Beranda blog Halaman 502

Kapolres Buru Silaturrahim ke Ponpes Hidayatullah Savanjaya

BURU (Hidayatullah.or.id) -– Kapolres Kabupaten Buru, Maluku, AKBP Ricky Purnama Kertapati S.IK., M.Si melakukan kunjungan silaturrahim ke Yayasan Pondok Pesantren (Ponpes) Hidayatullah Namlea Buru, Rabu (13/02/2019).

Kedatangan Kapolres didampingi sejumlah perwira penting di Mapolres Pulau Buru, guna melakukan silahturahmi dengan para santri dan santriwati di Desa Savana Jaya, Kecamatan Waeapo, Kabupaten Buru.

Tiba di lokasi, rombongan di bawah komando polisi berpangkat dua bunga melati itu, disambut baik oleh Pimpinan Ponpes Hidayatullah, Ustadz Muhammad Hidayatullah pada pukul 11.30 WIT.

Selain itu, sebanyak 21 santri yang terdiri dari 12 orang laki-laki dan 9 orang perempuan, juga ikut menyambut dan mengikuti acara.

Kapolres Ricky dalam sambutannya menyampaikan, agar para ustadz dan ustadzah selalu memberikan pelajaran dengan baik. Sehingga, kelak para santri dan santriwati Ponpes Hidayatullah menjadi generasi yang berakhlak baik.

“Untuk para santri dan santriwati juga diharapkan lebih giat lagi mempelajari ilmu agama, karena itu akan jadi bekal hidup di dunia hingga akhirat,” ungkap Kapolres.

Sementara itu, Pimpinan Pondok Pesantren Hidayatullah Namlea, Ustadz Muhammad Hidayatullah, menyampaikan rasa syukur Alhamdulillah dan terimakasih kepada Kapolres dan jajarannya yang telah berkunjung ke pesantren dan bercengkrama langsung dengan anak-anak santri binannnya yang umumnya dari kalangan dhuafa.

Dia mengatakan sinergi antara masyarakat dengan aparatur sipil khususnya polisi perlu untuk selalu dirawat dan ditingkatkan.

Setelah sambutan dan beramah tamah antara kedua belah pihak, acara dilanjutkan dengan pemberian bingkisan oleh Kapolres Buru kepada Pimpinan Ponpes Hidayatullah.(spc/hio)

Tingkatkan Kualitas Kepengawasan, BMH Gelar Workshop Nasional

MALANG (Hidayatullah.or.id) — Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah (BMH) menggelar kegiatan workshop Pengawas BMH Perwakilan Seluruh Indonesia dengan tema Menuju Pengawas BMH yang Profesional yang diselenggarakan di Pusdiklat Hidayatullah Kota Batu, Malang, yang diadakan selama tiga hari Rabu-Jumat, 12-14 Februari 2019.

Peserta sebabyak 36 orang yang berasal dari semua BMH perwakilan di 28 provinsi seluruh Indonesia. Workshop ini sengaja dilakukan oleh pengurus BMH Pusat untuk meningkatkan kualitas kepengawasan di daerah, sekaligus membuktikan tingkat kehati-hatian tentang amanah umat tersebut.

“Di antara LAZ pasti ingin menarik simpati umat lewat program mereka, namun yang terpenting adalah menyadarkan umat tentang zakat sekaligus mendayagunakannya sehingga dibutuhkan fungsi kepengawasan yang baik,” ungkap Marwan Mujahidin, ketua Pengurus BMH Pusat.

Pekerjaan ini harus sesuai dengan syariah dan juga harus akubtabel dan teraudit oleh publik, imbuhnya.

Disadari animo masyarakat terhadap zakat sendiri belakangan ini sangat baik dan meningkat. Dan kondisi tersebut disambut baik pula oleh BMH dengan membenahi semua komponen internal.

Ketua Dewan Pengawas, Asih Subagyo, juga menambahkan, “teman teman pengurus tidak perlu takut karena pengawas bukan pencari kesalahan mereka. Hanya mencari peluang yang bisa dikerjasamakan untuk BMH lebih maju dan akuntabel”.

Menurut Asih, semua perwakilan punya target sendiri-sendiri sesuai kondisi daerahnya masing-masing dan (target) ini membutuhkan motivasi tinggi yang dibangun dengan baik antara pengawas dan pengurus.

Selain dituntut tampil di masyarakat dengan performa yang baik juga target untuk meraih kepercayaan publik dan menjalankan syariat Allah taala dengan benar.

