Beranda blog Halaman 647

Murid Hidayatullah Surabaya Kirim Surat ke Presiden RI

0
Surat suara hati ini dikirimkan bertepatan dengan Hari Hijab Internasional
Surat suara hati ini dikirimkan bertepatan dengan Hari Hijab Internasional
Surat-surat yang ditulis lalu dikumpulkan untuk segera dikirim
Surat-surat yang ditulis lalu dikumpulkan untuk segera dikirim
Salah satu sisiwi memperlihatkan surat yang akan dikirimkan ke presiden dan Kapolri
Salah satu sisiwi memperlihatkan surat yang akan dikirimkan ke presiden dan Kapolri

Hidayatullah.or.id — “Pak Presiden dan Pak Kapolri yang saya hormati. Tulisan saya ini mewakili wanita Indonesia yang berjilbab untuk mendukung Polisi Wanita yang ada dibawah jajaran bapak untuk memakai hijab. Jangan dihalangi.

Mereka berhijab karena panggilan hati. Berhijab adalah aturan Allah yang harus ditaati. Salam dari Adiba siswi SMP Putri Luqman al Hakim Hidayatullah Surabaya.”

Demikianlah salah satu isi surat yang ditulis oleh siswi SMP Putri Lukman al Hakim Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya, Jawa Timur. Surat tersebut adalah surat cinta dan penuh harap yang akan dikirimkan kepada Presiden Republik Indonesia, Bapak Susilo Bambang Yudhoyono dan Kapolri, Bapak Jenderal Sutarman.
Siswi SMP Putri Luqman al Hakim Hidayatullah, Surabaya, Yustika Asih, menulis surat cinta tentang Undang-Undang Jilbab bagi Polwan kepada Kapolri Jenderal Pol Sutarman dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada Hari Hijab Internasional.

“Hijab itu hak asasi yang harus dijunjung tinggi, karena itu saya berharap undang-undang hijab bagi polwan dituntaskan,” ucapnya saat menulis surat cinta itu di sekolahnya di kompleks Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya (8/9) lalu.

Dalam surat cintanya pada Hari Hijab Internasional yang jatuh setiap tanggal 4 September itu, ia mengharap dengan tulisan tangan yang ia hasilkan bisa memberi penguatan tentang kebebasan berhijab di lembaga manapun.

“Khususnya hijab bagi Polwan,” tukasnya tentang Hari Hijab Internasional (4 September) yang berdekatan dengan Hari Polwan pada setiap tanggal 1 September.

Pandangan Yustika itu juga didukung rekannya, Adiba Nurul Khoirina. “Pak Presiden dan Pak Kapolri yang saya hormati. Tulisan saya ini mewakili wanita Indonesia yang berjilbab untuk mendukung Polisi Wanita untuk memakai hijab. Jangan dihalangi,” ujar Adiba.

Baik Yustika maupun Adiba menegaskan bahwa mereka berhijab karena panggilan hati, selain berhijab juga merupakan aturan Allah yang harus ditaati untuk kebaikan kaum perempuan itu sendiri.

Langkah Yustika dan rekan-rekannya pun didukung Kepala SMP Putri Luqman al Hakim Hidayatullah, Surabaya, Amin Rahayu. “Momen Hari Hijab Internasional itu tepat untuk menegaskan pentingnya hijab, sekaligus dukungan bagi Polwan Indonesia yang ingin berhijab dalam bekerja,” tandasnya. (prs/hio)

Pemkab Sukabumi dan Sesmen PDT Sambut Hidayatullah

0
Tampak Ketum PP Syabab Hidayatullah Naspi Arsyad, Sekda Sukabumi Drs Adjo Sarjono, dan Sesmen PDT M. Nurdin berfoto di hadapan fotografer usai dialog / YBH
Tampak Ketum PP Syabab Hidayatullah Naspi Arsyad, Sekda Sukabumi Drs Adjo Sarjono, dan Sesmen PDT M. Nurdin berfoto di hadapan fotografer usai dialog / YBH
Sejumlah kerajinan tangan hasil karya masyarakat dalam Sukabumi / YBH
Sejumlah kerajinan tangan hasil karya masyarakat dalam Sukabumi / YBH

Hidayatullah.or.id — Pemerintah Kabupaten Sukabumi melalui Sekretaris Daerah Kabupaten Sukabumi Drs.H. Adjo Sarjono menerima pengurus Pimpinan Pusat (PP) Hidayatullah di Aula Utama Guest House Sekda Sukabumi, Jawa Barat, Selasa (09/09/2014) kemarin.

Dalam pertemuan itu hadir pula Sekretaris Menteri Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemen PDT) M. Nurdin, yang kebetulan di kesempatan yang sama sedang melakukan kunjungan kerja bersama rombongan ke wilayah tersebut. Baik Sekda maupun Sesmen, dalam kesempatan dialog yang berlangsung hangat tersebut mengapresiasi peran persyarikatan Hidayatullah dan Syabab Hidayatullah.

