Beranda blog Halaman 558

Pleno Wantim MUI, Ketum DPP Hidayatullah Bahas Pendidikan Integral Berbasis Tauhid

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) – Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, KH Nashirul Haq memberikan pandangannya tentang pendidikan nasional saat Rapat Pleno Ke-19 Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (Wantim MUI) yang digelar di Aula Buya Hamka Lantai IV Kantor MUI Pusat, Jalan Proklamasi Nomor 51, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (23/08/2017).

Dalam pemaparannya, dirinya berkomentar mengenai tujuan pendidikan nasional sebagaimana yang tercantum dalam Pasal 3 Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Bahwa, tegas beliau, tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Pasal 3 Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tersebut juga, lanjutnya, memuat tujuan pendidikan nasional yakni mengamanatkan agar menjadi manusia berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

“Secara normatif apa yang dicanangkan pemerintah mengenai tujuan pendidikan nasional tersebut sangat ideal. Tetapi ironi dalam implementasi. Sebab, kebijakan dan komitmen pemerintah masih tampak kurang (terlihat) nyata untuk mewujudkan cita tersebut,” katanya di hadapan anggota Wantim MUI dan hadirin lainnya yang memadati aula pertemuan tersebut.

Contoh yang paling nyata, lanjut Nashirul, adalah porsi pendidikan agama di sekolah, baik itu sekolah umum atau sekolah negeri.

Menurutnya, porsi itu sangat minim sekali dibandingkan dengan kebutuhan dan tantangan yang dihadapi oleh peserta didik kita saat sekarang ini.

Pada kesempatan tersebut juga, kiai muda kelahiran Wajo Sulsel ini memaparkan tentang “Pendidikan Integral Berbasis Tauhid” sebagai ide besar Ormas Hidayatullah dalam berbagi solusi pendidikan Islam untuk mempersiapkan generasi Islam masa depan.

“Artinya, bagaimana mengelola pendidikan kita ini (agar) benar-benar mengantarkan anak didik menjadi orang yang bertauhid. Bahwa orang yang terdidik itu adalah mereka yang memiliki keimanan dan ketakwaan kepada Allah. Dan itulah hakikat daripada ilmu itu sendiri,” terangnya menjelaskan.

Berdasarkan tujuan pemerintah demikian, alumni Universitas Islam Madinah ini membagi 3 perkara yang harus menjadi skala prioritas pendidikan nasional di Indonesia.

Pertama, mengingatkan pemerintah agar memberikan perhatian dan motivasi yang serius dalam dunia pendidikan, terutama paradigma berpikirnya.

“Jangan sampai yang menjadi target dan kebanggaan pendidikan nasional kita hanya pada aspek kognitifnya (intelektualnya) saja, sementara moralitas dan spiritualnya hanya menjadi faktor pelengkap saja,” sarannya.

Ia mengacu pada salah satu prinsip pendidikan dalam istilah Arab, tazkiyah qabla ta’lim (proses pensucian jiwa sebelum pengajaran) atau az zaka qabla adzaka (kesucian sebelum kecerdasan) yang mengacu pada firman Allah Ta’aala dalam Al Qur’an surah Al Jumuah ayat 2. Sederhananya, jiwa harus disucikan terlebih dahulu, maka kecerdasan akan menyusul.

“Dan inilah sistem pendidikan yang diterapkan oleh salafus shaleh. Sehingga mereka benar-benar lahir sebagai orang-orang yang bisa memberi manfaat kepada umat sebagai orang yang shaleh sekaligus muslih. Mereka inilah orang yang ditunggu oleh zaman,” ulasnya.

Yang kedua, lanjut beliau, orientasi pendidikan sengaja didesain sedemikian rupa untuk melahirkan peserta didik yang dzul aidi wal abshar.

“Dia terampil, tetapi pada saat yang sama dia juga memiliki kemampuan intelektual yang tinggi. Ini yang terkesan pincang saat ini. Pemerintah ingin melahirkan peserta didik yang menonjol dalam keterampilan dengan orientasi melahirkan (banyak) tenaga kerja. Tetapi dia (peserta didik) tidak memiliki paradigma dan visi yang besar. Atau sebaliknya, memiliki prestasi akademik yang tinggi namun tidak memiliki life skill,” imbuhnya.

Ketiga, menurut Nashirul, pendidikan diharapkan dapat melahirkan pemimpin yang memiliki dua kriteria utama sebagaimana diisyaratkan dalam al Quran, yaitu al quwwatu wal amanah.

Al quwwah artinya memiliki kemampuan, kapabilitas, dan kompetensi. Sedangkan al amanah, artinya punya integritas, moralitas, dan berkarakter.

“Dua hal ini tentu saja tidak bisa dipisahkan. Dan keselamatan bangsa bahkan dunia secara umum, tergantung sejauh mana kita bisa melahirkan generasi sebagaimana yang diisyaratkan dalam al Quran itu,” tutupnya.

Rapat rutin bulanan yang mengangkat tema “Dialog Kebijakan Pendidikan Nasional dan Kepentingan Umat Islam” tersebut, Wantim MUI mengundang Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhajir Effendi dan Sekjen Kementrerian Ristek dan Dikti Ainun Naim sebagai pembicara.

