Beranda blog Halaman 642

BI Dukung Kemandirian Ekonomi Pesantren

0

bi dan pesantrrenHidayatullah.or.id — Bank Indonesia (BI) ingin meningkatkan kemandirian ekonomi lembaga pesantren yang dijalankan oleh santri dan lingkungan di sekitar pesantren.

Hal itu ditegaskan Gubernur BI, Agus Martowardojo, dalam bincang nasional bersama dengan pemimpin pesantren dan Gubernur Jatim, dikutip dari laman Okezone Finance, Rabu (5/11/2014) lalu.

“Bagaimana pesantren kita berdayakan untuk memiliki ekonomi yang mandiri dan tentu kemandirian ekonomi santri-santri dan lingkungan yang dekat dengan pesantren,” papar Agus.

Kalau kita amati, lanjutnya, pesantren sudah ada sejak tahun 1949 sampe sekarang jumlah pesantren sudah lebih dari 27 ribu pesantren.

“Kalau kita bicara tentang pesantren supaya bisa jadi lembaga yang mandiri secara ekonomi, kita amati selama ini pesantren fokus pada pendidikan akhlak santri, persiapkan semua kegiatan syiar Islam,” tambahnya.

Agus menuturkan, kegiatan bincang-bincang nasional ini bertujuan untuk memberdayakan pesantren agar mampu mengembangkan kemandirian ekonomi masyarakat dan ekonomi syariah. Menurutnya, lewat ponpes, potensi perkembangan ekonomi syariah menjadi begitu besar.

Lantas, dengan mulai memberikan pemahaman mendalam di antara akar rumput, masyarakat pun diharapkan bisa memanfaatkan produk ekonomi syariah dengan lebih maksimal. Terutama, untuk memperbaiki taraf hidupnya.

“Potensi untuk berkembang ke depan jauh lebih besar. Maka kita ingin mengembangkan pesantren agar juga menjadi lembaga sosial dan mengembangkan ekonominya agar menjadi lebih mandiri,” tuturnya.

Sejalan dengan BI, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Muliaman D Hadad mengatakan untuk merealisasikan hal tersebut pesantren harus melakukan beberapa cara. Misalnya dengan memperkuat akses jasa keuangan yang ada di kawasan pesantren.

“Memperkuat akses terhadap jasa keuangan dan pemasaran di pesantren, meningkatkan cakupan layanan SMK berbasis pesantren, meningkatkan kualitas dan relevansi SMK pesantren, dan memperkuat jejaring antar pondok pesantren,” tukas Hadad.

Keseriusan pemerintah memperdalam akses dan pendidikan ekonomi syariah melalui pondok pesantren tidak hanya berdampak positif bagi pertumbuhan industri keuangan syariah di Tanah Air.

Dalam rangkaian Indonesia Syari’a Economic Festival (ISEF) tampak jelas adanya dampak lain, yaitu potensi peningkatan taraf hidup masyarakat menengah ke bawah di Indonesia.

Bagi Muliaman, pesantren yang jumlahnya begitu banyak di Jawa Timur bahkan bisa menjadi pusat pemberdayaan masyarakat secara keseluruhan. Lewat pendidikan ekonomi dan keuangan syariah di pesantren-pesantren, tutur Muliaman, tujuan pemerintah menjalankan inklusi keuangan pun bisa tercapai. (okz/dbs)

Rumah Idaman nan Asri Berperadaban Islami

0
ilustrasi rumah / net
ilustrasi rumah / net

ENTAH mengapa ketika saya masih kecil pernah berfikir tentang rumah. Letak dan posisi rumah yang bagus itu bagaimana dan di mana.

Itu pertanyaan yang sering datang dengan tiba-tiba dan muncul jawaban di pikiran juga dengan tiba-tiba. Mungkin saat kecil dulu berfikir bahwa rumah orang tua tidak ideal posisinya dan suka berfikir menghayal.

Saat itu belum berfikir bentuk dan biaya membangun rumah, itu belum masuk dalam kapling otak saya. Sebagaimana anak saya sekarang yang santai bicara tentang rumah ideal menurutnya.

Berikut ini beberapa posisi rumah idaman yang pernah terlintas dalam pikiran saat saya masih kecil.

Pertama, suatu saat nanti saya ingin membangun rumah dekat rumah sakit. Pikiran tersebut muncul saat melihat kesulitan orangtua mengantar dan merawat kakak yang sedang sakit typus.

