Beranda blog Halaman 581

Bupati Meninjau Perkebuban Sawit Pesantren Hidayatullah Penajam Paser Utara

bupati-meninjau-perkebuban-sawit-pesantren-hidayatullah-penajam-paser-utaraHidayatullah.or.id – Bupati Penajam Paser Utara Yusran Aspar meninjau program perkebunan sawit yang dijalankan pengurus Pondok Pesantren Hidayatullah. Diketahui, Pondok Pesantren Hidayatullah menjadi salah satu sasaran program sawit rakyat, yang dimulai sejak 2003.

“Alhamdulillah, program ini terus berkembang dan dirasakan masyarakat. Ketika itu lahan kebun sawit rakyat yang dijalankan hanya berkisar 8.000 hektare. Kini telah meningkat menjadi lebih dari 40.000 hektare,” ujar Bupati Yusran dikutip Kaltim Post belum lama ini.

Yusran memaparkan terkait sawit rakyat ini dimulai pada tahun 2003 dan melalui program tersebut, pemerintah daerah setiap tahun telah memberikan bantuan mulai bibit sawit gratis, herbisida hingga pupuk untuk 2 ribu haktare setiap tahun.

Kata dia, program sawit rakyat yang diberikan kepada sejumlah masayarakat ini tidak lain semata-mata demi mensinergikan visi misi pemerintah PPU untuk mengembangkan potensi yang ada di PPU.
Seperti, UMKM dan sawit rakyat ini sehingga bisa membantu dari sektor perekonomian terlebih lagi dengan beberapa program pembangunan yang saat ini sedang berlangsung maupun yang sedang diupayakan untuk PPU.

Dan pada kesempatan tersebut, Mustafa Sakka dan Abdul Aziz Achmad selaku Pembinan Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Penajam mengatakan program sawit rakyat yang digulirkan Pemerintah PPU ini sangat membantu.

“Terlebih untuk memenuhi segala kubutuhan pokok sehari-hari para santri mengingat banyaknya para santri yang tidak mampu dititipkan di ponpes ini,” kata Mustafa. (ybh/hio)

Pernyataan Sikap DPP Hidayatullah atas Penistaan Al Quran oleh Gubernur Jakarta

0

Bismillahirrahmanirahim
Assalamualaikum Wr Wb

Gubernur DKI Jakarta, Basuki T Purnama (Ahok), pada akhir September lalu telah mengeluarkan pernyataan di depan warga Kepulauan Seribu, Jakarta Utara, agar masyarakat Muslim Jakarta tidak dibohongi dengan al-Qur’an surat al-Maidah ayat 51.

Setelah mencermati pernyataan yang diunggah di Youtube pada 28 September tersebut maka kami, Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, menyatakan sikap sebagai berikut:

  1. Mengecam keras pernyataan tersebut, sebab itu adalah bentuk penistaan kepada Islam, agama yang dianut oleh sebagian besar warga DKI Jakarta.
  2. Surat Al Maidah ayat 51 dan surat-surat lain yang seperti itu adalah pedoman yang diberikan oleh Allah SWT kepada kaum Muslim. Sangat tidak pantas bila seorang non-Muslim mencampuri ketentuan yang tercantum dalam kitab suci kaum Muslim tersebut, apalagi menyebutnya bohong.
  3. Menghimbau kepada warga Muslim Jakarta, serta warga Muslim di wilayah lain di Indonesia, agar tidak memilih pemimpin non-Muslim sebagaimana disebutkan dalam Surat Al-Maidah ayat 51 dan surat-surat lain yang sejenis.
  4. Meminta kepada aparat yang berwenang untuk menindak secara hukum atas penistaan tersebut sesuai dengan hukum yang berlaku di Indonesia.
  5. Meminta kepada masyarakat Muslim di DKI Jakarta dan di luar DKI Jakarta agar tidak bersikap anarkis atas kejadian ini atau terpancing untuk melakukan reaksi yang berlebihan sehingga merugikan kaum Muslim sendiri.

Demikian sikap resmi DPP Hidayatullah untuk menjadi perhatian semuanya. Semoga Allah SWT membimbing kita agar mampu menjalankan seluruh ketentuan-Nya.

Wassalamualaikum Wr Wb

Jakarta, 8 Oktober 2016

Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah

Mahladi
Kepala Biro Humas
08158328442

Tindak Radikalisme Menciderai Semangat Persatuan Bangsa

ketua-departemen-hubungan-antar-lembaga-dpp-hidayatullah-jamaluddin-nur tindakan-radikalisme-menciderai-semangat-persatuanHidayatullah.or.id – Tindakan radikalisme atas nama agama menciderai semangat persatuan dan kesatuan. Paham radikalisme juga menghambat kemajuan bangsa.

