Beranda blog Halaman 607

Hati-Hati dengan Perang Proxy!

Hati-Hati dengan Perang Proxy!Hidayatullah.or.id – Proxy war atau perang proxy sejak lama ada. Perang proxy lebih mudah dipahami sebagai perang untuk melemahkan pihak lawan tapi tidak langsung berhadapan.

Perang ini memang tidak terlalu nampak dan segera diperoleh hasilnya, tetapi justru perang ini yang sangat mematikan, karena berhasil membendung gerak lawan. Perang semacam ini lebih sering dilakukan dengan perilaku dan kebijakan.

Misalnya, terlepas dari pro-kontra, memberikan ucapan selamat merayakan hari besar agama lain adalah menyimpan tujuan agar kita mengakui kebenaran agama tersebut. Sekarang, perang proxy ini sudah menjamah area kekuasaan.

Jika dulu lebih sering terjadi pada wilayah perusahaan atau bidang usaha, sekarang mulai tampak pada wilayah kebijakan politik dan pemerintahan. Lahirnya kebijakan yang secara substansial (tapi tidak terlihat secara eksplisit) sangat merugikan umat Islam mulai terlihat jelas.

KH Ahmad Sadeli Karim, Lc, Ketua Umum Pengurus Besar Mathla’ul Anwar (MA), mencium aroma perang proxy di arena kebijakan pemerintah.

“Perang proxy sekarang ini sudah merasuk dalam pemerintah Indonesia dengan kebijakan-kebijakannya,” katanya dikutip dari Suara Muhammadiyah edisi Januari 2016.

Contoh yang lebih baru dan gampang dilihat adalah terpilihnya lima anggota KPK terbaru. Sinyal untuk masa depan Islam sudah agak terlihat. Beragam spekulasi muncul bahwa tingkat kualitas dan profesionalitas umat Islam masih kalah dari umat yang lain.

Ditambah lagi dengan isu bahwa umat Islam selalu menonjolkan keislamannya. Hal-hal seperti ini yang sangat merugikan umat Islam. Isu-isu ini menggiring pendapat tentang umat Islam, sehingga melemahkan posisi umat Islam di Indonesia.

Contoh yang lebih jelas lagi, menurut Prof Dr H Yunahar Ilyas, Wakil Ketua MUI, adalah adanya isu pemerintah yang akan memasukkan Israel dalam daftar negara bebas visa.

Kata Yunahar, ini adalah bentuk kesembronoan, karena jika ini terjadi sama dengan memberi pengakuan terhadap penjajahan berabad-abad terhadap Palestina. Artinya, memberikan pengakuan terhadap kebiadaban terhadap umat Islam Palestina.

Dia menjelaskan, biasanya, proxy war diawali dengan testing the water (coba-coba). Dimulai dengan memunculkan isu atau “calon” kebijakan yang sedikit-banyak merugikan umat Islam. Ingin tahu respons umat Islam. Ingin tahu seberapa kekuatan umat Islam.

Jika dianggap responsnya tidak kuat, maka akan naik menjadi kebijakan resmi pemerintah. Kalau sudah demikian, dalam jangka panjang, umat Islam menjadi korban. Contoh pada pemerintahan periode lalu adalah tentang UU Kesehatan, UU Migas (yang kemudian berhasil dianulir), dan beberapa kebijakan lain, termasuk usulan pengosongan kolom agama di KTP.

Menurut Prof Dr H Syafiq A. Mughni, Guru Besar UIN Sunan Ampel, Surabaya, memang secara global, negara kita ini menjadi sasaran proxy war. Oleh karena umat Islam adalah mayoritas, maka otomatis umat Islam juga menjadi sasaran.

Asumsinya, kata Syafiq, jika umat Islam Indonesia berkualitas, maka insyaallah daya tahan bangsa ini akan lebih tangguh menghadapi skenario kekuatan eksternal untuk melemahkan Indonesia.

“Sebab inilah yang menjadikan Indonesia sebagai ajang pertarungan kepentingan dan ideologi global,” tegas Syafiq.

Sayangnya, lanjut dia, banyak kelompok strategis dalam bangsa ini kurang memiliki wawasan global, sehingga tidak menyadari bahwa permainan politik mereka yang berorientasi jangka pendek sesungguhnya memperlemah daya tahan bangsa.

Jika demikian ganasnya proxy war tersebut, bagaimana sebaiknya umat Islam bersikap? Menurut Ustadz Nashirul Haq, Ketua Umum DPP Hidayatullah, umat Islam harus berpikir strategis dan jangka panjang.

Kata Nashirul, kita jangan disibukkan hanya dengan merespons isu-isu yang memang sudah by design (sudah direncanakan secara sistematis). Seharusnya kita mulai memiliki perencanaan jangka panjang untuk menandingi perang proxy ini.

Menurut dia, memikirkan hal-hal strategis yang mementingkan umat mestinya dapat dilakukan lebih terorganisasi. Ini penting untuk merenungkan lebih dalam dan jauh tentang kepentingan jangka panjang umat. Respons dan keterlibatan untuk kepentingan jangka pendek dapat dilakukan tetap dalam kerangka kepentingan jangka panjang yang strategis.

