Beranda blog Halaman 501

Taekwondo Hidayatullah Towuti Sabet Juara di Unibos Cup

0

MAKASSAR (Hidayatullah.or.id) – Sebanyak 10 atlet dari Madrasah Ibtidaiyah Swasta (MIS) Darul Ilmi dan SMP Integral Darul Ilmi Hidayatullah Towuti yang tergabung di kontingen Taekwondo Towuti Club (TTC) mengikuti Kejuaraan Open Tournament Taekwondo Universitas Bosowa Cup 2019 Se-Indonesia Timur.

Tournament Taekwondo ini dilaksanakan selama tiga hari pada tanggal 26-28 April 2019 di gedung Indor Badminton Kantor Gubernur Sulsel.

Atlet Taekwondo Towuti Club berhasil menorehkan prestasi yang luar biasa. Ada delapan atletnya berhasil meraih juara dan membawa medali pulang.

Peserta Taekwondo Towuti Club peraih medali yakni Mufidah-Perak, Idhan Sobri- Perak,Trio Ramadhan Kelas 48 kg-Perunggu, Muzakkir kelas 48 Kg-Perunggu,Muh. Faiz Al Aziz kelas 54 kg- Perunggu, Bima Dirgantara kelas 41 kg- Perunggu, Aqifah zakiyyah Hubungan kelas 22 kg- Perunggu, Khaerul Efendi kelas 45 kg-Perak.

Najamuddin selaku ketua Lembaga Pendidikan Integral Hidayatullah Towuti menyampaikan ucapan selamat kepada TTC (Taekwondo Towuti Club) yang telah kerja keras latihan untuk mendapatkan medali di kejuaran Unibos Cup 2019.

“Terimakasih kepada seluruh wali murid yang terus memberi dukungan dan support serta kepada seluruh Pengurus TTC,” ujarnya, Sabtu (04/05/2019).

Lanjut Najamuddin, terkhusus kepada pelatih Risci Dacosta dedikasinya yang terus mensupport para siswa untuk membawa medali pulang.

“Kami bangga para santri kita terus membuat takjub. Event demi event yang digelar selalu berhasil menjadi juara. Teruslah juara pertahankan gelar juara ini,” tutup Alumni Magister IAIN Palopo.*/Andi Alfian Salassa

Kopi dan Ramadhan Berkualitas

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Bagi penikmat kopi, seduhan panas yang tersaji di atas meja itu selalu sarat makna. Bukan saja tentang prosesnya yang panjang dengan segala kerumitannya, juga tentang seni tangan yang mengolahnya sehingga menghasilkan cita rasa dan kenikmatan berbeda.

Sebagai penikmat kopi, Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah Dr H Nashirul Haq, pun rupanya sudah menyiapkan stok kopi khusus dari sebuah daerah di Riau yang katanya cukup untuk menemani kegiatan malam selama bulan Ramadhan ini.

Sebelumnya, dalam sambutannya di acara tasyakuran penggunaan perdana Masjid Baitul Karim Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah beberapa waktu lalu, beliau menyampaikan pentingnya persiapan diri memasuki bulan suci Ramadhan. Tidak saja persiapan mental, termasuk di dalamnya adalah persiapan kopi agar tidak ngantuk ketika Qiyam Ramadhan.

Dengan setengah berseloroh, ia lantas mengingatkan, ngopi tidak membuat penyeruputnya otomatis tidak mengantuk dan membuat melek semalam suntuk. Malah sebaliknya, ada orang yang sudah minum kopi tapi tetap saja mengantuk.

“Sebenarnya, minum kopi atau tidak, tetap saja ngantuk. (Tidak ngantuk) itu tergantung jiwa dan fikirannya,” katanya.

Beliau lantas membagi kiatnya melawan kantuk. Kalau tidak mau mengantuk, katanya, pikirkanlah apa yang sedang dibaca dan apa yang kita dengar. Menurutnya, tidak ada orang ngantuk selama dia berfikir.

“Kalau kita ngantuk, berarti kita tidak meresapi apa yang didengar dan apa yang dibaca. Kalau kita ikuti dan meresapi bacaan imam, sebenarnya, susah kita ngantuk. Sebagaimana kalau kita ada masalah, kita pikirkan sampai tidak bisa tidur,” imbuhnya.

