BERIKUT ini naskah khutbah Idul Fitri 1437 Hijriyah rilis DPP Hidayatullah. Semoga bermanfaat dan dapat dimanfaatkan seluas-luasnya kaum muslimin.
Selain dalam format Microsoft Word, file juga disertakan dalam bentuk PDF, sehingga pastikan di komputer anda telah terinstal aplikasi “Acrobat Reader” atau sejenisnya untuk dapat membaca atau mencetak file.
Selamat Idul Fitri, taqabbalallahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum.
Hidayatullah.or.id – Posdai Hidayatullah melalui lembaga Persaudaraan Dai Indonesia (Posdai) kembali melakukan penugasan dai bertepatan dengan bulan Ramadhan 1437. Berikut berita videonya. Selamat menyimak:
Santri di Ponpes Hidatullah Kendari saat melakukan tadarus Al-Qur’an usai salat zuhur, Senin (13/6/2016). Mereka diwajibkan khatam minimal 6 kali selama Ramadan dan menghafal minimal 15 juz.
Hidayatullah.or.id – Lantunan ayat-ayat suci Alquran terdengar menyejukkan. Suara itu berasal dari 300 santri Pondok Pesantren Hidayatullah Kendari yang terletak di bilangan Jalan Ahmad Nasition, Andounohu, Kota Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra).
Mereka sedang menyibukkan diri melafazkan setiap ayat-ayat Alquran di bulan suci Ramadan. Target khatam Alquran menjadi cara efektif memperkuat hafalan. Jumlah khatamnya pun terbilang fantastis. Pihak Ponpes menargetkan setiap santri mampu khatam, minimal tadarus enam juz setiap harinya.
Terkadang khatam sekali sebulan saja, sangat sulit tercapai. Namun berbeda dengan santri Ponpes Hidayatullah. Enam juz dalam sehari dianggapnya tidaklah berat. Waktu yang digunakan membaca dan menghafal Alquran berbeda-beda. Ada yang melakukannya usai salat tarawih, ada pula yang memanfaatkan waktu setiap selesai mendirikan salat lima waktu.
“Setiap selesai salat fardu, santri melakukan tadarus bersama. Mereka saling mengoreksi. Tujuan tadarus ini tidak lain adalah mencari rida Allah dan memudahkan santri untuk menghafal Alquran. Bagi santri yang setara dengan SMA diwajibkan hafal 15 juz sementara yang setara SMP wajib hafal 10 juz,” ungkap Nasri Bohari, Pimpinan Ponpes Hidayatullah Kendari, seperti dikutip dari Kendari Pos, Selasa (14/6).
Nasri bercerita, hampir seluruh santrinya yang sederajat SMA, hafalan mereka telah mencapai sepuluh juz. Dia pun berharap selama bulan suci Ramadan, hafalan setiap santri dapat bertambah dan bisa mencapai target. Metode yang digunakan dilakukan dengan menghafal ayat per ayat. Bagi santri yang belum sempurna hafalan, belum diizinkan untuk melanjutkan bacaannya pada surat yang lain.
“Menghafal Alquran sebenarnya sangat mudah. Hanya saja, kami belum mengetahui caranya sehingga terkesan sangat sulit. Semoga dengan mengetahui cara menghafal Alquran ini menjadi inspirasi dan dapat memacu semangat kaum muslimin dalam menghafal Alquran,” kata Nasri.
Alquran adalah bacaan yang paling mulia. Awal mula diturunkan pada bulan paling mulia yakni bulan suci Ramadan. Tak heran jika tradisi khatam Alquran dan meninggkatkan hafalan santri merupakan agenda rutin di Ponpes tersebut. Bagi mereka yang mengetahui kemuliaan Alquran, pasti akan mencintainya, membacanya, menghayati kandungannya, berusaha menghafal ayat demi ayat-Nya.
“Paling pokok adalah bagaimana mendidik santri untuk berusaha mengamalkannya secara keseluruhan. Kaaffaah dalam kehidupan sehari-hari. Pahalanya dihitung huruf per huruf,” ungkapnya.
