Beranda blog Halaman 607

Hidayatullah Diharap Lahirkan Ulama Warasatul Anbiya

0

kegiatan-belajar-di-masjid-hidayatullah-depokHidayatullah.or.id — Organisasi Masyarakat (Ormas) Islam Hidayatullah akan menggelar acara Musyawarah Nasional (Munas) Ke-IV di Pondok Pesantren (Ponpes) Hidayatullah, Balikpapan, Kalimantan Timur. Acara Munas insyaAllah akan digelar mulai tanggal 7 sampai 11 November 2015.

Munas itu merupakan rutinitas kelembagaan sama dengan Ormas lainnya, seperti menyusun program AD/ART atau memilih kepemimpinan baru. Namun, siapapun pemimpin yang akan terpilih dalam Munas, diharapkan mempunyai visi mengenai konsolidasi pemikiran.

Demikian disampaikan Cendekiawan Muda Muslim Indonesia, Dr. Adian Husaini kepada hidayatulllah.com, usai diskusi dan bedah buku “LGBT Di Indonesia, Pengaruh dan Solusinya, di Kantor INSIST, Jakarta Selatan, belum lama ini.

Menurut Adian, Hidayatullah selama ini telah menunjukkan dirinya sebagai pelopor dalam perjuangan Islam di Indonesia yang spektakuler. Dalam waktu singkat, Hidayatullah ternyata mampu menunjukkan dirinya menjadi ormas Islam yang professional dan militan dalam dakwah sehingga cepat mengalami perkembangan.

Adian menegaskan bahwa sebagai organisasi yang cepat berkembang, Hidayatullah sekarang ini sedang memasuki tahapan baru, mendapatkan tantangan yang cukup berat dan kompleks, terutama berkaitan dengan konsolidasi pemikiran.

“Itu bukan hanya Hidayatullah, tetapi setiap orgaisasi yang berkembang menjadi sebuah organisasi besar maka yang paling berat adalah melakukan konsolodasi pemikiran,” kata Adian Husaini kepada wartawan Hidayatullah.com, Ibnu Sumari.

Jadi, menurut Adian, pada taraf-taraf seperti ini Hidayatullah harus mulai serius untuk menggarap bidang konsolidasi pemikiran dengan membentuk kepemimpinan ilmu, bukan hanya kepemimpinan struktural. Langkah konkritnya adalah Hidayatullah harus mampu melahirkan ulama-ulama yang minimal berlevel nasional.

Adian menambahkan ormas Islam akan selamat ke depan kalau berhasil melakukan konsolidasi dan peningkatan kualitas pemikiran terutama berhasil melahirkan pemimpin-pemimpin berkualifikasi ulama warasatul anbiya. Bukan hanya aktifis organisasi tetapi juga punya kualitas keilmuan yang tinggi, akhlaq yang mulai, jiwa yang teguh dan layak untuk mewarisi estafet kepemimpinan kenabian.

“Jangan terjebak kepada aktifisme dan rutinisme terus menerus. Harus ada segolongan intelektual di Hidayatullah yang memang difokuskan untuk naik tingkat ke derajat keulamaan yang tinggi. Itu ada caranya tersendiri,” jelas Adian.

Karena itu, Adian berharap Hidayatullah di masa mendatang bisa berhasil melakukan konsolidasi pemikiran tersebut. Sebab, kalau tidak melakukan konsolidasi pemikiran, dan mendatang Hidayatullah berkembang semakin besar dan besar, maka konsolidasi akan sulit dilakukan. Apalagi jika sudah muncul bermacam-macam pemikiran yang bisa menyebabkan kekroposan.

“Nah, mumpung Hidayatullah ini masih solid, ruhnya masih terjaga, masih ada kesempatan besar bagi Hidayatulah untuk mengawal perkembangan Islam yang sekarang sedang berlangsung,” pungkas Adian.*

Kapolda Kaltim Dorong Santri Hidayatullah Menjadi Polisi

Santri Hidayatullah Didorong Jadi PolisiHidayatullah.or.id — Kapolda Kalimantan Timur Irjen Safaruddin mendorong agar santri Hidayatullah ada juga yang menjadi polisi. Dengan menjadi polisi, mereka tidak saja melakukan amar makruf tetapi juga sekaligus melakukan nahi munkar (mencegah perilaku keburukan).

Hal itu disampaikan Kapolda Kaltim  saat memperkenalkan diri dan memberikan arahan kepada santri dan jamaah Pondok Pesantren Hidayatullah di Masjid Ar Riyadh Gunung Tembak, Balikpapan, Kaltim, lepas Maghrib, Ahad (27/09/2015) .

Beliau mengaku baru dua pekan bertugas di Polda Kaltim dan rencana silaturrahmi ke Pesantren Hidayatullah Balikpapan Jumat depan tapi takdir Allah, shalat Maghrib bisa di masjid Pesantren Hidayatullah.

“Sungguh di luar rencana, mungkin ini jodohnya,” selorohnya disambut tawa jamaah yang meriung di depan mimbar tempat Kapolda berdiri.

Kapolda Kaltim yang baru menjabat ini adalah putra kelahiran Sengkang, Wajo, Sulawesi Selatan. Ia ternyata satu kampung dengan pembina pesantrenm, Ustadz Nashirul Haq, yang turut memberikan kata pengantar sebelum Kapolda naik mimbar.

“Beliau tidak menyangka di Kaltim ini banyak orang Sulawesi selatan. Beliau mohon doa restu, semoga Allah memberikan kemudahan dalam tugas. Kebiasaan beliau memang silaturrahmi terutama ke pesantren pesantren. Karena beliau yakin doanya santri dan ustadz ustadz itu makbul,” kata Ustadz Nashirul dalam pengantarnya.

Safaruddin menjadi polisi sejak 1984 dan pernah mutasi ke berbagai daerah. Terakhir sebelum diangkat menjadi Kapolda Kalimantan Timur adalah di Mabes Polri.

