Beranda blog Halaman 601

Meneguhkan Jati Diri Aktifis Harakah Hidayatullah

وَكَذَلِكَ نُوَلِّي بَعْضَ الظَّالِمِينَ بَعْضًا بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Begitulah ketetapan Kami bagi orang- orang yang berbuat zhalim. Orang-orang zhalim itu saling tolong- menolong dalam berbuat dosa ( QS. Al An’ am (6) : 129).

Keshalihan dan ketakwaan yang kita lakukan sekarang memiliki efek jangka panjang. Demikian pula kezhaliman yang kita lakukan. Keduanya ada hukuman dan balasannya di dunia dan akhirat. Disini berlaku hukum kausalitas.

إِنْ أَحْسَنْتُمْ أَحْسَنْتُمْ لأنْفُسِكُمْ وَإِنْ أَسَأْتُمْ فَلَهَا فَإِذَا جَاءَ وَعْدُ الآخِرَةِ لِيَسُوءُوا وُجُوهَكُمْ وَلِيَدْخُلُوا الْمَسْجِدَ كَمَا دَخَلُوهُ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَلِيُتَبِّرُوا مَا عَلَوْا تَتْبِيرًا

Jika kalian berbuat baik, sebenarnya kebaikan itu untuk kalian sendiri. Jika kalian berbuat kerusakan, kerusakan itu akan merugikan kalian sendiri. Dan ketika datang hukuman yang kedua yaitu tentara Jalut menghancurkan diri kalian, mereka memasuki masjid lalu menghancurkannya sebagaimana pertama kali dahulu melakukannya. Mereka membinasakan apa saja yang dapat mereka kuasai di negeri kalian (QS. Al Isra (17) : 7).

Ada dua dosa yang akan disegerakan siksanya di dunia ini, yaitu al baghyu (merampas hak orang lain) dan durhaka kepada orang tua (‘uququl walidain) (HR. Thabrani).

Kedua arahan Allah dan Rasul-Nya di atas sepatutnya menjadi mashdarur ruh (sumber stamina dan energi) untuk konsisten menyusun program yang kita serap dari ajaran kita sampai akhir hayat. Tanpa memperdulikan responbilitas orang lain. Karena kita yakin, perjuangan kita itu akan kembali kepada kita. Ibarat pepatah Bahasa Jawa : Rawe-rawe rantas, malang- malang putung.

Kualitas kepemimpinan masa depan berbanding lurus dengan kesiapan kita untuk melakukan revitalisasi, reaktualisasi, dan rekonstruksi pada struktur kepribadian kita (syakhshiyyah islamiyah). Sedangkan perubahan dan pengabdian serta penyelamatan umat yang kita gulirkan tergantung kesiapan untuk berubah lapisan inti umat itu sendiri. Yaitu kalangan kepemimpinan, meminjam istilah Bapak Sosiolog Muslim,  Taghyiiru khuluqil ummati taabi’un litaghyiiri khuluqil qiyadati (perubahan moral umat mengikuti – kesiapan – untuk berubah dari kalangan elitisnya).

Imam Syafii mengatakan: Sesungguhnya kualitas pemuda (calon pemimpin) diukur dari keilmuan dan moralitas, jika keduanya tidak melekat pada struktur kepribadiannya, tidak dipandang sebagai pemuda. Pemuda hari ini adalah pemimpin di masa depan. (idzil fataa bil ‘ilmi wat tuqaa in lam yakunaa la ‘I’tibara lidztihi, syubbanul yaum rijalul ghod).

Oleh karena itu Rasulullah Saw memberikan taujih, sebagaimana yang diulang setiap khatib Jumat: “Bertaqwalah kepada Allah dimanapun engkau berada, dan hendaknya setelah melakukan kejelekan engkau melakukan kebaikan yang dapat menghapusnya. Serta bergaulah dengan orang lain dengan akhlak yang baik.

Rincian Taujih Nabawi

Dari Abu Dzar Al Ghifari radhiallahu’anhu, ia berkata: ‘Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,

اِتَّقِ االلهَ حَيْثَمَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

Bertaqwalah kepada Allah dimanapun engkau berada, dan hendaknya setelah melakukan kejelekan engkau melakukan kebaikan yang dapat menghapusnya. Serta bergaulah dengan orang lain dengan akhlak yang baik‘” (HR. Ahmad 21354, Tirmidzi 1987, ia berkata: ‘hadits ini hasan shahih’)..

Merujuk sabda Rasulullah Saw diatas, dapat dipahami bahwa ada tiga arahan yang menggambarkan jati diri ( identitas) sosok muslim, mukmin, mujahid sejati..

Taujih pertama: Bertakwa kepada Alloh Swt dimana saja dan kapan saja.

Penjelasan Syaikh Abdurrahman As Sa’di rahimahullah: Hadits ini adalah hadits yang agung, di dalamnya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam menyebutkan hak-hak Allah dan hak-hak hamba. Hak Allah yang disebutkan adalah bertaqwa kepada-Nya dengan taqwa yang sejati. Yaitu menjaga diri dari murka dan adzab Allah, dengan menjauhi larangan-Nya dan menjalankan perintah-Nya.

Wasiat taqwa ini adalah wasiat dari Allah untuk hamba-Nya dari yang paling awal hingga akhir, ini juga merupakan wasiat para Rasul kepada kaumnya, mereka berkata:

اَعْبُدُ وَا اللهَ وَا تَّقُوْهُ
Sembahlah Allah saja dan bertaqwalah kepada-Nya”..

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Wahai manusia ! Sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa (QS. Al Baqarah (2) : 21)…

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ارْكَعُوا وَاسْجُدُوا وَاعْبُدُوا رَبَّكُمْ وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Wahai orang-orang yang beriman ! Rukuklah, sujudlah, dan sembahlah Tuhanmu, dan berbuatlah kebaikan, agar kamu sukses (QS. Al Hajj (22) : 77)…

Allah Ta’ala membahas masalah taqwa bahwa indikator takwa itu produktif dan dinamis dalam beramal shalih. Mutu ketakwaan tidak dinilai dari income yang dimilikinya, tetapi lebih pada peran, partisipasi, dan kontribusi sosialnya. Baik berupa jiwa, harta, ilmu, dan potensi yang lain. (al ‘ Ibratu biddauri wal ‘ athaai laa bil manashibi wal wazhaaifi)..

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan. Kemudian Kami jadikan kalian berbangsa- bangsa dan bersuku- suku, supaya kalian saling memahami. Sungguh orang paling mulia di sisi Alloh adalah orang yang paling bertakwa ( bersih dari syirik) ..Sesungguhnya Alloh Maha Mengetahui lagi Maha Luas ilmu- Nya (QS. Al Hujurat (49) : 13).

Ahli tafsir Ibnu Abas mengatakan, Takwa adalah bahwa Allah selalu diibadahi dan tidak disekutukan. Nikmat dan karunia Allah senantiasa disyukuri dan tidak diingkari. Nama Allah selalu disebut dan tidak dilupakan. Allah selalu didekati dan tidak dijauhi..

Bentuk kontribusi insan bertakwa dengan haqqa tuqatih, dalam firman-Nya :

لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَالْمَلائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ وَآتَى الْمَالَ عَلَى حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّائِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ وَأَقَامَ الصَّلاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُوا وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ أُولَئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ

“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan salat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa” (QS. Al Baqarah: 177).

Juga dalam firman-Nya :

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالأرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa” (QS. Al Imran: 133).

Kemudian Allah melanjutkan:

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan” (QS. Al Imran: 134).

قُلۡ إِنَّ رَبِّي يَبۡسُطُ ٱلرِّزۡقَ لِمَن يَشَآءُ مِنۡ عِبَادِهِۦ وَيَقۡدِرُ لَهُۥۚ وَمَآ أَنفَقۡتُم مِّن شَيۡءٖ فَهُوَ يُخۡلِفُهُۥۖ وَهُوَ خَيۡرُ ٱلرَّٰزِقِينَ ٣٩
Katakanlah: “Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki-Nya)”. Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dialah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya (QS. Saba (34) : 39).