Para hafiz Alquran memiliki kemuliaan. Pada zaman Rasulullah Muhammad SAW, lanjutnya, di kala itu, tak jarang para hafiz diutamakan kedudukannya. Salah satunya dalam memimpin delegasi. Mekanismenya, Rasulullah SAW akan menguji dan bertanya seputar hafalan, selanjutnya Rasulullah akan memilih para calon pemimpin dengan berdasarkan pada yang paling banyak hafalannya. Sebab menghafal Alquran merupakan tanda orang yang diberi anugerah berupa ilmu. (him/ybh)
Hidayatullah.or.id – Hidayatullah menerjunkan kadernya dalam tim bernama “Hidayatullah Peduli” yang merupakan kesatuan aksi sosial gabungan tim SAR Hidayatullah, Laznas Baitul Maal Hidayatullah (Laznas BMH), dan Islamic Medical Services (IMS) untuk membantu proses pencarian dan evakuasi korban musibah banjir longsor di Desa Sukomulyo, Kecamatan Rowokele, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, dan di Desa Donoranti, Kecamatan Purworejo, Kabupaten Purworejo.
Seperti diwarta, hujan berintensitas tinggi di wilayah Jawa Tengah bagian selatan pada Sabtu (18/6/2016) pagi hingga sore telah menyebabkan banjir dan longsor di sejumlah daerah.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat setidaknya banjir dan longsor terjadi di 8 kabupaten. Banjir dan longsor terjadi di Kabupaten Kebumen, Banjarnegara, Wonosobo, Purworejo, Banyumas, Karanganyar, Wonogiri, dan Kota Solo di Provinsi Jawa Tengah.
Hingga kini tim SAR gabungan masil melakukan pencarian korban tertimbun longsor di Kabupaten Purworejo, Provinsi Jawa Tengah. Informasi terakhir, total korban bencana banjir dan longsor di Jawa Tengah ada sejumlah 47 tewas dan 15 orang hilang.
Sekitar 250 personil Tim SAR gabungan dari BPBD, TNI, Polri, Basarnas, PMI, Tagana, SKPD, NGO, relawan masyarakat mencari korban hilang di Desa Dorowati.
Badan Nasional Penaggulangan Bencana (BNPB) Pusat mengemukakan bahwa Kondisi tanah labil dan potensi longsor susulan masih tinggi jika hujan di bagian hulu. (dbs/hio)
Hidayatullah.or.id – Mantan aktris senior Titi Widoretno Warisman atau akrab dipanggil Neno Warisman mengaku tersanjung dan bangga dengan kiprah dakwah yang telah dilakukan Hidayatullah ke berbagai wilayah terpencil se-nusantara termasuk hingga ke pelosok-pelosok Papua. Juga perannya di bidang pendidikan, sosial, dan pemberdayaan umat.
Hal itu disampaikan Neno Warisman dalam kesempatan silaturrahim jelang buka puasa bersama di Kampus Ponpes Hidayatullah Manokwari, Jalan Trikora Arfai II, Kelurhan Anday, Kabupaten Manokwari, Provinsi Papua Barat, belum lama ini (19/06/2016).
“Hidayatullah sangat Unik. Bisa menghasilkan kader dakwah tanpa henti yang selalu siap dterjunkan di daerah. Ini buah dari pernikahan massal yang selalu diadakan di Gunung Tembak,” katanya seraya memuji tradisi pernikahan massal santri dipelopori Hidayatullah yang kini banyak diadopsi itu.
Pada kesempatan tersebut Neno Warisman mengajak segenap santri Hidayatullah dan warga untuk mencintai Al Qur’an dan mengamalkannya.
“Jika anak-anak santri jenuh, bacalah Al-Qur’an. Karena Qur’an adalah teman yang paling baik. Dengan membaca Qur’an sel-sel dalam tubuh kita menjadi teratur dan otak akan makin cerdas,” imbuh Neno yang pagi tadi mengisi acara Parenting Milad Aisyiyah ke 102 PW Asyiyah Papua Barat.
Neno Warisman mendorong santri Hidayatullah Manokwari untuk selalu bersemangat dalam menjalankan tugasnya sebagai murid sekaligus santri.