Nashirul menilai, respons sporadis dan reaktif hanya akan dimanfaatkan oleh pihak lain untuk merebut hal-hal strategis yang merugikan umat Islam. Umat Islam hanya akan disuguhi testing the water berkali-kali. Sengaja diberi kesibukan merespons hal-hal yang demikian, sehingga umat Islam tidak cukup energi untuk memikirkan kepentingan jangka panjang yang lebih strategis.

Lebih dari itu, lanjut Nashirul, sangat penting bagi umat Islam untuk menguasai media. Selama ini, media sangat vital dalam memberi informasi.

Oleh karena itu, menurut Ahmad Sadeli, memanfaatkan media-media menjadi bagian strategis untuk melakukan dan menandingi dan perlawanan terhadap proxy war. Media sudah menjadi sarana proxy war itu dibangun.

“Banyak media yang menyuguhkan sisi negatif umat Islam. Suguhan ini bagaimana pun memberikan kesan negatif terhadap Islam. Maka islamophobia pun terbangun kuat. Hal-hal inilah yang menjadi alasan kuat media merupakan arena yang mesti dikuasai oleh umat Islam. Media yang memberitakan kesantunan Islam. Media yang memberi warna damai dan indahnya Islam,” kata Sadeli.

Oleh karena itu, lanjut Sadeli, proxy war adalah tantangan umat Islam. Ghazwul fiqri sejak lama menjadi tantangan terbesar umat Islam. Bukan lagi perang fisik.

Beliau menjelaskan, satu sisi, umat Islam ditantang menjawab islamophobia baik di media (online maupun offline) maupun dunia nyata. Sisi lain, beragam bentuk proxy war dalam ranah kebijakan dengan dalih kepentingan bangsa tetapi merugikan umat Islam sebagai umat mayoritas pun secara jelas telah terbaca.

Inilah bidang garap yang relatif membutuhkan pemikiran serius. Umat Islam mesti bereaksi, berebut posisi strategis, dan mewarnainya dengan citra Islam yang santun. Warna yang mementingkan warga negara dan umat Islam jangka panjang.

Jika beberapa waktu lalu, kita telah relatif berhasil dengan jihad konstitusi, dengan melihat proxy war yang demikian dahsyat, agaknya kita masih dibutuhkan untuk melakukan jihad dalam wujud dan bentuk yang lain untuk mengangkat derajat umat Islam di negara ini. [Suara Muhammadiyah, 28 Januari 2016]

MTQ Kelurahan Meriah Digelar di Hidayatullah Pasir Panjang

0
Tampak ibu-ibu meramaikan acara MTQ Tingkat Keluarahan ini / doc
Tampak ibu-ibu meramaikan acara MTQ Tingkat Keluarahan ini / doc

Hidayatullah.or.i – Meski dalam kesederhanaan dengan swadaya warga masyarakat, pelaksanaan pembukaan Musabaqah Tilawatil Qurán (MTQ) Tingkat Kelurahan Pasir Panjang, Kecamatan Meral Barat, Kabupaten Karimun, Provinsi Kepri, Senin (25/1/2016) malam, berlangsung meriah.

Seratusan warga terlibat dalam acara pembukaan yang dihadiri Camat Meral Barat Irwan Dinovri dan Lurah Pasir Panjang, Dirgahayu Nur.

Sekitar 500 warga sekitar kelurahan turut menghadiri kegiatan yang digelar di halamam Pesantren Hidayatullah Pasir Panjang ini. Hadir juga Anggota DPRD Karimun Yusuf Sirat sebagai tamu undangan.

“Kegiatan ini terselenggara berkat bantuan seluruh lapisan masyarakat. Swadaya masyarakat. Dibantu juga beberapa perusahaan seperti PT KDH yang memberikan dana kegiatan dan juga PT Wahana membantu fasilitasnya,” kata Ketua Panitia yang juga Ketua RW 01 Pasir Panjang, Khuzairin.

Mengenai acara yang digelar di Pesantren Hidayatullah, tambah Khuzairin, juga bertujuan untuk memperkenalkan lingkungan pesantren dan panti asuhan tersebut ke masyarakat yang sejauh ini telah cukup dikenal di bilangan Panjang.

Irwan Dinovri dalam sambutannya sebelum membuka acara memberikan semangat kepada peserta.

“Kita berharap peserta semangat mengikutinya. Semoga bisa tampil juga di MTQ tingkat kecamatan, kabupaten, provinsi atau nasional. Kan yang bangga kita juga semua,” ujarnya.

Acara yang diselenggarakan sejak Senin (25/1/2016) dan penutupannya, Kamis (28/1/2016) itu melombakan seni membaca Al-Quran (nagham) dan turunannya.

Sementara itu, Ustadz Syaefudin, pimpinan Pondok Pesantren Al-Qur’an Hidayatullah Pasir Panjang mengatakan pesantrennya saat ini sedang mencoba menerapkan sistem Kulliyatul Mu’allimin Islamiyyah (KMI).

