Beranda blog Halaman 583

Mencerahkan Generasi dan Bangun Budaya Ketaatan

Mencerahkan Generasi Muda dan Membangun Budaya KetaatanHidayatullah.or.id – Generasi muda Islam harus dibekali pemahaman agama sejak dini baik secara teks maupun kontekstual. Generasi muda tidak cukup sekedar tahu atau hafal dalil tapi tidak paham kondisi masyarakat.

Demikian ditegaskan Pimpinan Umum Hidayatullah, KH Abdurrahman Muhammad, saat menyampaikan tauhsiah di Masjid Ar Riyadh Komplek Pesantren Hidayatullah Pusat Balikpapan, Kaltim, Ahad (21/08/2016).

“Maka menanamkan idealisme sejak dini, dari SMP, SMA adalah penting dan harus untuk perjalanan melahirkan generasi Islam ke depan. Terlambat sebenarnya kalau masuk kuliah baru dikenalkan idealisme perjuangan Islam,” katanya.

Beliau menjelaskan, komitmen ber-Qur’an itu tidak mudah. Sekedar untuk menbaca satu juz setiap hari itu berat layaknya tidak ada waktu atau tidak sempat. Padahal, lanjutnya, ada waktu dan kesempatan untuk aktifitas lain.

“Kenapa untuk Qur’an tidak ada waktu. (Masalahnya adalah) keperpihakan kita kepada Quran yang kurang,” terangnya.

Beliau juga mengingatkan pentingnya selalu menyegar-nyegarkan spirit syadahat. Karena, jelasnya, syahadat adalah kesimpulan dari pencerahan dan awal dari perjalanan berislam.

“Syahadat perlu proses perjalanan, ini adalah perwujudan Tauhid Uluhiyah. Ilmu yang benar melahirkan keimanan yang benar juga, sehingga penanaman Tauhid adalah prioritas utama melalui wahyu pertama lima ayat surat Al Alaq,” imbuhnya.

Beliau menjelaskan, dalam surat Al Alaq, Allah mengenalkan diri-Nya sebagai Rabb. Mengenalkan alam dan jati diri manusia yang lemah dan hina. Itu semua, lanjut dia, bisa kita pelajari dari semua kitab dan ulama Islam yang luhur.

Dalam pada itu dia mengimbuhkan janganlah perbedaan antar sesama umat Islam memuat kita saling berpecah. Perbedaan dalam Islam adalah hal biasa, kecuali hal-hal yang terbukti menyalahi Al Qur’an dan As-Sunnah perlu diluruskan melalui dakwah yang santan.

“Perbedaan dalam umat Islam adalah kekayaan hazanah, bukan mengundang perdebatan dan pertengkaran. Perbedaan fiqih sudah biasa terjadi sejak zaman sahabat, kecuali masalah aqidah seperti Syiah,” tukasnya.

Bangun Tradisi Ketaatan

Ustadz Rahman, demikian ia karib disapa, juga menerangkan keutamaan membangun budaya ketataan dalam rangka menguatkan kepemimpinan umat.

Kata beliau, untuk melaksanakan Islam harus dalam kepemimpinan yang kuat. Contoh sederhana misalnya, dalam skala kecil ketika seorang petugas yayasan atau pesantren akan bepergian, maka ia mesti meminta izin kepada pemimpin.

Dan, seorang pemimpun harus selalu mengistighfarkan kepada yang izin. Karena boleh jadi terdapat nafsu interest pribadi yang menyertai izinnya.

“Ada ketenangan bepergian saat izin dan di jalan mendakwahkan Qur’an dan hadist, tidak khawatir kecelakaan atau kematian di perjalanan karena terhitung jihad di jalan Allah. Tidak panik kalau pesawat goyang, tidak ada urusan dengan ancaman, yang pentingkan luruskan niat dan kencangkan dzikir kpd Allah,” ungkapnya.

Dengan adanya tradisi yang demikian itu maka akan melahirkan kebersamaan. Beliau menegaskan, kebersamaan adalah kekuatan, sehingga semua harus dikendalikan, tertip, dan terpimpin.

“Untuk bisa memiliki karakter tersebur harus dilatih dan dikondisikan. Bapak BJ Habibi pernah ditanya Allahuyarham Abdullah Said tentang pesawat buatannya. Katanya, sebelum dilaunching maka perlu dilatih sayap pesawat itu selama empat bulan, itupun belum jaminan. Artinya, itulah pentingnya latihan,” cetus beliau.

Beliau mengimbuhkan, kalau seluruh umat Islam itu bersatu dan terpimpin maka semakin jayalah Indonesia ini. Namun, karena tersekat dengan golongan, kelompok, organisasi, dan partai, masing masing merasa lebih, sehingga sulit untuk bersatu atau diatur.

“Maka doa saya, Ya Allah hadirkan pemimpin umat Islam yang alim, pemimpin yang bisa menyatukan potensi umat Islam,” katanya.

Dia menambahkan, visi orang beriman adalah membebaskan manusia dari penjajahan nafsu dan mencerahkan manusia dengan Qur’an dan Hadist

Karenanya, untuk menegakkan visi tersebut perlu ditegakkan kepemimpinan. Tidak ada pemimpin maka hidup ini tidak teratur. Dalam dunia kejahatan saja ada kepemimpinan.

“Kemudian ruh dalam perjuangan ini adalah Qur’an. Modal dakwah adalah shalat lail, sehingga ada rasa optimisme. Semua pasti ada risiko, itulah tantangan orang beriman,” pungkasnya. (ybh/hio)

“Polisi Sahabat Santri, Santri Sahabat Polisi” di Balikpapan

Santap siang bersama polisi dan santri  / Foto: Polres Balikpapan
Santap siang bersama polisi dan santri / Foto: Polres Balikpapan
Medengarkan ceramah agama di Masjid Ar Riyadh Hidayatullah Balikpapan  / Foto: Polres Balikpapan
Medengarkan ceramah agama di Masjid Ar Riyadh Hidayatullah Balikpapan / Foto: Polres Balikpapan

Polisi Sahabat Santri, Santri Sahabat PolisiHidayatullah.or.id – Pesantren berperan sangat penting dalam menjaga kehidupan yang harmonis berlandas pada nilai-nilai agung ajaran Islam.