Allah Ta’ala mensifati orang-orang bertaqwa dengan iman yaitu pokok keimanan dan aqidahnya, dengan amal-amal zhahir dan amal-amal batin (‘amaliyyatul mu’ taqodat wal jawarih) yang dilakukannya, juga dengan ibadah badan, ibadah maliyah (harta), kesabaran ketika mendapati dan menghadapi musibah. Juga dengan ibadah nafsiyah, sifat pemaaf kepada orang lain, menghilangkan gangguan, berbuat baik kepada sesama. Juga dengan semangat untuk bertaubat ketika melakukan perbuatan maksiat atau berbuat zhalim kepada diri sendiri.

KH. Hasyim Asyari dalam kitabnya “Adabul ‘Ilmi Wal Muata’allim, mengutip pendapat Imam Syafii mengatakan :Tauhid mewajibkan wujudnya Iman (ibadah I’tiqadiyah), barangsiapa tidak beriman maka dia tidak bertauhid, dan iman mewajibkan syariat, barangsiapa yang tidak ada syariat padanya (ibadah ‘amaliyah), maka dia tidak memiliki iman dan tidak bertauhid, dan syariat mewajibkan adanya adab (akhlak), maka barangsiapa yang tidak beradab maka (pada hakikatnya) tiada syariat, tiada iman, tiada tauhid padanya (Maktabah At-Turats Al Islami Jombang 1415 H. hal 11).

Jadi, ibadah qalbiyah I’tiqadiyah, ibadah lisaniyah, ibadah amaliyah merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisah-pisahkan. Rasulullah Saw bersabda, mengomentari orang yang melakukan shalat dengan melakukan banyak gerakan yang tidak teratur: Lau khosya’aat qulubuhu lakhasya’at jawaarihuhu (sekiranya khusyu’ hatinya maka kusyu’ pula anggota tubuhnya).

Lalu Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pun memerintahkan dan mewasiatkan untuk konsisten dalam bertaqwa, dimana pun berada, kapan pun dan dalam keadaan apapun. Karena seorang hamba senantiasa sangat-sangat dituntut untuk bertaqwa, tidak ada satu kesempatan pun ia boleh melepaskan taqwa itu. Bahkan identitas taqwa ini akan kita bawa menghadap Allah Swt.

Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa dan janganlah sekali-kali kamu mati kecuali kamu dalam keadaan berserah diri (QS. Ali Imran (3) : 103).

Taujih Kedua: Menghapus kesalahan dengan amal shalih

Ketika seorang hamba tidak menunaikan dengan baik apa-apa yang menjadi hak dan kewajiban taqwa, Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam memerintahkan untuk melakukan hal yang dapat membayar dan menghapus kesalahan itu. Yaitu melakukan kebaikan (al hasanah) atas keburukan yang telah ia lakukan.

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا. يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا. وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا

Lalu aku berkata kepada kaumku, Hendaklah kalian istighfar kepada Rabb kalian dari kekafiran dan dosa- dosa kalian. Tuhan kalian itu senantiasa Maha Pengampun. Allah menurunkan hujan dari langit secara terus-menerus kepada kalian. Allah memberikan harta dan anak kepada kalian. Allah memberikan kebun dan sungai- sungai kepada kalian (QS. Nuh (71) : 10-12)..

Di sinilah perlunya mengadakan muhasabah ulang sebelum mengangkat program dengan meluruskan niat dan tekat. Agar lahir kekuatan internal (ikhlas) dan kekuatan eksternal (menggulirkan program amar bil ma’ruf dan nahi anil munkar). Kemudian ketika beramal perlu diberi titik tekan istiqomah, mudawamah, mujahadah, sabar, tawakkal. Kemudian setelah beramal, dengan melakukan istighfar, muhasabah, dan taubat. Dengan cara demikian akan melakukan perbaikan secara terus menerus.

Al hasanah adalah istilah yang mencakup segala hal yang mendekatkan diri hamba kepada Allah Ta’ala (wasilatut taqarrub ilallah). Sedangkan As Sayyiat segala hal yang menjauhkan dari Allah (wasilatut taba’ud ‘ anillah). Al hasanah dan Al Ma’rufat yang paling utama yang dapat membayar sebuah kesalahan adalah taubat nasuha, disertai istighfar dan kembali kepada Allah. Dengan berdzikir kepada-Nya, mencintai-Nya, takut kepada-Nya, mengharap rahmat dan karunia-Nya setiap waktu. Dan diantara caranya adalah dengan membayar kafarah baik berupa harta atau amalan badaniyah yang telah ditentukan oleh syariat.

Selain itu, bentuk al hasanah yang dapat menebus kesalahan adalah sikap pemaaf kepada orang lain, berakhlak yang baik kepada sesama manusia, memberi solusi pada masalah mereka, memudahkan urusan-urusan mereka, mencegah bahaya dan kesulitan dari mereka. Jadi, manusia takwa kehadirannya adalah bagian dari solusi, bukan bagian dari polusi (masalah). Apalagi mendatangkan kontaminasi.

Allah Ta’ala berfirman:

وَأَقِمِ الصَّلاةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِنَ اللَّيْلِ إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ذَلِكَ ذِكْرَى لِلذَّاكِرِينَ

“Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk” (QS. Huud: 114)

Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda :

اَلصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمْعَةُ اِلَى الْجُمْعَةِ رَمَضَانَ اِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ لِمَا بَيْنَهُنَّ اِنِ اجْتُنِبَتْ الْكَبَائِرُ

“Shalat yang lima waktu, dari Jum’at ke Jum’at selanjutnya, dari Ramadhan ke Ramadhan selanjutnya, semua itu menghapus dosa diantara rentang waktu tersebut selama dosa besar dijauhi”..
حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلاةِ الْوُسْطَى وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ

Wahai kaum mukmin, peliharalah dengan sebaik- baiknya shalat- shalat wajib dan shalat Ashar. Dirikanlah shalat dengan penuh keikhlasan (QS. Al Baqarah (2) : 238)..

Dan betapa banyak nash yang menyebutkan bentuk-bentuk ketaatan sebagai sebab datangnya ampunan Allah. Dan yang dapat membuat Allah mengampuni kesalahan-kesalahan adalah musibah. Karena tidaklah seorang mukmin ditimpa musibah berupa bencana, gangguan, kesulitan, meskipun hanya berupa tusukan duri kecuali pasti jadikan hal itu sebagai kafarah atas dosa-dosanya.

Musibah dapat berupa luputnya sesuatu yang disukai atau juga berupa mendapatkan sesuatu yang tidak disukai, baik berupa pada jasad maupun pada hati, atau juga pada harta, baik yang eksternal maupun internal. Namun musibah itu bukanlah perbuatan hamba, oleh karena itu Nabi memerintahkan hal-hal yang berupa perbuatan hamba, yaitu menebus kejelekan dengan kebaikan.

لاَخَيْرَ لِعَبْدٍ لاَ يَسْقَمُ جِسْمُهُ وَلاَيَدْهَبُ مَالُهُ
Tidak ada kebaikan bagi seorang hamba yang tidak (pernah) sakit badannya dan tidak (pernah) kehilangan harta (al Hadits).

Kondisi mapan inilah yang menjadikan Firaun memproklamirkan dirinya menjadi tuhan yang paling tinggi. Seluruh tuhan dipandang berkedudukan dibawahnya. Karena, dalam dinamika kehidupannya ia tidak pernah kena musibah dan deretan keinginannya selalu terpenuhi sedia selalu

فَقَالَ أَنَا۠ رَبُّكُمُ ٱلۡأَعۡلَىٰ ٢٤
(Seraya) berkata: “Akulah tuhanmu yang paling tinggi” (QS. An-nazi’at (79) : 24)

Taujih Ketiga: Memperbaiki pola interaksi dengan manusia lain.

Kemudian, setelah Nabi menyebutkan haq Allah dalam wasiat taqwa yang mencakup aqidah, amal batin dan amal zhahir, beliau menyebutkan:

“Bergaulah dengan orang lain dengan akhlak yang baik”

Yang paling pertama dari akhlak yang baik adalah anda tidak mengganggu orang lain dalam bentuk apapun, dan engkau pun terjaga dari gangguan dan kejelekan mereka. Setelah itu anda bermuamalah dan bermu’ asyarah dengan mereka dengan perkataan dan perbuatan yang baik.