“Dengan sistem itu, para murid akan mendapatkan pelajaran agama lebih tinggi daripada tingkat Aliyah,” ujar Ustadz Syaefudin, lulusan Darul Huffadz, Bone, Sulawesi Selatan.

Hanya saja, katanya, untuk para pengajarnya pun setidaknya yang pernah mondok di pondok pesantren yang menerapkan sistem yang sama.

“Alhamdulillah, ada beberapa yang memenuhi kualifikasi, tapi masih belum memadai,” kata Syaefudin yang mulai merintis sekolah ini sejak tahun 2008.
Karena keterbatasan guru itu, aku Syaefudin, dirinya pun masih harus mengajar beberapa mata pelajaran.

Meski begitu Syaefudin masih bersyukur, karena murid-muridnya tetap bisa belajar. Bahkan, beberapa perlombaan seperti musabaqah tilawatir al-Qur’an, membaca kitab, dan beberapa cabang olahraga berhasil diraih oleh santri-santrinya.

“Alhamdulillah, melalui perlombaan ini, Pesantren Hidayatullah Karimun cukup diperhitungkan di tingkat kabupaten,” aku Syaefudin. Kemampuan membaca kitab bertuliskan arab ini, kata Syaefudin, sebab sejak kelas 2 SMP para santri sudah harus berbahasa Arab di kelas.

Hanya saja, kondisi ini membuat beberapa santri tidak bisa bertahan. “Sebenarnya tidak hanya itu, alasan lainnya juga karena mereka tidak terbiasa dengan kedisiplinan yang ditanamkan. Aktivitas sejak jam 4 pagi hingga malam,” ujar Syaefudin. Tapi, kata pria ramah ini, begitulah sekolah yang berupaya menghasilkan kader dai.

Sekolah yang termasuk non formal ini, terang Syaefudin juga memberikan keterampilan kepada para santrinya, seperti merangkai bunga, komputer, beladiri, peternakan, dan juga perikanan.

“Agar nantinya mereka bisa menyesuaikan dengan kondisi daerah dakwah,” harap Syaefudin yang ingin mendidik kader dai yang mandiri dan siap berkarya.

Menurut Ustadz Jamaluddin Nur, Ketua Pimpinan Wilayah Hidayatullah Kepulauan Riau, Pondok Pesantren Hidayatullah Karimun ini merupakan pengembangan kedua di provinsi Kepri.

“Alhamdulillah, Pesantren Hidayatullah Karimun berkembang cukup baik. Masyarakat juga banyak mendukung,” papar Ustadz Jamal. Namun begitu, harap Ustadz Jamal, para pengurus harus terus memacu dengan menambah sumber daya manusia dan kemampuan para dai.

“Juga bagaimana pondok bisa mengelola sumber daya alam, sumber daya insani, dan sumber daya finansial,” ulasnya.

Bawah Pohon dan Mushola Jadi Tempat Belajar

Pondok Pesantren Hidayatullah Tanjung Balai Karimun berada di Kabupaten Karimun, Kepulauan Riau. Untuk menuju daerah ini, jika ditempuh dari Pelabuhan Sekupang Batam harus menggunakan kapal Ferry dengan harga tiket Rp 85 ribu.

“Kapal sudah ada sejak jam 6 pagi, dan terakhir sekitar pukul 5 sore,” ujar salah seorang pekerja kapal Ferry.

Menurut Ustadz Syaefudin, pesantren kini tengah berusaha melakukan penambahan fasilitas bangunan lokal belajar. Pasalnya, saat ini hanya tersedia lokal belajar sebanyak 7 kelas.

“Idealnya, untuk menampung seluruh murid, pesantren harus memiliki 10 lokal belajar. Walhasil, santri yang tidak kebagian kelas masih belajar di bawah pohon dan musholla pesantren,” terang Ustadz Syaefudin.

Ia berharap, ada kaum Muslimin dan Muslimat yang dapat membantu pengembangan pesantrennya.* (ybh/hio)

Hidayatullah Batam Tuan Rumah Dialog Deradikalisasi

0

Syabab Hidayatullah BatamHidayatullah.or.id – Lembaga Dakwah Mahasiswa Indonesia (LDMI) Cabang Batam bersama Forum Pemberdayaan Pesantren (FPP) Kepulauan Riau mengelar dialog deradikalisasi, dengan tema ‘Menjaga Kondusifitas Bermasyarakat dalam Konteks Kerukunan Umat Beragama’, Sabtu (30/1) lalu di Aula Pesantren Hidayatullah Batam.

Acara yang berlangsung secara intensif sehari ini turut didukung oleh Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Riau, Pengurus Wilayah (PW) Syabab Hidayatullah Kepulauan Riau dan Dewan Pengurus Daerah (DPD) Hidayatullah Batam.

Direktur LDMI, Andriansyah Sinaga, mengatakan, bahwa kegiatan tersebut dilaksanakan dalam rangka membangun diskusi bersama organisasi Islam.

“Diskusi deradikalisasi dalam rangka menyikapi aksi teror yang telah mencinderai rasa kenyaman dan kedamaian, dalam kehidupan beragama dan bermasyarakat di Indonesia,” katanya.