“Sehingga semua pengawas dituntut untuk selalu meng-upgrade kualitas diri sebagai upaya meningkatkan kinerja yang sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya,” pesan Asih.

Acara ini juga menghadirkan Dadan Romansyah, SE. Ak. MM. SAS, akuntan publik untuk meningkatkan pemahaman kisi-kisi audit keuangan di lapangan.

Achmad Soleh, juga diundang sebagai pengisi acara untuk menguatkan materi kepengawasan pada workshop ini. Pemateri dari Kasi Data dan Manajemen Informasi pada Ditjen Bimas Islam, Kemenag RI, itu juga mengapresiasi BMH yang sudah memiliki gerai di lebih 71 kota kabupaten. */Muhammad Bashori

Kemantapan Bahasa Arab Wajib Bagi Setiap Mahasiswa PUZ

BONTANG (Hidayatullah.or.id) — Belajar bahasa asing tidak melulu harus di dalam ruang kelas secara formal. Di lain waktu, belajar bahasa bisa dilakukan sambil santai, tanpa menggunakan buku atau hafalan. Bahasa asing juga dapat dipelajari sambil menikmati pemandangan indah di luar ruangan (out door).

Demikian ditempuh puluhan mahasiswa Pendidikan Ulama Zuama (PUZ) Hidayatullah Balikpapan. Dengan kegiatan Rihlah Lughawiyah (Wisata Bahasa Arab), beberapa waktu lalu, seluruh mahasiswa tetap wajib menggunakan Bahasa Arab di setiap waktu perjalanan mereka.

Diakui Ustadz Muhammad Dinul Haq, Direktur PUZ Hidayatullah Balikpapan, selain hafalan al-Qur’an, kemantapan Bahasa Arab aktif di kalangan mahasiswa adalah keharusan dan menjadi branding keunggulan PUZ.

Bahwa dimanapun, tegas dia, seluruh mahasiswa tetap wajib memakai Bahasa Arab dalam percakapan keseharian mereka.

“Bedanya, disiplin berbahasa Arab PUZ lahir dari kesadaran diri sendiri. Bukan karena paksaan atau takut hukuman semata. Ini yang jadi kekhasan mahasiswa PUZ dibanding lainnya,” ucap sarjana lulusan Bahasa Arab Islamic University of Madinah (IUM) ini menerangkan.

Dalam Rihlah Lughawiyah, mahasiswa PUZ bersilaturahim ke beberapa sekolah Islam dan pondok pesantren di Kota Samarinda dan Bontang, Kalimantan Timur.

Rangkaian itu diisi dengan berbagi pengalaman menuntut ilmu para pengajar PUZ yang yang diwakili Muzhirul Haq. Atas izin Allah, Muzhir pernah berkelana kuliah hingga ke negeri Yaman dan Turki di Benua Asia-Eropa.

“Alhamdulillah, banyak manfaat yang didapat dari silaturahim dan rihlah, yang menggembirakan karena mahasiswa tidak lagi menjadikan pelajaran Bahasa Arab sebagai beban layaknya yang lain,” terang Dinul semangat.

“Respon santri-santri sekolah yang dikunjungi juga sangat antusias mendengar rihlah ilmiah pengajar PUZ. MasyaAllah,” tambahnya.

Untuk diketahui, PUZ merupakan program perkuliahan berbasis pesantren khusus mencetak lulusan sarjana berkapasitas ulama dan berjiwa pemimpin.

PUZ adalah program unggulan dari Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Hidayatullah yang kampusnya terletak di sebelah timur Balikpapan.
Selain Bahasa Arab, PUZ juga fokus kepada peningkatan kualitas hafalan al-Qur’an yang ditandai dengan mendatangkan para pengajar yang mutqin (professional) dengan legalisasi sanad hafalan.*/Abu Jaulah Daeng Situju

