Beranda blog Halaman 507

Hidayatullah Komitmen Bangun Peradaban Islam Selaras NKRI

0

BEKASI (Hidayatullah.or.id) — Ormas Hidayatullah memiliki visi dan komitmen tinggi untuk membangun peradaban Islam di Tanah Air. Demikian ditegaskan Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah KH Dr Nashirul Haq MA.

“Peradaban adalah manivestasi keyakinan. Jadi, peradaban Islam adalah manivestasi keyakinan, manivestasi iman, aqidah Islamiyah di dalam kehidupan. Maka di Hidayatullah, peradaban Islam adalah manivestasi iman di dalam seluruh aspek kehidupan,” urai Nashirul Haq MA dalam paparannya pada Tabligh Akbar yang diselenggarakan DPW Hidayatullah Jabodebek di Islamic Center, Bekasi, Jawa Barat, Jumat (18/1).

Lebih jauh Nashirul menegaskan, membangun peradaban Islam sangat relevan dengan nilai-nilai kebangsaan dan konstitusi NKRI.

“Kalau kita tarik ke Indonesia, yang mayoritas penduduknya beragama Islam, yang negeri ini dibangun oleh pemikiran dan perjuangan ulama, yang konstitusi negara ada nilai Ketuhanan, termasuk dalam Pembukaan UUD 45, maka jelas, membangun peradaban Islam ini juga bagian penting amanah konstitusi, utamanya untuk mewujudkan kemerdekaan, keadilan dan kemakmuran,” imbuhnya.

Sementara itu, Ustaz Bachtiar Natsir yang juga menjadi narasumber dalam forum tersebut menegaskan, kunci membangun peradaban adalah bagaimana komitmen semua pihak membangun manusia.

“Secara umum, untuk membangun bangsa Indonesia yang bermartabat dengan peradaban Islam, kuncinya ada pada gerakan membangun manusianya. Sebab, suatu bangsa atau negara bermartabat atau tidak itu ditentukan oleh martabat manusianya itu sendiri. Oleh karena itu, membangun peradaban, berarti membangun manusia,” tegasnya.

Tabligh Akbar dengan tema “Mewujudkan Indonesia Bermartabat dengan Peradaban Islam” merupakan agenda pertama dari rangkaian Rapat Kerja Wilayah Dewan Pengurus Hidayatullah Jabodebek.

“Besok akan dilanjutkan dengan bedah buku Era Peradaban Baru, kemudian lusa akan diisi dengan kegiatan Training Dai Menulis,” pungkas Ketua Panitia Rakerwil DPW Hidayatullah Jabodebek, Hidayatullah MH.*/Imam Nawawi

Muslimin Uyghur Menunggu Doa dan Pembelaan Kita


‎وَمَا نَقَمُوْا مِنْهُمْ اِلَّآ اَنْ يُّؤْمِنُوْا بِاللّٰهِ الْعَزِيْزِ الْحَمِيْدِۙ“

“Dan mereka menyiksa orang-orang mukmin itu hanya karena (orang-orang mukmin itu) beriman kepada Allah Yang Mahaperkasa, Maha Terpuji.”(Al-Quran surah Al-Buruuj ayat 8)

Nama Suku Bangsa: Uyghur. Nama Wilayah: Turkistan Timur atau diberi nama oleh pemerintah Republik Rakyat Cina (Komunis) sebagai Wilayah Otonomi Uyghur Xinjiang atau disingkat Xinjiang (artinya: Wilayah Perbatasan Baru). Jumlah Penduduk: 23 juta jiwa (2015). Luas Wilayah: 1,6 juta km2 daratan (Indonesia 1,9 juta km2 darat dan laut). Perbatasan: Tibet, Pakistan, Afghanistan, Kazakhstan, Tajikistan, Kyrghyztan, Russia, Mongolia.

Sejarah Ringkas

Menerima da’wah Islam sejak abad pertama Hijriyah. Menjadi bagian dari kerajaan Islam sejak abad ke-3 Hijriyah. Berganti-ganti penguasa antara Muslim dan bukan Muslim. Tahun 1933 jadi Republik Islam pertama. Tahun 1944 untuk kedua kalinya jadi Republik Islam.

Turkistan Barat sejak setelah Perang Dunia II dikuasai oleh Uni Soviet (Komunis). Setelah Soviet bubar, terpecah jadi 5 negara: Tajikistan, Kazakhstan, Kyrghystan, Tajikistan, Uzbekistan. Tahun 1949, Turkistan Timur dikuasai dan menjadi bagian dari Republik Rakyat Cina (Komunis) sampai sekarang.

Alhamdulillah, awal minggu lalu, Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah dipimpin Ketua Umum Ust. Dr. Nashirul Haq menjamu makan malam Delegasi Ittihadu ‘Ulama Turkistan Timur (Uyghur) yang sedang melakukan kunjungan persaudaraan ke Indonesia. Jamuan makan itu juga dihadiri Ketua Pengurus Pusat Persatuan Islam (PERSIS) Dr. Tiar Anwar Bachtiar, pengurus pusat BMH (Baitul Maal Hidayatullah), pengurus pusat PZU (Pusat Zakat Umat), dan pengurus JITU (Jurnalis Islam Bersatu).