Radikalisme yang mengatasnamakan agama, kata Andriansyah, sudah jauh melenceng dari nilai-nilai agama terutama Islam.

Kata dia, Islam adalah rahmatan lil alamin yang selalu menebarkan kebaikan, sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad Shallallaahu Álaihi Wasallam.

“Islam tidak pernah menebar teror dan permusuhan,” katanya.

LDMI, kata dia, terus membangun kerjasama dan sinergitas dalam menciptakan wacana dan kerjasama dengan berbagai pihak untuk merintis jalan dakwah dalam rangka membangun kerukunan umat beragama yang lebih baik di Indonesia.

“LDMI mengucapkan terima kasih kepada Forum Pemberdayaan Pesantren (FPP) Kepulauan Riau dan Pesantren Hidayatullah atas kerjasama kegiatan ini” pungkas dia.* (ybh/hio)

Hidayatullah Nunukan Dukung Lapas Berbasis Pesantren

0

Lapas Nunukan Wujudkan Lapas Berbasis PesantrenHidayatullah.or.id – Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah bersama dengan Dewan Pengurus Daerah (DPD) Hidayatullah Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara (Kaltara), berkomitmen terus mendukung pengelolaan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Nunukan berbasis pesantren dalam rangka melakukan pembinaan ruhani penghuni.

Lembaga Pemasyarakatan Nunukan rutin mengadakan program pengajian bagi Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) setiap Hari Rabu dan umat setiap pekan. Program lapas berbasis pesantren ini digelar bekerja sama dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Nunukan.

Seperti yang terlihat pada Rabu (27/1/2016) lalu saat Ustadz Anam Azharie dari MUI Kabupaten Nunukan dan Ustadz Rahman Mansyur dari Pesantren Hidayatullah Cabang Nunukan menghadiri pengajian rutin di Lapas Nunukan.

“Kegiatan yang diikuti oleh WBP ini, selain berbentuk pengajian rutin, juga terdapat kegiatan-kegiatan lainnya yang merupakan salah satu rangkaian dari kesepakatan yang telah kami jalin dengan para pihak,” ujar Halif Shodiqulamin selaku Ketua Masjid Darut Taubah Lapas Nunukan.

Selain itu, tambah Halif, didalamnya juga ada pengajian Al-Quran, Iqra, serta kegiatan taklim usai Shalat Dzuhur dan Ashar.

“Kami juga sedang menyiapkan perpustakaan masjid untuk menambah bahan pembelajaran bagi WBP serta menyiapkan pembelajaran bagi WBP tentang cara belajar mengartikan ayat dan hadist,” ujarnya.

Ia berharap pelaksanaan kegiatan ini bisa konsisten dan berkelanjutan sehingga program pesantren lapas benar-benar terwujud di Lapas Nunukan.

Ustadz Rahman Mansyur yang juga pengasuh di Pesantren Hidayatullah Nunukan berharap program pembinaan yang dilakukan secara sinergis ini dapat terus dikuatkan.

“Alhamdulillah, Hidayatullah terus mengambil peran untuk turut serta membangun daerah ini. Selain dakwah, kita juga selalu menguatkan ketahanan umat dengan program pendidikan dan layanan sosial kepantiasuhan,” ujarnya. (hio/ybh)

Muspida Hadiri Pembukaan Musda Hidayatullah Paser

Musda Hidayatullah Paser Musda Hidayatullah Paser 6 Musda Hidayatullah Paser 5 Musda Hidayatullah Paser 4 Musda Hidayatullah Paser 2Hidayatullah.or.id – Dewan Pengurus Daerah (DPD) Hidayatullah Paser menggelar Musyawarah Daerah IV Hidayatullah Paser 2016 dan Pelantikan Pengurus Daerah Syabab Hidayatullah Kabupaten Paser.

Pembukaan acara yang digelar Senin (25/01/2016) ini dihadiri oleh sejumlah tokoh unsur Musyawarah Pimpinan Daerah (Muspida) diantaranya Penjabat Pj. Bupati Kabupaten Paser Ir. H. Ibrahim, M.P, Kapolres AKBP Christian Tory, Komandan Kodim 0904/TNG Paser Letkol Arm W. Rimoko Ardani, dan Wakil DPRD Paser Ust. H. Abdul Latif Thaha, S.Ag. Serta jajaran unsur Muspida lainnya.

Pembukaan Musda IV Hidayatullah dibuka oleh Pj. Bupati Paser Ir. H. Ibrahim, M.P sekaligus Peresmian MASTER PLAN Kampus Peradaban Hidayatullah Kuaro dan pelantikan Pengurus Daerah Syabab Hidayatullah Kabupaten Paser, serta peletakan batu pertama pembangunan SMA Lukmanul Hakim Ponpes Hidayatullah Kuaro. (Ahmad)

PD Pontren Anjangsana ke Pesantren Hidayatullah Jaktim

PD Pontren Anjangsana ke Pesantren Hidayatullah JaktimHidayatullah.or.id – Kepala Seksi Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kementerian Agama Kota Jakarta Timur (Jaktim), Drs H. Maksudi Alamsyah, melakukan anjangsana silaturrahim ke Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Jakarta Timur, beberapa waktu lalu (21/01/2016).