Sekretaris Daerah Kabupaten Sukabumi Drs.H. Adjo Sarjono mengatakan, akan melakukan kunjungan silaturrahim ke komplek Ma’had Tahfidzul Qur’an Al Humairah di Caringin yang saat ini sedang dirintis dan dikembangkkan oleh Hidayatullah melalui PP Syabab Hidayatullah yang didukung oleh tenaga ahli di bidangnya.

“Bagus. Terus kembangkan. Insya Allah kalau ada waktu kita silaturrahim ke sana,” kata Adjo di sela-sela bincang-bincang tersebut.

Di kesempatan yang sama Sekretaris Menteri (Sesmen) PDT M Nurdin mendorong Hidayatullah dan gerakan pemudanya untuk terus melakukan terobosan yang selama ini telah dilakukan untuk menunjang aspek-aspek pembangunan daerah untuk pengembangan kualitas sumber daya manusia khususnya di bidang pendidikan, dakwah, dan kepemudaan.

Seperti diketahui Sukabumi masih berpredikat sebagai wilayah tertinggal. Untuk itu Nurdin berharap kehadiran dan kiprah Hidayatullah di wilayah tersebut akan berkontribusi positif terhadap kelangsungan pembangunan dan pengembangan kualitas sumber daya manusia.

“Saya titip ke Pak Sekda, agar lembaga penghafal Al Qur’an Al Humairah ini diperhatikan karena merupakan bagian penting dari elemen pembangunan bangsa,” kata dia.

Ketua Umum PP Syabab Hidayatullah, Naspi Arsyad, pada kesempatan tersebut mengemukakan kepada Sekda dan Sesmen PDT bahwa lembaga penghafal Al Qur’an yang kini dirintis pihaknya baru mulai beroperasi tahun ini. Selanjutnya nanti dimungkinkan akan dibuka Pimpinan Daerah (PD) Hidayatullah dan PD Syabab Hiadyatullah yang berkedudukan di daerah tersebut.

Usai dialog, rombongan Sesmen dan Sekda mengajak pengurus PP Syabab Hidayatullah untuk melakukan kunjungan ke lokasi-lokasi pemberdayaan ekonomi kemasyarakatan yang dibina oleh Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal tersebut.

Pengurus PP Syabab Hidayatullah mendapatkan banyak masukan dan saran dalam rangka pengembangan industri kreatif untuk kemandirian ekonomi.

Menurut Naspi, kerajinan tangan dan hasil kreatifitas bahan alam lainnya yang dihasilkan oleh masyarakat Sukabumi layak dicontoh oleh pengurus-pengurus Syabab Hidayatullah di daerah dalam rangka pemanfaatan sektor-sektor riil untuk menopang terciptanya sumber daya yang maju dan bertumbuh lebih baik.

“Sebenarnya ini juga bisa dikembangkan oleh kawan-kawan di daerah, kita akan dorong,” tukas dia sembari meminta koleganya untuk mendokumentasikan karya-karya unik tersebut. (ybh/hio)

Buletin Hidayatullah Edisi Agustus 2014

cover Hidayatullah Newsletter Agustus 2014BULETIN HIDAYATULLAH adalah media informasi dan silaturrahim ormas Hidayatullah yang terbit reguler setiap bulan. Buletin ini diedarkan melalui saluran transimi virtual seperti email dan sejenisnya tanpa dikenakan biaya alias gratis bagi siapa saja yang ingin berlangganan.

Kami sangat merekomdendasikan supaya Anda menggunakan peramban (browser) Google Chrome ketika mengunduh (download) Buletin Hidayatullah ini untuk mendapatkan akses cepat dan kustomasi tampilan yang lebih dinamis. Download Buletin Hidayatullah di bawah ini:

BULETIN HIDAYATULLAH AGUSTUS 2014

 

 

 

 

 

 

 

 

Hidayatullah Gelar Upgrading Dai Pembangunan se-Kaltara

upgrading
Tampak kegiatan kegiatan workshop dan upgrading dai / IST

Hidayatullah.or.id — Pimpinan Wilayah Hidayatullah Kalimantan Utara (PW Kaltara) bekerjasama dengan Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Bulungan, Tanjung Selor, menggelar workshop dan upgrading dai se-Kalimantan Utara. Acara yang berlangsung selama 2 hari ini di komplek Kampus Cordova Hidayatullah Tanjung Selor.

Upgraring ini diikuti oleh puluhan dai yang tersebar di wilayah Kalimantan Utara. Kegiatan ini sekaligus menjadi ajang temu kangen para dai yang memiliki tempat tugas dakwah yang berbeda baik dari aspek kultur, budaya, maupun geografis.

