Hidayatullah.or.id — Personel Komando Sektor Pertahanan Udara Nasional IV/Biak atau Kosekhanudnas IV/Biak melaksanakan kegiatan sosial berupa penanaman pohon di lokasi perkebunan Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah, Desa Moibaken, Distrik Biak Barat, Sabtu (8/8) lalu.
Pada kegiatan ini dipimpin langung oleh Pangkosekhanudnas IV Kolonel Pnb Nanang Santoso yang diterima langsung oleh pimpinan Pondok Pesantren Hidayatullah Biak, Ustadz Muhammad Panji.
Dalam arahannya di hadapan personel Kosekhanudnas IV sebelum pelaksanaan pohon Pangkosekhanudnas IV menekankan agar dalam melaksanakan penanaman pohon ini dilaksanakan dengan sebaik-baiknya selain sebagai ladang amal bagi kita semua, kata beliau, juga diharapkan tanaman yang kita tanam dapat bermanfaat bagi orang lain ke depan.
Adapun jenis tanaman yang ditanam adalah tanaman buah-buahan yang diharapkan kelak dapat bermanfaat bagi warga Pondok Pesantren Hidayatullah yaitu tanaman pisang 30 buah, rambutan 25 buah, kelapa 30 buah, kelengkeng, sawo, durian dan jeruk 15 buah.
Pada kesempatan ini Pangkosekhanudnas IV Kolonel Pnb Nanang Santoso berkesempatan meninjau kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan oleh Pondok Pesantern Hidayatullah di lokasi perkebunan diantaranya peternakan ayam kampung, sapi dan kambing.
Sementara itu, pimpinan Pondok Pesantren Hidayatullah Biak, Ustadz Muhammad Panji, dalam kesempatan tersebut menyampaikan terimakasih dan apresiasi yang tinggi kepada jajaran Kosekhanudnas IV/Biak yang selama ini memiliki kepedulian yang sangat tinggi terhadap kegiatan sosial di masyarakat tak terkecuali terhadap pesantrennya.
Menurut Ustadz Panji, personel-personel Kosekhanudnas IV/Biak, konsisten mendedikasikan diri dalam pengabdian melayani masyarakat. Hal ini menurutnya semakin mendekatkan rakyat dengan TNI kita yang mungkin masih banyak masyarakat yang menganggapnya menakutkan.
“Padahal TNI khususnya personel Kosekhanudnas IV sangat simpatik dan ramah. Kepedulian dan loyalitas mereka juga sangat membanggakan. Nilai-nilai kejuangan itulah yang menurut kami juga sangat penting dibagikan kepada para santri di pesantren kita ini,” pungkas Ustadz Panji. (ybh/hio).
Hidayatullah.or.id — Semua pendidik, baik guru, asatidz, dalam mengajar jangan pernah berorientasi hanya untuk mengejar materi dunia. Tetapi harus mengajar dan mendidik karena panggilan keimanan dan jihad untuk melahirkan generasi militan untuk membawakan Islam.
“Dengan panggilan iman serta semangat jihad untuk mengerahkan segala potensi yang ada, semua akan ada nilainya di hadapan Allah bahkan akan terasa ada kemudahan serta tidak cepat letih dalam berjuang,” demikian kata anggota Dewan Syuro Hidayatullah, Ustadz Nashirul Haq, Lc, MA saat memberi tausyiah di Kota Balikpapan, Selasa (04/08/2015).
Lebih jauh, ia berpesan pada semua pengasuh dan pendidik di sekolah Hidayatullah akan pentingnya keteladanan dalam spritual, mental serta moral itu mutlak harus dimiliki oleh seluruh pendidik, ujar anggota Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kaltim ini.
Menurutnya, generasi muda Hidayatullah saat ini mungkin lebih hebat keilmuannya, lebih luas wawasannya, lebih terampil skill-nya, lebih tinggi pendidikannya, serta lebih panjang gelarnya. Namun masih kurang keikhlasannya.
“Masih jauh dibandingkan generasi awal, dari spirit ghirah perjuangan, spiritualitas, keikhlasan, ketaatan dan ketekunannya,” ujarnya.
Menurutnya, hal-hal terbaik dari para pendahulu harus diwarisi, temasuk semangat dan keikhlasan dalam berjuang.