Pada kesempatan itu, Maksudi diterima dengan hangat oleh pengurus pesantren, Ustadz Mahmud Effendi, Lc.

Maksudi melihat langsung kegiatan para santri di pesantren ini. Ustadz Mahmud yang mendampingi langsung menyampaikan berterima kasih atas kunjungan ini.

Dalam kunjungannya ke pesantren ini Maksudi juga tampak antusias dengan kegiatan-kegiatan yang ada di Ponpes Hidayatullah Jakarta Timur yang konsentrasi dalam Tahfidz Qur’an dan Kajian Kitab Kuning.

Beliau berpesan dihadapan para santri agar supaya dengan adanya kegiatan tersebut para santri bisa menjadi penghafal-penghafal yang handal dalam menegakkan syiar Islam. (fkppdki/hio)

Rakernas 2016 Teguhkan Jati Diri Tarbiyah-Dakwah

Rakernas Hidayatullah Teguhkan Jati Diri Tarbiyah-Dakwah Rakernas Hidayatullah Teguhkan Jati Diri Tarbiyah-Dakwah2Hidayatullah.or.id – Organisasi massa (ormas) Islam, Hidayatullah, menggelar Rapat Kerja Nasional (Rakernas) di Balai Besar Latihan Masyarakat Kementerian PDT, Sleman, Yogyakarta, Jumat-Ahad, 12-14 Rabi’uts Tsani 1437 (22-24/01 / 2016).

Gelaran yang diikuti oleh semua pengurus DPP dan DPW Hidayatullah ini mengusung tema “Meneguhkan Jati Diri Menuju Sukses Tarbiyah dan Dakwah”.

Rakernas diawali dengan sambutan oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman, diwakili Kabag Kesra Setda, Drs Heri Sutopo. Secara resmi dibuka oleh Ketua DPP Hidayatullah, KH Nashirul Haq.

Dalam sambutannya, Heri Sutopo memperkenalkan Sleman, yang merupakan pusat pendidikan, budaya, perjuangan, dan pusat wisata.

Selain itu, Heri menyampaikan, umat Islam mempunyai tanggung jawab besar memakmurkan Indonesia, apalagi setelah belakangan ini mendapatkan banyak cobaan.

Heri menambahkan, yang ditunggu Indonesia adalah berita baik tentang agama ini, bahwa Islam itu rahmat bagi seluruh alam.

“Bukan sebaliknya (berita buruk. Red),” ujarnya.

Ia pun berharap agar Hidayatullah meneruskan semangat juangnya, dan mengembangkan amal usahanya, baik pendidikan, sosial dan dakwah.

“Karena tantangan umat Islam saat ini adalah kebodohan, kemiskinan, dan keterbelakangan,” imbuhnya.

Di samping itu, ia pun meminta agar Hidayatullah tetap menunjukkan jati diri kebangsaannya.

Sementara itu, Nashirul Haq menyambut baik dukungan Pemkab Sleman. Ia menegaskan, Hidayatullah akan terus meneguhkan diri dalam memainkan peranannya membangun bangsa ini sebagai organisasi Islam berbasis pondok pesantren dengan dakwah dan tarbiyah sebagai mainstream gerakannya.

Nashirul juga menegaskan, nasionalisme merupakan hal tak terpisahkan dari spirit gerakan Hidayatullah karena kehadirannya semata-mata untuk turut serta membangun bangsa tercinta sebagaimana cita-cita pendirinya. [BACA JUGA: Spirit Nasionalisme]

“Hidayatullah tidak hanya cinta Tanah Air, tapi terlebih cinta kepada Yang Memiliki tanah, air, dan udara,” ujarnya dalam pidatonya.

Nashirul Haq berharap agar Rakernas Hidayatullah 2016 menghasilkan hal-hal yang bermanfaat bagi umat Islam dan bangsa Indonesia. *Subliyanto

Wantim MUI: Gafatar Bentuk Kritik Terhadap Ormas Islam

ILUSTRASI: Masyarakat melakukan aksi damai menolak aliran menyimpang Gafatar / Google
ILUSTRASI: Masyarakat melakukan aksi damai menolak aliran menyimpang Gafatar / NET

Hidayatullah.or.id – Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (Wantim MUI) melalui ketuanya, Prof Dr Din Syamsuddin, mengatakan kesuksesan Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) merekrut banyak anggota masyarakat, menjadi otokritik bagi organisasi kemasyarakatan Islam.

“Ini menjadi otokritik supaya dakwah ormas Islam bisa mengefektifkan dakwahnya. Kenapa Gafatar bisa menarik massa, tapi ormas tidak,” kata Din di Kantor MUI, Jakarta, dikutip ROL, Rabu (20/1).

Menurut mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah ini, Gafatar yang kini menjadi polemik sejatinya mengalami kesuksesan dalam mengajak masyarakat turut serta dengan program-program sosial kemasyarakatannya. Banyak kalangan yang tertarik untuk bergabung dengan organisasi ini, baik dari orang awam sampai kaum terpelajar.