Di hadapan hadirin, Prof. Dr. Ataullah Sahyar, Presiden Ittihadu ‘Ulama Uyghur menyatakan, “Tujuan kunjungan ini untuk berterima kasih kepada saudara-saudara kami bangsa Indonesia yang beberapa bulan terakhir berunjuk rasa dan menyatakan sikap tegasnya atas kezaliman pemerintah Republik Rakyat Cina (Komunis) kepada Muslimin Uyghur di Turkistan Timur yang juga disebut Xinjiang.”

Pada bulan Desember 2018 lalu, Michelle Bachelet, Ketua Komisioner Tinggi Hak Asasi Perserikatan Bangsa-Bangsa mendesak  RRC Komunis agar memberinya akses memasuki kamp-kamp konsentrasi di berbagai wilayah Turkistan Timur, yang dipakai menyekap Muslimin Uyghur.

https://www.independent.co.uk/news/world/asia/uighur-muslims-china-reeducation-camps-un-intervene-torture-a8670481.html https://www.hrw.org/news/2019/01/14/human-rights-council-membership-has-its-consequences

Permintaan ini ditolak oleh Beijing.

Pada tanggal 28 sampai 30 Desember 2018, China mengundang para dutabesar dari 12 negara berpenduduk Muslim terbesar termasuk Indonesia untuk mengunjungi beberapa lokasi yang disebut China sebagai “pusat-pusat pendidikan keterampilan pekerja” itu. China lalu mengatakan bahwa PBB boleh mendatangi “pusat-pusat pendidikan” itu dengan syarat “taat kepada hukum (China) dan prosedur yang berlaku.”

(https://www.scmp.com/news/china/politics/article/2181035/china-says-un-officials-can-visit-xinjiang-long-they-avoid)

“Ironisnya,” kata Dr. Sirajuddin Azizi, Wakil Presiden Ittihadu ‘Ulama Uyghur, “tak ada satu pun negara Muslim diantara negara-negara itu yang mengkritisi RRC Komunis itu.”

Kamp-kamp konsentrasi tersebut, menurut Dr. Sirajuddin, merupakan tempat reindoktrinasi ideologi Komunis dengan tujuan memurtadkan Muslimin Uyghur dan mengubah keyakinan, pikiran dan adat istiadat mereka untuk sepenuhnya menjadi seorang Cina Komunis.

“Di dalam kamp-kamp itu mereka dipaksa menyatakan berkali-kali setiap hari, bahwa sumber rezeki dan kesejahteraan itu adalah Xi Jinping dan Partai Komunis Cina, dipaksa menyembah bendera Komunis, dipaksa tidur hanya 2-3 jam sehari agar lebih mudah dicuci otak, dipaksa makan babi dan minum khamar,” jelas Sirajuddin. Cerita ini didapat dari beberapa orang yang dibebaskan lalu hijrah ke luar negeri.

Selain itu, mereka juga dilarang solat, bahkan dilarang mengucapkan salam sesamanya di dalam kamp. Bagi Muslimah, dilarang menutup aurat dengan jilbab di dalam kamp.

Dr. Sirajuddin menjelaskan, berbagai bentuk kezaliman ini bukan baru setahun dua tahun berlangsung tetapi sudah mulai hampir bersamaan dengan sejak penguasaan wilayah Turkistan Timur pada tahun 1949 oleh Cina Komunis. Sudah 70 tahun.

Hidayet Oghuzan, Ketua Ma’arif Institute, untuk kajian dan bantuan kemanusiaan bagi warga Uyghur, menyatakan, “Intinya, negara yang berideologi Komunis ingin menghapus seluruh identitas agama dan adat apapun, kecuali ritual-ritual yang bersifat individual.”

BUKAN SEPARATISME

Pemerintah RRC Komunis, termasuk Duta Besarnya di Jakarta saat dipanggil oleh Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, maupun saat berkunjung ke PP Muhammadiyah dan PB NU, membantah adanya “kamp-kamp” konsentrasi.

Namun pihak pemerintah RRC Komunis mengakui adanya “pusat-pusat re-edukasi” atau “pusat pelatihan” untuk membekali warganya agar memiliki keterampilan yang memadai untuk mendapat pekerjaan yang baik.

Dr. Abdussalam Alim, anggota Delegasi Ittihadu ‘Ulama Uyghur, menyangkal bantahan Rezim RRC Komunis itu. “Ada ratusan bahkan ribuan ulama, tokoh, pemimpin, ibu rumah tangga, dosen, bahkan rektor universitas yang dipaksa ikut kamp konsentrasi. Keterampilan apa yang mau dibekalkan kepada mereka? Mereka sudah bekerja bahkan bekerja untuk pemerintah. Jadi mereka dipaksa masuk kamp bukan karena mau dibekali keterampilan.”

