Beranda blog Halaman 50

Hidayatullah Terus Dorong Kontribusi Nilai dan Perluasan Pencerahan Publik

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Bidang Perkaderan Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah menggelar Rapat Sinergi bersama Dewan Murabbi Pusat (DMP) di Pusat Dakwah Hidayatullah, Jakarta, pada Jum’at, 23 Jumadil Awal 1447 (14/11/2025).

Rapat dipimpin langsung oleh Ketua DMP, Dr. H. Tasyrif Amin, M.Pd, yang menekankan pentingnya keselarasan antara landasan pemikiran, sistem pembinaan, dan implementasi lapangan.

Bidang Perkaderan yang dipimpin Dr. Abdul Ghofar Hadi menyampaikan sejumlah catatan perkembangan pembinaan di berbagai wilayah, sementara DMP memberikan arahan konseptual untuk mempertegas kembali arah perkaderan nasional. Di tengah dinamika kebutuhan umat dan bangsa yang terus berkembang, kedua pihak menilai pentingnya penguatan metodologi dan standardisasi materi kaderisasi agar responsif terhadap tantangan zaman.

Sebagai pembuka, Ketua DMP, Tasyrif Amin, menguraikan kembali mandat strategis Dewan Murabbi Pusat dalam struktur organisasi. Ia menekankan bahwa DMP memiliki empat tugas utama yang selama ini menjadi fondasi kerja pembinaan. Ia menggarisbawahi perlunya konsistensi dalam menjaga kualitas pembinaan dan kesinambungan konsep yang diturunkan ke lapangan.

Dalam penjelasannya tentang tugas pertama, yaitu pengembangan konsep, pembinaan, dan perkaderan, Tasyrif menyampaikan gambaran historis mengenai bagaimana kerangka besar pembinaan selalu disusun secara terpusat. Menurutnya, arah pemikiran organisasi dibangun dari pusat kajian, yang dahulu bernama Dewan Pertimbangan dan sekarang berkembang menjadi Pimpinan Majelis Syura.

Dia melanjutkan, landasan pemikiran tersebut kemudian dirumuskan menjadi materi halaqah, kurikulum murabbi, hingga peta marhalah yang digunakan di seluruh jenjang pembinaan.

“Tugas pertama DMP adalah mengembangkan konsep, pembinaan, dan perkaderan. Selama ini, naskah besar selalu datang dari pusat kajian. Dulu Dewan Pertimbangan, kini Pimpinan Majelis Syura, yang kemudian diturunkan menjadi materi halaqah, murabbi, dan marhalah,” jelasnya.

Pada bagian berikutnya, Tasyrif menjelaskan tugas kedua DMP, yaitu melakukan standardisasi instruktur dan murabbi. Ia menyebut bahwa kebutuhan standardisasi semakin mendesak, mengingat penyebaran kader dan meluasnya aktivitas pembinaan di berbagai daerah menuntut adanya keseragaman kualitas. Standardisasi, menurutnya, memastikan murabbi tingkat Wustha maupun Ula memiliki kompetensi yang relevan, terukur, dan sejalan dengan nilai-nilai pembinaan organisasi.

Tugas ketiga, lanjutnya, adalah menyiapkan instruktur dan murabbi untuk setiap kegiatan halaqah dan marhalah. Dalam forum tersebut, ia menerangkan pentingnya memetakan kebutuhan instruktur secara lebih sistematis, termasuk memastikan setiap wilayah memiliki kader yang kompeten untuk mengampu marhalah secara berkelanjutan.

Selanjutnya, Tasyrif menggarisbawahi tugas keempat DMP, yaitu menetapkan Murabbi Nasional yang berperan sebagai juru bicara peradaban. Ia menjelaskan bahwa figur Murabbi Nasional tidak hanya bertanggung jawab dalam aspek pembinaan internal, tetapi juga bertugas menyampaikan pandangan keumatan dan peradaban kepada audiens publik yang lebih luas.

“Peran itu menjadi semakin penting di tengah meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap panduan moral dan pemikiran keagamaan yang membawa keseimbangan dan pemberdayaanm,” terangnya.

Pembinaan Masyarakat

Untuk mempertegas urgensi tugas tersebut, Tasyrif memberikan penekanan pada perlunya keterbukaan pembinaan terhadap masyarakat luas. Ia menyatakan bahwa organisasi tidak bisa hanya fokus pada pembinaan internal, tetapi juga harus memberikan kontribusi nilai dan pencerahan pada ekosistem sosial yang lebih besar.

“Selama 20 tahun, kita sudah mencerahkan ke dalam. Kini saatnya semakin memperluas jangkauan,” tegasnya dalam forum tersebut.

Dia berharap adanya dorongan baru agar gerakan pencerahan dan pendidikan kader dapat terhubung dengan isu yang lebih luas serta menjadi bagian dari kontribusi organisasi bagi umat dan bangsa. Tasyrif menilai bahwa penyampaian nilai-nilai peradaban merupakan bagian dari tanggung jawab intelektual dan moral yang harus hadir di ruang publik.

Dalam sesi diskusi juga dibahas mengenai pengembangan instruktur, pemutakhiran kurikulum, serta perlunya menyiapkan format pembinaan yang adaptif terhadap perkembangan masyarakat urban dan rural. Forum ini menekankan bahwa perkaderan tidak hanya terkait peningkatan kapasitas personal, tetapi juga pembentukan kesadaran sosial yang berorientasi pada kemaslahatan publik.

Forum pertemuan tersebut juga menegaskan bahwa penguatan sistem perkaderan merupakan bagian integral dari kontribusi organisasi dalam membangun masyarakat yang berkeadaban, berpengetahuan, dan berdaya.

Pertemuan ini dinilai Ghofar sebagai langkah penting untuk memastikan arah kerja pembinaan tetap fokus, terukur, dan berdampak luas bagi umat dan bangsa.

Hidayatullah Tegaskan Dukungan Program Pemerintah dalam Kedaulatan Pangan

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) – Pertemuan antara pemerintah dan sejumlah organisasi kemasyarakatan Islam dalam rangka Sosialisasi Program Pemerintah dan Silaturrahim Organisasi Islam bertajuk “Arah Kebijakan Kedaulatan Pangan” berlangsung di Jakarta, Kamis, 22 Jumadil Awal 1447 (13/11/2025).

