Beranda blog Halaman 641

Marhalah Wustha di Bone: “Dai Harus Mencerahkan!”

0

Marhalah Wustha Hidayatullah Sulselbar 2 Marhalah Wustha Hidayatullah Sulselbar 3 Marhalah Wustha Hidayatullah SulselbarHidayatullah.or.id — Para dai adalah pemasar (marketer) ajaran agama Islam. Maka seorang dai dituntut untuk bersungguh-sungguh membawakan Islam dengan penuh kesantunan dan keteladanan agar umat yang membutuhkan benar-benar tercerahkan.

Demikian intisari taushiah yang disampaikan Pimpinan Umum Hidayatullah, KH. Abdurrahman Muhammad, pada acara Marhalah Wustha Dai Pencerah di Komplek Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, Ahad (16/11/2014).

“Kita beribadah dan bekerja didasari ilmu dan harus tercerahkan dengan (ilmu) itu,” ujar beliau.

Beliau menambahkan, kita yang berprofesi sebagai guru antarlah anak murid itu menjadi cerdas intelektual dan cerdas spiritual agar bisa tampil terdepan dan bisa dicontoh.
Daurah Marhalah Wustha yang mengusung tema “Mencetak Kader untuk Membangun Peradaban Islam” ini hadiri sedikitnya 40 peserta dari daerah seperti Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Maluku, Sulawesi Utara, Gorontalo, dan Sulawesi Tenggara.

Pelatihan dai bertempat di Kampus Hidayatullah Kelurahan Panyula, Kabupaten Bone ini dibuka oleh Asisten Kota Kabupaten Bone, Gunadi, SH, M.Si mewakli Bupati Dr.H. Andi Fahsar M. Padjalangi yang berhalangan hadir.

Agedanya kegiatan pelatihan dai ini berlangsung selama 4 hari yakni mulai dari tanggal 14 sampai dengan 17 Nopember 2014 hari ini dengan menggunakan villa bupati di Tanjung Palette.

Sementara itu, salah seorang instruktur kandidat doktor dari International Islamic University Malaysia (IIUM) Malaysia, KH. Nashirul Haq, mengingatkan kepada para dai pentingnya komitmen ibadah dalam menjalani profesi sebagai dai. Beliau menuturkan, dai tidak boleh lepas dari muhasabah diri.

“Dai adalah profesi mulia (jadi) jangan minder. Seorang dai juga tidak berpikir parsial dalam menjalankan tugas di masyarakat,” terangnya.

Beliau menekankan bahwa seorang dai hendaknya memiliki kepribadian yang baik. Sebab bagaimana mau mencerahkan orang lain dirinya sendiri belum bagus baik dari sisi spiritualitas maupun intelektualitas.

Patron dai, terang beliau, pertama-tama adalah mengedepankan akhlakul karimah atai budi pekerti yang baik. Apalagi bai dai langsung terjun ke lapangan. Selain itu, setiap kader dai tidak pernah berhenti belajar dan menuntut ilmu dalam rangka untuk menjaga konsistensi dan semangat juang. (Muhammad Bashori)

Pesantren Belum Mandiri karena Tak Sadar Potensi

Foto peresmian Sakinah Mart di Kampus Hidayatullah Balikpapan, Kaltim / hio
Foto peresmian Sakinah Mart di Kampus Hidayatullah Balikpapan, Kaltim / hio

Hidayatullah.or.id — Pondok pesantren sebagai pusat kegiatan Muslim ternyata belum mampu mengefektifkan kemandirian ekonomi dari potensi yang dimiliki.

“Yang sudah mandiri baru berjumlah sekitar ratusan dari 27 ribu pesantren yang ada di seluruh Indonesia,” ujar pakar perekonomian Islam KH Prof Didin Hafidhuddin, baru baru ini.

