Beranda blog Halaman 526

Silaturahim KH Nashirul dengan Kader Hidayatullah Papua

0

TIMIKA (Hidayatullah.r.id) – Ketua Umum DPP Hidayatullah KH Nashirul Haq bersilaturrahim dengan sejumlah pengurus daerah Hidayatullah Provinsi Papua sehari setelah acara pernikahan massal mubarak dai/daiyah yang diselenggarakan di Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Timika, Papua, Ahad (15/7/2018).

Dalam silaturrahim terbatas tersebut beliau didapuk memberikan pencerahan di hadapan pengurus serta kader Marhalah Wusta Hidayatullah Papua.

Pada kesempatan tersebut turut hadir Ketua Bidang Tarbiyah DPP Hidayatullah Ust Muhammad Tasmin Latif (Tasyrif), anggota Dewan Mudzakarah Hidayatullah Drs H Nursyamsa Hadits, Ketua DPW Hidayatullah Papua Muallimin Amin serta sejumlah pengurus PD dan PR Hidayatullah Papua.

Pernikahan Massal Hidayatullah Pertama Kali di Timika Papua

TIMIKA (Hidayatullah.or.id) – Untuk pertama kalinya di Kabupaten Mimika, Provinsi Papua, digelar pernikahan massal mubarakah terhadap 10 pasang dai dan daiyah Pondok Pesantren Hidayatullah.

Kesepuluh dai dan daiyah tersebut dinayatakn sah menjadi pasangan suami istri setekah mengikuti proses ijab qabul (akad nikah) yang dibimbing oleh oleh hakim dari Kantor Urusan Agama (KUA), Distrik Mimika Timur serta wali dan keluarga.

Acara sakral yang berlangsung penuh khidmat ini berlangsung di Masjid Jami’ Hidayatullah di Kampus Utama Ponpes Hidayatullah Timika, Kilometer Sembilan, Sabtu (14/7/2018).

Ketua panitia, Abdul Syakir, mengatakan pernikahan massal yang pertama kalinya di Timika ini dilaksanakan dengan keterlibatan banyak pihak. Dukungan yang paling besar adalah dari para wali mempelai yang memberikan kemudahan dalam proses perjodohan.

“Yang paling terasa adalah dukungan para wali mempelai yang memberi kemudahan dalam proses perjodohan dan waimah putra putri mereka,” jelas Syakir.

Selain dukuang dari orangtua dan wali para mempelai, acara yang suskes digelar ini juga tidak terlepas dari dukungan Ketua Majelis Ulama Indnesia (MUI) Mimika, Ustadz Muhammad Amin, AR, SAg. dan Ketua Badan Kontak Majelis Taklm (BKMT) Daerah Hj Nuryati serta ketua ketua BKMT tingkat distrik.

Pihaknya, sebut Syakir, dapat menjalankan acara ini atas bantuan pihak KUA Distrik Mimika Timur yang telah mempermudah proses administrasi 10 pasang pengantin.

“Kami keluarga besar Pondok Pesantren Hidayatullah Timika mengucapkan Jazaakumullaahu khairan katsiiron,” ungkapnya.

Sementara dalam khutbah nikah, Ketua Umum DPP Hidayatullah KH Nashirul Haq yang menyempatkan hadir di acara tersebut, mengatakan pernikahan massal mubarokah yang digelar saat ini sudah tidak dipandang tabu lagi oleh masyarakat.

“Kenapa disebut pernikahan mubarakah atau yang diberkahi, karena prosesnya mulai dari pelamaran sampai pada walimatul usrsy-nya, kita mengikuti apa yang menjadi tuntunan dan sunnah sunnah Nabi Muhammad SAW,” jelasnya.

Pernikahan ini disebut Nashirul, tidak didahului dengan pacaran apalagi “kecelakaan|”. Untuk itulah, dari pernikahan ini diharapkan berkah dari Allah SWT selalu tercurahkan.