Acara ini mempertemukan berbagai pemangku kepentingan, termasuk Ketua Bidang Ekonomi Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Drs. Wahyu Rahman, M.E., perwakilan Majelis Ulama Indonesia (MUI), serta sejumlah ormas Islam lainnya.

Wahyu Rahman hadir mewakili DPP Hidayatullah dan dalam sesi sambutannya memberikan sejumlah penegasan terkait peran ormas Islam dalam pembangunan sektor pangan.

Pada bagian awal penyampaiannya, Wahyu Rahman menekankan dukungan Hidayatullah terhadap kebijakan dan langkah pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan. Ia menegaskan bahwa kerja sama lintas lembaga sangat dibutuhkan untuk memastikan manfaat program pemerintah dapat tersalurkan secara merata.

“Kami mendukung penuh program pemerintah di bidang pangan. Diperlukan sinergi antara pemerintah dan ormas Islam agar manfaat program dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat,” ujarnya.

Wahyu menyoroti kekuatan struktural ormas Islam yang memiliki jaringan luas, mulai dari pusat hingga tingkat desa. Ia menggarisbawahi bahwa keunggulan jaringan tersebut merupakan modal sosial yang dapat mempercepat implementasi berbagai program pemerintah.

“Karena ormas Islam memiliki jaringan dan binaan hingga ke akar rumput,” tambahnya.

Selain memberikan dukungan strategis, Wahyu Rahman menegaskan komitmen organisasi untuk mempercepat langkah tindak lanjut di bawah koordinasinya. Ia menekankan bahwa hasil pertemuan ini tidak akan berhenti pada tataran diskusi, melainkan akan segera diimplementasikan melalui program-program konkret.

“Kami akan segera menindaklanjuti hasil pertemuan tersebut dalam bentuk program nyata di lapangan,” tuturnya.

Dalam kerangka memperkuat hubungan antara pemerintah dan masyarakat, Wahyu juga menilai bahwa silaturahmi semacam ini merupakan bagian penting dalam membangun hubungan kemitraan yang berkelanjutan. Menurutnya, ruang dialog yang terbuka akan meningkatkan efektivitas program dan memperkuat rasa saling percaya.

“Silaturahmi ini menjadi momentum penting untuk memperkuat kemitraan antara pemerintah dan ummat Islam,” ungkapnya.

Wahyu Rahman juga menekankan bahwa sinergi yang kuat akan menghasilkan dampak sosial yang luas. Ia menilai bahwa kerja sama pemerintah dan ormas Islam tidak hanya akan memperkuat kedaulatan pangan, tetapi juga dapat memperkokoh identitas kebangsaan.

“Melalui kerja sama yang sinergis, program kemandirian pangan dan kedaulatan pangan diharapkan tidak hanya meningkatkan kesejahteraan masyarakat, tetapi juga memperkokoh persatuan bangsa dalam bingkai pembangunan nasional,” ujarnya.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Pangan, Dr. (H.C.) Zulkifli Hasan, SE., M.M., memberikan sambutan dan pemaparan mengenai arah kebijakan pangan nasional. Pertemuan yang diselenggarakan di Jalan Widya Chandra IV No. 16, Jakarta Selatan, tersebut memberikan ruang bagi pemerintah untuk menjelaskan prioritas dan program strategis nasional di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.

Dalam penjelasannya, Zulkifli Hasan menyampaikan bahwa pemerintah telah menyiapkan sejumlah langkah strategis dalam upaya memperkuat ketahanan pangan, meningkatkan akses pangan, serta membangun sistem produksi pangan yang lebih mandiri. Ia mengharapkan partisipasi aktif dari ormas Islam sebagai mitra strategis pemerintah.

“Pemerintah memiliki berbagai program strategis di bidang pangan. Saya ingin Ormas Islam mengetahui, memahami, dan turut berpartisipasi dalam pelaksanaannya,” ujar Zulkifli Hasan.

Zulhas, sapaan akrab Menko Pangan, menilai bahwa ormas Islam memiliki peran signifikan dalam membantu penyampaian program pemerintah kepada masyarakat luas, terutama karena jaringan kelembagaannya yang kuat dan tersebar di berbagai daerah. Ia menegaskan komitmennya untuk terus menjembatani koordinasi antara pemerintah dan ormas Islam, demi memperkuat kolaborasi lintas sektor.

Lebih jauh, ia mengingatkan pentingnya menjaga persatuan dalam menjalankan program pembangunan nasional. Zulhas menekankan bahwa kekuatan kolektif bangsa hanya dapat terwujud apabila masyarakat tidak mudah dipecah belah oleh isu-isu yang berpotensi memecah belah.

“Mari kita bahu membahu, jangan mudah terpecah belah atau diadu domba. Bangsa yang kuat adalah bangsa yang bersatu,” pesannya.

Pertemuan yang berlangsung lebih dari dua jam tersebut diakhiri dengan sesi dialog dan diskusi mendalam antara pemerintah dan para pimpinan ormas Islam. Diskusi ini membuka ruang penyampaian aspirasi dan masukan guna menyempurnakan kebijakan pangan nasional.

KHUTBAH JUM’AT Jalan Terbuka Menjadi Hamba yang Paling Bermanfaat

0

إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا
يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

أَمَّا بَعْدُ, فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Hadirin jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah SWT,

Setiap insan di dunia ini membawa hasrat mendalam untuk menjadi manusia yang terbaik, yang dihargai, bermanfaat, dan dikenang karena amal-amalnya.

Keinginan itu bukan sekadar dorongan emosional, tetapi merupakan fitrah yang Allah tanamkan dalam diri manusia.

Bahkan, Allah sendiri menegaskan dalam firman-Nya bahwa hidup dan mati ini bukan tanpa tujuan, melainkan sebuah ujian untuk melihat siapa yang paling baik amalnya.

Allah SWT berfirman:

الَّذِيْ خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيٰوةَ لِيَبْلُوَكُمْ اَيُّكُمْ اَحْسَنُ عَمَلًاۗ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْغَفُوْرُۙ

“Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Mahaperkasa, Maha Pengampun.” (QS. Al-Mulk: 2)

Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili menafsirkan ayat ini dengan begitu indah. Beliau menjelaskan bahwa Allah menciptakan kematian dan kehidupan agar manusia bermuamalah, beribadah dengan ikhlas, taat tanpa batas, dan memperlihatkan kualitas amal terbaiknya.