Dalam kegiatan ini ditelurkan rekomendasi diantaranya seorang juru dakwah (dai) atau muballig dituntut harus memampu melakukan diagnosa terhadap banyak problematika yang dihadapi umat dewasa ini.

Zaman makin berkembang, sehingga dinamika masalah keummatan pun bisa semakin kompleks. Dari kemampuan “diagnosa” yang dilakukan, diharapkan dai dapat memerankan fungsinya dengan baik sebagai pengabdi umat.

Diharapkan dengan adanya “Up Grading Dai” ini, para dai Hidayatullah dapat menempatkan dirinya secara bijak di tengah kemajemukan ummat Islam, mampu “mendiagnosis” problematika ummat sekaligus menjadi “problem solver”nya.

Serta mampu mentranformasikan kondisi ummat menjadi lebih baik dalam hal ibadah, tata perilaku, dan keilmuan.

Sementara itu, Ketua Pengurus Wilayah Hidayatulla Kaltara, Ustadz Nur Yahya Asa, dalam kesempatan tersebut mengingatkan kepada segenap dai untuk selalu menjaga keikhlasan karena hanya niat yang luruslah yang bisa membuat seorang dai bisa tetap survive di berbagai medan tugas.

Dai yang tangguh, lanjut Yahya, adalah dai yang bekerja dan berbuat semata-mata mengharap balasan dari Allah Ta’ala semata. Dai tangguh selalu mengedepankan amal ma’ruf kepada umat yang ia bina dengan kebijaksanaan, kearifan, dan keteladanan.

Ia bahkan menegaskan, dai adalah pemimpin serta pelopor setiap kebajikan di mana saja dia berada. Dai tangguh semacam ini tak akan pernah terpengaruh dengan pujian juga cacian, ketika lemah dapat segera kembali bangkit, serta selalu menjaga shalat jamaah 5 waktu di masjid.

Seorang dai juga harus punya keberanian dan selalu bersemangat. Beliau menganalogikan segerombolan perampok atau pencuri yang dipimpin oleh orang yang penuh semangat dan keberanian. Dai seharusnya harus lebih dari itu karena ia hadir untuk memberi kebaikan dan kemaslahatan, bukan ketakutan dan ancaman.

Untuk mengetahui siapa yang menjadi pemimpin dari sekelompok pencuri itu tidak susah, cukup kita ketahui siapa yg paling semangat di antara mereka maka dia itulah yg menjadi pemimpinnya, tukas Yahya.

“Sebab, sudah menjadi fitrah bagi manusia bahwa seorang pemimpin itu harus lebih memiliki semangat berlipat ganda dibandingkan dengan orang-orang yang dipimpinnya,” tegas Yahya Asa menandaskan saat sesi Penutupan Upgrading Dai Hidayatullah tersebut.

Upgrading Dai Pembangunan se-Kalimantan Utara ini terselenggara atas kerjasama diantaranya Laznas Baitul Maal Hidayatullah (BMH), PD Hidayatullah Bulungan, dan lain-lain. Sponsor berbagai instansi pemerintah maupun swasta turut serta melancarkan kegiatan yang berlangsung selama 2 hari ini. (ziz/hio)

Dewan Syura Rapat Pleno di Hidayatullah Batam

pleno syura hidayatullah di batam 3Hidayatullah.or.id — Dewan Syuro Pimpinan Pusat Hidayatullah menggelar Rapat Pleno dio Kampus Hidayatullah Batam, beberapa waktu lalu. Acara ini diiikuti oleh seluruh pengurus di Dewan Syura dan Pimpinan Umum Hidayatullah.

Rapat ini membahas kebijakan-kebijakan organisasi, mengevaluasi, dan penguatan peran Hidayatullah untuk pembangunan bangsa, pemberdayaan umat, dan maksimalisasi pelayanan sosial serta vitalisasi pendidikan holistik dalam rangka meretas kader umat berkemajuan dan berperadaban mulia. (nh/hio)

Diklat SAR Hidayatullah untuk Personil Tingkat Dasar

Sejumlah Tim Instuktur SAR Hidayatullah Pusat berfoto bersama / DOK
Sejumlah Tim Instuktur SAR Hidayatullah Pusat berfoto bersama / DOK
Salah satu sesi diklat yang diikuti oleh peserta / ALFARO
Salah satu sesi diklat yang diikuti oleh peserta / ALFARO
Suasana di arena diklat yang digelar di alam terbuka / DOK
Suasana di arena diklat yang digelar di alam terbuka / DOK
Rehat sejenak / ALFARO
Rehat sejenak / ALFARO
Berlatih membuat simpul / ALGFARO
Berlatih membuat simpul / ALFARO

Hidayatullah.or.id — Unit pencarian dan penyelematan (Search and Rescuer) di bawah koordinasi ormas Hidayatullah, Tim SAR Hidayatullah Pusat, menggelar pendidikan dan pelatihan SAR untuk tingkat dasar di Komplek Terpadu Kampus Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan.