Wakil Ketua (Wantim MUI) Didin Hafidhuddin mengiyakan pernyataan Din Syamsuddin soal otokritik ormas Islam terkait kelihaian Gafatar merekrut anggota.

Ormas Islam, kata mantan Ketua Umum Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) ini, kini harus berpacu dengan waktu untuk berperan di tengah masyarakat. Bagi mereka yang sudah bergabung dengan Gafatar agar diajak kembali.

“Inilah tugas dari lembaga-lembaga dakwah ormas Islam untuk menarik mereka kembali. Ormas juga agar aktif melihatnya jika terdapat orang yang masuk (Gafatar) sementara mereka tidak tahu soal Gafatar,” kata dia.

Soal pengusiran dan intimidasi warga terhadap anggota Gafatar di sejumlah daerah, Didin mengatakan hal itu seharusnya tidak perlu dilakukan. Dia juga mendorong ditempuhnya cara-cara damai dan santun untuk menyelesaikan persoalan Gafatar.

“Janganlah aspek-aspek represif dilakukan,” kata dia. (rep/hio)

Mewujudkan Indonesia Adil dan Beradab dengan Adab

0

Mewujudkan Indonesia Adil dan BeradabHidayatulla.or.id – Memperhatikan dinamika kebangsaan yang kian jauh dari nilai-nilai keadilan dan adab, Dewan Pengurus Daerah (DPD) Hidayatullah Bali bekerjasama dengan Laznas BMH mengundang cendekiawan Muslim Adian Husaini untuk bedah buku beliau “Mewujudkan Indonesia Adil dan Beradab”.

Acara itu digelar sekaligus sebagai rangkaian Musyawarah Daerah yang dilaksanakan di Pesantren Hidayatullah yang beralamat di Jalan Raya Pemogang Gang Taman No. 20X, Denpasar Selatan, Kota Denpasar, Bali, Ahad (17/01/2016) lalu.

Dalam pemaparannya Dr. Adian Husaini mengaku mencoba menakar akar pemasalahan yang terjadi dalam pergolakan Islamisasi di Indonesia.

“Indonesia yang adil dan beradab merupakan cita-cita bersama seluruh komponen bangsa Indonesia dengan segala dinamikanya harus selalu kita kawal untuk kita wujudkan,” ujar Adian.

“Cita-cita besar founding father itulah yang coba dituangkan dalam bentuk nyata,” imbuhnya.

Direktur Program Pendidikan Pascasarjana Universitas Ibn Khaldun itu mengungkapkan, gagasan para pendiri bangsa Indonesia adalah mencitakan terwujudnya sebuah negara yang adil dan makmur dalam naungan ridha Ilahi (baldatun thayyibatun wa-rabbun ghafur). Itulah negara yang ideal yang diidam-idamkan sampai saat ini.

Oleh karena itu, menurutnya, bangsa Indonesia mesti kembali menghidupkan adab dalam kehidupan.

“Akar permasalahan umat Islam adalah “loss of adab” (hilang adab),” tegasnya.

Adian menegaskan, Ada dua gagasan besar yang coba dikemukakan secara konkret dalam kehidupan sehari-hari yang pada akhirnya melahirkan insan-insan yang mampu menempatkan dirinya sebagai Muslim yang baik, juga sebagai warga Indonesia yang baik.

Pertama, kata dia, aplikasi adab dalam kenegaraan. Seorang muslim, jelasnya, harus tetap meletakkan loyalitas tertingginya kepada Tuhan Yang Maha Esa, yaitu Allah SWT. Karena menempatkan loyalitas terhadap makhluk lebih tinggi daripada kepada Al-Khaliq merupakan perbuatan yang tidak beradab.

Kedua, adalah aplikasi adab dalam pendidikan. Dia menjelaskan, Dewasa ini salah satu masalah terbesar umat Islam adalah masalah eksternal, yakni berupa serbuan pemikiran-pemikiran yang merusak.

Padahal, lanjutnya mengutip cendikiawan muslim kontemporer Prof. Al-Attas, ada masalah internal yang lebih mendasar. Akar masalah tersebut yang banyak tidak disadari oleh umat Islam yakni loss of adab.

Menurut Prof al-Attas, loss of adab umat Islam yakni hilangnya disiplin, mulai disiplin badan, pemikiran, dan jiwa. Seorang yang beradab menurut Al-Attas, adalah orang yang memahami dan mengakui posisinya yang tepat dengan dirinya sendiri, masyarakat dan sekelilingnya.

Dan juga memahami potensi-potensi fisik, intelektual, dan spritualnya. Olehnya itu, krisis saat ini terapinya harus dengan ta’dib (pendidikan), karena pendidikan dalam Islam adalah proses penanaman adab dalam diri seorang Muslim, pungkas Adian.*/Yusron

Hidayatullah untuk Nusantara

0
Dokumentasi Pembukaan MUnas IV Hidayatullah
ILUSTRASI: Wakil Presiden Republik Indonesia H Jusuf Kalla membuka acara Musyawarah Nasional IV Hidayatullah, 7 November lalu di Balikpapan / DOKUMENTASI SEKRATARIAT WAPRES

Oleh Dr Abdurrahim*

MUSYAWARAH Nasional (Munas) IV Hidayatullah baru saja berlalu. Hiruk-pikuk, kemeriahan, juga atmosfir kesyahduan yang melingkupinya menyisakan memori dan kesan yang mendalam bagi para santri dan kader-kader ormas Islam Hidayatullah.