Malam-malam harus mencari kendaraan yang mau mengantar ke rumah sakit padahal letaknya cukup jauh di dekat kecamatan. Saat itu saya berfikir, jika rumah dekat rumah sakit maka kapanpun ada anggota keluarga sakit mudah dan cepat mengantar ke dokter.

Tapi, tiba-tiba, pemikiran tersebut melemah karena setiap pergi ke sekolah, saya melewati rumah sakit dan melihat banyaknya pasien-pasien orang gila yang berkeliaran di sekitar rumah sakit.

Mereka aneh-aneh, ada yang suka mengamuk, senyum-senyum getir, ada yang suka memandang dengan tajam tak bersahabat. Rasanya ngeri, tak nyaman dan ada kekhawatiran tertular penyakit karena rumah sakit adalah pusatnya orang sakit. Akhirnya pemikiran tersebut sirna dengan sendirinya.

Kedua, saya ingin rumah yang dekat dengan kantor polisi. Tentu ini karena alasan keamanan, karena di kampung beberapa kali terjadi pencurian dengan berbagai modus.

Ada pula yang digansir (digali bagian bawah rumah), terkadang lewat atap rumah, ada yang disirep (penghuni rumah dibuat tertidur pulas), bahkan terkadang pencuri berani menciderai korbannya. Kritisnya, petugas pos kamling selalu datang terlambat apalagi polisi yang tempat jauh di kecamatan.

Walaupun rumah saya tidak menjadi korban tapi rasanya terteror setiap malam. Pintu rumah harus dikunci, diberi penghalang secara berlapis. Diberi timba atau seng agar kalau pintu dibuka dengan paksa maka akan bunyi dan saya cepat bangun, menyiapkan berbagai senjata tajam tradisional seperti pisau dapur, sabit untuk mencari rumput dan ketapel.

Saat itu saya berfikir bahwa rumah yang aman itu dekat kantor polisi karena pencuri pasti berfikir ulang untuk mencuri.

Tapi saya tertegun heran karena ada beberapa kali pencurian motor di halaman kantor polisi yaitu orang-orang yang sedang mengurus SIM, perpanjangan STNK, milik polisi pun pernah hilang. Pencurian helm menempati rangking pertama yang sering hilang, kedua sepatu polisi yang sedang shalat di masjid juga sering hilang tak berbekas.

Saya menjadi berfikir ulang untuk mempunyai rumah dekat kantor polisi karena keamanan itu sebenarnya bukan dari polisi.

Ketiga, saya ingin rumah dekat pasar. Pemikiran ini muncul karena ibu sering menyuruh pergi belanja kebutuhan sehari-hari. Sementara pasar jauh, rasanya malas dan capek tapi tak berani juga menolak.

Ketika hari-hari menjelang lebaran, saya sering terlambat informasi kalau ada obralan dan diskon besar-besaran di pasar. Saat itu saya berfikir bahwa rumah dekat pasar banyak kemudahan untuk memenuhi kebutuhan keseharian maupun untuk sekolah.

Kemudian waktu kecil, saya senang melihat keramaian-keramaian orang banyak dengan segala kepentingannya membeli dan menjual aneka ragam dagangan.

Namun, saat mencium bau tidak sedap di sekitar pasar entah sampah, sayur-sayuran busuk, kendaraan yang datang silih berganti tak pernah berhenti mengeluarkan asap dan suara bising penjual obat, atau keributan orang bertengkar mulut dan berkelahi fisik. Maka saya jadi mengurungkan niat punya rumah dekat pasar.

Apalagi ada yang mengatakan bahwa sejelek-jeleknya orang adalah yang datang ke pasar paling cepat dan pulang paling lambat.

Selanjutnya secara bergantian muncul pikiran untuk mempunyai rumah di perumahan yang asri dan terjaga karena ada security yang siap siaga setiap saat.

Terkadang muncul lagi ide untuk membangun rumah di dekat pantai karena mudah berlibur dan berenang tapi khawatir kalau tsunami. Pikiran dan ide tersebut datang silih berganti tanpa ada kesimpulan yang jelas.

Beriring dengan perjalanan waktu, umur yang bertambah dan kedewasaan yang semakin matang maka saya mulai menemukan jawaban yang sedikit melegakan.