“Sedikit saja, saya memperkenalkan diri. Biar tidak bosan dan insya Allah saya akan sering silaturrahmi ke Pesantren Hidayatullah ini,” kata beliau.

Pada kesempatan tersebut Kapolda berkeinginan untuk tes seleksi beberapa santri kelas tiga Aliyah Hidayatullah Balikpapan yang berminat dan memenuhi persyaratan untuk bisa diterima jadi anggota polisi.

Menurut beliau revolusi mental yang dicanangkan oleh Presiden Joko Widodo akan mudah terealisasikan kalau polisi banyak dari santri. Beliau yakin jika santri banyak mau menjadi polisi, insya Allah polisi ke depan akan menjadi lebih baik.

“Polisi itu mulia tugasnya. Dari bangun tidur sudah harus siap di jalan jalan agar orang bekerja, anak berangkat sekolah sampai tujuan dengan selamat. Sore juga demikian, hingga saat malam hari, masyarakat tidur, polisi tetap harus siap untuk menjaganya,” katanya.

“Polisi bisa masuk surga duluan dari ustadz. Kalau ustadz kan hanya mengajak dan mengajari orang berbuat baik. Polisi bukan hanya menghimbau, menangkap, menangani kejahatan. Artinya bukan hanya amar makruf tapi juga nahi munkar. Tentu polisi yang baik. Kalau tidak polisi tidak baik, bisa masuk neraka duluan,” seloroh beliau diiringi senyum para jamaah.

Oleh sebab itu Kapolda sangat berharap selalu ada sinergi dengan pesantren untuk turut membantu tugas polisi. Kata Kapolda, polisi tidak akan menjadi bagus kalau tidak ada koreksi atau aduan dari masyarakat. Bahkan beliau membagikan nomor ponsel seluler pribadinya kepada siapa saja untuk menerima aduan masyarakat.

Beliau mengaku, Insya Allah akan dijawab langsung oleh Kapolda mengenai aduan yang masuk ke telepon selulernya tersebut. Soal ini Kapolda Safaruddin punya cerita unik. Baru dua pekan tugas di Kaltim, ia sudah ditelepon seseorang yang ingin mengadu.

“Ini pak Kapolda?”
” Iya, kenapa pak?”
” Mau tanya saja, apakah di rumah bapak Kapolda mati listrik?”
” Tidak, memang di rumah bapak mati lampu?”
” Iya, tadi sudah telpon PLN tidak diangkat angkat, maka saya telpon pak Kapolda saja”.

Lalu pada kali waktu lainnya, Kapolda juga pernah menerima pesan singkat juga ke nomor telepon selulernya tersebut. “Ibu ibu, sms suaminya hilang,” kisahnya disambut tawa jamaah.

Dia memungkasi dengan menekankan bahwa tugas polisi sangat dinamis karena berbasis dari masyarakat. Karena itu, tegas dia, polisi harus dekat dengan masyarakat. “Sehingga tugas polisi itu asyik dan banyak pahalanya kalau kita tulus melayani,” pungkasnya. (Paryadi Abdul Ghofar)

Ayo Dukung Gempar Munas IV Hidayatulah

Logo Munas IV Hidayatullah
Logo Munas IV Hidayatullah

Hidayatullah.or.id — Menyongsong helatan akbar Musyawarah Nasional (Munas) IV Hidayatullah, insya Allah digelar pada awal November mendatang, bergulir sebuah kampanye bertajuk Gempar Munas IV Hidayatullah. Munas Gempar?

Jangan kaget dulu. Dari namanya, barangkali di benak terkesan seperti sebuah gerakan “sabotase”. Tapi tentu tidak. Gempar Munas IV (ditulis kapital) adalah akronim dari Gerakan Massa untuk Partisipasi Munas IV Hidayatullah.

Koordinator gerakan ini, Asih Subagyo, mengatakan GEMPAR MUNAS adalah merupakan ajakan bagi kader, anggota, simpatisan, dan masyarakat luas untuk berpartisipasi dalam rangka turut mensukseskan Munas IV Hidayatullah yang dijadwalkan dilaksanakan pada 7-10 Nopember 2015 di Komplek Kampus Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, Kaltim.

“Bentuk partisipasi yang diharapkan berupa dukungan terhadap kegiatan-kegiatan di seputar Munas, maupun dukungan berupa sumbangan dana, yang jumlahnya tidak mengikat,” kata Asih Subagyo dalam obrolan dengan media ini beberapa waktu lalu.

Asih menyebutkan, Munas IV Hidayatullah sendiri akan dihadiri utusan dari sekitar 300 Pengurus PD dari kabupaten/kota yang tersebar di 34 provinsi di Indonesia.

Para musyawirin adalah dai-dai Hidayatullah, yang telah mengabdi ke masyarakat baik yang berada di perkotaan maupun di pedalaman, daerah minoritas dan perbatasan negara.

Dia menambahkan, dalam Munas kali ini, akan lebih ditekankan pada revitalisasi gerakan dan regenerasi pengurus, serta penguatan program untuk 5 tahun ke depan. Dengan mainstream gerakan yakni tarbiyah, dakwah dan pengembangan kemandirian ekonomi.

“Sehingga ke depan kiprah Hidayatullah semakin dirasakan kehadirannya di tengah-tengah ummat. Sehingga hadirnya gerakan ini, merupakan dukungan langsung bagi panitia Munas, demi suksesnya Munas IV Hidayatullah,” harap Asih yang juga Ketua Departemen Keuangan PP Hidayatullah ini.

GEMPAR MUNAS bergerak melalui kanal-kanal social media serta memanfaatkan jaringan nir-luring (offfline) untuk mengkampanyekan ajakan ini. Di Twitter, gerakan ini bisa diikuti di @gemparmunas4.

Bagi siapa saja yang ingin turut serta mendukung gerakan ini, dapat berdonasi melalui saluran rekening Bank Syariah Mandiri No. 7.555.333.007 atas nama Munas Hidayatullah. Asih Subagyo menyampaikan Munas ini adalah ajang kita bersama demi tersebarnya dakwah di seluruh bumi nusantara.

