Beranda blog Halaman 567

Muhaimin Iqbal Bahas Urgensi Keuangan Islam Lawan Riba

Muhaimin IqbalHidayatullah.or.id – Ekonom yang juga praktisi keuangan syariah, Muhaimin Iqbal, membahas sisi lain dari keunggulan asuransi syariah Takaful di sela acara Rapat Konsultasi DPP Hidayatullah dan Dewan Mudzakarah di Villa Puncak, Cinagara, Bogor, Jawa Barat, Selasa (02/04/2017).

Muhaimin mengatakan umumnya masyarakat Indonesia telah terperperangkap dalam jeratan riba yang mematikan. Dalam hal produksi, misalnya hampir di setiap barang yang kita konsumsi dan digunakan sehari-hari saat ini menjadi mahal karena riba menyusup di ongkos produksinya. Bahkan seluruh kebutuhan sehari-hari pada sandang, pangan, dan papan semuanya dibebani dengan biaya bunga.

Parahnya lagi, lanjut Muhaimin, efeknya praktis riba ini sangat serius karena bank yang mengelola dana masyarakat akan mengambil margin yang kurang lebih sama dengan yang diberikan ke para penabungnya. Bila ke masyarakat bunga yang diberikan 6%, ditambah jumlah yang sama untuk bank-nya – maka kalau Anda hendak pinjam ke bank untuk usaha – Anda terkena beban bunga sekitar 12 % per tahun.

Karena itu menurut Muhaimin jalan satu–satunya untuk negeri ini bisa memakmurkan rakyat adalah bila kita bisa membebaskan diri dari belenggu riba. Seraya mengutip Surat Al-Baqarah ayat 275 sampai 283 sebagai solusinya.

“Begitu Allah memperingatkan ancaman riba, Allah langsung memberikan solusinya yaitu jual beli,” katanya.

Dia menjelaskan, salah satu jenis jual beli yang mengandung rukhsah (kemudahan dari Allah) seperti jual beli dengan akad salam misalnya, sudah akan bisa mengatasi tiga masalah tersebut di atas sekaligus – yaitu masalah pasar, produksi dan modal.

Dengan pemanfaatan teknologi Muhaimin memandang pengelolaan keuangan Islam akan bisa diselenggaralan lebih baik lagi khususnya di bidang takaful atau asuransi syariah.

Muhaimin menyebutkan salah satu teknologi yang saat ini sedang dikembangkan oleh pihaknya untuk dipakai oleh perusahaan asuransi syariah misalnya adalah sebuah system yang disebut Responsive Contribution System.

Dia menjelaskan, dalam Responsive Contribution System, contribution rate yang adil dan akurat akan terbangun setelah tolong-menolong itu berjalan dalam periode tertentu – semakin lama berjalan akan semakin akurat karena system akan menyesuaikan secara otomatis terhadap rata-rata bergerak ( moving average) rasio antara tingkat resiko terhadap tingkat kontribusi.

Manfaat lain dari system ini adalah setelah dana terkumpul cukup besar, dapat juga dikembalikan ke masyarakat luas dalam bentuk sumber dana ketiga. (ybh/hio)

Siaran Pers DPP Hidayatullah tentang Aksi 505 dan Jelang Pembacaan Vonis Ahok

Bismillahi Rahmaani Rahiim​

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh​

​Alhamdulillah, washalatu wassalamu ‘ala Rasulillah, wa ‘ala aalihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du​.

Menjelang pembacaan vonis terhadap terdakwa penista agama, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, pada 9 Mei 2017 di Pengadilan Negeri Jakarta Utara, serta begitu dinamisnya keadaan masyarakat Indonesia, khususnya Jakarta, akhir-akhir ini, maka Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah menyatakan:

1). Meminta Majelis Hakim yang menyidang perkara penodaan agama tersebut agar menegakkan hukum seadil-adilnya dengan memperhatikan fatwa ulama, tuntutan masyarakat Muslim Indonesia, serta kesetaraan hukum atas seluruh terdakwa penista agama yang pernah terjadi di negeri ini sebelumnya.

2). Aksi simpatik yang akan dilakukan umat Islam pada Jumat 5 Mei besok adalah upaya untuk mendorong penegakan hukum yang adil di negeri ini. Aksi tersebut, serta aksi-aksi serupa sebelumnya, adalah cerminan belum tegaknya rasa keadilan hukum atas terdakwa penista agama Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Indikasi ini semakin terlihat dari lemahnya tuntutan kepada terdakwa oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU).

3). Meminta kepada masyarakat Muslim Indonesia agar menjalankan aksi secara konstitusional, tidak melakukan tindakan anarkis, serta tidak mudah terprovokasi. Aksi damai yang konstitusional adalah hak masyarakat Indonesia yang dilindungi oleh undang-undang.

Demikian pernyataan kami dan mudah-mudahan segala ikhtiar yang kita lakukan akan menjadikan hukum di negeri ini berjalan semakin baik dan pada akhirnya akan mengundang keberkahan Allah SWT bagi negeri yang kita cintai ini.

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh​

Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah

​Nashirul Haq​
Ketua Umum

BPBD Papua Barat Sosialiasi Bencana Alam di Kampus Hidayatullah Manokwari

BPBD Papua Barat Sosialiasi Bencana Alam di Kampus Hidayatullah Manokwari
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Papua Barat melakukan sosialiasi evakuasi mandiri terkait gempa bumi dan tsunami di Probvinsi Papua Barat/ Foto: Albert

Hidayatullah.or.id – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Papua Barat melakukan sosialiasi evakuasi mandiri terkait gempa bumi dan tsunami di Provinsi Papua Barat, khususnya di wilayah Manokwari.

Kegiatan ini dilaksanakan seiring dengan momen Hari Kesiapan Kebencanaan Nasional yang jatuh pada tanggal 26 April 2017.

Sosialisasi evakuasi mandiri ini dilaksanakan dengan sasaran di sekolah, sarana kesehatan, pondok pesantren dan sekolah berpola asrama.

Kepada media di halaman Pondok Pesantren Hidayatullah Arfai II, Kabupaten Manokwari, Kepala BPBD Provinsi Papua Barat, Derek Ampnir, menjelaskan bahwa sosialiasi pertama dilaksanakan di Gereja Efata Manggoapi dan dilanjutkan lagi ke Pondok Pesantren Hidayatullah.

“Kami laksanakan sosialiasi evakuasi mandiri kepada warga jemaat GKI Efata Manggoapi, calon guru jemaat SPGJ Laharoi Kwawi, dimana kegiatan ini disatukan bersama jemaat GKI Efata Manggoapi. Selanjutnya kami laksanakan kegiatan yang sama bagi siswa di Pondok Pesantren Hidayatullah Arfai,”kata Ampnir kepada wartaplus di Manokwari.

Ampnir mengatakan, sosiasliasi ini harus diketahui oleh masyarakat tentang cara mengevakuasi ketika terjadi terjadi gempa bumi. Terutama bagi anak-anak yang berada di sekolah dengan pola asrama.

Dijelaskan Ampnir, jiwa terkapar ada di sekolah asrama, maka mereka harus dibekali tentang bencana. Sebab gerakan kesiapsiaga bencana yang dilaksanakan di Papua Barat, dimulai pertama kali di Manokwari.

Namun, lanjut dia, kedepan gerakan ini akan dilaksanakan di semua kabupaten/ kota di Papua Barat.

Menurut Ampnir, ketika terjadi gempa bumi, maka secara pribadi harus menyelamatkan diri sendiri, kemudian menyelamatkan orang lain. Sedangkan bantuan lain, seperti Badan SAR dan BPBD bagian pemerintah yang akan datang membantu.

Terpantau di salah satu ruang belajar Pondok Pesantren Hidayatullah di Arfai II Manokwari, simulasi mengantisipasi bencana itu dilakukan dengan mengangkat bangku sebagai pelindung kepala ketika gempa bumi terjadi. (alb/wrp)

“Wakil Rakyat Harus Akomodir Arspirasi Umat Islam”

Ketum DPP Hidayatullah Wakil Rakyat Harus Perjuangkan Arspirasi Umat IslamHidayatullah.com– Aspirasi rakyat khususnya umat Islam harusnya dapat diperjuangkan dan diakomodir oleh para wakil rakyat yang duduk sebagai wakil rakyat.

Sebab, mayoritas masyarakat Indonesia adalah umat Islam yang bernaung dalam organisasi massa Islam. Dan ulama adalah representasi dari seluruh organisasi massa Islam yang ada di Indonesia.

Hal itu disampaikan Ketua Umum DPP Hidayatullah, Ust Nashirul Haq, MA, dalam Rapat Pleno ke-17 Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang digelar di kantor MUI Pusat, Jl Proklamasi, Jakarta Pusat, Rabu (26/04/2017).

Apalagi, menurut Nashirul, umat Islam di Indonesia bisa dikatakan tidak lepas dari 70 ormas yang tergabung sebagai anggota Dewan Pertimbangan MUI. Bahkan menurutnya, wakil rakyat sesungguhnya adalah para pimpinan ormas Islam.

“Logikanya, kalau (dikatakan) DPR adalah wakil rakyat, mestinya wakil rakyat yang sesungguhnya bisa mewakili aspirasi umat di negeri ini adalah para pimpinan ormas.

Tapi karena undang-undang menyatakan bahwa wakil rakyat itu adalah DPR (bukan para pimpinan ormas), maka paling tidak, wakil rakyat ini harus betul-betul menyerap aspirasi umat ini dari para pimpinan ormas (Islam),” ujar Nashirul pada sesi dialog.

Selain itu, mantan anggota Komisi Fatwa MUI Kota Balikpapan ini berharap, agar pada pilkada serentak tahun depan, partai politik harus memastikan memilih calon kepala daerah yang mengedepankan kepentingan rakyat.

“Menjelang Pilkada serentak tahun 2018 ini, kita berharap bahwa seluruh partai, baik itu partai berbasis Islam maupun partai nasionalis, semuanya harus mengedepankan kepentingan rakyat dan kepentingan umat di atas kepentingan partai dan golongannya,” ungkapnya.

“Oleh karenanya, perlu komitmen dari bapak-bapak (politisi Muslim) sekalian. Jika ada (sosok yang diusung) bertentangan dengan semangat Pancasila, terutama Sila Pertama, di partai manapun mestinya tidak layak dicalonkan atau tidak layak didaulat untuk mewakili suara rakyat,” selorohnya.

Baca: Din Ingatkan Elite Parpol Jangan Hanya Berorientasi Kekuasaan
Dialog berupa tanggapan dan pandangan antara politisi Muslim, wakil rakyat, dan para tokoh umat Islam yang mengangkat tema “Membangkitkan Marwah Politik Umat Islam” ini dihadiri beberapa petinggi partai politik sebagai panelis.

Hadir dalam rapat itu antara lain Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Sohibul Iman, Wakil Sekjen PDIP Achmad Basarah, politisi DPP Partai Golkar Ali Mochtar Ngabalin, dan Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon.*/ Rizky

Hidayatullah Bina Muallaf Suku Toguti Weda Timur

Nurhadi bersama warga Suku Togutil di Halmahera Tengah yang sudah memeluk Islam (hidayatullah)
Nurhadi bersama warga Suku Togutil di Halmahera Tengah yang sudah memeluk Islam (hidayatullah)
Nurhadi (34), dai hidayatullah yang ditugaskan di Halmahera mengunjungi suku-suku pedalaman yang sebagian besar belum beragama
Nurhadi (34), dai hidayatullah yang ditugaskan di Halmahera mengunjungi suku-suku pedalaman yang sebagian besar belum beragama
Anak-anak dari Suku Togutil sedang belajar shalat (hidayatullah)
Anak-anak dari Suku Togutil sedang belajar shalat (hidayatullah)

Hidayatullah.or.id — Dengan segala kelebihan dan keterbatasannya, Hidayatullah Maluku Utara melalui sejumlah dainya terus melakukan dakwah pembinaan muallaf suku Toguti, Maluku Utara.

Suku Togutil (artinya primitif) banyak tinggal di Kecamatan Weda Timur, Kabupaten Halmahera Tengah, Maluku Utara. Atau dalam bahasa Halmahera, pongana mo nyawa, suku yang hidup di hutan dengan cara hidup berpindah-pindah di dalam hutan Wasile, di timur Ternate.

Suku yang memiliki rumpun seperti Suku Tobelo ini hidup dalam kondisi primitif. Suka hidup berkelompok dan tidak mengenal huruf. Mereka belum sepenuhnya mengenal kebersihan bahkan untuk buang air yang benar saja belum bisa.

Kisahnya berawal saat mereka bertemu dengan orang kampung beragama Islam. Mereka mengaku sudah 3 hari tidak mendapatkan makanan di hutan. Bersyukur orang kampung tesebut bisa berbahasa suku dengan mereka dan akhirnya memberi makan dan pakaian.

Atas izin Allah Subhanahu Wata’ala, setelah terjadi komunikasi, sekitar 10 orang Suku Togutil ingin keluar dari hutan dan kehidupan seperti di kampung/ desa. Dari sinilah akhirnya mereka ingin memeluk Islam.

“Alhamdulillah mereka sekarang sudah masuk Islam dan dalam proses pembinaan. Mereka sedang diajari masyarakat berpakaian, memasak, kebersihan, menulis dan membaca. Dan yang lebih penting lagi adalah pembelajaran ibadah seperti shalat,” demikian dikisahkan Nurhadi, seorang dari Hidayatullah di Halmahera.

Nurhadi berharap ada dari kelompok Muslim atau dermawan ikut berpartisipasi dalam proses pembinaan Suku Togutil ini.

“Kita masih butuh pakaian biasa dan untuk shalat, biaya logistik dapur dan pembuatan rumah papan sederhana,” tambah Nurhadi.

“Alhamdulillah baru kali ini orang Suku Togutil masuk Islam, biasanya orang suku ini yang turun ke kampung masuk Kristen. Mari kita sama-sama bina mereka,” ujar Habib, Imam Masjid Al Munawar, Ternate, Halmahera setelah prosesi syahadat mereka.

Butuh banyak dai

Di Halmahera sendiri masih banyak orang suku pedalaman yang belum punya agama. Hidup mereka nomaden, satu dua tahun kadang pindah tempat. Hidupnya tergantung hasil hutan alam sekitar. Sebagian kecil mereka sudah berpakaian sementara lainya belum banyak yang berpakaian.

Bulan Januari 2017 bulan lalu dai Hidayatullah sempat menelusuri dan masuk ke hutan. Perjalanan dilakukan menggunakan kapal kayu 8 jam dilajutkan jalan darat dengan naik motor darat sekitar 1/2 hari. Masih dilanjutkan jalan kaki menulusuri sungai sepanjang 10 KM.

“Kadang kita melewati sungai yang penuh dengan pulahan buaya di dalamnya,” ujar Nurhadi kepada hidayatullah.com.

Di sana kita ia mengaku bertemu suku pedalaman yang belum punya agama sekitar 30 orang.

“Kata mereka di tengah hutan seperti ini masih ada ratusan lagi orang suku yang belum punya agama,” kata Nurhadi.

Di daerah ini, ujar Nurhadi, agama lain terus bergerak. Para misionaris, terus bekerja di mendekati orang-orang suku pedalaman. Bahkan mereka punya lapangan terbang pesawat-pesawat kecil di sekitar daerah suku pedalaman.

Di tempat penuh tantangan ini, ujar Nurhadi, dibutuhkan dai-dai yang siap bertugas tanpa pujian kecuali pujian dari Allah Subhanahu Wata’ala.

“Kita ingin mendekati dan memberikan dakwah Islam kepada mereka. Semoga Allah memudahkan langkah ini,” ujar Nurhadi yang kini merintis pendidikan Islam dan pondok pesantren di Kecamatan Maba Utara, Kabupaten Halmahera Timur. (ybh/hio)

Gerakan Dakwah dan Ideologi sebagai Pemandu Jalan

IMG_3811
Ketua Departemen Dakwah dan Perkaderan PP Syabab Hidayatullah Ilman Abdullah (kiri) menjadi moderator saat Anggota Dewan Mudzakarah DPP Hidayatullah, Drs Nursyamsa Hadits (kanan) saat menyampaikan materi dalam acara sarasehan perkaderan Syabab Hidayatullah, Ahad (23/04/2017)
IMG_3783
Anggota Dewan Mudzakarah DPP Hidayatullah, Drs Nursyamsa Hadits

Hidayatullah.or.id – Hidup di Dunia ini sangat terbatas. Waktu yang terbatas itu harus dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk perjuangan. Namun, agar perjuangan tersebut bisa tetap berada pada jalur yang semestinya, harus ada internalisasi ideologi yang nantinya akan menjadi pemandu jalan perjuangan.

Demikian dikatakan anggota Dewan Mudzakarah DPP Hidayatullah, Drs Nursyamsa Hadits, saat mengisi materi “Membangun Jaringan Organisasi” dalama cara Saresehan Perkaderan Syabab Hidayatullah di Kota Depok, Jawa Barat, belum lama ini.

“Internalisasi ideologi adalah upaya seorang pejuang untuk memahami dan meresepi kembali nilai-nilai ideologis yang dia anut. Serta menjadikan nilai-nilai itu ruh perjuangannya,” kata Nursyamsa.

Nursyamsa memberikan sejarah keruntuhan Andalusia sebagai contoh di mana ketika ideologi tidak lagi menjadi pemandu dan semakin jauh jaraknya dari dari kehidupan. Hal ini membawa kepada kehancuran yang dimulai dari dunia politik.

Menurut Nursyamsa, politik kaum muslimin Andalusia yang kering dari ideologi menjelma hanya menjadi perebutan kekuasaan semata yang akhirnya memangsa kaum muslimin yang ada di sana dan membawa Andalusia ke jurang keruntuhan.

“Spirit al-Qur’an mesti menjadi penggerak perjuangan seorang muslim. Terutama kader Syabab Hidayatullah. Implikasi perang salib yang masih belanjut hingga kini mengharuskan kita untuk berpegang teguh kepada al-Qur’an agar mampu tampil dan menghadapi serbuan musuh-musuh yang ingin menghancurkan Islam dan kaum muslimin,” imbuhnya.

Menurutnya, Syabab Hidayatullah, sebagai kader Hidayatullah yang berada di garda terdepan perjuangan bersama umat Islam, mesti memahami poin-poin di atas dengan baik sebagai bekal.

Selain itu, Nursyamsa mendorong Syabab Hidayatullah juga harus aktif menggalang kekuatan ekonomi yang berbasis kemandirian serta ambil bagian dalam politik. Kedua hal ini, ekonomi dan politik, adalah medan di mana Syabab Hidayatullah akan membangun jaringan organisasinya.

“Oleh karenanya Syabab Hidayatullah mesti memiliki gerakan intelektual yang khas. Sebab jika tidak, Syabab Hidayatullah tidak akan mendapatkan posisi yang diperhitungkan di medan perjuangan. Gerakan intelektual itu akan menjadi promosi organisasi yang efektif,” jelasnya.

Di akhir penjelasannya beliau menutup dengan pernyataan bahwa membangun jaringan organisasi akan sangat mudah jika kita, Syabab Hidayatullah, sudah memiliki identitas dan ideologi yang mapan yang diperkuat dengan basis sejarah yang jelas. Kemudian ditopang dengan Kemandirian Ekonomi serta dipercantik oleh Pembinaan Poltiik yang sehat.

Dakwah politis

Pada sesi tanya jawab, ada poin-poin tambahan yang juga menarik dan penting untuk dicatat. Beberapa poin itu adalah;

Pertama; penegasan akan pentingnya dakwah politis yang disampaikan oleh Imam Nawawi, sekjend PP Syabab Hidayatullah. Bercermin dari dakwah Wali Songo yang juga merupakan Dakwah Politis, Syabab Hidayatullah sudah tidak perlu lagi malu-malu untuk mengambil peran di lapangan ini.

Kedua; tema modern saat ini adalah kebangkitan Islamisme. Syabab Hidayatullah harus menjemput momentum ini.

Ketiga; perlunya diaspora di mana kader-kader Syabab Hidayatullah menyebar dan melakukan penetrasi di perguruan-perguruan tinggi.

Keempat; perlu adanya pembangunan konsep idelologi yang kuat sebagai landasan strategi politik. Untuk itu mesti ada diskusi yang intens dan kajian pemikiran yang mendalam seputar topik ini.

Kelima; penetrasi di perguruan-perguruan tinggi dapat melalui jalur idelogi dengan mengadakan kegiatan semacam ngajar ngaji dan kajian kitab.*/ Ahmad D Rajiv

Ketum DPP Hidayatullah Rapat Wantim MUI Bahas Politik Islam

Ketum DPP Hidayatullah Ikuti Rapat Wantim MUI Bahas Kejayaan Politik Umat IslamHidayatullah.or.id – Ketua Umum DPP Hidayatullah yang juga Anggota Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (Wantim MUI), Ust Nashirul Haq, MA, mengikuti Rapat Pleno Wantim MUI ke-17 di Kantor MUI Pusat, Jln Proklamasi, Jakarta Pusat, Rabu (26/04/2017).

Pada kesempatan tersebut selain dihadiri oleh Ketua Wantim MUI Prof Dr Din Syamsuddin beserta jajarannya seperti Prof Didin Hafidhuddin dan Prof Nasaruddin Umar, jrapat uga turut hadir sejumlah petinggi partai politik

Hadir dalam rapat pleno ini diantaranya Presiden Partai Keadilan Sejahtera ( PKS) Sohibul Iman, Wakil Sekjen PDI-P Achmad Basarah, dan politisi Partai Golkar Ali Mochtar Ngabalin.

Ketua Dewan Pertimbangan MUI Din Syamsuddin mengatakan, kehadiran para petingggi parpol itu bertujuan untuk berdialog dan bertukar pikiran terkait kondisi politik umat Islam.

“MUI mengundang mereka adalah figur-figur muslim. Oleh karena itu kita akan berdialog berupa tanggapan atau pandangan kritis soal harga diri dan kejayaan politik umat Islam,” ujar Din saat membuka rapat pleno.

Din menuturkan, umat Islam seharusnya berdikari dalam kehidupan politik di Indonesia. Mengingat mayoritas masyarakat Indonesia adalah muslim. Artinya, aspirasi umat islam seharusnya dapat diperjuangan, terakomodasi dan bila perlu dibimbing dalam kerangka NKRI.

“Membela kepentingan umat Islam artinya membela kepentingan rakyat Indonesia,” ucap Din.

“Diharapkan ada solusi yang harus dilakukan oleh parpol dalam memperjuangkan umat Islam yang berhimpit dengan kepentingan masyarakat,” kata dia.

Pada Rapat Pleno Wantim MUI ke-17 di Kantor MUI Pusat mengangkat tema “Membangkitkan Marwah Politik Umat Islam”. Tokoh-tokoh hadir mendapatkan kesempatan menuangkan pandangannya terkait dinamika politik Islam masa kini. (ybh/hio)

Kebangkitan Dakwah Islam di Negara Georgia

0
Kebangkitan Dakwah Islam di Georgia
Muslim Georgia dalam mengisi bulan Ramadhan. / onislam.net

Hidayatullah.or.id – Pada abad ke-16 dan ke-17, Islam kembali merambah Georgia ketika Kerajaan Ottoman Turki dan Safavids Iran mengalami zaman keemasan. Pada saat Rusia menguasai Georgia pada abad ke-19, komunitas Islam di Georgia jumlahnya mencapai 20 persen dari total populasi yang ada.

Namun, pada sensus yang diadakan pada tahun 1989 dan 2002, jumlah pemeluk Islam di Georgia turun menjadi sekitar 12 persen atau sekitar 640 ribu jiwa. Mayoritas dari mereka menganut paham Sunni (mazhab Hanafi dan Syafii) dan Syiah.

Basis terkuat penganut Islam di Georgia berada di daerah otonom Ajaria dan Abkhazia, Meskhetia. Sampai dengan tahun 1770, mayoritas penduduk daerah otonom Ajaria adalah Kristen. Namun, ketika kekuasaan Imperium Ottoman Turki masuk ke Balkan pada abad ke-16 dan 17, kemudian puncak-puncaknya pada tahun 1820, penganut Islam mulai menyeruak di republik otonom tersebut.

Islam di Ajaria dan Abkhazia mengalami kemunduran pesat ketika Uni Soviet menguasai Georgia pada tahun 1860-an dan mencengkeramnya dengan ajaran komunis. Umat Islam di negara ini kemudian mengalami tekanan yang semakin menjadi-jadi setelah perang dunia kedua (PD II).

Selama di bawah kekuasaan Uni Soviet, undang-undang Islam (syariah) dihapus pada tahun 1926. Akibatnya, banyak praktik agama Islam yang ditinggalkan oleh generasi muda. Baik di Ajaria maupun Abkhazia, para pemeluk Islam mempraktikkan Islam sesuai dengan Mazhab Sunni.

Kini, setelah Uni Soviet bubar, Kristen merebut peluang untuk memurtadkan mereka. Banyak Muslim di Ajaria atau Abkhazia yang memeluk agama Kristen. Puncaknya, ketika Uni Soviet berkuasa di Georgia antara tahun 1866-1902, sebanyak 21.236 Muslim beralih ke Kristen.

Seperti kata Nestor Lakoba, sekretaris pertama Partai Komunis Abkhazia, pada dasarnya orang-orang Abkhazia adalah ateis dan tak mempunyai kepercayaan. Agama bagi mereka tak mempunyai arti.

Populasi Muslim di Ajaria dan Abkhazia berasal dari Turki yang masuk ke daerah tersebut pada abad ke-16. Pengaruh budaya Turki yang sangat kuat membuat mereka tidak mau menggunakan nama-nama Georgia bagi keluarga mereka karena nama-nama Georgia berarti Kristen.

Akibatnya, selama perang dunia kedua, banyak warga Muslim keturunan Turki yang dideportasi ke negara asal. Jumlah mereka yang dideportasi saat itu sekitar 100 ribu orang dan mereka mulai kembali ke Georgia pada tahun 1969.

Repatriasi ini berlanjut sampai dengan tahun 1989, selanjutnya program repatriasi ini dikoordinasi oleh Pemerintah Georgia pada tahun 1994 melalui Kementerian Perumahan dan Penduduk.

Sedangkan, ditinjau dari etnis, banyak Muslim di Georgia berasal dari Turki, Azeri, Avar, Tatar, Kazakh, Uzbek, dan Tajik. Etnis-etnis inilah yang mewarnai kehidupan Muslimin di Georgia, di samping penduduk asli Georgia sendiri. Para komunitas Muslim ini mendiami daerah-daerah pedalaman, Tbilisi, bagian barat daya, dan timur laut.

Islam masih mempunyai pengaruh besar di daerah-daerah tersebut. Setidaknya, ada tujuh madrasah yang telah berdiri di Georgia. Beberapa di antaranya dibiayai oleh kelompok-kelompok Islam di Turki. Karena itu, orang-orang Georgia khawatir terhadap ideologi Islam dan pengaruh luar yang dapat menyebabkan kekerasan internal. (rep/ybh)

“Aku Menyadari, Dai Full-time adalah Profesi Terbaik di Dunia”

0

Dai Fulltime Profesi Terbaik di DuniaHidayatullah.or.id – Berprofesi sebagai dai atau pendakwah Islam (muballigh) memang tak populer. Namun sejatinya inilah pekerjaan atau profesi terbaik di dunia ini.

Demikianlah ditekankan oleh dai internasional Dr Zakir Abdul Karim Naik. Pendakwah kelahiran 18 Oktober 1965 di Kota Mumbai, India, ini sejatinya adalah seorang dokter. Namun ia kemudian bertekad menjadi dai yang menyebarkan ajaran Islam dengan nilai-nilai keagungan dan kearifan Islam.

Selain sebagai seorang dokter, Zakir adalah dai yang memiliki disiplin ilmu terutama tentang theologi dimana ia menguasai kitab suci berbagai agama di dunia itu.

Zakir Naik bahkan enegaskan bahwa dai adalah profesinya dan menurutnya itulah pekerjaan terbaik di dunia. Hal itu dia ungkapkan dalam sebuah ceramah terbuka di Malaysia, dikala ada seorang penanya bertanya tentang bagaimana dia mendidik anak-anaknya.

“Bagaimana kau membesarkan putrimu menjadi penceramah internasional yang sukses sedangkan wanita dianggap lemah dan rapuh? Terima kasih,” begitu kata seorang siswi Sekolah Permata Insan.

Dr Zakir Naik menjawab:

Yang aku pahami dari pertanyaanmu, “Bagaimana kau membuat putrimu menjadi penceramah sukses sehingga dia bisa berceramah di depan publik?”

Merupakan kewajiban setiap muslim untuk berdakwah. Menurut Surat Al Ashr,

وَالْعَصْرِ . إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ . إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

“Demi masa. Sesungguhnya setiap manusia berada dalam kerugian, kecuali orang yang beriman, mengerjakan amal shalih dan saling menasehati dalam kebenaran derta menasehati dalam kesabaran” (QS. Al Ashr: 1-3)

Minimal ada empat syarat yang diperlukan manusia manapun untuk bisa masuk surga. Yang pertama adalah iman, yang kedua adalah amal shalih, yang ketiga menasehati supaya mentaati kebenaran atau berdakwah, yang keempat menasehati supaya bersabar.

Jadi menurut surat Al Ashr, ada empat syarat yang harus kau penuhi untuk masuk surga. Mungkin kau muslim yang baik, shalat lima waktu, puasa Ramadhan dan berhaji, tapi jika kau tidak melakukan dakwah, kau tidak akan masuk surga.

Jadi setiap muslim harus menjadi dai paruh waktu (part-time). Ini wajib. Lebih jauh Allah berfirman dalam surat Ali Imran ayat 104.

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, mereka itulang orang-orang yang beruntung” (QS. Ali Imran: 104)

Di sini Allah berfirman tentang dai penuh waktu (full-time). Sebagaimana ada dokter penuh waktu, insinyur, pengacara, pebisnis. Berapa banyak dai penuh waktu yang ada? Merekalah orang yang beruntung.

Kau tahu aku, aku kuliah kedokteran. Menurutku dokter adalah profesi terbaik di dunia. Tapi setelah bertemu Syaikh Ahmed Deedat, aku menyadari bahwa dai adalah profesi yang lebih baik.

Tentang pertanyaanmu, aku akan menjadikan anak-anakku baik laki-laki maupun perempuan menjadi dai. Sebab itu adalah profesi terbaik. Inilah profesi para Nabi. Dan ketika aku mendirikan sekolah di Bombay, ini adalah edukasi dunia dan akhirat. Ketika anak-anak bergabung dengan sekolah ini, kami memberikan pendidikan untuk dunia dan akhirat.

Ketika anak-anak bergabung dengan sekolah ini pada usia 2,5 tahun, kami mengajari mereka bahasa Inggris dan bahasa Arab di Playgroup. Ketika kelas 5 SD, mereka telah paham Al Quran.

Mereka yang memilih hifdz, menjadi hafidz saat kelas 5 SD. Ketika mereka kelas 9 atau 10, mereka bisa menerjemahkan sebagian besar Al Quran.

Kebugaran fisik juga perlu. Ketika kelas 5 atau 6 mereka wajib mendapatkan sabuk hitam bela diri.

Ketiga anakku, masya Allah, semuanya hafal Quran. Mereka pemegang sabuk hitam dalam bela diri. Alhamdulillah.

Mereka hafidz Quran, bisa berbahasa Inggris dan kami mengajari mereka bicara di depan publik sejak usia empat tahun. Jadi sejak balita kami mengajari mereka berbicara di depan audiens.

Jadi ketika anak-anak kami usia lima, enam dan tujuh tahun, kau bisa menyaksikan mereka di Peace TV berbicara di hadapan ribuan orang.”

Tonton videonya:

[youtube width=”100%” height=”300″ src=”-nNrwD2vOA4?rel=0&autoplay=1″][/youtube]

Prajurit TNI Kerja Bakti di Jalan Pesantren Hidayatullah Tidung

TNI Kerja Bakti di Jalan Pesantren Hidayatullah TidungHidayatullah.or.id – Dalam rangka mendukung program kerja TNI AD, serta kebijakan Kasad tentang ‘Serbuan Teritorial’, Satgas Pamtas Yonif 611/Awang Long melaksanakan kegiatan kerja bakti di Jalan Pesantren Hidayatullah, Kampung Tidung RT 06, Nunukan, Kaltara, pada Sabtu (15/4/2017).

Dansatgas Pamtas Yonif 611/Awl, Letkol Inf Sigid Hengki Purwanto, pada rilis Penrem 091/Aji Surya Natakesuma (ASN) menjelaskan, kegiatan tersebut untuk mendekatkan diri kepada masyarakat dan membantu dalam hal kebersihan, kesehatan, serta memotivasi masyarakat agar peduli terhadap kebersihan lingkungan hidup.

“Kegiatan ini juga dalam rangka untuk mempersiapkan Kampung Tidung di RT 06 mengikuti lomba kebersihan tingkat nasional November mendatang,” ungkapnya, Selasa (18/4/2017).

Disamping menggelar kegiatan besih-bersih bersama warga lainnya, pihaknya juga mengadakan ajangsana yang merupakan salah satu bentuk upaya mempererat tali silaturahmi, serta untuk menumbuhkan semangat nilai-nilai persatuan dan kesatuan, serta mewujudkan kebersamaan antara TNI-Rakyat.

“Guna dapat menjalin hubungan yang lebih positif dan lebih akrab dalam mengoptimalkan kegiatan serbuan teritorial ini. Intinya membantu dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” tuturnya.

Dalam kegiatan itu, warga dan prajurit dibagi menjadi dua sektor. Di antaranya pembersihan di masjid, jalan lingkar perumahan, pesantren, pembersihan jalan, pembersihan selokan, dan dilanjutkan penanaman tanaman obat keluarga (toga). (trb/ybh)