Tradisi tersebut juga tercatat dalam sejarah emas bangsa Indonesia bagaimana sentralnya peran pesantren dan kaum santri dalam menjaga integrasi nasional.

Berangkat dari semangat tersebut, Pondok Pesantren Hidayatullah Pusat Balikpapan menerima dengan hangat Kepala Kepolisian Resor Balikpapan, Kalimantan Timur, Ajun Komisaris Besar Polisi Jeffry Dian Juniarta, beserta rombongan dalam rangka bersilaturahmi menguatkan jalinan kebersamaan, belum lama ini, Rabu (24/08/2016).

Kapolres Balikpapan Jeffry Dian Juniarta menjelaskan, selain makan siang bersama, silaturahmia ini juga dirangkai dengan kegiatan berbagi inspirasi di mimbar masjid pesantren bersama santri.

“Sengaja saya bersilaturahmi ke sini. Karena kalau kita sudah bersahabat, semuanya sudah aman. Dengan makan siang kita bersilaturahmi. Dengan bersilaturahmi kita bisa menyelesaikan masalah,” kata AKBP Jeffry Dian Juniarta berseloroh di hadapan ratusan santri Ponpes Hidayatullah.

Selain itu, AKBP Jeffry Dian Juniarta juga menjelaskan kepada para santri dan ustadz Ponpes Hidayatullah, bahwa keamanan lingkungan itu tidak hanya tugas Polisi.

“Khususnya di Balikpapan, saya titipkan beban keamanan ke tangan adik-adik juga. Menjaga kedamaian itu juga menunjukkan sifat seroang muslim, bukan? Karena Islam itu cinta damai, Islam itu anti kekerasan,” katanya.

Kegiatan silaturahmi ini diberi tema “Polisi Sahabat Santri, Santri Sahabat Polisi”.

“Ide tagline ini datangnya dari Pesantren Hidayatullah ini,” terang AKBP Jeffry Dian Juniarta.

Sementara itu, Ustadz Abdul Rasyid, salah satu pimpinan Ponpes Hidayatullah, menyambut baik kegiatan silaturrahim yang digagas Polres Balikpapan bersama Pesantren Hidayatullah Balikpapan ini.

Dia menjelaskan, semangat kebersamaan dan saling jalin ukhuwah telah menjadi tradiri Hidayatullah sejak berdirinya yang hingga kini terus menguatkan peranannya dengan hadir di semua wilayah di Indoneesia.

Abdul Rasyid menegaskan, kehadiran Hidayatullah dimanapun tidak lain dalam rangka menyemarakkan gerakan dakwah rahmatan lil’alamin. Karenanya dakwah Hidayatullah, kata dia, selalu mengedepankan empati dan harmoni.

Pertemuan ini juga disemarakkan dengan yel-yel yang semakin menguatkan hubungan keduanya. Yel-yel itu berbunyi: “Santri…? Sahabat Polisi! Polisi…? Sahabat Santri!” dan “Santri bersama Polisi…? Hebat! Polisi bersama santri? Tangguh!”.

Kunjungan yang diawali dengan sholat dzuhur bersama ini dipimpin langsung oleh Kapolres Balikpapan AKBP Jeffri Dian Juniarta, SH, SIK.

Turut hadir pula Ketua Yayasan Hidayatullah Balikpapan, KH Zainuddin Musaddad, beserta para Pejabat Utama Polres Balikpapan, Kapolsek Balikpapan Timur dan Kapolsek Balikpapan Utara. Selain itu juga yang turut hadir dalam kunjungan tersebut adalah Satuan Tugas Binops Divisi Humas Mabes Polri. (ybh/hio)

Membangun Bangsa dengan Teladani Figur Keluarga Ibrahim

IMG-20160821-WA033 IMG-20160821-WA030Hidayatullah.or.id – Keluarga sebagai salah satu unit terkecil dalam lingkup berbangsa berperan sangat penting dalam membangun Indonesia menjadi bangsa yang kokoh dan bermartabat.

Karenannya, setiap keluarga perlu meleladani figur keluarga Nabi Ibrahim Alaihissalam dalam rangka membangun ketahanan kolektif yang kelak akan turut menguatkan posisi bangsa Indonesia berperadaban mulia.

Hal itu disampaikan Ketua Departemen Pembinaan Anggota DPP Hidayatullah, Muhammad Nur Fuad, M.Ag, saat menjadi narasumber dalam acara Halaqah Usroh Menyongsong Idul Qurban di Masjid Aqshal Madinah, Ahad (21/08/2016).

“Ada beberapa hal yang saya anggap penting dan harus kita pahami dalam memaknai Idul Qurban yang sebentar lagi akan kita laksanakan, yaitu bagaimana mencontoh keluarga Nabiullah Ibrahim Alaihissalam,” katanya dihadapan jamaah di acara yang mengusung tema Menyiapkan Generasi Ibrahim dan Ismail itu.

Ada sejumlah teladan mulia yang dapat diejawantah dari perikehidupan Nabi Ibrahim dan keluarganya.

Pertama, kata Nur Fuad, adalah hijrah. Nabi Ibrahim melakukan hijrah dari tanah Palestina menuju Makkah dan menempatkan keluarganya Siti Hajar dan anaknya yang masih bayi dalam rangka membangun sebuah keluarga yang diridhai-Nya.

