Beranda blog Halaman 552

Danrem 141/Toddopuli Bone Anjangsana ke Hidayatullah

0

BONE (Hidayatullah.or.id) – Komandan Korem (Danrem) 141/Toddopuli, Kolonel Kav Yotanabey, melakukan anjangsana silaturrahim ke Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, baru baru ini.

Selain bersua dengan pengurus dan menyaksikan aktifitas pesantre, Danrem juga sekaligus menyerahkan derma tali asih untuk pembangunan sarana ibadah masjid. Pada kesempatan tersebut Danrem 141/Tp memberikan bantuan berupa keramik.

Kunjungan Danrem tersebut dalam rangka memperingati HUT Korem 141/Tp ke-61 Tahun 2018 dengan tema “Profesionalitas dan Sinergitas Serta Kemanunggalan TNI Dengan Rakyat”.

“Ini sebagai wujud kepedulian kita terhadap masyarakat yang akan menggunakan sarana ibadah masjid tersebut,” ujar Kolonel Kav Yotanabey.

Penyerahan bantuan yang berlangsung di Pondok Pesantren Hidayatullah Jl Sungai Musi Km 5 Kelurahan Panyula Kecamatan Tanete Riattang Timur Kabupaten Bone, Kamis, 11 Januari 2018 pukul 09.30 WITA disaksikan langsung Kasiter Korem 141/Tp, Mayor Inf Awal Aluddin didampingi Kapenrem 141/Tp Mayor Inf Mansur.

Kapenrem 141/Tp Mayor Inf Mansur menambahkan dalam kegiatan ini Danrem 141/Tp memberikan bantuan sebanyak 100 dus Keramik yang diperuntukkan untuk membangun lantai aula pertemuan Hidayatullah sebagai tempat untuk pengajian dan proses belajar mengajar bagi santriwan dan santriwati.

Bantuan diterima langsung secara simbolis oleh Pimpinan Pesantren Hidayatullah Ustadz Ismail Muhtar. Turut hadir dalam kesempatan tersebut jajaran pengurus Hidayatullah Bone.

Dalam sambutannya, Ustadz Ismail mengapresiasi TNI khususnya Dandrem 141/Toddopuli yang senantiasa menjalin kerjasama dengan elemen masyarakat serta silaturrahim dengan semua pihak terutama Pesantren Hidayatullah Bone. (ybh/hio)

Membangun Kemandirian Ekonomi Harakah Dakwah

‌SAAT ini, umat Islam tertinggal jauh secara ekonomi. Hanya sedikit negara-negara muslim anggota Organisasi Kerjasama Islam (OKI) yang tergolong pada negara maju.

Dari beberapa indikator, salah satu ukuran negara maju adalah jika pendapatan rata-rata penduduk (perkapita) sebesar 10, 750 USD/tahun. Negara-negara Muslim yang masuk kelompok ini adalah Kuwait, Uni Emirat Arab, Oman, Saudi Arabia, Qatar, Brunei Darussalam, Turki dan menyusul Malaysia.

Sementara, Indonesia pendapatan perkapitanya, baru berada pada kisaran 4.500 USD/tahun. Sedangkan negara-negara muslim di Benua Afrika, masih jauh tertinggal. Sementara hanya 2 negara muslim yang masuk G-20 (dua puluh negara dengan PDB terbesar) yaitu Indonesia dan Turki.

‌Indonesia, berdasarkan penelitian beberapa lembaga penelitian dunia, salah satunya Mc Kinsey yg dilakukan tahun 2012 lalu, memprediksi bahwa tahun pada 2030, Indonesia akan menjadi negara terbesar ke-5 dunia (PDB-nya)

‌Kita boleh berbangga dengan prediksi tersebut, namun, jika kita lihat data saat ini, misal rasio gini, yang merupakan indikasi ketimpangan ekonomi yang masih di sekitar angka 0,4.

Masih ada konsentrasi kekayaan oleh kelompok tertentu, dimana kita 1 persen warga negara, menguasai 50 persen lebih aset nasional. Pertumbuhan ekonomi masih di angka 5 persen. Pendapatan rata-rata penduduk terus meningkat. Menjadi salah satu paradok, dengan angka kemiskinan yang belum bisa di minimize.

‌Bagi muslimin Indonesia, yang jumlahnya mayoritas (berkisar 87 persen) dari total populasi, menurut Pak CT, hanya mendapatkan kue ekonomi sebesar 12 persen. Artinya terjadi jomplang dan ketidakadilam disini.

‌Tentu saja bisa ditampilkan data-data yang lebih mengerikan, jika disebutkan penguasaan asing dan aseng atas berbagai sektor bisnis dan kehidupan. Bahkan sektor yang menjadi hajat hidup orang banyak.

‌Hal ini semakin mengkonfirmasi bahwa, kita (baca muslim Indonesia) bukan hanya tertinggal secara ekonomi, namun sejatinya masih dijajah oleh asing dan asing, melalui multinational corporate (MNC) yang mereka bangun di negeri ini.

‌Meski kesadaran telah tumbuh, diberbagai kalangan umat Islam, namun masih belum bisa di kapitalisasi menjadi kekuatan ekonomi umat yang riil. Masih berjalan sendiri-sendiri, belum berjama’ah. Baik model usaha maupun jenis bisnisnya.

