Beranda blog Halaman 642

Hidayatullah Malang Desak Pemerintah Stop Miras

aksi simpatik hidayatullah malang sambut Ramadhan 2 aksi simpatik hidayatullah malang sambut RamadhanHidayatullah.or.id — Ormas Islam Hidayatullah mendesak Pemerintah Kota Malang untuk menerbitkan regulasi ketat bahkan memutus mata rantai perederan miras di kota tersebut yang dinilai sangat mengkhawatirkan khususnya bagi kelangsungan moral generasi muda.

“Stop Miras, Berantas Maksiat, Tegakkan Syariat,” demikian sebuah slogan yang tertera pada dua spanduk besar yang dipampangkan di depan Kantor Walikota yang juga bersebelahan dengan Kantor DPRD Kota Malang, pada Jumat (29/6/2014) lalu.

Ustad Muhammad Mukti dari Pesantren Hidayatullah Malang dalam orasi simpatiknya mengimbau kepada pemimpin-pemimpin yang dipilih oleh rakyat untuk membangun keteraturan masyarakat agar menggunakan wewenangnya dengan benar dan tidak khianat.

“Mereka yang memiliki pertanggung jawaban utama. Maka harus amanah, agar tidak terjadi kezaliman dan kemaksiatan khususnya di Kota Malang,” kata Mukti.

Mukti menerangkan bahwa amanah utama seorang pemimpin adalah menjalankan hukum Allah, tidak hanya ketika Ramadhan, tapi untuk seterusnya.

Targhib Ramadhan ini dilaksanakan guna menyambut kedatangan bulan Ramadhan yang bebas maksiat dan kenyamanan beribadah. Kegiatan ini berlangsung setelah sholat Jumat hingga sore hari, dimulai dengan berkumpul di Masjid A.R. Fachruddin Universitas Muhammadiyah Malang kemudian berkonvoi melewati Jalan Tlogomas, Dinoyo, Soekarno Hatta, Ijen hingga sampai di depan Kantor Wali Kota Malang yang merupakan daerah pusat Tugu Kota Malang.

Ratusan peserta tersebut mengendarai sepede motor dan mobil diiringi dengan seruan dan imbauan bagi Masyarakat Malang Raya khususnya pada tempat-tempat hiburan yang dilewati. Sebab telah diketahui dan diduga lokasi-lokasi tersebut menjadi tempat praktik amoral seperti menjual minuman keras dan berbuat mesum seperti tempat karaoke, lokalisasi seks, dan panti pijat. (gl/hio)

Aksi simpatik yang juga merupakan kegiatan Targhib Ramadhan dihadiri juga oleh ormas Islam lainnya seperti Forum Takmir Masjid, Pemuda Muhammadiyah, serta Barisan Santri dan Masyarakat Muslim Malang (BSM), dan sejumlah elemen umat Islam lainnya.

Dalam orasinya, ketua Barisan Santri dan Masyarakat Muslim Malang (BSM), Ustadz Dr. Ghozali, menyatakan menegakkan dienul Islam bukan hanya status agama Islam. Ghozali menjelaskan bahwa puasa merupakan perintah yang diwajibkan, namun Allah juga mewajibkan untuk menjalankan hukum seperti qishas, rajam, dan lainnya.

“Baik diranah privat dan masyarakat harus ditegakkan, demikian merupakan konsekuensi dari keislaman dan keimanan yang sempurna,” tandasnya. (hio/ybh).

Hidayatullah Nunukan Terima Hibah dari Pemerintah

0

hidayatulla nunukanHidayatullah.or.id — Bupati Nunukan H. Basri didampingi sejumlah pimpinan FKPD dan SKPD , melaksanakan buka puasa bersama warga Nunukan di Masjid An-Nur yang berlokasi di depan Rumah Pribadi Bupati Nunuka Jl. Sungai Fatimah Kecamatan Nunukan (n), Senin (30/6/14) lalu. Dalam kesempatan itu Bupati menyerahkan dana hibah untuk Pesantren Hidayatullah Nunukan.

Buka puasa yang digelar Bupati tersebut juga dihadiri anggota DPRD Kabupaten Nunukan, organisasi-Organisasi Islam, pengurus FKUB Nunukan, santri Pesantren Hidayatullah Nunukan, masyarakat Nunukan, wartawan serta turut hadir Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Nunukan H.M.Shaberah,S.Ag.MM.