“Jangan ada mata rantai spirit perjuangan yang terputus dan sanad yang tidak jelas dalam perjuangan,” tegas kandidat Doktor di International Islamic University Malaysia (IIUM) ini.
Generasi muda Hidayatullah, kata Nashirul, harus menjadi kader seperti kunci Inggris yang bisa dipakai dan diberi amanah apa saja, di mana saja dan kapan saja. Sebagaimana semangat para kader awal yang kurang lebihnya telah berhasil mengawali dan merintis pesantren sampai ke pelosok Nusantara.
“Para guru dan asatidz harus menjadi yang pertama untuk menjadi teladan dalam transformasi ilmu, nilai, norma, keyakinan serta semangat,” tegasnya.*/ Masykur
Hidayatullah.or.id — Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Timika menggelar acara silaturrahim dan halal bihalal dihadiri ratusan peserta yang bertempat di Aula Sekolah Integral Hidayatullah Timika, Papua, Sabtu (8/8) lalu.
Acara gawean Silaturrahim Syawal oleh Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Timika ini selain dihadiri para wali murid santri dan warga masyarakat sekitar, pada gelaran tersebut juga menghadirkan Sekretaris Daerah Timika Ausilious You, Ketua Dewan Masjid Indonesia Ustadz Abdul Wahab Elwahan MM, dan beserta simpatisan Pesantren Hidayatullah se-Kabupaten Mimika.
Dalam materinya, Ustadz Abdul Wahab mentaushiahkan pentingnya kaum muslimin dimana pun berada untuk senantiasa meningkatkan ukhuwah Islamiah yang kelak akan menambah kuantitas serta kualitas ibadah.
Selain itu, beliau menekankan pentingnya menjaga hubungan baik dalam hubungan antar pemeluk agama. Sebab, kata dia, saling pengertian yang baik dalam hubungan sosial dan keagamaan tanpa harus mengakui atau memaksakan keyakinan kepada pihak lain, telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam sebagaimana tertuang dalam Al Qur’an Surah Al Kaafirun.
“Sebagai manusia dalam kehidupan ini, kita adalah sesama saudara sekemanusiaan sehingga marilah juga kita menjaga ukhuwah insaniyah,” ujarnya.
Sejatinya Islam telah menuntun umatnya untuk selalu menjalani kehidupan yang sesuai koridor yang telah ditetapkan Tuhan. Karenanya, dia juga mengimbau para hadirin untuk menjaga ukhuwah ‘ubudiyyah, yakni persaudaraan karena sesama makhluk yang tunduk kepada Allah.
Ustadz Wahab juga menekankan pentingnya menjaga ukhuwah wathaniyyah wa an-nasab, yakni persaudaraan karena keterikatan keturuanan dan kebangsaan. Serta terjaganya ukhuwah diniyyah, persaudaraan karena seagama.
Beliau mengingatkan, manusia diciptakan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa. Dengan bersuku-suku, ras dan bangsa mereka merupakan nama-nama untuk memudahkan, sehingga dengan itu kita dapat mengenali perbedaan sifat-sifat tertentu.
Dia menegaskan, bahwa semua kita sama dihadapan Allah Ta’ala, yang membedakan adalah takwa kepada-Nya. Karenanya, jelas beliau, antara persaudaraan iman dan persaudaraan nasional atau kebangsaan tidak perlu terjadi persoalan alternatif, tetapi sekaligus all at once.
Seorang Muslim, menurut Ustadz Wahab, menjadi nasionalis dengan paham kebangsaan yang diletakkan dalam kerangka kemanusiaan universal. Dengan demikian, kata dia, ketika seorang Muslim melaksanakan ajaran agamanya, maka pada waktu yang sama ia juga mendukung nilai-nilai baik yang menguntungkan bangsanya.
“Memupuk keimaman merupakan suatu kewajiban diantaranya dengan gemar bersilaturahim dan beribadah demi menuju peradaban Islam,” ungkapnya semangat.
Sementara itu, pengurus Pondok Pesantren Hidayatullah Timika, Ustadz Munawir Situmorang, mengajak kaum muslimin untuk bersama peduli terhadap pembangunan Masjid yang saat ini sedang berjalan dan pemberantasan buta baca Al-Qur’an di wilayah tersebut melalui penyeberan Wakaf Sejuta Al-Qur’an di Papua.
