Beranda blog Halaman 639

Wakil Bupati Resmikan Pembangunan Masjid Ponpes Hidayatullah Muara Badak

0
Wakil Bupati Kutai Kartanegara H. M.Ghufron Yusuf ,SH, MM beserta jajarannya saat acara peresmian pembangunan masjid Ummul Quro Hidayatullah Muara Badak
Wakil Bupati Kutai Kartanegara H. M.Ghufron Yusuf ,SH, MM beserta jajarannya saat acara peresmian pembangunan masjid Ummul Quro Hidayatullah Muara Badak

Hidayatullah.or.id — Selain sebagai tempat ibadah, masjid memiliki peran strategis bagi pembinaan masyarakat. Di masjid bisa dilakukan berbagai macam kegiatan, mulai dari pembinaan, pusat koordinasi dakwah para dai, kemudian juga menjadi pusat kegiatan pemberdayaan sosial kemasyarakatan.

Inilah yang dicita-citakan Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah (Laznas BMH) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) saat peletakan batu pertama pembangunan Masjid Umul Quro yang bertempat di Pondok Pesantren Hidayatullah Muara Badak, Samarinda.

Kesaman visi ini pula yang mendorong Wakil Bupati Kutai Kartanegara H. M.Ghufron Yusuf ,SH, MM beserta jajarannya menyempatkan hadir pada acara peresmian pembangunan masjid Ummul Quro ini.

“Saya mewakili Ibu Rita Widyasari (bupati Kukar) yang berhalangan hadir, tapi ini tidak mengurangi rasa bahagia kami bisa meresmikan masjid yang menjadi pusat dakwah dai-dai Hidayatullah ini nantinya,” ujar Ghufron.

Memang diagendakan peletakan batu pertama ini diresmikan oleh orang nomor satu di Kutai Kartanegara, Yaitu Bupati Kutai Kartanegara Rita Widyasari, namun yang bersangkutan mengkonfirmasi berhalangan hadir.

Ghufron Yusuf dalam sambutannya mengatakan bahwa beliau mengapresiasi upaya dakwah tak kenal lelah yang dilakukan oleh para dai Hidayatullah selama ini.

“Kita semua sangat senang dan berbahagia sekali atas semangat para dai Hidayatullah yang tidak kenal lelah dalam berupaya memberikan pencerahan terhadap umat ini,” ungkapnya.

“Dengan kondisi lokasi yang masih belum ada masyarakat di tengah hutan, Hidayatullah sanggup untuk melaksankan tugas mulia ini,” tambahnya.

Insya Allah, tegas dia, pemerintah Kutai Kartanegara akan membantu setiap kegiatan dan program dakwah Hidayatullah termasuk pembangunan masjid ini yang kelak harapkan dia menjadi sentral kajian-kajian keilmuan guna mencerahan masyarakat, yang ada di Kecamatan Muara Badak secara Khusus dan masyarkat Kalimantan secara umum.

Sementara itu, Ustadz Muhammad Wali, S.H.I, selaku pengurus Pondok Pesantren Hidayatullah Muara Badak menungkapkan, “Insya Allah, setelah pembagunan masjid ini, kita akan melanjutkan dengan pembangunan asrama putra untuk Tahfidzul Qur’an yang menjadi harapan kita semua agar bisa menampung lebih banyak lagi masyarakat Muara Badak untuk belajar Al-Qur’an,” tuturnya. (ybh/hio)

Optimalkan Pendidikan, Hidayatullah Uncang Bangun Gedung Sekolah

Peletakan Batu pertama Pembangunan Gedung SDI Integral Luqan Al-Hakim kampus 2 Tanjung Uncang Hidayatullah Batam 2 Peletakan Batu pertama Pembangunan Gedung SDI Integral Luqan Al-Hakim kampus 2 Tanjung Uncang Hidayatullah Batam 3 Peletakan Batu pertama Pembangunan Gedung SDI Integral Luqan Al-Hakim kampus 2 Tanjung Uncang Hidayatullah BatamHidayatullah.or.id — Guna terus mengoptimalkan pelayanan dan meningkatkan kualitas pendidikan, Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah di Kepulauan Riau, khususnya Batam, akan membangun gedung lokal pendidikan.

Agenda pembangunan ini ditandai dengan peletakan batu pertama Pembangunan Gedung SDI Integral Lukman Al-Hakim berlokasi di Kampus II Tanjung Uncang Hidayatullah Batam oleh Pimpinan Umum Hidayatullah KH. Abdurrahman Muhammad didampingi sejumlah pengurus Dewan Syura dan PP Hidayatullah dan dan juga Ketua PW Hidayatullah Kepulauan Riau, Muhammad Jamaluddin Noer.

Alhamdulillah, di Kampus I Hidayatullah Batam yang berada di bilangan Mukakuning, Batuaji, sendiri kini telah berdiri kokoh sejumlah gedung bertingkat termasuk sebuah masjid berukuran 33×34 meter.