Sehingga, akibatnya sangat mudah dimatikan oleh mereka yang sudah besar. Dan watak kapitalis liberal, selalu membentuk kartel untuk menghabisi para pesaingnya. Hal ini, sesungguhnya berlawanan dgn semangat liberalisme itu sendiri.

‌Di sisi lain, umat Islam juga perlu bermuhasabah lagi, bahwa ada kesalahan paradigmatik, berkenan penyikapan terhadap ekonomi dan seluruh aspeknya. Umat tidak cukup diajarkan tentang urgensi penguasaan ekonomi. Padahal, ekonomi adalah salah satu pilar yang dibangun nabi setelah hijrah ke Madinah dan memenangkannya.

‌Saat Nabi membuka pasar di Madinah, sehingga mampu menggeser bahkan menumbangkan dominasi pasar Yahudi (Pasar Bani Qainuqa). Dimana salah satu ciri Pasar Muslim adalah menyuburkan jual beli dan meninggalkan Riba.

Sedangkan pada masa Khalifah Umar bin Khattab radhiyallahu, selain hal tersebut, juga hanya orang yang mengerti fiqh saja, yang boleh jualan di pasar. Olehnya ada lembaga hisbah yang ditempatkan di pasar untuk menjaga dan mengawasi agar pasar (dan kegiatan ekonomi lainnya) berjalan sesuai dengan kaidah yang berlaku.

‌Di lain pihak, bukan untuk pembenaran dan/atau mencari kesalahan, bahwa sebagian besar penganut madzhab Syafii biasanya kurang concern praktek di bidang ekonomi, tetapi secara fiqh muamalahnya biasanya unggul, dibandingkan dengan madzhab Hanafi misalnya yang berdagang (aktifitas) ekonominya menonjol. Tapi ini baru sebatas hipotesa. Masih butuh pembuktian.

‌Lalu apa yang bisa kita lakukan untuk merebut kue ekonomi tersebut, terutama oleh harakah dakwah, yang merupakan bagian dari jama’atul muslimin dan sekaligus sebagai pilar negara. Sudah barang tentu banyak cara yang bisa dilakukan, diantaranya:

‌Pertama, mendidik kader dan anggota harakah untuk memahami fiqh Muamalah. Dan ini di ajarkan di semua jenjang pendidikan, termasuk dalam halaqah halaqah. Berikut implementasinya. Baik untuk menjadi profesional maupun entrepreneuer (pelaku bisnis). Kurikulumnya mesti dodesain untuk mendukung ini.

‌Kedua, menjadikan halaqah (majelis taklim) dan kemudian masjid dan pesantren sebagai basis ekonomi umat. Umat diajarkan dan didorong untuk terbiasa Syirkah dan mudharabah antar mereka. Sehingga bisa dibangun sentra-sentra ekonomi umat sesuai skala, kecenderungan dan jenis usahanya.

Karena berbicara ekonomi pasti berbicara skala ekonomi. Ada kaidah ekonomis yang harus di penuhi. Sehingg tidak asal, mesti dilakukan kalkulasi ekonomi. Dan harakah dakwah mesti hadir di sini sebagai facilitator.

Ketiga, umat didorong, dimotivasi dan dan difasiliasi untuk memproduksi, mengkonsumsi, berdagang, mendistribusikan dan berinvestasi terhadap produk muslim. Diawali dengan komunitas yang bersifat komplementer atas produk yang ada, hingga menjadi suplementer,untuk menggantikan produk-produk yang beredar di pasaran saat ini.

Keempat, secara kelembagaan, harakah dapat memiliki korporasi, yang sahamnya dimiliki oleh kader dan anggota. Ada ekonomi berjama’ah atau korporasi umat. Selanjutnya memfasilitasi usaha/bisnis kader. Sehingga menjadi sumber kekuatan ekonomi harakah dakwah dan kader.

‌Kelima, ada mapping antar harakah, siapa bermain bisnis dimana. Atau harus kerjasama dengan siapa. Dan penguasaan bisnis muslim bukan hanya pada bidang herbal, busana muslim, lembaga keuangan, makanan halal, ritel, dlsb. Itu penting, tetapi juga harus menguasai bidang energi, pertambangan, teknologi perdagangan secara umum, termasuk persenjataan dst. Sehingga peran sebagai khalifatullah film ardh itu nyata.

‌Keenam, membangun jaringan ekonomi dan bisnis antar harakah. Membangun jaringan produksi, distribusi, ritel, pemasarandan investasi. Termasuk kajian, riset, ekspor impor, dlsb.

‌Demikian uraian singkat kami tentang bagaimana menuju Kemandirian Ekonomi Umat. Tentu masih banyak hal yang belum ter-cover dalam tulisan ini. Sehingga merangsang kita, untuk berkonstribusi. Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam.

________
*) ASIH SUBAGYO, penulis adalah CEO HG Corporindo, perusahaan Holding Company Hidayatullah yang sekaligus Ketua Bidang Perekonomian DPP Hidayatullah. Artikel ini merupakan pointers materi penulis saat menjadi narasumber dalam seminar ekonomi yang digelar DPW Hidayatullah Gorontalo, Sabtu (13/1/2018)

Yayasan Abdullah Said Batam Terima SK PTKI Diktis Kemenag

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) – Yayasan Abdullah Said Batam Kepulauan Riau secara resmi menerima surat keputusan tentang pendirian Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) yang kelak akan membawahi Institut Agama Islam Abdullah Said (IAIAS) di di Ruang Sidang Sekjen Kementerian Agama RI, Rabu (10/1/2018).

Penyerahan SK tersebut dilakukan oleh Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Kemenag RI Prof. Arskal Salim dan diterima langsung oleh Ketua Badan Pembina Yayasan Abdullah Said, KH Nashirul Haq, MA.

Turut Hadir dalam acara tersebut Drs. Agus Sholeh, M.Ed (Kasubdit Kelembagaan dan Kerjasama), Zidal Huda, MH (Kasi Penjaminan Mutu PTKI) dan para pengelola Yayasan.

Kementerian Agama RI melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Islam pada kesempatan tersebut menyerahkan 15 surat keputusan tentang pendirian Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Swasta baru dan 1 SK Program Pascasarjana.

Dalam sambutannya Profesor Arskal Salim menyampaikan terimakasih kepada para pengelola Yayasan atas partisipasinya dalam berjuang mencerdaskan generasi bangsa melalui Pendidikan Tinggi.

Arskal mengatakan pihaknya sadar bahwa pemerintah belum mampu memenuhi seluruh kepentingan masyarakat untuk menikmati pendidikan dilevel Perguruan Tinggi.

“Ini bukti keseriusan dari bapak/ibu sekalian dalam menyelenggarakan Perguruan Tinggi, sabar menanti hingga turunnya SK pada hari ini,” tegasnya.

“Kelola dan kembangkan Perguruan Tinggi ini sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku jangan hanya berhenti di sini, PTKI harus menyiapkan prodi-prodi yang dibutuhkan oleh generasi milenial” pintanya.

“Selamat berjuang dan berkontestasi semoga perguruan tinggi di bawah Bapak/Ibu sekalian sukses ikut serta dalam mencerdaskan kehidupan bangsa”, tambahnya mengakhiri sambutan.

Menurut Agus Sholeh selaku Kasubdit Kelembagaan dan Kerjasama saat ini Perguruan Tinggi Keagamaan Islam yang berada di bawah naungan Kementerian Agama berjumlah 806 yang terdiri dari 56 PTKI Negeri dan 750 Swasta termasuk Fakultas Agama Islam pada Perguruan Tinggi Umum.

“Jumlah ini akan terus bertambah selama belum adanya moratorium untuk pendirian PTKI baru. Program ini dilaksanakan dalam rangka pemerataan akses Pendidikan Tinggi khusunya di daerah-daerah yang belum terjangkau”, jelasnya.

Setelah menerima SK para pengelola PTKI baru diminta segera melakukan koordinasi dengan KOPERTAIS setempat, mereview kurikulum, menyiapkan perangkat pengelola, upgrading SDM (pendidik dan tenaga kependidikan) serta menyiapkan sarana dan prasarana.

Pada kesempatan tersebut juga dilakukan Penandatanganan Fakta Integritas oleh calon Rektor Institut Agama Islam Abdullah Said (IAIAS) Dr. Dudung A. Abdullah, M.Pd.I yang turut disaksikan para hadirin. (ybh/hio)

Setelah 29 Tahun, Saat ini “Air Sudekat” Hidayatullah Merauke

0

MERAUKE (Hidayatullah.or.id) – Bukanlah perkara sederhana untuk mendapatkan sumber air yang layak konsumsi di Provinsi Papua Barat, tak terkecuali di Kabupaten Merauke.

Tetapi, layaknya tagline iklan, kini “air sudekat” di Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Merauke berkat usaha dan upaya yang sungguh-sungguh yang dilakukan oleh pengurus.

Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar. Ya, demikianlah lafaz penuh syukur yang terucap dari Pimpinan Pondok pesantren Hidayatullah Merauke Ust Muhammad Panji. Panji mendadak dijuluki dai spesialis sumur bor karena berhasil menaklukkan bebatuan karang dikala bertugas di Biak dan kini “menaklukkan” lumpur Merauke.

Warga dan masyarakat sekitar Kampus Hidayatullah Merauke pun mensyukuri nikmat semburan “air tawar” di awal tahun 2018 ini.

Betapa tidak, sejak tahun 1992 air tawar menjadi barang langka di Pesantren Hidayatullah yang beralamat di Jalan Cikombong, Desa/Kampung Kelapa V Merauke ini.

“Kebutuhan air tawar untuk 300 santri selama ini dipenuhi dengan membeli dari kota Merauke, sekurang kurangnya 5000 liter perhari di musim hujan sekalipun. Namun bila musim kemarau bisa 3 tanki atau 15,000 liter perhari,” ungkap Panji.

Alhamdulillah, berkat kebaikan hati Pak Purwa, seorang pengusaha sukses Kota Rusa ini yang membantu pengeboran sampai ketemu air tawar yang diinginkan.

“Sebelumnya di banyak lokasi telah dicoba namun belum berhasil bahkan ada yang kedalaman 150 meter. Kali ini di kedalaman 94 berhasil,” imbuh Panji.

Merauke yang dijuluki sebagai lambung padi Papua dikenal dengan hamparan dataran rendah. Tak ada batu dan pasir, sebagian besar rawa mangrove yang menjadi surganya ikan air tawar se-Papua.

Pesantren yang berada di pesisir Selatan Papua ini tidak jauh dari muara sungai Maro yang airnya asin dan setiap air laut pasang maka menggenangi seluruh kampus.