Menurut catatan Manshur Salbu, penulis buku sejarah Hidayatullah berjudul “Mencetak Kader”, disebutkan bahwa pernikahan massal Hidayatullah digelar kali pertama pada 6 Maret 1977 yang diikuti oleh 2 pasang santri yaitu Abdul Qadir Jailani dengan Nurhayati dan Sarbini Nasir dengan Salmiyah.

Setelah yang pertama, tradisi pernikahan mubarak ini terus berlanjut mulai dari 4 hingga puluhan pasang. Pada tahun 1991 terdapat 47 pasang yang dihadiri oleh Menteri Perhubungan H Azwar Anas.

Selanjutnya, tahun 1994, digelar pernikahan mubarak sebanyak 61 pasang yang dihadiri oleh Guru Bangsa, B.J. Habibie dan sejumlah tokoh nasional lainnya masa itu.

Lambat laun, helatan ini terus digalakkan. Bahkan pada tahun 1997, Hidayatullah menggelar pernikahan serupa dengan peserta yang cukup prestisius yakni sebanyak 100 pasang santri yang dihadiri oleh tokoh nasional dan lokal Kalimantan Timur termasuk mantan Walikota Balikpapan Asnawir Arbain yang juga dikenal sebagai sesepuh Hidayatullah.

Tradisi pernikahan massal di Hidayatullah rutin digelar di berbagai kampus-kampus Pondok Pesantren Hidayatullah di Indonesia mulai dari Sabang hingga Merauke. Tradisi ini terus terjaga hingga kini. (ybh/hio)
.

Berjibaku Lumpur Membina Muallaf Eksodus Timor Timur

0

TOBADAK (Hidayatullah.or.id) – Hidayatullah bersama Laznas BMH dengan program dakwah dan pendidikan berupaya menjangkau masyarakat yang berada di pelosok dan pedalaman. Di antaranya dengan melakukan pembinaan masyarakat eksodus Timor Timur di Desa Sejati, Kecamatan Tobadak, Sulawesi Barat, yang terdiri dari 512 KK. Dimana, 320 KK di antaranya adalah muallaf eksodus Timor Timur.

“Tantangannya tidak ringan untuk membina mereka, tetapi kebahagiaannya juga tak tergambarkan dengan kata-kata, terutama ketika melihat masyarakat kini semakin baik religiusitasnya,” terang Kepala BMH Perwakilan Sulawesi Barat, Syamsuddin.

“Di tempat ini, semangat ber-Islam tumbuh sangat mengesankan. Ibu-ibu di senja usianya, tidak kehilangan semangat untuk memahami agama yang baru diyakininya dalam setahun terakhir ini. Tidak kurang dari 60 orang, setiap sekali dalam sepekan memenuhi musholla dan belajar Iqra’ bersama,” imbuh Syamsuddin.

Mereka sadar, ia mesti mengejar ketertinggalannya membaca Al Qur’an. Meski mereka juga sadar, belajar di usia tua bukan hal yang mudah.

Dai Tangguh Laznas BMH di lokasi Ustadz Muhajir menegaskan bahwa semua itu adalah karena niat yang benar, niat karena Allah. “Tidak ada ikhtiar kebaikan yang sia-sia, ketika itu diniatkan untuk Allah,” tegasnya.

Ustadz Muhajir adalah dai tangguh yang secara rutin berkunjung dan melakukan pembinaan bagi keluarga muallaf di desa Sejati.

Untuk sampai ke desa binaannya ini, ia berangkat dari rumahnya di Desa Taranggi (Kabupaten Pasangkayu), melewati jarak berpuluh kilometer, bergulat dengan kubangan lumpur yang mengantarai daerah Tobadak 2 dan Tobadak 8.

Ia mesti hadir, sehari sebelum majelis taklim warga dilaksanakan. Ia mesti berbekal beberapa pakaian ganti dan sepatu boot. Di samping melelahkan, pakaian yang dipakai tak pernah selamat dari percikan lumpur sepanjang jalan.