Ia memberi contoh Syaikh Muhammad Solah, ulama terkemuka yang menterjemah Al-Quran ke bahasa Uyghur. “Dahulu,” kata Dr. Abdussalam, “Syaikh Muhammad Solah diperjalankan oleh rezim RRC Komunis ke berbagai negara Muslim. Tapi ketika mereka sudah tidak suka, Syaikh Solah disekap di kamp konsentrasi dari tahun lalu wafat di kamp dalam usia 82 tahun.”

Pemerintah RRC Komunis juga menyebarluaskan tuduhan, bahwa kamp-kamp konsentrasi itu bertujuan menghapus pikiran-pikiran “separatisme” dari benak Muslimin Uyghur.

Dr. Abdussalam membantah, “Jangankan berpikir separatis atau bikin negara baru, untuk bertahan hidup saja jutaan warga Muslim Uyghur belum tentu bisa.”

Menurut Dr. Abdussalam, semua anggota delegasinya masing-masing punya lebih dari satu anggota keluarga yang disekap di kamp konsentrasi. “Saya punya kakak perempuan yang divonis 9 tahun penjara, sejak 2016, hanya karena dia solat dan berjilbab. Lima saudara perempuan saya yang lain, sudah bertahun-tahun saya tak tahu nasibnya. Tidak ada komunikasi sama sekali,” tukas Dr. Abdussalam.

Jika kamp-kamp konsentrasi ini dibiarkan terus berlangsung, kata Dr. Abdussalam, sama halnya kita membiarkan dihapuskannya Muslimin Uyghur secara massal, baik aqidahnya maupun tradisinya.

SERUAN UYGHUR

Ittihadu ‘Ulama Uyghur menegaskan, seruan utama mereka adalah: Pertama, Kepada pemerintah RRC agar menghentikan dan menutup semua kamp konsentrasi dan membebaskan seluruh warga Muslim Uyghur yang disekap. Kedua, Kepada pemerintah RRC agar memberikan kebebasan beribadah, solat fardhu berjama’ah, solat jum’at, majelis-majelis ilmu, pelajaran Al-Quran, menutup aurat dengan jilbab dan niqab, berpuasa, berumroh dan haji, kepada seluruh Muslimin Uyghur tanpa adanya tekanan ataupun ancaman.

Ketiga, kepada organisasi dan lembaga Islam Indonesia dimohon berkenan memberi masukan kepada Pemerintah Republik Indonesia supaya mendesak pemerintah RRC menghentikan kezalimannya kepada Muslimin Uyghur maupun kepada kaum Kristen, Buddha dan agama lain serta kelompok-kelompok etnis.

Keempat, kepada Pemerintah Republik Indonesia, negara Muslim berjumlah penduduk terbesar, agar membawa masalah ini ke Organisasi Kerjasama Islam (OKI) dan menggunakan platform itu sungguh-sungguh membela kaum Muslimin tertindas di Turkistan Timur/Xinjiang, Arakan, Suriah, Palestina dan belahan dunia lain.

Kelima, kepada Pemerintah Republik Indonesia agar menggunakan hubungan baiknya dengan pemerintah Kerajaan Thailand agar segera membebaskan 54 warga Uyghur yang ditahan tanpa sebab selama dua tahun ini, dan tidak mendeportasi mereka. Jalan keluar bagi mereka adalah mengirimnya ke negara yang mau menerima, seperti Turki. Karena mengembalikan mereka ke Cina sama dengan menyengsarakan mereka.

Keenam, kepada Pemerintah Indonesia dimohon agar memberi jaminan keamanan bagi saudaranya Muslimin Uyghur bila mereka singgah di Indonesia atau meminta suaka keamanan. Jangan deportasi mereka. Terimalah mereka sebagai saudara kalian, dan perlakukanlah mereka dengan baik. Sebagaimana kalian ingin warga negara Indonesia diperlakukan dengan baik di negeri lain, jika dalam keadaan terlantar.

AMANAH ALLAH
‎إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالَّذِينَ آوَوا وَّنَصَرُوا أُولَٰئِكَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يُهَاجِرُوا مَا لَكُم مِّن وَلَايَتِهِم مِّن شَيْءٍ حَتَّىٰ يُهَاجِرُوا وَإِنِ اسْتَنصَرُوكُمْ فِي الدِّينِ فَعَلَيْكُمُ النَّصْرُ إِلَّا عَلَىٰ قَوْمٍ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُم مِّيثَاقٌ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan harta dan jiwanya pada jalan Allah dan orang-orang yang memberikan tempat kediaman dan pertoIongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itu satu sama lain lindung-melindungi. Dan (terhadap) orang-orang yang beriman, tetapi belum berhijrah, maka tidak ada kewajiban sedikitpun atasmu melindungi mereka, sebelum mereka berhijrah. (Akan tetapi) jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan kecuali terhadap kaum yang telah ada perjanjian antara kamu dengan mereka. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”(Al-Quran surah Al-Anfaal 72)

Semoga Allah menguatkan persaudaraan antara Muslimin Indonesia dan Muslimin Uyghur, sampai keduanya saling tolong menolong dalam kebaikan.