Milenial dan Kebanggaan Jadi sebagai Seorang Muslim

0
Oleh Hidayatullah,SH,MH
MEMANG tidak mudah menjadi seorang muslim shaleh apalagi di zaman seperti saat ini. Di tengah kepungan media sekuler dan liberal, sulit bagi generasi milenial untuk tidak terkena pengaruh buruk. Medsos telah menjadi kitab rujukan hidup anak-anak muda. Mereka lebih akrab dengan Facebook, Instagram dan Twitter ketimbang Al-Qur’an.
Keluarga yang seharusnya menjadi pondasi dasar bagi pertumbuhan dan perkembangan anak tidak mampu mengantar anaknya menjadi anak shaleh. Justru di rumahnya ia belajar ketidakramahan dan perilaku yang jauh dari cerminan akhlak Islami.
Lingkungan sebagai tempat (biah) menumbuhkembangkan kepribadian anak yang didapati hanya kekerasan dan konflik sosial. Alih-alih membantu perkembangan positif anak malahan justru menambah semakin jauh dari Allah Ta’ala.
Inilah potret kehidupan sebagian besar generasi mileneal saat ini. Mereka tidak dikenalkan dengan agama sejak dini. Tidak diajarkan dengan kehidupan islami di rumahnya. Lingkungan sekolah dan tempat tinggal juga jauh dari nilai-nilai Islam. Wajar jikalau generasi mileneal muslim jauh dari tuntunan Islam.
Ana Isyhadu bil Muslimin
“Saksikan bahwasanya saya adalah seorang muslim”. Kalimat kebanggaan (izzah) ini sudah mulai jarang terdengar dari seorang muslim, apalagi generasi mileneal.
Generasi mileneal saat ini telah menjadi generasi pembebek, lebih suka ikut-ikutan. Mereka mengikuti trend terkini mulai dari gaya hidup, pola makan sampai perilaku sehari-hari. Apalagi jikalau datang dari Barat dianggap sebuah kemoderenan.
Tidak hanya gaya hidup yang diikutin. Hampir  semua yang dilakukan oleh orang kafir menjadi panutan. Sebut saja contoh perayaan tahun baru, ulang tahun, hingga perayaan Valentine Day selalu ramai dan marak dilakukan.
Padahal Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda:
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ . (رواه ابو داود)
“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Abu Dawud)
Terkhusus Valentine Day yang dirayakan tiap bulan Februari lagi ramai diadakan. Padahal sesungguhnya ia adalah perayaan paganisme, lalu diadopsi menjadi ritual agama Nasrani. Merayakannya berarti telah meniru-niru mereka.
Sungguh ironis memang kondisi umat Islam saat ini terutama generasi milenial. Seolah-olah mereka menutup mata dan menyatakan boleh-boleh saja merayakan hari valentine yang cikal bakal sebenarnya adalah ritual paganisme.
Sudah sepatutnya kaum muslimin berpikir, tidak sepantasnya mereka merayakan hari tersebut setelah jelas-jelas nyata bahwa ritual valentine adalah ritual non muslim bahkan bermula dari ritual paganisme. Tidak boleh generasi mileneal merayakan perayaan agama lain semacam valentine.
Allah Ta’ala mengingatkan:
وَالَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ الزُّورَ وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَامًا ۞
“Dan orang-orang yang tidak menyaksikan perbuatan zur, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.” (QS. Al-Furqon 25: 72)
Mari kita jaga anak-anak kita dan generasi mileneal muslim dari melakukan tasyabbuh kepada orang-orang kafir. Kita ajarkan mereka dengan pendidikan Islam sejak dini. Semoga dengan itu generasi milenial kita bangga akan kemuslimannya.
_______
*) UST HIDAYATULLAH, Penulis adalah Ketua PENA Jabodebek dan pengasuh Pondok Pesantren Ashaabul Kahfi Hidayatullah Bekasi

“Agar PLN Juga Menyalakan Cahaya Agama di Pesantren”

0

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) – PT PLN (Persero) Wilayah Kalimantan Timur menggelar acara syukuran dan doa bersama di Masjid Ar-Riyadh Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, Kaltim, Selasa pagi (12/2/2019).

Acara dimulai pukul 10.00 WITA. Para santri dan mahasantri mulai berdatangan ke masjid pesantren ini setelah mendengar pengumuman dari masjid.

Acara digelar dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an. Kemudian sambutan yang disampaikan oleh Ketua Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Balikpapan Hamzah Akbar yang mengenalkan sedikit tentang pondok pesantren ini.

Sang ustadz mengucapkan rasa terima kasih kepada PLN Kaltim yang mengadakan acara ini.

Sambutan juga disampaikan oleh Direktur PLN Kaltim, Muhlison Basri yang menyampaikan harapan besarnya terhadap PLN serta memotivasi para santri.

“Saya berkeinginan untuk men-support pesantren ini, agar sekiranya PLN tidak hanya menyalakan cahaya listrik, namun dapat menyalakan cahaya agama juga,” ungkapnya.

Muhlison mengakhiri sambutannya dengan memotivasi santri.

“Kita tidak tahu kita akan sukses di masa depan, oleh karena itu, teruslah belajar dan jadilah orang yang berguna,” demikian motivasinya disampaikan di depan para santri.