“Kejarlah cita-citamu setinggi-tingginya. Jangan ragu akan nikmat Allah yang luar biasa. Yakinlah bahwa Allah selalu ada bersamamu,” ujarnya berpesan.
“Keberadaan kalian di pesantren ini merupakan anugerah yang tidak semua orang bisa merasakannya. Tinggal di tempat yang selalu menghantar orang menjadi shalehah,” tambahnya di hadapan hadirin yang didominasi muslimat dan santri putri itu.
Neno Warisman mengaku sangat senang dan bangga kepada Hidayatullah terkhusus bisa berjumpa dengan kader-kader dakwah Hidayatullah di Manokwari.
Acara buka puasa bersama yang disponsori CV. Wirakomputama pimpinan H. Faisal Rauf dan istrinya Hj. Suriyati, ini dihadiri pula oleh ibu-ibu Pengurus Wilayah Aisyiyah Papua Barat, Pengurus Wilayah Mushida Papua Barat, santri-santri putri Hidayatullah Manokwari, dan Pengurus DPW Hidayatullah Papua Barat.
Ketua DPW Hidayatullah Papua Barat, Ust Sulton, SPd.I, mengatakan pihaknya sangat bahagia bisa dikunjungi oleh Ibu Neno Warisman. Apalagi baru kali ia dan jamaahnya bisa langsung berjumpa dengan ibu Neno.
“Dari penyampaian ibu Neno, menjadi stimulan buat santri-santri, terkhusus pengurus Hidayatullah agar tetap semangat dalam menjalankan dakwah di tanah Papua ini dengan segala keragamannya,” tukas Sulton.
Sponsor acara acara buka puasa bersama dilanjut santap malam ini juga membagikan bingkisan Ramadhan sebanyak 135 untuk santri. */ Miftahuddin
Direktur Utama PT Surveyor Indonesia (PTSI) Arif Zainuddin
Hidayatullah.or.id – Direktur Utama PT Surveyor Indonesia Arif Zainuddin mendorong segenap santri Hidayatullah untuk selalu bersemangat menuntut ilmu dan bersemangat dalam mengembangkan kompetensi. Diharapkan kemudian santri-santri ini menjadi pemimpin umat yang berdaya manfaat guna membangun bangsa Indonesia.
“Ramadhan merupakan momentum untuk meningatkan produktivitas seseorang,” katanya menegaskan pada acara buka puasa bersama anak yatim dan santri penghapal Al-Qur’an Pesantren Hidayatullah Jakarta yang dibina Baitul Maal Hidayatullah (BMH) di Jakarta, Rabu.
“Melihat begitu banyak rahmat di bulan Ramadhan ini, selayaknya sebagai umat Islam, kita jadikan bulan ini sebagai sebuah momentum perubahan menjadi pribadi yang memiliki akhlak yang tinggi. Bersama-sama kita tingkatkan keimanan dan produktivitas kita dalam segala aspek kehidupan, baik keluarga, perusahaan maupun lingkungan masyarakat,” ujar Arif Zainuddin.
Profesional yang dulu kerap tidur di masjid dan jadi sopir angkot untuk membiayai kuliahnya ini menambahkan, ibadah puasa tidak sekedar menahan lapar dan dahaga saja. Ibadah puasa melatih kembali disiplin, kejujuran, kepedulian dan pengendalian diri, serta meningkatkan etos kerja.
“Nilai-nilai positif yang kita petik dari bulan Ramadhan tersebut hendaknya menimbulkan dampak yang nyata terhadap usaha kita bersama untuk meningkatkan kinerja PTSI,” papar Arif Zainuddin.
Arif Zainuddin mengemukakan, bulan Ramadhan adalah bulan yang istimewa. “Bulan yang agung penuh berkah, bulan kesabaran dan bulan ditambahkan rizki bagi orang beriman, dilipatgandakannya pahala. Semua umat muslim berlomba-lomba meningkatkan amal ibadah di bulan ini,” ujar Arif.