Saat Laznas BMH Perwakilan Sulawesi Barat bersama TVRI menuju lokasi untuk kebutuhan liputan, crew dari TVRI bertanya, “Mengapa memilih berdakwah di tempat terisolir seperti ini?”

“Di tempat ini, saya merasa bisa bermanfaat,” tukas Ustadz Muhajir.

“Di kota-kota besar, kita tidak kekurangan dai. Biarlah saya mengisi kekurangan dai di daerah seperti ini,” tambahnya.

Dalam kesempatan tersebut disalurkan 30 Al-Qur’an sebagai sarana penunjang belajar Al-Qur’an warga (7/7).

“Insya Allah Desa Sejati ini akan menjadi sasaran distribusi Qurban 1439 H dan mohon doa restu sekarang sedang diupayakan pembangunan Rumah Qur’an di tempat ini,” pungkas Syamsuddin.*/Elen

Silatwil VII Hidayatullah Jateng Teguhkan Jatidiri Hidayatullah

0

KUDUS (Hidayatullah.or.id) – Anggota DPPU Hidayatullah KH. Abdul Rahman mengingatkan pentingnya menguatkan jatidiri Hidayatullah, menegaskan pentingnya silaturahim serta mendorong penguatan program maintream dakwah dan tarbiyah ke semua amal usaha Hidayatullah.

Pembina Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya ini juga menegaskan pentingnya umat Islam melek politik demi tegaknya peradaban Islam. Serta pesan mengenai point point kepemimpinan dalam Islam.

“”Setelah bersyahadat dengan benar, umat Islam dihantar dengan Al Fatihah untuk berpolitik. Dengan pedomam bahwa kedaulatan tunggal hanyalah milik Allah, manusia hanya sebagai khalifatullah,” katanya ketika menyampaikan taushiah dalam acara Silaturahim Wilayah Hidayatullah (Silatwil) Jateng ke-VII di Kampus Hidayatullah Kudus, Kamis (12/7/2018).

Oleh karena itu, lanjut KH Abdul Rahman, pengatur tunggal hanyalah Allah. Semua pemimpin harus tunduk dan patuh kepada Allah.

Dia menambahkan, jatidiri Hidayatullah harus senantiasa diteguhkan sehingga ia tak sekadar pengetahuan tetapi terinternalisasi dalam karakter hidup setiap kader.

Keenam jatidiri Hidayatullah tersebut adalah: 1. Sistematika Wahyu (SW) Hidayatullah sebagai manhaj tarbiyah dan dakwah, 2. Ahlus Sunnah wal Jamaah, 3. Alharakah Al Jihadiyah Al Islamiyah, 4. Imamah dan Jamaah, 5. 5. Jama’atun minal muslimin dan 6. Wasathiyah.

Acara yang berlangsung 2 hari dengan mengusung tema “Membangun Peradaban Islam Melalui Generasi Qur’ani” ini turut hadiri Bupati Terpilih Kabupaten Kudus 2018-2023 Muhammad Tamzil.

Dalam sambutanya Bupati terpilih ini mengucapkan terimakasih atas kontribusi Hidayatullah sebagai lembaga swasta dalam pendidikan dan program keumatan lainya.

Pada kesempatan itu, bakal Bupati Kudus ini kembali mengemukakan beberapa programnya yang telah disosialisasikan di masa kampanye. Diantara program bupati nanti adalah memberi gaji para guru ngaji, imam masjid dan guru swasta Sebesar 1 juta per bulan.

Acara yang dihadiri sedikitnya 500 jamaah baik dari unsur pengurus, kader dan simpatisan serta tokoh masyarakat ini juga dirangkai dengan seremoni acara pembagian hadiah Olimpiade MIPA DPW Hidayatullah Jawa Tengah, penandatanganan MOU sinergi program antara Departemen Ekonomi DPW Hidayatullah Jateng dengan YBM PLN Persero serta penyerahan apresiasi dai tangguh berupa sepeda motor dari Laznas BMH.

