Hidayatullah.or.id — Untuk melahirkan kader dakwah yang unggul dan berkarakter, Pengurus Wilayah Hidayatullah Sulawesi Selatan (PW Hidayatullah Sulsel) menggelar pengkaderan melalui diklat dasar atau Daurah Marhalah ‘Ula di Pondok Pesantren Hidayatullah, Towuti selama 3 hari, yakni mulai 26 -28 September 2014 lalu.
Ketua Pengurus Wilayah Hidayatullah Sulawesi Selatan H. Abdul Majid, MA mengatakan kegiatan ini diselenggarakan semata mata memberikan pemahaman kepada kader tentang cara penyampaian dakwah yang unggul dan berkarakter.
“Kegiatan ini sudah menjadi salah satu program kaderisasi Hidayatullah agar seluruh kader yang telah mengikuti siap untuk terjun ke masyarakat menyampaikan dakwah,” jelas H. Abdul Majid.
Sementara Kepala Bagian Kesejahteraa Rakyat (Kesra) Dohri As’ari yang mewakili Bupati Luwu Timur pada kesempatan tersebut mengungkapkan pihaknya mengaku bersyukur atas kehadiran Hidayatullah di berbagai titik dakwah, khususnya yang ada di Luwu Timur sebab Daurah Marhala Ula merupakan sebuah proses pengkaderan untuk melahirkan kader dakwah yang unggul dan berkarakter.
“Pemerintah Daerah merasa sangat terbantu dengan kehadiran Hidayatullah dalam membina masyarakat khususnya para pemuda Islam, karena pemuda sebagai generasi pelanjut hendaknya menyadari peran strategisnya sebagai pelanjut risalah dakwah dan pelopor pembangunan umat dan bangsa,” kata Dohri.
Iya berharap agar peserta yang telah mengikuti daurah harus memiliki karakter yang bersahabat dengan Qur’an, berahlak mulia, berkarakter rahmatan, sehingga amalan tersebut diharapkan kader Hidayatullah akan menjadi teladan dan berperan aktif bagi perbaikan pola pikir dan akhlak masyarakat.
Selama kegiatan berlangsung , para peserta mengikuti seluruh rangkaian acara yang diisi berbagai materi Adapun peserta daurah yang mengikuti kegiatan ini berasal dari kader, simpatisan, dan warga Hidayatullah dari wilayah Luwu Raya yakni Luwu Timur, Luwu Utara, Kota Palopo dan Luwu. (lrc/hio)
BERIKUT ini imbauan Majelis Mudzakarah Hidayatullah tentang penetapan awal bulan Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah. Untuk mendownload dan membaca secara online, silahkan klik di sini.
Tokoh asli Papua yang juga Ketua Umum Yayasan Al Fatih Kaaffah Nusantara (AFKN) Ustadz M Zaaf Fadlan Rabbani Al-Garamatan saat bercermah di di Pondok Pesantren Hidayatullah Balikpapan / dok
Hidayatullah.or.id — Hari Sabtu (27/9/2014) lalu, warga Hidayatullah Balikpapan mendapatkan kehormatan berupa kunjungan Ketua Umum Yayasan Al Fatih Kaaffah Nusantara (AFKN) Ustadz M Zaaf Fadlan Rabbani Al-Garamatan di Pondok Pesantren Hidayatullah.
Kunjungannya ke pesantren ini merupakan rangkaian dari Safari Dakwah yang berlangsung selama sepekan di Kota Minyak. Selama perjalanan Safari Dakwah, Ustadz Fadlan ditemani oleh Ustadz Dzikrullah Pramudya dari Sahabat al-Aqsha.
Acara kunjungan diawali dengan shalat Ashar berjamaah bersama seluruh santri, ustadz dan warga di Masjid ar-Riyadh. Setelah itu ustadz kelahiran Fak-Fak, 17 Mei 1969 itu berkesempatan mempresentasikan sejarah kedatangan Islam di Bumi Cendrawasih.