Atmosfir kesyahduan kian terasa karena seluruh penyelenggaraan acara musyawarah nasional tersebut dilaksanakan di masjid, sehingga suasana batin para peserta munas adalah suasana ibadah. Jauh dari hiruk-pikuk negatif seperti sikut menyikut diantara masing-masing kubu yang memiliki tendensi dan kepentingan tertentu terhadap kekuasaan, sebagaimana yang sering terjadi pada penyelenggaraan musyawarah nasional institusi tertentu lainnya.

Kesan mendalam juga dapat dirasakan oleh peserta Munas yang berdatangan dari seluruh penjuru Nusantara karena pelaksanaan munas dilakukan di pusat sejarah Hidayatullah; Gunung Tembak Balikpapan.

Gunung Tembak menjadi nama yang melegenda di sanubari para kader Hidayatullah seperti yang pernah dipidatokan oleh Allahuyarham Abdullah Said ketika itu, bahwa dari Gunung Tembak ini akan ditembakkan kader-kader Islam yang digembleng di Hidayatullah ke seluruh penjuru Nusantara.

Kehadiran para kader Hidayatullah ke Gunung Tembak, menjadi oase yang menyejukkan di tengah lelah dan penat para kader berjibaku dalam baktinya untuk nusantara menjadi pendidik dan mendakwahkan Islam ke seluruh penjuru, pelosok, dan daerah terluar Republik Indonesia.

Sehingga, wajar adanya, munas kali ini tidak sekedar ajang suksesi kepemimpinan baru di ormas Hidayatullah, tapi menjadi media temu-kangen, mengeratkan ikatan silaturrahim antar kader.

Dan, yang tidak kalah penting ada recharging spirit perjuangan Islam melalui taushiyah-taushiyah menyentuh dari Pimpinan Umum Hidayatullah, serta salat tahajjud bersama yang dipimpin langsung oleh beliau.

Poin penting pertama dari munas Hidayatullah kali ini adalah suksesi kepemimpinan Hidayatullah. Suksesi kepemimpinan adalah pada level manapun, apalagi dalam dunia politik adalah persoalan yang krusial, di mana terkadang menimbulkan konflik berlarut-larut yang tak berujung, dan tak kunjung usai. Bahkan ditengah konflik itu terkadang menimbulkan pertumpahan darah dan bencana kemanusiaan, sebagaimana konflik politik atas suksesi kepemimpinan di Timur Tengah saat ini.

Oleh karena itu, proses suksesi kepemimpinan pada level manapun juga dapat menimbulkan kerawanan sosial, dan potensi-potensi konflik laten lainnya. Ketika menengok ke dalam sejarah Islam pun kita dapat menemukan bahwa tidak sedikit terjadi konflik dan pertumpahan darah sesama kaum muslimin yang disebabkan oleh suksesi kepemimpinan.

Munas Hidayatullah kali ini mengalami sukses besar karena proses suksesi kepemimpinan berjalan mulus tanpa ada hambatan dan riak-riak politis tertentu.

Hal tersebut terjadi karena Hidayatullah sedari awal didirikan dalam format pesantren dan organisasi sosial menisbatkan diri sebagai organisasi keumatan milik umat dan bukan miliki pribadi dan keluarga tertentu.

Ketika memproklamirkan diri sebagai ormas pun demikian, sehingga Hidayatullah adalah representasi dari umat, dan orang-orang di dalamnya menyatu bersama umat untuk membangun kembali peradaban Islam sebagai visi besar Hidayatullah. Euphoria suksesi yang dibangun pun adalah upaya mencontoh sistem kepemimpinan Islam, yaitu dengan prinsip syura’.

Karena itu dalam munas Hidayatullah kali ini menjadikan sesepuh Hidayatullah sebagai Ahlul Halli Wal Aqdi (AHWA) untuk memilih pucuk pimpinan pengurus pusat Hidayatullah. Dari proses suksesi ini, sebuah proses langkah maju dan upaya untuk memegang teguh prinsip sistem kepemimpinan Islam telah dilakukan.

Poin penting kedua dari penyelenggaraan munas kali ini adalah kaderisasi, dalam artian Hidayatullah sebagai organisasi massa Islam berbasis kader telah menunjukkan eksistensinya sebagai organisasi yang menitik beratkan pada upaya mencetak kader-kader dakwah Islam yang tangguh untuk ditempatkan di medan-medan dakwah Islamiah di seluruh Indonesia.

Hal tersebut terlihat dari peserta munas yang hadir, di mana rata-rata mereka adalah para kader Hidayatullah yang telah melalui proses penggemblengan di pusat-pusat perkaderan Hidayatullah di Balikpapan, Surabaya, Jakarta, dan Batam. Sekalipun demikian, ada pula yang melalui proses perkaderan secara informal pada cabang-cabang Hidayatullah yang ada.

Dari proses ini, terlihat bahwa Hidayatullah sebagai ormas menjadikan perkaderan sebagai basis pengembangan dan ekspansi secara kelembagaan.

Salah satu ciri khas dari kader Muslim di Hidayatullah adalah memiliki militansi yang tinggi untuk mendakwahkan Islam dan tidak terpengaruh oleh situasi dan keadaan ekstrim tertentu di daerah, karena memiliki keyakinan Ilahiah yang sangat tinggi dalam berdakwah.

Keyakinan tersebut bertumbuh dan semakin kuat, karena kencangnya mujahadah dan ibadah para santri sehingga menumbuhkan spiritualitas pada diri pribadi para santri, atau yang sering disebut dengan “spirit al-Muzammil”. Yakni proses internalisasi spiritual ke dalam diri para santri melalui ibadah yang tekun seperti salat berjamaah, salat tahajjud, baca quran, dzikrullah, dan lain-lain.

Proses kaderisasi di Hidayatullah juga tidak dapat dilepaskan dari peran besar basis ideologi yang mendasarinya, yakni pembacaan secara ideologis terhadap al-Quran dengan pendekatan metode “sistematika wahyu”.

Kekuatan kaderisasi yang didukung oleh infrastruktur lingkungan dan suprastruktur ideologis yang memadai, membuat Hidayatullah mengalami akselerasi dan peningkatan yang cepat secara organisatoris.

Sebagaimana ditegaskan oleh Wapres Jusuf Kalla dalam pembukaan Munas IV Hidayatullah (7/11/2015), bahwa Hidayatullah satu-satunya organisasi massa Islam lokal kedaerahan yang bergerak dari pinggir, dan mengalami lompatan kemajuan yang paling cepat secara organisatoris, ketimbang organisasi-organisasi massa lokal kedaerahan lainnya.

Terbukti dengan menyebarnya ormas Hidayatullah ke seluruh penjuru Nusantara dengan membawa semangat dakwah yang Rahmatan Lil Aalamin, sehingga mudah diterima oleh masyarakat dan turut menjadi perekat keutuhan berbangsa dan bernegara.

Point penting lainnya adalah proses regenerasi. Dari Munas yang telah dilangsungkan, Ahlul Halli Wal Aqdi Hidayatullah bersepakat untuk memilih dan mengangkat salah satu kader tulen Hidayatullah, Ustadz Nashirul Haq.

Beliau adalah jebolan pengkaderan di Gunung Tembak, Balikpapan, dan berkuliah di kota Nabi (Jamiah Islamiyah Madinah). Beliau kemudian meningkatkan kapasitas intelektual dan keulamaannya dengan menempuh jenjang Magsiter di Universitas Kebangsaan Malaysia dan kini beliau sedang dalam proses menyelesaikan program doktoralnya di Internasional Islamic University Malaysia (IIUM).

Dari proses ini terjadi proses alih generasi atau regenerasi yang sukses untuk mendukung suksesi kepemimpinan Hidayatullah. Selain itu juga terlihat proses yang dinamis dan alamiah dalam proses regenerasi tersebut.

Era baru kepemimpinan Hidayatullah yang dipimpin oleh kader muda dengan kualitas yang mumpuni menandakan proses regenerasi telah berjalan dengan baik dan sesuai dengan harapan para sesepuh dan pendiri Hidayatullah.

Proses regenerasi yang terlihat dalam munas kali ini diharapkan tidak hanya terjadi top level kepemimpinan hidayatullah, akan tetapi pasca munas, pada kegiatan keorganisasian dan keormasan seperti musyawarah wilayah, musyawarah daerah.

Juga memperlihatkan alih generasi dan pengalihan tongkat estafeta kepemimpinan Hidayatullah kepada kader-kader muda Hidayatullah, yang tentunya menjadi motor perubahan ormas Hidayatullah ke arah yang lebih baik dan spektakuler.Karena melalui para pemuda Hidayatullah yang memiliki semangat, progresivitas, dan idealisme, masa depan Hidayatullah dipertaruhkan.

Bayangan dan visi kebangkitan Islam dan terbangunnya peradaban Islam yang salah satunya akan dimotori oleh Hidayatullah pada masa-masa mendatang, semakin jelas dan terang benderang, setelah melihat kader-kader Hidayatullah yang telah bertebaran di negara-negara seperti Arab Saudi, Sudan, Mesir, dan Turki untuk menuntut ilmu-ilmu Syar’i.

Sehingga visi besar ormas Hidayatullah pada tahun 2020 nanti, yaitu Berjamaah, Bersyariah, Maju, Sejahtera dan Bermartabat akan tercapai dengan mudah, berkat hidayah dan quwwah ilahiah yang dianugerahkan Allah SWT kepada kita semua, Amiin Ya Mujibassaailii. Wallahu A’lam Bishawwwab.*

________
*) DR ABDURRAHIM, penulis adalah Ketua STIS Hidayatullah. Pria peminat tema sosial dan sejarah ini merupakan salah satu alumni Madrasah Aliyah Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan.