bagi murid-murid di sekolah ini,” jelas Sulaiman Muadz.*/Herim

HUT Bhayangkara ke-73, Polda Kaltim Bakti Religi di Ponpes Hidayatullah

0

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Dalam rangka memperingati Hari Bhayangkara ke-73, Polda Kaltim menggelar sejumlah kegiatan sosial, salah satu diantaranya adalah berbagi kebaikan bertajuk Bakti Religi di Pondok Pesantren Hidayatullah, Gunung Tembak, Balikpapan.

Kamis pagi (20/06/2019) itu Karo Ops Polda Kaltim, Kasat Brimob dan Diresnarkoba Polda Kaltim menyambangi Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak Balikpapan untuk silahturahmi bersama para tokoh agama sekaligus menyerahkan bantuan berupa sembako kepada pengurus Pondok Pesantren.

Kabid Humas Polda Kaltim Kombes Pol. Ade Yaya Suryana menerangkan selain menyambut HUT Bhayangkara ke-73, kegiatan ini juga merupakan suatu bentuk kepedulian Polri sebagai pengayom dan pelindung masyarakat. Di mana, Polisi dituntut untuk selalu dekat dan menunjukkan sikap peduli kepada masyarakat.

Ade juga berharap kegiatan ini bisa bermanfaat bagi masyarakat sembari mengharapkan kepada anggotanya agar tidak lupa untuk terus meningkatkan sisi religius di dalam diri.

“Menyambut Hari Bhayangkara ke 73 ini tentunya kita berharap Polri semakin Promoter untuk mengabdi pada masyarakat, bangsa dan negara,” tutur Ade.

Ketua Yayasan Hidayatullah Balikpapan Ust Hamzah Akbar yang didampingi sejumlah jajaran dan pembina menyambut hangat kunjungan anjangsana rombongan Polda Kaltim yang kesekian kalinya ini di Kantor Utama Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak Balikpapan.

Ust Hamzah menyambut bahagia kegiatan HUT Bhayangkara ke-73 ini dan mengharapkan sinergi ini terus terjalin dengan baik serta mendoakan di usianya yang ke-73 ini, Polri semakin penuh barokah dan terdepan dengan mottonya Profesional, Modern dan Terpercaya (Promoter).

“Sinergi dan harmoni antar elemen masyarakat adalah diantara kunci kemajuan bangsa Indonesia yang kita cintai ini. Kalau dalam bahasa Al Qur’an, wa’ tashimû bi hablillâh jamî’an walâ tafarraqû. Berpegang teguh kepada tali Allah secara menyeluruh dan tidak terpecah-belah,” ujar Hamzah dalam keteranganya diterima redaksi.

Dia berpesan, masyarakat perlu bersama-sama memikul tanggungjawab untuk selalu menjaga persatuan dan menghindari perpecahan. Perbedaan yang ada sebagaimana dalam jargon kebhinnekaan Indonesia, kata dia, mestilah disikapi dengan sikap adil dan bijaksana.

“Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh,” pungkasnya mengingatkan seraya mengutip adagium populer. (ybh/hio)

Hidayatullah Batam Akan Gelar Milad ke-21

BATAM (Hidayatullah.or.id) – Pondok Pesantren Hidayatullah Batam akan menggelar helatan akbar, Milad Hidayatullah Batam Ke-21 di Kampus Utama Hidayatullah Batu Aji, Kota Batam, Kepulauan Riau, 25-27 Juni mendatang.

Helatan Milad perdana sejak keberadaan pondok pesantren Hidayatullah di tanah Melayu ini Insya Allah akan dibuka oleh Gubernur Kepulauan Riau, Bapak Nurdin Basirun, MSI.

“Bapak Gubernur menyatakan kesiapannya untuk membuka acara Milad Hidayatullah Batam Ke-21 di Kampus Hidayatullah Batu Aji,” kata Ketua Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Batam, Ustadz Jamaluddin Nur dalam keterangannya diterima media ini, Ahad (23/6/2019).

Adapun untuk kegiatan tabligh akbar, menurut Jamal, akan disampaikan langsung oleh Ketua Umum DPP Hidayatullah, KH. Dr. Nashirul Haq, MA Milad Hidayatullah Batam mengusung tema “21 Tahun Berkhidmat Membangun dan Mencerdaskan Umat”.

Sejumlah tokoh, ulama, para pejabat pemerintahan telah diundang untuk hadir dalam acara tersebut.

Selama tiga hari kegiatan berlangsung, sejumlah event telah dirancang untuk ditampilkan saat acara nanti.