Jakarta, 19 Januari 2019

Dzikrullah
Departemen Luar Negeri DPP Hidayatullah

Berukhuwah Sepenuh Hati, Pilar Hidup Berjamaah

0

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Ada banyak persaudaraan tapi buhul paling kuat mengikat adalah persaudaraan yang dibangun atas dasar iman (ukhuwah imaniah). Iman dan ukhuwah demikian menjadi cikal bakal pondasi sekaligus pilar hidup berjamaah. Sedang berjamaah bagi orang beriman ialah syarat tegaknya peradaban dan menikmati indahnya hidup berislam.

Demikianlah pesan disampaikan Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah Dr. Nashirul Haq, dalam acara silaturahim bersama ratusan jamaah yang memadati Masjid Agung Ar-Riyadh, Balikpapan, baru baru ini. Turut hadir dalam acara, sejumlah dewan pembina dan sesepuh Pesantren Hidayatullah Balikpapan.

Menurut Ustadz Nashirul, persaudaraan yang dibangun tanpa dasar iman bersifat semu dan sesaat. Kepentingannya pragmatis dan cenderung melemahkan.

“Ada persaudaran yang rusak karena berebut warisan. Ada juga yang putus karena saling mengkhianati dan tidak percaya kepada lainnya,” ucap ustadz yang meraih doktornya di Intenational Islamic University of Malaysia (IIUM).

Nashirul meneruskan, ukhuwah imaniah tersebut hendaknya dirawat dengan sungguh-sungguh sebagai sebuah kekayaan yang tak ternilai dalam kehidupan. Hal itu dikerjakan setidaknya dengan meneladani Rasulullah yang telah berbagi tips dalam merawat ukhuwah sepenuh hati.

Pertama, kata Nashirul, mengungkap kecintaan kepada saudara yang dicintai. “Meski jarang dilakukan, tapi ini kebiasaan Rasulullah bersama sahabatnya,” jelas Nashirul sambil menceritakan dialog Nabi bersama sahabatnya.

Selanjutnya, ukhuwah tersebut bisa juga dijaga dengan saling mendoakan, saling bersilaturahim, saling membantu, dan saling bertukar hadiah.

Semua usaha tersebut, papar Nashirul, sebagai bentuk kesungguhan seseorang dalam membuktikan persaudaraan bersama saudara yang dicintainya.

“Jadi yang terpenting adalah keikhlasan dan kejernihan hati. Sebab sulit membayangkan orang itu mau mencintai saudaranya, apalagi hingga mendahulukan saudaranya untuk kebaikan, kalau hatinya sedang digerogoti penyakit,” terang anggota Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (Wantim MUI) Pusat menutup taushiahnya.*/Masykur Suyuthi

Tasmin Latif Narsum Tabligh Akbar di Bulukumba

0

BULUKUMBA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Bidang Tarbiyah Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, H.M. Tasmin Latif, M.Pd.I, menjadi narasumber acara tabligh akbar yang digelar di Kabupaten Bulukumba, Kamis (17/1/2019).

Acara yang digelar oleh Dewan Pengurus Daerah (DPD) Hidayatullah Bulukumba yang sekaligus sebagai rangkaian pembukaan Rapat Kerja Daerah Hidayatullah IV Bulukumba yang berlangsung di Kampus Ponpes Hidayatullah Bulukumba, Dusun Batua Desa Garanta  Kecamatan Ujung Loe, Kabupaten Bulukumba.

Ketua DPW Hidayatullah Sulawesi Selatan, Drs. Mardhatillah, dalam sambutannya menyampaikan bahwa Rapat Kerja Hidayatullah Sulsel sengaja kita adakan serentak. Dan kami akan usahakan di bulan Januari ini harus selesai, ujarnya.

“Kemudian ini adalah rapat kerja daerah yang ke 8  yang kami hadiri dan kami menggabung  dua kabupaten yakni Sinjai dan Selayar,” kata pria tambun ini.

Dikatakan dia, Hidayatullah adalah salah satu ormas, disamping Muhammadiyah, NU, dan ormas yang resmi di Indonesia. Tetapi kelebihannya Hidayatullah ini menurut  Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla setelah kemarin membuka rapat Kerja Nasional Hidayatullah Balikpapan, Hidayatullah ini memang ormas yang masih muda umurnya, tetapi perubahan dan percepatan sangat luar biasa, ucap Mardhatillah.

Sementara itu, Tasmin Latif dalam tausiyahnya mengatakan, semua diantara kita akan mempertanggungjawabkan perbuatan yang kita lakukan di hadapan Allah. Oleh karena itu, Islam memberikan tingkatan-tingkatan bangunan peradaban.

“Setiap diri harus mampu membangun pribadinya  untuk manusia berkarakter, seorang manusia harus mampu membangun keluarganya menjadi keluarga baik, membangun tingkatan masyarakat sekitarnya, membangun sebuah bangsa, dan berdirinya peradaban Islam dalam lingkup yang luas,” ujar Tasmin Latif yang juga bakal calon anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) dari Sulawesi Selatan (Sulsel) nomor urut 32.