Ketua Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) ini menyatakan, pada prisipnya, pesantren memiliki potensi perekonomian yang besar. Lahan luas yang dimiliki pesantren berpotensi dijadikan lahan pertanian, peternakan dan industri rumahan berbasis syariah.

Kegiatan perkonomian pesantren secara internal dapat mejadikan perekonomian pesantren lebih mandiri. Sekaligus dapat mengurangi ketergantungan pondok pesantren terhadap bantuan, baik dari pemerintah maupun dari pihak lain.

Lebih luas, peningkatan perekonomian pesantren dapat meningkatkan perbaikan perekonomian di Indonesia. Terutama perbaikan perekonomian melalui kegiatan perekonomian berbasis syariat Islam.

“Pesantren memiliki potensi perekonomian yang sangat besar. Jika dimaksimalkan bisa mengurangi ketergantungan pesantren akan bantuan dari luar,” ujar Didin dikutip Republika.

Didin menyebutkan, sebagain pondok pesantren besar, seperti Gontor di Jawa Timur, Hidayatullah di Kalimantan Timur, Alfalah di Bogor telah mempraktikkan pengembangan perekonomian berbasis Islam.

Pengembangan pertanian, peternakan dan industri rumahan di dalam pesantren terbukti mengangkat perekonomian pesantren. Pilihan model perekonomian, kata Didin sangat bergantung pada kondisi lingkungan di sekitar pesantren.

Dia mengatakan, kegiatan perkonomian pesantren secara internal dapat mejadikan perekonomian pesantren lebih mandiri. Sekaligus dapat mengurangi ketergantungan pondok pesantren terhadap bantuan, baik dari pemerintah maupun dari pihak lain.

Lebih luas, peningkatan perekonomian pesantren dapat meningkatkan perbaikan perekonomian di Indonesia. Terutama perbaikan perekonomian melalui kegiatan perekonomian berbasis syariat Islam.

“Pesantren memiliki potensi perekonomian yang sangat besar. Jika dimaksimalkan bisa mengurangi ketergantungan pesantren akan bantuan dari luar,” ujarnya.

Pengembangan pertanian, peternakan, dan industri rumahan di dalam pesantren, jelas dia, terbukti mengangkat perekonomian pesantren. Pilihan model perekonomian, kata Didin sangat bergantung pada kondisi lingkungan di sekitar pesantren.

Beberapa jenis pesantren besar juga banyak memanfaatkan sirkulasi perekonomian di internal pesantren melalui koperasi pesantren. Selain sirkulasi di internal pesantren, sebagian lainnya juga membuka sirkulasi di luar pesantren.

“Selain itu, kegiatan perekonomian pesantren mengasah keterampilan wirausaha para santri,” ujar Didin. (hio/ybh)

Buletin Hidayatullah Edisi November 2014

cover buletin hidayatullah november 2014ADA PESAN dari pendiri Hidayatullah, Abdullah Said Rahimahullah, yang penting diketahui oleh jamaah yang menjadikan Hidayatullah sebagai wadah perjuangannya agar tetap pada koridor yang lurus. Beliau berpesan untuk menambal dan menjahit yang robek. Apa maksudnya?

=====================

“UNTUK MEMBERI bukti dan meraih keyakinan, kalau perlu ia diberondong dulu dengan hujan peluru,” kata dia lantang disambut pekikan takbiran ratusan jamaah yang hadir di masjid itu.

=====================

 

APA KABAR Papua New Guinea?. Negara ini pernag santer disebut sebagai negara kaninal karena sebagian tertentu penduduknya gemar memakan daging manusia. Tapi ada cerita lain yang menggugah dari Hidayatullah Ranting Paumako, Timika. Foto-foto dari Vlad Sokhin semakin membuat cerita tentang New Guinea berbunga indah.