Buka Sekadar Banyak

Dalam pada itu, Ust Nashirul menekankan agar dalam menghadapi bulan Ramadhan harus pula dengan persiapan ilmu.

“Target kita di bulan Ramadhan adalah bukan hanya banyaknya ibadah, tetapi bagaimana menggapai pelaksanaan ibadah yang berkualitas. Ahsanu ‘amala,” ujarnya.

Yang namanya ahsanu amala, terangnya, adalah ibadah yang sejalan dengan sunnah yang ditunaikan dengan penuh keikhlasan.

“Ikhlas dan ittiba’, itulah ahsanu ‘amala. Jadi bukan sekedar banyaknya bacaan, tetapi baiknya bacaan itu yang paling penting,” jelasnya.

Yang tak kalah penting adalah persiapan fisik. Bahkan ia menyarankan bila perlu lakukan medical checkup apabila ada masalah kesehatan yang dirasa mengganggu. “Perlu juga kita olahraga rutin agar fit. Semua harus disiapkan dengan baik,” pungkasnya.

Hidayatullah telah mengeluarkan seruan Ramadhan mendorong segenap jamaah dan umat muslim secara luas untuk mengupayakan pencapaian target Ramadhan, antara lain, target tarbiyah ruhiyah, yakni peningkatan kualitas spiritual dan keilmuan pengurus, simpatisan, anggota, dan masyarakat.

Target dakwah Islamiyah, yakni tersentuhnya seluruh lapisan masyarakat melalui masjid, mushallah maupun perkantoran oleh program dakwah Hidayatullah, baik dakwah jama’iyah melalui ceramah, ta’lim, kajian, dan diskusi maupun dakwah fardiyah melalui silaturrahim atau pertemuan-pertemuan informal.

Lalu target penyucian harta, yakni terpenuhinya seluruh kewajiban zakat bagi seluruh kader, anggota, jamaah dan simpatisan Hidayatullah. Serta target pendayagunaan dana Zakat, Infak, Shadaqah (ZIS) kaum muslimin untuk menyukseskan dakwah Islam melalui jaringan Hidayatullah, baik melalui Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah maupun yayasan-yayasan sosial yang telah ada.



(ybh/hio)

STIS Hidayatullah Gelar Wisuda Penghafal Al-Qur’an

0

TERITIP (Hidayatullah.or.id) — Menyambut bulan Ramadhan, perguruan tinggi Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Hidayatullah menggelar Wisuda Penghafal al-Qur’an yang dirangkai dengan penutupan Daurah Hafalan al-Qur’an 40 hari, Ahad, 29 Syakban 1440.

Wisuda berlangsung di pelataran Gedung “Hasanah Lukman” Asrama STIS Putri, Balikpapan, Kalimantan Timur. Dihadiri oleh Pimpinan Umum Hidayatullah KH. Abdurrahman Muhammad, Pendiri Hidayatullah KH. Hasyim HS, Ketua Yayasan Pondok Pesantren (YPP) Hidayatullah Balikpapan Hamzah Akbar, dan sejumlah tamu undangan lainnya.

Dalam pidato sambutan, Ketua STIS, Masykur Suyuti memberi apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh peserta wisuda. “STIS bukan lembaga khusus penghafal al-Qur’an. Tapi hari ini STIS buktikan bahwa dengan kesungguhan, mahasiswa tetap bisa jadi penghafal al-Qur’an,” ucapnya.

Menurut Masykur, kunci kebehasilan ini terletak pada program halaqah al-Qur’an yang berjalan di masjid. Setidaknya tiga kali dalam sehari mahasiswa berhalaqah (kelompok kecil melingkar) untuk mengulang dan memperlancar hafalan al-Qur’an mereka. “Setiap halaqah biasanya dipandu oleh satu orang musyrif,” jelasnya.

Diketahui, acara wisuda ini meluluskan 28 mahasiswi dengan tiga kategori, hafalan 15 juz, hafalan 20 juz, dan 30 juz al-Qur’an. Untuk kategori terakhir, sebanyak 14 orang berhasil menyelesaikan hafalan mereka secara sempurna hingga 30 juz.