Lalu bentuk akhlak baik yang lebih khusus lagi adalah lemah lembut kepada orang lain, sabar terhadap gangguan mereka, tidak bosan terhadap mereka, memasang wajah yang cerah ceria, tutur kata yang lembut, perkataan yang indah dan enak didengar lawan bicara, memberikan rasa bahagia kepada lawan bicara, yang dapat menghilangkan rasa kesepian dan kekakuan. Dan baik juga bila sesekali bercanda jika memang ada maslahah-nya, namun tidak semestinya terlalu sering melakukannya.

Karena candaan dalam obrolan itu bagai garam dalam makanan, kalau kurang atau kelebihan akan jadi tercela. Termasuk akhlak yang baik juga, bermuamalah dengan orang lain sesuai yang layak baginya, dan cocok dengan keadaannya, yaitu apakah ia orang kecil, orang besar, orang pandai, orang bodoh, orang yang paham agama atau orang awam agama.

Maka, orang yang bertaqwa kepada Allah, dan menunaikan apa yang menjadi hak Allah. Lalu berakhlak kepada orang lain yang berbeda-beda tingkatannya dan latar belakangnya itu dengan akhlak yang baik. Maka ia akan mendapatkan semua kebaikan. Karena ia menunaikan hak Allah dan juga hak hamba. Dan karena ia menjadi menjadi orang yang muhsinin dalam beribadah kepada Allah dan muhsinin terhadap hamba Allah.

Ada dua modal untuk sukses bergaul. Yaitu, salamatush shadr (sterilnya hati dari kebencian terhadap orang lain) wal itsar (mendahulukan orang lain melebihi dirinya sendiri). Orang yang shalih adalah sosok yang mampu memenuhi hak-hak Allah dan hak-hak anak Adam (Ash Sholih Huwal Qaaimu lihuquqillahi wa huquqil adami). Bahkan awal-awal kehadiran kita di seluruh pelosok tanah air mendapat julukan rijalul ‘amal (manusia aksi).

Itulah sosok yang tidak lalai dari misi kehidupannya. Dan ia telah memaknai dan menikmati kehidupannya. Fluktuasi kehidupan dipersepsikan sebagai romantika kehidupan. Demikianlah seyogyanya jatidiri aktifis Hidayatullah, mari senantiasa meyakini dan meneguhkannya.

رِجَالٌ لا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالأبْصَارُ

Ada banyak orang yang ketika sibuk bekerja dan jual beli tidak lalai untuk mengingat Allah, mendirikan shalat dan menunaikan zakat. Mereka takut kepada hari kiamat, suatu hari saat semua orang kafir hatinya terperangah dan matanya terbelalak (QS. An Nur (24) : 37).

وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا

Siapa saja yang taat kepada Alloh dan Rasul-Nya, di akhirat kelak ia akan bersama- sama dengan para nabi, orang-orang yang jujur dalam beriman, orang yang mati syahid dan orang- orang shalih yang telah Allah beri nikmat . Mereka itu adalah teman- teman yang sangat baik bagi orang-orang mukmin (QS. An Nisa (4) : 69).

__________
USTADZ SHOLEH HASYIM, penulis adalah anggota Dewan Mudzakarah DPP Hidayatullah. Materi ini juga disampaikan pada taujih ‘am (arahan umum) Pembina Yayasan Al Aqsho Ponpes Hidayatullah Kudus pada acara Rakeryas pada hari Senin-Selasa, 28-29 Desember 2015/ 16-17 Rabiul Awal 1437.

Ketum Syabab Hidayatullah Konsolidasi Keliling Pulau Jawa

Hidayatullah.or.id — Pada akhri Desember tahun 2015 ini, Dewan Pengurus Pusat (DPP) Syabab Hidayatullah melakukan silaturrahim lintas daerah ke wilayah Jawa Barat, DI Yogyakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur, bIMG_20151223_083648elum lama ini. Agenda akhir tahun ini dipimpin langsung oleh Ketua Umum DPP Syabab Hidayatullah, Muhammad Naspi Arsyad.

Kunjungan dalam rangka konsolidasi dan koordinasi dengan sejumlah pengurus Pemuda Hidayatullah di wilayah Pulau Jawa ini dilakukan intensif selama 3 hari melalui perjalanan darat menggunakan kendaraan roda empat yang disopiri langsung oleh sang Ketua Umum.

Dalam perjalanan ini Ketua Umum Syabab Hidayatullah didampingi oleh Sekretaris Jenderal Suhardi Soekiman dan Ainuddin Chalik selaku Kepala Humas DPP Syabab Hidayatullah.

Perjalanan start dari Kota Depok, Jawa Barat, pada shubuh Rabu (23/12/2015), roda empat yang dikendarai dengan kecepatan tinggi rombongan ini tiba di Bandung, Jawa Barat, saat mentari pagi baru mulai menyinari kota Kembang itu.

Rombongan langsung menuju ke Kampus Hidayatullah Bandung Jalan RE Suwanda Nomor 18A Pasirleutik, Kelurahan Padasuka, Kecamatan Cimenyan, Kota Bandung, untuk menemui pengurus Ketua DPW SyaIMG_20151223_084506bab Hidayatullah Jawa Barat, Hendra Abdurrahman, yang telah menunggu.

Tiba di lokasi, rombongan pengurus pusat Syabab Hidayatullah ini langsung dijamu penganan khas ditambah dengan suguhan teh panas. Suasana kampus Hidayatullah Bandung di pagi hari yang ramai dengan cuitan nyanyian burung turut menambah suasana hangat pertemuan tersebut.

Mereka meriung dalam satu meja seraya menyeruput teh aromatik khas Pasundan, Naspi Arsyad lalu membuka perbincangan pagi itu dengan joke-jokenya yang ternyata turut memancing Ketua DPW Hidayatullah Jawa Barat, Ustadz Dadang Abu Hamzah, untuk turut menimpali. Dadang Abu Hamzah yang selalu riang ini turut menyambut kedatangan rombongan.

Dalam sesi bincang-bincang itu, Ketua DPW Syabab Hidayatullah Jawa Barat, Hendra Abdurrahman, mengatakan Syabab Hidayatullah yang dipimpinnya terus membangun pola pergerakan. Kendati tak sering terdengar, kata dia, sebenarnya Syabab Hidayatullah di wilayahnya tetap aktif berkecimpung sehingga ia pun tak sepakat apabila wilayah kepemimpinannya dibilang sedang “mati suri”.

Saat ini, jelas Hendra, pihaknya sedang mengintensifkan kegiatan halaqah yang diikuti oleh anak-anak muda di wilayah tersebut. Selain menggarap mahasiswa yang memiliki minat ihwal pemikiran dan wawasan kebaharuan, ia juga secara rutin mengikuti berbagai aktifitas kepemudaan khususnya di Kota Bandung kendatipun diakuinya belum sepenuhnya maksimal.

“Teman-teman di Jabar kami akui belum bisa fokus sepenuhnya karena umumnya sudah memiliki amanah rutinitas di amal usaha yang lain. Di waktu yang sama, laiknya organisasi nirlaba, Syabab juga belum dapat menghidupi anggotanya, ini juga kendalanya,” kata Hendra.

Sang Ketum, Naspi Arsyad, memberi apresiasi kepada pengurus DPW Syabab Hidayatullah Jabar yang menurutnya kendatipun berjalan terseok-seok dengan segala dinamikanya, namun tetap komitmen melakukSafari Konsolidasi PP Syabab ke Wilayah Jawa 2an tambal sulam berbagai celah yang dianggap belum sempurna.

Naspi mendorong Jabar untuk terus menguatkan konsolidasi tidak saja dalam rangka menyiapkan regenasi Hidayatullah secara khusus tetapi juga diharapkan pemuda Hidayatullah Jabar dapat mampu memainkan peranannya di wilayah itu sebagai bagian tak terpisahkan dari instrumen pembangunan bangsa.

Banyak ceruk yang bisa dijadikan Syabab Hidayatullah untuk melakukan pembinaan remaja dan kepemudaan. Salah satunya, kata Naspit, adalah kegiatan gerakan nasional dakwah mengajar dan belajar Al Qur’an (Grand MBA) kepada siapa saja yang membutuhkan.

“Jangankan bicara peradaban Islam, ngaji dalam tataran tekstual saja masih banyak dari umat ini yang nyatanya masih keteteran. Disinilah celah kerja kerja luar biasa yang bisa dilakukan oleh Syabab Hidayatullah,” kata Naspi.

