Beranda blog Halaman 606

Perilaku Hubungan Abnormal Perlu Penyelesaian Kolektif

Acara Munas IV Muslimat Hidayatullah 2016Hidayatullah.or.id – Kian mewabahnya perilaku hubungan menyimpang (abnormal) yang ditandai dengan upaya legalisasi perilaku bejat lesbian, gay, biseksual, transgender, dan queer (LGBTQ) di Indonesia, tidak boleh dianggap sepele.

“Keluarga yang kokoh akan hindari paparan LGBT. Muslimat Hidayatullah buka layanan konseling untuk LGBT yang mau taubat,” kata Sekretaris Jenderal PP Muslimat Hidayatullah, Leny Syahnidar dikutip Republika.co.id, Jumat (12/2).

Leny menilai, perilaku hubungan menyimpang perlu upaya penyelesaian secara kolektif, bahkan perlu keterlibatan dari pemerintah. Untuk itu, PP Muslimat Hidayatullah (PP Mushida) menyatakan sejumlah hal menyikapi perilaku hubungan menyimpang di Indonesia.

Pertama, menolak legalisasi dan segala promosi perilaku hubungan menyimpang karena bertentangan dengan nilai-nilai ajaran agama dan Pancasila serta tak sejalan dengan norma-norma kesusilaan.

Bahkan, berbagai dalih genetika yang dikemukakan oleh kelompok pengidap dan pembela perilaku hubungan menyimpang untuk pembenaran perilaku tersebut telah banyak dibantah melalui berbagai riset ilmiah, faktual, dan rasional.

Kedua, kampanye perilaku hubungan menyimpang yang dilakukan dengan beragam pola bahkan tak sedikit dilakukan secara demonstratif bisa membuat generasi muda terpapar dengan ide-ide kebebasan yang diusung. Sehingga, jika dibiarkan, bukan tidak mungkin kampanye itu akan membuat anak-anak terjebak. Dan akhirnya dapat terstimulasi atau bersikap permisif terhadapnya.

Ketiga, menyerukan kepada kaum ibu untuk terus menguatkan perannya di rumah tangga mengingat kedudukannya sebagai madrasah terbaik untuk anak-anaknya. Sinergi yang baik antar anggota keluarga, khususnya ayah dan bunda, serta kepedulian bersama terhadap lingkungan akan mengokohkan ketahanan keluarga dari paparan pengaruh-pengaruh negatif.

Keempat, medorong media massa untuk turut melakukan edukasi positif terhadap masalah perilaku hubungan menyimpang. Media sangat berperan membentuk cara pandang masyarakat terhadap masalah ini. Karena itu, PP Mushida mendesak media jangan hanya mempublikasikan sisi kehebohan PHM dan reaksi-reaksi terhadapnya. Media juga dinilai mestinya memuat solusi penyelesaian perilaku hubungan menyimpang yang sesuai dengan ajaran agama dan tatanan kemanusiaan.

Kelima, PP Mushida menginstruksikan kepada semua jajaran pengurus dari tingkat pusat, wilayah dan daerah untuk membuka layanan konseling dan penanganan korban perilaku hubungan menyimpang.

Pusat-pusat konseling tersebut, harus dimaksimalkan untuk turut memantau serta mencegah penyebaran virus khususnya di lingkungan terdekat dan membantu merehabilitasi mereka yang ingin kembali hidup normal. Karena umumnya, mereka menjadi LGBT karena lingkungan atau pola asuh. (ybh/hio)

Laznas BMH Berangkatkan Umroh Dai Pelosok

Laznas BMH Berangkatkan Umroh Dai PelosokHidayatullah.or.id – Sebagai bentuk apresiasi terhadap komitmen dakwah para dai yang telah mewakafkan diri dan keluarganya untuk membina masyarakat di pedalaman dan perbatasan Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah (LAZNAS BMH) terus melanjutkan program apresiasi dai tangguh berupa keberangkatan umroh.

Daerah pedalaman adalah daerah yang tidak mudah dijangkau dengan fasilitas yang sangat-sangat terbatas. Tidak saja dibutuhkan kekuatan mental tetapi juga kemampuan fisik dan strategi dalam menjalankan dakwah. Daerah Merauke dan Papua pada umumnya, para dai sudah harus siap berhadapan dengan ancaman penyakit Malaria.

Sedangkan daerah perbatasan adalah daerah-daerah yang memang selain jauh juga tidak banyak yang berminat hadir di daerah-daerah seperti ini, apalagi untuk berdakwah. Alhamdulillah dai tangguh BMH hadir di setiap perbatasan NKRI ini, di antaranya di Merauke Papua.

Supendi selaku direktur utama Laznas BMH mengatakan bahwa program ini adalah program yang didukung banyak pihak, karena rasa haru terhadap kiprah dan komitmen para dai tangguh dalam berdakwah.

“Ya, apresiasi dai tangguh berupa umroh ini mendapat antusiasme tinggi dari berbagai pihak. Entah mengapa, yang jelas, sebagian dari donatur BMH selalu menitikkan air mata kala mendengar kisah perjuangan para dai tangguh dalam menekuni dunia dakwah,” kata Supendi dalam pernyataan tertulisnya diterima media ini kemarin.

Dia menyebutkan, tahun 2016 BMH memberangkatkan 4 dai tangguh untuk umroh, yaitu Ust Ahmad Al-Jufri yang bertugas dakwah di ujung timur Indonesia, Merauke-Papua, kemudian Ust. Damanhuri, daerah tugas Palembang dan Ust. Ismail Kalosi daerah tugas Enrekang, Sulawesi Selatan.

“Serta Ustadz Hudri Yahya daerah tugas Morotai yang karena kondisinya belum sehat, sehingga belum bisa berangkat bersama,” imbuhnya.

Dari empat dai tangguh tersebut, Ustadz Ismail Kalosi adalah dai yang special. Beliau telah lama tidak bisa mendengar disebabkan serangan Malaria saat bertugas malang melintang di Papua. Namun, pria berusia 55 tahun itu tidak sedikit pun merasa terbebani dengan ujian yang dialaminya tersebut.

Hal ini terungkap kala diwawancara dengan menggunakan tulisan di atas secarik kertas yang dibacanya. Dengan cepat Ismail Kalosi menjawab, “Ya, ini ujian tidak seberapa. Nabi Muhammad jauh lebih berat ujiannya daripada kita ini. Giginya patah, pipinya terluka dan bahu kanannya sempat lama tidak bisa digerakkan,” ungkapnya.

Dalam umrohnya nanti, mereka akan berdoa untuk kebaikan bangsa dan negara, kebaikan umat Islam. “Ya, insya Allah kami akan berdoa yang terbaik buat bangsa dan negara ini, buat umat Islam, khususnya dakwah Islam, sehingga negeri ini menjadi negeri yang Allah ridhoi,” ungkap Damanhuri. (ybh/hio)

LGBT Diobati, Tidak Dilegalkan

0
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Ketua Umum PP Pemuda Hidayatullah, Muhammad Naspi Arsyad / YBH

Hidayatullah.or.id – Maraknya kampanye perilaku lesbian, homoseksual, biseksual, dan transgender (LGBT) dengan beragam cara semakin mengkhawatirkan. Oleh karena itu, Syabab Hidayatullah mendesak pemerintah serius memperhatikan ini.

Pemerintah di antaranya didesak segera merehabilitasi para korban penyimpangan seksual tersebut. Sebab, bagi organisasi kepemudaan ini, LGBT itu abnormal.

“Pengidapnya harus mendapatkan perhatian serius agar mereka dapat sembuh dari penyakit ini tanpa perlakukan kasar dan merendahkan. Lembaga dan institusi negara terkait mesti membuat semacam rumah rehabilitasi untuk menangani kasus-kasus seperti ini,” demikian disampaikan dalam rilis kepada hidayatullah.com di Jakarta baru-baru ini.

Dalam pernyataannya kepada media di Jakarta, Ketua Umum PP Syabab Hidayatullah, Naspi Arsyad, menyerukan agar mewaspadai upaya sistematis legalisasi LGBT di Indonesia, baik secara terbuka maupun tertutup.

“Kami melihat ada kecenderungan bangsa tercinta ini menjadi semacam target bersama pihak-pihak tertentu, agar perilaku LGBT dianggap sebagai sesuatu yang normal di masyarakat,” katanya.

Menurutnya, pengidap dan pembela LGBT selalu bersandar pada klaim bahwa LGBT bukan penyimpangan seksual, melainkan keberagaman seksualitas manusia.

Selain itu, Naspi Arsyad atas nama organisasinya mendorong media massa untuk terus mengedukasi masyarakat soal bahaya LGBT.

Media pun, dalam memberitakan LGBT, diminta tidak melulu terjebak pada frame “nilai-nilai universal” dan “tubuh yang berdaulat“ yang dinilai ambigu itu.

“Sebab tidak semua yang datang dari Barat otomatis benar atau baik dan harus pula diterapkan, meskipun dengan dalih modernitas,” ujarnya.

