Beranda blog Halaman 638

Hidayatullah Sebar Dai Mengajar ke Pelosok Nusantara

stai lukman hakim hidayatullah wisudah 2014 2 stai lukman hakim hidayatullah wisudah 2014 3 stai lukman hakim hidayatullah wisudah 2014Hidayatullah.or.id –- Sebagai komitmen membantu kinerja pemerintah dalam program pendidikan, Hidayatullah sebar 40 dai mengajar ke seluruh pelosok nusantara, Sabtu (30/08 /2014) di Pesantren Hidayatullah Surabaya. Mereka adalah wisudawan sarjana Sekolah Tinggi Agama Islam Luqman al Hakim (STAI) Hidayatullah Surabaya.

Setidaknya titik pelosok nusantara yang dikirim dai mengajar antara lain Kabupaten Masohi di Maluku Tengah, Kabupaten Biak di Papua, Halmahera Timur, Tual di Maluku serta di Kepulauan Mentawai Sumatra. Beberapa diantaranya ditugaskan di Jawa, Kalimantan, dan Nusa Tenggara.

Menurut Abdul Kholik, Ketua STAI Luqman al Hakim Hidayatullah Surabaya, penugasan dai mengajar ini sebagai wujud kepedulian Hidayatullah dalam mencerdaskan anak-anak Indonesia.

“Misi yang diambil adalah menciptakan sekolah-sekolah berkualitas bagi anak-anak pelosok agar memiliki karakter yang baik,” jelasnya.

Lebih lanjut Kholik menjelaskan para dai selama empat tahun diberikan pembekalan secara formal cara mengajar serta menghadapi masyarakat di lapangan. Sehingga para dai memiliki bekal cukup menjadi pendidik sekaligus dai yang profesional.

Ada yang menarik menurut lelaki kelahiran Pacitan ini, seluruh penugasan dai mengajar ini tidak satu pun yang tahu tempat penugasan sebelumnya. Mereka baru mengetahui ketika prosesi penugasan.

“Kita buat surprise untuk mengukur seberapa siap para dai mengajar ditugaskan dimanapun,” katanya.

Seperti Sugiyono misalnya. Dai mengajar satu ini ditugaskan ke kepulauan Mentawai. Selama empat tahun menimba ilmu di STAI Luqman al Hakim tidak terbesit sedikit pun bakal mendapat tugas di kepulauan yang konon memiliki tingkat intensitas gempa cukup tinggi. “Dimanapun kami harus siap,” tegasnya.

Lain lagi dengan Idham Khalid, dai mengajar ini ditugaskan ke Halmahera Timur. Ia sempat kaget karena daerah ini sangat pelosok dan merupakan pengembangan daerah baru di Halmahera. Tapi ia berusaha tegar karena ia yakin dimanapun ditugaskan akan memberikan kemampuan maksimal. (hidcom)

Pendidikan Hidayatullah Didorong Maksimalkan Teknologi

teknologi-sistem-informasi-1Hidayatullah.or.id — Praktisi pendidikan yang juga dikenal sebagai bankir profesional, Romeo Rissal Panjialam, mengajak kepada pelaku dan lembaga pendidikan milik Hidayatullah untuk memanfaatkan teknologi untuk kepentingan dakwah dan pendidikan berbasis teknologi informasi (TI). Kita jangan memusuhi internet karena perkembangannya adalah keniscayaan, tegasnya.

Meski internet dinilai banyak “nerakanya” tapi teknologi ini, sambung dia, juga banyak kebaikannya yang jika dimanfaatkan dengan baik bisa mengantarkan ke syurga.

“Orang yang tidak menggunakan teknologi menurut saya tertinggal 20 tahun,” kata Romei Rissal di hadapan ratusan santri, guru, dan pengasuh di Pesantren Hidayatullah Kota Depok, Jawa Barat, Rabu (27/08/2014).

Pendiri lembaga pendidikan Wisata Nagari Sekolah Alam Global Village Bukik Batabuah ini mendorong umat Islam untuk memikirkan bagaimana membuat program berbasis teknologi internet yang dimanfaatkan untuk kepentingan dakwah dan mobilisasi konten.