Acara dilanjutkan dengan penerimaan bantuan dana dari PLN kepada pondok pesantren ini. Lalu diakhiri dengan doa bersama yang dipimpin oleh salah seorang ustadz di pesantren itu.

Setelah itu, diadakan acara tasyakuran dengan membagi ratusan kotak nasi kepada santri. Acara baru selesai pukul 11.15 WITA.*/Mishbahul Ma’ruf

Ketua Hidayatullah Timika Ajak Orangtua Melek Teknologi

0

TIMIKA (Hidayatullah.or.id) — Untuk memperdalam pengetahuan tenang teknologi informasi di jenjang pendidikan Sekolah Dasar dan memotivasi kreativitas siswa, SD Integral Hidayatullah Timika melaksanakan Ujian Praktik Presentasi Mata Pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) untuk jenjang kelas VI, yang dilaksanakan beberapa waktu lalu.

Kegiatan yang diikuti oleh 57 orang siswa-siswi tersebut juga dihadiri oleh Ketua Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Timika, Ustad Al Jufri Muhammad, Ketua DPD Hidayatullah Timika, Ustad Kasim Rumaf, S.Sos, dewan guru serta orang tua/wali murid yang menyaksikan secara langsung kepiawaian anak didik mereka dalam mempresentasikan laporan kegiatan home stay, tentang apa saja yang telah mereka lakukan pada bulan Desember 2018 yang lalu di Desa Naena Muktipura SP.6 Distrik Iwaka, Timika-Papua.

Ketua Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Timika, Ustad Al Jufri Muhammad dalam sambutannya menyampaikan, melihat kondisi perkembangan teknologi yang semakin pesat, sudah sewajarnya sebagai orangtua, kita harus dapat mengawasi anak-anak kita lebih ketat dengan terus mengontrol dan menyaring apa saja yang menjadi kebutuhan mereka dalam memilih teknologi maupun informasi pada era yang semakin berkembang.

“Kita sadar semua bahwa pengaruh HP Android sangat luar biasa kepada anak-anak kita. Oleh karena itu yayasan ini sangat ketat bagi santri yang boording School di sini. Untuk itu kami menghimbau juga kepada bapak dan ibu agar dapat menerapkannya juga di rumah masing-masing. Jangan karena rasa cinta kita kepada anak, sehingga kita memfasilitasi hal tersebut yang sebenarnya belum menjadi kebutuhan mereka malainkan hanya berupa keinginan,” kata Al Jufri.

Al Jufri menambahkan pada kegiatan tersebut mempersikahkan orangtua murid untuk memberikan masukan-masukan ataupun catatan-catan kecil berupa saran atau pendapat yang dapat menunjang kemajuan Sekolah dikemudian hari, jelasnya.

Senada dengan Ketua Yayasan, Jamul Hidayat, S.Pd selaku kepala sekolah mengatakan perlunya pengawasan yang ektra aktif dari orangtua kepada anaknya mengingat ujian nasional sudah di depan mata, tinggal menyisahkan kurang lebih 2 bulan kedepan.

“Saya tekankan ini adalah ujian kedua dari rangkaian ujian kelas VI setelah kemarin ada ujian pidato. Tak henti-hentinya saya menghimbau kepada orangtua wali kelas VI untuk selalu mengingatkan anak-anaknya, karena, InsyaAllah, di bulan Februari kita akan menghadapi try out tingkat gugus, kemudian dilanjutkan try out tingkat kabupaten di bukan Maret serta masih banyak lagi ujian-ujian detik-detik terakhir menuju ujian nasional,” kata Hidayat.

Selanjutnya Hidayat menyampaikan, perlu diperhatikan di rumah untuk mengawasi kegiatan-kegiatan yang kurang bermanfaat, yaitu dengan cara mengurangi jam bermain anak dengan menambah porsi belajar mereka. Karena selain ujian nasioanal anak-anak SD Intergral Hidayatullah Timika dalam waktu dekat juga akan mengikuti ujian Al-Quran.

“Anak-anak kita sudah hafal dari kelas 1 sampai kelas 5 tinggal dibangkitkan lagi daya ingat mereka agar dapat menghafal Al Quran lebih baik lagi,” pungkasnya.