Allah Ta’ala Maha Perkasa, tiada yang lebih kuat dari-Nya. Namun, Dia juga Maha Pengampun bagi siapa saja yang kembali dengan ketulusan.

Jamaah yang dirahmati Allah,

Manusia berlomba menjadi yang terbaik dalam banyak hal. Namun standar “terbaik” yang diajarkan Rasulullah SAW sangat berbeda dari standar dunia.

Terbaik dalam pandangan Allah bukanlah yang paling terkenal, paling kaya, atau paling banyak pujian manusia, tetapi yang paling indah amal dan akhlaknya.

Seorang Arab Badui pernah bertanya kepada Rasulullah SAW:

يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ خَيْرُ النَّاسِ؟ قَالَ : مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ

“Wahai Rasulullah, siapakah sebaik-baik manusia?” Beliau menjawab: “Orang yang panjang umurnya dan baik amalnya.” (HR. Tirmidzi)

Dalam riwayat lain Rasulullah SAW menjelaskan:

أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا

“…yang paling baik akhlaknya.”

Dan ketika ditanya siapa yang paling cerdas, Rasulullah SAW menjawab:

أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا، وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اسْتِعْدَادًا، أُولَئِكَ الْأَكْيَاسُ

“Yang paling banyak mengingat kematian, dan paling siap menghadapi kehidupan setelahnya; merekalah orang-orang yang cerdas.” (HR. Ibnu Majah)

Maka khutbah hari ini mengajak kita meniti jalan menjadi insan terbaik sebagaimana dituntunkan Rasulullah SAW.

Pertama, Terbaik adalah yang Belajar Al-Qur’an dan Mengajarkannya

Rasulullah SAW bersabda:

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

“Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari)

Bukan hanya belajar, tetapi juga mengajarkan. Ilmu menjadi mulia ketika dibagikan. Rasulullah SAW menegaskan bahwa orang yang mengawali suatu kebaikan dan diikuti banyak orang setelahnya, akan memperoleh pahala yang sama tanpa mengurangi pahala mereka.

Beliau bersabda:

مَنْ سَنَّ فِى الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً…

“Barangsiapa memulai suatu amalan kebaikan dalam Islam, lalu diamalkan oleh orang setelahnya, maka ia mendapatkan ganjaran semisal mereka…” (HR. Muslim, no. 1017)

Mengajar Al-Qur’an adalah pekerjaan yang pahalanya mengalir tanpa henti.

Kedua, Terbaik adalah yang Paling Baik kepada Keluarganya

Rasulullah SAW bersabda:

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لأَهْلِى

“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya dan aku adalah yang paling baik terhadap keluargaku.” (HR. Tirmidzi)

Rasulullah SAW bekerja membantu keluarganya. Menjahit pakaian, memperbaiki sandal, memerah susu, bahkan berbelanja kebutuhan rumah.

Beliau mengajarkan bahwa kemuliaan seorang suami bukan diukur dari kekuasaan, tetapi dari kasih sayang, pelayanan, dan kepedulian terhadap keluarganya.

Ketiga, Terbaik adalah yang Diharapkan Kebaikannya, Dihindarkan Keburukannya

Rasulullah SAW bersabda:

خَيْرُكُمْ مَنْ يُرْجَى خَيْرُهُ وَيُؤْمَنُ شَرُّهُ

“Sebaik-baik kalian adalah yang diharapkan kebaikannya dan orang lain merasa aman dari keburukannya.” (HR. Tirmidzi)

Orang terbaik bukan hanya bermanfaat, tetapi juga mampu mengendalikan sisi buruk dirinya. Ia tidak menyakiti dengan lisan, tulisan, ataupun perbuatan. Keberadaannya menenangkan.

Keempat, Terbaik adalah yang Gemar Memberi Makan

Dalam riwayat Imam Ahmad:

خَيْرُكُمْ مَنْ أَطْعَمَ الطَّعَامَ

“Sebaik-baik kalian adalah yang memberikan makanan.” (HR. Ahmad)

Memberi makan adalah amalan sosial yang berdampak langsung. Memberi makan meredakan lapar, menghidupkan harapan, dan menebarkan kasih sayang.

Rasulullah SAW menyebutkan bahwa di surga ada kamar-kamar istimewa untuk orang yang berkata benar, memberi makan, berpuasa, serta bangun malam.

Kelima, Terbaik adalah yang Paling Baik Membayar Utang

Rasulullah SAW bersabda:

خَيْرُكُمْ أَحْسَنُكُمْ قَضَاءً

“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik dalam membayar utang.” (HR. Bukhari-Muslim)

Pembayar utang yang baik adalah yang menepati janji tanpa membuat gusar orang yang telah menolongnya.

Di sisi lain, pengemplang utang adalah orang yang merusak kepercayaan. Maka menjadi manusia terbaik juga berarti menjaga amanah dalam urusan finansial.

Hadirin jamaah Jum’at rahimakumullah,

Semua jalan menuju kebaikan terbuka luas untuk siapa saja, tanpa memandang status sosial, latar pendidikan, atau jabatan. Rasulullah SAW menegaskan kembali dalam hadits Jabir RA:

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. al-Albani dalam Shahihul Jami’, no. 3289)

Menjadi manusia terbaik adalah tentang manfaat, bukan kemegahan. Ia tentang akhlak, bukan popularitas. Ia adalah tentang kesungguhan amal, bukan panjangnya gelar. Manusia terbaik adalah tentang ketulusan hidup, bukan banyaknya pengakuan.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Kedua

الحمد لله حمدًا كثيرًا كما أمر. وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، إرغامًا لمن جحد به وكفر. وأشهد أن سيدنا محمدًا عبده ورسوله، سيد الخلق والبشر

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Hidup ini singkat. Kesempatan menjadi manusia terbaik tidak datang dua kali. Mari kita isi detik-detik kehidupan dengan amal terbaik, akhlak paling indah, dan pengabdian yang membawa manfaat bagi banyak orang.

Marilah kita menutup khutbah ini dengan merendahkan hati dan memohon sepenuh jiwa kepada Allah SWT.

Semoga keluarga kita diberi keberkahan, negeri kita dijaga dalam kedamaian, dan akhir hayat kita ditutup dengan husnul khatimah.