Pada kesempatan itu Sekjen Suhardi Sukiman juga memberikan beberapa poin-poin penting yang dirasa perlu menjadi perhatian Jabar. Suhardi menilai Syabab Hidayatullah perlu ada lompatan-lompatan gerakan ke depan dan menurutnya Jabar sangat mungkin memulai itu.

Sekitar 1 jam lebih melakukan disksui dan pembicaraan strategis terkait agenda Syabab Jabar ke depan, selanjutya rombongan PP Syabab Hidayatullah meneruskan perjalanannya menuju ke DI Yogyakarta.

Naspi Arsyad kembali duduk mantap di belakang kemudi. Kelihaian dan kelincahan ayah 3 anak dari seorang istri ini patut diakui. Kemacetan parah yang sempat melanda di kawasan poros Jawa ia taklukkan. Kebetulan perjaIMG_20151225_043507lanan ini dilakukan pada jelang Natal H-2 yang tak pelak membuat sejumlah titik utama jalan di Jawa terkena kemacetan parah.

Dengan kemampuan insting penjelajahannya, Naspi mampu menerobos beberapa kebuntuan yang sempat ditemui. Tak jarang iring-iringan kendaraan besar yang kerap menganggu perjalanan pun ia telikung dan melampauinya dengan perhitungan yang sangat matang. Saat melambung kendaraan seperti ini seringkali membuat penumpang hanya bisa mengelus dada berkali-kali karena begitu menegangkannya bak di film-film action Hollywood.

Kendati mobil Xenia yang dikendarai memang sudah cukup berumur, dengan kecakapan sang Ketum mengendalikan kemudi membuat perjalanan darat ini tetap bisa dinikmati sepanjang perjalanan seolah sedang berada di atas kasur. Walaupun beberapa mobil sempat mengalami gerundang-grinding karena medan jalan yang kurang bersahabat.

Menguatkan Peranan

Tiba di DI Yogyakarta, rombongan diterima dengan sangat hangat oleh pengurus PW Hidayatullah induk, Ustadz Ahmad Syakir, yang turut bersamanya anggota Dewan Muzakarah, Ustadz Hasan Rofidi, yang datang ke kota itu dIMG_20151223_083157alam rangka menjadi pemateri sebuah acara komunitas herbalis.

Ketua Syabab Hidayatullah DI Yogyakarta, Candra Nunus Abdullah, pada kesempatan bincang-bincang di kantor yayasan Hidayatullah Yogyakarta, mengatakan Syabab di wilayah tersebut memang sempat vakum karena sesuatu dan lain hal.

Namun, lanjut Candra, tidak berarti kondisi tersebut membuat Syabab Yogyakarta sama sekali nihil produktifitas. Karenanya, ia berharap dari kunjungan konsolidasi ini pihaknya mendapatkan penguatan lebih untuk keberlangsungan Syabab Hidayatullah di wilayah tersebut.

Pengurus organisasi wilayah Hidayatullah induk yang diwakili Ustadz Syakir pun berharap Syabab Hidayatullah di kawasan itu dapat semakin agresif memainkan perannya. Pihaknya bahkan mengaku siap mendukung sepenuhnya agenda kepemudaan yang digalakkan Syabab di sana.

“Kita akan dukung sepenuhnya. Silahkan buat programnya, kita sinergikan,” Syakir yang juga pembina Yayasan Pendidikan Al Kahfi Hidayatullah Yogyakarta ini.

Setelah cukup lama menggSafari Konsolidasi PP Syabab ke Wilayah Jawa 3ali gagasan dan saling tukar informasi, konsolidasi pun ditutup dengan doa. Pertemuan yang berlangsung khidmat walaupun penuh kesederhanaan itu ditutup dengan kesimpulan akan dilakukan restrukrurisasi di tubuh kepengurusan Syabab Hidayatullah Yogyakarta. Berikutnya, perjalanan dilanjutkan menuju Jawa Tengah dan terus ke Jawa Timur.

Alhamdulillah, setelah sempat melalui dan singgah di beberapa titik di Jawa Tengah, rombongan PP Syabab Hidayatullah akhirnya tiba di Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah, Jalan Kejawan Putih Tambak, Surabaya, Jawa Timur, tepat pada Jum’at pukul 24:05 dini hari (25/12/2015).

Karena tiba di ibu kota Jawa Timur dini hari, sementara sedianya pertemuan dengan pengurus PW Syabab Hidayatullah Jawa Timur yang dipimpin oleh Indra Abdul Rauf yang dijadwalkan pukul 20:00 WITA, akhirnya tertunda.

Dan, karena tiket kembali ke Jakarta telah lebih dulu dibeli dengan jadwal penerbangan pukul 06:20 pagi di hari yang sama, tak pelak pertemuan pun terpaksa digelar pukul 03:00 yang tak bisa dihadiri oleh semua pengurus PW dan PD yang dikabarkan baru akan tiba ke lokasi keesokan harinya. Keterlambatan ini salah satunya dipicu oleh poros jalan utama lintas Jawa yang digasak macet karena bertepatan dengan momen Natal.

Namun, pertemuan intens if di sebuah lounge bandara Juanda dengan beberapa pengurus PW Syabab Hidayatullah Jawa Timur tak mengurangi kesakralan awal agenda ini. Sambil menunggu penerbangan ke Jakarta, Naspi Arsyad dan Suhardi Sukiman menyampaikan banyak hal terkait upaya revitSafari Konsolidasi PP Syabab ke Wilayah Jawa 4alisasi gerakan Syabab Hidayatullah.

Sementara itu Indra Abdul Rauf yang saat ini di amanatkan memimpin Syabab Hidayatullah Jawa Ti mur menuangkan beberapa dinamika yang berkembang di lembaga yang dia pimpin. Ia menguraikan beragam prograSafari Konsolidasi PP Syabab ke Wilayah Jawam dan rencana-rencana penguatan Syabab Hidayatullah Jatim ke depan.

Tak lupa Indra berharap PP Syabab Hidayatullah terus membuka ruang konsultansi untuk turut rembug, tidak saja memantau wilayah terdekat tetapi juga mengawal kepengurusan daerah secara nasional. Diharapkan dengan itu kemudian kita bisa bersama-sama dapat mengurai beragam dinamika Syabab Hidayatullah di manapun berada.

Harapan Jawa Timur itu diamini Ketum dan berharap ke depannya organIMG_20151225_043330isasi kepemudaan nasional ini dapat terus melanjutkan dan meningkatkan kiprahnya.

Sebagai organisasi yang relatif masih cukup beliau, Naspi menilai Syabab Hidayatulllah harus terus belajar dan berupaya meningkatkan kualitas dan kuantitas peran nyatanya untuk kemaslahatan umat dan bangsa. (ybh/hio)

 

 

 

 

 

Jambore Pramuka Hidayatullah Tanamkan Nilai Kebangsaan

0

‘Jambore Ukhuwah” di PP Tahfidz Ahlus Shuffah BalikpapanHidayatullah.or.id – Atas inisiasi Pandu Hidayatullah Balikpapan dan didukung Hidayatullah Wilayah Kalimantan Timur, digelar Jambore Pramuka Ukhuwah I Hidayatullah se-Kalimantan bertempat di lapangan Pondok Pesantren Hidayatullah Balikpapan, Kalimantan Timur, digelar selama sepekan dan dibuka pada Senin, (21/12/2015).

Sebagaimana fungsi dan perannya, kegiatan jambore Pramuka ini digelar dalam rangka menanamkan wawasan kebangsaan dan keislaman kepada generasi muda Hiadyatullah dalam upaya kebermanfaatannya menjadi manusia yang berkepribadian dan berwatak luhur serta tinggi mental, moral, budi pekerti dan kuat keyakinan beragamanya yang dengan demikian diharapkan kelak mereka sanggup dan mampu menyelanggarakan pembangunan bangsa dan negara.

Acara yang bertajuk “Kepramukaan Membangun Karakter, Jiwa Kepemimpinan dan Perekat Umat” ini dihadiri oleh 250 orang peserta.

Dalam sambutan, Wakil Ketua Kwartir Daerah (Kwarda) Pramuka Kalimantan Timur, Idris Ramli merasa bangga dengan dengan kegiatan jambore tersebut.