Dia bahkan mendorong lembaga-lembaga pendidikan khususnya pendidikan Islam untuk manfaatkan teknologi seperti teknologi internet. Jangan memusuhi teknologi. Mari kita memanfaatkan teknologi untuk kepentingan islami, imbuhnya.

Romeo mengatakan, rendahnya pendidikan di negeri ini memang masih menjadi keprihatinan bersama. Untuk itu ia mengaku pihaknya pun terus berkomitmen melakukan pola pengembangan pendidikan untuk mencerdaskan anak-anak bangsa dengan tentu selalu melakukan penyesuaian-penyesuaian seiring dengan dinamisnya perkembangan zaman dan teknologi. Dalam upaya tersebut dia mendirikan sekolah alam yang telah meluluskan ratusan alumni.

“Saya berniat membagun sumber daya manusia di bidang pendidikan yang lebih spesifik pada kemampuan bahasa Inggris,” ujarnya.

Memang memprihatinkan, sebab kata dia, kemampuan berbahasa Inggris rata-rata masyarakat Indonesia masih rendah bahkan di tingkat ASEAN saja sudah kalah. “Padahal bahasa Inggris adalah bahasa global hari ini,” tegas dia.* (hio/ybh)

 

Workshop Pendidikan Tauhid di Hidayatullah Makassar

al-bayan hidayatullah makassarHidayatullah.or.id — Yayasan Al Bayan Hidayatullah Makassar menggelar pelatihan guru di Aula Bima, Kantor Departemen Kesehatan Sulsel, Makassar, Minggu (31/8/2014) lalu.

Pengurus Pondok Pesantren Hidayatullah Makassar Irfan Yahya dalam rilisnya kepada media, mengatakan, tema pelatihan guru Al Bayan tersebut, Implementasi Nilai-nilai Islam dalam pendidikan Modern.

Pakar dan konsultan Pendidikan Ar Rahmah Malang Ustaz Alimin Mukhtar hadir sebagai pemateri. Hadir pula Pimpinan Wilayah Hidayatullah Sulsel Abdul Majid.

“Semoga pelatihan ini bisa menghasilkan pendidikan yang berkualitas di Yayasan Al Bayan di masa akan datang,”katanya.

Seratusan guru hadir sebagai peserta. Mereka tergabung dari guru SD, SMP, dan SMA yayasan Al Bayan.

Dalam kesempatan tersebut, praktisi pendidikan Ar Rahmah Malang Alimin Mukhtar, mengatakan tauhid bermakna mengesakan Allah dalam hal-hal yang menjadi kekhususan diri-Nya. Kekhususan itu meliputi perkara rububiyah, uluhiyah dan asma’ wa shifat.

Maka, berlandas pada kesepakatan ulama tersebut seperti tertuang dalam Al Qaul Al Mufid, maka pendidikan yang hendaknya dalam rangka mengantar peserta didik bertauhid kepada Allah Ta’ala.

Beliau menegaskan, bertauhid adalah kebetuhan manusia. Maka jikalau ada insan yang tidak bertauhid barang sekejap saja maka ketika dia meninggal ketika itu maka dalam keadaan musyrik.

“Dalam teologi Islam seperti dikutip dalam Surah ar Ruum ayat 30 jelas bahwa setiap manusia dilahirkan dalam keadaan suci atau fitrah. Inilah yang kemudian mendorong manusia memiliki potensi untuk bertauhid,” jelasnya.

Lebih jauh ia menerangkan bahwa banyak sekali firman Allah Ta’ala yang dengan terang telah mengisyaratkan manusia tercipta dari sifat dasar yang baik dan kuat, yang memiliki kehendak untuk tunduk kepada Allah dan hidup dalam keaguangan moralitas.

“Untuk itu, konsep pendidikan bertauhid yang digagas Hidayatullah adalah dalam rangka mengantar peserta didik menjadi orang yang bertakwa dan bermanfaat di sekitarnya,” pungkasnya. (ybh/hio).