“Maka partisipasi dari para kader dan umat, sangat kami harapkan. Dana yang terkumpul akan dimanfaatkan untuk memberikan dukungan para dai, baik sebelum, selama dan pasca Munas untuk mensupport program dakwahnya,” pungkas Asih.

Eratkan Ukhuwah
Hajatan silaturrahim akbar seperti Musyawarah Nasional sejatinya acara yang setiap tahun dilaksanakan. Hanya saja dulu namanya usrah. Tujuan utamanya adalah menjalin kebersamaan. Hal ini sebagaimana diakui oleh salah seorang pendiri Hidayatullah yang masih hidup, Ustadz Hasan Ibrahim.

Ustadz Hasan mengatakan, usrah diselenggarakan untuk menghimpun kembali tenaga-tenaga dai Hidayatullah yang sudah tersebar ke berbagai tempat.

Mereka kemudian mendapatkan injeksi spirit yang disampaikan langsung oleh Abdullah Said, penggagas sekaligus perintis Hidayatullah. Usrah kali pertama digelar di Kampus Hidayatullah Karang Bugis pada tahun 1973 yang selalu acaranya berpusat di masjid.

“Jadi kita ingin suasana masjid itu penuh terus. Pusat acara memang di masjid, jadi acara diikuti semua,” kata Hasan Ibrahim seraya mengenang selama beberapa hari acara tidak ada peserta yang jamak shalat karena khawatir tak mengikuti acara secara penuh.

Bagi Hidayatullah, jelas Ustadz Hasan, tradisi silaturrahim dan musyawarah harus terus dilanggengkan. Dengan begitu, kekuatan dan potensi yang berserak akan bisa dipadukan menjadi sebuah kebaikan dalam rangka membangun umat dan peradaban mulia. 

KONFIRMASI DAN INFORMASI LEBIH LANJUT, HUBUNGI:

Sekretariat Balikpapan Kota
Jl. MT. Haryono Ruko BDI Blok III No. 17 Balikpapan

Sekretariat Kampus Hidayatullah Gunung Tembak
Jl. Mulawarman Rt. 25 Kel. Teritip Balikpapan, Kaltim
Email: [email protected].
Contact Person: Arif Sufia 0821-1711-6671, Risalman 0852-4652-3422, Asih Subagyo 0856-7386-008

 

Pembangunan Asrama Santri Hidayatullah Lingga Dikebut

0

hidayatullah linggaHidayatullah.or.id — Pembangunan asrama santri Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Lingga, Provinsi Kepulauan Riau, terus dikebut pengerjaannya seraya menunggu cairnya anggaran bantuan pembangunan dari pemerintah.

Pembangunan asrama merupakan bantuan dari Kementerian Agama Provinsi Kepulauan Riau. Adapun besar anggaran untuk pembangunan sebesar Rp.200.000.000,- (Dua Ratus Juta Rupiah).

Ketua Ponpes Hidayatullah Lingga, Ustadz Awalin menyampaikan bahwa proses pembangunan sampai saat ini terus berjalan.

“Alhamdulillah kita sudah naik bata merah sampai ke atas, tinggal ngecor slop atas saja,” terang Awalin ketika dihubungi via pesan singkat, Senin (21/09/2015).

“Kita mulai awal bulan september 2015 kemarin dan harapan kita dalam waktu 3 (tiga) bulan kedepan asrama sudah bisa kita pakai,” katanya lagi.

Terkait dengan pendanaan, lanjut dia, memang sampai saat ini kami masih menggunakan dana sendiri.
Dia menagatakan pihaknya sudah berkomunikasi dengan pihak Kantor Wilayah Kemenag dan Kemenag mengaku dana bantuan diusahakan secepat mungkin akan cair. Maklum dana kita juga terbatas.

“Mohon doanya agar proses pembangunan dapat berlangsung dengan lancar dan cepat. Semoga dapat cepat ditempati oleh santri kita. Kita sangat berterimakasih kepada semua pihak yang telah membantu terutama Kementerian Agama,” tutup Awalin. (ybh/hio)

Pesantren Kilat dan Training Kepemimpinan Anak Bangsa

0

antarafoto-Pesantren-Kilat-Lintas-Agama-190915-Ds-1Hidayatullah.or.id — Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya Jawa Timur dipilih menjadi tuan rumah penyelenggaraan kegiatan pesantren kilat dan pelatihan kepemimpinan anak bangsa tingkat SD yang diselenggarakan bekerjasama dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dispendik) Kota Surabaya, Sabtu.

Saling menghargai dan menghormati antar umat beragama merupakan sebuah upaya untuk mempererat persatuan dan kesatuan bangsa.

Hal tersebut dirasa perlu ditanamkan sejak dini kepada para pelajar agar mereka mengetahui sejak awal akan pentingnya kebhinekatunggalikaan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Bertempat di Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Kejawan Putih Tambak, Surabaya, Jawa Timur, Forum Guru Agama Kota Surabaya mengadakan pesantren kilat (peskil) dan latihan kempimpinan anak bangsa tingkat SD.

Acara ini diikuti sedikitnya 300 peserta yang berasal dari berbagai siswa sekolah SD di Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (19/09) lalu.

Ketua KKG PAI Surabaya Drs. H. Sugiyanto mengemukakan latihan kempimpinan anak bangsa ini bertujuan selain memupuk rasa persaudaraan antar pelajar juga sebagai bentuk pembentukan karakter agar mereka nanti dapat saling menghargai dan menghormati dengan pemeluk agama lainnya.

Ketua KKG Agama Kristen Yermas Yohannes Takdare kilatpesantren hidayatullah surabayamenyampaikan kegiatan yang melibatkan siswa antar lintas agama harus terus digalakkan.

Menurut Yermes Yohannes, kegiatan positif tersebut merupakan sebuah pondasi fundamentalis agar kedepannya para siswa dapat menyatukan sebuah keragaman dalam sebuah wadah untuk mencapai tujuan bersama yakni mampu memajukan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Kota (Dispendik) Surabaya Dr. Ikshan, S. Psi, MM yang membuka kegiatan pesantren kilat tersebut menyampaikan kegiatan pesantren kilat dengan melibatkan peserta dari para siswa lintas agama merupakan sebuah upaya dalam menyiapkan para calon pemimpin masa depan sekaligus menyiapkan para generasi emas Indonesia berakhlak mulia.

Ikhsan berpesan dalam meraih sebuah cita-cita dan kesuksesan ada tiga hal penting yang tidak boleh diabaikan. Ketiga hal tersebut diantaranya, patuh kepada orang tua, menghormati para guru dan menjaga persaudaraan dengan teman sebaya.

“Manfaatkan kegiatan ini untuk saling mengenal satu sama lainnya, hubungan baik yang telah terbina dapat menjadi sebuah modal untuk mencapai kesuksesan,” pesan Ikshan.

Mantan Kepala Bapemas dan KB tersebut berharap agar pelaksanaan pawai peringatan 1 Muharram nanti para siswa lintas agama juga dapat berpartisipasi mengikuti pawai. Dengan demikian nantinya akan terlihat indahnya sebuah kebersamaan. (ybh/hio)

Berkiprah Membangun Bangsa, Hidayatullah Surabaya Raih Award “Honorable Mention”

logo-ikafe-award 2015Hidayatullah.or.id — Salah seorang pendiri dan perintis Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya, Ustadz Abdul Rahman, SE, menerima award atau penghargaan dalam kategori “Honorable Mention” dalam acara Dies Natalis Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga (FEB Unair) ke-54, belum lama ini.

Awards ini merupakan acara dari, oleh, dan untuk Alumni FEB Unair dan menjadi media apresiasi atas prestasi dan dedikasi Alumni FEB Universitas Airlangga yang telah berkiprah di berbagai bidang. Mereka turut membangun bangsa, berkontribusi bagi kemajuan masyarakat, negara, dan almamater.

Tidak seperti pada perayaan di tahun-tahun sebelumnya, acara Dies Natalis Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga tahun ini juga diramaikan dengan pemilihan Pemangku Alumni Award yang diadakan oleh Ikatan Alumni Fakultas Ekonomi dan Bisnis (IKAFE) Unair.

Pengumuman Alumni Award dilaksanakan pada Gala Dinner yang dihadiri oleh kurang lebih 1000 alumni dari berbagai angkatan, mulai tahun 1963 sampai dengan 2015 (52 angkatan). Mulai jurusan Ekonomi, Akuntansi, Manajemen, Studi Pembangunan, Perpajakan, dan Ekonomi Syariah.

“Alumni Awards ini merupakan acara dari, oleh, dan untuk Alumni FEB Unair dan menjadi media apresiasi atas prestasi dan dedikasi Alumni FEB Universitas Airlangga yang telah berkiprah di berbagai bidang, turut membangun bangsa, berkontribusi bagi kemajuan masyarakat, negara, dan almamater,” ujar Ketua Panitia Dies Natalis FEB Unair ke-54, Yunus Enus di Surabaya, Minggu (21/9/2015) lalu.

Yunus Enus mengatakan, selain untuk meningkatkan keakraban, networking, dan sinergi alumni FE Unair lintas angkatan. Ajang ini juga sebagai apresiasi terhadap alumni yang telah memberikan kontribusi kemajuan kepada Indonesia serta almamater Universitas Airlangga.

Acara ini, jelas Yunus, juga diharapkan bisa menjadi inspirasi kepada alumni FEB Unair yang lain, untuk memberikan karya terbaiknya dalam berbagai bidang demi menjunjung harkat kemanusiaan, kemajuan bangsa dan menjadi kebanggaan almamater Universitas Airlangga.

“Penghargaan diberikan dalam lima kategori yang setara, yang terdiri Honorable Mention, Life Time Achievement, Proffesional Excellence, Entrepreneurial Spirit, Rising star,” katanya.

Kandidat berasal dari usulan para alumni, baik melalui email, blog, facebook, SMS, formulir langsung, telephon, jaringan pengurus IKAFE dan jaringan koordinator angkatan.

Dari usulan yang masuk, ada 45 kandidat lintas angkatan yang terjaring. Setelah itu tim melakukan penelusuran data untuk menyaring menjadi 25 kandidat utama dan kemudian oleh Dewan Juri dipilih 15 nominator.

Dari 15 nominator tersebut, tiga orang terpilih sebagai Life Time Achievement yaitu Ashariono, Mustofah dan Tjuk Sukiadi.

Sementara itu, Abdur Rahman terpilih sebagai Honorable Mention, Sonny Hari BH sebagai Rising Star, Theo Lekatompessy terpilih sebagai Proffesional Excellence, dan Haryanto Basoeni sebagai Entrepreneurial Spirit.

Ke tujuh orang ini dianggap layak menyandang Pemangku Alumni Award karena kiprah meraka di Indonesia cukup diperhitungkan. Haryanto Basoeni adalah pengusaha pertambangan PT. Bangun Arta yang mulai berbisnis sejak tahun 1982.

Adapun Ustadz Abdul Rachman adalah pendiri dan pengurus Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya dengan 10 lembaga pendidikan dan 7 amal usaha lainnya.

Sementara Theo Lekatompessy adalah President PT. Humpuss Intermoda Transportasi Tbk yang telah beberapa kali menangani perusahaan besar “sakit” menjadi “sehat”.

Sedangkan Sonny Harry adalah Kepala Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia yang aktif memberikan sumbangan pemikiran demografi, salah satunya dengan menjadi Staf Khusus Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional.

Sosok Mustofa, Tjuk K. Sukiadi serta Mashariono, mereka bertiga dinilai telah menginspirasi masyarakat dengan tetap berkarya meskipun memasuki usia pensiun dibidangnya masing-masing dan telah banyak diakui kiprahnya secara nasional. (ybh/kbc)

Inilah Cabang Pertama Pesantren Hidayatullah

Tampak salah satu lokal gedung pendidikan Yayasan Pondok Pesatren Hidayatullah Berau, Kalimantan Timur. [DOK]
Tampak salah satu lokal gedung pendidikan Yayasan Pondok Pesatren Hidayatullah Berau, Kalimantan Timur. [DOK]
Hidayatullah.or.id — Hidayatullah telah berusia empat dekade lebih menjelang gelaran Musyawarah Nasional (Munas) IV Hidayatullah di Balikpapan, Kalimantan Timur, November mendatang. Saat ini Hidayatullah telah menyebar ke berbagai penjuru nusantara, dari Aceh hingga Merauke.

Nah tahukah Anda dimana cabang Hidayatullah pertama kali berdiri setelah kampus Hidayatullah Gunung Tembak?

Sajian berseri dari redaksi Hidayatullah.or.id ini akan menapaktilasi rangkaian sejarah Hidayatullah dalam pengabdiannya untuk agama dan kemaslahatan umat.

Sajian khusus menyambut Musyawarah Nasional IV Hidayatullah ini umumnya mengutip artikel dari buku “Sejarah Hidayatullah” yang ditulis oleh almarhum Ustadz Manshur Salbu.

Cabang pertama Hidayatullah adalah Berau. Sebuah kabupaten seluas 34.127,47 km² di Kalimantan Timur. Sejak dulu kota ini masyhur dengan budidaya tambak dan beranekaragam kekayaan maritimnya ini. Konon Kabupaten Berau berasal dari Kesultanan Berau yang didirikan sekitar abad ke-14.

Cikal bakal berdirinya cabang Hidayatullah di Berau ini dirintis pertama kali oleh Almarhum Ustadz Amin Bachrun yang merupakan kader senior Hidayatullah.

Setelah “pintu masuk” dibuka, pendiri Hidayatullah Abdullah Said segera menugaskan kader lainnya yaitu Soewardhany Soekarno dan Darul Ihsan Arief. Soewardhany Soekarno bersama Darul Ihsan tidak menyia-nyiakan kesempatan ini.

Ustadz Abdullah Said lalu segera membentuk pengurus, Darul Ihsan yang disepakati menjadi ketua, dengan pertimbangan Darul Ihsan Arief sebagai anak daerah mungkin mudah meraih simpati.

Soewardhany Soekarno menempati sebuah rumah dekat mushalla Al-Ihsan di Kampung Pembangunan. Darul Ihsan yang masih lajang tinggal sementara di rumah kakak iparnya, Guru Asmuni, seorang Kepala Sekolah SD.

Setelah terbentuk pengurus Pondok Pesantren pada bulan September 1977, dengan tidak berfikir panjang Seowardhany Soekarno dan Darul Ihsan Arief segera membuat papan nama.

Kendatipun banyak yang mengusulkan agar papan nama yang dibuat mencantumkan kata persiapan sebelum kata-kata Pondok Pesantren Al-Ihsan. Yang terjadi akhirnya dibuat papan nama bertuliskan: Pondok Pesantren Al-Ihsan – Kabupaten Berau. Inilah cabang pertama Pondok Pesantren Hidayatullah.

Seterusnya Soewardhany Soekarno yang telah menikah dengan Iis Nurjannah bersamaan dengan pernikahan Muhammad Yusuf Suradji dengan Shofiyah Kamil pada 13 Maret 1977 ke Balikpapan menjemput istri, lalu pindah ke rumah yang dibangun dengan ukuran 4m x 6m disamping mushalla.

Kedatangannya didampingi oleh Syamsu Rijal Aswien, putra Berau dari Tali Sayan dan Mukhdar Al-Bansyir, turunan Arab dari Bulongan. Keempatnya menggunakan pesawat dengan tarif Rp 25.000,-perorang.

Pengurus Pondok Pesantren Al-Ihsan giat mengupayakan agar pesantren ini jangan sekedar nama tapi betul-betul eksis. Apalagi setelah terpasang papan nama di depan Mushalla Al-Ihsan yang cukup menantang.

Pak Sukeni Dahlan sebagai orang yang punya kedudukan dipemerintahan sebagai Kepala Pajak Kabupaten Berau, mencoba mengadakan pendekatan kepada Bupati Kabupaten Berau yang pada waktu itu dijabat oleh Pak Masdar Jhon, BA untuk meminta tanah milik negara seluas 11 Ha yang terletak di kampung Pembangunan.

Permohonan yang diajukan Pak Sukeni berhasil. Maka resmilah pesantren ini memiliki tanah seluas 11 Ha ditambah dengan pemberian Pak Damat yang diambil dari pembagian tanah warisan dari orang tuanya (H.Jatman), seluas kurang lebih 1,5 Ha.

Soewardhany Soekarno selama di Berau sudah menjelajah sampai di Biduk-Biduk dan Tali Sayan. Orang tua Syamsu Rijal Aswin, Pak Aswin, seorang turunan Cina, yang menjadi Kepala Kantor Urusan Agama Kecamatan Tali Sayan cukup banyak membantu petugas dari Hidayatullah ini melancarkan da’wahnya.

Santri-santri putri awal yang dibina Darul Ihsan di Mushalla Al-Ihsan adalah Murid-murid yang belajar ngaji pada Pak Sugeng, adik kandung Pak Sukeni, itulah yang dijadikan modal pertama sebagai santri Pondok Pesantren Al-Ihsan. Diantaranya: Wahyuningsih, Nurti’ah, Masro’ah, Marikem, Budiyah, Lastri, Nani, Rita Sahara, Nurwahidah Yunus. Anak-anak putra adalah: Muhammad Thoha, Khairoji, Misman, Misran, Subandi, Darto, Makmun, Jamil.

Soewardhany Soekarno akhirnya ditarik ke Balikpapan untuk ditugaskan di tempat lain. Setelah pembinaan berlangsung 2 tahun Darul Ihsan juga ditarik ke Balikpapan (1979), pada saat tanah pemberian Pemda baru sebagian kecil yang tersentuh.

Ustadz Amin Bachrun ditugaskan kembali ke Berau. Tanah yang memadai luasnya itu, disarankan Pak Sukeni agar ditanami padi. Kalau padinya sudah berhasil baru kita mencari santri, karena sudah ada yang dimakan.

Ustadz Amin Bachrun menyampaikan pendapat yang berbeda bahwa, “Yang bagus, Pak, kita cari dulu murid, nanti mereka yang tanami padi. Akan nikmat mereka makan kalau dari hasil karyanya sendiri, sekaligus mendidik anak-anak untuk biasa bekerja yang dapat menumbuhkan dalam dirinya rasa percaya diri, tidak cengeng”.

Akhirnya tanah pemberian pemerintah itu dimasuki Ustadz Amin Bachrun. Awalnya menempati rumah bekas Darul Ihsan kemudian pindah ke rumah yang baru dibuat berukuran 6Mx8M. Bahan-bahannya dari kayu yang diambil dari bongkaran Mesjid Raya Berau. Untuk menambah bangunan rumah di kampus, Syahrul Arief mengangkut rumahnya yang ada di Kampung Sukan ke kampus ini.

Anak-anak remaja yang berkiprah di kampus membantu Ustadz Amin Bachrun merintis rumput dan semak-semak, membantu membuat bangunan, menggarap tanah untuk ditanami padi, singkong dan sayur-sayuran adalah : Muhammad Thoha, Khairoji, Jamal DM, Eronsyah Hasbullah, Abdul Aziz, Abdul Kahar, Jamal dan Makmun.

Saat awal-awal perlangkahan Hidayatullah di Berau, kegiatan menanam tanaman-tanaman jangka pendek digalakkan karena pencarian dana dan sumbangan keluar belum dilakukan. Pembinaan ke dalam untuk pengkaderan menjadi prioritas utama. (ybh/hio)

Membangun Kedekatan, Mengeratkan Persaudaraan

Suasana silaturrahim nasional atau Silatnas Hidayatullah yang dulu dikenal dengan usrah. Acara ini digelar kali pertama pada tahun 1973 di Karang Bugis, Balikpapan [DOK]
Suasana silaturrahim nasional atau Silatnas Hidayatullah yang dulu dikenal dengan usrah. Acara ini digelar kali pertama pada tahun 1973 di Karang Bugis, Balikpapan [DOK]
Hidayatullah.or.id — Satu hal yang sangat dijaga oleh Ustadz Abdullah Said adalah terpeliharanya keutuhan persaudaraan dan ukhuwwah islamiyyah.

Kalau Pondok Pesantren Hidayatulah ini memiliki pondasi yang kuat sejak awal adalah karena Ustadz Abdullah Said telah membangun persaudaraan dan keakraban dengan sahabat-sahabatnya. Dan itu sangat dalam kesannya di kalangan sahabat-sahabatnya.

Memang sering ada teguran-teguran yang agak menyakitkan perasaan tapi justru membuat pershabatan semakin dalam. Mungkin karena yang melatarbelakangi cubitan-cubitan itu adalah rasa cinta. Rasa cinta ini terasa sekali dalam kehidupan sehari-sehari di dalam berpesantren.

Tidur bersama, makan bersama, bercanda kepada santri-santrinya yang walaupun kedudukan beliau sebagai pimpinan dan guru tapi tidak membuat jarak yang jauh dengan santrinya.
Santri-santrinya yang sekaligus sebagi teman dan sahabat juga tidak merasakan adanya jarak itu. Namun tidak berarti bahwa kedekatan itu mengurangi wibawanya. Wibawa dan kharisma itu terbangun dengan sendirinya, tidak terkesan dibuat-buat.

Beliau selalu mengingatkan kalau ada muncul di dalam hati perasaan benci kepada saudaranya, segeralah sadari bahwa kita datang ke tempat ini bersusah-susah, berpahit-pahit adalah dengan tujuan yang sangat suci: untuk menggurat sejarah.

Kita ingin menciptakan masyarakat dan lingkungan islami yang belum ada sekarang dan sangat dirindukan oleh orang Islam dan manusia pada umumnya.

Ustadz Abdullah Said sangat menjaga kemungkinan timbulnya hal-hal yang dapat merusak persaudaraan. Ditolaknya tawaran menunaikan ibadah haji oleh Pak Walikota H. Asnawie Arbain tidak lepas dari pada menjaga keutuhan ukhuwwah, jangan sampai terjadi keretakan persaudaraan, kalau hanya beliau sendiri yang dinaikkan haji sementara kawan-kawan seperjuangannya tidak.

Beliau sangat khawatir akan timbul anggapan bahwa, “Pada waktu berpahit-pahit dan bersusah-susah kita bersama-sama tapi setelah berhasil, hasilnya dinikmati sendiri”. Kalau ungkapan ini sampai terbetik dalam hati kawan-kawan, tidak usahlah keluar dari mulutnya, ini sudah merupakan malapetaka besar bagi pertumbuhan dan kelanjutan Hidayatullah”.

Maka pada 7 April 1982 beliau mengirim surat kepada walikota mengemukakan alasan-alasan penolakan. Khawatir kalau Walikota salah faham, kok ada orang ditawari naik haji menolak. Alasan itu adalah: Tidak bersedia naik haji sebelum Ustadz Hasan Ibrahim, Ustadz Hasyim HS, Ustadz Nazir Hasan dan Ustadz Usman Palese naik haji, sebelum ibu kandung saya naik haji, dan pembangunan mesjid sedang berlangsung.

Nama-nama yang tersebut dalam poin satu adalah orang-orang yang berjasa mendirikan pesantren ini. Alasan kedua adalah karena takut durhaka kalau mendahului orang tua. Dan yang ketiga adalah takut mendapat sorotan masyarakat sehubungan dengan dimulainya pembangunan mesjid.

Khawatir kalau masyarakat menyorot, “Mesjid sedang dibangun, Ustadz kok naik haji, barangkali uang mesjid yang dipakai”. Dan kalau sudah ada sorotan demikian maka hancurlah kepercayaan umat kepada saya. Sementara inilah modal dan kekayaan yang harus dijaga. Untuk menjaga perjalanan lembaga selanjutnya”.

Salah satu media yag dijadikan lem-perekat persaudaraan adalah kerja bakti setiap saat terutama pada hari Ahad. “Bukan hasil kerjanya yang terlalu penting tapi adalah terjalinnya keakraban sebagai hasil dari kerja bakti itu.”

Juga sangat sering diadakan makan bersama di Dapur Umum bersama santri-santri dikala ada orang yang mengaqiqah anaknya atau acara-acara lain yang ditempatkan di Dapur Umum. Maka Ustadz Abdullah Said menginginkan Dapur Umum diperbesar bangunannya.

Salah satu penyebab mengapa pelaksanaan pernikahan harus ditangani oleh sebuah panitia karena dikhawatirkan terjadi keretakan akibat dari pernikahan yang ditangani sendiri oleh orang tua. Karena bagi orang yang sering keluar ceramah yang sudah barang tentu banyak jama’ahnya jika melangsungkan pernikahan anaknya atau keluarganya pasti banyak yang datang; dan banyak memberikan kado.

Hal ini pasti akan menimbulkan perasaan tidak enak bagi yang kerjanya cuma dikampus dan tidak dikenal orang, pernikahannya pasti sepi. Ini jadinya tidak indah dalam hidup berjama’ah. Ujung-ujungnya akan terjadi gap psikhologis.

Di rumah-rumah dilarang pakai kursi tamu. Karena dikhawatirkan terjadi perlombaan membeli kursi . Dan lagi pula rumah yang begitu sempit kalau diisi dengan kursi ruangannya akan semakin sempit dan muatannya pasti sangat terbatas. Orang-orang yang suka menggunakan Bahasa Daerah sesukunya pada saat suku lain berada di dekatnya akan mendapat teguran karena khawatir kalau suku lain akan tersinggung, mengira dia yang disinggung. Ini akan merusak persaudaraan. Dan masih banyak sudut-sudut kehidupan yang sering disoroti yang perlu di perhatikan untuk tidak terjadi keretakan persaudaraan sebagai modal yang sangat mahal.

Mengapa shalat berjama’ah begitu ditekankan? Disamping karena agama memang memerintahkan demikian, juga karena merupakan media perjumpaan yang efektif untuk menabur benih-benih persaudaraan dipersemaian jiwa jama’ah ketika mendo’akan lewat salam yang diucapkan ketika menengok ke kanan dan ke kiri. Apalagi pada saat berjabatan tangan dan bertatapan mata disertai senyum tulus.

_______
Artikel di atas dikutip dari buku “Sejarah Hidayatullah” karya almarhum Ustadz Manshur Salbu yang juga merupakan kader senior Hidayatullah.

Kampus II Ponpes Hidayatullah Sampeang Luwu Diresmikan

0

naspi arsyad di belopaHidayatullah.or.id — Bupati Kabupaten Luwu,Sulawesi Selatan, Ir. H. Andi Muzakkar, melakukan seremoni peletakan batu pertama peresemian Pesantren Hidayatullah Kampus II Sampeang, belul lama ini. Turut hadir dalam kesempatan tersebut Ketua Umum PP Syabab Hidayatullah, Naspi Arsyad, Lc.

Selain itu hadir pula Camat Kecamatan Bajo Utara, H. Nashir selaku keluarga besar pewakaf tanah, Ketua PW Hidayatullah Sulsel Ir.H. Abd. Majid, Ketua Bidang Organisasi PW Sulsel Ali Imran, dan Abdul Majid selaku Ketua PD Hidayatullah Kabupaten Luwu.

Ketua PW Hidayatullah Sulsel Abdul Majid dalam sambutannya di hadapan ratusan hadirin mengatakan sebagai lembaga dakwah dan tarbiyah, Hidayatullah memiliki komitmen ideologis untk menghidupkn Al Qur’an.

“Maka keberadaan kampus-kampus Hidayatullah di Sulsel adalah untuk membumikan Al Qur’an ini sebagai panduan hidup,” kata Abdul Majid.

Alhamdulillaah, lanjut dia, hingga saat ini, Hidayatullah telah berada secara fisik di seluruh kabupatn/kota di Sulawesi Selatan.

Di kesempatan seturutan, Bupati Andi Muzakkar mengaku sangat mendukung bila ada pesantren baru yang akan didirikn karena dapat membantu tugas pemerintahan dalam membina dan melayani masyarakat.
Andi berharap Pesantren Hidayatullah memiliki keunggulan yang dapat menjadi ciri khas dan daya tarik untuk masyarakat memasukkan anaknya ke pesantren. Kekhasan tersebut kata Andi lagi bisa berupa penguatan life skill.

Bupati Andi Muzakkar pun berjanji bahwa pemerintah kabupaten akan membantu pengadaan alat-alat untuk penguatan lifeskill santri.
“Salah satu keunggulan yang diharapkan dari kampus Hidayatullah Sampeang adalah tahfidzul Qur’an. Semakin banyak penghafal Qur’an di Kabupaten Luwu maka diharapkan Luwu semakin berkah,” kata Andi Muzakkar.

Pada kesempatan tersebut pemerintah setempat memberikan bantuan dana sebesar 50 juta untuk keperluan pembangunan sarana dan prasarana serta pengembangan terkait lainnya. (ybh/hio)

Hidayatullah dan Pertanyaan Kedubes Amerika Serikat

0
Pendidi Hidayatullah, Ustadz Abdullah Said,  saat menerima anugerah Kalpataru dari pemerintah di Istana Negara tahun 1984
Pendiri Hidayatullah, Ustadz Abdullah Said, saat menerima anugerah Kalpataru dari pemerintah di Istana Negara tahun 1984
Kunjungan anjangsana silaturrahim Panglima TNI Angkatan Darat Raden Hartono tahun 1995
Kunjungan anjangsana silaturrahim Panglima TNI Angkatan Darat Raden Hartono tahun 1995

PERTENGAHAN Februari tiga tahun lalu, Sekretaris Pertama Kedutaan Besar Amerika Serikat Mr Hilary C Dauer berkunjung ke kantor Hidayatullah di Jakarta Timur. Dia datang dengan rasa penasaran.

Katanya, dia baru saja pulang dari pedalaman Papua. Dia tercengang mendapati sebuah pesantren telah berdiri di sana. Pesantren itu ternyata adalah Pesantren Hidayatullah.

Sebelumnya, dia juga pernah berkunjung ke pedalaman Kalimantan. Lagi-lagi, di sana dia mendapati Pesantren Hidayatullah. Ia kian penasaran. Ia ingin tahu lebih banyak tentang Hidayatullah.

Rabu menjelang siang itu, ia datang bertamu untuk sekadar menuntaskan rasa ingin tahunya. Ia menceritakan pengalamannya mengunjungi sejumlah wilayah terpencil di Indonesia dan keterkejutannya mendapati Pesantren Hidayatullah telah berdiri di sana.

“Apa yang dilakukan Hidayatullah sehingga jaringannya bisa begitu luas?” Kira-kira begitulah pertanyaan sang Sekretaris Pertama Kedubes AS kepada saya dalam kunjungannya ketika itu.

Memang benar, Hidayatullah saat ini telah ada di hampir 300 kabupaten/kota di seluruh provinsi di Indonesia. Namun, terus terang, saya sulit memberikan pemahaman kepadanya mengapa Hidayatullah bisa berkembang seperti sekarang ini.

Ketika pertama berdiri tahun 1970-an, Hidayatullah hanyalah sebuah masjid kecil berukuran 20 x 10 meter persegi di atas sebuah lahan wakaf seluas 5,6 hektare di Desa Gunung Tembak, Kalimantan Timur, sekitar 30 km dari pusat Kota Balikpapan.

Masjid itu dibangun oleh Ustaz Abdullah Said Allahuyarham bersama para santrinya. Mereka bekerja secara bergantian. Setelah selesai, masjid tak sekadar dipakai sebagai tempat shalat, tetapi juga tempat belajar, pertemuan, bahkan juga tempat tidur.

Kian lama jumlah santri kian banyak. Bangunan juga bertambah. Santri-santri ini kemudian dikirim oleh Abdullah Said ke berbagai wilayah di Indonesia, utamanya di daerah-daerah terpencil. Mereka berangkat dengan bekal amat minim.

Tugas para santri ini sama, yakni membangun pesantren serupa di berbagai daerah di Indonesia. Pesantren yang dibangun ini tak sekadar tempat belajar, tetapi juga diupayakan menjadi miniatur peradaban Islam.

Tak lupa, Abdullah Said berpesan kepada para santrinya yang akan berangkat agar menjaga shalat malam, selain tentu saja shalat wajib tepat waktu secara berjamaah. Mengapa shalat malam? Sebab, shalat malam adalah sarana paling tepat untuk mencurahkan segala keluh kesah kepada Sang Maha Pencipta. Shalat malam menjadi penting karena jalan dakwah tak akan pernah mudah. Shalat malam akan memberikan spirit baru dalam berjuang.

Dari spirit shalat malam inilah para santri bisa bertahan di tempat tugasnya dengan segala lika-liku hidupnya. Bahkan tak sekadar bertahan, tapi juga berkembang dan membesar.

Pimpinan Umum Hidayatullah Ustaz Abdurrahman Muhammad, saat membuka musyawarah Majelis Syura Hidayatullah di Batam awal September lalu menyatakan, spirit Hidayatullah adalah kalimat Laa ilaaha illallah. Kalimat inilah yang menjadi spirit Nabi Musa AS saat menemui Fir’aun, raja yang mendaulat dirinya sebagai Tuhan. Kalimat ini pula yang direkomendasikan oleh Nabi Muhammad SAW bila ingin memenangkan dakwah ini. “Katakan Laa ilaaha illallah,” kata Rasulullah SAW, “kalian pasti menang.”

Cerita seperti ini jelas akan sulit dipahami oleh sang Sekretaris Pertama Kedubes AS. Cerita seperti ini hanya akan dipahami oleh mereka yang meyakininya.

Apalagi bila melihat kiprah Hidayatullah yang terpublikasi di media-media massa, jelas tak semeriah organisasi Islam lainnya. Tak ada tokoh Hidayatullah yang dikenal luas oleh publik. Tak pernah pula ada aksi demonstratif besar-besaran yang digelar organisasi ini. Tak terdengar kader organisasi ini tumpah ruah ke jalan-jalan untuk menunjukkan kekuatan mereka.

Hidayatullah berkembang dengan caranya sendiri. Meskipun berbagai tudingan negatif sempat dialamatkan kepada mereka—misalnya tudingan sebagai organisasi radikal, tapi semuanya mampu ditepis dengan cara yang baik tanpa menimbulkan gejolak. Di usianya yang hampir setengah abad, Hidayatullah telah membangun negeri ini dengan caranya yang khas, cara yang mungkin sulit dipahami oleh mereka yang amat memuja logika dan tidak mengimani pertolongan Sang Khaliq.

Dan, tak lama lagi, organisasi ini akan menggelar Musyawarah Nasional IV di tempat kelahirannya, di Balikpapan, Kalimantan Timur, tepatnya pada 7 November 2015. Selamat bermuktamar, dai-dai Hidayatullah! Semoga tetap istiqamah dengan semangat dakwah dan tarbiyahmu. n

_______
MAHLADI, penulis adalah Kepala Biro Hubungan Masyarakat PP Hidayatullah. Artikel ini telah dimuat sebelumnya di harian umum nasional REPUBLIKA, Kamis, 10 September 2015.