“Kita sudah siapkan sejumlah kegiatan saat acara Milad berlangsung nanti,” kata Ustadz Jamal.

Antara lain, lanjut Jamal, kegiatan yang akan digelar tabligh akbar, bedah buku peradaban, pembekalan da’i, testimoni pendiri dan perintis Hidayatullah, jalan sehat, dan apresiasi untuk sejumlah tokoh.

Acara ini juga akan dimeriahkan dengan stan-stan bazar yang akan memamerkan dan menjual berbagai kebutuhan para santri dan kader Hidayatullah, mulai dari buku, pakaian, cinderamata, produk-produk para kader maupun unit usaha Hidayatullah lainnya seperti majalah dan layanan kesehatan.

Sementara itu, hingga saat ini, Kampus Hidayatullah Batam terus berhias demi menyambut acara besar Milad tersebut. Beragam persiapan terus dilakukan.

Para santri dan mahasiswa, ustadz, warga, dan termasuk kalangan Muslimat Hidayatullah (Mushida) dilibatkan dalam pembenahan kampus, bahu membahu bekerja bakti.

Milad Ke-21 Hidayatullah Batam ini merupakan momentum peneguhan kiprah Hidayatullah di Kota Batam dalam berkhidmat membangun dan mencerdaskan umat serta bangsa Indonesia tercinta.(ybh/hio)

Ramadhan Berlalu Dakwah Tetap Dipacu

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Ramadhan sudah berlalu. Namun dakwah harus tetap dipacu. Pernyataan ini disampaikan Ustadz Iwan Abdullah, Koordinator bidang dakwah Hidayatullah Gunung Tembak, di hadapan jamaah masjid Ar-Riyadh, Balikpapan, beberapa waktu lalu.

Iwan mengingatkan, kebutuhan umat terhadap dakwah bukan hanya pada Ramadhan saja. Sebagaimana kewajiban berdakwah bagi seorang dai tidak dibatasi selama bulan puasa saja.

Dalam kesempatan yang sama, Iwan juga mengungkap pengalaman dakwah yang ditemuinya pada dai-dai yang berjibaku di medan dakwah. Ia menganggapnya sebagai keunikan dai-dai militan sekaligus kunci sukses juru dakwah.

Pertama, menurut Iwan, jika dai-dai tersebut siap dipimpin, diatur, dan saling bersinergi. Dakwah demikian memungkinkan ada kurikulum dakwah secara sistematis dan terstruktur. Sekaligus memudahkan evaluasi terhadap capaian dakwah yang dikerjakan.

Sikap legowo demikian bisa menghindarkan dakwah tidak menumpuk pada beberapa masjid atau lokasi tertentu. Sebagaimana rela bersinergi akan menjadikan dai-dai tersebut siap ditugaskan berdakwah di mana saja dan kapan saja.

“Tak ada pilih tempat. Karena mereka berdakwah secara terpimpin. Bukan sekadar pergi ceramah atau khutbah sendiri begitu saja,” jelas ustadz yang juga Ketua Yayasan Dakwah Center (YDC) Ulul Albab, Balikpapan.

Dengan kesadaran para dai demikian, diharapkan dakwah juga mencapai hingga daerah pinggiran dan pelosok yang masih minim dakwah. Sebab biasanya masjid yang belum berdaya kesulitan mengakses juru dakwah yang dibutuhkan.

“Alhamdulilah sejak dulu, fokus dakwah kita mengajak dan mencerahkan umat. Sehingga para dai punya komitmen tidak pilih-pilih tempat. Asal tugas langsung berangkat dakwah,” imbuhnya lagi.

Berikutnya, lanjut Iwan, dakwah bisa sukses jika para dai saling mendukung satu dengan lainnya. Hal ini diterapkan dengan adanya kebijakan infak dakwah dari para dai yang bertugas.

Diharapkan, dakwah mandiri bisa menghasilkan dai-dai militan. Selain bisa menjangkau daerah-daerah pinggiran dan pelosok yang ada, mereka juga tidak lagi bergantung kepada santunan yang diberikan oleh tempat mereka berdakwah.

Sebagai laporan, dai-dai Gunung Tembak berhasil melayani kebutuhan dakwah sebanyak 1621 titik atau pertemuan di bulan Ramadhan. Secara keseluruhan ada 103 masjid dan mushalla selama 30 hari tersebut.