Air tawar adalah Kebahagiaan dan berkah seluruh santri dan pastinya tidak ada alasan untuk bermalasan belajar, belajar dan belajar agar kelak lahir dai tangguh yang dinantikan umat di ujung timur NKRI ini.

“Jangan pernah berhenti bergerak gerak untuk mencapai kemenangan,” ujar Kadephal DPP Hidayatullah Ust Jamaluddin Nur dalam tabligh akbar dirangkai Rakerwil di penghujung 2017 lalu di Kampus Hidayatullah Merauke.*/ Muhammad Haeranzi

Di Kampus Hidayatullah Kota Barat Gubernur Kampanye Lele

0

KOTA BARAT (Hidayatullah.or.id) – Sinergi antar pemerintah dan Hidayatullah dalam rangka untuk membangun kawasan terus terjalin baik. Kali ini kerjasama dukungan tersebut dilakukan di Provinsi Gorontalo berupa bantuan kelengkapan budidaya ikan lele.

Gubernur Gorontalo Rusli Habibie yang langsung meresmikannya belum lama ini yang turut dibersamai istri dan Kepala-kepala Dinas Provinsi Gorontalo.

Bertempat di Kampus Madya Hidayatullah Kota Barat, Gubernur Rudli dalam sambutannya meresmikan usaha budidaya ikan tersebut berkampanye makan lele.

Gubernur dalam sambutanya mengatakan bantuan pemerintah ini diperuntkkan untuk menopang sumber ekonomi para santri dan berharap dapat menumbuhkan jiwa kemandirian para santri sehingga ketika kelak lulus nanti mampu berkarya di tengah umat.

“Olehnya itu harus betul-betul paham cara budidayanya dan pemasaran dapat mencapai hasil yangg baik. Semoga para santri dan warga bisa mengembangkannya untuk memberi manfaat pada sesama,” katanya.

Ketua DPW Hidayatullah Provinsi Gorontalo Abubakar Muis dalam kesempatan yang sama menyampaikan terimaksih atas perhatian pemerintah dalam mendukung pengembangan ekonomi pesantren.

“Dan ini tidak terbatas pada budidaya lele saja tapi juga pada usaha unggas dan ternak kambing. Kemandirian ekonomi pesantren menjadi fokus kami ditahun 2018-2019 ini,” ungkap Abubakar.

Abubakar menyampaikan selain fokus dalam pengembangan ekonomi, pihaknya juga akan terus menggalakkan dakwah dan tarbiyah yang menjadi mainstream gerakan Hidayatullah saat ini.

Hidayatullah yang kini telah eksis di sejumlah kabupaten/ kota di Gorontalo, lanjut Abubakar, berkomitmen untuk membumikan dakwah di sebagai bentuk partisipasi Hidayatullah dalam membangun Bumi Hulantalo.

“Di bidang pendidikan, kita menyelenggarakan sekolah formal yang juga memberi keutamaan kepada kalangan yatim dan dhuafa. Di bidang dakwah, menggencarkan kegiatan bina aqidah dan sinergi dengan berbagai pihak,” kata Abubakar.

Pada kesempatan peresmian tersebut, Gubernur Rusli beserta istri menyerahkan hadiah kepada santri yang bisa menjawab pertanyaan berupa tas, sepeda dan amplo bagi anak yatim piatu.

Acara tersbut juga dihadiri oleh para penjual ikan dengan memakai motor dan Pemprov sekaligus memberi bantuan motor kepada masyarakat yang berpencaharian jual ikan keliling kampung. (ybh/hio)

Laznas BSM-IMS Gelar Khitan Muallaf Pedalaman Kaltim

0

MAHAKAM HULU (Hidayatullah.or.id) – Laznas Bangun Sejahtera Mitra Umat (BSM) bekerja sama dengan Islamic Medical Service (IMS) menggelar khitanan massal dan pengobatan gratis di Kampung Datah Bilang, Kabupaten Mahakam Hulu (Mahulu), Kalimantan Timur.

Pada tanggal 29-30 Desember 2017, kedua lembaga itu menggelar berbagai kegiatan di pedalaman tersebut. Berupa khitanan, pengobatan umum, pemeriksaan lab, pemeriksaan kecacingan, pemeriksaan gizi untuk anak, dan pembagian sembako.

“Alhamdulillah, kami melayani ratusan peserta khitanan massal dan layanan kesehatan gratis untuk para mualaf kampung Datah Bilang, Kecamatan Mahakam Hulu,” tutur Abdul Kholik Yahya, General Manager IMS yang turut serta dalam misi dakwah-sosial-kemanusiaan itu, Sabtu (30/12/2017).

Kholik menambahkan alasan menggelar khitanan acara itu karena di daerah tersebut merupakan pedalaman Kaltim yang memiliki mualaf terbanyak di Mahulu. Kegiatan itu juga dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Ketua Takmir Masjid ar-Rahman di lokasi itu, Suyatno, sangat berterima kasih dengan adanya kegiatan tersebut.

“Mewakili masyarakat Datah Bilang, kami sangat berterima kasih kepada IMS dan Laznas BSM karena telah menggelar acara yang positif seperti ini,” tuturnya kepada media ini.