Do’a Penutup

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً. اللّهُمَّ وَفِّقْنَا لِطَاعَتِكَ وَأَتْمِمْ تَقْصِيْرَنَا وَتَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ. رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ

اَللّٰهُمَّ انْصُرِ الْمُسْلِمِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِي كُلِّ مَكَانٍ. اَللّٰهُمَّ ارْحَمِ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ مِنْ عِبَادِكَ. اَللّٰهُمَّ اكْشِفْ الغُمَّةَ عَنْ أُمَّتِنَا. اَللّٰهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ أَنْ تَرْفَعَ الْبَلَاءَ عَنْ غَزَّةَ وَأَهْلِهَا، وَأَنْ تَنْصُرَهُمْ عَلَى عَدُوِّهِمْ، وَأَنْ تَرْحَمَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ مِنْ عِبَادِكَ، وَأَنْ تَكْشِفَ الْغُمَّةَ عَنْ أُمَّتِنَا. اَللّٰهُمَّ عَافِنَا وَالْطُفْ بِنَا وَاحْفَظْنَا وَانْصُرْنَا وَفَرِِّجْ عَنَّا وَالْمُسْلِمِيْنَ. اَللّٰهُمَّ اكْفِنَا وَإِيَّاهُمْ جَمِيْعًا شَرَّ مَصَائِبِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ

وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ . وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبّ الْعَالَمِيْنَ

!عِبَادَاللهِ

إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَالْمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

(Untuk mengunduh naskah ini ke format PDF, klik icon “print” pada share button di bawah lalu pilih simpan file PDF)

Naspi Arsyad Tekankan AIU sebagai Kultur Kepemimpinan Hidayatullah

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) – Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, KH. Naspi Arsyad, menyampaikan penegasan mengenai arah kepemimpinan organisasi dalam acara Rapat Pleno DPP Hidayatullah di Pusat Dakwah Hidayatullah, Cipinang Cempedak, Otista, Polonia, Jatinegara, Jakarta, Kamis, 22 Jumadil Awal 1447 (13/11/2025).

Dalam sambutannya, ia memperkenalkan sebuah kerangka kepemimpinan yang ia sebut sebagai AIU, singkatan dari Akal, Inspirasi, dan Uswah. Tiga unsur tersebut, menurutnya, perlu disatukan agar organisasi mampu menjawab tantangan zaman.

Naspi menjelaskan bahwa dalam dinamika perubahan sosial, teknologi, dan budaya hari ini, kepemimpinan tidak bisa lagi hanya bertumpu pada struktur formal. Pemimpin, katanya, harus mampu menjadi motor penggerak yang tidak hanya menjalankan fungsi administratif, tetapi juga membawa gagasan, energi moral, dan keteladanan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.

Oleh sebab itu, ia menekankan pentingnya menghadirkan kepemimpinan yang mampu memberi dorongan bagi wilayah dan daerah. “Kita perlu menghadirkan kepemimpinan inspriatif. Mampu menginspirasi teman-teman wilayah atau daerah dengan pendekatan personal dan kultural,” ujarnya.

Dalam kerangka AIU yang digagasnya, unsur Inspirasi merujuk pada kemampuan pemimpin untuk memantik semangat, ide, dan keberanian anggota organisasi. Inspirasi bukan hanya retorika, tetapi kehadiran yang memberi dorongan emosional dan intelektual.

Hal ini menjadi penting ketika wilayah dan daerah Hidayatullah menghadapi tantangan lokalitas yang berbeda-beda. Pendekatan personal dan kultural, menurut Naspi, menjadi faktor strategis dalam menciptakan kedekatan dan kepercayaan antara pemimpin dan struktur di bawahnya.

Selain inspirasi, unsur utama kedua yang ditekankan adalah Uswah atau keteladanan. Ia menjelaskan bahwa uswah bukan hanya soal ibadah ritual, tetapi mencakup seluruh sisi perilaku, interaksi sosial, dan adab keseharian. Keteladanan yang menyeluruh menjadi salah satu barometer integritas pemimpin dan organisasi.

“Uswah, mencakup semua sisi, dalam hal umum, bukan semata ibadah. Uswah juga tentang adab,” tegasnya.

Uswah dalam konteks kepemimpinan Hidayatullah memiliki kekhasan karena berakar pada warisan pendiri organisasi, Ustadz Abdullah Said. Naspi menegaskan bahwa keberhasilan seorang tokoh dapat diukur dari kualitas penerus yang melanjutkan perjuangannya. Dengan kata lain, keberlanjutan nilai menjadi cara untuk menilai apakah warisan kepemimpinan benar-benar tertanam dalam struktur organisasi.

“Dari mana cara mengukur keberhasilan Ustadz Abdullah Said, salah satu caranya lihatlah pelanjutnya, penerusnya, bagaimana komitmen kita hari ini,” ungkapnya.

Sementara itu, unsur pertama dalam AIU, yakni Akal, mendapat penekanan kuat dari Naspi Arsyad. Ia menyatakan bahwa penggunaan akal dalam tradisi Hidayatullah tidak dipahami sebagai pemisahan dari spiritualitas, tetapi bagian integral dari penguatan iman dan kerja dakwah. Pemikiran yang sistematis, pembacaan yang mendalam, dan kemampuan analitis diperlukan untuk menjawab persoalan umat di era modern.

“Kita harus mengoptimalkan potensi akal kita,” katanya.

Naspi memberikan contoh konkret mengenai bagaimana akal digunakan secara optimal oleh para kader generasi awal. Ia mengenang sosok almarhum Ustadz Abdul Mannan, salah satu kader senior Hidayatullah. Menurut Naspi, figur tersebut menunjukkan ketekunan dalam membaca dan berpikir tanpa mengabaikan ibadah.

“Ustadz Abdul Mannan adalah salah satu contoh yang saya temukan tekun mengoptimalkan akal, membaca hingga pukul satu malam. Semangat beribadah, kerja, juga semangat berpikir,” paparnya.

Naspi menekankan bahwa akal bukan hanya alat untuk memahami realitas, tetapi juga sarana untuk memperkuat kerja-kerja organisasi. Dalam dunia yang semakin kompleks, kader Hidayatullah dituntut untuk memiliki kemampuan membaca situasi, merumuskan langkah strategis, dan beradaptasi dengan cepat. Hal ini tidak akan tercapai apabila akal tidak diasah secara berkelanjutan.