“Mewakili masyarakat, pengurus masjid dn mushalla, kami ucapkan jazakumullahu khairan katsiran. Semoga Allah membalas setiap kebaikan para dai,” pungkas Iwan.*/Masykur Suyuthi

Gerakan Literasi Ekonomi Syariah Masih Rendah

BANDUNG (Hidayatullah.or.id) – Ketua Bidang Perekonomian Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Asih Subagyo, menilai gerakan literasi ekonomi syariah di Indonesia masih rendah.

Hal itu disampaikan Asih saat memaparkan materi di hadapan seluruh peserta Pelatihan Dasar Calon Pengurus dan Pengelola Baitut Tamwil Hidayatullah yang digelar di Pesantren Hidayatullah Bandung, Jawa Barat, Rabu (19/6/19).

“Masih rendahnya pemahaman umat Islam di Indonesia sangat memprihatinkan. Inilah yang menyebabkan kondisi perekonomian umat Islam di Indonesia masih jauh dari angka ideal,” kata Asih Subagyo.

Menurut Asih, rendahnya pemahaman umat Islam di Indonesia disebabkan salah satu faktornya karena masih minimnya literasi ekonomi Islam itu sendiri.

Hal ini kata dia bisa dilihat masih minimnya peran ulama dan dai dalam menyampaikan materi ekonomi Islam dalam kajian-kajiannya baik di masjid, majelis taklim, maupun di media sosial.

“Umat juga masih sulit mendapati buku-buku atau tulisan tentang ekonomi Islam karena sebagian besar di perpustakaan dan toko buku hanya tersedia buku-buku agama dalam materi ibadah dan kisah-kisah saja,” tukasnya.

Ditambah lagi, lanjutnya, para ulama yang memahami fiqih muamalah atau ekonomi Islam masih relatif sedikit dan hanya sebatas orang-orang yang berada di DSN-MUI atau lembaga terkait yang memahaminya.

Akibatnya, pemahaman masyarakat mengenai ekonomi Islam masih terbilang minim karena kajian-kajian di masjid dan majelis taklim mayoritas diisi dengan fiqih ibadah daripada fiqih muamalah.

Lebih menyedihkan lagi, dia mengungkapkan, di pesantren-pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam tertua saja masih banyak yang belum menjadikan fiqih muamalah sebagai kurikulum atau bahan ajarnya.

Bayangkan di lembaga-lembaga Islam lainnya, seperti Sekolah Islam tentu masih sangat sulit diharapkan. Sehingga anak-anak muslim generasi mileneal saat ini masih sangat minim pemahamannya terhadap ekonomi Islam.

“Maka daripada itu besarnya peran ulama, ahli ekonomi Islam dan para dai dalam menyemarakkan kajian ekonomi Islam sangat dibutuhkan. Ulama, ahli ekonomi Islam dan para dai sejatinya mempunyai peran “sakral” dalam menjadi agent of change di masyarakat karena mereka adalah orang yang bisa menjadi penggerak dan katalisator untuk mengajak masyarakat dalam membangun ekonomi umat,” terangnya.

Dalam paparan materi lanjutannya Asih Subagyo yang dikenal sebagai pakar sekaligus praktisi ekonomi Islam ini juga menjelaskan posisi Indonesia sebagai negara dengan 85% mayoritas muslim. Maka, kata dia, tentu Indonesia mempunyai potensi dan peluang besar sebagai pusat ekonomi Islam di dunia ini.

“Namun faktanya, indeks literasi keuangan Islam yang dirilis oleh Otoritas Jasa Keuangan tahun 2016 masih berada di angka 8,11 persen, artinya pemahaman masyarakat Indonesia mengenai ekonomi Islam masih minim,” ujar Sekjen Muslim Information Technology Association (MIFTA) ini.

Apalagi, tambahnya, keberadaan literasi dan inklusi keuangan Islam mempunyai hubungan yang erat sehingga indeks inklusi keuangan syariah pun masih terbilang kecil di kisaran 11,06 persen pada tahun 2016. Realita ini sepatutnya menjadi perhatian bagi para pemerhati ekonomi syariah di Indonesia, ajaknya.

“Sehingga gerakan literasi ekonomi Islam yang sistematis dan berkelanjutan adalah sebuah keharusan agar masyarakat Indonesia menjadi lebih terbuka dan familiar terhadap ekonomi Islam,” kata dia.

Terakhir, dalam pesannya Asih Subagyo yang juga mendapat amanah sebagai pimpinan PT Hidayatullah Corpora ini berharap seluruh peserta bisa menjadi pionir dan pelopor untuk ikut menyemarakkan kajian ekonomi syariah dimanapun berada.*/Hidayatullah,M.HI, Sekretaris Hidayatullah Micro Finance (HMF)