Selain itu, pria yang telah mengislamkan ribuan warga Irian ini juga sempat menceritakan pengalaman pribadinya yang selalu mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan hanya karena dirinya terlahir sebagai orang Irian.
Tiga Pertanyaan Menggugah
Dikatakan oleh Ustadz Fadlan bahwa orang-orang Muslim di Indonesia masih terbersit opini bentukan penjajah bahwa di wilayah Indonesia Timur, terutama Papua, banyak penduduknya yang non-Muslim masih melekat.
Hal itu pernah ia buktikan kala mengisahkan pengalamannya saat Ustadz Fadlan masuk kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Hasanuddin Makassar pada tahun 1980-an. Dia pernah diusir oleh dosen agama Islam hanya karena berkulit hitam dan berambut keriting. Tapi sebelum keluar, dia sedikit protes dengan mengajukan empat pernyataan.
”Apakah agama Islam hanya untuk orang berkulit putih, Jawa, Bugis atau untuk semua orang yang hidup di dunia? Siapa sahabat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang berkulit hitam dan berambut keriting namun merdu suaranya? Siapa saja yang ada di kelas ini yang bisa membaca al-Qur’an dengan baik dan benar?” tandasnya mengenang.
Ditanya seperti itu, sang dosen hanya menanggapi pertanyaan yang ketiga saja. Ternyata, dari 47 mahasiswa yang hadir, hanya tujuh orang yang bisa. Salah satunya adalah orang yang berkulit hitam dan berambut keriting tersebut alias Ustadz Fadlan. Langsung saja ia diberi kesempatan memberi nasehat kepada semua orang di kelas yang tadi mau mengusirnya. Selama dua jam dia memberi nasehat, sehingga mata kuliah agama hari itu selesai.
Dosennya pun langsung menyatakan Ustadz Fadlan lulus dengan nilai A di hari pertama masuk kelas agama. Karena, selain puas dengan nasihat Ustadz Fadlan yang menyatakan jangan merasa bangga hanya karena beda warna kulit atau lainnya, Ustadz Fadlan mampu membaca al-Qur’an, salah satu kemuliaan agama Islam, dengan baik dan benar.
Islam Agama Pertama Orang Irian
Nuu Waar adalah nama pertama untuk Papua, sebelum berubah menjadi Irian Jaya, dan Papua saat ini. Nuu Waar, dalam bahasa orang Papua, berarti cahaya yang menyimpan rahasia alam.
“Papua dalam bahasa setempat berarti keriting. Karena itu, komunitas Muslim lebih senang menyebutnya dengan Nuu Waar dibandingkan Irian atau Papua,” ujarnya yang lebih suka menyebut Nuu Waar dibandingkan Irian atau Papua.
Orang yang pertama kali membawa Islam ke Nuu Waar adalah Sultan Iskandar Syah, Raja Tidore pada tanggal 17 Juli 1914 M. Sangat jauh jaraknya dengan kedatangan Kristen yang masuk pertama kali tanggal 19 Februari 1985.
Namun nama Nuu Waar hilang dan diganti oleh penjajah Portugis dengan nama Papua yang dalam berasal dari bahasa Tidore yaitu papapua, yang artinya saudara tua, karena penduduk setempat berwajah hitam.
Asal kata Irian juga, menurut Ustadz Fadlan, berasal dari bahasa Arab yaitu al-Uryan yang artinya telanjang. Nama ini diberikan oleh Ibnu Batuttah dalam ekspedisinya singgah di Nuu Waar.
Namun sejarah tersebut ditutup rapat-rapat oleh pemerintah dan kaum gereja. Dan mereka membangun opini penamaan sebagai Papua. Mereka tidak ingin masyarakat Irian menjadi cerdas dan maju.
Di akhir presentasinya, ustadz beristrikan wanita Pinrang ini memutar dua video kegiatan yang dilakukan AFKN di Irian. Yang pertama video aktifis dakwah AFKN mengajari thaharoh (mandi dan berwudhu) kurang lebih 2000-an mualaf. Yang kedua video ritual pengucapan kalimat syahadat kepada dua suku yang hendak diislamkan.*/ Kiriman oleh Muhammad Rizky Kurnia Sah
Konferensi internasional ini dihadiri oleh kalangan akademisi dari berbagai negara / NHM
Hidayatullah.or.id — Anggota Dewan Syura Hidayatullah, Dr (cand) Nashirul Haq, Lc, MA, mengikuti Konferensi Internasional Fikih Islam di gedung Cultural Activities Centre International Islamic University Malaysia (IIUM), Gombak, Kuala Lumpur, selama 3 hari (23-25 September 2014).
Konferensi internasional bertema “Islamic Financial Industry and the Need for Revision within the Framework of Maqasid al-Shari’ah” (Industri Keuangan Islam dan Kebutuhan untuk Revisi dalam Kerangka Maqasid al-Syari’ah) dibuka oleh Wakil Rektor IIUM Bidang Hubungan International Prof. Dr. Abdul Aziz Barghouth.
Dalam sambutannya Profesor Abdul Aziz sangat mengapresiasi dan merasa bangga atas terselenggaranya acara ini. Ia berharap agar para ulama, pakar, akademisi, dan praktisi yang hadir dalam forum ini dapat memberikan konstribusi pemikiran untuk mengembangkan produk-produk keuangan Islam berdasarkan prinsip maqasid al-syariah.
Konferensi yang dihadiri oleh peserta dan nara sumber dari berbagai negara ini menggunakan bahasa Inggris dan Arab. Forum diawali dengan pemaparan oleh dua pembicara utama pada setiap hari, kemudian dilanjutkan dengan presentasi makalah secara paralel.
Beberapa pembicara utama (keynote address) yang hadir antara lain: Prof. Dr. Mohamad Akram Laldin, Executive Director ISRA (International Shari’ah Research Academy for Islamic Finance), Mr. Mohamed Rafe Haneef (CEO HSBC Amanah), Assoc. Prof. Dr. Aznan Hasan (Pakar Hukum Ekonomi/IIUM), Assoc.
Hadir pula sebagai keynote speaker Prof. Dr. Mohamed El-Thahir El-Mesawi (Pakar Maqashid Syariah/IIUM), Prof. Dr. Musfir al Qahtoni (King Fahd University), dan Assoc. Prof. Dr. Younes Soualhi (Pakar Islamic Finance/IBF). Nara sumber utama ini semuanya menyampaikan materi dalam bahasa Inggris yang diselingi dengan bahasa Arab.
Secara umum para pembicara utama menyadari adanya kendala dalam mengaplikasikan sistem syariah di dunia perbankan. Namun hal itu tidak boleh membuat kita diam dan pesimis. Justru para ulama, pakar, dan praktisi ekonomi dan keuangan Islam harus terus berjuang untuk melakukan penyempurnaan terhadap aplikasi sistem keuangan Islam, terutama di negara-negara Muslim.
Suatu hal yang patut disyukuri menurut mereka bahwa bahwa sistem Islam di dunia perbankan sudah dikenal dan dikembangkan sejak sekitar 30 tahun yang lalu.
“Tantangan kita sekarang adalah melalukan pengembangan dan perbaikan secara bertahap agar prakteknya semakin mendekati sistem syariah secara utuh,” ujar Profesor Abdul Aziz.
Sementara itu, Prof. Dr. Mohamad Akram Laldin dalam sesi tanya jawab menegaskan kekeliruan pandangan yang menganggap bahwa sistem perbankan Islam hampir sama dengan sistem konvensional.
“Saya tidak setuju dengan anggapan seperti itu karena konsep murabahah, mudharabah, musyarakah, dan sejenisnya adalah murni sistem syariah. Ada pun prakteknya belum 100 persen sejalan dengan syariah, itu adalah realitas dan tantangan yang memerlukan perjuangan,” tegasnya.
Sementara itu, pembicara lain yakni Aznan Hasan berharap perlunya ijtihad ulama kontemporer agar potensi yang ada dalam institusi zakat dan waqaf dapat dikelola secara ekonomi agar memberi manfaat yang lebih besar bagi ummat.
Prof Dr Mohamed El-Thahir El-Mesawi dalam makalahnya memaparkan perbendaan mendasar secara filosofi antara ekonomi Islam dan konvensional dengan merujuk “Kitab al Amwal” karangan Abu ‘Ubaid dan buku karangan Adam Smith yang dipegangnya saat menyampaikan materinya.
Sedang Prof Dr Younes Soualhi dalam tanggapannya berharap adanya keseriusan dari para ulama, peneliti dan praktisi perbankan Islam untuk melakukan penyempurnaan secara bertahap.
Dalam sesi paralel berbahasa Arab pada hari pertama dan kedua yang dipandu oleh Prof. Dr. Arif Ali (Pakar Syariah/Iraq) dan Prof. Dr. Amanullah (Pakar Ushul Fikih/Bangladesh) menampilkan beberapa akademisi dari berbagai negara antara lain Prof. Dr. Ahmed bin Shaleh Al ‘Abd Salam, Dr. Shaleh Mohamed al Fauzan, Prof. Dr. Mohamed Rabi’ Madkhaliy (Arab Saudi), Dr. Ukasyah Raje’ (Libya), Prof. Dr. Abd Rahman al Jal’ud (King Saud University), Prof. Dr. Zein Ismail (IIUM), Prof. Dr. Husam al Saifi (dosen IIUM asal Mesir), Prof. Dr. Mohamed al Dush (Sudan), Mr. Suhail Tsabiti (Jerman), dan Nashirul Haq, LC MA (Indonesia).
Sementara sesi paralel bahasa Inggris pada hari kedua yang dipandu oleh Prof. Dr. Younes Soualhi menampilkan beberapa pemakalah dengan berbagai judul antara lain; Absolute Assignment in Takaful Idustry: Shariah Contracts, Issues and Solutions” oleh Prof. Dr. Ahmad Basri. Tema lainnya yaitu Islamic Banking System and Mode of Leasing: A Comparative Analysis in the Light of Maqasid al-Shariah oleh Dr. Nazeem Razi, dan Murabahah Financing Revisited: The Contemporary Debate On Its Use in Islamic Banks oleh Dr. Necmeddin Guney.
Para nara sumber dalam sesi paralel mengangkat berbagai tema seputar produk-produk keuangan Islam (Islamic Finance/Shina’ah Maliyah Islamiyah) dalam perpektif Maqashid Syariah.
Beberapa pembicara menyampaikan berbagai kritikan dan solusi terhadap beberapa praktek perbankan syariah dan keuangan Islam yang ada saat ini. Beberapa harapan dari para peserta dan nara sumber antara lain:
Pertama: perlunya dibentuk Lembaga Islam tingkat dunia yang menaungi seluruh institusi keuangan dan perbankan Islam.
Kedua: Pengawas syariah dari kalangan ulama harus aktif dan terjun langsung mengawasi praktek setiap produk di perbankan Islam.
Ketiga: Perlunya dibentuk pengadilan syariah untuk memutuskan berbagai sengketa di bidang ekonomi, keuangan dan perbankan syariah. (ybh/hidcom)
Hidayatullah.or.id — Pengurus Pusat (PP) Syabab Hidayatullah menggelar kegiatan training kepemininan dasar kepemudaan atau SNW Basic Training yang berlangsung selama 2 hari di Gedung Hidayatullah Training Center (HiTC), Kampus Pesantren Hidayatullah Depok, Jawa Barat, 27-28/09/2014 lalu.
Training yang juga dirangkai dengan curah gagasan berkonsep focus group discussion (FGD) ini dibuka oleh Ketua PP Hidayatullah, Ir Khairil Baits.
Puluhan mahasiswa dari berbagai kampus di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, dan juga sejumlah mahasiswa dan calon mahaisiswa Indonesia luar negeri seperti Mesir, Madinah, Malaysia, dan Sudan, tampak antusias mengikuti acara yang berlangsung intensif selama 2 hari ini.
Ketua Bidang Organisasai dan Politik Pimpinan Pusat (PP) Hidayatullah, Ir Khairil Baits saat membuka acara tersebut mengemukakan pentingnya peran pemuda sebagai generasi pelanjut perjalanan estafeta kepemimpinan umat, agama, dan bangsa.
Khairil menegaskan, kiprah gerakan sebuah organisasi seperti Hidayatullah hanya akan dapat berkembang dan mencapai tujuannya apabila proses evaluasi dan pengembangan sumber daya manusianya senantiasa berkesinambungan.
Kegiatan yang diinisiasi oleh PP Syabab Hidayatullah ini, kata Khairil, penting untuk dilakukan berkelanjutan sebagai bagian dari proses penguatan kaderisasi gerakan sekaligus untuk menjadi wadah evaluasi sebab tidak sedikit dari kader-kader muda Hidayatullah yang belum memahami sepenuhnya manhaj Sistematika Nuzulnya Wahyu atau SNW.
“Kegiatan ini diharapkan menjadi rahim tumbuhnya generasi tercerahkan dengan terobosan-terobosannya yang kreatif dan berkemajuan,” kata Khairil.
Hidayatullah sebagai gerakan dakwah dan tarbiyah yang berkiprah secara nasional, senantiasa membutuhkan generasi baru sehingga regenerasi menjadi prasyarat mutlak untuk keberlangsungan kiprah dalam memajukan umat dan memberdayakan segala komponen bangsa baik komunal Hidayatullah sendiri maupun secara kolektif bangsa Indonesia.
Khairil yang juga mantan aktifis HMI era tahun 80-an ini menerangkan, bahwa para pemuda mahasiswa pada setiap umat sejatinya adalah tulang punggung yang melanggengkan pergerakan dan dinamisasi. Untuk itu ia berharap Syabab Hidayatullah terus menjadi bagian penting dari gerakan nasional Hidayatullah dalam rangka membina dan mengantar para pemuda menjadi generasi Islam yang diidam-idamkan.
“Karena meningat begitu pentingnya, saya berharap pelatihan dasar SNW ini dapat terus diadakan di kesempatan-kesempatan berikutnya dengan mengundang lebih banyak lagi peserta dari kalangan pemuda dan mahasiswa,” harap beliau.
Sementara itu, Ketua Panitia SNW Basic Training PP Syabab Hidayatullah, Mazlis Mustofa, mengatakan pihaknya akan menggelar kegiatan yang sama di waktu-waktu yang akan datang karena mengingat besarnya minat kalangan pemuda dan mahasiswa terhadap gerakan pencerahan Islam dan tradisi intelektual.
Ia mengatakan, pada bulan Oktober mendatang, jika tak ada halangan, PP Syabab Hidayatullah kembali akan menggelar kegiatan pelatihan training bertajuk Training of Trainers Gerakan Dakwah Mengajar dan Belajar Al Qur’an (TOT Grand MBA) yang juga akan mengangkat masalah-masalah krusial umat seperti pemahaman terhadap ilmu Al Qur’an, kendala-kendala, dan akan menelurkan sejumlah solusi dan rekomendasi.
“TOT Grand MBA ini akan diikuti oleh puluhan perwakilan pengurus wilayah Syabab Hidayatullah di seluruh nusantara, Insya Allah,” tandasnya. (ybh/hio)
Walikota Ternate H. Burhan Abdurrahman, meresmikan Rumah Tahfidz Pesantren Hidayatullah Kalumata, Ternate / dok
Hidayatullah.or.id — Walikota Ternate, Burhan Abdurrahman, meresmikan Rumah Tahfidz Berkah Pondok Pesantren (Ponpes) Hidayatullah. Peresmian berlangsung di komplek Ponpes Hidayatullah beralamat du di RT 09 Kelurahan Kalumata, Selasa (23/9) lalu.
Pada kesempatan itu, Burhan memberikan apresiasi dan penghargaan kepada yayasan dan pengurus Ponpes Hidayatullah Kalumata, yang ikut mendukung visi misi pemerintah dalam pendidikan keagamaan dan pembangunan sumber daya manusia.
“Saya patut memberikan penghargaan karena apa yang dilakukan Hidayatullah sudah mendukung visi misi pemkot, yakni menjadikan Ternate sebagai kota yang agamais dengan memfokuskan pada pendidikan agama,” terangnya.
Walikota berharap berharap dengan adanya rumah tahfidz yang dibangun oleh Pesantren Hidayatullah ini dapat melahirkan penghafal Alquran (hafidz dan hafidzah) yang mengamalkan kandungan-kandungannya sehingga bangsa Indonesia secara umum akan menjadi lebih baik.
Burhan juga mengaku akan mendukung sepenuhnya kegiatan pengembangan Pesantren Hidayatullah di Ternate. Menurut dia, kiprah dakwah, sosial, dan layanan pendidikan yang digalakkan oleh Hidayatullah telah turut serta membangun Ternate menjadi wilayah yang terus bertumbuh menjadi lebih baik.
“Saya mengapresiasi setinggi-tingginya peran Hidayatullah dalam pembangunan di Ternate, yang telah turut menjaga keharmonisan dan toleransi di tengah kemajemukan kita,” imbuhnya.
Sementara itu di kesempatan yang sama Ketua Yayasan Ponpes Hidayatullah Kota Ternate, Ustadz Muhammad Daud mengatakan, pihaknya telah menerapkan hafal Alquran kepada santri (siswa) setiap kenaikan kelas dan dimulai diformalisasi tahun ini. Program penghafalan Al Qur’an di Pesantren Hidayatullah Ternate memang telah dilakukan sejak beberapa tahun lalu hanya saja bersifat informal atau hanya diperuntukkan bagi yang memiliki kemampuan.
Mulai tahun ini program tersebut semakin digalakkan di mana semua warga dan siswa atau santri diwajibkan bisa menghafal Al Qur’an minimal 3 juz. Bagi yang belum lancar atau buta Al Qur’an sama sekali akan mengikuti proses matrikulasi untuk memantapkan kemampuan tahsin dan tajwid.
“Setiap siswa diwajibkan menghafal Al-Quran,” tuturnya. Dengan demikian setelah lulus, santri bisa menghafal dan memaknai isi Al-Quran. (wan/onk/hio).
Rombongan Kemanag RI saat berkunjung ke Hidayatullah Bitung / dok
Hidayatullah.or.id — Bantuan Siswa Miskin (BSM) dari Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI) tahap II akhirnya tersalur ke Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Kota Bitung pada Selasa (23/9), pukul 10.44 wita.
Acara tersebut dipimpin Rio E Turipno SPsi MPd bersama beberapa pihak Madrasah se – Kota Bitung. Tamu kehormatan yang hadir diantaranya dari Kementerian Agama selaku Seksi Pendididkan Islam, hadir Rugaya Udin SPdi MPdi, Sekolah MI Almuhtdin Hidayatullah Suyono Tanahulawa SPdI serta Pengawas Madrasah Hj Hapsa Harun SPdi Mpd.
Perlu diketahui, dana pemerintah itu terserap sekian persen di Bidang Pendidikan. Untuk Kota Bitung, jumlah BSM sebanyak 826 anak di seluruh Madrasah di kota tersebut. Sampai hari ini, yang sudah disebarkan minimal ada 336 anak. Di MPS Negeri 66, selebihnya di Madrasah Swasta 395 anak, untuk tahun ini semuanya sudah masuk kedalam rekening dan saldo Bank BTN dengan total jumlah 865 anak.
Rugaya Udin selaku pemateri dari pemerintah pusat menjabarkan, sesuai juknis (petunjuk teknis) dan aturan yang di keluarkan oleh pihak Kementrian Agama (Dirjen Kemenag), seharusnya ada rekanan atau perjanjian kerjasama dengan pihak Bank.
“Jadi dua tahun terakhir sudah pernah mencoba ke Bank A, Bank B,Bank C, ternyata saat ini kita sinkron dengan Bank BTN,” jelasnya seperti dikutip media lokal Identitas News beberapa waktu lalu.
Rugaya menasehati tentang BSM ini. Apabila terjadi ada orangtua dan masyarakat melakukan komplain ke kantor terkait program BSM, itu hal kata Rugaya yang bagus.
“Tapi bila ada yang melapor ke wartawan atau LSM tanpa berkoordinasi dengan pihak terkait, terang saja kami tidak terima cara seperti itu,” kata dia dengan nada terkesan mengancam.
Lebih jauh Rugaya mengatakan, ia sangat berterima kasih kepada insan Pers dan LSM yang bekerja secara profesional.
“Bagaimanapun, teman teman wartawan adalah pengontrol kerja pemerintah. Yang kedua, untuk orang tua penerima, kegunaan BSM bukan setelah terima dananya terus dipergunakan untuk beli barang seperti HP,” canda wanita berjilbab itu.
Tujuan pemerintah dengan program BSM ini, kata Rugaya, adalah untuk membantu anak–anak penerima BSM. Dia menegaskan bahwa bagi penerima BSM tidak ada biaya administrasi atau pungutan apapun. (in/hio)
Hidayatullah.or.id — Menyambut bulan 1 Zulhijjah 1435 H yang jatuh pada tanggal 5 Oktober 2014 mendatang, atau yang dikenal dengan hari raya Qurban, Penjabat Gubernur Kalimantan Utara (Kaltara), Irianto Lambrie dan istrinya, Ny Hj Ratinah, menyiapkan 9 ekor sapi.
Sebagian dari sapi qurban tersebut telah diserahkan ke Pesantren Hidayatullah Tanjung Selor untuk didistribusikan kepada warga dan masyarakat sekitar pesantren.
“Sementara di Nunukan, Malinau, dan kota Tarakan, Bapak Pj Gubernur dan ibu akan berqurban masing-masing satu ekor sapi,” terang Kasubag Humas Dan Dokumentasi Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara, Rahman Putrayani, mendampingi karo Humas Setprov Kaltara, Basiran, di Tanjung Selor, Kamis.
Selain Pj Gubernur, tambah Rahman, Sekretaris Daerah Provinsi Kalimantan Utara, Badrun, juga akan berqurban 1 ekor sapi. Hewan qurban tersebut akan diserahkan kepada pengurus Mesjid Agung Tanjung Selor, Bulungan, Kalimantan Utara untuk dipotong dan bagikan kepada yang berhak menerimanya.
Rahman Putrayani, juga menegaskan, selain memang menjadi ibadah untuk berqurban bagi umat muslim yang mampu juga menjadi satu keharusan, sebagaimana yang sudah dilakukan nabiullah Ibrahim Alahisallam yang rela mengurbankan anak kandungnya Nabi Ismail lantaran perintah Allah SWT.
“Karena keikhlasan nabi Ibrahim maka Allah SWT memerintahkan kepada beliau untuk menggantinya dengan binatang onta untuk diqurbankan, “ ujar Rahman mengakhiri (ybh/hio0.
Hidayatullah.or.id -– Lembaga kemanusiaan Nasional milik Ormas Hidayatullah, Islamic Medical Service (IMS) kembali menggelar program Aksi Peduli Bencana Nusantara (APBN).
APBN kali ini digelar di desa yang berdekatan dengan gunung Slamet, baru baru ini.
Gunung Slamet dalam beberapa hari terakhir ini mengalami erupsi dan mengeluarkan lava pijar maupun abu vulkanik. Kondisi ini membuat penduduk desa yang dekat dengan gunung Slamet harus mengungsi.
Lengkap dengan perlengkapan medis dan ambulance, tim medis IMS melakukan aksinya di desa Pandansari, Brebes, Jawa Tengah.
Desa Pandansari, Kecamatan Paguyangan, Kabupaten Brebes adalah desa yang terletak di sebelah paling selatan dan mempunyai jarak ± 9 kilometer dari Gunung Slamet yang masih dalam status siaga.
Kedatangan IMS disambut oleh Wakil Kepala Dusun, Kusno. “Dengan senang hati dan lapang dada masyarakat menyambut gembira kegiatan ini,” ujar Kusno.
Layanan pengobatan IMS dipusatkan di masjid desa.
Menurut tim IMS, salah satu desa terdekat dari gunung Slamet, masyarakat masih sulit mengakses air bersih karena kondisi mata air gunung yang sangat jauh dari sumbernya.* (ims)
Ketua PP Hidayatullah Drs Tasyrif Amin, dalam sebuah training / DOK
Hidayatullah.or.id — Alumni pelatihan dai (tadribut duat) yang digelar oleh Hidayatullah harus memiliki perubahan nyata dengan peningkatan kualitas baik dari aspek dedikasi, keilmuan, spiritualitas, dan kinerja. Itulah figur manusia yang lahir dari celepun Sistematika Nuzulnya Wahyu (SNW).
Demikian disampaikan Ketua Bidang Pelayanan Umat Pimpinan Pusat (PP) Hidayatullah Drs. Tasyrif Amin, MPd.I dalam perbincangan dengan Hidayatullah.or.id belum lama ini.
Hal tersebut ditegaskan beliau dalam rangka mendorong penyelenggaraan upgrading dai di berbagai wilayah yang dugelar kampus-kampus Hidayatullah agar semakin baik dan berkesinambungan.
“Secara keilmuan terutama, alumni pelatihan dan upgrading kader dai Hidayatullah harus memiliki kemapanan intelektual dengan selalu membangun budaya ilmu,” kata beliau.
Tasyrif mengimbuhkan, jebolan pendidikan dan pelatihan Hidayatullah seperti Tadribuat Duat, Kuliah Dai Mandiri (KDM), dan atau Upgrading dai memiliki semangat berkarya lebih dari biasanya. Kader-kader alumni sentiasa ber-fastabiqul khairat atau berlomba-lomba dalam kebaikan demi memberikan pelayanan terbaik untuk umat.
“Kebutuhan umat akan dai sangat besar, untuk itu program-program pelatihan baik insidentil maupun berjenjang untuk meningkatkan kualitas tenaga dai di lapangan harus terus digalakkan,” kata Tasyrif.
Tasyrif pun mengapresiasi berbagai pihak berkat dukungannya baik dari kalangan swasta, swadaya masyarakat, maupun pemerintah atas berbagai program pelatihan dan pengembangan kompetensi kader dai pembangunan yang dilangsungkan oleh Hidayatullah di daerah-daerah, kesinambungan pendampingan masyarakat dapat terus terlaksana dengan baik.
“Dai merupakan informal leader di tengah masyarakat yang sangat besar perananannya dalam pembangunan. Inilah kiprah yang menjadi mainstream gerakan Hidayatullah sampai hari ini,” imbuhnya.
Merujuk pada semangat dasar konsep Sistematika Nuzulnya Wahyu, Tasyrif mengatakan surah Al ‘Alaq yang kali pertama turun kepada Nabi Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam adalah titah kepada umat Islam untuk menjadi orang yang ‘alim atau membangun budaya ilmu.
“Dalam kajian epistemologi, Al ‘Alaq mendorong mencetak orang yang ‘alim. Pada level tersebut selanjutnya akan melahirkan budaya ilmu atau intelektualitas yang kelak menumbuhkan kesadaran berislam untuk menjalankan syariat-syariatnya,” terangnya.
Tasyrif Amin mengharapkan kelak Hidayatullah akan melahirkan lebih banyak lagi orang yang ‘Alim, ‘Abid, dan Mujahid. Apabila komponen penting pada tiga tingkatan tersebut dapat dicapai oleh kaum Muslimin, jelas Tasyrif, maka dakwah Islam akan semakin semarak karena setiap Muslim telah menjuru bicarai Islam dengan tindakan dan perilaku mereka yang mengesankan.
“Begitulah prototipe manusia-manusia unggul yang dikader oleh Nabi Muhammad. Mereka berilmu, bermoralitas agung karena segala aktifitasnya diniatkan ibadah, serta menjadi mujahid yang tak kenal lelah memburu Rahmmat Allah Ta’ala,” pungkasnya. (hio/ybh)