Ia kemudian menutup rangkaian penjelasan mengenai konsep AIU dengan menegaskan perlunya menyelaraskan komitmen berpikir dengan nilai ibadah dan kerja organisasi. Menurutnya, pemimpin yang hanya bekerja tanpa berpikir akan kehilangan arah, sementara yang banyak berpikir tanpa bekerja tidak menghasilkan dampak.

“Komitmen berpikir harus diselaraskan seiring dengan komitmen beribadah dan bekerja kita,” ujarnya.

Dengan konsep ini, ia berharap wilayah dan daerah mampu melahirkan pemimpin yang cerdas, inspiratif, santun, dan berketeladanan tinggi sehingga organisasi tetap relevan dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat di tengah dinamika zaman.

Program Pelatihan Jahit Dorong Kemandirian Ekonomi Umat di Kawasan Industri Batang

0

BATANG (Hidayatullah.or.id) — Kemandirian ekonomi menjadi salah satu fondasi penting bagi pembangunan bangsa. Di tengah tantangan lapangan kerja dan kesenjangan sosial yang masih nyata, berbagai pihak kini bahu-membahu melahirkan inisiatif pemberdayaan yang nyata.

Salah satunya melalui program Pelatihan Menjahit Skema Operator Jahit Sepatu yang digelar hasil kolaborasi antara Paragon Corp, Paradaya Movement, Baitul Maal Hidayatullah (BMH), dan Ruang Amal Indonesia, di Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB), Jawa Tengah.

Kegiatan yang berlangsung sejak 10 hingga 15 November 2025 ini diikuti oleh 50 peserta penerima beasiswa pelatihan.

Mereka mendapat bimbingan langsung dari instruktur berpengalaman untuk menguasai keterampilan menjahit sepatu dan dipersiapkan menghadapi tahap lanjutan berupa wawancara kerja dan penempatan di sektor industri.

Kadiv Prodaya BMH Jawa Tengah, Yusran Yauma, menegaskan bahwa pelatihan ini bukan sekadar agenda peningkatan keterampilan, melainkan langkah menuju kemandirian.

“Pelatihan ini merupakan upaya agar pemanfaatan dana umat dalam bentuk zakat benar-benar tersalurkan dengan dampak nyata. Harapannya, peserta tidak hanya mendapatkan keterampilan, tapi juga kesempatan untuk mandiri,” ujarnya kepada media ini, Rabu, 21 Jumadil Awal 1447 (12/11/2025).

Yusran menambahkan bahwa semangat kemandirian ini sejalan dengan pesan Al-Qur’an bahwa perubahan hanya akan datang ketika masyarakat mau berusaha memperbaiki diri.

“Inilah wujud nyata dari pesan Al-Qur’an bahwa Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, sampai mereka mengubah diri mereka sendiri,” imbuhnya.

Kolaborasi lintas lembaga ini menunjukkan bagaimana potensi zakat dan filantropi dapat diintegrasikan dengan dunia industri. CEO Ruang Amal Indonesia, Slamet, M.A., menyampaikan apresiasinya atas sinergi yang terjadi.

“Terima kasih atas kerja sama ini. Semoga ke depan semakin banyak program serupa yang bisa kita hadirkan dengan kualitas dan dampak yang lebih baik,” katanya.

Program ini menegaskan arah baru gerakan zakat produktif. Bantuan tidak lagi berhenti pada santunan, tetapi berubah menjadi investasi sosial yang membentuk sumber daya manusia mandiri. Dana umat dikelola secara profesional, sementara dunia usaha menyediakan peluang ekonomi yang konkret.

Kisah salah satu peserta, Khoirunnisa, menggambarkan manfaat pelatihan tersebut. “Saya belajar banyak hal baru. Dulu hanya bisa menjahit sederhana, sekarang lebih percaya diri karena dibimbing oleh instruktur berpengalaman. Semoga setelah pelatihan ini saya bisa bekerja dan mandiri,” ungkapnya dengan penuh semangat.

Maqasid al-Syariah Jadi Panduan Gerak Muslimah untuk Kemaslahatan Umat

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Di tengah tantangan global yang kian kompleks, nilai-nilai Islam yang menekankan keseimbangan, kemaslahatan, dan keadilan sosial kembali menjadi sorotan penting bagi bangsa Indonesia. Dalam konteks kehidupan modern yang sarat ketimpangan moral dan sosial, gagasan Islam wasathiyah, jalan tengah yang menghadirkan harmoni, menjadi relevan tidak hanya di ranah teologis, tetapi juga dalam praksis sosial dan pemberdayaan masyarakat.

Pandangan ini ditegaskan oleh Ketua Penasehat Muslimat Hidayatullah, Sabriati Aziz, saat menghadiri ajang World Peace Forum (WPF) ke-9 di Jakarta.

Sabriati menegaskan bahwa nilai-nilai maqasid al-syariah, yakni tujuan-tujuan luhur dari syariat Islam, harus menjadi panduan utama bagi gerak Muslimah di berbagai lini kehidupan.

“Kemaslahatan umat menjadi orientasi, dan inovasi kebaikan menjadi wujud nyatanya,” ujarnya dalam wawancara di sela kegiatan WPF, Selasa, 20 Jumadil Awal 1447 (11/11/2025). Ia menambahkan bahwa Muslimah harus berdaya dan menjadi agen yang membawa keseimbangan di tengah kekacauan dunia.

Menurutnya, konsep wasathiyah bukan sekadar jargon teologis, melainkan sebuah prinsip hidup yang menekankan pemberdayaan (empowering). “Muslimah harus berdaya, menjadi manusia yang berkualitas, dan menjadi penengah di tengah kekacauan dunia,” katanya.

Sabriati menilai bahwa dunia saat ini sedang mengalami krisis keseimbangan moral, sosial, dan spiritual, sehingga peran perempuan Muslim sangat strategis dalam menghadirkan kesejukan dan solusi.

Ia menjelaskan bahwa Muslimah yang berjiwa wasathiyah sejatinya adalah sosok yang menghadirkan rahmat bagi semesta (raḥmatan lil-‘ālamīn). Mereka tidak hanya berupaya untuk menyelamatkan diri sendiri, tetapi juga berkontribusi menghadirkan keseimbangan (tawāzun), harmoni, dan kedamaian sosial. Dalam konteks Indonesia, terang dia, spirit ini menjadi penting untuk memperkuat ketahanan moral bangsa yang majemuk dan plural.