Hal ini disampaikan Ketua Departemen Hubungan Antar Lembaga DPP Hidayatullah, Jamaluddin Nur, pada dialog keagamaan yang digagas oleh Forum Pemberdayaan Pesantren (FPP) Kepri, Rabu, (28/09/2016).

Acara yang berlangsung di Komplek Pondok Pesantren Hidayatullah Batam ini mengusung tema ‘Tantangan Radikalisme dan Upaya Penanggannya’.

“Radikalisme bertentangan dengan nilai persatuan dan kesatuan bangsa. Apalagi ada upaya dari tindakan-tindakan radikal untuk merubah ideologi Pancasila,” ujarnya.

Jamaludin juga mengatakan bahwa Pancasila sudah final dan keberadaannya merupakan kesepakatan bersama para pendiri bangsa. Pasang surut pemahaman akan penting tidaknya ideologi Pancasila, perlu mendapatkan perhatian bersama.

“Selama 71 tahun usia kemerdekaan Indonesia, mengalami pasang surut pemahaman ideologi. Namun, bagi kita, Pancasila sudah final, dan tidak akan mengalami perubahan,” ujar Jamaludin Nur.

Kehadiran Pancasila adalah investasi besar umat Islam bagi bangsa Indonesia. Oleh karenanya, Pesantren harus menjadi duta Pancasila.

“Kita berharap ke depannya banyak institusi dan lembaga-lembaga pemerintahan yang diisi dari lulusan pondok pesantren, ” katanya.

Hadir sebagai narasumber Wakasat Intelkam Polresta Barelang Joko Purnawanto, Majelis Ulama Indonesia Kota Batam H. Lukman Rifai, serta dari kalangan akademisi Dr. Said Maskur, M.Ag.

H. Lukman Rifai dalam paparannya mengatakan bahwa radikalisme tidak bisa hanya dikaitkan dengan kelompok agama tertentu. Setiap kelompok memiliki kemungkinan untuk melakukan tindakan yang radikal.

“Ada dua faktor penyebab radikalisme, yaitu faktor internal karena lemahnya pemahaman tentang agama, dan faktor exsternal karena adanya ketidakadilan dan pemerataan,” katanya.

Fenomena yang terjadi saat ini, masyarakat dalam memahami tentang agama tidak lagi melalui sumber-sumber yang dapat dipercaya. Dalam hal ini, masyarakat cenderug memahami tentang agama melalui ‘Google’ yang keabsahannya perlu dikaji kembali.

“Dengan kemajuan teknologi, masyarakat khususnya genersi muda sudah tidak mendapatkan pengetahuan agama dari guru dan ustadz melalui instansi pendidikan maupun lembaga resmi lainnya. Maka dari itu, untuk meningkatkan pemahaman mengenai agama, sebaiknya menggali informasi melalui guru atau ustadz,” katanya.

Sedangkan, narasumber dari Kementrian Agama Kota Batam yang diwakili oleh Kasi Pendidikan Agama dan Keagamaan Islam, H. Sarbaini menyebut bahwa Kementrian Agama bersama-sama Pemko Batam dan Polresta Barelang telah membuat MoU bersama pimpinan Pondok Pesantren untuk mengantisipasi munculnya jaringan radikal dan teroris di Kota Batam.

“Kementrian Agama bersama Polresta Barelang dan Pemko Batam melakukan MoU yang berisi tentang kurikulum pesantren. Diharapkan setiap pesantren mengajarkan pendidikan moral Pancasila, deradikalisasi, nasionalisme, ukhuwah Islamiyah dan lain sebagainya,” katanya.

Setiap Pesantren wajib mengikuti arahan dan MoU yang sudah dibuat. Jika tidak maka akan dikenakan saksi. Pesantren juga diharapkan bebas dari radikalisme, narkoba, dan LGBT.

Kegiatan yang dihadiri oleh ratusan peserta tersebut, diikuti oleh mahasiswa Hidayatullah Batam, organisasi Islam Batam, serta beberapa kelompok majelis taklim. (ybh/hio)

Hidayatullah Gelar TOT Pandu Wilayah Provinsi Papua

hidayatullah-gelar-tot-pandu-wilayah-provinsi-papuaHidayatullah.or.id – Pondok Pesantren Hidayatullah menggelar Training of Trainer (TOT) Pandu Wilayah Provinsi Papua. Kegiatan yang berlangsung sejak 15-16 September 2016 ini diikuti 20 peserta pelatih Pandu Hidayatullah perwakilan dari masing-masing kabupaten/kota di Papua.