Peserta rapat terdiri dari para ketua umum ormas Islam tingkat pusat dan beberapa individu tokoh Islam. Secara struktural, para peserta ini merupakan anggota Dewan Pertimbangan MUI Pusat. */ Rizky Kurnia Syah

[DOWNLOAD] Naskah Khutbah Idul Adha 1438 Hijriyah

0

HIDORID – Berikut ini naskah khutbah Idul Adha 1438 Hijriyah, dirilis PP Hidayatullah. Semoga bermanfaat dan dapat dimanfaatkan seluas-luasnya kaum muslimin.

DOWNLOAD, KLIK DI SINI (Acrobat Reader/Pdf)

Ma’had Tahfidz Ahlus Shuffah Diharap Lahirkan Generasi Teladan yang Menginspirasi

BALIKAPAN (Hidayatullah.or.id) – Kelurahan Teritip Balikpapan Timur, selain dikenal dengan sektor pertanian dan penghasil ternaknya, juga nilai pendidikan agamisnya pun ditingkatkan, setelah ada Pesantren Hidayatullah saat ini ditambah lagi ada Kampus Mahad Tahfidz Quran Ahul Shuffah di RT 14 Gunung Binjai.

Lurah Teritip Andi Arief Hidayatullah mengatakan adanya kampus tersebut perlu diapresiasi mengingat akan melahirkan generasi quran yang nantinya akan menjadi inspirasi dan contoh bagi generasi muda serta anak-anak Balikpapan.

“Saat ini kita tidak hanya membutuhkan orang pintar, tapi juga cerdas serta agamis,” ujar Andi Arief Hidayatullah seperti dilansir juga Balikpapan Pos beberapa waktu lalu.

Lanjut Lurah Andi, melalui kampus penghapal Al Quran inilah diharapkan akan lahir ulama-ulama yang kedepannya akan menjadi panutan bagi masyarakat. Mereka tak hanya membaca alquran tapi juga memahami dan dapat mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

“Juga diharapkan bisa menularkan ilmu-ilmu mereka ke anak-anak kita yang lain,” sambungnya.

Sementara itu Camat Balikpapan Timur Said Iqbal Yahya mengapresiasi atas bendirinya kampus penghafal Al Quran Ahlus Shuffah.

Diharapkan kedepannya banyak anak-anak masuk disini untuk menimba ilmu agama dan kelak ketika keluar kampus bisa menerapkan ilmu yang didapat di lingkungan masyarakat.

“Adanya kampus ini juga mewujudkan kota Balikpapan sebagai kota bernuansa madinatul Iman, dan mudah-mudahan akan semakin banyak kampus-kampus berdiri di wilayah Balikpapan Timur,” tutup Camat Iqbal. (dan/yud)

Kader Tangguh Tidak Lahir dari Kasur Empuk, Tapi Tempaan

0

MAROS (Hidayatullah.or.id) – Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Republik Indonesia, Abdul Aziz Qahhar Mudzakkar mengatakan bahwa kader dan generasi yang tangguh lahir dari kerja keras dan penempaan dalam menghadapi rintangan.

“Generasi yang tangguh tidak lahir dari kasur yang empuk. Juga tidak lahir dari perjuangan biasa-biasa saja. Akan tetapi generasi yang tanggu adalah dia yang hidup di tempat yang penuh dengan kesederhanaan dan penuh rintangan serta tantangan,” kata Aziz Qahhar.

Hal itu disampaikan Aziz Qahhar ketika memberikan pidato sambutan peletakan batu pertama Asrama Santri di Pesantren Hidayatullah, Pucak Maros, Ahad, 20 Agustus 2017.

“Pada akhirnya mereka akan tumbuh pula menjadi generasi yang cerdas secara spiritual,” lanjut Senator Sulsel tiga periode ini.

Aziz yang juga Anggota Dewan Pertimbangan Pimpinan Umum Hidayatullah mengajak masyarakat yang hadir agar senantiasa bahu-membahu membangun dan mengembangkan serta mendukung pesantren tahfiz ini. Karena, lanjutnya, dari sinilah lahir kader-kader tangguh dan mandiri.

Pada kesempatan ini Aziz Qahhar juga sekaligus menutup daurah Al-Quran bersanad yang sudah dilaksanakan beberapa hari sebelumnya.

Pesantren Tahfiz Hidayatullah ini berlokasi di Kecamatan Tompobulu, Desa Tompobulu, Dusun Arra, Maros. Asrama Santri ini merupakan bagian dari Yayasan Ummul Qura.

Cabang Pesantren Hidayatullah ini konsen di bidang tahfizul qur’an. Dengan lokasi yang jauh dari pusat perkotaan sehingga layak menjadi pusat program menghafal dan kaderisasi.

Salah satu pembina Tahfiz di Yayasan Ummul Qura Pucak, Maros, Ahmad Harun, mengatakan Yayasan Ummul Qura Maros mulai dirintis pada 2010 dan aktif menerima santri pengahafal Alquran sejak 2013 sampai sekarang.

Saat ini, sebut dia, tercatat 20-an santri yang sudah menghafal 30 juz. Mereka sudah tersebar di berbagai kampus dan instansi.