“Kebanggaan kepada seluruh adik-adik peserta yang datang dari penjuru Kalimantan yang turut berpartisipasi mengikuti kegiatan jambore ini,” ucap Idris dalam upacara pembukaan jambore.

“Hendaknya setiap anggota pramuka terus berpacu dalam prestasi. Sebab masa-masa seperti kalian harus diisi dengan kegiatan bermanfaat dan prestasi,” pesan Idris kembali.

Di kesempatan terpisah, Ketua Panitia Pelaksana (Panpel) Jambore, Adri al-Amin, menjelaskan bahwa kegiatan jambore bertujuan untuk meningkatkan ukhuwah Islamiyah, kemandirian, kepemimpinan, keterampilan, dan prestasi kepanduan santri serta memiliki komitmen terhadap penghayatan dan pengamalan kode kehormatan kepanduan.

“Hal terpenting itu, tumbuhnya persaudaraan di seluruh Pramuka Hidayatullah se-Kalimantan serta berupaya meningkatkan prestasi amaliyah dan ubudiyah santri,” ujar Adri menerangkan.

Untuk diketahui, lokasi bumi perkemahan di atas berjarak sekitar 7 km dari tempat pembukaan sebelumnya. Kegiatan ini dimeriahkan oleh 22 regu pramuka, dengan Kalimantan Timur sebagai pemasok regu terbanyak, 12 regu.

Selanjutnya Kalimantan Utara 8 regu dan Kalimantan Selatan serta Kalimantan Tengah masing-masing datang dengan 1 Regu.*/Rizki Kurnia Syah

Ketum MUI Jabar Pesan Kader Hidayatullah Jadilah Teladan

Ketum MUI Jawa Barat Ingatkan Kader Hidayatullah Harus Jadi TeladanHidayatullah.or.id — Aktivitas dakwah bukan hanya menuntut pelakunya (dai) untuk bisa berorasi yang memukai serta mampu mengumpulkan banyak orang (mad’u) semata, melainkan yang utama ia harus mempunyai niat yang ikhlas semata karena Allah Subhanahu Wata’ala dan juga melaksankan dakwah sesuai kaidah yang telah diajarankan Rasulullah.

Demikian diungkapkan Ketua Umum MUI Provinsi Jawa Barat, Prof Dr. KH. Rahmat Syafei, saat memberikan sambutan dalam acara pembukaan Musyawarah Wilayah (Muswil) Hidayatullah Jawa Barat 2015 di aula Islamic Centre (Pusdai) Jabar Jl. Diponegoro Kota Bandung, Sabtu (19/12/2015) lalu.

Kyai Rahmat Syafei menegaskan pula, seorang dai juga menjadi simbol atau motor penggerak kebaikan (ma’ruf) dan menjauhi keburukan (munkar) maka ia juga dituntut mempunyai perilaku terpuji (akhlakul karaimah) karena akan diteladani oleh orang yang diajaknya.

“Tidak kalah pentingnya juga seorang dai harus memiliki akhlak terpuji karena ia akan menjadi panutan atau contoh di masyarakat,” imbuh Rahmat yang juga Guru Besar Hukum Islam UIN Sunan Gunung Djati Bandung ini.

Lebih lanjut, Rahmat Syafei menambahkan, dalam menyampaikan materi dakwahnya seorang dai bukan sekedar menarik, melainkan ia harus menyampaikan misi utama dakwah itu sendiri yakni bertauhid yang lurus sehingga mempunyai akidah yang benar.

Ia mengakui saat ini kemajuan dakwah semakin berkembang dan menggembirakan yang bukan saja dilakukan di atas mimbar (masjid) saja melainkan diberbagai tempat dengan ragam kemasan sehingga banyak kaum muslim yang rajin dan tertarik belajar Islam.

Namun ia juga sedikit merasa prihatin dimana ada sebagian pelaku dakwah (dai) masih berorietasi duniawi salah satunya mencari popularitas saja sehingga makna dakwah yang hakiki tidak tersampaikan.

Rahmat Syafei juga menyampaikan, lahan dan garapan dakwah yang demkian luas dengan ragam karakter obyek dakwah yang bermacam-macam maka pekerjaan dakwah tidak bisa dipikul atau dibebankan dan dilakukan oleh satu kelompok saja.

Untuk itu, beliau mengingatkan sekaligus mengajak kepada elemen dakwah khususnya ormas Islam harus saling mendukung dan bersinergi. Ia juga berharap kepada Ormas Islam untuk tetap fokus kepada kegiatan dakwah, sosial dan tarbiyah ditengah masyarakat.

“Secara pribadi saya sangat tertarik dengan tema yang diusung Hidayatullah ini. Namun bukan berarti ummat Islam tidak perlu berpolitik akan tetapi berpolitik yang mengedepankan nilai, spirit dan moralitas yang Islami,” ujarnya saat mengomentari tema muswil yakni “Menuguhkan Jati Diri Menuju Sukses dan Dakwah dan Tarbiyah”.

Ketum Umum MUI Jabar ini menyampaikan secara pribadi maupun kelembagaan (MUI Jabar) dirinya akan mendukung kiprah dakwah Hidayatullah di masyarakat.

Bahkan, profesor yang juga pimpinan Pondok Pesantren Al-Wafa, ini mengaku siap bersinergi serta bersedia menjadi fasilitator dengan lembaga dakwah dan ormas Islam lainnya khususnya yang ada di wilayah Jawa Barat.

Diakhir sambuatannya, Rahmat Syafei juga menitip pesan kepada para dai umumnya dan khususnya dai-dai Hidayatullah agar selalu istiqamah dalam dakwah dan berjuang di jalan Allah.

“Dai itu harus siap mendapat dan menghadapi tantangan di lapangan dan kalau ikhlas, insya Allah akan mendapat tentengan,” pungkasnya seraya berseloroh yang disambut tawa musyawwirin.

Muswil Hidayatullah Jawa Barat ini dihadiri 80 orang yang merupakan perwakilan Pengurus Daerah (PD) Hidayatulle-Jawa Barat serta badan usaha dan amal.

Muswil ini dihadiri pula oleh perwakilan Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah Kepala Biro Hukum Dr. DA. Abdullah dan Kepala Biro Umum Ir. Musyafir yang dalam kesempatan tersebut membacakan amanat Ketua Umum Pimpinan Pusat Hidatullah.

Diakhir Muswil para musyawirin kembali memberikan amanatnya kepada Dadang Abu Hamzah untuk memimpin Hidayatullah Jawa Barat 5 tahun mendatang. *Ngadiman Djojonegoro

Santriwati Hidayatullah Batam Langganan Juara Olimpiade

0
Jpeg
Jpeg

Hidayatullah.or.id – Sejumlah santriwati Pondok Pesantren Hidayatullah Tanjunguncang Batam kembali menggondol juara olimpiade sains. Kali ini, pada Olimpiade Sains yang digelar di Olimpiade Sains Tingkat Madrasah Aliyah (MA) se-Kota Batam yang digelar di MAN (Madrasah Aliyah Negeri) 1 Batam.

Para juara olimpiade itulah yang diberikan pengharaan saat pembagian raport Sabtu (19/12/2015) lalu. Mereka itu adalah Gabrina Rizky (Juara I Olimpiade Geografi), Fischa Alifia Wulandari (Juara III Olimpiade Kimia), Salsabila Admayatul (Juara I Tahfidz Qur’an) dan Nabila Thantary dan Miftah Petrisia Tamara (Juara I Poster).

“Alhamdulillh, anak-anak langganan dapat juara olimpiade,” ujar Kepala Sekolah Hidayatullah Batam, Sumarno kepada laman berita lokal Batamtoday belum lama ini.

Selain memberikan penghargaan kepada para juara olimpiade sains itu, pengelola Pesantren Hidayatullah juga memanfaatkan momentum pembagian raport itu untuk memberikan penghargaan kepada para santriwati teladan. Mereka yang meraih ranking 1 sampai 3 dan mereka yang menjadi santriwati teladan.