“Membangun sebuah keluarga yang beriman memang penuh tantangan. Mengambil keputusan untuk hijrah hanya kepada Allah Ta’aala tanpa ada niat lainnya. Hijrah dengan target hidup yang lebih berkualitas,” kata Nur Fuad.

Hijrah, lanjut dia, adalah berani mengambil sebuah keputusan melangkah maju menuju sebuah kondisi yang terkadang tidak menyenangkan asalkan iman tetap terjaga dalam sanubari.

“Hijrah adalah menatap sebuah masa depan yang dicita-citakan, yaitu menggapai ridha dan cinta Allah azza wa jalla. Cinta dan ridho darinya dapat dirasakan dengan bergabung dilingkungan yang positif,” terangnya.

Hijrah dalam proses ini adalah mengupayakan hadir atau menghadirkan lingkungan yang lebih baik. Lingkungan yang dapat menyelamatkan aqidah dan iman. Saat ini, keberadaan lingkungan yang mendukung iman sangat dibutuhkan, imbuhnya.

Kedua, berdoa. Berdoa agar Allah Ta’aala menjadikan negeri aman dan nyaman. Negeri aman dan nyaman adalah dambaan kita semua. Iman atau ruhani pun dapat bersemai apabila kondisi baik.

Ketiga, membangun keluarga bertauhid. Menancapkan tauhid pada diri dan keluarga dan menjauhkan dari syirik. Kata Nur Fuad, kita harus berupaya menancapkan dalam diri dan keluarga tentang pentingnya tauhid dalam menjalani kehidupan.

“Hidup tidak akan pernah damai dan tenteram tanpa naungan ridho-Nya. Selain berusaha menggapai karunia dari-Nya, kita pun berupaya berlindung dari kesyirikan. Karena kesyirikan menjerumuskan kita pada hal-hal yang dimurkai-Nya,” imbuhnya.

Apalagi, lanjut dia, model rupa kesyirikan sekarang ini sangat menarik perhatian. Pesonanya semakin memikat karena berkolaborasi dengan teknologi canggih dan modern.

“Bentuk atau formulasi kesyirikan sudah menjamah masyarakat dunia saat ini. Semakin sulit membedakan antara yang murni tauhid dan berbau kesyirikan,” ujar Nur Fuad.

Keempat, adalah membangun lingkungan keluarga yang bernuansa pengkaderan dan kemasjidan yang kondusif.

Menurutnya, membangun keluarga atau keturunan yang senantiasa bergantung kepada Allah ta’ala perlu diupayakan terus menerus.

“Mendesain keluarga atau keturunan yang hatinya selalu dekat dengan sang pencipta harus dilakukan tanpa henti dan bosan,” katanya.

Dia menjelaskan, untuk memelihara hati tersebut dibutuhkan kondisi dan tempat, maka masjidlah yang menjadi solusi jitu sebagai tempat terbaik dalam merealisasikan.

“Masjid adalah central tempat mengasah dan memompa ruhani agar semakin baik. Tanpa membiasakan anak-anak, putra-putri kita dekat dengan aura masjid, mustahil (keluarga bertauhid) bisa terealisasi,” terangnya.

Kelima, menegakkan shalat yang khusyu’ agar mencapai kesuksesan. Karena itu, penting bagi orang tua senantiasa mengontrol shalat putra-putrinya.

Bahkan, lanjutnya, sangat perlu bertanya kepada anak kita yang sudah menginjak remaja, sudahkah engkau paham arti dan makna shalat yang engkau lakukan setiap hari itu, jelasnya.

Keenam, terus meningkatkan silaturrahmi dan memperluas rezeki. Silaturrahmi jangan disepelekan. Ada banyak manfaat yang terkandung di dalamnya. Selain mengeratkan ukhuwah atau persaudaraan, silaturrami pun dapat memudahkan dan melancarkan rezeki.

“Karena terkadang pertemuan dan pembicaraan kita dengan orang yang ditempati silaturrahim justru menjadi pintu rezeki kita,” tukasnya.

Ketujuh, membangun sikap muraqabah (self kontrol). Kesadaran tersebut dinilai penting agar kita selalu merasa diawasi atau berada dalam pengontrolan-Nya. Karena merasa dikontrol maka tindak dan perilaku kita semakin baik pula.

Dan, terakhir, kedelapan, selalu memohon ampun untuk diri, orang tua, dan sesama mukmin seluruhnya. Ditegaskan Nur Fuad, sangat penting bagi kita untuk membiasakan diri mendoakan orang lain.

“Menolong orang lain dengan cara mendoakan sangatlah baik. Meskipun kelihatan mudah dan kecil, tetapi sangatlah sulit bagi orang yang belum terbiasa,” kata dosen di sejumah perguruan tinggi di Jawa Timur ini.

Mengapa penting kita mendoakan orang lain. Kata Nur Fuad, karena kondisi lingkungan sekarang justru terbiasa menyoroti kekurangan orang lain dibanding kebaikannya sehinga dampaknya kita pun sulit melihat kebaikan orang apatalagi mendoakan kebaikan.

“Maka kita harus membiasakan diri mendoakan orang lain, meskipun dengan ucapan yang sederhana seperti “semoga Allah swt melancarkan dan memudahkan urusanmu saudaraku, semoga Allah melapangkan rezekimu sahabatku dan sebagainya,” pungkasnya.

Acara Halaqah Usroh yang diselenggarakan oleh Dewan Pengurus Daerah (DPD) Hidayatullah Kota Surabaya ini dihadir ratusan hadirin yang diantaranya adalah para orangtua santri. Acara yang digelar di masjid ini ditutup dengan doa dan ramah tamah. */Syamsul Alam Jaga

Laznas BMH Didorong Terus Dekatkan Umat pada Al-Qur’an

Laznas BMH Didorong Terus Dekatkan Umat dengan Al-Qur’an
Ketua Dewan Pertimbangan Pimpinan Umum DPP Hidayatullah, Dr H Abdul Mannan / Foto: Imam Nawawi

Hidayatullah.or.id – Ketua Dewan Pertimbangan Pimpinan Umum DPP Hidayatullah, Dr H Abdul Mannan, menegaskan bahwa bisa membaca Al-Qur’an adalah kewajiban setiap Mukminin dan Mukminat.