“Misalnya Kampus Ar Raayah Sukabumi dan STIS Balikpapan. Ada juga yang menjadi imam masjid di beberapa masjid,” ungkap Ahmad Harun.

Harun menerangkan, lembaga tahfidznya tersebut relatif kondusif dari kebisingan kota sehingga tepat menjadi pusat pendidikan pendalaman dan penghafal AlQur’an.

“Kita hanya biasa mendengar kicauan burung dan binatang-binatang lain,” katanya. (ful/hio)

PUZ Hidayatullah untuk Penuhi Kebutuhan Kader Dai Muallim

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) – Saat ini Hidayatullah telah hadir di 320 daerah dengan basis gerakan pondok pesantren dan layanan dakwah. Ratusan titik yang tidak sedikit itu memerlukan kader yang tidak sedikit pula.

Karenanya, alumni program khusus Pendidikan Ulama Zuama (PUZ) STIS Hidayatullah nantinya akan diarahkan menjadi kyai dan kader dai muallim serta murabbi bagi santri dan mad’u secara umum.

Demikian dikatakan Ketua Bidang Tarbiyah DPP Hidayatullah Drs. Tasyrif Amin, M.Pd.I saat memberikan sambutan dalam acara kuliah perdana program Pendidikan Ulama Zuama Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Hidayatullah Balikpapan, Senin (21/08/2017).

“Bahwa perkembangan Hidayatullah butuh energi tambahan. Para pendiri dan perintis sudah berhasil membangun sistem dan kultur keaagamaan. Mereka mampu mebghadirkan dakwah Islam di seluruh wilayah njsantara,” kata Tasyrif.

Dia mangatakan, dengan perkembangan yang merambah pada pendidikan dan dakwah secara terbuka, Hidayatullah butuh tambahan sumber daya insani (SDI) dengan kualifikasi ilmu diniyah yang memadai.

“Dengan sebuah catatan, Tauhid, karakter, dan semangat juang pendahulu harus tetap menjadi bingkai gerakan,” lanjutnya.

Tasyrif mengimbuhkan, Selain STIS Hidayatullah, sebanyak 4 perguruan tinggi (PT) Hidayatullah lainnya tetap akan dikuatkan sesuai Tupoksi dan disiplin ilmu masing-masing.

“PUZ ditempatkan di STIS karena memang lebih sesuai dengan disiplin ilmunya. Kita memberi muatan sisi keulamaan dan kepemimpinan. Sehingga, alumni STIS betul-betul hadir sebagai kader sesuai disiplin ilmunya, penguasaan ulumuddin yang berjiwa pemimpin,” ujarnya.

Jumlah mahasiswa program khusus PUZ menjaring 20 orang yang lulus seleksi. Mereka hampir seluruhnya putra kader Hidayatullah.

Di antara mereka, ada 8 orang putra Ketua DPW Hidayatullah dan ada juga putra anggota DPPU Hidayatullah.

Asal sekolah para mahasiswa PUZ yang lulus seleksi ini tersebar dari beberapa Lembaga Pendidikan Islam Hidayatullah (LPIH). Ada alumni MA Hidayatullah Yogyakarta, Al Kahfi Hidayatullah Solo, Ahlussuffah Hidayatullahy Pucak Makassar dan Hidayatullah Depok. Ada pula lulusan Isykariman Solo dan beberapa jebolan Ma’had Tujutuju Kajuara Bone.

“Mereka semua penghafal al Qur’an. Ada yang khatam, ada 25 juz, 20 juz, 10 juz. Paling minimal 5 juz,” ungkap Tasyrif.

Ustadz Hasyim HS, Ketua Pembina Kampus Induk Hidayatullah berpesan pada sambutan pembukaan program ini bahwa, “Sejak awal Allahu Yarham Abdullah Said mencita-citakan lahirnya lembaga PUZ”.

Namun, lanjut dia, kalau menunggu sosok ideal untuk menjalankan program itu baru jalan, maka tidak akan hadir Hidayatullah seperti hari ini.

“Mereka yang dulu bertugas juga ada ulama sesuai kebutuhan umat. Karena terbukti mereka mampu menghadirkan dakwah di seluruh Indonesia,” kata Ust Hasyim.

Selanjutnya, kata beliau, PUZ yang sekarang ini untuk menjawab kebutuhan saat ini. Tapi dengan catatan, tegasnya, jangan meninggalkan warisan sebelmunya.

“Tetap harus dengan ibadah, kerja keras, dan tentu dengan sentuhan ulumuddin yang standar,” tandasnya. (ybh/hio)

Mencari Tempat Shalat di Kota Roma

ROMA (Hidayatullah.or.id) – Tugas perjalanan dua peneliti Lembaga Studi Pengembangan dan Peradaban (LSIPP) yang juga anggota Dewan Mudzakarah DPP Hidayatullah yang tengah mempersiapkan penulisan buku “The Dome of The World” sarat dengan cerita menarik.

Kunjungan yang dilakukan Suharsono dan Naspi Arsyad itu merupakan rangkaian riset lapangan dalam rangka melengkapi buku yang akan diterbitkan oleh DPP Hidayatullah tersebut dengan menyusuri beragam situs sejarah di daratan Eropa Barat termasuk Italia.

Kamis lalu rombongan ini telah tiba di Kota Roma. Mereka kemudian melakukan napak tilas dengan mengunjungi situs sejarah di kawasan tersebut termasuk ke Vatikan yang didampingi tour guide.

Berada di tempat asing dengan populasi muslim yang minim tentu bukan perkara mudah, terlebih urusan ibadah. Apatah lagi bila berada di negara dengan sentimen keagamaan terhadap muslim yang tidak terlalu positif seperti di Roma, Italia.

Hal inilah yang sempat dirasakan Suharsono dan Naspi saat ‘first sight’, saat kunjungan pertama ke markas kesebelasan AS Roma ini.

“Mencoba mencari masjid untuk melaksanakan shalat ashar, ternyata memerlukan ‘seni mencari’ yang cukup berliku. Apatah lagi Roma bukan daerah yang akrab bagi kami,” kata Naspi dalam keterangannya diterima media ini, Sabtu (19/08/2017).

Bertanya dan bertanya adalah modal umum bagi semua traveller agar tak sesat di jalan. Begitupun rombongan ini, saat waktu ashar mulai menipis meski telah melakukan pencarian dalam waktu yang cukup lama.

“Hingga akhirnya kami bertemu dengan pedagang Muslim, yang sedang ‘bertugas’ di daerah wisata Trevi fountain dan mengarahkan kami ke suatu jalan yang -tentu saja- asing bagi kami,” kisah Naspi.

Tapi, karena shalat adalah syariat paling prinsip bagi umat Islam, maka ‘the show must go on’, kalau perlu naik taksi menuju jalan yang disebutkan.

“Ternyata pencarian kami tidak bersifat otomatis. Berada di jalan Victoria Emmanuel, lokasi di mana Masjid yang dituju berada, tak langsung menghadirkan kami di rumah Allah,” imbuhnya.

Saat turun dari taksi bersama sopir yang kesulitan mengeja kata ‘masjid’, pencarian tak juga berakhir. Hingga akhirnya keduanya terdampar di sebuah mini market dengan wajah Asia yang cukup familiar.

“From Bangladesh?” todong Naspi.
“Yes” jawabnya ramah.

Menuturkan secara singkat tujuannya, sang Bangladesh dengan senang hati menawarkan mini marketnya untuk keduanya menunaikan shalat.

“Thank you very Much, brother” ucap Naspi sambil menggenggam erat tangannya. “Semoga Allah memberkahi usaha dan bantuanmu” tambahnya membatin..

Warung Halal di Kota Pisa

Menyusuri Kota Pisa bagaikan pusaran besar air yang mengitari satu sumber utamanya yang di bilangan Toscana, Italia Tengah ini, dikenal dengan Menara Miring Pisa.

Menara dengan tinggi 55 Meter dengan 7 lantai yang terlihat miring seakan menjadi ruh pariwisata kota yang berpenduduk sekitar 90 ribu jiwa ini.

Tak heran bila para wisatawan mengerucutkan pandangan hanya ke arah menara miring ini yang dikawal dengan 2 ‘adiknya’, gedung Baptistery dan The cathedral.

Namun, dari semua pemandangan yang mengapit sang tokoh utama, sebuah ‘warung’ dengan judul yang biasa saja mampu menarik perhatian penulis, “Halal Food and Kebab”.

Menarik karena berada di kota dengan wisatawan yang umumnya tidak terlalu mencari makanan halal karena mereka tak berniat untuk berlama-lama di Pisa, menghindari biaya tinggal yang mahal.

“Pemilik restoran ini adalah saudara saya dan dia memiliki perspektif bisnis yang cenderung berbeda” terang manager restoran, Muhammad Abdullah Muslim.

Pria Bangladesh ini mengakui bahwa membuka bisnis kuliner dengan label agama bukanlah pilihan populer di Pisa.

“Banyak wisatawan yang mencibir hingga menghindari restoran ini karena pemiliknya pasti seorang muslim,” tambahnya.

Tapi, cemoohan itu tak menyurutkan semangat Muhammad Abdullah karena selalu saja ada konsumen yang memasuki restorannya, walau bukan seorang muslim.

“Pilihan kami memang beda, tapi perbedaan kami karena agama dan kami tak takut berbeda karena sebab agama” pungkasnya tegas.*

_______
(Laporan Naspi Arsyad kepada Hidayatullah.or.id, langsung dari rangkaian perjalanan tugas riset lapangan dalam rangka penulisan buku “The Dome of The World” ke Eropa)

Satukan Semangat Qurban untuk Desa-desa di Indonesia

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) – Ekonomi boleh lesu, tapi semangat berqurban justru sampai pada momentum yang sesungguhnya. Sebab, hakikat berqurban adalah berani dan sadar untuk melakukan yang terbaik bagi sesama atas dasar iman kepada Allah Ta’ala.

“Alhamdulillah, di tengah situasi ekonomi yang melemah, semangat berqurban masyarakat tetap stabil. Hal ini jika melihat antusiasme masyarakat menyalurkan qurban via BMH,” ucap Koordinator Qurban Masuk Desa di Indonesia, Tri Winarno.

Sebagian masyarakat mengaku bahwa secara finansial memang ada penurunan. Tetapi, melihat program Qurban Masuk Desa BMH, mereka terdorong untuk bisa berqurban.

“Ya, Alhamdulillah sudah ratusan masuk. Prediksi kami ini akan terus meningkat,” tegasnya.

“Walaupun, sebenarnya ekonomi sekarang memang terasa sekali. Tetapi Qurban Masuk Desa membuat sebagian orang berpikir bahwa di tengah kesulitan finansial yang mereka alami, ada banyak orang yang lebih sulit dari mereka. Merekapun terdorong ikut Qurban Masuk Desa BMH,” imbuhnya.

Qurban Masuk Desa memang program yang fokus menyasar masyarakat desa yang berada di pelosok, pedalaman, kepulauan dan perbatasan.

“Jadi jika hadir niat berqurban, sebaiknya jangan ragu untuk berqurban. Insya Allah kesulitan ini akan berakhir dan Allah mencatat kebaikan bagi kita semua. Bukankah ini momentum yang baik untuk menyatukan niat dan tekad meningkatkan iman dan taqwa sekaligus membahagiakan sesama,” pugnkasnya memberikan himbauan.*/Herim

Tim Penulis Buku “The Dome of The World” Tiba di Vatikan

0
Suharsono dan Naspi Arsyad di sekitar kawasan Vatikan, Italia / Hidayatullah.or.id

VATIKAN (Hidayatullah.or.id) – Anggota Dewan Mudzakarah DPP Hidayatullah yang tengah mempersiapkan penulisan buku “The Dome of The World” saat ini telah tiba di Vatikan, Roma, Republik Italia, Kamis.

Kunjungan itu merupakan rangkaian riset lapangan dalam rangka melengkapi buku yang akan diterbitkan oleh DPP Hidayatullah tersebut dengan menyusuri beragam situs sejarah di daratan Eropa Barat termasuk Italia.

Diketahui, sebagai cerminan akan kekayaan budayanya, Italia adalah rumah bagi 51 Situs Warisan Dunia, merupakan yang paling banyak, dan merupakan negara yang paling banyak dikunjungi kelima di dunia.

Kunjungan riset lapangan ini dilakukan oleh dua orang anggota Dewan Mudzakarah DPP Hidayatullah yaitu Suharsono dan Naspi Arsyad.

Riset yang rencananya berlangsung selama 13 hari ini bertujuan untuk melengkapi buku tersebut dengan berinteraksi langsung dengan data lapangan agar suara buku itu lebih hidup dan mendalam.

Naspi Arsyad kepada media ini mengatakan, pihaknya yang tengah melakukan perjalanan ke Eropa ini selalu ingat pesan yang pernah disampaikan oleh Pimpinan Umum Hidayatullah KH Abdurrahman Muhammad kala melepas rombongan jamaah haji Hidayatullah Balikpapan 2006 silam.

“Jangan sungkan untuk menolong orang lain, terutama dalam perjalanan karena semua orang cenderung suka ditolong. Menolong bukan semata karena agama memerintahkan untuk suka menolong, tapi kelapangan hati orang yang ditolong dapat menjadi sebab urusan kita juga dimudahkan oleh Allah. ” kata Naspi menirukan pesan tersebut.

Nasihat inilah yang menurut Naspi menjadi pegangan tim penulis buku “The Dome of The world” yang tengah melakukan riset ke sejumlah kawasan di Eropa bersama koleganya tersebut.

“Maka sejak kaki penulis menginjak kota pertama dalam rangkaian tugas ini, langsung menawarkan bantuan ke semua rombongan, tak terkecuali sang tour leader,” kisah Naspi.

Tak ayal, pesan tersebut mendorong rombongan sedapat mungkin membantu siapapun dalam rombongan perjalanan yang membutuhkan dalam. Dengan sigap menolong mengambilkan barang bagasi, membawakan koper peserta tour lainnya yang dilakoni dengan spirit nasihat di atas.

“Walhasil, suasana cair tercipta dengan cepat. Maka, jangan menghalangi simpati orang lain dengan sikap peduli yang minim karena tak ada seorangpun yang ingin berada dalam interaksi yang dingin, walau dengan sebab yang tercipta dari sikap kita sendiri,” pungkas Naspi seraya menarik dermarkasi memaknai pesan tersebut. (ybh/hio)

Semarak HUT RI ke-72, Kampus Hidayatullah Murajaah 171717 Bersama TNI

0

GORONTALO (Hidayatullah.or.id) – Sebagaimana sebelum-sebelumnya, Kampus Hidayatullah seluruh Indonesia melakukan Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-72. Tahun ini terbilang lebih semarak.

Di Kampus Hidayatullah Gorontalo, misalnya, digelar kegiatan doa bersama dan murojaah “171717” dalam rangka memeriahkan HUT Kemerdekaan RI. Kegiatan itu digelar bersama dengan TNI Wilayah Koramil 304-03/Kota Barat, Provinsi Gorontalo.

Komandan Kodim 1304 Gorontalo Letkol Inf Dadang Ismail Marzuki mengatakan bahwa memaknai kemerdekaan yang telah dinikmati selama 72 tahun sudah selayaknya untuk bersyukur.

“Tidak hanya di karuniani kemerdekaan, tetapi juga karena dilahirkan sebagai bangsa patriot pertarung dan sekaligus bangsa pemenang,” katanya.

Maksud dari kegiatan tersebut menurut Dandim adalah untuk mensyukuri kemerdekaan yang sudah diraih dan hingga saat ini bangsa Indonesia tetap kokoh dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Dengan Indonesia yang lebih kasih sayang, Indonesia semakin mengasihi dan menyayangi dalam keberagaman. Kita semua tentu juga berdoa semoga kebersamaan dan ikatan yang sangat baik ini akan menjadi landasan yang kokok sekaligus menggelorakan kembali semangat persatuan warga,” tambahnya.

Selain di Kota Gorontalo, doa bersama 171717 juga digelar serentak di tempat-tempat ibadah di daerah kabupaten yang ada di Provinsi Gorontalo.

Tak hanya di Gorontalo.Kegiatan serupa juga digelar di Kampus Hidayatullah Samarinda, Kaltim, yang menggelar murajaah 171717 bersama Makorem 091 ASN Samarinda.

Doa bersama 171717 bertajuk untuk Indonesia yang lebih kasih sayang, dimulai serentak pukul 17.00 WITA sampai dengan 18.00 WITA dan dilanjutkan sholat Magrib berjamaah.

Di Samarinda, terdapat empat lokasi diadakan doa bersama sesuai dengan agama dan kayakinan masing-masing. Di antaranya, bagi umat muslim digelar di masjid Makorem 091/Aji Surya Natakesuma (ASN) dengan tadarus al quran, yang ditutup dengan doa bersama.

Sedangkan, bagi umat nasrani, doa bersama berlangsung di gereja GPIB Immanuel. Sebelum melakukan peribadatan dan doa, umat kristiani terlebih dahulu menyanyikan lagu Indonesia raya, dan lagu 17 Agustus.

Bagi umat Hindu, doa bersama berlangsung di Pura Jagat Hita Kirana. Unat Budha dilaksanakan di Buddihist Center.

Seluruh warga yang ikut doa bersama tersebut tampak khitmad dalam melaksanakan doa, yang diperuntukan bagi Indonesia, sekaligus dalam rangka HUT RI Ke-72 tahun.

Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo, dalam sambutan yang dibacakan Danrem 091/ASN, Brigjen TNI Irham Waroihan menghimbau, sebagai generasi penerus, penikmat kemerdekaan, agar bersama-sama memohon kepada Allah, Yang Maha Pencerah agar menerangi dengan cahaya ilmu dan kearifan.

“Agar kita pandai merawat kemerdekaan, diberikan kekuatan untuk terus menjaga negara kesatuan Republik Indonesia,” tuturnya,

“Dengan Indonesia yang lebih kasih sayang, Indonesia yang makin mengasihi dan menyayangi dalam keberagaman, guna sebagai landasan yang kokoh demi persatuan dan kesatuan,” tutupnya.

Hadir dalam acara tersebut Para Kasi Korem 091/ASN, Kapolresta Samarinda Kombes Pol. Arief Dewanto S. Ik, Dandim 0901/Smd Letkol Kav. M. Arifin, Ketua Forum Kebangsaan Kaltim, Yos Sutomo, Ketua MUI Kaltim Hamri Hazz, Ketua MUI Samarinda Zaini Naim, Tokoh Agama H. Jafar Sidiq, anak yatim piatu Pesantren Ihya Ulumuddin, santri Pesantren Hidayatullah Samarinda, Keluarga Besar Korem 091/Asn dan Aparatur Sipil Negara beserta ibu ibu Persit KCK Korem 091/Asn.

Pesan Panglima

Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo mengharapkan kegiatan doa bersama dan murojaah “171717” dalam rangka memeriahkan HUT Kemerdekaan RI dapat menjadi landasan yang kokoh sekaligus menggelorakan semangat persatuan kesatuan bangsa Indonesia.

“Dengan Indonesia yang lebih kasih sayang, Indonesia yang makin saling mengasihi dan menyayangi dalam keberagaman, kita semua tentu juga berdoa semoga kebersamaan dan ikatan yang sangat baik ini akan menjadi landasan yang kokoh dalam menggelorakan persatuan bangsa,” kata Panglima TNI dalam sambutannya pada acara Doa Bersama dan Murojaah “171717”, di Mabes TNI Cilangkap, Jakarta, Timur, Kamis petang.

Persatuan yang dimaksud adalah persatuan dan kesatuan dalam keberagaman yang sangat indah dan kaya; persatuan dan kesatuan dalam kerangka Bhinneka Tunggal Ika; dan persatuan dan kesatuan untuk mewujudkan cita-cita luhur bangsa Indonesia.

Memaknai kemerdekaan yang telah dinikmati bersama selama 72 tahun sudah sepatutnya untuk disyukuri karena Indonesia tidak hanya dikaruniai kemerdekaan, tetapi juga karena dilahirkan sebagai bangsa patriot petarung dan sekaligus bangsa pemenang.

“Atas karunia inilah, sekalipun harus dicapai melalui perjuangan darah dan air mata segenap anak bangsa kita dapat meraih kemerdekaan,” katanya seperti dilansir Kantor Berita Antara.

Melalui perjuangan anak bangsa yang percaya kepada kemampuan sendiri, dengan senjata apa adanya, seraya menggelorakan semangat gotong-royong, sehingga memunculkan energi sosial yang mengobarkan semangat “Merdeka Atau Mati”.

Energi sosial tersebut, lanjut Gatot, bisa muncul karena mobilisasi kekuatan umat, santri, dan pemuda serta segenap komponen bangsa oleh para Tokoh Agama, Ulama, Kyai, Habaib, Pendeta, Pastor, Pinandita, Biksu dan Tokoh Nasionalis.

“Dilandasi semangat persatuan dan keinginan besar untuk merebut kemerdekaan, para tokoh bangsa, utamanya para tokoh agama, saat itu mampu menjadikan pilihan Merdeka Atau Mati sebagai senjata pamungkas untuk mendobrak belenggu penjajahan dan meraih kemerdekaan, menjadikan bangsa Indonesia sebagai bangsa yang merdeka dan berdaulat di tanah air Indonesia,” katanya.

Menurut dia, kalimat “Atas Berkat Rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan Dengan Didorongkan Oleh Keinginan Luhur” sebagaimana tercantum dalam pembukaan UUD 1945, mengandung arti bahwa kemerdekaan Indonesia dicapai berkat Rahmat Allah yang Maha Kuasa sehingga bangsa Indonesia wajib bersyukur atas nikmat kemerdekaan ini.

“Kita juga harus ingat bahwa kemerdekaan Indonesia direbut atas dorongan keinginan luhur segenap bangsa Indonesia, disertai pengorbanan harta, jiwa dan raga, para syuhada pahlawan kusuma bangsa, karenanya kita juga wajib mendoakan agar Allah melimpahkan Rahmat dan kasih sayangnya kepada para pahlawan kusuma bangsa yang rela berkorban demi ibu pertiwi, berjasa besar dalam meneguhkan kedaulatan negeri,” paparnya.

Sebagai generasi penerus penikmat kemerdekaan, Panglima TNI mengajak agar sama-sama memohon kepada Allah Yang Maha Pencerah agar menerangi bangsa Indonesia dengan cahaya ilmu dan kearifan agar masyarakat Indonesia pandai merawat kemerdekaan, diberikan kekuatan untuk terus menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia, menjaga Pancasila, merawat dan memperkokoh ke-Bhinneka Tunggal Ika-an, serta menggelorakan tradisi semangat gotong royong.

“Pada saat yang sama, kita juga memohon agar selalu dianugerahi kekuatan, kesabaran, ketekunan dan kasih sayang dalam mewujudkan Indonesia yang mandiri, berdaulat, berkepribadian serta adil dan makmur bagi seluruh rakyat indonesia,” tuturnya.

Panglima mengemukakan hari ini tidak saja menjadi bagian dari rasa suka cita bersama dalam memperingati 72 tahun Kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia, tetapi yang lebih penting lagi dengan kehadiran kita bersama di tempat ini dan juga di ribuan tempat di seluruh penjuru tanah air, kita meneguhkan sikap bersama sekaligus menggelorakan semangat bagi terwujudnya Indonesia yang lebih kasih sayang.

Sekitar 8.500 orang memadati lapangan Plaza Mabes TNI Cilangkap, Jakarta Timur, Kamis petang, untuk mengikuti doa bersama “171717” (tanggal 17 Agustus pukul 17.00 tahun 2017) dalam rangka memeriahkan HUT Ke-72 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Pantauan Antara, di Mabes TNI, sejak pukul 16.00 WIB ribuan prajurit TNI dan masyarakat sipil berbondong-bondong datang untuk mengikuti doa bersama yang bertemakan “Indonesia Lebih Kasih Sayang”.

Diperkirakan jumlah orang yang mengikuti doa bersama yang digagas oleh Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo di Mabes TNI mencapai 8.500 orang, yang terdiri dari prajurit TNI, tokoh agama, para hafidz Quran, santri dan PNS TNI. Tampak Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Maruf Amin duduk mendampingi Panglima TNI.

Selain di Lapangan Plaza TNI, ada beberapa titik yang dijadikan tempat untuk menggelar doa bersama bagi agama lain. Untuk masyarakat, prajurit TNI dan PNS TNI yang beragama Kristen Protestan dan Katholik mengelar doa bersama di Plaza Mabes TNI AU.

Umat beragama Hindu menggelar doa bersama di Pura Ade Shaka Dharma Mabes TNI Angkatan Laut, dan umat Budha doa bersama di Gedung Balai Wartawan Puspen TNI Cilangkap, Jakarta Timur. Doa bersama dan murojaah akan dilakukan selama satu jam, mulai pukul 17.00 WIB hingga 18.00 WIB.

Bagi yang beragama Islam khusus para Hafidz/penghafal Al-Quran untuk Khataman bersama, sedangkan yang beragama Kristen, Katholik, Hindu, Budha dan Konghucu dipimpin oleh pemuka agama masing-masing.(ybh/hio)

Jenguklah Orang yang Sakit dan Doakan, Ada Limpahan Pahala

0

Hidayatullah.or.id – Inilah bagian dari adab Islam bagi seluruh Muslim, kecuali dokter karena kontak langsungnya dengan pasien. Namun, walaupun memiliki pengecualian berdasarkan pekerjaannya, dokter juga harus mematuhi adab ini karena termasuk dalam hak seorang Muslim atas Muslim lainnya. Untuk itu dokter dapat melakukan pekerjaannya dalam cara yang paling sempurna.

Membesuk orang sakit adalah kebiasaan Nabi Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam. Ini merupakan adab Islam karena Nabi memerintahkan untuk itu. Beliau juga membicarakan tentang kebaikan dan pahalanya.

Al-bara’ bin ‘Azib r.a. berkata, “Nabi Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam memerintahkan kami melakukan tujuh hal dan melarang kami melakukan tujuh hal. Beliau memerintahkan kami menjenguk orang sakit.” (HR. Muttafaquh ‘alaih)

Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

“Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan berfirman pada Hari Kebangkitan, ‘Wahai anak Adam, Aku sakit dan engkau tidak menjenguk-Ku.’ Manusia akan bertanya, ‘Wahai Tuhanku, bagaimana aku bisa menjenguk-Mu padahal Engkau adalah Tuhan Semesta Alam?’ Allah akan berfirman: ‘Tidakkah kamu tahu hamba-Ku si fulan sakit tetapi kamu tidak menjenguknya, niscaya kamu akan menjumpai-Ku bersamanya? Wahai anak Adam, Aku minta makan kepadamu dan kamu tidak memberi-Ku makan.’ Manusia akan berkata, ‘Wahai Tuhan, bagaimana aku bisa memberi-Mu makanan sedangkan Engkau Tuhan Seluruh Alam?’ Allah berfirman, ‘Tidak tahukah kamu kalau kamu memberikannya makanan, kamu akan mendapati itu bersama-Ku? Wahai anak Adam, Aku minta air kepadamu dan kamu tidak memberi-Ku air minum?’ Manusia berkata, ‘Wahai Tuhan, bagaimana aku bisa memberi-Mu minum sedangkan Engkau Tuhan Seru Sekalian Alam?’ Allah berfirman, ‘Hamba-Ku si fulan meminta air kepadamu dan engkau tidak memberinya air minum. Andai kamu memberinya minum kamu akan mendapati itu bersama-Ku.” (HR. Muslim)

Diriwayatkan dari Tsauban r.a. bahwa Nabi bersabda, “Barangsiapa menjenguk orang sakit, akan kekal di sebuah taman firdaus.’ Seseorang bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah taman Firdaus itu?’ Rasulullah menjawab, ”Buah-buahan surga.”

Disunnahkan bagi orang yang membesuk untuk berdoa bagi kesembuhan bagi si sakit. Mendoakan kesembuhan si sakit merupakan kata-kata yang baik dan sarana penghibur baginya, sekaligus mengingatkannya agar berharap kepada Allah.

Sebab, hanya Dia-lah yang mampu menyingkirkan penyakit dan memberikan kesembuhan. Dengan cara demikian orang yang sakit akan merasa lebih tenang.

Diriwayatkan dari Aisyah r.a. bahwa ketika Rasulullah menjenguk orang sakit, beliau berdoa,

“Hilangkanlah penderitaan, wahai Tuhan seluruh umat manusia. Sembuhkanlah ia, sebab Engkaulah Sang Maha Penyembuh. Tidak ada yang dapat menyembuhkan selain penyembuhan darimu, penyembuhan yang tidak menyisakan satu pun penyakit.”

Rasulullah memberikan teladan dalam menjenguk orang sakit. Entah orang yang menjenguk itu dokter, kerabat, atau teman, pengunjung tidak boleh mengatakan di depan pasien sesuatu yang bisa membuatnya ketakutan atau putus asa. Sebaliknya, mereka harus mengatakan hal-hal yang dapat menenteramkan atau membuatnya merasa bahagia.

Diriwayatkan bahwa Ummu Salamah r.a. berkata, “Rasulullah saw bersabda, ‘Jika kamu menjenguk orang sakit atau orang yang sedang sekarat, katakanlah hal-hal yang baik. Karena para malaikat mengaminkan apa pun yang kamu katakan.” (HR. Muslim)

Islam menaruh kepedulian pada upaya menenteramkan orang sakit dan meningkatkan harapan bagi kesembuhannya. Ibnul Qayyim mengomentari sabda Nabi Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam, “Untuk setiap penyakit ada penyembuhannya.”

Hadist tersebut memperkuat moral pasien dan dokter, serta mendorong mereka untuk mengupayakan penyembuhan agara orang sakit keputusasaannya berkurang.

Karena itulah kita memahami bagaimana Islam mengubah menjenguk orang sakit dari kunjungan sosial singkat menjadi penyembuhan spiritual yang membangkitkan semangat pasien dan menguatkan harapan kesembuhannya. Selain itu sebagai wujud kepedulian dan dukungan bagi pasien dan keluarganya. Wallahu a’lam.

_______
*) Sudirman, mahasiswa STAIL Hidayatullah Surabaya. Sumber referensi: Panduan Pengobatan Islami oleh Yusuf Al-Hajj Ahmad