Selain itu, kata Arif, Ramadhan juga merupakan bulan diturunkannya Al-Qur’an yang merupakan petunjuk hidup umat manusia.
“Kita memiliki kewajiban membaca dan mengamalkannya. Saat ini telah hadir anak-anak penghafal Alquran dari Baitul Maal Hidayatullah. Semoga keberadaan anak-anakku semua menjadi motivasi bagi kita semua untuk lebih semangat lagi mempelajari, menghafal, dan mengamalkan Alquran,” tutur Arif.
Acara buka puasa PT Surveyor Indonesia dihadiri oleh para siswa hafizh Alquran dari Pesantren Hidayatullah di Jakarta. Pada kesempatan tersebut, Ustadz Subki memberikan tausiyah tentang keutamaan menjadi pembaca dan penghapal Alquran. (prs/ybh)
Hidayatullah.or.id – Sebagai bentuk rasa syukur atas segala nikmat yang Allah berikan, alumni Pendidikan Pertama Bintara Polisi Republik Indonesia (Dikmaba Polri) tahun 2002, Ramadhan tahun ini kembali menggelar amal bakti yang ditandai dengan kegiatan anjangsana silaturrahim Ramadhan dibarengi dengan buka puasa bersama dengan santri santriwati dan pengasuh Pondok Pesantren Hidayatullah Bone, Sulawesi Selatan, serta masyarakat sekitar, Ahad, (12/06/2016)
Alumni ini sering disebut dengan angkatan 21 atau Ttnt Asade Polres Bone dengan jumlah 40 orang, terdiri dari 38 Polki dan 2 Polwan.
Kegiatan ini diawali dengan kegiatan berbagi menu buka puasa (pabbuka) kepada tukang becak, ojek, dan juru parkir sekitar wilayah kota Watampone. Kemudian melanjutkan kegiatan di Pondok Pesantren Hidayatullah Kel. Panyula Kec. Tanete Riattang Timur dengan acara buka puasa bersama.
Pada acara buka puasa bersama Ramadhan tahun ini para alumni hadir bersama dengan keluarga masing-masing. Rombongan tampak berbahagia bersama keluarga masing-masing sambil menunggu waktu buka puasa.
Pada kesempatan tersebut pimpinan Pondok Pesantren Hidayatullah Bone, Ust Ismail Mukhtar, memberikan tausiyah tentang hikmah berbagi.
Ia juga menerangkan pentingnya kesalingterhubungan peran antar lembaga-lembaga Islam seperti Hidayatullah dengan elemen-elemen masyarakat tak terkecuali kepolisian dalam rangka membangun karakter bangsa religius melalui peran-peran keummatan yang telah menjadi konsennya baik bidang dakwah, sosial, maupun pendidikan.
Usai buka puasa selesai dilanjutkan shalat magrib berjamaah di Masjid Pondok dan ditutup dengan acara arisan bulanan.
Pengurus alumni Dikmaba Polri 2002 ini berharap semoga kegiatan ini bernilai ibadah dan beberapa program selanjutnya dapat berjalan dengan baik serta para alumni semakin kompak dalam berbagai hal kebaikan. (trb/ybh)
Hidayatullah.or.id – Semarak ibadah Ramadhan di Jayapura kian bersahaja dengan peran aktif aparat dalam menjaga kondusifitas lingkungan. Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Jayapura pun turut merawat dinamika kebersamaan tersebut.
Bhayangkara Pembinaan Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Bhabinkamtibmas) Polres Jayapura Kota belum lama ini melaksanakan rangkaian kegiatan berupa pengamanan kegiatan Pondok Ramadhan serta melaksanakan penyuluhan tentang bahaya narkotika kepada para santri di Pondok Pesantren Hidayatullah Holtekam, Sabtu (11/06) lalu.
Kasubbag Humas Polres Jayapura Kota Iptu Yahya Rumra menjelaskan personil Bhabinkamtibmas tidak saja melakukan kegiatan pengamaman kegiatan, tetapi juga melakukan monitoring wilayah Pantai Holtekam guna memberikan rasa aman terhadap pengunjung pantai.