“Harapannya untuk memberikan motivasi kepada para santriwati yang lain agar mengikuti jejak mereka,” tambah Sumarno. (ybh/btc)

Siaran Pers Hidayatullah Kutuk Penistaan Terhadap Agama

0

 

Siaran Pers Hidayatullah
No: 003/Humas/2015
Tanggal: 29 desember 2015

Bismillaahirrahmaanirrahiim

Assalaamu ‘Alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh

Beberapa bulan terakhir ini, kaum Muslim di Indonesia kerap dikagetkan oleh upaya penghinaan terhadap Islam dan simbol-simbol Islam. Kasus terakhir adalah penggunaan mushaf al-Qur’an untuk bahan terompet tahun baru. Kasus ini pertama kali diketahui di Kendal, Jawa Tengah, kemudian muncul juga di wilayah-wilayah lain di sekitarnya.

Sebelumnya, kaum Muslim juga dikejutkan oleh penghinaan serupa di Jawa Timur, yakni adanya lafaz Allah tertempel di sepatu/sandal. Alhamdulillah, kasus penghinaan di sepatu/sandal ini bisa diredam oleh Majelis Ulama Indonesia Jawa Timur bekerjasama dengan kepolisian setempat.
Menyikapi hal ini, Hidayatullah mengeluarkan sikap sebagai berikut:

  1. Mengutuk keras upaya penghinaan kepada Islam dan simbol-simbol Islam dengan motif apa pun.
  2. Mendesak kepada pihak berwenang untuk segera menyelidiki siapa dalang di balik penghinaan ini, termasuk motif dan orang-orang yang terlibat di dalamnya. Mereka yang terlibat dalam penghinaan ini harus dihukum secara adil agar menjadi peringatan kepada pihak lain yang bermaksud melakukan hal serupa di kemudian hari.
  3. Meminta kepada kaum Muslim di Indonesia untuk tidak melakukan tindakan-tindakan anarkis sebagai reaksi atas penistaan ini. Sebab, bukan tidak mungkin ini semua hanyalah pancingan agar umat Islam melakukan reaksi berlebihan sehingga pada akhirnya akan merugikan umat Islam sendiri. Tetaplah mendengar petunjuk ulama agar kita tidak salah langkah.
  4. Namun, kaum Muslim di Indonesia tetap harus waspada terhadap upaya-upaya penistaan di masa mendatang. Bila menemukan penistaan-penistaan sejenis maka segeralah laporkan hal tersebut kepada pihak berwajib agar bisa diantisipasi secepatnya.
  5. Mengajak seluruh kaum Muslim agar meningkatkan keimanan kepada Allah SWT dan Rasul-Nya agar kita tidak mudah terjebak dan tersesat sehingga kian jauh dari cita-cita membangun negeri ini menjadi negeri yang berperadaban Ilahi.

Demikian pernyataan ini kami buat. Mudah-mudahan Allah SWT melindungi kita semua dari upaya makar orang-orang yang membenci Islam.

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Kepala Biro Humas DPP Hidayatullah
Mahladi

 

Hidayatullah Batam Diganjar Penghargaan dari Pemkot

Wali Kota Batam, Ahmad Dahlan dan Ny Mariana Dahlan berfoto bersama penerima Anugerah Batam Madani yakni Raja Abdul Gani (tokoh masyarakat Melayu), Hj Mardiana Adamri Al-Husainy (tokoh wanita dan sosial), H Jamaluddin Nur (tokoh pendidikan dan agama), Tiat Lam (tokoh pengusaha), Denni Delyandri (tokoh wira usaha muda), dan Radio Ramako Batam (perusahaan media).  Foto: Iman Wachyudi/ Batam Pos
Wali Kota Batam, Ahmad Dahlan dan Ny Mariana Dahlan berfoto bersama penerima Anugerah Batam Madani yakni Raja Abdul Gani (tokoh masyarakat Melayu), Hj Mardiana Adamri Al-Husainy (tokoh wanita dan sosial), H Jamaluddin Nur (tokoh pendidikan dan agama), Tiat Lam (tokoh pengusaha), Denni Delyandri (tokoh wira usaha muda), dan Radio Ramako Batam (perusahaan media).
Foto: Iman Wachyudi/ Batam Pos

Hidayatullah.or.id — Dinilai telah berkontribusi positif terhadap pembangunan kawasan, pendiri dan perintis Yayasan Pesantren Hidayatullah Batam, Kepulauan Riau, Ustadz Jamaluddin Nur, diganjar penghargaan sebagai tokoh inspiratif dan ia menerima Anugerah Batam Madani dari Pemerintah Kota (Pemkot) Batam.

Malam Anugerah Batam Madani itu kembali ditaja sempena Hari Jadi Kota Batam ke-186, Jumat (18/12) malam lalu.

Anugerah itu juga diberikan oleh Pemerintah Kota (Pemko) Batam kepada para tokoh yang dinilai berkontribusi menjayakan seni budaya Melayu, serta mendorong gemilangnya gawai Kenduri Seni Melayu yang merupakan rangkaian acara hari ulang tahun (HUT) Kota Batam, yang tahun ini memasuki gelaran ke-17. Tahun ini, penerima Anugerah Batam Madani berjumlah 18 orang, yang berasal dari dalam dan luar negeri.

“Penghargaan ini sebagai bentuk apresiasi dan ucapan terima kasih kepada para tokoh yang turut dalam membangunan Batam serta turut menjayakan Batam dari masa ke masa,” kata Wali Kota Batam, Ahmad Dahlan, dikutip media lokal Batam Post baru baru ini.

Menurut Dahlan, pemerintah bangga karena mampu menghargai jasa para tokoh yang dinilai memberi sentuhan budaya, seni, pendidikan dan teknologi dalam kehidupan sosial-kebudayaan di Batam. Mengingat, kata dia, selama ini Batam hanya dikenal sebagai kota industri, area bisnis dan ladang memutar uang.

“Jadi Batam tak kering lagi, tapi terasa nuansa budayanya,” ujar pria yang akan mengakhiri jabatan Wali Kota Batam pada 1 Maret 2016 tersebut.

Ke depan, Wali Kota dua periode itu juga mengaku yakin gelaran itu akan dilanjutkan oleh suksesornya. “Siapapun yang jadi Wali Kota, ini harus diteruskan,” kata dia.

Adapun, para tokoh yang malam itu menerima anugerah dibedakan berdasar kategori penghargaan, antara lain Anugerah Batam Madani, Anugerah Batam Serantau, Anugerah Mitra Budaya, Penghargaan Pengabdian Batam.

Anugerah Batam Madani dikalungkan kepada enam tokoh dan lembaga, yakni H Jamaluddin Nur (tokoh pendidikan dan agama), Raja Abdul Gani (tokoh masyarakat Melayu), Hj Mardiana Adamri Al-Husainy (tokoh wanita dan sosial), Tiat Lam (tokoh pengusaha), Denni Delyandri (tokoh wira usaha muda), dan Radio Ramako Batam (perusahaan media).

Sedangkan penerima Anugerah Batam Serantau yakni Senator Tan Sri Haji Mohd Ali Bin Mohd Rustam dari Malaysia. Dia adalah presiden Dunia Melayu Dunia Islam (DMDI). Anugerah ini diberikan bagi orang di luar negeri yang dinilai berjasa dalam membina hubungan yang baik dengan Batam, terutama hubungan budaya.

“Ini pertama kali dianugerahkan, semoga bisa mendorong jalinan hubungan yang lebih erat ke depan,” papar Dahlan.

Anugerah berikutnya yakni Anugerah Kenduri Seni Melayu (KSM). Diberikan bagi orang yang punya andil terhadap pelaksanaan Kenduri Seni Melayu yang ditaja saban tahun. Penerima anugerah ini sebanyak tujuh orang, yakni Dr Al Azhar asal Riau (budayawan), Husnizar Hood asal Kepri (sastrawan), Samson Rambah Pasir asal Batam (sastrawan), Datuk Zainal Abidin Borhan asal Malaysia (budayawan), Djamal Tukimin asal Singapura (budayawan), Puan Haja Karmila Binti Haji Sapar asal Brunei Darussalam (sastrawan) dan Prof DR Nik Rakib Nik Hasan asal Thailand (budayawan).