Oleh karena itu, dalam sambutan beliau pada acara Wisuda Dauroh Al-Qur’an Bersanad di Masjid Ummul Quro, Kota Depok, Jawa Barat, Sabtu (20/8) mendorong Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah (Laznas BMH) untuk menggalakkan program yang mendekatkan umat terhadap Al-Qur’an.

“Kewajiban setiap Mukminin dan Mukminat adalah bisa membaca Al-Qur’an. Oleh karena itu acara semacam ini perlu digencarkan, agar umat semakin dekat dengan Al-Qur’an,” jelasnya di hadapan para jama’ah dan wisudawan/wisudawati dan ratusan jamaah yang memadati masjid berlokasi di Pesantren Hidayatullah Depok itu.

Apalagi, imbuh ayah sembilan anak ini, kriteria manusia terbaik di dalam Islam adalah mereka yang belajar dan mengajarkan Al-Qur’an.

“Jadi, sangat merugi jika mengaku Islam, tetapi tidak tertarik belajar dan mengajarkan Al-Qur’an,” tegasnya.

Lebih jauh, penulis buku Strategi Pemenangan Dakwah itu mengingatkan bahwa bisa membaca adalah tahap awal.

“Jangan kemudian sudah bisa membaca merasa puas, sebab setelah itu ada perintah mengajarkan, mendakwahkan dan mengamalkannya. Apalagi kalau sudah dapat sanad, jelas tanggung jawab dakwahnya juga semakin meningkat,” ungkapnya.

Dauroh Al-Qur’an Bersanad yang berlangsung selama 10 hari itu (10-20/8) diikuti oleh 60 peserta yang merupakan dai dan daiyah se-Jabodetabek sepenuhnya disupport oleh BMH.

Hanya saja, waktu yang tersedia, belum semua peserta lulus dengan baik dan mendapatkan sanad. “Padahal peserta sudah bekerja keras selama 10 hari,” ungkap Ketua Panitia Ahmad Maghfur.

Namun, demikianlah sifat ilmu. “Ilmu harus dikejar tanpa kenal lelah dan terus-menerus,” ungkap Ustadz Rifa’I Al-Haq bin Abidin Abbas selaku pemateri tunggal memotivasi jama’ah dan para peserta yang belum berhasil mendapatkan sanad.*/ Herim

Bank Muamalat Optimalkan Potensi di Pondok Pesantren

Ilustrasi: Penandatanganan kerjasama Hidayatullah dengan Bank Muamalat / dok
Ilustrasi: Penandatanganan kerjasama Hidayatullah dengan Bank Muamalat / dok

Hidayatullah.or.id – Bank Muamalat tak menyia-nyiakan potensi lembaga pendidikan yang memiliki perputaran uang cukup tinggi. Dua tahun terakhir, Muamalat menjadikan ceruk pasar itu sebagai salah satu sumber penghimpunan dan penyaluran dana.

Karsono, Region Head Bank Muamalat di wilayah Kalimantan mengatakan, strategi tersebut sudah berjalan intensif setidaknya dalam dua tahun belakangan, sejak Bank Indonesia menggencarkan Gerakan Nasional Non Tunai (GNNT).

“Sejak 2014, kami sudah merambah pondok pesantren hingga perguruan tinggi untuk memasok layanan keuangan. Termasuk layanan keuangan digital (LKD),” ucapnya saat peluncuran LKD di Pondok Pesantren Hidayatullah Balikpapan.

Karsono menjelaskan, LKD memang strategis jika disediakan di lingkungan yang memiliki banyak massa. Lembaga pendidikan adalah salah satunya.

Berstatus bank syariah, pendekatan religius diakuinya menjadi faktor utama dalam memilih lembaga pendidikan Islam seperti pondok pesantren sebagai pangsa bisnis. Namun, Karsono menyebut ada faktor teknis yang menjadikan segmen ini unggul.

“Perhitungannya, semisal pada pendaftaran tahun ajaran baru per santri membayar rata-rata Rp 5 juta, dikalikan 400 orang saja sudah Rp 2 miliar. Sementara untuk SPP, per pondok itu rata-rata bisa Rp 15 miliar Ditambah dana dari orang tua santri, setidaknya bisa dua kali lipat lebih besar dari itu,” urai Karsono.

Dengan menjadi pusat layanan keuangan di pesantren, Bank Muamalat disebutnya juga lebih mudah menjaring nasabah baru. Hal itu tak lepas dari lebih efisiennya transaksi antarnasabah dari bank yang sama.

“Kalau pakai rekening lain, tentu ada biaya transfer. Ini bisa jadi pertimbangan orang tua santri, agar sejak awal anaknya masuk pesantren, sudah membuka rekening di bank yang sama pula,” beber dia.

Tak hanya pesantren, kata dia, potensi serupa juga bisa dioptimalkan lewat lembaga pendidikan reguler, bahkan perguruan tinggi. Segmen itu pun sudah lama digarap Bank Muamalat.

“Di Samarinda, kami sudah masuk ke IAIN. Termasuk dengan LKD tadi. Bagi lembaga pendidikan menggunakan layanan kami, perputaran uang pun tak sebatas di lingkup internal. Pihak luar, seperti orang tua peserta didik,” beber dia. (man2/k15/jos/jpnn)

Maksud Pelarangan Taqlid dari Imam Syafi’i dan Imam Ahmad

0

Maksud Pelarangan Taqlid dari Imam As Syafi’i dan Imam AhmadTIDAK bisa dipungkiri bahwa para ulama telah menyampaikan pernyataan dari imam mujtahid semisal Imam As Syafi’i dan Imam Ahmad, ungkapan yang secara dhahir menunjukkan bahwa kedua ulama tersebut melarang taqlid.

Pernyataan Imam As Syafi’i yang masyhur dalam masalah ini adalah yang dinukil oleh murid beliau Imam Al Muzani. Dimana dalam muqadimah Mukhtashar Al Muzani beliau menyebutkan, bahwa Imam As Syafi’i melarang untuk taqlid kepada dirinya dan kepada para mujtahid lainnya. (lihat, Mukhtashar Al Muzani fi Furu’ As Syafi’iyah, hal. 7)

Secara sepintas, dari pernyataan Imam Al Muzani tersebut bisa dipahami bahwa seakan-akan Imam As Syafi’i melarang mutlak kepada siapa saja untuk bertaklid kepada beliau, juga kepada para mujtahid lainnya. Namun sebenarnya makna pernyataan Imam Al Mizani tersebut amat mendalam, sehingga para ulama Syafi’iyah sendiri perlu menjelaskan apa yang terkandung dibalik pernyataan tersbut, siapa pula yang dituju dalam pernyataan tersebut.

Penjelasan Imam Al Mawardi

Adalah Imam Al Mawardi penulis Al Hawi Al Kabir yang merupakan syarah (penjelasan) dari kitab Mukhtashar Al Muzani itu menjelaskan, bahwa para ulama Syafi’iyah sendiri berbeda pendapat mengenai siapa yang terkena sasaran oleh perkataan Imam As Syafi’i untuk tidak taqlid kepada beliau dan kepada ulama lainnya.

Namun, pendapat Abu Ishaq Al Marwazi dan mayoritas Syafi’iyah berpendapat bahwa perkataan itu ditujukan kepada Imam Al Muzani, yakni murid dari Imam As Syafi’i,”….Maka larang untuk taklid datang dari As Syafi’i kepada Al Muzani…” (Al Hawi Al Kabir, 1/14)

Imam Al Mawardi juga menjelaskan bahwa ketika pernyataan Imam As Syafi’i ini dipakai secara mutlak,”… ditafsiri dengan apa yang kita jelaskan dari sejumlah kondisi dalam taqlid.” Kemudian Imam Al Mawardi menjelaskan secara terperinci perkara apa yang boleh taklid dan yang tidak boleh, siapa yang boleh untuk taqlid padanya dan siapa yang tidak boleh, kemudian kondisi muqallid dalam hukum syar’i.

Dalam pembahasan terakhir Imam Al Mawardi menyatakan,”Maka taqlid dalam hal ini berbeda-beda sesuai dengan kondisi manusia dalam memahami perangkat ijtihad yang berfungsi untuk hal itu dan tidaknya. Kalau seluruh manusia dilarang untuk taqlid dan mereka dibebani untuk berijtihad, maka kewajiban untuk memahami perangkat ijtihad wajib bagi seluruh manusia. Hal ini adalah kekacauan tatanan dan merupakan kerusakan…”

Dari pernyataan Imam Al Mawardi tersebut, bisa disimpulkan bahwa pernyataan Imam As Syafi’i yang melarang taqlid tidak berlaku mutlak kepada siapa saja, namun kepada mereka yang cukup memiliki perangkat untuk ijtihad. Dan hal ini sejalan dengan penafsiran mayoritas Syafi’iyah yang berpendapat bahwa pernyataan itu ditujukan kepada Imam Al Muzani, dimana beliau telah mencapai pada tingkatan sebagai mujtahid madzhab.

Penjelasan Al Hafidz Ibnu Shalah

Ibnu Shalah sendiri menyatakan bahwa seruan meninggalkan taqlid dari para Imam bukan perkara yang mutlak,”Seruan untuk tidak bertaqlid kepada mereka (para imam) secara mutlak bukanlah dakwaan yang lurus, dan tidak sesuai dengan apa yang diketahui dari keadaan mereka atau mayoritas dari mereka.” (Lihat, Al Majmu’ 1/72).

Penjelasan Imam An Nawawi

Ketika Imam An Nawawi menjelaskan mengenai posisi mujtahid madzhab, dimana mereka dinisbatkan ke madzhab bukan karena taqlid terhadap terhadap pendapat atau dalil, namun karena menggunakan metodologi imam madzhab dalam berijtihad, maka setelah itu beliau menyatakan,”Hal yang disebutkan oleh kedua orang (Abu Ishaq dan Abu Ali As Sinji) ini, sesuai dengan apa yang diperintahkan kepada mereka (mujtahid madzhab) dalam ijtihad oleh As Syafi’i kemudian Al Muzani di awal Muhktashar Al Muzani,’Dengan pemaklumatannya (As Syafi’i) (mengenai) pelarangannya untuk taqlid kepadanya dan kepada selainnya.’” (lihat Al Majmu, 1/76)

Dari pernyataan Imam An Nawawi di atas, maka bisa disimpulkan bahwa pernyataan Imam As Syafi’i yang disebut oleh Imam Al Muzani mengenai larangan untuk taqlid relevan dengan mereka yang sampai pada tingkatan mujtahid madzhab.

Larangan Taqlid dari Imam Ahmad

Al Hafidz Ibnu Rajab Al Hanbali sendiri telah menyebutkan argumen yang biasa digunakan oleh mereka yang mengklaim sampai kepada derajat ijtihad dan menolak mengikuti madzhab empat,”Apa yang kalian katakan terhadap larangan Imam Ahmad dan para Imam lainnya mengenai taqlid terhadap mereka dan menulis pendapat mereka? Juga dengan pernyataan Imam Ahmad,’Janganlah kalian mencatat pendapatku, juga pendapat si fulan dan si fulan. Belajarlah kalian sebagaimana kami belajar?’” (lihat, Ar Radd ila Man Ittaba’a Ghaira Al Madzhahib Al Arba’ah, hal. 268)

Al Hafidz Ibnu Rajab pun menjawab argumen itu, bahwa itu ditujukan kepada mereka yang mencapai puncak dalam pengetahuan terhadap Al Qur`an dan As Sunnah baik dalam hal hafalan maupun pemahaman serta penulisan dan penela’ahan, juga menyibukkan diri dengan atsar sahabat dan tabi’in serta mengetahui yang shahih dan yang syadz. Maka pengetahuan mereka dekat dengan pengetahuan Imam Ahmad. (lihat, Ar Radd ila Man Ittaba’a Ghaira Al Madzhahib Al Arba’ah, hal. 268)

Selanjutnya Al Hafidz Ibnu Rajab menyatakan, adapun larangan untuk menempuh ijtihad ditujukan kepada mereka yang tidak sampai pada derajat puncak ini, lalu beliau menjelaskan,”Tidak memiliki pemahaman dari hal ini kecuali sedikit orang, sebagaimana kondisi di zaman ini…” (lihat, Ar Radd ila Man Ittaba’a Ghaira Al Madzhahib Al Arba’ah, hal. 268)

Dari sini bisa diketahui, bahwa larangan taqlid yang datang dari para mujtahid tidak berlaku mutlak kepada semua pihak, namun hanya ditujukan kepada mereka yang sampai pada derajat ijtihad. Hal ini sesuai dengan apa yang dipahami para ulama mu’tabar dari pernyataan para mujtahid semisal Imam As Syafi’i dan Imam Ahmad.*/ Hidayatullah.com

Wagub Hianggio Buka Jambore Pandu Hidayatullah se-Kaltara

SIMBOLIS : Wakil Gubernur (Wagub) Kaltara, H Udin Hianggio mengalungkan tanda pengenal peserta secara simbolis sebagai tanda dibukanya Jambore Wilayah Pandu Hidayatullah I se- Kaltara, Senin (15/8). (dok humas)
SIMBOLIS : Wakil Gubernur (Wagub) Kaltara, H Udin Hianggio mengalungkan tanda pengenal peserta secara simbolis sebagai tanda dibukanya Jambore Wilayah Pandu Hidayatullah I se- Kaltara, Senin (15/8). (dok humas)

Hidayatullah.or.id – Wakil Gubernur Kalimantan Utara (Kaltara) H Udin Hianggio berharap kepada peserta yang mengikuti jambore Pandu Hidayatullah se-Kaltar agar terus belajar dan menghormati orangtua serta menghormati guru sehingga menjadi manusia berguna yang bermanfaat bagi bangsa dan Negara.

Hal itu di katakan Wakil Gubernur saat membuka Jambore Wilayah Pandu Hidayatullah I se-Kaltara yang diselenggarakan di halaman Pondok Pesantren Hidayatullah Tanjung Selor, Senin (15/8).

“Saya harapkan kepada anak-anakku yang tecinta kalian sebagai penerus mari belajar terus dan hormati orang tua dan hormati gurumu sehingga kita menjadi manusia yang berguna dan bermanfaat bagi bangsa dan Negara kita,” harapnya.

Jambore yang dilaksanakan tersebut dari lima kabupaten/kota dengan jumlah 150 peserta. Udin mengatakan guna untuk silaturahmi antar santri sekaltara juga menumbuhkan kreatifitas dan inovatif kepada anak.

“Kita membutuhkan generasi penerus yang bertaqwa dan berakidah bagi daerah dan bangsa kita maka itu mari tugas kita semua bagaimana membina anak-anak kita kedepan karena masalah yang kita hadapi adalah masalah narkoba yang selama ini sangat menyedihkan kita,” tuturnya sebagaimana juga dilansir LKBN Antara Kaltara.

Di samping itu juga Udin mengajak agar bagaimana membina anak-anak dan itu memulainya dari diri dan keluarga dan berharap kedepan terhindar dari masalah-masalah yang dihadapi.

“Oleh karena itu kita memulainya dari diri kita, dari keluarga kita sehingga anak-anak kita menjadi generasi penerus yang bermanfaat bagi daerah dan bangsa ini. mudah-mudahan bangsa kita kedepan terhidar dari masalah-masalah yang tidak kita inginkan terutama masalah narkoba,” harapnya.

Selain itu juga Udin memberikan apresiasi kepada pimpinan pondok pesantren Hidayatullah dalam menyelenggara kegiatan tersebut dan telah membina anak-anak untuk menjadi penerus generasi-generasi yang diharapkan.

“Saya memberikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan yang di laksanakan ini. Saya ucapkan selamat mengikuti kegiatan Jambore wilayah pandu se-Kaltara semoga menjadi duta-duta dari Kaltara dari ponpes ini yang bisa membawa nama baik Kaltara kedepan dan menjadi orang-orang yang bertaqwa dan beribadah,” tuntasnya. (ybh/hio)

Semarak Kesyukuran Indonesia Merdeka di Kampus Hidayatullah

upacara benderaUpacara Hidayatullah Batam5 Upacara Hidayatullah Batam4 Upacara Hidayatullah Batam3 IMG-20160817-WA054Hidayatullah.or.id – Indonesia telah memasuki usia ke 71 tahun kemerdekaannya dari cengkraman penjajah. Guna menguatkan akan kesejarahan bangsa tercinta ini, Hidayatullah turut memperingati hari kemerdekaan 17 Agustus 2016 dengan menggelar kegiatan peringatan tujuh belasan sebagaimana telah berlangsung setiap tahunnya.

Selain menggelar ucapara peringatan 17 Agustus, kampus-kampus Pesantren Hidayatullah seluruh Indonesia juga mengadakan kegiatan seperti perlombaan dan kompetisi ajang kreatifitas.