Ustadz Roby Mohtadi S.Pd.I, selaku Komandan Wilayah Pandu Hidayatullah kepada Timika eXpress usai upacara pembukaan, mengatakan, peserta kegiatan Pandu Hidayatullah akan memberikan materi fisik/outdoor dan materi ruangan.

“Materi fisik lebih menekankan pada kedisiplinan, baris-berbaris serta ketangkasan, seperti permainan semaphore, tali-temali, morse dan pembuatan tenda. Sedangkan materi ruangan lebih menekankan pada pemberian materi tentang pembangunan karakter aqidah keagamaan,” terangnya seperti juga dikutip Timika Express.

Lebih lanjut dijelaskan, peserta yang mengikuti kegiatan ini akan mendapat penghargaan.

“Mereka yang dianggap berhak dan telah mampu menyelesaikan TOT secara keseluruhan akan menerima sertifikat,” katanya.

Training of Trainer Pandu Wilayah Provinsi Papua yang dipusatkan di Pondok pesantren Hidayatullah ini dibuka oleh Ketua Dewan Pengurus Wilayah Provinsi Papua Ustadz Mualimin Amin S.Sos.I.

Dalam sambutannya Mualimin menyampaikan, Pandu Hidayatullah sebenarnya berawal dari organisasi Kepramukaan yang lebih dikenal secara umum. Namun mengikuti perkembangan, Pandu Hidayatullah hadir lebih pada keinternalan Hidayatullah sendiri.

“Yang membedakan PANDU dengan pramuka hanya pemantapan keagamaan tanpa menghilangkan eksistensi atau semua kegiatan yang ada di pramuka,’’ungkap Mualimin.

Sementara itu, Ketua Departemen Pendidikan Wilayah Hidayatullah Provinsi Papua, Ustadz Abdul Syakir S.Pd.I mengatakan, kegiatan ini bertujuan untuk mengkokohkan keyakinan murid dalam hal keimanan dan pembangunan karakter guna menciptakan murid-murid yang cinta akan Alquran.

“Dengan kepanduan, keyakinan keimanan akan bagus, cinta dengan Al quran, rajin membacanya, menghafalnya dan bersungguh-sungguh dalam beribadah, terutama dalam melaksanakan shalat 5 waktu,” jelasnya.

Ia menambahkan dalam Pandu tersebut anak-anak akan diajarkan untuk bersosialisasi dalam hal ini berdakwa aktif, minimal mendakwai dirinya sendiri, keluarganya, ibunya serta bapaknya.

“Selain itu juga pada Pandu Hidayatullah akan ditanamkan rasa sosial yang tinggi dalam membentuk rasa persatuan dan kesatuan bangsa NKRI, yang mana anak-anak dengan keimanan dengan nilai-nilai kearifan sosial, tidak menutup kemungkinan persatuan dalam membangun NKRI dapat terwujud,” jelasnya.

Harapannya dengan diadakannya TOT, para pelatih dapat pulang ke daerahnya masing-masing dan dapat mempraktekkan ilmu yang telah didapat kepada anak-anak didik mereka. (abs/hio)

Selalu Optimis dengan Segala Kesulitan yang Menghadang

abdurrahman muhammadHidayatullah.or.id – Orang beriman harus selalu optimis dengan segala kesulitan yang menghadang. Kesulitan di dunia pasti ada tapi harus yakin bahwa kemudahan lebih banyak.

Demikian disampaikan Pimpinan Umum, Ust Abdurrahman Muhammad, dalam acara silaturrahim “Halaqah Murabbi” di Masjid Arriyadh, Komplek Pesantren Hidayatullah Pusat Balikpapan, Kalimantan Timur, belum lama ini (30/09/2016).

“Banyak peluang dan kesempatan yang Allah berikan untuk meraih prestasi mengarungi perjalanan perjuangan Islam ini untuk lebih baik atau bahkan terbaik. Itulah ambisi keimanan,” katanya.

Beliau mengimbuhkan, ketika seorang muslim mendapati spirit Al Qur’an maka seolah terasa ada ambisi untuk meraih yang terbaik yaitu meraih surga Allah (ajrun ghairu mamnun).

Para ulama menyampaikan perlu identifikasi permasalahan yang tersulit dalam kehidupan ini. Hal itu karena manusia cenderung melihat banyak yang sulit dalam hidup ini yaitu 24 jam atau sehari penuh dengan hal yang seolah semua sulit.

“Sehingga banyak manusia yang pesimis dan banyak alasan. Kesulitan menghadapi istri, anak, mertua, anak buah, bawahan atau atasan dan banyak lagi,” ujarnya.

Beliau melanjutkan, perlu diekskusi hal hal yang sulit itu dengan dua cara. Tapi sama caranya, yaitu tunduk.

“Pertama, menundukkan diri kepada Allah dengan ibadah dan berdoa. Kedua, tunduk untuk tidak menyombongkan diri di hadapan sesama manusia. Tidak merasa pintar atau hebat sehingga Insya Allah kalau bisa menundukkan diri bisa cepat diterima oleh orang lain, banyak bisa memberikan faedah,” jelasnya.

Komitmen Halaqah

Dalam pertemuan Halaqah Murabbi ini ditekankan juga pentingnya komitmen halaqah sebagai salah satu ikhtiar membangun tradisi intelektual dengan pengayaan khazanah keilmuan Islam.

Beliau menerangkan, dalam halaqah diniyah, taklim, dan kader, sejatinya tidak ada materi yang sulit.

“Cukup baca tafsir ayat tertentu dari kitab tafsir yang sudah ditulis oleh para ulama. Tidak masalah berbeda-beda kitab pegangan tafsirnya karena akan lebih memperkaya pemahaman kita,” terangnya.

Sehingga, lanjut beliau, materi halaqah tidak mengada ada. Berulang ulang materi meskipun semua, pasti ada faedahnya. Sehingga, tegasnya, di setiap halaqah harus ada kitab tafsirnya, baik yang kitab gundul atau terjemahannya dan buku panduan berislam.

“Jadi membuat program itu gampang. Yang sulit adalah mengoperasionalkan, yang bertanggung jawab. Kita belum seperti para sahabat mendatangi seratus kali Umar (Ibn Khattab) untuk bergabung dengan Islam. Sehingga sebenarnya perkara yang paling sulit adalah diri kita sendiri. Mau atau tidak menggerakkan, ambil resiko, mengekskusi permasalahan permasalahan yang ada. Tentu melalui musyawarah dahulu,” ujarnya mengingatkan.

Ia pula mengingatkan pentingnya kaderisasi untuk regenerasi dalam rangka keberlangsungan dakwah Islam nan luhur yang selama ini menjadi konsen gerakan Hidayatullah.

“Para senior lembaga sudah berhasil melahirkan kader kader muda yang sekarang menjadi pengurus di organisasi ini. Sehingga kewajiban kader kader muda mengkader yang lebih baik lagi,” katanya.

“Kader kader muda sekarang kan sudah lebih baik daripada senior. Sehingga kader kader berikutnya harus lebih baik dari kader muda sekarang,” lanjutnya.

Karena itu, beliau berpesan agar kader kader muda selalu menjaga kesehatan, atur pola makan, istirahat, dan jaga pola tidur, karena perjalanan masih panjang dan berat.

“Saya kalau lihat atau dengar kader muda sakit sakitan maka agak panik, karena harapan ke depan,” imbuhnya.

Terkait hal tersebut, pimpinan mengutarakan kembali vitalnya pembinaaan kader-kader muda sejak dini. Beliau mendorong agar program pengkaderan harus lebih dikuatkan terutama melalui kegiatan ibadah dan taklim di masjid.

Dijelaskan dia, masjid adalah ruh dari pendidikan yang sesunggungnya. Karena itu, ia menyatakan, kenapa masjid tidak dimasukkan kurikulum? Kenapa masjid tidak dikelola profesional sebagaimana di sekolah? Kenapa masjid tidak mendapatkan perhatian serius dibandingkan di sekolah?

“Kenapa ibadah dan taklim di masjid tidak lebih disiplin dibandingkan di sekolah? Kenapa kegiatan masjid masih dipandang sebelah mata atau dianggap sepele? Padahal, itulah ruh atau tujuan hakiki dari pendidikkan untuk mendekatkan diri kepada Allah,” pungkasnya. */Abdul Ghofar Hadi

Kemenag Gelar Pospenas 2016, Provinsi Banten Tuan Rumah

0
Tampak sejumlah atlet silat nasional santri Pesantren Hidayatullah Bontang berfoto bersama pelatih / dok
Tampak sejumlah atlet silat nasional santri Pesantren Hidayatullah Bontang berfoto bersama pelatih / dok

Hidayatullah.or.id – Kementerian Agama (Kemenag) menggelar Pekan Olahraga dan Seni antar Pondok Pesantren Nasional (Pospenas). Ajang itu sekaligus bertepatan dengan Hari Santri Nasional pada 22 Oktober. Pospenas akan berlangsung sejak 22 hingga 28 Oktober 2016 di Provinsi Banten.

“Insya Allah Presiden yang membuka, 22 Oktober 2016 malam, sekaligus tasyakur Hari Santri Nasonal yang disahkan tahun lalu,” kata Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, saat peresmian Pospenas 2016 di Kantor Kemenag, Jakarta Pusat, Jumat (30/9).

Lukman mengatakan, olah raga dan seni merupakan bagian yang tidak bisa dipisahkan bagi kehidupan santri. Selain itu, diharapkan ajang ini menjadi sarana silahturahmi antar santri.

“Karena seni dan olahraga bukan hanya upaya memelihara, tapi juga sekaligus mengembangkan hal-hal yang terkait dengan seni olah rasa jiwa dan jasmani kita. Itu bagian dunia pesantren,” ujarnya.

Politisi PPP itu berharap, agar penyelenggaraan Pospenas juga akan melahirkan atlit-atlit dan para seniman yang hebat.

Ia pun ingin para santri terus mengembangkan dunia seni agar mampu mengembangkan program nawacita dan revolusi mental.

“Supaya nilai-nilai nawacita selalu bisa digaungkan secara masive dan dilaksanakan dengan sebaik mungkin,” ucapnya.

Diketahui, Pospenas kali ini merupakan gelaran yang ketujuh kalinya. Pospenas diselenggarakan setiap tiga tahun sekali.

Nantinya Pospenas akan diikuti enam ribu santri dari pondok pesantren yang tersebar di 34 provinsi di Indonesia.

Cabang olahraga yang dilombakan pun beragam dari futsal, atletik dan tenis meja. Ada pula cabang lomba bersifat seni seperti lomba lukis kaligrafi dan debat bahasa asing. (ybh/hio)

Syabab Hidayatullah Gelar Dialog Pemuda di 4 Wilayah

0

img_20160925_085438Hidayatullah.or.id – Syabab Hidayatullah, organisasi pemuda otonom pendukung ormas Hidayatullah, menggelar acara dialog kebangsaan di 4 wilayah di Indonesia.

Helatan pertama dialog ini telah di gelar di Kota Depok, Jawa Barat, pada hari Ahad (25/09/2016) lalu yang dihadiri peserta perwakilan Syabab Hidayatullah dari DKI Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi.

Acara ini juga digelar di 3 kota lainnya yaitu Balikpapan (Kalimantan Timur), Surabaya (Jawa Timur), dan Makassar (Sulawesi Selatan).

Ketua Organizing Committee Pusat Dialog Kader Muda Hidayatullah, Soehardi Soekiman, mengatakan kegiatan ini merupakaan rangkaian acara pra-Munas VI Syabab Hidayatullah yang akan digelar di Kota Batam, Desember mendatang.

Selain itu, lanjutnya, diskusi ini dalam rangka menggali pandangan dan harapan kalangan kader muda Hidayatullah terkait dengan beragam realitas kekinian.

“Diskusi ini ingin menemukan ide dan pandangan kader muda yang kesemuanya bermuara pada harapan kiprah Hidayatullah ke depan lebih baik lagi dengan mendorong keterlibatan aktif anak-anak muda,” kata Soehardi Soekiman.

Ia melanjutkan, generasi muda Hidayatullah adalah generasi yang mendapatkan nilai-nilai dan ajaran Sistematika Wahyu dari generasi awal namun tidak menutup kemungkinan terjadi bias, kedalaman, dan derajat peragaan yang berkurang dibandingkan yang diterima generasi awal dari pendiri Hidayatullah, Allahu Yarham Ustadz Abdullah Said.

Dengan adanya bias, hal ini dinilai Soehardi, boleh jadi akan menyebabkan generasi muda Hidayatullah berkurang ketertarikannya terhadap Manhaj Sistematika Wahyu yang merupakan metode pergerakan Hidayatullah.

Karena itu, Soehardi mengatakan kegiatan yang terselenggara atas diinisiasi oleh DPP Hidayatullah ini menjadi penting untuk mengurai benang merah tersebut.

Di tengah perubahan zaman di era globalisasi, generasi muda Hidayatullah saat ini tentu berbeda dengan generasi pendahulu lembaga ini. Sebab itu, kata Soehardi, cara berfikir dan cara melihat mereka terhadap sesuatu baik masalah maupun peluang punya spektrum yang berbeda dengan pendahulunya.

“Maka kita memandang perlunya terus membangun komitmen kebersamaan dan keterpaduan gerak dalam mengawal langkah berlembaga kita agar tetap on the track,” jelas Suhardi.

Semangat penyadaran untuk penguatan visi gerakan ini dinilai Soehardi selaras dengan komitmen Hidayatullah dengan beragam jejaring turunannya untuk berbakti bagi umat dan bangsa yang semata mengharapkan ridha Allah Ta’ala semata.

Acara ini disponsori oleh Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah (Laznas BMH) yang selama ini menjadi mitra strategis Syabab Hidayatullah dalam pemanfaatan sumber daya manusia.

Diantara program kemitraan yang sudah terjalin adalah penyediaan SDM hasil binaan atau anggota Syabab Hidayatullah yang dimanfaatkan Laznas BMH untuk mendukung program-program keummatan BMH seperti aksi kerelawanan bencana alam, tenaga konsultan ihwal perzakatan, staf pendamping untuk penerima beasiswa BMH, dan kebutuhan sosial lainnya. (ybh/hio)

Hidayatullah Peduli Turunkan Tim Bantuan Longsor Garut

hidayatullah-peduli-bencana-longsor-garut hidayatullah-peduli-bencana-longsor-garut2 hidayatullah-peduli-bencana-longsor-garut3Hidayatullah.or.id – Hidayatullah menerjunkan relawan dengan tajuk “Aksi Peduli Bencana Nusantara”  gabungan tim SAR Nasioal Hidayatullah, Laznas Baitul Maal Hidayatullah (Laznas BMH), dan Islamic Medical Services (IMS) ke bencana banjir longsor Garut, Jawa Barat.

Seperti diketahui, dua kabupatennya di Jawa Barat yakni Garut dan Sumedang, dilanda bencana alam. Puluhan korban meninggal dunia atas musibah ini.

Banjir bandang melanda pemukiman penduduk dan jalan raya di sejumlah daerah di Kabupaten Garut, Jawa Barat, Selasa malam (20/09/2016).

Berdasarkan data dari Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho, bencana itu disebabkan oleh hujan berintensitas tinggi dan berdurasi panjang, ditambah tingginya tingkat kerentanan.

Sejak pertama kali hadir di lokasi (21/9) tepatnya di Kampung Cimacan Desa Haur Panggung Kecamatan Tarogong Kidul Garut, BMH bersama SAR Hidayatullah dan IMS telah menjalankan amanah bantuan Hand 4 Garut secara keseluruhan.

“Tim SAR Hidayatullah berfokus pada evakuasi di lapangan. BMH berkonsentrasi pada pemulihan mental dengan menyalurkan bantuan kepada masyarakat terdampak serta IMS yang memberikan layanan dengan membuka posko pengobatan dan pemeriksaan kesehatan gratis,” kata Deputi Operasi SAR Hidayatullah, Irwan Harun, kepada Hidayatullah.or.id belum lama ini.

Irwan Harun mengimbuhkan, sebagaian besar tim yang dipimpinnya di lapangan merupakan relawan mahasiswa dari Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Hidayatullah (STIEHID) Kota Depok yang bergeser ke lokasi musibah melalui jalur darat mengendarai motor.

“Kami mengapresiasi para relawan yang luar biasa. Mereka rela meluncur ke lokasi dengan jarak tempuh cukup jauh hanya berkendara motor. Alhamdulillah, mereka berkerja non-stop sesaat tiba di lokasi,” kata Irwan Harun.

Ia juga berterima kasih kepada Asep, salah seorang warga Garut, yang menyediakan rumahnya yang berlantai 2 sebagai posko aksi SAR Hidayatullah beserta mitra.

Sementara itu, Koordinator Lapangan Tim Peduli Bencana Nusantara BMH, Zainal, mengatakan sekalipun sebagian dari tim telah ditarik, untuk keberadaan posko BMH, baik yang berada di Jalan Patriot No. 46 maupun di Kampung Cimacan RT. 04 RW. 10 tetap akan dibuka sampai 30 September 2016.

“Saat ini kondisi Kampung Cimacan sudah lebih baik. Meski kadang hujan turun mengingatkan memori akan kejadian besar itu, warga sudah mulai beraktivitas seperti biasa. Meski sebagian masih banyak yang beres-beres rumah,” ungkap Zainal.

“Mengingat kondisi yang mulai membaik, sebagian dari tim telah ditarik dan beberapa masih tinggal di posko untuk melayani bantuan yang akan disalurkan kepada warga melalui BMH. Insya Allah posko BMH akan tetap buka sampai 30 September 2016,” imbuh Zainal.

Mengenai program lanjutan, BMH bersama tokoh masyarakat dan warga masih menunggu keputusan resmi dari pihak pemerintah. Mengingat ada info beredar bahwa warga akan direlokasi.

“Jika warga tidak di relokasi, maka BMH akan terus menjadikan Kampung Cimacan sebagai kampung binaan. Dan, jika direlokasi, maka menunggu perkembangan selanjutnya,” ungkap Zainal.

Relawan Diapresiasi

Pantauan awak hidayatullah.com, lumpur tebal di lokasi terdampak banjir sudah mulai berkurang. Berbagai jenis barang milik warga korban banjir yang menumpuk tak karuan akibat terseret air dan lumpur mulai dirapikan secara berangsur.

Mulai dari aparat dan instansi pemerintah, lembaga zakat, ormas Islam, sampai komunitas-komunitas yang ada Jawa Barat tampak solid melakukan kegiatan pemulihan.

Personel TNI dan Polri bersama relawan dan warga sigap melakukan gotong-royong, membantu pembenahan dan evakuasi seperti di Kampung Cimacan, Kelurahan Haur Panggung, Kecamatan Tarogong Kidul.

Koordinasi para relawan dikendalikan oleh koramil setempat bekerja sama dengan Basarnas. Di antara yang turut berpartisipasi menjadi tim relawan adalah Tim SAR Nasional Hidayatullah dan lembaga kesehatan Islamic Medical Service (IMS).

Dalam apel pagi di Markas Kodim 0611/Garut, Setyo menyampaikan apresiasi sebesar-besarnya kepada seluruh tim maupun relawan yang telah berpartisipasi dalam pemulihan itu. Para relawan dipesankan untuk terus meningkatkan koordinasi dan kinerjanya. (ybh/hio)

Ponpes Hidayatullah Bengkulu Juara Liga Santri Nusantara

ponpes-hidayatullah-bengkulu-juara-liga-santri-nusantaraHidayatullah.or.id – Pesantren Hidayatullah Bengkulu berhasil merebut piala bergilir Gubernur dalam pertandingan partai puncak di final Liga Santri Nusantara (LSN) Zona Bengkulu di GOR Sawah Lebar Kota Bengkulu, Sabtu (24/9/2016).

Pesepakbola besutan Pondok Pesantren Hidayatullah Bengkulu secara dramatis sukses mengalahkan Pesantren Darun Najah Ketahun Bengkulu Utara.

Pertandingan yang berlangsung sengit ini berakhir dengan kemenangan Ponpes Hidayatullah dengan skor 1-0, dan Ponpes Darun Najah harus berlapang dada mejadi juara II.

Atas kemenangan yang diraihnya, Ponpes Hidayatullah Bengkulu berhak mendapatkan piala bergilir Gubernur serta uang pembinaan dari Bank Bengkulu.

Pesantren Hidayatullah Bengkulu, yang keluar sebagai juara I, bakal bertanding dengan juara LSN Sumatera Barat.

Pertandingan final Liga Santri Nusantara Regional Sumatera IV yang meliputi Sumatera Barat dan Bengkulu akan berlangsung di Stadion Semarak Bengkulu pada 5 Oktober 2016 mendatang.

Pada laga final Regional Sumatera IV ini, tim Pesantren Darul Ulum sebagai pemanang zona Padang bertemu dengan tim Pesantren Hidayatullah sebagai pemenang zona Bengkulu.

Jika Bengkulu menang melawan Sumatera Barat, maka Bengkulu bakal berlaga di LSN tingkat pusat di Jakarta pada pertengahan Oktober 2016 mendatang.

Selain itu, Pesantren Hidayatullah Bengkulu juga ditargetkan menjadi juara nasional, hal ini diungkapkan Ketua Penyelenggara LSN Bengkulu Herliardo.

“Saya yakin Bengkulu bisa tampil maksimal dan dapat mengharumkan nama Bengkulu di laga nasional mendatang,” ungkap Herliardo pada Gerbang Bengkulu belum lama ini.

Pelaksanaan Liga Santri Nusantara Bengkulu, berjalan lancar sejak 20 September lalu, masing-masing tim bertanding dengan sportif.

Hadir pada penutupan LSN, perwakilan PT. Bank Pembangunan Daerah Bengkulu Haris Gunawan. Bank Bengkulu turut serta memberikan support bagi para juara berupa uang pembinaan. Menurut Haris, hal ini merupakan wujud nyata partisipasi dan kepedulian Bank Bengkulu membantu dalam bentuk charity program. (ybh/hio)

Jaga Mutu dan Kualitas, Posdai Gelar Pelatihan Grand MBA

jaga-mutu-grand-mba-posdai-gelar-pelatihan-grand-mba
Pelatihan metode pengajaran di Yogyakarta, Ahad (25/09/2016) / DOK

jaga-mutu-grand-mba-posdai-gelar-pelatihan-grand-mba2 Hidayatullah.or.id – Persaudaraan Dai Nusantara atau Posdai Hidayatullah menggelar pelatihan pendidikan pembelajaran Al Qur’an diikuti peserta dai se-Yogyakarta dalam rangka menjaga mutu serta kualitas program Gerakan Nasional Dakwah Mengajar dan Belajar Al Qur’an (Grand MBA)

Acara yang berlangsung intensif sehari ini dilaksanakan di Komplek Pesantren Hidayatullah Yogyakarta pada hari Ahad (25/09/2016).

Penyelenggaraan pelatihan dai ini diikuti oleh 80 orang dai yang berasal dari DI Yogyakarta, Kebumen, Magelang, Klaten, Purwokerto, Cilacap, Solo, Sukoharjo, Karang Anyar, Bangkulon dan Bantul.

Menurut ketua panitia Ust. Syamsul Maarif, pelatihan ini diselenggarakan dalam rangka mensukseskan mainstream gerakan organisasi yaitu dakwah dan tarbiyyah.

“Sedangkan Grand MBA merupakan salah satu program dakwah yang terfokus kepada pengentasan buta huruf dan buta makna Al-Qur`an,” katanya.

Di kesempatan yang sama, salah seorang peserta bernama Alamsyah mengatakan sangat senang bisa mengikuti pelatihan ini.

“Gerakan ini sangat dibutuhkan masyarakat mengingat bahwa membaca Al-Qur`an dan memahaminya adalah kebutuhan yang sangat mendesak bagi masyarakat,” kata Alamsyah.

Menurut Alamsyah, Grand MBA adalah sebuah program penting yang selama ini dinanti-nanti masyarakat di berbagai kalangan tanpa melihat latar belakang madzhab dan golongan karena yang jadi fokus dalam gerakan ini adalah Al-Qur`an.

Pada pelatihan ini salah satu pemateri Mansur Abu Gaza  menjelaskan seluruh buku-buku panduan Grand MBA, buku paket 8 jam terampil membaca Al-Qur`an, Bimbingan Tahsin dan Tajwid Al-Qur`an dan terampil menerjemah Al-Qur`an dan membaca kitab gundul.

Mansur menjelaskan, buku 8 Jam terampil membaca Al-Qur`an adalah sebuah metode cepat bisa membaca AL-Qur`an bagi orang dewasa.

“Banyak para muallaf dan mereka yang sudah muslim dari kecil tapi terlambat belajar Al-Qur`an yang sudah terbantu dengan metode ini,” kata Mansur.

“Memang dengan metode ini belum fasih karena itu untuk menyempurnakannya harus dilanjutkan dengan paket bimbingan tahsin dan tajwid,” lanjut Mansur.

Mansur menjelaskan, adapun paket Terampil Menerjemah Al-Qur`an dan membaca Kitab Gundul adalah sebuah metode menerjemahkan Al-Qur`an dengan memperhatikan makna perkata atau secara lafziyyah untuk selanjutnya memahami makna secara utuh dalam konteks ayat dan tafsirnya.

“Di dalam buku paket ini juga dipelajari seluk-beluk tata bahasa arab agar para peserta dapat membaca kitab gundul atau literature arab tanpa syakal. Buku paket terampil menerjemah terdiri dari 6 buku,” imbuh Mansur.

Manajer Program Posdai Hidayatullah, Samani Harjo, menjelaskan agar gerakan Grand MBA ini dapat dilakukan secara terorganisir maka perlu dibuat sebuah lembaga khusus.

Oleh karena itu, jelas Samani, dalam dalam pelatihan ini juga dibahas manajemen pengelolaan lebaga dakwah.

Samani Harjo yang juga hadir sebagai pendamping yang diutus oleh Posdai Pusat untuk mengawal agar program-program dakwah yang sudah dicanangkan di pusat dapat dilaksanakan dengan baik di wilayah dan daerah. (ybh/hio)