Kegiatan yang rencanya berlangsung selama sebulan tersebut dibuka secara resmi di Lapangan Utama Kampus Pesantren Hidayatullah Balikpapan, beberapa waktu lalu.

Ketua SAR Hidayatullah, Syaharuddin Yusuf mengatakan pelatihan SAR tingkat dasar ini merupakan bentuk pembelajaran awal yang dilakukan oleh pihaknya untuk memberikan bekal pengetahuan, keterampilan serta pembentukan sikap mental kepada para calon rescuer di dalam tubuh SAR Hidayatullah.

Diklat rutin seperti ini, jelas Syahar, juga dalam rangka untuk mengembangkan dan mensosialisasikan pentingnya penyelamatan dini terhadap berbagai kemungkinan yang tak terduga oleh faktor alam di sekitar kita.

“Peserta yang dianggap berkompetensi dan dan berkeahlian nantinya akan dikukuhkan menjadi anggota SAR Hidayatullah untuk selanjutnya mengikuti training tingkat lanjut,” terang Syaharuddin, Senin (08/09/2014).

Syahar menegaskan, untuk menjadi anggota SAR Hidayatullah personil diharapkan harus memiliki keandalan mental, fisik, dan keahlian dalam pengananan-pengangan bencana alam secara massif dan sistematis.

Sebab itu bagi seorang relawan SAR memiliki tugas dan tanggung jawab yang tidak ringan karena akan menangani masalah-masalah musibah atau bencana alam di lapangan. Syahar menilai kondisi alam di Indonesia relatif susah diprediksi sehingga dibutuhkan selalu kesigapan.

Kondisi tersebut, lanjut Syahar, menuntut personil SAR Hidayatullah untuk selalu siap siaga melakukan tugas penyelamatan dan pencarian di titik lokasi musibah dengan tentu selalu berkoordinasi dengan lembaga-lembaga terkait lainnya seperti Badan SAR Nasional (Basarnas), aparat, dan pemerintah serta instansi terkait.

Para instruktur yang melakukan pendidikan dan dan pelatihan untuk calon personil tingkat dasar SAR Hidayatullah telah tersertifikasi di BASARNAS sebagai Instruktur Muda.

Adapun materi-materi lapangan yang diterima peserta dalam latihan dasar ini adalah lebih kepada keandalan dalam penyelamatan (rescuer) seperti kemampuan navigasi darat, survival, medical first responder, dan lain-lain.

Ormas Hidayatullah mendirikan unit SAR Hidayatullah dalam rangka mengantisipasi banyaknya musibah dan bencana alam di Indonesia. SAR Hidayatullah mulai dikukuhkan pada 2004 dan termasuk tim yang paling pertama menembus lokaso bencana tsunami di Aceh.

Saat itu SAR telah terjun sejak hari kedua di lokasi tsunami Aceh dengan membuka posko di Lanud Iskandar Muda. Tim SAR Hidayatullah dilatih oleh instruktur dari Badan SAR Nasional, dan telah mengikuti berbagai kegiatan bersama Tim SAR dari Kepolisian, Angkatan Laut, Angkatan Udara, maupun Angkatan Darat.

SAR Hidayatullah juga secara rutin terjun ke berbagai lokasi musibah di Indonesia seperti bencana banjir, longsor, kapal tenggelam, dan sukses menyelenggarakan pengibaran bendera merah putih sepanjang 1000m2 dengan menggunakan bambu di Pantai Lamaru, Kalimantan Timur. Helatan tersebut tercatat dalam rekor dunia. (ybh/hio)

Hidayatullah Bidik Kurikulum Global untuk Indonesia Unggul

kurikulum global hidayatullahHidayatullah.or.id — Hidayatullah terus berbenah salah satunya dengan terus meningkatkan layanan pendidikan yang berkualitas, unggul, dan berdaya saing. Dalam rangka upaya tersebut, Yayasan Hidayatullah Depok bekerjasama dengan Departemen Pendidikan Pesantren Hidayatullah Depok (DP2HD) menyelenggarakan kegiatan upgrading guru berupa seminar intensif selama sehari.

Kegiatan yang berlangsung pada hari Sabtu, 30 Agustus 2014 lalu bertempat di Aula Training Center Hidayatullah Depok dengan mengusung tema “Pesantren yang Unggul dengan Kurikulum Global menuju Indonesia Memimpin”.