Segenap keluarga, pemuda, dan organisasi kepemudaan di Indonesia pun didorong terus melakukan edukasi dan upaya-upaya preventif, mencegah meluasnya praktik dan pandangan yang melegalkan LGBT.

Sebab, LGBT dipandang bertentangan dengan nilai-nilai luhur agama dan berlawanan dengan Pancasila sebagai dasar negara Indonesia.

Di antara upaya lain menangkal LGBT, Syabab Hidayatullah mendorong komponen umat untuk bersama-sama memakmurkan masjid sebagai pusat peradaban.

“Menjadikannya pusat kegiatan ibadah, pusat pengembangan ilmu, pusat kebudayaan Islam, dan pusat pengembangan karakter dan kepemimpinan umat,” pungkasnya.* (Hidayatullah.com)

Tugas Dakwah dan Muhasabah

0

Allah-lah yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kalian, siapa diantara kalian yang paling baik amalnya. Allah Mahaperkasa lagi Maha Pengampun (QS. Al Mulk (67) : 2).

********

SESUNGGUHNYA kehidupan yang sangat sempit (1,5 jam menurut kalkulasi sistem waktu di akhirat) ini adalah masa karya (beramal). Demikian sempitnya masa bakti (khidmah), sehingga seringkali beban yang harus kita pikul lebih banyak dari waktu yang tersedia. (al wajibatu aktsar minal auqat).

Harga kehidupan kita di mata manhajul haq (konsep perjuangan), ditentukan oleh kualitas karya dan pengabdian yang terbaik kita.

العبرة بالدور والعطاء لا بالمناصب والوظاءف

Kualitas seseorang diukur dari peran, partisipasi dan kontribusinya, bukan income (pendapatan) yang diperoleh dan posisi yang sedang diduduki.

Maka sesungguhnya waktu yang diklaim sebagai umur kita adalah sebatas waktu yang diisi dengan amal shalih. Sekali lagi, waktu yang produktif untuk mengukir amal. Umur abadi kita adalah kesinambungan amal kita (istimrariyyatul amal) itu sendiri. Itulah sebabnya Rasulullah Saw bersabda

خير الناس من طال عمره وحسن عمله

Manusia yang paling baik adalah ia yang panjang umurnya dan semakin bermutu amal shalihnya (al Hadits).

Setiap penugasan di lembaga dakwah dan tarbiyah serta perjuangan kita harus dimaknai sebagai promosi, ekspansi (pengembangan medan dakwah), dan reaktualisasi, media untuk terus berinstrospeksi diri (muhasabah) untuk menata ulang dan mengalihkan peran kita pada bidang yang berbeda. Jangan dimaknai di luar kerangka di atas. Jika kita memiliki gambaran mental yang negatif, kita kehilangan kreatifitas/inovasi untuk berkarya.

Pada hakikatnya, setiap tugas yang dipikul di pundak kita adalah ikhtiar untuk melakukan rekonstruksi (penataan ulang) dan mematangkan struktur kepribadian kita. Masa selain itu, ia bukan milik kita, karena tidak termasuk penilaian Alloh Swt. Dengan kata lain, penugasan adalah proses pengkaderan.

Dalam relung waktu itulah Allah menurunkan titah-Nya untuk berpacu dan berlomba dalam medan kehidupan (as-sibaq). Hidup ini adalah jalan panjang yang harus kita lalui menuju terminal akhir.

Tidak ada satupun peserta kehidupan ini mendapat bocoran kapan dan dimana ia harus berhenti. Kapan dan dimana ia mengakhiri kehidupan ini. Inilah bagian dari tarbiyah Allah agar kita memiliki persiapan/perencanaan sejak awal. Sebab tempat pemberhentian pertama adalah masa akhir beramal (ajal).

SK ajal kita sejatinya adalah akhir masa karya kita. Tidak ada istilah masa pensiun dalam perjuangan. Maka, imperalis yang menjajah sebuah negeri, ia mengkondisikan pemudanya menganggur, tidak ada aktualisasi & potensialisasi diri.

Ketika pisik kita masih kuat, tugas kita adalah terus berjihad dalam arti khusus, berperang di jalan Alloh (silat), ketika tidak bisa lagi berjihad, kita beralih ke peran berikutnya yaitu sebagai murabbi (silo), sebagai pemberdayaan potensi ijtihad, ketika kita tidak memiliki cadangan kekuatan untuk silat dan silo, kita melakukan peran berikutnya, menjadi ahlul mihrab, ahlur ruku, ahlus sujud (silem). Menguatkan potensi mujahadah dan riyadhah. Jadi, pemberdayaan pisik, akal, dan ruhani harus berjalan secara simultan dan stimulan.

Itulah sebabnya antara al mubtadi (senior) dan al muqtadi (yunior) merupakan satu kesatuan yang tidak mungkin dipisah-pisahkan. Dalam lintasan sejarah Islam, perjuangan akan mencapai kemenangan selalu ditemukan rahasianya, diantaranya perpaduan dua potensi antara kearifan senior (al mubtadi) dan semangat yunior
(al muqtadi).

Perpaduan dua generasi itu muncul karena dilandasi oleh sipirit saling menghormati dan saling menyayangi (at tauqir war rahmah). Endingnya, pewarisan nilai (taurits) dan amal tidak stagnan. Terjadi proses dialog & komunikasi antara dua generasi yang konstruktif.

Begitulah para sahabat Rasulullah Saw. dan semua muslim yang agung dan besar yang pernah hadir di pelataran sejarah, memahami makna waktu dan kehidupan, serta melaluinya dengan semangat perpacuan dan perlombaan yang tidak pernah dapat digoda oleh keindahan semu dan sesaat ( mata’ ud dunya)…

Apa yang mereka pakai adalah kendaraan jiwa yang seluruh muatannya adalah makna hidup itu sendiri, serta kehendak yang telah terwarnai oleh, makna misi itu.

Sampainya makna pada jiwa, dan sampainya jiwa pada makna. Tidak ada ruang kosong dalam kendaraan jiwa itu yang tak terisi oleh kehendak (iradah) dan azimah (tekat). Semua hakikat baru yang mereka pahami, yang mengantar mereka pada tangga ketinggian (al ma’ arij), selalu menjelma menjadi hakikat lain yang mengantar mereka pada tangga yang lebih tinggi.

Perjuangan, bagi manusia- manusia agung itu, adalah sebuah naluri yang sama kuatnya dengan instink lain dalam diri mereka. Sebab, kata sastrawan Mesir, Musthafa Shadiq Ar Rafii : Rupanya perjuangan itu mempunyai instink yang sanggup merubah kehidupan ini menjadi kemenangan demi kemenangan. Sebab, setiap anak pikiran yang hinggap disitu, selalu langsung menjelma menjadi pembunuh kekalahan dan kelemahan.

Mengeluh, dalam instink perjuangan mereka, adalah angin sepoi yang hendak merayu benteng obsesi (thumuh) mereka. Keindahan dalam tradisi keagungan mereka bagai sebatang lilin yang ingin menghisap gelombang. Semua yang ada di permukaan bumi tanah tempat kaki kebesarannya mengayuh derap langkah meniti hari, minggu, bulan, dan masa, serta kurun.

Dalam semangat perpacuan itu semua tantangan yang mereka temui hanya berfungsi melahirkan bakat-bakat baru, kecerdasan- kecerdasan baru, kehendak- kehendak baru.

Inilah rahasia besar yang menyingkap tabir kehidupan para sahabat, tabiin, zu’ ama, ulama, mujahidin besar yang pernah menggoreskan tinta emas dalam sejarah Islam kita. Banyak diantara mereka yang mati syahid dalam usia yang relatif muda. Imam Ghozali meninggal dalam usia 45 tahun.

Khalifah Islam kelima, Umar bin Abdul Aziz berusia 39 tahun. Hasan Al Banna dalam usia 41 tahun. Dalam usia yang sama, Imam As Suyuthi meninggalkan karya 600 kitab. Setiap kitab terdiri dari 13 jilid. Tetapi, waktu mereka memanjang mengikuti rentang panjang keabadian. Kehidupan mereka dipenuhi dengan beragam peran, partisipasi, kontribusi sosial. Sebagai pemikir (ilmul ‘ ulama). Sebagai pemimpin yang adil (‘adlul umara). Menjadi pebisnis Oyang jujur (amanatut tujjar).

Menjadi sosok profesional (nashihatul muhtarifin). Dan menjadi rakyat yang ahli ibadah untuk mendoakan pemimpinnya (ibadatul ‘ubbad). Setidak-tidaknya kelima peran, dan kontribusi itulah yang sepatutnya kita berikan kepada Islam ini. Kontribusi itulah yang menjadikan negeri bagaikan kebun (kalbustan).

Keabsaan perilaku ketakwaan kita juga diukur dari produktifitasnya dalam memberikan peran, partisipasi, dan kontribusi.

Wahai kaum mukmin, hakikat al bir, taat kepada Allah itu bukanlah sekedar menghadapkan diri ke arah timur dan barat (ketika shalat). Orang yang taat kepada Allah yang sebenarnya adalah orang yang beriman kepada Alloh, hari akhirat, para malaikat, kitab- kitab- Nya, dan para nabi- Nya. Dia memberikan harta yang dicintainya kepada kaum kerabat, anak- anak yatim, orang- orang miskin, orang- orang yang terlantar dalam perjalanan, orang- orang yang meminta- minta karena miskin, dan untuk membebaskan budak.

Dia juga mendirikan shalat dan mengeluarkan zakat. Juga orang- orang yang memenuhi janji- janji mereka bila berjanji, serta bersabar menghadapi kemiskinan, bencana, dan saat terjadi peperangan. Orang- orang itulah yang dikatakan benar- benar beriman. Mereka itulah orang- orang yang taqwa, taat kepada Allah dan bertauhid (QS. Al Baqarah (2) : 177). Tarjamah Tafsiriyah hal 32-33.

Sebab, ketika jiwa itu kosong, pikirannya akan jauh lebih kosong. Ia akan terus berlari mencari semua yang dapat membuatnya lalai dan lupa pada sang jiwa. Sedang manusia agung itu, hidup penuh sepenuh jiwanya, kata Musthofa Shadiq Ar Rafi’ i..

Ahli sastra Arab mengatakan :

اذا حملت الى القبورجنازة فاعلم بانك محمول
واذا وليت امور قوم فاعلم بانك معزول

Apabila engkau membawa keranda ke kuburan, ingatlah suatu ketika engkau akan dibawa. Jika engkau diserahi urusan kaum, ingatlah suatu ketika engkau akan dimakzulkan (dilengserkan).

________
Ustadz Sholeh Hasyim,  penulis adalah anggota Dewan Mudzakarah DPP Hidayatullah. 

ACT Silaturrahim ke Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak

ACT di Hidayatullah Balikpapan ACT di Hidayatullah Balikpapan2Hidayatullah.or.id – Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak Pusat, Kota Balikpapan, Kalimantan Timur, kedatangan tamu dari tim relawan kemanusiaan Aksi Cepat Tanggap (ACT) Jakarta.

Kedua tamu disambut hangat oleh pengurus pada Rabu (10/02/2016) lalu bertepatan dengan waktu Ashar. Mereka didaulat menyampaikan sepatah kata di hadapan jamaah.

Dihadapan jamaah shalat jamaah ashar, perwakilan dari tim ACT bertaaruf. Pertama, Muhammad Insan Nurrohman, salah satu pengurus ACT Jakarta. Bersama Insan (panggilannya), hadir pula Ruli Renata yang juga rekan pengurus ACT Pusat, Jakarta.

“Alhamdulillah kami sangat bahagia bisa bersilaturrahim ke Hidayatullah Pusat setelah sebelumnya sering berkunjung ke cabangnya di daerah-daerah,” ujar pria kelahiran Blitar ini.

Insan juga berharap agar silaturrahmi ini bisa terus berjalan dan saling bekerjasama dalam mewujudkan visi membangun peradaban mulia.

“ACT ini mempunyai tujuan yang relatif sama dengan Hidayatullah, yaitu membangun peradaban ummat melalui program kemanusiaan, kerelawanan, dan kedermawanan,” tambahnya.

Hadirnya tim dari ACT ini dalam rangka Silaturrahmi sekaligus diskusi bersama pengurus YPPH tentang kemanusiaan.

“Tentunya kami sangat berharap bisa saling membantu dengan Hidayatullah, apalagi kami (ACT, Red) sudah sering kerjasama dengan BMH (Baitul Maal Hidayatullah) dalam hal kemanusiaan,” ungkap Insan kepada media ini setelah bertaaruf di depan jamaah ashar.

Acara kemudian dilanjutkan diskusi ringan sekaligus foto bersama Pimpinan Umum Hidayatullah serta perwakilan dari Pengurus Harian YPPH Pusat.*/ Ahmad Munir

Polisi dan Dai Berperan sama Menjaga Kesatuan Bangsa

Silaturrahim Kapolres Balikpapan di Ponpes HidayatullahHidayatullah.com – Antara dai dan polisi punya hubungan sekaligus kesamaan yang erat di tengah masyarakat. Keduanya sama-sama menjaga persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia.

Pernyataan itu disampaikan oleh Ketua Yayasan Pondok Pesantren (YPP) Hidayatullah Balikpapan, Ustadz H. Zainuddin Musaddad dalam acara Silaturahim Kepala Kepolisian Resort (Kapolres) Kota Balikpapan di Pondok Pesantren Hidayatullah, Balikpapan (Kamis/04/02/2016).

Menurut Zainuddin, tugas utama seorang dai adalah membina masyarakat dan mengajarkan kepada mereka adab dan akhlak yang baik.