Acara Rakerda Hidayatullah Bulukumba ini mengangkat  tema “Menguatkan Mainstream Dakwah dan Tarbiyah dalam Membangun Bulukumba Bermartabat,’’. Hidayatullah berkomitmen untuk terus meningkatkan pelayanan dengan mengoptimalkan gerakan dakwah dan tarbiyah.

Saat tabligh akbar dan pembukaan acara usai, dilanjutkan dengan prosesi peletakan batu pertama, menandai dimulainya pembangunan Masjid Khodijah oleh Hj Andi Yuniar M.Si Camat Ujung Loe.

Acara ini turut dihadiri Polsek Ujung Loe AKP Mulyoto, Koramil Ujung Loe Amiruddin, tokoh politik, komunitas, tokoh masyarakat, tokoh agama, majelis taklim, orangtua santri serta santri Hidayatullah Bulukumba.*/Andi Alfian Salassa

Akhlak dan Musibah

JIKA mencermati umumnya yang beredar di media massa, termasuk penjelasan para pakar tentang apa yang belakangan sering menimpa bangsa Indonesia, yakni musibah berupa tsunami, gempa bumi, dan erupsi, maka pada umumnya kita temukan semua itu terjadi karena gejala alam. Sama sekali bisa dipahami bahwa bencana-bencana yang terjadi tidak berhubungan dengan kehidupan manusia itu sendiri terutama secara akhlak, juga bisa dimengerti bahwa bencana itu tidak berhubungan dengan keyakinan kita kepada Tuhan yang Maha Kuasa.
Fenomena atau gejala sebagian dari alam yang menjadi sebab utama dari terjadinya bencana, seperti erupsi, gempa bumi, kerap kali menjadi bahasan utama sehingga kita lupa untuk bertanya bahwa siapa yang sesungguhnya menjadikan sebab utama itu bergerak sehingga menimbulkan satu bencana bagi kehidupan umat manusia. Padahal dengan pemahaman umum kita bisa mengerti bahwa makhluk berupa gunung, air laut, bahkan magma di dalam perut gunung, bukanlah ciptaan Tuhan  yang memiliki kehendak bebas seperti manusia.
Dan, ketika pemahaman ini coba disampaikan secara kritis pada teori ilmu pengetahuan maka sampai hari ini pun belum ada pemahaman yang secara empiris sekaligus teologis (integral) yang dapat menjelaskan mengapa gunung erupsi, mengapa bumi mengalami gempa, dan mengapa air laut mengikuti gelombang angin sehingga memporak-porandakan kehidupan manusia di daratan yang kita kenal dengan istilah tsunami. Dalam rangka apakah itu semua terjadi bagi kehidupan umat manusia?
Absennya kita menganalisa dan berupaya secara sungguh-sungguh untuk menemukan siapa di balik semua itu menjadikan banyak manusia hanya berpikir tentang bagaimana menghadapi bencana yang terjadi. Tanpa pernah mau memahami mengapa bencana itu terjadi. Pada akhirnya diskusi di beragam acara media masa selalu berbicara tentang sisi-sisi bagaimana manusia mampu mendeteksi secara dini kemudian menyelamatkan diri dan tidak banyak korban yang jatuh. Tetapi lupa untuk memahami mengapa musibah terjadi dan bagaimana semestinya kita hidup damai, lebih cermat lagi penuh akhlak (adab) dengan alam.
“Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa (seseorang) kecuali denga izin Allâh; barang siapa yang beriman kepada Allâh, niscaya Dia akan memberi petunjuk ke (dalam) hatinya. Dan Allâh Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS: At-Taghâbun [64]: 11).
Dengan kata lain musibah yang terjadi mesti juga melibatkan pandangan teologis di dalam memahami agar kesimpulan yang diputuskan pada akhirnya tidak bersifat parsial, cenderung menyalahkan satu sama lain, dan juga tidak merubah mindset, bahkan lebih jauh juga tidak menjadikan akhlak kita lebih baik. Sebab alam tidak mungkin bergerak sendiri, melainkan atas perintah atau izin Allah Ta’ala.
Pertanyaannya, apakah Tuhan tidak Maha Pengasih lagi kala musibah diizinkan menimpa kehidupan manusia? Justru karena Allah Maha Pengasih, musibah itu ditimpakan. Sebab goal dari musibah yang melanda adalah agar manusia bertaubat, kembali menata diri sebagai hamba Allah yang tunduk dan taat. Pada saat yang sama manusia mesti memahami bahwa musibah ada korelasinya dengan perilaku kehidupan manusia itu sendiri.