Di Kampus Hidayatullah Batam dan Depok misalnya. Semarak kegiatan ucapara dirangkai dengan beragam ajang edukasi. Selain tu, juga ajang ini diharapkan menjadi momentum sarana pendidikan dan hiburan bagi segenap generasi muda akan wawasan kebangsaan.

Ketua Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Kota Depok, Lalu Mabrul, dalam pidato peringatan 17 Agustus di halaman utama pesantren mengatakan

kini penjajahan itu sudah berlalu. Indonesia sudah merasakan indah dan manisnya kebebasan. Indonesia merasakan kebebasan dari ketergantungan. Dan, bebas menemukan arah negerinya sendiri dari campur tangan dan gangguan negara-negara adikuasa.

“Bahkan, euforia kemerdekaan selalu dirayakan oleh seluruh anak negeri di nusantra ini dari mulai perkampungan terpencil sampai ramainya perkotaan metropolitan,” katanya.

Euforia itu, jelas dia, berlangsung dari tahun ketahun dengan mengadakan kegiatan yang mengekspresikan bahwa betapa indahnya alam kebebasan yang perlu kita syukuri.

Karena itu, lanjut Lalu, generasi bangsa selanjutnya perlu menemukan kembali makna dan hakikat kemerdekaan itu sendiri serta bagaimana seharusnya seorang generasi menyikapi kemerdekaan.

“Ketika manusia dilahirkan, sesungguhnya manusia sudah diberikan kebebasan atau kemerdekaan untuk memilih dengan dua pilihan yaitu antara iman atau atau tidak beriman,” imbuhnya.

Itu sebabnya manusia juga diberikan kebebasan menjadi orang baik atau buruk. Menjadi perubah atau pecundang.

Dia melenajutkan, hakikat kemerdekaan bagi seorang generasi muslim (rijaalul muslimin) adalah ketika kita terbebas dalam dua hal, yaitu, Pertama, iman terbebas dari belenggu kekufuran. Yakni rijaalul muslim yang merdeka adalah mereka yang tidak terbelenggu dan tersandra oleh nafsunya.

“Rijalul muslim yang merdeka adalah mereka yang membebaskan dan membersihkan keimanan dan nafsunya dari tipu daya syaitan,” imbuhnya.

Kemudian, lanjut dia, rijalul muslim yang merdeka adalah mereka yang selalu menyucikan jiwanya dari segala kotoran yang menyelimutinya. Lalu Mabrul mengutip sebuah hikmah:

قد افلح من زكاها وقد خاب من دساها
Sungguh beruntungglah orang-orang yang senantiasa mensucikan jiwanya dan merugi mereka yang mengotorinya.

Yang Kedua, jelas Lalu, manusia merdeka atau bebas dari kebodohan. Kebodohan merupakan musuh yang harus bebas dari setiap genersi ini.

“Orang yang memelihara kebodohan dalam dirinya sesungguhnya ia adalah orang yang terjajah, orang yang terbelenggu. Bilamana ia bercokol dalam diri manusia maka hakekatnya keberadaannya adalah ketiadaannya,” pesan Lalu.

Ia tidak akan bisa memberikan manfaat terhadap diri apalagi yang lain. Ia tidak akan bisa memberi Karena ketiadaan.

“Oleh karenanya hiasilah kemerdekaan ini dengan terus meningkatkan kualitas dan kapasitas diri kita masing,” pesan Lalu.

“Jika kita seorang pendidik, maka lakukanlah itu dengan penuh dedikasi yang di gugu dan ditiru. Jika kita seorang murid jadilah murid yang sabar yang tidak akan pernah menyerah untuk membebaskan diri dari kebodohan. Itu penting,” tambahnya di hadapan peserta upcara.

Lalu mengatakan anak-anak generasi bangsa harus selalu menyiapkan diri untuk melanjutkan kiprah para orangtua dalam mengawal bangsa ini menuju negeri yang adil dan beradab sebagaimana dicita-citakan oleh pendiri bangsa.

“Karena di tangan kalianlah negeri ini dititipkan. Karena pada pundak kalianlah masa depan negeri ini akan letakkan,” ujar Lalu seraya mengutip syair Arab sebagaimana berikut:

Bersungguh-sungguhlah jangan jadi pemalas maka kelak penyesalanlah yang akan didapatkan bagi orang-orang pemalas. (ybh/hio)

 

Islam Wasathiyah Tolak Keras Terorisme dan Mengkafirkan

0
Dosen-dosen UIM pada acara Reuni alumni UIM di Kampus Pesantren Hidayatullah Balikpapan / Foto: Muhammad Dinul Haq
Dosen-dosen UIM pada acara Reuni alumni UIM di Kampus Pesantren Hidayatullah Balikpapan / Foto: Muhammad Dinul Haq

Hidayatullah.or.id – Ketua Daurah dan Muqabalah Universitas Islam Madinah (UIM) untuk Indonesia, Syeikh Dr. Sulaiman Abdullah Ar-Rumi, menyampaikan risalah UIM kepada alumninya di Indonesia.

“Kami juga membawa salam dari Plt Rektor UIM Syeikh Dr. Ibrahim Al-Ubaid, beliau menyampaikan salam hangat untuk para alumnus. Kami juga membawa risalah UIM berupa Wasathiyah Islam, anti mengafirkan sesama Muslim dan anti terorisme,” ujarnya.

Hal itu dikatakannya pada acara reuni alumni Al Jamiah al Islamiyah bil Madinah al Munawwarah (Universitas Islam Madinah/UIM) regional Kalimantan di Balikpapan, Kalimantan Timur (Kaltim), Senin malam (15/08/2016).

Reuni ini digelar di tengah perhelatan Daurah dan Muqabalah UIM di Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan.