Ke depan STIS berharap, para lulusannya semakin banyak yang bisa menghafal al-Qur’an. Hal itu dikarenakan al-Qur’an sebagai sumber ilmu yang paling pokok bagi lulusan Sarjana Syariah.

“Syarat utama mendalami agama tentu melalui al-Qur’an. Sebagaimana pemahamanlurus tentang agama bisa dilihat dari interaksinya dengan al-Qur’an,” imbuh Masykur kembali.

Dalam kesempatan sama, Tokoh Muda Kalimantan Timur Naspi Arsyad mengingatkan tanggung jawab dan peran nyata para penghafal al-Qur’an di tengah masyarakat.

“Ingat, kita syukuri tapi jangan berpuas diri apalagi sampai bangga diri begitu saja,” ungkap lulusan Universitas Islam Madinah itu. Menurutnya, al-Qur’an itu punya visi besar dan senantiasa mendorong  untuk bergerak dalam kebaikan di masyarakat. “Jadi keliru kalau ada penghafal al-Qur’an tapi tidak peduli dengan lingkungan sekitarnya,” pungkasnya.   

Jelang Ramadan, PD Mushida Bulukumba Gelar Rakerda

BULUKUMBA (Hidayatullah.or.id) – Pengurus Daerah Muslimat Hidayatullah Bulukumba, Sulawesi Selatan, menggelar Rapat Kerja Daerah (Rakerda) dengan tema “Menguatkan Mainstream Tarbiyah dan Dakwah Muslimat dalam Mendukung Ketahanan Keluarga Indonesia” yang berlangsung di Masjid Ruknun Syadid Pesantren Hidayatullah Padangmonro, Sabtu (04/05/2019).

Ustadz Suparman selaku pimpinan Hidayatullah Bulukumba mengatakan saat membuka Rakerda Muslimat Hidayatullah Bulukumba merupakan Orpen (Organisasi pendukung) di organisasi induk Hidayatullah.

“Tanpa peran Mushida maka tidak bisa dipastikan roda perjalanan organisasi berjalan kencang dalam mensukseskan program mainstream dakwah dan tarbiyah yang menjadi program unggulan 2019,” jelasnya.

Lanjut, dalam menjelang memasuki Ramadhan maka dalam rapat kerja kali ini perlu secara serius mempersiapkan diri dalam mensukseskan dengan memaksimalkan ibadah serta langkah-langkah strategis dalam andil keummatan.

Tambah dia mengatakan, sebagai seorang muslimah yang harus di jaga dalam berjuang adalah niat sehingga mampu menampilkan peragaan kemuslimahan dalam kehidupan bermasyarakat.

“Serta berterimakasih kepada pengurus wilayah Mushida sulsel dalam kunjungannya ke Bulukumba terkait pendampingan rapat kerja kali ini yang tidak semua daerah di perlakukan hal yang sama,” pungkasnya.*/Andi Alfian Salassa

Hidayatullah Sebar Dai Mandiri ke Berbagai Daerah di Kaltim

0

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) – Yayasan Dai Mandiri bekerjasama dengan Baitul Maal Hidayatullah dan didukung DPW Hidayatullah Kalimantan Timur menggelar acara wisuda dan penugasan dai ke berbagai daerah yang digelar di Rendezvous SIT Luqman Al Hakim Karang Bugis, Kota Balikpapan, Kalimantan Timur, belum lama ini.

Tampak hadir sejumlah tokoh diantaranya Ketua MUI Kota Balikpapan KH. Muhammad Kasim Pallanju, Direktur Yayasan Dai Mandiri Ust. Abu Ahmad, Lc, Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Kalimantan Timur Ust Dr H Muhammad Tang beserta jajaran, Direktur SIT Luqman Al Hakim, Muzakkir Usman Asyari, Direktur BMH Kaltim Muhammad Mundzir, SE, staf pengajar dan ratusan undangan.

Direktur Yayasan Da’i Mandiri, Ust. Abu Ahmad, dalam sambutannya, mengatakan program pelatihan dai mandiri merupakan program life skill training yang berdurasi short cut, hanya berjalan sekitar 10 bulan setiap angkatannya.

“Peserta Pelatihan berasal dari beberapa kota, bukan hanya dari Balikpapan atau Kalimantan Timur. Ada yang berasal dari Palu (Sulteng), Makassar (Sulsel) hingga Semarang (Jateng),” kata Abu Ahmad.

Abu Ahmad mengatakan, program pelatihan ini tidak menetapkan syarat-syarat yang berat untuk menjadi peserta. Diantara peserta, lanjur dia, bahkan ada yang belum mampu membaca Al Qur’an di hari pertama menjadi peserta pelatihan.

“Namun, dengan bimbingan yang intensif dari tim pengajar, peserta tersebut -Alhamdulillah- dapat membaca Al Qur’an dengan baik dalam beberapa pekan saja,” ungkap Abu Ahmad.

Dia menyebutkan, diantara kompetensi yang diajarkan dalam program ini adalah pengurusan jenazah, bekam dan thibbun nabawi, imam shalat rawatib, pengelolaan taman pendidikan Al Quran (TPA) dan lain sebagainya yang setalian dengan kecakapan dai di lapangan.

Sementara itu, Ketua DPW Hidayatullah Kalimantan Timur Ust Dr H Muhammad Tang, mengungkapkan rasa bahagianya atas dilakukannya sukses program dan penugasan dai yang dilakukan tersebut.

“Harapan umat untuk mendapatkan pencerahan keagamaan sangat besar bahkan cenderung komposisi antara demand dan supply dari harakah dakwah tidak berbanding,” imbuh Tang.

Hidayatullah sebagai organisasi dakwah dan tarbiyah, menurut Tang, terus menerus memikirkan agar gerakan dakwah ini mampu menyentuh seluruh lapisan masyarakat bahkan hingga ke pelosok sebagai konsekwensi dari mainstream Hidayatullah yaitu dakwah dan tarbiyah.

Doktor Pendidikan lulusan UIN Antasari Banjarmasinmenegaskan, pelatihan dan program pendidikan dai ini adalah wujud dari rasa tanggung jawab keummatan serta ekspresi kesyukuran serta terima kasih Hidayatullah terhadap umat Islam atas dukungan umat Islam terhadap gerakan dakwah dan tarbiyah Hidayatullah, secara khusus di Kalimantan Timur.

Kesempatan yang sama, Wakil Ketua MUI Kota balikpapan, KH. Muhammad Kasim Pallanju, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas program pelatihan dai mandiri yang digagas oleh organisasi Hidayatullah ini.

“Sebagai seorang dai, harus memiliki karakter yang bijaksana dan santun terutama bila berhadapan dengan pihak yang berseberangan dengannya,” kata ulama berusia 81 tahun berasal dari Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan ini.

Dai juga, terang Pallanju, harus memberi ketauladanan karena para dai harus berada di garda terdepan dalam praktek-praktek keagamaan. Apalagi secara faktual, masih banyak praktek-praktek keagamaan di Kalimantan timur yang belum sejalan dengan prinsip agama yang benar.

“Sebagai seorang dai, wajib menjadikan sifat-sifat kenabian sebagai panduan dan barometer akhlaknya. Menjadi seorang dai harus mampu menjaga muru’ah diri terutama dari godaan-godaan dunia, semisal harta, kekuasaan hingga wanita,” pesan Kyai Pallanju.

Diantara uraian sambutannya, KH. Muhammad Kasim Pallanju menasihatkan agar para dai muda ini pandai-pandai dalam mencari pasangan hidupnya.

“Prinsip iman sebagai syarat utama menjadi suami/istri adalah syarat yang tidak boleh diremehkan karena gerak dakwah ini tidak boleh terganggu oleh pasangan hidup yang tidak mengerti resiko bergelut dengan dakwah secara totalitas,” pungkasnya.

Program pendidikan dai ini terselenggara atas dukungan berbagai pihak diantaranya Laznas Baitul Maal Hidayatullah, DPW Hidayatullah Kaltim, DPD Hidayatullah Balikpapan serta dukuangan tenaga pengajar dari berbagai latar belakang dan beragam bentuk dukungan lainnya. (ybh/hio)

Haru Tasyakuran Pakai Perdana Masjid Baitul Karim

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Alhamdulillah, menyambut bulan suci Ramadhan 1440 yang tinggal beberapa hari, panitia pembangunan Masjid Baitul Karim Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah menggelar tasyakuran penggunaan perdana masjid tersebut yang ditandai dengan shalat Jum’at pertama dan ramah tamah di Jalan Cipinang Cempedak I/14 Otista Polonia, Jakarta, Jum’at (3/5/2019).

Hadir dalam kesempatan tersebut salah satu dari lima pendiri Hidayatullah Ust HA Hasan Ibrahim, MA, Ketua Umum DPP Hidayatullah Dr H Nashirul Haq beserta sejumlah jajaran, Ketua DPPU Hidayatullah Dr H Abdul Mannan, sesepuh Hidayatullah yang juga pewakaf H Andi Iman Loebis beserta keluarga dan tokoh sejumlah lainnya.

Pewakaf H Andi Iman Loebis mewakili keluarga besar dalam sambutannya menyampaikan rasa haru dan bahagia atas dimulainya penggunaan masjid yang menjadi cita-cita orangtuanya tersebut.

“Jagalah aset ini. Kembangkan aset ini, hasilnya untuk kita selama-lamanya,” kata Andi Iman Loebis haru seraya menitikkan air mata.

Andi lantas berkisah tentang tempat bersejarah ini. Dia menyebutkan, di awal tahun 1950-an, orangtuanya membeli komplek ini dari orang Belanda. Rumah tersebut terpaksa dibeli dengan kredit. Karena tidak bisa membeli secara kontan.

Namun, aneh bagi Andi, baru sehari menempati, sang ayah tiba tiba menyampaikan akan menyerahkan tempat tersebut untuk kepentingan dakwah di jalan Allah.

“Di malam pertama ibu dan ayah menempati rumah ini, ayah saya mengatakan, bahwa rumah ini akan dikembalikan kepada Allah. Ibu saya kaget. Ibu saya mengatakan, kita baru satu hari di sini, utang belum lunas, kok ayah berkata begitu,” kisah Andi.

Dalam perjalanan sesudah itu, rumah ini sempat disewakan kepada instansi pemerintah. Hasil sewanya lantas dipakai untuk membangun Masjid Ummul Quro’ di Pesantren Hidayatullah Cilodong (sekarang Depok).

“Tidak satu sen pun kami sekeluarga mengambil hasil sewa rumah ini. Seluruhnya kami wakafkan,” katanya.

Lebih lanjut, Andi mengungkap rasa syukur karena bertemu dengan seseorang yang kemudian membimbingnya lebih mengenal agama. Hal itu terjadi pada tahun 1987 saat ia naik haji.

“Saya bertemu dengan seorang yang menjadi sahabat hidup saya. Beliau ini banyak membimbing saya dalam kehidupan beragama. Tidak lain, dia adalah saudara saya, Abdul Mannan, yang datang dari “langit”,” ujarnya.

Andi mengatakan bersyukur kepada Allah telah bersahabat dan bersaudara dengan perintis Pesantren Hidayatullah Cilodong yang hingga kini melebar menjadi apa ada seperti sekarang.

Selepas shalat Jum’at, ratusan jamaah menyantap hidangan santap siang. Pada kesempatan tersebut jamaah mengirimkan doa kesembuhan kepada Bapak Tahtit Eko Susilo yang sedang kurang sehat sehingga tak dapat menghadiri acara tasyakuran sederhana tersebut. (ybh/hio)

PKTrans Kemendesa Bersama Hidayatullah Tingkatkan Kapasitas Mental SDM

MAKASSAR (Hidayatullah.or.id) — Direktorat Jenderal Pengembangan Kawasan Transmigrasi Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Republik Indonesia  (PKTRANS Kemendesa PDT RI) bekerjasama dengan DPP Hidayatullah dalam mengembangkan Kawasan Perkotaan Baru (KPB) menyelenggarakan Peningkatan Kapasitas Mental Spiritual/Rohaniawan Pada Kawasan Perkotaan Baru (KPB) Wilayah Sulawesi, Sumatera, Maluku, Kalimantan dan Nusa Tenggara tahun 2019.

Balai Pusat Latihan Masyarakat Makassar (BPLMM) di Jalan Daeng Ramang KM. 16 dipilih sebagai tempat berlangsungnya acara dari tanggal 29 April hingga 3 Mei ini.

Dalam komitmennya, program 2020–2024 peningkatan sumber daya insani melalui aktifitas Islamic centre di semua kawasan perkotaan baru. Pihaknya menuntut semua pengelola agar menjadikan tempat tugasnya sebagai wahana komunikasi, peningkatan kualitas keagamaan dan pusat ekonomi umat.

Kepala Dirjen PKTRANS  Dr Ir H. Muhammad Nurdin, MT dalam sambutannya mengatakan dirinya sangat menginginkan kualitas kegiatan di setiap Isamic center yang dikelola menyamai kualitas pondok–pondok besar yang ada di Jawa.

“Makanya saya menggandeng Hidayatullah dan beberapa alumni Pondok Pesantren Lirboyo,” kata Nurdin.

Menyitir semangat para perintis di beberapa KPB, ia mencita citakan agar semua Islamic centre dengan manajemen yang terukur dan profesional sehingga menjadi ‘serambi-serambi Makkah’ di wilayah masing-masing,” tuturnya.

Di hadapan peserta yang berjumlah 25 orang itu, Kepala Dirjen PKTRANS banyak mengapresiasi semangat para dai dan pengurus Islamic Centre yang dengan fasilitas seadanya bahkan harus ‘bahagia’ bermukim dengan keluarganya mendiami sisi bangunan masjid.

Begitu juga Ketua Departemen Dakwah dan Penyiaran DPP Hidayatullah Drs Shohibul Anwar menyampaikan hal senada, peserta yang hadir adalah orang istimewa pilihan Allah yang dipilih sebagai pengurus rumah-Nya.

“Faktanya hari ini, orang bisa membangun masjid dengan megah namun banyak yang lalai untuk memakmurkannya dikarenakan mengurus Islamic centre atau masjid hanya sisa waktu dari kesibukannya” ujarnya.

Diharapkan dengan pelatihan ini peserta mampu meningkatkan kualitas Ulumuddin atau ilmu agamnya dan semakin professional dalam menjalankan tugasnya.

Di antaranya materi Pengembangan Masyarakat Berbasis Masjid/Islamic Centre, Membangun Aspek Pendidikan, Sosial dan Ekonomi Umat dari Islamic Centre dan beberapa materi lain yang disampaikan langsung oleh Ketua Pos Dai  Ahmad Suhail bersama trainer SLR Asep Supriatna.

Selama lima hari ditempa di Balai Latihan Masyarakat seluruh peserta sangat berantusias dan optimis untuk bisa segera mengaplikasikan semua konsep manajemen dan hasil sharing dengan pengelola Islamic centre lainnya serta memberi manfaat seluas-luasnya.

“Makin semangat saya, banyak yang baru saya dapat di pelatihan ini terutama semangat teman-teman pengurus dengan tantangan yang berat dan berbeda beda namun bisa sabar kemudian bisa dapat pertolongan Allah,” ujar Safar pengelola Islamic Centre di desa Maloy, Kecamatan Sangkulirang, Kutai Timur.*/Muhammad Bashori

Dr Abdul Mannan: Kalau Mau Berjuang, Berjuang yang Benar!

0

DEPOK (Hidayatullah.or.id) – Ketua DPPU Hidayatullah, KH Dr Abdul Mannan, menantang kader muda Hidayatullah melakukan terobosan dakwah yang lebih progresif dan melahirkan karya yang tak kalah momumental dengan para pendahulu untuk kebaikan umat dan bangsa Indoensia tercinta.

Motivasi tersebut beliau sampaikan dikala menjadi narasumber dalam acara Dialog Peradaban bertajuk “Envisioning Perlaku Peradaban” yang diselenggarakan PP Syabab Hidayatullah bekerjasama dengan Elkindy Institute dan DPW Hidayatullah Jabodebek di Kota Depok, Jawa Barat, beberapa waktu lalu.

“Tepat waktu, itu peradaban. Dari dulu saya tidak pernah terlambat. Disiplin waktu. Semua aktifitas tidak pernah terlambat. Kalau mau berjuang, berjuang yang bener,” ungkapnya.

Sebenarnya, lanjut dia, tidak ada ceritanya muballigh kelaparan. Lapar karena tidak kreatif dan bermental inferior. Padahal, tegas dia, Islam ini superior tapi pengusungnya interior.

“Mengapa inferior, karena tidak memahami manhaj. Hanya latah saja. Tak paham substansi manhaj. Mengapa dulu bukan sarjana tapi punya semangat pergerakan, karena paham manhaj,” ujar pendiri Elkindy Institute ini.

Dia mengatakan, kader awal Hidayatullah secara akademis sebenarnya masuk kategori interior karena umumnya bukan sarjana bahkan rata-rata hanya lulusan SD/SMP. Tapi mereka memiliki keyakinan dan keberanian. Karena itu, di zaman sekarang ini dimana fasilitas sudah lengkap, jangan sampai sifat inferior menggerogoti.

“Kuncinya iman. Perbaiki syahahat. Pemuda bermental kempes karena faktor lemahnya Tauhid. Putus shalat malam satu malam, akan putus cahaya dari langit.  Di zaman almarhum Abdullah Said (Rahimahullah), kalau tidak shalat malam, boleh ikut rapat tapi nyimak aja. Ndak boleh bicara,” ujarnya.

Penulis buku “Era Peradaban Baru” ini berpesan, untuk menjaga disipin diri terutama dalam menjaga kualitas iman, harus 40 hari shalat berjamaah dan tidak terlambat takbiratul ihram bersama imam.

Sekedar diketahui, Elkindy Institute adalah lembaga pengkajian dan pengembangan peradaban yang salah satu konsennya mengoleksi manuskrip catatan pemikiran pendiri Hidayatullah yang diharapkan menjadi sumbangsih positif terhadap tradisi pengkajian filologi modern dan pengembangan peradaban bangsa. (ybh/hio)   

Bertauhid adalah Khidmat dan Merdeka yang Sesungguhnya

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Orang bertauhid hanya bergantung pada Allah Subhanahu Wata’ala saja. Apapun tantangan atau problem yang dihadapi, semuanya dikeluhkesahkan kepada Allah. Kalau kecenderungan hati masih hanya membesarkan makhluk, melupakan Al-Khaliq, berarti belum berkhidmat dengan benar.

Demikian dikatakan pembina Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya, Jawa Timur, Ust Drs H Abdul Rahman, dalam taushiahnya di sela menghadiri acara Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Kampus Induk dan Kampus Utama Hidayatullah di Kota Depok, Jawa Barat, belum lama ini.

“Bertauhid yang benar itu tidak bergantung pada lembaga (Hidayatullah). Atau bergantung kepada presidennya. Tetapi hanya bergantung kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Inilah yang disebut dengan berkhidmat sesungguhnya. Inilah yang disebut merdeka,” kata Rahman.

Dia mengatakan, manusia yang merdeka adalah mereka mengikrarkan Laa Ilaha Illallah dan meyakininya dengan sepenuh hati. Nilai-nilai tersebut, tambahnya, mesti  ditransformasikan kepada segenap anak didik sehingga nantinya akan melahirkan kesadaran bertauhid Uluhiyah. Dengan begitu, akan kokoh landasan ilmiahnya. Tidak ada keraguan dan memiliki integritas yang kokoh.

“Personalitinya orang bertauhid itu menerima sepenuh jiwa dan raga setiap perintah Allah SWT. Penuh dengan puncak kecintaan kepada Allah. Dengan itulah, proses pendidikan kita melahirkan generasi yang kokoh. Anak-anak terjaga fitrahnya. Memiliki manusia yang memiliki kesadaran yang kokoh serta siap bertumbuh dan berkembang untuk menegakkan peradaban Islam,” ujarnya.

Beliau mengatakan, Hidayatullah berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mendesain sistem pendidikan lembaga yang integral sehingga kelak diharapkan akan melahirkan generasi bertauhid Rububiyah, bertauhid Uluhiyah, dan generasi yang bertauhid Asma wa sifat.

“Akhlaknya agung. Imannya kokoh. Islam sebagai sistem hidup yang hidup melalui proses tilawah ta’limul kitab wal hikmah sehingga memiliki penguasaan dalam dimensi qauliyah dan kauniyahnya,” ujarnya menjelaskan.

Ia mengharapkan, dari Hidayatullah akan semakin banyak lahir dai yang siap mengabdi menjadi suluh agama di berbagai tempat penugasan yang belum terjangkau. Dengan bekal skil yang memadai, ia pun memiliki kemandirian hidup (entrepreneurship).

“Umat yang terdidik kedirian dan umatnya, akan mampu melakukan perubahan. Allah tidak akan merubah suatu kaum selama mereka tidak merubah nasibnya sendiri,” pesannya seraya menambahkan Hidayatullah hadir dalam rangka melahirkan kader ulama dan generasi berakhlak karimah.

“Semoga kampus kita menjadi proyek revolusi tarbiyah dan dakwah dalam melakukan perubahan yang mendasar dan menyeluruh. Jangan ikuti pendidikan yang melahirkan koruptor,” pungkasnya. (ybh/hio)

Haluan Silaturrahim ke Kampus Hidayatullah Gunung Tembak

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Perkumpulan masyarakat Islam Malaysia, Pertubuhan Himpunan Lepasan Institusi Pendidikan (HALUAN), melakukan kunjungan silaturrahim ke Kampus Induk Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Kota Balikpapan, Provinsi Kalimantan Timur, Indonesia, Jum’at (26/4/2019).

Selain diterima dengan hangat oleh dan pembina dan pengurus pesantren, rombongan lawatan dari Haluan turut diterima oleh Ketua Umum DPP Hidayatullah KH Dr Nashirul Haq.

Dr Abdullah Sudin sebagai presiden Haluan dengan merendah mengatakan bahwa tujuan utama kedatangannya adalah untuk silaturrahim dan kedua, untuk berguru kepada “abang” Hidayatullah. Karena, menurutnya, organisasi dakwah Hidayatullah lebih dulu berdiri.

Sebagai adik yang baik, maka kami belajar kepada kakak kami,” kata Dr Abdullah Sudin yang datang ke Balikpapan dibersamai Wakil Presiden Haluan, Prof. Emeritus Abu Azzam Mohd Yasin beserta jajaran pengurus inti lainnya.

Sementara itu, Wakil Presiden Haluan, Prof. Emeritus Abu Azzam Mohd Yasin, dalam kesempatan temu bual dengan mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Hidayatullah Balikpapan, pakar Petroleum yang diakui dunia internasional ini berkesempatan berbagi ilmu dan wawasan soal geopolitik.

Secara terang benderang, di hadapan puluhan mahasiswa STIS Hidayatullah, ia lalu didaulat menjelaskan daripada hegemoni neo-komunisme dan dominasi neo-kapitalisme.

Selain soal paparan mendalam terkait tema, berulang kali Prof. Abu Azzam juga mengingatkan soal keutamaan ilmu dan mengamalkannya. Bahwa Islam adalah sistem hidup yang mencakup semua aspek kehidupan.

“Tauhid itu bukan cuma aqidah saja. Tapi juga tauhid syakhsiyah. Yakni menzhahirkan Islam mulai dari cara berpikir hingga daripada pola bertindak. Semuanya harus berasas ajaran Islam,” jelas Prof Abu Azzam dengan semangat.

Dalam silaturrahim tersebut juga dilakukan taaruf dan pertukaran informasi seputar dakwah, pendidika dan gerakan sosial kemasyarakatan yang kebetulan sama-sama menjadi concern kedua lembaga.

Pada kesempatan itu juga diadakan diskusi terkait visi misi ormas Hidayatullah, kurikulum pengkaderan Hidayatullah, kepemudaan dan dipungkasi dengan kegiatan rihlah keliling kampus Pusat Gunung Tembak dan Gunung Binjai.

Sekedar diketahui, di akhir tahun 2011, nama HALUAN telah didaftarkan sebagai organisasi lembaga swadaya nasional di Malaysia. HALUAN memiliki kredo gerakan ”berakhlak, mendidik dan berbakti” yang termasuk terdepan dalam gerakan keswadayaan. Diantara yang selama ini ditahui adalah komitmennya dalam membantu rakyat Palestina.

Aktifitas HALUAN lainnya adalah membantu pemerintah/ kerajaan di kawasan dalam menangani masalah sosio-ekonomi terutama dalam aspek pembinaan keluarga, penyelesaian konflik keluarga dan remaja, konsultasi keluarga tunggal, miskin dan anak yatim. (ybh/hio)