Madrasah Lebih Baik, Lebih Baik Madrasah

0
This is a madarasa of the Jamia Masjid mosque in Srirangapatna, India. This mosque dates back to the 1700s and is where Tipu Sultan used to pray/ WIKIPEDIA
This is a madarasa of the Jamia Masjid mosque in Srirangapatna, India. This mosque dates back to the 1700s and is where Tipu Sultan used to pray/ WIKIPEDIA

Hidayatullah.or.id — Madrasah sama dengan sekolah, hanya penyebutannya yang berbeda. Namun bila digali lebih lanjut tenyata keduannya sangat beda. Sekolah tempat mencari atau menuntut ilmu pengetahuan dengan bersumber dari guru sedangkan madrasah berasal dari Allah Ta’ala.

Demikian disampaikan Wakil Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar, pada pembukaan KSM (Kompetisi Sains Madrasah) di Makassar, Senin lalu.

Dalam menjawab makna dibalik motto “Madrasah Lebih Baik, Lebih Baik Madrasah” tersebut, guru besar tafsir UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini kembali menegaskan bahwa `murid` yang padan katanya adalah madrasah, dalam ilmu tasawuf bisa diartikan sebagai orang mencari ilmu yang berasal dari Allah.

“Murid setara bukan dengan muallim (guru) akan tetapi identik dengan mursyid (guru spiritual), oleh karena itu `murid` disebut murid spiritual”, tegas Pak Nasar.

Madrasah kembali dimaknai sampai level ketiga perintah `iqra` dalam al Qur`an yaitu bagaimana menghayati, meresapi dan menjiwai apa yang dibaca dan dipelajari. Berbeda dengan sekolah yang hanya pada level dua saja, mendalami apa yang ia baca.

“Perintah `iqra` dalam al Qur`an terdiri atas tiga level; membaca, mendalami (istiqra`), dan menghayati. Bahkan bisa level empat pemaknaannya yaitu konteks iqra` bismillahi rabbik, sebagaimana Imam Al Ghazali, ia adalah murid Rasulullah SAW secara langsung padahal jarak hidupnya sekitar 600 abad”, tegas Nasar yang akan menerbitkan karya tafsirnya dalam waktu dekat ini.

Oleh karena itu Nasaruddin kembali menyemangati para murid, guru serta pejabat yang hadir, untuk tidak puas terus mencari inti dari madrasah yang sekarang ini terus berproses.

“Jangan pernah puas seperti Bawang Merah ketika dikupas, ternyata masih ada lagi, di dalam kulit masih ada kulit, sampai menemukan inti yang terdalam darinya, demikian madrasah dalam mencari jati dirinya”, lanjut Nasar.

Menyinggung kenapa madrasah menyelenggarakan kompetisi sains bukan ilmu yang lain, ia mengatakan bahwa sebenarnya ilmu sains tidak hanya ada di dalam al Qur`an akan tetapi para ilmuwan Islam abad pertengahan telah menemukan terlebih dahulu dibandingkan orang-orang Eropa/Amerika.

“Ilmu kimia ditemukan oleh santri tulen, Abu Musa Jabir bin Hayyan (720 M), the father of chemistry. Ilmu optik oleh Ibnu Hayyan, mematahkan buku The Optic karya orang Eropa yang ternyata buku itu jiplakan dari Kitabul Manadzir,” jelas dia.

Demikian juga teori Algoritma, Al Jabar dalam ilmu matematika, Ilmu Kedokteran oleh Ibnu Sina dan masih banyak lagi lainnya. Bahkan orang asli Makassar yang hidup abad 17 (1620-an M) yang bernama Karaeng Patingallong adalah seorang saintis yang terkenal sampai benua Eropa, papar Nasaruddin penuh semangat.

Pengajar Institut Ilmu Al Qur`an (IIQ) ini juga berpesan agar madrasah bisa mencetak generasi kuat, tahan uji dan amanah.

“Innal khoira manista`jarta qowiyyul amin, sesungguhnya generasi yang paling handal yang akan melanjutkan tongkat estafet negeri adalah yang kokoh/kuat serta penuh integrasi”, ungkap Nasaruddin mengakhiri sambutannya. (kem/hio)

Semarak Agustusan Hidayatullah Kebumen

Semarak kegiatan Agustusan di yang diikuti murid SD Hidayatullah Kebumen
Semarak kegiatan Agustusan di yang diikuti murid SD Hidayatullah Kebumen
KH. Zainuddin Musaddad, saat menghadiri acara silaturrahim syawal Hidayatullah Kebumen, Jawa Tengah.
KH. Zainuddin Musaddad, saat menghadiri acara silaturrahim syawal Hidayatullah Kebumen, Jawa Tengah.

Hidayatullah.or.id — Dalam rangka mensyukuri kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-69, SDIT Al Madinah Hidayatullah Kebumen, Jawa Tengah, mengadakan lomba-lomba yang diikuti oleh seluruh murid SDIT Al Madinah.

Lomba-lomba yang diselenggarakan yaitu diantaranya cerdas cermat, futsal, tarik tambang, estafet air, tebak kata, balap gapyak, dan menghias roti. Kegiatan ini dilaksanakan belum lama ini dimulai pada pukul 07.30 dan selesai pada pukul 11.00

Sebelum perlombaan dimulai, seluruh murid terlebih dahulu melakukan pemanasan atau peregangan otot untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan seperti keseleo dan lain sebagainya.

Perlombaan ini berlangsung sangat meriah dengan pemberian hadiah bagi pemenang. Tetapi pada hakikatnya seluruh murid telah menjadi pemenang, karena mereka sudah dapat menunjukkan semangatnya seperti para pejuang kita dalam meraih kemerdekaan Indonesia.
Pengasuh dan pendidik SDIT Al Madinah Hidayatullah Kebumen, Agus Mualif SPdI, menjelaskan kegiatan peringatan 17 Agustus tersebut dalam rangka memberikan pembelajaran kepada anak-anak didik bahwa persatuan adalah kekuatan yang akan melahirkan semangat juang. Inilah yang dulu dimiliki dan dijaga oleh para pahlawan Indonesia sehingga mereka tidak kenal kompromi dengan penjajah.

“Juga dijabarkan kepada mereka bahwa pejuang-pejuang kemerdekaan bangsa Indonesia tercinta ini dipelopori oleh kaum santri dan umat Islam,” jelas Agus Mualif.

Selain syukuran Agustusan, Hidayatullah Kebumen juga menggelar acara Halal bihalal yang digelar pada hari Minggu, 24 Agustus 2014 lalu sebagai sarana untuk memperetat ukhuwah silaturrahim bagi semua warga Hidayatullah dan kaum muslimin di sekitarnya.

Halal Bihalal yang mengusung tema “Bersihkan Hati, Perkuat Iman Menuju Peradaban Islam” tersebut dihadiri oleh seluruh warga Hidayatullah Kebumen mulai dari walim urid SDIT Al Madinah, TK Yaa Bunayya, TPA Shabrun Jamil, serta warga sekitar yang turut berpartisipasi untuk silaturahmi dan halal bihalal bersama seluruh warga Hidayatullah.

Halal Bihala yang berlangsung semarak ini menghadirkan pengisi materi dari Kota Balikpapan yakni Ustadz Zainudin Musaddad, M.A yang juga merupakan ketua Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Pusat Balikpapan, Kalimantan Timur.

Konsultan parenting ini dalam penyampaiannya mengajak kepada hadirin untuk mengajarkan anak dengan kasih sayang. Karena, jelasnya, mengajar dengan kasih sayang pengaruhnya sangat besar bagi perkembangan anak dalam semua aspek belajar.
“Disinilah pentingnya keteladanan. Teladan yang baik dari orangtua akan menelurkan buah yang baik pula, Insya Allah,” pungas dia humoris ini. (ybh/hio)

“Santri Hidayatullah Harus Mampu Genggam Dunia”

Acara Launching English Communiti Pendidikan Ingtegral Hidayatullah Depok / ADIEN
Acara Launching English Communiti Pendidikan Ingtegral Hidayatullah Depok / ADIEN

Hidayatullah.or.id — Ekonom Indonesia, Romeo Rissal Panjialam, mendorong santri Hidayatullah untuk menggenggamdunia dengan cara menguasai bahasa asing khususnya bahasa Inggris dan Arab yang saat ini telah menjadi bahasa internasional.

“Santri Hidayatullah harus hebat. Bisa menguasai bahasa Inggris, dengan ini Anda bisa menggenggam dunia,” kata Romeo Rissal saat meresmikan peluncuran English Community Pesantren Hidayatullah di Kota Depok, Jawa Barat, Rabu (28/08/2014).

Romeo mengungkapkan, dengan diluncurkannya program komunitas bahasa Inggris tersebut, maka proyek pengasaan bahasa di Kampus Pesantren Hidayatullah Depok harus dijalani dengan penuh kedisiplinan dan komitmen yang kuat.

“Walaupunn kita orang Indonesia, kita ingin menjadikan rahang kita rahang Inggris. Pokoknya dengan adanya komunitas ini maka kita dipaksa bahasa Inggris,” ujar bankir dan profesional Indonesia ini.

Pensiunan pejabat tinggi di Bank Indonesia (BI) yang juga concern pada pengembangan ekonomi syariah ini ingin menularkan konsep pendidikan bahasa yang telah berhasil diterapkannya di komplek terpadu Wisata Nagari Sekolah Alam Global Village Bukik Batabuah, Kecamatan Candung, Agam.

Romeo Rissal Panjialam sendiri dikenal sebagai pelanglanglang buana ke berbagai negara lewat karirnya yang cemerlang. Kini Wisata Nagari Global Village yang digagasnya telah telah meluluskan ratusan anak yang mahir berbahasa asing.

Pola pembelajaran di Wisata Nagari Global Village sendiri terbilang uni sebab belajar tidak melulu dilakukan di dalam kelas, bahkan nyaris seluruhnya kegiatan belajar dilakukan secara outdoor. Sehingga pengajar pun tidak sibuka menulis di papan tulis, ruang kelas tanpa meja atau bangku pasalnya anak-anak belajar di alam terbuka.

“Beruntung saya bertemu Hidayatullah yang saya harapkan bisa membawa gagasan penguasaan bahasa asing ini untuk kepentingan umat,” ujarnya.

Sebelum peluncuran program komunitas bahasa Inggris di Hidayatullah Depok, sebelumnya telah dilakukan berbagai persiapan dan pematangan sejak kurang lebih 4 bulan sebelumnya dengan kegiatan sarasehan dan praktek secara intensif.

Metode pengajaran yang diterapkan di Hidayatullah Depok sama dengan yang ada di Global village milik Romeo Rissal, di mana peserta diajak atau disajikan dengan konsep fun learning. Dengan demikian setiap anak akan dengan sendirinya akan aktif berbahasa Inggris.

“Dengan demikian metode ini jika diterapkan dengan sungguh-sungguh, insya Allah, anak anak kita akan bisa berbahasa Ingrris dalam tempo yang tidak terlalu lama,” jelas mantan komisaris di sejumlah perusahaan besar ini.

“Semoga program ini sukses dijalankan di Hidayatullah Depok, selanjutnya nanti kita terapkan juga di kampus-kampus Hiadyatullah yang lain di seluruh Indonesia,” pungkasnya. (hio/ybh)

Menjaga Ukhuwah Silaturrahim untuk Kelangsungan Dakwah Islam

Ustadz Naspi Arsyad Muhammad, Lc
Ustadz Naspi Arsyad Muhammad, Lc

Hidayatullah.or.id -– Silaturahim merupakan hal yang penting dilakukan, baik itu secara individu maupun kelembagaan. Karena silaturahim merupakan perintah dari Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassalam. Selain itu, silaturahim ini penting untuk membangun sebuah kekuatan ruh baik secara individu maupun jamaah.

Hal tersebut disampaikan oleh Ketua Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Kota Depok, Ustadz Wahyu Rahman, pada acara Silaturrahim Syawal Hidayatullah se-Jabodetabek berlangsung di Kampus Hidayatullah Cilodong, Depok, Jawa Barat saat memberikan sambutannya belum lama ini.

Acara yang bertema “Merajut Ukhuwah, Sinergi Dakwah, Membangun Peradaban Islam” ini dihadiri sekitar 400 jamaah, yang terdiri dari beberapa pengurus pusat, wilayah, daerah, dan warga Hidayatullah Depok.

Menurut Wahyu, yang juga menjabat Direktur Baitul Maal Hidayatullah (BMH), jika pribadi-pribadi maupun unit-unit yang ada di lembaga Hidayatullah itu bersinergi, dan tidak jalan masing-masing maka Hidayatullah akan mampu mencapai cita-citanya.

Jika tidak bersinergi dalam dekapan ukhuwah, kata Wahyu, “Maka ini merupakan pekerjaan rumah bersama bagaimana yang harus dibenahi agar kader mampu memahami dan menguatkan visi-misi lembaga ini dengan baik.”

Sementara itu, dalam tausiyahnya, dai lintas nasional Naspi Arsyad menyampaikan bahwa berbicara tentang merajut ukhuwah mustahil kalau tidak berbicara soal akhlak.

“Ini masalah asasi. Ibaratnya mau membangun sebuah bangunan tapi pondasinya (akhlaknya) tidak ahsan. Jadi ini penting,” ujar Ustadz Naspi.

Menurut Ketua Umum Syabab Hidayatullah ini, kadang umat Muslim banyak waktunya berbicara tentang aqidah, ibadah, dan syariah tetapi tidak berbicara masalah akhlak.

Ketika akhlak sudah bagus, maka akan melahirkan ukhuwah yang bagus pula. Sebab, untuk membangun peradaban Islam, tidaklah gampang. Salah satu faktor penting yang harus terlaksana di dalamnya adalah ukhuwah Islamiyah.

“Ini harus dituntaskan dulu,” katanya. Kenapa masalah ukhuwah belum tuntas? Naspi mencontohkan, ketika ada lembaga dakwah yang sedang dalam masalah bukannya ditolong tapi justru dicaci, didiskusikan, dan tidak ada nada kesedihan.

“Ini realistasnya, umat Islam kini terpecah belah, dan larut dalam pecah belah itu.”

Lebih lanjut Naspi mengatakan, jika kita berbicara masalah ukhuwah maka harus berbicara tentang apresiasi. Jika ada lembaga dakwah lain yang lebih bagus, dan banyak kiprahnya di masyarakat, maka harus diakui oleh yang lain.

“Apresiasi ini diberikan tak lain dalam rangka sinergi dakwah,” ujarnya.

“Dan, jika kita berbicara tentang apresiasi maka harus pula berbicara tentang silaturahim,” pungkasnya. (hidcom)

Masyarakat Berbondong Hadiri Nikah Mubarak Hidayatullah Mentawai

Jelang prosesi ijab kabul pernikahan mubarak Hidayatullah Mentawai / PEC
Jelang prosesi ijab kabul pernikahan mubarak Hidayatullah Mentawai / PEC

Hidayatullah.or.id — Ratusan warga muslim berbondong-bondong menyaksikan pernikahan mubarak 3 pasang santri yang diselenggarakan oleh Pondok Pesantren Hidayatullah di kilometer 8 Tuapejat, Kecamatan Sipora Utara, Kepulauan Mentawai, Sabtu, (23/8) malam lalu.

Pernikahan tiga pasangan calon mempelai yang juga merupakan murid sekaligus dai dan daiyah dari Pesantren Hidayatullah Mentawai itu difasilitasi oleh pihak pesantren mulai dari biaya administrasi nikah hingga mahar mempelai pria. Uniknya, masing-masing pasangan tidak pernah saling kenal apalagi melalui proses berpacaran.

Pembina Pesantren Hidayatullah Mentawai, Ustadz Bakhtiar, dalam wejangan taushiah pernikahan yang ia sampaikan menyampaikan kepada para calon mempelai dan para hadirin yang hadir untuk mendidik generasi umat mulai dari proses orangtuanya sebelum menikah hingga anaknya lahir hingga kemudian tumbuh dewasa.

Ustadz Bachtiar menjelaskan, salah satu tujuan menikah adalah untuk memenuhi kebutuhan fitriah manusia. Dan, lanjutnya, Islam pun memudahkan urusan bagi siapa yang sudah siap dan mampu untuk menikah. Dia juga menyebutkan, dai dan daiyah yang sudah saling memahami agama, diharapkan nantinya akan mampu membina keluarga dengan baik menuju keluarga sakinah, mawadah dan penuh rahmat.

“Inilah hikmahnya menikahkan orang-orang yang sudah paham dengan agama satu sama lain. Jadi pihak KUA (Kantor Urusan Agama) tidak perlu repot-repot memberikan pengetahuan mengenai kaidah-kaidah berumah tangga,” ucapnya.

Berdasarkan pengamatan, pada saat proses pengucapan ijab kabul hanya dihadiri oleh mempelai pria dan wali dari pihak perempuan. Sementara itu, calon pengantin perempuan sengaja tidak dihadirkan.

“Ini juga salah satu ajaran islam, untuk memberikan kebahagiaan tersendiri bagi calon pengantinnya,” ucapnya.

Usai pelaksanaan ijab Kabul, dilanjutkan dengan pembacaan sighat taklik atau janji nikah yang dibacakan masing-masing pengantin pria.

Mulyadi, selaku pengasuh dan sekaligus panitia penyelenggara pernikahan masal tersebut mengatakan, pelaksanaan nikah masal mubarakah itu sudah dilakukan untuk keenam kalinya di kepualauan tersebut oleh Pesantren Hidayatullah.

“Dimana, awal pelaksanaan nikah mubarak di Pesantren Hidayatullah ini dilakukan pada tahun 1996,” imbuh Mulyadi.

Dikatakan Mulyadi, dai dan daiyah yang sudah siap untuk menikah, maka kita pun akan memfasilitasinya secara gratis. Baik itu biaya administrasi maupun maharnya. Lebih lanjut, Mulyadi mengatakan, menikah merupakan salah satu keberhasilan dalam berdakwah.

Dia memaparkan, seorang yang mampu secara materi belum tentu siap secara mental. Di dalam agama islam, kata dia, memberikan kemudahan dalam urusan menikah.

Dalam pernikahan mubarak tersebut juga dihadiri oleh sejumlah pemuka agama dan tokoh masyarakat di daerah tersebut seperti Ketua Yayasan Pesantren Hidayatullah, Ustadz Mustakim Dalang yang sekaligus juga sebagai salah seorang wali nikah dari putrinya.

Kemudian, hadir pula Ustad Salim Paranginangin, Ustad Ngena Ibara, dan kepala KUA Sipora Selatan, Bapak Mujamaul Khair, serta sejumlah pemuka masyarakat dan pemerintah lainnya. (pdc/hio)

Semarak Silaturrahim Syawal Hidayatullah Jawa Timur

Acara ini telah menjadi kegiatan rutin Hidayatullh Surabaya, seperti dalam foto ini acara serupa digelar tahun lalu / DOKA
Acara ini telah menjadi kegiatan rutin Hidayatullh Surabaya, seperti dalam foto ini acara serupa digelar tahun lalu / DOKA

Hidayatullah.or.id — Syawal yang berarti peningkatan dimaknai oleh anggota Hidayatullah sebagai sarana menyambung dan mempererat silaturrahim serta ukhuwah Islamiyah.

Dengan berangkat dari semangat tersebut, Pimpinan Wilayah Hidayatullah Jawa Timur (PW Hidayatullah Jatim) menggelar acara Silaturrahim Syawal belum lama ini bertempat di Masjid Aqsal Madina, Komplek Pondok Pesantren Hidayatullah, Surabaya, Jawa Timur.

Kegiatan ini dihadiri ratusan kader, jamaah, dan simpatisan yang datang dari berbagai wilayah Jawa Timur seperti Malang, Madura, Tulungagung, Madiun, Magetan, Trenggalek, Tuban, Blitar, Bojonegoro, Batu, Nganjuk, Ngawi, Ponorogo dan berbagai wilayah di seluruh Jawa Timur. Wajah mereka berseri-seri ketika bertemu dengan teman-teman sei-iamn dan seperjuangan mereka.

Keakraban tergambar jelas dari bahasa sapaan mereka yang saling bertanya kabar dan perkembangan dakwah di masing-masing tempat tugas mereka. Acara silaturrahim ini juga di dibarengi dengan seminar peradaban Islam yang mengundang pemateri akademisi dari Institut Teknologi Surabaya (ITS) Ir. Muhammad Faqih, MSA, Ph.D yang juga menjabat sebagai PR 2 ITS.

Dalam kesempatan menyampaikan materinya Faqih, MSA.,Ph.D mengungangkapkan kebanggaannya berada di tengah-tengah kader Hidayatullah Jawa Timur.

Beliau juga mengatakan bahwa kepedulian Hidayatullah sebagai ormas Islam terhadap pelayanan sosial keummatan, pendidikan, dan dakwah sangatlah terasa di tengah-tengah umat yang sedemikian haus akan hadirnya dai-dai yang tulus dalam memperjuangkan Islam.

Di tengah-tengah berlangsungnya seminar panitia juga memberikan door prize kepada beberapa peserta yang berpartisipasi aktif dalam seminar. Acara kemudian ditutup dengan jabatan tangan seluruh peserta silaturrahim bersama pimpinan wilayah dan daerah Hidayatullah masing-masing kota dan kabupaten Jawa Timur. (hio/ybh)

Mencerahkan Umat Kampung Sejati tentang Pengurusan Jenazah sesuai Syariah

0

hidayatullah tobadak latihan mandikan jenazah (1) hidayatullah tobadak latihan mandikan jenazah (2)Hidayatullah.com — Sembari merintis dibukanya beberapa unit usaha di sektor pendidikan dan sosial, Hidayatullah Mamuju Tengah terus berkiprah di masyarakat dengan melakukan dakwah taklim dan membangun ukhuwah Islamiyah.

Sejalan dengan program dakwah yang juga digalakkan di lima kecamatan di kabupaten ini, di antaranya majelis taklim di Desa Kadaila, Kecamatan Karossa, Dusun Pulau Kambunong, di kecamatan yang sama.

Juga secara rutin digelar pengajian bulanan di Desa Sejati yang warganya sebagian besar eksodur Timor Timur. Program sosialisasi dan publikasi sekolah yang sedang dirintis juga dipublikasikan.

Pada pertengahan Agustus ini kembali melakukan event yang menurut ketua DPD Hidayatullah Mamuju Tengah, Ustadz Muhmammad Bashori, akan dilakukan bergilir di kecamatan-kecamatan lain. Kegiatan tersebut adalah pembelajaran ilmu Fiqih Islam yang diisi oleh ahlinya, khususnya tata cara mengurus jenazah.

“Kecamatan Tobadak mendapatkan giliran pertama, Insya Allah,” terang pria berperawakan tinggi besar yang selalu riang ini.

Pelatihan penguruzan jenazah sesuai tata cara Islam, acara yang berdurasi selama 5 jam ini dibawakan Ustadz Habibi Nursalam. Beliau adalah pembina Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT) Mamuju Utara yang juga guru di Hidayatullah Pasangkayu.

Bashori selaku penanggungjawab kegiatan menjelaskan bahwa sengaja dipilih bab memandikan dan mengkafani terlebih dahulu dengan pertimbangan waktu yang kurang memadai.

“Pembahasan bab (memandikan dan mengkafani) ini memakan banyak waktu, karena harus dijelaskan dan dipraktekkan secara gamblang terkait banyaknya penyimpangan penyelenggaraan jenazah yang dianggap sesuai sunnah,” demikian dijelaskan pemateri Ustadz Habibi di depan sekira 40 jamaah.

Acara ini berlangsung bertempat di ‘Convention Hall’ yang dibangun hanya 3 jam oleh jamaah sehari sebelum acara. Dengan beratapkan tenda ukuran 8 x 10 meter dipancang di tengah lokasi pembangunan Pesantren Hidayatullah di Desa Mahahe, Kecamatan Tobadak, Mamuju Tengah.

“Acara seperti ini sangat dibutuhkan sekali di masyarakat,” ungkap kepala Kantor urusan Agama (KUA) Kecamatan Tobadak, Fachruddin, M.Ag. saat memberikan sambutan.

Fachruddin beralasan, mengutip kasus di wilayah kerjanya. Ketika keluarga si mayat gusar dan harus kesana-kemari mencari orang yang paham dan mau mengurusi mayat keluarga mereka, karena orang yang akan memandikan juga mengalami kecelakaan dan meninggal pula saat berkeliling itu.

Lebih jauh kepala KUA juga menginginkan acara serupa dilakukan di desa-desa dalam wilayah kerjanya.

“Banyak sekali keawaman dan kekeliruan masyarakat Muslim di sekitar kita dalam prosesi penyelenggaraan jenazah yang justru dianggap sunnah. Hal ini harus ada penjelasan yang nyata di masyarakat,” harapnya. (hio/ybh)