“Bapak Ausilius sebagai non-muslim pun ikut berpartisipasi lima juta rupiah dalam pembangunan masjid tersebut. Subhanallah inilah gambaran kerukunan umat beragama di Papua,” ungkap Munawir.
Lebih lanjut Munawir berharap kerukunan antar umat beragama ini terus terjaga dan damai, sehingga kita bisa fokus pada program-program pembinaan serta pemberdayaan masyarakat pedalaman Papua yang masih minim pendapatkan pendidikan yang layak.
“Besar harapan kita semua tidak ada “Tolikara” kedua, sehingga proses pembinaan serta pemberdayaan masyarakat Papua khususnya di dunia pendidikan bisa terus dimaksimalkan,” ungkap pria asli Batak ini penuh harap.
Diakhir acara yang dihadiri 700 peserta tersebut khitmat dengan rangkain do’a bersama demi kedamaian dan kemajuan tanah Papua. (ybh/hio)
BACA dan ikuti berita lengkap Buletin Hidayatullah edisi Agustus 2015 ini. Bagi yang belum mendapatkan filenya dapat mengunduhnya di sini.
BULETIN HIDAYATULLAH adalah media informasi dan silaturrahim ormas Hidayatullah yang terbit reguler setiap bulan. Buletin ini diedarkan melalui saluran transimi virtual seperti email dan sejenisnya tanpa dikenakan biaya alias gratis bagi siapa saja yang ingin berlangganan.
Kami sangat merekomdendasikan supaya Anda menggunakan peramban (browser) Google Chrome atau Baidu Sparkketika mengunduh (download) Buletin Hidayatullah ini untuk mendapatkan akses cepat dan kustomasi tampilan yang lebih dinamis. Download Buletin Hidayatullah di bawah ini:
Hidayatullah.or.id — Komisi Pengawasan dan Perlindungan Anak Daerah (KPPAD) Kepulauan Riau memberi penghargaan kepada Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Toapaya Bintan dan Yayasan Pesantren Hidayatullah Karimun.
Penghargaan itu diberikan karena prestasi dan kontribusi kedua yayasan tersebut dalam pelindungan anak dalam kategori Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak di wilayah tersebut.
“Banyak komunitas atau organisasi yang peduli terhadap permasalahan anak. Penghargaan diberikan lantaran secara konsisten memberi pendidikan secara gratis kepada anak-anak dari keluarga kurang mampu,” kata Ketua Komisi Pengawasan dan Perlindungan Anak Daerah Kepulauan Riau (KPPAD Kepri) Erry Syahrial di Kundur, Karimun, Senin lalu.
Dia mengatakan, penghargaan ini diberi nama Kepri Award-Child Awareness 2015. KPPAD juga memberikan penghargaan serupa kepada pengajar muda Komunitas Bakti Bangsa (KBB) dalam kategori khusus kepada mahasiswa yang tergabung dalam KBB.
Selain memberi pendidikan khusus, komunitas ini juga memberi pendidikan moral, kewarganegaraan dan agama. Penghargaan serupa diberikan kepada Komunitas Media Sosial Wajah Batam.
Penghargaan turut diberikan oleh Gubernur Kepri HM Sani dan Bupati Karimun Nurdin Basirun di sela-sela acara peringatan Hari Anak Nasional.
“Ada 11 lembaga dan perorangan yang menerima penghargaan Kepri Award-Child Awareness,” katanya dikutip kantor berita Antara.
Erry mengemukakan, KPPAD Kepri memberi penghargaan kepada Badan Pemberdayaan Masyarakat, Perempuan dan Keluarga Bintan dan Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana Natuna.
“Penghargaan itu diberikan untuk kategori satuan kerja perangkat daerah responsif anak,” ujarnya.
Sementara penghargaan untuk Kategori Perseorangan diberikan kepada pimpinan Rumah Singgah Tepak Sirih Tanjungpinang Lilis Suciati. Penerima penghargaan untuk kategori lembaga aparat penegak hukum ramah anak yakni Polsek Tanjungpinang Timur.
Dalam kategori Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak, penghargaan diterima Pondok Pesantren Hidayatullah Toapaya, Bintan dan Yayasan Hidayatullah Karimun.