Silaturahim BMH-BSM
Sementara itu, masih dalam rangkaian kunjungan ke Mahulu tersebut, Perwakilan Laznas BSM Jakarta dan Laznas BMH berdiskusi bersama perwakilan masyarakat dalam mendengarkan kebutuhan-kebutuhan dan permasalahan para mualaf pedalaman, khususnya di Long Melaham, Kecamatan Long Bagun, Mahulu.

“Niat kami yaitu silaturahim sesama umat Muslim khususnya para mualaf di tengah keterbatasan mereka berjuang dan banyak tantangan,” ucap Abdul Gani di hadapan para mualaf, Kamis (28/12/2017).

Abdul menambahkan, salah satu alasan kedatangan BSM yaitu mendengar keluh kesah para mualaf, berupa assessment (penilaian) kondisi di daerah yang akan menjadi bahan program jangka panjang berupa pendidikan, ekonomi, dan pendidikan.

“Fokus kami yang akan menjadi pantauan kami di sini yaitu dalam hal pendidikan dan ekonomi, seperti sarana pendidikan Taman Pendidikan al-Qur’an, kesehatan dan pemberdayaan yang bekerja sama dengan berbagai elemen. Apa yang dibutuhkan para mualaf maka kami akan melaporkan ke atasan,” ucap Abdul yang juga divisi program khusus mualaf BSM.

Abdul berharap berharap, kedatangan BSM-BMH mampu mendapat masukan kebutuhan masyarakat dan dirasakan jangka panjang, agar saudara-saudara yang di pedalaman memiliki masa depan yang cerah.

“Kami merasa sangat senang, dengan kedatangan BSM, semoga kami bisa dibantu dalam hal ekonomi, salah satunya hewan ternak seperti peternakan kambing, sapi, ayam, dan lain-lain,” harap Irwan, warta setempat yang juga mualaf pedalaman Suku Dayak Kenyah.*/Zulkarnain

 

Wakil Walikota Jayapura Apresiasi Peran Hidayatullah

0

JAYAPURA (Hidayatullah.or.id) – Wakil Walikota Jayapura, Rustam Saru, mengapresiasi Hidayatullah di kawasan itu dalam perannya mengembangkan dan membangun kapasitas serta kualitas sumber daya manusia.

Hal tersebut diungkapkan Wakil Walikota Rusli Saru saat membuka acara “Daurah Al Quran Bersanad” di Kota Jayapura, Jumat (5/1/2017). Acara tersebut digelar selama 3 hari.

“Terimakasih kepada Hidayatullah yang telah ikut membangun sumber daya manusia Indonesia khsusunya di Papua melalui program pendidikannya,” kata Rustam.

Tokoh masyarakat Sulawesi Selatan ini mengapresiasi program Hidayatullah khususnya kegiatan dauroh yang digelar selama 3 hari ini ini. Beliau juga mengatakan bahwa ketahanan jiwa ini harus dibangun dengan Al-Quran.

Rustam berharap dari pelatihan ini ada peserta yang dapat mewarisi ilmu Al Quran Ust Rifai Alhaq bin Abidin Abbas selaku narasumber yang sudah memiliki sekian sanad bacaan Al Quran.
“Seanjutnya diharapkan peserta terus mendapatkan pembinaan lanjutan sehingga tidak terputus,” harap Wawali.

Beliau pun mendorong agar para dai-dai Hidayatullah terus memberikan materi materi dakwah yang menyejukkan umat sehingga dapat semakin membangun masyarakat yang berkualitas.

Sementara itu Kepala Kantor Kementerian Agama (Kakandepag) Kota Jayapura Drs. H Syamsuddin, menyampaikan terima kasih dan dukungan kepada Hidayatullah Jayapura yang telah menggelar acara tersebut.

Dalam sambutannya kala memberikan sepatah kata pada pembukaan dauroh Al Quran bersanad ini, Kakandepag Kota Jayapura ini menyampaikan terimakasih kepada Hidayatullah telah mengambil peran dalam pembinaan ummat khususnya di Papua.

“Hidayatullah hadir dengan metode yang berbeda dengan pondok pondok lain, ini luar biasa,” tandas Syamsuddin. */Yusuf Qardhawi

Hidayatullah Papua Butuhkan Lebih Banyak Tenaga Pendidik

0

MERAUKE (Hidayatullah.or.id) – Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Hidayatullah Provinsi Papua yang digelar beberapa waktu lalu mengeluarkan keputusan dan sejumlah rekomendasi, diantaranya rolling petugas dan target pemenuhan kebutuhan tenaga dai dan pendidik serta mempersiapkan perguruan tinggi di Papua.

Pembina yang juga dai senior Hidayatullah di Papua, Abdul Haris Amin, menilai jumlah tenaga pendidik di Papua masih belum memadai sehingga pihaknya meminta adanya penambahan tenaga dai pendidik dari pusat supaya jumlah tenaga pendidik dapat tercukupi terutama yang berada di daerah-daerah yang masih minim tenaga dai dan pendidik.

“Ada beberapa sekolah Hidayatullah yang ada di Papua belum tercukupi dengan tenaga pendidik. Dalam agenda Rakerwil kali ini, kita minta ke pusat adanya dropping tenaga pendidik ke daerah-daerah yang tenaga pendidiknya masih kurang,” terangnya seperti dikutip Arafura News di Bandara Mopah Merauke, baru-baru ini.