Untuk diketahui ujian praktik TIK kali ini siswa-siswi dibagi menjadi 10 kelompok yang terdiri dari 5 kelompok putra dan 5 kelompok putri dan merupakan kegiatan tahunan yang wajib diikuti oleh siswa-siswi kelas VI sebelum meranjak ke seragan putih biru.*/Absir Budi Hamzah

Jayapura, Sentani, Kerom dan Sarmi Gelar Rakerda Gabungan

0

JAYAPURA (Hidayatullah.or.id) — Daerahnya yang saling bersinggungan serta karakteristik geografis dan sosialnya yang relatif sama, menjadi salah satu alasan yang melatari digelarnya Rapat Kerja Daerah (Rakerda) gabungan Hidayatullah yang digelar di Kota Jayapura. Empat daerah yang Rakerda gabungan tersebut yaitu Hidayatullah Jayapura, Hidayatullah distrik Sentani, Kabupaten Kerom dan Hidayatullah Kabupaten Sarmi.

Alhamdulillah Rapat Kerja Daerah Hidayatullah Papua yang terdiri dari 4 DPD inu berlangsung khidmat dan sukses sebagaimana yang direncanakan. Dilaksanakan di Kampus Madya Pondok Pesantren Hidayatullah Kota Jayapura, 9 Februari.

Musyawarah yang diselenggarakan di Gedung MTS Putra Hidayatullah Jayapura ini dibuka oleh Ketua DPW Hidayatullah Papua, Ust Muallimin Amin, S.Sos.I dan didampingi oleh Bendahara DPW Ust Abdullah.

Gerakan Nawafil Hidayatullah (GNH) menjadi point penting yang disampaikan oleh Ustadz Muallimin dalam sambutannya sebagaimana arahan dari Ketum DPP Hidayatullah di Rakerwil beberapa pekan sebelumnya.

Acara Pembukaan ditutup dengan pembacaan Ikrar GNH yang dipandu oleh Ketua DPD hidayatullah Kota jayapura Ust Indra Rizki, S.Pd.I sebagai tuan rumah. Kesempatan Rakerda ini dimanfaatkan dengan sangat baik oleh seluruh peserta sebagaimana pada diskusi sidang Komisi terdapat beberapa program yang disempurnakan sesuai kondisi dan perkembangan daerahnya masing-masing.

Beberapa redaksi program penting yang dikoreksi oleh pendamping dalam sidang pleno langsung diperbaiki dan dibacakan berulang kali agar komitmen untuk dilaksanakan secara maksimal. Sementara itu, gerakan 3M yakni Musyawarah, Mujahadah dan Munajat menjadi modal keberhasilan dalam pelaksanaan hasil Rakerda guna menguatkan dakwah islamiyah, mengencangkan peran kohesif di masyarakat serta memajukan umat melalui amal usaha pendidikan dan sosial.

Special event ini dirasakan oleh Ketua DPD Hidayatullah Sentani, Ust Haeranzi, karena Rakerda ini bertepatan dengan tanggal mutasi dari DPD Hidayatullah Nabire ke Sentani.

Maka, selepas shalat subuh, (10/2/2019) sebagaimana tradisi setiap ada momen tamu dari daerah atau ada petugas baru yang akan betugas, maka didaulatlatlah Haeranzi memberikan laporan mimbar di Masjid Miftahul Jannah Hidayatullah Jayapura yang berada tepat di samping utara tempat pelaksanaan acara. Jamaah subuh tampak menyimak dengan seksama laporan Haeranzi yang diawali dengan syair.

“Tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta, tak cinta maka tak rindu dan tak rindu maka tak setia. Begitulah perjalanan yang harus di lalui oleh setiap kader dalam menapaki pengabdian di Hidayatullah ini. Kader yang istiqomah akan siap berkorban untuk Islam, karena mereka saling merindukan karena Allah dan rindu ditugaskan kemana saja sesuai surat tugasnya,” kata Haeranzi yang juga baru beberapa waktu mendapatkan karunia anak kedua.

Haeranzi mengatakan, kader yang ingin berlama-lama di Hidayatullah karena mereka sudah mencintai lembaga dan berlomba berbuat yang terbaik untuk agama, nusa, bangsa dan umat.

“Kader yang senantiasa mencukupi kehidupan di jalan dakwah dan pengabdian akan menjaga agar semuanya indah dan bermartabat karena dia mengenal dengan benar visi membangun peradaban Islam,” begitulah uraian yang disampaikan Haeranzi yang juga menjadi bekal indah bagi dai yang akan mengawali perjalanan ke tempat tugas masing-masing. (ybh/hio)

Kebahagiaan Napi Nusakambangan Berhijrah dengan Hapus Tato Gratis

CILACAP (Hidayatullah.or.id) — Lembaga pelayanan kesehatan Islamic Medical Service (IMS) bekerja sama dengan Yayasan Baitul Maal (YBM) PLN menggelar kegiatan hapus tato gratis bagi narapidana di Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah, berlangsung di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Kelas IIA Kembangkuning pada Jumat-Sabtu (08-09/02/2019).