Ketua Panitia Saiful Anwar, SE., ME, mengatakan tujuan acara ini dalam rangka mengeratkan silaturahim antar pengurus, kader dan simpatisan Hidayatullah Jawa Tengah.

Saiful Anwar dalam pungkasan sambutannya mengatakan berbahagia mendapat kepercayaan menjadi tuan rumah.

“Semoga dapat memfasilitasi yang terbaik. Selamat berjuang sahabat dan kawan seperjuangan Hidayatullah dimanapun,” kata Anwar yang juga founder BMT Amanah Kudus ini. (ybh/hio)

Indahnya Persatuan dan Tercelanya Perpecahan

0

DALAM Pertemuan Ulama dan Dai Asia Tenggara, Afrika dan Eropa ke-V (3-6 Juli 2018), ada satu buku menarik yang dibagikan secara gratis untuk setiap peserta.

Judul buku itu: “Risâlah fî al-Hatstsi ‘ala Jam’i Kalimah al-Muslimîn wa Dzammu al-Tafarruq wa al-Ikhtilâf” karya Syeikh Abdurrahman bin Nashir bin Sa’di. Yang memiliki subtansi pesan penting terkait indahnya persatuan dan tercelanya perpecahan dan perbedaan (yang merenggut persatuan).

Risalah kecil ini sesuai dengan judul besar Pertemuan Tahunan antar ulama dan dai ini yang mengangkat tema “Wa’tashimû” yang mengandung pesan perintah untuk berpegang teguh pada “tali Allah” dan larangan berpecah belah antar sesama umat Islam. Ini terinspirasi dari Surah Ali Imran [3], ayat 103. Sebuah judul brilian di tengah kondisi umat yang rawan terpecah belah di tengah perbedaan yang acap kali merenggut persatuan.

Poin-poin besar yang dibahas dalam buku ini adalah: Pertama, berpegang teguh pada tali Allah adalah termasuk pesan besar yang diperintahkan Allah. Kedua, nasihat persatuan dan peringatan atas bahaya perpecahan untuk orang Islam.

Ketiga, contoh konkret nabi dalam sirah nabawiyah terkait hal ini. Keempat, bahaya perpecahan. Kelima, faedah persatuan umat Islam serta usaha untuk mewujudkannya. Keenam, tak menjadikan perpecahan dalam masalah keagamaan sebagai pemicu perpecahan.

Perintah berpegang teguh dan persatuan ini tercermin di antaranya dalam Surah Ali Imran [3], ayat 103 dan 104. Setelah Allah memerintahkan orang-orang beriman untuk bertakwa dan mati dalam keadaan Islam, pesan yang disampaikan berikutnya adalah berpegang teguh kepada Allah dan larangan perpecahan. Nabi pun dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim, melarang dengan keras perpecahan ini;

قال رسول الله صلى الله عليه و سلم – لا تحاسدوا ، و لا تناجشوا ، و لا تباغضوا و لا تدابروا ، و لا يبع بعضكم على بيع بعض ، و كونوا عباد الله إخوانا ، السلم أخو المسلم لا يظلمه و لا يخذله ، و لا يكذبه و لا يحقره ، التقوى ها هنا – و يشير إلى صدره ثلاث مرات – بحسب امرئ من الشر أن يحقر أخاه المسلم كل المسلم على المسلم حرام دمه و ماله و عرضه – رواه مسلم

Rasulullah bersabda,

“Janganlah kamu saling dengki mendengki, tipu menipu, benci membenci, belakang membelakangi antara satu sama lain. Janganlah sebahagian kamu menjual barangan atas jualan orang lain. Hendaklah kamu menjadi hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim adalah saudara bagi seorang muslim; dia tidak boleh menzaliminya, membiarkannya (dalam kehinaan), membohonginya.” [HR: Muslim]

Sehubungan dengan itu, maka pesan dan nasihat paling besar yang ditujukan pada umat Islam adalah selalu berusaha sekuat tenaga untuk menyatukan hati umat, berkumpul dengan mereka dan menanggulangi perpecahan umat.