Lebih jauh, Sabriati mendorong agar organisasi-organisasi perempuan Muslim di tanah air memperkuat budaya syura (musyawarah), sinergi, dan kolaborasi lintas komunitas.

“Sinergi adalah bentuk nyata dari wasathiyah yang hidup, bukan sekadar slogan,” ujarnya. Ia menegaskan bahwa Muslimah Hidayatullah berkomitmen untuk menjadi pelopor Islam yang damai, inklusif, dan solutif, sesuai dengan nilai-nilai Islam yang universal dan selaras dengan semangat kebangsaan Indonesia.

Kegiatan World Peace Forum ke-9 sendiri menjadi wadah pertemuan para tokoh lintas agama dan budaya dari berbagai negara. Tahun ini, forum tersebut mengangkat tema “Considering Wasatiyyat and Tionghoa for Collaboration,” yang menyoroti peran nilai-nilai Islam Wasatiyyat dan pemikiran Tionghoa dalam membangun kehidupan global yang adil dan harmonis.

Forum ini merupakan kolaborasi antara Center for Dialogue and Cooperation among Civilizations (CDCC), Cheng Ho Multi Culture and Education Trust, dan Muhammadiyah.

Acara pembukaan berlangsung di Gedung Nusantara V Kompleks Parlemen, Jakarta, dan diresmikan oleh tiga lembaga tinggi negara: MPR RI, DPR RI, dan DPD RI. Pidato pembukaan disampaikan oleh Wakil Ketua MPR RI Edhie Baskoro Yudhoyono, didampingi Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid, bersama perwakilan dari DPR RI Adies Kadir dan dari DPD RI Tamsil Linrung.

Peduli Gaza, Wujud Solidaritas Bangsa Indonesia di Tengah Krisis Kemanusiaan

0

GAZA (Hidayatullah.or.id) — Semangat solidaritas bangsa Indonesia kembali menemukan wujudnya melalui aksi nyata. Kepedulian yang mengalir dari berbagai lapisan masyarakat Indonesia terus menembus sekat batas geografis dan politik, menjelma menjadi bentuk cinta kemanusiaan yang universal.

Salah satu ekspresi dari nilai tersebut hadir melalui penyaluran bantuan kemanusiaan oleh Baitul Maal Hidayatullah (BMH) kepada anak-anak Gaza yang kini hidup dalam kondisi kekurangan gizi.

Direktur Utama BMH, Supendi, menegaskan bahwa seluruh bantuan yang dikirimkan merupakan hasil kepedulian dan partisipasi masyarakat Indonesia yang disalurkan melalui program Peduli Gaza.

“Seluruh bantuan ini adalah amanah masyarakat Indonesia yang kami salurkan melalui program Peduli Gaza. Ini bentuk cinta dan solidaritas kita terhadap saudara-saudara di Palestina,” ujarnya dalam keterangannya diterima media ini, Selasa, 20 Jumadil Awal 1447 (11/11/2025). Ia menambahkan bahwa bantuan tersebut sebagai bentuk nyata persaudaraan kemanusiaan lintas batas.

Dalam program terbaru ini, BMH menyalurkan ratusan paket susu formula untuk anak-anak di camp pengungsian Deir el Balah, Gaza Tengah. Bantuan tersebut diarahkan khusus kepada bayi dan anak-anak yang mengalami kekurangan gizi akibat terbatasnya akses pangan dan layanan kesehatan.

Menurut Supendi, upaya ini juga berkat dukungan para dermawan dan mitra korporasi di Indonesia, di antaranya PT. Indo Anata Development, yang turut berkomitmen mendukung misi kemanusiaan untuk Gaza.

“Bantuan susu formula ini sangat berarti bagi bayi dan anak-anak yang gizinya menurun akibat minimnya asupan bergizi. Kami berterima kasih kepada seluruh donatur yang telah berpartisipasi,” jelas Supendi.

Ia menuturkan, proses distribusi dilakukan secara langsung kepada para ibu penerima manfaat dengan pengawasan ketat dari relawan mitra lokal BMH di Gaza, guna memastikan bantuan tepat sasaran dan sesuai dengan kebutuhan usia anak-anak.

Setiap paket yang disalurkan berisi susu formula berkualitas dengan komposisi gizi yang disesuaikan. Para ibu penerima manfaat menyambut bantuan tersebut dengan rasa haru.

Salah seorang penerima manfaat mengungkapkan betapa sulitnya mendapatkan susu untuk bayinya dalam beberapa minggu terakhir akibat kelangkaan bahan pangan. “Bantuan ini benar-benar menolong kami,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca.

Selain bantuan gizi anak, BMH juga terus menyalurkan bantuan lain seperti bahan pangan pokok, obat-obatan, serta kebutuhan dasar lainnya. Upaya ini dilakukan secara berkelanjutan sebagai bagian dari komitmen lembaga tersebut untuk memastikan masyarakat Gaza dapat bertahan di tengah situasi yang masih penuh tekanan.

World Peace Forum Dibuka, Nashirul Haq Tekankan Ajaran Wasathiyah Jadikan Umat Islam Khaira Ummah

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) – World Peace Forum (WPF) ke-9 resmi dibuka di Gedung Nusantara V, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, pada Senin, 19 Jumadil Awal 1447 (10/11/2025). Forum internasional yang mempertemukan tokoh lintas negara tersebut kembali mengangkat isu wasathiyah dan perdamaian sebagai pokok bahasan utama.

Acara ini menjadi ruang strategis untuk membahas kontribusi agama, budaya, dan kebijakan global dalam menciptakan stabilitas sosial-politik dunia yang lebih berkeadilan.

Wakil Ketua Pimpinan Majelis Syura Hidayatullah, KH. Dr. Nashirul Haq, M.A., hadir dalam forum tersebut dan memberikan keterangannya terkait urgensi tema yang diangkat pada perhelatan tahun ini. Menurutnya, relevansi WPF ke-9 terletak pada kemampuan forum ini menghadirkan gagasan dan dialog multidisipliner tentang masa depan harmoni global.