Atas nama pimpinan Polsek Muara Tami, tegas dia, petugas Bhabinkamtibmas memberikan pesan kamtibmas kepada masyarakat dan penjaga pintu masuk/pos retribusi pantai bahwa pantai Holtekam adalah asset berharga bagi keluarga/suku yang memiliki pantai secara hak ulayat adat agar dijaga kebersihannya.
“Penjaga pintu masuk wajib mengingatkan pengunjung pantai untuk bisa memperhatikan keselamatan keluarga yang berenang di laut karena cuaca laut tidak dapat di prediksi dan agar kecelakaan di laut orang tenggelam tidak terjadi,” kata Iptu Yahya mengingatkan.
Selain itu Bhabinkamtibmas juga memberikan himbauan kepada penjaga pintu masuk pantai untuk tidak mengkonsumsi minuman keras saat bertugas agar tercipta rasa aman bagi pengunjung.
“Diharapkan dengan dilaksanakan kegiatan ini masyarakat tetap menjadi mitra Polri yang baik dan segera menghubungi atau mendatangi petugas Bhabinkamtibmas apabila mendapati suatu kejadian atau memerlukan kehadiran Polri,” tegas Kasubbag Humas Polres Jayapura Kota. (trb/ybh)
Hidayatullah.or.id – Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah (Laznas BMH) Perwakilan Kaltim, belum lama ini (4/6) menyerahkan dua motor trail untuk dai, yakni Ustaz Muhammad Taufiq yang mengemban dakwah di Long Bagun, Mahakam Ulu, dan Ustaz Iqbal yang berdakwah di Desa Kedang Ipil, Kota Bangun, Kutai Kartanegara (Kukar). Keduanya merupakan dai yang membina mualaf di pedalaman Kaltim.
Keberadaan motor trail ini dinilai sangat membantu mobilitas dai yang bertugas di pedalaman Kaltim. Selain jarak tempuh yang berjauhan antarkampung, juga harus melewati medan yang sulit.
“Alhamdulillah saya sangat senang dan terharu atas apa yang Allah SWT berikan kepada kami. Melalui BMH dengan memfasilitasi kendaraan ini, menjadi motivasi dan semangat bagi kami untuk terus melakukan pembinaan terhadap masyarakat yang ada di Kabupaten Mahakam Ulu,” ujar Ustaz Taufiq usai penyerahan motor.
Senada diungkap Ustaz Iqbal, menurutnya perhatian laznas BMH sebagai lembaga zakat kepada dunia dakwah tidak diragukan lagi.
“Bersama BMH semakin banyak mualaf yang tersentuh dakwah. Terima kasih untuk dukungannya selama ini,” kata Iqbal yang sudah sejak 2013 lalu menetap di Kedang Ipil.
Sementara itu, Manager Markom BMH Perwakilan Kaltim, Basori mengungkapkan, lembaganya telah menempatkan 2.750 dai di berbagai wilayah di Nusantara untuk melaksanakan dakwah.
“Beberapa wilayah di Kaltim menjadi prioritas kami khususnya daerah pedalaman, saat ini kami sedang merintis dakwah dengan menempatkan dai di daerah Kedang Ipil, Kukar; Muara Wahau, Kutim; Long Bagun, Mahakam Ulu,” paparnya.
Basori menambahkan, sokongan dan dukungan dari muzaki yang telah berdonasi ke BMH merupakan salah satu roda penggerak dakwah untuk mualaf di pedalaman.
Program dan kegiatan Laznas BMH lainnya dapat diikuti di website resmi www.bmh.or.id . Pada bulan Ramadhan tahun 1437 ini BMH meluncurkan program bertajuk Tebar Hidayah Ramadhan atau THR yang dapat diakses di www.thr.or.id . Kiprah lainnya dalam bentuk dokumentasi audio-visual diantaranya dapat juga ditonton di link ini. (ybh/prs)
Demi meningkatkan kualitas pendidikan, Ponpes Hidayatullah di Sangatta mengubah bangunan bekas masjid menjadi ruang kelas untuk para santri. / Foto Dok. Tribun Kaltim
Hidayatullah.or.id – Pondok Pesantren Hidayatullah Sangatta, Kabupaten Kutai Timur, Provinsi Kalimantan Timur, berdiri sejak 1992. Bangunan pondok yang berada di Jalan AW Syahrani (eks Jalan Pendidikan) saat awal berdiri masih terbuat dari tanah.