Lalu, kategori media ramah anak diberikan kepada Batam Pos, sedangkan kategori untuk rumah sakit peduli korban anak diberikan kepada Rumah Sakit Sayang Ibu Batam. Terakhir, Penghargaan untuk kategori profesi pendamping anak diterima Mahmud Saltut, yang sehari-hari bekerja sebagai psikolog. (ybh/hio)
Hidayatullah.or.id — Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Melaporkan kekeringan yang melanda Indonesia telah meluas di 16 Provinsi meliputi 102 Kabapaten/Kota dan 721 Kecamatan sejak akhir Juli 2015 lalu. Bahkan diprediksi kondisi ini akan berlanjut hingga akhir tahun ini.
Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah (Laznas BMH) melalui jaringannya di 70 kantor cabang di Indonesia telah menyiapkan serangkaian program tepat sasaran untuk mengantisipasi kekeringan yang lebih luas di daerah.
“LAZNAS BMH telah jauh-jauh hari mengantisipasi hal ini, terutama dengan meluncurkan program Qurban plus Sedekah Air Bersih,” ungkap Imam Nawawi selaku Humas BMH Pusat belum lama ini.
Sejauh ini BMH sebagai Lembaga Amil Zakat Nasional turut aktif berkontribusi dalam mengantisipasi krisis air bersih serta pembuatan tandon air secara pemanen sehingga masyarakat jauh jauh hari dapat mengantisipasi kekeringan yang melanda.
Diantaranya sebagian tepat telah berdiri tandon air di daerah Gunung Gimbal, Dusun Ngeropoh, Dusung Kenongo Sari Wonogiri, Gunung Kidul, Dusun Kembang Yogyajakarta, NTB.
Dan, program ini, sebut Nawawi, akan terbelanjut hingga Desa Sawahan Trenggalek, Kaliporo Banyu Wangi, Kec. Ngoro dan Kutorejo Mojokerto, Ds Batu Mar-Mar Madura Pemakasan, Desa Kladi dan Talanggulangin Bondowoso, Desa Puncu Pare Kediri, Kuripan Probolinggo, Merauke Papua, dan daerah lainnya.
Lebih lanjut Nawawi mengungkapkan, BMH bisa menjadi sahabat terbaik para dermawan dalam peduli terhadap saudara-saudara kita yang dilanda kekeringan di berbagai daerah di Indonesia.
“BMH dengan jaringan yang dimilikinya yang cukup luas di negeri ini sangat memungkin bisa menembus daerah daerah terpencil dan pedalaman di negeri ini, Insya Allah serentak BMH siap untuk membawa kebahagiaan bagi mereka,” sambung Nawawi.
Selain itu Marwan Mujahidin selaku Direktur Oprasional BMH mengungkapkan akan terus mengoptimalkan penyalurkan air bersih bagi daerah-daerah yang dilanda kekeringan yang berada diberbagai daerah.
“Ratusan kecamatan dilanda kekeringan hingga krisis air bersih, ini saatnya kita bertindak berbagi kebahagian bagi saudara kita di didaerah bersama BMH,” ungkapnya.
Salurkan donasi anda melalui Mandiri 006.000.4955.658 atau melalui kantor cabang BMH terdekat di kota anda. (ybh/hio)
Hidayatullah.com — Pimpinan Umum Hidayatullah, KH. Abdurrahman Muhammad, mengingatkan kepada kaum muslimin khususnya kader mujahid dakwah Hidayatullah agar bersungguh-sungguh mengoptimalkan waktu setiap aktifitas yang dijalani dalam rangka mengabdi kepada Allah Ta’ala untuk memberi karya terbaik untuk agama Islam dan umat.
Beliau menegaskan, kita perlu optimal memberikan waktu berfikir, merenung, bertawajjuh berdoa untuk melahirkan generasi yang sholeh dan berkarakter pejuang.
“Iman itu bersifat ekspansif dan ingin selalu memberikan terbaik untuk Islam. Tidak cukup waktu 24 jam untuk amanah yang besar,” kata beliau dalam taushiah di Masjid Ar Riyadh, Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, belum lama ini.
Kalau tidak dilakukan maksimal, lanjut beliau, maka kita akan ketinggalan kereta, ketinggalan zaman.
Para penuntut ilmu pun diingatkan harus meluruskan niat. Beliau mengingatkan kepada para penuntut ilmu untuk memahami betul apa sesungguhnya tujuannya menuntut ilmu.
Ilmu, kata beliau, bukanlah untuk gagah gagahan, bukan untuk menguasai, bukan hanya untuk dikatakan bisa ini dan itu, tidak untuk berdebat. Ilmu bukanlah untuk mengkibiri orang yang bodoh, bukan untuk dunia dengan bisa mengajar ke sana sini dengan imbalan materi.