Dalam hadits shahih riwayat Bukhari, pesan nabi kepada kaum Anshar penting untuk dicermati, “Wahai sekalian kaum Anshar! Bukankan aku dapati kalian dalam keadaan sesat lalu Allah berikan kalian hidayah dengan sebab aku? Dahulu kalian berpecah belah lalu Allah menyatukan hati kalian dengan sebab aku ?” Pesan ini disampaikan pasca Perang Hunain, yang hampir menyulut perpecahan akibat pembagian harta rampasan perang. Di sini, terlihat jelas betapa besarnya nikmat persatuan.

Pesan itu juga bisa terlihat jelas berdasarkan kacamata sejarah, bahwa nabi begitu menekankan persatuan ini. Ketika sebagian sahabat ada yang menyarankan beliau untuk membunuh orang-orang munafik, pesan penting yang disampaikan adalah, “Jangan sampai orang-orang berbicara bahwa Muhammad telah membunuh sahabatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim) Ini menunjukkan betapa nabi sangat menjaga umat dari perpecahan.

Di samping itu, tidak membuat orang yang belum masuk Islam takut masuk ke dalamnya.

Kemudian, persatuan umat Islam mengandung manfaat yang sangat besar, di antaranya: menyatukan kekuatan agama Islam sehingga mereka mendapat kemuliaan dan amanah kekuasaan untuk mengatur dunia. Selain itu, islam dan iman akan semakin bertambah. Yang tak kalah penting, usaha untuk mewujudkannya adalah bagian dari ketaatan yang paling besar.

Dalam hadits riwayat Tirmidzi, Abu Dawud dan Ahmad nabi menjelaskan bahwa yang lebih besar dari derajat puasa, shalat malam dan sedekah adalah mendamaikan orang yang berselisih karena itu bisa menghancurkan agama.

Dengan demikian, usaha untuk menyatukan umat dan memperingatkan mereka dari hal-hal yang bisa menimbulkan perpecahan harus senantiasa diusahakan karena ini sesuai dengan perintah Allah dan Rasul-Nya. Wujudnya dengan suka memaafkan, memiliki hati yang lapang dan bersih, tidak membalas kejelakan orang dengan kejelekan dan lain sebagainya.

Nabi sendiri suka memaafkan, bahkan kepada orang non-Islam sekalipun. Ketika beliau dilempari batu oleh penduduk Thaif, lalu malaikat menawarkan untuk menghancurkan mereka, nabi malah berdoa;

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِقَومي، فَإِنَّهُمْ لا يَعْلَمُوْنَ

“Ya Allah ampunilah kaumku, sesungguhnya mereka tidak tahu.” (HR. Bukhari)

Yang tidak kalah penting –sebagai pesan dari buku ini- adalah ketika terjadi perbedaan dalam masalah agama yang masuk dalam ranah ijtihad, maka jangan sampai menimbulkan perpecahan.

Para sahabat, tabiin dan orang-orang sesudahnya ada perbedaan dalam masalah ijtihadi, namun itu tak membuat mereka memaksa yang tak sepaham untuk mengikutinya atau bahkan menyesatkannya.

Pesan-pesan dalam buku ini sangat relevan dan penting utamanya untuk umat Islam yang rentan terpecah akibat perbedaan-perbedaan yang tak prinsipil.

Melalui risalah ini dan pertemuan ulama dan dai yang mengangkat spirit persatuan, semoga kekuatan umat bisa disatukan dan umat Islam menjadi semakin kuat dan bermartabat.*/Hidayatullah.com

Hidayatullah Malinau Peserta Diklat Kependidikan Pontren

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) – Pondok Pesantren Hidayatullah Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara, menjadi perwakilan peserta Diklat Teknis Substantif Kependidikan TIK dan Kemaritiman Guru Pondok Pesantren yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama RI berlangsung 9 hingga 19 Juli 2018 di Jakarta. Acara ini serangkai dengan Diklat Teknis Substantif Ujian Nasional Bahasa Indonesia MTs dan IPA MTs.