=====================

SELAIN MENJADI ibu rumah tangga dan pelayan bagi suami dan anak-anaknya, Muslimat Hidayatullah mendapat tugas yang teramat berat namun sungguh mulia. Karenanya, kaum ibu ini pun didorong untuk terus bergelut dengan ilmu dan cekatan. Akhir Oktober lalu puluhan mulimah tangguh dari Aceh sampe Papua meriung di Puncak Bogor. Berikut oleh-olehnya!

=====================

SEBELAS ANAK muda berdiri tegap menghadap ke peserta mengenakan pakaian korps kebesaran mereka. Shubuh yang dingin itu mereka berikrar untuk memelihara dan menjaga alam semesta, menjadi tim yang solid di setiap tugas. Mereka berjanji siap siaga dalam keadaan darurat demi kemanusiaan.

=====================
BACA dan ikuti berita lengkap di atas yang terangkum dalam Buletin Hidayatullah edisi November 2014 ini. Bagi yang belum mendapatkan filenya dapat mengunduhnya di sini.

BULETIN HIDAYATULLAH adalah media informasi dan silaturrahim ormas Hidayatullah yang terbit reguler setiap bulan. Buletin ini diedarkan melalui saluran transimi virtual seperti email dan sejenisnya tanpa dikenakan biaya alias gratis bagi siapa saja yang ingin berlangganan.

Kami sangat merekomdendasikan supaya Anda menggunakan peramban (browser) Google Chrome atau Baidu Sparkketika mengunduh (download) Buletin Hidayatullah ini untuk mendapatkan akses cepat dan kustomasi tampilan yang lebih dinamis. Download Buletin Hidayatullah di bawah ini:

BULETIN HIDAYATULLAH OKTOBER 2014

 

 

 

 

Perkuat Komitmen, Hidayatullah Sumatera Halaqoh Muharram

0

Halaqah Muharram Hidayatullah SumselHidayatullah.or.id — “Apa indikator seorang kader telah menjalankan budaya Hidayatullah?” tanya Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Hidayatullah, Dr Abdul Mannan, kepada para kader Hidayatullah se Sumatera yang pada Sabtu-Ahad (8-9 November) berkumpul di Kampus Hidayatullah Rejang Lebong, Bengkulu.

Pertanyaan tersebut kemudian dijawab sendiri olehnya. “Budaya kita bukan sekadar panjang jenggotnya dan hitam jidatnya.” Tapi, kata beliau dalam pembukaan halaqoh tersebut, kita telah menjalankan budaya Hidayatullah apabila kita paham visi dan misi Hidayatullah, lalu serius memperjuangkannya dalam bingkai manhaj sistematika nuzulnya wahyu.

Bagian dari memperjuangkan visi dan misi tersebut tercermin dalam komitmen semua kader untuk berimamah dan berjamaah.

“Kita ini ibarat jamaah shalat yang terkomando dengan baik,” jelasnya lagi.

Sebagai contoh, semua kader Hidayatullah harus siap apabila ditugaskan berdakwah ke daerah-daerah terpencil, atau dimutasikan dari satu daerah ke daerah yang lain.

“Tidak boleh ada yang memutasikan dirinya sendiri, atau menolak untuk dimutasi,” tegasnya.

Namun, di sisi lain, ketaatan kader Hidayatullah kepada pimpinan bukan ketaatan buta, tapi ketaatan yang dimotivasi oleh ideologi.

Saat penutupan hari kedua, kader-kader Hidayatullah se-Sumatera, dipimpin oleh Ketua PW Hidayatullah Sumatera Selatan, membacakan ikrar komitmen.

Ikrar tersebut berisi ketaatan kepada seluruh keputusan Pimpinan Umum Hidayatullah dan seluruh unsur pimpinan Hidayatullah, serta sungguh-sungguh menjalankan segala tugas yang diamanahkan, dan memberikan apa yang terbaik yang dimliki. (Mahladi)

Kemenag Bahas Jihad di Hidayatullah Palangkaraya

Hidayatullah Kalteng gelar seminar tentang jihad 2 Hidayatullah Kalteng gelar seminar tentang jihad 3 Hidayatullah Kalteng gelar seminar tentang jihadHidayatullah.or.id — Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Palangkaraya Drs. H. Baihaqi, M.AP yang diwakili Kasi Bimas Islam Drs.H.Misbah,M.Ag menjadi narasumber dalam kegiatan Sosialisasi Wawasan Kebangsaan dengan tema Memaknai Jihad dalam Pandangan Islam yang diprakarsai oleh LSM Empat Pilar Provinsi Kalteng bekerjasama dengan Kemenag Palangkaraya.

Kegiatan sosialisasi ini berlangsung khidmat dan penuh kehangatan bertempat di Masjid As-Salam Komplek Pondok Pesantren Hidayatullah Jl. Cilik Riwut KM.7, Kamis (9/10), lalu, yang diikuti ratusan santri dan pelajar Ponpes Hidayatullah.

Ketua Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Empat Pilar Ayin Nur Rofik dalam sambutannya mengatakan kesalahan dalam mengartikan makna jihad memunculkan semangat yang keliru dalam membela agama.

Tujuan kegiatan ini, kata Ayin, adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman mengenai jihad dalam pandangan Islam. Agar jihad tidak saja dimaknai sebagai pertumpahan darah atau perang secara fisik.

“Kegiatan ini juga untuk menanamkan nilai-nilai wawasan kebangsaan dan pendidikan agama Islam sejak dini dalam rangka menciptakan generasi muda yang beriman, bertaqwa, dan cinta kepada tanah air,” kata Ayin.

Sementara itu H. Misbah dalam paparannya mewakili Kemenag Palangka Raya mengatakan makna jihad adalah bersungguh-sungguh. Yaitu sungguh-sungguh berjuang dalam Islam dan itu bukan berarti perang secara fisik.

Dia menjelaskan, salah satu cara untuk menjalankan jihad adalah dengan membangun dan menguatkan iman generasi muda, baik melalui pendidikan formal maupun informal seperti di Ponpes atau madrasah.

“Betapa pentingnya memahami dengan benar makna jihad agar tidak terjebak melakukan tindak kekerasan yang mengatasnamakan jihad,” kata Misbah.

Kegiatan ini juga menghadirkan narasumber lain yakni Pasintel Kodim 1016/Palangka Raya Lettu Infanteri Suradi,S.Sos,M.Hum, dan motivator dari SAS Management sekaligus penulis buku asal Kalteng, Heru Hidayat. (ans/hio)

Laznas BMH Gelar Gebyar Muharram dan Pelantikan MUI Cimanggu

IMG_1879 IMG_1967Hidayatullah.or.id — Pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Cimanggu, Ngamprah, Bandung Barat, untuk kepengurusan periode 2014-2019 dilantik baru baru ini. Pengurus baru berkomitmen untuk mendorong kegiatan dakwah di wilayah tersebut semakin menggeliat.

Kegiatan yang dirangkai dengan tabligh akbar dan lomba edukatif Gebyar Muharram untuk anak dan warga Cimanggu ini disponsori oleh Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah (Laznas BMH) Bandung, bekerjasama dengan MUI Desa Cimanggu, Jawa Barat.

Ketua MUI Kecamatan Ngamprah H Dede dalam tauhsiahnya menyampaikan urgensi dan peran ulama di tengah masyarakat. Dia mengatakan, ulama adalah teladan umat sehingga harus dapat menempatkan diri sebagai contoh yang baik.

Seorang dai pun sejajar perannya dengan ulama. Sehingga keduanya adalah peran yang teramat berat yang membutuhkan keikhlasan hati, kelapangan jiwa, dan keteladanan yang tak henti.

“Kami berpesan kepada pengurus MUI Desa Cimanggu yang baru untuk terus membina umat dengan penuh kasing sayang dan keteladanan,” kata Dede.

Di kesempatan yang sama, Kepala Desa Cimanggu Budi Mulyana memberikan apresiasi kepada Laznas BMH dan Hidayatullah yang telah berkenan ikut serta menyemarakkan kegiatan keislaman di Desa Cimanggu. Ia mengharapkan kegiatan edukatif serupa dapat terus digulirkan di waktu-waktu mendatang.

Ia menilai dengan diadakannya kegiatan Gebyar Muharram dan Lomba Kreatifitas yang dirangkai dengan acara pelantikan pengurus MUI Cimanggu ini, akan mendorong anak-anak generasi muda untuk berpacu dalam kebaikan dan membangun semangat kompetisi mereka untuk menjadi lebih baik.

“Terimakasih kami sampaikam kepada panitia sebanyak-banyaknya,” ujarnya menutup sambutannya.

Acara yang berlangsung di panggung sekitar masjid Desa Cimanggu ini dihadiri sedikitnya 500 jamaah. Panitia mengungkapkan dari acara ini diharapkan menjadi motivasi untuk meningkatkan ukhwah Islamiyah dan dukungan terhadap dakwah yang dijalankan oleh para da’i. (pdl/dkz)

Pesantren Penjaga Keragaman dan Keindonesiaan

0
Keragaman kita, kekayaan kita / net
Keragaman kita, kekayaan kita / dok

Hidayatullah.or.id — Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menyatakan pondok pesantren merupakan salah satu penjaga ke-Indonesiaan. Sebab, di pondok pesantren, setiap santri diajar dan mengalami keberagaman.

“Jadi kalau ada yang menyebut diri pesantren, tapi dalam kenyataannya mengajarkan radikalisme dan gerakan kekerasan, maka bagi saya itu jelas bukan pesantren,”kata Lukman dalam Bincang Nasional di Surabaya, Rabu (5/11/2014) lalu.

Dalam acara Bincang Nasional bertajuk “Pemberdayaan Lembaga Pesantren dalam Rangka Peningkatan Kemandirian Ekonomi serta Mendorong Pengembangan Ekonomi dan Keuangan Syariah ini, Lukman menjelaskan hal-hal yang diajarkan di pesantren.

“Yang dikembangkan di pesantren itu inklusifisme, nasionalisme, tidak radikal. Karenanya, produknya adalah Islam yang terbuka,” ujarnya dikutip HidayatullahDepok.org dari laman The Global Journal.

Menurut Lukman, keberagaman merupakan tradisi pesantren. Sebab, di pesantren, para santri berjumpa dengan berbagai macam orang dari berbagai wilayah dan etnis.

“Keberagaman itu lumrah di pesantren. Perbedaan itu ada untuk saling lebih mengenali, bukan untuk saling bermusuhan,” kata Lukman.

Bincang Nasional ini merupakan bagian dari Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2014. Selain Lukman, diskusi yang digelar di kantor perwakilan BI Surabaya ini, menghadirkan para pembicara terkemuka seperti Gubernur Bank Indonesia Agus D W Martowardojo dan Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Muliaman D Hadad. (dbs/hio)

Hujan Deras, PP Hidayatullah Gampong Terendam Banjir

0

banjir hidayatullah aceh 2 banjir hidayatullah acehHidayatullah.or.id — Hujan deras yang cukup tinggi melanda Aceh mengakibatkan sebagian daerah di kawasan barat selatan Aceh dilanda banjir dan longsor. Salah satu yang terdampak dari hujan deras adalah Hidayatullah Aceh Barat yang terendam air selama tiga hari semenjak Selasa (04/11/2014) lalu.

Derasnya hujan membuat kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Aceh Barat tergenang air dengan ketinggian mencapai 2 Mdari permukaan tanah.

“Alhamdulillah, tidak semua material ditaruh di pondok sehingga tidak terjadi kerugian yang sangat besar,” ujar Ahmad Syakir, pengasuh Pesantren Tahfidzul Qur’an di Dusun Cot Kande, Desa Gampong Lapang, Kecamatan Johan Pahlawan, Kabupaten Aceh Barat, Nanggroe Aceh Darussalam.

Tiga hari menurut Syakir adalah hari paling menghawatirkan bagi para pengasuh dan santri di kawasan pondok pesantren Hidayatullah Aceh Barat.

Ia mengatakan, terjadinya banjir akibat meluapnya air dari sungai Merebo yaitu sungai utama Kecamatan Kota Aceg Barat.

“Selama dua hari belakangan ini hujan tidak reda-reda sehingga kalipun tidak bisa menampung air dengan kubik yang sangat besar,” paparnya ke hidayatullah.com, Jum’at (07/11/2014).

Besarnya kubik air, mengakibatkan banyak barang-barang perlengkapan dan material pembangunan pondok pesantren Hidayatullah Aceh ini terwaba air. Bahkan pasir, semen, koral, kayu-kayu untuk membangun tempat pengajian pun ikut hanyut terbawa air.

Semenjak Jumat, air sudah mulai surut dan para santri sudah memulai aktifitas untuk membersihkan halaman pondok pesantren setelah diungsikan ke pondok cabang di Aceh Kota.

“Dengan cara manual dahulu untuk membersihkan lumpur-lumpur yang ada. Karena pompa airnya ikut terendam air dan sumur masih penuh dengan lumpur,” ucap Syakir.

Seperti diketahui, sebanyak 12 kecamatan di Kabupaten Aceh Barat dilanda banjir mengusul hujan lebat yang terjadi hampir sepekan semenjak Sabtu (31/10/2014) lalu. Banjir bahkan sempat membuat rumah penduduk rusak, jalan ambruk dan terputus serta membuat sebagian warga terkurung dan terisolasi.

Menurut Syakir, yang dibutuhkan saat ini untuk menjadikan pesantren ini bisa kembali beraktifitas normal adalah perlengkapan para santri di asrama berupa; baju, kompor, serta logistik untuk bisa bertahan hidup. “Karenakan semua terendam dan terbawa arus air yang sangat deras,” katanya.*/Khuluq

Selamatkan Mushaf Al Qur’an
Seorang santri tahfidz Al-Quran membuat kecemasan para pengasuhnya karena ingin menyelamatkan mushaf Al-Quran dengan cara menerjang banjir di Aceh Barat.

Seperti diketahui, musibah hujan deras yang menimpa sebanyak 12 kecamatan di Kabupaten Aceh Barat hampir sepekan semenjak Sabtu (31/10/2014) rupanya sempat merendam Pesantren Tahfidzul Qur’an di Dusun Cot Kande, Desa Gampong Lapang, Kecamatan Johan Pahlawan, Kabupaten Aceh Barat, Nanggroe Aceh Darussalam.

Kala itu air semakin meninggi membuat semua barang-barang milik pondok pesantren ini mulai mengambang dan hanyut.

Tiba-tiba di tengah banjir, seorang santri bernama Saiful, yang kebetulan tidak bisa berenang ingin menyelamatkan mushaf Al-Qur’an yang saat ini sedang terapung.

Santri kelas 2 SMU asal Bireun ini secara spontan mengambil galon air dengan cara melilitkan di tubuhnya. Akibatnya, ia sempat terguling di bawah air dan terseret sehingga sempar membuat panik para pengasuhnya.

Akibatnya semuanya menjadi makin panik. Tidak lama salah seorang pengasuhnya berusaha menyelamatkan sang santri.

“Alhamdulillah bisa terselamatkan oleh pengasuhnya,” Ahmad Syakir, pengasuh Pesantren Tahfidzul Qur’an di Dusun Cot Kande, Desa Gampong Lapang, Kecamatan Johan Pahlawan, Kabupaten Aceh Barat, Nanggroe Aceh Darussalam kepada hidayatullah.com, Jumat (07/11/2014).*/Khuluq

Ketum Hidayatullah Pembicara Seminar Zakat Nasional

0

IMG_2066Dalam rangka meningkatkan wawasan dan konsolidasi tingkat nasional, Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah (Laznas BMH) bekerjasama dengan Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, menyelenggarakan acara seminar nasional yang mengusung tema “Zakat untuk Mensejahterakan Umat”, pada hari Selasa, 4 November 2014 lalu.

Seminar nasional yang dilaksanakan di Ruang Audiovisual Perpustakaan Pusat Lantai 2 Universitas Islam Indonesia (UII) ini menampilkan pembicara Ketua Umum PP Hidayatullah Dr. H. Abdul Mannan, MM. Beliau berdampingan dengan pembicara lainnya yakni Ketua Lazis UII Ir. Munadhir, M.S , dan keynote speaker Dr. Abdul Jamil, MH yang merupakan doktor dalam Ilmu Hukum UII. (dok/hio)

Jangankan Politik, Buang Hajat Saja Diatur Agama

Hal-hal yang mungkin dianggap sederhana seperti bersuci pun diatur dalam agama Islam / ist
Hal-hal yang mungkin dianggap sederhana seperti bersuci pun diatur dalam agama Islam / ist
Kegiatan penyuluhan reliji STIE Hidayatullah Depok / amr
Kegiatan penyuluhan reliji STIE Hidayatullah Depok / amr

Hidayatullah.or.id — Seorang dai harus fleksibel dalam berdakwah dan mampu memposisikan dirinya dimana pun ia berdakwah. Demikian dikatakan Ustadz Agus Suprayogi, Msi, Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Hidayatullah (STIEHID) selaku pemateri dalam acara Seminar Penyuluhan Religi.

Seminar ini diadakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) STIEHID Depok bekerjasama dengan Organisasi Pelajar Pondok Pesantren (OP3) Hidayatullah Depok. Yang dihadiri sekitar 50 mahasiswa STIEHID dan 100 siswa SMP – SMA Hidayatullah.

Acara ini bertemakan “Konsep Dasar Ilmu Fiqih” yang dilaksanakan pada Ahad (19/10/2014) di Masjid Ummul Quraa’, Kalimulya, Cilodong, Depok, Jawa Barat.

Dalam materinya, Agus mengatakan, “Tujuan kita belajar fiqih adalah untuk menjaga diri, keluarga, dan lingkungan kita dari liberalisme dan sekularisme.”

Agus juga mengatakan, “Seorang Muslim harus memiliki identitas. Dan diantara identitas seorang Muslim adalah ketika ia memiliki pemahaman tentang Fiqih.”

Agus menuturkan, ia pernah berdiskusi dengan seseorang yang mengatakan bahwa jangan membawa agama dalam politik. Kemudian Agus menanggapi perkataan orang tersebut.

“Bagaimana mungkin kita tidak membawa agama dalam politik. Padahal makan dan buang hajat sekalipun kita harus menggunakan aturan agama dalam melaksanakannya,” tuturnya di depan para pelajar dari berbagai daerah tersebut.

Alhamdulillah. Acara ini berjalan dengan lancar. Para siswa dan mahasiswa Hidayatullah Depok sangat antusias mengikuti acara tersebut.

“Setelah mengikuti acara ini, saya baru menyadari bahwa ternyata aturan-aturan dalam agama Islam itu mudah dan simpel, ” demikian tanggapan Teddy Susanto peserta acara tersebut.

Agus pun berharap, semoga dengan acara ini para mahasiswa STIEHID –sekaligus calon dai yang akan dikirim ke pelosok nusantara- agar mampu mendakwahkan keindahan Islam dengan cara yang indah. Serta tidak saling menyalahkan dalam perbedaan pendapat, selagi itu memiliki landasan yang benar.* Kiriman Zainal Amiruddin/ Mahasiswa STIEHID