Meski dengan fasilitas pesantren yang sederhana, keberadaan Ponpes Hidayatullah yang dirintis Ustadz Anduh Aswin dan KH Amin Fattah sudah memiliki gaung.
Memasuki kawasan Ponpes Hidayatullah langsung bertemu dengan kantor sekretariat di sisi jalan masuk. Tak jauh dari pintu masuk pesantren berdiri masjid yang baru dibangun setahun lalu, yakni Masjid Al Huda. Sebelahnya masih berdiri bangunan masjid tua terbuat dari kayu dan satu bangunan sederhana berbahan kayu berisi 6 ruang kelas yang kini dipergunakan sebagai tempat belajar mengajar siswa TK dan SD Ponpes Hidayatullah.
Saat ini, Ponpes Hidayatullah Sangatta memiliki 112 santri berikut pengasuh dan anak-anak dari para pengasuh.
Dari jumlah tersebut, 10 santri merupakan anak yatim piatu. Santri perempuan dan laki-laki memiliki pondok sendiri, begitu juga pengasuh ponpes.
Mereka tak hanya berasal dari Sangatta, tapi juga dari keluarga tak mampu di wilayah Kutai Timur lainnya. Seperti dari Kecamatan Rantau Pulung, Muara Wahau, Kenyamukan serta Bengalon.
Meski sudah cukup lama berdiri, Ponpes Hidayatullah yang terletak di tengah Kota Sangatta masih membutuhkan peningkatan infrastruktur pendidikan. Apalagi saat ini jumlah siswa terus bertambah. Ruang belajar yang nyaman dan berkecukupan sangat dibutuhkan. Untuk memenuhi kebutuhan kelas, bangunan kayu eks masjid pun disulap menjadi tempat belajar.
Pengurus Daerah Ponpes Hidayatullah Syarif Bastian mengatakan, Ponpes Hidayatullah Sangatta masih terus berusaha berbenah diri. Memperbaiki fasilitas yang ada untuk meningkatkan mutu pendidikan para santri. Termasuk membangun ruang kelas tambahan di bangunan eks Masjid Al Huda.
Syarif mengaku ingin bila warga menyebut Sangatta ada Ponpes Hidayatullah di dalamnya. Diharapkan pembangunan Ponpes Hidayatullah harus lebih maju. Termasuk membangun sarana pendidikan yang memadai. Minat warga menyekolahkan anak-anak mereka di Ponpes Hidayatullah juga meningkat.
Selama Ramadhan, kegiatan para santri tak jauh berbeda dengan hari biasanya. Hanya ditambah kegiatan buka puasa bersama, shalat tarawih berjamaah dan qiyamul lail (shalat tahajud) pada dini hari yang dilanjutkan sahur bersama.
Selebihnya, seperti shalat Magrib berjamaah, mendengarkan ceramah di antara waktu Magrib hingga Isya, kemudian dilanjutkan tadarus atau wirid malam, sebelum istirahat.
“Para santri juga sudah terbiasa bangun dini hari untuk beribadah. Sekarang Ramadhan, sebelum sahur, digelar kegiatan qiyamul lail. Setelah melakukan shalat subuh berjamaah, kita mendengarkan ceramah subuh, kemudian mempelajari terjemahan Al Quran. Semua kegiatan tersebut, merupakan kegiatan sehari-hari yang rutin dilakukan para santri di ponpes Hidayatullah,” ungkap Syarif seperti juga dikutip Tribun Kaltim.
Selain itu, mengisi bulan Ramadhan, beberapa santri Ponpes Hidayatullah Balikpapan sengaja didatangkan untuk membantu program pendidikan di Ponpes Hidayatullah Sangatta. Para santri tersebut, ikut membantu kegiatan belajar mengajar para santri selama Ramadhan. (ybh/hio)