Beranda blog Halaman 559

Layanan Hapus Tato Keliling Gerak Bareng Disambut Hangat

0

JAKARTA (Hidayatullah.oir.id) – Gerak Bareng Community bekerja sama dengan Islamic Medical Service (IMS) dan DPP Hidayatullah menyelenggarakan program layanan hapus tato. Selain kota lain, sebelumnya telah dilakukan di Masjid Istiqomah, Citarum, Bandung Wetan, Jawa Barat, Sabtu (12/08/2017).

Program amal ini sangat diminati dan disambut hangat masyarakat. Panitia bahkan sampai dibanjiri pendaftar yang memang masih dibatasi sehingga harus sabar menunggu antrian.

Kegiatan sosial yang juga didukung beberapa komunitas seperti Pemuda Istiqomah, Komunitas Dakwah dan Sosial (KODAS) serta Berani Hijrah itu digelar berkeliling, tidak hanya di Bandung.

“In syaaAllah, kita akan melakukan roadshow layanan hapus tato ini. Setelah dari Bandung, kita adakan di Banyumas, Yogyakarta, dan Surabaya,” jelas Penggagas Layanan Hapus Tato yang juga Founder Gerak Bareng Community, Ahmad Zaki, saat berbincang dengan hidayatullah.com.

Zaki bersyukur, antusias peserta yang ingin mengikuti layanan hapus tato untuk wilayah Bandung sangat besar sekali. Peserta yang hadir tak hanya dari Bandung, tapi juga Sukabumi, Tasikmalaya, Cileunyi, Cicalengka, dan sebagainya. Peserta terjauh datang dari Lampung.

“Untuk di Bandung, yang mendaftar lebih dulu ada sekitar 30 an. Peserta on the spot (yang datang langsung ke lokasi) juga lumayan banyak,” ujar Zaki.

Tapi, peserta yang diutamakan lebih dulu adalah mereka yang mendaftar sebelum hari H layanan hapus tato digelar. Kecuali, masih kata Zaki, untuk jadwal roadshow di Banyumas, Yogyakarta, dan Surabaya, yang akan dilayani adalah peserta yang terdaftar saja.

Karena itu, Zaki menyarankan kalau ada yang berminat ingin menjadi peserta layanan hapus tato ini, agar mendaftarkan diri kepada panitia.

Sebab, lanjut Zaki, masih ada tiga kota yang akan dikunjungi panitia penyelenggara. Lantas, apa persyaratannya?

“Cukup menyetor hafalan Surat Ar-Rahman saat dilakukan tembak laser untuk hapus tato. Itu juga bisa dicicil kok. Enggak harus setor langsung sampai selesai. Hapus tato enggak bisa sekali selesai. Bisa 5 sampai 15 kali tembak laser. Di situ, peserta bisa mencicil setoran hafalan,” terang Zaki.

Program sosial untuk setiap muslim itu tidak dipungut biaya. Mereka yang memiliki tato di tubuhnya dan berminat menghapusnya hanya disyaratkan menghafal Alquran Surah Ar rahman dan berkomitmen benar-benar ingin menghapus tatonya serta tidak ditato lagi di kemudian hari.

“Baik dari keluarga miskin ataupun kaya, asalkan mereka mau memenuhi persyaratan itu kita siap melayani penghapusan tatonya” kata Zaki. (hio/rls)

SAR Hidayatullah Kibarkan Bendera Merah Putih di Jembatan Berusia Seabad

DEPOK (Hidayatullah.or.id) – Sebagaimana tahun sebelumnya, Tim Search and Rescue (SAR) Hidayatullah kembali menggelar peringatan 17 Agustus. Kali ini bersama dengan Komunitas Peduli Ciliwung Depok akan memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia dengan kegiatan unik.

Kegiatan berbeda tersebut yaitu mengibarkan bendera Merah Putih di tempat bersejarah di Kota Depok yakni Jembatan Panus pada Kamis (17/8/2017) pagi.

Kepala SAR Hidayatullah Pusat Syaharuddin Yusuf mengatakan pengibaran bendera Merah Putih di salah satu situs sejarah Kota Belimbing tersebut sebagai momentum menumbuhkan dan merawat semangat patriotisme.

“Jembatan Panus tentu tidak sekedar peninggalan Belanda yang dibangun jauh sebelum Indonesia merdeka. Jembatan Panus juga menarik kita untuk melakukan refleksi sejarah bahwa bangsa kita ini sungguh luar biasa istimewa. Mari kita jaga selalu,” kata Syaharuddin kepada media ini di sela-sela pemasangan bambu pionering di lokasi, Selasa (15/08/2017).

Diketahui jembatan Panus dibangun pada tahun 1917 oleh seorang insinyur Belanda bernama Andre Laurens. Pada masa pemerintahan Belanda, jembatan ini merupakan satu-satunya jembatan penghubung antara Depok dengan Bogor dan ke Batavia.

Saat ini Jembatan Panus memiliki fungsi sebagai pemantau naiknya debit kiriman air dari Bogor saat musim penghujan. Hal ini dikarenakan, salah satu kaki jembatan itu digunakan sebagai tiang ukur memantau ketinggian air untuk mewaspdai banjir saat musim penghujan, khususnya bagi kepentingan warga Jakarta.

Sama halnya dengan bangunan peninggalan Belanda lainnya, jembatan ini tetap kokoh berdiri padahal sering dihantam banjir hingga kini.

Kata Syahar, Komunitas Peduli Ciliwung Depok yang menggandeng SAR Hidayatullah akan menggelar pengibaran bendera Merah Putih ini pada Kamis, 17 Agustus 2017 jam 07.30 di jembatan tersebut bertepatan dengan Peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke-72 17 Agustus 2017 yang mengusung motto “Indonesia Kerja Bersama”.

Bendera Merah Putih akan dibawa menyusuri Sungai Ciliwung sejauh tiga kilometer dari titik awal keberangkatan di Jembatan Grand Depok City (GDC), Sukmajaya, Depok. Pengibaran bendera akan diikuti oleh warga, komunitas, pelajar, dan mahasiswa.

Rencannya sebanyak 20 orang bocah Ciliwung akan berenang di Sungai Ciliwung Depok mengiringi tim pengibar bendera, dari dermaga Kota Kembang Grand Depok City menuju tempat upacara pengibaran bendera di atas jembatan bersejarah, Jembatan Panus, Jalan Siliwangi, Depok Lama yang tahun ini seabad usianya (1917-2017).

Menurut perwakilan Komunitas Peduli Ciliwung, Taufik DS , pengibaran bendera Merah Putih di area Sungai Ciliwung ini merupakan penyelenggaraan kali keempat. Tiga tahun sebelumnya, pengibaran bendera selalu dilakukan di aliran Sungai Ciliwung tepatnya di bawah Jembatan Grand Depok City.

“(Acara) ini tentu saja terbuka untuk umum. Peserta silakan datang lebih awal untuk melihat kedatangan rombongan pengibar bendera menggunakan perahu karet diiringi formasi 20 orang body rafter cilik. Karena areal badan jembatan minum target peserta 200 orang saja,” ujarnya dikutip Kompas.

Taufik menyebutkan, bendera Merah Putih akan dibawa oleh tiga orang pengibar bendera asal SMA 3 Depok dan SMA 4 Depok ditemani empat orang pendayung dari tim SAR Hidayatullah.

Sementara, perahu kedua diisi oleh tiga siswa pembawa naskah dari SMA 8 Depok didampingi 4 orang pedayung dari organisasi Mahasiswa Pencinta Alam Universitas Indonesia (Mapala UI).

“Selama pengarungan kedua perahu dikawal 20 orang body rafter menggunakan tubing. Mereka start dari basecamp KCD di Kota Kembang/GDC dan berakhir di kaki Jembatan Panus. Selanjutnya memasuki lapangan upacara di atas badan Jembatan Panus yang tahun ini memasuki usia seabad,” tambah Taufik.

Taufik mengatakan selama menunggu kedatangan tim perahu, tim marching band akan menghibur masyarakat di area Jembatan Panus. Kedatangan tim perahu dari Grand Depok City di Jembatan Panus diperkirakan 30 menit.

“Tahun ini benda bersejarah itu (Jembatan Panus) berusia satu abad, di samping melaksanakan visi KCD yaitu mengajak masyarakat kampung yang dilewati aliran Ciliwung melakukan kegiatan dalam menjaga dan merawat Ciliwung di wilayahnya, minimal mempertahankan sempadan sungai sebagai daerah konservasi,” katanya.

Komunitas Ciliwung Depok adalah kumpulan relawan yang bergerak independen dengan dasar keresahan karena semakin meluasnya kerusakan di aliran Sungai Ciliwung bagian tengah.

Kerusakan Sungai Ciliwung akibat alih fungsi sempadan, pengerukan empang dan setu, pembuangan limbah pabrik dan rumah potong ternak termasuk membuang sampah di sungai.

Bersama berbagai kalangan lainnya termasuk SAR Hidayatullah, Komunitas Peduli Ciliwung Depok terus melakukan gerakan merawat sungai Ciliwung dan aktif mengkampanyekan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan. (ybh/hio)

Hidayatullah Penajam Gandeng Polisi untuk Perangi Narkoba

0

PENAJAM PASER UTARA (Hidayatullah.or.id) – Peredaran berbagai jenis narkoba saat ini semakin mengerikan yang kian mengancam sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Menyadari akan bahaya tersebut, Dewan Pengurus Daerah Hidayatullah bekerjasama dengan Kampus Hidayatullah Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) menggandeng pihak kepolisian guna melakukan sosialisasi dalam rangka memerangi musuh bersama tersebut.

Seperti beberapa waktu lalu, ratusan murid Pondok Pesantren Hidayatullah Desa Giri Mukti Kecamatan Penajam mengikuti sosialisasi bahaya narkotika yang disampaikan langsung tim Binmas Polres PPU.

Diungkapkan Kepala Satuan Pembinaan Masyarakat (Binmas) Kepolisian Resor (Polres) Penajam Paser Utara (PPU) AKP Juhari, pihaknya terus berkomitmen untuk meningkatkan pengetahuan pelajar tentang bahaya narkoba dengan menggencarkan kegiatan sosialiasi.

Hal ini mengingat jumlah pengguna narkoba yang kian meningkat, dan sangat membahayakan generasi muda terutama kalangan pelajar.

Sebab, terang dia, narkoba dipastikan merusak masa depan generasi penerus bangsa. Selain mempengaruhi secara fisik dan mental, juga berbahaya bagi kesehatan.

“Mari kita bersama menjauhi narkoba. Lakukan hal positif yang dapat menjauhkan kita dari penyalahgunaan obat terlarang, guna meraih cita-cita yang kita dambakan”, ujar AKP Juhari dalam sosialisasi tersebut.

Ia pun menekankan seluruh pelajar untuk tidak sekalipun mencoba barang haram tersebut, karena biasanya keinginan untuk mencoba akan menjadi awal terjerumusnya seseorang menjadi pengguna ataupun pencandu.

“Sosialisasi bahaya narkoba ini gencar kami laksanakan, sebab pelajar sangat rentan dalam menyalahgunakan obat-obat terlarang,” lanjutnya.

Juhari menerangkan, di usia muda, mayoritas pelajar sebagi pelaku penyalahgunaan narkoba, dikarenakan faktor coba-coba. Meski sudah tahu hal tersebut sangat merugikan dan dan membahayakan kesehatan.

Senada, Kapolres PPU AKBP Teddy Ristiawan mengatakan pihaknya terus berupaya menekan jumlah pengunaan dna peredaran nerkotika melalui berbagai upaya. Mulai upaya represif melalui penangkapan terhadap pengguna maupun pengedar, maupun upaya preventif dengan menggencarkan sosialisasi ke sekolah.

Harapannya, upaya ini dapat memberantas habis pengguna narkoba khususnya diwilayah Kabupaten Penajam Paser Utara.

“Semoga kegiatan ini dapat memberikan wawasan bagi para pelajar, dan mereka bisa mensosialisasikan kepada teman sekolah maupun lingkungan sekitarnya tentang bahaya penyalahgunaan obat-obatan terlarang ini”, ungkapnya. (sh/ybh)

Dirjen Bimas Islam: Program Hidayatullah Tidak Diragukan

0

BATAM (Hidayatullah.or.id) – Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam (Bimas Islam) Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI) Prof Dr H. Muhammadiyah Amin mengapresiasi peran pembangunan ormas Hidayatullah dan memuji perkembangannya yang pesat di seluruh Indonesia.

“Yayasan Hidayatullah ini semuanya sudah diakui, baik perizinan dan pelaporannya. Sehingga bagi kami Hidayatullah sudah tidak diragukan lagi progam-progamnya,” kata Muhammadiyah Amin.

Hal itu disampaikan Dirjen Bimas Islam Kemenag RI dihadapan ratusan masyarakat Kota Batam ketika meresmikan Asrama Pesantren Tahfidz Ar-Rahman Putra Kampus III Hidayatullah Batam, Kepulauan Riau, Sabtu(12/08/2017).

Bagi Muhammadiyah Amin, Hidayatullah tak asing lagi. Apalagi, kata dia, yayasan Hidayatullah sudah menyebar ke seluruh Indonesia.

Selain meresmikan Asrama Kampus III Hidayatullah, Muhammadiyah Amin juga melakukan seremoni peletakan batu pertama pembangunan Masjid Abdullah Said di pesantren takhassus tersebut.

“Silakan Hidayatullah kirim proposalnya hari ini juga, jika bisa. Insyaallah kami tak akan diam,” ungkapnya setengah berseloroh dengan bersemangat meskipun hujan mengelilingi panggung acara.

Sementara itu, Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, Ust Nashirul Haq mengatakan dalam sambutannya, bahwasanya Hidayatullah Batam dalam usianya berkembang sangat signifikan.

Beliau menyebutkan, dari kampus I untuk putra, kampus II khusus putri dan kini kampus III yang difokuskan melahirkan calon-calon penghafal Al-Qur’an yang insya allah akan membumikan Kota Batam.

“Usia yang masih muda ini, Hidayatullah Batam berkembang pesat,” katanya.

Ustadz Jamaluddin Nur yang merintis Hidayatullah Batam, urai Nashirul Haq, mengambil spirit dari Pimpinan Umum Hidayatullah terkait bagaimana seharusnya mencetak dan melahirkan gerakan kader progresif, revolusioner dan generasi pemikul amanah yang sesungguhnya.

“Secara keseluruhan, terbukti Batam sudah memiliki ratusan generasi muda yang berbakat dan bermanfaat untuk umat kelak,” kata Ust Nashirul.

Sementara itu, sebagai tuan rumah, pembina Hidayatullah Batam Ust Jamaluddin Nur menyatakan, adalah keinginan kuatnya untuk melejitkan kampus pesantren tahfidz dari pandangannya melihat banyaknya pemuda-pemuda yang menetapkan diri di Hidayatullah.

“Insya Allah, kampus III ini diprioritaskan untuk kampus bahasa Inggris, bahasa Arab dan menyelami al-Qur’an,” cetus pria kelahiran Jeneponto, Sulawesi Selatan tersebut.

Dalam acara peresmian Pesantren Tahfidz Ar-Rahman Putra Kampus III Hidayatullah Batam ini turut dihadiri Gubernur Provinsi Riau Arsyadjuliandi Rachman, perwakilan Walikota Batam, sesepuh Hidayatullah dan tokoh-tokoh masyarakat Batam juga ratusan santri-santriwati Pesantren Hidayatullah Batam.

Sarasehan IV

Berbarengan dengan acara peresmian tersebut, Kampus Hidayatullah Batam sekaligus juga kembali menjadi tuan rumah helatan Sarasehan IV Pendiri dan Perintis Hidayatullah dengan tema “Menggali Pemikiran dan Kiprah Abdullah Said”.

 

Acara ini bertempat di Kampus II Tanjung Uncang, Batam, Kepulauan Riau, dan berlangsung selama tiga hari.

Dalam pembukaan acara silaturrahim tokoh-tokoh senior Hidayatullah ini, Ketua Yayasan Jamaluddin Noor mengatakan, ide dan pemikiran pendiri Hidayatullah Ustadz Abdullah Said, sangat berharga, sehingga perlu upaya untuk mewariskan hal itu kepada kita generasi pelanjut.

“Gagasan besar beliau tidak bisa dibeli dengan harga berapapun. Maka, dari pendiri dan perintis gagasan itu harus digali,” jelasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, Nashirul Haq, menyampaikan tujuan dari acara ini yaitu untuk merekam pemikiran dan kiprah Abdullah Said.

“Umat akan bertanya, seperti apa konsep perjuangan Hidayatullah? Pertanyaan ini tidak bisa dijawab spontan hanya mengandalkan fakta lapangan. Harus ada sistem penjelas yang berasal dari penggagasnya,” jelasnya.

Acara yang diadakan di Gedung Asia Raya Ormas ini, dihadiri Pimpinan Umum, serta seluruh pendiri dan perintis ormas Hidayatullah. */Andre Rahmatullah

Lantik Pengurus, Hidayatullah Menggala Kuatkan Program Mainstream

TULANG BAWANG (Hidayatullah.or.id) – Dalam rangka meningkatkan kualitas gerakan mainstrem Hidayatullah yakni pendidikan dan dakwah, DPW Hidayatullah Lampung lakukan penguatan pengurusan di Hidayatullah Menggala Tulang Bawang.

Pada hari Jumat, 11 Agustus 2017 ini Ketua DPW Hidayatullah Lampung Ahmad Thaifur Bustami melantik Ahmad Syarif sebagai ketua dan Rahmat Gurdam sebagai Sekretaris menahkodai Hidayatullah Menggala, Tulang bawang, Lampung.

Pelantikan yang dilakukan di Aula Pertemuan Pesantren Hidayatullah Menggala itu turut disaksikan oleh Ust Muhammad Nawir dan Ust Edi selaku anggota dewan pembina.

Turut hadir dalam pengukuhan tersebut, Anggota Dewan Mudzakarah Hidayatullah Ust Naspi Arsyad serta para guru dan staf Hidayatullah Menggala Lampung.

Ust Thaifur dalam sambutannya mengatakan pelantikan pengurus yayasan diharapkan menjadi mata rantai sa’i dalam mewujudkan proses pengelolaan pesantren yang lebih baik.

“Hidayatullah hadir untuk menjadi alternatif kesejukan bagi hidup umat Islam. Maka pengurus harus mampu melakoni amanah kepemimpinan dengan tujuan mulia ini,” kata Thaifur yang juga Ketua Dewan Pembina Hidayatullah Menggala.

Di momen yang sama, Naspi Arsyad yang didaulat memberikan taushiah mengingatkan akan pentingnya tugas pemimpin.

“Di antara tugas pemimpin adalah himaayah ad dun-yaa wa hiraasah ad Diin, menjaga kelestarian alam dan menegakkan hukum agama,” kata Naspi.

Maka, lanjut Naspi menegaskan, penegakan nilai-nilai agung tentang adab dan ajaran Islam di kampus-kampus Hidayatullah adalah tujuan mutlak yang harus diwujudkan oleh para stakeholders pesantren-pesantren Hidayatullah.

Pengasuh Pondok Pesantren Al Humaira-Sukabumi ini juga mengingatkan peran prinsip hati yang lapang bagi seorang pemimpin.

“Jangan mudah sempit hati. Jangan cepat menjatuhkan vonis. Jangan terpancing prasangka negatif yang akibatnya bisa menjauhkan seorang pemimpin dari orang-orang di sekelilingnya,” kata anak muda mantan Ketua Umum PP Syabab Hidayatullah ini.

Naspi pula mengingatkan bahwa seorang pemimpin juga harus menjaga semangat yang dipimpinnya dengan tidak membuat statement yang melemahkan.

“Hindari kata ‘masalah’ ‘buah simalakama’, dan ganti dengan kata positif yang memancing semangat kerja. Kata masalah diganti dengan tantangan, misalnya,” imbuh Naspi memungkasi. (ybh/hio)

Gandeng Ormas Islam, Bank Muamalat Bertumbuh Positif

0
Ilustrasi: Penandatanganan kerjasama Hidayatullah dengan Bank Muamalat / dok

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) – PT Bank Muamalat Indonesia Tbk (Bank Muamalat) semakin serius menggandeng organisasi massa (ormas) Islam untuk diajak bekerjasama dalam layanan perbankan.

Hal tersebut tampak dari intensitas kerjasama yang dilakukan Bank Muamalat dengan ormas-ormas besar Islam di Indonesia, seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Hidayatullah dan ormas Islam lainnya.

Kerjasama itu mencakup banyak hal, mulai dari aktivasi penggunaan produk dan jasa layanan perbankan, pengelolaan kas (cash management) serta pemberian fasilitas pembiayaan.

Khusus fasilitas pembiayaan disediakan bagi pembangunan sarana pendidikan dan pembangunan rumah sakit yang dikelola oleh ormas-ormas Islam tersebut dan pembiayaan lainnya. Nilai line facility pembiayaan yang disediakan Bank Muamalat berkisar mulai Rp 500 miliar hingga Rp 1 triliun.

“Menjalin hubungan yang kuat dengan ormas-ormas Islam adalah sebuah langkah strategis yang kami ambil. Hal ini merupakan salah satu langkah terbaik demi melanjutkan metamorfosa perusahaan menjadi entitas bisnis yang semakin baik, kuat dan bisa mencapai pertumbuhan jangka panjang,” kata Direktur Utama Bank Muamalat Indonesia Endy Abdurrahman, dikutip laman Kontan, Rabu (9/8/2017).

Direktur Bisnis Korporasi Bank Muamalat Indra Y. Sugiarto menambahkan, kerjasama dengan ormas-ormas Islam merupakan langkah strategis dalam meningkatkan porsi financing dan funding.

Menurutnya ormas-ormas Islam tersebut membutuhkan pembiayaan yang cukup besar untuk mengembangkan lembaga pendidikan atau rumah sakit serta pengembangan usaha lainnya.

“Kerjasama ini menguntungkan bagi kedua belah pihak. Bagi Bank Muamalat risiko pembiayaan kepada ormas-ormas tersebut, maupun lembaga yang terafiliasi dengan ormas tersebut, cukup rendah. NPF (non-performing financing) sebesar nol persen, dan kami juga melakukannya dengan prudent,” jelas Indra.

Selain itu, menurut Indra, kerjasama dengan ormas Islam tersebut merupakan salah satu langkah yang efektif untuk mengakuisisi nasabah baru.

Dari kerjasama tersebut, Bank Muamalat mencatat pertumbuhan financing dan funding cukup menggembirakan. Secara year to date per semester I 2017, financing atau pembiayaan Bank Muamalat tumbuh sebesar 33,44% atau Rp 427 miliar dari angka Rp 320 miliar di akhir 2016.

Demikian pula dengan funding atau pendanaan yang bertumbuh sebesar 12% atau sebesar Rp 112 miliar, dari Rp 936 miliar menjadi Rp 1,04 triliun.

Bank Muamalat hingga akhir 2017 menargetkan financing untuk Islamic institution sebesar 100% dan funding kasa bertumbuh sebesar 50% dari sekitar Rp 900 miliar menjadi Rp 1,4 triliun.

Bank Muamalat optimistis, financing dan funding akan terus bertumbuh karena belum semua anggota ormas Islam tersebut menggunakan layanan perbankan syariah dari Bank Muamalat. Menurut estimasi Indra, baru 5% dari potensi bidang usaha NU yang menggunakan layanan Bank Muamalat.

Lainnya 6%-7% dari total potensi financing amal usaha Muhammadiyah yang sudah berbank dengan Bank Muamalat dan baru 10% dari total potensi financing Hidayatullah yang menggunakan layanan perbankan Bank Muamalat.

Indra menambahkan, Bank Muamalat ke depannya akan menargetkan perluasan pasar melalui kerjasama dengan ormas Islam lain serta akan turut menyasar Lembaga Amil Zakat (LAZ) pusat dan daerah.

“Lembaga-lembaga ini memiliki potensi besar sebagai partner kami untuk menampung dana zakat dari umat,” pungkas Indra. (ybh/hio)

Program Pendidikan Ulama Zuama Akan Dimulai Bergulir

Ketua Bidang Tarbiyah DPP Hidayatullah Drs. Tasyrif Amin, M.Pd.I

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) – Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah terus melakukan pematangan dan pemantapan penyelenggaraan program Pendidikan Ulama Zuama (PUZ) Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Hidayatullah Balikpapan yang, insya Allah, akan dimulai pada tahun ajaran baru tahun ini.

Ketua Bidang Tarbiyah DPP Hidayatullah Drs. Tasyrif Amin, M.Pd.I mengatakan PUZ merupakan program khusus yang dicanangkan oleh STIS Hidayatullah Balikpapan bagi mahasiswa yang memiliki kompetensi tersebut.

“Masih terus dilakukan pemantapan. Insya Allah tahun ajaran baru ini sudah dimulai,” kata Tasyrif Amin kepada media ini dalam perjalanannya menuju Balikpapan, Kamis (10/08/2017).

Beliau menyebutkan, saat ini telah terjaring mahasiswa yang telah siap dan dinyatakan lolos seleksi untuk mengikui program tersebut.
“Peserta umumnya adalah mahasiswa penghafal Al Qur’an dan memang sudah memiliki dasar bahasa Arab yang memadai,” tukasnya.

Tasyrif mengatakan program tersebut sejatinya merupakan amanat Munas 2015 lalu yang terus digodok oleh DPP hingga penunjukan STIS sebagai penyelenggara PUZ sekarang.

Sesuai namanya, program PUZ ini diharapkan menjadi wadah bagi mahasiswa Muslim yang ingin menguasai Ulumuddin (ilmu agama) lebih dalam serta punya jiwa pemimpin.

Program unggulan tersebut akan menempati lokasi perkuliahan di Pesantren Tahfizh al-Qur’an Ahlus Shuffah, Gunung Binjai, Balikpapan, Kalimantan Timur.

Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Hidayatullah Dr Abdurrohim, mengatakan kehadiran pendidikan ulama pemimpin diharapkan menjadi jawaban atas kerinduan masyarakat dipimpin oleh orang-orang yang memang layak menjadi pemimpin.

“Ulama itu harus jadi panutan sekaligus penggerak di masyarakat. Sedang jadi pemimpin itu hendaknya yang paham agama,” ungkap doktor bidang pendidikan tersebut.

Sejalan dengan visi PUZ, Abdurrohim menyebutkan raw input mahasiswa sekurangnya menghafal minimal 5 Juz al-Qur’an, menghafal hadits Arbain, dan menguasai bahasa Arab sebagai keterampilan untuk menelaah sejumlah literatur dan referensi lainnya.

Lebih jauh, terang dia, hadirnya program unggulan PUZ STIS adalah rangkaian upaya sungguh-sungguh Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah untuk melahirkan kader dakwah yang berkarakter ulama dan berjiwa pemimpin. (ybh/hio)

Syabab Hidayatullah Belajar Pada Pemuda Muhammadiyah

SURABAYA (Hidayatullah.or.id) – Pengurus Wilayah Syabab Hidayatullah Provinsi Jawa Timur melakukan anjangsana silaturrahim dengan Pimpinan Wilayah Pemuda Hidayatullah Jawa Timur di kantor Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur Jl. Kertomenanggal IV No.1, Dukuh Menanggal, Gayungan, Kota Surabaya, beberapa waktu lalu.

Ketua Pengurus Wilayah Syabab Hidayatullah Jawa Timur Ahmad Syahri Sauma dalam pertemuan tersebut mengatakan selain dalam rangka menjalin silaturrahim dan merekatkan ukhuwah, pihaknya juga ingin menimba ilmu kepada organisasi kepemudaan Muhammadiah yang secara usia jauh lebih tua dari organisasi yang dinahkodainya.

“Jadi boleh dikata, Pemuda Muhammadiyah ini kakek bahkan buyut dari kami. Karena itu, kami ingin banyak menyerap ilmu dari saudara kami,” jelas Syahri yang turut didampingi jajarannya.

Dalam pertemuan itu pula dibahas beragam isu-isu kekinian, seperti politik dan ekonomi yang tengah berkembang di masyarakat khsusnya tema-tema yang sekaitan dengan isu kepemudaan.

Dalam sambutannya Ketua Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah (PWPM) Jawa Timur Mukayat Al Amin mengapresiasi langkah pengurus Syabab bertandang ke kediaman mereka.

“Silaturrahim ini adalah langkah positif, karena bisa menjalin persaudaraan, tali silaturrahim antar gerakan pemuda Islam,” ungkap mantan Ketua Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Fakultas Dakwah IAIN Sunan Ampel Surabaya ini.

Hanya dengan modal ini pula, sambung sosok yang juga mengajar di Universitas Muhammadiah ini, kejayaan Islam akan terajut. Musuh tidak akan mudah memevah-belah ummat, seperti yang terjadi saat ini.

“Moga silaturrahim ini terus belanjut. Demikian juga dengan ormas kepemudaan yang lain, sehingga semakin solid,” ungkapnya.*/ Khairul Hibri

“Dai Hidayatullah Jadilah Pencerah di Tengah Umat”

SURABAYA (Hidayatullah.or.id) – Dai Hidayatullah harus menjadi penengah dan pencerah di mana saja dia mengemban amanah pengabdian dakwah di masyarakat. Tidak ekstrim kanan, tidak ekstrim kiri dan tidak pula liberal.

“Jadilah dai pencerah. Asalnya, Islam adalah mencerahkan siapa saja. Alhamdulillah selama ini kader kader Hidayatullah selalu diterima di tengah umat,” kata Ketua Umum DPP Hidayatullah Ust Nashirul Haq, MA.

Hal itu disampaikan beliau berpidato dalam Rapat Terbuka Senat Sekolah Tinggi Agama Islam Luqman Al Hakim (STAIL) Wisuda Sarjana dan Penugasan Kader Dai Nusantara, Kota Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (05/08/2017).

Beliau melanjutkan, diantara bekal yang diperlukan dai dalam berdakwah dan mengabdi di masyarakat adalah bekal ikhlas dan keyakinan.

“Ikhlas dan ini doktrin kader-kader awal Hidayatullah yang berhasil membuka cabang cabang Hidayatullah hingga seperti sekarang ini,” katanya.

Karenanya, beliau mengingatkan pentingnya niat yang tulus hanya karena Allah Ta’aala semata dalam setiap langkah membersamai umat serta keyakinan yang mantap akan adanya pertolongan dari Allah Ta’aala.

Ust Nashirul juga mendorong para dai sarjana ini untuk selalu membangun kebiasaan menuntut ilmu. Beliau mengingatkan agar jangan terpaku pada ilmu yang ada di buku semata sebab bagi dai ilmu itu luas sehingga perlu selalu digali.

Beliau menyebutkan, ilmu tercakup dalam 3 hal yakni maddah (materi dakwah), thariqah (metode), dan memahami mad’u (objek dakwah atau medan dakwah)

“Mujahadah. Kerja keras. Ini adalah kunci kesuksesan. Lakukan sa’i saja, maka air zamzam akan mengalir. Tidak hanya air seteguk, tapi air yang mengalir. Di luar perhitungan logika manusia, ada saja bantuan Allah yang tak terduga,” imbuhnya.

Lebih jauh beliau berpesan akan pentingnya doa dan melibatkan sang Khalik dalam menyelesaikan permasalahan yang kita dihadapi.

“Perasaan berat tidak bisa menanggung amanah adalah ciri orang beriman, sebagaimana Nabi Muhammad juga merasa berat. Karena ada rasa tanggung jawab. Ketika kita merasa tidak bisa memegang amanah, maka saat itulah Allah akan menolong kita, dengan catatan, Al-Muzammil kita kuat. Ibadah kita bagus. Doa kita mantap,” kata beliau mengingatkan.

“Sebelum tampil, bermusyawarah, dan lain-lain, maka malam sebelumnya harus dimantapkan shalat lailnya agar menghasilkan qoulan tsaqiilan. Keluar dari hati dan masuk ke hati,” tukasnya.

Setengah berseloroh, beliau berpesan kepada wisudawan agar semestinya seperti Nabi yang punya rasa jawab tinggi.

“Walau gelar kalian S.Pd dan S.Sos tapi gelar kalian sebenarnya adalah dai dan murobbi. Ini gelar langsung dari Allah. Setelah tafaqquh fiddin, kembalilah ke umat untuk memberikan pencerahan,” katanya memungkasi.

Para dai sarjana wisudawan Sekolah Tinggi Agama Islam Luqman Al Hakim Angkatan XVI ini ditugaskan ke berbagai kawasan di Indonesia. Diantaranya mereka ada yang ditugaskan ke Aceh, Sulawesi Utara, Bangka-Belitung, Kalbar dan lain-lain.

Turut hadir dalam acara tersebut perwakilan unsur Muspida Kota Surabaya, Kopertis Wilayah, ulama, tokoh ormas, pimpinan pondok pesantren, dan segenap civitas akademika STAIL Luqman Surabaya. */Muhammad Idris

Pesantren Hidayatullah di Riau Silaturrahim dengan Gubernur

0

PEKANBARU (Hidayatullah.or.id) – Dua dari belasan jaringan amal usaha dan Pondok Pesantren Hidayatullah yang tergabung dalam Forum Komunikasi Pondok Pesantren (FKPP) se Provinsi Riau, menjadi peserta silaturrahim dengan Pemerintan Provinsi Riau, Gedung Daerah Kota Pekanbaru, Sabtu malam (05/08/2017).

Kedua Pesantren Hidayatullah yang tergabung dalam FKPP tersebut yakni perwakilan Pondok Pesantren Hidayatullah Pekanbaru dan Ustadz Muskaldi Indra dari Pondok Pesantren Hidayatullah Kota Dumai.

Silaturrahim yang ditaja oleh Pemprov Riau ini diisi dengan tausiah oleh ulama KH. Solahuddin Wahid (Gus Solah) dan dihadiri Gubernur Riau Ir. H. Arsyadjuliandi Rachman, M.B.A.

Selain para Kiai dan Pimpinan Pesantren, silaturrahim ini juga dihadiri Wakil Gubernur Riau Wan Tamrin Hasyim, Kakanwil Kemenag Riau Drs. H. Ahmad Supardi, MA, Forkopimda, Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Provinsi Riau serta tokoh agama dan tokoh Masyarakat Riau.

Sedikitnya ada 36 perwakilan Kyai dan Pimpinan Pondok Pesantren yang sempat hadir pada pertemuan silaturrahim ini antara lain Pondok Pesantren Tebuireng Kabupaten Inhil, Pesantren Tebuireng 4 Kabupaten Inhu, dan puluhan tokoh lain.

Ketua FKPP Riau Prof. Dr. Mujahidin mengatakan jumlah Pondok Pesantren se Provinsi Riau sebanyak 183. Dari 183 pesantren tersebut jumlah santrinya sebanyak 40.000 orang santri.

Menurutnya ini menunjukkan bahwa perkembangan pesantren sangat pesat dan menunjukkan keberadaan pesantren sangat berpengaruh di dalam peningkatan kualitas pendidikan secara menyeluruh di berbagai sektor.

Pesanten di Riau ditegaskan dia juga siap menjaga pancasila di Republik Indonesia dengan kebhinekatunggalikanya dalam menjaga stabilitas NKRI melalui penerapan UUD 1945.

Mendengar banyaknya jumlah santri yang bersekolah di Pesantren se Provinsi Riau, Gubernur Riau mengungkapkan adanya perhatian khusus terhadap pesantren.

Dijelaskannya, dari 40.000 orang santri pada saat sekarang berarti 6.000 orang santri yang tamat setiap tahunnya dan yang melanjutkan hanya 50 persen saja dan yang tidak melanjutkan setengahnya.

Sehingga, lanjut Gubernur, perlu perhatian khusus bagi Pemprov Riau agar semua dapat mengenyam pendidikan, sebaiknya dengan pertumbuhan Riau sekarang perlu dibuatkan pendidikan berbasis syariah.

“Perkembangan pendidikan mengenai perbankan termasuk perbankan syariah diharapakan para kiyai dan pimpinan pondok ikut bersama-sama memikirkannya,” ungkap Gubernur Arsyadjuliandi.

Sementara itu, Kakanwil Kemenag Riau Ahmad Supadi menjelaskan, sekolah sekarang menuntut waktu yang banyak bahkan sebagian negara luar sudah menerapkan sistem boarding.

Sementara pondok pesantren dari dulu telah menerapkan sistem boarding sehingga ini menunjukkan bahwa anak-anak pondok lebih siap

“Kelebihan berbahasa Arab, Inggris merupakan bahasa yang wajib yang membuat kemandirian dan kesiapan anak santri dalam menjawab tantangan global sudah terbukti dan teruji,” Kata Ahmad Supardi

Hal yang sama juga disampaikan KH. Solahuddin Wahid. Dikatakan adik kandung dari mantan Presiden Republik Indonesia ini yakni Abdurrahman Wahid (Gus Dur) bahwa dalam pembentukan negara peran agama islam melalui para ulama sangat besar.

“Oleh karena itu kita melalui santri wajib mengembangkan Islam dan mendidik santri dengan baik agar santri kita diap menjawab tantangan dari luar,” ungkapnya

Dikatakannya lembaga pendidikan tertinggi di Indonesia berdiri tahun 1700an di Sidogiri yaitu pondok pesantren, setelah itu baru sekolah Belanda tahun 1800an, yang pertama terbentuk itu adalah MDA dan MTS.

“Pada saat sekarang sangat berbangga kita karena pesantren bisa memadupadankan pendidikan agama dan pendidikan umum,” pungkas Gus Solah. (wrc/hio)