Dikatakan Haris, Hidayatullah memiliki enam perguruan tinggi yang tersebar di seluruh Indonesia sehingga alumninya diharapkan terus dikirim ke daerah-daerah yang masih kekurangan tenaga pendidik untuk memperkuat sekolah yang masih terkendala minimnya tenaga.

Abdul juga mengakui sarana dan prasarana di sejulah sekolah juga belum memadai. Namun, pihaknya akan terus mengupayakan dan bekerjasama dengan pemerintah dan masyarakat untuk mempersiapkan sarana sesuai dengan yang diharapkan.

“Kita upayakan sekolah tetap berjalan meskipun sarana belum memadai. Kita juga akan terus membenahi sarana dan parasana mulai dari TK sampai dengan perguruan tinggi yang ada di Indonesia khususnya yang ada di Papua,” tandasnya.

Ditambahkan Haris, visi utama Hidayatullah ditujukan untuk membangun peradaban Islam melalui dakwah dan tarbiyah. Hidayatullah juga memfokuskan pada pendidikan Islam, sebab untuk membangun peradaban harus didasari ilmu. (ybh/hio)

Menjawab Tantangan Riil Ekonomi Umat

0

SETIAP akhir tahun dan menjelang awal tahun, selalu membawa semangat dan tantangan tersendiri. Evaluasi dan optimisme, selalu mewarnai dinamika hidup yang terus dinamis.

Demikian juga halnya berkenaan dengan Ekonomi Umat. Yang pasti, hingga saat ini, secara statistik umat Islam masih mengalami ketertinggalan di bidang ekonomi ini.

Hal tersebut hampir terjadi di semua sektor. Bahkan, dalam sebuah kesempatan, Pak Chairul Tanjung, Chairman CT Corp, mengungkapkan data, bahwa dengan populasi sekitar 87%, umat Islam, hanya mendapatkan porsi 12 persen.

Sedangkan di sektor finansial, market share Bank Syariah seolah berada pada zona “kutukan 5%”. Berbagai upaya sudah dilakukan, setiap waktu, tetapi masih belum beranjak dari prosentasi tersebut. Dari sini cukup menjelaskan, bahwa ada ketimpangan yang sangat tajam.

Jika di-breakdown secara rinci per-sektor, maka dari yang dua belas persen itu, bisa jadi akan didapati data yang semakin memprihatinkan. Sektor-sektor strategis, luput dari penguasaan umat Islam. Dus, prosentase terbesar akan di dominanasi oleh sektor informal.

Ketertinggalan secara ekonomi ini, nampaknya terus membesar. Artinya porsi ekonomi umat semakin mengecil. Bukan tidak tumbuh. Namun dengan besaran kue yang ada, dengan pertumbuhan sama, atau 2 kali lipat sekalipun, masih belum bisa mengejar.

Pertanyaannya adalah, apakah semua ini terjadi secara natural atau by design, nampaknya perlu penelitian lebih jauh. Meskipun secara kasat mata, sesungguhnya bisa dilihat.

Ketiadaan atau lebih tepatnya kurangnya affirmation politics misalnya, dengan melihat UU dan regulasi yang ada. Ketimpangan saat ini, terjadi bisa dikatakan sebagai kombinasi sempurna antara natural dengan yang by design.

Secara natural, barangkali bisa kita amati dengan minimnya umat Islam yang fokus di bidang ekonomi ini. Sebagian didoktrin oleh orangtuanya, untuk menjadi pegawai. Baik pemerintah maupun swasta. Seolah jika sudah menjadi PNS atau karyawan swasta dengan berdasi, menempatkan dirinya menjadi priyayi.

Sebuah status sosial yang disematkan ke seseorang karena menduduki jabatan tertentu. Ini murni warisan kolonial. Bahkan tidak sedikit yang rela bekerja (maaf : menjadi buruh pabrik), di banding berwirausaha, atau mengolah tanah keluarganya sendiri.

Bukan sesuatu yang hina dan salah. Sebab kita tahu, jalan itu dipilih, karena tidak ada pilihan lain, bersebab terjadi kemiskinan struktural, karena kebijakan negara yang tidak pro-rakyat. Akibatnya disparitas antara si kaya dan si miskin menjadi menjomplang. Hal ini dapat kita lihat dari gini ratio negara ini, yang masih berada pada kisaran 0,4. Sebuah rasio yang mendekati bahaya. Dan anehnya seolah hal ini bukan persoalan.

Disisi lain, ternyata pemahaman umat berkenaan penguasaan ekonomi ini lemah atau lebih tepatnya tidak faham. Seolah yang namanya ibadah itu, hanya hal yang kaitannya dengan ritual semata. Bahkan direduksi, hanya kegiatan ritual semata atau sebatas melaksanakan rukun islam.

Sementara mendirikan pendidikan unggul, menciptakan politik yang bersih dan santun, membangun ekonomi yang adil, makmur dan sejahtera, dlsb, bukan bagian dari ibadah. Maka mindset dan paradigma seperti ini mesti diubah. Umat harus disadarkan tentang urgensi mewujudkan hal-hal tersebut. Di bidang ekonomi misalnya, mesti dimulai upaya yang serius dan sistematis.

Sehingga langkah strategis ini bisa di mulai dari Pesantren, sebab masih perlu ada penyadaran tentang hal ini. Misalnya dalam kajian fiqh, saat membahas babul miyah, bab wudhu, bab sholat, bab haji dlsb, selalu satu paket lengkap dengan contohnya, bahkan praktek oleh ustadz/Kyai.

Namun, saat membahas fiqh Muamalah terutama bab Al Buyu’ (jual-beli) misalnya, tentang Syirkah, Mudhorobah dlsb, selain tidak diberikan contoh, bahkan dilewati kajiannya. Meskipun generasi muda “Kids jaman Now” sudah banyak berubah mindsetnya untuk mulai memilih terjun menjadi entreprenur dan menjadi profesional di sektor ekonomi islam.

Demikian juga studi tentang ekonomi islam kini telah menjamur. Namun ketertinggalan yang ada selama ini, butuh waktu untuk mengejar apalagi bisa merebutnya.

Selanjutnya, mari kita tengok, apakah benar hal ini terjadi by design. Salah satunya adalah dengan menelaah beberapa produk hukum dan regulasi yang nampaknya belum berpihak, ke umat. Bandingkan misalnya dengan Malaysia melalui NEP (New Economic Program) yang di gagas dan di kembangkan saat PM Mahathir Muhammad berkuasa, dan dilanjutkankan hingga kini.

Mesti masih terjadi ketimpangan, namun jurangnya tidak terlalu jauh. Meski beberapa UU seperti Bank Syariah, UU Zakat, UU Wakaf dll, memberikan angin segar bagi umat. Tetapi undang-undang Minerba misalnya, adalah salah satu contoh, bagaimana akses umat untuk bermain disektor ini cukup sulit.

Belum lagi adanya praktik kong-kalikong dengan pejabat daerah yang mengeluarkan ijin/konsensi dengan imbalan tertentu. Sebuah praktik korupsi dan kolusi sempurna yang lazim terjadi. Terutama menjelang Pilkada, politik transaksional, melalui jual-beli ijin ini marak terjadi.

Tarbiyah Iqtishodiyah

Kita tidak bisa hanya mengutuk kondisi yang terjadi di atas. Sebuah praktek kapitalis liberal, memang sedang tumbuh subur di negeri ini. Dan sudah barang tentu, kondisi tersebut tidak akan berpihak ke umat. Karena secara ideologi pasti bertentangan.

Ekonomi Islam itu bukan kapitalis dan juga bukan sosialis. Tetapi baina huma (diantara keduanya). Kenyataan di atas, seharusnya menjadi trigger bagi setiap muslim untuk aware bahwa situasi seperti ini harus di hentikan. Selanjutnya, diupayakan untuk melahirkan kebangkitan sekaligus melakukan “perlawanan”.

Salah satu model perlawanan adalah dimulai dari pendidikan, dalam makna yang luas. Atau bisa dengan istilah Tarbiyah. Dimana Tarbiyah Iqtishodiyah (pendidikan ekonomi) ini, bukan hanya diajarkan disekolah formal.

Demikian halnya di bangku kuliah, yang seringkali tersandera oleh kurikulum, sehingga direduksi oleh pencapaian angka-angka, dan diukur dengan seberapa besar menghasilkan output atau outcome yang tersusun dengan rapi dan indah.

Namun, semestinya tarbiyah ini, justru di mulai dari masjid-masjid, pengajian, majelis taklim dan seterusnya. Demikian juga dikembangkan melalui Pesantren, Madrasah, Sekolah Islam hingga perguruan tinggi, dengan kurikulum yang di desain khusus.

Olehnya kehadiran Ustadz, Mubaligh, Kyai, Guru, Dosen juga mesti dibekali dengan ilmu tentang ekonomi secara komprehensif, sampai kepada menghasilkan umat yang faham atas kelemahan dan sekaligus sadar atas potensinya, lalu berhimpun dalam arus yang sama, berupa kebangkitan ekonomi umat.

Dan dari sini, mendorong umat untuk berta’awun dalam bentuk syirkah, mudharabah, murabahah, dlsb, di berbagai sektor ekonomi.

Memetakan Umat

Dari penjelasan di atas, sejatinya banyak peran yang bisa dilakukan umat. Dalam Tarbiyah Iqtishodiyah ini. Paling tidak umat bisa diarahkan untuk berperan di banyak hal. Setidaknya perannya dapat dipetakan sebagai berikut:

Pertama Konsumen, langkah yang memungkinkan adalah umat diajari untuk menjadi konsumen yang cerdas. Yaitu, dengan memilih produk muslim. Dan menghindari untuk beli produk-produk non muslim.

Demikian juga dalam berbelanja, agar memilih warung, ritel dan supermarket serta toko-toko yang jelas-jelas milik muslim. Ini bukan SARA, tetapi ini bentuk keberpihakan.

Kedua Produsen, harus di pahami tingkat ketergantungan umat atas produk-produk yang ada dipasaran adalah produk non muslim. Bahkan 70 persen lebih produk yang dijual di retail, termasuk milik muslim, merupakan produk non muslim.

Olehnya umat sudah harus mulai memproduksi sendiri untuk konsumen muslim. Awalnya sebagai komplementer, dan hanya untuk memenuhi kebutuhan komunitas. Tetapi ke depan, harus ada roadmaps menuju suplementer. Dan hal Ini, harus inline dengan konsumen muslim.