Pemateri yang diundang adalah praktisi ekonomi Romeo Rissal Panjialam dan pakar pendidikan nasional Prof. Dr. Arif Rahman, M.Pd. Namun karena kendala waktu dan sesuatu lain hal, Profesor Arif Rahman yang telah dijadwalkan menjadi pembicara bersama Bapak Romeo berhalangan hadir. Namun ketidakhadiran tokoh pendidikan tersebut tak mengurangi antusiasme peserta yang seluruhnya adalah guru dan pengasung di bawah lembaga pendidikan Hidayatullah Depok.

Dalam pemaparannya, Romeo Rissal yang banyak berkecimpung di dunai perbankan mengatakan bahwa salah satu yang harus menjadi perhatian lembaga pendidikan adalah pengembangan sumber daya manusia. Kata dia, sumber daya yang tidak beretos kerja hanya akan merusak sistem.

Untuk itu, kata Romeo, Pesantren Hidayatullah Depok harus bisa secara konsisten mambangun kemandirian ekonomi lembaga guna menopang kebutuhan organisasi dan juga memenuhi tuntutan stakeholders. Dengan demikian, maka diharapkan kemudian akan terjadi siklus pengembangan dan pembangunan lembaga yang berkelanjutan (sustainable development) baik pada aspek sumber daya manusia penyelenggaranya, pelayanan, dan output yang dihasilkan.

“Salah satu potensi yang dilupakan oleh lembaga pondok-pondok pesantren adalah kemandirian ekonomi. Hidayatullah Depok saya lihat sudah ada Mulia Mart, tapi itu tidak maksimal karena baru menyasar konsumen internal. Seharusnya harus diluaskan jangkaunnya,” imbuh beliau menyarankan.

Pada kesempatan tersebut, Romeo juga menyarankan kepada pengasuh dan guru di lingkungan Pesantren Hidayatullah Depok untuk selalu membangun etos kerja yang tinggi dan senatiasa menumbuhkan semangat untuk menuntut ilmu karena ilmu tidak terbatas.

“Soal komunitas bahasa Inggris yang sudah saam-sama kita bangun di Hidayatullah Depok, ini harus dikawal dan dijalankan bersama-sama karena tanpa motivasi yang tinggi kita tidak akan jadi apa apa,” pungkasnya.

Dengan demikian, lanjut dia, untuk menjadi Indonesia unggul, maka kurikulum berbasis global memang sebaiknya menjadi perhatian bersama. Kurikulum global tersebut harus mengacu kepada semangat dasar pendidikan yaitu mencetak generasi bermoralitas agung dan beriman kepada Allah Subhanahu Wata’ala.

Sekretaris Yayasan Hidayatullah Depok, Bapak Lalu Mabrul, kepada media ini mengagatakan, acara ini seyogyanya diisi juga materi dari pakar pendidikan Profesor Arif Rahman.

“Tapi, karena ada halangan, beliau mengkonfirmasi kepada panitia bahwa beliau tidak bisa hadir. Di kesempatan yang lain beliau bersedia, Insya Allah,” ujar Mabrul.

Beliau pun mengapresiasi setinggi-tingginya antusiasme peserta dalam acara ini yang tidak pernah merasa puas dan cukup dalam menimba ilmu. Meskipun dilingkupi kesibukan mengajar dan kegiatan di sekolah, para guru masih dapat menyempatkan diri hadir dalam acara yang berlangsung hingga azan dzhuru itu.

“Untuk menjadi lebih baik, belajar, dan terus belajar harus menjadi kebiasaan bagi setiap muslim. Apalagi jika ia mengemban amanah sebagai pendidik, maka upaya upgrade diri adalah keniscayaan,” imbuh beliau.

Kegiatan ini dimulai jam 09.30 hingga waktu dzhuhur. Acara ditutup dengan doa dan ramah tamah. (ybh/hio)

Pendidikan Hidayatullah Harus Rangkul Semua Potensi

Sejumlah murid di Hidayatullah Kudus
Sejumlah murid di Hidayatullah Kudus

Hidayatullah.or.id — Sistem pendidikan kapitalis yang menjalankan proses pendidikan layaknya industri dipandang gagal melahirkan output ber-Tauhid dan nihil loyalitas terhadap Islam.

Akibat pengaruh sistem tersebut, lembaga pendidikan berlomba mengusung slogan “modern” dengan membuat ketentuan baku bahwa seorang siswa atau murid bisa lulus atau tidak lulus hanya berdasarkan angka-angka hasil ujian di atas kertas. Aspek emosional, kultur, dan lainnya pun dicampakkan.

Itulah beberapa yang menjadi keprihatinan Yayasan Al Aqsha Hidayatullah Kudus yang selama ini terus concern menyelenggarakan pendidikan berbasis Tauhid yang tak memandang apakah seorang perserta didik mampu secara akademik atau tidak. Semua mendapat porsi yang sama untuk mengecap pendidikan Islam. Sebab, pada prinsipnya, fitrah manusia adalah men-Tauhid-kan Allah Ta’ala.

Ketua Yayasan Al Aqso Hidayatullah Kudus, Abdullah, mengatakan, sekulerisasi dan kapitalisasi pendidikan telah dimulai sejak lama karena belum maksimalnya pola pendidikan Tauhid dalam sosialisasi dan transformasi. Kendati demikian, tak ada kata terlambat untuk berbenah.

“Terdapat kesan sangat kuat bahwa pengembangan ilmu-ilmu kehidupan (iptek) adalah suatu hal yang berada di wilayah bebas nilai sehingga sama sekali tak tersentuh oleh standar nilai agama,” kata dia.

Kalaupun ada, sambungya, hanyalah etik (ethic) yang tidak bersandar pada nilai agama. Sementara, pembentukan karakter siswa yang merupakan bagian terpenting dari proses pendidikan justru kurang tergarap secara serius.

Menurut dia, dari seluruh permasalahan yang ada dalam pendidikan, yang pertama harus ditata kembali adalah adalah permasalahan yang muncul akibat konsepsi pendidikan secara paradigmatik. Tataran paradigamatik ini yang akan memberi visi, misi, dan orientasi proses pendidkan yang dilaksanakan. Karena itu, kekeliruan paradigmatik pendidikan akibatnya akan sangat fatal.

“Pengaruh yang ditimbulkan bukan hanya terhadap individu peserta didik, tetapi juga teradap sistem kehidupan yang dibangun oleh peserta didik tersebut,” terangnya.

Secara paradigmatik, imbuhnya, pendidikan harus ditata pada asas Tauhid. Suatu pandangan kehidupan, pemahaman, penghayatan, serta implentasi dalam pola sikap, ucap dan tindakan (iman), atas realitas kehidupan. Serta, entitas dari realitas tersebut akan adanya penciptaan, ketergantungan, pengaruh, tujuan, dan rujukan serta keberadaan pencipta. Dalam bahasa sehari-hari Tauhid sering diartikan meng-Esa-kan Tuhan.

Asas Tauhid ini merupakan landasan, jiwa, dan ortientasi pendidikan. Karena pendidikan itu objeknya adalah manusia, maka persepsi manusia juga harus berdasarkan Tauhid, bukan atas persepsi manusia itu sendiri. Inilah, tegas Abdullah, otoritas Tuhan sebagi bagian nilai dari Tauhid.

Atas dasar itu pula, kata Abdullah, kita memahami bahwa manusia dikategorisasi dari status dan fungsinya, baik sebagai individu, atau sebagai bagian dari masyarakatnya, lingkunganya, dan alamnya serta ditunjau berdasarkan instrumentasi yang dimilikinya.

“Manusia memiliki status dan fungsi hidup sebagi Abdullah dan Khaliffatulah. Dalam rangka mengemban amanat tersebut, maka diperlukan kemampuan berupa tumbuh dan berkembangnya aspek-aspek instrumentasi kemampuan manusia secara integral dan seimbang, yaitu aspek aqliyah, ruhiyah dan jismiyah,” terangya.

Dengan demikian, imbuh dia, kemampuan yang dimiliki manusia dengan tumbuh dan berkembangnya kemampuan intrumentasinya, adalah dalam rangka memerankan secara fungsional dan integratif antara sebagai hamba (‘abid) yang berdimensi sebagai pribadi dan sebagai khalifah yang berdimensi sosial dan lingkungan alam.

Penyelenggara dan lembaga pendidikan pun, lanjutnya, tak boleh mengabaikan aspek tersebut dengan terus mendaraskan keikhlasan dalam diri dalam mendidik sehingga semua potensi dapat dimaksimalkan tanpa ada pembeda-bedaan. Selama seseorang memiliki komitmen untuk berubah menjadi lebih baik, maka harus diapresiasi.

“Sehingga suatu hal yang naif kalau ada lembaga pendidikan berlabel Islam menolak calon murid atau pelajar hanya karena dia tak memenuhi syarat akademik atau secara lahir terlihat mbalelo, padahal di aspek lain bisa jadi dia memiliki potensi untuk menjadi baik karena itulah fitrahnya,” pungkasnya.

Yayasan Al Aqsho Pesantren Hidayatullah Kudus sendiri merupakan cabang dari Hidayatullah Balikpapan Kalimantan Timur yang dirintis oleh almarhum KH Abdullah Said. Sebelum Kudus, Hidayatullah lebih dulu berdiri di Situbondo dengan nama Yayasan Al-Amin.

Perintisan Yayasan Situbondo diawali oleh diskusi-diskusi yang dilakukan oleh beberapa anak muda mahasiswa muslim yang sedang menyelesaikan kuliah di berbagai Perguruan Tinggi di Surabaya. Mereka antara lain Abdurrahman (UNAIR), Hamim Thohari (IKIP), Elvenus Yahya (ITS), Sulaiman (ITS), Rahmad Rahman (UNAIR), dan Chusnul Chuluk (IKIP).

Atas izin Allah SWT, kepercayaan masyarakat kepada Yayasan Al Aqsho Hidayatullah Kusud terus meningkat. Hingga pada akhirnya Yayasan Al Aqsho Kudus mampu mewujudkan sebuah kompleks asrama di atas tanah seluas 10.000 m2 dan terus eksis hingga kini.

Kegiatan yang awalnya hanya berupa penyantunan yatim piatu, pembinaan anak putus sekolah terus ditingkatkan menjadi lembaga pendidikan yang dikelola secara profesional terdiri dari Play Group dan TK “Yaa Bunayya”, SD Luqman Al-Hakim yang berdiri pada tahun 1999 serta SD Integral pada tahun 2012. (ybh/hio)

“Pondok Pesantren Tak Perlu Label Modern”

Potret santri-santri awal Pesantren Hidayatullah yang lebih banyak "belajar" di lapangan ketimbang di ruang kelas karena keterbatasan fasilitas / dok
Potret santri di awal perlangkahan Pesantren Hidayatullah yang lebih banyak “belajar” di lapangan ketimbang di ruang kelas karena keterbatasan fasilitas / IST

Hidayatullah.or.id — Pondok pesantren diminta untuk kembali mengambil peran utama dalam kemajuan bangsa Indonesia. Pondok pesantren sudah saatnya harus kembali seperti dulu tanpa perlu label modern. Demikian ditegaskan Wakil Menteri Agama Nasaruddin Umar.

“Sudah saatnya kembalikan nilai pesantren yang mulai tergerus. Pondok pesantren tidak perlu pakai label modern karena dari survei, pondok pesantren justru lembaga pendidikan paling modern,” ujar Nasaruddin dalam acara pengukuhan Dewan Hakim Musabaqah Qiroatil Kutub (MQK) di kantor Gubernur Jambi, Selasa (2/9/2014) malam lalu.

Saat ini, ungkap Nasaruddin, pondok pesantren yang ada kerap meninggalkan ajaran-ajaran tradisional yang justru bermanfaat seperti pendalaman bahasa Arab. Padahal, ujar dia, dengan memahami bahasa Arab maka keaslian makna dari ayat-ayat Al Quran akan tetap terjaga.

Di sisi lain, Nasaruddin mengaku bangga dengan keberadaan pondok pesantren. Konsep pesantren bahkan sudah ditiru Inggris. Saat ini, kata dia, Inggris mulai mengembangkan konsep boarding school atau housing student yang sistemnya mirip dengan pesantren.

Selain itu, Nasaruddin menyinggung peran pondok pesantren selama perjalanan sejarah Indonesia yang cukup besar. Tokoh-tokoh yang berasal dari kalangan santri bahkan menjadi tokoh nasional yang menyatukan bangsa ini.

“Ada pengamat Amerika bilang, Indonesia akan terkotak-kotak menjadi 20 negera seperti yang terjadi di Balkan. Tapi hingga tahun 2014, kita belum bubar. Rahasianya sepanjang pondok pesantren berdiri tegak, maka Indonesia tidak akan hancur,” kata Nasaruddin.

Nasaruddin berharap pondok pesantren benar-benar mengajarkan ajaran Islam secara mendalam termasuk kefasihan menghafal, memahami, hingga melaksanakan ayat-ayat Al Quran. Dia juga menekankan perlunya pemahaman lebih atas bahasa Arab. (kem/kem)

Rekat Ukhuwah di Marhalah Ula Hidayatullah Sulbar

Ketua Departemen Pelayana Umat PP Hidayatullah, Drs Tasyrif Amin Lathif, M.Pd.I / BAS
Ketua Departemen Pelayanan Umat PP Hidayatullah, Drs Tasyrif Amin Lathif, M.Pd.I saat menyampaikan materi / BAS
Sejumlah pesreta dan panitia berfoto bersama saat penutupan / BAS
Sejumlah peserta dan panitia berfoto bersama usai penutupan Marhalah Ula II PW Hidayatullah Sulbar / BAS
Peserta menyantap hidangan lezat khas sajian tuan rumah Kampus Hidayatullah Satutalawar / BAS
Dai peserta training Marhalah Ula II PW Hidayatullah Sulbar tampak antusias menyantap hidangan lezat khas sajian tuan rumah Kampus Hidayatullah Satutalawar / BAS

Hidayatullah.or.id — Ikhwan Syaifullah merasa senang sekali bisa mengikuti Training Marhala Ula angkatan ke-2 yang dilaksanakan pimpinan wilayah Hidayatulah Sulawesi Barat, beberpa waktu lalu.

Seperti 14 peserta lainnya, Ikhwan memanfaatkan waktu di sela-sela acara resmi yang terbilang padat ini untuk saling bebagi cerita dan trik bertugas di daerah dakwah masing-masing.

Diselingi senda gurau dai, “Saya tenang saja waktu nama Ikhwan Syaifullah dipanggil waktu akan akad nikah. Ternyata itu nama saya, saya lupa kalau ternyata sudah diganti,” kisah dai yang sebelumnya bernama Darsin ini.

Kegiatan training Marhalah Ula ini diakui Ikhwan melegakan dirinya yang dahaga dengan spirit rohani. Pria yang kini beretugas di dusun bernama Tarailu ini mengaku sangat bahagia bisa mendapatkan nasihat-nasihat dari pengurus pusat dan wilayah.

Training ini sendiri menghadirkan pemateri instruktur nasional Hidayatullah yang didampingi Ketua PW Hidayatullah Sulbar Drs. Abu Bakar Muis dan Ketua Bidang Pengkaderan PW Hidayatullah Sulbar, Abdurrahman Hasan, S.Pd.I.

Peserta pelatihan berasal dari kabupaten Mamuju sebanyak 9 orang. Pimpinan Daerah Hidayatullah Mamuju Utara (PD Mamut) mengutus dainya dua orang, peserta dari Kabupaten Mamuju Tengah (PD Mateng) 2 orang, dan satu dai juga berasal dari Kabupaten Polman.

“Kita fokuskan semua acara di kampus II Hidayatullah di Salutalawar,” kata Herman DJ, S.Sos.I selaku ketua panitia event ini.

Pihaknya memaparkan, dipilihnya kampus II Hidayatullah Satutalawar dengan tujuan untuk efesiensi anggaran dan upaya mempererat silaturahim warga dan petugas-petugas dari berbagai daerah di mana daerah ini memang yang paling mudah dijangkau ketimbang kampus lainnya.

Acara yang diadakan selama tiga hari ini, sejak hari Jumat tanggal 29 Agustus dan berakhir pada Ahad lusanya yang berlangsung di Ruang Kegiatan Belajar (RKB) SMP Al-Furqon Hidayatullah Satutalawar.

Seluruh rangkaian acara ini berpusat dalam lokasi pesantren mulai dari ruang siding, sholat, dan olahraga di pagi hari.

“Pilihan tempat acara ini merupakan sugesti untuk percepatan melakukan pembenahan kampus bagi tuan rumah, juga bernilai penguatan tali silaturahim,” kata Ketua PW Hidayatullah Sulawesi Barat Drs. Abu Bakar Muis seraya berseloroh.

Dijelaskan dia, sebagai kader yang sedang bertugas di daerah harus memiliki standar kemampuan dalam memberikan pencerahan di masyarakat. Dituntut bisa memainkan peran dalam berdakwah dengan mad’u (pendengar) dan karakter masyarakat yang berbeda di setiap daerah binaan.

Abu Bakar menjelaskan, gencar memberikan pencerahan kepada ummat itu sudah berjalan fungsi standar. Akan tetapi mengaktifkan sholat lail (malam) baik secara pribadi dan jamaah di kampus-kampus Hidayatullah merupakan rutinitas yang mencirikan dai yang cerah dan mencerahkan.

“Konsep dasar yang dkenalkan adalah manhaj Hidayatullah sebagai organisasi massa Islam yang berbasis kader, dengan dakwah dan tarbiyah sebagai program utamanya,” terang dia.

Sementara itu, Ketua Bidang Pelayanan Umat Pimpinan Pusat Hidayatullah Drs. Tasrif Amin Latif, M.Pd.I yang juga pemateri pada Training Marhala Ula angkatan ke-2 ini memberikan motifasi kepada peserta agar terus berbuat lebih banyak kepada ummat.

“Bahwa pembangunan yang dilakukan para dai di kampus-kampus tempat mereka bertugas yang dengan itu mereka bisa memberikan layanan pendidikan formal, santunan anak yatim dan dhuafa, itu semua adalah dakwah yang efektif hari ini,” pesan Tasyrif.

Beliau mengatakan, dirinya pernah sangat heran mendengar jawaban dai yang bertugas di sebuah daerah, “Saya belum sempat berdakwah karena sibuk membenahi kampus”. Padahal, tegasnya, justeru membenahi kampus dengan pelayanan optimal di masyarakat itulah dakwah.

“Jangan sampai banyak daerah binaannya tetapi belum memiliki kampus atau sudah memiliki kampus tetapi tidak maksimal kegiatan internalnya. Jadi harus proporsional,” pungas beliau mengingatkan. (Muhammad Bashori)