Ada juga penerima Anugerah Mitra Budaya yang diberikan kepada Datuk Nazri Bin Kamal asal Malysia (penggiat budaya). Sedangkan anugerah terakhir yakni Penghargaan Pengabdian Batam. Anugerah ini diberika pada pegawai yang dinilai menyumbang kontribusi bagi daerah lantaran jasa dan pengabdiannya bagi Batam, seperti misalnya guru di pulau penyangga (hinterland) yang mengabdi selama belasan tahun lamanya.

Penerima anugerah tersebut antara lain, Pondi bidang Pendidikan asa Selatpanjang, A Rahman bidang Kesehatan asal Pulau Abang, dan Raja Fatimah bidang Pemerintahan asal Bengkong Indah.

Ustaz Jamaluddin Nur selaku perintis dan pendiri Hidayatullah Batam mengatakan, ia sangat mengapresiasi kegiatan ini sehingga dapat memotivasi bagi seluruh warga untuk memberikan sumbangsih dalam membangun batam.

“Sangat positif, dan saya sangat mengapresiasi anugerah ini, hal ini sungguh luar biasa. Sebab tidak terlalu sulit mempengaruhi orang lain kalau kita punya karya nyata dan yang penting kita berbuat untuk masyarakat banyak. Saya berharap kegiatan ini terus berlanjut,” kata Ustaz Jamaluddin Nur.

Pria kelahiran Jeneponto Sulawesi Selatan ini memandang bahwa penganugerahan itu sebagai pelecut baginya untuk semakin berkhidmat kepada umat, sebagaimana misi dakwah dan pendidikan Islam.

“Saya menerima ini dengan penuh kesyukuran. Tetapi, sejatinya ini adalah cambuk untuk saya secara pribadi dan keluarga bersama civitas akademika Pesantren Hidayatullah Batam untuk terus berbenah, sehingga bisa semakin bagus lagi dalam berkhidmat kepada bangsa dan negara melalui pendidikan dan dakwah,” ungkapnya.

Pria yang hobi olahraga itu pun merasa apa yang dianugerahkan Pemerintah Kota Batam kepadanya bisa menjadi inspirasi generasi muda.

“Ya, harapannya hal ini bisa menjadi inspirasi bagi generasi muda, terutama di Batam bahwa setiap kerja keras untuk menolong agama Allah pasti akan menemukan jalannya sendiri. Jadi, jangan takut berkiprah, berkorban dan berjuang untuk membela kepentingan umat,” tegasnya. (rna/iwa)

Kader Didorong Tingkatkan Bina Spiritual dan Intelektual

Pengurus Didorong Terus Tingkatkan Pembinaan Spiritual dan Intelektual Pengurus Didorong Terus Tingkatkan Pembinaan Spiritual dan Intelektual2 Hidayatullah.or.id – Ketua Umum DPP Hidayatullah Ustadz Nashirul Haq mendorong kepada segenap pengurus baru wilayah organisasi Hidayatullah untuk terus meningkatkan kualitas pembinaaan spiritual dan intelektual.

“Sebagai harapan terhadap ketua dan jajaran Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah, hendaknya lebih meningkatkan kualitas pembinaan spiritual dan intelektual pengurus dan anggotanya sebagai modal interaksi dengan lingkungan internal maupun eksternal,” kata Ustadz Nashirul belum lama ini.

Beliau mengimbuhkan, para musyawirin diyakini pasti mendukung sepenuhnya keputusan Dewan Pengurus Pusat tentang penetapan keta Dewan Pengurus Wilayah yang merupakan kader terbaik.

Tim formatur yang dibentuk diharapkan memilih anggota Dewan Pengurus Wilayah dengan pertimbangan yang dewasa dan obyektif terhadap kualitas spiritual, intelektual, manajerial, serta yang diyakini memiliki integritas dan kapabilitas dalam mengemban amanah kepengurusan pada periode 2015-2020.

“Kami sampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada pengurus Pimpinan Wilayah periode 2010-2015 yang telah mencurahkan tenaga, pikiran dan waktunya untuk memberikan yang terbaik dalam mengemban amanah perjuangan selama lima tahun ini,” katanya.

Musyawarah Wilayah merupakan forum musyawarah terlengkap di tingkat wilayah yang diselenggarakan sekali dalam lima tahun.

Musyawarah Wilayah ini diselenggarakan dalam rangka mendengar Laporan Pertanggungjawaban Dewan Pimpinan Wilayah sebagai bahan evaluasi bersama atas kiprah dan kinerja anggota dan kader Hidayatullah pada umumnya dan kader yang mendapatkan amanah untuk mengelola jamaah dan organisasi Hidayatullah di Wilayah ini selama periode 2010-2015.

“[Evaluasi] sejauh mana waktu, tenaga dan sumberdaya lain yang kita korbankan serta seserius apa ibadah dan do’a kita berdampak dan memberikan kontribusi terhadap kemajuan Islam dan memberikan manfaat kepada ummat. Ada hal yang wajib disyukuri namun tidak sedikit yang harus diistighfarkan,” tukasnya.

Ketum juga berpesan hendaknya dipastikan bahwa semua anggota dan kader Hidayatullah terdaftar dan aktif dalam halaqah, masjid-masjid yang berada di bawah binaan anggota dan kader Hidayatullah.

Kader pun diimbau untuk menyemarakkan dan memakmurkan kegiatan ta’lim diniyah, serta mengembangkan program yang terukur secara kuantitatif. Juga mendorong terus ditingkatkannya penambahan jumlah amal usaha dan badan usaha yang dikelola baik amal usaha pendidikan, sosial, dakwah dan badan usaha ekonomi. (ybh/hio)

Muswil Serentak, Hidayatullah Teguhkan Sistem Syura

Ketua Umum DPP Hidayatullah Ustadz Nashirul Haq, Lc, MA
Ketua Umum DPP Hidayatullah Ustadz Nashirul Haq, Lc, MA / Foto by: Imam Nawawi

Hidayatullah.or.id — Sepanjang pertengahan bulan November hingga Desember ini Hidayatullah secara serentak berkelanjutan menggelar Musyawarah Wilayah (Muswil) yang sekaligus diselenggarakan dalam rangka menetapkan ketua dan anggota Dewan Pengurus Wilayah.

Ketua Umum DPP Hidayatullah Ustadz Nashirul Haq dalam sambutannya saat membuka Muswil Hidayatullah Jabodebek beberapa waktu lalu menjelaskan mengapa Hidayatullah menetapkan pengurus, bukan memilih seperti halnya halnya organisasi lain saat pergantian kepengurusan.

Nashirul menerangkan, Hidayatullah telah memilih sistem syura dalam pengambilan keputusan, termasuk dalam memilih dan menetapkan pemimpin.

“Kita meyakini bahwa sistem syura berbeda dengan sistem demokrasi, syura berlandaskan pada kedaulatan syariat, sedangkan demokrasi berlandaskan pada kedaulatan rakyat dimana suara mayoritas menjadi dasar dalam menetapkan keputusan,” jelasnya.

Dikatakan dia, jika kebenaran itu diserahkan kepada keinginan mayoritas manusia, maka niscaya akan menjadi rusak tatanan kehidupan ini. Karena, terangnya, manusia akan menentukan kebenaran berdasarkan selera dan keinginan hawa nafsunya. Hal itu disampaikan Nashirul seraya mengutip QS. Al Mukminun (23) ayat 71.

Namun, ditegaskan Ustadz Nashirul, proses menetapkan seseorang sebagai pemimpin tidaklah dilakukan dengan serta merta.

Beliau mengatakan bahkan jauh sebelum Musyawarah Nasional, Pimpinan Pusat Hidayatullah periode 2010-2015 telah mempersiapkan regenerasi kepemimpinan di Hidayatullah melalui training HiTC, mengidentifikasi potensi setiap kader melalui psikotes, menggali pemahamannya terhadap sistematika wahyu sebagai manhaj gerakan, rekam jejak selama ini dan sejauh mana kecintaan ummatnya melalui proses penyerapan aspirasi.

“Oleh karena proses pergantian kepemimpinan ini telah dipersiapkan begitu serius dan dalam waktu yang cukup panjang, maka fokus utama Musyawarah Wilayah ini diharapkan lebih kepada pembahasan tentang Hidayatullah lima tahun ke depan. Bagaimana Hidayatullah dapat memberikan kontribusi yang lebih optimal untuk kemaslahatan ummat, yakni mencerahkan dan memberdayakan ummat melalui gerakan tarbiyah dan dakwah,” tuturnya.