Direktur Pendikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kemenag RI, Ahmad Zayadi, menyebutkan saat ini jumlah pondok pesantren di Indonesia sedikitnya 28 ribu pesantren. Pada kesempatan itu beliau menyebutkan Hidayatullah dengan terobosannya telah berhasil mengembangkan jaringan pondok pesantren yang banyak tersebar di pelosok negeri bahkan sampai di perbatasan Papua New Guinea.

Dalam diklat tersebut, para peserta diberikan berbagai wawasan, pengetahuan sekaligus keterampilan melalui praktik pemanfaatan internet dalam pembelajaran di madrasah.

Materi inti yang telah diprogramkan meliputi 1) internet sebagai media dan sumber pembelajaran, 2) pembuatan media pembelajaran berbasis TIK, 3) konversi file, 4) pemanfaatan email, 5) penyimpanan online, dan 6) pemanfaatan media sosial sebagai media pembelajaran.

Dari materi-materi tersebut, selain pengetahuan-pengetahuan dasar terkait internet, para peserta juga sekaligus mempraktikkan bagaimana membuat dan memanfaatkan email, membuat bahan ajar interaktif berbasis PowerPoint.

Juga ada sharing dan bekerja kolaboratif secara riil time melalui aplikasi google dokumen, membuat formulir dan kuis online menggunakan aplikasi google formulir, membuat dan mengelola kelas virtual melalui grup facebook dan webblog. Semuanya dilakukan berbasis internet.

Aray Ramli, pengasuh yang juga guru Pondok Pesantren Hidayatullah Kabupaten Malinau yang mengikuti acara diklat tersebut mengatakan kegiatan ini memuat materi yang amat penting untuk menunjang kegiatan kependidikan kepesantrenan.

“Semoga ilmu yang kami dapatkan dari Diklat ini dapat kami terapkan dan sosialisasikan di kampus Pesantren Hidayatullah Malinau,” harapnya. (ybh/hio)

Sinergi Hidayatullah – Kemenag Gorontalo Majukan Pakis

GORONTALO (Hidayatullah.or.id) – Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Provinsi Gorontalo menjalin kemitraan strategis dengan Kantor Wilayah Kementerian Agama RI Bidang Pendidikan Agama dan Keagamaan Islam (PAKIS). Kerjasama tersebut dalam rangka bersama mengembangkan dan memajukan Pendidikan Agama dan Keagamaan Islam di kawasan tersebut.

Ketua DPW Hidayatullah Gorontalo, Abubakar Muis, mengatakan dalam 3 bulan terakhir DPW Hidayatullah Gorontalo intens melakukan konsolidasi dengan Kemenang Provinsi Bidang Pakis terkait dengan kondisi keagamaan pada lingkungan SD se-Gorontalo dimana ada sekitar 700 sekolah dasar yang tidak atau belum pernah memiliki guru agama.

“Kemenag melihat kondisi ini memprihatinkan, maka Hidayatullah menyampaikan bahwa kami punya program pengabdian para alumni sekolah Hidayatullah se-Provinsi Gorontalo,” kata Abubakar.

Merespon antuasiame Hidayatullah tersebut, Kakanwil Kemenag Provinsi Gorontalo H. Kudrat Bukalang, M.Pd, mengatakan pihaknya merespon sigap terhadap masalah yang diangkat Kabid Pakis Kemenag tersebut.

“Bahkan program ini belum ada di seluruh Kemenag di Indonesia dengan mengistilahkan “guru kunjung” atau “santri kunjung”, kata Kudrat saat menyampaikan sambutan pembukaan Bimtek Model Cepat Baca Tulis Al Qur’an Guru Madrasah Diniyah Takmiliyah” yang digelar Kemenag di Hotel Asrama Haji Provinsi Gorontalo.