Ia menjelaskan bahwa isu utama yang diangkat tahun ini merupakan tema yang tidak pernah kehilangan relevansi. “Acara World Peace Forum ke-9 ini membahas tentang wasathiyah dan perdamaian. Tema yang sangat penting dan selalu relevan dengan setiap kondisi dan tempat,” katanya kepada media ini.

Wasathiyah dan perdamaian, jelasnya, berada dalam posisi fundamental untuk menjawab tantangan sosial, politik, dan keagamaan abad ini, baik di tataran regional maupun global. Nashirul menyoroti bahwa pemahaman mengenai wasathiyah memiliki cakupan konseptual yang jauh lebih luas daripada sekadar wacana umum tentang moderasi beragama.

Dalam penjelasannya, ia menyampaikan bahwa wasathiyah merupakan konsep komprehensif tentang cara hidup, bukan hanya sekumpulan sikap toleran yang bersifat situasional.

“Wasathiyah mengandung makna yang sangat luas sebagai jalan hidup, way of life yang komprehensif. Yaitu sikap pertengahan, adil, objektif, proposional,” katanya.

Konsep ini, dalam pandangan Nashirul, bukan sekadar panduan internal bagi komunitas Muslim, tetapi sebuah nilai universal yang dapat berfungsi dalam berbagai konteks masyarakat.

Ia kemudian menambahkan bahwa penerapan nilai wasathiyah dalam tindakan nyata masyarakat merupakan faktor utama dalam terwujudnya perdamaian global. “Jika wasathiyah menjadi landasan berpikir dan bertindak, maka, perdamaian pasti akan terwujud dalam kehidupan umat manusia,” katanya.

Nashirul memandang perdamaian tidak hanya dicapai melalui mekanisme politik, diplomasi, atau kerja sama antarnegara, tetapi juga melalui internalisasi nilai-nilai etika dan moral yang membentuk perilaku kolektif masyarakat. Dalam konteks itu, wasathiyah menurutnya berfungsi sebagai fondasi etik yang memastikan keseimbangan, keadilan, dan penghormatan terhadap martabat manusia.

KH. Dr. Nashirul Haq, M.A. di forum Musyawarah Nasional VI Hidayatullah di Jakarta, 23 Oktober 2025 (Billy/Hidayatullah.or.id)

Berpihak kepada Kebenaran

Nashirul juga memberikan penekanan bahwa konsep wasathiyah tidak boleh dikecilkan maknanya menjadi sebatas moderasi atau toleransi yang bersifat praktis. Dalam kerangka Islam, wasathiyah memuat tuntunan moral yang mengarahkan manusia pada pilihan yang berpihak pada kebenaran.

“Wasathiyah tidak hanya dimaknai sebatas moderasi atau toleransi. Namun sebuah prinsip yang selalu berpihak kepada kebenaran, kebaikan dan kemaslahatan,” tegasnya.

Dia menguraikan, wasathiyah tidak hanya menjaga keseimbangan, tetapi juga menuntut keberanian moral untuk berpihak pada nilai-nilai yang diridhai dan bermanfaat bagi kehidupan bersama.

Dalam penutup keterangannya, Nashirul Haq menggarisbawahi bahwa ajaran wasathiyah merupakan salah satu pilar yang menjadikan umat Islam mendapat predikat sebagai komunitas terbaik. Hal ini merujuk pada istilah “khaira ummah” yang terdapat dalam Al-Qur’an.

“Bahkan ajaran wasathiyah inilah yang menjadikan umat Islam sebagai khaira ummah, umat terbaik,” terangnya.

Disamping itu, dia menambahkan, konsep wasathiyah memiliki legitimasi teologis yang kuat, karena menghubungkan umat Islam dengan predikat sebagai komunitas terbaik yang membawa misi kebaikan bagi seluruh umat manusia.

“Ketika umat Islam mengamalkan ajaran wasathiyah, maka seluruh umat manusia dan alam akan merasakan Islam sebagai rahmat,” katanya.

Forum World Peace Forum sendiri merupakan platform internasional yang sejak awal digagas untuk menyatukan pemikir, pemimpin komunitas, akademisi, dan diplomat dalam membahas isu perdamaian dari berbagai sudut pandang.

Penyelenggaraan forum kali ini merupakan kolaborasi antara Center for Dialogue and Cooperation among Civilizations (CDCC) dan Cheng Ho Multi Culture and Education Trust, Muhammadiyah.

Meneguhkan Khidmat untuk Bangsa, Pesan KH Naspi Arsyad pada Hari Pahlawan 2025

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Peringatan Hari Pahlawan Nasional yang diperingati setiap 10 November menjadi momentum penting bagi bangsa untuk menengok kembali akar sejarahnya.

Pada kesempatan ini, Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, KH Naspi Arsyad, menegaskan bahwa kepahlawanan adalah energi moral yang harus diterjemahkan ke dalam tindakan nyata khususnya oleh umat Islam.

Naspi menjelaskan, peringatan Hari Pahlawan 2025 kali ini dengan tema “Pahlawanku Teladanku, Terus Bergerak, Melanjutkan Perjuangan” mengharuskan bangsa memikirkan ulang relevansi kepahlawanan dalam konteks Indonesia kontemporer.

Dia menyebutkan, tantangan yang dihadapi bangsa kini bersifat struktural mulai dari ketimpangan sosial-ekonomi, polarisasi identitas, krisis literasi, degradasi moral publik, serta ancaman disrupsi teknologi.

“Dengan demikian, kepahlawanan tidak lagi cukup dipahami sebagai keberanian fisik atau heroisme historis, tetapi harus didefinisikan ulang sebagai kemampuan kolektif menghadirkan ketangguhan moral dan sosial,” kata Naspi kepada media ini, Senin, 18 Jumadil Awal 1447 (10/11/2025).

Dalam kerangka inilah, terangnya melanjutkan, peran ormas Islam seperti Hidayatullah menemukan relevansi strategis. Gerakan ini selama puluhan tahun telah menggabungkan disiplin religius, pendidikan karakter, dan praksis sosial dalam sebuah konsep khidmat.

Khidmat, jelas Naspi, adalah pengabdian yang berakar pada nilai Islam dan diarahkan untuk kebaikan bangsa. Dalam perspektifnya, khidmat dapat dibaca sebagai modal sosial (social capital) yang memperkuat kohesi masyarakat melalui nilai solidaritas, empati, kejujuran, dan kepercayaan.