“Ilmu adalah untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala, memberikan kontribusi yang terbaik untuk Islam dan Muslimin. Jadi, niat dan idealisme penuntut ilmu harus lurus. Banyak tokoh umat Islam yang lahir dari Haramain, karena mereka menuntut ilmu dengan idealisme perjuangan. Sehingga mereka pulang dari Haramain menjadi pejuang Islam. Seperti Jamaludin al Afghani, Ahmad Dahlan, Hasyim Asyaari,” imbuh beliau.
Lebih jauh beliau juga berpesan, para pendidik harus meluruskan niat bukan semata untuk mengejar fulus. Setiap pendidik harus menyempurnakan ikhtiarnya dalam menjalankan amanahnya mendidik santri dengan profesional dan bertanggungjawab.
“Jangan menjadi orang beriman yang tidak profesional. Artinya, orang beriman harus berilmu, belajar, dan berlatih untuk menyempurnakan keimanannya. Tidak ada gunanya membaca sejarah, tidak ada manfaatnya mengenal tokoh tokoh pejuang islam, kalau tidak ada spirit untuk mengaplikasikan atau meneladani semangat para tokoh, pejuang islam tersebut,” ujarnya.
Beliau juga menukaskan bahwa sejatinya para pendidik bukanlah menggunakan waktu sekadarnya mengajar untuk mendapatkan fulus. Jangan hanya waktu singkat untuk mengajar di kelas. Dalam kehidupan ini, tegas beliau, seorang pendidik harus betul-betul harus membimbing anak muridnya dengan optimal. Bukan waktu-waktu yang tersisa.
Orang beriman, kata beliau, mestinya mampu membuat perubahan dan dapat menyelesaikan bengkalai bengkalai masalah umat. Termasuk dipertanyakan, orang yang sering bolak balik ibadah ke Haramain tapi pulang tidak menangkap spirit perjuangan Islam.
Dakwah Islam Pekerjaan Besar
Pada kesempatan taushiah tersebut, pimpinan yang karib disapa ustadz oleh para santri, ini juga menekankan pentingnya memahami bahwa dakwah Islam adalah sebuah pekerjaan besar lagi mulia yang tentu pengembannya pun adalah orang-orang luar biasa.
“Tidak ada pekerjaan kecil jika dihubungkan dengan keimanan. Termasuk yang kita terima dan kita tolak, kalau menyikapi dengan keimanan maka menjadi bernilai besar,” pesan beliau.
Beliau mencontohkan, ketika Rasulullah Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam memasuki Madinah, maka semua kaum Anshor menyambutnya dengan gembira. Kedatangan Rasulullah dan para sahabatnya itu disambut hangat dengan memberikan pelayanan yang terbaik.
Termasuk ketika itu Ummu Sulaim yang miskin turut menyerahkan putranya yaitu Anas bin Malik untuk mengabdi kepada Rasulullah. Sehingga akhirnya Anas bin Malik menjadi salah satu sahabat besar dan berperan besar.
Menapaktilasi perjalanan dakwah dan pengabdian Hidayatullah untuk umat, Ustadz Abdurrahman menyebutkan bahwa Allaahuyarham Abdullah Said sejatinya adalah pemberian Allah Ta’ala untuk kita untuk perjuangan keislaman.
Abdullah Said, kata beliau, senantiasa memberikan pencerahan tentang tauhid, keimanan dan perjuangan. Abdullah Said menancapkan pondasi tauhid yang kuat kepada santri awal, membesarkan jiwa jiwa untuk mengemban amanah besar, membangun optimisme meskipun secara fisik kita kecil, financial minim, fasilitas terbatas, dan jumlah sedikit.
“Itulah yang menjadi pondasi perkembangan besar bagi dakwah Islam melalui Hidayatullah. Sehingga, semangat revolusioner dan progresif harus ada pada generasi muda untuk melakukan perubahan besar dengan program besar. Perubahan yang bisa dipertanggungjawabkan.,” pesannya.
Pencerahan-pencerahan yang disampaikan pendiri Hidayatullah itu kemudian menjadi idealisme yang senantiasa terkomando dan terpimpin.