Beliau berpesan keputusan Munas tentang kebijakan-kebijakan strategis Hidayatullah dan rekomendasi-rekomendasi diterjemahkan lebih lanjut di Muswil dalam bentuk program-program kerja Wilayah yang lebih rinci dan kuantitatif khususnya yang terkait dengan mainstream tarbiyah dan dakwah.

“Hendaknya dipastikan bahwa semua anggota dan kader Hidayatullah terdaftar dan aktif dalam halaqah, masjid-masjid yang berada di bawah binaan anggota dan kader Hidayatullah semarak dan makmur dengan kegiatan ta’lim diniyah, serta terukur secara kuantitatif, penambahan jumlah amal usaha dan badan usaha yang dikelola baik amal usaha pendidikan, sosial, dakwah dan badan usaha ekonomi,” imbuhnya.

Kata Ustadz Nashirul, tidak ada hasil keputusan yang sempurna dan dapat memuaskan semua pihak. Karenanya, pesan beliau, kita semua diuji oleh Allah untuk bersabar dan menerima hasil-hasil musyawarah yang telah disepakati.

“Selanjutnya kembalikanlah semua urusan kepada Allah Subhanahu wa Taála, berdo’a agar Allah memberikan kebaikan atas keputusan yang disepakati,” pesannya dengan mengutip Al Qur’an Surah Ali Imran ayat 159:

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu . Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.”

“Proses musyawarah yang kita ikuti dalam Musywil ini bertujuan untuk menyatukan pikiran, menguatkan tekad dan membangun soliditas jamaah untuk mengemban amanah kepengurusan lima tahun ke depan. Setelah itu kita bertawakkal dan berserah diri kepada Allah Azza wa Jalla, mengiringi setiap gerak langkah kita dengan doa dan munajat kepada-Nya,” pesannya. (ybh/hio)

Pendakwah Islam Harus Selalu Memperbaiki Integritas Pribadi

Muswil Hidayatullah Jawa Timur 2015Hidayatullah.or.id – Setiap muballigh atau dai yang mengemban amanah mendakwahkan Islam kepada segenap khalayak harus selalu berusaha memperbaiki dan bermuhasabah diri guna mewujudkan integritas pribadi yang unggul dan mulia.

Demikian pesan disampaikan Pimpinan Umum Hidayatullah, Ustadz Abdurrahman Muhammad, dalam acara Silaturrahim Dai Hidayatullah se-Jawa Timur digelar di di Pendopo Utama Komplek Hidayatullah Probolinggo, belum lama ini.

Beliau menegaskan, menjadi dai, penyeru, sekaligus penerus pengemban risalah kenabian harus memiliki integritas kepribadian yang tinggi yakni terutama baiknya mutu spiritual dan intelektual serta sifat yang menunjukkan kesatuan utuh sehingga kelak memancarkan kewibawaan.

Beliau mengatakan membangun integritas mMuswil Hidayatullah Jawa Timur 20152emang tidaklah mudah. Akan tetapi, tegasnya, kita harus terus memacu dan memompa diri agar mencapai hal tersebut. Sebab, jelas beliau, karena kita sudah memilih jalan ini yag merupakan jalan terhormat dan mulia di mata Allah Ta’ala.

“Senjata utama para dai adalah taqorrub ilallah, selalu mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. Para dai harus senatiasa berdekatan dengan Allah Ta’ala, sang pemberi kemudahan. Karena perjalanan para dai dalam menyinari umat penuh gempuran hambatan dan tantangan,” kata Ustadz Abdurrahman Muhammad.

Beliau menegaskan, kegiatan bertaqorrub (upaya mendekatkan diri) kepada Allah Ta’ala adalah mutlak adanya, fardhu ain bagi seluruh dai. Beliau mengimbuhkan, dai adalah menjadi pegawai Allah Ta’ala merupakan aktifitas termulia karena Allah Ta’ala langsung yang menjadi “bosnya”.

“Allah Subhanahu Wata’ala yang menggaji dan memberikan jaminan hidupnya,” ucapnya.

Namun, terangnya, ada dua hal yang perlu perhatikan setiap dai agar ia dimata Allah Ta’ala tetap utuh, tidak kurang sedikit pun.

Pertama, katanya, hendaknya semangat para dai dalam membimbing umat tidak dilandasi dengan motivasi kata dendam. Semangatnya bukan karena balas dendam sebagaimana Syiah menjadikan peristiwa Karbala sebagai motivasi gerak dakwahnya.

“Semangat dakwah karena dendam justru meruntuhkan niat kita, bukan lagi karena Allah Ta’ala tetapi ada maksud lain,” tegasnya.

Kedua, lanjut beliau, pada diri dai tidak boleh ada rasa iri, dengki, fitnah, ghibah dan penyakit hati lainnya, kepada mad’u, apalagi sesama dai. Karena semua itu dapat menodai niat dan Muswil Hidayatullah Jawa Timur 20154menghambat lajunya langkah dakwah.

“Salah satu tugas atau tantangan terbesar dan terberat dai adalah melahirkan manusia-manusia unggul, mampu membimbing umat menjadi manusia unggul. Unggul di mata Allah Ta’ala indikasinya adalah bertaqwa. Bukan dengan berlomba mendirikan bangunan-bangunan megah nan indah, karena kalau ukuran sukses dilihat dari bentuk fisik bangunan, maka raja Fir’aun sudah dapat dikatakan sukses, begitupun kaum Tsamud dan kaum-kaum sebelumnya,” ungkap beliau.

Namun, beliau menggarisbawahi, bahwa boleh saja membuat bangunan, asalkan bangunan tersebut mempunyai nilai fungsi yang sama dengan Ka’bah di Baitullah. Bangunan Ka’bah apabila dilihat dari bentuk fisik keindahan maka hampir tidak bernilai. Tetapi bangunan tersebutlah yang memiliki medan magnet spiritual dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala, dibandingkan dengan bangunan-bangunan indah lainnya.

“Jadi dai boleh membangun bangunan asalkan tetap mempunyai tujuan menjadikan bangunan tersebut sebagai ladang magnet spiritual. Apabila tidak demikian maka kesiasian yang didapatkan,” ujarnya.

Selain menajamkan spiritual, lanjutnya, para dai diharapkan terus meningkatkan semangat ber-walijah, yakni semangat persaudaraan yang kuat dilandasi dengan keimanan. Semangat ber-walijah terus dibenahi sampai pada tingkat persaudaraan seperti para sahabat Muhajirin dan Anshor dimana persudaraan mereka sangat erat dan kuat sehinga apapun yang dibutuhkan saudaranya akan diberikan.

Beliau mengemukakan kisah tentang pembuktian persaudaraan sahabat Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi wasallam tatkala di perang Yarmuk. Mereka rela menemui syahid karena kehausan yang sangat disebabkan saudaranya yang lain butuh air yang sebenarnya iapun butuhkan.

“Persaudaraan walijah adalah persaudaraan melebihi sekat batas hubungan biologis, karena mereka dipersaudarakan dengan kalimat Laa ilaah Illallah MuMuswil Hidayatullah Jawa Timur 20153hammadan Rasulullah,” imbuhnya.

Terakhir, Pimpinan Umum Hidayatullah pula menghimbau kepada pada dai agar selalu mengoreksi total diri masing-masing. Mengoreksi total adalah dengan selalu meluruskan niat, membasahi bibir dengan kalimat Laa haula Walaa kuwwata illa billah, tidak ada daya dan kekuatan selain dari Allah dan juga kalimat istighfar.

“Hanya dengan merendahkan diri di hadapan Allah kita akan memperoleh kemenangan. Dengan merasa lemah, berat dengan tugas-tugas yang diamanahkan, maka jangan putus asa dan mencari pihak-pihak lain yang dijadikan pelampiasan kekesalan dan kesalahan. Tetapi ambillah air wudhu dan shalatlah, mintalah pada-Nya, Dzat yang memberi solusi dalam setiap permasalahan makhluknya. Selalulah libatkan Allah dalam setiap gerak dan langkah,” ujarnya.

Sebelumnya, pada Jum’at dini hari, di tempat yang sama, diadakan kegiatan shalat tahajjud bersama yang langsung diimami beliau. (Syamsu Alam Jaga)