Awalnya, napi yang terdaftar untuk ikut kegiatan ini sebanyak 73 orang. Namun, karena animo yang cukup tinggi, selama dua hari ini, peserta hapus tato di LP Kembangkuning bertambah menjadi 89 orang.

Program hapus tato dibuka secara resmi oleh perwakilan Kalapas Kembangkuning, Edy Saryanto, yaitu Kepala Seksi Bimbingan Narapidana/Anak Didik dr Sudiro, pada Jumat pagi di aula lapas.

Turut hadir dalam acara ini Wakil Ketua Komisi Fatwa MUI yang juga Ketua Dewan Pengawas Syariah YBM PLN Prof M Amin Suma.

Pihak Lapas Kembangkuning menyatakan apresiasi dan terima kasih kepada pihak penyelenggara atas dipilihnya lapas tersebut sebagai tempat program hapus tato gratis. Di samping itu, ia juga menyampaikan apresiasi kepada warga binaan Lapas yang turut menyukseskan acara itu.

“Terima kasih kepada warga Kembangkuning yang nurut-nurut,” ujar dr Sudiro di depan ratusan hadirin.

Koordinator kerohanian agama Islam narapidana Lapas se-Nusakambangan, Ustadz Hasan Makarim, dalam sambutannya, turut menyampaikan penghargaan atas digelarnya hapus tato bagi para napi.

Ketua YBM PLN Pusat Herry Hasanudin menyampaikan bahwa program ini sebagai bentuk dukungan PLN dalam hal ini para pegawai BUMN tersebut terhadap para warga binaan.

“YBM PLN merupakan baitul maal yang didirikan oleh pegawai-pegawai PLN,” jelasnya.

Manager PT PLN (Persero) UP3 Cilacap, Ahmad Mustaqir, menyatakan rasa bahagia atas terselenggaranya program hapus tato bagi para napi. Ia menyampaikan terima kasih atas dukungan pihak lapas.

Sementara itu, Direktur IMS Imron Faizin mengungkapkan, hapus tato merupakan program yang telah berjalan setahun ini, dan telah diikuti lebih dari 3.000 peserta yang mereka sebut sebagai “Sahabat Hijrah”.

“(Sejauh ini sudah) 3.200 Sahabat Hijrah yang kami layani,” ujarnya.

Khusus untuk hapus tato di LP, IMS pada April 2018 lalu, telah meneken perjanjian kerja sama (MoU) dengan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjen PAS) Kementerian Hukum dan HAM (Kemkumham) RI mengenai program hapus tato di LP-LP.

Kata dia, dari perjanjian itu, diharapkan IMS bisa menggelar program hapus tato di lapas se-Indonesia. Beberapa waktu sebelumnya, kegiatan serupa juga telah digelar di LP Kembangkuning.

Amin Suma yang didaulat menyampaikan tausiyahnya pada kesempatan itu mengapresiasi para warga binaan terkhusus mereka yang beriktikad baik untuk bertobat dan berhijrah.

Ia memotivasi para napi bahwa mereka masih punya harapan dan kesempatan ke depan untuk hidup yang lebih baik lagi.

“Anak-anak muda (para napi ini, Red) masih punya harapan,” ujarnya.

Amin Suma pun mengapresiasi secara khusus salah seorang napi yang didaulat membacakan ayat suci Al-Qur’an di awal acara. Sang qori membacakan Surat Al-Mu’minun ayat 1-11. Ia berharap bacaan Qur’an napi tersebut semakin bagus lagi.

Dalam firman tersebut, Allah menjelaskan karakteristik orang beriman sebagai orang yang beruntung. Cirinya, antara lain mereka yang khusyuk dalam shalatnya.

Amin Summa mengajak para hadirin termasuk para napi untuk bisa khusyuk dalam beribadah. Menurutnya, khusyuk memiliki banyak pengertian. Salah satunya, yaitu meyakini 100 persen akan ketentuan dari Allah Subhanahu Wata’ala.

Pada kesempatan itu, dilakukan penyerahan bantuan secara simbolis dari YBM PLN kepada warga binaan.

Kesan Napi

Para napi peserta hapus tato menyambut gembira hadirnya program tersebut di LP Kembangkuning. Mereka tampak bahagia dan antusias mengikuti kegiatan ini. Sejak pagi, sekitar 75 napi telah berkumpul di aula untuk mengikuti acara pembukaan. Mereka pun antusias mengikuti proses-proses penghapusan tato, mulai dari pendaftaran, pengecekan lab –sebagai salah satu syarat medis–, hingga penembakan sinar laser dengan alat khusus yang dibawa IMS ke Nusakambangan.

Para napi itu berharap, dengan penghapusan tato itu, akan mendukung upaya mereka untuk berhijrah, menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

DM, inisial salah seorang napi asal Garut, Jawa Barat, mengaku sudah lama berkeinginan menghapus tatonya. Begitu mendapat info akan ada acara hapus tato di LP Kembangkuning, ia pun segera mendaftarkan dirinya.

Hingga akhirnya kemudian tatonya di tangannya bisa diproses untuk dihapus pada Jumat (08/02/2019) tersebut. “Alhamdulillah, ada jalan,” ujarnya. Kesyukuran itu bertambah karena ia tak perlu merogoh kocek untuk menghapus rajah di tubuhnya.

DM mengakui bahwa menghapus tato merupakan bagian dari upayanya untuk berhijrah. Dengan menghapus tato, berarti telah menghapus keburukan.

“Mudah-mudahan Allah balas segala kebaikan (lewat program hapus tato ini),” harapnya saat ditemui tim IMS di sela-sela kegiatan itu.

Senada dengan itu, S (43 tahun), inisial warga binaan lainnya, turut gembira bisa ikut program hapus tato. Pria non-Muslim asal Jakarta ini mengaku ingin menghapus tatonya karena malu dengan anaknya. Dengan menghapus tato, ia ingin memberi bukti kepada sang buah hati bahwa dirinya telah berubah.

“Saya pingin jadi contoh buat anak-anak,” ungkapnya.

Selain menghapus tato, perubahan positif lainnya telah ia jalani selama ini. Misalnya, sudah cukup lama ia meninggalkan kebiasannya mengisap tembakau beracun. “Tidak merokok sejak 2014,” akunya.

Dengan program hapus tato pun, ia semakin bertekad untuk hidup lebih baik. “(Hapus tato) ini momen yang jarang, yang berharga,” ujarnya, apalagi kalau di luar sana untuk hapus tato butuh biaya mahal. “Ini momen yang luar biasa,” ujar penganut agama Kristen ini.

Program hapus tato tersebut selama ini memang diikuti oleh peserta non-Muslim sekalipun.

Pihak Ditjen PAS Kemkumham menyatakan bahwa hapus tato merupakan program menarik bagi mereka untuk digelar di lembaga pemasyarakatan.

Analis Perjanjian Kerjasama di Direktorat Teknologi dan Kerjasama Ditjen PAS Kemhumkam, Innaka Mutiara, mengakui bahwa program ini menarik bagi mereka, sehingga kemudian beberapa waktu lalu diteken perjanjian kerja samanya di Jakarta.

“(Hapus tato) ini suatu hal yang menarik, hal yang baru, belum pernah dilakukan oleh mitra-mitra kami yang lain (selama ini),” ujarnya ditemui tim IMS di Wisma Masjid Agung Daarussalaam Cilacap, Sabtu (09/02/2019) pagi sebelum ia turut berangkat ke Nusakambangan. (ybh/hio)

BMH Berbagi Kebaikan Bersama Anak Yatim dan Janda Tangguh

0

SEMARANG (Hidayatullah.or.id) — Menjadi single parent menjadi ujian tersendiri bagi seorang ibu. Lebih-lebih ada tambahan amanah anak-anak untuk dididik hasil dari masa-masa indah bersama sang suami yang ditakdirkan Allah mendahului mereka.

Seorang ibu tentu harus menjalani dua peran sekaligus, yakni peran ayah dan peran Ibu sendiri. Juga menjadi anak yatim tentu bukan pilihan yang akan diucapkan jika seorang anak ditanya terhadap pilihan kehidupannya. Semua anak tentu akan mendambakan hidup bersama kedua orangtuanya melewati masa-masa perkembangan usia emasnya.

Namun, Allah sebaik-baik pembuat rencana telah menulisnya dengan rapi dalam kekuasaan-Nya. Manusia yang lahir hanya bisa menjalankan jatah usia hidupnya yang tidak pernah diketahui sejak lahir hingga selesai jatah hidupnya diatas dunia.

Mencermati hal di atas, sebagai bentuk kepedulian, Laznas BMH menggelar acara Berbagi Kebaikan Bersama Anak Yatim dan Janda Tangguh di Semarang, Ahad (10/02/19).

“Santunan anak yatim dan janda tangguh ini bukan hanya sekedar memberi apa kebutuhan mereka hari ini, kita kemas sebagai program pemberdayaan yang berbasis SDGs sehingga kedepan dapat kita ukur seberapa pengaruh pemberdayaan BMH kepada para mustahik,” jelas Kepala Perwakilan BMH Jawa Tengah, Mohammad Misdawi Syarif, sesaat menyaksikan antusias masyarakat untuk memenuhi undangan yang disebar se Jateng itu.

Hadir dalam kegiatan Berbagi bersama 1000 anak yatim dan janda tangguh, Kang Nasir dari Solo selaku pengisi acara menyampaikan motivasi sebagai bekal anak dan ibu yang sudah kehilangan sosok ayah.

“Menjadi anak shaleh dan shalehah itu tidak menghalangi status adik-adik saat ini. Bahkan Nabi pun dalam usia kandungan ibunya, Muhammad kecil sudah yatim. Maka jangan pernah rendah diri, semua kita punya potensi untuk maju. Jangan cengeng, hadapi semua yang ada di depan,” pesan Kang Nasir kepada anak-anak yatim.

Mengutip beberapa keistimewaan orang yang peduli dengan nasib anak yatim diantaranya; Dari Sahl bin Sa’ad radhiallahu ‘anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku dan orang yang menanggung anak yatim (kedudukannya) di surga seperti ini”, kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta agak merenggangkan keduanya.

Ibu Satinah dan Adik Nurul secara serempak menjawab sangat senang dengan undangan dari BMH ini, sesaat setelah menerima paket dan santunan seusai acara. Mengharapkan semoga selalu ada undangan yang lebih peduli terhadap kehidupan mereka.

Program Berbagi kebaikan bersama 1000 anak yatim dan janda tangguh ini diikuti sebanyak 15 Kabupaten se Jawa Tengah. Semoga ditahun-tahun mendatang akan lebih banyak lagi yang dapat menerima manfaat dari program-progam BMH nantinya.*/Yusran Yauma,SE

STIS Hidayatullah Melahirkan Generasi Emas untuk Umat

0

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Menghadapi tantangan pendidikan ke depan, Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Hidayatullah Balikpapan optimis mampu mencetak generasi emas, sebagai solusi terhadap problematika umat di tengah masyarakat sekarang.

Optimisme sekaligus harapan itu disampaikan oleh Masykur Suyuthi, Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Hidayatullah di hadapan ratusan mahasiswi yang memenuhi pelataran Kampus STIS Hidayatullah Putri Balikpapan dalam acara Apel Senin Pagi (4/2).

Menurut Masykur, layaknya emas pada umumnya, generasi emas adalah sosok manusia yang selalu dicari. Emas selalu berharga dan punya nilai mahal dibanding jenis batu lainnya.

“Dalam kondisi apapun, emas itu berbeda. Ia dicari. Tak peduli bentuk dan keadaan di sekelilingnya,” jelas Masykur.

Generasi emas, lanjut Masykur, adalah pemuda yang fokus pada pengembangan dan aktualisasi diri. Pemuda yang tak suka menyalahkan orang lain dan lingkungan sekitar.

Karakteristik generasi emas, lanjut dia, juga siap untuk ditempa dengan berbagai macam jenjang penggemblengan. Sebab diyakini potensi dan kemampuan itu hanya muncul setelah diasah dan disaring dengan uji kekaderan sekian lama.

“Ini sejalan dengan prinsip para penuntut ilmu. Bahwa ilmu itu mesti didatangi dengan sungguh-sungguh dan penuh pengorbanan. Ilmu tidak bisa dicapai dengan santai apalagi hanya berleha-leha begitu saja,” ucapnya.

Terakhir, ustadz lulusan Magister Pendidikan Islam Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor tersebut mengingatkan tentang harapan para orangtua dan sesepuh pesantren.

Mereka disebut berbangga bukan hanya karena mewariskan sarana dan prasarana yang sudah luas dan megah secara fisik. Tapi jika mereka mendapati para pemuda yang ada sudah siap menjadi generasi pelanjut perjuangan dakwah Islam ini, imbuhnya.

“Orang tua itu bersyukur kalau generasi penerusnya sudah siap menerima tongkat estafeta tersebut. Sebab inilah yang dimaksud sosok generasi emas itu,” pungkas Masykur.(ybh/hio)