Bupati Nunukan Basri dalam sambutannya mengatakan buka puasa bersama dengan masyarakat ini merupakan bagian dari silaturahmi Ramadhan antara pemerintah daerah dan masyarakat setempat.

”Buka puasa bersama ini, sebenarnya lebih diutamakan adalah silahturahmi Ramadhan Pemkab Nunukan 1435 H dan sekaligus peresmian Pengunaan Masjid An-Nur ini. Oleh karenanya itu, saya mengucapkan terima kasih atas kedatangan hadirin para undangan sekalian,” ucap Bupati Basri.

Sementara itu, di lokasi buka puasa bareng Bupati sebelum melaksanakan buka puasa bersama, terlebih dahulu di isi dengan Tausiah disampaikan oleh DR. Ir. KH. Zainal Abidin, MH yang juga Pengurus Pondok Pesantren DDI Mangkoso yang datang dari Sulawesi Selatan untuk mengisi kegiatan dakwah selama sebulan penuh di bulan suci Ramadhan di Masjid An-Nur. (hum/hio)

Lulusan STIE Hidayatullah Langsung Diserap Bursa Kerja

Prosesi penugasan dai sarjana STIE Hidayatullah angkatan II Tahun 2014
Prosesi penugasan dai sarjana STIE Hidayatullah angkatan II Tahun 2014
Prosesi penugasan dai sarjana STIE Hidayatullah angkatan II Tahun 2014
Prosesi penugasan dai sarjana STIE Hidayatullah angkatan II Tahun 2014
Prosesi wisuda STIE Hidayatullah angkatan II Tahun 2014
Prosesi wisuda STIE Hidayatullah angkatan II Tahun 2014
Prosesi wisuda STIE Hidayatullah angkatan II Tahun 2014
Prosesi wisuda STIE Hidayatullah angkatan II Tahun 2014

Hidayatullah.com – Sebanyak 75 orang lulusan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Hidayatullah (STIEHID) Kota Depok, Jawa Barat, angkatan ke-2 ini langsung diserap bursa kerja. Artinya, seratus persen wisudawan STIEHID tahun 2014 ini tidak ada yang menganggur. Demikian dikatakan Ketua Panitia Wisuda STIE Hidayatullah Tahun 2014, Dr Abdullah.

“Pada wisudawan tahun ini, STIE Hidayatullah Depok meluluskan 75 orang sarjana. 57 orang jurusan Manajemen dan 18 orang jurusan Akuntansi”, kata Abdullah kepada media ini, Senin (30/06/2014).

Abdullah menerangkan, semua lulusan tersebut sudah terserap di dunia kerja, tidak hanya dilingkungan amal usaha milik organisasi Hidayatullah, namun juga di beberapa instansi pemerintah dan swasta.

“Jadi lulusan STIE Hidayatullah sepenuhnya sudah menjadi penggerak pembangunan di tengah masyarakat”, imbuh Abdullah.

Dikatakan Abdullah, guna berkemampuan berkompetisi di era globalisasi saat ini STIEHID juga selalu mendorong pengembangan ekonomi kreatif bagi civitas akademiknya. Sehingga tak heran lulusannya kompetitif dan sudah diterima di bursa kerja bahkan sebelum mereka diwisuda.

Penciptaan atau penggunaan pengetahuan industri kreatif yang meliputi diantaranya kerajinan, desain, perangkat lunak, dan berbagai aspek inovatif lainnya, jelas Abdullah, dilatari oleh beragamnya kreatifitas bakat serta minat mahasiswanya.

“Sehingga komitmen kita, STIE Hidayatullah harus terus mempelopori pengembangan minat industri kreatif ini bagi mahasiswa dalam mendukung kesejahteraan dalam perekonomian umat dan bangsa,” kata Abdullah.

Bertemat di Gedung Pusat Dakwah Islamiyah (PUSDAI) Komplek Pemda Kabupaten Bogor, pada hari ahad (22/06/14) lalu Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Hidayatullah Depok melangsungkan Prosesi Wisuda II. DR. Abdul Mannan, SE, MM, selaku Ketua Senat STIE Hidayatullah memimpin langsung prosesi wisuda. Acara berlangsung khidmat dan sacral.

Dalam rangkaian acara wisuda juga di isis dengan orasi Ilmiah yang dibawakan oleh Prof. DR. H. Suryanto, MM. dengan tema ”Urgensi Pendidikan Enterpreneurship Melalui Manajemen Perubahan di Peguruan Tinggi”.

Dalam paparannya, Profesor Suryanto menyatakan bahwa menjadi sebuah kewajiban bagi perguruan tinggi sekarang ini untuk membangun kultur entrepreneurship kepada mahasiswanya sehingga akan terbangun bangsa yang berkemandirian.

“Hidayatullah selama ini sudah melakukan itu, sementara lembaga lain masih berupa wacana dan rencana,” ujar Suryanto. (hio/ybh)

Tebar Kepedulian, Menantang Maut di Dusun Momma

0
Tampak salah satu rumah petani nomaden di Dusun Momma yang berada di pebukitan jauh / BASHORI
Tampak salah satu rumah petani nomaden di Dusun Momma yang berada di pebukitan jauh / BASHORI

Hidayatullah.or.id — Ando, remaja usia 34 tahun penduduk dusun Momma, pedalaman jauh Mamuju, mengisahkan kalau dirinya dan 25 warga muslim lainnya sudah lama tidak melakukan shalat Jumat di masjid.

Bahkan, masjid berbahan kayu berukuran 6 x 7 meter itu terlihat kotor saat saya dan ustadz Roziqin hendak memilih bangunan itu sebagai tempat untuk mendistribusikan pakaian dari seorang pembaca setia majalah Suara Hidayatullah asal Serang, Banten.

Di sana sini dalam ruangan berlantai semen itu dipenuhi kotoran hewan dan nampak sudah lama tidak terjamah manusia, bahkan beberapa dinding papannya lapuk.

Ando dan sepupunya bergegas menuju pinggiran dusun persisnya di ujung tebing dan berteriak memanggil beberapa orang yang terlihat sedang bekerja di tebing gunung seberang untuk berkumpul.

Kami berinisiatif mendahului mereka ke masjid agar berkesempatan membersihkan dan menyiapkan bungkusan paket yang dari tadi berada di boncengan sepeda motor. Paket itu sudah dilumuri percikan lumpur jalanan dan tidak rapi lagi.

“Memang tidak ada informasi sebelumnya kepada mereka,” ustadz Roziqin menjelaskan. Karena untuk menyampaikan kabar ke sini harus datang langsung dan itu memakan waktu dan tenaga yang banyak. Selain tidak terjangkau jaringan sinyal telepon seluler.

Sejam kemudian nampak berdatangan beberapa ibu-ibu yang menggendong anak kecil bertelanjang dada mendatangi masjid. Setelah diyakinkan tidak ada lagi yang datang, ustadz Roziqin memulai pembicaraannya dalam agenda pembagian busana muslim dan mukena.

“(Busana muslim dan mukena) ini adalah wujud perhatian saudara muslim kita di kota meski mereka tidak mengenal kita,” imbuhnya setelah memberikan nasehat tentang pentingnya beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala di manapun kita berada.

Terhitung sebanyak 12 kepala keluarga berbahagia menerima paket busana muslim dan mukena. Sebagian langsung mengenakannya maklum sebelumnya datang tanpa mengenakan jilbab atau pakaian yang layak.

Memausuki dusun ini jangan membayangkan sepereti memasuki layaknya dusun di wilayah transmigrasi lainnya.

Seratus rumah yang disediakan pemerintah melalui program transmigrasi untuk para perambah hutan yang sebelumnya hidup nomaden ini tidak semua terlihat berpenghuni. Mereka masih nyaman dengan gaya berkebun dan hidup secara berpindah-pindah di hutan seputar dusun Moma.

Selama dua jam lebih saat meninggalkan kota kecamatan Rio Pakava harus puas dengan tepian sungai berbatu dan berkelok-kelok sebagai jalur tunggal yang mengantar ke Moma.

Selanjutnya kita akan disuguhi rute aslinya pedalaman di sini. Lereng terjal yang tidak beraturan, sesekali kalau Anda berboncengan sebaiknya turun karena tidak memungkinkan.

Bukit turunan nan curam dengan kondisi berbatu lepas menjadi masalah tersendiri bagi yang belum terbiasa dengan rute ini, warga dusun Moma menyebut itu sebagai jalan. Tetapi saya lebih suka menyebut sungai tanpa air.

Terakhir 2 kilometer sebelum memasuki Moma, sungai yang deras dan jernih alirannya tanpa jembatan seolah tempat rehat semua pengunjung untuk melepaskan peluh di tepinya.

Menurut Ustadz Abdi Roziqin, di sini belum pernah ada petugas kesehatan atau dai yang ditugaskan “Dibutuhkan niat yang kuat juga didukung kendaraan yang kuat pula,” bebernya.

Sehingga Moma nampak seperti belantara hutan muda yang didiami beberapa penduduk pedalaman yang rumahnya sedikit agak rapi meski tetap menunjukan kesunyiannya. Termasuk sunyi dari suasana dakwah sampai waktu yang tidak mereka ketahui batasnya.

Distribusi busana muslim dan mukena juga dilakukan di dusun Rio dengan rute yang sama menantangnya, sehingga terbagi sekitar 25 paket untuk warga muslim dusun Rio.

Masih dalam kecamatan Rio Pakava, warga dusun Owu beberpa juga merasakan buah tangan kedermawananan Ibu Iffat asal Serang itu. Sehingga kini ustadz Roziqin lebih mudah melakukan pendekatan kepada jamaahnya yang tersebar di beberapa tempat yang -dalam istilah Ustadz Roziqin – “bersebalahan dengan akhirat” itu. (Bashori Abu Basya / Mamuju)

IMS Khitan 100 Mualaf di Pulau Siberut Mentawai

ims di siberutHidayatullah.or.id — Islamic Medical Service (IMS) menggelar khitanan massal bagi muallaf di Pulau Siberut, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, Kamis hingga Jumat (19-20/6/2014) lalu. Khitanan massal yang diikuti 100 peserta ini dilaksanakan di Islamic Center Siberut.

Direktur IMS, Drg Fathul Adhim mengatakan pelaksanaan khitanan massal ini adalah untuk memfasilitasi muallaf Kepulauan Mentawai yang jumlahnya semakin banyak.

“Di daerah Mentawai ini masih banyak muallaf yang belum dikhitan. Kemampuan ekonomi yang rendah membuat banyak muallaf yang sudah berislam beberapa lama belum dikhitan. Untuk itu kami adakan khitanan massal ini,” ujar Fathul saat memberi keterangan di Siberut, Kamis (19/6/2014) sore.

Menurut Fathul, antusias muallaf untuk menjadi peserta khitanan massal ini sangat besar.

“Kalau tidak kita bendung itu banyak yang mau ikut. Hanya saja, karena kita minim biaya akhirnya kami batasi 100 peserta,” kata Fathul.

Fathul menjelaskan pelaksanaan khitanan massal di Siberut ini memakan biaya hingga dua kali lipat dibandingkan pelaksanaan khitanan massal yang biasa IMS lakukan di Jakarta dan sekitarnya.

Panitia menjemput dan mengantar peserta dengan perahu mesin, karena banyak peserta yang berasal dari pulau-pulau sekitar Siberut.

Untuk perawatan pasca khitanan para peserta diinapkan selama tiga hari di lokasi. Karena di tempat mereka tinggal tidak ada klinik.

“Harga bensin untuk speed boat bisa sampai tiga kali lipat dari harga di Jakarta. Kami juga sediakan makanan selama mereka untuk menginap. Inilah yang membuat biaya jadi mahal,” jelasnya.

Arif, peserta khitanan massal tertua berusia 44 tahun memberikan apresiasi kepada IMS atas terselenggaranya acara ini.

“Saya terbantu dengan acara ini. Saya ucapkan kepada IMS,” kata Arif yang memutuskan memeluk Islam sejak setahun lalu.

Acara khitanan massal ini terselenggara atas kerjasama IMS dengan didukung oleh BNI Syariah, BMH, Laznas BSM, ZIS Indosat, Baznas, dan Majelis Taklim Telkomsel.

IMS merupakan lembaga kesehatan nasional yang berdiri pada 6 Agustus 2008. Lembaga ini didirikan oleh ormas Hidayatullah. Berdirinya IMS adalah untuk memberi pelayanan kesehatan kepada masyarakat yang tidak mampu. (si/hio)

Bila Semua Bebas Bicara

man holding hand over his mouthSUARA memiliki “kuasa”, sehingga berbicara terkadang senafas dengan kesombongan. Kemasyhuran dan banyaknya pengikut juga memiliki pesona yang tak tergambarkan dalam jiwa manusia.

Sebaliknya, untuk menjadi pendengar yang baik kita harus diam, rendah hati, dan tidak berprasangka buruk. Padahal, kita semua tahu, tidak pernah mudah untuk merelakan diri menjadi orang yang tidak dikenal apalagi yang diabaikan.

Sekarang, menjelang Ramadhan, menahan diri untuk tidak bicara semakin terasa beratnya. Hampir setiap tahun, penentuan kapan puasa dimulai tidak membuat kita tenang menyambut Bulan Suci.

Terlalu banyak orang yang bicara, padahal suara-suara yang bertumpang-tindih di telinga pasti menyesatkan. Nyaris semua orang menyatakan pendapat, entah ia berkompeten atau tidak, berwenang atau tidak, awam atau ulama’.

Apa sebenarnya yang terjadi?

Semakin banyak orang yang bicara berarti semakin sedikit yang mendengarkan. Dan, bila semua orang bicara, sebenarnya sudah tidak ada lagi yang mendengarkan. Maka, musyawarah pasti menemui jalan buntu, dan kesepemahaman maupun kesepakatan hanyalah angan-angan kosong.

Oleh karenanya, kita diminta menyerahkan segala urusan kepada ahlinya. Kita diminta menahan diri dan tidak mengatakan sesuatu yang mana kita tidak memiliki ilmunya. Kita diminta berpegang kepada adab sebagai mustafti (orang yang meminta fatwa), bukannya berfatwa sendiri.

Kita diminta untuk menaati Allah dan Rasul-Nya, tidak mendahului keduanya dalam memutuskan sesuatu. Kita diminta mematuhi pemimpin meski ia seorang budak negro berambut keriting sampai-sampai kepalanya mirip kismis. Kita diminta menjadi barisan ma’mum yang taat, dengan cukup satu imam saja yang memimpin di depan.

Kita juga diminta diam meresapi khutbah Jum’at, tidak bicara meski hanya sepatah kata, dengan cukup satu orang saja yang berdiri di atas mimbar.

Semoga Allah menyatukan hati kita, dan menahan gejolak nafsu menonjolkan diri yang kerapkali mengemuka. Amin.

Marhaban ya Ramadhan!!

Kami tidak berhenti berharap agar – suatu saat – bisa menyambutmu dengan hati penuh sukacita, tanpa terusik keprihatinan dan nestapa!

___________

[*] Alimin Mukhtar. Kamis, 28 Sya’ban 1435 H.

Kiprah IMS Rambah Mentawai

Grand Opening klinik oleh IMS di Kepulauan Mentawai
Grand Opening klinik oleh IMS di Kepulauan Mentawai

Hidayatullah.or.id -– Lembaga kesehatan nasional dibawah koordinasi ormas Hidayatullah, Islamic Medical Service (IMS) dipercaya oleh Atase kedutaan Arab Saudi untuk mengelola klinik layanan kesehatan masyarakat di Kepulauan Mentawai.

Klinik yang diberi nama H. Muhammad Idris Batubara ini terletak di Markas Syeikh Saleh Ar-Rajhi, Siberut Selatan, Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat.

Drg Fathul Adhim, Direktur IMS mengatakan berdirinya klinik ini diharapkan dapat membantu peningkatan kesehatan masyarakat di Kepulauan Mentawai.

“Masyarakat Mentawai sulit sekali memperoleh layanan kesehatan. Ini dikarenakan karena belum tersedianya rumah sakit-rumah sakit yang memadai. Bahkan dalam kondisi darurat banyak masyarakat yang berobat menyeberang pulau ke Padang,” kata Fathul saat peresmian klinik H. Muhammad Idris Batubara, Kamis (19/6/2014) lalu.

Fathul mengisahkan, pernah ada tokoh Islam Mentawai yang sakit kemudian tidak tertolong nyawanya karena terlambat mendapat perawatan medis.

“Waktu tempuh melalui laut ke Padang sekitar 10-11 jam. Sementara jadwal kapal tidak setiap hari. Ustadz itu wafat di tengah jalan saat kami bawa menuju rumah sakit di Padang dengan kapal speed boat yang kami sewa,” jelas Fathul.

Klinik ini, jelas Fathul, memiliki layanan dokter umum, bidan 24 jam, dan ambulans speed boat. Layanan ini dibiayai oleh Yayasan Sosial Pendidikan dan Dakwah Mentawai yang merupakan bentukan Atase Kedutaan Besar Arab Saudi.

Peresmian klinik H. Muhammadi Idris Batubara ini dibarengi dengan pelaksanaan khitanan massal 100 muallaf Mentawai.

IMS merupakan lembaga kesehatan nasional yang berdiri pada 6 Agustus 2008. Lembaga ini didirikan oleh ormas Hidayatullah. Berdirinya IMS adalah untuk memberi pelayanan kesehatan kepada masyarakat yang tidak mampu.* (hidcom)

Hidayatullah dan Reformulasi Pendidikan Islam

Prof Dr Imam Suprayogo
Prof Dr Imam Suprayogo

PADA hari Rabu, tanggal 25 Juni 2014, saya diundang oleh Hidayatullah dalam forum dialog dengan Pimpinan, kepala Sekolah, dan para guru di Depok. Beberapa tokoh lain yang diundang dalam dialog itu, antara lain Prof. BJ Habibie, Prof. Arief Rachman Hakim, Abraham Samad, dan lain-lain.

Pimpinan dialog melontarkan beberapa hal yang dianggap perlu untuk dibicarakan pada acara itu, antara lain tetang bagaimana melahirkan pemimpin Islam di masa depan, lembaga pendidikan semacam apa yang mampu melahirkan kualitas manusia yang ideal.

Dan termasuk juga ingin melihat apa yang kurang tepat dari pendidikan yang dikembangkan selama ini hingga tidak mampu secara maksimal melahirkan pemimpin yang handal.

Selaku salah orang yang diundang untuk memberi masukan, saya menyampaikan bahwa ada beberapa hal yang seharusnya dilihat dan bahkan selanjutnya direformulasi terkait dengan pendidikan Islam yang selama ini dikembangkan.

Pendidikan Islam selama ini masih mengedepankan pada kuantitas, simbol, dan asesoris daripada substansi pendidikan itu sendiri. Pendidikan Islam seharusnya mengedepankan mutu atau kualitas. Islam sebenarnya identik dengan kualitas. Mengikuti tuntutan Islam, artinya adalah menjalani hidup dengan mengedepankan kualitas.

Kualitas hidup yang dimaksudkan tersebut dapat dilihat dari sumber ajaran Islam itu sendiri, yaitu al Qur’an dan hadits Nabi, yang kemudian seharusnya dijadikan pembiasaan sehari-hari.

Al Qur’an dan hadits Nabi adalah merupakan tuntunan hidup, yang jika dijalankan dengan sepenuhnya akan mendapatkan kebahagiaan, keselamatan, kedamaian, baik di dunia maupun di akherat.

Islam membimbing agar umat manusia mencintai ilmu pengetahuan, meraih kehidupan yang berkualitas, menegakkan keadilan, selalu menjalin komunikasi dengan Tuhan (utamanya lewat kegiatan ritual) dan sekaligus juga dengan manusia (silaturrahim), serta selalu bekerja secara profesional atau beramal shaleh.

Beramal shaleh atau bekerja secara profesional, dalam Islam dipandang sedemikian penting, hingga secara tegas disampaikan oleh Nabi, bahwa segala urusan yang diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya, maka tunggulah kehancurannya.

Saya juga menyampaikan contoh sederhana lainnya, misalnya dalam kehidupan sehari-hari, sebagai seorang muslim, sejak bangun pagi, membiasakan untuk bersuci dengan berwudhu, datang ke masjid memenuhi panggilan adzan, shalat subuh berjama’ah bersama orang-orang yang bertempat tinggal di sekitar masjid, membaca atau mengucapkan bacaan yang indah dan mulia.

Melalui kegiatan rutin pada setiap hari itu, umat Islam dalam kehidupannya sehari-hari sudah dibiasakan bersuci, menjalin hubungan dengan Tuhan lewat kegiatan shalat subuh, dan bahkan kegiatan itu dilakukan secara berjama’ah atau selalu dibangun kebersamaan.

Demikian pula, sejak pagi bangun tidur itu, sebagai seorang muslim dibiasakan dengan mengucapkan kalimat-kalimat indah, seperti takbir, tahmid, dan tasbih. Kata-kata Allahu akbar, yakni Allah Maha Besar, Maha Suci, dan Segala puji bagi Allah, selalu diucapkan sejak bangun di waktu subuh hingga tidur kembali.

Hal itu belum termasuk surat al Fatihah yang selalu dibaca berulang-ulang, surat-surat pendek di dalam al Qur’an, dan lain-lain. Semua itu, manakala direnungkan secara mendalam, adalah sebuah sarana, media, pembiasaan, dan bahkan pembudayaan perilaku terpuji yang akan menghasilkan pribadi manusia berkualitas.

Selain itu, saya menyampaikan bahwa Islam tidak cukup hanya dipahami dari aspek ritualnya. Selama ini, yang tampak bahwa seolah-olah, Islam hanya sebatas agama yang hanya berisi tuntunan berdzikir, shalat, puasa, zakat, dan haji.

Demikian pula, bahwa keilmuan Islam sering sebatas dipahami hanya meliputi syari’ah, ushuluddin, dakwah, tarbiyah dan adab. Selain itu, kurang dianggap sebagai bagian dari perintah al Qur’an untuk mempelajarinya. Apalagi menyangkut teknologi, Islam dianggap tidak terkait dengan persoalan itu.
Akibatnya, umat Islam menjadi kalah bersaing dengan umat lainnya. Islam dianggap hanya hal terkait dengan tempat ibadah, semisal masjid dan kegiatan ritual. Pemahaman yang demikian itu, sudah pada saatnya untuk direnungkan kembali, termasuk tatkala berkeinginan meningkatkan kualitas pendidikan Islam.

Umat Islam, menurut hemat saya, tidak boleh tidak, harus mengusai sains dan teknologi. Sebagai penyandang sebutan yang indah, yaitu ulul albaab, umat Islam selain harus selalu ingat Allah, maka juga harus merenungkan penciptaan langit dan bumi.

Perintah itu semestinya diimplementasikan dalam mengkaji berbagai jenis ilmu pengetahuan, yaitu ilmu fisika, kimia, biologi, matematika, astronomi, sosiologi, psikologi, sejarah, bahasa dan sastra dan lain-lain.

Sebenarnya Allah bisa dikenal lewat jalan memahami ciptaan-Nya. Sebagai ciri ulul albaab lainnya adalah selalu meyakini bahwa semua ciptaan Allah tidak ada yang sia-sia. Kalimat itu menjadi lebih jelas tatkala dimaknai bahwa, ciptaaan Allah berupa apa saja menjadi tidak sia-sia, atau bahkan fungsinya menjadi sangat jelas manakala telah diolah melalui teknologi.

Oleh karena itu, seorang menjadi tepat disebut sebagai ulul albaab manakala yang bersangkutan selalu mengingat Allah, memikirkan ciptaan-Nya, dan berhasil mengambil manfaat seluas-luasnya dengan mengembangkan teknologi.

Berangkat dari padangan tersebut, saya memberikan masukan bahwa untuk membangun manusia unggul di masa depan, maka harus segera melakukan langkah-langkah strategis dan mendasar, misalnya mereformulasi konsep pendidikan Islam, menata manajemen dan leadershipnya, membangun jaringan yang luas, memanfaatkan berbagai peluang yang ada, dan lain-lain.

Konsep pendidikan Islam harus dirumuskan atas dasar al Qur’an dan hadits nabi maupun tuntutan zaman sekarang dan mendatang. Ayat-ayat quwliyah dan kawniyah harus dikaji secara bersama-sama. Selain itu, kebersamaan dan kesatuan umat Islam harus diperkokoh agar semua potensi yang ada berhasil dimanfaatkan seluas-luasnya dan tidak ada yang sia-sia. Wallahu a’lam.

_____________
Prof. Dr. Imam Suprayogo, penulis adalah guru besar dan mantan Rektor UIN Maliki Malang. Tulisan ini juga dimuat di laman pribadi beliau di www.imamsuprayogo.com

Hidayatullah Mamuju Tanam Ratusan Mangrove

bakti sosial peduli lingkungan hidayatullah mamuju 2 bakti sosial peduli lingkungan hidayatullah mamuju 3 bakti sosial peduli lingkungan hidayatullah mamujuHidayatullah.or.id — Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Mamuju, Sulawesi Barat, terus melanjutkan budaya Hidayatullah yang sangat peduli terhadap lingkungan dan alam sekitar.

Salah satu upayanya adalah menyelenggarakan kegiatan tanam mangrove atau pohon bakau yang dilakukan oleh Sekolah Dasar Integral Al-Furqon Pondok Pesantren Hidayatullah Mamuju dalam memperingati Hari Lingkungan Hidup tahun ini.

Sebanyak 200 mangrove ditanam oleh puluhan murid aggota gugus depan Pramuka SD tersebut di Taman Wisata Mangrove desa Kampung Baru kecamatan Kalukku kabupaten Mamuju, Sulbar, beberapa waktu lalu.

Diakui Hendra (42) pengelola taman wisata ini, pihaknya sangat terbantu dengan adanya acara yang digelar oleh SD Al-Furqon Hidayatullah Mamuju.
“Mereka menanam langsung ke lokasi wisata sambil bermain air karena waktu penanaman air laut sedang pasang” paparnya.

Terlihat seluruh peserta dengan suasana riang menanam pohon yang berfungsi sebagai pelindung garis pantai dari abrasi atau pengikisan, serta meredam gelombang besar termasuk tsunami.

Sadar akan pentingnya penanaman mangrove itulah kepala sekolah SD Integral Al-Furqon , Herman DJ, S.Sos.I. memilih untuk memfokuskan kegiatan murid-muridnya kepada hal-hal yang memiliki manfaat lebih banyak.

“Sengaja (penanaman mangrove) ini kami pilih sebagai fokus acara bakti sosial agar mereka memiliki pemahaman dan kepedulian yang baik tentang alam,” ulas alumni Sekolah Tinggi Agama Islam Lukmanul Hakim Surabaya ini.

Lebih lanjut Herman menjelaskan bahwa tahun-tahun sebelumnya di sekolah yang ia pimpin selalu konsentrasi pada aksi-aksi nyata di lapangan. Termasuk di antaranya beberapa tahun sebelumnya menggalakkan program one man one tree.

Geliat kecil ini bagian dari upaya memasang Green Belt atau sabuk hijau hutan mangrove atau hutan bakau yang ada di Taman Wisata Mangrove dan beberapa garis pantai lainnya. (Abu Basya – Mamuju)

Pelajar Hidayatullah Porwodadi Pawai Sambut Ramadhan

sdit hidayatullah purwodadi 2 sdit hidayatullah purwodadi 3 sdit hidayatullah purwodadiHidayatullah.or.id — Ratusan pelajar SD-SMP Integral Luqman al Hakim Pesantren Hidayatullah Purwodadi, Jawa Timur melakukan aksi pawai simpatik menyambut kedatangan bulan suci Ramadhan 1435 Hijriyah di berbagai lokasi instansi pemerintah dan swasta di Kabupaten Grobogan, belum lama ini (20/06/2014)

Selan itu, sebagian pelajar melakukan aksi tertib ini berbagai di titik-titik jalan strategis di kota Purwodadi.

Kegiatan yang dimulai jam 08.00 Wib diawali doa bersama dilanjutkan dengan konvoi bersama siswa putra SMP Integral Luqman al Hakim. Long March dilakukan dari sekolah menuju perempatan Danyang melewati Jalan Pangeran Diponegoro ke arah Simpang Lima. Selanjutnya rombongan menuju Ganesha dan Jalan Tentara Pelajar Purwodadi.

Mereka berjalan dengan tertib membawa spanduk dan poster yang berisi pesan-pesan persuasif dan simpatik untuk menyemarakkan bulan Ramadhan. Selama dalam perjalanan, mereka membagi-bagikan buletin dan jadwal imsakiyah kepada pengguna jalan dan masyarakat yang dilalui.

Bersamaan dengan itu, siswa SD Integral menyusuri berbagai lokasi seperti toko, warung, pangkalan ojek, dan sebainya dengan membagikan selebaran Ramadhan. Mereka lalu menaiki angkot menuju kantor Dinas Kesehatan lanjut ke Polres, puskesmas, bank BRI, Bank PD BPR, dan beberapa instansi lainnya.

Kepala Sekolah SMP Integral Luqman al Hakim Purwodadi Muhammad Bashori, mengatakan bahwa kegiatan yang digelar secara rutin tiap tahun ini bertujuan untuk menanamkan kecintaan dan rasa senang kepada anak-anak untuk menyambut datangnya bulan Ramadhan.

Selain itu, terang Bashori, kegiatan ini adalah sebagai sarana syiar dan ajakan kepada masyarakat untuk menghormati dan mengisi bulan Ramadhan dengan berpuasa dan memperbanyak aktivitas ibadah.

“Sebanyak 350 Siswa SD Integral menyebar melakukan sosialisasi menyambut Ramadhan di berbagai instansi dan 80 siswa SMP disebar di berbagai tempat umum agar sosialisasi ini lebih merata,” terang Bashori kepada media ini. (hio/ybh)