Sedang polisi bagi masyarakat adalah aparat pemerintah yang ditugasi menjaga ketertiban dan keamanan di tengah masyarakat.

“Bisa dikatakan tidak ada masalah antara kepolisian dengan dai atau pesantren,” ucap Zainuddin tersenyum.

Dikatakan Zainuddin, hubungan itu hendaknya senantiasa terjaga sebab ia sudah menjadi satu kesatuan kuat dalam menjaga keamanan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“(Jadi) polisi itu adalah sahabat dai dan santri dan dai serta santri adalah sahabat polisi,” ujar Zainuddin tersenyum kembali.

Dalam acara yang diadakan di Aula Serba Guna Pesantren Hidayatullah tersebut, Kapolresta Balikpapan Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Jeffri Dian Juniarta, SH, SIK juga mengingatkan akan ancaman terorisme yang berkembang saat ini.

Jeffri mengimbau agar masyarakat berhati-hati jika menerima berita, terutama yang bersumber dari internet atau dunia maya.

Menurut Jeffri, aksi terorisme yang terjadi biasanya melalui hubungan dan informasi yang diambil melalui dunia maya.

“Para santri harus pintar dan selektif dalam memilah berita di internet. Bisa jadi itu hanya hoax (kebohongan) dan karangan saja,” ucap Jeffri menerangkan.

Acara silaturahim yang diikuti oleh 300 orang santri dan warga pesantren tersebut berlangsung hingga siang hari.

Selain silaturahim dan kerjasama, diharapkan melalui acara tersebut para santri kian memahami tentang wawasan kebangsaan dan kewarganegaraan Indonesia.

“Iya, kami bersyukur bisa dapat tambahan ilmu dan wawasan baru tentang ini,” ucap Hakim, santri asal Cirebon.

Diketahui, selama ini Pesantren Hidayatullah menjalin hubungan baik dengan berbagai aparat pemerintah. Mulai dari pemerintah propinsi, pemerintah kota, hingga kepada aparat kepolisian dan TNI.

“Komitmen kami untuk menjadi mitra yang baik dengan aparat negara dalam membangun kemajuan bangsa ke depan,” pungkas Zainuddin menutup.*/ Rizki Kurnia Syah

Pemuda Hidayatullah sebagai Agen Perawat Kohesi Sosial

Syabab Hidayatullah MakassarHidayatullah.or.id – Pemuda Hidayatullah harus terus menguatkan peranannya sebagai perekat kemaslahatan di masyarakat dan menjadi instrumen penting terbangunnya kohesi sosial keummatan dimanapun berada.

Hal itu disampaikan Ketua Umum Syabab Hidayatullah Muhammad Naspi Arsyad dalam acara “Sekolah Sistematika Wahyu” berupa dialog kelembagaan yang digelar di Meeting Room Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah, Kota Makassar, Sulawesi Selatan, Senin (8/2).

“Peran fundamental dalam menjaga keberagamaan Islam di Indonesia telah menjadi corak khas Hidayatullah yang dirintis anak-anak muda sehingga dapat diterima dimana saja,” kata Naspi.

Pemuda Hidayatullah, tegas Naspi, harus turut menjaga kualitas serta mutu umat Islam Indonesia seraya berharap Hidayatullah dapat terus menjadi instrumen kohesi sosial dan perekat ukhuwah umat dengan menguatkan perannya menciptakan kedamaian dalam tubuh umat Islam dan bangsa tercinta.Syabab Hidayatullah Makassar2

Naspi mengingatkan bahwa kaum muda adalah bagaikan burung dengan sayap terbang yang sangat kuat. Meski realitanya, ada yang belum menyadari potensinya tersebut terutama potensi keimanan.

“Ketika seorang pemuda bertekad meleburkan diri dalam arus kemaslahatan sosial, maka itulah sayap terbang pemuda dalam mengeksiskan jatidirinya,” pungkas lelaki yang juga Direktur Pondok Tahfidz Qur’an Al Humairah, Sukabumi, Jawa Barat ini.

Sementara itu, Ketua PW Syabab Hidayatullah Sulawesi Selatan, Muhammad Robianto, menjelaskan acara ini sebagai media sharing konsep dakwah dan tarbiyah Hidayatullah dengan generasi muda Hidayatullah, terutama yang sedang menjalani proses perkuliahan di Makassar.

Robianto menegaskan bahwa perguruan tinggi adalah institusi akademik yang sangat strategis bagi semua organisasi, apapun bentuknya.

“Sejarah telah memaparkan bahwa perjalanan bangsa ini tidak terlepas dari peran kampus-kampus perguruan tinggi, terutama kalangan mahasiswa,” tukas Robianto.

Acara ini diikuti oleh 40-an mahasiswa se-Makassar. Acara yang digelar intensif selama 2 hari ini menghadirkan juga salah seorang tokoh senior Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Sulawesi Selatan, Ir Khairul Baits, yang kini menjadi Ketua Bidang Orgasni DPP Hidayatullah. (ybh/hio)

Berlakunya MEA Tuntut Dakwah Islam Harus Lebih Dinamis

Shofwan Al Banna ChairuzzadHidayatullah.or.id – Berlakunya pasar integrasi ekonomi negara-negara ASEAN atau MEA tidak saja mendesaknya kesiapan sumber daya manusia yang berkualifikasi, namun juga menuntut kegiatan dakwah Islam yang lebih dinamis dengan terobosan-terobosan kekinian.

Demikian kesimpulan yang berkembang dalam acara diskusi peluang dan tantangan dakwah Islam pasca MEA yang digelar Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah di Jakarta, belum laman ini dan ditulis Hidayatullah.or.id, Senin (8/2).

Sekretaris Eksekutif Pusat Studi ASEAN Universitas Indonesia (UI), Shofwan Al Banna Chairuzzad, yang menjadi narasumber diskusi ini, mengatakan ormas Islam perlu untuk turut menjadi bagian lokus otoritas pemantau negara.

Apalagi, menurutnya, Indonesia dengan beragam keelokannya tak ayal selalu menjadi pusat perhatian siapapun.

“(Namun) kita perlu mulai berfikir, Jakarta memang penting diperhatikan dengan basis sosialnya. Tapi daerah juga perlu dilakukan. Agar bagaimana aktifitas ekonomi dan dakwah saling bertautan. Kemaksiatan saja bisa berevolusi dengan teknologi, masa dakwah tidak bisa,” kata Shofwan Al Banna.

Kata Shofwan, secara demogrfik, umat Islam ASEAN merupakan elemen demografis terbesar dari seluruh umat Islam dunia. Menurutnya, komposisi demografi umat Islam ini yang lebih muda dibandingkan umat agama lain. Karena itu, menurutnya, tantangan umat Islam di ASEAN adalan percepatan kualitas sumberdaya insani.

Secara geografik, kawasan ASEAN, khsusunya Indonesia, masa kini jauh lebih penting dibandingkan sebelumnya karena memiliki 3 alur laut yang vital bagi perdagangan dan pergerakan sumber daya alam dunia.

Namun, bukan berarti tidak ada tantangannya terutama ancaman geopolitik kawasan. Bukan tidak mungkin, menurut Shofwan, konfrontasi antar kekuatan-kekuatan besar dunia akan terkonsentrasi di kawasan ASEAN, khususnya berusaha mempengaruhi pusat pusat kekuasan.

Karenanya, kata Shofwan, umat mesti turut berkonsentrasi memperkuat pengaruh dakwah di daerah daerah. Dengan jumlah penduduk Muslim berusia produktif di berbagai profesi di ASEAN khususnya di Indonesia berpotensi mempengaruhi masyarakat ASEAN dan Asia Timur menjadi lebih Islami dengan penyebarluasan tenaga kerja dengan misi dakwah.

“Dakwah juga harus memanfaatkan tren kekinian dan penguasannya, apalagi penyebarluasan inovasi teknologi di kawasan ASEAN akan semakin cepat,” tukasnya. (ybh/hio)

Syabab Hidayatullah Serukan Tolak Aksi Terorisme

0

Syabas Hidayatullah, LDMI dan FPP Jihad Melawan Aksi   TerorismeHidayatullah.or.id – Syabab Hidayatullah, organisasi kalangan pemuda ormas Hidayatullah, bersama Lembaga Dakwah Mahasiswa Islam (LDMI) Cabang Batam, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan Forum Pemberdayaan Pesantren (FPP) Kepri sepakat menentang adanya terorisme di Aula Pesantren Hidayatullah Batam, Sabtu (30/1) lalu.

”Islam tidak suka kekerasan. Terorisme adalah musuh bersama dan telah mengganggu stabilitas keamanan serta kerukunan umat beragama,” kata Ketua Forum Pemberdayaan Pesantren (FPP) Kepulauan Riau, Rizaldy Siregar, MA, mewakili komponen ormas kepemudaan dalam acara dialog keagamaan mengusung tema ‘Menjaga Kondusifitas Bermasyarakat dalam Konteks Kerukunan Umat Beragama’, Sabtu (30/1) lalu di Aula Pesantren Hidayatullah Batam.

Jihad melawan aksi terorisme katanya, adalah keharusan. Aksi terorisme kian merebak di tengah-tengah masyarakat. Tindakan terorisme telah menimbulkan rasa ketidaknyamanan melalui serangkaian tindakan tak berperikemanusiaan. Aksi bom bunuh diri, adalah salah satu dari sekian teror yang menganggu keamanan dan kedamaian.

Untuk mengatasi berbagai masalah dan tantangan tersebut, sangat diperlukan peran aktif seluruh elemen masyarakat. Terutama dalam hal mendeteksi sedini kemungkinan aktivitas teror yang ada di sekitar.

Kesepakatan bersama melawan terorisme ini ditanda tangani Kompol Firdaus dari Polresta Barelang, H. Zulkarnaen Umar, dari PMB Kota Batam, dan Abdul Razak dari akademisi.

Kompol Firdaus menyebutkan, masyarakat harus lebih proaktif dalam mencegah munculnya jaringan terorisme. Modus yang terjadi adalah pelaku terorisme tidak pernah menetap lama di lingkungan sekitar. Peran RT dan RW dalam mengawasi dan melayani masyarakat harus dimaksimalkan. (sta/hio))

Anderson Meage sebagai Tokoh Penjaga Toleransi di Papua

Almarhum H Anderson Meage, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Sorong ketika menghadiri acara pelatihan dai yang digelar di Pesantren Hidayatullah Sorong / dok
Almarhum H Anderson Meage (berbaju dinas) selaku Ketua Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Sorong ketika menghadiri acara pelatihan dai yang digelar di Pesantren Hidayatullah Sorong / dok
Almarhum H Anderson Meage, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Sorong saat masih hidup
Almarhum H Anderson Meage, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Sorong saat masih hidup

Hidayatullah.or.id – Jajaran ormas Hidayatullah di Kabupaten Sorong, Papua Barat, turut berbelasungkawa atas kepergian H Achmad Anderson Meage, SPdi, MPd. Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sorong tersebut wafat di RS Sele Be Solu, Sorong, Ahad, 21 Rabiuts Tsani 1437 (31/01/2016).

“Kami selaku Pengurus Daerah Hidayatullah Sorong merasa sangat kehilangan sosok beliau,” ujar pengurus PD Hidayatullah Sorong, Ustadz Syarif, saat dihubungi hidayatullah.or.id, Selasa (02/02/2016).

Menurutnya, almarhum adalah Muslim asli Papua yang sangat peduli terhadap semua golongan agama dan kalangan sosial setempat. Anderson Meage, kata dia, juga tokoh yang selalu menekankan pentingnya menjaga toleransi antar umat beragama.

“Terbukti Sorong adalah daerah yang paling aman di Indonesia dan sempat mendapatkan apresiasi dan penghargaan dari MUI Pusat yang dilaksanakan di alun-alun Kabupaten Sorong,” ungkapnya.

Dalam kurun waktu 10 tahun Anderson Meage berada di Sorong, semua kalangan sudah mengenal sosoknya. “Dikarenakan jasa-jasanya terhadap umat sangat dirasakan,” ungkapnya.

Menurut Syarif, Anderson Meage pernah mengungkapkan kepadanya bahwa dia telah membuat konsep dan peta dakwah di Papua Barat.

“Salah satu yang beliau ingin wujudkan adalah, di setiap kota maupun pedalaman harus ada seorang tokoh yang mampu menyatukan simpul-simpul umat,” ujarnya.

Sosok Tegas

Di samping itu, ia mengatakan, Anderson Meage memiliki sikap yang tegas terhadap penyimpangan-penyimpangan dalam Islam.

“Baru-baru ini beliau dengan tegas selaku Ketua MUI memulangkan secara terhormat kelompok Gafatar (Gerakan Fajar Nusantara) yang sempat eksis di Kabupaten Sorong,” ujarnya.

“Beliau sangat berani melawan arus dalam memperjuangkan kebenaran,” tambah dai yang sekitar setahun menjadi Ketua DPD tersebut.
Anderson Meage pun, diakuinya, sering bersilaturahim ke Pondok Pesantren Hidayatullah Sorong. “Rumah beliau hanya berjarak 500 meter dari pondok,” terangnya.

Almarhum pernah menyampaikan harapannya agar Hidayatullah terus terlibat dalam pembinaan umat di Sorong.

“Karena Hidayatullah punya prestasi yang bisa eksis di tengah-tengah masyarakat, dan telah tersebar di seluruh pelosok Indonesia,” ujar Anderson Meage ditirukan Syarif. Semasa hidup, almarhum juga merupakan Ketua Forum Komunikasi Antar Umat Beragama (FKUB) Sorong .* (Skr aljihad)