Karenanya, beliau menegaskan, tanpa adanya ketaatan komando dan kepemimpinan maka berat bagi Hidayatullah untuk melakukan karya-karya revolusioner progresif untuk umat dan agama ini.
“Kita memerlukan tokoh dan pemikir muda yang bisa melawan penjajah baru, kolonialisme baru, perang pemikiran, dan tantangan aliran penoda Islam. Kita harus berenergi besar sehingga berjiwa besar, berpandangan luas. Meskipun kita masih kecil dan ada di pinggir kota,” pungkasnya seraya berpesan. */ Paryadi Abu Yasin
Pimpinan Umum Hidayatullah, KH. Abdurrahman Muhammad, berbincang dengan Rais ‘Aam PBNU (1991-1992) KH. Ali Yafie.
Hidayatullah.or.id — Generasi muda Hidayatullah ke depan dituntut untuk memiliki pemahaman yang lebih baik tentang sejarah dan tradisi gerakan Hidayatullah. Mereka harus membaca dan mengikuti sejarah perjuangan Hidayatullah dari awal.
Demikian ditegaskan Pimpinan Umum Hidayatullah, KH. Abdurrahman Muhammad, dalam acara tasyakuran sederhana pulang dari umroh tanah suci di Masjid Ar Riyadh Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, Ahad (03/08/2015) kemarin.
Pada kesempatan tersebut, beliau menancapkan tekad optimal ibadah dan mempertajam inspirasi di bulan Ramadhan yang dijalani beliau di tanah Haramaini.
Beliau menegaskan, apabila kader Hidayatullah tidak memahami sejarah dan tradisinya, maka generasi ke depan hanya bisa menyalahkan apa yang telah dilakukan oleh generasi pendahulu.
“Sehingga, generasi muda perlu meluaskan wawasan kejuangan dari sejarah. Generasi muda Hidayatullah harus memahami, mengapa Hidayatullah bisa berkembang seperti ini. Bisa eksis sampai sekarang,” katanya.
Berdirinya Hidayatullah dan kemudian hadir di hampir semua pelosok nusantara tentu bukan perjalanan asal asalan, tiba tiba, dan tidak sederhana. Itu semua, kata beliau, perlu kerja keras, mujahadah, dan doa dari pendahulu.
“Masih banyak program dan proyek lembaga ke depan yang lebih baik. Perjalanan Hidayatullah ke depan perlu menyempurnakan ikhtiar dan meluaskan metode dakwah untuk bisa diterima masyarakat secara luas,” ujarnya.
Sehingga, tegas beliau, kader Hidayatullah jangan terlibat dan terjebak dalam perbedaan dan perdebatan amalan amalan yang bersifat ikhtilaf. Karena semua ada dalihnya dan bisa memutuskan tali silaturahmi dengan orang atau harakah lain.
“Siklus sejarah akan terus berputar. Kaum Sunni sedang mengalami perpecahan di sana sini, kehilangan tokoh spritual pemersatu kaum Sunni. Sehingga yang terjadi perdebatan-perdebatan yang merongrong persatuan umat, merusak ukhuwah islamiyah,” jelasnya.
Beliau menyebutkan, dunia Islam saat ini sedang dalam jebakan konspirasi global yang dimotori oleh Amerika, Israel dan Iran. Mereka disebut akan melakukan demokratisasi di negera negara Timur Tengah. Sehingga kemudian semakin lemahlah dunia Islam dengan runtuhnya kerajaan kerajaan Islam.
Serangkaian konspirasi itu terbukti setelah jatuhnya negara negara Timur Tengah satu persatu seperti Irak, Afghanistan, Yaman dan lain-lain. Target akhirnya adalah ingin menguasai Haramain.
Umat Islam Bersatu
KH. Abdurrahman Muhammad dalam kesempatan silaturrahim tersebut juga mengemukakan bahwa pergolakan antara Sunni dan Syiah belum berakhir bahkan akan semakin bergolak. Termasuk dengan semakin gencarnya opini mempertentangkan Sunni dengan Wahabi.
Mereka sangat kuat permusuhannya terhadap kaum Sunni. Mereka ada desainer, pemikir ulung, bermata besar, telinga lebar, untuk melakukan perubahan dunia dengan makar atau konspirasi kapitalisme, materialisme, dengan politik demokratisasi.
“Inilah marhalah ujian zaman. Meskipun sepertinya kaum Sunni terlihat lemah dan tercerai berai. Tapi, Insya Allah, Sunni yang akan memimpin dunia. Karena masih ada tokoh tokoh Sunni yang suci, bersih, dan tidak terlibat atau terpengaruh dengan materialisme,” imbuhnya.
Kepada para kader Hidayatullah, beliau berpesan, agar tidak perlu sibuk dengan apa yang dikatakan orang tapi berkonsentrasi kepada program yang telah dicanangkan.
“Kehadiran Hidayatullah bukan untuk menyaingi siapa siapa, bukan untuk mengganggu siapa siapa. Sehingga tidak perlu merasa superior atau risau. Tidak mudah menyalahkan orang lain juga, atau menghukumi,” ujarnya.
Karenanya, lanjut beliau, kita perlu mempertajam spiritualitas. Seperti kisah Abu Bakar yang risau di Gua Tsur karena musuh musuh sudah di depan gua. Sehingga Nabi Muhammad mengatakan innallah ma’ana.
Maka perlu menterjemahkan idealisme dan spritualitas dalam tatanan kehidupan bermasyarakat melalui program dan kebijakan yang disertai kearifan.
Beliau juga mengungkapkan, ada dua ideologi yang berkembang di dunia Islam saat ini. Pertama, ideologi hukum yaitu para fuqaha. Kedua, ideologi berbasis spritual yaitu para sufi.
Keduanya menurut beliau ada dikotomi, bahkan sempat berlawanan. Karena dianggap ada penyimpangan dari salah satunya.
“Hidayatullah tidak memakai (kedua) istilah tersebut pun tidak menolaknya. Tapi berusaha memadukan keduanya. Karena itu sudah bagian dari khazanah sejarah Islam,” kata beliau seraya menambahkan sudut pandang orang memang berbeda, sehingga harus bijaksana ketika menyikapi perbedaan. Tidak terjebak dengan perdebatan.
Beliau mencontohkan, ada yang berpendapat bahwa ziarah ke tempat tempat sejarah Rasulullah tidak ada pahalanya. Padahal berziarah ke tempat tempat bersejarah Islam seperti Gua Tsur, Hira, Jabal Rahmah, dan lain-lain, di sana ada pesan perjuangan, spirit pengorbanan dan kerja keras. */ Abu Yasin
Hidayatullah.or.id — Silaturrahim dilakukan adalah dalam rangka mempertemukan dan menjaga hal-hal yang esensial. Dari situ, silaturrahim itu akan menguatkan hal-hal yang prinsip.
Demikian disampaikan Pimpinan Umum Hidayatullah, KH. Abdurrahman Muhammad, dalam pengarahannya pada acara Silaturrahim Syawal 1436 H di Masjid Ar-Riyadh, Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, Ahad, (26/7) lalu.
Dihadapan seluruh unsur pengurus Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Hidayatullah se-Pamasuka (Papua, Maluku, Sulawesi, dan Kalimantan) tersebut, pimpinan yang karib disapa ustadz ini menekankan kepada para kader dakwah Hidayatullah untuk memperhatikan dua hal.
Pertama, mempertajam idealisme yang secara kongkrit dapat menjadi kultur. Secara kelembagaan, idealisme yang menjadi kultur harus menjadi kebijakan lembaga Hidayatullah.
“Terlebih lagi, adanya beberapa kampus utama yang menjadi prototype diharapkan mampu menjadi acuan kampus lain dalam ber-fastabiqul khairat untuk selalu berbuat kebaikan dan amal,” kata beliau.
Kedua, beliau mendorong para kader untuk terus menguatkan konsolidasi kepemimpinan. Dihadapan puluhan pengurus yang mengikuti acara, beliau menyatakan bahwa pengabdian merupakan kata kunci kepemimpinan.
“Visi kepemimpinan adalah pengabdian. Dan, tidak ada ambisi untuk menjadi pemimpin. Sebab para Rasul dan Nabi adalah pemimpin yang mengabdikan dirinya untuk Allah,” pesannya.
Para pejuang Islam itu revolusioner, progresif, terkomando, terpimpin, semangat dan takbir. Sebagaimana perintah Allah bahwa setelah selesai puasa diperintahkan untuk bertakbir. Filsofinya adalah semangat untuk membesarkan nama Allah Ta’ala semata, imbuhnya lagi.
Beliau menukaskan, umat Islam dan khususnya para kader harus memahami bahwa para Rasul dan Nabi diutus untuk memberikan pencerahan kepada umat. Pencerahan berupa transformasi risalah ilahiyah kepada masyarakat.
“Itulah spirit yang harus kita (kader Hidayatullah) warisi,” imbuhnya. Beliau menambahkan, begitu banyak urusan umat Islam yang perlu dilakukan, maka wajib adanya ekspansi dakwah sebagai upaya untuk menguatkan pengkaderan.
“Oleh karena itu, silaturahmi ini merupakan wasilah (untuk kedua prinsip di atas). Semangat membawa beban, semangat, pandangan, dan ide, serta gagasan. Itulah yang harus kita disatukan,” pungkasnya. */Abu Yasin
Hidayatullah.or.id — Pimpinan Umum Hidayatullah, KH. Abdurrahman Muhammad, mengungkapkan optimismenya terhadap sukses proses regenerasi yang berlangsung di gerakan organisasi masyarakat (ormas) Islam, Hidayatullah.
Hal itu diutarakan beliau ketika bersilaturrahim dengan seluruh Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) se-Pamasuka (Papua, Maluku, Sulawesi, dan Kalimantan) di Pondok Pesantren Hidayatullah Balikpapan, Ahad (26/7) lalu.
“Saya sangat beruntung, sebab menjelang Munas (Musyawarah Nasional) mendatang, harapan untuk alih generasi generasi pelanjut atau generasi transisi terasa nyata. Apalagi rekayasa untuk selalu ada alih konsepsi,” kata beliau.
Dengan optisime tersebut, lanjut beliau, para senior lembaga Hidayatullah tidak perlu menangis bersedih, apalagi khawatir dengan kelanjutan generasi pelanjut gerakan dakwah dalam tubuh Hidayatullah.
“Karena Insya Allah, hal ini bukan seperti ayam yang melahirkan itik. Yaitu, generasi yang membawa kultur baru, tapi sudah paham dengan perjuangan,” katanya.
Bahkan, beliau menegaskan, pergerakan dakwah Hidayatullah bisa lebih berpengaruh dan mewarnai harakah lain baik di nusantara maupun dunia internasional.
“Isyarat ini bisa kita lihat dengan semakin tumbuhnya generasi muda Hidayatullah. Terutama generasi muda yang semangat mencari ilmu. Baik (mereka) yang di Timur-Tengah, Malaysia dan (yang) di dalam negeri,” timpalnya.
Menurutnya, keberuntungan hidup dalam perjuangan Hidayatullah adalah terkondisinya lingkungan untuk melahirkan generasi yang lebih baik. Yakni generasi kader yang mewakafkan dan mengabdikan hidupnya untuk perjuangan Islam. Yang tidak terpengaruh dengan kemerincingnya perak, hiruk pikuk politik, budaya dan gemerlap dunia.
Namun, beliau mengingatkan, generasi baru ini juga harus memahami sejarah perjalanan dan tujuan perjuangan Hidayatullah. Bahwa para pendiri dan perintis mendirikan Hidayatullah bukanlah spontanitas atau asal-asalan (tiba-tiba), atau bukan hanya menambah jumlah pesantren.
Lahirnya Hidayatullah dilakukan secara sadar oleh pendirinya dengan belajar dari pengalaman panjang yang telah dilewati. Apalagi penggagas dan pendiri Hidayatullah, Allahuyarham Ustad Abdullah Said, dikelilingi oleh para ulama, hafidh, dan berada dalam keluarga yang kuat agamanya.
Menurut pimpinan yang karib disapa ustadz ini, Abdullah Said juga juga merupakan seorang yang luas wawasan terhadap perjuangan Islam, dakwah, dan tarbiyah, baik lokal (Sulawesi), nasional maupun internasional.
Pada tahun 1974 almarhum Abdullah Said pernah bertemu Buya Hamka di rumahnya. Abdullah Said, lanjut beliau, adalah tokoh Islam yang bisa diterima oleh semua pihak. Sebagai seorang orator sekaligus sastrawan, sehingga semua orang kagum dan tertarik mendengarkan pidato Ustadz Abdullah Said.
“Maka perlu disadari dan dipahami bahwa Hidayatullah lahir dengan tidak meniru (pergerakan) yang lain. Kalau sama saja, maka tidak perlu lahir Hidayatullah,” pesannya. */Abu Yasin