“Dan tidaklah suatu musibah itu terjadi, melainkan akibat perbuatan manusia itu sendiri. “ (QS. An Nisa [4] : 79). Kemudian, “Maka apa saja musibah dan bencana yang menimpa kamu itu semua merupakan perbuatan kamu sendiri, dan Allah telah memaafkan sebagian besar dari kesalahan kamu. “ (QS al Syura [26] : 30 ).
Dengan demikian musibah memiliki korelasi yang sangat kuat dengan perilaku hidup umat manusia. Sebab musibah dalam kacamata teologis ini merupakan buah dari perbuatan tangan manusia itu sendiri. Dalam bencana yang berbentuk banjir, tanah longsor, kita dapati satu kesimpulan yang jelas bahwa semua itu terjadi memang ulah tangan manusia itu sendiri, yang karena keserakahannya menggunduli hutan, yang karena ketamakan nya mengabaikan ekosistem kehidupan, sehingga lambat laun perilaku alam ini menjadi tidak tertangani karena perbuatan manusia itu sendiri.
Akan tetapi ada sebagian kelompok yang memandang bahwa jika memang musibah berkorelasi kuat dengan perilaku manusia maka mengapa negara lain atau penduduk di bumi lain tidak mendapatkan musibah, padahal mereka tidak beriman atau bahkan menentang ayat-ayat Allah.
Terhadap asumsi ini Allah telah memberikan penjelasan bahwa pada dasarnya musibah juga merupakan kasih sayang Allah dan tidak diberikan melainkan kepada orang-orang yang masih Allah sayangi.
Lihatlah fakta bagaimana hampir di dalam setiap musibah yang terjadi di Indonesia apa yang menjadi tempat di mana manusia mendapatkan pertolongan Allah, seperti masjid dan musholla, selalu tidak tersentuh oleh ganasnya gelombang yang menyapu apapun yang dibangun oleh manusia.
Padahal dalam pandangan manusia amatlah sulit memahami bagaimana mungkin di dalam situasi yang sedemikian mencekam dan menghancurkan masih ada bangunan-bangunan yang tersisa bahkan utuh seperti tidak tersentuh. Semua ini tentu menjadi bahan renungan sekaligus pemikiran bagaimana semua itu bisa terjadi. Dengan kata lain musibah juga kasih sayang-Nya. Terbukti bangunan di mana Allah limpahkan berkah dan rahmat tetap berdiri tegak.
Sedangkan terhadap mereka yang sudah jelas memusuhi ayat-ayat Allah maka Allah berikan kesempatan di dunia ini untuk mereka bebas melakukan apapun tanpa hukuman secara langsung di dunia ini.
“Dan orang yang mendustakan ayat-ayat Kami maka kami akan biarkan mereka ( istidraj ) dalam pendustaan tersebut sehingga suatu saat Kami akan beri balasan atas perbuatan mereka itu  tanpa mereka sadar atas kesalahan mereka tersebut. “ (QS. al A’raf [7] : ).
Oleh karena itu sebagai kaum muslimin penting bagi kita mengedepankan pandangan teologis di samping pandangan saintis, di dalam melihat fenomena alam termasuk musibah. Sebab di dalam Islam hal buruk pun bertabur hikmah.
Hikmah pertama adalah melakukan evaluasi secara massal mengenai perilaku atau perbuatan kita sendiri terhadap sesama bahkan terhadap alam itu sendiri. Apakah kita beradab kepada alam atau sebaliknya. Apakah kita jujur kepada alam atau sebaliknya. Apakah kita cinta kepada alam atau sebaliknya.
Hikmah kedua kita patut berharap bahwa dengan hadirnya musibah ini Allah berikan kebaikan kebaikan di masa mendatang. “Tidak ada musibah yang menimpa umat Islam hingga sekecil duri menusuknya, melainkan Allah Azza wa Jalla akan menghapus dosa-dosanya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hikmah ketiga, mari jalani kehidupan ini dengan sewajarnya, mengedepankan akal sehat daripada keserakahan. Mengutamakan maslahat daripada ambisi kekayaan, sehingga apapun kebijakan yang diambil pada akhirnya benar-benar dapat kita pertanggungjawabkan.*

_____
IMAM NAWAWI, penulis adalah santri dan alumni Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya

KH Nashirul Haq Tekankan Tiga Fokus Pendidikan Hidayatullah

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah KH Dr Nashirul Haq, menyebutkan ada tiga fokus utama proses pendidikan dan pengkaderan di Hidayatullah, yaitu pembangunan karakter, pengayaan kompetensi dan penguatan literasi.

Hal itu disampaikan beliau saat memberi kuliah umum di hadapan mahasiswa STIS Hidayatullah Balikpapan, malam di Ruang Utama Masjid Ar-Riyadh Gunung Tembak, Balikpapan, Kaltim, baru baru ini.

“Karakter yang kita bangun dari pendidikan adalah tarbiyah akhlak yang baik, aqidah yang lurus, semangat beribadah, etos kerja dan ketaatan yang kuat. Karakter ini sudah ada pada pendiri Hidayatullah, maka lewat pendidikan diharapkan seluruh santri Hidayatullah juga memiliki ruh dari karakter kebaikan ini,” kata Nashirul Haq.

Tentang kompetensi, menurut Nashirul Haq, Hidayatullah sudah memiliki sistem yang dikenal dengan fase Pra Wahyu dalam metode tarbiyah dan dakwah Sistematika Wahyu. Fase Pra Wahyu adalah lima jenjang tarbiyah yang dilewati Muhammad shallallahu alaihi wasallam sebelum diangkat menjadi Nabi dan Rasul.

“Fase keyatiman, mengembala kambing, berdagang, berkhadijah dan bergua hira harus selalu disegar-segarkan dan dipraktikkan dalam pendidikan dan pengaderan kita, meski masih dalam praktik yang sangat sederhana,” ujarnya.

Selanjutnya, Ketua DPP Hidayatullah yang juga Dosen STIS Hidayatullah ini memberi beberapa contoh aplikasi fase Pra Wahyu di zaman ini.

Menurutnya, dalam berasrama ada nilai keyatiman untuk hidup mandiri dan bergantung hanya pada Allah, dari kerja bakti kita dapat nilai kesabaran dan semangat mengembala, menjadi Mujahid Ramadhan kita dapat nilai kejujuran dalam berdagang, lalu akan tiba masa pernikahan mubarak lalu masa bersiap untuk terjun ke medan dakwah.

“Kompetensi ini sangat penting di zaman yang tidak begitu penting lagi pertanyaan ‘mau jadi apa kamu?’, tapi pertanyaan mendasar saat ini adalah ‘apa keahlianmu dan apa yang mau kamu buat?’. Maka pendidikan kita harus hadir menjawab tantangan zaman ini,” tegas anggota Wantim MUI Pusat ini.

Di akhir materi, Nashirul Haq mengajak seluruh sivitas akademika STIS Hidayatullah untuk memperkuat sisi literasi di lingkungan kampus dengan banyak membaca dan menulis, khususnya bacaan dan tulisan yang berkaitan dengan takhassus Hukum Keluarga dan Hukum Ekonomi Syariah.

“Alhamdulillah, Antum sudah berada di era yang waktu untuk membaca lebih banyak dari waktu untuk kerja bakti, perpustakaan juga sudah ada. Maka diharapkan setelah lulus dari Gunung Tembak ini, Antum sudah menguasai banyak literasi, khususnya yang berkaitan dengan takhassus STIS Hidayatullah. Padukan antara minat baca dan daya baca,” pungkasnya.*/Muhammad Dinul Haq

SD Hidayatullah Menggala Ikut Olimpiade Nasional HIMSO

0

TULANGBAWANG (Hidayatullah.or.id) — Murid Sekolah Dasar (SD) Integeral Hidayatullah, Menggala, Kabupaten Tulangbawang mengikuti seleksi Olimpiade Sains: Matematika dan IPA Tingkat Nasional Tahun 2019, Rayon Lampung.

Kepala SD Hidayatullah Menggala Ahmad Syarif mengatakan ajang tersebut berlangsung di Pesantren Hidayatullah Surabaya, Jawa Timur pada 9 Maret mendatang yang merupakan rangkaian helatan Hidayatullah Mathematics and Science Olympiad (HIMSO) III Tahun 2019.

“Untuk persiapan mengikuti ajang ini kita lakukan satu bulan melalui seleksi ketat yang diikuti 148 siswa SD Hidayatullah se- Provinsi Lampung,” kata Ahmad Syarif yang Ketua Panitia Rayon Lampung ajang olimpiade tersebut.

Peserta seleksi itu antara lain berasal dari: SD Integral Hidayatullah Menggala, Madrasah Integral Integral Hidayatullah Menggala, Mts AL Izzah Hidayatullah Menggala, SMP Cendekia Unit 2, MIN Tulangbawang, SD Islam Azzahra Bandarlampung. Kemudain ada MTsN 2 Bandarlampung, SD Muhammadiyah Metro pusat, dan SD-SMP Hidayatullah Lampung Tengah.

Menurut dia, hasil seleksi babak penyisiah tersebut akan diumumkan pada 16 Februari 2019 melalui internet (facebook) Himso Surabaya.

“Seluruh peserta babak seleksi penyisihan ini akan mendapatkan sertifikat. Semifinal dan final akan dilaksanakan di Surabaya Jawa Timur, dengan memperebutkan total hadiah Rp100 juta dan peserta terbaik akan dikirim ke ajang free olimpiade di Singapura,” terangnya.

Dia berharap, perwakilan Lampung dari SD Integral Hidayatullah Menggala bisa lolos ke babak semifinal dan final di Surabaya. (hio/ybh)

Satgas Pamtas Yonif PR 328 Kostrad Dukung Jambore II Pandu Hidayatullah Papua

JAYAPURA (Hidayatullah.or.id) — Kegiatan Jambore II Hidayatullah wilayah Papua dan Papua Barat digelar sejak tanggal 11 sampai dengan 14 Januari 2019 di Distrik Muara Tami, Jayapura. Kegiatan ini diikuti oleh perwakilan santri Hidayatullah se-Papua dan Papua Barat.

Kegiatan edukatif tersebut turut diisi oleh bapak-bapak TNI yang ramah dan penuh wibawa yang merupakan prajurit Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan (Satgas Pamtas) Batalyon Infanteri (Yonif) Para Raider 328.

Kegiatan yang berlangsung selama 4 hari ini diisi dengan kegiatan-kegiatan seperti Peraturan Baris-berbaris (PBB), kegiatan keagamaan dan ceramah, melatih kekompakkan dan kerja sama serta perlombaan-perlombaan antara kontingen.

Personel Satgas dari Pos Ramil Muara Tami yang dipimpin oleh Lettu Inf Rahmanto Adhy, ikut terlibat melatih kedisipilinan para siswa-siswi dengan melatih PBB dan Pramuka.

“Kami diminta oleh pengurus pesantren untuk mengisi salah satu kegiatan materi kedisiplinan dan baris berbaris. Kami sangat mendukung kegiatan ini selain bermanfaat juga menumbuhkan kedisiplinan bagi murid-murid usia dini,” ujar Lettu Inf Rahmanto.

Personel Satgas juga menjadi juri dalam perlombaan yang digelar oleh Pesantren Hidayatullah ini sehingga para peserta Jambore II terlihat sangat antusias dan bersemangat dalam berlomba mengingat masing-masing peserta membawa nama daerah wilayah Papua dan Papua Barat.

Sementara itu Ketua Pusat Pandu Hidayatullah, Syarif Daryono, yang tutut membersamai dalam kegiatan tersebut, mengatakan dengan penanaman nilai-nilai kedisiplinan dan penyuluhan wawasan kebangsaan yang disampaikan oleh Satgas Pamtas Yonif 328 diharapkan semakin menumbuhkan jiwa patriot para anak generasi bangsa tersebut.

Ia menyampaikan terima kasih sebesarnya kepada semua pihak yang telah turut mensukseskan acara tersebut yang telah terselenggara dengan lancar. Ia berharap kegiatan tersebut kelak melahirkan santri yang sukses dunia akhirat serta bermanfaat untuk agama dan bangsanya. (ybh/hio)

Empat Ulama Uyghur Silaturahim dengan DPP Hidayatullah

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah pada Senin malam (14/1/2019) mengundang empat ulama Uyghur untuk mendengarkan kesaksian mereka tentang kondisi kaum Muslim yang berada di wilayah Turkistan Timur. Dua di antara mereka adalah Dr Ataullah Syahyar dan Dr Abdussaalam Alim.

Silaturahim penuh keakraban ini berlangsung di salah satu rumah makan di kawasan Jakarta Pusat. Hadir dalam acara santai namun serius tersebut Ketua Umum DPP Hidayatullah, Dr Nashirul Haq, anggota Dewan Pertimbangan Pimpinan Umum Hidayatullah, Ust Hamim Thohari, serta sejumlah ketua bidang dan ketua departem DPP Hidayatullah.

Dalam pertemuan itu, Abdussalam, yang juga anggota Persatuan Ulama Turkistan Timur ini menceritakan bahwa kamp konsentrasi yang dibangun pemerintah Cina untuk penduduk Muslim Uyghur benar-benar nyata. Di dalam kamp tersebut, kaum Meslim Uyghur diperlakukan tidak adil. Mereka berusaha dijauhkan dari agamanya dan dihambat ibadahnya..

Bahkan, perlakuan zalim ini tak sekadar dialami oleh mereka yang disekap di kamp konsentrasi tersebut, tetapi juga dialami kebanyakan masyarakat Uighur. Banyak di antara mereka yang ditangkap tanpa sebab yang jelas, dipisahkan dari keluarga mereka, dan dipersulit menjalankan ibadah dan menerapkan syariat Islam.

Akibat perlakuan ini, sebagian dari penduduk Muslim Uyghur terpaksa hijrah ke luar Uyghur, termasuk ke Turki. Dr Ataullah Syahrar termasuk mereka yang hijrah ke Turki, sedang Abdussalam saat ini menjadi dosen di Adelaide Australia.

Dalam kesempatan itu Nashirul Haq menyampaikan rasa keprihatinan mendalam atas apa yang dialami saudara-saudara Muslim di Uyghur. Nashirul berharap Allah Ta’ala memberikan kesabaran yang tinggi kepada mereka dan berdoa semoga masyarakat Muslim Uyghur segera keluar dari kesulitan ini.

Ikut hadir dalam silaturahim tersebut sejarawan muda dari Pesatuan Islam (Persis) Dr Tiar Anwar Bachtiar, serta sejumlah wartawan dari Jurnalis Islam Bersatu (JITU). (Mahladi/Hidayatullah.com)

Pondok Tahfidz Hidayatullah Jaktim Buka Pendaftaran

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) – Yayasan Marhamah Pondok Tahfidz Pesantren Hidayatullah Jakarta Timur membuka pendaftaran penerimaan calon santri untuk tahun pelajaran 2019/2020. Guna menjaga kualitas dan mutu penyelenggaraan pendidikan juga karena keterbatasan ruang, saat ini kuota terbatas hanya untuk 36 santri dan gratis bagi anak yatim piatu.

Berikut ini brosur selengkapnya: