Beranda blog Halaman 566

Kita Harus Kaya​

Ketua Bidang Perekonomian Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Asih Subagyo_2_coverTIBA-TIBA saya teringat salah satu ceramah Allahuyarham Ustadz Abdullah Said yang dikutip dalam buku Mencetak Kader.

Dalam sebuah kesempatan kuliah malam Jum’at, 25 Maret 1990, beliau menyampaikan bahwa, “Kita harus kaya dan kaya, namun bukan untuk pribadi tetapi untuk lembaga. Karena yang kita pikirkan adalah seluruh dunia, bagaimana meng-Islamkan peradaban sekarang”.

Jika dimaknai dalam konteks ideologis, maka pernyataan tersebut di atas, adalah sebuah doktrin. Yang menuntut para sahabat di sekitar beliau saat itu dan juga generasi sesudahnya yang berpegang teguh pada manhaj yang beliau usung, untuk mengelaborasi lebih jauh, sehingga menjadi salah satu agenda gerakan organisasi.

Pendeknya, kita tidak bisa berlepas begitu saja, dari statement itu.

Pernyataan yang disampaikan beliau itu adalah dalam makna yang sesungguhnya, bukan makna konotatif. Pernyataan yang jelas, terang benderang. Artinya, mesti direkayasa, ada upaya yang sangat serius, baik secara individu maupun secara kelembagaan untuk menjadi kaya itu.

Dan, hal ini harus dimulai dari mentalitas kaya. Kemudian menjadikannya sebuah suluk alias laku yang mengikat semua kader, bahkan habit, lalu mengubah mindset.

Bahwa kemudian ada yang berhasil atau tidak, itu urusan lain. Itu terkait dengan masalah takdir. Kita tidak bisa menyerah, sebelum berikhtiar.

Bukankah Allahuyarham juga sudah mengunci pernyataannya dengan bahasa bebasnya kurang lebih begini, “namun kekayaan kita bukan untuk pribadi, tapi untuk lembaga dan dunia, dalam rangka menegakkan Peradaban Islam”. Olehnya, dalam hal ini, tidak dalam kapasitas kita untuk menyanggah pernyataan itu, sebelum berusaha.

Saya memandang kuncinya ada di sikap mental kaya. Olehnya mentalitas kaya ini menjadi penting. Sikap mental yang diikuti juga dengan semangat saling memberi dan membantu. Tidak mementingkan dirinya sendiri. Ada dorongan iman dan ghirah yang menyala-nyala disitu, bersamaan dengan ruhul jihad yang tidak pernah padam.

Cara pandang beliau jauh lebih hebat dari apa yg di kampanyekan oleh Robert T Kyosaki, yang membatasi bahwa untuk menjadi kaya itu, dengan mengubah paradigma finansial. Yang kemudian konsekuensinya hanya membelenggu pada ikatan materialisme secara individual.

Sebaliknya, dalam kaca mata Allahuyarham, kekayaan adalah bagian yang riil baik secara infirodi maupun jamai, dari tegaknya bangunan Peradaban Islam.

Sebagaimana dicontohkan oleh Sahabat Abdurrahman bin Auf. Betapa banyaknya harta beliau yang di sumbangkan untuk perjuangan Islam.

Sebagai saudagar yang berlimpah harta, beliau juga tetap terjun langsung di medan jihad, sampai belasan luka di sekujur tubuhnya, sehingga menyebabkan pincang jalannya.

Bahkan, untuk urusan kenegaraan, ditunjuk menjadi ketua Majelis Syura saat mengangkat khalifah Utsman bin Affan, sebagai pengganti Umar bin Khaththab. Oleh beliau, semua veteran Badar, janda-janda para sahabat, ummul mukminin, dan banyak lagi yang dusantuni dan dijamin kehidupannya. Dan di akhir hayatnya, setelah di infakkan untuk perjuangan, masih menyisakan harta yang berlimpah buat istri-istrinya.

Hal ini selaras dengan kajian yang dilakukan oleh Prof. Dr. Ali Muhammad Ash-Shallabi dalam buku Sirah Nabawiyah-nya. Beliau membantah atau tepatnya meluruskan pemahaman bahwa pengikut dakwah Rasulullah selama 3 tahun yang telah diikuti oleh 40 orang dan mayoritas mereka berasal dari kaum fakir, orang-orang lemah, bekas budak dan budak.

Hasil pengkajian yang mendalam menunjukkan bahwa orang-orang yang disebut sebagai fakir miskin, budak, bekas budak dan orang keturunan asing jumlahnya 13 orang (dari 40an orang itu). Jumlah ini dibandingkan dengan total mereka yang masuk Islam, tidak bisa dikatakan mayoritas atau terbanyak (Lihat Ash-Shallabi : 2014, hal 88)

Tentang keutamaan orang kaya, Rasulullah bersabda:

“Tidak boleh hasad (ghibtoh) kecuali pada dua orang, yaitu orang yang Allah anugerahkan padanya harta lalu ia infakkan pada jalan kebaikan dan orang yang Allah beri karunia ilmu (Al Qur’an dan As Sunnah), ia menunaikan dan mengajarkannya” (HR. Bukhari No. 73 dan Muslim No. 816)

Permasalahannya bagaimana kita menjadi kaya itu. Ini permasalahan yang tidak ringan. Banyak buku yang ditulis tentang itu. Dari yang rasional sampai yang irasional.

Namun, pastinya kita memilih cara-cara syar’i untuk meraihnya. Banyak contoh yang bisa kita jadikan benchmarking. Tentunya berdagang, menjadi pengusaha dan juga profesi lainnya dapat mengantarkan kesana.

Setiap orang, sebenarnya telah memiliki cara dan jalannya masing-masing. Tidak bisa digeneralisir. Semua kembali ke takdir kita masing-masing. Tidak usah memaksakan diri.

Artinya, jika mujahadah kita untuk menjadi kaya itu, bersebab keutamaan orang kaya sudah dijelaskan dalam hadits tersebut di atas, ternyata belum berhasil. Maka Rasulullah telah mengikat dalam sebuah hadits, bagaimana menjadi kaya itu:

“Maukah kuberitahu pada kalian jika kalian mau mengamalkannya, maka kalian akan mengejar ketertinggalan dari orang-orang kaya dan tidak ada yang mendapati setelah itu. Engkau akan mendapatkan kebaikan lebih dari mereka. Kecuali jika mereka mengamalkan yang semisal. Amalkanlah tasbih, tahmid, dan takbir masing-masing sebanyak 33 kali” (HR. Bukhari No. No. 843 dan Muslim No. 595)

Semoga Allah mengantarkan kita menjadi kaya yang sesungguhnya. Dan kekayaan kita, apapun itu bentuknya, menjadikan wasilah dan daya dukung yang kongkrit bagi tegaknya Peradaban Islam. Wallahu a’lam.

________
*) ASIH SUBAGYO, penulis adalah Ketua Bidang Perekonomian DPP Hidayatullah

Mahasiswa Harus Jaga Tradisi Shalat Tahajjud dan Giat Baca

Mahasiswa Harus Jaga Tradisi Shalat Tahajjud dan Gemar MembacaHidayatullah.or.id – Mahasiswa Islam hendaknya harus menjaga tradisi shalat tahajjud (shalat lail/ shalat malam) bukan saja karena shalat sunnah ini lebih afdhal dari lainnya. Tapi juga punya kekuatan yang wajib dimiliki oleh setiap kader dakwah.

Penyampaian itu diterangkan oleh ustadz Abdul Qadir Jailani, anggota Dewan Senat Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Hidayatullah dalam acara Pembekalan Kader Dai Ramadhan, beberapa waktu lalu.

Menurut Abdul Qadir, shalat Lail adalah implementasi dari mukjizat surah al-Muzzammil, surat yang ketiga turun dalam tartib nuzul (urutan turun) setelah surah al-Alaq dan al-Qalam.

“Shalat Lail adalah kebutuhan mutlak seorang kader dakwah. Ini perintah sekaligus tradisi yang diwariskan oleh pendiri Hidayatullah, ustadz Abdullah Said,” terang Abdul Qadir.

Selain meningkatkan spritual menghadapi bulan Ramadhan, ia yang terhitung santri awal Pesantren Hidayatullah itu juga berpesan agar mahasiswa gemar membaca buku.

“Membaca juga hobi Abdullah Said dan itu selalu ditekankan kepada kadernya,” imbuh ustadz yang pernah diamanahi pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Toli-Toli, Sulawesi Tengah tersebut.

Terakhir, Abdul Qadir mengulang pesannya, untuk meningkatkan ibadah selama bulan Ramadhan. Sebab baginya, spritual kader dakwah mengalami cacat ketika ia hanya sibuk berdakwah dan lalai dari menjaga hubungannya dengan Allah.

“Kalau pun ia ceramah dengan bagus, maka sebenarnya ceramah itu kering dari ruh,” pungkas Abdul Qadir semangat.

Untuk diketahui, setiap tahunnya, bekerja sama dengan Baitul Mal Hidayatullah (BMH) Balikpapan, STIS Hidayatullah menugaskan seluruh mahasiswanya untuk menjadi duta Zakat Ramadhan.

Mereka bertugas melayani masyarakat dengan mensosialisakan zakat selama bulan Ramadhan. Selain itu, ada juga yang bertugas sebagai imam shalat tarawih dan penceramah di sejumlah masjid.

Sedang khusus buat mahasiswi semester enam, mereka disebar ke sejumlah daerah dalam rangka program Praktik Kuliah Dakwah (PKD) selama tiga bulan, insyaAllah. */ Stishid

Pengajian Sambut Ramadhan Bersama Kapolres Biak Numfor

Pengajian Sambut Bulan Ramadhan di Kediaman Kapolres Biak Numfor2 Pengajian Sambut Bulan Ramadhan di Kediaman Kapolres Biak NumforHidayatullah.or.id – Menyambut Bulan Suci Ramadhan 1438, Kapolres Biak Numfor AKBP H. Hadi Wahyudi, SIK, menggelar pengajian dengan santri Pondok Pesantren Hidayatullah Biak di kediamaannya pada malam Jum’at, belum lama ini.

Pengajian ini dipimpin oleh Ketua Pondok Pesantren Hidayatullah Biak Ustadz H. Syukri, yang dilaksanakan kediaman Kapolres dihadiri oleh seluruh personil dan Bhayangkari Polres Biak Numfor, masyarakat dan santri Pondok Pesantren Hidayatullah.

Dalam ceramahnya, Ustadz Syukri mmemberikan taushiahnya pentingnya mempersiapkan diri baik rohani maupun jasmani dalam rangka menghadapi bulan suci Ramadhan.

Berbagai persiapan perlu dilakukan, sebab, katanya, ini adalah momen yang hanya datang sekali dalam setahun dengan segunung keistimewaan yang dimilikinya. Keistimewaan bulan Ramadhan harus dimanfaatkan sebaik mungkin.

“Semoga dengan bulan Ramadhan menjadi madrasah atau sekolah bagi kita untuk semakin dekat kepada Allah Ta’ala dan membangun keshalehan sosial dalam kehidupan berbangsa,” kata Ustadz Syukri.

Tausiah oleh Ustad Syukri dilanjutkan dengan pembacaan Surat Yasin dan dilanjutkan dengan doa memohon ampunan dari Allah Ta’ala.

Pada kesempatan tersebut Kapolres Biak Numfor AKBP H. Hadi Wahyudi, SIK, dalam sambutannya menekankan pentingnya membangun kesadaran bagi polisi untuk melayani masyarakat.

Beliau mengatakan, melayani masyarakat seperti menjaga Kantibmas merupakan amal sholeh yang akan tercatat pahalanya di sisi Allah Suhbanahu Wata’ala. Setiap kebaikan pasti akan dibalas dengan kebaikan oleh Allah.

“Semoga kita semua yang ada disini, terutama personil Polres dan Bhayangkari senantiasa mendapat ridha dan hidayah dari Allah dalam mengembang tugas Negara sebagai pengayom dan pelayan pelindung masyarakat,“ pungkas Bapak Kapolres. (ybh/hio)

Press Release Pesantren Hidayatullah Depok Tentang Musibah Santri Terseret Ombak di Rancabuaya Garut

pressroom1. Yayasan Pesantren Hidayatullah Depok telah melakukan langkah-langkah maksimal yang diperlukan. Koordinasi terus dilakukan dengan pihak-pihak terkait lainnya. Komunikasi dan koordinasi di lapangan terus dilakukan dengan orangtua wali, warga, serta pihak terkait seperti tim SAR di lokasi kejadian, Polisi air, dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Garut.

2. Rombongan berangkat dari Kampus Pesantren Hidayatullah Depok pada hari Senin, 15 Mei 2017, sekitar pukul 06.30 WIB dari Kampus Pesantren Hidayatullah Depok dalam rangka wisata alam yang biasanya dilakukan tahunan setiap kali santri selesai menjalani UjIan Nasional (UN) SMP. Rombongan yang berjumlah 23 orang yang didampingi pengasuh ini juga baru selesai mengikuti ujian terbuka tasmi’ dan Tahfidzul Qur’an. Kegiatan tamasya ini juga sepengetahuan orangtua wali santri.

3. Peristiwa santri terseret ombak terjadi pada hari Selasa, tanggal 16 Mei 2017 sekitar pukul 16.00 di pantai Rancabuaya, Caringin, Kecamatan Purbayani, Kabupaten Garut. Ada 13 santri mandi terseret ombak, 8 santri berhasil menyelamatkan diri ke pantai. Saat ini 3 santri menjalani perawatan. Sementara 5 santri lainnya masih dilakukan pencarian yaitu Rijal Amrullah (Tangerang), Wisnu Dwi (Depok), Khalid Abdulah Hasan (Bekasi), Syaifullah Abdul Azis (Bandung), dan Faisal Ramadhan (Depok).

4. Keberangkatan rombongan dilepas oleh Kepala Sekolah dengan menghimbau agar semua aktifitas selama kegiatan tamasya (rihlah), harus sepengetahuan dan seijin pendamping.

5. Saat ini kami berupaya memastikan penanganan sebaik-baiknya bagi korban yang dievakuasi yang telah menjalani perawatan intensif yang kondisinya saat ini terus membaik dan ditempatkan di penginapan.

6. Pesantren Hidayatullah Depok terus mengharapkan doa dan dukungan dari berbagai pihak atas musibah ini dan berupaya semaksimal mungkin mengatasi situasi berat ini. Semoga Allah Subhanahu Wata’ala memudahkan dan memberikan maunah-Nya kepada kita semua, Aamiin.

Informasi, dapat menghubungi
Sekretaris Yayasan, Iwan Ruswanda 0817-4948-734 / 0812-8178-9679

Shalat Khusyu Sebagai Bekal Menaklukkan Ujian Dunia

0

Shalat Sebagai Bekal Menaklukkan Ujian DuniaSHALAT yang khusyu mewujudkan ubudiah yang benar-benar karena Allah, ikhlas, pasrah, rendah diri terhadap Zat Yang Mahasuci.

Di dalam shalat, mereka meminta segala sesuatu kepada Allah dan meminta dari-Nya hidayah untuk menuju jalan yang lurus, dan Allah Mahakaya dan Mulia.
Kepada-Nyalah, seseorang berkenan memohon ijabah dan mencurahkan segala sesuatu, baik dalam hal cahaya hidayah, limpahan rahmat, maupun ketenangan.

Shalat pada hakikatnya merupakan sarana terbaik untuk mendidik jiwa dan memperbarui semangat, serta sekaligus sebagai penyucian akhlak.

Bagi pelakunya sendiri, shalat merupakan tali penguat yang dapat mengendalikan diri. Ia adalah pelipur lara dan pengaman dari rasa takut dan cemas, juga memperkuat kelemahan dan senjata bagi yang merasa terasing.

Dengan shalat, kita dapat memohon pertolongan dari ujian zaman, tekanan-tekanan orang lain, dan kekejaman para durjana. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

’’Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah shalat dan sabar sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.’’ (al-Baqarah: 153).

Nabi Shalallaahu ‘Alahi Wasallam ketika menghadapi persoalan genting, beliau berlindung melalui shalat. Ruku dan sujud dalam shalatnya dilakukan secara khusyu, membawa rasa dekat kepada Allah.

Bersama Allah pula, beliau merasa berada di suatu tempat atau sandaran yang kokoh, sehingga merasakan aman tenteram, percaya diri, dan penuh keyakinan, memperoleh perasaan damai, sabar terhadap segala bentuk ujian dan cobaan, serta rela terhadap takdir Allah.

Juga memperbarui janji dan ikatan bersama Allah atas dasar kesetiaan sejati dan kejujuran, dan memperkokoh cita-cita yang besar dalam kekuasaan Allah dan pertolongan-Nya bagi hamba-Nya yang beriman dan bekerja secara jujur tanpa pamrih.

Shalat itu membersihkan jiwa dan menyucikan dari sifat-sifat buruk, khususnya sifat-sifat yang dapat mengalahkan cara hidup materialis, seperti: menjadikan dunia itu lebih penting daripada segala-galanya, mengomersialkan ilmu, dan mencampakkan rohaninya. Kasus semacam ini dicontohkan Allah dalam ayat,
“Sesungguhnya manusia itu diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ditimpa kesusahan, ia berkeluh kesah, dan apabila mendapat kebaikan ia amat kikir, kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat, yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya.” (al-Ma’aarij: 19-23).

Dalam ayat lain,

“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar…” (al-Ankabuut: 45)

Orang yang benar-benar melaksanakan shalat, dari shalat yang satu ke shalat yang lain, merasakan sempitnya waktu di dalam bersimpuh di bawah kekuasaan Allah. Ia memohon kepada-Nya untuk ditunjukkan jalan yang lurus dalam keadaan pasrah dan khusyu.

Begitulah seterusnya dalam menyambut shalat berikutnya, sehingga terasa tidak ada putus-putusnya hubungan dengan-Nya dan tidak putus-putusnya pula mengingat Allah, di antara shalat yang satu ke shalat yang lain, sehingga tak sempat lagi melakukan maksiat.

Demikianlah Allah menaungi hamba-Nya yang memelihara shalatnya karena merindukan perjumpaan dengan-Nya dan sama sekali tidak mungkin menjauhkan-Nya.

Bagi siapa saja yang memelihara waktu-waktu shalat dan tujuan shalatnya benar-benar karena Allah, melatih dirinya menentang dan mengalahkan arus kesibukan hidup, tidak mendahulukan kepentingan materi.

Sengan demikian jiwanya mampu menaklukkan ujian dunia beserta kesenangannya, begitu pula dalam menumpuk-numpuk harta.*/Andriy (dari buku Berjumpa Allah Lewat Shalat, oleh Syekh Mushthafa Masyhur)

Siaran Pers DPP Hidayatullah tentang Pembubaran Ormas

0

pressroomAssalamualaikum Wr Wb​

Alhamdulillah, washalatu wassalamu ‘ala Rasulillah, wa ‘ala aalihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du

Sehubungan rencana pemerintah untuk membubarkan Organisasi Massa Islam Hizbut Tahrir Indonesia, sebagaimana dikemukakan oleh Menko Polhukam Wiranto pada Senin (8 Mei 2017), maka Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah menyatakan:

1. Menyayangkan langkah yang diambil pemerintah guna pembubaran organisasi tersebut. Kami menilai langkah ini terkesan dipaksakan dan terburu-buru. Sebab, langkah pembubaran sebuah organisasi massa berbadan hukum seharusnya mengikuti apa yang telah diatur dalam peraturan perundang-undangan dengan mengedepankan upaya persuasif terlebih dahulu.

2. Majelis Ulama Indonesia selama ini belum pernah mengeluarkan fatwa bahwa Hizbut Tahrir Indonesia memiliki ideologi yang menyimpang dari Islam. Bahkan sebaliknya, gagasan yang diusung HTI banyak yang relevan untuk diterapkan di Indonesia dan kritikan mereka juga bermanfaat untuk kemajuan bangsa Indonesia.

3. Sejak dulu sampai sekarang, ideologi yang dianut Hizbut Tahrir Indonesia tidak berubah. Cara mereka mengimplementasikan ideologi tersebut juga tidak berubah. Mereka mengedepankan kesantunan dalam berorganisasi dan mengajak bangsa ini berpikir secara ilmiah. Sehingga sulit dipahami jika pemerintah mengangap apa yang mereka lakukan selama ini berbahaya bagi bangsa dan negara.

4. Namun jika pemerintah memiliki bukti-bukti baru bahwa organisasi ini membahayakan keutuhan NKRI, maka selayaknya pemerintah menjelaskan secara terbuka kepada masyarakat soal bukti-bukti tersebut, serta mengajukan permohonan untuk membubarkan organisasi tersebut ke pengadilan setelah melakukan pendekatan secara persuasif.

5. Proses pengadilan dan keterbukaan kepada masyarakat menjadi penting mengingat dewasa ini rasa ketakutan kepada Islam tumbuh subur di negeri ini. Padahal Islam adalah agama terbesar yang dianut penduduk Indonesia. Langkah-langkah yang salah dikhawatirkan kian menyuburkan ketakutan itu yang pada akhirnya justru akan mengganggu stabilitas nasional.

Demikian pernyataan sikap ini kami buat. Semoga Allah SWT senantiasa melindungi negara ini dari perpecahan.

Wassalamualaikum Wr Wb.

Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah

​H. Nashirul Haq, Lc, MA​
Ketua Umum

Perguruan Tinggi Hidayatullah untuk Pembangunan Bangsa

IMG-20170508-WA016Hidayatullah.or.id – Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Ust Nashirul Haq, mendorong perguruan tinggi (PT) Hidayatullah terus berpacu dalam rangka meningkatkan mutu dan kualitas. Tak tekercuali masalah kelengkapan administrasi dan hal-hal terkait lainnya.

Dalam pada itu dia menekankan pentingnya selalu upaya peningkatan mutu dan kualitas perguruan tinggi Hidayatullah agar kelak outpunya dapat semakin meningkatkan kontribusi positifnya bagi pembangunan masyarakat dan bangsa Indonesia dengan berlandas pada Tri Dharma perguruan tinggi

“Mari lakukan penyempurnaan di bagian-bagian yang belum baik dan melengkapi semua aspek administratif lainnya,” katanya usai peresmian penyelenggaraan Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Hidayatullah Batam, Jum’at (05/05/2017).

STIT Hidayatullah tersebut diresmikan langsung oleh Ketua Umum DPP didampingi bersama jajaran petinggi Yayasan Hidayatullah Batam yang berlangsung di Aula Yayasan Hidayatullah Batam, Jalan Brigjen Katamso, Tanjunguncang, Batuaji.

Peresmian itu turut juga dihadiri Pimpinan Umum Hidayatullah KH Abdurrahman Muhamad dan Ketua Yayasan Hidayatullah Batam Ust H Jamaluddin Nur dan akademisi yang sekaligus Guru Besar Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau (UIN SUSKA RIAU) Prof. Dr.Ahmad Mujahidin,M.Ag.

Nashirul Haq dalam arahannya berharap agar Yayasan Hidayatullah Batam sebagai penanggung jawab kampus baru tersebut segera melengkapi berbagai macam persyaratan dan administrasi yang ada. Agar, keberadaan STIT tersebut tidak bermasalah di kemudian hari.

“Kami tentunya mendukung dan ini bagus, terus melanjutkan santri dan santriwati Hidayatullah untuk mendapatkan pendidikan di Yayasan Hidayatullah ke jenjang pendidikan tinggi. Tapi segala persyaratan harus segera dilengkapi semua, sebab Juli nanti sudah mulai kuliah,” pesannya. (ybh/hio)

Peresmian Masjid Al-Aqsha Pesantren Hidayatullah Mateng

0

Peresmian Masjid Al-Aqsha Pesantren Hidayatullah Mamuju TengahHidayatullah.or.id – Pesantren Hidayatullah Mamuju Tengah (Mateng) akhirnya kini memiliki masjid sejaligus madrasah untuk kegiatan dakwah dan pendidikan. Pendirian masjid ini dilakukan oleh lembaga kemanusiaan Sahabat Al-Aqsha bekerjasama dengan Laznas BMH Mamuju dan DPD Hidayatullah Mamuju Tengah meresmkikan Masjid dan Madrasah Al Aqsha berlokasi di Kampus Hidayatullah Tobadak II, Mamuju Tengah, Sulawesi Barat, belum lama ini.

Fasilitas ibadah dan pendidikan ini dibangun di atas lokasi wakaf seluas 2 hektar wakaf dari H. Aras Tammauni, SE. yang kini menjabat Bupati Mamuju Tengah ini.

Suharmawan, mewakili wali santri Madrasah Al-Aqsha mengatakan, “Kami sangat bangga karena generasi kami mendapatkan pendidikan yang bisa mendekatkan mereka dengan Allah ta’ala. Dan kami sangat berharap kiranya program ini kiranya dapat berkelanjutan hingga ke pendidikan jenjang selanjutnya menyikapi tingginya harapan masyarakat terhadap pendidikan agama”.

“(kegiatan madrasah) ini yang saya harap sebagai asset di akhirat nanti,” kata Suharmawan.

Ketua DPW Hidayatullah Sulawesi Barat, Drs. Imron M. Djufri, dalam sambutannya mengatakan kerjasama ini adalah awal dari langkah pengurus daerah Hidayatullah Mamuju Tengah, khususnya di kampus Tobadak II.

“Tentunya semua ini adalah milik dan untuk masyarakat dan harus proaktif membangun dengan kerjasama yang sehat. Sekaligus menjadi tanggung jawab untuk segera dilanjutkan dengan program program keumatan yang bisa mengubdang berkah Allah subhanahu wata’ala,” kata Imron.

Sementara itu perwakilan Sahabat Al-Aqsha, Abah Dzik, mengatakan masjid dan madrasah mengambil nama (Al-Aqsha) ini dengan harapan ingin mendapatkan keutamaan masjid Al-Aqsha yang merupakan tempat yang sangat istimewa karena menjadi pusat dakwah sejak berabad abad.

“Al Aqsha sebagai markas aqidah yang Allah pilih dalam terbukanya pintu langit. Selebar 14 hektar itu adalah komplek sebagai pijakan isro dan mikrojnya Muhammad,” kata Abah.

Dia menambahkan, sejak 100 tahun yang lalu masjid kita yang dikuasai Yahudi dan keimanan kita dengan berharap dengan nama ini, selalu dalam kenangan untuk membangkitkan semangat juang dalam Islam.

“Menginjakkan kaki dan beribadah secara maksimal di masjid Al-Aqsha ini tidak perlu izin ke tentara Yahudi” selorohnya.

Nama setidaknya ini mengingatkan kita tentang Al-Aqsha yang diharapkan di sani akan berkembang pendidikan dan pusat dakwah di wilayah ini.

Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Hidayatullah Batam Diresmikan

IMG-20170508-WA014 IMG-20170508-WA015 IMG-20170508-WA016Hidayatullah.or.id – Yayasan Hidayatullah Batam di Batuaji kini memiliki Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Hidayatullah Batam. Perguruan tinggi kelima dari pendidikan Tinggi yang didikki Hidayatullah se Indonesia itu akan melengkapi lembaga pendidikan di Pondok Pesantren Hidayatullah Batam yang jenjangnya mulai dari tingkat taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi.

STIT Hidayatullah Batam tersebut diresmikan langsung oleh Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Hidayatullah Ustaz Nashirul Haq bersama jajaran petinggi Yayasan Hidayatullah Batam yang dipimpin oleh Ustaz Jamaludin Nur di gedung Yayasan Hidayatullah Batam di jalan Brigjen Katamso, Tanjunguncang, Batuaji, Jumat (5/5) pagi.

Sebagai kampus baru, Ketua Yayasan Hidayatullah Batam, Jamaludin Nur mengatakan, tahun ajaran baru nanti, STIT Hidayatullah Batam membuka dua program studi yakni Strata I (S1) Manajemen Pendidikan Islam (MPI) dan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI). “Satu prodi masing-masing dua lokal akan dibuka. Satu untuk pria satu untuk wanita jadi terpisah,” ujar Jamaludin.

Prodi MPI bertujuan untuk membentuk sarjana pendidikan Islam yang berwenang sebagai pengelola administrasi sekolah dan ahli dalam manajemen lembaga pendidikan Islam serta mampu sebagai tenaga pendidik agama di MI/SD, MTs/SLTP dan MA/SLTA.

Sementara PGMI untuk melahirkan lulusan yang memiliki kompetensi pedagogik, profesional dan berkarakter islami serta menghasilkan karya-karya ilmiah sebagai landasan memecahkan masalah pendidikan di MI/SD, MTs/SLTP dan MA/SLTA.

“Tujuan umumnya untuk menghasilkan sarjana muslim yang kokoh akidah dan berakhlak mulia,” ujar Jamaludin.

STIT Hidayatullah Batam saat ini sudah buka pendaftaran dan terbuka bagi calon mahasiswa-mahasiswa dari sekolah umum lainnya. “Target utamanya adalah lulusan dari Hidayatullah, tapi untuk umum juga dibuka tanpa harus diasramakan,” kata Jamaludin.

Sementara itu, Nashirul Haq dalam arahanya berharap agar Yayasan Hidayatullah Batam sebagai penanggung jawab kampus baru tersebut segera melengkapi berbagai macam persyaratan dan administrasi yang ada agar keberadaan STIT Hidayatullah Batam tersebut tidak bermasalah di kemudian hari.

“Kami tentunya mendukung dan ini bagus, terus melanjutkan santri dan santriwati Hidayatullah untuk mendapatkan pendidikan di Yayasan Hidayatullah ke jenjang pendidikan tinggi. Tapi segala persyaratan harus segera dilengkapi semua sebab Juli nanti sudah mulai kuliah,” pesannya.

Senada disampaikan oleh Prof dr. H Ahmad Mujahiddin selaku akademisi dari Jakarta yang meminta agar kurikulum 140 SKS segera dirampung sebelum September mendatang agar segera dilaporkan ke kopertis. “Persyaratan lainnya kampus ini harus memiliki tiga mata kuliah wajib yakni Pancasila, Bahasa Indonesia dan Agama,” imbaunya.

Sebagai kampus baru bertipe C, Ahmad Mujahiddin mengingatkan, STIT Hidayatullah Batam baru diperbolehkan buka dua prodi dan itu tidak boleh diubah hingga lima tahun ke depan atau wisuda pertama dilakukan. “Dan juga sebagai perguruan tinggi baru, per lokal maksimal hanya 30 orang. Satu prodi baru boleh buka dua lokal. Itu sudah aturan nasional,” ujarnya.

Tidak itu saja STIT Hidayatullah Batam juga diwajibkan sedikitnya memiliki enam dosen tetap. “Itu tidak bisa ditawar. Kita semua menginginkan perguruan tinggi ini dan ini baik, tapi semua aturan yang ada harus dipatuhi,” imbaunya.‎

Tingkatkan APK

Seperti diketahui, Kementerian Agama (Kemenag) menerbitkan izin pendirian bagi 10 Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) swasta. Selain itu, Kemenag juga menerbitkan izin perubahan nama pada dua PTKI Swasta.

Dirjen Pendidikan Islam Kamaruddin Amin berharap penerbitan izin ini akan meningkatkan akses dan Angka Partisipasi Kasar (APK) Nasional perguruan tinggi.

Menurutnya, saat ini APK pendidikan tinggi di Indonesia masih rendah, berkisar 32%. Artinya, masih ada 68% anak-anak Indonesia yang tidak memiliki kesempatan belajar di Perguruan Tinggi (PT).

“APK Nasional kita masih kalah dari negara Tahiland yang mencapai 45%,” terang Kamaruddin Amin di Jakarta, Senin (17/04).

Tidak hanya APK, Angkatan Kerja Nasional lulusan PTKAI juga baru mencapai 10%. Hal ini menujukan sisi lain dari daya saing bangsa yang juga masih rendah.

Untuk itu, arah pengembangan pendidikan tinggi ke depan tidak semata perluasan akses, tapi juga peningkatan mutu.

Di hadapan Kopertais Wilayah II XIII dan Ketua Yayasan PTKI swasta, Kamaruddin mengingatkan bahwa Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 2015-2019 mengamanatka pentingnya memberikan akses pendidikan yang berkualitas.

“Kebijakan pemerintah akan memberi prioritas pada akses pendidikan yang bermutu dan berkualitas,” terang Kamaruddin.

Guru Besar UIN Alauddin Makassar ini berpesan agar PTKI yang telah diberikan kesempatan menjalankan pendidikan untuk memikirkan mutu dan relevansinya.
Jangan sampai, kata dia, mahasiswa yang telah selesai kuliah atau lulus sarjana justru merasa bingung karena tidak memiliki kompetensi yang memadai.
“Angka sarjana menganggur setelah menyelesaikan kuliahnya, sekarang mencapai 500 ribu,” ujarnya.

“PTKI harus pandai-pandai membaca kebutuhan zaman anak-anak yang akan melanjutkan. PTKI tidak boleh terputus dari reality sosiety. Kampus bukan hanya tempat masyarakat cerdas, melainkan tempat masyarakat bersosialisasi,” tambahnya.

Berikut ini 10 PTKI yang menerima SK izin pendirian:
1. STIT Mambaul Ulum (Jambi)
2. STEI Bina Muda (Bandung)
3. STIT Hidayatullah (Batam)
4. STIT Al Kifayah (Riau)
5. STIES Riyadul Jannah (Mojokerto)

6. STI Dakwah dan Komuikasi Islam Al Mardiyah (Pamekasan)
7. STI Al Quran Wali Songo (Situ Bondo)
8. ST Ekonomi dan Bisnis Islam Darusallam (OKI Sumsel)
9. STIT Nusantara (Bekasi)
10. STEI Haji Abdul Malik (Cikarang Barat)

Adapun dua PTKIS yang berubah nama yaitu STIA Al Ihya Kuningan menjadi Fakultas Ilmu Keislaman pada Universitas Al Ihya (Kab. Kuningan) dan STAI Raden Rachmat Malang, menjadi Fakultas Ilmu Keislaman pada Universitas Islam Raden Rachmat.*/Ramli

Pernikahan Mubarakah 22 Dai-daiyah Hidayatullah Depok

Pernikahan Mubarakah 22 Dai-daiyah Hidayatullah Depok Pernikahan Mubarakah 22 Dai-daiyah Hidayatullah Depok2Hidayatullah.or.id – Menegakkan pondasi keutuhan bangsa dan agama tentu tak lepas dari peran keluarga yang dibangun dari pernikahan.

Antara lain atas semangat itu, kemarin, sebanyak 22 dai-daiyah dari berbagai daerah di Indonesia mengikuti Pernikahan Mubarakah di Masjid Ummul Quraa, Pesantren Hidayatullah, Kalimulya, Cilodong, Depok, Jawa Barat.

Nikah massal 11 pasang pengantin tersebut diinisiasi oleh Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Depok.

Para dai-daiyah itu antara lain berasal dari Papua, Nusa Tenggara Barat (NTB), Kepulauan Riau, Kalimantan Timur, Jawa Timur, Jawa Barat, dan pulau Sumatera.

Ketua Yayasan Hidayatullah Depok, Lalu Mabrur, dalam sambutannya mengatakan, Pernikahan Mubarakah di tempat ini sudah beberapa kali digelar.

“Ini yang ketiga, sebelumnya (tahun) 2011,” ujarnya kepada sekitar 500 hadirin yang memenuhi dua gedung acara, Sabtu (29/04/2017) pagi.

Tempat acara memang dipisah. Pengantin dan tetamu putra di masjid, sedangkan pengantin dan tetamu putri di aula SD. Dua tempat acara berjarak sekitar 30 meter. Para kaum akhwat mengikuti acara dengan layar besar dan alat pengeras suara.

Lalu mengatakan, awalnya ada 12 pasang pengantin yang akan mengikuti pernikahan ini.

“Di tengah perjalanan ada yang memang tidak bisa mengikuti kegiatan, berkurang 1 calon,” ungkapnya.

Setelah panitia pernikahan melakukan penggodokan lagi, akhirnya ditetapkan 11 pasang pengantin.

Memang, dalam pernikahan ini, sudah ada panitia khususnya yang antara lain bertugas menyocok-pasangkan para calon pengantin. Para mempelai itu sebelumnya, jangankan pacaran, bahkan bisa dibilang tidak saling kenal lebih dahulu.

Salah seorang Ustadz Pembimbing Yayasan, Wahyu Rahman mengatakan, dari pernikahan ini, diharapkan para dai tersebut semakin berperan andil dalam membangun peradaban Islam.

“Bagaimana mewujudkan keluarga sakinah, mawaddah, warahmah,” ujarnya berharap.

Ustadz lainnya, Naspi Arsyad, menyampaikan apresiasinya atas para pengantin karena telah mengambil langkah berani untuk menikah.

“1 kenyataan itu lebih berarti daripada 1.000 pernyataan tentang menikah,” ujarnya berseloroh menyindir bujang-bujang yang banyak hadir pada acara itu.

Sontak saja, acara yang terasa penuh kebahagiaan itu menjadi semakin cair. Tampak tawa kecil dan senyuman mengembang dari para pengantin, tetamu undangan, termasuk para pria yang belum menikah.

Sementara itu, didaulat menyampaikan nasihat pernikahan adalah dai asal Balikpapan, Kalimantan Timur, Ustadz Zainuddin Musaddad.

Konselor pernikahan ini menyampaikan nasihatnya kepada para pengantin agar senantiasa menjaga cinta kepada pasangannya.

Secara khusus, kepada para pengantin pria, ia berpesan, “Kalau sepi dari cinta dalam pernikahan, maka tidak ada rasa aman bagi seorang perempuan (istri. Red).”

Cinta hakiki, kata dia, mesti mendapat tempat yang benar.

“Pernikahan inilah tempat yang paling tepat untuk seseorang mengatakan cinta kepada yang lain jenisnya,” ujarnya.

Para pengantin tampak kebahagiaannya setelah mengikuti Pernikahan Mubarakah tersebut. Raut wajah mereka meski tampak letih tapi berseri-seri.

“(Teman-teman) merasakan kebahagiaan yang tak terhinggga,” ujar Khuluq, salah seorang peserta pernikahan mewakili teman-temannya.

“Alhamdulillah, rasa berkah itu melimpah,” ujarnya juga yang ditugaskan di DKI Jakarta, kepada hidayatullah.com usai pernikahan itu.

Holik, 26 tahun, salah seorang peserta asal Lampung, Sumatera, mengaku mengikuti pernikahan ini atas motivasi perjuangan Islam.

“Karena perjuangan ini tidak cukup dengan satu generasi saja, harus ada regenerasi,” ungkapnya.

Uniknya, sebelum hari H, saat proses melihat wajah calon istrinya, Holik mengaku enggan. Kenapa?

“Sudah yakin saja. Pokoknya ane (saya) nurut saja, sami’na waatho’na -kami dengar dan kami taat. Red– (dengan pilihan panitia),” ungkapnya mantap sambil tersenyum.

“Temen-temen pada ngeliat semua (foto calon istrinya),” tambahnya.

Uniknya pula, diketahui ada salah seorang mertua yang baru kenal menantunya pada hari H.

Bagi kalangan Hidayatullah, pernikahan model seperti ini memang sudah menjadi tradisi lama sejak berdirinya ormas ini 43 tahun lebih silam.

Usai prosesi aqad nikah yang dicatat penghulu KUA setempat ini, para pengantin melakukan serah terima mahar secara terpisah di rumah-rumah warga pesantren. Di rumah transit ini, mereka ditempatkan sementara untuk berbulan madu.

Pasca pernikahan di Depok yang didukung Laznas BMH itu, setelah tiga harian “transit”, para pengantin langsung ditugaskan ke tempat pengabdian masing-masing.

Di daerah-daerah itu, spirit mereka dalam memajukan bangsa dan menjaga keutuhan serta keharmonisan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) diharapkan semakin perkasa.* /skr