Acara Bimtek ini sendiri dilaksanakan sejak tanggal 5-11 Juni 2018. Materi diantaranya kursus metode cara baca dan terjemah Tamyiz dikawinkan dengan metode Grand MBA milik Hidayatullah.
Acara ini diikuti oleh 40 orang peserta. Selesai bimtek ini mereka akan dilepas secara resmi Kanwil Kemenag ke daerah sesuai SK penugasan masing-masing.

Sementara itu, Abubakar menjelaskan, sebanyak 16 orang “santri kunjung” dari Hidayatullah akan diuji coba selama 3 bulan. Jika nanti hasil evaluasinya bagus, maka Kemenag wilayah akan membuat menindaklajuti program itu bukan hanya 3 bulan tapi program tahunan.

“Pembiayaan progran ini diayai sepenuhnya oleh Kemenag mulai pembekalan termasuk insentif selama tiga bulan bertugas,” kata Abubakar.

Abubakar menyampaikan bahwa kerja sama ini merupakan awal kemitraan untuk membina umat bersama Kemenag khususnya dalam menuntaskan buta aksara baca tulis Al Quran di masyarakat.

Abubakar berharap semoga dengan sinergi ini antar dua lembaga ini dakwah dan pengembangan pendidikan keagamaan Islam di Gorontalo dapat menyentuh seluruh penjuru kota dan desa terpencil. (ybh/hio)

Liburan di Mesir, Program 3 Bulan Menghafal Al Qur’an

0

KAIRO (Hidayatullah.or.id) – Bismillah.. Ya Allah, jadikanlah ini salah satu percepatan kaderisasi dakwah dan tarbiyah kami. Jadikanlah setiap pemuda ini bintang kebangkitan dan kemenangan ummat.

LIBURAN… NYANTRI DI MESIR

Program 3 bulan menghafal Al-Quran, bahasa Arab dll, kerjasama Departemen Pendidikan Dasar dan Menengah dan Departemen Luar Negeri DPP Hidayatullah dan Majalah Hidayatullah.

Photo Credit: Deplu DPP Hidayatullah

Membangun SDM Masyarakat Basseang Unggul dan Bertakwa

POLMAN (Hidayatullah.or.id) – Akhirnya setelah tiga belas tahun masyarakat Polewali Mandar menanti adanya pendidikan formal di Hidayatullah dusun Basseang, kini terwujud – atas dukungan masyarakat dan pemerintah serta- keinginan kuat para pengurusnya dengan terbukanya SMP Ashabul Jannah Boarding School.

Disertakan nama boarding school itu selain mencirikan dengan sekolah atau madrasah terdekat yang berjarak tidak cukup satu kilometer.

Menurut Taufik Malik, kepala sekolah sekaligus inisiator kependidikan beasrama itu, dibukanya sekolah ini bukan karena dirinya atau lembaga yang ia pimpin merasa mampu.

“Karena kami yakin saja ada pertolongan dari Allah AWT. Apalagi ini semata-mata untuk membangun sumber daya manusia generasi umat dan bangsa Indonesia yang unggul dan bertakwa,” ungkapnya yakin.

Hal senada juga disampaikan Anwar, guru dan pengasuh santri juga alumnus perguruan tinggi di Makassar. Di masa masa memulai aktifitas sekolah, ruang kelas yang digunakan untuk belajar santri pun masih seadanya.

Sebagian kelas memanfaatkan ruang masjid dan sebagian lain harus konsentrasi belajar di bangunan yang ‘disulap’ menjadi ruang kegiatan belajar mengajar.

Berangkat dari minat masyarakat memondokkan anaknya setelah melihat santri –yang diliburkan kembali ke kampungnya bisa ceramah di masjid– masjid serta berperangai baik dan berbeda jauh dibandingkan dengan sebelum masuk ke pondok.

Abdul Kadir, seorang imam masjid di Pasangkayu mempercayakan ketiga anaknya masuk ke Hidayatullah Basseang tersebut dengan obsesi anaknya menjadi seorang dai yang hafidz Qur’an.

Juga Fitrah, santri asal desa Kediri kecamatan Wono Mulyo juga dipercayakan orangtua sepenuhnya ke Hidayatullah Basseang yang dirintis sejak tahun 2005 tersebut. Sebagaimana santri-santri asal Mambi kabupaten Mamasa. Umumnya mereka adalah masyarakat dari kalangan dhuafa.

Muji ayah Fitrah pemilik warung makan di pasar Wono Mulyo mengutarakan alasannya “Kami para orangtua sangat yakin dengan pendidikan di Hidayatullah yang bisa mengondisikan anak menjadi dan tercapai target-target hafalannya”.

Bermodal semangat dan dibarengi tekat beberapa pendirinya, santri yang berjumlah 50 putra dan putri menjadi motivasi tertinggi untuk merancang pendidikan berbasis Tauhid dengan basis asrama.

Kegiatan kepanduan menjadi esktrakurikuler dalam pendidikan. Selama sepekan masa orientasi santri juga dirangkaikan dengan latihan Pandu Hidayatullah di lokasi kampus yang diwakafkan oleh almarhum Ust Yunus itu.

“Termasuk motivasi kami mendirikan sekolah berasrama adalah upaya penanggulangan anak-anak dari paparan pergaulan bebas dan cenderung negatif,” imbuh Taufik Malik yang rutin membina masyarakat pedalaman salah satunya di Toeran. Foto-foto kegiatan SMP Ashabul Jannah Boarding School Hidayatullah Basseang.

Reporter: Muhammad Bashori

Hidayatullah Karang Bugis Kembangkan Perpustakaan Digital

0

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) – Di sudut ruang rapat kantor itu terpasang sebuah banner berukuran 2 meter x 2 meter. Desainnya unik dan menarik. Terbagi menjadi 2 bagian.

Pada bagian bawah, tampak gambar lemari lengkap dengan buku dan kitab. Sedang bagian atasnya, ada petunjuk penggunaan, logo Pendidikan Integral Lukman al-Hakim serta kalimat motivasi tentang membaca serta keutamaan menuntut ilmu.

Itulah salah satu unsur penunjang perpustakaan digital yang tengah dikembangkan Lembaga Pendidikan Integral Lukman al-Hakim Pesantren Hidayatullah Karangbugis, Balikpapan.

Elfan nama perpustakaan digital ini. Secara resmi diluncurkan pada 1 Muharram 1438 H (2017) lalu.

“Dari banner itu, para pengguna bisa menemukan barcode yang berfungsi untuk mengakses puluhan, bahkan ratusan ribu buku maupun kitab,” jelas Direktur Sekolah Integral Terpadu Lukman al-Hakim Pesantren Hidayatullah Karang Bugis, Muzakkir Usman Asyari,MA. Banner juga ada di setiap ruang kepala sekolah TK, SD, dan SMP.

“Di beberapa titik SD dan SMP, juga kita pasang. Bahkan, di SD ada yang ukurannya 3 meter x 3 meter,” imbuhnya.

Ruangan Tak Terbatas. Perpustakaan digital ruangannya ‘tak terbatas’. Bisa diakses di mana saja, seluas area yang dikover oleh jaringan internet dengan server dan wifi yang disediakan di sekolah.

Menurutnya, sekolah lebih memilih mengembangkan perpus takaan digital karena lebih ekonomis dan menghemat bia ya daripada membangun per pus takaan pada umumnya, yang harus menyediakan gedung, ruang yang nyaman, dan rak buku.

“Semua itu dapat disederhanakan dengan Digital Library, tanpa mengurangi manfaat dari keberadaan perpustakaan sebagai penyedia sumber ilmu.”*/sahid