Gedung-gedung yang didominasi cat warna hijau ini adalah markas besar Yayasan Hidayatullah Batam di atas lahan sekitar 2,5 hektare yang dihibahkan oleh Otorita Batam (sekarang Badan Pengusahaan Batam).

Kawasan yang kini adalah lokasi utama Pondok Pesantren Hidayatullah di Batam ini tidak semegah itu tanpa keuletan sang pemimpinnya yakni pria kelahiran Jeneponto, Makassar tahun 1972 ini, Jamaluddin Noer.

Embrio yayasan ini sebenarnya dari sebuah ponpes di kawasan Tiban II yang kini dihibahkan untuk sekolah dasar Islam Terpadu (SDIT). Kala itu suami Ummu Kalsum Kadir ini baru tiba di Batam pada Desember 1997 sesuai tugas yang diembannya dari markas besar yayasan Hidayatullah di Balikpapan.

Berawal dari hanya 22 santri yang menimbah ilmu agama dan pendidikan umum, Ponpes Hidayatullah kian bersinar. Daya tampung yang tak memadai membuat ayah empat anak ini meminta bantuan ke Otorita Batam yang baru beberapa waktu berganti kepemimpinan yakni dari Fanny Habibie kepada eks Gubernur Kepri Ismeth Abdullah.

Dengan modal seadanya, alumni STIA Al-Karimah, Bogor, ini mulai mewujudkan mimpi-mimpinya serta Hidayatullah sendiri untuk mencerdaskan anak bangsa melalui pendidikan formal maupun spiritual mereka.

“Dengan silaturahmi maka apapun bisa dilakukan dan Ponpes Hidayatullah itu menjadi besar hingga saat itu karena modal bersilaturahmi tadi,” kata Jamal membeberkan rahasia suksesnya dalam sebuah kesempatan wawancara dengan media lokal, Batam Pos.

Dia mengatakan, kalau merawat silaturahmi kepada siapa saja khususnya dengan orang yang punya kepedulian dengan pendidikan dan sosial maka mereka akan terus membantu.

Dengan adanya kampus Hidayatullah Batam ini, jelas Jamal, maka akan jadi alat demo dakwah bagaimana menjalankan agama itu dengan baik. Dalam beragama kita harus bisa bersatu dengan semua umat. Jadi ada sosial, pendidikan juga dakwah. Kita juga harus punya ekonomi yang bagus, kita juga harus memahami perpolitikan di daerah ini, imbuhnya.

“Ke depan semoga bisa lahirkan guru-guru yang baik melalui wadah ini karena kita juga tidak rekrut kader-kader Hidayatullah saja tapi juga dari masyarakat umum dan kita juga bisa memberikan kontribusi bagi daerah ini,” tukasnya. (btp/hio)

Kemenag Bulungan Apresiasi Kiprah Hidayatullah

IMG_7748 IMG_7752 225560Hidayatullah.or.id — Rendahnya kualitas dan kuantitas hafalan Al Qur’an pada kaum muslimin saat ini serta, masih banyaknya kaum muslimin yang belum hafal juz Amma, terlebih lagi yang mampu menghafal Al Qur’an seluruhnya, maka perlulah dilakukan langkah nyata guna mengubahnya.

Mindset sulit menghafal Al Qur’an seyogyanya harus dirubah bahkan dihilangkan. Terlebih lagi saat ini telah banyak metode–metode yang bisa digunakan untuk memudahkan menghafal Al Qur’an.

Untuk meningkatkan kemampuan para santri serta kaum muslimin dalam menghafal AL Qur’an, Pondok Pesantren Hidayatullah Tanjung Selor yang dipimpin oleh Ustadz Nur Yahya Asa menggelar pelatihan cara cepat dan kuat hafal Al Qur’an.

Dalam pelatihan ini Ponpes Hidayatullah Selor langsung menghadirkan Abu Hurri Al Qosimi Al Hafidz yang memiliki sebuah metode mudah menghafal Al Qur’an yang memiliki nama metode Al Qosimi.

Kepala Kantor Kementerian Agama (Kakankemenag) Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara, Drs.H.A.Nabhan, dalam sambutan pembukaan pelatihan yang diikuti para santri serta peserta dari luar lingkungan pondok mengharapkan, melalui kegiatan ini para peserta dapat menggali kembali makna dan spesialnya Al Qur’an.

Para peserta diharapkan dapat meningkatkan kemampuannya dalam menghafal Al Quran, terlebih yang mengajarkannya saat ini langsung Ustadz Abu Hurri Al Qosimi Al Hafidz yang memiliki sebuah metode menghafal Al Qur’an yang diberi nama metode Al Qosimi.

Nabhan mengungkapkan hadist, Rasulullah SAW dari Usman bin ‘Affan ra. Rasulullah SAW, bersabda, “Sebaik-baik manusia di antara kamu adalah orang yang mempelajari Al Qur’an dan mengajarkannya”.

Orang yang belajar Al Quran bahkan bisa menghafal dengan baik dan benar, jelas Nabhan, maka orang tersebut akan menerima banyak keistimewaan, salah satu keutamaan orang yang hafal Al Qur’an di tinggikan derajatnya oleh Allah SWT.

Karenanya Nabhan mengharapkan umat Islam harus bisa terus belajar, mendalami dan menghafal Al Quran, terlebih lagi adanya metode baru dari pengembangan metode–metode yang ada sebelumnya, yang bisa memudahkan kita untuk belajar serta menghafalkannya.

Lanjutnya, dengan meningkatnya kemampuan dalam menghafal Al Quran yang di hafal dengan bacaan yang benar, para santri bisa ikut berpartisipasi dalam Musabaqah Tilawatil Qur’an, dan dengan pelatihan ini semoga bisa melahirkan banyak penghafal-penghafal Al Qur’an di Kabupaten Bulungan, harap beliau.

“Saya mewakili Kementerian Agama dan Pemerintah Kabupaten Bulungan mengapresiasi kegiatan pelatihan ini. Semoga output dari pelatihan ini dapat disebar ke seluruh Kabupaten Bulungan untuk terlibat membina masyarakat khususnya anak–anak di bidang menghafal Quran,” imbuhnya.

Dia menuturkan, kiprah Hidayatullah sejalan dengan program pemerintah Bulungan dalam rangka turut serta mencerdaskan kehidupan bangsa. Dia pun berharap Hidayatullah terus melanjutkan program pembinaan umat di wilayah tersebut.

“Kiprah Hidayatullah, terutama di bidang pembinaan umat dengan layanan pendidikan dan dakwah seperti pelatihan pengajaran Al Qur’an patut didukung dan diberi apresiasi,” ujarnya.

Kegiatan dilaksanakan dengan dua segmen, masing-masing satu segmen satu hari. Hari pertama fokus untuk guru formal dan tahfidz di lingkungan Pesantren Hidayatullah Tanjung Selor. Sedangkan hari kedua adalah untuk masyarakat umum yang diundang sebagai peserta.

Selama dua hari peserta dilatih mulai pengenalan metode, trik dan kiat mudah menghafal, konsep kurikulum hingga hingga micro teaching dari metode tersebut.

“Sengaja kita mendatangkan guru ahli ini untuk meningkatkan kemampuan para guru untuk menjadi bekal dalam melakukan pengajaran kepada anak asuh,” kata Luqman, selaku ketua panitia penyelenggara yang juga mengemban amanah sebagai Kepala Cabang (Kacab) BMH Bulungan.

Peserta mengaku bersyukur dan senang dapat mengikuti pelatihan ini. Mereka menyampaikan terimakasih kepada Laznas BMH dan Dakwah Centre Kaltara yan telah menggagas kegiatan ini. Menurut mereka, ilmu terapan menghafal Qur’an dari metode ini sangat aplikatif.

“Semakin bergairah kami dalam melaksanakan tugas mengajar dan mengasuh setelah mendapat materi pelatihan ini,” demikian dikatakan Muhammad Bahri salah seorang peserta memberikan kesan.

Kepala Cabang (Kacab) BMH Bulungan, Lukman, menjelaskan, disinilah peran strategisnya Laznas BMH sebagai lembaga zakat, yakni bagaimana melihat kebutuhan para guru dalam meningkatkan skill kemampuannya dalam mengajar.

“Dan, ini juga merupakan kontribusi masyarakat pada umumnya yang telah mengamanhkan dana ZIS nya melalui BMH. Kami ucapkan terimakasih atas kepercayaan para dermawan Muslim yang mengamanahkan pengelolaaan ZIS-nya melalui BMH,” pungkas Luqman. (elo/bul)

Evaluasi dan Koordinasi Vitalkan Peran Dai di Bulungan

IMG_7385Hidayatullah.or.id — Guna meningkatkan dan mengetahui tren kinjerja dari program yang telah dicanangkan selama 1 tahun, maka mendesak selalu dilakukan adanya evaluasi dan monitoring agar tujuan organisasi dapat benar-benar tercapai.

Berangkat dari spirit tersebut, Lembaga Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah (Laznas BMH) Cabang Kabutapen Bulungan bersama mitra pembinaan masyarakat seperti Yayasan Pesantren Hiadyatullah yang aktif memberikan pelayanan dakwah, melakukan pertemun khusus berupa Halaqoh Muharram yang mengusung tema “Evaluasi dan Korrdinasi Peran Dai Dalam Intgritas Pembinaan Masyarakat”.

Kegiatan ini digelar secara intensif untuk melakukan evaluasi sejauh mana progress pelaksnaan program 2014 dan menyusun program untuk tahun 2015.

Acara yang dihelat di Bulungan belum lama ini bertempat Aula SD Integral Al-Mubarak, Pesantren Hidayatullah Tanjung Selor. Kegiatan yang dihadiri 27 da’I tangguh dari 5 kab/kota Se-Kalimantan Utara ini dibuka secara formal oleh Ketua PW Hidayatullah Kalimantan Utara Ust. Nur Yahya Asa.

Dalam arahannya pria energik dan inspiratif ini mengaskan, “Hanya orang-orang yang memilki kepedulianlah yang dapat mengemban amanah sebagai da’I. Ini modal utama yang harus dimiliki para da’I ketika ingin terjun membina masyarakat”.

Namun, lanjut beliau, tentulah bentuk kepedulian harus diiringi dengan skill dakwah, ilmu yang mumpuni serta ghiroh yang tinggi. Tanpa itu berat untuk memikiul amanah ini. Selain itu harus terkoordinasi dan memiliki target kerja yang dirumuskan dalam kegiatan dan program yang matang dan terencana.

“Sehingga tepatlah kegiatan evaluasi dan koordinasi antar da’I ini digelar dalam rangka meningkatkan kualitas pelayanan masyarakat khususnya di bidang dakwah pembinaan umat,” katanya.

Melalui halaqoh Muharram ini disepakati beberapa program berskala wilayah maupun daerah antara lain: Halaqoh Wustha dan Pembinaan Kader, Super Live Revolution Training, Training Khotib se-Kaltara, Semarak Pra Ramadhan, Up Grading Guru se-Kaltara, Pelatihan Bekam se-Kaltara dan training pemimpin kepemudaan.

Salah seorang dai utusan Kabupaten Malinau, Ustadz Ramli, mengaku semakin bersemangat dalam mengemban amanah dakwah di mana ia ditugaskan. Ia juga optimis usai pembacaan rekomendasi program di akhir acara ini dengan sejumlah agendanya yang diharapkan dapat terealisasi dengan baik sebagaimana program tahun sebelumnya.

“Pencapaian target dakwah jika dibingkai dalam koordinasi yang kuat, insya Allah akan memudahkan kita semua dalam melakukan pembinaan ummat dengan mengedepankan saling sinergi,” tukas dia. (elo/bul)

Sidang Pleno Akhir Tahun Pimpinan Pusat Hidayatullah

20141202_090808_resized
Foto by Mahladi

Hidayatullah.or.id — Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Hidayatullah yang meliputi Dewan Syuro (DS), Majelis Pertimbangan Pusat (MPP), dan Pimpinan Pusat (PP) Hidayatullah menggelar Rapat Pleno Kampus Hidayatullah Batam.

Rapat ini membahas kebijakan-kebijakan organisasi, mengevaluasi, dan penguatan peran Hidayatullah dalam rangka pembangunan bangsa, pemberdayaan umat, maksimalisasi pengembangan pendidikan dan dakwah Islam, vitalisasi layanan sosial dan kiprah-kiprah Hidayatullah lainnya di nusantara.

Sebagai salah satu organisasi masyarakat (ormas) Islam yang dirintis dan didirikan oleh putra-putra terbaik bangsa ini, Hidayatullah menempatkan diri sebagai elemen vital yang menjadi bagian yang terintegrasi dengan sistem pembangunan nasional.

Dibutuhkan Kader Ideologis

jam ilustrasiMENURUT data sejarah yang terus berulang, keberadaan kader ideologis sangat kental dan kuat pada generasi awal sebuah lembaga, organisasi atau pergerakan.

Sebab, pada awal-awal pembentukan atau perintisan masih berinteraksi langsung dengan pendiri atau penggagas ideologis. Meskipun kondisi awal sangat sulit dan memprihatinkan tapi itulah yang memupuk idealisme mereka menjadi tumbuh subur.

Sebaliknya yang seringkali melunturkan idealisme adalah kemapanan, fasilitas berbagai kemudahan di sekitarnya. Nyaris tidak ada tantangan, tekanan dan kesulitan sehingga karakter seorang ideolog menjadi melemah dengan sendirinya. Hal ini terjadi ketika perjalanan lembaga sudah melewati dua tiga generasi dan mengalami banyak kemajuan atau bertambah besar.

Selanjutnya, kembali kepada permasalahan melahirkan kader ideologis yang menjadi keharusan dari sebuah pergerakan. Kerumitan dan berat dalam memproses calon-calon kader ideologis. Sebab, bukan hanya sisi intelektualitas tapi juga moralitas, mentalitas, spritualitas dan skill yang harus di atas rata-rata orang pada umumnya.

Apakah kader ideologis akan otomatis melahirkan kader ideologis? Ternyata tidak ada kelahiran kader ideologis yang otomatis. Ternyata dalam kenyataannya kader-kader ideologis yang sudah berkeluarga, kebanyakan hanya melahirkan kader-kader biologis.

Anak keturunannya tidak mewarisi ideologis yang dimiliki oleh orang tuanya. Ada yang lebih ironis, anak-anaknya merasa menyesal lahir dari keluarga ideologis karena penuh dengan penderitaan dan kesulitan sehingga mereka justru balik memusuhi gerakan ideologis.

Kader biologis yang lahir dari kader ideologis sebenarnya memiliki peluang lebih besar untuk menjadi kader ideologis juga. Sebab mereka memiliki gen keturunan yang sudah sesuai, ada kultur keluarga yang kondusif dan tauladan yang dekat dengannya. Tentu harus melewati berbagai persyaratan dan tahapan sebagaimana prosesnya lahir kader ideologis melalui proses pengkaderan yang ketat.

Sebab banyak generasi yang secara biologis jauh dari keturunan ideologis, artinya bukan anak siapa-siapa tapi bisa terantar untuk menjadi kader ideologis. Meski terkadang langkah-langkah awalnya masih diragukan komitmen dan kekaderannya.

Kemandirian dan kesungguhannya untuk berproses menjadi kader ideologis menjadikan mereka lebih bisa mewarisi ideologi dari sebuah gerakan dibandingkan kader biologis dari pergerakan tersebut.

Kemudian kader akademis juga memiliki peluang untuk menjadi kader ideologis. Meskipun bukan jaminan 100 persen untuk yang memiliki jenjang kader akademis bisa menjadi kader ideologis. Sebab kebanyakan kader akademis memiliki pemahaman hanya di permukaan atau bagian luar dari sebuah gerakan bukan pada intisari atau subtansi gerakan tersebut.

Inilah yang seringkali mengkhawatirkan dari generasi akademis yang memilki kemampuan akademis di atas rata-rata tapi tidak memiliki pemahaman yang utuh dari visi misi organisasi sehingga pada akhirnya mereka yang mengkaburkan atau membelokan arah tujuan organisasi.

Selanjutnya yang menjadi kesimpulan sementara dari lahirnya generasi ideologis memerlukan rekayasa sosial untuk pembentukan mental yang tangguh dan tahan banting. Secara intelektual juga harus digembleng untuk bisa memiliki pengetahuan dan skill yang profesional untuk menyelesaikan problamatika di tengah masyarakat.

Secara spritual juga tidak boleh kedodoran karena inilah unsur yang menjadi benteng untuk menyerap energi dari Allah swt karena banyak probelmatika yang tidak bisa dijangkau dengan otak dan kekuatan manusia biasa. Wallahu a’lam bish shawwab. *

_________________
ABDUL GHOFAR HADI, penulis adalah Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Hidayatullah (STISHID) Balikpapan, Kalimantan Timur. Sekaligus menjadi kepala pengasuh ratusan santri putri di komplek terpadu Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Teritip.

 

 

 

 

Santri Hidayatullah Harus Terus Belajar dan Berlatih

Closing English Community Hidayatullah DepokHidayatullah.or.id — Ketua Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, Jawa Barat, KH. Wahyu Rahman, mendorong kepada segenap santri dan warga di lingkungan pesantren untuk membangun budaya ilmu dengan terus belajar dan tidak berhenti berlatih.

Hal itu ditegaskan beliau di hadapan hadirin dan santri di lingkungan Pesantren Hidayatullah Depok, saat memberikan sambutan dalam acara Performance and Closing English Community di Kampus Hidayatullah Depok, akhir November lalu.

Beliau mendorong para santri untuk senatiasa membangun kedisiplinan dan tidak berhenti dalam memantapkan kemampuan bahasa asingnya tidak saja bahasa Inggris tapi juga bahasa lainnya seperti bahasa Arab.

“Program ini (english community) harus terus berkelanjutan dan dikembangkan, tidak saja di sini tapi diharapkan juga di tempat lain,” kata beliau.

Bertempat di halaman gedung Hidayatullah Training Centre (HiTC), Komplek Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, Jawa Barat, yang selama tiga bulan bekerjassama dengan Tim Global Village, memasuki puncak kerjasama yang ditandai dengan gelaran Performance & Closing English Community, akhir November lalu.

Dalam acara puncak kerjasama tersebut, terlihat perkembangan berbahasa Inggris seluruh santri yang belajar di Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Depok telah menunjukkan progress yang sangat mengemberikan.

Peningkatan kemampuan bahasa Inggris ini hampir merata di semua tingkatan mulai dari SD, SMP, SMA, dan juga perguruan tinggi (PT) STIE Hidayatullah yang pada kesempatan tersebut masing-masing menampilkan kemampuan mereka.

Dari SD Integral Hidayatullah, misalnya, memberikan perform yang sangat semarak berupa pemapilan nasyid berbahasa Inggris yang membawakan lagu musisi yang masyhur di Timur Tengah, Yusuf Islam.

Kemudian, masih perform dari SD Hidayatullah, menampilkan pembacaan puisi dalam bahasa Inggris yang dibawakan oleh Ibrahim, santri kelas IV SDIT Hidayatullah Depok. Langgam dan cekokan frase Inggrisnya tidak berlebihan jika dilevelkan dengan kemampuan bahasa Inggris yang sangat british.

Khusus program Sekolah Pemimpin, perkembangannya juga sangat pesat. Menampilkan 3 master of ceremony (MC) yaitu Habib, Syarifin, Ismail Rizki Hasan, mengantar acara ini menjadi lebih hidup dan berkesan hingga acara usai. Bahkan, Bapak Romeo Rissal Panjialam selaku founder Global Village menyatakan sangat terkejut dengan perkembangan santri Sekolah Pemimpin.

“Kalau kita belajar bahasa dengan cara praktik, maka waktu tiga bulan sudah cukup memberikan bukti bahwa bahasa itu memang pembiasaan. Dan, saya cukup kaget dengan perkembangan Habib ini,” ucapnya dengan penuh antusias.

Menurut Ibu Mona, tutor yang selama tiga bulan mendampingi proses pembiasaan berbahasa para santri, khsusunya Sekolah Pemimpin, perkembangan anak-anak meningkat sangat baik dan cukup menggembirakan.

“Sebanyak 80 persen pemimpin kelompok dalam English Community mengalami peningkatan pesat,” ujar wanita yang biasa disapa Princess bagi murid-muridnya ini.

Sementara itu, Abdul Hamid MM, yang mewakili Dinas Pendidikan Kota Depok, mengatakan sangat mengapresiasi kegiatan English Community yang digagas di Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, Jawa Barat, ini.

“Saya mewakili Dinas Pendidikan Kota Depok, sangat mengapresiasi kegiatan English Community di Pesantren ini. Dan, ini merupakan sumbangsih nyata pesantren untuk membawa generasi muda kita memiliki kompetensi bersaing di dunia global,” ucapnya.

Romeo dalam sambutannya berpesan agar English Community ini harus terus berjalan. Tiga bulan berjalan ini bukan akhir pembelajaran kita, tetapi saatnyalah Pesantren berupaya untuk terus melanjutkan program yang sudah bisa kita lihat hasilnya secara bersama-sama ini, harapnya.

Sekolah Pemimpin adalah program unggulan BMH yang dimaksudkan untuk bisa melahirkan generasi muda yang cakap dan siap berdakwah dalam pergaulan global.

Seluruh santri Sekolah Pemimpin mendapat beasiswa full dari BMH. Bahkan dalam waktu dekat, BMH berupaya untuk membangunkan Gedung Sekolah Pemimpin yang lebih representatif.

“Demi dakwah masa depan kita harus upayakan ini sekuat tenaga,” ungkap Ade Syariful Alam selaku Pimpinan BMH Jakarta. (red/bmh)

Semarak Program Hidayatullah di Dusun Tallungallo

Pimpinan Umum Hidayatullah KH. Abdurrahman Muhammad (bersorban) didampingi pengurus PW Hidayatullah Sulsel dan Sulbar / BAS
Pimpinan Umum Hidayatullah KH. Abdurrahman Muhammad (bersorban) didampingi Ketua PP Hidayatullah Tasyrif Amin (paling kiri) dan pengurus PW Hidayatullah Sulsel dan Sulbar di lokasi bakal Kampus Hidayatullah Tallungallo/ BAS
Komplek lokasi Hidayatullah Mamuju Tengah / BAS
Komplek lokasi Hidayatullah Mamuju Tengah / BAS
Program Hidayatullah dalam bina aqidah kaum Muslimin di Mamuju / BAS
Program Hidayatullah dalam bina aqidah kaum Muslimin di Mamuju / BAS

Hidayatullah.or.id — Mamuju Tengah atau disingkat Mateng, kabupaten yang pada tanggal 14 Desember mendatang genap berusia dua tahun ini sedang berbenah diri dalam pebangunan daerah di semua lini.

Dengan semarak pembangunann tersebut, hingga ke 53 desanya pun demikian serempak melakukan pembenahan pembenahan di sana sini.

Desa Kadaila sebagai desa yang paling utara di kabuaten ini, selain mengalami pertumbuhan pada bidang pertanian yang signifikan, diimbangi perkembangan desa dengan mengintenskan kegiatan majelis-majelis ilmu bagi sekira 1200 warga muslimnya.

Demikian juga Pengurus Daerah Hidayatullah Kabupaten Mamuju Tengah (PD Mateng). Memiliki dua tempat rintisan pesantren yang sama sama dalam kecamatan Tobadak, kini sedang dalam proses pembukaan lokasi sekolah taman kanak-kanak di jalur poros provinsi. Tepatnya di dusun Tallungallo.

Proyek pembangunan komplek lokasi Hidayatullah Mamuju Tengah untuk pendidikan dan pembinaan umat / BAS
Proyek pembangunan komplek lokasi Hidayatullah Mamuju Tengah untuk pendidikan dan pembinaan umat / BAS

“(Sekolah ini) sekaligus memudahkan teman-teman singgah di kantor” terang Mursalim, selaku ketua panitia pembebasan lokasi. Ia juga menjelaskan selain fungsi layanan pendidikan kepada masyarakat untuk pendidikan pra sekolah.

Keberadaan kampus Hidayatullah Tallungallo dalam rencana juga memudahkan akses informasi dan hubungan ke pemerintah. Menyikapi jarak kampus Saloadak berjarak lumayan jauh dan belum terjangkau jaringan telpon seluler.

Dinamisasi organisasi juga dilakukan dengan mengadakan training bina aqidah. Menggandeng bagian Bina Program dan Kesra Pemkab Mateng, kegiatan serupa direncanakan akan dilaksanakan persemester itu berjalan sukses dengan
Masjid Al-Maulana di komplek Kota Terpadu Mandiri (KTM) Tobadak sebagai tempat acara yang dihadiri sekira 80an peserta.

Hadir membuka dan juga bertindak sebagai pemateri, ketua Pimpinan Wilayah Hidayatullah Sulawesi Barat (PW Sulbar), Drs. Abu Bakar Muis, dan Drs. Muhammad Naim dan Habibi Nursalam.

Sembari menormalkan semua kegiatan yang sudah berjalan, pengurus dihadapkan dengan rencana Diklatsar yang juga akan ditempatkan di kampus Saloadak.
Meski masih lima bulan lagi, persiapan sebagai tuan rumah bukan waktu yang banyak.

Sehingga pembenahan fisik kampus merupakan hal rutin yang menjadi ritme kehidupan di lokasi Trans Swadaya Mandiri (TSM) ini. Misalnya kerja bakti pekanan meliputi pembenahan jalan, persiapan lokasi upacara dan diklat juga beberapa persiapan pengadaan bahan ramuan kayu.

Bersamaan area perkebunan di TSM Hidayatullah sedang dilakukan proses penanaman kelapa sawit di atas sdikitnya 200 hektar milik warga dan tanah kas pesantren.

“Bekerjalah lebih giat lagi, karena etos kerja tinggi adalah budaya kita” ujar ketua PW Hidayatullah Sulbar, Abu Bakar.

Beliau melanjutkan, agar semua kegiatan (diklatsar) yang akan diikuti oleh seluruh anggota Sarnas Hidayatullah se-Indonesia Timur, mulai dari pembalajaran klasikal, pendidikan dan latihan, seremonial pembukaan dan penutupan nantinya dilakukan secara terbuka dan di tempat terbuka.

Pihaknya ingin terus menlanjutkan kiprah dan tradisi Hidayatullah kepada khalayak di mana Hidayatullah sangat konsen dengan kegiatan-kegiatan kemasyarakatan hingga ke lini pencarian dan pertolongan korban bencana.

Praktis, dari semua rangkaian program dan agenda tersebut, bagi pengurus Hidayatullah Mamuju Tengah semuanya adalah tantangan yang bisa dijawab dengan kinerja yang solid dan berkualitas.

“Karena selain tuntutan sukses melayani di semua acara, kewajiban meningkatkan kualitas keimanan dengan aktif mengikuti halaqah pekanan tetap terjaga,” ujar Ketua PD Hidauyatullah Mateng, Abu Umar Basya. (bas/hio)

Hidayatullah Terus Matangkan Manajemen Pembinaan Muallaf

Muallaf Papua New Nugini di Kampus Hidayatullah Ranting Poumako, Papua
Muallaf Papua New Nugini di Kampus Hidayatullah Ranting Poumako, Papua

Hidayatullah.or.id — Para muallaf adalah orang-orang yang hatinya hendak dilunakkan dan direngkuh ke dalam Islam. Dalam upaya untuk melunakkan dan merengkuh mereka dalam Islam, Hidayatullah berpedoman pada “Jiwa Kenabian” yang dijelaskan dalam ayat Qur’an Surah At Taubah ayat 128:

“Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri (min anfusikum), berat terasa olehnya penderitaanmu (aziizun ‘alaihi maa ‘anittum), sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu (harishun ‘alaikum), amat belas kasihan lagi Penyayang terhadap orang-orang mukmin (bilmu’miniina rauufurrahim).

Maka, berdasarkan ayat itu pula, Hidayatullah menyusun pola pembinaan muallaf yang mencakup 4 pola pembinaan, yakni, pertama, pola Pendekatan.

Pola pertama ini adalah pendekatan. Yaitu seorang dai atau lembaga yang berniat mengurusi para muallaf ini harus dikenal dan dipercaya terlebih dahulu oleh mereka.

Ia (pembina/ dai/ lembaga) harus dapat menjadi bagian dari mereka sebagai perwujudan dari prinsip “min anfusikum”. Jika seorang dai dapat menyatukan hatinya dengan hati mereka, maka banyak tujuan dakwah yang dapat dicapai.

Kedua, terlibat penuh. Setelah diterima, seorang dai harus melibatkan dirinya secara penuh dalam mengurusi mereka agar ia dapat memahami dan merasakan ‘jiwa’ mereka yaitu: merasakan beratnya penderitaan yang dialami oleh mereka, mengerti kebutuhan mereka dan menangkap aspirasi-aspirasi mereka, lalu kemudian membimbingnya. Inilah perwujudan dari prinsip: “aziizun ‘alaihi maa ‘anittum”.

Ketiga, tulus. Dalam membimbing mereka, seorang dai semestinya harus sudah “selesai” dengan dirinya sendiri. Ia tidak mengharapkan apa-apa, yang ia inginkan hanyalah keimanan dan keselamatan mereka.

Untuk mewujudkan hal ini perlu ada lembaga yang mencukupi kebutuhan hidup sang dai secara memadai, sehingga ia dapat benar-benar dapat fokus dalam membina para muallaf tersebut. Inilah perwujudan dari prinsip: “harishun ‘alaikum”.

Keempat, penuh Kasih sayang. Jika para muallaf itu kini telah menjadi bagian dari barisan orang mukmin, maka mereka harus diperlakukan dengan penuh kasih sayang. Karena sesungguhnya menjadi seorang muallaf itu merupakan sebuah pilihan yang yang tidak mudah dan butuh pengorbanan.

Mereka harus dibantu, dimudahkan, dihilangkan beban-beban yang membelenggu dan memberatkan punggungnya, dan ditumbuhkan potensinya. Inilah perwujudan dari prinsip: “bil mu’miniina raufurrahiim”.

Pola manajemen pembinaan muallaf oleh Hidayatullah ini telah dipaparkan oleh Ketua Persaudaraan Dai Indonesia (POSDAI), Ahmad Suhail, dalam acara Focus Group Discussion (FGD) yang digelar oleh Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) bekerjasama dengan HBMI di Hotel Gren Alia Cikini, Jakarta, Rabu, 19 November 2014 lalu. (red/hio)

Upgrade Dai untuk Penguatan Bina Aqidah dan Muallaf

stai-lukman-hakim-hidayatullah-wisudah-2014-3Hidayatullah.or.id — Kebutuhan para muallaf itu sungguh kompleks. Kehadiran seorang dai yang benar-benar dapat menjadi ‘keluarga’ dan membimbing mereka sungguh dibutuhkan.

Demikian pemaparan Ketua Persaudaraan Dai Nusantara (POSDAI), Ahmad Suhail, dalam acara Focus Group Discussion (FGD) tentang Pola manajemen pembinaan muallaf yang digelar oleh Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) bekerjasama dengan HBMI di Hotel Gren Alia Cikini, Jakarta, Rabu, 19 November 2014 lalu.

Namun, jelas Suhail, karena kebutuhan akan dai pembimbing ini begitu besar, tentu hal ini tidak dapat ditangani oleh sebuah lembaga sendirian. Masalah ini harus ditangani dengan melibatkan banyak pihak.

Menyadari hal tersebut, Departemen Dakwah Hidayatullah lewat PosDai (Persaudaraan Dai Indonesia) membuat program-program diantaranya program layanan umat.

“Program Layanan Umat ini bertujuan membina masyarakat umum agar mereka dapat menjadi dai atau aktivis dakwah di lingkungan masing-masing,” jelas Suhail.

Adapun bentuk-bentuk Layanan Umat ini, sambung dia, meliputi Super Life Revolution (SLR) Training, Training Dai & Khatib, Training of Trainer, dan sebagainya.

Selain itu, ada layanan umat dalam bentuk kajian rutin meliputi sub tema Islam Digest, Kajian Panduan Ber-Islam, dan Grand MBA (Gerakan Dakwah Mengajar-Belajar Al-Qur’an ).

Selain Program Layanan Umat, Posdai juga memiliki Program Khusus. Program khusus ini bertujuan melahirkan para dai yang siap diterjunkan ke berbagai daerah yang membutuhkan peran dakwah di seluruh wilayah Nusantara.
Adapun bentuk dari program khusus ini, diterangkan Suhail, adalah meliputi diantaranya Ma’had ‘Aly, Daurah Murabbi/Mu’allim, dan Jaringan PosDai.

Guna penguatan bina aqidah umat dan muallaf, PosDai juga membuat Program Peduli Dai Nusantara. Program ini bertujuan untuk memberikan bantuan kepada para dai yang bertugas di seluruh wilayah Indonesia, baik material maupun non material.

Adapaun bentuk dari program ini diantara adalah penugasan dai yang melakukan perintisan daerah dakwah/binaan, menembus wilayah-wilayah yang membutuhkan peran dakwah di sana.

Program Peduli Dai Nusantara ini polanya dalam bentuk bantuan operasional dai. Seperti pemberian motor, perahu atau alat transportasi lain yang diperlukan untuk berdakwah dan pemberian insentif untuk dai.

Juga santunan dai, bagi yang mengalami musibah, sakit atau meninggal dunia.
Juga memberikan layanan advokasi dai, terutama yang bertugas di daerah perintisan, terpencil, miskin sumber daya, daerah konflik dan bencana.

Selain itu, Peduli Dai Nusantara ini memuat program pendidikan dan pelatihan dai untuk melahirkan dai-dai yang siap menjadi penggerak dakwah di lingkungan masing-masing dan juga dai-dai yang siap ditugaskan di mana saja. serta Penghargaan untuk Dai yang diperuntukkan bagi dai yang istiqamah dan berprestasi di jalan dakwah.

Suhail menjelaskan, karena begitu besarnya biaya yang dibutuhkan, sehingga Islam menekankan bahwa urusan dai fi sabilillah dan muallaf merupakan tanggung jawab kaum Muslimin dan memasukkan dua hal tersebut sebagai bagian dari kelompok yang wajib dibiayai kelangsungan hidupnya dari zakat kaum Muslimin sebagaimana firman Allah SWT dalam Qs.9: 60.

“Patut disyukuri bila BAZNAS memberi perhatian besar dalam hal ini dan mau membiayai program-program yang berkaitan dengan hal tersebut. Wallahu’alam bish-shawab,” pungkasnya. (red/hio)