Ketiga Pedagang, kehadiran pedagang baik yang tradisional maupun retail modern, menjadi strategi yang perlu dimainkan. Sebagaimana kita lihat, bahwa pedagang, terutama retail modern, meski kini umat sudah mulai bangkit, tetapi masih tertinggal jauh dari ritel modern yang dimiliki oleh aseng dan asing.

Olehnya perlu diperbanyak pedagang yang bermain disektor ini. Dan bisa dimulai dengan sistem klaster berbasis pesantren, masjid atau majelis taklim, sehingga mendapatkan captive market yang jelas.

Keempat Distributor, saat ini distribusi kebutuhan pokok, juga tidak berada ditangan umat. Sehingga konsumen susah memilih barang muslim, produsen sulit memasarkan barang, dan pedagang tidak bisa mendapatkan barang yang diinginkan. Sehingga rantai distribusi ini, harus dipegang oleh muslim. Jika tidak, akan terulang terus seperti lingkaran setan.

Kelima Investor, umat perlu diubah mindsetnya. Bahwa setiap rejeki yang di dapat, tidak cukup untuk ditabung, namun perlu di investasikan.

Berapapun dana yang dimiliki, sebaiknya ada yang disisihkan untuk investasi dengan pola musyarokah, Mudhorobah, Murabahah dan lain sebagainya. Dan dapat diinvestasikan kepada produsen, pedagang dan distributor.

Rangkaian langkah tersebut di atas, merupakan upaya minimal yang bisa dilakukan oleh umat, untuk merebut kue ekonomi yang ada. Memang tidak sesederhana itu. Namun jika langkah inipun tidak kita lakukan, maka kesenjangan ekonomi akan semakin melebar, bahkan bisa jadi tak terkendali.

Hal ini mesti menjadi kesadaran kolektif bagi umat. Lalu mengambil peran sesuai kapasitas dan kompetensinya masing-masing. Sehingga kita punya target, sekian tahun kedepan umat islam yang menjadi tuan di negeri sendiri. Bukan menjadi budak. Sesuatu yang realistis.

Dan, sekali lagi ini bukan SARA, tetapi wujud keberpihakan. Hanya butuh kemauan, niat baik dan aksi. Semoga Allah SWT memudahkan. Wallahu a’lam.

___
ASIH SUBAGYO, penulis Ketua Bidang Perekonomian DPP Hidayatullah. Tulisan terakhir tahun 2017 ini ditulis ketika penulis melakukan perjalanan menuju NTB dalam acara Rakernas III Hidayatullah.

Hidayatullah Majene Mendesak Diterbitkan Perda Larang Miras

0

MAJENE (Hidayatullah.or.id) – Dewan Pengurus Daerah (DPD) Hidayatullah Kabupaten Majene mendesak diterbitkannya Perda tentang Pelarangan Minuman Keras di kota ini mengingat mudharat yang lebih besar.

Usulan desakan tersebut disampaikan pengurus Hidayatullah Majene, Abdul Rahman, dalam pertemuan elemen masyarakatd an ormas yang membahas tentang polemik Perda Miras di DPRD Majene, Rabu 3 Januari 2018.

“Kita tutup forum ini dengan membatalkan Perda dan berharap anggota dewan agar menggunakan hak inisiatif untuk membuat perda pelarangan miras,” kata Abdul Rahman pada kesempatan tersebut.

Abdul menilai, peredaran miras perlu mendapatkan regulasi yang ketat agar tidak berdampak serius terhadap generasi bangsa.

Abdul pun berharap Rancangan Undang-undang Minuman Keras (RUU Miras) yang kini tengah dibahas di DPR RI memuat regulasi yang berpihak kepada kelangsungsungan generasi bangsa mengingat minuman alkohol oplosan yang menghantui generasi muda milenial atau biasa disebut Kids Zaman Now.

Seperti diketahui, DPRD dan Pemda Majene menggelar pertemuan dengan sejumlah organisasi masyarakat (ormas), mahasiswa dan sejumlah tokoh masyarakat di Ruang Persidangan DPRD Majene ini untuk membahas Perda tentang retribusi izin tempat penjualan minuman beralkohol atau minuman keras (miras) yang menuai polemik sejak disahkan, Kamis 28 Desember 2017 silam.

Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah, Perdagangan dan Perindustian Majene sebagai pengusul Perda itu juga turut hadir. Termasuk Bupati, Fahmi Massiara yang duduk berdampingan Ketua DPRD Majene, Darmansyah yang memimpin pertemuan.

Seluruh organisasi dan masyarakat menolak Perda itu. Termasuk mendesak agar Perda nomor 21 tahun 2012 tentang pengadaan, pengedaran, penjualan, pengawasan dan pengendalian minuman beralkohol segera dicabut. Mereka juga mengusul Perda pelarangan miras di Majene.

Seluruh tuntuan dikabulkan dalam pertemuan itu. Darmansyah mengatakan, usulan penbatalan Perda miras yang baru disahkan telah disampaikan ke gubernur, Rabu 3 Januari 2018 pukul 11.00.

Sementara itu, pembahasan Rancangan Undang-Undang Minuman Beralkohol di DPR RI saat ini pun masih alot. Sebab, Panitia Khusus (Pansus) masih terus memperdebatkan dua opsi pilihan terkait dengan pengendalian minuman beralkohol di pasaran, yaitu pelarangan secara total atau pengendalian secara ketat. (ybh/hio)