Rumah yang baik tergantung pada lingkungan dan tetangganya. Sebab pagar yang aman bukan tembok yang tinggi dengan jeruji-jeruji besi tajamnya mengelilingi rumah tapi pagar yang sejati adalah tetangga di sekitar rumah.

Memilih rumah sama dengan memilih tetangga. Tetangga adalah orang lain yang paling dekat dengan kita. Nyaman dan amannya sebuah rumah sangat tergantung dengan tetangga.

Bahkan Rasulullah memberikan standar keimanan dengan berbuat baik dengan tetangga. Beliau bersabda, “Barang siapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka muliakanlah tetangganya”.

Tetangga bukan hanya orang yang mempunyai rumah di sebelah kanan, kiri, depan dan belakang kita. Tapi melingkupi seluruh rumah-rumah dalam satu lingkungan masyarakat. Keberadaan masyarakat sangat tergantung dengan keteraturan dan kepemimpinan di dalamnya.

Maka pemikiran terakhir saya tentang rumah adalah di lingkungan Pesantren Hidayatullah di Balikpapan. Program utama di sini adalah shalat wajib berjamaah di masjid, membangun ukhwah islamiyah dengan kebersamaan. Ada kepemimpinan yang jelas dan bertanggungjawab dalam masalah kehidupan jasmani dan ruhani. Ada alam yang asri, bersih, dan islami.

Di lingkungan Pesantren Hidayatullah memang belum sempurna, banyak sisi kekurangan dan kelemahan tapi itu wajar sebagai sebuah wadah ikhtiar manusia di dunia. Kesempurnaan itu hanya milik Allah Subhanahu Wata’ala dan kepuasan akan kita raih hanya di surga-Nya nanti.

Terpenting bersyukur dengan kelebihannya dan bersabar dengan kekurangannya, kita terhantar untuk menjadi manusia yang sholeh. Allahu Akbar!.

___________________
ABDUL GHOFAR HADI, penulis adalah Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Hidayatullah (STISHID) Balikpapan, Kalimantan Timur. Sekaligus menjadi kepala pengasuh ratusan santri putri di komplek terpadu Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Teritip.

 

 

Setiap Dai Dituntut Profesional dan Proporsional

utsman paleseHidayatullah.or.id -– Setiap dai kapan dan di mana pun harus dapat menempatkan diri secara proporsional dan bersikap profesional.

Profesional yakni dai harus memiliki keandalan serta kepandaian khusus untuk menjalankannya karena profesi ini bersentuhan langsung dengan umat. Adapun proporsional, dai mesti bisa menempatkan diri dengan seimbang dan memiliki kecakapan sosial.

Contohnya, adakalanya seorang pendakwah menghadapi para pejabat negara. Saat begitu, dai tidak boleh sembarang bersikap, ada trik dan tips khususnya. Setidaknya, hal yang perlu dilakukannya adalah bersikap luwes tapi tegas.

Demikian intisari dari tausiyah salah seorang perintis Hidayatullah Ustadz H. Usman Palese kepada para peserta Pelatihan Kepemimpinan V Hidayatullah Training Center (HiTC) di Masjid Ummul Quraa, Cilodong, Rabu (29/10/2014) lalu.

Dalam ceramah usai shalat Shubuh itu, Ustadz Usman mencontohkan sikap luwes yang dimaksud. Misalnya, kata dia, dai tidak melulu memakai baju koko.

“Sekarang bagaimana kita kalau ke kantor-kantor pemerintah jangan pakai baju koko. Pakai baju berkerah (kemeja. Red),” ujarnya pada kesempatan yang dihadiri ratusan jamaah masjid.

Misalnya pula, kata dia, seorang dai pandai-pandai menempatkan suasana dalam pembicaraan. Ada saat serius, ada saat bercanda.

Meski luwes, menurutnya, seorang dai sepatutnya bersikap tegas, termasuk saat di rumah para pejabat.

“Jadi kita di sana siap meniru (luwes. Red), siap menahan kalau nggak perlu (akan sesuatu),” pesan anggota Majelis Pertimbangan Pusat Hidayatullah ini.

Jangan Buta Politik

Pelatihan Kepemimpinan V HiTC diikuti hampir seratus dai Hidayatullah se-Indonesia. Beliau pun berpesan agar mereka menjalankan tips dan trik tersebut. Hal itu sudah dia praktekkan jauh sebelumnya sejak era Presiden Soeharto.

“Jadi kalau kita kembali ke daerah masing-masing, siapkan tenaga-tenaga yang siap (berdakwah) ke kantor. Jangan pakai baju putih yang sudah tiga hari nggak diganti-ganti,” pesannya disambut tawa sebagian hadirin.

Pada kesempatan itu, Usman Palese memperlihatkan kepada jamaah sebuah buku berjudul Surat-surat Rasul ﷺ Kepada Para Raja & Panglima Perang yang dibawanya.

Buku karangan Syaikh Uhaimid Muhammad Al-Uqaili ini, menurut Usman Palese, berisi tentang surat-surat politik Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

“Jadi dai jangan buta politik,” pesannya kemudian.

Usman Palese juga berpesan agar para dai tidak lepas dari wirid. “Wirid itu andalan, warisan dari nabi-nabi,” ujarnya.

Pelatihan tersebut berlangsung di Pesantren Hidayatullah Depok sejak Senin (27/10/2014) dan diagendakan berakhir pada Kamis (30/10/2014). (Skr aljihad)

BMH dan Sucofindo Kerjasama Bangun Pelosok

sunat massal bmh dan sucofindoHidayatullah.or.id -– Nemperingati hari ulang tahun yang Ke- 58 Tahun, PT. Sucofindo (Persero) menyelenggarakan kegiatan khitanan massal yang bekerjasama dengan Baitul Maal Hidayatullah (BMH) Samarinda.

Acara khitanan di laksanakan di Pondok Pesantren Hidayatullah Samarinda, Rabu (28/10/2014) lalu.

Acara khitanan massal yang dilaksanakn oleh PT. Sucofindo dan Batul Mall Hidayatullah, bertepatan dengan tahun baru hijrah 1436 Hijriyah. Sucofindu dan BMH menjalin kerjasama untuk sinergi membangun masyarakat pelosok. Selain mengadakan khitanan massal gratis, ke depan mereka juga menggelar amal bakti dalam bentuk lain di daerah pelosok di Kalimantan Timur.

“Alhamdulillah para peserta tidak ada yang takut sama sekali ketika berhadapan dengan para dokter dan alat alat medis untuk dihitan,” ucap Hardi, Ketua Panitia Hitanan dan Kadiv. Pendayaguna BMH Samarinda.

Khitanan diikuti oleh 57 anak tingkat TK,SD dan SMP yang berasal dari daerah Kota Samarinda dan luar kota Samarinda, seperti Muara Badak, Loa Janan (Batuah) Tenggarong (Loa Kulu) Muara Kaman.

Selain ikut serta dalam khitanan massal secara cuma-cuma, anak-anak tersebut juga mendapatkan santunan berupa baju koko, sarung, bingkisan makanan, dan paket perlengkapan sekolah.

Acara yang di buka langsung oleh perwakilan PT. Sucofindo Widoko Wimbo, Kepala Bagian Penjualan Dan Dukungan Oprasi.
“Anak-anak yang mau dikhitan jangan ada yang takut,” sambil tersenyum dan memberi motivasi buat anak-anak yang mau di hitan.

Tahun depan pihaknya berharap bisa melaksanakan khitan dengan jumlah peserta sebayak 100 anak.

“Alhamdulilah proses khitanan berjalan dengan lancar, aman dan tertib dan peserta juga sangat antusias sekali.”

Hadi, salah satu orang tua wali yang ikut memeriahkan acara khitanan ini mengaku berterima kasih adanya khitanan ini.

“Saya ini pak dari tempat terpencil, tidak ada biaya sama sekali, Alhamdulillah dan banyak berterima kasih kepada penyelenggara sudah bisa membantu kami warga pedalaman yang tidak mampu,” papar Shabirin, salah satu orangtua yang anaknya ikut hitanan.*/Khuluq

Organisasi yang Melayani

melayani dan menguatkanPATUT kita syukuri, setelah 35 tahun membangun Hidayatullah, keberadaan organisasi ini kian diterima oleh umat. Di tingkat lokal, kader-kader Hidayatullah telah memberi andil terhadap proses perbaikan masyarakat. Di tingkat nasional, Hidayatullah juga telah memperoleh apresiasi yang baik karena terlibat langsung mengatasi problema keumatan.

Ini semua tantangan besar sekaligus peluang yang diberikan Allah Subhanahu wa Ta’ala (SWT) untuk menguji kita, baik secara individu, kader, maupun organisasi.

Sebagai individu, setiap kita dituntut untuk dapat menunjukkan performa yang baik dalam memberikan sumbangsihnya kepada lingkungan. Kader–kader Hidayatullah beperan aktif membantu masyarakat yang terkena musibah. Itu semua merupakan investasi dunia dan akhirat.

Secara organisasi, Hidayatullah dituntut terus meningkatkan kualitas dan kuantitas layanan yang dibutuhkan umat. Peran Hidayatullah dalam bidang pendidikan akan semakin dapat dirasakan oleh masyarakat kelas bawah jika subsidi silang sekolah-sekolah integral Hidayatullah tetap dipertahankan.

Kita juga sering mengirimkan dai ke berbagai wilayah Nusantara, khususnya daerah pedalaman dan pulau terpencil. Kita memiliki media massa Suara Hidayatullah yang muatannya sarat dengan visi membangun peradaban Islam.

Organ lain yang kita miliki adalah Baitul Maal Hidayatullah (BMH), klinik Islamic Medical Service (IMS), Search and Rescue (SAR) Hidayatullah, Pusat Pendidikan Anak Saleh (PPAS), dan Gerakan Wakaf al-Qur`an.

Mari kita tingkatkan standar layanan untuk menjawab jeritan umat. Setelah itu, semoga Allah SWT memberikan pertolongan sebagaimana telah kita yakini, min haitsu laa yahtasibu, dari arah yang tidak kita duga-duga.

Waktu kita terbatas. Oleh sebab itu, selayaknyalah kita berjalan secara teratur dan terencana, sehingga tahapan yang sedang berjalan ini bisa kita selesaikan dengan baik, lalu dilanjutkan oleh generasi penerus tanpa gagap.

Membangun sebuah peradaban butuh banyak perangkat dan beberapa tahapan. Masa sekarang merupakan tahap mengantar Hidayatullah pada posisi organisasi leader tingkat nasional, atau organisasi nasional yang unggul dan berpengaruh.
Insya Allah ini bisa tercapai pada tahun 2010.

Dalam mempersiapkan diri menjadi organisasi leader, semua sumberdaya internal harus mengarah pada visi. Langkah pertama adalah merekrut dan membina anggota. Turunan dari itu adalah menyiapkan berbagai sarana seperti software (konsep pendidikan dan perangkatnya), hardware (peralatan rekrutmen dan pembinaan), operator, dan infrastruktur dari pusat hingga daerah.

Rekrutmen anggota baru diartikan juga sebagai rekrutmen sumberdaya yang dimiliki oleh anggota tersebut. Dengan demikian, maka, pengembangan amal-amal usaha, aksi-aksi sosial, gerakan dakwah, pengembangan infrastruktur di daerah baru, termasuk pengembangan bisnis, dapat dilakukan secara lebih cepat.

Salah satu sarana rekrutmen adalah Gerakan Mengajar Belajar al-Qur`an (Gran MBA). Implementasi Gran MBA berupa pembentukan Majelis Taklim al-Qur`an (MTQ). Gerakan ini dapat dilakukan oleh seluruh kader dan simpatisan Hidayatullah melalui berbagai segmen.

Insya Allah dengan perencanaan yang baik, didukung kader-kader yang siap berbagi pekerjaan, kita dapat menyelesaikan program dengan mudah tanpa menghabiskan seluruh waktu masing-masing. Mari kita buktikan bahwa dengan berjamaah, saling membantu, maka pekerjaan besar dapat kita lakukan, beban berat dapat kita pikul, dan harapan umat dapat kita penuhi.*

____________________
DR. H. ABDUL MANNAN, penulis adalah Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Hidayatullah. Artikel ini telah dimuat di majalah Suara Hidayatullah edisi Juni 2008.

 

 

Muallaf PNG di Ranting Hidayatullah Paumako

0

muallaf papua nugini di hidayatullah papuaHidayatullah.or.id — Tampak sejumlah muallaf dan umat muslim Papua berfoto di pelataran masjid di kampus Hidayatullah ranting Paumako, beberapa waktu lalu.

Diberitakan, ratusan muallaf dari negara Papua New Guinea (PNG) belajar dan memperdalam Islam di ranting Hidayatullah di bilangan distrik Paumako. Muallaf ini hadir bersama dengan jamaah tabligh Timika. Kegiatan jaulah silaturrahim ini berlangsung hangat dan penuh kekeluargaan.

Dai Hidayatullah di Paumako, Ustadz Munawwir Situmorang, mengatakan rombongan muallaf dari PNG ini tidak tahu berbahasa Indonesia. Bahasa pengantarnya mesti bahasa Inggris.

Hampir semua mereka memiliki kemampuan berbahasa Inggris walaupun masih tinggal di tengah rimba. (hio/jsk)

Reaktualisasi Spirit Muharram dari KH. Abdullah Said

berhijrah ilustrasiMERAPIKAN Shaff dan membenahi jamaah dengan mempertajam garis komando merupakan kerja paling mendasar dan paling mendesak selalu yang harus setiap tahun disegarkan. Sebab, itulah modal dasar kekuatan kita yang harus selalu dijaga dengan baik.

Maka perlu penyegaran kembali eksistensi keberadaan kita kalau kita ini satu jamaah yang kita telah bangun bersama-sama. Merakit dan menguatkan ulang yang longgar ikatannya. Menambal dan menjahit lagi kain yang robek. Memasang dan menguatkan kancing yang mulai goyah.

Mencoba memasang mana yang lepas bila memang masih mungkin, mendorong maju yang nampak mulai ketinggalan agar nampak bisa lebih rapi, memperbaiki posisi mana yang kurang pas letaknya.

Sehingga setiap selesai pertemuan langsung terasa adanya suasana lebih segar, semangat kembali meningkat. Rasa berjamaah kembali lebih merasuk, dan melahirkan tekad untuk membayar kekeliruan yang sudah terlanjur sebagai utang yang perlu dibayar di hari esok.

Jangan sampai kita terlalu laju melangkah dan memacu program pelayanan dan pengembangan lembaga, sementara kondisi barisan dan jamaah dalam keadaan morat marit.

Maka dapat kita bayangkan akan menjadi ibarat lilin, kita sementara menerangi sekitar sementara kita sendiri pelan-pelan hancur ke dalam. []

____________
Sepenggal spirit pendiri Hidayatullah, KH Abdullah Said Rahimahullah yang disampaikan pada 1 Muharram 1413 H di Balikpapan.

SARNAS Hidayatullah Diminta Turut Menjaga Indonesia

pelantikan sar hidayatullahHidayatullah.or.id -– Fungsi keberadaan Tim Search and Rescue Nasional (SARNAS) Hidayatullah bukan sebatas untuk tanggap bencana dan kerja kemanusiaan. Lebih dari itu, organisasi otonom ini diharapkan turut serta menjaga Indonesia dari bahaya komunis.

Ketua Umum (Ketum) PP Hidayatullah Dr Abdul Mannan mengharapkan demikian kepada Pengurus Pusat SARNAS Hidayatullah periode 2014-2017 yang dilantik di Kalimulya, Cilodong, Depok, Jawa Barat, Sabtu (01/11/2014).

Menurut Abdul Mannan, SARNAS Hidayatullah bisa terinspirasi dari sejumlah lembaga atau badan otonom milik ormas Islam lain seperti NU dan Muhammadiyah. Mereka turut melawan pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI) pada masa silam.

Acara pelantikan itu dihadiri oleh Pimpinan Umum Hidayatullah Ustadz Abdurrahman Muhammad, anggota Dewan Syura Hidayatullah Drs Nusyamsa Hadis, dan hampir seratusan dai se-Indonesia.

“Kepengurusan SAR Nasional Hidayatullah periode 2014-2017 ini dilantik pas fajar ya, serangan fajar. Luar biasa ini. Baru kali ini nih pelantikan SAR dihadiri oleh seluruh Indonesia. Maka kalau pekerjaannya nggak nasional, dipertanyakan,” ujar Abdul Mannan.

Pengamatan hidayatullah.com pada acara yang digelar usai shalat Shubuh berjamaah itu, sedikitnya 12 orang pengurus dilantik. Ditandai dengan pembacaan ikrar kesiapan bertugas yang dipimpin langsung oleh Abdul Mannan.

“Memelihara dan menjaga jagad alam semesta dengan sepenuh hati. Menjunjung tinggi Kode Etik Rescue dan menjadi tim yang solid di setiap medan tugas. Selalu siap siaga dan bertanggungjawab dalam keadaan darurat demi kemanusiaan. Rela berkorban demi nilai-nilai luhur kemanusiaan,” ujar para pengurus itu mengikuti penggalan lafadz ikrar yang dibacakan.

Halaqah SAR

Ketua SARNAS Hidayatullah Saharuddin Yusuf dalam sambutannya mengatakan, amanah yang diembankan kepada mereka sungguh berat. Namun, ia dan jajarannya berkomitmen kuat menjalankan amanah tersebut.

“Pagi hari ini Allah Subhanahu Wata’ala menaqdirkan (kita) untuk sama-sama berkumpul di ruangan ini, mendukung dan mendoakan kami semua untuk bagaimana SAR Hidayatullah saat ini, esok, dan yang akan datang menjadi pionir-pionir yang terdepan,” ujarnya pada acara yang berlangsung di aula Pesantren Hidayatullah ini.

Saharuddin mengatakan, di antara fungsi utama lembaganya adalah tampil terdepan, dalam upaya menyelamatkan korban-korban bencana yang terjadi khususnya di Indonesia.

“SAR Hidayatullah akan tampil terdepan untuk memberikan penyelamatan (korban) bencana yang ada, baik dalam berupa bencana alam ataupun bencana diakibatkan oleh manusia. Semoga kami semua ini ke depannya insya Allah menjadi generasi-generasi yang tangguh, militan, kapan dan dimana saja,” ujarnya.

Menurutnya, lembaga yang dipimpinnya itu berciri khas khusus. “SAR Hidayatullah punya halaqah sendiri. Tidak seperti SAR yang lain. Ada juga musyawarahnya. Satu minggu dua kali itu pertemuannya, dan alhamdulillah semua pengurus pusat hadir,” jelasnya.

Acara pelantikan ini dirangkai dengan acara penutupan Pelatihan Kepemimpinan V gelaran Hidayatullah Training Center (HiTC). Pelatihan ini diikuti sekitar 80 orang dai se-Indonesia. (hidcom)

Santri Hidayatullah Semarakkan Tahun Baru Islam

Siswa/siswi KB/TK LPI HIdayatullah Batam melakukan Long March sambut tahun baru muharram
Siswa/siswi KB/TK LPI HIdayatullah Batam melakukan Long March sambut tahun baru muharram
Santri putri SMP Arrohmah Hidayatullah Malang mengadakan Long March
Santri putri SMP Arrohmah Hidayatullah Malang mengadakan Long March

Hidayatullah.or.id — Menyambut Tahun Baru Islam 1 Muharram 1436 H yang bertepatan dengan hari Sabtu, 25 Oktober 2014 M, ribuan santri yang bernaung di Lembaga Pendidikan Islam (LPI) Hidayatullah se Indonesia mengadakan berbagai acara.

Dari Kota Malang, semenjak pukul 06.30 WIB, 700-an santri putra Pesantren Hidayatullah Malang mengikuti Apel Muharram 1436 H di lapangan utama LPI Ar-Rohmah Putra Malang.

Lapangan utama tersebut tiba-tiba berubah warna orange dipenuhi santri yang berseragam orange khas Pandu Hidayatullah.

Selain santri, seluruh tenaga pengajar dan karyawan ikut serta meramaikan kegiatan tersebut.

Tampil memberikan orasi adalah Ustadz Fahmi Ahmad, M.M yang juga sebagai Kepala SMA Ar-Rohmah Malang.

Dalam orasi yang penuh semangat tersebut, berkali-kali beliau menekankan pentingnya mengambil spirit hijrah sebagai titik tolak perubahan.

Sebelumnya, jumat malam, Jum’at (24/10/2014) digelar renungan tentang perjalanan hijrah Nabi Muhammad .

Arabic Menu

Sementara itu, rangkaian acara menyambut Tahun Baru Islam di LPI Hidayatullah Surabaya digeral Muharram Day. Sabtu (25/10/2014) siang para siswi SMP Luqman Al Hakim Hidayatullah surabaya mengadakan kegiatan bazar makanan di lapangan Ponpes Hidayatullah Surabaya.

“Even Muharram ini sangatlah bagus dan menarik, untuk bisa melatih life skill para siswi untuk bisa berenterpreneurship sejak dini,” demikian usjar Venny kepada hidayatullah.com.

“Kami menyuruh mereka untuk mencari menu-menu hidangan Arab dalam even ini,” ujar Ulfa, guru mata pelajaran Tata Boga di SMP Putri ini.

Bazar hari itu menghidangkan aneka makanan. Di antaranya minuman khosaf es campur orang Arab, air zam-zam dan minuman lainnya. Sedangkan makanannya berupa kebab, roti maryam, kurma, nasi kebuli dan makanan khas Indonesia lainnya yang semua kreatifitas siswi.

Sebelumnya, pagi hari, diadakan syiar Muharram berupa long march yang diikuti hampir 1000 santri dari KBTK, TK, SD, SMP/SMA dan perguruan tinggi di bawah naungan LPI Hidayatullah Surabaya.

Di Batam, acara menyambut Tahun baru Islam juga dilakukan TK Yaa Bunayya Hidayatullah. Para santri menyelenggarakan berbagai kegiatan diantaranya pawai, long mach melewati jalan Perumahan Genta kel kibing kec Batu Aji Kota Batam sejau 1,5 KM.

Berbagai macam jenis topi hias digunakan santri melewati sepanjang jalan Perumahan Genta. Santri sangat antusias dan semangat. */Laporan Anca (Batam), Khuluq (Surabaya), Abd Aziz Ibnu Basyier (Malang)

Kemenkumham Anjangsana ke Hidayatullah Manokwari

Jajaran petinggi Kemenkumham Papua Barat berfoto bersama santri Pesantren Hidayatullah Manokwari / RK
Jajaran petinggi Kemenkumham Papua Barat berfoto bersama santri Pesantren Hidayatullah Manokwari / RK

Hidayatullah.or.id — Dalam rangka memperingati HUT Dharma Karyadhika, jajaran Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham) Papua Barat, melakukan anjangsana ke Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Manokwari. Selain itu rombongan ini juga menggunjungi Sekolah Pendidikan Guru Jemaat (SPGJ) Lahai-Roi Arfai dan Yayan Tuna Netra di Reremi, Rabu (22/10) lalu.

Anjangsana ke Pesantren Hidayatullah Manokwari yang dirangkai dengan kegiatan bakti sosial ini selain dihadiri oleh seluruh staf dari Kementerian Hukuk dan HAM Papua Barat, juga dihadiri langsung oleh 3 UPT dipimpin langsung Kakanwil Kemenhukam Prov Papua Barat, Agus Soekono, Bc.IP., SH.

Agus Soekono mengatakan kegiatan bakti sosial yang dilaksanakan di Pondok Pesantren Hidayatullah ini merupakan awal dari seluruh rangkaian kegiatan.

Panitia HUT Dharma Karyadhika telah mengagendakan beberapa kegiatan yang intinya berbagi dengan sesama.

“Kami coba berbagi dengan sesama. Ini semua merupakan ucapan syukur atas segala berkat nikmat dari Yang Kuasa oleh sebab itu kami datang dan ingin berbagi dengan saudara-saudara kita di Pondok Pesantren ini,” tutur Agus kepada wartawan seperti dikutip juga harian Lokal Radar Timika.

HUT Kemenhukam ke-69 jatuh pada 30 Oktober besok. Kata Soekono, jajaran Kanwil Kemenkumham Papua Barat ingin berbagi dengan warga yang membutuhkan bantuan.

“Kita berbagi dengan saudara kita di Pondok Pesantren Hidayatullah ini dan beberapa tempat lain. Dengan silaturahmi ini maka dapat membuka pintu rejeki untuk kita semua dan dapat mempererat tali persaudaraan kita,” harap dia.

Sementara itu, Ustad Nurdin Alimudin, Pimpinan Pondok Pesantren Hidayatullah Manokwari mengatakan bahwa pondok pesantren ini merupakan lembaga dakwah, sosial, dan pendidikan.

“Di pondok ini, anak didik kami dibina. Untuk santriwan dan dan santriwati kita pisah. Jika sudah selesai dari sini bisa kita sekolah dan kuliahkan lalu ditarik kembali untuk mengajar. Kami berterima kasih dengan adanya bakti sosial ini,” kata Nurdin.

Pada anjangsana ini, Kanwil Kemenkumham memberikan bingkisan kasih berupa bahan makanan pokok dan lain-lain. (ybh/hio)