Syeikh Sulaiman mengatakan, reuni ini adalah perpanjangan tangan Kerajaan Arab Saudi khususnya UIM dalam mengeratkan ukhuwah di antara alumni.

“UIM dan alumninya harus bergandengan tangan membawakan Islam rahmatan lil alamin, langsung dari tempat turunnya wahyu, kota Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam,” pesannya kepada sejumlah alumnusnya.

Hadir pula dalam acara ini dosen Pascasarjana Fakultas Bahasa Arab UIM Dr. Mubarak al-Hubaisyi, dosen Pascasarjana Fakultas Hadits UIM Syeikh Dr. Abdullah al-Madani, dan dosen Pascasarjana Fakultas Dakwah dan Ushuluddin UIM Syeikh Dr. Abdurrahman Raji al-Aufi.

“Kegiatan ini adalah bagian dari perhatian Arab Saudi dan pihak UIM terhadap alumninya, tidak hanya di Indonesia tapi di seluruh dunia. Bahkan UIM telah membentuk Dekan Alumni di Madinah.

Semua ini dilakukan karena ukhuwah dan komunikasi sesama aktivis akademik dan dakwah Islam harus selalu terjalin,” kata Sulaiman yang juga Dekan Penelitian Ilmiah di UIM.

Mewakili alumni, Naspi Arsyad menyampaikan rasa terima kasih atas kunjungan para Masyaikh dari Madinah. Naspi juga menyampaikan beberapa harapan kepada pihak UIM.

“Kami sangat berterima kasih kepada Arab Saudi dan UIM atas kunjungan dan reuni ini. Kami juga berharap agar UIM bisa menerima calon mahasiswa dari Kalimantan dalam jumlah yang lebih besar, karena tantangan dakwah di pulau ini sangat besar,” kata Naspi, alumnus Fakultas Syariah UIM.

Acara ini ditutup dengan pemberian cenderamata untuk alumni dan makan malam bersama.

“Ini adalah reuni UIM pertama yang dilaksanakan di Kalimantan,” terang Nashirul Haq, Koordinator Alumni UIM se-Kaltim dan Kalimantan Utara.* (Hidcom)

Masyarakat Sampaga Rasakan Manfaat Kehadiran Hidayatullah

0
IMG-20160811-WA050
Tampak bangunan yang telah berdiri di kampus Hidayatullah Sampaga, Sulbar, yang dimanfaatkan untuk kegiatan kepesantrenan / Foto: Muhammad Bashori

Hidayatullah.or.id – Masyarakat di bilangan Sampaga, kecamatan terujung di wilayah utara Kabupaten Mamuju merasakan manfaat atas sentuhan dakwah dai Hidayatullah di kawasan tersebut.

Layanan dakwah dan pembinaan keagamaan terus dilakukan kendati masih dalam tahap pengembangan dan para dainya terus berkeinginan keras untuk menguatkan kebaikan meski dengan sarana yang serba minim.

“Saya sangat bahagia bisa ikut merasakan semangat teman-teman di pesantren Hidayatullah, sekaligus senang karena banyak perubahan dalam pembangunan fisik dan mentalnya,” kata tokoh masyarakat setempat H. Firman belum lama ini saat memberi sambutan acara silaturrahim pesantren.

Di atas tanah seluas sekitar 2 hektar itu kini sudah berdiri gedung berukuran 6 x 14. Di tempat itulah para santri melakukan kegiatan kepesantrenan, mulai dari belajar formal di ruang yang disulap menjadi ruang kelas, ruang sholat, dan istrirahat.

Selain itu, sejumlah infrastruktur yang telah berdiri representatif di lingkungan kampus tersebut kini mampu menampung belasan santri meskipun dengan sedikit tertatih dari sisi pembiayaan.

Keberanian untuk menampung 16 dari 47 jumlah siswa siswi SMP Islam Nurul Huda di asrama santri bermula dari saran beberapa tokoh masyarakat ketika dikunjungi ke kediamannya dan akhirnya kerja sama itu terwujud.

Santri yang berasal dari desa desa di wilayah hulu sungai Tarailu itu seluruh keperluannya ditanggulangi oleh pihak pondok atas kerjasama dengan pemerintah desa, tokoh masyarakat dan donatur di desa itu.

Pembangunan Kampus Hidayatullah Sampaga, Sulbar, terus dilakukan untuk mendukung kualitas layanan dakwah di daerah tersebut / Foto Muhammad Bashori
Pembangunan Kampus Hidayatullah Sampaga, Sulbar, terus dilakukan untuk mendukung kualitas layanan dakwah di daerah tersebut / Foto: Muhammad Bashori

Juga telah berjalan TK Nurul Huda yang juga milik ormas Hidayatullah ini, bertempat di Tarailu dirintis sejak 6 tahun silam saat petugas pertama merambah desa yang banyak peternak burung walet ini.

Tidak itu saja, kegiatan pengembangan juga dilakukan dengan bekerja membangun sebuah pondok pesantren Hidayatullah di bilangan dusun Bulu Cengkeh sekira 3 kilometer ke arah timur Tarailu.

“Kami sangat optimis gerakan dakwah di kecamatan Sampaga ini terus mengalami peningkatan dan turut berperan dalam membangun kualitas masyarakat terutama dalam bidang pembinaan ruhani dan layanan pendidikan yang sejalan dengan program pemerintah dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa,” Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sulawesi Barat (Sulbar) Drs Imron M. Djufrie dalam acara silaturahmi bersama tokoh masyarakat dan pemerintah di Pesantren Hidayatullah dusun Bulu Cengkeh.

Imrom menambahkan, sinergi dai bersama masyarakat dan pemerintah yang terjalin sangat turut menopang pengingkatan etos kinerja dan ibadah yang lebih meningkat lagi agar perkembangan syiar Islam makin maju. */Muhammad Bashori