“Jika modal sosial adalah fondasi paling penting dalam pembangunan bangsa yang stabil, maka Hidayatullah berkontribusi pada pembangunan nasional melalui kehadiran kader kader di sekolah pedalaman, kampus dakwah, panti sosial, pesantren, hingga layanan kebencanaan yang menunjukkan bahwa Hidayatullah mengisi ruang-ruang yang tidak dijangkau negara,” katanya.

Dalam teori pembangunan modern, kontribusi semacam ini disebut sebagai governance from below, yakni mekanisme masyarakat sipil yang memperkuat efektivitas negara.

Lebih jauh Naspi berpesan, tema Hari Pahlawan 2025 menuntut adanya kesinambungan antara nilai historis dan realitas kontemporer. Para pahlawan bangsa memperjuangkan kemerdekaan pada masa sistem kolonial yang represif. Sementara, hari ini, perjuangan harus diarahkan pada peningkatan kualitas manusia.

“Tantangan generasi kini bukan lagi kolonialisme semata, tetapi kerapuhan karakter, rendahnya daya saing, lemahnya literasi digital, dan fragmentasi identitas. Membangun ketangguhan bangsa membutuhkan disiplin moral yang sistemik,” tegasnya.

Dalam kerangka semangat itu, khidmat yang dihidupkan Hidayatullah adalah bentuk kepahlawanan baru dengan berupaya menciptakan manusia unggul melalui pendidikan adab, pembiasaan ibadah, penguatan keluarga, dan aksi sosial berkelanjutan. “Semua ini menjadi penting karena tantangan terbesar Indonesia bukan sekadar ekonomi, melainkan kualitas manusia,” terangnya.

Dalam pada itu, Naspi menambahkan bahwa peringatan Hari Pahlawan 2025 harus dibaca sebagai ajakan untuk menggeser pemahaman kepahlawanan dari romantisme sejarah menuju pembangunan karakter bangsa.

“Di sinilah kontribusi ormas Islam seperti Hidayatullah menjadi sangat signifikan dalam rangka melanjutkan perjuangan dengan keteladanan moral, kecerdasan sosial, dan konsistensi pengabdian,” tandasnya.

Keteladanan Keluarga sebagai Pondasi Tumbuhnya Generasi Baik

0

KARAWANG (Hidayatullah.or.id) — Penguatan keluarga penting untuk terus menjadi fokus penting dalam berbagai forum pendidikan saat ini, terutama ketika masyarakat menghadapi perubahan sosial yang cepat dan tantangan pengasuhan yang semakin kompleks. Kajian parenting menjadi ruang bersama bagi orang tua untuk meninjau kembali makna kepengasuhan dan kualitas hubungan di dalam keluarga.

Dengan latar itu, penyelenggaraan Kajian Parenting bertema “Kunci Surga di Rumah, Menjadi Orang Tua Inspiratif” di Masjid Baitussaid Yayasan Ummul Quro Hidayatullah Karawang, Jawa Barat, menghadirkan diskusi yang menempatkan keluarga sebagai pusat pembentukan karakter anak, Ahad, 17 Jumadil Awal 1447 (9/11/2025).

Pada sesi utama, narasumber Mego Husodo, S.E., S.Psi., M.Fc., seorang profesional parenting dan keluarga Islami, menegaskan kembali bahwa anak tidak hanya tiba di dunia sebagai individu baru, tetapi membawa harapan besar sejak kelahirannya.

Ia menyatakan bahwa setiap anak lahir membawa harapan langit, impian akan kebaikan, kebahagiaan, dan keberkahan. Namun dalam kenyataan, banyak anak justru berhadapan dengan tuntutan dunia yang miskin pelukan hangat dan jauh dari doa yang tulus.

Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 08.30 hingga 11.00 WIB ini diikuti sekitar 200 peserta, terdiri dari wali murid TK, MDTA, SD Integral Ummul Quro, dan masyarakat umum. Acara merupakan kolaborasi antara Yayasan Ummul Quro Hidayatullah Karawang dan panitia Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB).

Pembukaan disampaikan oleh Ketua Yayasan, Rudi Safaat, yang juga bertindak sebagai keynote speaker. Ia menyampaikan bahwa pendidikan tidak hanya berada di tangan lembaga formal, tetapi merupakan tanggung jawab bersama antara sekolah dan orang tua.

Menurutnya, tema “Kunci Surga di Rumah” sejalan dengan prinsip bahwa pendidikan yang paling mendasar berawal dari lingkungan keluarga.

Orangtua dan Pembentukan Karakter

Dalam penyampaiannya, Mego mengajak peserta meninjau ulang fondasi pernikahan dan visi keluarga yang selaras dengan nilai-nilai Islami. Ia menjelaskan bahwa orang tua memiliki kedudukan sebagai madrasah pertama bagi anak.

Melalui doa, perhatian, dan kehadiran, orang tua menanamkan nilai yang berpengaruh langsung pada pembentukan karakter.

“Orang tua adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya,” tutur Mego.

Ia menyampaikan sejumlah langkah praktis bagi orang tua, seperti keteladanan dalam perilaku, kemampuan mendengarkan anak secara empatik, serta konsistensi menyediakan waktu berkualitas bersama keluarga.

Mego juga menekankan pentingnya memahami potensi anak serta memberikan dukungan penuh dalam proses tumbuh kembangnya.

Menjelang penutupan, Mego menyampaikan pesan bahwa rumah yang dipenuhi cinta dan kehadiran orang tua mampu menjadi jalan bagi terbentuknya generasi yang saleh, bahagia, dan berprestasi. Ia menyebut rumah sebagai titik awal yang menentukan arah perjalanan hidup seorang anak.

Sesi kemudian dilanjutkan dengan diskusi interaktif, di mana para peserta menyampaikan pengalaman dan pertanyaan terkait pengasuhan.

Sejumlah orang tua mengakui mendapatkan wawasan baru tentang bagaimana membangun suasana keluarga yang kondusif bagi perkembangan emosional dan spiritual anak.

Acara ditutup dengan kesimpulan bahwa penguatan keluarga merupakan elemen strategis dalam mendukung tumbuhnya generasi yang lebih baik, dan peran orang tua menjadi pusat dalam proses tersebut.